Anda di halaman 1dari 10

Pinjal kucing

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pinjal kucing (Ctenocephalides felis) adalah salah satu jenis pinjal yang paling
umum ditemukan di dunia.[1] Sesuai namanya, pinjal kucing merupakan parasit
pada kucing yang hidup dari menghisap darah.[2] Meskipun demikian, pinjal
kucing relatif tidak berbahaya jika dibandingkan dengan pinjal tikus karena jarang
membawa agen penyakit.[2]

Ciri-ciri umum

Pinjal kucing di bawah mikroskop x35

Seperti jenis pinjal lainnya, pinjal kucing memiliki bentuk tubuh pipih vertikal
dan berwarna cokelat kemerahan atau cokelat kehitaman.[3][1] Pinjal kucing juga
tidak memiliki sayap, namun memiliki kaki belakang yang kuat sehingga mampu
melompat dan berlari melewati rambut pada permukaan tubuh kucing.[1]

Pinjal kucing sering hidup pada bagian punggung kucing, yaitu daerah pangkal
ekor sampai leher.[3] Selain bagian tersebut, pinjal kucing juga terkadang
ditemukan pada paha bagian dalam.[3]

Dampak terhadap kucing


Gigitan pinjal kucing dapat menyebabkan alergi pada kulit kucing yang ditandai
dengan rasa gatal, perubahan warna kulit menjadi kemerahan, dan penipisan
rambut kucing pada daerah gigitan.[1] Selain itu, pinjal kucing sering menjadi
perantara cacing pita (Dipylidium canium), sehingga kucing yang menjadi
inangnya akan ikut terinfeksi oleh cacing pita.[1][3][4]

Pinjal Kucing dan Anjing

Klasifikasi:
a. Domain        : Eukaryota
b. Kingdom     : Animalia
c. Phylum        : Arthropoda
d. Class           : Insecta
e. Ordo            : Siphonaptera
f. Family          : Pulicidae
g. Genus          : Ctenocephalides
h. Species        : C. Felis ( Pada Kucing )

C. Canis ( Pada Anjing )

Ciri-ciri pinjal kucing dan anjing :

a. Tidak bersayap, memiliki tungkai panjang, dan koksa-koksa sangat besar.

b. Tubuh gepeng di sebelah lateral dilengkapi banyak duri yang mengarah ke


belakang dan rambut keras.

c. Sungut pendek dan terletak dalam lekuk-lekuk di dalam kepala.

d. Bagian mulut tipe penghisap dengan 3 stilet penusuk.

e. Metamorfosis sempurna (telur-larva-pupa-imago).

f. Telur tidak berperekat, abdomen terdiri dari 10 ruas.

g. Larva tidak bertungkai kecil, dan keputihan.


h. Memiliki 2 ktinidia baik genal maupun pronatal.

Perbedaan jantan dan betina:

1. Jantan : tubuh punya ujung posterior seperti tombak yang mengarah ke atas,
antena lebih panjang dari betina.

2. Betina : tubuh berakhir bulat, antena lebih pendek dari jantan.

Ctenocephalides felis Betina

Ctenocephalides felis Jantan


Ctenocephalides Canis

Siklus hidup:

Telur akan menetas 2-10 hari menjadi larva yang makan darah kering
(yang dikeluarkan pinjal dewasa), feses, bahan organik lainnya. Larva juga
membuat pupa dengan menyilih 2 kali. Stadium larva berlangsung 1-24 minggu.
Pupa dapat hidup selama 1 minggu sampai 1 tahun tergantung faktor lingkungan.

Pinjal ini dapat sebagai hospes intermedier dari Dypillidium caninum, dan
menyebabkan gatal dan iritasi pada tubuh hospes (kucing).
siklus hidup

Gejala klinis

Gejala yang sering nampak dari gigitan Ctenocephalides felis adalah rasa
gatal atau dalam dunia veteriner sering disebut dengan allergic fleabite dermatitis.

Diagnosis

Diagnosis Ctenocephalides felis dan Ctenocephalides Canis sama yaitu


kucing dan anjing dapat dilakukan dengan melihat adanya kotoran seperti butiran
pasir diantara bulu kucing, dan biasanya Ctenocephalides dapat ditemukan pada
daerah yang berbulu lebat seperti pada bagian leher.

