Anda di halaman 1dari 16

Instrumen Pengukuran Pengembangan Karir

(Menentukan, merancang dan menyusun instrumen


pengembangan karir

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan dalam Memperoleh Nilai Tugas


Mata Kuliah Pengembangan diri dan karir

DOSEN PENGAMPU:
Muhammad Fadhli., M.A

Disusun Oleh:
Tebi Heriandy
David Hendra
Rudy Syahputra
Herman Saputra

UNIVERSITAS ABDURRAB PEKANBARU


FAKULTAS PSIKOLOGI
T.A 2020/2021
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa
pertolongan-Nya tentunya kami tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah
ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di
akhirat nanti.
Kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-
Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga kami mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah dari Mata Kuliah Pengembangan diri dan
Karir dengan Instrumen Pengukuran Pengembangan Karir
Kami menyampaikan terima kasih kepada dosen Mata Kuliah Pengmbangan
Diri dan Karir Bapak Muhammad Fadhli., MA. yang telah membimbing kami
baik dalam pembelajaran maupun dalam penulisan makalah ini serta rekan-rekan
mahasiswa psikologi Universitas Abdurrab yang membantu mendukung sehingga
makalah ini dapat terselesaikan.
Dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, kami
berharap para pembaca agar dapat memakluminya. Dan kami juga mengalami
banyak kesulitan, karena keterbatasan ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk itu
kritik dan saran yang membangun dari pembaca sangat kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Wassalammualaikum Wr. Wb.

Pekanbaru , 28 April 2020

Penyusun
2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................i

DAFTAR ISI...........................................................................................................ii

BAB 1 : PENDAHULUAN....................................................................................4

1.1 Latar Belakang..................................................................................................4


1.2 Rumusan Masalah.............................................................................................5
1.3 Tujuan...............................................................................................................5

BAB 2 : PEMBAHASAN.......................................................................................6

2.1 Pengertian Fiqih................................................................................................6


2.2 Hukum dalam Ilmu Fiqih..................................................................................7
2.3 Perbedaan Ilmu Fiqih dan Syari’ah...................................................................8
2.4 Urgensi Ilmu Fiqih Ibadah................................................................................9

BAB 3 : PENUTUP..............................................................................................12

3.1 Kesimpulan.....................................................................................................12
3.2 Saran................................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................14

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Manusia dalam suatu organisasi selalu menjadi elemen yang berperan aktif
dan dominan dalam setiap kegiatan organisasi, karena manusia itu sendiri yang
menjadi perencana, pelaku dan penentu terwujudnya tujuan organisasi. Maju
tidaknya suatu organisasi tergantung dari manusia-manusia yang mengelolanya,
maka dari itu untuk mengelola organisasi yang baik diperlukan suatu pengelolaan
sumber daya manusia yang baik agar mampu dan mau bekerja secara optimal
demi tercapainya tujuan organisasi.
Pengembangan karier sangat penting bagi suatu organisasi, karena karier
merupakan kebutuhan yang harus terus dikembangkan dalam diri seorang
pegawai sehingga mampu memotivasi pegawai untuk meningkatkan kinerjanya.
Pengembangan karier meliputi setiap aktivitas untuk mempersiapkan seseorang
untuk menempuh jalur karier tertentu. Suatu rencana karier yang telah dibuat oleh
seseorang pekerja harus disertai olehsuatu tujuan karier yang realistis.
Flippo (1984) menyatakan bahwa “Karier dapat didefinisikan sebagai
serangkaian kegiatan pekerjaan yang terpisahkan dan memberikan kedudukan dan
arti dalam riwayat hidup seseorang.”
Hani Handoko (2012) mengatakan pengertian karier ada tiga yakni:
(1).Karier sebagai suatu urutan promosi atau pemindahan (transfer) lateral ke
jabatan–jabatan yang lebih menuntut tanggung jawag atau lokasi-lokasi yang lebih
baik dalam atau menyilang hierarki hubungan kerjas elama kehidupan kerja
seseorang; (2).Karier sebagai penunjuk pekerjaan-pekerjaan yang membentuk
suatupola kemajuan sistematik yang jelas kariernya; (3).Karier sebagai sejarah
pekerjaan seseorang atau serangkaian posisi yang dipegangnya selama kehidupan
kerja
Cascio (2012) berpendapat bahwa kata karier dapat dipandang dari dua
perspektif yang berbeda, antara lain dari perspektif yang obyektif dan subyektif.
4
Dipandang dari perspektif yang obyektif, karier merupakan urut-urutan posisi
yang diduduki oleh seseorang selama hidupnya, sedangkan dari perspektif yang
subyektif, karier merupakan perubahan-perubahan nilai, sikap, dan motivasi yang
terjadi karena seseorang menjadi semakin tua.
Kedua perspektif tersebut terfokus pada individu dan menganggap bahwa
setiap individu memiliki beberapa tingkatan pengendalian terhadap nasibnya
sendiri sehingga individu tersebut dapat memanipulasi peluang untuk
memaksimalkan keberhasilan dan kepuasan yang berasal dari kariernya.
Dalam pengembangan karir pastinya diperlukan instrumen-instrumen
tertentu,

