Anda di halaman 1dari 17

REKONSILIASI FISKAL LAPORAN KEUANGAN

PT. ANDALAN BANGUN SEJAHTERA


TAHUN 2011

Disusun Oleh :
Kelompok 5

Firmansyah Abdul Hakim 1810091510698


Muhammad Aidil Fitrah 1810091510709
Muhammad Ikhsan 1810091510710
Vio Satria Revanzha 1810091510721
Rizky Alfitrah 1810091510693

Dosen Pengampu :
Irfan Tanjung, S.Sos, M.Ak

Prodi Akuntansi
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bangkinang
Tahun 2020
1. Teori Rekonsiliasi Fiskal Laporan Keuangan

Laporan keuangan biasanya disusun pada akhir suatu periode, dimana


laporan keuangan memberikan gambaran atau informasi keuangan yang
lengkap mengenaijenis dan jumlah setiap aset, kewajiban, dan ekuitas serta
jenis dan jumlah dari penghasilan dan beban dari suatu badan usaha. Salah
satu dari jenis laporan keuangan adalah laporan laba rugi atau Perhitungan Hasil
Usaha (PHU) . Laporan ini merupakan laporan utama yang mengambarkan
hasil usaha atau kinerja perusahaan dengan cara membandingkan pendapatan
(income) dengan beban (expenses) yang dihasilkan selama periode tertentu.
Jika pendapatan/penghasilan lebih besar dari pada beban, maka akan terjadi
laba.
Sebaliknya jika pendapatan/penghasilan lebih kecil dari beban, maka akan
terjadi rugi. Besarnya laba yang dihasilkan oleh perusahaan merupakan salah
satu informasi yang perlu diketahui oleh pihak-pihak yang mempunyai
kepentingan didalam dan diluar perusahaan. Bagi pihak dalam perusahaan,
informasi ini berguna untuk mengatur aktivitas perusahaan dan meningkatkan
kinerja perusahaan sedangkan bagi pihak luar perusahaan terutama pemerintah,
informasi ini digunakan untuk menetapkan kebijakan dalam perpajakan terutama
dalam hal perhitungan dan penetapan besarnya pajak terutang yang harus
disetor ke kas Negara untuk mewujudkan kemandirian suatu bangsa dalam
membiayai pembangunan Negara.
Dalam pemungutan pajak, sistem yang dianut adalah system self
assessment yaitu sistem yang memberi kepercayaan sepenuhnya kepada wajib
pajak untuk menghitung, menyetor, dan melaporkan jumlah pajak yang
terutang menurut undang-undang pada suatu masa pajak, bagian tahun pajak
atau suatu tahun pajak. Dalam pelaksanaannya, sistem pemungutan pajak
berdasarkan system self assessmentini mengandung banyak kelemahan. Salah
satunya adalah sering disalah gunakan oleh wajib pajak untuk melakukan
kecurangan, misalnya memanipulasi restitusi pajak atau mengurangi hutang
pajak yang sesungguhnya.
Hal ini disebabkan selain tingkat kesadaran wajib pajak masih rendah,
juga disebabkan masih rumitnya prosedur pembayaran pajak. Selain itu, adanya
sistem pemungutan pajak berdasarkan Self Assessment dan berlakunya
Undang-Undang Pajak Penghasilan No. 36 Tahun 2008 mengakibatkan
perbedaan perbedaan dalam menentukan laba antara fiskus dengan pihak
perusahaan. Akibat perbedaan laba tersebut, maka timbul Laba Fiskal dan
Laba Komersial.Sehingga perlu adanya koreksi fiskal.
Koreksi fiskal adalah koreksi yang harus dilakukan oleh wajib pajak ketika
menghitung besarnya Pajak Penghasilan (PPh) terutang pada akhir tahun,
yang bertujuan untuk menyesuaikan besar nya laba menurut akuntansi yang
disusun oleh perusahaan dengan laba menurut Undang-Undang perpajakan
yang disusun oleh fiskus terkait dengan biaya-biaya yang diperkenankan dan
yang tidak diperkenankan sebagai pengurangan penghasilan bruto. Di dalam
penyusunan laporan keuangan fiskal, wajib pajak harus mengacu pada
peraturan perpajakan, sehingga laporan keuangan komersial yang dibuat
berdasarkan standar akuntansi keuangan harus direkonsiliasi terdahulu sebelum
menghitung besarnya.

