Anda di halaman 1dari 18

AUDITING

PEMERIKSAAN KAS DAN SETARA KAS

OLEH KELOMPOK II:

1. VIRGINIA CINTYA NENDER (1703020170)


2. ADITYA BENYAMIN PRATAMA BELL (1703020134)
3. ESTY MELISA AMSEKE (1703020038)
4. KLARA YUNITARI CICILIA BOTLAKA (1703020182)
5. SANDRA ERNAWATI BENU (1703020141)
6. MARIA GABRIELA SUCITA LOHOS (1703020040)
7. GESTAS ABDON LAY (1703020161)
8. SINDY ARYANTI KALE BULE (1703020043)
9. ALEN BIN JINI HIBU (1703020138)

SEMESTER/KONSENTRASI:
VI/MANAJEMEN KEUANGAN

UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI BISNIS
2020
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan penyertaan-
Nya kami dapat menyusun makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya.

Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada dosen
pembimbing mata kuliah PEMERIKSAAN KEUANGAN (AUDITING) yang telah
memberikan kesempatan kepada kami sebagai mahasiswa untuk terus menambah dan
memperluas pengetahuan kami dan kepada pihak yang telah membantu kami dalam
pembuatan makalah ini.

Akhirnya kami menyadari bahwa baik isi maupun penyajian makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan, untuk itu kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran sebagai
kesempurnaan makalah ini, sehingga di kemudian hari makalah ini dapat bermanfaat bagi
semua mahasiswa ataupun masyarakat pembaca.

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................i

DAFTAR ISI......................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN:
1.1 Latar Belakang..............................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.........................................................................................................1
1.3 Tujuan...........................................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN:
2.1 Sifat Dam Contoh Kas Dan Setara Kas.........................................................................2
2.2 Tujuan Pemeriksaan (Audit Objectives) Kas Dan Setara Kas........................................4
2.3 Prosedur Pemeriksaan Kas Dan Setara Kas...................................................................6

BAB III PENUTUP:


KESIMPULAN......................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kehidupan sebuah entitas, baik entitas yang berorientasi pada laba (profit) maupun
non-laba (profit), tidak dapat dipisahkan dari kas. Di dalam suatu perusahaan, kas adalah
suatu elemen penting dalam aktivitas operasional, investasi, maupun pendanaan
perusahaan tersebut. Jika suatu perusahaan mengalami kesulitan likuiditas atau
ketersediaan kas, maka kehidupan perusahaan tersebut akan terganggu. Di samping itu,
kas adalah aset perusahaan yang paling mudah untuk diselewengkan dikarenakan
sifatnya yang sangat likuid dan bebas dipergunakan kapanpun untuk semua kegiatan
perusahaan.
Menurut L. Suparwoto (1990:70), untuk menghindari terjadinya berbagai macam
penyelewengan terhadap kas, maka diperlukan adanya sistem pengendalian
(pengawasan) yang cukup terhadap kas. Sistem pengendalian intern (SPI) yang baik akan
mengurangi potensi penyelewengan terhadap kas perusahaan. Contoh metode klasik
dalam penerapan SPI terhadap kas, yaitu penggunaan sistem voucher, pemisahan
tanggung jawab antara pencatat dan pemegang kas, dan pemberian cuti untuk
menghindari fraud.
Pemeriksaan pada kas dan setara kas menjadi salah fokus utama auditor dalam
tugasnya melakukan audit kepada perusahaan/entitas non-laba. Apabila auditor tidak
mendapatkan temuan-temuan yang janggal pada saat pemeriksaan kas dan setara kas dan
penilaian yang baik terhadap pengendalian internal kas perusahaan, auditor akan lebih
mudah untuk melanjutkan pemeriksaan pada elemen neraca perusahaan yang lainnya.
Sebaliknya, jika auditor menilai bahwa pengendalian internal terhadap kas perusahaan
tidak berjalan dengan baik, auditor akan melakukan uji substantif secara intensif terhadap
kas perusahaan.
Pemaparan singkat di atas melatarbelakangi tim penyusun untuk menyusun makalah
berjudul “Pemeriksaan Kas dan Setara Kas”. Judul tersebut diambil dari judul pada bab 2
(Dua) materi mata kuliah Pemeriksaan Akuntansi (Auditing).

2.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja sifat dan contoh kas dan setara kas?
2. Apa saja tujuan pemeriksaan kas (audit objective) kas dan setara kas?
3. Bagaimana prosedur pemeriksaan kas dan setara kas?