Fikih merupakan sistem norma (aturan) yang mengatur hubungan manusia


dengan Allah, sesama manusia dan dengan makhluk lainnya. Aspek fikih
menekankan pada kemampuan cara melaksanakan ibadah dan muamalah yang
benar dan baik. Pembekalan materi yang baik dalam lingkup sekolah, akan
membentuk pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan memiliki budi pekerti
yang luhur. Sehingga memudahkan peserta didik dalam mengaplikasikannya
dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi di zaman modern sekarang semakin banyak
masalah- masalah muncul yang membutuhkan kajian fiqih dan syari‟at. Oleh
karena itu, kita sebagai umat muslim membutuhkan dasar ilmu dan hukum Islam
untuk menanggapi permasalahan di masyarakat sekitar.

Tujuan pembelajaran fiqih adalah untuk membekali kita sebagai umat agar
dapat mengetahui dan memahami pokok-pokok hukum Islam secara terperinci
dan menyeluruh, baik berupa dalil naqli dan aqli melaksanakan dan mengamalkan
ketentuan hukum Islam dengan benar.

Dalam mempelajari fiqih, bukan sekedar teori yang berarti tentang ilmu
yang jelas pembelajaran yang bersifat amaliah, harus mengandung unsur teori dan
praktek. Belajar fiqih untuk diamalkan, bila berisi suruhan atau perintah, harus
dapat dilaksanakan, bila berisi larangan, harus dapat ditinggalkan atau dijauhi.

5
Oleh karena itu, fiqih bukan saja untuk diketahui, akan tetapi diamalkan dan
sekaligus menjadi pedoman atau pegangan hidup.

6
1.2 Rumusan masalah
1. Apa pengertian fiqih ?
2. Apa perbedaan fiqih dan syari’at ?
3. Bagaimana urgensi ilmu fiqih ibadah ?

1.3 Tujuan
1. Untuk memahami pengertian dari fiqih
2. Untuk memahami perbedaan fiqih dan syari’at
3. Untuk memahami urgensi ilmu fiqih ibadah

7
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Fiqih

Sumber utama ajaran Islam adalah Alquran yang jumlah Juznya ada 30,
Surahnya 114 dan ayatnya 6.666, dan juga As-Sunnah yang jumlah hadisnya
sampai ratusan ribu. Namun bagaimana caranya mengambil kesimpulan hukum
atas suatu masalah dalam ajaran islam dengan dalil yang begitu banyak ?
harus ada sebuah metodologi yang ilmiyah dan baku, serta disepakati oleh
umat Islam sepanjang zaman, dan metodologi itu disebut dengan Ilmu Fiqih
Fiqih atau fikih adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang
membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan seorang
muslim, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun kehidupan manusia
dengan Tuhannya.
Definisi fiqih menurut Imam Abu Hanifah adalah : pengetahuan seseorang
tentang hak dan kewajibannya. Definisi ini meliputi semua aspek kehidupan;
aqidah, syariat dan akhlak.
Sedangkan menurut Imam al Amidi fiqih adalah : ilmu tentang hukum syara’
yang bersifat praktis yang diperoleh melalui dalil yang terperinci.
Menurut Hasan Ahmad AlKhatib, Fiqih ialah : sekumpulan hukum syar’i
yang sudah dibukukan dalam berbagai madzhab, baik dari madzhab yang empat
atau dari madzhab lainnya, dan yang dinukilkan dari fatwa fatwa sahabat, thabi in,
dari fuqaha yang tujuh di Mekah, di Madinah, di Syam, di Mesir, di iraq, di
Bashrah dan sebagainya.
Contoh paling mudah adalah Fiqih Ibadah yaitu tentang tata cara ibadah
dengan dalil-dalil / bukti yang terdapat dalam Al Qur’an dan Sunnah Rosul.
1. Asas demokrasi.
2. Asas konstitusional