Rekonsiliasi Fiskal | 29
Penghasilan Kena Pajak (PKP)
Dengan dilakukannya proses rekonsiliasi fiskal, maka Wajib Pajak
(entitas) tidak perlu membuat pembukuan ganda, melainkan cukup membuat satu
pembukuan yang didasari Standar Akuntansi Keuangan untuk mendapatkan
laba fiskal yang akan digunakan sebagai dasar perhitungan PPh. Selain itu,
rekonsiliasi fiskal dianggap perlu, karena jumlahnya akan dicantumkan pada
Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan, sebagai laporan keuangan tahunan pajak.
Sesuai dengan peraturan perpajakan, wajib pajak berkewajiban untuk
melakukan pembukuan. Pengecualian diberikan kepada wajib pajak pribadi yang
melakukan kegiatan usahanya tidak lebih dari Rp 4.800.000.000,00 dalam
satu tahun, tidak wajib melakukan pembukuan tetapi diwajibkan
menyelenggarakan pencatatan dengan menggunakan norma perhitungan sebagai
dasar dalam perhitungan pajak.

Laporan Keuangan Komersial


Laporan keuangan komersial adalah laporan keuangan yang disusun
berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan yang digunakan untuk mengetahui
posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan
bagi pihak-pihak yang berkepentingan dalam mengambil suatu keputusan bisnis.
Laba akuntansi atau disebut juga dengan laba komersial adalah pengukuran
laba yang lazim digunakan dalam dunia bisnis.Laba akuntansi dihitung
berdasarkan Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum, yaitu yang diatur dalam
Standar Akuntansi Keuangan. Dalam perhitungannya, laporan laba rugi
harus bertumpu pada prinsip Matching Cost Against
Revenue(perbandingan antara pendapatan dan biaya-biaya yang terkait).

Laporan Keuangan Fiskal


Menurut Suandy (2006: 85), laporan keuangan fiskal adalah laporan
keuangan yang disusun sesuai peraturan perpajakan dan digunakan untuk
keperluan penghitungan pajak. Undang-undang pajak tidak mengatur secara
khusus bentuk laporan keuangan, hanya memberi batasan untuk hal-hal
tertentu, baik dalam pengakuan penghasilan maupun biaya. Sama seperti halnya
dengan laba menurut akuntansi, laba menurut Undang-Undang Perpajakan juga
terdapat dua unsur utama, yaitu penghasilan dan biaya.

Rekonsiliasi (Koreksi) Fiskal


Menurut Agoes (2012:218), Rekonsilasi fiskal adalah proses penyesuaian
atas laba komersial yang berbeda dengan ketentuan fiskal untuk
menghasilkan penghasilan neto/laba yang sesuai dengan ketentuan perpajakan.
Koreksi fiskal dilakukan baik terhadap penghasilan maupun terhadap biaya-
biaya (pengurang penghasilan bruto).

Faktor-Faktor Penyebab Koreksi Fiskal


Menurut Resmi (2009:392), penyebab perbedaan laporan keuangan
komersial dan laporan keuangan fiskal adalah karena terdapat perbedaan
prinsip akuntansi, perbedaan metode dan prosedur akuntansi, perbedaan
pengakuan penghasilan dan biaya, serta perbedaan perlakuan penghasilan dan
biaya.

Rekonsiliasi Fiskal | 39
Koreksi Fiskal Positif
Koreksi Fiskal Positif adalah koreksi atau penyesuaian yang akan
mengakibatkan meningkatnya laba kena pajak yang pada akhirnya akan membuat
PPh Badan Terhutangnya juga akan meningkat. Menurut Muljono (2006),Koreksi
positif adalah koreksi fiskal yang
mengakibatkan pengurangan biaya yang diakui dalam laporan laba rugi
komersial menjadi semakin kecil, sehingga akan mengakibatkan penambahan
penghasilan.

Koreksi Fiskal Negatif


Koreksi Fiskal Negatif adalah koreksi atau penyesuaian yang akan
mengakibatkan menurunnya laba kena pajak yang membuat PPh badan
terhutangnya juga akan menurrun. MenurutMuljono (2006),Koreksi negatif
adalah koreksi fiskal yang terjadi karena adanya penambahan biaya yang
telah diakui dalam laporan laba rugi komersial menjadi semakin besar,
sehingga mengakibatkan adanya pengurangan penghasilan.

