Anda di halaman 1dari 52

LAPORAN MINI PROJECT

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN ANGKA


KEJADIAN STUNTING DI WILAYAH KERJA UPT PUSKESMAS
PASANGKAYU I, MAMUJU UTARA PERIODE FEBRUARI MARET
2020

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Pelayanan Kesehatan Masyarakat Primer


Program Dokter Internsip Indonesia

Disusun Oleh :
dr. Afdalia Narjianti
dr. Linna Asni Zalukhu
dr. Richard Simon Ratanna

Pendamping:
dr. Aidah Shofiyah

PROGRAM DOKTER INTERNSIP INDONESIA


PERIODE MEI 2019- MEI 2020
DINAS KESEHATAN KABUPATEN PASANGKAYU
UPT PUSKESMAS PASANGKAYU I
PASANGKAYU
2020

1
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Mini Project

Nama : dr. Afdalia Narjianti


dr.Linna Asni Zalukhu
dr. Richard Simon Ratanna

Dengan judul/topic :Faktor faktor yang berhubungan dengan angka kejadian


Stunting di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu I,
periode Februari Maret 2020

Tanggal presentasi :

Nama Wahana : Puskesmas Pasangkayu I

Pendamping,

dr. Aidah Shofiyah

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayah Nya sehingga kami dapat menyelesaikan mini project yang berjudul “
Faktor faktor yang berhubungan dengan angka kejadian Stunting di Wilayah
Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu I, periode Februari Maret 2020”.
Bersama dengan selesainya penyusunan mini project ini penulis sampaikan
terimakasih kepada dr. Aidah Shofiyah, DPdK selaku dokter pendamping, kepala
puskesmas Pasangkayu I ibu Fatmawati, S.KM, serta seluruh pihak yang telah
memberikan bantuan bimbingan serta nasehat selama ini.
Kami menyadari bahwa penelitian ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu kritik dan saran sangatlah kami harapkan agar penelitian ini dapat lebih
bermanfaat baik bagi penulis, tenaga kesehatan maupun masyarakat kabupaten
Pasangkayu.

Pasangkayu, April 2020

Penulis

3
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendek dan sangat pendek adalah status gizi yang didasarkan pada indeks

Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U)

yang merupakan padanan istilah stunted (pendek) dan severely stunted (sangat

pendek) (Kepmenkes No. 1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar

Antropometri Penilaian Status Gizi Anak). Pengertian pendek dan sangat pendek

adalah status gizi yang didasarkan pada indeks Panjang Badan menurut Umur

(PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) yang merupakan padanan istilah

stunted (pendek) dan severely stunted (sangat pendek). Balita pendek (stunting)

dapat diketahui bila seorang balita sudah diukur panjang atau tinggi badannya,

lalu dibandingkan dengan standar, dan hasilnya berada di bawah normal.

Stunting menggambarkan status gizi kurang yang bersifat kronik atau

menahun pada masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan yaitu

dari mulai gizi ibu hamil yang kurang (KEK) dan pada masa kehamilan sampai

anak dilahirkan. Keadaan stunting ini dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi

badan menurut umur (TB/U) kurang dari -2 standar deviasi (SD), severely stunted

atau sangat pendek dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi badan menurut

umur kurang dari -3 standar deviasi (SD) dan dikatakan normal jika nilai z-score

tinggi badan menurut umur (TB/U) lebih dari -2 standar deviasi (SD) berdasarkan

standar pertumbuhan menurut WHO (WHO, 2010). Sekitar 1 dari 4 balita

mengalami stunting (UNICEF, 2013), prevalensi balita pendek menjadi masalah

4
kesehatan masyarakat jika prevalensinya 20% atau lebih karena persentase balita

pendek di Indonesia masih tinggi dan merupakan masalah kesehatan yang harus

ditanggulangi dibandingkan beberapa negara. Prevalensi stunting di Indonesia

berdasarkan Riskesdas 2019 adalah sebesar 30,8%, kemudian jika dibandingkan

dengan persentase tahun 2018 (23,6%) dan 2017 (36,4%), prevalensi tersebut

mengalami peningkatan dan diketahui dari jumlah presentase tersebut, 16,29 %

Underweight, 7,44 %Wasting dan 27,67% Stunting.

Di Indonesia Prevalensi tertinggi untuk kasus Stunting pada anak adalah

provinsi Nusa Tenggara Timur (40,3%) dan posisi kedua diduduki oleh provinsi

Sulawesi Barat (40,1%). Prevalensi stunting pada provinsi Sulawesi barat dari

tahun ketahun semakin meningkat, dimana riset penelitian pada tahun 2016

kabupaten Majene dengan angka persentase tertinggi di provinsi Sulawesi Barat

mencapai 33,6% kemudian disusul Mamuju (32,6%), Mamuju Tengah (26,6%),

Polman (22,7%), Mamuju Utara (20,6%) dan Mamasa (13,0%).Faktor yang

menyebabkan terjadinya stunting yaitu dimulai pada saat masa kehamilan dimana

gizi ibu yang kurang baik karena pendapatan keluarga yang rendah sehingga ibu

hamil tidak bisa memenuhi kebutuhan pangan yang di anjurkan yang

menyebabkan ibu hamil mengalami KEK (Kurang Energi Kronis) dapat dilihat

dari buku KIA yaitu ibu hamil dengan LILA < 23,5 cm yang mengakibatkan bayi

lahir dengan berat badan rendah (BBLR) serta pola asuh yang kurang baik yaitu

masih kurangnya pemberian ASI Eksklusif, MPASI yang terlalu cepat yaitu umur

bayi sebelum 6 bulan yang sudah diberikan makanan atau minuman selain ASI,

pola pemberian makanan yang kurang serta intake makanan yang kurang baik bisa

5
disebabkan karena pendapatan keluarga yang rendah serta pengetahuan ibu

balita/pengasuh balita yang kurang baik dan dari faktor yang tidak langsung dari

segi kebersihan lingkungan yang masih buruk.

Masalah gizi terutama stunting pada balita dapat menghambat

perkembangan anak, dengan dampak negatif yang akan berlangsung dalam

kehidupan selanjutnya seperti dampak jangka pendek rentan terhadap penyakit

diare, ISPA dan lain-lain, kemampuan motorik dan pertumbuhan linier yang

lambat. Dampak jangka panjang seperti penurunan intelektual, penurunan

produktivitas yang berdampak harapan menjadi pekerja yang produktif sangat

kecil yang mengakibatkan kerugian pada negara, kemiskinan dan risiko

melahirkan bayi dengan berat lahir rendah, beban negara terhadap biaya anggaran

kesehatan bertambah karena penyakit tidak menular yang akan berdampak jangka

panjang pada stunting dan mengakibatkan kerugian negara (UNICEF, 2012; dan

WHO, 2010).

Berdasarkan gambaran permasalahan diatas peneliti ingin meneliti

faktorfaktor yang berhubungan dengan kejadian stunting di Wilayah Kerja UPT

Puskesmas Pasangkayu Mamuju Utara

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, terdapat rumusan

masalah yaitu faktor-faktor apa sajakah yang berhubungan dengan kejadian

stunting di Wilayah Kerja UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara ?

6
1.3Tujuan Penelitian

1.3.1Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian

stunting di Wilayah Kerja UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara

1.3.2Tujuan Khusus

1. Mengetahui gambaran kejadian stunting, karaktristik responden berdasarkan

pendidikan, pekerjaan, riwayat ASI ekslusif, riwayat BBLR, pendapatan

keluarga dan pola pemberian makan.

2. Mengetahui hubungan antara pendidikan dengan kejadian Stunting di

Wilayah Kerja UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara.

3. Mengetahui hubungan antara pekerjaan dengan kejadian Stunting di Wilayah

Kerja UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara.

Mengetahui hubungan antara pendapatan keluarga dengan kejadian Stunting

di Wilayah Kerja UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara.

4. Mengetahui hubungan antara pola pemberian makan dengan kejadian

Stunting di Wilayah Kerja UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara.

Mengetahui hubungan antara riwayat ASI Eksklusif dengan kejadian

Stunting di Wilayah Kerja UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara.

5. Mengetahui hubungan antara riwayat BBLR dengan kejadian Stunting di

Wilayah Kerja UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara.

6. Mengetahui faktor yang paling berhubungan dengan kejadian Stunting di

Wilayah Kerja UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara.

7
1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1Manfaat Bagi Puskesmas Klecorejo

Sebagai bahan evaluasi dan informasi bagi UPT Puskesmas Pasangkayu

Mamuju Utara

terhadap program-program yang telah dilaksanakan maupun yang masih

direncanakan oleh UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara

1.4.2 Manfaat Masyarakat

Penelitian ini dapat bermanfaat dan digunakan sebagai bahan informasi

upaya pencegahan stunting pada balita.

