Anda di halaman 1dari 44

MAKALAH

“MEKANIKA TANAH”

TEGANGAN TANAH, KONSOLIDASI DAN PENURUNAN


TANAH

Disusun Oleh:
Indah Melati Suci
D081171009

DEPARTEMEN TEKNIK KELAUTAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2019

1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak
terimakasih kepada penulis-penulis jurnal yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan materi mengenai tegangan tanah, konsolidasi dan penurunan
tanah dalam pembuatan makalah ini.
Besar harapan semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
informasi bagi para pembaca sekalian. Semoga para pembaca dapat mengetahui isi
dan kekurangan dari makalah ini sehingga kedepannya kami dapat memperbaiki
bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penulis dalam
penulisan sehingga masih banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu
penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah mengenai tegangan tanah, konsulidasi dan penurunan tanah.

                  Gowa, 30 April 2019


                                                                        Penyusun

Indah Melati Suci

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar......................................................................................…………………….. 2
Daftar Isi................................................................................................ ……………………..3
Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang.......................................................................…………………….. 4
1.2 Rumusan Masalah.................................................................…………………….. 5
1.3 Tujuan.................................................................................... ……………………..5
Bab II Pembahasan
2.1 Tegangan Tanah…………………………………………………………………...6
2.1.1 Konsep Tegangan Efektif ( tanah )...............................…………………..…7
2.1.2 Tegangan Efektif dan Netral serta Perembesan............……………………12
2.2 Konsolidasi Tanah.................................................................……………………21
2.2.1 Normally Consolidated dan Overconsolidated............……………………22
2.2.2 Perhitungan Konsolidasi...............................................……………………22
2.3 Penurunan Tanah...................................................................……………………25
2.3.1 Klasifikasi Penurunan Tanah.......................................……………………26
2.3.2 Tahap Penurunan Tanah...............................................……………………26
2.4 Penurunan Konsolidasi………………………………………………...………...31
2.4.1 Penentuan Penambahan Beban dalam Tanah Akibat Beban di Atasnya……31
Bab III Penutup.....................................................................................……………………42
Daftar Pustaka.......................................................................................…………………… 44

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Tanah sebagai salah satu kekayaan bangsa Indonesia harus dimanfaatkan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Untuk mewujudkan hal itu maka pemanfaatan
tanah perlu dilaksanakan dalam bentuk pengaturan, penguasaan, dan penatagunaan
tanah. Model yangdapat digunakan adalah konsolidasi tanah sebagai salah satu upaya
untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna tanah serta menyelaraskan kepentingan
individu dengan fungsi sosial tanah dalam rangka pelaksanaan pembangunan.
Tanah yang mengalami tekanan mengakibatkan angka pori berkurang dan merubah
sifat-sifat mekanik tanah yang lain, seperti menambah tahanan geser.Tanah yang
berada dalam air akan dipengaruhi oleh gaya hidrostatis. Berat tanah yang terendam
disebut berat tanah efektif, dan tegangan yang terjadi disebut tegangan efektif.
Tegangan efektif merupakan tegangan yang mempengaruhi kuat geser dan perubahan
volume atau penurunan tanah. Penurunan muka air tanah akan menyebabkan kenaikan
tegangan efektif pada tanah, dan apabila besamya tegangan efektif melampaui
tegangan yang diterima tanah sebelumnya maka tanah akan mengalami konsolidasi
dan kompaksi yang mengakibatkan amblesan tanah pada daerah konsolidasi normal.
Penurunan permukaan tanah adalah peristiwa turunnya permukaan tanah yang
disebabkan oleh adanya perubahan pada volume lapisan batuan yang ada dibawahnya.
Biasanya peristiwa ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama, sehingga apabila
tidak dicegah atau diatasi akan menimbulkan dampak bagi lingkungan sekitar.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peristiwa ini sering terjadi di wilayah
Jakarta dengan tingkat penurunan tanah sekitar 5-10 cm yang menyebabkan 40%
wilayah dari Jakarta menjadi berada dibawah permukaan laut atau berada di dataran
rendah. Seiring dengan semakin berkembangnya pengetahuan dan teknologi, tingkat
penggunaan tanah juga semakin meningkat, tak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia
sendiri, penggunaan tanah masih terpusat pada pembangunan serta pertanian, namun
dikarenakan tidak dibarengi dengan menejerial pengolahan tanah yang baik, sehingga
penggunaan tanah di Indonesia memunculkan salah satu masalah lingkungan yaitu
penurunan permukaan tanah

4
1.2 RUMUSAN MASALAH
 Bagaimana konsep tegangan efeltif pada tanah ?
 Apa saja gambaran tegangan efektif dan netral serta perembesan ?
 Apa itu konsolidasi dan penurunan tanah?
 Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya konsolidasi dan penurunan tanah?
 Bagaimana konsolidasi dan penurunan tanah itu dapat terjadi?
 Apa saja gambaran umum tentang konsolidasi normally consolidated dan
overconsolidated serta pengukuran konsolidasi tanah?
 Apa saja gambaran umum penurunan tanah serta 3 tahapan penurunan?

1.2 TUJUAN
 Mengetahui konsep tegangan efektif tanah
 Mengetahui apa itu tegangan efektif dan netral serta perembesan pada tanah.
 Mengetahui apa konsolidasi dan penurunan tanah
 Mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya konsolidas dan
penurunan tanah
 Mengetahui bagaimana konsolidasi dan penurunan tanah itu dapat terjadi
 Mengetahui gambaran umum tentang konsolidasi normally consolidated dan
overconsolidated serta pengukuran konsolidasi tanah
 Mengetahui gambaran umum penurunan tanah serta 3 tahapan penurunan

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tegangan Tanah


Tanah yang mengalami tekanan mengakibatkan angka pori berkurang dan
merubah sifat-sifat mekanik tanah yang lain, seperti menambah tahanan geser.Tanah
yang berada dalam air akan dipengaruhi oleh gaya hidrostatis. Berat tanah yang
terendam disebut berat tanah efektif, dan tegangan yang terjadi disebut tegangan
efektif. Tegangan efektif merupakan tegangan yang mempengaruhi kuat geser dan
perubahan volume atau penurunan tanah. Penurunan muka air tanah akan
menyebabkan kenaikan tegangan efektif pada tanah, dan apabila besamya tegangan
efektif melampaui tegangan yang diterima tanah sebelumnya maka tanah akan
mengalami konsolidasi dan kompaksi yang mengakibatkan amblesan tanah pada
daerah konsolidasi normal.

Kekuatan geser suatu masa tanah merupakan perlawanan internal tanah


tersebut per satuan luas terhadap keruntuhan atau pergeseran sepanjang bidang geser
dalam tanah tersebut. Pengetahuan tentang kekuatan geser tanah dan sifat-sifat fisik
tanah lainnya akan sangat membantu dalam merencanakan suatu konstruksi yang
sesuai dengan kondisi tanahnya, aman, dan ekonomis.