Rekonsiliasi Fiskal | 49
2. Sejarah Perusahaan

PT Andalan Bangun Sejahtera didirikan pada Tahun 2004, bergerak dalam


bidang penyedia alat-alat kesehatan, laboratorium & kebutuhan rumah sakit
lainnya. PT Andalan Bangun Sejahtera sebagai distributor untuk alat-alat
kesehatan & laboratorium yang terkemuka kemudian mendistribusikannya ke
berbagai wilayah di Indonesia.
Seiring dengan berkembangnya kepercayaan para pelanggan agar PT
Andalan Bangun Sejahtera dapat memenuhi kebutuhan mereka yang makin luas,
maka perusahaan melengkapi lingkup produknya sehingga dapat menjawab hampir
segala kebutuhan peralatan medis rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya.
Kebanggaan kami adalah hasil kepercayaan yang diperoleh melalui service
purna jual yang berorientasi kualitas serta mengutamakan pelayanan terbaik kami
terhadap setiap kebutuhan pelanggan, oleh karena itu PT Andalan Bangun
Sejahtera menyediakan hanya produk alat-alat kesehatan yang berkualitas, serta
mempunyai nilai yang lebih kepada klien untuk menjaga kepercayaan terhadap
produk-produk kami.

VISI

Menjadi perusahaan medis terdepan di Indonesia

MISI

1. Menyediakan produk medis yang berkualitas.

2. Membentuk kepercayaan dan loyalitas pelanggan terhadap produk kami.

3. Memberi nilai tambah kepada para pelanggan, pemegang saham, publik dan
karyawan sejalan dengan perkembangan perusahaan.
MOTO

1. Profesionalisme

2. Bekerja dengan integritas, etika, tanggung jawab dan disiplin.

3. Laporan Keuangan Komersial PT. Andalan Bangun Sejahtera

Sebuah Perusahaan pada akhir periode akuntansi harus menyusun laporan


keuangan yang bertujuan untuk menunjukan posisi keuangan serta mencatat
transaksi-transaksi yang telah terjadi dalam periode akuntansi tersebut yang
menyebabkan perubahan posisi keuangan perusahaan. Penyusunan laporan
keuangan bertujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi
keuangan, kinerja serta perubahan dalam posisi keuangan itu sendiri, agar dapat di
manfaatkan oleh sejumlah besar pemakai, baik internal maupun eksternal dalam
pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan perusahaan yang
penyusunannya memperhatikan prinsip akuntansi dinamakan laporan keuangan
komersial.

Rekonsiliasi Fiskal | 59
Laporan keuangan PT Andalan Bangun Sejahtera disajikan dalam satuan
mata uang rupiah dan periode laporan keuangan perusahaan dimulai dari 1 Januari
sampai dengan 31 Desember. Berikut ini adalah laporan keuangan PT Andalan
Bangun Sejahtera yang terdiri dari neraca dan laporan laba rugi:

Tabel 1
PT. ANDALAN BANGUN SEJAHTERA NERACA
PER 31 DESEMBER 2011
URAIAN Rupiah
AKTIVA
Aktiva Lancar :
Kas / Giro 435,686,384
Saldo Bank Mandiri 63,962,957
Piutang usaha 851,142,255
Persedian 200,778,899
Sewa dibayar dimuka -
Pajak dibayar dimuka 7,009,616
1,558,580,111
Total Aktiva Lancar 1,558,580,111
Aktiva Tetap :
Kendaraan dan peralatan kantor 254,164,000
Akumulasi depresiasi (170,404,641)
Total Aktiva Tetap 83,759,358
Nilai buku aktiva tetap 83,759,358
TOTAL NILAI AKTIVA 1,642,339,469
KEWAJIBAN DAN EKUITAS
KEWAJIBAN LANCAR
Hutang usaha 225,110,876
Hutang Pajak PPh 25 -
Hutang jangka panjang -
Total Kewajiban Lancar 225,110,876 225,110,876

MODAL
Modal disetor 1,000,000,000
Laba ditahan tahun sebelumnya 227,703,066
Laba (rugi) Tahun Berjalan : Laba Tahun 2011 setelah
pajak 189,525,526
Total Modal
TOTAL KEWAJIBAN DAN MODAL 1,642,339,469

Rekonsiliasi Fiskal | 69
Tabel 2
PT. ANDALAN BANGUN SEJAHTERA LAPORAN LABA RUGI
UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2011
URAIAN Rupiah
Pendapatan :
Pendapatan Usaha 2,959,056,240

Total Pendapatan 2,959,056,240

Harga Pokok Penjualan


Persediaan 306,557,080
Pembelian 2,391,014,623
Persedian Akhir 200,778,899
Harga Pokok Penjualan 2,496,792,804
Laba (rugi) Bruto 462,263,436

