Anda di halaman 1dari 21

TUGAS OBGYN

CRACKED NIPPLE

Disusun Oleh :
Melinda Anastasya Irene Bella (20160811014006)

Dosen Pengampu :

dr. Jefferson Nelson Munthe, Sp.OG (K), M.Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
2020
BAB I

PENDAHULUAN

Nyeri puting persisten adalah salah satu alasan paling umum yang diberikan
oleh ibu karena berhenti eksklusif menyusui. Nyeri menyusui telah dinyatakan sebagai
perhatian bagi ibu, tidak hanya di periode pascapartum segera, tetapi untuk lebih dari
sepertiga ibu pada dua minggu dan satu bulan setelahnya kelahiran. Bukan hanya
menyakitkan, tetapi juga dapat menyebabkan tekanan psikologis dan mengganggu
umum aktivitas, suasana hati, tidur, dan ikatan antara ibu dan bayi. Cara yang paling
efektif membantu ibu untuk membentuk menyusui yang nyaman dan tidak
menyakitkan agar dapat terus menyusui selama mereka ingin belum ditetapkan, dan
penelitian sangat dibutuhkan di daerah ini. Nyeri puting sering dikaitkan dengan
penempatan dan pelekatan bayi yang tidak optimal.1

Trauma puting menimbulkan insidensi tinggi, terutama pada 30 hari pertama


pascapersalinan. Karena itu menyakitkan, kondisi tersebut sering menyebabkan
gangguan eksklusif menyusui dan menyapih dini. Di kota New York, 35% wanita
berhenti menyusui dalam seminggu setelah kelahiran karena trauma puting, dan 30%
antara 1 dan 4 minggu pascapersalinan.3

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan Rinata (2012) di Puskesmas


Waru terdapat 75% ibu menyusui dengan teknik yang salah dan berdasarkan hasil
penelitiannya didapati bahwa sebagian besar teknik menyusui ibu masih salah
(53,3%). Penelitian Kuswanti (2014) mengatakan bahwa tidak ada perbedaan yang
signifikan antara paritas primipara dan multipara terhadap keterampilan menyusui
pada ibu post partum. Tinggi rendahnya keterampilan menyusui seseorang tidak selalu
dipengaruhi oleh paritas yaitu primipara ataupun multipara. Hal ini karena disebabkan
oleh semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga seorang ibu
baik primipara ataupun multipara sama-sama dapat meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan yang dalam hal ini adalah keterampilan menyusui.

Bukti konklusif belum diberikan mengenai aspek-aspek pemosisian mana yang


paling penting penting. Penyebab lain nyeri puting adalah: puting datar atau terbalik,
tindakan mengisap bayi yang menyebabkan friksi puting, ankyloglossia bayi, anomali
palatal bayi (gelembung atau tinggi langit-langit melengkung , hisap bayi yang kuat,
lepuh susu (susu bleb atau bintik putih), infeksi (termasuk Candida albicans,
Staphylococcus aureus, virus Herpes simplex), psoriasis, dermatitis, dan fenomena
Raynaud. 1

Pasokan susu yang tidak mencukupi mungkin merupakan efek sekunder dari
puting susu rasa sakit sebagai akibat dari penghambatan refleks pengeluaran susu
karena rasa sakit, atau penghapusan yang tidak efektif susu seperti bayi dengan
ankyloglossia atau celah langit-langit. Koreksi posisi dan lampiran adalah
rekomendasi berdasarkan pengalaman yang paling umum untuk pengobatan nyeri
puting, dan ketika dilakukan dalam minggu pertama kelahiran telah dikaitkan dengan
durasi menyusui yang lebih lama dan lebih sedikit masalah menyusui (termasuk puting
sakit). 1

Koreksi posisi dan lampiran dengan perawatan kebidanan bersamaan adalah


efektif dalam mengurangi nyeri puting dan memperbaiki kondisi puting dalam 20 hari
setelah lahir. Namun, penelitian lain menunjukkan bahwa satu, atau bahkan beberapa,
sesi instruksi tepat posisi dan lampiran selama beberapa hari pertama setelah lahir
tidak menghasilkan ASI yang lebih lama atau masalah menyusui lebih sedikit. Ini
menyoroti fakta bahwa penempatan dan keterikatan yang salah bukan satu-satunya
penyebab nyeri puting. 1

