Anda di halaman 1dari 15

Nama : Muhammad Shandy Ajie

NIM : P3.73.20.2.18.027
Kelas : Ners Tk.2

A. Anatomi Fisiologi Pendengaran


Telinga merupakan organ pendengaran dan mempunyai peranan penting dalam proses
mendengar dan keseimbangan. Telinga dibagi menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Telinga luar
Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani.
Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Pada liang telinga sepertiga
bagian luar adalah rangka tulang rawan, sedangkan duapertiga bagian dalam adalah
terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2 ½-3 cm, akan menyebabkan terjadinya
resonansi bunyi sebesar 3500 Hz. Membran timpani mengalami vibrasi dan kemudian
akan diteruskan ke tulang-tulang pendengaran yaitu malleus, incus dan stapes.
2. Telinga tengah
Terdiri dari membran timpani sampai tuba eustachius, yang terdiri dari tulang-
tulang pendengaran yaitu malleus, incus dan stapes. Tulang telinga tengah saling
berhubungan satu sama lain. Prosesus malleus melekat pada membran timpani,
malleus melekat pada inkus dan inkus melekat ada stapes dan stapes melekat pada
oval window. Saluran eustachius menghubungkan ruang telinga tengah dengan
nasofaring, sehingga berfungsi sebagai penyeimbang tekanan udara pada kedua sisi
ruangan tersebut.
3. Telinga dalam
Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berbentuk spiral. Ukuran
panjang koklea berkisar 3 cm, dan juga terdapat vestibular yang tediri dari 3 buah
kanalis semisirkularis. Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak
lengkap dan membentuk lingkaran yang tidak lengkap pula. Skala timpani dan
vestibula berisi perilimfa, skala media berisi endolimfa. Dasar skala vestibuli disebut
sebagai membran vestibule (Reissner’s membrane), sedangkan dasar skala adalah
membrane basalis, dan pada membrane tersebut terletak organ corti.
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh telinga luar,
lalu menggetarkan membran timpani dan diteruskan ke telinga tengah melalui
rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran tersebut. Energi
getar yang telah diamplifikasikan akan diteruskan ke telinga dalam (koklea) dan
diproyeksikan pada membran basilaris, sehingga akan menimbulkan gerak relatif
antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang
mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga
kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion bermuatan listrik dari badan sel. Keadaan
ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga melepaskan
neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan potensial aksi pada saraf
auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius sampai ke korteks pendengaran.

B. Anatomi Fisiologi Mulut, Tenggorokan, dan Sinus


1. Mulut
a. Palatum
Palatum merupakan sebuah dinding atau pembatas yang membatasi antara
rongga mulut dengan rongga hidung sehingga membentuk atap bagi rongga
mulut. Struktur palatum sangat penting untuk dapat melakukan proses mengunyah
dan bernafas pada saat yang sama. Palatum secara anatomis dibagi menjadi dua
bagian yaitu palatum durum (palatum keras) dan palatum mole (palatum lunak).
Palatum durum terletak di bagian anterior dari atap rongga mulut. Palatum
durum merupakan sekat yang terbentuk dari tulang yang memisahkan antara
rongga mulut dan rongga hidung. Palatum durum dibentuk oleh tulang maksila
dan tulang palatin yang dilapisi oleh membran mukosa. Bagian posterior dari atap
rongga mulut dibentuk oleh palatum mole. Palatum mole merupakan sekat
berbentuk lengkungan yang membatasi antara bagian orofaring dan nasofaring.
Palatum mole terbentuk dari jaringan otot yang sama halnya dengan paltum
durum, juga dilapisi oleh membran mukosa.
b. Lidah
Pada bagian dorsum lidah (permukaan atas lidah) dan permukaan lateral lidah,
lidah ditutupi oleh papila. Papila adalah proyeksi dari lamina propria yang ditutupi
oleh epitel pipih berlapis. Sebagian dari papila memiliki kuncup perasa, reseptor
dalam proses pengecapan, sebagian yang lainnya tidak. Namun, papila yang tidak
memiliki kuncup perasa memiliki reseptor untuk sentuhan dan berfungsi untuk
menambah gaya gesekan antara lidah dan makanan, sehingga mempermudah lidah
untuk menggerakkan makanan di dalam rongga mulut. Apabila lidah diangkat ke
atas, suatu perlekatan mukosa, frenulum, dapat terlihat di bawah lidah di garis
tengah yang menghubungkan lidah dengan dasar mulut.
c. Gigi
Gigi melekat pada gusi (gingiva), dan yang tampak dari luar adalah bagian
mahkota dari gigi, mahkota gigi mempunyai lima buah permukaan pada setiap
gigi. Kelima permukaan tersebut adalah bukal (menghadap kearah pipi atau bibir),
lingual (menghadap kearah lidah), mesial (menghadap kearah gigi), distal
(menghadap kearah gigi), dan bagian pengunyah (oklusal untuk gigi molar dan
premolar, insisal untuk insisivus, dan caninus). Fungsi gigi adalah dalam proses
matrikasi (pengunyahan). Mengunyah ialah menggigit dan menggiling makanan
di antara gigi atas dan bawah. Gerakan lidah dan pipi membantu dengan
memindah-mindahkan makanan linak ke palatum keras ensit gigi-gigi. Makanan
yang masuk kedalam mulut di potong menjadi bagian-bagian kecil dan bercamput
dengan saliva unutk membentuk bolus makanan yang dapat ditelan.
2. Tenggorokan (Faring)
Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang bentuknya seperti corong,
yang besar di bagian atas dan sempit di bagian bawah serta terletak pada bagian
anterior kolum vertebra. Faring terbagi atas nasofaring, orofaring dan laringofaring
(hipofaring).
a. Nasofaring
Batas nasofaring di bagian atas adalah dasar tengkorak, di bagian bawah adalah
palatum mole, ke depan adalah rongga hidung sedangkan ke belakang adalah
vertebra servikal.
b. Orofaring
Orofaring disebut juga mesofaring dengan batas atasnya adalah palatum mole,
batas bawah adalah tepi atas epiglottis, ke depan adalah rongga mulut,
sedangkan ke belakang adalah vertebra sevikal. Struktur yang terdapat di
rongga orofaring adalah dinding posterior faring, tonsil palatine, fosa tonsil
serta arkus faring anterior dan posterior, uvula, tonsil lingual dan foramen
sekum.
c. Laringofaring (Hipofaring)
Batas laringofaring di sebelah superior adalah tepi atas epiglotis, batas
anterior ialah laring, batas inferior ialah esofagus, serta batas posterior ialah
vertebra servikal. Di bawah valekula terdapat epiglotis. Epiglotis berfungsi
untuk melindungi glotis ketika menelan minuman atau bolus makanan, pada
saat bolus tersebut menuju ke sinus piriformis dan ke esophagus.

