Anda di halaman 1dari 10

PengelolaanAsuhanKeperawatan pada kasus HIV/AIDS dan

Penyalahgunaan NAPZA

DisusununtukmemenuhisalahsatutugasMataKuliahKeperawatan HIV/AIDS dengan Dosen


Pembimbing Ibu Monica Saptiningsih,MKep.,Ns.,sp.KMB

Disusun Oleh :
Fransisca Aditia Putri 30120118014
Heni Lestari 30120118018
Indah Permata Sari Simajuntak 30120118019
Lassita Delis Tampe 30120118025
Lidwina Santi Setiawati 30120118027
Mercy Maria Nurhayati Siburian 30120118031

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTO BORROMEUS
Jalan ParahyanganKav. 8 B/1, Kota BaruParahyangan
PADALARANG
2020
1.Apabila anda sebagai sejawat tersebut di ruangan, apa yang harus anda lakukan
untuk menangani perawat B?
A. Pencegahan
1. Pisahkan jarum dan spuit pada tempat yang berbeda.
2. Saat membuang jarum, jangan gunakan tangan langsung, untuk mencegahtertusuk,
gunakanlah sarung tangan yang tebal.
3. Gunakan bengkok untuk menaruh jarum bekas in#us setelah pemasangan infus
4. Kehati-hatian dan konsentrasi sangat diperlukan dalam bekerja, sehingga resikocedera
dapat dicegah

B. Pertolongan Pertama
1. Segera cuci tangan dengan alcohol 70% serta betadin.
2. Cuci luka dibawah air yang mengalir selama 3 menit.
3. Biarkan darah keluar bersama air yang mengalir (agar virus & kuman ikut keluar
bersama darah)
4. Tenang dan jangan panik.
5. Jika tertusuk jarum suntik bekas pasien hepatitis B, maka segera lakukan imunisasi
pasien (suntikan imunoglobulin hepatitis B) maksimal 7 hari setelah tertusuk jarum
suntik. Sedangkan untuk HIV positif resiko pajanan darah 0,3%

C. Pelaporan Insiden Kecelakaan Kerja


1. Setiap petugas yang mengalami inseden atau kecelakaan kerja karena tertusuk jarum
setelah tindakan pada pasien atau tertusuk jarum bekas, jarum in#use, pisaubedah dan
benda tajam lainnya yang berhubungan dengan pasien segera di bawake unit gawat
darurat untuk diberi pertolongan pertama.
2. Setelah mendapat pertolongan dari UGD, petugas UGD memilah apakah korbanperlu
dirujuk ke poli teratai atau tidak :
a. Bila korban tertusuk jarum pasien pederita HIV AIDS maka korban perlu dirujuk
kepoli teratai.
b. Bila korban tertusuk jarum dengan pasien hepatitis atau penyakit infeksi lain,
maka petugas yang mengalami kecelakaan kerja cukup diberi pertolongan di UGD
untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan lanjutan di poli pegawai.
c. Setelah mendapatkan pertolongan, petugas atau rekan korban melaporkan
kejadian kecelakaan kerja tetapi langsung pada atasan.

d. Atasan korban segera membuat laporan insiden atau kecelakaan kerja dengan
formulir laporan insiden pada jam kerja ditanda tangani pelapor dan diketahui
olehatasan langsung.
e. Atasan langsung akan memeriksa laporan dan melakukan investigasi
sederhanapenyebab terjadinya kecelakaan.
f. Setelah selesai melakukan investigasi, laporan hasil investigasi dan laopraninsiden
dilaporkan ke ketua komite mutu K3RS dalam waktu 2x24 jam setelahterjadinya
insiden tau kecelakaan kerja.
g. Komite mutu K3RS akan menganalisa kembali hasil investigasi dan
laporaninsiden untuk menentukan apakah perlu dilakukan investigasi lanjutan.
h. Hasil investigasi lanjutan, rekomnedasi dan rencana kerja dilaporkan ke direksi.
i. Rekomendasi untuk perbaikan dan pembelajaran diberikan umpan balik kepada
unit kerja terkait.
j. Unit kerja membuat analisa dan trend kejadian insiden atau kecelakaan kerja
diunit kerjanya masing-masing setiap 1 bulan 1 kali.