Biaya Operasional
Biaya Gaji,uang makan dan THR 148,500,000
Biaya Pemeliharaan Kantor 5,052,000
Biaya Keperluan Kantor dan ATK 18,206,800
Biaya Operasional Kendaraan 17,694,600
Biaya kirim barang 8,627,000
Biaya Administrasi dan kliring 2,832,565
Biaya Telepon, Listrik dan Air 20,914,386
Biaya Iklan/ Brosur 7,700,000
Total Biaya Operasional 229,527,351
Biaya Penyusutan 12,702,918
Laba Rugi Usaha 220,033,167
Pendapatan dan biaya lain-lain

Pendapatan Bunga 1,132,826


Biaya Lain-lain 3,432,565
Total Pendapatan dan biaya lain-lain (2,299,739)
Laba Rugi Sebelum Pajak 217,733,427

Rekonsiliasi Fiskal | 79
4. Koreksi Fiskal atas Laporan Keuangan PT Andalan Bangun Sejahtera

Laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan adalah laporan keuangan


komersial yang berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK). Laporan
keuangan komersial tersebut tidak bisa digunakan sebagai dasar dalam menghitung
pajak terhutang perusahaan, hal ini disebabkan karena adanya perbedaan
pengakuan penghasilan dan biaya dari sisi akuntansi dan sisi perpajakan. Oleh
karena itu, dibutuhkan laporan keuangan fiskal dalam memenuhi kebutuhan
perpajakan untuk menghitung PPh terutang perusahaan.
Unsur-unsur yang berbeda tersebut perlu dilakukan penyesuaian yang disebut
juga koreksi fiskal positif dan koreksi fiskal negatif. Koreksi fiskal adalah
penyesuaian yang dilakukan untuk mengubah laba sebelum pajak menurut
akuntansi menjadi laba kena pajak yang sesuai dengan ketentuan perpajakan.
Koreksi fiskal positif adalah koreksi fiskal yang dilakukan apabila perusahaan
membebankan biaya-biaya yang menurut ketentuan perpajakan merupakan biaya-
biaya yang tidak dapat dikurangkan dalam menghitung laba kena pajak. Koreksi
fiskal positif akan menghasilkan laba fiskal yang lebih besar dari laba komersial.
Koreksi fiskal negatif adalah koreksi fiskal yang dilakukan apabila perusahaan
membebankan biaya-biaya yang menurut ketentuan perpajakan merupakan biaya
yang dapat dikurangkan dalam menghitung laba kena pajak. Koreksi fiskal negatif
akan menghasilkan laba fiskal yang lebih kecil daripada laba komersial.
Laporan keuangan fiskal adalah laporan keuangan yang disusun berdasarkan
peraturan perpajakan dan didalamnya telah dilakukan penyesuaian untuk
mentransformasikan laba sebelum pajak menjadi laba kena pajak yang sesuai
dengan kententuan Undang-undang Pajak Penghasilan Nomor 36 Tahun 2008.
Berikut adalah koreksi laporan laba rugi fiskal yang dibuat oleh PT Andalan
Bangun Sejahtera:

Rekonsiliasi Fiskal | 89
Tabel 3
PT. ANDALAN BANGUN SEJAHTERA LAPORAN LABA RUGI FISKAL
UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2011
KOREKSI
NAMA AKUN KOMERSIAL FISKAL
POSITIF NEGATIF
Pendapatan :
Pendapatan Usaha 2,959,056,240 2,959,056,240
Total Pendapatan 2,959,056,240 2,959,056,240

Harga Pokok Penjualan


Persediaan 306,557,080 306,557,080
Pembelian 2,391,014,623 2,391,014,623
Persedian Akhir 200,778,899 200,778,899
Harga Pokok Penjualan 2,496,792,804 2,496,792,804
Laba (rugi) Bruto 462,263,436 462,263,436

Biaya Operasional
Biaya Gaji,uang makan dan THR 148,500,000 148,500,000
Biaya Pemeliharaan Kantor 5,052,000 5,052,000
Biaya Keperluan Kantor dan ATK 18,206,800 18,206,800
Biaya Operasional Kendaraan 17,694,600 17,694,600
Biaya kirim barang 8,627,000 8,627,000
Biaya Administrasi dan kliring 2,832,565 2,832,565
Biaya Telepon, Listrik dan Air 20,914,386 20,914,386
Biaya Iklan/ Brosur 7,700,000 7,700,000
Total Biaya Operasional 229,527,351 229,527,351
Biaya Penyusutan 12,702,918 12,702,918

Laba Rugi Usaha 220,033,167 220,033,167


Pendapatan dan biaya lain-lain

Pendapatan Bunga 1,132,826 1,132,826 -


Biaya Lain-lain 3,432,565 3,432,565

Total Pendapatan dan biaya (2,299,739) (3,432,565)


lain-lain
Laba Rugi Sebelum Pajak 217,733,427 216,600,602
PAJAK
PPh Pasal 25 27,075,075
Laba Rugi Setelah Pajak 189,525,526

