Anda di halaman 1dari 17

6.3.

6 Proses discharge dan discharge-resist pada serat poliester

Warna dasar diaplikasikan menggunakan pewarna dispersi yang dipilih, sedangkan warna-
warna cerah dipilih pewarna dispersi etsa-rintang. Zat perusak dapat berupa zat pereduksi atau
alkali.

Resep 6.3

Etsa putih

- Tiourea dioksida : 100 – 200 gram


- Pengental (crystal gum, gum arabic, dll) : 500 gram
- Tiodiglikol : 50 gram
- Air : 100 gram
(1000 gram)

Etsa warna diperoleh dengan menambahkan pewarna dispersi, dasar atau pewarna bejana
untuk pasta di atasnya.
Catatan :
1. Jika warna induk yang sangat cerah diperlukan zat warna dasar bisa digunakan, tetapi sifat
tahan lunturnya terbatas pada serat ini.
2. Pewarna dispersi non etsa lebih sering digunakan daripada pewarna bejana untuk warna
induk, untuk menghindari proses oksidasi yang cepat. Kisaran terbesar pewarna dispersi
yang stabil sebagai pereduksi tersedia ketika timah (II) klorida digunakan, karena proses
pencapan lebih suka untuk tidak menggunakan timah (II) klorida, bagaimanapun, warna
agak kekuningan sering diperoleh. Tiourea dioksida adalah pereduksi yang paling dapat
diterima. Dalam prakteknya formaldehida sering ditambahkan (50 g kg-1) karena warna
yang diperoleh lebih stabil.
3. Serat campuran diasetat dan nylon dapat digunakan untuk pencapan etsa dengan cara
yang sama, tetapi pencelupan nylon lebih sulit untuk proses etsa daripada diasetat, dan
efisiensi pencapan etsa berkurang dengan meningkatkan proporsi nylon dalam serat
campuran.

Resep 6.4

Etsa putih Etsa warna


Tiourea dioksida 100-150 gram 100-150 gram
Pengental 500 gram 500 gram
Tiodiglikol 50 gram 50 gram
Air 100 gram 100 gram
Pewarna discharge-resist x gram
Carrier 20 gram
(1000 gram) (1000) gram

Catatan :

1. Pencapan etsa pada serat triasetat lebih sulit daripada serat asetat sekunder karena serat
lebih hidrofobik dan kristalisasinya lebih tinggi. Ini sangat sulit untuk zat pereduksi
berpenetrasi ke dalam serat dan merusak warna, dan selanjutnya hasil reduksi sulit
dihilangkan. Ini menjelaskan kondisi yang relatif parah yang digunakan pada semua tahap
proses. Karena masalah yang dihadapi, pencapan etsa-rintang lebih sering disukai, seperti
yang dijelaskan pada paragraf berikutnya untuk bahan poliester.
2. Pada kain campuran triasetat-nylon, rekomendasi di atas berlaku, tetapi dengan
meningkatnya jumlah nylon, hasil yang diinginkan lebih sulit diperoleh.

Pewarna yang telah berdifusi ke dalam serat poliester dalam pencelupan konvensional hampir
tidak mungkin untuk proses etsa, karena sifat hidrofobik serat poliester membuat penetrasi zat
pereduksi dan menghilangkan sisa pewarna dispersi menjadi sangat sulit. Hasil yang diperoleh
tidak dapat diterima secara komersial kecuali untuk kain ringan. Akibatnya penolakan proses
etsa-rintang berkembang.

Kain poliester di pad dengan pewarna dispersi yang bisa digunakan untuk proses etsa, dengan
pad mangle atau lick roller, dan dikeringkan pada suhu rendah untuk menjaga warna pada
permukaan serat. Pasta etsa mengandung Cl Reducing Agent 6 atau timah (II) klorida yang
dicap pada kain dan warna dirusak selama pengeringan dan proses selanjutnya (resep 6.5).
Fiksasi yang aman adalah steaming pada suhu rendah (102°C), dimana tidak akan memfiksasi
warna dasar, diikuti oleh fiksasi warna dasar dan warna cerah dengan suhu tinggi.

Metode alternatif untuk memproduksi pencapan etsa-rintang menggunakan alkali dengan


pewarna dispersi yang mengandung kelompok diester [6]. Kelompok ini menghidrolisis adanya
alkali untuk memproduksi garam karboksilat yang larut dalam air (skema 6.7). Natrium
karboksilat yang larut tidak mempunyai afinitas untuk serat poliester. Dalam prakteknya,
pewarna dispersi diester di padding di kain, pengeringan suhu rendah dan kemudian pencapan
tumpang dengan pasta yang mengandung alkali. Seperti halnya proses yang melibatkan zat
pereduksi dibandingkan alkali, fiksasi dengan cara steaming suhu tinggi diikuti dengan proses
cuci reduksi.
(Reaksi dibuku) (skema 6.7)

Sebuah variasi, kelihatannya metode pencapan rintang tetapi faktanya teknik etsa-rintang yang
menggunakan pewarna disperse diester, yang dikembangkan pada tahun 1980 [7]. Proses ini
menggunakan bahan polimerisasi Natrium Silikat yang larut dengan nilai pH berbeda. Dalam
prosesnya, warna cerah dipolimerisasi secara lokal ketika dalam proses wet-on-wet dengan
corak dasar, dimana mengandung pewarna disperse diester dan nonvolatile acid (Resep 6.6)
[8]. Natrium silikat dalam pewarna induk bewarna cerah memiliki tingkat tertentu (ICI Mond
Division grade 0100) untuk meningkatkan efektifitas maksimum.