Tegangan geser hanya dapat ditahan oleh butiran-butiran tanah, yaitu oleh
gaya-gaya yang berkembang pada bidang singgung antar butiran.  Tegangan normal
yang bekerja, ditahan oleh tanah melalui penambahan gaya antar butirannya. Jika
tanah dalam keadaan jenuh sempurna, air yang mengisi ruang pori dapat juga menahan
tegangan normal, dengan akibatnya akan terjadi kenaikan tekanan air pori. Pada tanah
granuler, seperti tanah pasir dan kerikil, secara fisik tegangan efektif kadang-kadang
disebut tegangan intergranuler. Luas bidang kontak antar butiran sangat kecil,
dimana untuk butiran bulat kontak antar butirnya berupa sebuah titik.

Prinsip tegangan efektif menurut Terzaghi hanya berlaku pada tanah yang jenuh


sempurna, yaitu :

1.      Tegangan normal total (σ) pada suatu bidang di dalam massa tanah, yaitu tegangan
akibat berat tanah total termasuk air dalam ruang pori, per satuan luas yang arahnya
tegak lurus.

2.      Tekanan pori (u), disebut juga dengan tekanan netral yang bekerja kesegala arah
sama besar, yaitu tekanan air yang mengisi rongga di dalam butiran padat.

3.      Tegangan normal efektif (σ’) pada suatu bidang di dalam massa tanah ,yaitu
tegangan yang dihasilkan dari beban berat butiran tanah per satuan luas bidangnya.

6
2.1.1 Konsep Tegangan Efektif (Tanah)
            Dalam suatu tanah dengan volume tertentu, butiran pori tersebut berhubungan
satu sama lain hingga merupakan suatu saluran seperti kemampuan memampat dari
tanah, daya dukung pondasi, kestabilan timbunan, dan tekanan tanah horisontal pada
konstruksi dinding penahan tanah.

2.1.1.1 Tegangan pada Tanah Jenuh Air tanpa Rembesan

            Tegangan total pada titik A dapat dihitung dari berat volume tanah jenuh air
dan berat volume air diatasnya.

             = H γw  + (HA – H) γsat

Dimana:

             = tegangan total pada titik A.

            γw  = berat volume air.

            γsat = berat volume tanah jenuh air.

            H = tinggi muka air diukur dari permukaan tanah didalam tabung.

            HA = jarak antara titik A dan muka air.

2.1.1.2 Pada Tanah Jenuh Air  dengan Rembesan

            Tegangan efektif pada suatu titik di dalam massa tanah akan mengalami
perubahan di karenakan oleh adanya rembesan air yang melaluinya. Tegangan efektif
ini akan bertambah besar atau kecil tergantung pada arah dari rembesan.

1)      Rembesan air keatas.

            Gambar 5.3a menunjukkan suatu lapisan tanah berbutir didalam silinder
dimana terdapat rembesan air ke atas yang disebabkan oleh adanya penambahan air
melalui saluran pada dasar silinder. Kecepatan penambahan air dibuat tetap.
Kehilangan tekanan yang disebabkan oleh rembesan keatas antara titik A dan B adalah
h. Perlu diingat bahwa tegangan total pada suatu titik didalam massa tanah adalah
disebabkan oleh berat air dan tanah diatas titik bersangkutan.

            Pada titik A.

                        Tegangan total: A = H1 γw

                        Tegangan air pori: uA = H1 γw

                        Tegangan efektif:  A' = A - uA = 0

            Pada titik B.

7
                        Tegangan total: B = H1 γw + H2γsat

                        Tekanan air pori: uB= (H1 + H2 + h )γw

                        Tegangan efektif: B' = H2γ' - h γw

            Dengan cara yang sama , tegangan efektif pada titik C yang terletak pada
kedalaman z dibawah permukaan tanah dapat dihitung sebagai berikut:

            Pada titik C.

                        Tegangan total: C = H1 γw + zγsat

                        Tekanan air pori: uC =  γw

                        Tegangan efektif: C' = zγ' - z

2)      Rembesan Air Kebawah.

            Gradien hidrolik yang disebabkan oleh rembesan air kebawah adalah sama
denganh/H2. Tegangan total, tekanan air pori, dan tegangan efektif pada titik C adalah:

            C        = H1 γw + zγsat

u
                 C            = (H1 + z  –  iz )γw

            C'      = (H1 γw + zγsat ) – (H1 + z  –  iz )γw

                        = zγ' - iz γw

2.1.1.3 Gaya Rembesan

            Pada sub-bab terdahulu telah diterangkan bahwa rembesan dapat


mengakibatkan penambahan atau pengurangan tegangan efektif pada suatu titik di
dalam tanah. Yang ditunjukkan bahwa tegangan efektif pada suatu titik yang terletak
pada kedalaman z dari permukaan tanah yang diletakkan didalam silider , dimana
tidak ada rembesan air.adalah sama dengan zγ'. Jadi gaya efektif pada suatu luasan A
adalah

            P1' = zγ' A

            Apabila terjadi rembesan air arah keatas melalui lapisan tanah pada gambar
5.3, gaya efektif pada luasan A pada kedalaman z dapat ditulis sebagai berikut:

P2' = ( zγ' - iz γw)A

            Oleh karena itu , pengurangan gaya total sebagai akibat dari adanya rembesan
adalah:

            P1' - P2' = iz γwA

8
            Volume tanah dimana gaya efektif bekerja adalah sama dengan zA. Jadi gaya
efektif per satuan volume tanah adalah

= = i γw

Gaya per satuan volume, iγw, untuk keadaan ini bekerja ke arah atas, yaitu searah
dengan arah aliran. Begitu juga untuk rembesan air kearah bawah, gaya rembesnya per
satuan volume tanah adalah iγw.

2.1.1.4 Penggelembungan pada Tanah yang Disebabkan oleh Rembesan di Sekaliling Turap

Gaya rembesan per satuan volume tanah dapat dihitung untuk memeriksa
kemungkinan keruntuhan suatu turap dimana rembesan dalam tanah mungkin dapat
menyebakan penggelembungan (heave) pada daerah hilir. Setelah melakukan banyak
model percobaan, Terzaghi (1922) menyimpulkan bahwa penggelembungan pada
umumnya terjadi pada daerah sampai sejauh D/2 dari turap (dimana D adalah
kedalaman pemancangan turap). Oleh karena itu, kita perlu menyelidiki kesetabilan
tanah didaerah luasan D tersebut).

2.1.1.5 Tegangan Efektif didalam Tanah Jenuh Sebagian

Didalam tanah yang jenuh sebagian, air tidak mengisi seluruh ruang pori yang
ada dalam tanah. Jadi, dalam hal ini terdapat 3 sistem fase, yaitu butiran padat, air pori
dan udara pori .Maka dari itu, tegangan total pada setiap titik didalam tanah terdiri dari
tegangan antar butir, tegangan air pori, dan tegangan udara pori.Dari hasil percobaan
dilaboratorium, Bishop, Alpan, Blight, dan donal (1960) menyajikan suatu persamaan
tegangan efektif untuk tanah yang jenuh sebagian.