2.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui sifat dan contoh kas dan setara kas
2. Untuk mengetahui tujuan pemeriksaan kas (audit objective) kas dan setara kas
3. Untuk mengetahui prosedur pemeriksaan kas dan setara kas

           

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 SIFAT DAN CONTOH KAS DAN SETARA KAS

Kas merupakan harta lancar perusahaan yang sangat menarik dan mudah untuk
diselewengkan. Selain itu banyak transaksi perusahaan yang menyangkut penerimaan
dan pengeluaran kas. Karena itu, untuk memperkecil kemungkinan terjadinya
kecurangan atau penyelewengan yang menyangkut uang kas perusahaan, diperlukan
adanya pengendalian intern yang baik atas kas dan setara kas.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan tahun 1994 :

a) Yang dimaksud dengan kas ialah alat pembayaran yang siap dan bebas
dipergunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan.
b) Yang dimaksud dengan bank adalah sisa rekening giro perusahaan yang dapat
dipergunakan secara bebas untuk membiaya kegiatan umum perusahaan.

Contoh dari perkiraan-peerkiraan yang biasa digolongkan sebagai kas dan setara kas
adalah :

0 Kas kecil (Petty Cash) dalam rupiah maupun mata uang asing.
0 Saldo rekening giro di Bank dalam rupiah maupun mata uang asing.
0 Bon sementara (I O U)
0 Bon-bon kas kecil yang belum direimbursed.
0 Check tunai yang akan didepositkan.

Yang tidak dapat digolongkan sebagai bagian dari kas dan setara kas pada neraca
adalah :

0 Deposit berjangka (time deposit)


0 Check mundur dan check kosong.
0 Dana yang disisihkan untuk tujuan tertentu (sinking fund)
0 Rekening giro yang tidak dapat segera digunakan baik di dalam maupun di
luar negeri, misalnya karena dibekukan.

Menurut PSAK No.2, hal 2.2 dan 2.3 (IAI:2002)

 Kas terdiri atas: saldo kas (cash on hand) dan rekening giro.
 Setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka
pendek dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah tertentu tanpa
menghadapi risiko perubahan nilai yang singnifikan.

Setara kas dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk
investai atau tujuan lain. Untuk memenuhi persyaratan setara kas, investasi harus segera
dapat diubah menjadi kas dalam jumlah yang telah diketahui tanpa menghadapi risiko
perubahan nilai yang signifikan. Karenanya, suatu investasi baru dapat memenuhi syarat

2
sebagai setara kas hanya jika segera akan jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang
dari tanggal perolehannya. Investasi dalam bentuk saham tidak termaksud setara kas,
sebagai contoh saham preferen yang dibeli dan akan jatuh tempo serta tanggal penebusan
telah ditentukan. Cerukan (bank overdraft) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
pengelolaan kas perusahaan. Dalam keadaan tersebut, cerukan termaksud komponenkas
dan setara kas.

Menurut SAK ETAP (IAI,2009:28)

Setara kas adalah investasi jangka pendek dan sangat likuid yang dimiliki untuk
memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk tujuan investasi atau lainnya. Oleh
karena itu, investasi umumnya diklasifikasikan sebagai setara kas hanya jika akan segera
jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang sejak tanggal perolehan. Cerukan bank
pada umumnya termaksud aktivitas pendanaan sejenis dengan pinjaman. Namu, jika
cerukan bank dapat ditarik sewaktu-waktu dan merupakan bagian yang tak terpisahkan
dari pengelolaan kas entitas, maka cerukan tersebut termaksud komponen kas dan setara
kas.

2.2 TUJUAN PEMERIKSAAN (AUDITOBJECTIVE) KAS DAN SETARA KAS

Tujuan pemeriksaan kas dan setara kas yaitu :


1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas kas dan setara
kas serta transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dan bank.
Jika akuntan publik (auditor) dapat meyakinkan dirinya bahwa internal control
atas kas dan setara kas serta transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dan bank
efektif maka luasnya pemeriksaan dalam melakukan substantiv test bisa dipersempit.
Beberapa ciri internal control yang baik atas kas dan setara kas serta transaksi
penerimaan dan pengeluaran kas dan bank adalah :
a) Adanya pemisahan tugas dan tanggung jawab antara yang menerima dan
mengeluarkan kas dengan yang melakukan pencatatan, memberikan otoritas
atas pengeluaran dan penerimaan kas dan bank.
b) Pegawai yang membuat rekonsiliasi bank harus lain dari pegawai yang
mengerjakan buku bank. Rekonsiliasi bank dibuat setiap bulan dan harus
ditelaah oleh kepala Bagian Akuntansi.
c) Digunakannya imprest fund system untuk mengelola kas kecil.
d) Penerimaan kas, chek dan giro, harus disetor ke bank dalam jumlah seutuhnya
paling lambat keesokan harinya.