8
2.2 Hukum dalam Ilmu Fiqih
Hukum yang diatur dalam fiqh Islam itu terdiri dari hukum wajib, sunat,
mubah, makruh dan haram. Di samping itu ada pula dalam bentuk yang lain
seperti sah, batal, benar, salah, berpahala, berdosa dan sebagainya
Pembagian Hukum Fiqih terdiri atas:
a. Hukum yang berkaitan dengan ibadah mahdlah (khusus), yaitu hukum
yang mengatur persoalan ibadah manusia dengan Allah swt, seperti shalat,
puasa, zakat dan haji
b. Hukum yang berkaitan dengan masalah muamalah, yaitu persoalan
hubungan sesama manusia dalam rangka memenuhi material dan hak
masing kebutuhan masing, seperti transaksi jual beli, perserikatan dagang
dan sewa menyewa.
c. Hukum yang berkaitan dengan masalah keluarga (al ahwal asy
syakhsiyah), seperti nikah, talak, rujuk,iddah, nasab dan nafkah.
d. Hukum yang berkaitan dengan tindak pidana (jinayah atau jarimah, dan
‘uqubah), seperti zina, pencurian, perampokan, pemukulan dan bentuk
pelanggaran terhadap anggota tubuh serta harta lainnya.

9
2.3 Perbedaan Ilmu Fiqih dan Syari’ah
No Syari’ah Fiqih
Bersumber dari Al-Qur’an Hadis serta Bersumber dari para Ulama dan ahli
kesimpulan-kesimpulan yang diambil dari Fiqh, tetapi tetap merujuk pada
1
keduanya AlQur›an dan Hadis

Hukumnya bersifat Qat’i (Pasti) Hukumnya bersifat zanni (dugaan)


2

Hukum Syariahnya hanya Satu (Universal)


Berbagai ragam cara pelaksanaannya
3 tetapi harus ditaati oleh semua umat Islam

Adanya campur tangan (ijtihad) para


Tidak ada campur tangan manusia (ulama)
Ulama dalam penetapan pelaksanan
4 dalam menetapkan hukum
hukum

10
2.4 Urgensi Ilmu Fiqih Ibadah
Kenapa kita harus belajar fiqih? Ada banyak alasan yang bisa menjadi latar
belakang pentingnya mempelajari ilmu fiqih ibadah baik alasan yang berdasarkan
dalil-dalil syar’i seperti Al-Quran dan As-Sunnah, atau pun yang sifatnya dengan
melihat realitas kehidupan.
Dalil Al-Quran
1. Dalil Pertama
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Al-Kariem :
‫وا‬KKُ‫َو َما كاَنَ المـُؤ ِمنُون لِينفِرُوا كآفّةً فَلَوالَ نَفَ َر ِمن ُكلِّ فِرق ٍة ِمنهُم طاَئِفةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّي ِن َولِيُن ِذرُوا قَو َمهُم إِذاَ َر َجع‬
‫إِلي ِهم لَ َعلَّهُم يَح َذرُون‬
Tidak sepatutnya bagi mu'minin itu pergi semuanya. Mengapa tidak pergi
dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada
kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat
menjaga dirinya.(QS. At-Taubah : 122)
Allah SWT di dalam ayat ini menyinggung tentang adanya kewajiban selain
dari perang atau jihad di jalan Allah, yaitu mendalami masalah ilmu agama.
Allah SWT menggunakan istilah li-yatafaqqahu (‫ )ليتفقهوا‬yang punya akar kata
faqiha - yafqahu, yang senada dengan akar kata istilah fiqih itu sendiri. Ayat ini
tegas menyebutkan keharusan adanya thaifah (‫)طائفة‬, yaitu sekelompok orang, dari
masing-masing firqah (‫)فرقة‬, atau kumpulan orang-orang, untuk belajar Ilmu Fiqih.
Kesimpulan dari ayat ini adalah keharusan adanya sekelompok orang dari
umat Islam yang berkonsentrasi melakukan tafaqquh di dalam urusan agama, di
luar dari orang-orang yang ikut bepergian ke luar kota untuk berjihad di jalan
Allah.
Kalau jihad itu punya kedudukan sangat mulia di dalam agama Islam, maka
belajar mendalami ilmu agama ternyata juga punya kedudukan yang juga mulia,
setidaknya kurang lebih sejajar.

11
Ayat ini jelas-jelas membandingkan antara kewajiban berjihad di jalan Allah
yang pahalanya begitu besar di satu sisi, dengan kewajiban untuk menuntut ilmu
agama di sisi yang lain.
Kalau kita bandingkan antara jumlah orang awam dan jumlah para ulama,
kita akan menemukan perbandingan yang jauh dari proporsional. Dengan kata
lain, ulama di masa sekarang ini termasuk ‘makhluk langka’ bahkan nyaris punah.
Maka memperbanyak jumlah ulama serta menyebar-luaskan ilmu-ilmu
syariah menjadi hal yang mutlak dilakukan. Hal ini sesuai dengan firman Allah
SWT tentang keharusan adanya sekelompok orang yang berkonsentrasi
mendalami ilmu-ilmu syariah.
Mempejari Islam adalah kewajiban pertama setiap muslim yang sudah aqil
baligh. Ilmu-ilmu ke-islaman yang utama adalah bagaimana mengetahui kemauan
Allah SWT terhadap diri kita. Dan itu adalah ilmu syariah.