Untuk definisi terbaik, kain dikeringkan secepat mungkin, dan difiksasi dengan cara steam pada
suhu tinggi selama 6-8 menit pada suhu 165-175°C. Sesudah pencucian dingin, lalu pencucian
reduksi alkali untuk menghilangkan carrier, diikuti pencucian panas dan pencucian dingin.

Pencapan etsa kain ringan poliester

Dengan berkembangnya kain ringan poliester, masalah muncul dengan menggunakan


pencapan etsa-rintang konvensional tentang pencapan pada garis halus, penuru dan pewarna
yang bermigrasi. Akibatnya proses baru diperkenalkan berdasarkan pada pewarna dispersi
diester dengan zat pengetsa alkali dan dua produk zat pembantu, Zetex PN-AD (Zeneca)
(campuran produk teretoksilasi dan poliol) dan Zetex PN-DG (Zeneca) (berdasarkan produk
etoksilasi) [8]. Produk – produk ini dikatakan memberikan sinergis campuran zat pembantu
yang memungkinkan untuk proses baru. Dengan menggunakan Wyoming Bentonite yang
dicampurkan pada pengental konvensional, garis halus dapat diperoleh dalam desain.
Pengental mengandung Natrium Alginat yang tidak direkomendasikan.

Resep 6.5

Pad liquor untuk warna dasar


Pewarna dispersi x gram
(dischargeable)
Air (20-30°C) y gram
Pengental (locust bean eter) 100 – 500 gram
Pembasah 2 gram
Garam perintang (1:2) 30 gram
Dengan zat pereduksi Dengan alkali
Pasta pencapan rintang putih
Pengental locust bean eter 500 gram 500 gram
Zinc formaldehyde 80 – 150 gram
sulphoxylate
NaOH (38°Be) 50-80 gram
Discharge-stable FBA 5 gram
Carrier 10 gram
Polietilena glikol (r.m.m 300 – 50 – 80 gram
400)
Gliserol 5 – 80 gram
(1000 gram) (1000 gram)

Pasta pencapan rintang


warna cerah
Pewarna disperse etsa- x gram x gram
rintang
Air 40°C 200 gram 200 gram
Pengental locust bean eter 500 gram 500 gram
Zinc formaldehyde 60 – 120 gram
sulphoxylate
Polietilena glikol (r.m.m 400) 50 gram
Urea 20 gram
Carrier

Catatan :

1. Timah (II) Klorida boleh digunakan sebagai alternatif zat pereduksi.


2. Formaldehid (metanal) ditambahkan untuk menstabilkan zat pereduksi sesudah proses
pencapan, tetapi sebelum proses steaming.
3. Urea telah ditemukan untuk melindungi beberapa pewarna etsa-rintang, terutama pewarna
antrakuinon pink dan biru, dari serangan zat pereduksi.
4. Untuk mencegah pewarna berdifusi ke dalam serat sebelum proses etsa terjadi, proses
fiksasi dengan cara steaming suhu rendah harus didahulukan. Dari tiga metode alternatif
yang dijelaskan di bawah ini, dua yang pertama lebih disukai. Metode ketiga digunakan
hanya ketika steamer suhu tinggi tersedia.
a. Awalnya, untuk merusak pewarna etsa, kain di steaming selama 5 menit dengan
tekanan atmosfir. Tekanan kemudian dinaikkan mencapai 140 kPa (21 lbf in-2) dan
steaming dilakukan selama 20 menit untuk memfiksasi warna cerah dan warna dasar
pada proses etsa-rintang.
b. Steam selama 5 – 8 menit dengan tekanan atmosfir dalam uap jenuh dan kemudian
selama 6 – 8 menit pada suhu 175 - 180°C dalam uap jenuh yang sangat panas.
c. Proses etsa dan fiksasi dalam steaming suhu tinggi selama 6 – 7 menit dengan suhu
175 -180°C
Resep 6.6

Pencapan warna cerah

- Pengental : 500 – 600 gram


- Gliserin : 60 – 80 gram
- Polietilena glikol (r.m.m 300) : 60 – 80 gram
- Natrium silikat : 160 gram
- Alkali-stable FBA (white only) : 5 – 15 gram
- Alkali-stable disperse dye : x gram
- Air : y gram
(1000 gram)

Pencapan warna dasar

- Pengental natrium alginat : 350 – 500 gram


- Asam sitrit : 5 gram
- Pewarna dispersi diester (pH 4,5) : x gram
- Air : y gram
(1000 gram)

Pewarna konvesional kain ringan direkomendasikan menggunakan pewarna dispersi diester


dan sesudah pencucian, menggunakan suhu rendah untuk menghilangkan kusut. Pencapan
dilakukan menurut resep 6.7.