Rekonsiliasi Fiskal | 99
Penghasilan Kena Pajak = Rp 216,600,602

Pajak Penghasilan Terhutang:


12,5% x Rp 216,600,602 = Rp 27,072,075

Kredit Pajak:
Pajak Penghasilan Pasal 25 = Rp 7,009,616

Kurang Bayar = Rp 20,065,459

Untuk mencatat beban pajak untuk tahun 2011, perusahaan membuat jurnal :

Debit Beban Pajak Rp 27,075,075


Kredit Pajak dibayar dimuka Rp 7,009,616
Kredit Hutang Pajak Rp 20,065,459

5. Analisis Perhitungan PPh Pasal 25/29 Tahun 2011 Menurut Penulis

a. Analisis Penghasilan PT Andalan Bangun Sejahtera Tahun 2011 Menurut Pasal


4 UU PPh, penghasilan adalah setiap tambahan

kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh oleh Wajib Pajak


baik yang berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia yang dapat
dipakai untuk konsumsi atau menambah kekayaan Wajib Pajak yang
bersangkutan dengan nama dan dalam bentuk apapun.
Penghasilan yang diperoleh atau diterima oleh PT Andalan Bangun
Sejahtera sepanjang tahun 2011 berasal dari trading. PT Andalan Bangun
Sejahtera memperoleh pendapatan atas penjualan alat kesehatan pada tahun
2011 adalah sebesar Rp 2,959,056,240

b. Analisis Biaya PT Andalan Bangun Sejahtera Tahun 2011

Menurut akuntansi komersial, semua biaya termasuk kerugian (losses)


dapat dikurangkan dalam menghitung penghasilan bersih (net income). Tetapi
dalam perpajakan, tidak semua biaya dapat dikurangkan sesuai dengan Pasal 6
dan Pasal 9 UU PPh No.17 Tahun 2000 sebagaimana telah diubah dengan UU
No.36 Tahun 2008. Untuk memudahkan dalam melakukan rekonsiliasi fiskal
terhadap laporan rugi laba, terutama pos-pos biaya yang menjadi fokus dari
koreksi fiskal, maka perlu diketahui unsur- unsur dari biaya itu sendiri. Unsur-
unsur dari biaya pada tahun 2011 di PT Andalan Bangun Sejahtera terdiri dari :

 Biaya Operasional Perusahaan

Unsur – unsur biaya operasional perusahaan pada PT Andalan


Bangun Sejahtera selama tahun 2011 terdiri dari :

Rekonsiliasi Fiskal | 109


Biaya Gaji Pegawai
Biaya ini merupakan biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan
selama tahun 2011 untuk karyawannya. Sesuai dengan Pasal 6 ayat (1)
huruf a dan Pasal 4 ayat (1) huruf a, biaya ini dapat dikurangkan dari
penghasilan bruto dan merupakan obyek PPh. Biaya ini yang terdiri dari
gaji, tunjangan hari raya, tunjangan kesehatan, uang makan, transport.
Beban gaji pegawai pada PT Andalan Bangun Sejahtera selama tahun
2011 adalah sebesar Rp 148,500,000

Biaya Pemeliharaan Kantor


Merupakan akun untuk mencatat pengeluaran untuk perbaikan dan
pemeliharaan peralatan kantor yang rusak. Biaya ini terdiri dari biaya
perbaikan dan biaya pemeliharaan gedung, dan masih banyak yang
lainnya. Menurut ketentuan perpajakan semua biaya yang digunakan
untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara sesuai pasal 6 ayat 1
huruf (a) penghasilan harus didukung dengan bukti yang kuat.
Berdasarkan evaluasi, selama tahun 2011 biaya pemeliharaan kantor
adalah sebesar Rp 5.052.000

Biaya Keperluan kantor dan Alat Tulis Kantor


Perusahaan mengeluarkan biaya sebesarRp 18,206,800 untuk
Biaya keperluan kantor dan ATK. Biaya ini terdiri dari:
 Biaya Alat Tulis dan Cetak
 Biaya Pos dan Materai
 Biaya Koran
 Biaya Air Minum
Biaya – biaya di atas berkaitan dengan biaya untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan sesuai dengan Pasal 6 ayat (1)
huruf a UU. No 36 Tahun 2008.

