Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH PRINSIP DAN KONSEP

PENCEGAHAN INFEKSI
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah KD II
Dosen Pembimbing : Susan Irawan, S.Kep.,Ners, MAN

Disusun Oleh :

Bioseffa Oktavia 191FK03127


Dini Oktaviani 191FK03126
Inda Wulandari 191FK03117
Nisa Rahmawati 191FK03123
Muhammad Fadhil Fadhlurrahman AK118111
Kelompok 3 Kelas Kecil I

Kelas C Tingkat I

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS

UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA

2019
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga
kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya
tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu
Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-nantikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-
Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah KD II yang
berjudul ”Makalah Prinsip dan Konsep Pencegahan Infeksi”
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan
masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis
mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini
nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat
banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak khususnya dosen
pembimbing kami yang telah membimbing dalam menulis makalah ini.
Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Bandung, 1 April 2020

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................1
DAFTAR ISI............................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................3
1.1 Latar Belakang...................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................3
1.3 Tujuan................................................................................................................4
BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................5
2.1 Pengertian Infeksi...............................................................................................5
2.2 Proses atau Tahapan Klinis Infeksi....................................................................7
2.3 Faktor yang Meningkatkan Kerentanan Terhadap Infeksi.................................8
2.4 Tahapan Proses Infeksi....................................................................................12
2.5 Upaya Pengendalikan Infeksi...........................................................................16
BAB III PENUTUP................................................................................................19
3.1 Kesimpulan......................................................................................................19
3.2 Saran.................................................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................20

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sebagai petugas kesehatan sudah selayaknya kita memproteksi diri kita
agar tidaktertular infeksi. Pencegahan infeksi merupakan bagian esensial dari
asuhan lengkap yangdiberikan kepada klien.Tujuannya untuk melindungi petugas
kesehatan itu sendiri.
Di masa lalu, fokus utama penanganan masalah infeksi dalam pelayanan
kesehatanadalah mencegah infeksi. Infeksi serius pascabedah masih merupakan
masalah dibeberapa negara, ditambah lagi dengan munculnya penyakit AIDS dan
hepatitis B yang belum ditemukan obatnya. Saat ini, perhatianutama ditujukan
untuk mengurangi resiko perpindahan penyakit, tidak hanya terhadappasien,
tetapi juga kepada pemberi pelayanan kesehatan dan karyawan, termasukpekarya,
yaitu orang yang bertugas membersihkan dan merawat ruang bedah
.Cara efektif untuk mencegah penyebaran penyakit dari orang ke orang
atau dariperalatan ke orang dapat dilakukan dengan meletakkan penghalang di
antaramikroorganisme dan individu (pasien atau petugas kesehatan). Dengan
bekerjaberdasarkan tujuan ini, maka berarti pemberi asuhan kesehatan melindungi
pasien,lingkungan dan dirinya sendiri

1.2 Rumusan Masalah


1.Apa pengertian Pencegahan Infeksi ?
2.Apa saja tahapan klinis infeksi?
3.Bagaimana faktor yang meningkatkan kerentanan terhadapan infeksi ?
4.Bagaimana tahapan proses infeksi?
5.Bagaimana upaya pengendalian infeksi?

3
1.3 Tujuan penulisan
1.Dapat mengetahui pengertian Pencegahan Infeksi.
2. Dapat mengetahui tahapan klinis infeksi.
3. Dapat mengetahui faktor yang meningkatkan kerentanan terhadapan infeksi.
4. Dapat mengetahui tahapan proses infeksi.
5. Dapat mengetahui upaya pengendalian infeksi.