3
e) Uang kas harus disimpan ditepat yang aman, misalnya si cash box, brankas
atau di bank.
f) Uang kas harus dikelola dengan baik, dalam arti jangan dibiarkan menganggur
atau terlalu banyak disimpan di rekening giro, karena tidak memberikan hasil
yang optimal.
g) Blanko chek dan giro harus disimpan ditempat yang aman supaya tidak salah
digunakan, selain itu harus dihindari penandatanganan chek dalam bentuk
blanko.
h) Sebaiknya chek dan giro ditulis atas nama dan chek/giro ditandatangani oleh
dua orang untuk menghindari penyalahgunaan.
i) Sebaiknya kasir diasuransikan atau diminta menyerahkan uang jaminan, untuk
back up seandainya terjadi kehilangan uang atau kecurangaan yang dilakukan
oleh kasir.
j) Digunakan kwitansi yang bernomor urut tercetak (prenumbered)
k) Bukti-bukti pendukung dari pengeluaran kas yang sudah di bayar harus
distempel lunas, untuk menghindari kemungkinan proses pembayaran dua kali
(double payment).
2. Untuk memeriksa apakah saldo kas dan setara kas yang ada di neraca pertanggal
neraca betul-betul ada dan dimiliki perusahaan. Maksudnya auditor harus meyakinkan
dirinya bahwa kas dan serata kas yang dimiliki perusahaan betul-betul ada dan
dimiliki perusahaan dan bukan milik pribadi direksi atau pemegang saham. Karena itu
auditor harus melakukan kas opname dan mengirim konfirmasi bank.
3. Untuk memeriksa apakah ada pembatasan untuk penggunaan saldo kas dan setara kas
Jika perusahaan menyisihkan sebagian dana yang dimiliki untuk keperluan pelunasan
obligasi serta bunganya maka dana tersebut tidak dapat dilaporkan sebagai bagian dari
kas di harta lancar. Begitu juga jika ada saldo rekening giro yang dibekukan karena
perusahaan tersangkut suatu masalah hukum, maka saldo tersebut tidak boleh
dilaporkan sebagai bagian dari kas di harta lancar. Hal tersebut harus dijelaskan dalam
catatn atas laporan keuangan.
4. Untuk memerik, saseandainya ada saldo kas dan setara kas dalam valuta asing, apakah
saldo tersebut dikonversikan ke dalam rupiah dengan menggunakan kurs tengah BI
pada tanggal neraca dan apakah selisi kurs yang terjadi sudah dibebankan atau
dikreditkan ke laba rugi komprehensif tahun berjalan.

4
Misalkan per 31 Desember 2010 perusahaan mempunyai saldo bank sebesar US $10
ribu yang dibuku besar dicatat dalam rupiah sebesar Rp.100.000.000,-
Misalkan kurs BI per 31 Desember 2010 : kurs jual ! US $9.600,- dan kusr beli 1 US
$= Rp. 9.400,-
Maka saldo US $10.000 tersebut harus dikonversikan ke dalam rupiah dengan
menggunakan kurs 1 Us $=9.500,-. Karena itu harus dibuat Adjusment :
Dr. Rugi selisih kurs Rp.5.000.000,-
Cr. Bank Rp. 5.000.000,-
Untuk mengoreksi selisih kurs dari saldo bank dalam US $ per tanggal neraca.
5. Untuk memeriksa apakah penyajian di neraca sesuia dengan standar akuntansi
keuangan di Indonesia (SAK/ETAP/IFRS) (Presentation dan Disclosure)
Menurut SAK :
0 Kas dan setara kas disajikan di neraca sebagai harta lancar (current asset)
0 Kas dan setara kas yang penggunaannya dibatasi dapat dimasukan dalam aset
lancar hanya jika pembatasan tersebut dilakukan untuk menyisihkan dana
untuk melunasi kewajiban jangka pendek atau jika pembatasan tersebut hanya
berlaku selama satu tahun.
0 Saldo kredit pada perkiraan bank disajikan pada kelompok kewajibansebagai
kewajiban jangka pendek.
0 Saldo kredit dan debit rekening giro pada bank yang sama dapat digabungkan
dan disajikan pada neraca sebagai satu kesatuan.