Biaya Operasional Kendaraan


Biaya yang dikeluarkan berkaitan dengan uang bensin, parkir, tol,
untuk kegiatan operasional perusahaan yaitu untuk kendaraan perusahaan
seperti mobil dan motor milik perusahaan. Biaya operasional kendaraan
tahun 2011 sebesar Rp 17,694,600

Biaya Kirim Barang


Biaya kirim barang merupakan pengeluaran atas setiap kegiatan
perusahaan untuk mengirim barang/ product kepada pelanggan. Karena
berkaitan langsung dengan kegiatan perusahaan, sesuai dengan pasal 6
ayat (1) sehingga dapat diakui sebagai biaya. Biaya kirim barang pada
tahun 2011 sebesar Rp. 8,627,000

Biaya Administrasi Bank


Merupakan akun untuk mencatat semua pengeluaran perusahaan
sehubungan dengan kegiatan perusahaan yang terdapat di bank, seperti
biaya transfer dan biaya administrasi bulanan. Karena berkaitan langsung
dengan kegiatan perusahaan, sesuai dengan pasal 6 ayat 1 sehingga dapat
diakui sebagai biaya. Berdasarkan evaluasi penulis, selama tahun 2011
biaya administrasi bank sebesar Rp 2,832,565. Perusahaan dapat

Rekonsiliasi Fiskal | 119


membebankan seluruh pengeluaran biaya bank sebagai pengurang
penghasilan bruto, karena adanya bukti pengeluaran yang lengkap dari
pihak bank.

Biaya Telpon, Listrik dan Air


Biaya ini adalah pembayaran atas penggunaan telpon, pulsa, listrik
dan air. PT Andalan Bangun Sejahtera mengeluarkan biaya untuk ini
sebesar Rp 20.914.386. Biaya ini berkaitan langsung dengan kegiatan
perusahaan. Perusahaan telah membebankan seluruh biaya listrik dan air
sebagai pengurang penghasilan bruto dan telah didukung dengan bukti –
bukti yang kuat.

Biaya Iklan/ Brosur


Merupakan akun untuk mencatat pengeluaran perusahaan dalam
rangka memperkenalkan dan mempromosikan produk – produknya.
Pembuatan brosur maupun spanduk merupakan salah satu kegiatannya.
Biaya ini dapat dijadikan pengurang penghasilan bruto, apabila tidak
mengandung unsur sumbangan dan biaya promosi tersebut didukung oleh
bukti – bukti berupa dokumen pembayaran kepada pihak ketiga atas
promosi yang dilakukan. Artinya hanya biaya yang benar – benar
dikeluarkan untuk biaya promosi yang boleh dikurangkan dari
penghasilan bruto. Hal ini berdasarkan pada UU PPh No. 36 tahun 2008
pasal 6 ayat (1) huruf (a). Besarnya biaya iklan/ brosur di tahun 2011
adalah sebesar Rp. 7,700,000.

Biaya Lain-lain
Beban lain-lain merupakan kumpulan akun untuk menampung
kegiatan yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan kegiatan
operasional perusahaan. Yang dapat diuraikan sebagai berikut :

Biaya keamanan dan kebersihan Rp. 1,200,000


Biaya Entertainment Rp. 2,232,565

Biaya Penyusutan
Biaya ini merupakan biaya atas penyusutan aktiva yang dimiliki
oleh perusahaan yang digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan. Besarnya nilai penyusutan pada PT Andalan
Bangun Sejahtera adalah sebesar Rp. 12.702.918 Selama ini PT Andalan
Bangun Sejatera telah menerapkan metode penyusutan yang sama dengan
ketentuan perpajakan yaitu metode garis lurus.

Rekonsiliasi Fiskal | 129


Tabel 4 Penyusutan aktiva tetap menurut perpajakan

Tarif Penyusutan
Kelompok Harta Masa
Berwujud Manfaat Saldo
Garis Lurus
Menurun
I. Bukan Bangunan
Kelompok 1 4 tahun 25% 50%
Kelompok 2 8 tahun 12,5% 25%
Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,5%
Kelompok 4 20 tahun 5% 10%

II. Bangunan
Permanen 20 tahun 5% -
Tidak Permanen 10 tahun 10% -

Setelah dilakukannya analisis terhadap unsur – unsur biaya yang


terdapat dalam laporan laba rugi perusahaan, maka dapat diketahui unsur
mana yang diakui oleh ketentuan perpajakan dan unsur – unsur mana
yang tidak diakui. Umumnya perbedaan tersebut merupakaan
penyesuaian atas beban yang tidak dapat dikurangkan dari penghasilan
kena pajak. Apabila ada unsur – unsur yang tidak diakui oleh ketentuan
perpajakan maka dilakukan koreksi fiskal. Koreksi fiskal tersebut dapat
menambah atau pun mengurangi jumlah penghasilan kena pajak
perusahaan.
Dalam SPT tahun 2011 yang telah dilaporkan perusahaan tidak
terdapat koreksi fiskal terhadap biaya dan hanya satu koreksi terhadap
penghasilan. Tetapi jika dilihat dari hasil analisis yang telah dilakukan
terhadap unsur – unsur laporan rugi-laba perusahaan, seharusnya ada
biaya – biaya perusahaan selama tahun 2011 yang perlu dilakukan
koreksi.