4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Infeksi
Infeksi adalah proses invasive oleh mikroorganisme dan berproliferasi
didalam tubuh yang menyebabkan sakit (potter dan perry 2005). Sedangkan
menurut Smeltzer dan Brenda (2002), infeksi adalah beberapa penyakit yang
disebabkan oleh pertumbuhan organisme patogenik dalam tubuh.
Infeksi yaitu invasi tubuh oleh mikroorganisme dan berproliferasi dalam
jaringan tubuh. (Kozier, et al, 1995).
Infeksi yaitu invasi dan pembiakkan mikroorganisme di jaringan tubuh,
secara klinis tidak tampak atau timbul cedera seluler local akibat kompetisi
metabolism, toksin, replikasi, intrasel, atau respon antgen-antibodi.
(Dorland,2002).
Dalam kamus keperawatan disebutkan bahwa infeksi adalah invasi dan
multiplikasi mikroorganisme dalam jarigan tubuh, khususnya yang menimbulkan
cedera seluler setempat akibat metabolisme kompetitif, toksin, replikasi
intraseluler atau reaksi atigen-antibodi. Munculnya infeksi dipengaruhi oleh
beberapa faktor yang saling berkaitan dalam rantai infeksi. Adanya pathogen
tidak berarti bahwa infeksi akan terjadi.
Infeks adalah masuknya kuman pathogen dalam tubuh dan berkembang
biak serta menimbulkan gejala-gejala infeksi. (Barbara C. Long)
Infeksi adalah kolonisasi yang dilakukann oleh spesies asing terhadap
organisme inang, dan bersifat membahayakan inang. Organisme penginfeksi,atau
pathogen ,menggunakan sarana yang dimiliki inang untuk dapat memperbanyak
diri, yang pada akhirnya merugikan inang. Patogen mengganggu fungsi normal
inang dan dapat berakibat pada luka kronik,gangrene, kehilangan organ tubuh,
dan bahkan kematian. Respons inang terhadap infeksi disebut peradangan. Secara

5
umum, pathogen umunya dikategorikan sebagai organisme mikroskopik,
walaupun sebenarnya definisinya lebih luas, mencakup bakteri, parasite.
Infeksi menembus permukaan kulit atau berasal dari dalam tubuh.
Gambaran klinisnya tergantung pada:
1. Letaknya di dalam kulit
2. Sifat alami organisme
3. Sifat respon tubuh terhadap organisme
Sebagian besar infeksi melalui jalan eksternal dengann menembus barie kulit
yang dapat menyebabkan lesi kulit saat organisme menginfeksi tubuh lainnya dan
menimbulkan bercak-bercak kulit. Infeksi dapat disebabkan oleh berbagai macam
organisme, seperti fungi, virus, bakteri, protozoa dan virus metazoan. Banyak
organisme yang hidup atau bahakan tumbuh di dalam kulit tetapi tidak
menimbulkan kerugian terhadap inang yang disebut komensal,atau apabila
organisme ini mengkonsumsi bahan-bahan yang mati maka mereka disebut
saprofit. (Underwood,1999)
Mekanisme kerusakan jaringan yang diakibatkan organisme infeksius
beraneka ragam, karena produk atau sekresi yang berbahaya dari bakteri-bakteri.
Jadi, sel hospes menerima rangsangan bahan kimia yang mungkin bersifat toksik
terhadap metabolism atau terhadap keutuhan membrane sel. Sebagai tambahan,
sering timbul respon peradangan dari hospes yang dapat meyebabkan kerusakan
kimiawi terhadap sel. Agen intraseluler misalnya virus sering menyebabkan
rupture sel yang terinfeksi. Selanjutnya terjad kerusakan jaringan local.
(Underwood,1999)
Infeksi kronik adalah infeksi yang virusnya secara kontinew dapat dideteksi,
sering pada kadar rendah, gejala klinis dapat ringan atau tidak terlihat. Terjadi
akibat sejumlah virus hewan, dan persistensi pada keadaan tertentu bergantung
pada usia orang saat terinfeksi. Pada infeksi kronik oleh virus RNA, populasi
virus sering mengalami banyak perubahan genetic dan antigenic.

6
Infeksi laten adalah infeksi yang virusnya kebanyakan menetap dalam bentuk
samara tau kriptik. Penyakit klinis dapat timbul serangan akut intermiten; virus
infeksius dapat ditemukan selama timbulnya serangan tersebut.