8
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Stunting

2.1.1 Definisi Stunting

Status gizi adalah keadaan kesehatan anak yang ditentukan oleh

derajat kebutuhan fisik energi dan zat-zat gizi lain yang diperoleh dari pangan

dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antropometri dan

dikategorikan berdasarkan standar baku WHO dengan BB/U, TB/U dan

BB/TB. Stunting adalah bentuk dari proses pertumbuhan anak yang

terhambat. Sampai saat ini stunting merupakan salah satu masalah gizi yang

perlu mendapat perhatian (Picauly dan Toy, 2013). Masalah gizi pada anak

secara garis besar merupakan dampak dari ketidakseimbangan antara asupan

dan keluaran atau sebaliknya, di samping kesalahan dalam memilih bahan

makanan untuk dikonsumsi

Stunting menggambarkan status gizi kurang yang bersifat kronik pada

masa pertumbuhan dan perkembangan sejak awal kehidupan. Keadaan ini

dipresentasikan dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur (TB/U)

kurang dari -2 standar deviasi (SD) berdasarkan standar pertumbuhan

menurut WHO (WHO, 2010). Stunting didefinisikan sebagai indeks tinggi

badan menurut (TB/U) kurang dari minus dua standar deviasi (-2 SD) atau

dibawah rata-rata standar yang ada dan serve stunting didefinisikan kurang

dari -3 SD (ACC/SCN, 2000). Salah satu indikator gizi bayi lahir adalah

panjang badan waktu lahir disamping berat badan adalah panjang badan

9
waktu lahir. Panjang bayi lahir dianggap normal antara 48-52 cm. Jadi,

panjang lahir <48 cm tergolong bayi pendek. Namun bila ingin mengaitkan

panjang badan lahir dengan risiko mendapatkan penyakit tidak menular

waktu dewasa nanti, WHO (2005) menganjurkan nilai batas <50 cm. Berat

dan panjang badan lahir di catat atau disalin berdasarkan dokumen/catatan

yang dimilki dari sampel balita, seperti buku KIA, KMS, atau buku catatan

kesehatan anak lainnya. Tinggi badan merupakan parameter yang penting

untuk keadaan sekarang maupun keadaan yang lalu, apabila umur tidak

diketahui dengan tepat. Selain itu, tinggi badan merupakan ukuran kedua

yang penting, sebab dengan menghubungkan berat badan menurut tinggi

bada, faktor umur dapat ditiadakan. Pengukuran tinggi badan untuk balita

sudah bisa berdiri tegak menggunakan alat pengukur mikrotoa (microtoise)

dengan ketelitian 0,1 cm (Supariasa, 2002). Tinggi badan diukur dengan

subjek berdiri tegak pada lantai yang rata, tidak menggunakan alas kaki,

kepala sejajar dataran Frankurt (mata melihat lurus ke depan), kaki menyatu,

lutut lurus, tumit, bokong dan bahu menyentuh dinding yang lurus, tangan

menggantung di sisi badan,subjek diinstrusikan untuk menarik nafas

kemudian bar pengukur diturunkan hingga menyentuh puncak kepala (vertex)

dan angka yang paling mendekatu skala millimeter dicatat (Gibson, 2005).

2.1.2 Dampak Stunting

Dampak jangka pendek yaitu pada masa kanak-kanak, perkembangan

menjadi terhambat, penurunan fungsi kognitif, penurunan fungsi kekebalan

tubuh, dan gangguan sistem pembakaran. Pada jangka panjang yaitu pada

10
masa dewasa, timbul risiko penyakit degeneratif, seperti diabetes mellitus,

jantung koroner, hipertensi, dan obesitas. Menurut laporan UNICEF (1998)

beberapa fakta terkait stunted dan dampaknya antara lain sebagai berikut:

1. Anak-anak yang mengalami stunted lebih awal yaitu sebelum usia enam

bulan, akan mengalami stunted lebih berat menjelang usia dua tahun.

Stunted yang parah pada anak-anak akan terjadi defisit jangka panjang

dalam perkembangan fisik dan mental sehingga tidak mampu untuk

belajar secara optimal di sekolah, dibandingkan anak- anak dengan tinggi

badan normal.

2. Anak-anak denganstunted cenderung lebih lama masuk sekolah dan lebih

sering absen dari sekolah dibandingkan anak-anak dengan status gizi

baik. Hal ini memberikan konsekuensi terhadap kesuksesan anak dalam

kehidupannya dimasa yang akan datang.

3. Pengaruh gizi pada anak usia dini yang mengalami stunted dapat

mengganggu pertumbuhan dan perkembangan kognitif yang kurang.

Anak stunted pada usia lima tahun cenderung menetap sepanjang hidup,

kegagalan pertumbuhan anak usia dini berlanjut pada masa remaja dan

kemudian tumbuh menjadi wanita dewasa yang stunted dan

mempengaruhi secara langsung pada kesehatan dan produktivitas,

sehingga meningkatkan peluang melahirkan anak dengan BBLR.

Stunted terutama berbahaya pada perempuan, karena lebih cenderung

menghambat dalam proses pertumbuhan dan berisiko lebih besar

meninggal saat melahirkan.

Stunting memiliki dampak pada kehidupan balita,


WHO
11
mengklasifikasikan menjadi dampak jangka pendek dan dampak jangka
panjang:

1.Concurrent problems&short-term consequences atau dampak jangka

pendek:

a. Sisi kesehatan: angka kesakitan dan angka kematian meningkat

b. Sisi perkembangan: penurunan fungsi kognitif, motorik, dan

perkembangan bahasa

c. Sisi ekonomi: peningkatan health expenditure, peningkatan pembiayaan

perawatan anak yang sakit

2.Long-term consequences atau dampak jangka panjang:

a. Sisi kesehatan: perawakan dewasa yang pendek, peningkatan obesitas

dan komorbid yang berhubungan, penurunan kesehatan reproduksi

b. Sisi perkembangan: penurunan prestasi belajar, penurunan learning

capacity unachieved potensial

c. Sisi ekonomi: penurunan kapasitas kerja dan produktifitas kerja

Tabel 2.1 Indeks Antropometri


Kategori Ambang Batas (Zscore)
Indeks
Status Gizi
Berat Badan menurut Umur Gizi Buruk < -3 SD
(BB/U) Gizi Kurang - 3 SD sampai dengan -2
Anak Umur 0-60 bulan SD
Gizi Baik - 2 SD sampai dengan 2
SD
Gizi Lebih > 2 SD
Panjang Badan menurut Umur Sangat < - 3 SD
(PB/U) atau Tinggi Badan menurut Pendek
Umur (TB/U) Pendek - 3SD sampai dengan - 2
Anak Umur 0-60 Bulan SD
Normal - 2 SD sampai dengan 2
SD
Tinggi > 2 SD
12
Berat Badan menurut Panjang Sangat Kurus < - 3 SD
Badan (BB/PB) atau Berat Badan Kurus - 3SD sampai dengan - 2
menurut Tinggi Badan (BB/TB) SD
Anak umur 0-60 Bulan
Normal - 2 SD sampai dengan 2
SD
Gemuk > 2 SD
Indeks Massa Tubuh menurut Sangat Kurus < - 3 SD
Umur (IMT/U) Kurus - 3SD sampai dengan - 2
Anak Umur 0-60 Bulan SD
Normal - 2 SD sampai dengan 2
SD
Gemuk > 2 SD
Indeks Massa Tubuh menurut Sangat Kurus < - 3 SD
Umur (IMT/U) Kurus - 3SD sampai dengan - 2
Anak Umur 5-18 Tahun SD
Normal - 2 SD sampai dengan 1
SD
Gemuk > 1 SD sampai dengan 2
SD
Obesitas > 2 SD
Sumber: Kemenkes, 2011

2.2 Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Stunting

Faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting adalah jenis

kelamin balita, gizi ibu hamil yang dapat dilihat dari KMS ibu hamil yang

mengalami KEK (Kurang Energi Kronis), riwayat BBLR, karakteristik

keluarga mulai dari pendidikan orang tua/pengasuh, pekerjaan orang tua,

pendapatan keluarga, pola asuh yang meliputi ASI Eksklusif, pola pemberian

makanan, inteks makanan/asupan makanan, pelayanan kesehatan yang

meliputi status imunisasi, penyakit infeksi (diare dan ISPA), kebersihan

lingkungan meliputi sanitasi lingkungan (personal hygiene).

13
2.2.1 Karakteristik Balita

2.2.1.1 Jenis Kelamin Balita

Jenis kelamin laki-laki memiliki risiko dua kali lipat menjadi stunting

dibandingkan bayi perempuan pada usia 6-12 bulan (Medhin, 2010). Anak

laki-laki lebih berisiko mengalami stunting dan atau

underweightdibandingkan anak perempuan.

