Anda di halaman 1dari 17

MIOPIA

                         Definisi

Miopia adalah kelainan refraksi pada mata dimana bayangan difokuskan di depan retina,

ketika mata tidak dalam kondisi berakomodasi. Miopia berasal dari bahasa Yunani “muopia”

yang artinya menutup mata. Miopia merupakan manifestasi kabur bila melihat jauh, atau yang

sering dikenal dengan istilah “nearsightedness”.

Miopia yang juga dikenal dengan istilah rabun jauh merupakan kelainan refraksi dimana

berkas sinar sejajar yang memasuki mata tanpa akomodasi, jatuh pada fokus yang berada di

depan retina. Dalam keadaan ini objek yang jauh tidak dapat dilihat secara teliti karena sinar

yang datang saling bersilangan pada humor vitreous, sehingga ketika sinar tersebut sampai

diretina sinar-sinar ini menjadi divergen, membentuk lingkaran yang difus menyebabkan terlihat

bayangan yang kabur.

  Klasifikasi

Menurut American Optometric Association (AOA), ada beberapa klasifikasi atau

pembagian miopia yakni klasifikasi miopia berdasaran temuan klinis dan klasifikasi miopia

berdasarkan derajat serta waktu timbulnya onset.

Jenis Klasifikasi Klasifikasi


Miopia simpel
Miopia nokturnal
Berdasarkan Temuan Klinis Pseudomiopia
Degeneratif miopia
Miopia diinduksi
Berdasarkan Ukuran Dioptri Lensa Yang Miopia Ringan (<3.00 D)
Miopia sedang (3.00 D-6.00 D)
Dibutuhkan Untuk Mengkoreksikannya
Miopia berat (>6.00 D)
Miopia kongenital
Miopia onset anak-anak
Berdasarkan Waktu Timbulnya Onset
Miopia onset awal dewasa
Miopia Onset dewasa
Sumber: American Optometric Association. Optometri clinical practice guideline care of the patient with myopia.

USA: 2006.Tabel 1. Klasifikasi Miopia

Berdasarkan temuan klinis, terdapat lia jenis miopia menurut AOA yakni yang pertama

miopia simpleks. Miopia jenis ini disebabkan oleh dimensi bola mata yang terlalu panjang atau

indeks bias kornea maupun lensa kristalina yang terlalu tinggi. Ini dikenal dengan miopia

fisiologis. Kedua, miopia nokturnal yang hanya terjadi pada saat kondisi disekeliling kekurangan

cahaya, sebenarnya fokus titik jauh mata seseorang bervariasi terhadap tahap pencahayaan yang

ada. Terjadinya miopia nokturnal ini dipercaya disebabkan oleh pupil yang sangat berdilatasi

untuk memasukan cahaya, sehingga menimbulkan aberasi dan menambah kondisi miopia.

Ketiga, pseudomiopia yang diakibatkan oleh rangsangan yang berlebihan terhadap mekanisme

akomodasi sehingga terjadi kekejangan otot-otot siliaris yang memfiksasi lensa kristalina. Di

Indonesia, pseudomiopia disebut juga dengan miopia palsu, karena sifatnya yang hanya

sementara sampai kekejangan akomodasinya dapat direlaksasikan. Keempat, miopia degeneratif

yang disebut juga sebagai miopia malignan atau miopia progresif. Biasanya merupakan miopia

derajat tinggi dan tajam penglihatannya juga dibawah normal meskipun telah dilakukan koreksi.

Miopia jenis ini bertambah buruk dari waktu ke waktu. Kelima, miopia induksi. Miopia jenis ini

disebabkan oleh pemakaian obat-obatan, kadar gula darah, terjadinya sklerosis pada nukleus

lensa dan sebagainya.


Sedangkan klasifikasi miopia berdasarkan ukuran dioptri lensa yang dibutuhkan untuk

mengoreksi terbagi atas tiga jenis yakni miopia ringan dengan lensa yang digunakan untuk

mengoreksi adalah 0,25 s/d 3,00 dioptri. Miopia sedang dengan lensa yang digunakan untuk

mengoreksi adalah 3,35 s/d 6,00 dioptri dan miopia berat dengan lensa yang digunakan untuk

mengoreksi adalah >6,00 diptri.