Telah dispekulasikan bahwa gerakan puting yang berlebihan di dalam mulut


bayi dapat dikaitkan dengan nyeri puting. Ketika ada nyeri gesekan, lanolin anhidrat
yang sangat dimurnikan atau salep vitamin A dapat digunakan untuk mengurangi rasa
sakit. Frenotomi untuk ankyloglossia telah terbukti efektif dalam menghilangkan rasa
sakit dan meningkatkan transfer susu. Ada sedikit bukti yang diterbitkan untuk efek
anomali palatal pada menyusui, tetapi dalam satu studi kasus rasa sakit berkurang
ketika ibu menyusui dalam posisi terlentang.1

Hisapan bayi yang kuat telah dikaitkan dengan nyeri puting yang belum
diringankan oleh saran dari konsultan laktasi. Saran klinis untuk lecet susu melibatkan
aplikasi kompres hangat diikuti dengan menyusui atau lancing melepuh dengan steril
jarum. Nyeri puting karena infeksi dapat diobati dengan antibiotik untuk bakteri yang
dikonfirmasi infeksi, atau antijamur untuk infeksi Candida. Dermatitis dapat diobati
dengan menghindari iritasi dan mungkin memerlukan salep kortikosteroid topikal
jangka pendek. Psoriasis pada puting susu juga dapat diobati dengan kortikosteroid
topikal. Rasa sakit karena fenomena Raynaud bisa diobati dengan menggunakan
langkah-langkah sederhana seperti kehangatan dan penghindaran vasokonstriktor,
serta resep nifedipine. 1

Tidak ada bukti yang cukup bahwa glycerine gel dressing, lanolin dengan
breast shells, lanolin Sendiri, ASI Ekspres, atau salep puting serbaguna meningkatkan
persepsi ibu pada puting rasa sakit dalam tujuh hari pertama laktasi meskipun lanolin
anhidrat sangat murni ditemukan lebih efektif daripada ASI yang diekspresikan selama
14 hari pertama laktasi. Sebaliknya, itu telah menyarankan bahwa penggunaan lanolin
dapat dikaitkan dengan peningkatan laju infeksi. Namun, mungkin ini mungkin hasil
dari kebersihan tangan yang kurang optimal.1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Menyusui selalu menjadi standar kriteria untuk pemberian nutrisi pada bayi.
Sebelum munculnya susu formula, menyusui merupakan satu-satunya cara untuk
memberi nutrisi pada bayi. Pada abad ke-21, meskipun sudah mulai muncul susu
formula, ASI tetap merupakan nutrisi terbaik bagi bayi dan juga berfungsi untuk
perkembangan sistem imun pada bayi. Cracked nipple (puting susu lecet)
merupakan perlukaan pada puting susu yang disebabkan karena trauma pada
puting susu saat menyusui, kadang kulitnya sampai terkelupas atau luka dan
berdarah.1