2. Hal apa saja yang harus di lakukan sehubungan dengan tertusuk jarum suntik dari
pasien :
A. Kita sebagai teman sejawatnya harus segera memberi pertolongan pertama kepada teman
kita dan memberikan penjelasan yang tepat bahwa tertusuk jarum tidak akan langsung
membuat teman kita tertular penyakit apabila segera diberikan pertolongan
pertama,diantaranya :

1. Segera cuci tangan dengan alkohol 70% serta betadin

2. Guyur luka dibawah air mengalir selama 3 menit

3. biarkan darah keluar bersama air yang mengalir (agar virus / kuman ikut keluar bersama
darah)

4. Tenang dan jangan panik

B. Meminta bantuan medis

1. Segera minta bantuan medis. Perlu menjelaskan keadaan luka dan mendiskusikan


kemungkinan tertular penyakit. Darah akan diperiksa untuk menentukan apakah memerlukan
perawatan lebih lanjut.

2. Pastikan apakah ada kemungkinan terjadinya penularan HIV. Bahwa serokonversi HIV


yang disebabkan oleh luka tusuk jarum berkisar sekitar 0,03%.Persentase terjadinya sangat
rendah, jadi tidak perlu panik.

 Status HIV pekerja medis yang terkena luka tusuk jarum serta orang yang darahnya
ditransfer akan dicek diRumah sakit dan fasilitas medis lainnya menyediakan
serangkaian tes yang dapat segera dilakukan untuk mengkonfirmasi status HIV.
 Jika ada kemungkinan terjadinya penularan, pengobatan profilaksis
(dikenaldengan post-exposure prophylaxis, PEP, atau profilaksi spasca pajanan) harus
diberikan, lebih baik dalam waktu sejam setelah luka. Obat antiretroviral dapa
tmengurangi kemungkinan terjadinya transmisi jika diberikan segera setelah infeksi
diduga terjadi.Semua rumah sakit memiliki protokol yang telah ditetapkan untuk
melakukan tindakan cepat dalam menangani luka tusuk oleh jarum.

3. Tentukan apakah ada kemungkinan untuk penularan penyakit yang lain. Risiko terjangkit
hepatitis lebih besar ketimbang terjangkit HIV (kemungkinannya sekitar 30% untuk hepatitis
B dan sekitar 10% untuk hepatitis C). Jadi, sangat esensial untuk bertindak dengan cepat,
serta mengambil langkah pencegahan (contohnya mendapatkan vaksin hepatitis).

C. Laporkan kejadian

1. Laporkan kejadian. Cek prosedur melaporkan kecelakaan di tempat kerja dan harus


memberitahu apa yang telah terjadi di tempat kerja pada pihak pemberi kerja. Mengumpulkan
data statistik yang relevan nantinya dapat membantu meningkatkan pelaksanaan kegiatan
kerja yang aman untuk semua orang. Hal ini meliputi luka tusuk jarum yang “bersih” dan
steril.

2. Lakukan tes serta pengawasan medis selama masa penyembuhan.

 Tes ulang untuk melihat kemungkinan terjadinya penularan HIV biasanya dilakukan
setelah waktu enam minggu, lalu pada waktu tiga, enam, dan dua belas bulan untuk
melihat kemungkinan pembentukan antibodi HIV.
 Tes ulanganuntukmelihatantibodi HCV (antibodi yang merespons virus hepatitis c)
biasanya dilakukan enam minggu setelah insiden terjadi, dan kembali dilakukan
setelah empat sampai enam bulan.

