Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rokok adalah suatu benda yang terbuat dari kertas yang berbentuk

silinder yang memiliki panjang sekitar 70 hingga 120 mm dengan diameter

sekitar 10 mm. Di dalam rokok isinya daun-daun tembakau yang telah

dicacah (Fajar, 2011). Bentuk utama penggunaan tembakau yaitu merokok.

Merokok merupakan salah satu bagian dari kebiasaan penduduk Indonesia.

Kebiasaan itu berlaku untuk semua masyarakat baik itu kelas ekonomi bawah

maupun kelas ekonomi atas (Thabrany, 2012).

Menurut World Health Organization (2018) penggunaan tembakau

adalah faktor risiko utama untuk penyakit kardiovaskular, kanker, penyakit

pernapasan kronis, dan memiliki sosial, lingkungan, dan ekonomi yang

negatif konsekuensi. Pada tahun 2016, secara global lebih dari 1,1 miliar

orang berusia ≥15 tahun merokok tembakau (34% dari semua pria dan 6%

dari semua wanita dalam kelompok usia dini).

Merokok banyak dipromosikan sebagai kebiasaan maskulin, terkait

dengan kesehatan, kebahagiaan, kebugaran, kekayaan, kekuatan, dan

kejantanan. Tetapi pada kenyataannya, merokok menyebabkan penyakit,

kematian dini, impotensi seksual, dan infertilitas. Dan Hampir 1 miliar pria di

dunia merokok sekitar 35% laki-laki di negara sumber daya tinggi, dan 50%

laki-laki di negara berkembang (WHO, 2017).


Perilaku merokok ini dapat mengganggu kesehatan, nyatanya hal ini

tidak dapat di pungkiri. Adanya 4.000 jenis bahan kimia dalam rokok, dengan

40 jenis diantaranya bersifat karsinogenik, dimana bahan racun ini lebih

banyak didapatkan pada asap (Thabrany, 2012). Perokok aktif sangat sulit

untuk berhenti merokok dikarenakan rokok mengandung nikotin yang bersifat

adiktif. Nikotin adalah suatu bahan yang dapat membuat seseorang

kecanduan. Bahan ini dapat meningkatkan adrenalin sehingga seseorang

merasa semangat, gairahnya meningkat dan membuat tubuh mereka terasa

segar (Sukmana, 2009). Selain dari itu efek nikotin dapat menurunkan

kolesterol HDL dan dapat meningkatkan kecenderungan darah seseorang

menggumpal (Fikri, 2017).

Dunia Organisasi Kesehatan (WHO) menghubungkan hampir 6 juta

kematian per tahun disebabkan oleh tembakau. Angka ini diperkirakan akan

meningkat menjadi lebih dari 8 juta kematian di tahun 2030 (Global Youth

Tobacco Survey, 2014). Secara global, konsumsi rokok terutama di negara

berkembang terjadi peningkatan. Diperkirakan saat ini jumlah perokok di

seluruh dunia mencapai 1,3 milyar orang (Tobacco Control Support Centre,

2015).

Berdasarkan survei dari WHO, Indonesia saat ini menempati posisi

ketiga untuk perokok terbanyak setelah China dan India, dengan jumlah

populasi perokok pria di Indonesia menempati posisi ketiga dunia juga.

Menurut data dari Riskesdas (2013) Indonesia saat ini menghadapi ancaman

serius akibat meningkatnya jumlah perokok, prevalensi perokok laki-laki di


Indonesia merupakan yang tertinggi di dunia dan diprediksi lebih dari 97 juta

penduduk Indonesia terpapar asap rokok. Kecenderungan peningkatan

prevalensi merokok terlihat lebih besar pada kelompok anak-anak dan remaja,

Riskesdas 2018 menunjukan bahwa terjadi peningkatan prevalensi merokok

penduduk usia 10-18 tahun dari 7,2% menjadi 9,1% (Kemenkes, 2019).

Proporsi penduduk umur ≥10 tahun menurut Provinsi yang memiliki

kebiasaan merokok yaitu diantara 34 provinsi yang menempati posisi pertama

perokok setiap hari yaitu Provinsi Lampung yang memiliki sebanyak 28,1%,

kemudian Provinsi terbanyak kedua yaitu Bengkulu sebanyak 27,8% dan

Provinsi yang menempati posisi ketiga terbanyak dari 34 Provinsi di

Indonesia yang memiliki kebiasaan merokok setiap hari adalah Provinsi

Gorontalo yaitu sebanyak 27,4% (Riskesdas, 2018).