3. Sinus
Sinus paranasal terdiri atas empat pasang yaitu sinus maksila, sinus etmoid,
sinus sfenoid dan sinus frontal. Berdasarkan lokasi perlekatan konka media dengan
dinding lateral hidung, sinus dibagi menjadi kelompok sinus anterior dan posterior.
Kelompok sinus anterior terdiri dari sinus frontal, maksila dan etmoid anterior yang
bermuara ke dalam atau dekat infundibulum. Kelompok sinus posterior terdiri dari
etmoid posterior dan sinus sfenoid yang bermuara di atas konka media. Fungsi utama
sinus paranasal adalah mengeliminasi benda asing dan sebagai pertahanan tubuh
terhadap infeksi melalui tiga mekanisme yaitu terbukanya kompleks osteomeatal,
transport mukosiliar dan produksi mukus yang normal.

C. Wawancara Riwayat Kesehatan/Keperawatan


Metode pengumpulan data yang digunakan perawat di rumah sakit menurut
analisis jurnal ada tiga macam yang pertama adalah observasi, wawancara, dan
pemeriksaan.
1. Wawancara
Wawancara adalah metode pengumpulan data yang direncanai dan disepkati
oleh kedua pihak pasien dan perawat. Tujuan dari metode wawancara ini adalah
untuk mengetahui informasi mengenai kesehatan pasien, mengidentifikasi masalah
pasien, dan mengevaluasinya. Salah satu contoh wawancara yaitu riwayat kesehatan
keperawatan pasien masa lalu dan saat ini.
Ada beberapa tahapan yang dilalui saat melakukan wawancara, yaitu
sebagai berikut :
a. Tahap persiapan
Sebaaiknya perawat membaca catatan medis (medical record) dahulu atau
mengetahui keluhan utama yang dirasakan klien saat ini. Jika perawat masih
belum mengerti tentang diagnosis klien, sebaiknya perawat mempelajarinya
terlebih dahulu dari sumber tersedia.
b. Tahap orientasi
Di tahap ini perawat menjelaskan pada klien tentang pentingnya wawancara
dan tujuan dilakukannya wawancara. Dengarkan penjelasan klien dan keluarga
dengan penuh perhatian. Usahakan wawancara dilakukan dengan posisi duduk
dan berhadapan. Pertahankan kontak mata antara perawat dengan klien dan
jangan melakukan sikap menolak pembicaraan dengan pasien atau keluarga.
c. Tahap Kerja
Pada tahap ini perawat mulai memberikan pertanyaan yang spesifik yang
membahas tentang masalah kesehatan klien dan alasan utama klien dan alasan
utama klien datang mencari bantuan. Pertanyaan dapat berupa pertanyaan
terbuka atau tertutup. Pertanyaan terbuka akan memberi kesempatan pada klien
untuk menjelaskan kondisinya. sedangkan pertanyaan tertutup hanya akan
memberi informasi yang kita inginkan dan biasanya berupa penegasan.
d. Tahap terminasi
Tahap ini mengindikasikan proses pengumpulan dan telah terpenuhi. Diakhiri
dengan memberikan kesimpulan dan menyamankan presepsi atas kondisi klien
terkini.
2. Riwayat kesehatan/keperawatan
Riwayat Kesehatan adalah ringkasan kondisi kesehatan klien mulai dari waktu
lampau hingga alasan mengapa saat ini datang ke pusat kesehatan. Riwayat ini
meliputi hal – hal sebaga berikut :
a. Data demografi
b. Keluhan utama
c. Presepsi tentang kondisi sakit saat ini
d. Riwayat penyakit terdahulu, riwayat pembedahan, riwayat dirawat dirumah
sakit
e. Riwayat penyakit keluarga
f. Pengobatan yang saat ini sedang dijalani
g. Riwayat alergi
h. Status perkembangan mental klien
i. Riwayat psikososial
j. Riwayat sosiokultural
k. Aktivitas harian (activity daily living) :
1) Nutrisi/diet yang dilakukan sebelum dan sesudah sakit.
2) Eliminasi (BAK → eliminasi urine dan BAB) yang dialami sebelum dan
sesudah sakit.
3) Pola istirahat dan tidur sebelum dan sesudah sakit.
4) Aktivitas dan rutinitas yang dilakukan tiap harinya dan sesudah sakit.
5) Keyakinan/pola ibadah yang dimiliki sebelum dan sesudah sakit.
6) Pola aktivitas seksual yang dilakukan dan sesudah sakit.