Miopia juga dapat diklasifikasikan berdasarkan waktu timbulnya onset yakni diatranya

miopia kongenital yang terjadi sejak lahir dan menetap pada maa anak-anak. Miopia onset anak-

anak atau miopia juvenil yakni miopia yang terjadi pada usia dibawah 20 tahun. Kemudian

miopia onset dewasa awal yakni miopia yang terjadi pada usia diantara 20 sampai 40 tahun dan

miopia onset dewasa yang terjadi di atas usia 40 tahun.

Namun ada juga yang engklasifikasikan  miopia berdasarkan penyebabnya yakni yang

pertama miopia aksial, dimana panjang bola mata abnormal sedangkan daya bias komponen

refraksi mata dalam keadaan normal. Baik kornea maupun lensa mempunyai kelengkungan, daya

bias dan posisi yang normal. Kedua, miopia kurvartura. Pada miopia jenis ini terjadi

pertambahan kelengkungan  kornea atau lensa dengan panjang aksis bola mata dalam batas

normal. Contohnya pada keadaan intumesensi lensa. Ketiga, miopia pembiasaan yang terjadi

akibat perubahan indeks bias komponen refraksi mata, biasanya bersifat temporer dan sering

ditemukan pada penderita diabetes melitus, dll. Meskipun demikian, sampai saat ini diklinik

banyak yang menggunakan klasifikasi miopia berdasarkan ukuran dioptri lensa yang dibutuhkan

untuk mengoreksikannya.

   Epidemiologi
Prevalensi miopia bervariasi diberbagai belahan dunia. Hal ini disebabkan karena adanya

perbedaan genetik, usia, jenis kelamin, dan aktivitas. Ditinjau dari usia, menurut Fan

dkk, prevalensi miopia meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini dibuktikan dalam

penelitiannya terhadap 7860 siswa SD di hongkong dalam tahun 1998 sampai 2000 dengan nilai

signifikant  <0,0001. Berdasarkan gender sendiri dikatakan bahwa wanita lebih cenderung

mengalami miopia dibandingkan pria. Sampai saat ini belum diketahui pasti penyebabnya.

Prevalensi miopia cenderung meningkat akhir-akhir ini. Tidak jarang anak-anak usia

sekolah pun banyak mengalami miopia. Hal ini menyebabkan banyak peneliti di dunia yang

mulai tertarik untuk mengetahui angka kejadian miopia di berbagai negara. Dibawah ini

kumpulan beberapa hasil penelitian terkait prevalensi miopia pada anak usia sekolah di beberapa

negara.

Negara Miopia (%) Usia


Hong kong
36,7 5-11
(Fan et al, 2004)
Singapura
36,3 7-9
(Saw et al, 2006)
Australia
(Junghans et al, 8,4 4-12
2000)
Chile
3,4-18,7 4-12
(Maul et al, 2000)
New Delhi
4,9-10,8 5-15
(Murthy et al, 2002)
Nepal
1,2 5-15
(Pokharel et al, 2000)
Shanghai, Cina
36-43 5-16
(Zhao et al, 2003)
Sumber: Hashim SE, Tan HK. Prevalence of refractive error in Malay primary school children in suburban Area of

Kota Bharu, Kelantan, Malaysia. Ann Acad Med Singapore. 2008 Nov;37(11):940-6.Tabel 2 Perbandingan

prevalensi miopia pada anak-anak dibeberapa negara

            Faktor Resiko

            Menurut American Optometric Association (AOA), penyebab terjadinya miopia

belum diketahui secara pasti, namun diduga faktor genetik dan stress visual dalam hal ini

kebiasaan-kebiasaan seperti membaca jarak dekat, menonto TV atau menggunakan komputer

dengan jarak dekat dalam waktu yang cukup lama, dan mengerjakan tugas dalam waktu yang

lebih lama menjadi faktor resiko dan faktor predisposisi terjadinya miopia.