2.3 PROSEDUR PEMERIKSAAN KAS DAN SETARA KAS

1. Pahami dan evaluasi internal control atas kas dan setara kas serta transaksi penerimaan dan
pengeluaran kas dan bank.
2. Buat Top Schedule kas dan setara kas per tanggal neraca (misal per 31-12-2010), atau kalau
belum selesai, boleh per 31-10-2010 atau 30-11-2010; penambahan mutasi akan diperiksa
kemudian, apakah ada hal-hal yang unsual (diluar kebiasaan) atau tidak.
3. Lakukan Cash count (perhitungan fisik uang kas) per tanggal neraca, bisa juga sebelum atau
sesudah tanggal neraca.
4. Kirim konfirmasi atau dapatkan pernyataan saldo dari kasir dalam hal tidak dilakukan kas
opname.
5. Kirim konfirmasi untuk seluruh rekening bank yang dimiliki perusahaan.

5
6. Minta rekonsiliasi bank per tanggal neraca (misalkan per 31-12-2010), kalau terpaksa, karena
belum selesai yang Desember, dapat diminta per 31-11-2010.
7. Lakukan pemeriksaan atas rekonsiliasi bank tersebut.
8. Review jawaban konfirmasi dari bank, notulen rapat dan perjanjian kredit untuk mengetahui
apakah ada pembatasan dari rekening bank yang dimiliki perusahaan.
9. Periksa inter bank transfer ± 1 minggu sebelum dan sesudah tanggal neraca, untuk
mengetahui adanya kitting dengan tujuan untuk window dressing.
10. Periksa transaksi kas sesudah tanggal neraca (subsequent payment dan subsequent collection)
sampai mendekati tanggal selesainya pemeriksaan lapangan.
11. Seandainya ada saldo kas dan setara kas dalam mata uang asing per tanggal neraca, periksa
apakah saldo tersebut sudah dikonversikan ke dalam rupiah dalam menggunakan kurs tengah
BI pada tanggal neraca dan apakah selisig kurs yang terjadi sudah dibebankan atau
dikreditkan pada laba rugi tahun berjalan.
12. Periksa apakah penyajian kas dan setara kas di neraca dan catatan atau laporan keuangan,
sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia (SAK/ETAP/IFRS).
13. Buat kesimpulan di Top Schedule kas dan setara kas atau di memo tersendiri mengenai
kewajaran dari cash on hand dan in bank, setelah kita menjalankan seluruh prosedur audit di
atas.

Penjelasan Prosedur Pemeriksaan Kas dan Setara Kas


1. Pahami dan evaluasi internal control atas kas dan setara kas serta transaksi
penerimaan dan pengeluaran kas dan bank.
Proses memahami dan mengevaluasi internal control atas kas dan setara kas serta
transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dan bank merupakan bagian yang sangat penting
dalam suatu proses pemeriksaan akuntan. Kas dan setara kas dalam perusahaan sering
dikatakan sebagai dari darah dalam tubuh manusia.
Jika perusahaan mengalami kesulitan uang, sama seperti manusia yang “lesu darah” atau
“kekurangan darah”.
Selain itu hampir semua transaksi perusahaan menyangkut kas dan setara kas.
Hasil evaluasi internal control atas kas dan bank serta transaksi penerimaan dan
pengeluaran kas dan bank berupa kesimpulan apakah inernal control tersebut berkalan
efektif atau tidak. Jika auditor menyimpulkan bahwa internal control efektif, berarti luasnya
pengujian atas kewajaran saldo kas dan setara kas per tanggal neraca bisa dipersempit, karena
kemungkinan terjadinya kesalahan adalah kecil dan jika kesalahan terjadi akan bisa segera
ditemukan oleh pihak perusahaan. untuk memahami internal control yang terdapat di
perusahaan, auditor bisa melakukan tanya jawab dengan klien dengan menggunakan internal
control questionnaires. Kemudian hasil tanya jawab digambarkan lebih lanjut dalam

