Anda di halaman 1dari 19

PEMANFAATAN PENGINDERAAN JAUH DAN SIG

UNTUK MENGKAJI PENGARUH GAYA HIDUP

TERHADAP TINGKAT KESEHATAN MAHASISWA UGM

Oleh:

Perwira Putra Aghni, Intansania N , Satrio Wisnu Suwardana

Jurusan Sains Informasi Geografi


Fakultas Geografi
Universitas Gadjah Mada

Abstrak

Yogyakarta merupakan salah satu kota pelajar yang di dalamnya terdapat banyak
Universitas dan Institut, salah satu Universitas yang dimiliki oleh Yogyakarta adalah
Universitas Gadjah Mada memiliki Universitas kebanggaan dan terbaik se-Indoneisa yaitu
Universitas Gadjah Mada (UGM)Fasilitas pendidikan yang memadai membuat Yogyakarta
sebagai tempat tujuan untuk belajar. Mahasiswa yang datang ke Yogyakarta berasal dari
berbagai daerah di Indonesia. Mahasiswa UGM memiliki banyak kegiatan baik di universitas
maupun di luar universitas.

Kata Kunci: Kualitas permukiman, Citra Worldview

A. LATAR BELAKANG sampai di daerah pinggiran. Pertumbuhan

Indonesia merupakan negara penduduk di daerah perkotaan baik alami

berkembang yang memiliki jumlah maupun urbanisasi akan menimbulkan

penduduk yang banyak serta setiap masalah permukiman terutama masalah

tahunya mengalami peningkatan. Jumlah hunian liar atau daerah permukiman

penduduk yang semakin padat maka kumuh yang berkembang di berbagai kota

membutuhkan daerah luas untuk dijadikan dan mengakibatkan menurunnya kualitas

sebagai kawasan permukiman. Distribusi permukiman (Bintarto, 1987 dalam Lydia

permukiman sekarang ini semakin banyak Desmaniar, 2009). Fenomena tersebut


sering dijumpai di daerah perkotaan. pembuangan sampah. Faktor-faktor
Jumlah penduduk dan semakin banyak tersebut dapat digunakan untuk mengukur
permukiman maka mempengaruhi tingkat tingkat kesehatan masyarakat.
kesehatan. Pada daerah perkotaan
Permasalahan kesehatan pada
merupakan pusat ekonomi dan tersedia
daerah perkotaan dapat diatasi dengan
fasilitas maka banyak penduduk yang
menganalisis kesehatan daerah tersebut
melakukan urbanisasi. Masyarakat yang
dengan pendekatan spasial. Pendekatan
urbanisasi akan mempengaruhi tingkat
spasial dapat mengetahui distribusi
kesehatan. Pada umumnya semakin padat
fenomena-fenomena yang terjadi.
penduduk maka kualitas permukiman
Pendekatan spasial umumnya disajikan
rendah sehingga menunjukan tingkat
menggunakan peta. Informasi yang ada di
kesehatannya rendah pula.
dalam peta dapat di ekstraksi dari citra
Kota Yogyakarta merupakan kota penginderaan jauh salah satunya
besar sehingga banyak masyarakat yang menggunakan citra Worldview. Citra
melakukan urbanisasi. Hal tersebut Worldview memiliki resolusi spasial yang
membuat Kota Yogyakarta semakin padat tinggi sehingga dapat menginterpretasi
dan jumlah permukiman semakin banyak. fenomena yang detail seperti lebar jalan,
Permukiman Kota Yogyakarta bahkan pola permukiman, dan kepadatan
terdapat di bantalan sungai. Padat penduduk. Untuk menjadi peta informasi
permukiman akan memunculkan yang diekstraksi dari citra kemudian
permasalahan yang kompleks. dilakukan pengolahan dengan
Permasalahan yang sering muncul yaitu menggunakan SIG.
limbah rumah tangga dan sampah. Hal
a. Rumusan Masalah
tersebut yang dapat menyebabkan berbagai
Zaman sekarang teknologi semakin
penyakit maupun masalah kesehatan.
berkembang dengan ditunjukkan telah
Untuk mengurangi masalah kesehatan
ditemukan citra yang memiliki resolusi
dapat dilakukan perencanaan yang matang.
tinggi yang dapat menganalisis suatu
Perencanaan baik yaitu membangun
wilayah yang lebih detail. Penggunaan
permukiman mempertimbangkan faktor-
citra resolusi tinggi umumnya digunakan
faktor tertentu. Faktor-faktor tersebut
pada daerah perkotaan karena memiliki
contohnya kepadatan permukiman, pola
permasalahan yang kompleks. Salah satu
permukiman, lebar jalan, kondisi jalan,
permasalahan yang ada yaitu tingkat
ketersedian ruang hijau, sanitasi, dan
kesehatan masyarakat karena semakin
padatnya jumlah penduduk. Dengan citra
penginderaan dapat mengekstraksi c. Manfaat Penelitian
informasi yang diperlukan seperti
Penelitian mengenai kualitas permukiman
kepadatan penduduk, pola permukiman,
diharapkan memiliki manfaat sebagai
lebar jalan, kondisi jalan, sanitasi, kualitas
berikut.
air, dan vegetasi. Untuk penyajian
informasi tersebut dapat dengan peta. 1. Sebagai Data spasial mengenai
Untuk membuat peta memerlukan SIG kualitas permukiman di
dalam pengolahan informasi yang telah di kecamatan Mantrijeron
dapat. Sig yang digunakan menggunakan 2. Dapat mengetahui area mana
metode berjenjang tertimbang. yang paling beresiko terhadap
Berdasarkan rumusan masalahn tersebut kejadian suatu penyakit
diperoleh pertanyaan penelitian 3. Sebagai salah satu bahan
pertimbangan dalam perencanaan
1. Bagaimana persebaran maupun
penataan ruang serta pengambilan
distribusi kualitas permukiman dan
keputusan dalam suatu kebijakan
incident rate?
terkait kesehatan lingkungan.
2. Bagaimana hubungan kualitas
permukiman terhadap kesehatan d. Tinjauan Pustaka
masyarakat?