2.2 Tahapan Klinis Infeksi


Dalam riwayat perjalanan penyakit, pejamu yang peka (suspectable host)
akan berinteraksi dengan mikroba pathogen, yang secara alamiah akan melewati 4
tahap :
1. Tahap Rentan
Pada tahap ini pejamu masih dalam kondisi relative sehat, namun peka
atau labil, disertai faktor predisposisi yang mempermudah terkena penyakit
seperti umur, keadaan fisik, perilaku/kebiasaan hidup, social-ekonomi, dll.
Faktor-faktor predisposisi tersebut mempercepat masuknya agen penyebab
penyakit (mikroba pathogen) untuk berinteraksi dengan pejamu.
2. Tahap Inkubasi
Setelah masuk ke tubuh pejamu, mikroba pathogen mulai beraksi,
namun tanda dan gejala penyakit belum tampak (subklinis). Saat mulai
masuknya mikroba pathogen ke tubuh pejamu hingga saat munculnya tanda
dan gejala penyakit disebut masa inkubasi. Masa inkubasi satu penyakit
berbeda dengan penyakit lainnya; ada yang hanya beberapa jam, dan ada pula
yang bertahun-tahun.
3. Tahap Klinis
Merupakan tahap terganggunya fungsi organ yang dapat memunculkan
tanda dan gejala (signs and symptomps) penyakit. Dalam perkembangannya,
penyakit akan berjalan secara bertahap. Pada tahap awal, tanda dan gejala
penyakit masih ringan. Penderita masih mampu melakukan aktivitas sehari-
hari dan masih dapat diatasi dengan berobat jalan. Pada tahap lanjut, penyakit
tidak dapat diatasi dengan berobat jalan, karena penyakit bertambah parah,
baik secara objektif maupun subjektif. Pada tahap ini penderita sudah tidak

7
mampu lagi melakukan aktivitas sehari-hari dan jika berobat, umunya harus
melakukan perawatan.
4. Tahap Akhir Penyakit
Perjalanan penyakit pada suatu saat berakhir pula. Perjalanan penyakit
tersebut berakhir dengan 5 alternatif.
a. Sembuh sempurna
Penderita sembuh secara sempurna, artinya bentuk dan fungsi
sel/jaringan/organ tubuh kembali seperti sedia kala.
b. Sembuh dengan cacat
Penderita sembuh dari penyakitnya namun disertai adanya kecacatan.
Cacat dapat berbentuk cacat fsik, cacat mental, maupun cacat social.
c. Pembawa (carrier)
Perjalanan penyakit seolah-olah berhenti, ditandai dengan
menghilangnya tanda dan gejala penyakit. Pada kondisi ini agen
penyebab penyakit masih ada, dan masih potensial sebagai sumber
penularan.
d. Kronis
Perjalanan penyakit bergerak lambat, dengan tanda dan gejala yang tetap
atau tidak berubah (stagnan).
e. Meninggal dunia
Akhir perjalanan penyakit dengan adanya kegagalan fungsi-fungsi organ.

2.3 Faktor yg Meningkatkan Kerentanan Terhadap Infeksi


Pengetahuan mengenai faktor-faktor yang dapat
meningkatkan kerentanan terhadap infeksi serta dapat mengenali
tanda serta gejala awal pada infeksi dapat membantu perawat
melakukan penafsiran akan kebutuhan dan care plan yang tepat

8
untuk pasien. Adanya penurunan sistem pertahanan tubuh pada pasien akan
membuat pasien rentan akan infeksi.
Terdapat banyak faktor yang dapat mempengaruhi kerentanan diri pasien pada
suatu infeksi. Melakukan pengkajian terhadap infeksi yang diderita pasien baik
yang sedang terjadi atau pun yang berpotensi untuk terkena infeksi tersebut yang
meliputi hal hal berikut:
a. Riwayat Kesehatan
Pengetahuan akan riwayat kesehatan terdahulu pasien
serta pengalaman akan suatu penyakit dapat membantu
dalam pemberian suatu informasi tentang adanya pajanan
akan suatu penyakit menular ataupun status imunitas pasien
sekarang.
b. Status Mekanisme Pertahanan Normal
Melakukan pemeriksaan objektif keperawatan pada pasien akan
membantu perawat mengetahui kondisi sistem pertahanan tubuh pasien
terhadap infeksi. Alterasi pada pelindung eksternal ataupun mekanis tubuh
mengakibatkan adanya potensi patogen untuk masuk kedalam tubuh dan
berkembang biak. Laserasi, luka bakar, ataupun abrasi pada kulit merupakan
contoh rusaknya pelindung eksternal tubuh sehingga mikroorganisme dalam
dengan mudah memasuki tubuh. Klien dengan kulit tipis dan lemah beresiko
akan rusaknya kulit sehingga berpotensi akan adanya infeksi. Pasien yang
merupakan perokok berat kronis akan mengalami penurunan pertahanan
melawan patogen-patogen yang menyerang sistem pernafasan dikarenakan
kemampuan paru-paru untuk mengembang berkurang serta pergerakan silia
juga terganggu, sehingga pasien akan kesulitan membuang mukus pada
saluran pernafasan. Pasien yang juga mengalami operasi, penyakit ataupun
suatu prosedur yang dapat mengurangi mobilitas dan pengembangan paru-
paru memiliki resiko tinggi terkena infeksi seperti pneumonia (radang paru-

