Anda di halaman 1dari 21

Ns. Rosa Melati, M.Kep., Sp.Kep.

An
 Anemia adalah penyakit yang ditandai oleh
rendahnya kadar Hemoglobin (Hb) dalam
darah sehingga mengakibatkan fungsi dari Hb
untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh
tidak berjalan dengan baik. Berdasarkan
survey kesehatan rumah tangga di Indonesia
diperkirakan 20% sampai 80% masyarakat di
Indonesia menderita anemia (Windani,2009).
Penyebab anemia
1. Hemolisis ( eritrosit mudah pecah)
2. Perdarahan
3. Defisiensi Nutrisi
4. Cacingan dan malaria
1. Anemia Hipoproliferatif:
a. defisiensi sel darah merah karena defek produksi
sel darah merah C/ Anemia Aplastik
b. anemia pada penyakit ginjal
c. Anemia pada penyakit kronis
d. Anemia defisiensi besi: Hamil, Menstruasi,
Absorpsi, perdarahan
e. Anemia makrositik: megaloblastik: malnutrisi C/
Cacingan
2. Anemia hemolitika karena destruksi sel darah merah
 C:\Users\User\Desktop\ASKEP ANEMIA DAN
CACINGAN
 Cari penyebab dan menganti darah yang hilang
 Anemia Aplastik: transplantasi sumsum, terapi
imunosupresif
 Anemia penyakit ginjal: pemberian besi, asam folat,
pemberian eritropoetin
 Anemia penyakit kronis: tidak perlu penanganan
 Anemia defisiensi besi: cari penyebab, pemberian besi
secara oral
 Anemia megaloblastik: penambahan asam folat 1 mg/
hari
“Thanks”
 Cacing parasit pada manusia dan hewan yang
sifatnya merugikan
 Manusia merupakan hospes untuk beberapa
jenis cacing termasuk Nematoda usus.
 Sebagian besar dari Nematoda ini masih
merupakan masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia.
 Ascaris lumbricoides Sebagian melalui tanah, feses
 Cacing jantan berukuran 10-30 cm, sedangkan betina 22-35
cm, dewasa hidup di rongga usus halus, cacing betina dapat
bertelur sampai 100.000-200.000 butir sehari, terdiri dari
telur yang dibuahi dan telur yang tidak dibuahi.
 Di tanah, dalam lingkungan yang sesuai telur yang dibuahi
tumbuh menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang lebih
3 minggu. Bentuk infektif ini bila tertelan manusia akan
menetas menjadi larva di usus halus, larva masuk ke
pembuluh darah atau saluran limfa kemudian ke jantung
lalu ke paru-paru. Di trachea larva menuju ke faring,
sehingga menimbulkan rangsangan batuk, kemudian
tertelan masuk ke dalam esofagus lalu menuju ke usus
halus, tumbuh menjadi cacing dewasa. Proses tersebut
memerlukan waktu kurang lebih 2 bulan sejak tertelan
sampai menjadi cacing dewasa (Gandahusada, 2000:10).
 Cacing Ascaris lumbricoides /cacing gelang
 C:\Users\User\Desktop\ASKEP ANEMIA DAN CACINGAN
 Manifestasi klinik:
gangguan usus ringan seperti mual, nafsu makan
berkurang, diare dan konstipasi.
Pada infeksi berat, terutama pada anak-anak dapat
terjadi gangguan penyerapan makanan (malabsorbtion).
Keadaan yang serius, bila cacing menggumpal dalam
usus sehingga terjadi penyumbatan pada usus (Ileus
obstructive).
 ketepatan diagnosis yaitu dengan menemukan telur-
telur cacing di dalam tinja tersebut. Jumlah telur
juga dapat dipakai sebagai pedoman untuk
menentukan beratnya infeksi (Menteri Kesehatan,
2006).
 Necator americanus dan Ancylostoma duodenale
adalah dua spesies cacing tambang yang dewasa di