6
flowchart, dan (jika dianggap perlu) dalam bentuk cerita (narrative). Berdasarkan jawaban
ICQ, flowchart dan penjelasan narrative (jika ada), auditor bisa mengevaluasi internal
control yang ada secara teoritis dan menarik kesimpulan sementara apakah internal control
atau kas dan setara kas serta penerimaan dan pengeluaran kas/bank baik, sedang atau lemah.
Jika disimpulkan sementara bahwa internal control baik atau sedang, auditor harus
melakukan tes ketaatan atas transaksi penerimaan dan pengeluaran kas/bank, untuk
membuktikan apakah internal control berjalan efektif atau tidak.
Yang diambil sebagai sampel biasanya bukti penerimaan kas/bank dan bukti
pengeluaran kas/bank atau nomor check/giro. Jika disimpulkan sementara bahwa internal
control lemah, auditor tidak perlu mengadakan tes ketaatan, tetapi langsung melakukan
substantive test yang diperluas. Karena biasanya jika tetap dilakukan compliance test,
kesimpulan akhir tetap menyatakan bahwa internal control lemah.
Setelah compliance test selesai dilakukan, auditor harus menarik kesimpulan akhir
apakah internal control, baik, sedang, atau lemah. Setelah itu baru dilakukan substantive test
atas saldo kas/bank.
Prosedur audit untuk compliance test harus dipisahkan dari prosedur audit untuk
substantive test, begitu juga kertas kerja pemeriksaannya.
Contoh internal control questionnaires untuk penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas
bisa dilihat dari Exhibit 9-1A dan 9-1B.
Hasil tanya jawab dengan klien mengenai prosedur penerimaan kas dan setara kas
didokumentasikan oleh auditor dalam bentuk narrative, yang contohnya bisa dilihat berikut
ini, dan dalam bentuk flowchart yang bisa dilihat di Exhibit 9-2.
Garis besar sistem dan prosedur penerimaan dan pengeluaran kas/bank pada PT RENIKU
adalah sebagai berikut:

No. Uraian Dilakukan Oleh


1. Memeriksa faktur-faktur yang jatuh tempo untuk ditagih. Bagian Keuangan
2. Membuat daftar penagihan dalam rangkap dua. Bagian Keuangan
3. Memeriksa daftar penagihan dan faktur yang disiapkan untuk Manajer Keuangan
ditagih, kemudian menyerahkan kepada kasir.
4. Membuat kwitansi dalam rangkap tiga, yang kemudian disetujui dan Kasir
ditandatangani oleh manajer keuangan, di mana lembar pertama dan
kedua diserahkan ke penagih, sedangkan lembar ketiga untuk arsip.
Menyerahkan faktur, daftar penagihan kwitansi ke penagihan.
5. Melakukan penagihan ke pelanggan dan meminta pelanggan yang Kasir
6. sudah membayar untuk menandatangani kwitansi. Penagih
Menerima uang/cek/giro dan kwitansi lembar kedua yang sudah
7. ditandatangani. Penagih
Mengisi daftar penagihan dalam rangkap dua tentang jumlah yang
8. dapat ditagih. Penagih
Menyerahkan kwitansi lembar kedua, uang/cek/giro beserta daftar

7
9. penagihan yang sudah diisi kepada kasir, di mana daftar penagihan Penagih
lembar pertama untuk bagian akuntansi dan lembar kedua untuk
arsip kasir.
Membuat voucher penerimaan dalam rangkap dua dan menyerahkan
10. cek/giro yangn diterima bersama voucher penerimaan kepada Kasir
manajer keuangan.
Menandatangani voucher penerimaan dan menyimpan cek/giro yang
11. diterima untuk disetor ke bank pada saat jatuh tempo. Manajer Keuangan
Menyerahkan voucher penerimaan yang sudah ditandatangani
12. kepada kasir, di mana lembar pertama untuk bagian akuntansi dan Manajer Keuangan
lembar kedua untuk arsip kasir.
Membuat bukti penerimaan kas dalam rangkap dua, di mana lembar
13. pertama untuk bagian akuntansi dan lembar kedua untuk arsip kasir. Kasir
Membuat laporan kas harian dalam rangkap dua, yang akan diperiksa
dan ditandatangani oleh manajer keuangan. Lembar pertama untuk
14. bagian akuntansi dan lembar kedua untuk arsip kasir. Kasir
Menyerahkan kwitansi lembar kedua, daftar penagihan lembar
pertama, voucher penerimaan, bukti penerimaan kas dan laporan kas
harian lembar pertama kepada bagian akuntansi.
15. Mencocokkan kwitansi, daftar penagihan, voucher penerimaan. Kasir
Bukti penerimaan kas, laporan kas, laporan kas harian dan faktur,
kemudian mencatatnya dalam buku jurnal penerimaan kas yang
16. secara periodik diposting ke masing-masing buku besar dan juga Bagian Akuntansi
dicatat ke kartu piutang.

Bentuk narrative dari prosedur pengeluaran kas dan bank bisa dilihat di Exhibit 5-5.
Berdasarkan penjelasan narrative, flowchart dan jawaban internal control
questionnaires atas sistem dan prosedur penerimaan dan pengeluaran kas/bank pada PT
RENIKU, misalnya ditarik kesimpulan sementara bahwa pengendalian intern atas penerimaan
dan pengeluaran kas/bank cukup baik dan tidak diindentifikasikan suatu risiko kesalahan yang
material.
Langkah berikutnya, auditor harus melakukan compliance test (pengujian ketaatan), namun
sebelumnya perlu disusun audit program untuk pengujian ketaatan atas transaksi penerimaan dan
pengeluaran kas/bank sebagai berikut.

