Anda di halaman 1dari 8

Jakarta, 07 April 2020

Nomor : 068/PP/PHTDI/IV/2020
Lampiran : Referensi Convalescent Plasma AABB, FDA , LANCET, JAMA, BMJM, JCI
Perihal : Convalescent Plasma pasien COVID 19 yang dinyatakan sembuh

Kepada Yth.
1. Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), RI
2. Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan, KEMENKES, RI
3. Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan , KEMENKES, RI
4. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), KEMENKES, RI
5. Para Direktur Utama Rumah Sakit Rujukan Nasional (14 RS) dan Provinsi (20 RS) se-Indonesia
6. Direktur Utama Rumah Sakit Rujukan Covid 19
7. Kepala Departemen Ilmu Penyakit Dalam di Lingkungan Rumah Sakit Rujukan Nasional, Provinsi
dan Rumah Sakit Rujukan Covid 19
8. Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) untuk beliau:
Dekan Dekan FKUI, FK UGM, FK UNPAD, FK UNDIP, FK UNBRA, FK UNAIR, FK Univ Sebelas
Maret, FK UNUD, FK USU, FK UNAND, FK UNSRI, FK UNHAS, FK UNSRAT, FK UNLAM, dll
9. Ketua Umum Pengurus Pusat PMI dan Jajarannya
10. Para Kepala UTD Pusat PMI & UTD D PMI
11. Pengurus Pusat dan Cabang Perhimpunan Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) dan Para
Anggota
12. Pengurus Pusat dan Cabang Perhimpunan Hematologi & Transfusi Darah Indonesia (PHTDI) serta
Para Anggota
13. Pengurus Pusat dan Cabang Perhimpunan Dokter Transfusi Indonesia (PDTDI) serta Para
Anggota
Di Tempat

Dengan Hormat,
Akhir akhir ini masalah peran Plasma Convalescent yang berasal dari pasien COVID 19 yang sudah
sembuh, untuk kemudian diberikan sebagai pengobatan kepada pasien COVID 19 positif dalam kondisi berat,
telah menjadi topik nasional, berdasarkan informasi yang ditulis di beberapa journal kedokteran Internasional,
seperti AABB, Lancet, JAMA, BMJM dan JCI, sebagai terlampir pada surat ini.
Sehubungan dengan masalah ini kami mengajukan permohonan kepada:
a) Kepala BPOM Republik Indonesia, selaku Penanggung Jawab & Pengawasan Pengadaan/Produksi &
Peredaran Obat di Indonesian
b) Para Direktur Direktur Jenderal Yankes, Kefarmasian & Alkes dan P2P Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia yang terkait dengan pencegahan, pengendalian dan pengobatan COVID 19 di Indonesia, dan
juga
c) UTD PMI selaku penanggung jawab:
c.1 recruitment donor plasma (DONOR SEHAT) untuk komponen darah (liquid plasma, fresh frozen
plasma/FFP dan kriopresipitat/ AHF) untuk ditransfusikan ke pasien
c.2. recruitment dan koleksi donor plasma (DONOR SEHAT) untuk diserahkan ke industri farmasi (yang
ditunjuk pemerintah) yang akan melaksanakan fraksionasi plasma produk diikuti proses purifikasi
untuk memproduksi produk plasma termasuk imunoglobulin, di samping produk plasma lainnya
seperti albumin, faktor koagulasi. BPOM telah memberikan sertifikat CPOB kepada 15 UTD PMI
untuk dapat melaksanakan koleksi plasma donor sehat.
d) Perusahaan farmasi nasional yang telah ditunjuk pemerintah untuk memproduksi plasma donor melalui
fraksionasi plasma diikuti proses purifikasi untuk dapat memberikan ARAHAN / PANDUAN secara
TERINTEGRASI dan MENDUDUKAN MASALAH ke dalam ATURAN YANG TELAH BERLAKU dalam
hal FRAKSIONASI PLASMA PRODUK menuju PRODUKSI Hyper-Immunoglobulin dengan melalui
PRODUK ANTARA (BRIDGING) CONVALESCENT PLASMA (yang diharapkan mengandung unsur
Immunoglobulin/Ig dari pasien COVID 19 yang dinyatakan sembuh) kepada para PROFESIONAL MEDIK
di Indonesia, terkait dengan pengadaan convalescent plasma yang diproduksi dari pasien COVID 19
yang sembuh (DONOR PLASMA bukan DONOR SEHAT, tetapi DONOR PLASMA PASIEN yang
DINYATAKAN SEMBUH dari infeksi COVID 19).