D. Pemeriksaan fisik Telinga, Hidung dan Tenggorokan


1. Alat dan bahan yang akan digunakan dalam pemeriksaan THT antara lain :
a. Lampu kepala
b. Spekulum telinga dengan berbagai ukuran
c. Aplikator kapas - Pinset bayonet dan pinset lurus
d. Cerumen hook dan cerumen spoon
e. Otopneumoscope
f. Speculum hidung dengan berbagai ukuran
g. Cermin laring dan nasofaring dengan berbagai ukuran
h. Spatel lidah
i. Seperangkat garpu tala - Kapas dan Kasa
j. Larutan Efedrin 1% dan 2%
k. Larutan lidokain
l. Alkohol 70%
m. Betadine
n. AgNo3
o. Spoit 10 cc untuk spooling telinga
p. Air hangat yang disesuaikan dengan suhu tubuh
q. Bunsen
2. Pemeriksaan Telinga
Mula-mula dilakukan inspeksi telinga luar, perhatikan apakah ada kelainan bentuk
telinga, tanda-tanda peradangan, tumor dan secret yang keluar dari liang telinga.
Pengamatan dilakukan pada telinga bagian depan dan belakang. Setelah mengamati
bagian-bagian telinga, lakukan palpasi pada telinga,apakah ada nyeri tekan, nyeri
tarik atau tanda-tanda pembesaran kelenjar pre dan post aurikuler.
Pemeriksaan auskultasi pada telinga dengan menggunakan stetoskop dapat
dilakukan pada kasus-kasus tertentu misalnya pada penderita dengan keluhan tinnitus
objektif.
Pemeriksaan liang telinga dan membrane timpani dilakukan dengan
memposisikan liang telinga sedemikian rupa agar diperoleh aksis liang telinga yang
sejajar dengan arah pandang mata sehingga keseluruhan liang telinga sampai
permukaan membrane timpani dapat terlihat. Posisi ini dapat diperoleh dengan
menjepit daun telinga dengan menggunakan ibu jari dan jari tengah dan menariknya
kearah superior-dorso-lateral dan mendorong tragus ke anterior dengan
menggunakan jari telunjuk. Cara ini dilakukan dengan tangan kanan bila akan
memeriksa telinga kiri dan sebaliknya digunakan tangan kiri bila akan memeriksa
telinga kanan. Pada kasus-kasus dimana kartilago daun telinga agak kaku atau
kemiringan liang telinga terlalu ekstrim dapat digunakan bantuan speculum telinga
yang disesuaikan dengan besarnya diameter liang telinga. Spekulum telinga dipegang
dengan menggunakan tangan yang bebas.
Amati liang telinga dengan seksama apakah ada stenosis atau atresia meatal,
obstruksi yang disebabkan oleh secret, jaringan ikat, benda asing, serumen obsturan,
polip, jaringan granulasi, edema atau furunkel. Semua sumbatan ini sebaiknya
disingkirkan agar membrane timpani dapat terlihat jelas. Diamati pula dinding liang
telinga ada atau tidak laserasi Liang telinga dibersihkan dari secret dari sekret dengan
menggunakan aplikator kapas, bilas telinga atau dengan suction.
Cara membuat aplikator kapas yaitu dengan mengambil kapas secukupnya
kemudian aplikator diletakkan ditengah-tengah kapas aturlah letak aplikator
sedemikian rupa sehingga ujung aplikator terletak kira-kira pada pertengahan kapas,
kapas kemudian dilipat dua sehingga menyelimuti ujung aplikator dan dijepit dengan
ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri. Selanjutnya pangkal aplikator diputar searah
dengan putaran jarum jam dengan menggunakan tangan kanan. Setelah ujung
aplikator diselimuti kapas lakukan pengecekan apakah ujung aplikator yang tajam
tidak melampaui ujung kapas. Selanjutnya kapas aplikator dilewatkan diatas api
Bunsen. Bila secret terlalu profus dapat digunakan bilasan air hangat yang disesuikan
dengan suhu tubuh. Bilasan telinga dilakukan dengan menyemprotkan air dari spoit
langsung ke dalam telinga. Ujung spoit diarahkan ke dinding atas meatus sehingga
diharapkan secret / serumen akan dikeluarkan oleh air bilasan yang balik kembali.
Pengamatan terhadap membrane timpani dilakukan dengan memperhatikan
permukaan membrane timpani, posisi membrane, warna, ada tidaknya perforasi,
refleks cahaya, struktur telinga tengah yang terlihat pada permukaan membrane
seperti manubrium mallei, prosesus brevis, plika maleolaris anterior dan posterior.
Untuk mengetahui mobilitas membrane timpani digunakan otopneumoskop. Bila
akan dilakukan pemeriksaan telinga kanan, speculum otopneumoskop difiksasi
dengan ibu jari dan jari telunjuk, daun telinga dijepit dengan menggunakan jari
tengah dan jari manis tangan kiri, sebaliknya dilakukan bila akan memeriksa telinga
kiri. Selanjutnya pneumoskop dikembang kempiskan dengan menggunakan tangan
kanan. Pada saat pneumoskop dikembang kempiskan, pergerakan membrane timpani
dapat diamati melalui speculum otopneumoskop. Pergerakan membrane timpani
dapat pula diamati dengan menyuruh pasien melakukan Manuver Valsalva yaitu
dengan menyuruh pasien mengambil napas dalam, kemudian meniupkan melalui
hidung dan mulut yang tertutup oleh tangan. Diharapkan dengan menutup hidung dan
mulut, udara tidak dapat keluar melalui hidung dan mulut sehingga terjadi
peninggian tekanan udara di dalam nasofaring. Selanjutnya akibat penekanan udara,
ostium tuba yang terdapat dalam rongga nasofaring akan terbuka dan udara akan
masuk ke dalam kavum timpani melalui tuba auditiva.