9
paru). Pasien yang dehidrasi dan mengeluarkan urin sedikit dapat terkena
infeksi saluran kemih dikarenakan aliran normal urin tidak dapat
membersihkan mirkoorganisme yang dapat memasuki tubuh melalui uretra.

Mekanisme pertahanan tubuh normal adalah


pertahanan pada organisme untuk melindungi tubuh
dari pengaruh biologis luar dengan mengenali dan
membunuh patogen. Proses kelainan atau penyakit
tertentu dapat mempengaruhi mekanisme pertahanan
tubuh dan menurunkan resistensi pasien terhadap
infeksi, seperti pasien dengan kelainan sistem imun.
c. Umur
Pasien yang sangat muda ataupun lansia sangat rentan
terhadap infeksi. Pada pasien usia yang sangat muda, sistem
imunnya belum secara utuh berkembang, sedangkan pada
pasien lansia, kekuatan respon imun sudah menurun, seperti
hilangnya kapasitas fungsional pada sistem cell-mediated. Pada pasien lansia
bukan hanya rentan terhadap invasi patogen baru, tetapi juga reaktivasi virus
dan bakteri latent, seperti virus herpes zoster dan Mycobacterium.
Proses penuaan normal dapat merubah pertahanan natural tubuh,
seperti hilangnya elastisitas dan penipisan pada kulit, sehingga kulit lebih
mudah rusak serta membutuhkan waktu yang lama dalam pemulihannya,
sehingga mikroorganisme dapat mudah masuk kedalam tubuh.
d. Status Nutrisi
Pasien yang memiliki kelainan seperti kesulitan untuk
makan tanpa bantuan, memiliki kelainan diet, kesulitan

10
menelan makanan, atau adanya perubahan pada saluran
gastrointestinal yang mempengaruhi proses nutrisi sangat
rentan terhadap infeksi. Masalah kesehatan yang dikarenakan oleh
konsumsi nutrisi yang tidak mencukupi akan melemahkan mekanisme
pertahanan tubuh dan keahlian tubuh dalam proses penyembuhan. Ketika ada
jaringan tubuh yang mengalami kerusakan dan memerlukan proses
penyembuhan atau restorasi, tubuh akan membutuhkan nutrisi lebih, terutama
protein. Sehingga pasien yang memiliki kerusakan jaringan tubuh yang
ekstensive seperti luka bakar atau trauma tertentu akan sangat rentan terhadap
infeksi. Oleh karena itu, pasien tersebut akan memerlukan arahan dari ahli gizi
untuk diberikan nutrisi agar nutrisi yang didapat cukup untuk memenuhi
kebutuhan tubuhnya.
e. Stress dan strategi koping
Stress fisik atau emosional akan menimbulkan respon tertentu pada
tubuh. Sehingga adanya peningkatan metabolisme yang mengakibatkan
cepatnya proses pembakaran energi pada tubuh. Stress yang
berkepanjangan akan mengakibatkan tubuh melepaskan
steroid kortisol yang berlebihan secara terus menerus,
sehingga bila tidak ditangani akan mensupresi respon imun
tubuh. Sehingga tubuh akan sangat rentan pada berbagai
macam infeksi. Pasien yang sedang di rawat di rumah sakit sangat rentan
akan infeksi terutama infeksi nosokomial.
f. Infeksi Nosokomial
Infeksi ini merupakan infeksi yang didapat oleh
seseorang yang sebelumnya tidak terinfeksi dikarenakan
berada pada fasilitas kesehatan. Infeksi tersebut biasa disebut juga
iatrogenik atau HAIs atau Hospital-acquired infection. Rumah sakit menjadi