σ' = σ - ua + χ (ua – uw)

Dimana:

σ' = tegangan efektif

σ  = tegangan total

ua = tekanan udara pori

uw = tekana air pori

 Dalam persamaan diatas , χ merupakan bagian dari luasan penampang


melintang yang ditempati oleh air. Untuk tanah kering χ = 0 dan untuk tanah jenuh air,
χ = 1.

Bishop, Alpan, Blight, dan donal telah menunjukkan bahwa harga tengah dari
χ adalah tergantung pada derajat kejenuhan (S) tanah. Tetapi harga tersebut juga
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti stuktur tanah.

Ruang pori didalam tanah yang berhubungan satu sama lain dapat berperilaku
sebagai kumpulan tabung kapiler dengan luas penampang yang bervariasi
9
Walaupun konsep kenaikan air kapiler yang didemonstrasikan dengan pipa
kapiler yang ideal dapat dipakai tanah, tapi perlu diperhatikan bahwa pipa kapiler yang
terbentuk didalam tanah mempunyai luas penampang yang bervariasi. hasil dari
ketidakseragaman kenaikan air kapiler dapat dilihat apabila suatu tanah berpasir yang
kering didalam silinder diletakkan bersentuhan dengan air.

Hazen (1930) memberikan perumusan untuk menentukan tinggi kenaikan air


kapiler secara pendekatan, yaitu:

h1(mm) =

dimana:

 = ukuran efektif (dalam mm)

e = angka pori

C = konstanta yang bervariasi dari 10 mm2  sampai dengan 50 mm2

Teganagan efektif di dalam zona kenaikan air kapiler

Berat tanah yang terendam air disebut berat tanah efektif, sedangkan tegangan yang
terjadi akibat berat tanah efektif di dalam tanah disebut tegangan efektif. Pada tanah
granuler, tanah pasir, dan kerikil dikenal dengan tegangan intergranuler. Tegangan
efektif merupakan tegangan yang mempengaruhi kuat geser dan perubahan volume atau
penurunan tanah.

 Tegangan Efektif dan Tegangan Netral

Terzaghi (1923) memberikan prisip tegangan efektif yang bekerja pada tanah jenuh
air yang dinyatakan dalam persamaan :

σ = σ’ + u

dimana

σ    =  tegangan normal total pada suatu bidang di dalam massa tanah (tegangan akibat berat tanah
total termasuk ruang pori, persatuan luas yang arahnya tegak lurus)

u    =    tekanan pori (u), dikenal dengan tekanan netral yang bekerja ke segala arah sama besar

σ’   =    tegangan normal efektif (σ’), yaitu tegangan yang dihasilkan dari beban butiran tanah
efektif per satuan bidang luas

σz = γsat z

10
Tegangan efektif dalam tanah dapat ditentukan dengan cara meninjau lapisan tanah
dengan permukaan mendatar dan dengan permukaan air tanah pada permukaan. Tegangan
vertikal total  (σz) merupakan tegangan normal pada bidang horisontal pada kedalaman z,
dengan

σz   =    kedalaman titik di dalam tanah

γsat =    berat volume tanah jenuh

Jika air tidak mengalir maka tekanan air pori pada sembarang kedalaman akan
berupa tekanan hidrostatis. Karena itu pada kedalaman z tekanan pori (u), dapat
didefinisikan :

u = γw z

Gambar 1.1 Tegangan efektif

Menurut persamaan (1.1) tegangan vertikal efektif (σ z’) pada kedalaman z :

σz’ = σz – u
σz’ = z γsat – z γw      

σz’ = (γsat – γw) z
 σz’= γ’ z dengan γ’ merupakan berat volume apung atau
berat volume tanah efektif saat tanah terendam
 
air.

σ = σ’ + ua – X (ua - uw)

            Tekanan air pori (uw) harus lebih kecil daripada tegangan yang terjadi dalam udara
(ua) akibat tarikan permukaan. Sehingga Bishop (1995) mengusulkan persamaan
hubungan tegangan total(σ) dan tegangan efektif (σ’) untuk tanah jenuh :

11
Gambar 1.2

dengan :

X   =    parameter  yang ditentukan secara ekperimental

uw =    tekanan air pori

ua   =    tekanan udara dalam pori

Untuk tanah jenuh (S = 1) nilai X = 1 untuk tanah kering sempurna (S = 0) maka


X=0

 Tegangan pada Tanah Jenuh Air tanpa Rembesan

Gambar 1.3

Pada gambar 1.3 menunjukan suatu massa tanah jenuh air di dalam suatu tabung
tanpa adanya rembesan air ke segala arah. Tegangan total di titik A dapat dihitung dengan
cara :

σ = H γw + (HA - H) γsat

dimana

σ    =    tegangan total pada titik A

γw   =    berat volume air

12
γsat  =    berat volume tanah jenuh air

H   =    tinggi muka air diukur dari permukaan tanah di dalam bidang

HA =    jarak antara titik A dan muka air

Tegangan total (σ) dari persamaan (1.6) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :

a)      Bagian yang diterima oleh air di dalam ruang pori yang menerus (tegangan ini bekerja ke
segala arah sama besar)

b)      Sisa dari tegangan total dipikul oleh butiran tanah padat pada titik-titik sentuhnya.

 Tegangan pada Tanah Jenuh Air dengan Rembesan

Tegangan efektif pada suatu titik akan mengalami perubahan dikarenakan oleh
adanya rembesan air yang melaluinya. Tegangan efektif ini akan bertambah besar atau
kecil tergantung pada arah rembesan.

a)      Rembesan ke Atas

Gambar 1.4

Pada gambar 1.4 menunjukan suatu lapisan tanah berbutir di dalam silinder dimana
terdapat rembesan air ke atas yang disebabkan adanya penambahan air melalui saluran
pada dasar silinder.

Pada titik A

Tegangan total (σA)     = H1γw

Tekaan air pori (uA)     = H1γw

Tegangan efektif (σA’)= σA - uA = 0

Pada titik B

Tegangan total (σB)     = H1γw + H2γsat


13
Tekaan air pori (uB)     = (H1 + H2 + h) γw

Tegangan efektif (σB’)= σB – uB

                                    = H2γsat - γw - h γ

b)      Rembesan ke Bawah

Gambar 1.5

Keadaan di mana terdapat rembesan air ke bawah dapat dilihat dalam gambar 1.5.
Ketinggian air di dalam silinder diusahakan tetap, hal ini diatur dengan cara
menambahkan air dari atas dan pengaliran air ke luar melalui dasar selinder.

Tegangan total (σB)     = H1γw + zγsat

Tekaan air pori (uB)     = (H1 + z – iz)γw

Tegangan efektif (σB’)= σB – uB    = (H1γw + zγsat) – (H1 + z – iz) γw

                                                = z γ’ + iz γw                                                                       (1.7)

 Penggelembungan pada Tanah yang Disebabkan oleh Rembesan di Sekeliling


Turap

Gaya rembesan per satuan volume tanah dapat dihitung untuk memeriksa
kemungkinan keruntuhan suatu turap di mana rembesan dalam tanah dapat menyebakan
penggelemmbungan (heave) pada daerah hilir sesuai yang ditunjukan oleh gambar 1.6.
Terzaghi (1992) menyimpulkan bahwa penggelembungan udara pada umumnya terjadi
pada daerah sejauh D/2 dari turap (di mana D adalah kedalaman pemancangan turap).