3. Pemeriksaan Hidung
Pemeriksaan hidung diawali dengan melakukan inspeksi dan palpasi hidung
bagian luar dan daerah sekitarnya. Inspeksi dilakukan dengan mengamati ada
tidaknya kelainan bentuk hidung, tanda-tanda infeksi dan sekret yang keluar dari
rongga hidung. Palpasi dilakukan dengan penekanan jari-jari telunjuk mulai dari
pangkal hidung sampai apeks untuk mengetahui ada tidaknya nyeri, massa tumor
atau tanda-tanda krepitasi.
Pemeriksaan rongga hidung dilakukan melalui lubang hidung yang disebut
dengan Rhinoskopi anterior dan yang melalui rongga mulut dengan menggunakan
cermin nasofaring yang disebut dengan Rhinoskopi posterior.
Rhinoskopi anterior RA dilakukan dengan menggunakan speculum hidung yang
disesuaikan 1 5 dengan besarnya lubang hidung. Spekulum hidung dipegang dengan
tangan yang dominant. Spekulum digenggam sedemikian rupa sehingga tangkai
bawah dapat digerakkan bebas dengan menggunakan jari tengah, jari manis dan jari
kelingking. Jari telunjuk digunakan sebagai fiksasi disekitar hidung. Lidah speculum
dimasukkan dengan hati-hati dan dalam keadaan tertutup ke dalam rongga hidung. Di
dalam rongga hidung lidah speculum dibuka. Jangan memasukkan lidah speculum
terlalu dalam atau membuka lidah speculum terlalu lebar. Pada saat mengeluarkan
lidah speculum dari rongga hidung , lidah speculum dirapatkan tetapi tidak terlalu
rapat untuk menghindari terjepitnya bulu-bulu hidung.
Amati struktur yang terdapat di dalam rongga hidung mulai dari dasar rongga
hidung, konka-konka, meatus dan septum nasi. Perhatikan warna dan permukaan
mukosa rongga hidung, ada tidaknya massa , benda asing dan secret. Struktur yang
terlihat pertama kali adalah konka inferior . Bila ingin melihat konka medius dan
superior pasien diminta untuk tengadahkan kepala.
Pada pemeriksaan RA dapat pula dinilai Fenomena Palatum Molle yaitu
pergerakan palatum molle pada saat pasien diminta untuk mengucapkan huruf “ i “.
Pada waktu melakukan penilaian fenomena palatum molle usahakan agar arah
pandang mata sejajar dengan dasar rongga hidung bagian belakang. Pandangan mata
tertuju pada daerah nasofaring sambil mengamati turun naiknya palatum molle pada
saat pasien mengucapkan huruf “ i ” . Fenomena Palatum Molle akan negatif bila
terdapat massa di dalam rongga nasofaring yang menghalangi pergerakan palatum
molle, atau terdapat kelumpuhan otototot levator dan tensor velli palatini.
Bila rongga hidung sulit diamati oleh adanya edema mukosa dapat digunakan
tampon kapas efedrin yang dicampur dengan lidokain yang dimasukkan ke dalam
rongga hidung untuk mengurangi edema mukosa.
Rhinoskopi posterior Pasien diminta untuk membuka mulut tanpa mengeluarkan
lidah, 1/3 dorsal lidah ditekan dengan menggunakan spatel lidah. Jangan melakukan
penekan yang terlalu keras pada lidah atau memasukkan spatel terlalu jauh hingga
mengenai dinding faring oleh karena hal ini dapat merangsang refleks muntah.
Cermin nasofaring yang sebelumnya telah dilidah apikan, dimasukkan ke belakang
rongga mulut dengan permukaan cermin menghadap ke atas. Diusahakan agar
cermin tidak menyentung dinding dorsal faring. Perhatikan struktur rongga
nasofaring yang terlihat pada cermin.
Amati septum nasi bagian belakang, ujung belakang konka inferior, medius dan
superior, adenoid (pada anak), ada tidak secret yang mengalir melalui meatus.
Perhatikan pula struktur lateral rongga nasofaring : ostium tuba, torus tubarius, fossa
Rossenmulleri.
Selama melakukan pemeriksaan pasien diminta tenang dan tetap bernapas melalui
hidung. Pada penderita yang sangat sensitif, dapat disemprotkan anestesi lokal ke
daerah faring sebelum dilakukan pemeriksaan.