1. Penginderaan Jauh
b. Tujuan Penelitian
Pengindraan Jauh merupakan sebuah
Tujuan dari penelitian adalah sebagai
ilmu dan seni untuk memperoleh informasi
berikut:
mengenai obyek, area atau kejadian.
1. Mengaplikasikan teknik interpretasi Pengindraan jauh dapat diibaratkan dengan
citra penginderaan jauh (Citra proses membaca dengan berbagai macam
Quickbird) untuk mengetahui kualitas sensor yang kemudian datanya
permukiman di kecamatan Mantrijeron dikumpulkan dan di analisis untuk
2. Menerapkan sistem informasi geografis mengetahui informasi mengenai objek,
(SIG) untuk memetakan kualitas area dan atau suatu fenomena dalam
permukiman di kecamatan Mantrijeron sebuah lokasi kajian. Data yang
3. Melakukan analisis tentang hubungan dikumpulkan dapat berupa berbagai
kualitas permukiman dengan kesehatan macam bentuk seperti variasi distribusi
masyarakat tenaga, distribusi gelombang akustik, dan
distribusi elektromagnetik (Liliesand, ett menyediakan detil citra dan akurasi
al 2004) . Citra merupakan data geospasial yang belum pernah ada
pengindraan jauh yang diperolek dengan sebelumnya, lebih memperluas aplikasi
perekaman menggunakan sensor film yang citra satelit di pasar komersial dan
lebih dikenal dengan nama foto udara. pemerintahan. Dengan penambahan
Sedangkan citra non foto diperoleh dengan keragaman spektralnya menyediakan
penyiaman atau scanning seperti citra kemampuan untuk melakukan deteksi
Quickbid, Ikonos, Aster, SPOT dan lain perubahan dan pemetaan yang tepat.
lain. Keunggulan data pengindraan jauh
Selain berbagai perbaikan teknis,
adalah dapat menghemat waktu, tenaga
Worldview juga memiliki kemampuan
dan biaya dibandingkan dengan
untuk mengakomodasi permintaan
menggunakan data dari survey terstrial.
perekaman langsung, yang memungkinkan
Kemampuan citra pengindraan jauh
pelanggan diseluruh dunia memilih serta
bergantung pada resolusi yang dimiliki
memuat profil pencitraan langsung pada
pada masing masing citra.Semakin tinggi
wahana dan melaksanakan pengiriman
resolusi citra pengindraan jauh maka data
data ke stasiun bumi sendiri
yang disajikan dapat semakin rinci.
2. Interpretasi citra
Worldview-2
Interpretasi citra merupakan
Satelit optis Worldview
kegiatan mengkaji foto udara dan atau citra
diluncurkan pada 8 Oktober 2009 dari
dengan maksud untuk mengidentifikasi
pangkalan angkatan udara Vandenberg,
objek dan menilai arti pentingnya obyek
California, USA. Dengan peningkatan
tersebut. Interpretasi citra terdiri dari dua
kelincahannya, Worldview dapat bertindak
kegiatan yaitu penyadapan data dari citra
bagai sebuah kuas, menyapu bolak-balik
dan penggunaan data tersebut untuk tujuan
untuk mengambil area yang luas dengan
tertentu (Sutanto,1992). Interpretasi adalah
sekali sapuan citra multispektral.
kegiatan menafsir, mengkaji,
WorldView merupakan satelit penghasil
mengidentifikasi, dan mengenali obyek
gambaran permukaan bumi dengan
pada citra, selanjutya menilai arti penting
resolusi spasial 0.5 m (untuk citra
dari obyek tersebut. Kegiatan memperoleh
pankromatik) dan 1.8 meter (untuk citra
data inderja dari interpretasi citra ini
multispektral pada keadaan nadir) atau 2.4
dilakukan dengan menggunakan alat
meter (untuk citra multispektral pada
bantu, yaiatu Stereoskop. Alat ini
keadaan 200 off-nadir). Worldview juga
berfungsi untuk memunculkan gambar 3D cara digitasi yaitu dengan proses
dari 2 buah foto udara 2D yang diletakkan pengubahan data grafis analog menjadi
secara bertampalan. Dua buah foto udara data grafis digital dalam struktur struktur
tersebut merupakan wilayah yang sama vektor. Pengolahan atau manajeman data
namun sudut pemotretannya berbeda. Hal dilakukan dengan operasi penyimpanan,
tersebut merupakan interpretasi secara pengaktifan kembali dan pencetakan
manual sedangkan sekarang telah semua data yang diperoleh dari pemasukan
menggunakan software SIG. Dalam data. Manipulasi dan analisis data yang