D. Pengendalian Setelah KejadianTertusuk Jarum Suntik


Mekanisme pelaporan dimulai dari petugas tertusuk melaporkan kekepala unit yang
kemudian dilaporkan kepada pihak K3 dan PPI, selanjutnya dilakukan investigasi
serta pendampingan.Pengendalian setelah tertusuk jarum suntik berupa pelaporan
pada pihak K3 dan PPI untuk pemeriksaan kesehatan di laboratorium, investigasi
kronologi kejadian. Jika hasil negatif, dilakukan masa pemantauan selama
kemungkinan masa inkubasi, sedangkan jika hasil positif maka akan dilakukan
pengobatan K3.
3. Apabila anda adalah kepala ruangan / ketua tim di ruang rawat tersebut, tindakan
apa yang harus anda lakukan untuk meminimalkan kecelakaan tertusuk jarum seperti
perawat Nn. B?
Needle Stick Injury (NSI) atau luka tusuk jarum suntik adalah suatu kecelakaan akibat tusuk
jarum suntik yang tercemar dengan darah atau cairan tubuh (Waller, 2005).Bila risiko yang
membahayakan bagi kelangsungan kerja maupun kesehatan dan keselamatan pekerja, maka
perlu ditentukan langkah pengendalian yang dipilih seperti:
(1) Eliminasi (menghilangkan),
(2) Substitusi (mengganti),
(3) Isolasi (memisahkan),
(4) Pengendalian rekayasa, administratif atau penggunaan alat pelindungdiri (Irzal, 2016)

A. Hal yang dilakukan dalam pengendalian kecelakaan tertusuk jarum :


Pengendalian Substitusi
Rudi Suardi (2007) menyatakan bahwa pengendalian substitusi adalah menggantikan sumber
risiko dengan peralatan lain yang tingkat risikonya lebih rendah atau tidak ada.Pengendalian
substitusi (mengganti) jarum suntik berupa penggunaan IV Catheter dalam pemasangan infus.
Sehingga harus adanya pengadaan yang maksimal, serta pengadaan alat jet injector dan
microneedle patch.
Pemberian informasi terkait cara penggunaannya, setelah melewati fase percobaan, fase
pengamatan, barulah disosialisasikan oleh pihak K3 dan PPI serta petugas yang mengikuti
simulasi akan meneruskan informasi sesuai lokasi penempatan alat.
Bentuk partisipasi petugas adalah menggunakan alat sesuai kebutuhan tindakan dengan
mematuhi prosedur.

B. Pengendalian Rekayasa
Berdasarkan Pedoman Bersama World Health Organization (WHO) dan International Labour
Organization (ILO) menyatakan bahwa pengendalian rekayasa merupakan upaya mengisolasi
atau membuang potensi bahaya dari tempat kerja, misalnya pengadaan wadah benda tajam.
World Health Organization (2005) menjelaskan bahwa wadah untuk sampah medis yang
memenuhi persyaratan yaitu bak sampah untuk menampung sampah padat medis mudah
untuk di bersihkan, tertutup rapat, tahan benda tajam, kedap air, tidak mudah berkarat, dan
anti bocor.Selain itu haruslah tahan bocor terhadap jarum suntik.
Pengendalian rekayasa berupa
(1) Pengadaan wadah benda tajam dalam bentuk jerigen bekas cairan pasien HD
(Hemodialisa) yang telah diberi label infeksius.
(2) Penganggaran box safety yang terstandar dan penerapan prosedur pendelegasian
tindakan menyuntik sesuai aturan yaitu secara tertulis dari dokter keperawat.

Pedoman Bersama WHO dan ILO menyatakan wadah benda tajam telah mengurangi luka
sampai 2/3.
a. Faktor pendukung penggunaan wadah benda tajam untuk jarum suntik penyuluhan,
sosialisasi, advokasi, budaya selamat, dan pendampingan kesetiap ruangan agar petugas
menggunakan jerigen bekas cairan HD (Hemodialisis).
b. Penghambatnya adalah kesadaran dan kedisiplinan petugas masih kurang, sikap terburu-
buru, dan mahasiswa yang sementara praktik masih harus terus diedukasi agar menaati
aturan pembuangan jarum suntik.Akibat dari tidak membuang jarum pada wadah jerigen
untuk jarum suntik adalah jarum ditemukan ditempat sampah, tergeletak dimeja-meja atau
tempat tidur pasien.
c. Faktor yang menyebabkan tingginya angka kejadian tertusuk jarum ialah kurangnya
pengalaman perawat, tidak menggunakan wadah penyimpanan sampah medis, lingkungan
kerja yang kurang baik, kelelahan emosional perawat (Senduk et al., 2017).

