Anda di halaman 1dari 15

Audit Internal

“Perencanaan, Pengorganisasian, Pengontrolan – Perspektif


Auditor Internal”

OLEH :

KELOMPOK 13

 A. A. A. Mirah Dwisyana Prabandari (1702622010298/ 01)


 Ni Kadek Sri Mayani (1702622010313/ 16)
 Ni Made Nita Sari Suputri (1702622010324/ 27)

PRODI AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR
2020
A. Prinsip Manajemen dan Sifat Dasar Manajemen
 Prinsip Manajemen
Prinsip-prinsip manajemen adalah kebenaran universal yang
dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah manajemen.
Prinsip-prinsip manajemen dapat diajarkan kepada siapa saja tetapi
tidak semua orang dikaruniai watak manajerial.
Henri Fayol mempublikasikan prinsip manajemen pada tahun
1916. Adapun prinsip-prinsip tersebut antara lain :
 Pembagian kerja
 Wewenang dan tanggung jawab
 Kedisiplinan
 Kesatuan perintah
 Kesatuan arah
 Memprioritaskan kepentingan umum dari pada kepentingan
pribadi
 Pemberian gaji kepada karyawan
 Sentralisasi
 Rantai skalar
 Posisi karyawan
 Kesamaan perlakuan
 Kestabilan
 Inisiatif
 Semangat kebersamaan didalam organisasi
 Sifat Dasar Manajemen
Kompleksitas perusahaan modern telah mengubah dan
memperluas tanggung jawab professional manajer. Manajer lebih
berorientasi kearah penetapan tujuan, membuat perencanaan,
mengembangkan organisasi, mengalokasikan sumber daya,
mengarahkan orang, mengidentifikasi resiko, dan mengontrol
kejadian-kejadian sehingga sasaran dapat tercapai.