Resep 6.7

Putih Warna
Pengental 400 – 600 gram 400 – 600 gram
Matexil PN-AD (Zeneca) 120 – 200 gram 120 – 180 gram
Matexil PN-DG (Zeneca) 60 – 100 gram 60 – 80 gram
Natrium karbonat 60 – 80 gram 60 – 80 gram
Alkali-stable FBA 5 – 15 gram
Alkali-stable disperse dye x gram
(1000 gram) (1000 gram)

Fiksasi dan proses etsa dilakukan secara simultan pada corak warna dasar dengan cara
steaming selama 6 – 8 menit pada suhu 175 - 185°C, diikuti dengan proses pencucian yang
digabungkan dengan proses cuci reduksi. Proses ini tergantung pada pewarnaan kain dan
konstruksi kain, dan itu penting untuk melakukan uji coba awal sebelum memulai produksi
massal.

6.4 Pencapan rintang

Resist atau pencapan rintang berkaitan dengan pencapan etsa karena hasil akhirnya seringkali
tidak dapat dibedakan. Desain pencapan rintang, bagaimanapun, menawarkan keuntungan
pewarna yang stabil, dimana tidak dapat dirusak, dapat digunakan untuk pencapan rintang
dengan memberikan hasil tahan luntur yang tinggi.

Pembenaran untuk kedua metode ini terletak pada daya tarik estetika dari pencapan putih atau
pencapan warna, efek tersebut sering tidak dapat diproduksi ulang dengan teknik lain.
Perbedaannya, oleh karena itu, antara pencapan etsa dan pencapan rintang, bukan dari hasil
kain pencapan yang terlihat, tetapi dari proses. Dalam pencapan etsa, zat perusak diaplikasikan
pada kain sesudah kain dicelup dan warna dirusak pada motif yang telah dibuat selama proses
selanjutnya. Dalam pencapan rintang, zat perintang dicapkan pada kain yang tidak dicelup dan
secara efektif mencegah fiksasi atau pembangkitan warna dasar, dimana diterapkan pada
aplikasi dengan teknik “pewarnaan” yang tepat seperti pencelupan, padding atau pencapan
tumpang. Hasilnya bisa berupa rintang putih atau rintang warna, dimana pewarna atau pigmen
warna yang dipilih ditambahkan pada pasta perintang dan menjadi terfiksasi pada serat selama
proses selanjutnya.

Hampir setiap kelas pewarna mampu dirintangi, seperti yang dibuktikan dengan mengacu pada
publikasi yang lebih tua pada pencapan tekstil [1]. Banyak teknik yang mereka gambarkan
terlalu rumit dan memakan waktu untuk kepentingan komersial saat ini, tetapi mereka
menggambarkan ruang lingkup desain yang luas, dengan ketentuan bahwa ia memiliki sedikit
pengaplikasian pada kain sintetis.

Zat perintang digunakan, kemudian seperti sekarang, berfungsi baik secara mekanis atau kimia
atau, kadang-kadang, keduanya.

Zat perintang mekanis meliputi lilin, lemak, resin, pengental dan pigmen, seperti China Clay,
zink oksida dan titanium oksida, dan timbal sulfat dan barium. Zat perintang mekanis semacam
itu hanya membentuk penghalang fisik antara kain dan pewarna. Mereka terutama digunakan
untuk pencapan kuno, bermutu rendah dan, mungkin, lebih dekoratif dimana efeknya lebih luas
dan bervariasi pada area motif yang dirintangi daripada ketajaman motif pada pola. Contoh
klasik, dan saat ini hampir unik, dari zat perintang mekanis dapat ditemukan dalam desain batik,
menggunakan lilin yang diaplikasikan dalam keadaan cair.

Dalam batik sejati lilin diaplikasikan menggunakan tangan, tetapi prosesnya telah
dikembangkan dan dimekanisasi untuk produksi desain - desain yang sekarang berada di
bawah general kepala 'Afrika prints'. Tidak mungkin untuk mengaplikasikan warna yang cerah
dengan zat perintang lilin tetapi, setelah penghilangan lilin, warna lain dapat dicap dalam area
motif yang dirintangi. Desain ini sering berada di luar pengalaman sebagian besar pencapan
komersial dan akan dibahas secara lebih rinci di bagian 6.5.1. Zat perintang mekanis biasanya
digunakan bersamaan dengan zat perintang kimia, sehingga meningkatkan efek secara
keseluruhan.

Zat perintang kimia meliputi berbagai senyawa kimia, seperti asam, basa, berbagai garam, dan
zat pengoksidasi dan zat pereduksi. Zat perintang tersebut mencegah fiksasi atau
pembangkitan warna dasar dengan bereaksi secara kimia dengan pewarna atau dengan
reagen yang diperlukan untuk fiksasi atau pembangkitannya. Oleh karena itu, pilihan zat
perintang kimia yang sebenarnya tergantung pada pewarna yang digunakan dan mekanisme
fiksasinya. Akibatnya, seperti dalam pencapan rintang, pengetahuan kerja yang relevan
diperlukan ketika memilih zat perintang yang efektif.

