Anda di halaman 1dari 3

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Dasar Infeksi

2.1.1 Pengertian

Infeksi adalah proses invasive oleh mikroorganisme dan berproliferasi didalam tubuh yang
menyebabkan sakit (potter dan perry 2005). Sedangkan menurut Smeltzer dan Brenda (2002), infeksi
adalah beberapa penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan organisme patogenik dalam tubuh.

Infeksi yaitu invasi tubuh oleh mikroorganisme dan berproliferasi dalam jaringan tubuh. (Kozier, et
al, 1995).

Infeksi yaitu invasi dan pembiakkan mikroorganisme di jaringan tubuh, secara klinis tidak tampak
atau timbul cedera seluler local akibat kompetisi metabolism, toksin, replikasi, intrasel, atau respon
antgen-antibodi. (Dorland,2002).

Dalam kamus keperawatan disebutkan bahwa infeksi adalah invasi dan multiplikasi
mikroorganisme dalam jarigan tubuh, khususnya yang menimbulkan cedera seluler setempat akibat
metabolisme kompetitif, toksin, replikasi intraseluler atau reaksi atigen-antibodi. Munculnya infeksi
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan dalam rantai infeksi. Adanya pathogen tidak
berarti bahwa infeksi akan terjadi.

Infeks adalah masuknya kuman pathogen dalam tubuh dan berkembang biak serta menimbulkan
gejala-gejala infeksi. (Barbara C. Long)

Infeksi adalah kolonisasi yang dilakukann oleh spesies asing terhadap organisme inang, dan bersifat
membahayakan inang. Organisme penginfeksi,atau pathogen ,menggunakan sarana yang dimiliki inang
untuk dapat memperbanyak diri, yang pada akhirnya merugikan inang. Patogen mengganggu fungsi
normal inang dan dapat berakibat pada luka kronik,gangrene, kehilangan organ tubuh, dan bahkan
kematian. Respons inang terhadap infeksi disebut peradangan. Secara umum, pathogen umunya
dikategorikan sebagai organisme mikroskopik, walaupun sebenarnya definisinya lebih luas, mencakup
bakteri, parasite.

Infeksi menembus permukaan kulit atau berasal dari dalam tubuh.

Gambaran klinisnya tergantung pada:

1. Letaknya di dalam kulit


2. Sifat alami organisme
3. Sifat respon tubuh terhadap organisme

Sebagian besar infeksi melalui jalan eksternal dengann menembus barie kulit yang dapat
menyebabkan lesi kulit saat organisme menginfeksi tubuh lainnya dan menimbulkan bercak-bercak kulit.
Infeksi dapat disebabkan oleh berbagai macam organisme, seperti fungi, virus, bakteri, protozoa dan
virus metazoan. Banyak organisme yang hidup atau bahakan tumbuh di dalam kulit tetapi tidak
menimbulkan kerugian terhadap inang yang disebut komensal,atau apabila organisme ini
mengkonsumsi bahan-bahan yang mati maka mereka disebut saprofit. (Underwood,1999)

Mekanisme kerusakan jaringan yang diakibatkan organisme infeksius beraneka ragam, karena
produk atau sekresi yang berbahaya dari bakteri-bakteri. Jadi, sel hospes menerima rangsangan bahan
kimia yang mungkin bersifat toksik terhadap metabolism atau terhadap keutuhan membrane sel.
Sebagai tambahan, sering timbul respon peradangan dari hospes yang dapat meyebabkan kerusakan
kimiawi terhadap sel. Agen intraseluler misalnya virus sering menyebabkan rupture sel yang terinfeksi.
Selanjutnya terjad kerusakan jaringan local. (Underwood,1999)

Infeksi kronik adalah infeksi yang virusnya secara kontinew dapat dideteksi, sering pada kadar
rendah, gejala klinis dapat ringan atau tidak terlihat. Terjadi akibat sejumlah virus hewan, dan
persistensi pada keadaan tertentu bergantung pada usia orang saat terinfeksi. Pada infeksi kronik oleh
virus RNA, populasi virus sering mengalami banyak perubahan genetic dan antigenic.

Infeksi laten adalah infeksi yang virusnya kebanyakan menetap dalam bentuk samara tau kriptik.
Penyakit klinis dapat timbul serangan akut intermiten; virus infeksius dapat ditemukan selama timbulnya
serangan tersebut.

2.2 Tahapan Klinis Infeksi

Dalam riwayat perjalanan penyakit, pejamu yang peka (suspectable host) akan berinteraksi dengan
mikroba pathogen, yang secara alamiah akan melewati 4 tahap :

1. Tahap Rentan

Pada tahap ini pejamu masih dalam kondisi relative sehat, namun peka atau labil, disertai faktor
predisposisi yang mempermudah terkena penyakit seperti umur, keadaan fisik,
perilaku/kebiasaan hidup, social-ekonomi, dll. Faktor-faktor predisposisi tersebut mempercepat
masuknya agen penyebab penyakit (mikroba pathogen) untuk berinteraksi dengan pejamu.

2. Tahap Inkubasi

Setelah masuk ke tubuh pejamu, mikroba pathogen mulai beraksi, namun tanda dan gejala
penyakit belum tampak (subklinis). Saat mulai masuknya mikroba pathogen ke tubuh pejamu
hingga saat munculnya tanda dan gejala penyakit disebut masa inkubasi. Masa inkubasi satu
penyakit berbeda dengan penyakit lainnya; ada yang hanya beberapa jam, dan ada pula yang
bertahun-tahun.

3. Tahap Klinis

Merupakan tahap terganggunya fungsi organ yang dapat memunculkan tanda dan gejala (signs
and symptomps) penyakit. Dalam perkembangannya, penyakit akan berjalan secara bertahap.
Pada tahap awal, tanda dan gejala penyakit masih ringan. Penderita masih mampu melakukan
aktivitas sehari-hari dan masih dapat diatasi dengan berobat jalan. Pada tahap lanjut, penyakit
tidak dapat diatasi dengan berobat jalan, karena penyakit bertambah parah, baik secara objektif
maupun subjektif. Pada tahap ini penderita sudah tidak mampu lagi melakukan aktivitas sehari-
hari dan jika berobat, umunya harus melakukan perawatan.

4. Tahap Akhir Penyakit


Perjalanan penyakit pada suatu saat berakhir pula. Perjalanan penyakit tersebut berakhir
dengan 5 alternatif.
a. Sembuh sempurna
Penderita sembuh secara sempurna, artinya bentuk dan fungsi sel/jaringan/organ tubuh
kembali seperti sedia kala.
b. Sembuh dengan cacat
Penderita sembuh dari penyakitnya namun disertai adanya kecacatan. Cacat dapat
berbentuk cacat fsik, cacat mental, maupun cacat social.
c. Pembawa (carrier)
Perjalanan penyakit seolah-olah berhenti, ditandai dengan menghilangnya tanda dan gejala
penyakit. Pada kondisi ini agen penyebab penyakit masih ada, dan masih potensial sebagai
sumber penularan.
d. Kronis
Perjalanan penyakit bergerak lambat, dengan tanda dan gejala yang tetap atau tidak
berubah (stagnan).
e. Meninggal dunia
Akhir perjalanan penyakit dengan adanya kegagalan fungsi-fungsi organ.