pengenalan obyek yang tergambar pada telah dimasukan dapat dimanipulasi dan
citra, ada tiga rangkaian kegiatan yang dianalisis dengan menggunakan software
dilakukan yaitu deteksi, identifikasi, dan SIG. Keluaran data dari SIG merupakan
analisis. Dalam proses interpretasi citra prosedure yang digunakan untuk
diperlukan pengenalan obyek yang dapat menampilkan informasi dari SIG dalam
didasarkan pada beberapa unsur bentuk yang disesuaikan dengan tujuan
interpretasi. Unsur Interpretasi citra terdiri pemanfaatan SIG. Keunggulan SIG selain
dari beberapa unsur yaitu rona atau warna, dapat menyimpan dalam format digital,
bentuk, ukuran, tekstur, pola, situs, jumlah data yang besar, dan diambil
bayangan, dan asosiasi. kembali secara cepat dan efisien juga dapat
memanipulasi data dan analisis data
3. SIG (Sistem Informasi Geografi)
spasial dengan mengaktifkan informasi
Sistem Informasi Geografi attribut untuk menyatukan tipe data yang
merupakan suatu sistem berdasarkan berbeda dalam suatu analisis tunggal yang
komputer yang memiliki kemampuan biasa disebut dengan analisis overlay.
untuk menangani data bereferensi geografi
4. Kota dan Permasalahannya
yaitu pemasukan data, manajemen data,
manipulasi, dan analisis data serta keluaran Kota merupakan pusat ekonomi,
data. Sistem Informasi Geografi memiliki pendidikan, pemerintah, dan fasilitas
empat kemampuan untuk menangani data terjamin sehingga banyak masyarakat yang
bereferensi geografi yaitu meliputi melakukan urbanisasi. Semakin padat
pemasukan data, pengolahan atau penduduk maka akan menimbulkan
manajemen data (penyimpanan atau berbagai permasalahan. Permasalahan
pemanggilan kembali), manipulasi dan yang dihadapi di daerah perkotaan
analisis data serta keluaran data. semakin kompleks. Contoh
Pemasukan data dapat dilakukan dengan permasalahannya yaitu sampah,
kesehatan, polusi, dan banyak lagi. sebagai kawasan yang didominasi oleh
Permasalahn kesehatan dapat dianalisis lingkungan hunian dengan fungsi utama
secara spasial menggunakan beberapa sebagai tempat tinggal yang dilengkapi
faktor. Faktor tersebut yaitu kepadatan dengan prasarana dan sarana lingkungan
penduduk, pola permukiman, lebar jalan, dan tempat kerja yang memberikan
kondisi jalan, halaman, persediaan pelayanan dan kesempatan kerja untuk
vegetasi, kualitas air, sanitasi, genangan mendukung perikehidupan dan
air, dan pembuangan sampah. Daerah penghidupan sehingga fungsi-fungsi
perkotaan wilayahnya tetap tetapi perumahan tersebut dapat berdaya guna
penduduk semakin banyak dan kebutuhan dan berhasil guna.Permukiman dengan
akan permukiman semakin banyak kualitas yang baik seharusnya memiliki
sehingga permukiman semakin padat. kelengkapan dasar fisik yang
Semua orang tidak menghiraukan lagi memungkinkan suatu pemukiman dapat
kualitas kesehatan dan hanya berfungsi sebagaimana mestinya, seperti
mementingkan dapat terlindungi walaupun jaringan jalan untuk mobilitas
tinggal di bawah jembatan dengan risiko penduduk.Kelengkapan sarana serta
tinggi. Maka dari itu perlu kesadaran kondisi lingkungan permukiman
masyarakat terhadap tingkat kesehatan mempengaruhi mempengaruhi besar
lingkungan. kualitas permukiman. Kualitasi
permukiman menampilkan derajat
5. Kualitas permukiman
kemampuan suatu permukiman untuk
Permukiman dan juga perumahan memenuhi kebutuhan hidupnya (Oto S.
merupakan salah satu kebutuhan dasar dalam Barlin Harahap 2006)
manusia. Hal ini merupakan suatu faktor
B. METODE PENELITIAN
yang menunjukan suatu kualitas
masyarakat. Permukiman adalah bagian
1. Wilayah Kajian
dari lingkungan hidup di luar kawasan
lindung, baik yang berupa kawasan Kecamatan Mantrijeron terletak di
perkotaan maupun pedesaan yang Kota Yogyakarta bagian selatan,
berfungsi sebagai lingkungan tempat berbatasan dengan Kabupaten Bantul
tinggal atau lingkungan hunian dan tempat dengan luas 2,61 km2 dan masih memiliki