2.2 Anatomi dan Fisiologi Payudara


Payudara merupakan kelenjar aksesoris kulit yang terletak pada rusuk kedua
sampai rusuk keenam, dari pinggir lateral sternum sampai linea aksilaris media.
Kelenjar ini dimiliki oleh pria dan wanita. Namun, pada masa pubertas, payudara
wanita lambat laun akan membesar hingga membentuk setengah lingkaran,
sedangkan pada pria tidak, pembesaran ini terutama terjadi akibat penimbunan
lemak dan dipengaruhi oleh hormon-hormon ovarium. Struktur payudara laki-laki
hampir identik dengan yang ada pada payudara wanita, kecuali bahwa jaringan
payudara laki-laki tidak memiliki lobulus khusus, karena tidak ada kebutuhan
fisiologis untuk produksi air susu oleh payudara laki-laki. Seiring waktu, laki-laki
tidak memiliki pertumbuhan dan perkembangan payudara kompleks yang sama
seperti perempuan . Secara umum, payudara terdiri atas dua jenis jaringan, yaitu
jaringan glandular (kelenjar) dan jaringan stromal (penopang). Jaringan kelenjar
meliputi kelenjar susu (lobus) dan salurannya (ductus). Sedangkan jaringan
penopang meliputi jaringan lemak dan jaringan ikat. Selain itu, payudara juga
memiliki aliran limfe. Fungsi kelenjar payudara adalah untuk sintesis, sekresi, dan
ejeksi susu; fungsi-fugsi ini yang disebut laktasi, berhubungan dengan kehamilan
dan persalinan. Pada masa pubertas, tingkat testosteron yang tinggi dan tingkat
estrogen yang rendah menghentikan perkembangan payudara pada laki-laki.
Beberapa saluran susu ada, tetapi mereka tetap tidak berkembang dan lobulus
yang paling sering absen. Selama pubertas, yang dimulai pada usia 10-12 tahun,
hipofisis mensekresikan follicle- stimulating hormone (FSH) dan luteinizing
hormone (LH), menyebabkan pematangan folikel ovarium, yang kemudian
mengeluarkan estrogen.Hormon-hormon ini menyebabkan pertumbuhan dan
pematangan payudara dan organ genital. Estrogen mendorong pertumbuhan epitel
duktal pada payudara. Duktal terminal juga membentuk umbi dari Krause. Ada
juga kelenjar keringat apokrindan sebasea tetapi tidak folikel rambut.Tiap papilla
dikelilingi oleh daerah kulit yang berwarna lebih gelap yang disebut areola
mammae.2
Areola melingkar dan berpigmen, berukuran 15-60 mm dan terdapat tonjolan-
tonjolan halus yang merupakan tonjolan dari kelenjar areola di bawahnya. Jika
dilakukan perabaan pada payudara, akan terasa perbedaan di tempat yang
berlainan. Pada bagian lateral atas (dekat aksila), cenderung terasa bergumpal-
gumpal besar. Pada bagian bawah, akan terasa seperti pasir atau kerikil.
Sedangkan bagian di bawah puting susu, akan terasa seperti kumpulan biji yang
besar. Namun, perabaan ini dapat berbeda pada orang yang berbeda.2
Produksi susu distimulasi secara dominan oleh hormon prolaktin dari hipofisis
anterior, dengan kerjasama oleh progesteron dan estrogen. Ejeksi susu distimulasi
oleh oksitosin, yang dihasilkan dari hipofisis posterior sebagai respon menghisap
oleh bayi pada puting susu ibu. Payudara terdiri atas 15-20 lobus yang tersusun
radier dan berpusat pada papilla mamma. Saluran utama tiap lobus memiliki
ampulla yang membesar tepat sebelum ujungnya yang bermuara ke papilla.
Payudara melekat pada otot pektoralis mayor di antara iga kedua dan keenam.
Kelenjarnya melekat ke fascia otot pektoralis mayor dengan ligamen Cooper.
Ligamen ini melekatkan jaringan parenkim payudara ke fascia otot pektoralis
mayor sampai ke kulit bagian dermis. Ligamen ini tidak kaku sehingga payudara
dapat bergerak dengan alami. Ligamen ini akan semakin mengendur seiring
berjalannya usia.2
Suplai darah ke kulit payudara berasal dari pleksus subdermal, yang
berhubungan langsung dengan pembuluh darah yang lebih dalam di parenkim
payudara. Suplai darah tersebut bersumber dari : 2
a. Pembuluh darah mamaria interna
b. Arteri thoracoacromial
c. Pembuluh darah otot serratus anterior
d. Arteri thoracica lateral
e. Cabang terminal dari pembuluh darah intercosta ke tiga sampai ke delapan
2.3 Insiden
Trauma pada puting memiliki angka kejadian yang tinggi, terutama pada 30
hari postpartum. Karena hal ini merupakan kondisi yang menyakitkan, biasanya
hal ini menyebabkan gangguan pemberian ASI eksklusif. Di New York, 35%
wanita berhenti menyusui setelah 1 minggu setelah persalinan karena lecet pada
puting, dan 30 % wanita berhenti setelah 1 dan 4 minggu postpartum. Hal yang
sama terjadi di Brazil, 25% wanita beresiko tinggi mengalami gangguan dalam
pemberian ASI eksklusif pada bulan pertama laktasi ketika terdapat lecet pada
putting. Masalah-masalah menyusui yang sering terjadi adalah puting susu lecet
atau nyeri. Sekitar 57% dari ibu-ibu menyusui dilaporkan pernah menderita
kelecetan pada putingnya dan payudara bengkak.Payudara bengkak sering terjadi
pada hari ketiga dan keempat sesudah ibu melahirkan, karena terdapat sumbatan
pada satu atau lebih duktus laktiferus dan mastitis serta abses payudara yang
merupakan kelanjutan atau komplikasi dari mastitis yang disebabkan karena
meluasnya peradangan payudara. Sehingga dapat menyebabkan tidak
terlaksananya Air Susu Ibu (ASI) eksklusif .3

2.4 Etiologi
Ada beberapa penyebab terjadinya cracked nipple:4,5
 Kesalahan dalam teknik menyusui
Kesalahan dalam teknik menyusui, bayi tidak menyusui sampai areola
tertutup oleh mulut bayi. Bila bayi hanya menyusui pada puting susu, maka
bayi akan mendapatkan ASI sedikit, karena gusi bayi tidak menekan sinus
latiferus, sedangkan pada ibunya akan menjadi nyeri/lecet pada puting.