11
tempat yang sangat rentan akan terkenanya infeksi dikarenakan memiliki
populasi mikroorganisme yang tinggi. Hal ini dapat terjadi karena terekspos
oleh lingkungan yang terkontaminasi, melalui prosedur medis, ataupun
pekerja kesehatan atau perawat yang gagal melakukan standar pencegahan
dan kontrol infeksi, seperti Mencuci tangan.
Faktor-faktor yang meningkatkan kerentanan pasien akan infeksi nosokomial
meliputi
 Teknik invasif seperti memasukan catheter urin atau IV serta
penggunaan tabung endotracheal dan nasogastric
 Adanya keadaan atau kondisi yang mengalterasi kemampuan tubuh
melawan mikroorganisme
 Sistem imun yang tidak bekerja dengan baik
Infeksi nosokomial yang umum terjadi biasanya pada
saluran kemih, saluran respirasi bawah, pada luka operasi,
atau pada darah. Infeksi pada darah terbilang jarang terjadi
akan tetapi dapat mengakibatkan komplikasi yang sangat fatal
pada pasien (Koutoukidis, et. Al., 2008).

2.4 Tahapan Proses Infeksi


Proses patogenesis meliputi berbagai tahapan yang dimulai melalui transmisi
patogen menuju tubuh, kemudian kolonisasi pada area infeksi, setelah melakukan
kolonisasi pada area infeksi patogen akan menetap pada area kolonisasi untuk
menyokong survivebilitas patogen yang kemudian akan memulai invasi pda
sistem tubuh tersebut. Setelah selamat dari sistem imun tubuh, patogen akan
mulai mengakibatkan penyakit.
1. Transmisi (berjangkitnya penyakit/masuknya penyakit)
Banyak pathogens, seperti V. cholerae dan B. pertussis, menginfeksi
host tanpa perlu memasuki sel-sel host. Tetapi semua virus dan banyak dari

12
bakteri serta protozoa merupakan patogen intraseluler. Patogen tersebut lebih
memilih untuk replikasi dan bertahan hidup dalam sitoplasma atau
kompartmen intraseluler pada host tertentu (Alberts, B., et. Al., 2002).
Patogen-patogen yang berpotensial dapat memasuki tubuh
melalui rute ang beragam, seperti saluran respirasi, saluran
gastrointestinal, atau saluran reproduksi. Selain itu ada
alternatif lain masuk ke dalam jaringan melalui gigitan
serangga, kecelakaan, ataupun trauma operasi pada kulit.
Banyak dari patogen-patogen opportunistik dibawa sebagai bagian dari
normal flora pada manusia, dan dapat berperan sebagai sumber infeksi pada
tubuh. Contohnya pada kasus AIDS atau ketika pelindung kulit tertembus.
Untuk patogen-patogen primer, transmisi pada host yang baru dan
pembentukkan infeksi merupakan proses yang kompleks (Al-mohanna, 2016).
Kulit dan permukaan pelindung epitel lainnya umumnya memiliki
populasi normal flora yang padat. Adanya luka atau laserasi pada pelindung
epitel tersebut akan memberikan akses langsung pada patogen untuk masuk ke
dalam interior host. Banyak dari normal flora tersebut yang dapat
mengakibatkan penyakit yang berbahaya bila memasuki luka tersebut.
Sebagai contoh bakteri anaerobik pada genus Bacteroides, merupakan normal
flora yang tidak berbahaya walau pada populasi yang padat dalam colon, akan
tetapi dapat mengakibatkan penyakit mengancam jiwa peritonitis bila
memasuki rongga peritoneal.
Setiap patogen memiliki caranya sendiri untuk memasuki sel-sel host.
Virus memasuki sel host dengan cara fusi membran, formasi pore, atau
dengan melakukan gangguan membran melalui endositosis melalui reseptor
tertentu. Sedangkan bakteria karena ukurannya lebih besar dibandingkan
virus, tidak bisa diangkat oleh endositosis seperti halsnya virus. Oleh karena
itu bakteri dapat memasuki sel host melalui fagositosis. Sebagian patogen