kegiatan yang mendukung prikehidupan tanah sawah seluas 1,00 ha. Penduduk
dan penghidupan (UU No 4 tahun Kecamatan Mantrijeron berdasar regestrasi
1992).Permukiman dapat juga di artikan penduduk tahun 2013 sejumlah 34.950
jiwa dengan sex rasio 95,87. Kecamatan dikumpulkan meliputi dua jenis data yaitu
Mantrijeron terletak sekitar : 7.49˚14,85” data primer dan data sekunder. Data
Lintang selatan dan 110.21˚40,95” bujur sekunder yang dikumpulkan adalah
timur, dengan ketinggian 113 meter di atas pengharkatan setiap variabel sedangkan
permukaan laut. Iklim di Mantrijeron data primer yang dikumpulkan meluputi
sebagaimana daerah di Indonesia citra Worldview yang akan digunakan
Kecamatan Mantrijeron juga ber iklim untuk proses interpretasi citra. Variabel
tropis dengan memperoleh pengaruh angin yang dikumpulkan sebagai data primer
muson yang berganti arah setiap setengah adalah
tahun sekali. Pengaruh angin muson ini a. Kepadatan permukiman
akan menyebabkan timbulnya musim b. Pola permukiman
hujan dan musim kemarau. c. Lebar jalan
d. Kondisi jalan
Kecamatan Mantrijeron merupakan
e. Kondisi halaman
daerah yang berada berdekatan dengan
f. Kerapatan vegetasi
pusat kota yaitu sebelah selatan dari Alun-
g. Kualitas air
alun Selatan. Hal tersebut membuat daerah
h. Sanitasi
ini memiliki permukiman yang padat.
i. Tempat pembuangan sampah
Permukiman padat tampak jelas pada citra
j. Bahaya genangan air
penginderaan jauh. Permukiman yang pada
ini yang membuat permasalahan di daerah
4. Perolehan Data
kecamatan Matrijeron semakin kompleks.
a. Data sekunder
2. Tahap Persiapan Data variabel yang digunakan
Tahap persiapan merupakan tahap untuk pengukuran kualitas
pengumpulan data , analisis, dan rencana permukiman, yaitu data
penyusunan laporan. Tahap ini dilakukan pengharkatan dari beberapa sumber
dengan melakukan studi pustaka untuk pustaka.
mencari arahan penelitian dan juga b. Data Primer
mencari wawasan mengenai kualitas a) Citra Quickbird
permukiman dan tingkat kesehatan. Data yang diperoleh dari citra
Quickbird dengan proses
3. Pengumpulan Data interpretasi adalah data kepadatan
Pengumpulan data-data dilakukan sebelum rumah, tata letak, lebar jalan,
dilakukan pengolahan data. Data yang kondisi jalan, kondisi halaman,
pohon pelindung dan lokasi Bobot tertinggi dari range 1-3, bobok
permukiman. tertinggi yaitu 3 menunjukan tingkat
b) Survey Lapangan kepadatan terendah, semakin padat blok
Data yang diperoleh dari survey maka dianggap tingkat kenyamanan
lapangan ada kedelapan variabel berkurang dan memiliki kualitas
kualitas permukiman yang permukiman rendah.
digunakan untuk uji interpretasi
citra quickbird dan juga data 2. Tata letak/pola permukiman
mengenai air bersih dan sanitasi. Pola permukiman menunjukan
keseragaman ukuran setiap bangunan pada
suatu permukiman dimana bangunan yang
memiliki ukuran relatif sama dan
5. Teknik Pengolahan dan Analisa mengikuti pola tertentu akan dikelaskan
Data pada satuan unit yang sama dan dapat
Variabel yang digunakan sebagai dikelaskan menjadi kelas teratur
parameter penentu kualitas permukiman
Kondisi
yang digunakan adalah tata letak/pola Kategori Harkat
tata letak
permukiman, kondisi jalan, lebar jalan,
>50%
kondisi halaman, pohon pelindung, lokasi
bangunan
permukiman, air bersih dan sanitasi. Baik 3
tertata
Variabel kerawanan bencana dihilangkan
teratur
karena lokasi dianggap tidak rawan
bencana. Berikut klasifikasi beserta harkat 25-50%
setiap variabel : bangunan
Sedang 2
tertata
1. Kepadatan pemukiman
teratur
Perhitungan kepadatan pemukiman atau
<25%
kepadatan rumah didapat dari perhitungan
bangunan
rumus : Buruk 1
tertata
teratur
Jumlah luas atap
Kepadatan Pemukiman= x 100 %
Luas blok permukiman Tabel 1.1 Klasifikasi Pola Permukiman
Sumber : Ditjen Cipta Karya, Sumber : Ditjen Cipta Karya,
Departemen Pekerjaan Umum (1959, Departemen Pekerjaan Umum (1959,
dalam Rahardjo) dalam Rahardjo)