4. Pemeriksaan Tenggorokan
Pemeriksaan Faring Penderita diinstruksikan membuka mulut, perhatikan struktur
di dalam cavum oris mulai dari gigi geligi, palatum, lidah, bukkal. Lihat ada tidaknya
kelainan berupa, pembengkakan, hiperemis, massa, atau kelainan congenital.
Lakukan penekanan pada lidah secara lembut dengan spatel lidah. Perhatikan
struktur arkus anterior dan posterior, tonsil, dinding dorsal faring. Deskripsikan
kelainan-kelainan yang tampak . Dengan menggunakan sarung tangan lakukan
palpasi pada daerah mukosa bukkal, dasar lidah dan daerah palatum untuk menilai
adanya kelainankelainan dalam rongga mulut.
Pemeriksaan Laringoskopi Indirek sambil membuka mulut, instruksikan penderita
untuk menjulurkan lidah sejauh mungkin ke depan . Setelah dibalut dengan kasa
steril lidah kemudian difiksasi diantara ibu jari dan jari tengah . Pasien diinstruksikan
untuk bernafas secara normal Kemudian masukkan cermin laring yang sesuai yang
sebelumnya telah dilidah apikan ke dalam orofaring. Arahkan cermin laring ke
daerah hipofaring sedemikian rupa hingga tampak struktur di daerah hipofaring yaitu
epiglottis, valekula, fossa piriformis, plika ariepiglotikka, aritaenoid, plika
ventrikularis dan plika vocalis. Penilaian mobilitas plika vocalis dengan menyuruh
penderita mengucapkan huruf i berulang kali.

E. Teknik Pemeriksaan Telinga Dengan Menggunakan Otoskop


Jika Anda akan memeriksa anak kecil, suruh anak berbaring dengan kepala
menyamping, atau duduk di pangkuan orang dewasa dan mengistirahatkan kepala di atas
dada orang dewasa. Anak yang lebih tua atau orang dewasa bisa duduk dengan kepala
sedikit dimiringkan ke arah bahu yang berlawanan. Duduk adalah posisi terbaik untuk
mengidentifikasi otitis media dengan efusi (cairan di belakang gendang telinga). Pilih
ukuran alat pengamatan terbesar yang bisa muat ke dalam saluran saluran telinga. Jika
hanya salah satu telinga yang bermasalah, tetap periksa telinga satunya lagi untuk
mempermudah dalam menentukan apa yang berbeda dari telinga yang sakit.
Jika memeriksa telinga anak di atas 12 bulan atau orang dewasa, pegang otoskop
dengan satu tangan dan gunakan tangan satunya lagi untuk menarik telinga luar atas dan
belakang dengan lembut. Ini akan meluruskan saluran telinga dan memudahkan Anda
melihat bagian dalamnya. Pada bayi di bawah 12 bulan, tarik telinga luar ke bawah dan
ke belakang dengan lembut. Sekarang, perlahan masukkan ujung yang runcing pada alat
pengamat ke dalam saluran telinga sambil melihat ke dalam otoskop. Sisi saluran telinga
bisa sangat sensitif, sehingga jangan mencoba menekan saluran telinga. Tumpukan
tangan Anda di atas wajah orang yang diperiksa, sehingga tangan Anda ikut bergerak
bersama kepala mereka kalau mereka bergerak dengan cepat.
Jangan menggerakkan otoskop ke depan tanpa melihat ke dalamnya. Pastikan Anda
dapat melihat jalur melalui saluran telinga. Anda tidak perlu memasukkan alat pengamat
sangat jauh ke dalam telinga karena cahaya lampu bisa menyebar sampai ke ujung.
Arahkan ujung alat pengamat sedikit menuju hidung orang untuk mengikuti sudut saluran
yang normal. Saat melihat melalui otoskop, pindahkan dengan lembut pada sudut yang
berbeda-beda sehingga Anda bisa melihat dinding saluran dan gendang telinga. Hentikan
jika penderita merasakan sakit yang makin meningkat.