2.2.1.2Riwayat Berat Badan Lahir Rendah

Berat badan adalah hasil keseluruhan jaringan-jaringan tulang, otot,

lemak, cairan tubuh dan lainnya. Berat badan merupakan ukuran

antropometri yang terpenting dipakai pada setia pemeriksaan kesehatan anak

padasetiap kelompok umur.

Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) didefiniskan oleh WHO yaitu

berat lahir <2500 gr. BBLR dapat disebabkan oleh durasi kehamilan dan laju

pertumbuhan janin. Maka, dari itu, bayi dengan berat lahir <2500 gr

dikarenakan dia lahir secara premature atau karena terjadi retardasi

pertumbuhan (Semba dan Bloem, 2001).

Bayi yang lahir dengan BBLR, sejak dalam kandungan telah

mengalami retardasi pertumbuhan interauterin dan akan berlanjut sampai usia

selanjutnya setelah dilahirkan yaitu mengalami pertumbuhan dan

perkembangan yang lebih lambat dari bayi yang dilahirkan normal dan sering

gagal menyusul tingkat pertumbuhan yang seharusnya dicapai pada usianya

setelah lahir.

14
2.2.2 Karakteristik Keluarga

2.2.2.1 Pendidikan Orang Tua/Pengasuh

Pendidikan orang tua akan berpengaruh terhadap pengasuhan anak

karena dengan pendidikan yang tinggi pada orang tua akan memahami

pentingnya pernanan orang tua dalam pertumbuhan anak. Selain itu dengan

pendidikan yang baik diperkirakan memiliki pengetahuan gizi yang baik pula,

ibu dengan pengetahuan gizi yang baik akan tahu bagaimana mengolah

makanan, mengatur menu makanan serta menjaga mutu dan kebersihan

makanan dnegan baik. Pendidikan tinggi dapat mencerminkan pendapatan

yang lebih tinggi dan ayah akan lebih mendapat perhatian gizi anak. Ibu yang

berpendiidkan diketahui lebih luas pengetahuannya tentang praktik perawatan

anak.

2.2.2.2Pekerjaan Orang Tua

Pekerjaan merupakan faktor penting dalam menentukan kualitas dan

kuantitas pangan, karena pekerjaan berhubungan dengan pendapatan dengan

demikian terdapat asosiasi antara pendapatan dengan gizi, apabila pendapatan

meningkat maka bukan tidak mungkin kesehatan dan masalah keluarga yang

berkaitan dengan gizi mengalami perbaikan.

2.2.2.3Pendapatan Keluarga

Pendapatan keluarga adalah jumlah penghasilan riil dari seluruh

anggota rumah tangga yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan bersama

maupun perseorangan dalam rumah tangga. Pendapatan keluarga adalah

15
sebagai pendapatan yang diperoleh dari seluruh anggota yang bekerja baik

dari pertanian maupun dari luar pertanian.

Dengan adanya pertumbuhan ekonomi dan adanyapeningkatan

penghasilan yang berkaitan dengan kejadianm stunting, maka perbaikan gizi

akan tercapai dengan sendirinya. Penghasilan merupakan faktor penting

dalam penentuan kualitas dan kuantitas makanan dalam suatu keluarga.

Terdapat hubungan pendapatan dan gizi menguntungkan yaitu pengaruh

peningkatan pendapatan dapat menimbulkan perbaikan gizi yang

menguntungkan, yaitu peningkatan pendapatan dapat menimbulkan

perbaikan kesehatan dan kondisi keluarga yang menimbulkan interaksi status

gizi.

2.3Pola Asuh

2.3.1.1ASI Eksklusif

ASI eksklusif adalah pemberian ASI pada bayi yang berupa ASI saja

tanpa diberi cairan lain baik dalam bentuk apapun kecuali sirup obat. ASI

eksklusif diberikan minimal dalam jangka waktu enam bulan (Depkes, 1997).

ASI saja dapat mencukupi kebutuhan bayi pada enam bulan pertama.

Manfaat pemberian ASI eksklusif tidak hanya dirasakan oleh bayi,

tetapi juga oleh ibu, lingkungan bahkan negara. Manfaat ASI, sebagai

berikut:

1. Sumber gizi terbaik dan paling ideal dengan komposisi yang seimbang

sesuai dengan kebutuhan bayi pada masa pertumbuhan

16
2. ASI mengandung berbagai zat kekebalan sehingga bayi akan jarang

sakit, mengurangi diare, sakit telinga, dan infeksi saluran pernafasan.

3. ASI mengandung asam lemak yang diperlukan untuk pertumbuhan otak

sehingga bayi yang mendapatkan ASI eksklusif potensial akan lebih

unggul pada prestasi/meningkatkan kecerdasan.

4. ASI sebagai makanan tunggal untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan

sampai usia enam bulan.

2.3.1.2 Pola Pemberian Makan

Pola makan pada balita sangat berperan penting dalam proses

pertumbuhan pada balita, karena dalam makanan banyak mengandung gizi.

Gizi menjadi bagian yang sangat penting dalam pertumbuhan. Gizi

didalamnya memiliki keterkaitan yang sangat erat hubungannya dengan

kesehatan dan kecerdasan. Jika pola makan tidak tercapai dengan baik pada

balita maka pertumbuhan balita akan terganggu, tubuh kurus, pendek bahkan

bisa terjadi gizi buruk pada balita. Stunting sangat erat kaitannya dengan pola

pemberian makanan terutama pada 2 tahun pertama kehidupan, pola

pemberian makanan dapat mempengaruhi kualitas konsumsi makanan balita,

sehingga dapat mempengaruhi status gizi balita. Pemberian ASI yang kurang

dari 6 bulan dan MP-ASI terlalu dini dapat meningkatkan risiko stunting

karena saluran pencernaan bayi belum sempurna sehingga lebih mudah

terkena penyakit infeksi seperti diare dan ISPA.

Frekuensi konsumsi pangan bisa menjadi salah satu cara untuk

mengetahui tingkat kecukupan gizi, artinya semakin tinggi frekuensi

17
konsumsi pangan, maka peluang terpenuhinya kecukupan gizi semakin besar.

Faktor yang mempengaruhi pola pemberian makanan yang terbentuk sangat

erat kaitannya dengan kebiasaan makan seseorang. Secara umum faktor yang

mempengaruhi terbentuknya pola pemberian makanan adalah faktor

ekonomi, sosial budaya, agama, pendidikan dan lingkungan.

18
BAB 3

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

3.1 Kerangka Konsep

Kerangka konsep penelitian adalah suatu hubungan atau kaitan antara

konsep-konsep atau variabel-variabel yang akan diamati (diukur) melalui

penelitian yang dimaksud (Notoatmodjo, 2012). Berdasarkan tinjauan pustaka

yang telah diuraikan dan kerangka teori yang telah disajikan di bab sebelumnya,

dapat diketahui bahwa masalah malnutrisi kronis pada balita merupakan masalah

yang rumit dan disebabkan oleh multifaktorpenyebab.

Adanya ketidakterjangkauan peneliti untuk mengetahui semua faktor

penyebab terjadinya stuntingpada balita sehingga ada beberapa faktor risiko yang

terdapat pada tinjauan pustaka tidak diteliti lebih luas, maka untuk penelitian ini

dibuat kerangka konseptual penelitian yaitu:

1. Variabel bebas (independen): riwayat BBLR, pola pemberian makan, riwayat

ASI eksklusif, pendidikan, pekerjaan, pendapatan keluarga.

2. Variabel terikat (dependen): kejadian stunting.

Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stuntingterdiri dari dua

faktor yaitu faktor penyebab langsung dan faktor penyebab tidak langsung. Faktor

penyebab langsung adalah asupan makanan (asupan energi, asupan protein,

asupan lemak, asupan zink), riwayat BBLR, penyakit infeksi (ISPA dan diare),

dan pola pemberian makanan. Faktor tidak langsung adalah riwayat ASI eksklusif,

jenis kelamin balita, karakteristik keluarga (pendidikan, pekerjaan dan pendapatan

19
keluarga), pelayanan kesehatan (status imunisasi dan KEK pada ibu hamil),

santitasi lingkungan (personal hygiene).

Dibawah ini dijelaskan kerangka konsep yang akan dilakukan peneliti di

Wilayah Kerja UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara, sehingga kerangka

konsep dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Variabel Independen (Bebas) Variabel Dependen (Terikat)


Pendidikan

Pekerjaan

Pola Pemberian Makan


Kejadian
Stunting
Pendapatan Keluarga

Riwayat ASI Eksklusif

Riwayat BBLR

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian Faktor-Faktor yang Berhubungan


dengan Kejadian Stunting
Keterangan:

: Diteliti

: Berhubungan

20
3.2 Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah suatu jawaban atas pertanyaan penelitian yang telah

dirumuskan dalam perencanaan penelitian, untuk mengarahkan pada hasil

penelitian maka dalam perencanaan penelitian perlu dirumuskan jawaban

sementara dari penelitian (Notoatmodjo, 2012). Jenis-jenis rumusan hipotesis

adalah sebagai berikut:

1.Hipotesis Kerja atau Hipotesis Alternatif

Hipotesis kerja adalah suatu rumusan dengan tujuan untuk membuat ramalan

tentang peristiwa yang terjadi apabila suatu gejala muncul. Hipotesisi ini sering

juga disebut dengan hipotesis alternative, karena mempunyai rumusan dengan

implikasi alternatif didalamnya (Notoatmodjo, 2012).