Contoh desain yang klasik, menggunakan pewarna indigo untuk warna dasar, gambaran dari
efek campuran zat perintang mekanis dan kimia. Tipe pasta perintang memberikan efek putih
yang mengandung china clay, garam tembaga, pengental dengan kekentalan tinggi (British gum
or gum Senegal) dan, mungkin, tallow. Sebelum proses pencapan, kain sebaiknya dilakukan
proses pre-treatment dengan penganjian dan penyempurnaan kalender, untuk memberikan
permukaan yang rata dimana pencapan rintang akan membentuk penutup pelindung yang lebih
sempurna. Sesudah proses pencapan, bahan dikeringkan secara menyeluruh untuk
memperkuat perintangan. Warna dasar kemudian akan dicelup dengan mencelupkan kain ke
dalam pewarna bejana indigo sebanyak yang diperlukan untuk menghasilkan ketuaan warna
biru yang diinginkan. Tindakan protektif pada pasta zat perintang sebagian akan jatuh tempo,
dalam hal ini, sifat pengoksidasinya, akan memiliki efek menghilangkan kelarutan pewarna
indigo sebelum digunakan pada serat. Ketidaklarutan yang terbentuk akan memperkuat efek
merintangi secara mekanis dari china clay, pengental, dan tallow. Proses ini diselesaikan
dengan oksidasi pewarna indigo dan pencucian untuk menghilangkan pengental, pewarna
dipermukaan dan zat kimia.

Pasta pencapan rintang yang mengandung zat perintang mekanis yang tidak larut dengan
proporsi tinggi akan memaksakan batas kemampuan zat tersebut selama proses pencapan.
Dalam pencapan copper-roller, pasta pencapan semacam itu cenderung 'menempel' dalam
engraving, terutama dalam motif yang sangat baik, dan untuk memastikan hasil yang baik,
seorang pekerja engraving sangat diperlukan untuk menjaga engraving tetap bersih. Dalam
proses screen printing, penting untuk memastikan bahwa partikel padat yang tidak cukup kasar
jangan sampai memblokir atau menghalangi lubang – lubang di screen. Oleh karena itu,
biasanya dalam hal ini pasta pencapan disaring melalui saringan yang memiliki ukuran
mesh/lubang yang lebih halus/kecil daripada screen yang sebenarnya.

Tidak hanya zat perintang yang harus dapat mencegah fiksasi warna dasar, tetapi juga harus
mampu merintangi proses pencelupan yang sebenarnya. Oleh karena itu lebih disukai
menggunakan bahan yang tidak mudah larut dalam air dan untuk memodifikasi proses
pencelupannya. Aplikasi pad pewarna untuk mengurangi waktu kontak dan akibatnya akan
mempengaruhi kelarutan zat perintang.

Padding nip (gambar 6.1) sebenarnya lebih disukai daripada perendaman padding (slop).
Beberapa pengental pada larutan pad mungkin diperlukan untuk meningkatkan volume larutan
yang dibawa ke kain. Suhu larutan pencelupan juga harus dijaga tetap rendah, dan seringkali
perlu untuk mengeringkan kain segera setelah aplikasi pencelupan. Penggunaan engraved
cover roller, memberikan alternatif untuk proses nip-padding dan satu tahap dalam proses
dapat dihilangkan jika pengeringan pencapan rintang tidak penting.

6.4.1. Pencapan Rintang anilin hitam

Banyak poin yang dipertimbangkan mengenai ilustrasi proses pencapan rintang anilin hitam.
Pewarna khusus ini dibentuk pada bahan selulosa oleh oksidasi anilin; itu hampir tidak bisa
dihancurkan dan pasti tidak bisa habis. Sayangnya, terjadi beberapa kehilangan kekuatan serat,
karena oksidasi selulosa. Namun demikian, kualitas hitam yang dihasilkan, sifat tahan luntur
dan biaya rendah membuatnya menjadi pewarna dasar yang sangat diinginkan untuk efek
rintang.

(Gambar 6.1. Nip Padding Mangle)

Upaya pertama diarahkan berdasarkan pada fakta bahwa anilin hitam adalah produk oksidasi,
perintang paling awal terdiri dari zat pereduksi. Tetapi kemudian diperlihatkan dengan adanya
asam mineral, baik yang bebas atau yang diproduksi pada tahap selanjutnya selama proses
steaming dengan pemisahan garam yang tidak stabil, sama pentingnya dalam pembangkitan
warna hitam. Garam alkali dan zat penetral lainnya didapatkan, oleh karena itu, digunakan
sendiri atau dalam kombinasi dengan zat pereduksi, untuk mencegah pembentukan anilin hitam
di daerah yang dicap.

Pasta cap yang khas untuk proses pencapan rintang anilin hitam mengandung 125 g kg-1
Natrium Asetat, 125 g kg-1 pasta zink oksida (1:1), 10 g kg-1 Natrium Tiosulfat dan pengental
berdasarkan pengental alginat dengan viskositas yang rendah. Ini dapat digunakan untuk
pencapan rintang putih, sebagai alternatif, pewarna yang cocok dapat ditambahkan untuk
proses pencapan rintang warna. Larutan anilin hitam yang khas disiapkan dengan
mencampurkan bersama tiga larutan yang ditentukan dalam Resep 6.10 dan dengan takaran
sampai 1 liter. Proses yang sebenarnya dapat dilanjutkan dengan beberapa cara berbeda.