14
Gambar 1.6

Dimana :

FS  =    faktor keamanan

W’ =    berat tanah basah di daerah gelembung per satuan lebar turap

 Penentuan Zona Potensi Likuifasi di Kota Maumere dengan Pendekatan


Tegangan Efektif Melalui Metoda Poroelastisitas dan Elemen Hingga

Ketika pasir lepas jenuh mengalami getaran gempa maka tekanan air pori akan
meningkat. Kenaikan ini akan mengurangi tegangan efektif tanah dan apabila terus
berlanjut maka tegangan efektif akan menjadi nol sehingga tanah kehilangan kekuatannya.
Kondisi ini disebut Likuffaksi. Kerugian yang diakibatkan likuifaksi sangat besar, oleh
karena itu perlu dibuat suatu peta kerentanan likuifaksi pada daerah tertentu terutama yang
terletak di daerah berpasir yang rawan gempa dan memiliki arti strategis tertentu.
Penentuan zona kerentanan likuifaksi sangat bermanfaat karena membantu para perancang
bangunan-bangunan sipil dalam menentukan lokasi proyeknya dan menentukan
perlakuan-perlakuan apa saja yang diperlukan untuk menanggulangi fenomena ini. 
Penentuan zone potensi likuifaksi yang digunakan adabab dengan analisis tegangan efektif
melalui Metoda Karakteristik yang berdasarkan konsep poroelastisitas dan analisis
dinamik. Hasil yang didapat menunjukkan rawannya daerah pantai terhadap bahaya
likuifaksi yang diindikasikan dengan turunnya tegangan efektif mendekati nol.

2.1.2 Tegangan Efektif dan Netral serta Perembesan


2.1.2.1 Tegangan Efektif dan Netral

Apabila suatu massa tanah yang dibebani di bawah air akan mengalami dua
macam tegangan dalam keadaan tanah jenuh., yaitu :

1.                Tegangan efektif (tekanan antar butir tanah)

2.                Tegangan netral (tekanan air pori)

15
Untuk mempelajari tegangan-tegangan yang bekerja pada tanah, dan khususnya
pada kerangka butir tanah, maka kita dapat menghitung tegangan-tegangan pada
kedalaman H di bawah permukaan tanah seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

Permukaan air tanah terletak pada kedalaman h, dan berat isi tanah yang terletak di
atas muka air =   , sedangkan berat isi tanah di bawah muka air =  . Disini kita
dapat langsung menghitung tegangan-tegangan pada bidang ab pada kedalaman h.

h +   (H – h)            dimana    tegangan total

Tegangan total adalah gabungan antara tegangan efektif dan tegangan netral.

Selain tegangan total, besarnya tegangan air didalam pori bias dihitung. Tegangan
ini disebut tegangan air pori (pore water pressure). Semua pori didalam tanah
berhubungan satu dengan yang lainnya, sehingga tegangan air pori adalah sama
dengan tegangan hidrostatik, yaitu :

 (H – h)                    dimana      = tegangan air pori

Jadi tegangan efektif adalah :

 =   –    

Karena pengaruh gaya kapiler, maka tanah diatas muka air tanah dalam keadaan
jenuh, maka :

=   =   
 

=   =    
2.1.2.2  Geradien Hidrolik Kritis

Apabila suatu tekanan dikerjakan pada lapisan pasir sehingga menimbulkan aliran
air yang cukup memberikan keseimbangan terhadap gaya kearah bawah, maka
16
muncul kondisi yang tidak stabil. Pasir dalam kondisi ini (pasir lepas dan butiran
pasir bercampur air dalam keadaan kental/liquid tanpa tegangan geser)
disebutquick sand.

Pada bidang dasar pasir, gaya total kearah bawah adalah sama dengan berat pasir
jenuh.

 LA =    . LA
Gaya tekan keatas adalah dari seliisih tinggi muka air, (h + L) pada luas penampang :

A =   ( h + L ). A

Apabila kedua gaya adalah sama, maka gaya kearah bawah dasar tidak ada efeknya dan
berarti tidak ada gaya yang bekerja untuk mencegah mengalirnya pasir dalam
wadah/container.

Jadi :       . LA =  (h+L)A

Atau :    LA ( - 1) =   hA


 

 =   =   = 


h/L adalah gradient pada tanah, dimana tekanan efektif dalam bidang horizontal
dikurangi sampai nol dan ini disebut gradient hidrolik kritis.

2.1.2.3    Kejadian/Peristiwa Kapiler

Tinggi kapiler ( ) dalam pipa kapiler dengan radius r sebesar :


17
Dimana : T = tegangan permukaan

                   = berat isi cairan

                 r = jari-jari kapiler

Cairan air ,     = 0

Cairan air raksa ,        = 

Kalau cairan dalam pipa kapiler adalah air, maka :


 


 

T = 
Dimana : r  = diameter dalam dari pipa

               t  = tebal pipa

               p = selisih tekanan dalam dan luar

Timbulnya kapiler dalam tanah, pertama-tama tergantung pada ukuran butir tanah
dan kadar pori.

Tinggi kapiler dalam tanah :

18

 dalam cm

 berkisar antara 0,1 – 0,5 ; tergantung pada bentuk dan sifat permukaan butir.

Sedangkan teganagn netral ( ) akan bernilai negative dalam daerah berkapiler.

=   - ( -  ) =   + 

Berarti tengangan kapiler memperbesar tegangan efektif tanah.

2.1.2.4    Rembesan (Spepage)

Ciri-ciri drainase alamiah pada tanah memainkan peranan penting dalam


perencanaan irigasi, kanal, reservoir dan lain sebaginya.

Ciri/sifat ini dapat diselesaikan dengan flow nets/jaring-jaring aliran.

Flow nets adalah gambar rembesan air di dalam tanah yang berupa deretan garis
equipotensial dan sederetan garis aliran yang saling berpotongan secara tegak
lurus.

Flow net digunakan untuk mengetahui :

1.    Besarnya gaya tekan ke atas

2.    Gaya-gaya atau jumlah debit

3.    Tekanan air pori

Menggambar Flow Net

1.    Gambar daerah rembesan air dan bagunan dengan skala, kemudian gambar
garis aliran dan garis ekipotensial sampai keujung-ujungnya, jangan sampai
garis aliran atau garis ekipotensial tidak masuk seluruhnya pada gambar
tersebut.

2.    Gambarlah tiga atau empat garis aliran dengan mengingat bahwa jarak antara
garis aliran bergantung pada lengkungnya. Makin lengkung garis aliran berarti
semakin dekat satu dengan yang alinnya.

3.    Masukan garis-garis ekipotensial dengan memperhatikan bahwa


perpotongannya dengan garus aliran harus tegak lurus sehingga bentuk
polygon-poligon mendekati bujur sangkar.