Adapun hipotesis dalam penelitian adalah sebagai berikut:

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

Ha :

1) Ada hubungan antara pendidikan dengan kejadian stunting di Wilayah Kerja

UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara.

2) Ada hubungan antara pekerjaan dengan kejadian stunting di Wilayah Kerja

UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara.

3) Ada hubungan pendapatan keluarga dengan kejadian stunting di Wilayah

Kerja UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara.

4) Ada hubungan antara ppla pemberian makan dengan kejadian stunting di

Wilayah Kerja UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara

21
5) Ada hubungan antara riwayat ASI eksklusif dengan kejadian stunting di

Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu Mamuju Utara.

6) Ada hubungan antara riwayat BBLR dengan kejadian stunting di Wilayah

Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu Mamuju Utara

2. Hipotesis Nol

Hipotesis nol yang bermula diperkenalkan oleh bapak statistika

Fisher, dirumuskan untuk ditolak sesudah pengujian. Dengan kata lain

hipotesis nol dibuat untuk menyatakan sesuatu kesamaan atau tidak adanya

suatu perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok atau lebih mengenai

suatu hal yang dipermasalahkan (Notoatmodjo, 2012).

BAB 4
22
METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian survey analitik dengan desain cross

sectional. Desain peneliti cross sectional (potong lintang) adalah mencakup

semua jenis penelitian yang pengukuran variabel-variabelnya dilakukan hanya

satu kali atau pada saat itu (Dr. Hasmi, 2016). Dalam penelitian ini untuk

mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting di Wilayah

Kerja UPT PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara.

Populasi/Sampel

Faktor Risiko (+) Faktor Risiko ( -)

Efek (+) Efek ( -) Efek (+) Efek ( -)

Gambar 4.1 Skema Rancangan Penelitian CrossSectional

4.2 Populasi dan Sampel

4.2.1 Populasi

Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas obyek atau subyek

yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang ditetapkan oleh peneliti

untuk diteliti dan kemudian ditarik kesimpulannya (Wiratna, 2012). Populasi

dalam penelitian ini adalah balita dengan status gizi yang kurang dan masuk

dalam kategori pendek di Posyandu wilayah kerja UPT Puskesmas Pasangkayu

Mamuju Utara

23
4.2.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari sejumlah karakteristik yang dimiliki oleh

populasi yang digunakan untuk penelitian (Wiratna, 2012). Besar sampel yang

akan diambil berdasarkan rumus sebagai berikut:

Keterangan:

n = Besar Sampel

P = Estimator Proporsi Populasi (0,5)

Q = 1-p (100% p) atau 0,5

Zα² = 1,96

D = Toleransi kesalahan yang dipilih (d=0,05) (Lemeshow (1990)

Jadi,sampel yang sudah ditentukan dan kemudian dimasukan ke dalam

rumus maka total sampel yang akan diteliti sebanyak 48 balita. Namun, dalam

penelitian ini terdapat beberapa kriteria sebagai berikut:

1.Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah sebagai berikut:

1). Balita usia 12 bulan sampai 60 bulan atau 1 tahun sampai 5 tahun.

2). Bertempat tinggal di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu Mamuju

Utara yang telah di diagnosis stunting melalui rekap PSG (Pemantauan Status

Gizi) petugas serta KMS.

3). Orang tua/keluarga bersedia menjadi subyek penelitian dengan

menandatangani lembar persetujuan.

24
2.Kriteria Eksklusi

1)Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah responden yang sedang

tidak ada ditempat pada saat penelitian berlangsung.

4.3 Teknik Sampling

Teknik sampling adalah teknik pengambilan sampel. Teknik pengambilan

sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik probability sampling yaitu

teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap

unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi sampel. Jenis probability

sampling yang digunakan dalam pengambilan sampel pada penelitian ini adalah

simple random sampling. Simple random sampling adalah pengambilan sampel

dengan cara acak tanpa memperhatian strata yang ada dalam anggota populasi.

Cara ini dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen, sebagai contoh bila

populasinya homogen kemudian diambil secara acak, maka akan didapatkan

sampel yang representatif.

4.4Kerangka Kerja Penelitian

Kerangka kerja penelitian merupakan kerangka pelaksanaan

penelitian mulai dari pengambilan data sampai menganalisa hasil

penelitian, kerangka kerja dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

25
Populasi
Balita yang Berkunjung di Posyandu Balita Wilayah Kerja UPT Puskesmas
Pasangkayu pada Bulan Februari 2020

Teknik Sampling
Simple Random Sampling

Sampel
Balita Usia 12 – 60 Bulan Sejumlah 48 balita di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu.

Variabel Independen Variabel Dependen


Riwayat ASI eksklusif, BBLR, Pola Pemberian Kejadian Stunting pada Balita,
Makan, Pendidikan, Pekerjaan,
Pendapatan Keluarga.

Pengumpulan Data Primer Pengumpulan Data Sekunder


Berdasarkan kuesioner dan wawancara Buku KIA dan KMS balita, dan rekap
petugas gizi.

Pengolahan Data
Editing , Coding , Entry Data , Tabulating

Analisis Data
Univariat, Bivariat dan Multivariat

Kesimpulan

Hasil
Pelaporan

Gambar 4.2 Kerangka Kerja Penelitian Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan


Kejadian Stunting

26
4.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

4.5.1Identifikasi Variabel

Menurut Sugiyono (2017) variabel penenlitian adalah sesuatu hal yang

berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh

informasi tentang hal tersebut, dan kemudian ditarik kesimpulannya. Secara teoritis

variabel adalah atribut seseorang atau objek yang mempunyai variasi satu orang

dengan yang lain atau suatu objek dengan objek lain. Variabel adalah sifat yang

akan diukur dan diamati yang nilainya berbeda antara satu objek dengan objek

lainnya (V. Wiratna Sujarweni, 2012).

4.5.2 Variabel Penelitian

1. Variabel Independen (Bebas)

Variabel independen dalam penelitian ini adalah karakteristik balita (jenis

kelamin, riwayat BBLR), pola asuh (pola pemberian makan, riwayat ASI

eksklusif), karakteristik orang tua (pendidikan, pekerjaan, pendapatan

keluarga).

2. Variabel Dependen (Terikat)

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian stunting.

4.5.3 Definisi Operasional Variabel

Definisi operasional adalah mendefinisikan variabel secara operasional

berdasarkan karakteristik yang diamati, sehingga memungkinkan peneliti untuk

melakukan observasi atau pengukuran secara cermat terhadap suatu objek atau

fenomena. Definisi operasional ditentukkan berdasarkan ditentukkan parameter

yang dijadikan ukuran dalam penelitian.

27
4.8 Lokasi dan Waktu Penelitian

4.8.1Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini dilakukan di 4 posyandu balita Wilayah Kerja UPT

PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara, meliputi 4 dusun yang terdiri dari DusunPalapitenggo,

Dusun Tura, Dusun Marambeau, dan Dusun Sulu, semua Dusun ini masuk dalam cukupan

Desa Karya Bersama Wilayah kerja UPT Puskesmas Pasangkayu Mamuju Utara.

4.8.2 Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan Februari Maret 2020

4.9 Prosedur Pengumpulan Data

4.9.1Sumber Data

Pada dasarnya, penelitian merupakan proses penarikan kesimpulan dari data yang

telah dikumpulkan. Tanpa adanya kata, maka hasil penelitian tidak akan terwujud dan

penelitian tidak akan berjalan. Menurut sumbernya, data dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

1.Data Primer

Data yang diperoleh secara langsung dari responden yang berkaitan dengan sampel

penelitian dengan menggunakan instrumen/alat ukur kuesioner. Data primer dalam

penelitian ini yaitu pendidikan, pekerjaan, riwayat BBLR, ASI Eksklusif, dan pola

pemberian makan.

2.Data Sekunder

Data ini merupakan data penunjang kelengkapan data primer. Data sekunder

diperoleh dari Poli Gizi Puskesmas Pasangkayu Mamuju Utara, KMS, dan berbagai

sumber lainnya. Data

sekunder dalam penelitian ini yaitu identitas balita stunting serta jenis kelamin balita.

28
3.Teknik Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara secara langsung kepada

responden menggunakan alat ukur kuesioner. Pengumpulan data sekunder diperoleh dari

laporan rekapitulasi Puskesmas Pasangkayu Mamuju Utara unit upaya kesehatan

masyarakat esensial bagian Gizi.