3. Aksesibilitas 3.2 Kondisi Jalan


Aksesibilitas diukur dengan variabel lebar
Kondisi jalan Kategori Harkat
jalan dan kondisi jalan. Lebar jalan
>50% telah
menunjukan lebar rerata badan jalan yanh
diperkeras
menghubungkan jalan lokal dengan jalan
dengan aspal Baik 3
utama pada suatu blok unit pemukiman
semen atau
sedangkan kondisi jalan masuk merupakan
konblok
kondisi badan jalan yang menghubungkan
jalan lokal dengan jalan utama pada suatu 25-50% pada
blok unit permukiman (Mudzakir,2008) jalan blok
pemukiman Sedang 2
3.1 Lebar Jalan belum
diperkeras
Kategor Harka
Lebar jalan <25% jalan
i t
pada blok
>50% Jalan masuk Buruk 1
permukiman
lebar rata-rata
telah diperkeras
>6m 2-3 dapat Baik 3
Tabel 1.3 KlasifikasiKondisi Jalan
dilalui mobil
dengan Sumber : Ditjen Cipta Karya,

25-50% dapat Departemen Pekerjaan Umum (1959,

dilalui mobil atau dalam Rahardjo)

lebar jalan antara Sedang 2


4. Kondisi Halaman
3-6m dapat dilalui
1-2 mobil Kondisi
Kategori Harkat
halaman
<25% dapat
dilalui mobil >50% Halaman
Buruk 1
dengan lebar jalan rumah luas dan
Baik 3
sekitar 4m terawat dengan
baik
Tabel 1.2 KlasifikasiLebar Jalan
25-50% terawat 6. Lokasi Permukiman
Sedang 2
dengan baik Lokasi permukiman menunjukan kondisi

<25% terawatt suatu lokasi permukiman dengan dasar


Buruk 1
dengan baik penilaian berupa lokasi permukiman
terhadap sumber polusi dan fasilitas kota.
Tabel 1.4 KlasifikasiLebar Jalan
Asumsi yang digunakan adalah dimana
semakin jauh dari sumber polusi dan
5. Pohon Pelindung semakin dekat dengan fasilitas kota maka
Pengharkatan pada variabel ini diukur semakin nyaman digunakan sebagai
dengan asumsi semakin banyak pohon tempat tinggal dan memiliki kualitas
pelindung maka semakin baik kualitas permukiman baik.
permukiman. Pohon pelindung pada
Kondisi lokasi Harka
penilaian kualitas permukiman yaitu Kategori
permukiman t
sebagai peneduh lingkungan permukiman,
selain itu berfungsi untuk mengurangi Jauh dari sumber

polusi oleh kendaraan bermotor polusi, dekat


Baik 3
(Mudzakir,2008) dengan fasilitas
kota.
Kondisi pohon
Kategori Harkat Tidak terpengaruh
pelindung
secara langsung
>50% jalanan
dengan sumber Sedang 2
memiliki pohon Baik 3
polusi atau lokasi
pelindung
rentan bencana.
25-50% jalanan
Lokasi dekat
memiliki pohon Sedang 2
dengan polusi,
pelindung
dekat dengan
Buruk 1
<25% jalanan sumber polusi
memiliki pohon Buruk 1 udara maupun
pelindung suara.
Tabel 1.5 KlasifikasiPohon Pelindung Tabel 1.6 KlasifikasiLokasi Permukiman