1.             Keturunan.

Menurut Leo dkk, faktor genetik juga turut berpengaruh yakni melibatkan gen PAX6

yang terlibat dalam okulogenesis, dan pertumbuhan ocular. Ini juga yang turut berperan dalam

meningkatnya prevalensi miopia di Asia dibandingkan negara lain. Orang tua yang mempunyai

sumbu bola mata yang lebih panjang dari normal juga akan melahirkan keturunan yang memiliki

sumbu bola mata yang lebih panjang dari normal. Ada bukti yang signifikan bahwa miopia

diwariskan, atau setidaknya kecenderungan untuk mengalami miopia pada anak-anak dengan

kedua orang tua atau salah satu orang tuannya mengalami miopia. Jika salah satu atau kedua

orang tua miopia, makan resiko mengalami miopia pada anak-anaknya juga meningkat. Sesuai

dengan penelitian yang dilakukan oleh Arianti dimana dari 44 responden, yang mengalami

miopia didapatkan 18 responden memiliki riwayat miopia di keluarga, sedangkan dari 26

responden yang tidak mengalami miopia, 3 orang memiliki riwayat miopia di keluarga dan

didapatkan nilai signifikansi (p=0,010) yang didapat dengan uji Chi-Square. Penelitian Jones,
dkk juga mengatakan bahwa ada hubungan antara riwayat miopia pada keluarga dengan miopia

dengan nilai signifikansi sebesar  (p= <0,0001) yang mengindikasikan bahwa kemungkinan anak

memiliki resiko tinggi menjadi miopia meningkat seiring jumlah orang tua yang mengalami

miopia. Peneliti Mutti dalam jurnalnya menyatakan bahwa selain lokus miopia yang dapat

menyebabkan miopia patologis, ada juga dua hipotesis yakni yang pertama inherited enviroment

yakni kemungkinan kecenderungan miopia yang terjadi di dalam keluarga disebabkan karena

lingkungan keluarga yang memiliki kebiasaan melakukan aktivitas jarak dekat yang intens

dibandingkan dengan pewarisan genetik. Orang tua yang memberikan standar akademik kepada

anaknya atau mewariskan kebiasaan gemar membaca kepada anak dibandingkan menyampaikan

kesalahan refraksi miopia kepada anaknya. Teori yang kedua yakni anak memiliki faktor genetik,

dan menjadi miopia karena dipicu oleh faktor lingkungan.

2.             Stres Visual

Kebiasaan melihat jarak dekat secara terus menerus dapat memperbesar resiko miopia.

Demikian juga kebiasaan membaca dengan penerangan yang kurang memadai. Dari sebuah

penelitian oleh Lembaga Pengkajian dan Penelitian Senat Mahasiswa Ikatan Keluarga

Mahasiswa FKUI bahwa menonton televisi dengan jarak yang dekat akan berpengaruh terhadap

fungsi retina. Jadi semakin dekat jarak menonton televisi dan semakin lama waktu menonton

televisi, maka semakin turun fungsi retina. Padahal sebaiknya anak-anak menonton televisi

dengan jarak 4 meter dan untuk mereka yang berusia 6-9 tahun sebaiknya menonton televisi

selama 60 menit per hari, untuk yang 9-13 tahun menonton televisi selama 90 menit per

hari. Miopia dapat terjadi karena ukuran sumbu bola mata yang tumbuh terlalu panjang saat bayi.

Meskipun kecenderungan untuk mengalami miopia dapat diwariskan, kemajuaan yang

sebenarnya dapat dipengaruhi oleh aktivitas matanya. Individu yang dengan intens
menghabiskan cukup waktu untuk membaca, bekerja di depan komputer, atau melakukan

pekerjaan visual yang dekat mungkin lebih cenderung untuk menjadi miopia.
  

            

            Patogenesis

         Menurut Curtin miopia yang terjadi dapat dikarenakan ukuran sumbu bola mata

yang relatif panjang yang juga dikenal dengan miopia aksial, indeks bias media refraksi yang

terlalu tinggi atau indeks bias kornea dan lensa yang terlalu kuat. Diameter anterior-posterior

bola mata normal yakni 24,4mm. Bila anterior-posterior bola mata yang terlalu panjang atau

lensa terlalu kuat, sumber cahaya dekat dibawah tepat ke fokus di retina tanpa akomodasi 

(walaupun dalam keadaan normal akomodasi diperlukan untuk penglihatan dekat) sementara

sumber cahaya jauh  difokuskan didepan retina dan tampak kabur. Dalam keadaan ini objek yang

jauh tidak dapat dilihat secara teliti karena sinar yang datang saling bersilangan pada humor

vitreous, sehingga ketika sinar tersebut sampai di retina sinar-sinar ini menjadi divergen,

membentuk lingkaran yang difus menyebabkan terlihat bayangan yang kabur. Sehingga orang

dengan miopia memiliki penglihatan dekat lebih baik daripada penglihatan jarak jauh.

