Anda di halaman 1dari 8

Nama : Nadhia Indah Lestari (19056) absen 32

TK1A

Keperawatan Dasar

1. Sebutkan anatomi sistem pencernaan

 Mulut : rongga mulut, gigi, lidah dan kelenjar ludah


 Faring : nasofaring, orofaring, dan laringfaring
 Esofagus/ kerongkongan
 Lambung : kardiak, fundus, dan pilorus
 Usus halus : duodenum, jejunum / usus kosong, dan ileum / usus penyerapan
 Organ pembantu : kantung empedu, empedu, dan pankreas
 Usus besar : asendens kolon, tranversum kolon, dan desenden kolon
 Rektum dan anus

2. Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor yang memengaruhi eliminasi BAB

 Umur
Umur tidak hanya mempengaruhi karakteristik feses, tapi juga
pengontrolannya.Anak-anak tidak mampu mengontrol eliminasinya sampai sistem
neuromuskularberkembang, biasanya antara umur 2 – 3 tahun. Orang dewasa juga
mengalami perubahan pengalaman yang dapat mempengaruhi proses
pengosongan lambung. Diantaranya adalah atony (berkurangnya tonus otot yang
normal) dari otot-otot poloscolon yang dapat berakibat pada melambatnya
peristaltik dan mengerasnya(mengering) feses, dan menurunnya tonus dari otot-
otot perut yang juga menurunkan tekanan selama proses pengosongan lambung
 Diet
Makanan adalah faktor utama yang mempengaruhi eliminasi feses.
Cukupnyaselulosa, serat pada makanan, penting untuk memperbesar volume
feses. Makanantertentu pada beberapa orang sulit atau tidak bisa dicerna.
Ketidakmampuan iniberdampak pada gangguan pencernaan, di beberapa bagian
jalur dari pengairanfeses. Makan yang teratur mempengaruhi defekasi. Makan
yang tidak teratur dapatmengganggu keteraturan pola defekasi. Individu yang
makan pada waktu yang samasetiap hari mempunyai suatu keteraturan waktu,
respon fisiologi pada pemasukanmakanan dan keteraturan pola aktivitas
peristaltik di colon
 Tonus otot
Tonus perut, otot pelvik dan diafragma yang baik penting untuk
defekasi.Aktivitasnya juga merangsang peristaltik yang memfasilitasi pergerakan
chymesepanjang colon. Otot-otot yang lemah sering tidak efektif pada
peningkatan tekananintraabdominal selama proses defekasi atau pada
pengontrolan defekasi. Otot-ototyang lemah merupakan akibat dari berkurangnya
latihan (exercise), imobilitas ataugangguan fungsi syaraf.
 Faktor psikologi
Meningkatnya stress dapat mengakibatkan frekuensi keinginan untuk
eliminasi hal itu disebabkan meningkatkan aktivitas peristaltik dan frekuensi diare
 Gaya hidup
Perubahan gaya hidup dapay memperngaruhi kebutuhan eliminasi. Hal ini
berkaitan dengan tersedianya toilet, kegelisahan tentang bau, dan kebutuhanakan
privacy juga mempengaruhi pola
 Obat- obatan.
Beberapa obat memiliki efek samping yang dapat berpengeruh terhadap
eliminasiyang normal. Beberapa menyebabkan diare; yang lain seperti dosis yang
besar daritranquilizer tertentu dan diikuti dengan prosedur pemberian morphin
dan codein,menyebabkan konstipasi.Beberapa obat secara langsung
mempengaruhi eliminasi.Laxative adalah obat yang merangsang aktivitas usus
dan memudahkan eliminasifeses. Obat-obatan ini melunakkan feses,
mempermudah defekasi.
3. Sebutkan pemeriksaan penunjang pada pasien dengan gangguan eliminasi BAB
 Tes darah, untuk memeriksa kadar hormon dalam tubuh, serperti hormon tiroid.
 Kolonoskopi, untuk memeriksa kondisi usus dan rektum dengan alat kolonoskop, seperti
penyumbatan dalam usus.
 Defacography atau foto Rontgen rektum dengan barium, untuk mengetahui
masalah pada fungsi dan koordinasi otot pada rektum.
 MRI defacography, sama dengan defacography namun menggunakan teknologi
MRI.
 Tes pendorong balon, untuk mengukur lamanya balon berisi air, yang sebelumnya
dimasukkan melalui dubur, untuk dikeluarkan dari rektum, sehingga dapat
diperkirakan berapa lama seseorang buang air besar.
4. Seorang pasien laki-laki berusia 30 tahun BB 65 kilogram dirawat dengan demam
berdarah, selama shif malam(10 jam) minum 400 cc, muntah 350 cc, cairan infus masuk
540 cc, BAK 600 CC, BAB 1x (100 CC), berapa balance cairan dan deuresisnya? Absen
32 BB 76 Kg dan jumlah urin 700 cc.