4.    Rubahlah tempat dan bentuk garus-garis aliran dan ekipotensial seperlunya


sampai semua syarat-syarat cukup dipenuhi.

19
Sesudah flow net digambar, maka dapat dihitung :

a.    Tegangan air setiap tempat

b.    Banyaknya air yang merembes

h = perbedaan tinggi air sepanjang flow nets

Nf  = 4  (jumlah aliran)

Ne = 11 (jumlah ekipotensial)

Perbedaan ketinggian tegangan antara dua garis : aliran = 

         Setelah diketahui perbedaan ketinggian, maka dapat dihitung gradient hidrolik
antara garis-garis ekipotensial. Misalnya pada bujur sangkar dengan lebar 1 (lihat
gambar), gradient hidrolik :

i = 
Dari rumus Darcy kita dapat menghitung kecepatan aliran, yaitu :

V = 

Dimana  V = kecepatan

Bannyaknya air antara dua garis aliran :

V. 1 = 

Sehingga jumlah air yang mengalir :

Q =   x   =   x kh

20
Dimana Q = jumlah air yang merembes pada flow nets tersebut.

                   Satuan Q adalah ( /det) atau liter/det, misalnya.

Tegangan air pori pada setiap tempat dapat dihitung dari perbedaan tegangan
antara masing-masing garis ekipotensial. Misalnya tegangan air pori pada titik P
pada gambar, adalah :

 =   ( D +   h)

Dimana   = tegangan air pori

Antara masing-masing garis ekipotensial pada gambar terdapat perbedaan


tegangan sebesar :

 = 

Nf  = …………5………

Ne = …………8……..

 
2.2 Konsolidasi Tanah
Konsolidasi tanah adalah kebijaksanaan pertanahan mengenai penataan kembali
penguasaan dan penggunaan serta usaha pengadaan tanah untuk kepentingan
pembangunan, untuk peningkatan kualitas lingkungan dan pemeliharaan sumber daya
alam dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat. ( Pasal 1 angka 1 ).
Tanah sebagai salah satu kekayaan bangsa Indonesia harus dimanfaatkan untuk
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Untuk mewujudkan hal itu maka pemanfaatan
tanah perlu dilaksanakan dalam bentuk pengaturan, penguasaan, dan penatagunaan tanah.
21
Model yangdapat digunakan adalah konsolidasi tanah sebagai salah satu upaya untuk
meningkatkan daya guna dan hasil guna tanah serta menyelaraskan kepentingan individu
dengan fungsi sosial tanah dalam rangka pelaksanaan pembangunan.
Pada pokoknya konsolidasi tanah bertujuan menyediakan tanah untuk
kepentingan pembangunan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta
memberikan pemanfaatan tanah yang optimal. Dengan tercapainya tujuan tersebut diatas,
beberapa manfaat yang dapat diraih adalah sebagai berikut :
1. Kebutuhan akan adanya lingkungan pemukiman atau areal pertanian dapat terpenuhi.
2. Membantu mempercepat laju pembangunan pemukiman atau pembangunan daerah
pertanian di pedesaan.
3. Pemerataan hasil-hasil pembangunan yang langsung dinikmati oleh pemilik tanah.
4. Menghindari akses-akses yang sering timbul dalam hal penyediaan tanah secara
konvensional. Konsolidasi tanah merupakan manifestasi prinsip gotong-royong

2.2.1 Normally Consolidated dan Overconsolidated


  Normally Consolidated Istilah ini adalah menyatakan suatu lapisan tanah
yang belum pernah mengalami tekanan di atasnya lebih tinggi dari pada tekanan
yang berlaku saat ini.
Over Consolidated (Pre Consolidation) adalah tekanan pada suatu lapisan
tanah pada waktu dahulu pernah mengalami pembebanan. Misalnya lapisan
endapan, oleh sebab geologis endapan tersebut hilang, saehingga lapisan tanah
tersebut pernah mengalami tekanan lebih tinggi dari pada tekanan yang berlaku di
atasnya saat ini.

2.2.2 Perhitungan Konsolidasi

Prinsip uji konsolidasi

22
Dari uji ini kita akan memperoleh kurva yang bilinear yang mana titik potong
antara kedua kurva tersebut menyatakan tegangan terbesar yang pernah diterima
material tanah, atau lebih dikenal dengan nama tegangan prekonsolidasi , yaitu
kondisi dimana mulai terjadi kehancuran butiran tanah pada sampel seperti
ditunjukkan gambar dibawah ini.

Kurva tipikal hasil uji konsolidasi


Kurva diatas pada umumnya digambarkan dalam – dan kita akan
memiliki dua jenis kondisi konsolidasi yang dikenal sebagai tanah terkonsolidasi
normal dan tanah overkonsolidasi. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar
berikut:

Tanah terkonsolidasi normal

Tanah overkonsolidasi

23
Dari gambar diatas kita ketahui, bila tegangan total ( ) yang akan
diaplikasikan:

 Nilainya lebih kecil daripada , atau , maka kondisi ini


diklasifikasikan sebagai tanah overkonsolidasi (overconsolidated soil). Rasio ini
sering dikenal sebagai (over consolidated ratio).
 Nilainya lebih besar daripada , maka nilai , sehingga
. Kondisi ini dikenal sebagai tanah terkonsolidasi normal (normally consolidated
soil).
Perlu diketahui bahwa kita hanya tertarik mengetahui besarnya settlement
maksimal yang dialami tanah, yaitu saat tegangan air pori sudah nol!! Ini
artinya pada kalkulasi berikut kita asumsikan bahwa kondisi peralihan saat tanah
memiliki telah terjadi.
Sebagai catatan tambahan, kondisi dimana dapat diartikan sebagai
kondisi dimana beban dari luar belum semuanya ditanggung oleh matrik dari
bagian solid dari tanah, atau dengan kata lain proses disipasi tegangan air pori
masih terjadi (under consolidated soil).
Dari gambar sebelumnya kita bisa menghitung dua parameter berikut hasil uji
konsolidasi:

 Index/koefisien kompresibilitas dengan

 Index/koefisien rekompresi dengan


Cat: dan menyatakan besarnya tegangan di awal dan akhir pengamatan, baik
pada fase tanah overkonsolidasi, maupun pada fase tanah terkonsolidasi normal.
Dengan mengetahui parameter diatas dan , tegangan inisial dan
mengetahui berapa besarnya tambahan tegangan yang akan diberikan ke
tanah, kita bisa menghitung besarnya konsolidasi yang akan terjadi. Untuk lebih
jelasnya perhatikan gambar diagram fase dibawah ini.