 Gambar 2.3 Patogenesis Miopia

Sumber: Batterburry M., Bowling B., Murphy C. Opthalmology: an illustrated colour text. Elsevier.2012: 3;18.
    Manifestasi Klinis

         Pasien mengeluh penglihatan kabur ketika melihat jarak jauh, sedangkan jelas

ketika melihat jarak dekat. Jika derajat miopianya terlalu tinggi, sehingga letak pungtum

remotum kedua mata terlalu dekat, maka kedua mata harus melihat dalam posisi konvergensi dan

hal ini mungkin menimbulkan keluhan ( astenovergen). Apabila miopia pada mata yang satu

lebih tinggi dari mata yang lain, maka dapat terjadi ambiopia pada mata yang miopianya lebih

tinggi. Mata ambiopia akan menggulir ke temporal sehingga dapat menjadi strabismus divergen

(ekstropia).

        

          Diagnosis Miopia

          Pasien dengan miopia akan menyatakan melihat jelas bila dekat, sedangkan melihat

jauh kabur atau disebut pasien adalah rabun jauh. Pasien dengan miopia akan memberikan

keluhan sakit kepala, sering disertai dengan juling dan celah kelopak yang sempit.

Pengujian atau test yang dapat dilakukan dengan pemeriksaan mata secara umum atau

standar pemeriksaan mata, terdiri dari :

1.             Uji ketajaman penglihatan pada kedua mata dari jarak jauh (Snellen)

2.             Uji pembiasan, untuk menentukan benarnya resep dokter dalam pemakaian kaca mata.

3.             Pemeriksaan celah dan bentuk tepat di retina.

4.             Mengukur tekanan cairan di dalam mata dan pemeriksaan retina.

         Penatalaksanaan
Penatalaksanan miopia dapat dilakuakan dengan dua langkah yakni terapi optikal dan terapi

pembedahan.

          Terapi optikal
Miopia bisa dikoreksi dengan menggunakan lensa spheris negatif sehingga cahaya yang

sebelumnya difokuskan di depan retina dapat jatuh tepat di retina. Lensa sferis menyebabakan

cahaya mengalami divergeni sebelum masuk ke mata sehingga ketika cahaya berada di mata,

cahaya tersebut difokuskan berada tepat di retina sehingga pasien akan melihat objek dengan

jelas. Terapi optikal terdiri dari koreksi dengan menggunakan kacamata dan koreksi dengan

menggunakan lensa kontak. 

1.             Koreksi Miopia Tinggi dengan Penggunaan Kacamata

Penggunaan kacamata untuk pasien miopia sangat penting. Meskipun banyak pasien

miopia dewasa ini menggunakan lensa kontak, namun kacamata masih dibutuhkan. Semakin

tinggi indeks lensa, semakin tipis lensa yang dibutuhkan. Seseorang dengan miopia bila

diberikan lensa bantu sferis negatif yang terlalu lemah akan menimbulkan ketidaknyamanan

karena membuat orang tersebut berakomodasi untuk dapat melihat dengan jelas. Jadi bila pasien

miopia dikoreksi dengan  Pelapis antisilau pada lensa akan meningkatkan pengiriman cahaya

melalui material lensa dengan indeks yang tinggi ini sehingga membuat resolusi yang lebih

tinggi.

2.             Koreksi Miopia Tinggi dengan Menggunakan Lensa Kontak


Cara yang disukai untuk mengoreksi kelainan miopia saat ini adalah dengan

menggunakan lensa kontak. Banyak jenis lensa kontak yang tersedia meliputi lensa kontak sekali

pakai yang sekarang telah tersedia lebih dari -16.00 dioptri.