Adapun proporsi merokok menurut karakteristik umur, jenis kelamin

pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal ialah umur 30-34 tahun yang

tertinggi yang menjadi perokok setiap hari yaitu sebanyak 32,2%, kemudian

karakteristik menurut jenis kelamin laki-laki yang paling tinggi dibandingkan

perempuan yaitu laki-laki sebanyak 47,3% sedangkan perempuan hanya

1,2%, selanjutnya karakteristik menurut pendidikan yaitu pendidikan yang

tamat SLTA yang tertinggi sebanyak 28,7 dan karakteristik menurut

pekerjaan dan tempat tinggal yang menjadi perokok setiap hari adalah rata-

rata pekerja sebagai petani/buruh tani yaitu sebanyak 40,4% dan rata-rata

betempat tinggal di pedesaan dengan rata-rata sebanyak 25,8% (Riskesdas,

2018).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gorontalo

prevalensi jumlah penduduk yang merokok dari 21 Puskesmas yang terdata

terdapat sebanyak 7619 orang. Dan Puskesmas terbanyak pertama yang

memiliki jumlah penduduk yang merokok terdapat pada Puskesmas Pulubala

yaitu sebanyak 1286 orang, kemudian Puskesmas kedua yang memiliki

jumlah penduduk ayang merokok dalah Puskesmas Buhu yaitu sebanyak

1164 orang dan Puskesmas ketiga terbanyak dari 21 Puskesmas yang

memiliki jumlah penduduk yang merokok adalah Puskesmas Telaga Jaya

yaitu sebanyak 1064 orang.

Adapun intinya adalah kadar kolesterol merupakan indikator kesehatan

jantung. Karena semakin tinggi kadar kolesterol HDL maka semakin baik

kesehatan kita begitupun sebaliknya semakin rendah kadar kolesterol HDL

maka semakin buruk kesehatan kita. Faktanya, meski kolesterol total

seseorang normal yaitu hasilnya kurang dari 200 mg/dL, kolesterol LDL kita

yang tinggi atau HDL kita yang rendah maka justru dapat meningkatkan

risiko terjadinya penyakit jantung dan stroke. Maka dari itu sangat penting

untuk memeriksakan kadar HDL kita untuk mencegah terjadinya risiko

penyakit jantung, terutama untuk seorang perokok yang sudah terbukti dapat

bisa menurunkan kadar kolesterol HDL (Fikri, 2017).

Demikian dari hasil penelitian (Sianturi, 2018) sebelumnya, diperoleh

hasil pemeriksaan terhadap 24 orang perokok aktif dimana hasilnya

didapatkan 23 orang yang memiliki kadar HDL rendah yaitu sebanyak


95,83% dan hanya 1 orang yang kadar HDL-nya normal yaitu sebanyak

4,17%.

Maka berdasarkan permasalahan diatas, peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian tentang “Gambaran Kadar HDL (High Density

Lipoprotein) pada Perokok Aktif di Wilayah Puskesmas Telaga Jaya Tahun

2020”.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari penelitian ini yaitu bagaimana gambaran

kadar HDL (High Density Lipoprotein) pada perokok aktif di wilayah

Puskesmas Telaga Jaya tahun 2020?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian terbagi menjadi dua yaitu:

1. Tujuan Umum

Adapun tujuan umum dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui

gambaran kadar HDL (High Density Lipoprotein) pada perokok aktif di

wilayah Puskesmas Telaga Jaya tahun 2020.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui kadar HDL (High Density Lipoprotein) kategori

normal pada perokok aktif

b. Untuk mengetahui kadar HDL (High Density Lipoprotein) kategori

rendah pada perokok aktif

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian antar lain yaitu:


1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber

bertambahnya ilmu pengetahuan serta pengembangan teori bagi peneliti

dan dapat dijadikan panduan bagi peneliti selanjutnya.