 Moniliasis (Infeksi Candida albicans)


Infeksi pada mulut bayi yang kemudian menular ke puting susu ibu

 Terkena paparan bahan


Sabun, krim, alkohol atau zat iritan lainnya untuk membersihkan puting
susu ibu.

 Bayi dengan tali lidah yang pendek


Bayi dengan tali lidah (frenulum lingual) yang pendek, sehingga
menyebabkan bayi sulit menghisap sampai ke areola dan isapan hanya pada
puting susu saja.

 Penggunaan breast pump yang kurang tepat


Penggunaan pada level suction yang tinggi dapat mencederai payudara.

2.5 Etiopatogenesis
Penyebab trauma adalah trauma mekanik akibat menyusui. Apabila aliran susu
menurun, tekanan intraoral dari bayi baru lahir akan meningkat karena daya
pengisapan bayi berlebihan, sehingga menyebabkan daerah papila mamae edema
dan kemerahan setelah menyusui. Penyebab aliran susu menurun sangat banyak,
salah satunya adalah posisi menyusui dan perlekatan yang tidak benar. Selain itu,
adanya fisura berkaitan dengan adanya pengaruh dari gaya gesek dan arah gaya
gesek terhadap kulit (papilla mammae).5

2.6 Patofisiologi
Terjadinya puting lecet di awal menyusui pada umumnya disebabkan oleh
salah satu atau kedua hal berikut: posisi dan pelekatan bayi yang tidak tepat saat
menyusu, atau bayi tidak mengisap dengan baik. Meskipun demikian, bayi
dapat belajar untuk mengisap payudara dengan baik ketika ia melekat dengan
tepat saat menyusu (mereka akan belajar dengan sendirinya). Jadi, proses
mengisap yang bermasalah seringkali disebabkan oleh pelekatan yang kurang
baik. Infeksi jamur yang terjadi di puting (disebabkan oleh Candida Albicans)
dapat pula menyebabkan puting lecet. Vasospasme yang disebabkan oleh iritasi
pada saluran darah di puting akibat perlekatan yang kurang baik dan/atau infeksi
jamur, juga dapat menyebabkan puting lecet. Rasa sakit yang disebabkan oleh
pelekatan yang kurang baik dan proses mengisap yang tidak efektif akan terasa
paling sakit saat bayi melekat ke payudara dan biasanya akan berkurang seiring
bayi menyusu. Namun jika lecetnya cukup parah, rasa sakit dapat berlangsung
terus selama proses menyusui akibat pelekatan kurang baik/mengisap tidak
efektif. Rasa sakit akibat infeksi jamur biasanya akan berlangsung terus selama
proses menyusui dan bahkan setelahnya. 6
Banyak ibu mendeskripsikan rasa sakit seperti teriris sebagai akibat
pelekatan yang kurang baik atau proses mengisap yang kurang efektif. Rasa sakit
akibat infeksi jamur seringkali digambarkan seperti rasa terbakar. Jika rasa sakit
pada puting terjadi padahal sebelumnya tidak pernah merasakannya, maka rasa
sakit tersebut mungkin disebabkan oleh infeksi Candida, meskipun infeksi
tersebut dapat pula merupakan lanjutan dari penyebab lain sakit pada puting,
sehingga periode tanpa sakit hampir tidak pernah terjadi. Retak pada puting
dapat terjadi karena infeksi jamur. Kondisi dermatologis (kulit) dapat pula
menyebabkan sakit pada puting. 6
2.7 Gambaran Klinis
Gambaran dan gejala klinis yang didapatkan pada cracked nipple:3,4
 Luka lecet kekuningan
 Kulit tampak terkelupas/ luka berdarah sampai mengakibatkan rasa sakit pada
saat menyusui
o Infeksi jamur  rasa sakit terbakar
o Perlekatan yg kurang baik  rasa sakit teriris
 Tampak lebih merah
 Terlihat retak