Berikut ini adalah biaya – biaya perusahaan selama tahun 2011


yang seharusnya dilakukan koreksi fiskal sebelum menentukan jumlah
penghasilan kena pajak :

Biaya Lain – lain.


Biaya ini dilakukan koreksi fiskal positif sebesar Rp 2.232.565
yaitu yang terdiri dari koreksi atas biaya entertainment karena tidak
didukung dengan buktinya yaitu tidak dibuatkan daftar nominatifnya dan
tidak dilampirkan dalam SPT Tahunan PPh. Berdasarkan Pasal 6 ayat (1)
huruf a UU No.36 Tahun 2008 dinyatakan bahwa biaya yang dapat
dikurangkan dari penghasilan adalah biaya untuk mendapatkan, menagih,
dan memelihara penghasilan. Biaya entertainment, representasi, jamuan
tamu dan sejenisnya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan yang merupakan obyek PPh dan tidak terkena PPh Final,
sesuai SE-27/PJ.22/1986 dapat dikurangkan dari penghasilan bruto

Rekonsiliasi Fiskal | 139


dengan syarat dibuatkan daftar nominatifnya dan dilampirkan dalam SPT
Tahunan PPh.

Biaya Keperluan Kantor & ATK


Perusahaan mengeluarkan Keperluan Kantor & ATK pada tahun
2011 adalah sebesar Rp 18.206.800. Dalam biaya tersebut termasuk juga
biaya untuk koran yaitu sebesar Rp 936.000. untuk biaya langganan koran
dilakukan koreksi fiskal positif seluruhnya karena biaya ini tidak
berhubungan dengan kegiatan operasi perusahaan.

Biaya Telpon, Listrik, & Air


Dalam biaya ini dilakukan koreksi fiskal positif sebesar Rp
1.800.000 karena dalam biaya ini termasuk biaya pulsa. Biaya pulsa
dilakukan koreksi fiskal positif sebesar 50%.

Biaya Operasional Kendaraan


Karena kendaraan kantor yang ada dapat dibawa pulang oleh
pegawai, maka sesuai KEP-220/PJ/2002, maka penulis melakukan
koreksi fiskal positif sebesar 50% atas biaya Operasional kendaraan pada
tahun 2011 yaitu sebesar Rp 8,847,300

Biaya Penyusutan
Biaya penyusutan kendaraan belum dikoreksi fiskal positif 50%
sesuai KEP-220/PJ/2002, karena kendaraan tersebut dapat dibawa pulang.
Pada tahun 2011 total penyusutan kendaraan kantor sebesar Rp
12,702,918 dikoreksi positif menjadi Rp. 5,760,905

Pendapatan Bunga
Pendapatan bunga merupakan pendapatan yang telah di kenakan
pajak Final, dimana pendapatan ini tidak akan dikenakan pajak lagi
karena bank telah memungut pajak atas pendapatan tersebut. Pendapatan
Bunga dikoreksi negatif sebesar Rp. 1,132,826
Dari hasil analisis diatas penulis menemukan beberapa biaya yang
perlu diperbaiki, biaya-biaya tersebut seharusnya dikoreksi sesuai dengan
Undang- undang perpajakan yang berlaku. Berdasarkan hal ini, maka
penulis mencoba untuk mengkoreksi kembali laporan keuangan fiskal PT
Andalan Bangun Sejahtera agar sesuai dengan ketentuan perpajakan.
Berikut adalah laporan laba rugi fiskal menurut perhitungan penulis
berdasarkan pada Undang-undang Perpajakan yang berlaku:

Rekonsiliasi Fiskal | 149


Tabel 5
PT. ANDALAN BANGUN SEJAHTERA PERHITUNGAN RUGI/LABA FISKAL
PENULIS
UNTUK PERIODE YANG BERAKHIR 31 DESEMBER 2011
KOREKSI
NAMA AKUN KOMERSIAL FISKAL
POSITIF NEGATIF
Pendapatan :
Pendapatan Usaha 2,959,056,240 2,959,056,240
Total Pendapatan 2,959,056,240 2,959,056,240
Harga Pokok Penjualan
Persediaan 306,557,080 306,557,080
Pembelian 2,391,014,623 2,391,014,623
Persedian Akhir 200,778,899 200,778,899
Harga Pokok Penjualan 2,496,792,804 2,496,792,804