4.10 Teknik Pengolahan dan Teknik Analisis Data

4.10.1 Pengolahan Data

Pengolahan data pada penelitian ini dilakukan dengan tahap sebagai berikut:

1.Penyuntingan Data (Editing)

Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan terhadap semua item pertanyaan dalam

kuesioner. Editing dilakukan pada saat pengumpulan data atau setelah data terkumpul

dengan memeriksa jumlah kuesioner, kelengkapan identitas, lembar kuesioner,

kelengkapan isian kuesioner, serta kejelasan jawaban.

2.Pengkodean (Coding)

Pengkodean merupakan pemberian kode atau angka pada variabel yang diteliti

untuk memudahkan pengolahan data. Dalam penelitian ini menggunakan coding sebagai

berikut:

3.Memasukkan Data (Entry Data)

Memasukkan data yang telah diperoleh menggunakan fasilitas computer.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan program SPSS 16.0.

4.Pentabulasian (Tabulating)

Kegiatan pentabulasian dalam penelitian ini meliputi, pengelompokkan data sesuai

dengan tujuan penelitian, kemudian dimasukkan kedalam tabeltabel yang telah

ditentukkan, berdasarkan kueisoner yang telah ditentukan skor atau kodenya. Dalam

29
penelitian ini peneliti melakukan tabulasi data menggunakan program aplikasi data

statistik SPSS 16.0.

4.10.2 Teknik Analisis Data

Data yang telah diperoleh dari penelitian ini kemudian dianalisisdengan

menggunakan program aplikasi pengolah data statistik 16.0. analisis data pada penelitian ini

adalah:

1.Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan untuk menggambarkan distribusi frekuensi, baik

variabel bebas, variabel terikat, maupun deskripsi karakteristik responden. Pada analisis

univariat, data yang diperoleh dari hasil pengumpulan data disajikan dalam bentuk tabel

distribusi frekuensi, ukuran tendensi sentral atau grafik. Variabel independen atau

variabel bebas dalam penelitian ini adalah karakteristik responden berdasarkan jenis

kelamin balita, riwayat BBLR, pola pemberian makan, riwayat ASI eksklusif,

pendidikan, pekerjaan, pendapatan keluarga.

2.Analisis Bivariat

Analisis bivariat merupakan analisis untuk mengetahui interaksi dua variabel, baik

berupa komparatif, asosiatif maupun korelatif (Suryono, 2010). Analisis bivariat

dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan dan untuk mengetahui

kemaknaan hubungan nilai p yaitu menggunakan analisis chi-square dan besarnya risiko

menggunakan RP (Ratio Prevalens). Semua hipotesis untuk kategori nominal dan

ordinal tidak berpasangan menggunakan analisa data uji chi square(Sopiyudin, 2014).

Hasil uji chi square hanya dapat menyimpulkan ada atau tidaknya perbedaan

proporsi antar kelompok atau dengan kata lain hanya dapat menyimpulkan ada/tidaknya

hubungan antara dua variabel kategorik. Dengan uji chi square tidak dapat menjelaskan

derajat hubungan, dalam hal ini uj chi square tidak dapat mengetahui kelompok mana

30
yang memiliki resiko lebih besar dibanding kelompok yang lain. Untuk mengetahui

ukuran RP (Ratio Prevalens) dan OR (Odds Ratio). Keputusan dari uji chi square:

1. Apabila nilai p> α = Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak ada

hubungan.

2. Apabila nilai p< α = Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti ada hubungan. Variabel

independen yang diteliti merupakan faktor protektif/pencegah risiko jika nilai RP < 1,

apabila RP > 1 merupakan faktor risiko, dan = 1 yaitu tidak ada hubungan. Terdapat uji

parametrik dan non parametrik pada analisis bivariat (Saryono, 2013). Syarat uji chi

square adalah :

a) Sampel dipilih secara acak

b)Semua pengamatan dilakukan dengan independen

c) Setiap sel berisi frekuensi harapan sebesar 0. Sel-sel dengan frekuensi harapan kurang

dari 5 tidak melebihi 20% dari total sel.

d)Besar sampel sebaiknya > 40.

Uji altrernatif dari uji chi-square adalah uji fisher exactuntuk tabel 2x2 dengan

ketentuan sampel kurang atau sama dengan 40 dan terdapat sel yang nilai harapan (E)

kurang dari 5.

4.11 Etika Penelitian

Menurut Hidayat (2007) etika penelitian sangat penting karena penelitian

berhubungan langsung dengan manusia, sehingga perlu memperhatikan hal-hal sebagai

berikut :

1. Informed Consent (Lembar Persetujuan)

Informed consent merupakan lembar persetujuan yang diberikan kepada responden yang

akan diteliti agar subyek mengerti maksut dan tujuan dari penelitian. Bila responden

tidak bersedia maka peneliti harus menghormati hak-hak responden.

31
2. Anonimity (Tanpa Nama)

Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan nama responden

dan hanya menuliskan kode pada lembar pengumpulan data.

3. Confidentiality (Kerahasiaan)

Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya

kelompok data tertentu yang akan dilaporkan kepada pihak yang terkait dengan peneliti.

BAB 5
32
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)


A. Gambaran Umum Puskesmas
1. Keadaan Geografis
UPT Puskesmas Pasangkayu I terletak diJl. Trans Sulawesi Desa
Karya BersamaKecamatan PasangkayuKababupaten Pasangkayu
dengan batas – batas wilayah kerja sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Bambalamotu.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Pedongga.
- Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Martajaya
- Sebelah Barat Berbatasan dengan Selat Makassar
Wilayah kerja UPT Puskesmas Pasangkayu I terdiri dari 3
wilayah yaitu Kelurahan Pasangkayu, Desa Karya Bersamadan
Desa Ako. Kelurahan Pasangkayu terdiri dari 7 Lingkungan, yaitu
Lingkungan Labuang, Kampung Tengah, Tinapu, Tanjung Babia,
Tanjung Parappa, Salunggadue, Salobulu dengan luas wilayah
54,70 Km2. Desa Karya Bersama terdiri dari 6 Dusun yaitu Dusun
Sinar Wajo, Marambeau, Sulu, Berkah, Tura, dan Palappi Tenggo
dengan luas wilayah 27,77 Km2. Dan Desa Ako terdiri dari 8
Dusun yaituDusun Taranja, Saloaya, Bululanga, Peburo,
Panebunggu, Morobiu, Misulu, dan Tobengo dengan luas wilayah
13,41 Km2. Luas wilayah kerja UPT Puskesmas Pasangkayu I+
95,88 Km2, dengan kondisi daerah terdiri dari daratan,
pegunungan dan sungai. Dengan iklim kelembaban yang tinggi
dan dua musim yaitu musim hujan dan panas, secara geografis
terletak pada posisi:
o 10 08’ 00 – 100 – 14’ 12” LS
o 1190 16’ 0” – 1190 26’ 0” BT

33
Gambar 1. Peta Wilayah KerjaUPTPuskesmas Pasangkayu I

2. Kependudukan
Jumlah Penduduk pada tahun 2018 di wilayah kerja UPT Puskesmas Pasangkayu
Isebanyak 19.863 jiwa terdiri dari 10.458 jiwa laki – laki dan 9405 jiwa
perempuan dengan jumlah Kepala Keluarga yakni 3960 dan Jumlah Rumah yaitu
3562 unit. Penduduk paling banyak ada di Kelurahan Pasangkayu yaitu sebesar
14.561 jiwa, sedangkan Desa Karya Bersama sebesar 1.914 jiwa dan di Desa Ako
3388 jiwa, dengan Kepadatan penduduk 588 Per km².

Tabel 1. Distribusi Penduduk di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu I Tahun 2018
JUMLAH PENDUDUK RATA-RATA KEPADATAN
NO NAMA DESA/KEL. JIWA/RUMAH PENDUDUK per
LAKI- TANGGA km2
PEREMPUAN TOTAL
LAKI
1 2 3 4 5 6 7

1
Kel. PASANGKAYU 7666 6895 14.561 5 266
2 KARYA BERSAMA 1008 906 1914 3 69
AKO
3
1784 1604 3388 5 253
Jumlah 10458 9405 19863 13 588
Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten/Kota

3. Ekonomi
Mata pencaharian penduduk di wilayah kerja UPT Puskesmas Pasangkayu
mayoritas sebagai Petani, sedangkan lainnya adalah sebagai Nelayan, Pedagang,
Wiraswasta/Karyawan, Perajin, Buruh, Pegawai Negeri Sipil, Polri dan TNI.
Ekonomi memiliki suatu keterkaitan yang sangat erat dengan tingkat kesehatan.
Pengaruh ekonomi terhadap kesehatan masyarakat banyak macamnya misalnya

34
kemiskinan mengakibatkan penurunan daya beli masyarakat dalam memenuhi
kebutuhan pangan, sehingga menyebabkan kurangnya konsumsi makanan bergizi
yang berdampak pada penurunan status gizi, penyediaan biaya untuk pelayanan
kesehatan mengalami penurunan, serta dapat pula menimbulkan masalah
kesehatan lain, misalnya: meningkatnya stress dan lain sebagainya.