2. Dalil Kedua
Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Al-Kariem :
ِ ‫فَاسألُوا أه َل ال ِّذ‬
َ‫كر ِإن ُكنتُم الَ تَعلَ ُمون‬
...Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika
kamu tidak mengetahui (QS. An-Nahl : 43)
Kesimpulan dari ayat ini adalah bahwa bertanya kepada orang yang punya
ilmu hukumnya wajib bagi mereka yang tidak punya ilmu. Dan bertanya kepada
ahli ilmu tidak lain adalah belajar dan menuntut ilmu agama.
Paling tidak, setiap muslim wajib melakukan thaharah, shalat, puasa, zakat
dan bentuk ibadah ritual lainnya. Dan agar ibadah ritual itu menjadi sah dan
diterima oleh Allah SWT, tidak boleh dilakukan dengan pendekatan improvisasi
atau sekedar menduga-duga semata. Harus ada dasar dan dalil yang jelas dan kuat.
Karena ibadah ritual itu tidak boleh dilakukan kecuali sesuai dengan apa yang
diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Dan penjelasan secara rinci dan detail tentang bagaimana format dan bentuk
ibadah yang sesuai dengan apa yang diajarkan oleh beliau hanya ada dalam syariat
Islam.

12
3. Dalil Ketiga

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Al-Kariem :

َ‫قُل هَل يَست َِوي الّ ِذينَ يَعلَ ُمونَ َوالّ ِذينَ الَ يَعلَ ُمون‬

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-


orang yang tidak mengetahui?". (QS. Az-Zumar : 9)

Di dalam ayat ini Allah SWT jelas-jelas membedakan antara orang yang
berilmu dan orang-orang yang tidak berilmu. Dan perbedaan yang disampaikan
dalam bentuk pertanyaan ini mengandung pesan, bahwa tiap muslim diwajibkan
untuk menjadi orang yang berilmu. Dan ilmu yang dimaksud terutama adalah
ilmu agama, kemudian ilmu-ilmu lainnya.

4. Dalil Keempat

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran Al-Kariem :

‫ت‬ ِ ‫يَرفَ ِع هَّللا ُ الَّ ِذينَ آ َمنُوا ِمن ُكم َوالَّ ِذينَ أُوتُوا‬
ٍ ‫العل َم َد َر َجا‬

Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-


orang yang memiliki ilmu beberapa derajat. (QS. Al-Mujadalah : 11)

Ayat ini seolah menguatkan ayat sebelumnya, bahwa Allah SWT


meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat. Di
dalamnya terdapat isyarat yang menunjukkan anjuran untuk belajar ilmu agama.

13
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan mengenai Urgensi Ilmu Fiqih Ibadah di atas, maka
dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain:
a. Fiqih atau fikih adalah salah satu bidang ilmu dalam syariat Islam yang
membahas persoalan hukum yang mengatur berbagai aspek kehidupan
seorang muslim, baik kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun
kehidupan manusia dengan Tuhannya.
b. Hukum yang diatur dalam fiqh Islam itu terdiri dari hukum wajib, sunat,
mubah, makruh dan haram. Di samping itu ada pula dalam bentuk yang
lain seperti sah, batal, benar, salah, berpahala, berdosa dan sebagainya
c. Syari’ah Bersumber dari Al-Qur’an Hadis serta kesimpulan-kesimpulan
yang diambil dari keduanya, Hukumnya bersifat Pasti
d. Fiqih Bersumber dari para Ulama dan ahli Fiqh, tetapi tetap merujuk pada
AlQur›an dan Hadis, Hukumnya bersifat duga’an
e.

14
3.2 Saran
Syari’at adalah perintah dan larangan Allah S.W.T yang tidak bisa di tawar-
tawar, sedangkan fiqih adalah ilmu yang bersumber dari ulama dan ahli fiqih yang
tetap merujuk kepada alqur’an dan Hadist, memahami fiqih membuat kehiduipan
kita lebih indah dizaman yang semakin berkembang seperti sekarang ini, namun
harus tetap jeli ketika menentukan ahli fiqih yang benar-benar merujuk kepada
alqur’an dan hadist atau ahli fiqih yang dengan gampangnya menghalal-haramkan
suatu hal.

15
DAFTAR PUSTAKA

Hasan Ridwan, FIQH IBADAH, (Bandung : Pustaka Setia, 2009)


Ahmad Azhar Basyir, Falsafah Ibadah dalam Islam, (Yogyakarta : UII Press,
2003)

16

Anda mungkin juga menyukai