Resep 6.10

1. Anilin hidroklorida 80 gram


Minyak anilin 5 gram
Pengental tragacanth (6%) 50 gram
Air 250 gram
2. Kalium ferosianida 50 gram
Air 200 gram
3. Sodium klorat 30 gram
Air 200 gram

Underprinting

Pasta perintang dicapkan pada kain dan kemudian dilakukan pencapan tumpang dengan warna
hitam, dimana pengental untuk pencapan sudah sesuai. Sesudah mengeringkan hasil
pencapan dilakukan steam untuk membangkitkan warna hitam dan proses oksidasi
diselesaikan dengan proses penyempurnaan dengan larutan asam dikromat panas. Proses
penyempurnaan semacam itu juga berfungsi untuk proses oksidasi kembali pewarna bejana
yang digunakan sebagai warna cerah.

Nip-padding

Larutan anilin hitam di aplikasikan pada bahan yang sudah dicap dan dikeringkan dengan
menggunakan rol dimana larutan pengental anilin hitam dipad dan proses nip dengan rol kedua
(Gambar 6.1). Proses slop padding tidak disarankan, karena zat perintang cenderung
berkorban dan menyebabkan halo. Pembangkitan warna hitam dilakukan seperti ditunjukkan
diatas.

Discharge Resist/Etsa-rintang atau proses sesudah pencapan

Terlepas dari namanya ini adalah proses pencapan rintang, tetapi dinamakan demikian karena
larutan hitam anilin diaplikasikan pada kain sebelum pasta perintang. Ini adalah teknik yang
membutuhkan kontrol sangat dekat, tetapi biasanya lebih disukai untuk pekerjaan kelas tinggi
karena ketika digunakan dengan benar menghasilkan efek warna yang lebih tajam dan lebih
cerah daripada hasil yang diperoleh dari proses persiaan cap.

Pentingnya kontrol yang cermat atas setiap tahap proses tidak dapat terlalu ditekankan. Larutan
anilin hitam harus dibuat dengan segera dan, seperti pada proses pencapan etsa-rintang pada
kain poliester, pengeringan bahan yang dipad harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Saat
muncul dari mesin pengering, bahan seharusnya berwarna kuning muda tanpa jejak hijau. Jika
bahan tersebut telah dikeringkan berlebihan sampai menjadi kehijauan bahan tersebut tidak
cocok untuk warna cerah dan proses pencapan rintang putih karena hasil warna hijau tidak
dapat dilakukan proses pencapan etsa.

Setelah pengeringan, bahan yang dipad harus didinginkan untuk mencegah oksidasi dan
dilakukan pencapan sesegera mungkin. Setelah dicap, pengeringan yang berlebihan kembali
harus dihindari dan steaming, untuk membangkitkan warna hitam, harus dilakukan tanpa
penundaan. Steam tidak boleh terlalu lembab, karena jika tidak, warnanya akan mudah
menetes dan warna putihnya bisa berubah warna. Seluruh proses dari awal hingga akhir harus
dilakukan tanpa penundaan yang tidak semestinya dan dengan kontrol yang cermat di setiap
tahap. Seperti yang telah ditunjukkan, pencapan rintang warna anilin hitam dapat diperoleh
dengan pewarna bejana di mana alkali yang menjadi bagian tetap dan sifat pereduksi dari pasta
pencapan 'all-in' memberikan efek rintang yang diinginkan.

Pewarna reaktif juga dapat digunakan dengan fiksasi pencapan dengan salah satu dari
berbagai proses dua tahap setelah warna hitam dibangkitkan. Pigmen dapat digunakan untuk
proses pencapan rintang warna cerah, dalam hal ini jumlah pengikat pigmen yang sesuai akan
ditambahkan pada pasta pencapan, bersama dengan seng oksida, magnesium karbonat dan
natrium asetat. Pasta cap semacam itu dapat digunakan untuk kedua proses, persiapan
pencapan dan sesudah pencapan rintang.

6.4.2. Pencapan rintang pewarna reaktif

Karena berbagai macam warna yang tersedia, kecerahan dan sifat tahan luntur yang baik,
pewarna reaktif sekarang sangat populer baik untuk pencapan langsung maupun untuk
pewarnaan biasa. Proses pencapan etsa dapat dilakukan dengan sukses berdasarkan pewarna
reaktif yang dipilih, terutama yang diproduksi dengan pewarna reaktif dari jenis vinil sulfon.
Namun, ada kesulitan dengan warna biru dan turquoise yang mana bukan merupakan senyawa
azo, dan ini membuat penggunaan pencapan rintang diperlukan.

Kebanyakan pewarna reaktif hanya dapat difiksasi pada serat selulosa dengan adanya alkali.
Akibatnya asam organik yang tidak mudah menguap (seperti asam tartarat atau asam sitrat)
dan garam asam (seperti monosodium fosfat) dapat digunakan sebagai zat perintang untuk
persiapan proses pencapan rintang dengan pewarna tersebut. Oleh karena itu, pengental yang
digunakan harus tahan asam. Eter selulosa hidroksietilasi dan metilhidroksietilasi, locust bean
gum dan tragacanth cocok untuk tujuan ini. Saat pencapan dengan engraved rollers,
konsentrasi zat pengikat asam atau alkali dapat dijaga tetap rendah, tetapi peningkatan
konsentrasi mungkin diperlukan jika efek ketajaman motif akan diperoleh dengan shallow
engravings. Pasta persiapan pencapan rintang biasanya memiliki komposisi yang ditunjukkan
pada Resep 6.11. Pasta pencapan tanpa warna dapat dibuat dengan pewarna buram seperti CI
Acid Blue 1, atau dengan menambahkan pencerah fluoresen, yang mana dideteksi dengan
bantuan lampu ultraviolet.