Diagram fase konsolidasi. Cat: warna biru = void (air+pori), warna arsir hitam =
matriks solid tanah

24
Dari gambar diagram fase dari konsolidasi satu dimensi diatas kita miliki
hubungan berikut:

Berikutnya cukup mudah, karena dari grafik hasil konsolidasi kita memiliki
koefisien dan , maka besar konsolidasi untuk beberapa kondisi dapat
diformulasikan sbb:
 Untuk tanah overkonsolidasi (OCR>1) dengan , maka

 Untuk tanah terkonsolidasi normal (OCR=1) dengan , maka

 Bila kita memiliki , namun dengan OCR=1, yaitu tanah yang mengalami
overkonsolidasi dan kemudian terkonsolidasi normal, maka kita gabungkan
kedua formula diatas menjadi

2.3 Penurunan Tanah

Penurunan permukaan tanah adalah peristiwa turunnya permukaan tanah yang


disebabkan oleh adanya perubahan pada volume lapisan batuan yang ada dibawahnya.
Biasanya peristiwa ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama, sehingga apabila
tidak dicegah atau diatasi akan menimbulkan dampak bagi lingkungan sekitar.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, peristiwa ini sering terjadi di wilayah
Jakarta dengan tingkat penurunan tanah sekitar 5-10 cm yang menyebabkan 40% .
Seiring dengan semakin berkembangnya pengetahuan dan teknologi, tingkat
penggunaan tanah juga semakin meningkat, tak terkecuali di Indonesia. Di Indonesia
sendiri, penggunaan tanah masih terpusat pada pembangunan serta pertanian, namun

25
dikarenakan tidak dibarengi dengan menejerial pengolahan tanah yang baik, sehingga
penggunaan tanah di Indonesia memunculkan salah satu masalah lingkungan yaitu
penurunan permukaan tanah

2.3.1 Klasifikasi Penurunan Tanah


 Penurunan Segera (Immediate Settelement): Penurunan yang berlangsung
seketika (cepat) pada saat pembebanan terjadi. Biasanya terjadi dalam jangka
waktu yang pendek antara 0 sampai kurang dari 7 hari. Umunya terjadi pada
lapisan tanah pasir atau jenis tanah dengan nilai derajat kejenuhan kurang dari
90% .Penurunan yang terjadi kecil serta bersifat elastis
 Penurunan Konsolidasi (Consolidation Settlement): Penurunan yang
berlangsung lebih lama pada saat pembebanan terjadi yang menyebabkan
keluarnya air dan udara dari dalam pori tanah. Umumya terajdi pada lapisan
tanah lempung atau tanah jenuh dengan nilai derajat 90-100%. Penurunan
yang terjadi besar. Besarnya penurunan ini tergantung lamanya waktu
pembebanan. Penurunan konsolidasi terjadi dalam dua periode yaitu
(a) Penurunan Konsolidasi Primer: penurunan yang terjadi akibat
berlangsungnya konsolidasi primer atau keluarnya air dan udara dari massa
tanah akibat bekerjanya beban luar. dan
(b) Penurunan Konsolidasi Sekunder: penurunan yang terjadi akibat
relokasi butiran partikel tanah ke posisi yang lebih stabil.

2.3.2 Tahap Penurunan Tanah

Immediate Settlement (penurunan seketika), diakibatkan dari


deformasi elastis tanah kering, basah, dan jenuh air, tanpa adanya perubahan
kadar air. Umumnya, penurunan ini diturunkan dari teori elastisitas. Immediate
settlement ini biasanya terjadi selama proses konstruksi berlangsung.
Parameter tanah yang dibutuhkan untuk perhitungan adalah undrained
modulus dengan uji coba tanah yang diperlukan seperti SPT, Sondir (dutch
cone penetration test), dan Pressuremeter test.
Primary Consolidation Settlement (penurunan konsolidasi primer),
yaitu penurunan yang disebabkan perubahan volume tanah selama periode
keluarnya air pori dari tanah. Pada penurunan ini, tegangan air pori secara
kontinyu berpindah ke dalam tegangan efektif sebagai akibat dari keluarnya air

26
pori. Penurunan konsolidasi ini umumnya terjadi pada lapisan tanah kohesif
(clay / lempung)
Secondary Consolidation Settlement (penurunan konsolidasi
sekunder), adalah penurunan setelah tekanan air pori hilang seluruhnya. Hal
ini lebih disebabkan oleh proses pemampatan akibat penyesuaian yang bersifat
plastis dari butir-butir tanah.

1. Immediate Settlement – Penurunan Seketika


Penurunan seketika / penurunan elastic terjadi dalam kondisi undrained
(tidak ada perubahan volume). Penurunan ini terjadi dalam waktu yang
sangat singkat saat dibebani secara cepat. Besarnya penurunan elastic ini
tergantung dari besarnya modulus elastisitas kekakuan tanah dan beban
timbunan diatas tanah.

Dimana :
Sc = Immediate settlement
Δσ = Beban timbunan (kN/m2)
Es = Modulus elastisitas tanah
μs = Poisson’s Ratio
B = Lebar / diameter timbunan (m)
Ip = non-dimensional influence factor
Schleicher (1926) mendefinisikan factor Ip ini sebagai :

Dimana m1 = L/B
(panjang/lebar beban yang bekerja)

27
2. Primary Consolidation – Konsolidasi Primer
Pada tanah lempung jenuh air, penambahan total tegangan akan
diteruskan ke air pori dan butiran tanah. Hal ini berarti penambahan
tegangan total (Δσ) akan terbagi ke tegangan efektif dan tegangan air pori.
Dari prinsip tegangan efektif, dapat diambil korelasi :
Δσ = Δσ’ + Δu
Dimana :
Δσ’  =   penambahan tegangan efektif
Δu   =   penambahan tegangan air pori
Karena lempung mempunyai daya rembes yang sangat rendah dan air
adalah tidak termampatkan (incompressible) dibandingkan butiran tanah,
maka pada saat t = 0, seluruh penambahan tegangan, Δσ, akan dipikul oleh
air (Δu = Δσ) pada seluruh kedalaman lapisan tanah.
Penambahan tegangan tersebut tidak dipikul oleh butiran tanah (Δσ’ =
0).Sesaat setelah pemberian penambahan tegangan, Δσ, pada lapisan
lempung, air dalam pori mulai tertekan dan akan mengalir keluar. Dengan
proses ini, tekanan air pori pada tiap-tiap kedalaman pada lapisan lempung
akan berkurang secara perlahan-lahan, dan tegangan yang dipikul oleh
butiran tanah keseluruhan (tegangan efektif / Δσ’) akan bertambah. Jadi
pada saat 0 < t < ∞
Δσ = Δσ’+ Δu                   (Δσ’ > 0 dan Δu < Δσ)
Tetapi, besarnya Δσ’ dan Δu pada setiap kedalaman tidak sama,
tergantung pada jarak minimum yang harus ditempuh air pori untuk
mengalir keluar lapisan pasir yang berada di bawah atau di atas lapisan
lempung.
Pada saat t = ∞, seluruh kelebihan air pori sudah hilang dari lapisan
lempung, jadi Δu = 0. Pada saar ini tegangan total, Δσ, akan dipikul
28
seluruhnya oleh butiran tanah seluruhnya (tegangan efektif, Δσ’). Jadi Δσ
= Δσ’.
Berikut adalah variasi tegangan total, tegangan air pori, dan tegangan
efektif pada suatu lapisan lempung dimana air dapat mengalir keluar
struktur tanah akibat penambahan tegangan, Δσ, yang ditunjukan gambar
dibawah.