Lensa kontak ada dua macam yaitu lensa kontak lunak (soft lens) serta lensa kontak

keras (hard lens). Pengelompokan ini didasarkan pada bahan penyusunnya. Lensa kontak lunak

disusun oleh hydrogels, HEMA (hydroksimethylmetacrylate) dan vinyl copolymer sedangkan

lensa kontak keras disusun dari PMMA (polymethylmetacrylate). Keuntungan lensa kontak lunak

adalah nyaman, singkat masa adaptasi pemakaiannya, mudah memakainya, dislokasi lensa yang

minimal, dapat dipakai untuk sementara waktu. Kerugian lensa kontak lunak adalah memberikan

ketajaman penglihatan yang tidak maksimal. Kontak lensa keras mempunyai keuntungan yaitu

memberikan koreksi visus yang baik, bisa dipakai dalam jangka waktu yang lama (awet), serta

mampu mengoreksi astigmatisme kurang dari 2 dioptri. Kerugiannya adalah memerlukan fitting

yang lama, serta memberikan rasa yang kurang nyaman. Pemakaian lensa kontak harus sangat

hati-hati karena memberikan komplikasi pada kornea, tetapi komplikasi ini dikurangi dengan

pemilihan bahan yang mampu dilewati gas O2. Hal ini disebut Dk (gas Diffusion Coefficient),

semakin tinggi Dk-nya semakin besar bisa mengalirkan oksigen, sehingga semakin baik bahan

tersebut.

            Terapi bedah
Seiring dengan semakin berkembangnya tehnik operasi dan semakin banyaknya orang

yang lebih memilih operasi dibandingkan dengan memakai kacamata ataupun lensa kontak.

Sekarang telah dilakukan banyak prosedur operasi untuk mengkoreksi kelainan refraksi seperti

miopia secara permanen. Setelah operasi penderita miopia akan mendapatkan tajam penglihatan

sampai 20/40 bahkan sampai 20/20.


Beberapa tehnik operasi yang telah digunakan untuk mengatasi kelainan refraktif miopia ini,

diantaranya :

1.             Epikeratophakia

2.             Radial keratotomy (RK)

3.             Photo-refractive keratotomy (PRK)

4.             Laser Insitu Keratomileusis (LASIK)

5.             Clear lens extraction in unilateral high myopia

6.             Phakic IOL

            Pencegahan
Menurut Curtin (2002) ada cara untuk mencegah terjadinya miopia, yaitu dengan:

1.             Mencegah kebiasaan buruk seperti :

a.         Biasakan anak duduk dengan posisi tegak sejak kecil.

b.         Memegang alat tulis dengan benar.

c.    Lakukan istirahat setiap 30 menit setelah melakukan kegiatan membaca atau menonton televisi.

d.        Batasi jam untuk membaca.

e.      Atur jarak membaca buku dengan tepat (kurang lebih 30 centimeter dari buku) dan gunakan

penerangan yang cukup.

f.       Membaca dengan posisi tidur atau tengkurap bukanlah kebiasaan yang baik.

2.       Beberapa penelitian melaporkan bahwa usaha untuk melatih jauh atau melihat jauh dan dekat

secara bergantian dapat mencegah terjadinya miopia.

3.      Jika ada kelainan pada mata, kenali dan perbaiki sejak awal. Jangan menunggu sampai ada

gangguan mata. Jika tidak diperbaiki sejak awal, maka kelainan yang ada bisa menjadi
permanen. Contohnya bila ada bayi prematur harus terus dipantau selama 4-6 minggu pertama di

ruang inkubator supaya dapat mencegah tanda-tanda retinopati.

4.        Untuk anak dengan tingkat miopia kanan dan kiri tinggi, segera lakukan konsultasi dengan dokter

spesialis mata anak supaya tidak terjadi juling. Dan selama mengikuti rehabilitasi tersebut,

patuhilah setiap perintah dokter dalam mengikuti program tersebut.

5.             Periksalah mata anak sedini mungkin jika dalam keluarga ada yang memakai kacamata.

6.    Dengan mengenali keanehan, misalnya kemampuan melihat yang kurang, maka segeralah

melakukan pemeriksaan.

          Komplikasi

Ada beberapa komplikasi yang dapat disebabkan oleh miopia diantaranya :

1.             Ablasio retina

Resiko untuk terjadinya ablasio retina pada 0 sampai (- 4,75) D sekitar 1/6662.

Sedangkan pada (- 5) sampai (-9,75) D risiko meningkat menjadi 1/1335.Lebih dari (-10) D

risiko ini menjadi 1/148. Dengan kata lain penambahan faktor risiko pada miopia lebih rendah

tiga kali sedangkan miopia tinggi meningkat menjadi 300 kali.

2.             Miopik makulopati

 Dapat terjadi penipisan koroid dan retina serta hilangnya pembuluh darah kapiler pada

mata yang berakibat atrofi sel-sel retina sehingga lapangan pandang berkurang. Dapat juga

terjadi perdarahan retina dan koroid yang bisa menyebabkan berkurangnya lapangan pandang.