Resep 6.11

- Asam sitrit : 50 gram


- Pengental : 600 gram
- Air : 1000 gram

Setelah bahan telah dicap dan dikeringkan, bahan tersebut di proses nip-pad, overprinting, atau
padding dengan larutan pewarna reaktif yang mempunyai reaktifitas tinggi yang mengandung
konsentrasi natrium bikarbonat minimum. Jika bahan tersebut harus direndam dalam larutan
pewarna, mungkin perlu untuk meningkatkan konsentrasi asam dalam pasta pencapan menjadi
80 g kg – 1. Waktu pencelupan yang lama harus dihindari karena alasan yang telah disebutkan.
Pengeringan harus segera dilakukan, kemudian langkah fiksasi yang sesuai, dan proses
pencucian.

Larutan padding yang khas ditunjukkan pada resep 6.12. Donor alkali tertentu dapat digunakan
sebagai pengganti natrium bikarbonat, dalam hal ini waktu proses steaming harus ditingkatkan
menjadi 7-10 menit untuk memungkinkan pemecahan senyawa yang memadai dan selanjutnya
fiksasi pewarna.
Resep 6.12

- Pewarna reaktif : 20 gram


- Garam perintang : 7 gram
- Air panas : 393 gram
didinginkan hingga 40 ° C dan diencerkan dengan
- Larutan Natrium Bikarbonat dingin (3%) : 500 gram
- Pengental : 80 gram
- Air : 1000 gram
Metode alternatif persiapan pencapan untuk rintang putih, menggunakan proses fiksasi dua
tahap, dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Pencapan bahan putih dengan pasta perintang asam, dan pengeringan.
2. Pad dengan larutan pewarna netral, dan pengeringan.
3. Nip-pad bahan dengan larutan fiksasi, fiksasi, pencucian dan pengeringan.

Larutan fiksasi yang digunakan untuk metode ini seperti yang ditunjukkan dalam resep 6.13,
dan fiksasi paling baik dilakukan dengan steaming selama 20 detik.

Teknik pencapan tumpang juga dapat digunakan untuk memberikan pencapan rintang putih
pada pewarna reaktif yang dipad. Bahan, pertama dipad, menggunakan resep 6.14. Setelah
pengeringan, bahan hasil pad dicap dengan pasta pencapan rintang asam (resep 6.15). Setelah
dicap, bahan dikeringkan dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan serat. Fiksasi
keselurahan dilakukan dengan proses dua tahap yang mudah yang melibatkan aplikasi larutan
fiksasi alkali diikuti dengan steaming, atau cold dwell, dan pencucian akhir dan pengeringan.

Hasil yang sangat efektif dapat dicapai dengan proses persiapan pencapan rintang putih di
bawah pencapan tumpang dengan pewarna reaktif. Ini bisa dilakukan dengan pengeringan
sedang atau dengan metode pencapan wet on wet. Pasta perintang asam dibuat seperti yang
dijelaskan sebelumnya dan pencapan tumpang didasarkan pada standar resep pencapan
langsung yang mengandung alkali. Setelah pencapan kedua, bahan-bahan dikeringkan,
kemudian proses steaming untuk menghasilkan fiksasi pewarna hasil pencapan tumpang, dan
pencucian seperti biasanya. Pengental dengan kekentalan tinggi memberikan hasil ketajaman
motif yang tinggi dan sebaiknya digunakan, terutama jika pencapan tumpang akan diproduksi
dengan proses pencapan wet n wet. Dalam kasa pencapan beberapa pasta perintang asam
akan ditransfer dari kain ke bagian bawah kasa pencapan tumpang berikut. Di sana ia bertindak
sebagai pengental alginat yang peka asam, mengendapkannya dalam lubang kasa sebagai
asam alginat. Kasa, oleh karena itu, menjadi terhalang di area ini dan sebenarnya membantu
produksi efek yang diinginkan. Namun, dalam pencapan rol, harus dilakukan secara hati – hati
untuk mencegah pasta pencapan asam dibawa ke depan yang dapat mencemari pasta
pencapan tumpang, yang akan menyebabkan pengental yang mengendap menempel pada
engraving. Jika perlu, satu atau lebih rol biasa dapat dimasukkan antara rol perintang dan rol
pencapan tumpang sebagai tindakan pencegahan.