13
memiliki kemampuan untuk dapat bertahan hidup dan melakukan replikasi
dalam makrofag ketika mereka dimakan melalui proses fagositosis contohnya
seperti Tuberculosis (Mycobacterium tuberculosis) (Alberts, B., et. Al., 2002).
2. Kolonisasi
Kolonisasi merupakan pembentukkan populasi bakteri
atau patogen tertentu yang stabil pada kulit atau mukus membran
host. Pada kebanyakan patogen bakteri, interaksi awal dengan jaringan host
terjadi pada permukaan mukosa dan umumnya kolonisasi membutuhkan adesi
pada permukaan sel mukosa. Hal ini membantu dalam pembentukan

infeksi yang lebih fokus dan dapattetap terlokalisasi atau


memungkinkan untuk penyebaran ke jaringan-jaringan lain
(Al-mohanna, 2016).
3. Adesi
ADALAH PERLEKATAN DAN PENJANGKARAN PATOGEN PADA
SEL SEL ILFLAMATORI NETROFIL
Adesi sangat penting untuk menghindari mekanisme pertahanan
bawaan tubuh seperti gerakan peristaltis pada intestin dan pembilasan oleh
mukus, saliva, dan urin, yang dapat membuang bakteri yang tidak melekat.
Untuk bakteri, adesi merupakan hal yang esensial dilakukan pada awal ketika
akan dilakukan kolonisasi dan kemudian diberlakukannya penetrasi melalui
jaringan. Kolonisasi yang berhasil juga membutuhkan bahwa bakteri dapat
memenuhi kebutuhan nutrisi yang esensial, seperti zat besi untuk
pertumbuhan. Pada level molekul, adesi melibatkan interaksi permukaan
antara reseptor spesifik pada sel membran mamalia (biasanya karbohidrat) dan
ligand ( biasanya protein) pada permukaan bakteri. Ada atau tidaknya reseptor
spesifik pada sel mamalia tersebut berkontribusi secara signifikan untuk
spesifitas jaringan pada infeksi. Sifat permukaan nonspesifik pada bakteri,
termasuk muatan permukaan dan sifat hidropobik, berkontribusi pada tahap

14
pertama proses adesi. Banyak bakteri mengekspresikan pili atau fimbriae yang
terlibat sebagai mediasi yang melekatkan bakteri dengan permukaan sel
mamalia tersebut (Al-mohanna, 2016).
Mengganggu integritas epitelium dapat meningkatkan kualitas adesi
pada berbagai macam patogen bakteri seperti P. aeruginosa. Reseptor untuk
pelekatan bakteri dapat dibantu dengan aksi langsung dari enzim-enzim
bakteri pada permukaan sel tanpa mengganggu epitelium, seperti S.
pneumoniae yang dapat melakukan desialylate kabohidrat-karbohidrat pada
permukaan sel host untuk mengekspose reseptor spesifik yang diperlukan
untuk pelekatan patogen tersebut (Williams, et. Al., 1998).
4. Invasi
Invasi disini adalah penetrasi ( proses masuknya
patogen, berusaha melubangi membran plasma sel.) sel-sel
host dan jaringan dan di mediasi oleh susunan molekul
kompleks yang biasa dideskripsikan sebagai invasins. Setelah
melekat pada permukaan mukosa, beberapa bakteri seperti Corynebacterium
diphtheriae atau Clostridium tetani, mengeluarkan efek-efek patogen tanpa
perlu melakukan penetrasi pada jaringan host. Hal ini menghasilkan molekul
biologis aktif seperti toksin yang mengakibatkan kerusakan jaringan pada area
lokal ataupun area lainnya. Akan tetapi sebagian bakteria patogen, pelekatan
pada permukaan mukosa merupakan tahapan pertama untuk proses invasi
jaringan. Mycobacteria, merupakan salah satu contoh bakteri yang dapat
menginvasi kemudian selamat dalam sel host. Fase diawali oleh invasi seluler
yang melibatkan penetrasi pada sel membran mamalia dan banyak patogen
intraseluler menggunakan mekanisme masuk melalui fagositik normal agar
memiliki akses. Didalam sel, bakteri akan dikelilingi oleh vesikel. Banyak
dari patogen intraseluler tersebut melarikan diri melalui vesikel-vesikel
tersebut menuju sitoplasma, dimana bakteri akan memulai untuk proses