Saat ini STATUS convalescent plasma dari donor pasien COVID 19 yang DINYATAKAN SEMBUH adalah
sebagai berikut:
a. Dalam STATUS UJI KLINIK (BUKAN SEBAGAI BENTUK PELAYANAN yang SUDAH BAKU/
STANDARD) seperti yang saat ini sedang dipersiapkan di berbagai negara di Eropa, Amerika dan
Asia yang dapat dilihat pada lampiran 1 karena beberapa studi literatur yang dipublikasi tentang
penggunaan Convalescent Plasma menunjukkan bahwa studi tersebut berupa serial case report, bukan
studi klinik dengan kelompok kontrol (RTCs) termasuk meta-analisis. (Lampiran 1)
 The Journal of Infectious Disease. January 2015: The Effectiveness of Convalescent Plasma and
Hyperimmune Immunoglobulin for theTreatment of Severe Acute Respiratory Infectionsof Viral
Etiology: A Systematic Review and Exploratory Meta-analysis:
 LANCET (2020, April)
 JAMA, March 27, 2020 : In this preliminary uncontrolled case series of 5 critically illpatients with
COVID-19 and ARDS, administration of convalescent plasma containingneutralizing antibody was
followed by improvement in their clinical status.
 The Journal of Clinical Investigation (Volume 130 Number 4, April 2020) : COVID-19
convalescent sera can be used for either prophylaxis of infection or treat-ment of disease.
b. FDA telah menyetujui penggunaan plasma konvalesen dalam penanganan pasien critically ill.
c. Di samping itu ada beberapa hal penting yang harus dijadikan bahan pertimbangan penggunaan
plasma convalescent yang berasal dari pasien COVID 19 yang sembuh terkait dengan PRINSIP
UTAMA yang berlaku dalam:
c.1. BLOOD BANKING yaitu PENGADAAN PLASMA DONOR yang AMAN (DONOR PLASMA HARUS
MEMENUHI SYARAT WHO):
c.1.1. Persyaratan WHO tentang pengadaan komponen plasma dari donor darah sehat, sukarela dan
lestari (yang sudah menjadi persyaratan UTD PMI untuk menyediakan plasma dari donor
darah) berupa liquid plasma dan fresh frozen plasma (FFP) untuk ditransfusikan ke pasien
harus mencakup:
c.1.1.1. Plasma hanya dikoleksi dari donor pria, bukan dari donor wanita, untuk
menghindarkan kandungan antibodi anti-HLA (Human Leukocyte Antigen) yang ada
dalam plasma wanita dengan riwayat hamil dan melahirkan. Hal ini untuk mencegah
kejadian TRALI (transfusion related acute lung injury) pada pasien yang menerima
transfusi plasma (angka kejadian TRALI paling tinggi pada transfusi plasma dan
trombist konsentrat yang mengandung plasma)
c.1.1.2. Plasma yang dikoleksi dari DONOR PLASMA SEHAT masing berisiko Infeksi Menular
Lewat Transfusi Darah (IMLTD) karena adanya window period sehingga idealnya
berasal dari donor yang rutin sehingga terpantau hasil uji saring IMLTD nya. Bila
memungkinkan HARUS DISIMPAN (TIDAK DIPAKAI) dalam 6 bulan, karena dalam
6 bulan setelah mendonorkan plasma, PENDONOR harus menjalani ulang uji