manusia. Habitatnya ada di rongga usus halus. Cacing
betina menghasilkan 9.000-10.000 butir telur sehari,
panjang sekitar 1 cm, cacing jantan kira-kira 0,8 cm,
cacing dewasa berbentuk seperti huruf S atau C dan di
dalam mulutnya ada sepasang gigi.
 Daur hidup, telur cacing keluar bersama tinja, setelah
1-1,5 hari dalam tanah, menjadi larva. Sekitar 3 hari
larva tumbuh menjadi larva filariform yang dapat
menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7-8 minggu
di tanah.
Setelah menembus kulit, larva ikut aliran darah ke
jantung terus ke paru-paru. Dari laring, larva ikut
tertelan dan masuk ke dalam usus halus dan
menjadi cacing dewasa. Infeksi terjadi bila larva
filariform menembus kulit atau ikut tertelan
bersama makanan (Menteri Kesehatan , 2006).
 Cacing tambang hidup dalam rongga usus halus. Selain
mengisap darah, cacing tambang juga menyebabkan
perdarahan pada luka tempat bekas tempat isapan.
 Kehilangan darah secara perlahan-lahan sehingga
penderita mengalami kekurangan darah (anemia)
akibatnya dapat menurunkan gairah kerja serta
menurunkan produktifitas. Kekurangan darah akibat
cacingan sering terlupakan karena adanya penyebab
lain yang lebih terfokus (Menteri Kesehatan, 2006)
 Manifestasiklinis Lesu, tidak bergairah, konsentrasi
belajar kurang, pucat, rentan terhadap penyakit,,
prestasi kerja menurun, dan anemia
 Tanah
 Iklim panas dan lembab
 Perilaku
 Sosial ekonomi
 Status gizi
 KemKes RI: Dikatakan lebih lanjut, satu ekor cacing
dapat menghisap darah, karbohidrat dan protein dari
tubuh manusia. Cacing gelang menghisap 0,14 gram
karbohidrat & 0,035 gram protein.
 cacing cambuk menghisap 0,005 mL darah,
 cacing tambang menghisap 0,2 mL darah.
 Sekilas memang angka ini terlihat kecil, tetapi jika
sudah dikalkulasikan dengan jumlah penduduk,
prevalensi, rata-rata jumlah cacing yang mencapai 6
ekor/orang, dan potensi kerugian akibat kehilangan
karbohidrat, protein dan darah akan menjadi sangat
besar.
 Mengatasi permasalahan ini, Kementerian Kesehatan
melakukan kebijakan operasional berupa kerjasama
lintas program seperti kemitraan dengan pihak swasta
dan organisasi profesi.
 Tujuannya untuk memutuskan rantai penularan,
menurunkan prevalensi kecacingan menjadi <20% pada
tahun 2015, serta meningkatkan derajat kesehatan dan
produktivitas kerja.
 Kegiatan yang dilakukan antara lain sosialisasi dan
advokasi, pemeriksaan tinja minimal 500 anak SD per
kabupaten/kota, intervensi melalui pengobatan dan
promosi kesehatan, meningkatkan kemitraan, integrasi
program, pencatatan dan pelaporan serta monitoring-
evaluasi.
WHO menganjurkan pengobatan periodik dengan
anthelminthic, tanpa diagnosis individu sebelumnya
untuk preschool- dan anak-anak usia sekolah.
Pengobatan harus diberikan sekali setahun ketika
prevalensi infeksi cacing di masyarakat adalah lebih
dari 20%, dan dua kali setahun ketika prevalensi
infeksi cacing di masyarakat melebihi 50%. Intervensi
ini mengurangi morbiditas

Sebagai tambahan:
pendidikan kesehatan dan kebersihan mengurangi
transmisi dan infeksi ulang dengan mendorong
perilaku sehat;
 Bagaimana cara mencegah cacingan pada
anak
“TERIMA KASIH”