B. Perencanaan – Perspektif Auditor Internal.


Auditor internal diharapakan dapat melihat kedepan bersama
manajemen dan membantu dalam proses perencanaan. Perspektif luas
auditor internal dapat membantu dalam proses menilai berbagai inisiatif
perencanaan, dan dalam mengevaluasi seberapa efektif inisiatif dapat
diintegerasikan dan mendukung keseluruhan misi organisasi.
1. Aktivitas Proses Audit Internal.
Aktivitas audit internal akan bervariasi disetiap organisasi. Seluruh
auditor internal akan mengevaluasi keseluruhan proses perencanaan
dengan menentukan apakah rencana, kebijakan, dan prosedur telah
memenuhi standar tertentu dari praktek manajemen yang baik.
2. Standar Untuk Manajemen.
Standar manajemen didasarkan pada prinsip-prinsip manajemen
yang berlaku terus dan konsisten diseluruh organisasi. Auditor
internal dapat memberikan kontribusi terhadap perencanaan yang
efektif dengan memastikan bahwa :
a. Seluruh rencana, kebijakan, dan prosedur telah sesuai dengan
tujuan organisasi.
b. Rencana yang dibuat dapat mengantisipasi masalah dan
kekacauan yang timbul.
c. Asumsi-asumsi dalam membuat rencana didasarkan atas data
yang akurat dan peramalan yang masuk akal.
d. Manfaat dari rencana tersebut melebihi biaya penyiapan
rencana.
e. Rencana tersebut menghasilkan kesamaan tindakan diantara
unit organisasi yang saling bergantung.
f. Rencana tersebut mendorong inisiatif dan secara jelas
dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab
untuk melaksanakan rencana tersebut.
g. Setiap rencana memiliki alat untuk mengukur kesuksesan.
h. System tidak lanjut dibuat untuk menentukan apakah rencana
telah dilakukan sesuai dengan yang diinginkan.
 Kendala-kendala Bagi Rencana.
Auditor internal harus mencari kendala-kendala seperti dibawah ini:
 Manajemen tidak berkomitmen atau terlibat dalam rencana.
 Para bawahan tidak diminta opini dalam perencanaan.
 Rencana tidak berjalan dengan baik dan mungkin disusun oleh
orang-orang yang tidak tau kenyataan dilapangan.
 Rencana tidak dilaksanakan setelah dibuat, rencana tersebut
dilupakan atau tidak diawasi. Pembuat rencana tidak
memberikan umpan balik atau kontrol.
 Rencana dibuat atas data atau informasi yang tidak akurat.
 Rencana tidak memperhitungkan kemungkinan lain,pembuat
rencana tidak bertanya kepada diri mereka sendiri tentang
pertanyaan “bagaimana jika”
 Rencana tersebut terlalu kaku, tidak memungkinkan adanya
inisiatif.
 Perencanaan hanya sebuah formalitas.
 Menjembatani Kesenjangan.
Auditor internal berada dalam posisi untuk melihat kerja dari
pembuat rencana dan pelaksana rencana tersebut. Diseluruh audit
departemen operasi, pemeriksaan dapat dibawa menuju audit
berorientasi manajemen jika auditor memberikan perhatian pada
aktivitas perencanaan. Contohnya auditor harus :
 Meminta opini manajer tgentang hal-hal yang berhubungan
dengan misi utama, maksud, dan tujuan departemen.
 Memberikan prosedur yang didesain untuk melaksanakan
tujuan departemen dan mengidentifikasi prosedur yang
berulang, tidak relevan, tidak ada atau tidak konsiste..
 Merbicara dengan bagian operasi dan meneyelidiki apakah
mereka memahami tujuan, prosedur, dan instruksi.
 Memastikan bahwa manajer memiliki sistem umpan balik yang
menginformasikan sejauh mana rencana tersebut tercapai.
 Perubahan
Auditor internal dapat menjelaskan cara untuk menghilangkan
ketakutan karena adanya perubahan, yaitu :
 Kebutuhan akan adanya perubahan seharusnya dimengerti oleh
karyawan operasional.
 Karyawan seharusnya diberi jaminan bahwa perubahan tidak
akan memengaruhi keamanan mereka, tentu saja diasumsikan
jaminan itu ditepati.
 Siapa saja yang akan terpengaruh dengan perubahan tersebut
dilibatkan dalam perencanaan perubahan.
 Perubahan tersebut merupakan hasil dari situasi dan bukan dari
keputusan manajemen semata.
 Perubahan yang terjadi seharusnya didahului oleh serangkaian
perubahan yang sukses dan bukan perubahan yang gagal.
 Perubahan seharusnya bukan bagian dari banyak perubahan lain
yang sedang berjalan pada saat itu.
 Organisasi seharusnya dikondisikan untuk menerima
perubahan.
 Prosedur
Memverifikasi kepatuhan terhadap prosedur adalah fungsi dasar
audit internal. Manajer sering kali mengandalkan analisis audit
internal untuk melaporkan kepada mereka seberapa baik karyawan
mereka mematuhi prosedur tertulis.
 Anggaran.
Dalam proses audit pembuatan anggaran dan pelaporannya, kriteria
berikut adalah hal-hal yang relevan :
 Departemen anggaran seharusnya diberi wewenang untuk
memperoleh informasi dari departemen operasi.
 Instruksi dan asumsi yang dibuat untuk menyiapkan anggaran
seharusnya dipahami dan konsisten.
 Proses pengembangan anggaran seharusnya dijadwalkan untuk
menunjukan tiap rincian langkah yang dibutuhkan.
 Untuk memfasilitasi konsolidasi, departemen anggaran harus
menyediakan format dan asumsi yang sama untuk informasi
yang dibutuhkan kepada seluruh departemen yang memberikan
kontribusi.
 Ketentuan harus dibuat untuk pemerikasaan anggaran pada
tingkat yang lebih tinggi didalam organisasi
 Informasi yabg dikirim ke departemen anggaran harus disukung
dengan informasi yang cukup.
 Setiap orang yang pekerjaannya dipengaruhi oleh anggaran
harus diinformasikan.
 Departemen operasional harus menyesuaikan kegiatan
operasinya terhadap perubahan anggaran.
 Varians yang signifikan antara jumlah yang dianggarkan
dengan actual harus dijelaskan. Langkah-langkah harus diambil
untuk memperbaiki penyebab dari varians yang besar.
 Manajer operasional harus memerima informasi yang cukup
agar mereka mengetahui bagaimana mereka akan memenuhi
target anggaran.
 Asumsi pengukuran untuk anggaran harus disesuaikan dengan
kegiatan operasional.
 Pengambilan Keputusan.
Auditor internal dapat membantu manajer diseluruh fungsi kecuali
pada tahap pengambilan keputusan, pemilihan solusi dari berbagai
alternative yang tersedia ini adalah tanggung jawab dan hak
manajemen.
C. Pengorganisasian – Perspektif Auditor Internal.
Auditor internal tidak memiliki tanggung jawab untuk mendesain
organisasi, tetapi pengetahuan mengenai sistem dan kontrol yang mereka
miliki akan sangat bernilai. Para perancang organisasi hendaknya
memiliki pertanyaan-pertanyaan yang penting yang biasa dimiliki oleh
auditor internal, pertanyaan tersebut antara lain :
 Apakah tujuan dari operasi yang diusulkan.
 Bagaimana tujuan tersebut dilebur dengan tujuan organisasi
 Kontrol apa saja yang ada atau yang seharusnya ada untuk
melihat apakah tujuan akan tecapai.
 Bagaimana pengembangan bagan organisasi menjadi kunci dari
tujuan organisasi.