4. Pendidikan
Kondisi pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap ditelaah
dalam mengukur tingkat pembangunan manusia suatu Negara. Melalui
pengetahuan, pendidikan berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan.
Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu
factor pencetus (predisposing) yang berperan dalam hal mempengaruhi keputusan
seseorang untuk berperilaku sehat.
Partisipasi masyarakat dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal ini berkaitan
dengan berbagai program pendidikan yang telah dicanangkan oleh pemerintah.
Peningkatan partisipasi pendidikan tentunya haruslah diikuti dengan penyediaan
sarana fisik pendidikan dan tenaga pendidikan yang memadai.
Kemampuan baca tulis sebagai keterampilan minimal yang dibutuhkan penduduk
dari suatu proses pendidikan formal merupakan salah satu indikator kesejahteraan
masyarakat. Kemampuan baca tulismemungkinkan masyarakat untuk dapat
mengakses informasi, baik melalui media cetak maupun media elektronik. Sarana
Pendidikan yang ada di wilayah kerja UPT Puskesmas Pasangkayu I ada 48 Unit
dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2. Jumlah Sekolah di Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu I Tahun
2018
No Sekolah Banyaknya (Unit)
1 TK 20
2 SD/Sederajat 12
3 SMP/Sederajat 7
4 SMA/Sederajat 9
TOTAL 48
Sumber:Pengelola Program UKS dan SDIDTK

5. Visi, Misi, Motto, Tata Nilai, dan Budaya Kerja


Agar upaya pelayanan terlaksana dengan baik, UPT Puskesmas Pasangkayu I
mempunyai Visi dan Misi dalam melaksanakan kegiatannya. Visi UPT

35
Puskesmas Pasangkayu I “Terwujudnya Masyarakat Kecamatan Pasangkayu
Yang Sehat, Sejahtera, Maju Dan Bermartabat”. Sedangkan Misi yang akan
di capai yaitu :
1. Meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan
2. Mengendalikan masalah kesehatan melalui upaya Promotif, Preventif, dan tata
laksana kasus yang berkualitas
3. Mengupayakan sarana kesehatan dan kefarmasian sesuai dengan kebutuhan
4. Meningkatkan kemandirian masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat dan
kemitraan bidang kesehatan
5. Mewujudkan Sumber Daya Manusia Kesehatan yang handal, profesional dan
teregistrasi
6. Melaksanakan tata kelola administrasi dan manajemen kesehatan yang baik
Motto UPT Puskesmas Pasangkayu I adalah “Kita SEHAT MasyarakatSEHAT”.
Dalam hal pelaksanaan pelayanan ini UPT Puskesmas Pasangkayu I memiliki Tata
Nilai yaitu “SEHAT BERSAMA” :
S : Sehat
E : Empati
H : Handal
A : Adil
T : Terpadu
BER : Bermartabat
SA : Sejahtera
MA : Maju

UPT Puskesmas Pasangkayu I juga memiliki Budaya Kerja :


1. SENYUM
Senantiasa menampilkan keramahan dalam memberikan pelayanan
2. USAHA TERBAIK
Melakukan pelayanan kesehatan
3. KOMUNIKATIF
Mampu memberikan informasi kesehatan kepada masyarakat dengan benar
4. AMAN
Dalam memberikan pelayanan selalu mengutamakan keamanan baik untuk diri
petugas, pasien dan lingkungan kerja.
5. RAPI
Berpenampilan rapi diri dan rapi lingkungan kerja.
6. AKTIF

36
Dalam melaksanakan tugas selalu didasari atas keyakinan dan penuh percaya
diri bahwa apa yang dilaksanakan akan membawa kemajuan dan manfaat baik
ke intern maupun ke ekstern.
7. MELAYANI
Memberikan pelayanan kesehatan yang merata tanpa membedakan status
soaial

5.2 Hasil Penelitian dan Pembahasan


Berikut ini adalah hasil penelitian yang telah dilakukan pada anak dengan stunting di
wilayah kerja UPT Puskesmas Pasangkayu I, Periode Februari Maret 2020

5.2.1 Analisis Univariat Frekuensi Subjek Penelitian


Analisis ini dilakukan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi variabel-variabel
yang akan diteliti. Analisis univariat yang telah dilakukan yaitu Angka Kejadian Stunting
pada anak, jenis kelamin pada anak, pekerjaan orangtua, pendidikan orangtua, pendapatan
keluarga, pola pemberian makan, riwayat ASI Eksklusif, riwayat BBLR, dan cakupan
wilayah UPT Puskesmas Pasangkayu yang berkaitan dengan angka kejadian Stunting.

5.2.1.1.Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Tabel 5.1Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Balita di Wilayah
Kerja Puskesmas Pasangkayu Mamuju Utara Periode Februari Maret 2020.

No. Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)


1. Laki-laki 30 62.5
2. Perempuan 18 37.5
Total 48 100,0

Berdasarkan tabel 5.1 di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar balita

berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 30 Balita (62.5%) sedangkan balita

dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 18 balita (37.5%).

37
5.2.1.2. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

Tabel 5.2Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan di


Wilayah Kerja PuskesmasPasangkayu Mamuju Utara Periode Februari Maret 2020.

No. Pekerjaan Jumlah Persentase (%)


1. Tidak bekerja 14 29.2
2. Nelayan 26 54.2
3. Swasta 8 16.7

Total 48 100,0

Berdasarkan tabel 5.2 di atas, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden

berprofesi sebagai Nelayan yaitu sebanyak 26 orang (54,2%). Sedangkan responden yang

tidak memiliki bekerja sebanyak 14 orang (29.2%) dan responden paling sedikit bekerja

swasta yaitu sebanyak 8 orang (16,7%).

5.2.1.3. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan

Tabel 5.3Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Wilayah


Kerja Puskesmas Pasangkayu Mamuju Utara Periode Februari Maret 2020.

No. Pendidikan Jumlah Persentase (%)


1. Tidak sekolah 8 16.7
2. SD/Sederajat 25 52.1
3. SMP/Sederajat 15 31.3

Total 48 100,0

Berdasarkan tabel 5.4 diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besarn

responden memiliki tingkat pendidikan tamat SD /sederajat yaitu sebanyak 25

orang (52.1%). Sedangkan responden memiliki tingkat pendidikan SMP/Sederajat

yaitu sebanyak 15 orang (31.3%) dan responden yang tidak sekolah yaitu sebanyak

8 orang (16.7%).

38
5.2.1.4. Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori Pendapatan Keluarga

Tabel 5.6Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori Pendapatan Keluarga di


Wilayah Kerja Puskesmas Pasangkayu Mamuju Utara Periode Februari Maret 2020.

No. Pendapatan Jumlah Persentase (%)


1. <UMK 48 100.0
Total 48 100,0
Berdasarkan tabel 5.7 diatas, dapat diketahui bahwa seluruh responden memiliki

pendapatan keluarga yang rendah yaitu sebanyak 48 orang (100%).

5.2.1.5. Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori Pola Pemberian Makan

Tabel 5.7Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori Pola Pemberian Makan di
Wilayah Kerja Puskesmas Pasangkayu Mamuju Utara Periode Februari Maret 2020.

No. Pola Pemberian Jumlah Persentase (%)


Makan
1. Baik 7 14.6
2. Kurang 41 85.4

Total 48 100,0
Berdasarkan tabel 5.7 diatas, dapat diketahui bahwa sebagaian besar responden balita

dengan pola pemberian makan < 3 kali sehari sebanyak 41 balita (85.4%).

5.2.1.6. Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori Riwayat ASI Eksklusif

Tabel 5.8Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori Riwayat ASI Eksklusif di
Wilayah Kerja Puskesmas Pasangkayu Mamuju Utara Periode Februari Maret 2020

No. Riwayat ASI Eksklusif Jumlah Persentase (%)


1. Tidak ASI Eksklusif 28 58.3
2. ASI Eksklusif 20 41.7

Total 48 100,0
Berdasarkan tabel 5.8 diatas, dapat diketahui bahwa sebagaian besar

responden balita tidak mendapatkan ASI eksklusif sebanyak 28 balita (58,3%).

39
5.2.1.7. Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori Riwayat BBLR

Tabel 5.9Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori Riwayat BBLR di


Wilayah Kerja Puskesmas Pasangkayu Mamuju Utara Periode Februari Maret 2020.

No. Riwayat BBLR Jumlah Persentase (%)


1. BBLR 21 43.8
2. Normal 27 56.3

Total 48 100,0

Berdasarkan tabel 5.9 diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besar balita

dengan riwayat BBLR sebanyak 21 balita (43.8%).