C. Pengendalian Administratif
Berdasarkan Pedoman Bersama World Health Organization (WHO) dan International Labour
Organization (ILO) menyatakan bahwa pengendalian administratif bertujuan untuk
membatasi pajanan pada petugas, seperti halnya penerapan kewaspadaan universa.
Pengendalian administratif berupa penerapan Standar Operasional Prosedur Kewaspadaan
Standar seperti cuci tangan.Adapun terkait prosedur pendelegasian tidak dijalankan secara
tertulis, namun melalui rekam medik pasien.
Dasar upaya pengendalian administratif di RS X berupa pembuatan Standar Operasional
Prosedur Kewaspadaan Standar adalah UU Nomor 1, Peraturan Menteri KesehatanNomor 66
Tahun 2016 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit serta standar dari
WHO (World Health Organization).Selanjutnya dibuatlah pedoman yang melahirkan standar,
seperti SOP Kewaspadaan Standar yang harus dipatuhi petugas rumah sakit termasuk dokter,
perawat, mahasiswa magang atau praktik.
Informasi tentang SOP Kewaspadaan Standar diberikan oleh pihak K3dan PPI dalam
pengayaan di ruang pertemuan.
a. Faktor yang mendukung adalah penerapan SOP adalah sosialisasi, kesadaran petugas,
pendampingan dan tahap evaluasi pemantauan triwulan rutin.
b. Faktor penghambatnya adalah kurangnya tenaga kerja untuk evaluasi pemantauan,
sehingga penilaiannya tidak menyeluruh, dan kelalaian petugas.

D. Pengendalian Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)


Berdasarkan Pedoman Bersama World Health Organization (WHO) dan International Labour
Organization (ILO) menyatakan bahwa penggunaan APD adalah upaya pengendalian yang
menempatkan rintangan atau saringan antara pekerja dan potensi bahaya.Penggunaan alat
pelindung diri bagi petugas digunakan sesuai kebutuhan tindakan, baik dengan tindakan kecil
hingga sulit (Koo et al., 2018).
Pengendalian penggunaan alat pelindung diri berupa pemakaian sepatu yang bagian atasnya
tertutup. MenurutRosdahl& Merry (2008), standar alas kaki bagipetugasadalah yang tertutup
seluruh ujung jari dan telapak kaki serta terbuat dari bahan yang mudah dicuci dan tahan
tusukan (Suharto, dkk, 2016)
Petugas K3 bersama PPI memberikan informasi penggunaan APD dalam pengayaan di ruang
pertemuan, dilanjutkan oleh setiap kepala unit yang bertanggung jawab untuk mengingatkan
anggotanya.
a. Faktor pendukung penggunaan APD adalah pengayaan, sikap saling mengingatkan,
kesadaran serta perasaan petugas untuk merasa aman.
b. Faktor penghambat yaitu karakter, sikap petugas, sikap cuek dan sembrono petugas juga
masih terjadi.

E. Hal lain yang harus dilakukan :


1. Penambahan karyawan Keselamatan dan Kesehatan Kerja agar evaluasi pemantauan
triwulan dapat dilakukan secara keseluruhan, serta penetapan sanksi bagi petugas
yang melanggar.
2. Sosialisasi terkait penanganan pasca pajanan pada saat pembekalan awal bagi yang
baru akan masuk menjadi petugas.
DAFTAR PUSTAKA

http:66nursestattion.blogspot.com620+6<6pertolongan5pertama5kecelakaan5kerja.htm

https://www.google.co.id/amp/s/id.m.wikihow.com/Menangani-Cedera-yang-Disebabkan
Oleh-Jarum-Suntik-di-Tempat-Kerja%3famp=1

Mallapiang, Fatmawaty, dkk. 2019. STUDI PENGENDALIAN KEJADIAN TERTUSUK


JARUM SUNTIK PADA PETUGAS INSTALASI GAWAT DARURAT RS. X KOTA
MAKASSAR. Public Health Science Journal. 11(22): 169-184. http://journal.uin-
alauddin.ac.id/index.php/Al-Sihah/article/download/11927/7751 (diaksestanggal
28/04/2020)