Sumber : Ditjen Cipta Karya, 7. Air Bersih


Departemen Pekerjaan Umum (1959, Air bersih menggunakan asumsi dimana
dalam Rahardjo) kualitas permukiman dinilai baik jika
sumber air bersihnya berasal dari PAM menggunakan
dan memiliki sumur, sedangkan kategori sumber lain
sedang jika air bersihnya berasal dari PAM seperti sungai
atau sumur dan kategori sedang jika sebagai sumber
selebihnya dari 25% yang menggunakan air bersih
PAM dan atau sumur menggunakan sungai Tabel 1.7 KlasifikasiAir Bersih
sebagai sumber air bersih.
Sumber : Ditjen Cipta Karya,
Sumber air Kategori Harkat Departemen Pekerjaan Umum (1959,
>50% dari jumlah dalam Rahardjo)
keluarga yang ada
8. Sanitasi
pada blok
Sanitasi merupakan sarana atau fasilitas
permukiman
Baik 3 penduduk untuk membuang hajat atau air
menggunakan
besar pada suatu permukiman. Asumsi
PAM, dan Sumur
yang digunakan adalah kaitannya
sendiri sebagai
kesehatan lingkungan yang terdapat dalam
sumber air bersih
sebuah blok. Suatu permukiman dikatakan
25%-50% dari
memiliki kualitas baik jika sanitasinya
jumlah keluarga
baik yang ditandai dengan pembuangan
yang ada pada
limbah yang menggunakan septitank dan
blok permukiman
tidak dibuang ke sungai.
menggunakan Sedang 2
PAM, dan atau Lokasi sanitasi Kategori Harkat

Sumur sendiri >50% rumah


sebagai sumber pada blok
air bersih permukiman

25% dari jumlah Buruk 1 memiliki WC Baik 3

keluarga yang ada dan dilengkapi

pada blok dengan

permukiman septitank

menggunakan 25-50% rumah Sedang 2


PAM, dan atau pada blok
Sumur, dan atau permukiman
memiliki WC
dan dilengkapi penilainnya tempat pembuangan
dengan sampah sebagai berikut :
septitank dan
No Kondisi Kondisi Harkat
selebihnya
TPS TPS
tanpa septitank 1 Baik Dikelola 1
atau 2 Sedang Dibakar 2
menggunakan lalu
selokan dibuang
disekitar
<25% rumah
3 Buruk Dibuang ke 3
pada blok
selokan
permukiman
atau sungai
memiliki WC Tabel 1.9 Klasifikasi TPS
dan dilengkapi
dengan Buruk 1 10. Bahaya Banjir atau genangan air
septitank dan
No Kondisi Keterangan Harkat
selebihnya
Daerah
menggunakan 1 Baik Jarak 1
sungai atau sungai > 1
selokan km
Tabel 1.8 Klasifikasi Sanitasi 2 Sedang Jarak 2
Sungai 0.5-
Sumber : Ditjen Cipta Karya,
1 km
Departemen Pekerjaan Umum (1959, 3 Buruk Jarak 3
dalam Rahardjo) sungai <0.5
km
Tabel 1.10 Klasifiksi Bahaya Banjir

11. Pembobotan Parameter Kualitas


Permukiman

9. TPS (Tempat Pembuangan Sampah) No Parameter Bobot


Sampah merupakan sumber dari 1 Kepadatan 3
penyakit, kondisi tempat pembuangan Permukiman
2 Pola Permukiman 1
sampah memiliki arti penting bagi
3 Lebar Jalan Masuk 3
kesehatan masyarakat. Kriteria 4 Kondisi Jalan 2
Masuk Daerah kajian hubungan antara
5 Kondisi Halaman 2 kualitas permukiman terhadap kesehatan
6 Jumlah Pohon 2
masyarakat kali ini bertempatan di
Pelindung
7 Kualitas Air 3 kecamatan Mantrijeron.
minum
8 Sanitasi 3
9 Tempat 2
Pembuangan
sampah
10 Daerah Genangan 2
Banjir

Gambar 1.1 Kualiats Permukiman Kecamatan


Mantrijeron.

1.11 Tabel Pembobotan tiap


parameter kualitas Dapat dilihat bahwa kecamatan

permukiman. Mantrijeron terdiri dari tiga kelurahan


yaitu kelurahan Mantrijeron, Gedongkiwo

Setelah dilakukan penilaian skor dan Suryodiningrat. Secara administratif

atau harkat pada setiap parameter yang ketiga kelurahan ini dibatasi oleh jalan.

