Anda di halaman 1dari 2

1.

Pemeriksaan feses adalah serangkaian tes yang dilakukan pada sampel feses (kotoran) untuk
membantu mendiagnosis kondisi tertentu yang mempengaruhi saluran
pencernaan. Pemeriksaan feses dilakukan untuk mengetahui penyebab infeksi, seperti
bakteri, virus, jamur, atau parasit. Pemeriksaan feses untuk mengukur tripsin atau elastase
tidak dapat diandalkan seperti tes keringat untuk mendeteksi fibrosis kistik.

INDIKASI  

1. Adanya diare dan konstipasi


2. Adanya ikterus
3. Adanya ikterus Adanya gangguan pencernaan
4. Adanya lendir dalam tinja
5. Kecurigaan penyakit gastrointestinal
6. Adanya darah dalam tinja

2. Indikasi pemeriksaan urine


- Pemeriksaan kesehatan rutin. Pemeriksaan kesehatan dapat dilakukan
secara rutin, umumnya tiap tahun, untuk memantau kondisi kesehatan,
terutama bagi penderita diabetes, hipertensi, penyakit ginjal, dan penyakit
liver.
- Diagnosis penyakit atau kondisi medis.Melalui tes urine, keberadaan
sejumlah penyakit dapat terdeteksi. Contohnya, infeksi saluran kemih, batu
ginjal, diabetes, kerusakan ginjal, kerusakan otot (rhabdomyolisis),
dan penyakit liver. Selain itu, tes ini juga dapat dilakukan jika pasien
menderita gejala penyakit tertentu yang dapat memengaruhi urine, seperti
nyeri perut, nyeri pada saat buang air kecil, demam, atau buang air kecil
berdarah.
- Memantau perkembangan penyakit. Tes urine dapat dilakukan untuk
memantau apakah suatu penyakit bertambah parah atau tidak. Misalnya,
untuk memantau tingkat keparahan diabetes.
- Memantau respons pasien terhadap suatu pengobatan. Selain untuk
memantau perkembangan penyakit, tes urine juga dapat dilakukan untuk
melihat apakah pengobatan yang diberikan kepada pasien efektif dalam
menyembuhkan penyakit.
3. Pengambilan sputum sebaiknya dilakukan pada pagi hari, dimana kemungkinan untuk
mendapat sputum bagian dalam lebih besar. Waktu yang diperlukan untuk pengambilan
sputum adalah 3 kali pengambilan sputum dalam 2 kali kunjungan, yaitu Sputum sewaktu (S),
yaitu ketika penderita pertama kali datang; Sputum pagi (P), keesokan harinya ketika
penderita datang lagi dengan membawa sputum pagi (sputum pertama setelah bangun tidur),
Sputum sewaktu (S), yaitu saat penderita tiba di laboratorium, penderita diminta
mengeluarkan sputumnya lagi. Pengambilan sputum pada pasien tidak boleh  menyikat gigi.
Agar sputum mudah dikeluarkan, dianjurkan pasien mengonsumsi air yang banyak pada
malam sebelum pengambilan sputum. Sebelum mengeluarkan sputum, pasien disuruh untuk
berkumur-kumur dengan air dan pasien harus melepas gigi palsu (bila ada). Sputum diambil
dari batukkan pertama (first cough). Cara membatukkan sputum dengan Tarik nafas dalam
dan kuat (dengan pernafasan dada) batukkan kuat sputum dari bronkus trakea mulut wadah
penampung. Wadah penampung berupa pot steril bermulut besar dan berpenutup (Screw Cap
Medium). Periksa sputum yang dibatukkan, bila ternyata yang dibatukkan adalah air
liur/saliva, maka pasien harus mengulangi membatukkan sputum. Sebaiknya, pilih sputum
yang mengandung unsur-unsur khusus seperti : darah dan unsur-unsur lain. Bila sputum susah
keluarkan lakukan perawatan mulut Perawatan mulut dilakukan dengan obat glyseril
guayakolat (expectorant) 200 mg atau dengan mengonsumsi air teh manis saat malam
sebelum pengambilan sputum.
4. Yang harus dilakukan perawat dalam pengambilan spesimen agar terhindar dari penularan
virus
a. Sarung tangna steril
b. Botol bertutup yg bersih& kering tempat bahan pemeriksaan/ specimen
c. menggunakan APD
d. nasker disposabel
e. cuci tangan
f. lakukan pemeriksaan sesuai tujuan dan prosedur kerja