5.2.1.8. Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori Kejadian Stunting

Tabel 5.10 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori Kejadian Stunting di
Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu Mamuju Utara Periode Februari Maret 2020.

No. Riwayat BBLR Jumlah Persentase (%)


1. Stunting 33 68.8
2. Normal 15 31.3

Total 48 100,0

Berdasarkan tabel 5.10 diatas, dapat diketahui bahwa sebagian besar balita mengalami

stunting yaitu sebanyak 33 balita (68,8%).

5.2.1.9 Karakteristik Wilayah Dusun Berdasarkan Kategori balita yang mengalami


gangguan mengenai Gizi.

Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Kategori Kejadian Stunting di
Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu Mamuju Utara Periode Februari Maret 2020.

No. Dusun Jumlah Persentase (%)


1. Palapitenggo 7 14.6
2 Marambeau 13 27.1
3. Tura 10 20.8

40
4. Sulu 18 37.5

Total 48 100,0

5.2.1.2 Analisis Bivariat

Analisis bivariat dalam penelitian ini dilakukan untuk melihat korelasi antara variabel
depend Kejadian Angka Stunting di UPT Puskesmas Pasangkayu I dengan variabel
independent Jenis Kelamin, Pekerjaan Orang tua, Pendidikan Orang tua, Pendapatan
Keluarga, Pola pemberian makan, riwayat pemberian ASI Eksklusif dan riwayat BBLR.

5.2.2.1 Hubungan Jenis Kelamin anak dengan Angka Kejadian Stunting pada anak.

Tabel.14.Hubungan Jenis Kelamin anak dengan Angka Kejadian Stunting pada anak di
Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu I, Periode Februari-Maret 2020

Status Gizi anak Total p


Normal Stunting
Jenis Laki Laki 9 21 30 0,040
Kelamin Perempuan 6 12 18
Anak
Total 15 33 48

Berdasarkan tabel 14.hasil analisis bivariat antara jenis kelamin anak dengan angka
kejadian stunting pada anak didapatkan nilai significancy (p) adalah 0,040 (p<0,05) yang
menunjukan bahwa H0 ditolak berarti H1 diterima hal tersebut menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara jenis kelamin anak dengan angka kejadian stunting pada anak.

5.2.2.2 Hubungan Pekerjaan Orangtua dengan Angka Kejadian Stunting pada anak.

Tabel.15.Hubungan pekerjaan orangtua dengan Angka Kejadian Stunting pada anak di


Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu I, Periode Februari-Maret 2020

41
Status Gizi anak Total p
Normal Stunting
Pekerjaan Tidak bekerja 3 11 14 0,000
Orangtua Nelayan 11 15 25
Swasta 1 7 8
Total 15 33 48

Berdasarkan tabel 15.hasil analisis bivariat antara pekerjaan orangtua dengan angka
kejadian stunting pada anak didapatkan nilai significancy (p) adalah 0,000 (p<0,05) yang
menunjukan bahwa H0 ditolak berarti H1 diterima hal tersebut menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara pekerjaan orangtua dengan angka kejadian stunting pada anak.

5.2.2.3 Hubungan Pendidikan Orangtua dengan Angka Kejadian Stunting pada anak.

Tabel.16.Hubungan pendidikan orangtua dengan Angka Kejadian Stunting pada anak di


Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu I, Periode Februari-Maret 2020

Status Gizi anak Total p


Normal Stunting
Pendidikan Tidak sekolah 1 7 8 0,002
Orangtua SD / Sederajat 10 15 25
SMP / Sederajat 4 11 15
Total 15 33 48

Berdasarkan tabel 16.hasil analisis bivariat antara pendidikan orangtua dengan angka
kejadian stunting pada anak didapatkan nilai significancy (p) adalah 0,002 (p<0,05) yang
menunjukan bahwa H0 ditolak berarti H1 diterima hal tersebut menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara pendidikan orangtua dengan angka kejadian stunting pada anak.

5.2.2.4 Hubungan Pendapatan Keluarga dengan Angka Kejadian Stunting pada anak.

42
Tabel.17.Hubungan pendapatan keluarga dengan Angka Kejadian Stunting pada anak di
Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu I, Periode Februari-Maret 2020

Status Gizi anak Total p


Normal Stunting
Pendapatan Rendah 15 33 48 0,000
Keluarga

Total 15 33 48

Berdasarkan tabel 17.hasil analisis bivariat antara pendapatan keluarga dengan angka
kejadian stunting pada anak didapatkan nilai significancy (p) adalah 0,000 (p<0,05) yang
menunjukan bahwa H0 ditolak berarti H1 diterima hal tersebut menyatakan bahwa terdapat
hubungan antara pendapatan keluarga dengan angka kejadian stunting pada anak.

5.2.2.5 Hubungan Pola Pemberian Makan dengan Angka Kejadian Stunting pada anak.

Tabel.18.Hubungan pola pemberian makan dengan Angka Kejadian Stunting pada anak di
Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu I, Periode Februari-Maret 2020

Status Gizi anak Total p


Normal Stunting
Pola Baik 2 5 7 0,027
Pemberian Kurang 13 28 41
makan

Total 15 33 48

Berdasarkan tabel 18.hasil analisis bivariat antara Pola pemberian makan pada anak
dengan angka kejadian stunting pada anak didapatkan nilai significancy (p) adalah 0,027
(p<0,05) yang menunjukan bahwa H0 ditolak berarti H1 diterima hal tersebut menyatakan
bahwa terdapat hubungan antara pola pemberian makan pada anak dengan angka kejadian
stunting pada anak.

43
5.2.2.6 Hubungan Riwayat ASI Eksklusif dengan Angka Kejadian Stunting pada anak.

Tabel.19.Hubungan Riwayat ASI Eksklusif dengan Angka Kejadian Stunting pada anak di
Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu I, Periode Februari-Maret 2020
Status Gizi anak Total p
Normal Stunting
Riwayat ASI Tidak ASI 8 20 28 0,007
Eksklusif Eksklusif
ASI Eksklusif 7 13 20

Total 15 33 48

Berdasarkan tabel 19.hasil analisis bivariat antara Riwayat ASI Eksklusif pada anak
dengan angka kejadian stunting pada anak didapatkan nilai significancy (p) adalah 0,007
(p<0,05) yang menunjukan bahwa H0 ditolak berarti H1 diterima hal tersebut menyatakan
bahwa terdapat hubungan antara riwayat ASI Eksklusif pada anak dengan angka kejadian
stunting pada anak.

5.2.2.7 Hubungan Riwayat BBLR dengan Angka Kejadian Stunting pada anak.

Tabel.20. Hubungan Riwayat BBLR dengan Angka Kejadian Stunting pada anak di
Wilayah Kerja UPT Puskesmas Pasangkayu I, Periode Februari-Maret 2020

Status Gizi anak Total p


Normal Stunting
Riwayat Tidak 10 17 27 0,000
BBLR BBLR
BBLR 5 16 21

44
Total 15 33 48

Berdasarkan tabel 20.hasil analisis bivariat antara Riwayat BBLR pada anak dengan
angka kejadian stunting pada anak didapatkan nilai significancy (p) adalah 0,000 (p<0,05)
yang menunjukan bahwa H0 ditolak berarti H1 diterima hal tersebut menyatakan bahwa
terdapat hubungan antara riwayat BBLR pada anak dengan angka kejadian stunting pada
anak.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

45
A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari analisis data dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat

ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Jenis kelamin mempunyai hubungan bermakna dengan Kejadian Stunting, p-

value 0,040 (95% CI 1,590-7,312). Balita dengan jenis kelamin laki-laki berisiko

berpeluang lebih tinggi mengalami stunting dibandingkan balita berjenis kelamin

perempuan.

2. Pekerjaan Orangtua mempunyai hubungan bermakna dengan Kejadian Stunting,

p value 0,000 (95% CI 1,670-6,778). Pekerjaan dengan upah tidak menentu

berpeluang lebih tinggi mempengaruhi kejadian stunting dibandingkan pekerjaan

dengan upah stabil.

3. Pendidikan Orangtua mempunyai hubungan bermakna dengan Kejadian Stunting,

p value 0,002 (95% CI 1,540-7,456). Pendidikan orangtua yang rendah sangat

mempengaruhi kejadian stunting dibandingkan pendidikan orangtua yang tinggi.

4. Pendapatan keluarga mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian stunting,

p value 0,000 (95% CI 1,650-5,432). Pendapatan keluarga yang rendah

mempengaruhi kejadian stunting dibandingkan pendapatan keluarga yang cukup

atau tinggi

5. Pola pemberian makan pada anak mempunyai hubungan bermakna dengan

kejadian stunting, p value 0,027 (95% CI 1,346-6,432). Pola pemberian makan

yang kurang dari jumlah yang seharusnya mempengaruhu kejadian stunting

dibandingkan pola pemberian makan yang cukup

6. Pemberian ASI eksklusif mempunyai hubungan bermakna dengan Kejadian

Stunting, p-value 0,007 (95% CI 1,366 – 6,228). Balita yang tidak diberi ASI

eksklusif berisiko berpeluang 2,916 kali mengalami stunting dibandingkan balita

yang diberi ASI eksklusif.