Output : Muntah 350 cc, BAK 600 cc ( 6 kali ), Urine 700 cc

Input : Minum 400cc ( 10 jam ), Infus 540 cc

BB : 76 Kg

IWL : 10 x 76 = 760

760 𝑥 10
= 7600
24

7600
= 316, 67 cc/ BB Kg/ Jam ( output )
24

Balance cairan : input – output

: (400cc+540cc) – (350cc+600cc+700cc+316,67cc)

: 940 cc – 1.966,67
: - 1.026,67

𝑢𝑟𝑖𝑛𝑒
Deuresis :
𝑏𝑏/𝑗𝑎𝑚

700
:
76

9,21
:
10

: 0,921

5. Seorang pasien laki-laki berusia 30 tahun BB 65 kilogram dirawat dengan post operasi
apendiktomi hari ke dua, pasien mengeluh susah buang air besar sejak 3 hari sebelum
dioperasi, sudah mencoba ke kamar mandi untuk BAB tetapi tidak bisa, perut bagian
bawah terasa nyeri hasil pemeriksaan fisik didapatkan teraba masa faeses diperut bagian
bawah TD 120/90, mmhg, nadi 80 kali permenit, suhu 36oC, RR 18x/mnt. Apa diagnosa
keperawatannya dan susun rencana keperawatan yang harus dilaksanakan!

Riwayat Keperawatan
 Alasan masuk rumah sakit
Mengatakan mengeluh susah buang air besar sejak 3 hari, perut bagian bawah
terasa nyeri
 Keluhan utama
Susah buang air besar
 Pemeriksaan fisik
teraba masa faeses diperut bagian bawah TD 120/90 mmhg, nadi 80 kali permenit,
suhu 36 derajat celcius, RR 18x/mnt.

Data Fokus

DS :

 Pasien mengeluh susahh buang air besar sejak 3 hari


 Nyeri perut dibagian bawah
DO :

 TTV TD 120/90 mmhg suhu 36 derajat celcius, nadi 80x/menit ,RR 18x/menit.
 Teraba masa feses diperut bagian bawah
 Pengeluaran feses lama dan sulit
 Tampak meringis
 Bersikap protektif pada posisi menghindari nyeri

Analisis Data

TGL DATA MASALAH ETILOGI


KEPERAWATAN
3/19/2020 DS : Konstipasi Kelemahan otot
Pasien mengeluh susahh buang abdomen
air besar sejak 3 hari sebelum
operasi apendiktomi
DO :
 TTV TD 120/90 mmhg
suhu 36 derajat
celcius,nadi 80x/menit ,
RR 18x/menit.
 Teraba masa feses
diperut bagian bawah
 Pengeluaran feses lama
dan sulit

3/19/2020 DS : Nyeri akut Agen pencendera


Nyeri perut dibagian bawah fisik karena
DO : prosedur operasi
 Tampak meringis
 Bersikap protektif pada
posisi menghindari nyeri
Diagnosa Keperawatan

 Konstipasi berhubungan dengan kelemahan otot abdomen


DS :
Pasien mengeluh susahh buang air besar sejak 3 hari sebelum operasi apendiktomi
DO :
 TTV TD 120/90 mmhg suhu 36 derajat celcius,nadi 80x/menit , RR
18x/menit.
 Teraba masa feses diperut bagian bawah
 Pengeluaran feses lama dan sulit

 Nyeri akut berhubungan dengan agen pencendera fisik karena prosedur operasi
DS :
Nyeri perut dibagian bawah
DO :
 Tampak meringis
 Bersikap protektif pada posisi menghindari nyeri

Rencana Tindakan Keperawatan


No TGL DIAGNOSA TUJUAN/ KRITERIA RENCANA TINDAKAN
KEPERAWATAN HASIL
1 3/19/ Konstipasi Frekuensi BAB pasien O :
2020 berhubungan dengan menjadi tertatur setelah Periksa tanda dan gejala
kelemahan otot dilakukan tindakan konstipasi
abdomen keperawatan 1x24 jam T :
DS : dengan criteria hasil Lakukan asase abdomen
Pasien mengeluh DS : E:
susah buang air besar Pasien mengatakan Latih buang air besar
sejak 3 hari sebelum sudah mulai bisa untuk secara teratur
operasi apendiktomi BAB O:
DO : DO : Kolabolasi penggunaan
 TTV TD Pengeluaran feses obat pencahar
120/90 mmhg sudah tidak terlalu lama
suhu 36
derajat
celcius,nadi
80x/menit ,
RR
18x/menit.
 Teraba masa
feses diperut
bagian bawah
 Pengeluaran
feses lama
dan sulit

2 3/19/ Nyeri akut Nyeri perut pada pasien O :


2020 berhubungan dengan berkurang setelah Identifikasi skala nyeri
agen pencendera fisik dilakukan tindakan T:
karena prosedur keperawatan 1x24 jam Berikan teknik
operasi dengan kriteria hasil : nonfarmakologis untuk
DS : DS : mengurangi rasa nyeri
Nyeri perut dibagian Pasien mengatakan E :
bawah nyeri sudah berkurang Anjurkan teknik
DO : DO : nonfarmakologis untuk
 Tampak Posisi pasien pasien mengurangi rasa nyeri
meringis tampak normal dan K:
 Bersikap tidak meringis Kaloborasi pemberian
protektif pada analgetik
posisi
menghindari
nyeri
Referensi :

 Pearce C E. 2019. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta. PT Gramedia


Pustaka Utama
 Wahid A, Wahyudi A S. 2016. Buku Ajar Ilmu Keperawatan Dasar. Jakarta. Mitra
Wacana Medis
 Darmayanti I K, Ardhiyanti R, Pitriani R. 2014. Keterampilan Dasar Kebidanan I.
Yogyakarta. CV Budi Utama
 SDKI, DPP & PPNI. 2016. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: definisi dan
indicator diagnostik (edisi I ). Jakarta. DPPPPNI.