Terdapat banyak faktor yang berperan dalam keseluruhan efektivitas


organisasi. Auditor internal yang memperoleh informasi dan memiliki
kewaspadaan dapat menawarkan perspektif yang sangat berharga kepada
organisasinya.

 Tanggung Jawab, Wewenang, dan Pertanggungjawaban.


Auditor internal diharapkan untuk menerapkan apa yang menjadi
tanggung jawab manajer, kewenangan apa yang diberikan kepada
mereka, dan bagaimana mereka mempertanggungjawabkan
pencapaian dan hasil.
Auditor internal menaruh perhatian pada tanggung jawab yang
diberikan dan wewenang yang didelegasikan kepada organisasi
yang mereka periksa. Ketika hal ini tidak dilaksanakan, pengabaian
ini mencerminkan kelemahan dan membutuhkan perbaikan karena
didalam organisasi manapun tanggung jawab, wewenang, dan
pertanggungjawaban merupakan keharusan.
 Pendelegasian
Pendelegasian memerlukan kontrol seperti halnya umpan balik
untuk menunjukan bagaimana tugas yang didelegasikan telah
dilaksanakan. Auditor internal dapat menjadi sumber informasi
yang objektif dalam pencapaian tugas.
 Staf dan Lini
Auditor internal memiliki perhatian tersendiri terhadap karyawan
staf atau karyawan lini. Auditor internal sering kali melakukan
audit atas pekerjaan staf. Auditor internal dapat membantu manajer
senior dalam memutuskan apakah jasa tertentu harus dibeli atau
dilakukan oleh karyawan organisasi.