Puting susu yang lecet dan kemerahn disertai kulit Puting susu yang lecet dengan luka kulit yang
yang retak kekuningan

Puting susu yang lecet dan kemerahan dengan gumpalan bercak


darah

2.8 Diagnosis
 Anamnesis
Pasien mengeluh perasaan seperti teriris pisau atau terbakar. Pasien juga
mengatakan rasa nyeri pada puting terjadi saat awal menyusui dan akan
membaik seiring dengan waktu menyusuinya. Rasa nyeri dapat terjadi di awal
menyusui, dapat pula terjadi secara terus-menerus saat menyusui, bahkan
sampai saat setelah selesai menyusui. Rasa nyeri pada puting dapat dibagi
menjadi 2 penyebab yang sering. Jika terjadi nyeri karena puting lecet saat
awal menyusui dan membaik seiring dengan waktu menyusui biasanya
disebabkan oleh posisi dan perlekatan bayi yang kurang tepat saat menyusu,
atau bayi tidak menghisap puting dengan baik. Nyeri yang disebabkan oleh
perlekatan ini biasanya dirasakan seperti diiris dengan pisau. Lalu ada pula
nyeri yang dirasakan secara terus-menerus sebelum, saat, bahkan sampai
setelah menyusui. Nyeri ini biasanya disebabkan oleh infeksi. Infeksi yang
paling sering adalah infeksi jamur Candida albicans. Nyeri karena infeksi ini
biasanya dirasakan seperti rasa terbakar pada daerah puting susu.3,4

 Pemeriksaan fisik
 Pada inspeksi dapat ditemukan adanya lecet dan kemerahan pada daerah
puting susu, pada palpasi dapat ditemukan adanya nyeri tekan
 Pemeriksaan payudara bisa juga dilakukan dengan teknik SADARI.
SADARI sebaiknya dilakukan sebulan sekali, kira-kira satu minggu
setelah masa menstruasi karena disaat inilah payudara lebih lunak karena
pengaruh hormon. Wanita usia 20-an awal bisa memulai memeriksa
payudara sendiri.

2.9 Diagnosis Banding


 Mastitis
Mastitis merupakan suatu proses peradangan pada satu atau lebih segmen
payudara yang mungkin disertai infeksi atau tanpa infeksi. Dalam proses ini
dikenal pula istilah stasis ASI, mastitis tanpa infeksi, dan mastitis terinfeksi.
Apabila ASI menetap di bagian tertentu payudara, karena saluran tersumbat
atau karena payudara bengkak, maka ini disebut stasis ASI. Bila ASI tidak juga
dikeluarkan, akan terjadi peradangan jaringan payudara yang disebut mastitis
tanpa infeksi, dan bila telah terinfeksi bakteri disebut mastitis terinfeksi.
Mastitis sering didapatkan dengan gejala klinis berupa Demam dengan suhu
lebih dari 38,5oC, menggigil, nyeri atau ngilu seluruh tubuh, payudara menjadi
kemerahan, tegang, panas, bengkak, dan terasa sangat nyeri,peningkatan kadar
natrium dalam ASI yang membuat bayi menolak menyusu karena ASI terasa
asin, timbul garis-garis merah ke arah ketiak.8

 Ca mammae
Kanker payudara (Carcinoma mammae) dalam bahasa inggrisnya disebut
breast cancer merupakan kanker pada jaringan payudara. Kanker ini paling
umum menyerang wanita, Kanker ini terjadi karena pada kondisi dimana sel
telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya, sehingga
mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan tidak terkendali, atau
kanker payudara sering didefinisikan sebagai suatu penyakit neoplasma yang
ganas yang berasal dari parenchyma.
Deteksi dini ca mammae dapat dilakukukan dengan SADARI. SADARI
sebaiknya dilakukan sebulan sekali, kira-kira satu minggu setelah masa
menstruasi karena disaat inilah payudara lebih lunak karena pengaruh hormon.
Wanita usia 20-an awal bisa memulai memeriksa payudara sendiri.
Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dilakukan dalam tiga tahap, yaitu :