Persamaan dan Perbedaan Ctenocephalides felis dan Ctenocephalide canis


2.3.1 Perbedaan
Ctenocephalides felis Ctenocephalides canis
Morfologi Memiliki karakteristik Memiliki karakteristik
kepala lebih kepala dengan anterior
memanjang dan tibiae kuat-bulat, dan
belakang dengan enam memiliki tibiae
takik bantalan setae belakang dengan
(tidak memiliki gigi delapan takik bantalan
apikal luar). setae.
karakteristik dahi
karakteristik dahi
miring atau berbentuk
melengkung dan spina I
kurva datar dan Spina I
pada genal ktenidia jauh
pada genal ktenidia
lebih pendek
hampir sama panjang
dibandingkan spina II.
dengan spina II.
menginfestasi anjing
Menginfestasi kucing
dan
Ctenocephalides felis
lebih tersebar luas,
selain itu dapat juga
menggigit sapi dan
manusia

2.3.2 Persamaan

Kedua spesies memiliki sisir pronotal dan genal (ctenidia). Ctenocephalides


sp adalah penting dalam medis sebagai vektor penyakit rickettsia, termasuk
Rickettsia typhi, dan dapat berfungsi sebagai host intermediate cacing pita,
termasuk Hymenolepis dan Dipylidium.

5. Jenis – jenis pinjal tikus


1. Pinjal tikus utara (Nosopsyllus fasciatus)

Klasifikasi:

Domain         : Eukaryota

Kingdom       : Animalia


Phylum          : Arthropoda

Class              : Insecta

Ordo              : Siphonaptera

Family           : Ceratophyllidae

Genus            : Nosopsyllus

Species          : N. fasciatus

Fasciatus Nosopsyllus memiliki tubuh memanjang, panjangnya 3


hingga 4 mm. Memiliki pronotal ctenidium dengan 18-20 duri
tapi tidak memiliki ctenidium genal. Pinjal tikus utara memiliki
mata dan sederet tiga setae di bawah kepala. Kedua jenis kelamin
memiliki tuberkulum menonjol di bagian depan kepala. Tulang
paha belakang memiliki 3-4 bulu pada permukaan bagian dalam

2. Pinjal Tikus Oriental (Xenopsylla cheopis)

Klasifikasi:

Kingsdom   : Animalia

Phylum        : Arthropoda

Class           : Insecta

Ordo           : Siphonaptera

Family         : Pulicidae

Genus          : Xenopsylla

Species        : X. cheopis


 Xenopsylla cheopis adalah parasit dari hewan pengerat, terutama
dari genus Rattus, dan merupakan dasar vektor untuk penyakit pes
dan murine tifus. Hal ini terjadi ketika pinjal menggigit hewan
pengerat yang terinfeksi, dan kemudian menggigit manusia. Pinjal
tikus oriental terkenal memberikan kontribusi bagi Black Death.
 Xenopsylla cheopis adalah pinjal tikus tropis. Pada tikus pinjal ini
lebih umum daripada Nosopsyllus fasciatus di Negara tropis dan
banyak menyerang orang. Pinjal ini sangat penting karena
memerlukan pes (disebabkan kuman Pasteurella pestis) dari tikus
kepada manusia. Bakteri tersebut berkembang biak di dalam
proventikulus pinjal sampai dapat memenuhinya. Kemudian bila
pinjal terinfeksi bakteri ini dan pinjal menggigit korban lain,
pinjal tersebut tidak dapat menghisap darah tetapi memuntahkan
bakteri ke dalam luka. Pinjal ini juga menularkan thyphus
endemic (disebabkan oleh Rickettsia typhi) dari tikus kepada
manusia. X.cheopis merupakan pinjal kosmopolitan atau
synathropic murine rodent yang mempunyai ciri-ciri pedikel
panjang, bulu antepidigidal panjang dan kaku. Receptakel
seminalis besar dan berkitin dengan sudut ekor meruncing.
Xenopsylla cheopis yang makan pada inangnya bisa hidup selama
38 hari dan tanpa makan tetapi tinggal pada lingkungan yang
lembab dan dapat hidup selama 100 hari (Soviana, ).Genus
Tungau Tungau penetrans adalah pinjal pasir. Pinjal ini
merupakan pinjal yang terdapat di Negara-negara tropic dan sub
tropic, pinjal ini sering ditemukan pada orang-orang yang bekerja
sebagai penjelajah di Negara-negara tropis terutama di dataran
Asia
pulex irritan jantan

betina

Xenopsylla cheopis betina, (pinjal tikus


daerah tropis)

vector Pes, dan typus murin, seluruh dunia,

menyerang manusia / mamalia


xenop jantan