Anda di halaman 1dari 2

Astigmat

3.1. Defenisi

Astigmat adalah suatu keadaan dimana berkas sinar tidak difokuskan pada satu titik dengan
tajam pada retina akan tetapi pada 2 garis titik api yang saling tegak lurus yang terjadi akibat
kelainan kelengkungan permukaan kornea.

3.2. Klasifikasi

Tipe-tipe astigmatisma:

1.      Astigmatisma hipermetropikus simpleks, satu meridian utamanya emetropik, meridian


yang lainnya hipermetropik.

2.      Astigmatisma miopikus simpleks, satu meridian utamanya emetropik, meridian lainnya
miopi

3.      Astigmatisma hipermetropikus kompositus, kedua meridian utama hipermetropik dengan


derajat berbeda.

4.      Astigmatisma miopikus kompositus, kedua meridian utamanya miopik dengan derajat
berbeda

5.      Astigmatisma mikstus, satu meridian utamanya hipermetropik, meridian yang lain miopik.

3.3. Epidemiologi

Kelainan ini menyebar merata di berbagai geografis, etnis, usia dan jenis kelamin.

3.4. Etiologi dan Faktor Resiko

Penyebab kelainan ini adalah terdapatnya perbedaan diameter anterior posterior bola mata,
kurvatura kornea dan lensa serta indek bias kedua mata.

3.5. Patofisiologi

Perbedaan diameter anterior posterior bola mata, kurvatura kornea dan lensa serta indek bias
kedua mata menyebabkan sinar sejajar tidak dibiaskan secara seimbang pada seluruh meridian.

3.6. Manifestasi Klinik

Manifestasi Klinik dari kelainan ini adalah

a.       Penglihatan buram


b.      Head tilting

c.       Menengok untuk melihat jelas

d.      Mempersempit palpebra

e.       Memegang bahan bacaan lebih dekat

3.7. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis dan pemeriksaan dengan ophtalmoscope.

3.8. Diagnosis Banding

Diagnosis banding kelainan ini adalah miopi dan hipermetropi.

3.9. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Penunjang adalah ophtalmoscope.

3.10. Tatalaksana

Koreksi dengan lensa silinder bersama dengan sferis kalau ada.

3.11. Prognosis

Prognosis tergantung onset kelainan, waktu pemberian peengobatan, pengobatan yang diberikan
dan penyakit penyerta. Pada anak-anak, jika koreksi diberikan sebelum saraf optiknya matang
(biasanya pada umur 8-10 tahun), maka prognosisnya lebih baik.

3.12. Rujukan

Pasien dengan kelainan ini dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan mata sekunder (spesialis mata)
jika tidak menunjukkan hasil yang memuaskan setelah diberi koreksi kacamata atau terdapat
komplikasi.