skrining infeksi menular lewat transfusi darah (IMLTD), termasuk Hepatitis B,
Hepatitis C, HIV dan virus lainnya yang endemik di area masing masing. Waktu 6
bulan untuk memberikan window period apakah pendonor merupakan penderita
infeksi virus atau bukan. Bila dalam periode pemantauan 6 bulan ternyata hasil uji
skrining IMLTS positif, maka plasma yang didonorkan 6 bulan yang lalu, TIDAK BISA
DIGUNAKAN
c.1.1.3. Plasma yang dikoleksi dari DONOR PLASMA SEHAT TIDAK DAPAT DIHILANGKAN
Imunoglobulin A (IgA) –nya, Bila plasma donor (yang mengandung IgA)
ditransusikan ke pasien / resipien dengan DEFISIENSI IgA, maka akan terjadi
REAKSI ANAFILAKSIS yang dapat berakibat fatal.
b.2. ASPEK DONOR PLASMA yang sebelumnya MERUPAKAN PASIEN (BUKAN DONOR PLASMA
SEHAT) harus mengacu kepada TINDAKAN PLASMAFERESIS TERAPEUTIK yang rutin
diindikasikan pada PASIEN LAINNYA DENGAN KELAINAN AUTO IMUN dll adalah BUKAN TANPA
RISIKO. RISIKO PLASMAFERESIS yang dapat terjadi adalah Syok Hipovolemik yang dapat
berakibat fatal, hypocalcemia yang dapat berakibat fatal, dan lain lain
b.2.1. Mengingat pasien COVID 19 (yang dinyatakan sembuh) umumnya adalah mereka dengan
usia lanjut, dengan komorbiditas berupa kelainan DM, hipertensi, jantung , paru, maka perlu
dipertimbangkan PEMILIHAN YANG TEPAT berdasarkan KONDISI PASIEN MANA yang
MEMENUHI KRITERIA dan ELIGIBLE untuk tindakan Koleksi PLASMA dengan plasmaferesis.
Untuk itu perlu dibuat KRITERIA ELIGIBILITY sebagai DONOR CONVALESCENT PLASMA
yang berasal dari PASIEN COVID 19 yang baru sembuh.
b.2.2. Mengingat bahwa yang dikoleksi dari Plasma DONOR (pasien COVID 19 yang dinyatakan
sembuh), maka harus ditetapkan syarat syarat:
b.2.2.1. KRITERIA SEMBUH PASIEN dari COVID 19 adalah bebas gejala selama minimal 28
hari dan dibuktikan tidak terjadi reinfeksi dengan hasil pemeriksaan molekuler virus
negative dari swab atau darah satu hari sebelum dilakukan pengambilan darah atau
plasmapheresis.
b.2.2.2. PARAMETER LABORATORIUM apa yang BAKU untuk menyatakan bahwa
Convalescent Plasma Pasien COVID 19 yang dinyatakan sembuh MENGANDUNG
ANTIBODI misalnya titer antibodi IgG terhadap virus SARS-coV-2 minimal 1:80
(berdasarkan protocol AABB upadeted 04/04/2020)
b.2.2.3. KRITERIA DONOR SEHAT harus dibuktikan melalui pemeriksaan dan rekomendasi
dari tim dokter di RS Rujukan (mengacu pada poin b.3.3.) satu hari sebelum
pengambilan darah atau plasmapheresis.
b.3. Persyaratan BPOM tentang pengadaan bahan plasma dari donor darah yang dikoleksi UTD PMI
untuk kemudian dilakukan fraksionasi plasma oleh Perusahaan Farmasi yang ditunjuk Pemerintah
untujk menghasilkan produk plasma (albumin, faktor koagulasi, Imunoglobin intravena/IV IG, dll)
dengan prinsip-prinsip CPOB HARUSLAH DIIKUTI dan DISETUJUI serta DIAWASI oleh BPOM,
