Anda di halaman 1dari 8

ANALISI STUDY KASUS AKUNTANSI

SEKTOR PUBLIK
“Analisi Kasus Manipulasi Pajak”

Oleh : Firmansyah Abdul Hakim


1810091510698

TA. 2020
ANALISIS KASUS MANIPULASI PAJAK

LATAR BELAKANG

Pajak merupakan sumber pendapatan Negara yang sangat penting bagi pelaksanaan
dan peningkatan pembangunan nasional untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan
masyarakat. Penerimaan pajak berasal dari Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan
Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan
(PBB), Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), penerimaan cukai,
pencairan tunggakan pajak, maupun pajak-pajak lainnya. Direktorat Jenderal Pajak
(fiskus) melakukan ekstensifikasi dan intensifikasi penerimaan pajak untuk meningkatkan
penerimaan pajak.Ekstensifikasi ditempuh dengan mencari wajib pajak yang baru.Potensi
pajak sebenarnya masih sangat besar.Upaya intensifikasi dapat ditempuh melalui
peningkatan kualitas aparatur perpajakan, pelayanan prima terhadap wajib pajak dan
pembinaan kepada para wajib pajak, pengawasan administratif, pemeriksaan, penyidikan,
dan penagihan aktif serta penegakan hukum atau law enforcement. Pajak dipungut dari
warga Negara Indonesia dan menjadi salah satu kewajiban yang dapat dipaksakan
penagihannya.Sistem perpajakan Indonesia mengalami perubahan pada tahun 1983 dari
Official Assessment System menjadi Self Assessment System.Self Assessment System
adalah suatu sistem dimana pemerintah memberikan kepercayaan penuh kepada wajib
pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan sendiri kewajiban perpajakannya.
Menurut Prof. DR. Rochmat Soemitro, S. H. Pajak adalah iuran rakyat kepada kas
negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendaoat jasa
timbal balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan, dan yang digunakan untuk
membayar pengeluaran umum.
Definisi tersebut kemudian disempurnakan, menjadi: pajak adalah peralihan
kekayaan dari pihak rakyat kepada kas negara untuk membayar pengeluaran rutin dan
“surplus” nya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk
membiayai public investment.
Sedangkan definisi pajak yang dikemukakan oleh Dr. N. J. Feldman : pajak adalah
prestasi yang dipaksakan sepihak oleh dan terutang kepada penguasa (menurut norma-
norma yang ditetapkanya secara umum), tanpa adanya kontraprestasi, dan semata-mata
digunakan untuk menutup pengeluaran-pengeluaran umum.
Pajak adalah beban bagi perusahaan, sehingga wajar jika tidak
satupun perusahaan (wajib pajak) yang dengan senang hati dan suka
rela membayar pajak. Karena pajak adalah iuran yang sifatnya
dipaksakan, maka negara juga tidak membutuhkan ‘kerelaan wajib
pajak’. Yang dibutuhkan oleh negara adalah ketaatan. Suka tidak suka,
rela tidak rela, yang penting bagi negara adalah perusahaan tersebut
telah membayar pajak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Lain
halnya dengan sumbangan, infak maupun zakat, kesadaran dan
kerelaan pembayar diperlukan dalam hal ini. Penghindaran pajak
dengan cara illegal adalah penggelapan pajak. Hal ini perbuatan
kriminal, karena menyalahi aturan yang berlaku.
RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang yang telah penulis paparkan, berikut rumusan masalah yang
penulis susun dalam bentuk pertanyaan:
1. Bagaimana kasus manipulasi pajak terjadi?
2. Bagaimana analisis kasus manipulasi pajak?
ANALISIS