Laba (rugi) Bruto 462,263,436 462,263,436


Biaya Operasional
Biaya Gaji,uang makan dan THR 148,500,000 148,500,000
Biaya Pemeliharaan Kantor 5,052,000 5,052,000
Biaya Keperluan Kantor dan ATK 18,206,800 936,000 17,270,800
Biaya Operasional Kendaraan 17,694,600 8,847,300 8,847,300
Biaya kirim barang 8,627,000 8,627,000
Biaya Administrasi dan kliring 2,832,565 2,832,565
Biaya Telepon, Listrik dan Air 20,914,386 1,800,000 19,114,386
Biaya Iklan/ Brosur 7,700,000 7,700,000

Total Biaya Operasional 229,527,351 217,944,051


Biaya Penyusutan 12,702,918 5,760,905 6,942,013
Laba Rugi Usaha 220,033,167 237,377,372
Pendapatan dan biaya lain-lain

Pendapatan Bunga 1,132,826 1,132,826 -


Biaya Lain-lain 3,432,565 2,232,565 1,200,000

Total Pendapatan dan biaya lain- (2,299,739) (1,200,000)


lain
Laba Rugi Sebelum Pajak 217,733,427 236,177,372
PAJAK
PPh Pasal 25 29,522,171
Laba Rugi Setelah Pajak 206,655,200

Dari laporan laba-rugi fiskal tersebut muncul perbedaan waktu (timing


differences) dan perbedaan tetap (permanent differences), antara lain sebagai
berikut:

Rekonsiliasi Fiskal | 159


 Beda Tetap
 Biaya Lain-lain
 Biaya Keperluan Kantor & ATK
 Biaya Telepon, Listrik & Air
 Biaya Operasional Kendaraan
 Pendapatan Bunga

 Beda Waktu
 Biaya penyusutan

Penjabaran antara laba sebelum pajak menurut akuntansi dengan penghasilan


kena pajak sebagai berikut :

Laba (Rugi) Komersial Rp 217.733.427

Koreksi Fiskal Positif:


Biaya Lain-lain Rp 2,232,565
Biaya Keperluan Kantor & ATK Rp 936,000
Biaya Telpon, Listrik & Air Rp 1,800,000
Biaya Operasional Kendaraan RP 8,847,300
Biaya Penyusutan Rp 5,760,905

Total Koreksi Fiskal Positif Rp 19,576,770 (+)

Koreksi Fiskal Negatif


Pendapatan Bunga Rp 1,132,826(-)

Laba Kena Pajak Fiskal RP 236,177,372

Dari koreksi-koreksi yang dilakukan, maka diperoleh laba sebelum pajak


sebesar Rp 236,177,372 sesuai Pasal 17 ayat (4) UU No.36 Tahun 2008, maka
dibulatkan ke bawah dalam ribuan rupiah penuh menjadi Rp 236,177,000). Pajak
yang terutang yang dihitung berdasarkan tarif umum perpajakan adalah sebesar:

12,5% X Rp 236,177,000 = Rp 29,522,171

Rp 29,522,171

Berdasarkan perhitungan tersebut, diketahui besarnya Pajak Penghasilan


terutang menurut penulis untuk tahun 2011 adalah sebesar Rp.29,522,171

Dengan demikian terdapat selisih antara perhitungan penghasilan kena


pajak menurut perusahaan dengan penulis, besarnya penghasilan kena pajak
perusahaan yaitu Rp 27,075,075 sedangkan menurut penulis Rp.29,522,171
sehingga menimbulkan selisih sebesar Rp 2,450,096.

Rekonsiliasi Fiskal | 169


Untuk selanjutnya diharapkan perusahaan dapat memenuhi laporan
keuangan fiskal sesuai dengan ketentuan perpajakan, dan penulis berharap
perhitungan fiskal yang penulis buat dalam penelitian ini dapat digunakan
sebagai bahan pertimbangan (acuan) dalam pembuatan laporan fiskal perusahaan
untuk tahun-tahun berikutnya, penulis juga berharap perusahaan dapat
menghindari kesalahan pembayaran pajak agar terhindar dari pemeriksaan pajak
dikemudian hari.

Rekonsiliasi Fiskal | 179