Proses terdisipasinya air pori secara perlahan, sebagai akibat


pembebanan yang disertai dengan pemindahan kelebihan tegangan air pori
ke tegangan efektif, akan menyebabkan terjadinya penurunan yang
merupakan fungsi dari waktu (time-dependent settlement) pada lapisan
lempung. Suatu tanah di lapangan pada kedalaman tertentu telah
mengalami tegangan efektif maksimum akibat beban tanah diatasnya
(maximum effective overburden pressure) dalam sejarah geologisnya.
Tegangan ini mungkin sama, atau lebih kecil dari tegangan overburden
pada saat pengambilan sample.
Berkurangnya tegangan di lapangan tersebut bisa diakibatkan oleh
beban hidup. Pada saat diambil, contoh tanah tersebut terlepas dari
tegangan overburden yang telah membebani selama ini. Sebagai akibatnya,
tanah tersebut akang mengalami pengembangan. Pada saat dilakukan uji
konsolidasi pada tanah tersebut, suatu pemampatan yang kecil (perubahan
angka pori yang kecil) akan terjadi bila beban total yang diberikan pada
saat percobaan adalah lebih kecil dari tegangan efektif overburden
maksimum (maximum effective overburden pressure) yang pernah dialami
sebelumnya.
29
3    Secondary Consolidation – Konsolidasi Sekunder
Pada akhir konsolidasi primer (setelah tegangan air pori U = 0), penurunan
pada tanah masih tetap terjadi sebagai akibat dari penyesuaian plastis
butiran tanah. Tahapan konsolidasi ini dinamakan konsolidasi sekunder.
Variasi angka pori dan waktu untuk penambahan beban akan sama seperti
yang ditunjukkan pada gambar berikut.

Besarnya konsolidasi sekunder dapat dihitung dengan rumus :

dimana :

Ca =   Indeks pemampatan sekunder


Δe   =   Perubahan angka pori
t      =   Waktu

ep =   angka pori pada akhir konsolidasi primer


H    =   tebal lapisan lempung, m
Penurunan yang diakibatkan konsolidasi sekunder sangat penting untuk
semua jenis tanag organic dan tanah anorganik yang sangat mampu
mampat (compressible). Untuk lempung anorganik yang terlalu
terkonsolidasi, indeks pemampatan sekunder sangat kecil sehingga dapat
diabaikan.

30
2.4 Penurunan Konsolidasi

Pada lempung jenuh jika mengalami pembebanan maka tekanan air pori akan bertambah bertahap.
Tetapi untuk pasir yang mempunyai permeabilitas besar maka beban mengakibatkan naiknya tekanan
air pori cepat selesai. Air pori yang berpindah menyebabkan butiran tanah mengisinya akhirnya terjadi
penurunan.Penurunan akibat elastisitas tanah dan konsolidasi terjadi bersamaan.

Kompresibelitas lempung jenuh dengan bertambahnya tekanan, elastik settlement terjaadi secara
cepat. Disebabkan koefisien pemeabilitas lempung yang kecil dari pasir maka peningkatan tekanan air
pori secara perlahan dan keluarnya air pada pori memerlukan waktu yang sangat lama. Penurunan
yang disebabkan konsolidasi lebih besar beberapa kali dar penurunan elastik.

Besar penurunan konsolidasi adalah :

S c =∫ ε z dz
Δe
ε z=
z = vertikal strain =
1+ e o

Δe = peribahan void ratio = f (’o, ’c, Δ’)


31
Untuk lempung normal konsolidasi besar penurunan konsolidasi adalah :

'
C H σ +Δσ
S c = c c Log o ' av
1+e o σo

Untuk lempung over konsolidasi besar penurunan konsolidasi dimana (’o+ Δ’) < ’c adalah :

Cs Hc σ 'o + Δσ av
Sc= Log '
1+e o σo

Untuk lempung over konsolidasi besar penurunan konsolidasi dimana ’o < ’c < ’o + Δ’
adalah :

Cs Hc σ 'c Cc H c σ 'o + Δσ av
Sc = Log ' + Log
1+e o σ o 1+e o σ 'c

2.4.1 PENENTUAN PENAMBAHAN BEBAN DALAM TANAH () AKIBAT BEBAN


DIATASNYA

PENAMBAHAN BEBAN VERTIKAL () AKIBAT BEBAN TERPUSAT

TAHUN 1885 Boussinesq mengembangan secara matematis untuk menentukan normal stress dan
Shear stress akibat beban terpusat tanah homogen, elastis dan isotropis seperti ditunjukan pada gambar
dibawah.

Besar penambahan beban akibat beban yang bekerja adalah :

32
3P
Δσ =
2 5
r
2 πz 1+ 2
z [ ( )] 2

r= √ x 2 + y 2
Dimana x, y, z = koordinat titik

PENAMBAHAN BEBAN VERTIKAL () AKIBAT BEBAN BULAT

Persamaan Boussinesq diatas dapat diterapkan untuk menghitung penambahan beban dipusat beban
bulat seperti ditunjukan pada gambar dibawah ini.

3 ( qo r . dθ . dr )
Δσ =
2 5
2 πz 1+
r
2
z [ ( )] 2

θ=2 π r=B / 2 3 ( q o r .dθ . dr )


Δσ =∫ dσ = ∫ ∫ 2 5
θ=0 r=0
2 πz 1+
r
2
z [ ( )] 2

33
1
Δσ=q o 1−

{ [ ( )] }
1+
B
2z
23
2

Gambar dibawah ini dapat menentukan nilai Δ,

PENAMBAHAN BEBAN VERTIKAL () AKIBAT BEBAN PERSEGI

Untuk menentukan penambahan tegangan didalam tanah akibat beban luar seperti gambar dibawah ini

34
Penambahan tekanan dititik A adalah :

3
3 qo dx . dy . z
dσ = 5
2 2 2 2
2 π(x + y +z )

L B
3 ( q o . dx . dy ) z 3
Δσ =∫ dσ = ∫ ∫ 5
= qo I
y=0 x=0 2
2 π ( x 2+ y 2+ z2)

I = faktor pengaruh dapat ditentukan dengan menggunakan tabel atau grafik dibawah ini.

35
PENAMBAHAN BEBAN VERTIKAL () AKIBAT PONDASI DENGAN METODA 2:1

36
Untuk menentukan penambahan tegangan didalam tanah akibat beban luar seperti gambar dibawah ini

Besar penambahan tekanan adalah :

qo ×B×L
Δσ =
( B+ z ) ( L+ z )

PENAMBAHAN BEBAN VERTIKAL () AKIBAT TIMBUNAN

qo B 1 + B2 B1
Δσ =
π [( )] B2
( α 1 + α 2 )−
B2
( α 2)

Dimana :

37
qo=  x H

 = berat volume timbunan

H = tinggi timbunan

B1 + B2 B1
α 1 (radian)=tan −1
( z )−tan ( z )
−1

B1
α 2 (radian)=tan −1
(z)
Untuk lebih sederhana maka :

qo B 1 + B2 B1
Δσ =
π [( )] B2
( α 1 + α 2 )−
B2
( α 2 )=q o I

Dimana I adalah fungsi dari B1/z dan B2/z, seperti pada grafik dibawah ini.