Resep 6.13

- Soda Kostik (38°Be) : 20 ml


- Natrium Sulfat (anhidrat) : 200 gram
- Garam Biasa : 100 gram
- Air : 1000 ml

Resep 6.14

- Pewarna reaktif : 1-40 gram


- Air pada suhu 80-90°C : 300 gram
- Pengental netral : 50 gram
- Garam perintang (1:2) : 15 gram
- Asam Laktat (50%)a : 2 gram
- Air : 1000 ml
a atau 1 g asam tartarat atau sitrat
Resep 6.15
- Asam Sitrat (1:1) : 200 gram
- Pengental perintang asam : 400 gram
- Air : 400 gram
(1000 gram)

Rintang warna pewarna reaktif dapat diproduksi dalam beberapa cara [10]. Salah satu yang
paling populer adalah persiapan pencapan kain dengan pasta pencapan pigmen yang
mengandung tambahan asam untuk bertindak sebagai zat perintang. Pengikat pigmen
sebaiknya yang bisa difiksasi dengan cara steaming. Pasta yang khas akan dibuat seperti
ditunjukkan dalam resep 6.16. Pasta pencapan yang sebenarnya dibuat dari pasta stok ini
dengan menambahkan jumlah pigmen yang diperlukan. Urutan prosesnya sebagai berikut:

1. Persiapan pencapan dengan pasta pigmen yang mengandung asam.


2. Pad dengan pewarna reaktif, setelah pengeringan sedang, atau pencapan tumpang tanpa
pengeringan.
3. Steam selama 2-10 menit sesuai dengan kereaktifan pewarna yang digunakan.
4. Pencucian
5. Pengeringan

Resep 6.16 menggunakan sistem pengental emulsi, tetapi karena undang-undang lingkungan,
pembatasan untuk penggunaan sistem white spirit menghasilkan promosi pengembangan lebih
lanjut menggunakan sistem air berdasarkan pengental sintetis [11]. Sebelum ini, pengental
sintetik yang digunakan untuk membuat pengental pigmen berair tidak dapat diterima karena
asam yang diperlukan untuk zat perintang menghasilkan penurunan viskositas yang tidak dapat
diterima.

Resep 6.16

- Pengental (eter selulosa) : 100 gram


- Emulsifier : 8 gram
- Air : 100 gram
- Pigmen Binder : 120 gram
- White Spirit : 612 gram
- Asam Tartarat (1:1) : 60 gram
(1000 gram)

Perintang dengan garam diazonium pewarna reaktif juga dapat dilakukan, dan memberikan
hasil menarik yang mengeksploitasi kisaran ekonomi dan warna dari kedua kelas pewarna.
Ketika kain naftol dicetak dengan garam diazonium, di samping pewarna reaktif dari jenis vinil
sulphone, pewarna reaktif dapat difiksasi dengan meningkatkan alkalinitas kain yang disiapkan
dan dengan steaming yang singkat setelah proses pencapan. Pencapan reaktif dapat dirintangi
sampai batas yang lebih besar atau lebih kecil oleh asam dalam pencapan garam diazonium di
area yang mana dua warna pencapan bertemu atau tumpang tindih. Dalam banyak kasus,
garam diazonium mengandung begitu banyak pengikat alkali sehingga pewarna reaktif dapat
dirintangi sepenuhnya.

Efek half-tone pewarna reaktif dapat diproduksi dengan metode mekanis dan kimia. Perintang
tersebut diperoleh dengan, misalnya, hanya mencap bahan dengan pengental yang kental,
yang menggumpal di bawah pengaruh alkali dalam pencapan pewarna reaktif. Efek rintang
dapat dipertegas dengan menambahkan titanium dioksida atau pigmen putih lainnya ke pasta
rintang. Pasta pewarna reaktif yang akan dirintangi sebagian dapat dicap, wet-on-wet, di atas
rintang dan, setelah pengeringan, pewarna difiksasi dengan dua tahap proses yang sesuai. Jika
keseluruhan pewarna reaktif diaplikasikan dengan proses pad-steam, maka pengeringan
sedang diperlukan sebelum proses padding.

Semua rintang pewarna reaktif

Rentang warna yang luas membuat ide “pencapan rintang pewarna reaktif pada dasar pewarna
reaktif” sangat menarik, asalkan dapat dicapai dengan cara yang dapat diandalkan [12]. Salah
satu cara tergantung pada fakta bahwa fiksasi pewarna reaktif tipe vinil-sulfon dapat dicegah
dengan penambahan sulfit, tiosulfat atau tiourea [13,14]. Fiksasi zat warna reaktif yang dipilih
dari jenis reaksi substitusi tidak dipengaruhi oleh penambahan zat-zat ini dan karena itu dapat
digunakan sebagai pewarna induk yang memberi warna cerah. Pasta perintang putih dan pasta
perintang warna dapat dibuat dengan membuat 150 g kg – 1 penambahan zat perintang yang
ditunjukkan dalam Resep 6.17 didalam stok pasta standar. Kain yang dicap dapat dilakukan
pencapan tumpang, wet on wet, dengan pasta pencapan standar vinil sulfon. Pengeringan
dilakukan di bawah 120°C dan fiksasi menyebabkan uap jenuh. Prosesnya diakhiri dengan
pencucian seperti biasa. Proses ini dan varian lain dari “pencapan rintang pewarna reaktif
dibawah pewarna reaktif” diringkas dalam Tabel 6.2.