2. Manfaat Praktis

a. Sebagai bahan bacaan dan acuan dalam rangka meningkatkan mutu

pendidikan bagi calon pranata laboratorium

b. Diharapkan bisa memberikan informasi kepada pihak terkait atau

masyarakat yang belum mengetahui kesehatan tentang kadar HDL

pada perokok aktif.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Perokok

2.1.1 Pengertian Perokok Aktif

2.1.2 Kandungan Zat Kimia dalam Rokok

Menurut Husain (2007) berikut kandungan zat kimiawi dalam

sebatang rokok yaitu:

1. Nikotin

Nikotin merupakan zat adiktif yang sifatnya dapat membuat

seseorang merasa ketagihan untuk merokok. Zat ini juga dapat

membahayakan bagi tubuh manusia dan binatang terutama bagi

kesehatan. Selain dari pada itu, salah satu penyebab dari

penyakit jantung koroner dan kanker disebabkan oleh zat ini.

2. Karbon Monoksida

Gas yang tidak berbau ini dihasilkan dari pembakaran unsur zat

karbon yang tidak sempurna. Jika karbon monoksida ini masuk

ke dalam tubuh kemudian dibawa oleh hemoglobin ke dalam

otot-oto tubuh, seseorang akan mengalami kekurangan oksigen

(Fajar, 2011).

3. Tar

Tar merupakan zat ini yang bersifat racun untuk tubuh.

4. Amonia
Gas tidak berwarna ini terdiri dari nitrogen dan hidrogen, serta

memiliki bau yang sangat tajam dan merangsang. Zat ini sangat

cepat memasuki sel-sel tuubuh (Fajar, 2011).

5. Insektisida

Insektisida merupakan zat yang umumnya digunakan untuk

memunuh serangga dan merupakan zat yang sangat beracun.

6. Polycyclic

Polycyclic merupakan zat yang dapat menyerang bahkan

merusak paru-paru secara fatal bagi perokok.

7. Carcinogens

Carcinogens merupakan zat yang asapnya mengandung banyak

zat kimiawi yang bersifat berbahaya dan menjadi pemicu

penyakit kanker pada orang yang dapat menghirup asap dari zat

carcinogen tersebut.

2.2 HDL (High Density Lipoprotein)

2.2.1 Pengertian HDL

HDL telah disebutkan bahwa HDL bersifat protektif

terhadapat kemungkinan pengendapan atherosklerosis dalam arteri.

Jika kadar HDL dalam darah rendah, risiko terhadap penyakit

jantung koroner pun meningkat. Sebaliknya, bila kadar HDL tinggi

risiko penyakit jantung koroner rendah (Nilawati dkk, 2008).

Meskipun sebagian besar kolesterol dalam darah dibawah

oleh LDL, tetapi sejumlah kecil kolesterol yang dibawah oleh HDL
pun akan memberikan pengaruh yang cukup signifikan. Oleh

karena itu, sangat penting untuk memeriksa kadar kolesterol HDL,

terutama bila seseorang mempunyai sejarah keluarga yang

memiliki penyakit jantung koroner prematur, pernah terkena

srangan jantung, angina pectoris, atau stroke. Seperti halnya

dengan total kolesterol dan LDL, untuk menilai tinggi rendahnya

kadar HDL digunakan angka standar NIH (National Institute of

Health) (Nilawati dkk, 2008).

2.2.2 Fungsi HDL

HDL berfungsi untuk mengangkut kolesterol berlebih dari

jaringan dan membawanya kembali ke hati untuk diproses kembali

atau dibuang dari tubuh (Bull dan Morrell, 2007).

2.2.3 Standar Kadar HDL

Berikut standar kadar HDL yaitu:

1. Kadar HDL yang diinginkan adalah >45 mg/dl

2. Ambang batas rendah adalah 35-45 mg/dl

3. Kadar HDL yang terlalu rendah adalah <35 mg/dl

2.2.4 Faktor Penyebab Penurunan Kadar HDL

Berikut faktor-faktor penyebab yang dapat menjadi pemicu

terjadinya penurunan kadar HDL antara lain yaitu (Nilawati dkk,

2008):

1. Merokok
Penyabab merokok menjadi faktor risiko pemicu penurunan

kadar HDL karena disebabkan perokok serius membuka

dirinya terhadap risiko terjadinya arterosklerosis dan penyakit

jantung. Orang yang menghisap rokok sebanyak 20 batang atau

lebih dalam sehari berisiko dua kali lipat lebih tinggi untuk

terserang penyakit jantung dibandingkan yang tidak merokok.

Diperlukan waktu hingga satu tahun bagi perokok untuk

mengurangi risiko tersebut. Keadaan jantung dan paru-paru

perokok tidak dapat bekerja secara efisien. Perokok

mempunyai risiko tinggi untuk terserang jantung koroner

kanker, stroke, dan bronkitis kronis.