Saluran telinga Normal: saluran telinga bervariasi dalam ukuran, bentuk, dan warna.
Saluran telinga berwarna seperti kulit dan mengandung rambut halus dan biasanya
sejumlah kotoran telinga berwarna coklat kekuningan atau kemerahan.
Abnormal: muncul rasa sakit sata telinga luar ditarik atau digoyangkan. Saluran telinga
berwarna merah, lunak, membengkak, atau berisi nanah.

Gendang telinga Normal: gendang telinga berwarna putih seperti mutiara atau abu-
abu muda, dan Anda bisa melihatnya. Anda bisa melihat tulang kecil telinga tengah yang
mendorong gendang telinga. Anda melihat cahaya berbentuk kerucut, disebut “refleks
cahaya”, memantulkan permukaan gendang telinga. Kerucut cahaya ini berada di posisi
pukul 5 di telinga kanan dan pukul 7 di telinga kiri. Abnormal: cahaya yang memantul di
gendang telinga terlihat memudar atau absen. Gendang telinga berwarna merah dan
menggembung. Anda mungkin melihat gelembung atau cairan berwarna kuning di
belakang gendang telinga, lubang dalam gendang telinga (perforasi), dan jaringan parut
berwarna putih di permukaan gendang telinga. Jika anak Anda telah dipasangkan selang
di dalam telinga, Anda mungkin juga melihat selang plastik kecil yang biasanya berwarna
biru atau hijau. Gendang telinga tersumbat oleh kotoran telinga atau benda, seperti
kacang atau manik.

F. Uji Fungsi dengan Gross Hearing & test Garpu Penala


1. Dalam uji Rinne, garpu tala bersuara ditempatkan pada mastoid, dan orang yang diuji
diminta untuk mengatakan ketika tidak terdengar lagi. Pemeriksa kemudian
mengangkat garpu segera dan memegang garpu ke dekat saluran telinga terbuka.
Telinga normal terus mendengarnya selama sekitar 45 detik. Dan hasil “positif” ini
terjadi juga dengan gangguan pendengaran sensorineural yang tidak lengkap. Jika
hasilnya “negatif” dan garpu terdengar lebih lama oleh konduksi tulang daripada
dengan konduksi udara, maka bisa disimpulkan bahwa pasien telah menderita jenis
tuli konduktif.
2. Dalam tes Schwabach, adanya gangguan sensorineural diindikasikan ketika individu
yang diuji tidak dapat mendengar suara yang di uji kan selama pemeriksaan. Ketika
seharusnya pendengaran normal dapat melakukannya. Namun, individu dengan
gangguan pendengaran konduktif dapat mendengar garpu untuk periode waktu yang
lebih lama. Daripada pemeriksa karena lesi konduktif tidak termasuk suara masker
udara di sekitarnya. Audiometer konduksi tulang akan memberikan hasil yang
serupa.
3. Untuk tes Weber, garpu hanya diletakkan di dahi orang tersebut, dan pemeriksa
bertanya di telinga sebelah mana orang itu mendengarnya. Saat lesi sensorineural
hadir di satu telinga, orang akan melokalisasi suara di telinga yang berlawanan. Atau
di telinga yang “lebih baik”. Namun jika terdapat cacat konduktif, orang tersebut
akan melokalkannya di telinga yang “lebih buruk”. Yaitu, yang dilindungi dari
gangguan oleh suara asing. Tes sederhana ini telah menjadi bantuan yang berharga
dalam diagnosis otosklerosis selama bertahun-tahun.