1. Melihat payudara
a. Pemeriksaan ini dilakukan di depan cermin
b. Bukalah seluruh pakaian dari pinggang ke atas dan berdirilah di depan
cermin yang besar
c. Lakukan dengan kedua tangan disamping tubuh
d. Perhatikan payudara :
 Apakah bentuk dan ukuran payudara kanan dan kiri simetris?
 Apakah payudara membesar atau mengeras?
 Apakah arah puting tidak lurus ke depan atau berubah arah?
 Apakah puting tertarik ke dalam?
 Apakah puting atau kulit ada yang lecet?
 Apakah ada perubahan warna kulit?
 Apakah kulit menebal dengan pori-pori melebar (seperti kulit
jeruk)
 Apakah permukaan kulit tidak mulus, ada kerutan atau cekungan?
e. Ulangi semua pengamatan diatas dengan posisi kedua tangan lurus
keatas.
f. Setelah itu, ulangi lagi pengamatan tersebut dengan posisi kedua
tangan di pinggang, dada di busungkan, dan siku tertarik ke belakang.

2. Memijat payudara
a. Dengan kedua tangan, pijat payudara dengan lembut dari tepi hingga
ke puting
b. Perhatikan apakah ada cairan atau darah yang keluar dari puting susu
(seharusnya, tidak ada cairan yang keluar kecuali pada wanita yang
sedang menyusui).

3. Meraba payudara
a. Pemeriksaan dilakukan dalam posisi berbaring
b. Lakukan perabaan payudara satu persatu
c. Untuk memeriksakan payudara kanan, letakkan bantal atau handuk
yang dilipat dibawah bahu kanan. Lengan kanan direntangkan
disamping kepala atau diletakkan dibawah kepala.
d. Raba payudara dengan menggunakan tiga atau empat jari tangan kiri
yang saling dirapatkan
e. Rabaan dilakukan dengan gerakkan memutar dari tepi payudara
hingga keputing susu
f. Geser posisi jari, kemudian lakukan lagi gerakkan memutar dari tepi
payudara hingga keputing susu
g. Lakukan seterusnya hingga seluruh bagian payudar diperiksa
h. Lakukan hal yang sama pada payudara yang satunya lagi
i. Sebaiknya perabaan dilakukan dalam tiga macam tekanan: tekanana
ringan untuk meraba adanya benjolan dipermukaan kulit, tekanan
sedang untuk memeriksa adanya benjolan ditengah jaringan payudara,
dan tekanan kuat untuk meraba benjolan di dasar payudara yang
melekat pada tulang iga.
j. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan menggunakan lotion atau
minyak sebagai pelicin agar pemeriksaan lebih sensitif
Setelah itu, dilakukan semua langkah perabaan dalam posisi berdiri.
Sebaiknya dilakukan saat sedang mandi (dengan menggunakan sabun).

2.10 Penatalaksanaan
Penanganan – sebelum menyusui
 Sebelum menyusui bayi kompres payudara dengan kompres dingin,dengan
mengkompres bagian yang terluka dapat mengurangi rasa sakit terutama saat
perlekatan awal.
 Periksa apakah bayi menderita infeksi jamur atau tidak  jika ada  dapat
diberikan antijamur seperti nistatin

Penanganan – saat menyusui


 Bayi harus disusukan terlebih dahulu pada puting yang normal yang lecetnya
lebih sedikit dan untuk menghindari payudara yang bengkak ASI dapat
dipompa dan disusukan pada bayi lewat sendok atau pipet.
 Harus yakin bahwa teknik menyusui benar
 Posisi perlekatan yang paling baik adalah pada bagian tengah payudara dengan
bagian areola bawah lebih banyak masuk ke mulut bayi
 Menyusui lebih sering (8-12 kali dalam 24 jam) sehingga payudara tidak
sampai terlalu penuh dan bayi tidak begitu lapar juga tidak menyusu terlalu
rakus,kurangi durasi menyusui pada payudara yang lecet
 Gunakan posisi yang berbeda, dengan mencoba beberapa posisi menyusui ibu
dapat mendapatkan posisi yang sesuai dan nyaman untuk bayi dan ibu.
Penanganan – setelah menyusui
 Setiap kali selesai menyusui bekas ASI tidak perlu dibersihkan, tapi diangin-
anginkan sebentar agar melembutkan puting sekaligus sebagai anti infeksi dan
pada puting susu dapat diberikan lanolin atau minyak kelapa.
 Bilasan Air Garam
Tipe spesial dari air garam ini dinamakan Normal Saline. Larutan ini
mempunyai konsentrasi garam yang sama dengan air mata. Jadi, tidak
menyakitkan untuk digunakan.
1) Setelah menyusui, rendam puting susu dalam larutan garam yang hangat
beberapa menit sampai rata mengenai seluruh area puting.
2) Hindari perendaman yang terlalu lama (lebih dari 5-10 menit) karena dapat
menyebabkan super-hidrasi pada kulit yang menyebabkan lecet semakin
parah dan memperlambat penyembuhan.
3) Keringkan dengan hati-hati menggunakan handuk yang lembut.
4) Jika bayi terganggu dengan rasa asin dari sisa larutan garam, bilas terlebih
dahulu dengan air putih dan keringkan kembali sebelum menyusui.
 Setelah Membilas Dengan Air Garam
1) Untuk menjaga kelembaban kulit dalam tanpa menyebabkan kulit luar
puting basah, gunakan salep lanolin (Lansinoh, Purelan, dsb), vaseline
atau hydrogel (Comfort Gel, Soothies, dsb).
2) Jika terdapat infeksi jamur, gunakan salep anti jamur.
3) Jika diperlukan, gunakan salep antibiotik atau All Purpose Nipple
Ointment (berisi antibiotik, anti-inflamasi, dan anti –jamur) setelah
menyusui.