karena produk convalescent plasma adalah BERASAL DARI DONOR PLASMA (ALOGENIK)
sehingga harus
b.3.1. Persyaratan tentang cGMP donor plasma fraksionasi seyogyanya akan / harus dijelaskan
oleh Perhimpunan Dokter Transfusi Darah Indonesia (PDTDI) , UTD PMI, dan BPOM.
b.3.2. Para Klinisi medis yang mempunyai rencana untuk mengembangkan UJI KLNIK convalesent
plasma harus mengajukan PROPOSAL kepada BPOM dan mengikuti persyaratan yang telah
ditetapkan serta di awasi oleh BPOM
b.3.3. Pelaksanaan PLASMAFERESIS tergantung dari hasil pemeriksaan pada poin b.2.2.3. dapat
dikerjakan di UTD yang telah tersertifikasi CPOB atau di RUMAH SAKIT RUJUKAN
NASIONAL / PROVINSI oleh DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM (Mencakup TIM
INFEKSI COVID dan HEMATOLOGI, serta DISIPLIN LAINNYA YANG TERKAIT: Intensivist,
Kardiologi, Pumonologi, Ginjal Hipertensi, Endokrinologi, Geriatrics), BEKERJA SAMA
dengan DOKTER UTD PMI yang telah tersertifikasi CPOB.
b.4. RUMAH SAKIT RUJUKAN NASIONAL/ PROVINSI dan KOMISI ETIK PENELITIAN FAKULTAS
KEDOKTERAN dan KOMISI ETIK PENELITIAN RUMAH SAKIT
b.4.1. Rumah Sakit dan KOMITE ETIK PENELITIAN FK & RS seyogyanya menetapkan KRITERIA
PASIEN yang BERINDIKASI KUAT untuk mendapatkan Convalescent Plasma , seperti telah
digariskan oleh FDA (lihat atas a.3.)
b.4.2. Rumah Sakit dan KOMITE ETIK PENELITIAN FJK & RS seyogyanya menetapkan:
1) KRITERIA ELIGIBILITY PASIEN COVID yang dinyatakan SEMBUH, apakah LAIK untuk
menjadi DONOR CONVALESCENT PLASMA ?
2) Penentuan Teknik/Metoda PEMERIKSAAN PASIEN yang dinyatakan SEMBUH dari
COVID 19 dan ELIGIBLE menjadi DONOR PLASMA?
3) Penentuan Teknik/ Metoda Pengukuran Laboratorium Titer Antibodi COVID 19 (ELISA?)
dalam monitoring MANFAAT pada PENDONOR plasma ?
4) Penentuan KRITERI KEBERHASILAN LABORATORIUM dan KLINIS pra dan pasca
transfusi Convalescent plasma ?
5) PENJELASAN / EDUKASI dan INFORMED consent, terkait dengan RISIKO TINDAKAN
PLASMAFERESIS bagi PENDONOR
6) PENENTUAN STANDARD PROSEDUR OPERASIONAL (SPO) seusuai dengan
REKOMENDASI AABB atau FDA
7) Penetuan PEMBIAYAAN TINDAKAN
8) Dll
Demikianlah kami sampaikan beberapa masukan dan permohonan untuk tindak lanjut topik Convalescent
Plasma berasal dari Pasien COVID 19 yang dinyatakan sembuh dengan harapan semua terapi yang bersifat
masih uji klinik (belum menjadi terapi standard) dapat dilaksanakan seusia kaidah kaidah uji knlik secara nasional
dan internasional. Sehingga hasilnya dapat dipertanggung jawabkan secara akedemis, dan yang lebih penting lagi
pasien COVID 19 yang dinyatakan sembuh dan pasien COVID 19 dalam keadaan kritis dapat ditangani dengan
tindakan tindakan yang dapat dipertanggung jawabkan.
Besar harapan kami masukan dan usulan ini mendapat perhatian khusus.