 Wewenang Fungsional.
Dibanyak organisasi auditor internal sering kali berada pada posisi
menentukan apakah wewenang funsional telah efektif. Manajer lini
dapat menganggap wewenang fungsional sebagai gangguan atas
wewenang mereka dan menolak pertanyaan dari pemilik wewenang
tersebut. Tetapi akan sulit bagi mereka untuk menolak pertanyaan
dari auditor internal, karena salah satu tanggung jawab auditor
internal adalah memastikan wewenang fungsional berjalan efektif.
 Departementalisasi.
Auditor internal tidak harus menerima struktur organisasi
perusahaan sekarang ini. Departementalisasi harus dipertanyakan.
Auditor internal harus mempertanyakan hal-hal berikut :
 Aktivitas apa yang dibutuhkan untuk melaksanakan tujuan
depatemen?
 Bagaimana proses pengelompokan tersebut berjalan seimbang
untuk mencapai sasaran departemen?
 Apakah departementalisasi memberikan pengujian yang cukup
atas aktivitas penting untuk mencegah kesalahan dan
ketidaksempurnaan?
 Bagaimana pengelompokan aktivitas departemen memfasilitasi
pencapaian dari tujuab organisasi?
 Apa kativitas utama dari sebuah organisasi dan apakah telah
ditugaskan ke unit atau individu tertentu?
 Seberapa baik departemen atau unit terintegrasi?
 Bagian mana yang tampaknya beroperasi tanpa pengawasan
atau pengujian dan keseimbangan.
 Desentralisasi.
Desentralisasi memberikan otonomi yang luas kepada unit-unit
desentralisasi. Unit-unit tersebut beroperasi seperti usaha yang
terpisah, namun mereka harus mempertanggungjawabkan ke dan
mendapat pengarahan dari kantor pusat. Unit-unit menyesuaikan
diri dengan seluruh prosedur dan kebijakan, seperti prosedur dan
kebijakan akuntansi yang telah ditetapkan oleh kantor pusat.
 Komite.
Komite seharusnya tidak berada diatas pemerikasaan audit. Pada
kenyataannya, auditor internal kadang-kadang bertugas sebagai
anggota komite untuk memastikan kesesuaian tindakan komite
dengan kebijakan organisasi.
Auditor internal dapat membantu dalam menetapkan apakah komite
memenuhi beberapa standar dasar :
 Kesepakatan komite harus dalam bentuk tertulis.
 Anggota komite harus memiliki peran dan tidak hanya sebagai
pengamat
 Komite harus cukup besar untuk memberikan bermacam
pandangan, tetapi tidak terlalu besar sehingga tidak terkontrol.
 Anggota komite harus memiliki wewenang yang sama.
 Susunan acara harus disiapkan untuk setiap pertemuan.
 Risalah rapat harus disiapkan untuk setiap rapat dadakan.
 Tugas-tugas harus dibebankan kepada setiap individu dan batas
waktu penyelesaian juga harus dijadwalkan.
 Ketua komite harus menindaklanjuti tugas yang diberikan.
 Aktivitas komite tidak boleh tumpang tindih dengan aktivitas
komite lain.
 Sebuah komite harus dibubarkan apabila sudah selesai.
 Kelompok Informal.
Auditor internal harus sensitif terhadap organisasi informal yang
menyertai organisasi formal. Kelompok informal memiliki budaya,
pemimpin, dan bentuk komunikasi sendiri. Dengan menunjukan
dan pemahaman, auditor internal dapat masuk kedalam saluran
komunikasi informal dengan cara berkomunikasi dengan kelompok
informal. Hubungan ini dapat menolong auditor internal memahami
mengapa sesuatu dapat bekerja sesuai dengan yang diinginkan dan
juga penyebab adanya penyimpangan dari prosedur yang telah
dibuat.
 Penempatan Staf
Auditor internal dapat membantu dalam mengaudit aktivitas
penempatan staf. Perekrutan dan mempertahankan orang-orang
terbaik merupakan slah satu faktor yang paling penting dalam
kesuksesan suatu organisasi. Auditor internal harus menentukan
apakah pengujian latar belakang telah dibuat dan melihat bahwa
telah ada sistem untuk menguji kinerja sebelumnya dari tenaga
kerja baru atau lama.
D. Proses Memimpin – Perspektif Auditor Internal.
Proses memimpin berorientasi pada orang, bukan pada transaksi dan
audit internal atas fungsi pengarahan tidak mengarahkan diri mereka
menuju kesimpulanyang objektif dengan angka dan fakta yang
didokumentasikan. Namun auditor internal tetap dapat memberikan
nasihat dan bantuan dibidang itu.
Audit kepemimpinan dapat terjadi di bidang mana pun dalam
organisasi. Contohnya dalam bidang sumber daya manusia. Auditor
internal mungkin ingin menerapkan standar sebagai berikut :
 Pekerjaan yang akan diisi hendaknya digambarkan secara jelas
dan menyeluruh.
 Kriteria yang sama hendaknya digunakan dalam
mengklasifikasikan pekerjaan.
 Kompensasi untuk pekerjaan hendaknya merupakan kunci
untuk klasifikasi tertentu. Bersaing dengan pekerjaan
diorganisasi lain, dan dapat dibandingkan dengan departemen
lain.
 Tingkat gaji dan kebijakan konpensasi seharusnya dievaluasi
secara periodic.
 Kepala departemen seharusnya diajak berunding untuk
menentukan kebutuhan karyawan sekarang dan masa depan.
 Seluruh pekerjaan yang penting seharusnya memiliki karyawan
cadangan yang dipilih untuk mengisi pekerjaan itu.
 Kepemimpinan dan Motivasi.
Beberapa standar untuk evaluasi yang dapat diterapkan oleh auditor
internal antara lain :
 Pemimpin yang baik mencerminkan kepercayaan dari bawahan,
mencari, dan menggunakan ide mereka.
 Bawahan bebas berbicara kepada atasan tentang pekerjaan
mereka.
 Pemimpin meminta partisipasi dari karyawan
 Tindakan perbaikan, ketika dibutuhkan, dilakukan dengan
segera dan memperbaiki tindakan atau perilaku yang tepat.
 Karyawan bekerja sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan
organisasi.
 Bawahan memiliki jalur terbuka untuk melaporkan masalah dan
pencapaian mereka.
 Setiap orang diberi informasi secara jelas tentang sasaran yang
diharapkan untuk dicapai.
 Pemimpin mempelajari dan memahami masalah, kesulitan, dan
kekecewaan bawahan.
 Karyawan terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
 Dasar dan asumsi untuk keputusan datang dari atasan dan
bawahan.
 Proses pengambilan keputusan memotivasi dan tidak
melemahkan semangat karyawan.
 Sasaran ditetapkam oleh tidakan kelompok, bukan dari perintah.
 Pembuatan sasaran tidak berakhir dengan perlawanan dari
karyawan.
 Organisasi informal memiliki sasaran yang sama dengan
organisasi formal.
 System memberikan kontrol diri dan bukan kontrol yang
dipaksakan.

Ketika auditor internal telah membangun hubungan yang baik,


manajer operasi akan menerima informasi tentang kinerja mereka
untuk memenuhi standar-standar tersebut.