38
CONTOH :

Pondasi dengan ukuran 2,5 m x 5,0 mdimana tanah dibawahnya memikul beban pondasi sebesar 145
kN/m2. Tentukan besar penambahan beban dipusat pondasi dan di pojok pondasi.

39
B

1,25 m
1 2
A

1,25 m
3 4

2,5 m 2,5 m

Penambahan beban dipusat pondasi :

Bidang 1 :

n= B/Z = 2,5/6,25 = 0,4

m= L/Z = 1,25/6,25 = 0,20

40
Dari tabel diatas didapat I1 = 0,0328

Δq1= qo x I1 = 145 x 0,0328 = 4,756 kN/m2.

Bidang 2:

n= B/Z = 2,5/6,25 = 0,4

m= L/Z = 1,25/6,25 = 0,20

Dari tabel diatas didapat I1 = 0,0328

Δq2= qo x I1 = 145 x 0,0328 = 4,756 kN/m2.

Bidang 3

n= B/Z = 2,5/6,25 = 0,4

m= L/Z = 1,25/6,25 = 0,20

Dari tabel diatas didapat I1 = 0,0328

Δq3= qo x I1 = 145 x 0,0328 = 4,756 kN/m2.

Bidang 4

n= B/Z = 2,5/6,25 = 0,4

m= L/Z = 1,25/6,25 = 0,20

Dari tabel diatas didapat I1 = 0,0328

Δq4= qo x I1 = 145 x 0,0328 = 4,756 kN/m2.

Δq = Δq1+ Δq2+ Δq3+ Δq4 =

= 756 kN/m2 + 4,756 kN/m2+4,756 kN/m2+4,756 kN/m2+4,756 kN/m2 =

= 4 x 4,756 kN/m2 = 19,024 kN/m

Penambahan beban dipojok pondasi :

n= B/Z = 5,0/6,25 = 0,8

m= L/Z = 2,5/6,25 = 0,4

dari tabel diatas diperoleh I = 0,09314

Δq= qo x I = 145 x 0,09314 = 13,5053 kN/m2.

41
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan mengenai tegangan tanah, konsolidasi dan penurunan tanah yang
telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa:

 Tanah yang mengalami tekanan mengakibatkan angka pori berkurang dan merubah
sifat-sifat mekanik tanah yang lain, seperti menambah tahanan geser.Tanah yang
berada dalam air akan dipengaruhi oleh gaya hidrostatis. Berat tanah yang terendam
disebut berat tanah efektif, dan tegangan yang terjadi disebut tegangan efektif.
Tegangan efektif merupakan tegangan yang mempengaruhi kuat geser dan perubahan
volume atau penurunan tanah. Penurunan muka air tanah akan menyebabkan kenaikan
tegangan efektif pada tanah, dan apabila besamya tegangan efektif melampaui
tegangan yang diterima tanah sebelumnya maka tanah akan mengalami konsolidasi
dan kompaksi yang mengakibatkan amblesan tanah pada daerah konsolidasi normal.
 Konsolidasi tanah adalah kebijaksanaan pertanahan mengenai penataan kembali
penguasaan dan penggunaan serta usaha pengadaan tanah untuk kepentingan
pembangunan, untuk peningkatan kualitas lingkungan dan pemeliharaan sumber daya
alam dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
 Penurunan permukaan tanah adalah peristiwa turunnya permukaan tanah yang
disebabkan oleh adanya perubahan pada volume lapisan batuan yang ada dibawahnya
 Normally Consolidated Istilah ini adalah menyatakan suatu lapisan tanah yang belum
pernah mengalami tekanan di atasnya lebih tinggi dari pada tekanan yang berlaku saat
ini. Over Consolidated (Pre Consolidation) adalah tekanan pada suatu lapisan tanah
pada waktu dahulu pernah mengalami pembebanan. Misalnya lapisan endapan, oleh
sebab geologis endapan tersebut hilang, saehingga lapisan tanah tersebut pernah
mengalami tekanan lebih tinggi dari pada tekanan yang berlaku di atasnya saat ini.
 Klasifikasi penurunan tanah dibagi menjadi 2 yaitu, Penurunan Segera (Immediate
Settelement): Penurunan yang berlangsung seketika (cepat) pada saat pembebanan
terjadi. Biasanya terjadi dalam jangka waktu yang pendek antara 0 sampai kurang dari
7 hari. Penurunan Konsolidasi (Consolidation Settlement): Penurunan yang
berlangsung lebih lama pada saat pembebanan terjadi yang menyebabkan keluarnya
air dan udara dari dalam pori tanah.
 Immediate Settlement (penurunan seketika), diakibatkan dari deformasi elastis tanah
kering, basah, dan jenuh air, tanpa adanya perubahan kadar air. Primary

42
Consolidation Settlement (penurunan konsolidasi primer), yaitu penurunan yang
disebabkan perubahan volume tanah selama periode keluarnya air pori dari tanah dan
Secondary Consolidation Settlement (penurunan konsolidasi sekunder), adalah
penurunan setelah tekanan air pori hilang seluruhnya. Hal ini lebih disebabkan oleh
proses pemampatan akibat penyesuaian yang bersifat plastis dari butir-butir tanah.

SARAN
Dalam penulisan makalah ini tentulah mempunyai banyak kekurangan-kekurangan
yang perlu dilengkapi oleh pembaca-pembaca yang memiliki disiplin ilmu tentang
pembahasan ini. Oleh masukannya yang bersifat membangun sangat diharapkan.
Semoga bermanfaat untuk mengisi kebutuhan akan bacaan bagi pembaca yang terkait
dengan pola piker yang sejajar, selaras dan seimbang.

43
DAFTAR PUSTAKA

https://aryansah.wordpress.com/2011/05/03/teori-penurunan-konsolidasi/ (Diakses pada hari,


Minggu,7 Oktober 2018 pukul 19.30 WIB)
https://junaidawally.blogspot.com/2017/02/penurunan-atau-settlement.html (Diakses pada
hari, Minggu,7 Oktober 2018 pukul 19.36 WIB)
https://james-oetomo.com/2014/09/27/uji-konsolidasi-besar-settlement-pada-tanah/ (Diakses
pada hari, Minggu,7 Oktober 2018 pukul 19.45 WIB)
https://ilmugeografi.com/fenomena-alam/penurunan-muka-tanah (Diakses pada hari,
Minggu,7 Oktober 2018 pukul 20.10 WIB)
https://www.academia.edu/30511946/Laporan_Praktikum_Uji_Kepadatan_Standar_Standard
_Proctor_Test_ (Diakses pada hari, Minggu,7 Oktober 2018 pukul 20.30 WIB)
http://digilib.unila.ac.id/27188/3/SKRIPSI%20TANPA%20BAB%20PEMBAHASAN.pdf
(Diakses pada hari, Minggu,7 Oktober 2018 pukul 21.38 WIB)

44