1. Kasus Manipulasi Pajak

Kasus Pajak: Pemerintah Selamatkan Rp3 Triliun

Bisnis.com, JAKARTA—Tim yang dipimpin Wakil Presiden Boediono berhasil


mengembalikan aset sekitar Rp3 triliun ke kas negara dari 11 kasus penyimpangan
pajak skala besar. Boediono mengatakan jumlah tersebut baru sebagian dari seluruh
aset terkait kasus penyimpangan pajak yang diidentifikasi oleh tim penanganan kasus
penyimpangan pajak.
“Sampai saat ini aset yang bisa dikembalikan ke kas negara adalah Rp3 triliun
termasuk uang tunai dan aset-aset lainnya, dan masih ada aset potensial lainnya,” kata
Wapres dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Selasa (14/10).
Total aset terkait kasus pajak terdiri Rp4,574 triliun, US$718.868, 9.980 dolar
Singapura, dan puluhan aset properti lain yang belum dapat ditentukan nilainya.
Dari seluruh aset di atas, uang tunai Rp2,596 triliun telah dikembalikan ke kas
negara, deposit proses banding pajak senilai Rp953 miliar, beberapa aset siap
dieksekusi setelah mendapat ketetapan hukum tetap senilai Rp2,525 triliun. Wapres
memimpin langsung tim penanganan kasus penyimpangan pajak yang beranggotakan
Jaksa Agung Basrief Arief, Kapolri Sutarman, Menteri Keuangan Chatib Basri, dan
Menteri Hukum dan HAM Amir Syamsudin.
Tim tersebut dibentuk berdasarkan Instruksi Presiden no. 1/2011 yang
diterbitkan sebagai reaksi atas temuan penyimpangan penghitungan pajak oleh Gayus
Tambunan, yang saat iitu merupakan salah satu pegawai Direktorat Jenderal Pajak.
Perkara yang ditangani tim termasuk dua kasus pegawai Ditjen Pajak Gayus
Tambunan dan Dhana Widyatmika, dua kasus Asian Agri, dan penyelundupan oleh
anggota kepolisian Labora Sitorus. Boediono memaparkan tim juga telah menjalankan
perbaikan sistem di semua instansi terkait perpajakan untuk mengurangi potensi
penyimpangan.
Perbaikan sistem mencakup penerapan sistem pengaduan internal
(whistleblowing system), perbaikan pengawasan dan sistem informasi di pengadilan
pajak, hingga audit bersama di Ditjen Bea Cukai dan Ditjen Pajak.
“Ini simple, sederhana sekali tapi bisa mengungkap banyak sekali hal-hal yang
terlewatkan. Setelah dilakukan akhirnya bisa membantu upaya kita menangani dan
membuka kasus-kasus,” kata Wapres. Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan
sistem whistleblowing dan koordinasi dengan pihak penegak hukum berhasil
mengungkapkan banyak kasus penyimpangan di berbagai instansi.
Sampai saat ini sudah ada 2.647 pejabat dari berbagai instansi yang terkena
sanksi disiplin yang terdiri dari 1.489 pegawai Kementerian Keuangan, 216 pegawai
Kementerian Hukum dan HAM, dan 942 pegawai Kejaksaan.“Saya tidak klaim sudah
bagus. Tapi kita terus usaha supaya lebih bagus. ada yang sampai dipecat dan dibawa
ke KPK,” kata Chatib.
Adapun sistem audit bersama Ditjen Pajak dan Ditjen Bea Cukai, menurut
Menkeu, sukses meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas perdagangan. 
Ditjen Pajak bisa menggunakan data pembayaran bea dan cukai sebuah perusahaan
untuk mengecek pajak yang dibayarkan persahaan tersebut, begitu juga sebaliknya.
Wapres mengatakan tim penanganan penyimpangan pajak  bertemu secara rutin
dalam 3,5 tahun terakhir tanpa banyak publikasi agar bisa bekerja lebih efektif.
Hasil kajian tim menunjukkan kunci menghindari penyimpangan pajak adalah
koordinasi lebih baik pada tingkat tertinggi pimpinan instansi penegak hukum dan
instansi yang terkait penerimaan negara. Hal pokok lainnya dalam penanganan
penyimpangan pajak adalah tetap fokus pada pengejaran aset pelaku, tidak sebatas
mengejar pelaku untuk diseret ke pengadilan.
“Koordinasi ini kekuatan tim yang menangani masalah bersama. Itulah yang saya
kira satu pelajaran utama dari sini. Pengalaman ini tentu akan disampaikan ke
pemerintah yang akan datang,” kata Boediono.
KESIMPULAN