 Komunikasi.
Auditor internal mengetahui bahwa manajer pada organisasi yang
besar membuat keputusan sebagian besar berdasarkan atas
informasi yang mereka terima dan bukan dari apa yang mereka
ketahui sendiri. Sering kali laporan dari bawahan adalah pernyataan
yang menguntungkan diri sendiri dan tidak secara tepat
menggambarkan kondisi yang ada. Auditor internal yang tidak
memiliki kepentingan dapat melindungi manajemen senior dari
informasi yang tidak akurat dan menyimpang.
Kebijakan dan prosedur adalah bentuk komunikasi seperti halnya
instrument perencanaan. Auditor internal dapat membantu
memberikan informasi kepada manajemen senior tentang persepsi
karyawan terhadap kebijakan untuk karyawan. Infomasi tersebut
didapatkan oleh auditor internal dengan mewawancarai karyawan
dan memberikan pertanyaan sebagai berikut :
 Sudahkah kebijakan tersebut dibaca?
 Apakah kebijakan tersebut dapat dimengerti?
 Apakah kebijakan ini masuk akal?
 Bagaimana karyawan dapat mengubah kebijakan ini?

E. Pengontrolan – Perspektif Auditor Internal


Audit sistem kontrol untuk menentukan apakah tujuan yang ditetapkan
tercapai. Auditor internal mungkin ingin menggunakan standar berikut
dalam mengawasi kontrol :
 Penetapan Standar dan Pengembangan Sistem Kontrol.
Ketentuan harus dibuat untuk menetapkan dan menyebarkan
standar kerja yang baru ketika standar yang lama dirasakan tidak
lagi memadai dan efektif.
Sistem kontrol harus memicu umpan balik dengan cara yang cukup
tepat waktu untuk memperingatkan manajer atas kesulitan yang
akan muncul dan memungkinkan mereka untuk menilai hasil akhir.
 Pengamatan Atas Operasi.
Penelaahan secara periodic harus memastikan bahwa saluran
komunikasi umpan balik masih terbuka dan berfungsi seperti yang
diinginkan.
Seorang manajer harus memiliki program yang didokumentasikan
dan selalu diperbaharui yang mengidentifikasikan metode tersebut,
masalah, dan kondisi yang perlu diiplementasikan, diperbaharui,
diperbaiki, atau dihapuskan.
 Pelatihan Karyawan
Tujuan, standar, kebijakan, prosedur, dan alat organisasi untuk
mengukur kinerja harus dikomunikasikan kepada seluruh karyawan
yang terpengaruh. Upaya periodic harus dilakukan untu mendorong
pemahaman yang luas tentang organisasi dan karywan harus
menerima hasil umpan balik dari arus bawah organisasi.
 Menghadapi Penyimpangan.
Metode-metode seharusnya dibuat untuk kembali ke pekerjaan
semula ketika pekerjaan tersebut tidak memenuhi standar yang
diterima.
Bila kebijakan dan prosedur yang berlaku mengganggu pelaksanaan
rencana, penghilangan gangguan tersebut harus merupakan subjek
persetujuan dari wewenang yang sama yang menjelaskan kebijakan
atau prosedur tesebut diawal.
 Mempertahankan Kontrol atas Proses dan Operasi.
Peraturan harus dibuat agar perhatian manajemen ditujukan pada
penyimpangan pada titik kontrol paling strategis didalam sistem,
dari pada menunggu sampai tujuan utama gagal.
Sistem kontrol harus memberikan jaminan bahwa seluruh pekerjaan
dengan skedul yang kosong dan skedul yang hilang dilaporkan
dengan tepat kepada manajemen untuk tidakan perbaikan dan/atau
pembuatan ukuran untuk mencegah apabila terjadi lagi dimasa
depan.
 Para Ahli Kontrol.
Tanggung jawab auditor internal sebagai ahli kontrol harus
dilakukan secara serius. Pada saat yang sama auditor internal juga
harus membuat usaha untuk melihat apakah manajer dan karyawan
meningkatkan pengetahuan dan penghargaan mereka terhadap
kontrol.
 Pengelolaan Untuk Memastikan Lingkungan yang Etis.
Manajemen senior harus memastikan bahwa lingkungan etis
penting bagi seluruh entitas. Untuk memastikannya mereka harus
menyatakan secara jelas bahwa penegakan kode etik adalah
prioritas utama. Penekanan entitas pada etika harus
dikomunikasikan kepada karyawan, pelanggan, pemasok, dan
pemangku kepentingan lainnya.

Daftar Pustaka
Sawyer, Lawrence B 2006. Internal Auditing, Edisi kelima. Salemba
Empat : Jakarta

Anda mungkin juga menyukai