15
multiplikasi secara cepat sebelum melakukan penyebaran patogen ke sel-sel
sekitarnya dan memulai kembali proses invasi pada sel-sel tersebut (Al-
mohanna, 2016).
5. Bertahan Hidup dalam Tubuh
Banyak patogen-patogen bakteri dapat menghindari aksi sitotoksik di
plasma dan cairan tubuh lainnya yang melibatkan antibodi dan komplemen
ataupun lizozim. Membunuh patogen extraselulerumumnya terjadi pada fase
fagosit setelah opsonisasi (oleh antibodi atau komplemen) dan fagositosis.
Penghapusan fagositosis oleh patogen ekstraseluler merupakan mekanisme
bertahan hidup yang paling utama.
Patogen-patogen intraseluler harus dapat menghindar dari terbunuhnya
didalam phagolysozome. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan by-pass
atau lusis vesikel-vesikel dan kemudian tinggal secara bebas didalam
sitoplasma. Alternatif lain, patogen juga dapat bertahan hidup dalam
phagosome (Al-mohanna, 2016).
Patogen-patogen tersebut juga harus menghindari
berbagai pertahanan lokal sel seperti pelindung fisik (lapisan
mukus, silia, dan epitelium yang kuat), substansi antibakterial
(sekresi IgA dan lysozyme), dan fagosit. Umumnya banyak tipe
patogen yang dapat merubah atau mengalterasikanpertahanan lokal tersebut
sebelum melakukan penyebaran infeksi. Sebagai contoh infeksi virus dapat
mengalterasi permukaan mukosa respirasi dengan menghasilkan sekresi yang
lebih cair, merusak silia, dan memisahkan sel-sel epitel satu dengan yang
lainnya dan mengekspose reseptor baru sebagai tempat pelekatan patogen
tersebut (Williams, et. Al., 1998).
2.5 Upaya Pengendalian Infeksi
Pencegahan infeksi merupakan bagian esensial dari asuhan lengkap yang
yang di berikan kepada klien untuk melindungi petugas kesehatan itu sendiri.

16
1. Prinsip Pencegahan infeksi
a. Antiseptik
Antiseptik adalah usaha mencegah infeksi dengan cara membunuh atau
menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada kulit atau jaringan
tubuh lainnya.
b. Aseptik
Aseptik adalah semua usaha yang dilakukan dalam mencegah masuknya
mikroorganisme ke dalam tubuh yang mungkin akan menyebabkan
infeksi. Tujuannya adalah mengurangi atau menghilangkan jumlah
mikroorganisme, baik pada permukaan benda hidup maupun benda mati
agar alat-alat kesehatan dapat digunakan dengan aman.
c. Dekontaminasi
Dekontaminasi adalah tindakan yang dilakukan untuk memastikan
bahwa petugas kesehatan dapat menangani secara aman benda-benda
(peralatan medis, sarung tangan, meja pemeriksaan) yang
terkontaminasi darah dan cairan tubuh. Cara memastikannya adalah
segera melakukan dekontaminasi terhadap benda - benda tersebut
setelah terpapar/terkontaminasi darah atau cairan tubuh
d. Desinfeksi
Tindakan yang tindakan menghilangkan sebagian besar mikroorganisme
penyebab penyakit dari benda mati.
e. Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT)
Suatu proses yang menghilangkan mikroorganisme kecuali beberapa
endospora bakteri pada benda mati dengan merebus, mengukus, atau
penggunaan desinfektan kimia.
f. Mencuci dan membilas
Suatu proses yang secara fisik menghilangkan semua debu, kotoran,
darah, dan bagian tubuh lain yang tampak pada objek mati dan
membuang sejumlah besar mikro organisme untuk mengurangi resiko