G. Pemeriksaan Fisik Mulut


1. Tujuan dari pemeriksaan fisik mulut adalah untuk :
a. Mendapatkan informasi atau data yang menggambarkan kondisi klien yang
sesungguhnya yaitu membedakan kondisi sehat dan penyakit.
b. Menentukan kebutuhan hygiene oral
c. Menentukan terapi keperawatan untuk klien dengan dehidrasi,asupan terbata,
trauma oral atau obstruksi jalan nafas
2. Alat :
a. Senter
b. Spatel lidah atau kasa tunggal segi empat
c. Handscoon
3. Cara kerja :
a. Pasien duduk berhadapan dengan pemeriksa dengan tinggi yang sejajar.
b. Amati bibir untuk mengetahui adanya kelainan kongenital, bibir sumbing, warna
bibir (pucat, kemerahan, cyanosis), ulkus, lesi dan masa.
c. Lanjutkan pengamatan pada gigi dengan pasien dianjurkan membuka mulut.
d. Atur pencahayaan yang memadai dan bila diperlukan, gunakan penekan lidah
untuk menekan lidah sehingga gigi akan tampak lebih jelas.
e. Amati keadaan setiap gigi mengenai posisi, jarak, gigi rahang atas dan bawah,
ukuran, warna, lesi, atau adanya tumor. Amati juga secara khusus pada akar-akar
gigi dan gusi.
f. Pemeriksaan setiap gigi dengan cara mengetuk secara sistematis, bandingkan
gigi bagian kiri, kanan, atas dan bawah dan anjurkan pasien untuk memberi tahu
bila merasa nyeri sewaktu diketuk.
g. Perhatikan pula ciri-ciri umum sewaktu melakukan pengkajian antara lain:
kebersihan mulut dan bau mulut.
h. Lanjutkan pengamatan pada lidah dan perhatikan kesimetrisannya. Suruh pasien
menjulurkan lidah dan amati mengenai kelurusan, warna, ulkus maupun setiap
ada kelainan.
i. Amati selaput lendir mulut secara sistematis pada semua bagian mulut mengenai
warna, adanya pembengkakan, tumor, sekresi, peradangan, ulkus dan
perdarahan.
j. Beri kesempatan pasien untuk istirahat dengan menutup mulut sejenak bila cape,
lalu lanjutkan dengan inspeksi faring dengan cara pasien dianjurkan untuk
membuka mulut, tekan lidah pasien ke bawah sewaktu pasien berkata “ah”.
Amati faring terhadap kesimetrisan ovula.

H. Pemeriksaan fisik hidung dan sinus paranasal


1. Pemeriksaan hidung
Diawali dengan melakukan inspeksi dan palpasi hidung bagian luar dan daerah
sekitarnya. Inspeksi dilakukan dengan mengamati ada tidaknya kelainan bentuk
hidung, tanda-tanda infeksi dan sekret yang keluar dari rongga hidung. Palpasi
dilakukan dengan penekanan jari-jari telunjuk mulai dari pangkal hidung sampai
apeks untuk mengetahui ada tidaknya nyeri, massa tumor atau tanda-tanda krepitasi.
Pemeriksaan rongga hidung dilakukan melalui lubang hidung yang disebut
dengan Rhinoskopi anterior dan yang melalui rongga mulut dengan menggunakan
cermin nasofaring yang disebut dengan Rhinoskopi posterior.
Rhinoskopi anterior RA dilakukan dengan menggunakan speculum hidung yang
disesuaikan 1 5 dengan besarnya lubang hidung. Spekulum hidung dipegang dengan
tangan yang dominant. Spekulum digenggam sedemikian rupa sehingga tangkai
bawah dapat digerakkan bebas dengan menggunakan jari tengah, jari manis dan jari
kelingking. Jari telunjuk digunakan sebagai fiksasi disekitar hidung. Lidah speculum
dimasukkan dengan hati-hati dan dalam keadaan tertutup ke dalam rongga hidung. Di
dalam rongga hidung lidah speculum dibuka. Jangan memasukkan lidah speculum
terlalu dalam atau membuka lidah speculum terlalu lebar. Pada saat mengeluarkan
lidah speculum dari rongga hidung , lidah speculum dirapatkan tetapi tidak terlalu
rapat untuk menghindari terjepitnya bulu-bulu hidung.
Amati struktur yang terdapat di dalam rongga hidung mulai dari dasar rongga
hidung, konka-konka, meatus dan septum nasi. Perhatikan warna dan permukaan
mukosa rongga hidung, ada tidaknya massa , benda asing dan secret. Struktur yang
terlihat pertama kali adalah konka inferior . Bila ingin melihat konka medius dan
superior pasien diminta untuk tengadahkan kepala.
Pada pemeriksaan RA dapat pula dinilai Fenomena Palatum Molle yaitu
pergerakan palatum molle pada saat pasien diminta untuk mengucapkan huruf “ i “.
Pada waktu melakukan penilaian fenomena palatum molle usahakan agar arah
pandang mata sejajar dengan dasar rongga hidung bagian belakang. Pandangan mata
tertuju pada daerah nasofaring sambil mengamati turun naiknya palatum molle pada
saat pasien mengucapkan huruf “ i ” . Fenomena Palatum Molle akan negatif bila
terdapat massa di dalam rongga nasofaring yang menghalangi pergerakan palatum
molle, atau terdapat kelumpuhan otototot levator dan tensor velli palatini.
Bila rongga hidung sulit diamati oleh adanya edema mukosa dapat digunakan
tampon kapas efedrin yang dicampur dengan lidokain yang dimasukkan ke dalam
rongga hidung untuk mengurangi edema mukosa.
Rhinoskopi posterior Pasien diminta untuk membuka mulut tanpa mengeluarkan
lidah, 1/3 dorsal lidah ditekan dengan menggunakan spatel lidah. Jangan melakukan
penekan yang terlalu keras pada lidah atau memasukkan spatel terlalu jauh hingga
mengenai dinding faring oleh karena hal ini dapat merangsang refleks muntah.
Cermin nasofaring yang sebelumnya telah dilidah apikan, dimasukkan ke belakang
rongga mulut dengan permukaan cermin menghadap ke atas. Diusahakan agar
cermin tidak menyentung dinding dorsal faring. Perhatikan struktur rongga
nasofaring yang terlihat pada cermin.
Amati septum nasi bagian belakang, ujung belakang konka inferior, medius dan
superior, adenoid (pada anak), ada tidak secret yang mengalir melalui meatus.
Perhatikan pula struktur lateral rongga nasofaring : ostium tuba, torus tubarius, fossa
Rossenmulleri.
Selama melakukan pemeriksaan pasien diminta tenang dan tetap bernapas melalui
hidung. Pada penderita yang sangat sensitif, dapat disemprotkan anestesi lokal ke
daerah faring sebelum dilakukan pemeriksaan.
2. Pemeriksaan Sinus Paranasalis
Inspeksi dilakukan dengan melihat ada tidaknya pembengkakan pada wajah.
Pembengkakan dan kemerahan pada pipi, kelopak mata bawah menunjukkan
kemungkinan adanya sinusitis maksilaris akut. Pembengkakan pada kelopak mata
atas kemungkinan sinusitis frontalis akut. Nyeri tekan pada pipi dan nyeri ketuk pada
gigi bagian atas menunjukkan adanya Sinusitis maksilaris. Nyeri tekan pada medial
atap orbita menunjukkan adanya Sinusitis frontalis. Nyeri tekan di daerah kantus
medius menunjukkan adanya kemungkinan sinusitis etmoidalis.