2. Kurang mengkonsumsi buah-buahan dan sayuran

Buah-buahan dan sayuran merupakan sumber bahan

makanan yang aman bagi tubuh. Karena lemak yang dihasilkan

adalah lemak tidak jenuh. Sehingga kebiasaan kurang

mengkonsumsi jenis bahan makanan yang dari buah-buahan

dapat berpengaruh terhadap kadar kolesterol darah.

3. Obesitas

Obesitas merupakan suatu keadaan yang menunjukkan

kelebihan lemak dalam tubuh yang abnormal. Obesitas juga

merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner

Selain itu obesitas juga mendorong timbulnya faktor risiko lain,

seperti diabetes dan hipertensi yang pada taraf selanjutnya


meningkatkan risiko penyakit jantung koroner. Kelebihan berat

badan juga dapat meningkatkan kelebihan aterosklerosis

dengan berbagai cara.

Orang dengan berat badan tinggi berlebih memiliki kadar

kolesterol dan lemak yang lebih tinggi dalam darah dengan

kadar HDL yang rendah

4. Konsumsi kopi berlebih

Mengkonsumsi kopi secara berlebihan dapat meningkatkan

tekanan darah, kadar kolesterol total dan juga dapat

menurunkan kadar HDL dalam darah.

2.2.5 Faktor Pemicu Naiknya Kadar HDL

Menurut Nilawati dkk (2008) Berikut faktor pemicu naiknya

kadar HDL antara lain yaitu:

1. Atur pola makan

Mengkonsumsi makanan yang secara spesifik dapat

menghindari peningkatan berat badan dan dan dapat mengatur

pola makan dengan baik dapat mencegah terjadinya

peningkatan kadar kolesterol darah sehingga dapat menurunkan

angka kematian akibat penyakit jantung.

2. Olahraga

Olahraga secara teratur dapat meningkatkan pembakaran lemak

dan kolesterol. Maka dengan berolahraga bisa meningkatkan

jumlah kadar HDL hingga 20-30%.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

3.2 Rancangan Penelitian

3.3 Waktu dan Tempat

3.4 Populasi dan Sampel

3.5 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

3.6 Prosedur Penelitian

3.7 Teknik Pengumpulan Data

3.8 Teknik Analisis Data


DAFTAR PUSTAKA

Fajar Rahmat. 2011. Bahaya Merokok. Cetakan Pertama. Sarana Bangun Pustaka.
Jakarta Timur
Putisari, dkk. 2014. Fakta Tembakau. Tobacco Control and Support Center.
Jakarta Pusat
Husaini Aiman. 2007. Tobat Merokok. Mizan Publika. Surabaya

Pusat Promosi Kesehatan. Dampak merokok terhadap kesehatan remaja/smoking


go kills. (online) diakses dari Promkes.depkes.go.id.
WHO. 2017. Male Smoking. https://www.afro.who.int/sites/default/files/2017-
09/Chapter%202.%20Male%20smoking_1.pdf
Nilawati Sri. 2008. Care your self kolesterol
Joko Agus, Indah Sendy, Syahriah.
Bull E. 2007. Kolesterol. Erlangga: Jakarta Pusat.
Drope J, Schluger N, Cahn Z, Drope J, Hamill S, Islami F, Liber A, Nargis N,
Stoklosa M. 2018. The Tobacco Atlas six edition. Atlanta: American
Cancer Society and Vital Strategies.
Sukmana Tedie. 2009. Mengenal Rokok dan Bahayanya. Be Champion: Jakarta
WHO. 2018. World Health Statistics 2018 Monitoring Health For The SDGs,
sustainable development goals. Geneva
WHO. 2015. Global Youth Tobacco Survey GYTS Indonesia Report, 2014.
Jakarta: WHO
Tobacco Control Support Centre-IAKMI, Kementerian Kesehatan. 2015. Bunga
Rampai Fakta Tembakau dan Permasalahannya di Indonesia Tahun 2014.
Jakarta: Tobacco Control Support Centre-IAKMI
Kemenkes. 2019. HTTS 2019: Jangan Biarkan Rokok Merenggut Napas Kita.
https://www.kemkes.go.id/article/view/19071100001/htts-2019-jangan-
biarkan-rokok-merenggut-napas-kita.html. (Online)