digunakan, maka tahap selanjutnya Kualitas permukiman pada penelitian kali

yaitu mengalikan nilai harkat pada ini memiliki guna untuk dikaitkan dengan

setiap parameter yang digunakan, maka kesehatan masyarakat yang berada pada

tahap selanjutnya yaitu mengalikan kecamatan Mantrijeron. Seperti yang kita

nilai harkat pada setiap parameter tahu untuk menentukan kualitas

dikalikan bobot pada masing-masing permukiman terlebih menentukan

parameter atau variabel tersebut. klasifikasinya yaitu baik, sedang dan buruk
diperlukan beberapa parameter. Parameter
tersebut yakni: kepadatan permukiman,
pola permukiman, lebar jalan masuk,

C. HASIL DAN PEMBAHASAN kondisi jalan masuk atau aksesbilitas,


kondisi halaman, kerapatan vegetasi,
kualitas air minum, sanitasi, TPS, dan
bahaya banjir. Masing – masing parameter Parameter selanjutnya ialah lebar
ini diharkatkan mulai dari nilai harkat yang jalan dan kondisi jalan atau aksesbilitas.
paling rendah yakni 1 dan harkat yang Ketika jalannya lebar dan dapat dilalui 2-3
paling tinggi 3. Harkat yang paling rendah mobil maka harkatnya diisi dengan nilai 1
diasumsikan mengurangi tingkat semakin begitu juga kondisi jalan, kondisi jalan
buruknya kualitas permukiman dan begitu dikatakan baik ketika material jalannya
juga sebaliknya, jadi harkat yang diisi sudah semen atau batako dan terlebih
dengan nilai 3 akan membuat area tersebut sangat nyaman untuk dilalui. Kondisi jalan
semakin mendekati kualitas permukiman ini juga diestimasikan menjadi salah satu
yang buruk. parameter kualitas permukiman, karena
Kepadatan pemukiman diperoleh seperti yang kita tahu pemukiman dengan
dari hasil interpretasi blok permukiman kualitas baik memiliki aksesbilitas yang
dari citra World-View. Kepadatan baik pula berbeda dengan permukiman
diperoleh dari luas atap blok permukiman dengan kualitas buruk akses untuk mobil
dibagi dengan luas blok permuiman pun tidak akan dapat melewatinya.
dikalikan 100%, untuk permukiman yang Selanjutnya kondisi halaman, alasan
tergolong padat diberi harkat 3 dan untuk mengapa kondisi halaman menjadi salah
kepadatan permukiman rendah diberi satu parameter ialah permukiman yang
harkat 1. Semakin padat pemukiman maka baik harusnya memiliki halaman rumah
semakin sempit pula ruang antar rumah, yang cukup luas untuk sekedar
seperti halnya rumah-rumah kumuh yang menananam tanamann yang bermanfaat
biasnya terdapat di pinggiran sungai, sebagai penyuplai oksigen atau bahkan
disana tidak ada sirkulasi udara yang baik tanaman yang dapat digunakan sebagai
dan lingkungan sekitarnya cenderung kotor sarana pengobatan.
karena tidak adanya ruang untuk Kerapatan vegetasi juga menjadi
pengeloaan sampah. salah satu parameter alasannya hampir
Pola permukiman menggambarkan sama, banyaknya vegetasi dapat menyuplai
letak keteraturan dari suatu rumah oksigen yang bermanfaat bagi kesehatan
terhadap jalan. Pola permukiman juga tubuh. Selanjutnya kualitas air minum dan
berhubungan erat dengan kondisi penyediaan air bersih, kualitas air yang
lingkungan. Jika pola permukimannya bersih dapat diindikasikan dengan
teratur maka kondisi atau keadaan penggunaan air PAM dan air sumur
lingkungannya lebih rapi dan lebih bersih. sedangkan air dengan kualitas buruk yakni
merupakan air dari keluarga yang ada pada
unit. Parameter selanjutnya ialah sanitasi , dilakukan pengharkatan tahap selanjutnya
sanitasi dibatasi pada sarana untuk adalah melakukan pembobotan , dari
membuang hajat dan pengelolaan limbah. pembobotan tersebuut terdapat rentang
Kondisi sanitasi yang memenuhi ialah nilai yang kemudian kita klasifikasi
keluarga yang memiliki kakus dilengkapi menjadi 3 kelas dengan metode natural
dengn septictank atau terdapat saluran breaks. Metode ini membagi secara alami
pembuangan limbah rumah tangga dan rentang nilai menjadi 3 kelas sama rata.
berfungsi. Kondisi sanitasi yang tidak Tiga kelas tersebut diklasifikasikan dengan
sehat akan memberikan dampak dengan kualitas baik, sedang dan buruk. Kualitas
munculnya berbagai penyakit. permukiaman inilah yang kemudian
TPS merupakan sumber dari dibandingkan dengan insiden rate atau