Pajak merupakan sumber pendapatan Negara yang sangat penting bagi


pelaksanaan dan peningkatan pembangunan nasional untuk mencapai kemakmuran
dan kesejahteraan masyarakat. . Penghindaran pajak dengan cara illegal adalah
penggelapan pajak. Hal ini perbuatan kriminal, karena menyalahi aturan yang berlaku.
Untuk menangani masalah manipulasi pajak, ada enam tahap yang harus
dilakukan oleh pemerintah, yaitu :
1. Mempertimbangkan sektor perpajakan dikelola oleh badan atau lembaga
tersendiri yang langsung bertanggungjawab kepada presiden.
2. Pemberdayaan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Pajak harus dilakukan dengan
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan umum.
3. Penyidik PNS pajak harus selalu berkonsultasi dan koordinasi dengan
penyidik Polri dan Kejaksaan untuk menetapkan secara cermat status hukum
tersangka pelanggaran pajak atau Tipikor.
4. Perlunya memperdalam penegak hukum dalam Undang-undang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan. Hal ini mengingat pajak sebagai sumber
pendapatan negara.
5. Penyidik perlu memahami prinsip ne bis in idem dalam penanganan kasus
pidana pajak terutama yang berkaitan pajak badan koorporasi.

6. Peningkatan pendapatan negara dari pajak berpulang pada komitmen,


keseriusan, dan nir-kepentingan dari pemeriksa/penyidik atau pimpinan
Ditjen Pajak.
SARAN

Pakar hukum pidana Romli Atmasasmita menyebut ada enam solusi yang tepat
dalam penanganan kasus perpajakaan, yaitu :
1. Mempertimbangkan sektor perpajakan dikelola oleh badan atau
lembaga tersendiri yang langsung bertanggungjawab kepada presiden.
2. Pemberdayaan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Pajak harus dilakukan
dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan umum. Sebab,
kata Romli, saat ini di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak
Kementerian Keuangan tidak sampai 10 persen Penyidik PNS Pajak
memiliki latar belakang pendidikan hukum.
Menurut Guru Besar Universitas Padjajaran, Bandung, Jawa Barat,
3. Penyidik PNS pajak harus selalu berkonsultasi dan koordinasi dengan
penyidik Polri dan Kejaksaan untuk menetapkan secara cermat status
hukum tersangka pelanggaran pajak atau Tipikor.
Romli juga memaparkan, solusi lain adalah,
4. perlunya memperdalam penegak hukum dalam Undang-undang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Hal ini mengingat pajak
sebagai sumber pendapatan negara.
Selain itu, pemberdayaan peradilan pajak dalam kasus sengketa pajak tidak
dapat dilakukan pararel dengan penyidikan dugaan tindak pidana dibidang
pajak. “Karena akan menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidak-adilan
baik bagi wajib pajak maupun fiscus,” katanya. Ia  menambahkan,
5. Penyidik perlu memahami prinsip ne bis in idem dalam penanganan
kasus pidana pajak terutama yang berkaitan pajak badan koorporasi.
Lebih jauh Romli mengatakan bahwa,
6. Peningkatan pendapatan negara dari pajak berpulang pada komitmen,
keseriusan, dan nir-kepentingan dari pemeriksa/penyidik atau pimpinan
Ditjen Pajak. “Dari pengaruh kepentingan, perorangan, atatau pimpinan
Ditjen Pajak dari pengaruh kepentingan perorangan atau kelompok
usaha,” pungkasnya. (boy/jpnn)

Selain itu, dari sisi perusahaan yang membayar pajak, hal yang dapat dilakukan
agar tidak terjadi manipulasi pajak ialah:
1. Memeriksa pihak – pihak terkait dalam kasus ini si pelaku maupun dari
pihak Direktorat Jenderal Pajak.
2. Memperketat sistem pengendalian dan controlling di lingkungan Direktorat
Jenderal Pajak dalam masalah perpajakan.
3. Mengedepankan pendekatan persuasive dalam penyelesaian persoalan
utang pajak, dengan melakukan klarifikasi terlebih dahulu ke perusahaan
yang bersangkutan. Jika dimungkinkan akan diberikan dispensasi dengan
memberikan kelonggaran kepada Group Bakrie tersebut membayar secara
mencicil jika pembayaran tunai tidak dimungkinkan.