Anda di halaman 1dari 6

TUGAS OBGYN

SUBINVOLUSI UTERI

Disusun Oleh :

Melinda Anastasya Irene Bella (20160811014006)

Dosen Pengampu :

dr. Josef William Wattimury, Sp.OG

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS CENDERAWASIH

2020
A. PENDAHULUAN

Involusi merupakan proses dimana rahim dan organ genital lainnya kembali ke
keadaan normal pra-hamil pada periode postpartum setelah melahirkan janin. Bukan
hanya rahim yang kembali ke ukuran pra-hamil, tetapi juga rongga panggul kembali ke
posisi normal dan mendapatkan kembali kekuatan ototnya. Vagina, ligamen uterus dan
otot-otot dasar panggul juga semua kembali pada keadaan pra-hamil.1
Involusi uterus yang tidak lengkap merupakan komplikasi umum postpartum.
Dalam keadaan normal, setelah melahirkan, karena kontraksi rahim kontraksi serat otot
dan peran lumen pembuluh darah stenosis atau trombosis dalam otot, sehingga pasokan
darah lokal menurun, rahim sel-sel otot iskemia autolisis bertahap dikurangi, mengurangi
sitoplasma, sehingga volume uterus secara signifikan berkurang. Pemulihan uterus pada
postpartum menjadi keadaan pra-hamil biasanya 5 sampai 6 minggu. Jika terjadi fungsi
involusi ini terganggu disebut sebagai subinvolusi uterus.1

B. DEFINISI
Subinvolusi merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan kemunduran
yang terjadi pada setiap organ dan saluran reproduktif,kadang lebih banyak mengarah
secara spesifik pada kemunduran uterus yang mengarah ke ukurannya. Pada keadaan ini
uterus gagal untuk mengikuti pola normal involusi/proses involusi rahim tidak berjalan
sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilan uterus terhambat.
Subinvolusi adalah kegagalan perubahan fisiologis pada sistem reproduksi pada
masa nifas yang terjadi pada setiap organ dan saluran  yang reproduktif.
Sehingga pada subinvolusi terjadi kegagalan rahim untuk kembali ke keadaan tidak
hamil. Penyebab paling umum adalah infeksi plasenta.2

C. ETIOLOGI
Penyebab subinvolusi uterus antara lain
 Faktor Plasenta : Plasenta, residu membran janin, decidua tidak lengkap, daerah plasenta
terlalu besar (seperti kehamilan ganda, plasenta previa, dll) mempengaruhi involusi
uterus, karena kontraktilitas otot uterus menurun secara signifikan.
 Faktor Uterus : Endometritis, myositis rahim atau infeksi panggul, fibroid rahim, seperti
fibroid rahim intramural, adenomioma. Setelah fleksi uterus yang berlebihan atau lateral
bending, lokia terdampar di rongga rahim.
 Jika rahim tidak benar-benar kosong setelah melahirkan dan ada produk konsepsi seperti
potongan-potongan plasenta atau selaput, involusi dapat terhambat. Ini juga dapat
membentuk fokus infeksi dan menyebabkan infeksi postpartum.
 Persalinan lama sehingga terjadi kelelahan otot rahim dan penundaan penyembuhan,
yang mengarah ke subinvolusi.
 Beberapa kehamilan seperti kehamilan kembar atau triplet menyebabkan peregangan
berlebihan dari serat otot dan ini mungkin memakan waktu lebih lama dari biasanya
untuk kembali ke keadaan normal.
 Infeksi postpertum, Infeksi dapat menunda penyembuhan dan involusi.
 Jika kandung kemih tidak sepenuhnya dikosongkan, rahim mungkin tampak pada tingkat
yang lebih tinggi dari normal dan diagnosis yang salah dari subinvolusi dibuat. rahim
harus selalu diukur setelah kandung kemih telah dikosongkan.1,2

D. PATOFISIOLOGI
Selain kontraksi dan retraksi yang cukup lama, pengurangan aliran darah yang
menuju ke uterus di dalam perut ibu hamil akibat uterus harus membesar menyesuaikan
diri dengan pertumbuhan janin yang mengakibatkan kekurangan darah pada uterus.
Untuk memenuhi kebutuhannya, darah banyak dialirkan keuterus dapat mengadakan
hipertropi dan hiperplasi setelah bayi dilahirkan tidak diperlukan lagi, maka pengaliran
darah berkurang, kembali seperti biasa. Demikian dengan adanya hal-hal tersebut uterus
akan mengalami kekurangan darah sehingga jaringan otot-otot uterus mengalami atrofi
kembali ke ukuran semula.2

Subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh


darah yang lebar tidak menutup sempurna, sehingga pendarahan terjadi terus menerus,
menyebabkan permasalahan lainya baik itu infeksi maupun inflamasi pada bagian rahim
terkhususnya endromatrium. Sehingga proses involusi yang mestinya terjadi setelah nifas
terganggu karena akibat dari permasalah-permasalahan diatas.3
E. MANIFESTASI KLINIS
Biasanya tanda dan gejala subinvolusi tidak tampak,sampai kira-kira 4 – 6
minggu pasca nifas.
a. Fundus uteri letaknya tetap tinggi didalam abdomen/pelvis dari yang
diperkirakan/penurunan fundus uteri lambat dan tonus uterus lembek.
b. Keluaran lochia seringkali gagal berubah dari bentuk rubra ke bentuk serosa,lalu
kebentuk lochia alba.
c. Lochia bisa tetap dalam bentuk rubra dalam waktu beberapa hari
postpartum/lebih dari 2 minggu pasca nifas
d. Lochia bisa lebih banyak daripada yang diperkirakan
e. Leukore dan lochia berbau menyengat,bisa terjadi jika ada infeksi.
f. Pucat,pusing,dan tekanan darah rendah
g. Bisa terjadi perdarahan postpartum dalam jumlah yang banyak (>500 ml)
h. Nadi lemah,gelisah ,letih,ekstrimitas dingin.2

F. DIAGNOSA
a. Anamnesa
Keluar darah dari vagina berbau menyengat dan suhu tubuh meningkat
b. Pemeriksaan fisik
1) Terlihat pucat
2) Suhu tubuh tinggi
3) Uterus tidak berkontraksi
4) Letak fundus uteri tetap tinggi atau penurunan fundus uteri lambat
c. Pemeriksaan penunjang
 USG; untuk mengindentifikasi fragmen yang tertahan didalam uterus
 Radiologi
 Laboratorium (Hb.golongan darah, eritrosit, leukosit, trombosit, hematokrit,
CT, Blooding time)4
G. PENATALAKSANAAN

Uterus involusi insufisiensi, harus diberikan uterotonika. Obat yang paling sering
digunakan adalah: ergometrine 0.2- 0.4mg, 2 kali/hari intramuskuler; oksitosin 10-20U, 2
kali/hari, intramuskular; ergot 2ml fluidextract 3 kali/hari, secara oral. Obat-boat tersebut
harus terus digunakan minimal 2 sampai 3 hari.
Jika terjadi infeksi ringan miometrium, itu harus diberikan sefaleksin 1g oral dan
metronidazole 0,2 g, 4 kali/hari secara oral, dan bahkan dua hari setelah kuretase line,
untuk menghindari penyebaran infeksi. Pasien harus diberikan uterotonika untuk
kontraksi rahim dan pemberian antibiotik spektrum luas terus dilanjutkan selama 1
sampai 2 hari.
Jika setelah beberapi hari diberikan terapi farmakologi tidak ada perubahan dan
disertai perdarahan pervaginam yang banyak, dapat dilakukan histerektomi.5

H. PENCEGAHAN
Pencegahan terjadinya subinvolusi uterus adalah melakukan pengecekan
perkembangan nifas dan ibunya, baik dari segi kesehatan dan fungsinya, sejak awal
mulainya proses nifas dalam kandungan ibu. Sehingga pemeriksaan terhadap bagian-
bagian yang berpengaruh dalam proses nifas bisa di lihat perkembanganya.
Dan khusus untuk wanita yang mengalami proses nifas harus sering
mengkomsumsi zat-zat yang bergizi atau berguna untuk kesehatan bayi dan ibunya itu
sendiri dan masih banyak cara-cara untuk melancarkan proses nifas antara lain: senam
ibu hamil, vitamin dan lain-lain.2

I. KOMPLIKASI

Subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus menurun sehingga pembuluh


darah yang lebar tidak menutup sempurna, sehingga perdarahan terjadi terus menerus.
Perdarahan postpartum (PPH) merupakan perdarahan vagina yang lebih dari 24 jam
setelah melahirkan. Penyebab utama adalah subinvolusi uterus. Yakni kondisi dimana
uterus tidak dapat berkontraksi dan kembali kebentuk awal. Ketika miometrium
kehilangan kemampuan untuk berkontraksi, pembuluh rahim mungkin berdarah secara
luas dan menyajikan situasi yang mengancam jiwa mengharuskan histerektomi.5

J. PROGNOSIS

Prognosis baik apabila tindakan segera dilakukan serta perdarahan akibat


subinvolusi uteri segera dihentikan.4

DAFTAR PUSTAKA
1. Mazumdar, 2014. Involution [Online]. Available at: http://gynaeonline.com/involution.htm
2. Cunningham, F. Gary . 2012. Obstetri Williams volume 1 edisi 23. Jakarta : EGC
3. Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu kebidanan. 2010. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Pillitteri,
Adele.. EGC. Jakarta
4. Weydert, J., 2006. Subinvolution of the Placental Site as an Anatomic Cause of Postpartum
Uterine Bleeding [pdf]. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17090198
5. Petrovitch, I., 2009. Subinvolution of the Placental Site [pdf]. Available at:
http://www.jultrasoundmed.org/content/28/8/1115.full