penyakit maka dari itu TPS perlu dikelola rata-rata kejadian suatu penyakit. Dari
dengan baik. Penilaian kondisi TPS hasil pembobotan yang telah dilakukan
dikeola dengan baik atau tidak dapat dapat dilihat kualitas permukiman yang
dilihat dari pola permukiman. Jika pola buruk mayoritas atau dominan terjadi pada
permukiman cenderung sangat rapat (tidak kelurahan Gedongkiwo. Seperti yang dapat
ada ruang antar rumah) tidak memiliki kita lihat pada citra, pola permukiman dan
halaman dan tidak teratur maka dapat kepadatan permukiman terlihat sama yakni
diperkirakan pengeloaan sampahnya buruk padat dan pola prmukimannya semi teratur
karena tidak adanya ruang secara khusus begitu juga dengan aksesbilitas dan
untuk mengelola sampah. Parameter yang parameter lainnya walaupun parameter
terakhir yaitu bahaya banjir atau genangan lainnya juga mempengaruhi tetapi terdapat
air. Seperti yang kita tahu genangan air parameter yang dominan yang
sangat disukai oleh nyamuk sebagai mempengaruhi area kajian, yakni
tempat mereka untuk berkembang biak kelurahan Gedongkiwo. Dapat dilihat
sehingga dapat mengakibatkan sesorang kelurahan tersebut sangat dengan dengan
terkena DB sedangkan banjir dapat genangan air dan bahkan jika musim
membuat genangan air pada suatu wilayah penghujan jika debit air terlalu banyak
yang mengakibatkan permukiman menjadi dapat mengakibatkan banjir. Selanjutnya
becek dan kotor dimana tikus sangat dapat dilihat pada peta kejiadian penyakit
menyukai kondisi tersebut. Tikus dapat atau peta insiden rate. Kejadian penyakit
menyebabkan penyakit leptospirosis yang paling banyak terjadi pada kelurahan
disebabkan oleh bakteri leptospira. Setelah Gedongkiwo. Dari hasil pembandingan
dua peta yakni peta kualitas hijau, sanitasi, dan pembuangan sampah.
permukiman dengan kesehatan Kemudian parameter parameter ini
lingkungan. Dapat ditarik kesimpulan diharkatkan dan dibobotkan lalu dipetakan
bahwa kualitas permukiman sangat menjadi peta kualitas permukiman. Peta
mempengaruhi kesehatan masyarakat pada kualitas permukiman kemudian
suatu wilayah. dibandingkan dengan peta insiden rate.
Dari kedua peta tersebut dapat diketahui
D. KESIMPULAN bahwa kualitas permukiman yang buruk
Analisis hubungan antara kualitas mengindikasikan resiko akan kejadian
permukiman dengan kesehatan masyarakat penyakit sehingga dapat disimpulkan
dapat dilakukan dengan bantuan kualitas permukiman memiliki hubungan
penginderaan jauh dan SIG dengan yang kuat akan kesehatan masyarakat di
beberapa parameter yaitu : kepadatan suatu wilayah.
permukiman, pola permukiman, lebar
jalan, kondisi jalan, ketersedian ruang
yang kuat akan kesehatan insiden rate. Dari kedua peta tersebut
masyarakat di suatu wilayah. kualitas dapat diketahu bahwa kualitas
permukiman memiliki hubungan yang kuat permukiman yang buruk mengindikasikan
akan kesehatan masyarakat di suatu resiko akan kejadian penyakit sehingga
wilayah. dapat disimpulkan kulaitas permukiman
memiliki hubungan yang kuat akan
bahwa kualitas permukiman yang kesehatan masyarakat di suatu wilayah.
buruk mengindikasikan resiko akan
kejadian penyakit sehingga dapat
disimpulkan kulaitas permukiman
memiliki hubungan yang kuat akan
kesehatan masyarakat di suatu wilayah.

hijau, sanitasi, dan pembuangan


sampah. Kemudian parameter parameter
ini diharkatkan dan dibobotkan lalu
dipetakan menjadi peta kualitas
permukiman. Peta kualitas permukiman
kemudian dibandingkan dengan peta
LAMPIRAN
METODE (Diagram Alir)

Citra Data
Peta Jalan
Worldvie kejadian
Administra

Perhitungan incident rate


Interpretasi visual dan
digitasi blok permukiman

Interpretasi parameter
kesehatan lingkungan Layouting

1. Kepadatan Penduduk 1. Genangan Air


2. Kerapatan Vegetasi 2. Sanitasi
3. Pola Permukiman 3. Tempat Pembuangan Sampah Peta Incident Rate
4. Kondisi Jalan
5. Kondisi Halaman

Pengharkatan parameter
kesehatan lingkungan

Perhitungan harkat total

Layouting

Peta kualitas fisik Peta kualitas kesehatan


permukiman lingkungan

Overlay

Peta kualitas
permukiman

Comparasi

Analisis hubungan
kualitas permukiman
dengan incident rate