Penerimaan Kas/Bank
1. Ambil sampel bukti penerimaan kas/bank secara random: semua penerimaan kas yang
berjumlah ≥ Rp 10 juta ditambah 10 penerimaan kas/bank yang berjumlah < Rp 10 juta.
2. Periksa apakah bukti penerimaan kas tersebut:
o Sudah diotorisasi pejabat perusahaan yang berwenang.
o Lengkap bukti pendukungnya (misalnya kwitansi bernomor urut tercetak, deposit
slip).

8
o Mencantumkan nomor perkiraan yang dikredit dengan benar dan perhitungan
mathematisnya sudah benar.
3. Periksa apakah posting ke buku besar kas (untuk penjualan tunai) dan piutang (untuk
pelunasan piutang) serta buku besar penjualan sudah dilakukan dengan benar. Begitu juga
posting ke sub buku besar piutang.
4. Tarik kasimpulan mengenai hasil compliance test.

Pengeluaran Kas/Bank
1. Ambil sampel bukti pengeluaran kas/bank secara random: semua pengeluaran kas yang
berjumlah ≥ Rp 5 juta ditambah 10 pengeluaran kas/bank yang berjumlah < Rp 5 juta.
2. Periksa apakah bukti pengeluaran kas tersebut:
o Sudah diotorisasi pejabat perusahaan yang berwenang.
o Lengkap bukti pendukungnya (misal PR, PO, Supplier Invoice, RR, kwitansi dari
supplier dan lain-lain).
o Mencantumkan nomor perkiraan yang didebit dengan benar.
o Perhitungan mathematisnya sudah benar.
3. Periksa apakah posting ke buku besar dan sub buku besar (misalnya utang) sudah dilakukan
dengan benar.
4. Terik kesimpulan mengenai hasil compliance test.

2. Buat Top Schedule kas dan setara kas per tanggal neraca.
Contoh Top Schedule Kas dan Setara Kas bisa dilihat di Exhibit 9-4
3. Lakukan cash account
Jika klien menggunakan imprest fud sistem untuk khas kecilnya, cash count
bisa dilakukan kapan saja karena khas selalu tetap. Tetai jika digunakan
fluctualtingfund sistem maka cash account sebaiknya dilakukan tidak jauh dari
tanggal neraca agar tidak mengalami kesulitan sewaktu melakukan perhitungan maju
atau mundur ke tanggal neraca (saldo khas pertanggal cash count ditambah atau
dikurangi dengan penerimaan atau/dan pengeluaran sebelum atau sesudah tanggal
neraca). Contoh Berita Acara Kas Opname, yang harus dibuat watu pelaksanaan khas
opname, bisa di lihat di exibhit 9-6.

Perbedaan journal entry antara imperest fund sistem dan fluctualting fund sistem
dalam pengelolaan khaas kecil adalah sebagai berikut.

Imprest Fund Fluctuating fund

a) Pengadaan petty cash


Dr. Petty Cash xx Dr. petty cash xx
CR. Cash in bank xx CR. Cash in bank xx

9
b) Penyaluran khas kecil untuk membayar biaya rutin
No.entry DR. biaya telpon xx
DR. biaya transportasi xx
CR. Petty cash xx
c) Penerimaan uang dari hasil penjualan tunai
No. entry Dr. Petty cash xx
Cr. Sales xx
d) Pengisian kembali pretty cash dengan membuka cek
Dr. biaya – biaya xx Dr. petty cash xx
Cr. Cash in bank xx Cr. Cash in bank xx

4. Kirim konfirmasi atau dapatkan pernyataan saldo dari kasir dalam hal tidak
dilakukan kas opname.
Untuk kas yang berada di cabang yang jauh dan saldonya tidak besar (misalnya di
Irian Jaya dengan saldo Rp. 1.000.000) tidak perlu auditor secara khusus mengunjungi
cabang tersebut untuk melakukan kas opname, karena tidak berimbang cost dan
benefit-nya sehingga cukup dikirim surat konfirmasi atau diminta pernyataan saldo
dari kasir.

5. Kirim konfirmasi untuk seluruh rekening bank yang dimiliki perusahaan.


Surat konfirmasi tersebut harus ditandatangani oleh pejabat perusahaan yang nama
dan contoh tandatangannya tercantum di ‘’signature card’’ bank perusahaan
(authorized signature). Konfirmasi tersebut bisa mencantumkan nomor rekening bank
perusahaan tetapi akan lebih baik jika nomor rekening tersebut tidak di cantumkan.