Penanganan – Diantara Waktu Menyusui


o Biarkan puting susu terkena udara selama memungkinkan. Gunakan “Nipple
Shells” jika perlu untuk melindungi puting dari kelembaban dan gesekan.
o Jika ada luka (bekas gigitan, dsb) kompres dengan es yang dibungkus dengan
kain, selama 20 menit on, 20 menit off, dan ulangi seperlunya.
o Dapat digunakan obat analgetik yang aman bagi ibu menyusui untuk
mengurangi nyeri.

2.11 Edukasi
Edukasi mengenai prinsip dasar menyusui yaitu teknik benar, ibu rileks dan
percaya diri saat menyusui.
Penilaian proses menyusui:10
 B= Body Position : Rileks, nyaman, ibu memegang seluruh tubuh bayi,
kepala tegak lurus, dagu bayi menyentuh payudara, seluruh tubuh bayi
menghadap ibu, payudara ibu mendekati bayi, bukan bayi mendekati
payudara ibu.
 R= Response : Bayi mencari puting, menghisap tenang, dan asi keluar.
Isapan bayi lambat dan tenang, ada jeda diantara isapan, ada gerakan menelan
dari bayi.
 E= Emotion : Ibu merangkul dengan yakin, atensi ibu baik (menatap bayi).
 A= Anatomi : Payudara lunak setelah menyusui dan terasa lebih ringan
 S= Suckling : Isapan bayi, kekuatan normal. Kelekatan mulut bayi yang baik:
- Dagu menyentuh payudara
- Mulut bayi terbuka lebar
- Bibir Bawah keluar
- Areola mammae sedikit terlihat, biasanya bagian bawah tidak terlihat,
bagian atas sedikit terlihat.
 T= Time : 15-20 menit bayi akan melepas sendiri apabila teknik dan posisi
menyusui benar.

Langkah Menyusui yang Benar


1. Cuci tangan yang bersih dengan sabun, perah sedikit ASI dan oleskan
disekitar puting, duduk dan berbaring dengan santai.
2. Bayi diletakan menghadap ke ibu dgn posisi sanggah seluruh tubuh bayi,
jangan hanya leher dan bahu saja tapi kepala dan tubuh bayi lurus,
hadapkan bayi kedada ibu sehingga hidung bayi berhadapan dgn puting
susu, dekatkan badan bayi ke badan ibu menyentuh bibir bayi ke puting
susunya dan menunggu sampai mulut bayi terbuka lebar

3. Segera dekatkan bayi ke payudara sedemikian rupa sehingga bibir bawah


bayi terletak dibawah puting susu. Cara melekatkan mulut bayi dengan
benar yaitu dagu menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar
dan bibir bawah bayi membuka lebar
 Cara pengamatan teknik menyusui yang benar
Menyusui dengan teknik yang tidak benar dapat mengakibatkan
putting susu menjadi lecet, ASI tidak keluar optimal sehingga,
mempengaruhi produksi ASI selanjutnya atau bayi enggan menyusu.