Miopi vaskular koroid atau degenerasi makular miopia juga merupakan konsekuensi dari

degenerasi makular normal dan ini disebabkan oleh pembuluh darah yang abnormal yang

tumbuh di  bawah sentral retina.


3.             Glaukoma

 Risiko terjadinya glaukoma pada mata normal adalah 1,2%, pada miopia sedang 4,2%,

dan pada miopia tinggi 4,4%. Glaukoma pada miopia terjadi dikarenakan stres akomodasi dan

konvergensi serta kelainan struktur jaringan ikat penyambung pada trabekula.

REFERENSI:

1.    Saw SM. A synopsys of the prevalance rate and the enviromental risk factor of myopia. Clin

Exp Optom. 2003; 86: 5:  289264

2.  Yip VCH, Pan CW, Lin XY, Lee YS, Gazzard G, Wong TY, et all. iOVS: The relationship

between growth spurts and myopia in singapore children [Internet]. 2012. [cited 2014 Agust 19]

Available from: http://www.iovs.org/content/53/13/7961.full

3. National Eyes Institute. Myopia [Internet]. 2010. [cited 2014 Agust 19]. Available from:

http://www.nei.nih.gov/eyedata/myopia.asp#4

4.  World Health Organization., International Agency for the Prevention of Blindness. Vission 2020

the right to sight: vision 2020 global initiative for the elemnation of avoidable blindness: action

plan 2007-2011. World Health Organization:  France, 2007.

5.    American Optometric Association. Optometric clinical practice guideline: care of the patient

with myopia.  USA: American Optometric Association, 2006.p.3

6.   Fan DSP, Lam DSC, Lam RF, Lau JTF, Chong KS, Cheung EYY, et al. Prevalence, incidence,

and progression of myopia of school children in Hong kong. Investigative Ophthalmology &

Visual Science 2004;4:1027.


7. Universitas Gajah Mada. Anak perempuan di Yogyakarta lebih banyak menderita miopia

[Internet]. 2007. [cited 2014 Agust 19]. Available from:

http://www.ugm.ac.id/id/berita/1492anak.perempuan.di.yogyakarta.lebih.banyak.menderita.myo

pia

8.  Hartanto W, Inakawati S. Kelainan refraksi tak terkoreksi penuh di RSUP dr. Kariadi Semarang

periode 1 januari 2002 - 31 desember 2003. Media Medika Mudah 2010;4:25-29

9.  Murthy, Gupatha S, Ellwein L, Muñoz SR, Pokharel GP, Sanga L, et al. Refractive error in

children in urban population in New Delhi. Invest Ophtalmo Visc Sci. 2002.42:623631.

10.  Dandona R, Dandona L, Srinivas M, Naduvilath TJ, Sahare P, Narsaiah S, et al. Refractive error

in an urbal population in Southeren India: The  Andra Pradesh Eye Disease Study. Invest

Ophtalmo Visc Sci. 1999.40:2810-2818.

11.  Vitale S, Sperduto RD, Ferris FL, 3rd. Increased prevalence of myopia in the united states

between 1971-1972 and 1999-2004. Arch Ophthalmol 2009;127(12):1632-9.

12.  Tiharyo I., Gunawan W., Suharjdo. Pertambahan miopia pada anak sekolah dasar perkotaan dan

pedesaan di daerah Istimewah Yogjakarta. Jurnal oftalmologi Indonesia. 2008;2(6):105-112.

13.  Lin LL, Shih YF, Hsiao CK, Chen CJ, Lee LA, Hung PT. Epidemiologic study of the prevalence

and severity of myopia among schoolchildren in Taiwan in 2000. J Formos Med Assoc

2001;100(10):684-91.

14. Hasibuan FS. Hubungan faktor keturunun, lamanya bekerja jarak dekat dengan miopia pada

mahasiswa Fk Usu [skripsi]. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara. 2009.

15.  Arianti MP. Hubungan antara riwayat miopia di keluarga dan lama aktivitas jarak dekat dengan

miopia pada mahasiswa pspd untan angkatan 2010-2012 [skripsi]. Fakultas Kedokteran

Universitas Tanjungpura. 2013


16.  Saw SM, Nieto FJ, Katz J, Schein OD, Levy B, Chew SJ. Factors Related to the Progression of

Myopia in Singaporean Children. American Academy of Optometry. 2000;10(77): 549–554.