17
bagi mereka yang menyentuh kulit atau menangani benda tersebut
(proses ini terdiri dari pencucian dengan sabun atau deterjen dan air,
pembilasan dengan air bersih dan pengeringan secara seksama).
g. Sterilisasi
Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua
mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit), termasuk endospora
bakteri pada benda-benda mati atau instrument.
2. Tindakan-tindakan pencegahan infeksi meliputi :
a. Pencucian tangan.
b. Penggunaan sarung tangan.
c. Penggunaan cairan antiseptic untuk membersihkan luka pada kulit.
d. Pemrosesan alat bekas pakai (dekontaminasi, cuci dan bilas, desinfeksi
tingkat tinggi atau sterilisasi).
e. Pembuangan sampah.
3. Faktor yang berpengaruh pada kejadian infeksi klien:
a. Jumlah tenaga kesehatan yang kontak langsung dengan pasien
b. Jenis dan jumlah prosedur invasive
c. Terapi yang diterima
4. Lamanya perawatan Penyebab infeksi nosokomial meliputi:
a. Traktus urinarius:
- Pemasangan kateter urine
- Sistem drainase terbuka
- Kateter dan selang tdk tersambung
- Obstruksi pada drainase urine
- Tehnik mencuci tangan tidak tepat
b. Traktus respiratorius:
- Peralatan terapi pernafasan yang terkontaminasi
- Tidak tepat penggunaan tehnik aseptif saat suction
- Pembuangan sekresi mukosa yg kurang tepat

18
- Tehnik mencuci tangan tidak tepat
c. Luka bedah/traumatik:
- Persiapan kulit yg tdk tepat sblm pembedahan
- Tehnik mencuci tangan tidak tepat
- Tidak memperhatikan tehnik aseptif selama perawatan luka
- Menggunakan larutan antiseptik yg terkontaminasi
d. Aliran darah :
- Kontaminasi cairan intravena saat penggantian
- Memasukkan obat tambahan dalam cairan intravena
- Perawatan area insersi yg kurang tepat
- Jarum kateter yg terkontaminasi
- Tehnik mencuci tangan tidak tepat
5. Strategi pencegahan dan pengendalian infeksi terdiri dari:
a. Peningkatan daya tahan penjamu, dapat  pemberian
imunisasi aktif (contoh vaksinasi hepatitis B), atau
pemberian imunisasi pasif (imunoglobulin). Promosi
kesehatan secara umum termasuk nutrisi yang adekuat
akan meningkatkan daya tahan tubuh.
b. Inaktivasi agen penyebab infeksi, dapat dilakukan 
metode fisik maupun kimiawi. Contoh metode fisik adalah
pemanasan (pasteurisasi atau sterilisasi) dan memasak
makanan seperlunya. Metode kimiawi termasuk klorinasi
air, disinfeksi.
c. Memutus mata rantai penularan. Merupakan hal yang
paling mudah untuk mencegah penularan penyakit
infeksi, tetapi hasilnya bergantung kepeda ketaatan

19
petugas dalam melaksanakan prosedur yang telah
ditetapkan.

20
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Infeksi adalah proses invasive oleh mikroorganisme dan berproliferasi
didalam tubuh yang menyebabkan sakit (potter dan perry 2005). Sedangkan
menurut Smeltzer dan Brenda (2002), infeksi adalah beberapa penyakit yang
disebabkan oleh pertumbuhan organisme patogenik dalam tubuh.

3.2 Saran
Setelah seorang mahasiswa perawat mendapatkan ilmu mengenai infeksi ini,
Sebaiknya sebagai seorang mahasisw perawat dapat juga mengetahui bagaimana
cara mencegah infeksi agar tidak terjadi penularan, dan setelah menjadi perawat
diharapkan juga dapat menanggulangi penyakit infeksi tersebut dengan intensif.

21
DAFTAR PUSTAKA

Alberts, B., Johnson, A., Lewis, J., Raff, M., Roberts, K., dan walter, P., 2002.
Molecular Biology of the Cell, edn. 4, Garland Science: New York.
Al-mohanna, M. T., 2016, Microbiology, University of Al-Qadisiyah: Iraq.
Koutoukidis, G., Funnell, R., Lawrence, K., Stanton, K., dan Hughson, J., 2008,
Tabbner’s Nursing Care: Theory and Practice, edn. 5E, Elsevier Australia: NSW.
Williams, P., Ketley, J., dan Salmond, G., 1998, Methods in Microbiology Volume 27
– Bacterial Pathogenesis, Academic Press: London.

22