I. Irigasi serumen telinga (benda sing) dengan air dan H2O2 (peroxyde)
1. Persiapkan pos kerja untuk membersihkan telinga. Anda akan berbaring telentang
selama pembersihan telinga sehingga siapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan
dalam jangkauan Anda. Bentangkan handuk di lantai tempat kepala akan bersandar.
Kemudian, taruh semangkuk kecil hidrogen peroksida 3%, pipet medis, dan handuk
kecil tidak jauh dari Anda.
2. Berbaring telentang dengan kepala menoleh ke samping. Berbaringlah dengan kepala
menyandar pada handuk yang telah dibentangkan. Miringkan kepala ke samping
sehingga telinga yang akan dibersihkan menghadap ke atas.
3. Taruh handuk kecil di bahu. Sebelum memulai pembersihan, letakkan handuk kecil
di bahu sisi telinga yang akan dibersihkan. Handuk ini akan melindungi pakaian dari
noda dan menahan larutan yang digunakan untuk membersihkan telinga.
4. Teteskan 1-3 ml hidrogen peroksida 3% ke telinga. Ambil 1-3 ml larutan hidrogen
peroksida 3% dengan pipet, dan teteskan ke lorong telinga. Anda akan mendengar
suara desis, dan hal ini normal. Walaupun terasa agak geli, cobalah tetap relaks.
Biarkan larutan tetap menggenang di telinga selama 3-5 menit
5. Kuras larutan dari telinga ke handuk kecil. Ketika sudah berselang 3-5 menit, ambil
handuk kecil dan tahan hingga menutupi lubang telinga yang dibersihkan. Setelah
itu, duduklah dan miringkan kepala sehingga larutan dan lilin telinga berlebih keluar
(yang seharusnya terlihat jelas) menuju handuk. Keringkan bagian luar telinga
dengan handuk kalau diperlukan.

J. Prosedur pemberian obat pada lubang telinga


1. Cucilah tangan anda dengan air dan sabun.
2. Pastikan kondisi ujung botol atau pipet tetes tidak rusak.
3. Bersihkan telinga bagian luar dengan menggunakan air hangat atau kain lembab
dengan hati-hati, kemudian dikeringkan.
4. Hangatkan obat tetes telinga dengan memegang botolnya menggunakan tangan
selama beberapa menit. Kocok botol obat tetes.
5. Miringkan kepala sehingga telinga yang akan diberikan obat menghadap ke atas.
a. Untuk dewasa: tarik daun telinga ke atas dan ke belakang untuk meluruskan
saluran telinganya.
b. Untuk anak <3 tahun: tarik daun telinga ke bawah dan ke belakang untuk
meluruskan saluran telinganya.
6. Teteskan obat sesuai dengan dosis pemakaian pada lubang telinga. Pertahankan
posisi kepala 2-3 menit. Tekan secara lembut kulit penutup kecil telinga atau
gunakan kapas steril untuk menyumbat lubang telinga agar obat dapat mencapai
dasar saluran telinga.
7. Pasang kembali tutup botol tetes telinga dengan rapat, jangan menyeka atau
membilas ujung botol tetes.
8. Cucilah tangan anda dengan air dan sabun untuk membersihkan sisa obat yang
mungkin menempel.