17.  Nurksih I, Sulistomo AB, Rahayu T. Hubungan antara kerja jarak dekat dengan miopia pada

penjahit wanita departemen stitching atletik II pabrik sepatu “x” tahun 2004. Majalah

Kedokteran Indonesia..2010;3(60):107-112.

18. Wakode NS, Kseershagar DD, Wakode SL. Risk factors for myopia in medical students.

International Journal of Recent Trends in Science And Technology 2013;8(1):10-12.

19.  Morgan I, Rose K. How genetic is school myopia? Prog Retin Eye Res 2005;24(1):1-38.

20. Mutti DO, Mitchell GL, Moeschberg ML, Jones LA, Zadnik K. iOVS: Parental myopia, near

work, school achievement, and children’s refractive error [Internet]. 2014. [cited 2014 Agust

20]. Available from:

http://www.iovs.org/content/43/12/3633.long

21.  Sasraningrat MI. Gambaran tingkat pengetahuan dan sikap siswa SD Islam Ruhama Cireundeu

kelas 5 dan 6 terhadap miopia dan faktor yang mempengaruhinya tahun 2011 [Skripsi].

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. 2011.

22.    Usman  S, Nukman E, Babasari E. Hubungan antara faktor keturunan, aktivitas melihat dekat

dan sikap pencegahan mahasiswa fakultas kedokteran universitas riau terhadap kejadian miopia.

JOM FK. 2013:2(1);1-13.

23.  American Optometric Association. Optometri clinical practice guideline care of the patient with

myopia. USA: 2006.

24.  Curtin BJ. The myopias: basic science and clinical management. 2002. Philadephia: Harper &

Row.p.348-58.
25. Ilyas S. Ilmu penyakit mata: untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran. Ed,2. Jakarta:

Sagung Setyo.p.47.

26.  Hashim SE, Tan HK. Prevalence of refractive error in Malay primary school children in

suburban Area of Kota Bharu, Kelantan, Malaysia. Ann Acad Med Singapore. 2008

Nov;37(11):940-6.

27.  Kliegmen. Behrman. Ilmu kesehatan anak nelson. Ed.15.Vol.3. Cetakan pertama. Jakarta: EGC:

2000.h.2150.

28. Jones Jordan LA, Sinnott LT, Manny RE, Cotter SA, Kleinstein RN, Mutti DO, et all.
Earlyhildhood Refractive Error and Parental History Myopia as Predictors of Myopia. Invest
Ophthalmol Vis Sci [Internet]. 2010 [cited 2014 Agust 9] vol 51 (1) ; 115-121 . available from:
http://www.jovs.org/content/51/1/115.short

29. Anonim. Gangguan Mata. [cited 2011 January 31] available fom:


http://www.jovs.org/content/51/1/115.short
30. Silbernagl S., Lang F. Colour atlas of pathophysiology. Georg Thieme Verlag: Germany.

2000.p.323

31.  Batterburry M., Bowling B., Murphy C. Opthalmology: an illustrated colour text. Elsevier.2012:

3;18.

32.    Ilyas S. Penuntut Ilmu Penyakit Mata. Ed. 2.  Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2003. p. 52

33.    Pachul C. High Miopia-Nearsighted Vision [Internet]. available from: http://

www.lensdesign.com. [cited l 26 januari 2009].

34.    Ilyas S. Ilmu penyakit mata. Ed. 3. Jakarta Balai Penerbit FKUI, 2007.h.147-167.

35.    Sherwood L. Fisiologi Manusia Dari Sel Ke Sistem. Ed. 2. Jakarta: EGC, 2001. p. 164

36.    Hartono, Yudono RH, Utomo PT, Hernowo AS. Refraksi dalam: ilmu penyakit

mata. Suhardjo, Hartono (eds). Yogyakarta: Bagian Ilmu Penyakit Mata FK

UGM,2007;185-7.
37.    Semarang Eye Centre. Tindakan Bedah LASIK [Internet].[cited 21 Agustus 2014]. available

from  http://www.semarang-eyecentre. com.

38.    Suryanto B,dkk. Pelayanan kesehatan mata primer di unit perdhaki. Jakarta: Perdakhi; 2006.

h.29.