Hormat Kami,

Dr. dr. Tb Djumhana Atmakusuma, Sp.PD-KHOM Dr. dr. Ni Ken Ritchie, M.Biomed
Ketua Umum Perhimpunan Hematologi & Transfusi Sains Transfusi, Ketua IV PHTDI &
Darah Indonesia (PHTDI) Ketua Umum Perhimpunan Dokter
Transfusi Darah Indonesia (PDTDI)

Prof Dr dr A Harryanto Reksodiputro, SpPD, KHOM


Ketua Dewan Pertimbangan PHTDI
Lampiran 1

USULAN ALUR (FLOWCHART) UJI KLINIK


PEMBERIAN CONVALSESCENT PLASMA (BERSUMBER dariDONOR
PASIEN COVID 19 YANG DINYATAKAN SEMBUH)

STANDARD PROSEDUR OPERASIONAL


ALUR – FLOW CHART
(SPO), INSTRUKSI KERJA & DOKUMEN

SPO, INSTRUSKIM KERJA:


BADAN PENGAWAS OBAT &
 Tata cara pengajuan uji klinik
MAKANAN (BPOM)
CONVALSCENT PLASMA
REPUBLIK INDONESIA dengan
BERKOORDINASI  Prosesing CONVALESCENT PLASMA
sesuai PRINSIP cGMP:
KEMENKES RI:
- Persyaratan & recruitment donor
1. Direktorat Jenderal Pelayanan plasma, laboratorium skrining donor
Kesehatan plasma)
2. Direktorat Jenderal - Koleksi donor plasma yang aman
Kefarmasian & Alat Kesehatan untuk pendonor plasma serta efektif
3. Direktorat Jenderal Pencegahan untuk penerima / resipien / pasien
dan Penanggulan Penyakit - Fraksionasi plasma sampai dengan
purifikasi
 Penilaian keamanan dan mutu produk
plasma
 Assesement&laporanhasilujiklinik
 Dll (yang aknditentukankemudian)

1. UTD yang telah mendapat SPO, Instruksi Kerjadan Dokumen


sertifikat c-GMP dari BPOM  PenentuanUji Klinik:
2. Rumah Sakit Rujukan Nasional - Proposal & alur pengajuan
/ Provinsi/ Rujukan COVID 19
- Disain uji klinik :
3. TIM COVID 19 di RS terkait
= Critical ill patents: Open label, one
4. KomiteMedik RS terkait
5. Komite Etik Fakultas arm, tanpa kontrol
Kedokteran = Ringan sedang: randomized critical
6. Komite Etik Rumah Sakit trials dengan kontrol
7. Profesi yang terkait dengan
- Kriteria eligibillitas/ prasyarat pasien
penanganan COVID 19 di
RumahSakit - Kriteria inklusi & eksklusi pasien
8. Profesi yang terkait dgn plasma - Parameter penilaian pra & pasca
feresisterapeutik & donor di RS convalesn
 Donor plasma (pasien COVID 19
Berkoordinasidengan: yangdinyatakansembuh):
- Kriteria elibilitas/ prasyarat donor
1. PB IDI, MPPK, dll plasma
2.PerhimpunanProfesiterkait - Kriteria inklusi & eksklusi
(Spesialis&Seminat) -Alurrekuitment, edukasi, informed
consent &koleski donor plasma pasien
COVIOD 1
 Assessment &laporanhasilujiklinik
 Dll (yang akanditentukankemudian)
Lampiran 2

MASUKAN Dari Prof. Dr. dr. Ary Harryanto Reksodiputro, Sp.PD-KHOM


1. TERAPI INI ADALAH TERAPI IMUN PASIF, DIMANA KEDALAM TUBUH PASEN DIMASUKAN ANTI
BODI TERHADAP VIRUS COVID 19.
2. DIHARAPKAN ANTI BODI YG DI MASUKKAN AKAN BEREAKSI DENGAN VIRUS COVID 19
3. PERTEMUAN ANTIBODI DGN ANTIGENNYA YAITU VIRUS COVID 19 AKAN MENYEBABKAN REAKSI
INFLAMASI YANG AKAN MELIBATKAN BERBAGAI : SITOKIN A.L. BERBAGAI INTERLEUKIN
(BERPULUH MACAM INTRLEUKIN) INTERFERON , FAKTOR PERTUMBUHAN (GROWTH FACTOR )
BERBAGAI JENIS LIMFOSIT (T,B, REG DLL) MACAM-MACAM GRANULOSIT (EOSINOFI BASOFIL
DLL) MACAM-MACAM MACROPHAG TROMBOSIT DLL
4. REAKSI INFLAMASI INI BISA MENYEBABKAN BERBAGAI REASI KLINIS MULAI DARI RINGAN SD
BERAT DEMAM MENGGIGIL KEJANG SD SHOK HIPERKOAGULASI DIC SD KEMATIAN
5. KARENANYA DIPERLUKAN PENELITIAN KLINIK YG MANTAP UNTUK MENETAPKAN SELEKSI
DONOR, SELEKSI PASIEN COVID 19 PENERIMA PLASMA, WKTU PEMBERIAN PLASMA, CARA
PEMBERIAN PLASMA, OBSEVASI, MONITOR

WASSALAM,
Prof. Dr. dr. Ary Harryanto Reksodiputro, Sp.PD, KHOM
Lampiran 3