46
7. Riwayat bayi dengan BBLR mempunyai hubungan bermakna dengan Kejadian

Stunting, p-value 0,000 (95% CI 1,686 – 6,562). Balita dengan riwayat BBLR

berisiko berpeluang 3,455 kali mengalami stunting dibandingkan balita yang

tidak memiliki riwayat BBLR

B. Saran

Beberapa hal yang dapat direkomendasikan dari hasil penelitian ini diantaranya

adalah:

1. Bagi Bidan Puskesmas Pasangkayu I

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi bidan Puskesmas

Pasangkayu I untuk menggalakan pemberian ASI Eksklusif, sehingga dapat

menekan kejadian stunting, selain itu bidan dapat memberikan edukasi kepada

ibu dengan tingggi badan kurang dari 145cm untuk lebih memperhatikan asupan

nutrisi selama kehamilan dan perkembangan balita setelah lahir karena

merupakan faktor risiko terjadinya stunting. Untuk ibu yang memiliki anak

dengan jenis kelamin laki-laki dapat diberikan edukasi untuk lebih

memperhatikan asupan nutrisi anaknya guna menekan kejadian stunting di

Puskesmas Pasangkayu I.

2. Bagi Peneliti Selanjutnya

Apabila memungkinkan dilakukan penelitian lebih lanjut, hendaknya

menggunakan kohort prospektif sehingga dapat diikuti sejak kelahiran balita

mengenai faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian stunting

pada balita.

3. Bagi Calon Ibu dan Ibu dengan Balita

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi mengenai faktor

penyebab stunting, yaitu anak dengan jenis kelamin laki-laki, anak yang tidak

47
diberi ASI Eksklusif, anak dengan riwayat BBLR, dari faktor orangtua adalah

tingkat pendidikan, pekerjaan, dan penghasilan guna memenuhi kebutuhan gizi

seimbang bagi bayi. Sehingga calon ibu dapat benar-benar mempersiapkan

kehamilanya dengan memperhatikan faktor risiko tersebut, sedangkan bagi ibu

dengan balita dapat menggalakan pemberian ASI Eksklusif dan lebih

memperhatikan pemberian gizi bagi anak dengan jenis kelamin laki-laki dan

anak yang lahir dari ibu dengan tinggi badan kurang dari 145cm.

DAFTAR PUSTAKA

1. Word Health Organization. 2013. Childhoold Stunting: Challenges and


Opportunities.Switzerland: Department of Nutrition for Health and Development.
www.who.int. Diakses 20 April 2016

2. UNICEF. 2016. A Fair Chance For Every Child. New York. USA
www.unicef.org/publications. Diakses 20 April 2017

48
3. UNICEF. 2009. Tracking Progress on Child and Maternal Nutrition a Survival and
Development Priority. New York. USA www.unicef.org/publications. Diakses 20 April
2017

4. UNICEF. 2014. The State of the World‟s Children 2014 in Numbers. Everychild Counts:
Revealing Disparities, Advancing Children‟s Rights. New York. USA
www.unicef.org/publications. Diakses 20 April 2017

5. Kementrian Kesehatan RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013. Jakarta: Kemenkes
RI. Diunduh tanggal 10 April 2017 dari www.depkes.go.id

6. Kementerian Kesehatan RI. 2015. Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI. Diunduh tanggal 10 April 2017
dari http://www.pusdatin.kemkes.go.id

7. Dinas Kesehatan DIY. 2016. Profil Kesehatan DIY Tahun 2016. Yogyakarta: Dinkes DIY

8. Kementrian Kesehatan RI. 2016. Pusat Data dan Informasi 2015. Jakarta: Kemenkes RI.
Diunduh tanggal 12 April 2017 dari http://www.depkes.go.id

9. Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul. 2016. Profil Kesehatan Kabupaten


Gunungkidul Tahun 2016. Yogyakarta: Dinkes Kabupaten Gunungkidul

10. UNICEF. 2007. Women and Children The Double Dividend of Gender Equality New
York. USA www.unicef.org/publications. Diakses 20 April 2017

11. Tiwari, Rina, Ausman Lynne M, Agho Kingsley Emwinyore. 2014.Determinants of


stunting and severe stunting among under-fives: evidence from the 2011 Nepal
Demographic and Health Survey.Nepal: BMC Pediatrics

12. Akombi, Blessing Jaka. Agho Kingsley E, Hall John J, Merom Dafna, AstelBurt Thomas,
and Renzaho Andre M.N. 2017. Stunting and severe stunting among children under-5
years in Nigeria: A multilevel analysis. Nigeria: BMC Pediatrics

67
13. Haile, Demwoz, Azage Muluken, Mola Tegegn, and Rainey Rochelle. 2016. Exploring
spatial variations and factors associated with childhood stunting in Ethiopia: spatial and
multilevel analysis. Eithopia: BMC Pediatrics

14. Kementrian Kesehatan RI. 2010. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2010. Jakarta: Kemenkes
RI. Diunduh tanggal 10 April 2017 dari www.depkes.go.id

15. Ali, Zakari, Saaka Mahama, Adams Abdul-Ganiyu, Kamwininaang Stephen K, Abizari
Abdul-Razak. 2017. The effect of maternal and child factors on stunting, wasting and
underweight among preschool children in Northern Ghana. Ghana: BMC Nutrition

49
16. Aryastami, Ni Ketut, Shankar Anuraj, Kusumawardani Nunik, Besral Besral, Jahari Abas
Basuni, Achadi Endang. 2017. Low birth weight was the most dominant predictor
associated with stunting among children aged 12–23 months in Indonesia. Indonesia:
BMC Nutrition

17. World Health Organization. 2012. World Health Statistics 2012.Switzerland: Department
of Nutrition for Health and Development. www.who.int. Diakses 20 April 2016

18. Senbanjo, I., et al. 2011. Prevalence of and Risk factors for Stunting among School
Children and Adolescents in Abeokuta, Southwest Nigeria. Journal of Health Population
and Nutrition. 29(4):364-370.

19. Kementrian Kesehatan RI. 2012. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor: 1995/MENKES/SK/XII/2010. Jakarta: Kemenkes RI. Diunduh tanggal 01 Juni
2017 dari http://www.gizi.depkes.go.id

20. Gibson, R. S. 2005. Principles of Nutritional Assessment. Second Edition.


Oxford University Press Inc, New York

21. Supariasa. 2001. Penilaian Status Gizi. Buku Kedokteran


EGC.Jakarta.Kementrian Kesehatan RI. 2007.

22. Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007. Jakarta: Kemenkes RI. Diunduh tanggal 10 April
2017 dari www.depkes.go.id

LAMPIRAN

I. KUESIONER

Nomor Responden :
Tanggal Pemeriksaan :
A. IDENTITAS ANAK
50
1. Nama anak :
2. Jenis kelamin :
3. Tempat / Tanggal lahir :
4. Umur : Tahun, Bulan, Hari
5. Berat Badan Lahir :
6. Panjang Badan Lahir :
7. Anak ke : dari bersaudara
8. Apakah anak mendapatkan ASI ekslusif ? Ya / Tidak

B. IDENTITAS ORANG TUA


Ayah
1. Nama :
2. Umur :
3. No. HP :
4. Pekerjaan ayah :
5. Pendidikan ayah : (lingkari salah satu pilihan)
a. Tidak sekolah
b. SD / sederajat
c. SMP / sederajat
d. SMA / sederajat
e. Akademi
f. Perguruan Tinggi
Ibu
a. Nama :
b. Umur :
c. No. HP :
d. Pekerjaan ibu :
e. Pendidikan ibu : (lingkari salah satu pilihan)
a. Tidak sekolah
b. SD / sederajat
c. SMP / sederajat
d. SMA / sederajat
e. Akademi
f. Perguruan Tinggi
51
f. Jumlah tanggungan dalam keluarga : ……….. Orang
g. Jumlah pendapatan perbulan : (lingkari salah satu pilihan)
a. < Rp. 1.000.0000
b. Rp. 1.000.000 – Rp. 2.500.000
c. Rp. 2.500.000 – Rp. 5.000.000
d. > Rp. 5.000.000

C. PENGUKURAN ANTROPOMETRI
1. Tinggi badan anak : cm
2. Berat badan anak : kg
3. Lingkar kepala anak : cm
4. Tinggi badan ibu : cm
5. Berat badan ibu : kg
6. Tinggi badan ayah : cm
7. Berat badan ayah : kg

52