Surat konfirmasi harus tetap dikirim walaupun perusahaan sudah menerima rekening
kran dari bank karena:

 Hal tersebut merupakan standart audit procedures untuk mendapatkan


bahan bukti audit (audit evidence)

 Yang ditanyakan dalam surat konfirmasi bukan hanya saldo bank tetapi
banyak hal lainnya, seperti: jumlah kredit, pendiskontoan wesel tagih,
contigent liability dan lain-lain

 Jawaban konfirmasi diminta untuk dikirim langsung ke auditor, sedangkan


rekening Koran selalu dikirim ke klien
6&7 Minta rekonsiliasi bank dan lakukan pemeriksaan atas renkonsiliasi bank
tersebut.
Rekonsiliasi bank harus dibuat oleh klien dan tugas auditor adalah memerikasa
kebenaran rekonsiliasi tersebut, serta mengusulkan audit adjustment jika ditemukan
suatu kesalahan.

10
Proserdur audit yang biasa dilakukan adalah:

 Cocokan saldo menurut rekening Koran bank dengan rekening Koran bank
yang bersangkutan dan jawaban konfirmasi bank

 Perikasa footing dan cross footing

 Cocokan saldo menurut pembukuan dengan saldo buku kas atau bank dan
buku besar kas atau bank

 Periksa outstanding check dan outstanding deposit ke rekening Koran bulan


berikutnya, perhatikan apakah ada check yang outstanding lebih dari 70 hari
dibuatkan jurnal koreksi

 Periksa biaya arminitrasi bank dan jasa giro ke rekening Koran dan nota debit
atau kredit dari bank
8. Riview jawaban konfirmasi dari bank, notulen rapat dan perjanjian kredit untuk
mengetahui apakah ada pembatasan dari rekening bank yang dimiliki perusahan.
Saldo rekening bank yang penggunaanya dibatasi untuk jangka waktu > 1 tahun tidak
boleh dikelompokan sebagai harta lancar dan harus dijelaskan dicatatan atas laporan
keuangan mengenai alasan pembatasan tersebut. Pembatasan tersebut bisa terjadi
karena perusahaan mempunyai masalah hukum sehingga rekeningnya dibekukan atau
karena dijadikan jaminan, bank garansi (sebagian dari saldonya).
Untuk mengetahui apakah ada pembatasan atau tidak, auditor bisa menanyakan
kepada klien, me-riview jawaban konfirmasi bank, notulen rapat dan perjanjian kredit.

Kemungkinan juga ada saldo kas atau bank yang merupakan ‘'sinking fund’’ sehingga
tidak boleh digunakan untuk membiayai kegiatan rutin perusahan, karena dana itu
akan digunakan untuk pelunasan obligasi atau ekspansi perusahaan.

9. Periksa interbank tranver ± 1 minggu sebelum dan sesudah tanggal neraca, untuk
mengetahui adanya kitting dengan tujuan window dreesing. Check kitting bisa
dilakukan jika perusahaan mempunyai lebih dari satu rekening bank. Misalnya PT A
mempunyai rekening di bank BNI cabang ptojo Jakarta, dan dibank manado ambon.
Misalnya tanggal 29 desember di transver dari bank mandiri ambon sebesar Rp.
50.000.000, ke bank petojo jumlah sebesar Rp. 50.000.000 sudah dicatat sebagai
penambahan saldo di rekening bank BNI petojo, tetapi belum dikurangi dari saldo
bank mandiri ambon. Akibatnya saldo kas atau bank dineraca akan terlihat lebih besar
Rp. 50.000.000, sehingga current ratio PT A akan terlihat lebih baik, (terjadi window
dressing melaporkan sesuatu lebih baik dari keadaan yang sebenarnya). Untuk
mengetahui ada tidaknya check kitting, auditor harus menerima transfer dari rekening
bank perusahaan ke rekening bank perusahaan yang lainnya yang mencocokkan
apakah penambahan saldo di rekening bank yang berasal dari transfer sudah diikuti
dengan pengurangan saldo di rekening bank lainnya. Karena biasanya check kitting