 Tanda menyusui yang benar


- Bayi tampak tenang
- Badan bayi menempel pada perut ibu
- Mulut bayi terbuka lebar
- Dagu bayi menempel pada payudara ibu
- Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih
banyak yang masuk
- Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan
- Puting susu tidak terasa nyeri
- Telinga dan lengan bayi terletak pada 1 garis lurus
- Kepala bayi agak menengadah
2.12 Komplikasi
 Mastitis
 Abses payudara

Infeksi Payudara (Mastitis) adalah suatu infeksi pada jaringan payudara. Pada
infeksi yang berat atau tidak diobati, bisa terbentuk abses payudara (penimbunan
nanah di dalam payudara).  Abses payudara merupakan komplikasi yang terjadi
akibat peradangan payudara kronik. Dapat disebabkan oleh infeksi bakteri,
perembesan sekresi melalui fisura di putting, dan dermatitis yang mengenai
puting.8

2.13 Prognosis
Puting susu lecet/luka harus segera ditangani dengan baik, karena jika
dibiarkan saja akan memudahkan terjadinya infeksi pada payudara (mastitis).
BAB III

KESIMPULAN

Cracked nipple (puting susu lecet) merupakan perlukaan pada puting susu yang
disebabkan karena trauma pada puting susu saat menyusui, kadang kulitnya sampai
terkelupas atau luka dan berdarah.1
Penyebab utama cracked nipple merupakan trauma mekanik akibat menyusui.
Apabila aliran susu menurun, tekanan intraoral dari bayi baru lahir akan meningkat
karena daya pengisapan bayi berlebihan, sehingga menyebabkan daerah papila
mamae edema dan kemerahan setelah menyusui. Penyebab aliran susu menurun
sangat banyak, salah satunya adalah posisi menyusui dan perlekatan yang tidak
benar. Selain itu, adanya fisura berkaitan dengan adanya pengaruh dari gaya gesek
dan arah gaya gesek terhadap kulit (papilla mammae).5
Diagnosis mastitis biasanya ditegakkan secara klinis. Pasien dengan gejala yang
terlokalisir, Jika terjadi nyeri karena puting lecet saat awal menyusui dan membaik
seiring dengan waktu menyusui biasanya disebabkan oleh posisi dan perlekatan
bayi yang kurang tepat saat menyusu, atau bayi tidak menghisap puting dengan
baik. Infeksi yang paling sering adalah infeksi jamur Candida albicans. Nyeri
karena infeksi ini biasanya dirasakan seperti rasa terbakar pada daerah puting susu.
Pada inspeksi dapat ditemukan adanya lecet dan kemerahan pada daerah puting
susu, pada palpasi dapat ditemukan adanya nyeri tekan.3,4
Penatalaksanaan sebelum menyusui bayi kompres payudara dengan kompres
dingin,dengan mengkompres bagian yang terluka dapat mengurangi rasa sakit
terutama saat perlekatan awal. Untuk menjaga kelembaban kulit dalam tanpa
menyebabkan kulit luar puting basah, gunakan salep lanolin (Lansinoh, Purelan,
dsb), vaseline atau hydrogel (Comfort Gel, Soothies, dsb). Jika terdapat infeksi
jamur, gunakan salep anti jamur. Jika diperlukan, gunakan salep antibiotik atau All
Purpose Nipple Ointment (berisi antibiotik, anti-inflamasi, dan anti –jamur) setelah
menyusui.5,7
DAFTAR PUSTAKA

1. Buchanan P. 2002. Assessing the Evidence: Cracked Nipples and Moist Wound
Healing. The Breastfeeding Network
2. Sherwood, Lauralee. 2012. Fisiologi manusia dari Sel ke Sistem Edisi 6.
Jakarta:EGC
3. Santos, et al. 2016. Prevalence and factors associated with cracked nipples in the
first month postpartum. BMC Pregnancy and Childbirth
4. Tait, Prscilla, et al. 2000. Nipple Pain in Breearfeeding women: Causes,
Treatment, and Prevention Strategies. Journal of Midwifery & Women’s Health.
5. Kent, Jacqueline C., et al. 2015. Nipple Pain in Breatfeeding Mothers: Incidence,
Causes and treatments. International Journal of Enviromental Research and Public
Health.
6. Saleha, 2009. Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas. Jakarta : Salemba Medika. Hal
102-105
7. Martin J. 2012. “Nipple Pain: Causes, Treatments, and Remedies”. Leaven.
36(1):10-11.
8. Inch Sally. 2003. Mastitis Penyebab & Penatalaksanaannya. Jakarta:Widya
Medika
9. Nipple Pain and breastfeeding, Fact sheet for Health Care Professionals. 2016.
Health Service Executive
10. Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan Edisi keempat. Jakarta: PT Bina
Pustaka Sarwono Prawirohardjo