Resep 6.17

- Natrium Bisulfit : 310 gram


- Natrium Bikarbonat : 500 gram
- Glioksal (40%) : 65 gram
- Air : 125 gram

Tabel 6.2 “Pencapan pewarna reaktif dibawah pewarna reaktif”

Pencapan tumpang wet on Fiksasi warna dasar dalam Fiksasi warna dasar dalam
wet (variasi 1) satu tahap proses (variasi 2) dua tahap proses (variasi 3)
Sebelum pencapan rintang Pad warna dasar dengan Pad warna dasar dengan
putih dan rintang warna pewarna vinil sulfon dan pewarna vinil sulfon (larutan
Remazol Salt FD (Asam yang sedikit asam)
Natrium Organik) (HOE)
Pencapan tumpang wet on Pengeringan 80°C Pengeringan
wet pada warna dasar
dengan pewarna vinil sulfon
yang mengandung
bikarbonat
Pengeringan dibawah 120°C
Steam 6-8 menit dengan uap Pencapan tumpang rintang Pencapan tumpang rintang
panas putih dan rintang warna putih dan rintang warna
Pencucian Pengeringan dibawah 120°C Pengeringan dibawah 120°C
Steam 6-8 menit dengan uap Fiksasi warna dasar dengan
panas metode 2 tahap
Pencucian Pencucian

Campuran vinil sulfon dan perintang pewarna reaktif yang stabil


Variasi 4A Variasi 4B
Pencapan campuran vinil Pad campuran vinil sulfon
sulfon dan perintang dan perintang pewarna reaktif
pewarna reaktif yang stabil yang stabil
Pencapan tumpang rintang Pencapan tumpang pewarna
putih dan rintang warna wet monoklorotriazin dan atau
on wet
Pengeringan dibawah 120°C Pencapan pewarna vinil
sulfon dan atau
Steam 6-8 menit dengan uap Pencapan tumpang
panas pada suhu 120°C campuran pewarna vinil
sulfon dan pewarna
monoklorotriazin
Pencucian Pencapan tumpang rintang
putih
Steam 6-8 menit dengan uap
panas pada suhu 120°C
Pencucian

Variasi 1 cocok untuk pencapan kasa putar dan pencapan rol tetapi tidak disarankan untuk
pencapan kasa datar karena masalah yang terkait dengan proses ini, seperti tekanan screen
pada warna diatas warna sebelum dicap. Proses ini tidak memberikan efek yang sama persis
seperti yang akan diperoleh jika warna dasar dicelup, karena perbedaan penetrasi.

Variasi 2 menghasilkan efek warna dasar penuh diwarnai kurang dalam varian 1. Kondisi
tertentu harus dipertahankan. Secara khusus, pengeringan warna dasar harus dilakukan di
bawah 80°C, karena pada suhu yang lebih tinggi Remazol salt FD akan terurai dan sebagian
alkali kemudian akan memfiksasi warna dasar vinil sulfon; perintang dengan berkualitas tinggi
tidak akan mungkin terjadi. Juga proses padding, kain tidak difiksasi sebaiknya tidak disimpan
lebih dari 24 jam.

Variasi 3 tidak memerlukan suhu pencelupan yang terbatas karena kondisi sedikit asam, dan
kain dapat disimpan untuk waktu yang lama. Proses steaming dua tahap atau proses cold-dwell
dapat digunakan, meskipun ada risiko yang lebih tinggi dari mark-off selama proses cold-dwell.

Variasi 4 (A dan B) menarik untuk menghasilkan efek half-tone. Efek warna-warni yang menarik
juga dapat diperoleh dengan mencampurkan pewarna vinil sulfon dan pewarna
monoklorotriazin dengan corak berbeda; misalnya, vinil sulphone berwarna kuning dan
monochlorotriazine menghasilkan warna hijau turquoise. Pada sebagian pencapan tumpang
kombinasi ini dengan pasta zat perintang, hasil warnanya turquoise.

Pada awalnya cara sebelumnya dibuat dengan memanfaatkan perbedaan yang sangat besar
antara laju reaksi pewarna dikloro dan monoklorotriazin. Pencapan pewarna diklorotriazin
dengan penambahan diklorotriazin yang tidak berwarna, tetapi tanpa alkali, diikuti dengan
pencapan tumpang menggunakan pewarna monoklorotriazin, tetapi dengan alkali minimum,
pengeringan, steaming dan pencucian dapat memberikan efek rintang warna. Dalam praktiknya
cara ini sulit dan tidak diadopsi secara luas.

Ketika pewarna reaktif yang berfiksasi dalam suasana asam digunakan untuk warna dasar, dan
dimana tidak difiksasi dalam persiapan proses pencapan, ada kemungkinan sederhana yang
menarik untuk pencapan alkali hanya untuk etsa-rintang putih. Banyak pewarna reaktif yang
berfiksasi dalam suasana alkali yang dapat digunakan untuk warna cerah. Cara ini saat ini tidak
memungkinkan, karena, pewarna tidak lagi tersedia secara komersial [9].

6.4.3 Pencapan rintang pewarna bejana dengan warna dasar celup

Ini jelas bukan desain yang banyak digunakan, tetapi sudah, dan bisa jadi, digunakan sifat
tahan luntur yang mana terkait dengan pewarna bejana yang diperlukan. Bahan ini pertama kali
dicap dengan pasta pencapan all-in normal dengan penambahan natrium tiosulfat. Setelah
proses steaming, untuk mereduksi pewarna bejana, bahan tersebut dipad dalam larutan yang
mengandung leuko ester pewarna bejana dan natrium nitrit, diikuti dengan bagian yang melalui
larutan asam sulfat.