11
dilakukan mendekati tanggal neraca maka periode yang harus diperiksa ± 1 minggu
sebelum dan sesudah tanggal neraca.
10. Periksa transaksi kas sesudah tanggal neraca (subsequent payment dan subsequent
collection) sampai mendekati tanggal selesainya pemeriksaan lapangan. Tujuannya
adalah untuk mengetahui apakah ada unrecorded liabilities (kewajiban yang belum
tercatat) per tanggal neraca yang baru dibayar di periode berikutnya, baik yang
berasal dari pemebelian asset ataupun biaya – biaya perusahaan. Misalnya di januari
2011 ditemukan adanya pembayaran ke penasihat hukum perusahaan untuk konsultasi
bulan desember 2010 yang belum diaccrued per 31 desember 2010.
Tujuan lain untuk mengetahui apakah utang per tanggal neraca sudah dilunasi di
periode berikutnya, sehingga auditor lebih yakin mengenai kewajaran saldo utang per
tanggal neraca. Untuk subsequent collection tujuannya terutama untuk meyakinkan
auditor mengenai kewajaran angka piutang per tanggal neraca. Mungkin saja ada
penjualaan, misalnya desember 2010, yang dilunasi januari 2011 dan belum tercatat
oleh perusahaan.

11. Seandainya ada saldo kas dan setara kas dalam mata uang asing per tanggal neraca,
periksa apakah saldo tersebut sudah dikonversikan ke dalam rupiah dengan
menggunakan kurs tengah BI pada tanggal neraca, dan apakah selisih kurs yang
terjadi sudah dibebankan atau di kreditkan pada laba rugi tahun berjalan. Kurs tengah
BI adalah rata – rata kurs beli dan kurs jual di bank Indonesia yang bisa dilihat di
surat kabar atau business news. Misalnya per tanggal 31 desember 2010 perusahaan
mempunyai piutang ke X12 corporation di hongkong sebesar US 10.000.000 yang
tercatat dibuku perusahaan sebesar Rp. 100.000.000.Per 31 Desember 2010 kurs
tengah BI adalah Rp. 10.080 per 1 US, untuk itu harus dibuat adjustment sebagai
berikut:
Dr. piutang Rp.800.000

Cr.rugi/laba selisih kurs Rp. 800.000

Menurut SAK ETAP (IAI;2009:153);

Entitas harus mencatat transaksi mata uang asing, pada pengakuan awal dalam
mata uang fungsional, dengan menggunakan kurs tunai (spot rate) pada tanggal
transaksi antara mata uang fungsional dan mata uang asing tersebut.

Tangga transaksi adalah tanggal dimana transaksi pertama kali memenuhi


syarat pengakuan sesuai dengan SAK ETAP. Untuk tujuan praktis, kurs yang
mendekati kurs sebenarnya pada tanggal transaksi sering digunakan, misalnya kurs
rata – rata selama seminggu atau sebulan mungkin dapat digunakan untuk seluruh
transaksi dalam mata uang asing yang terjadi selama periode tersebut. Namun
demikian, jika kurs tukar berfluktuasi secara signifikan, penggunaan kurs rata – rata
untuk periode tersebut tidak tepat.

12
12. Periksa apakah penyajian kas dan setara kas dineraca dan catatan atas laporan
keuangan, sesuai dengan standart akuntasi keuangan di Indonesia (SAK/ETAP/IFRS).
Penyajian dineraca:

Pada umunya kas dan setara kas merupakan harta lancar, saldo deposito berjangka
tidak boleh dilaporkan sebagai dari kas dan bank, jika ada saldo bank bersaldo kredit
dengan jumlah yang material, harus direklasifikasi sebagai utang jangka pendek.

13
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Kesimpulan

Kas dan setra kas merupakan asset strategis sebuah perusahaan dalam menjalankan
bisnisnya. Pemeriksaan terhadap kas dan setara kas menjadi penilaian penting bagi auditor
dalam meyakinkan diri untuk member opini terhadap laporan keuangan perusaahn yang
diperiksa. Pengelolaan kas dan setara kas tidak dapat dipisahkan dari struktur pengendalian
internal (SPI) yang baik. Semakin baik SPI terhadap kas dan setara kas maka semakin
memudahkan auditor dalam pemeiksaan, sehingga kewajaean kas dan setara kas menjadi
hasil yang memuaskan bbagi perusahaan.

Hal ini berarti pemeriksaan kas dan setara kas tidak hanya terkait dengan
penggambara atas laporan keuangan berdasrkan transaksi suatu entitas yaitu kas keluar
maupun kas masuk. Namun dapa menggambaran keadaan internal suatu entitas berdasrkan
tingkat pengendalian interna daam menekan tingkat kekliruan atas laporan keuangan terhadap
kas dan setara kas baik sengaja mapun tidak sengaja.

14
DAFTAR PUSTAKA

Agoes,Sukrisno.2014, Auditing Edisi 4 Buku 1. Salemba Empat

15

Beri Nilai