Anda di halaman 1dari 81

MODUL

MATA KULIAH BIOMEDIK V


(FARMAKOLOGI)

DI SUSUN OLEH:
WEMPI EKA RUSMANA, S.Farm., M.M., Apt

POLITEKNIK PIKSI GANESHA BANDUNG


2015
1. Parameter-parameter Farmakologi
A. Farmakokinetika
Farmakokinetika merupakan aspek farmakologi yang mencakup nasib obat dalam tubuh
yaitu Absorbsi, Distribusi, Metabolisme, dan Ekskresinya (ADME).
Obat yang masuk ke dalam tubuh melalui berbagai cara pemberian umunya mengalami
absorpsi, distribusi, dan pengikatan untuk sampai di tempat kerja dan menimbulkan efek.
Kemudian dengan atau tanpa biotransformasi, obat diekskresi dari dalam tubuh. Seluruh proses
ini disebut dengan proses farmakokinetika dan berjalan serentak.

1. Absorpsi dan Bioavailabilitas


Kedua istilah tersebut tidak sama artinya. Absorpsi, yang merupakan proses penyerapan obat
dari tempat pemberian, menyangkut kelengkapan dan kecepatan proses tersebut. Kelengkapan
dinyatakan dalam persen dari jumlah obat yang diberikan. Tetapi secara klinik, yang lebih
penting ialah bioavailabilitas.
Istilah ini menyatakan jumlah obat, dalam persen terhadap dosis, yang mencapai sirkulasi
sistemik dalam bentuk utuh/aktif. Ini terjadi karena untuk obat-obat tertentu, tidak semua yang
diabsorpsi dari tempat pemberian akan mencapai sirkulasi sestemik. Sebagaian akan
dimetabolisme oleh enzim di dinding usus pada pemberian oral dan/atau di hati pada lintasan
pertamanya melalui organ-organ tersebut.
Metabolisme ini disebut metabolisme atau eliminasi lintas pertama (first pass metabolism or
elimination) atau eliminasi prasistemik. Obat demikian mempunyai bioavailabilitas oral yang
tidak begitu tinggi meskipun absorpsi oralnya mungkin hampir sempurna. Jadi istilah
bioavailabilitas menggambarkan kecepatan dan kelengkapan absorpsi sekaligus metabolisme
obat sebelum mencapai sirkulasi sistemik. Eliminasi lintas pertama ini dapat dihindari atau
dikurangi dengan cara pemberian parenteral (misalnya lidokain), sublingual (misalnya
nitrogliserin), rektal, atau memberikannya bersama makanan.
2. Distribusi
Setelah diabsorpsi, obat akan didistribusi ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah. Selain
tergantung dari aliran darah, distribusi obat juga ditentukan oleh sifat fisikokimianya.
Distribusi obat dibedakan atas 2 fase berdasarkan penyebarannya di dalam tubuh, diantaranya:
1. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan, yaitu ke organ yang perfusinya
sangat baik misalnya jantung, hati, ginjal, dan otak.
2. Distribusi fase kedua jauh lebih luas yaitu mencakup jaringan yang perfusinya tidak
sebaik organ di atas misalnya otot, visera, kulit, dan jaringan lemak.
Distribusi ini baru mencapai keseimbangan setelah waktu yang lebih lama. Difusi ke ruang
interstisial jaringan terjadi karena celah antarsel endotel kapiler mampu melewatkan semua
molekul obat bebas, kecuali di otak. Obat yang mudah larut dalam lemak akan melintasi
membran sel dan terdistribusi ke dalam otak, sedangkan obat yang tidak larut dalam lemak akan
sulit menembus membran sel sehingga distribusinya terbatas terurama di cairan ekstrasel.
Distribusi juga dibatasi oleh 6 ikatan obat pada protein plasma, hanya obat bebas yang dapat
berdifusi dan mencapai keseimbangan.
Derajat ikatan obat dengan protein plasma ditentukan oleh afinitas obat terhadap protein,
kadar obat, dan kadar proteinnya sendiri. Pengikatan obat oleh protein akan berkurang pada
malnutrisi berat karena adanya defisiensi protein.

3. Biotransformasi / Metabolisme
Biotransformasi atau metabolisme obat ialah proses perubahan struktur kimia obat yang
terjadi dalam tubuh dan dikatalis oleh enzim. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih
polar, artinya lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak sehingga lebih mudah
diekskresi melalui ginjal. Selain itu, pada umumnya obat menjadi inaktif, sehingga
biotransformasi sangat berperan dalam mengakhiri kerja obat. Tetapi, ada obat yang
metabolitnya sama aktif, lebih aktif, atau tidak toksik.
Ada obat yang merupakan calon obat (prodrug) justru diaktifkan oleh enzim biotransformasi
ini. Metabolit aktif akan mengalami biotransformasi lebih lanjut dan/atau diekskresi sehingga
kerjanya berakhir.
Enzim yang berperan dalam biotransformasi obat dapat dibedakan berdasarkan letaknya
dalam sel, yakni enzim mikrosom yang terdapat dalam retikulum endoplasma halus (yang pada
isolasi in vitro membentuk mikrosom), dan enzim non-mikrosom. Kedua macam enzim
metabolisme ini terutama terdapat dalam sel hati, tetapi juga terdapat di sel jaringan lain
misalnya ginjal, paru, epitel, saluran cerna, dan plasma.

4. Ekskresi
Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk metabolit hasil
biotransformasi atau dalam bentuk asalnya. Obat atau metabolit polar diekskresi lebih cepat
daripada obat larut lemak, kecuali pada ekskresi melalui paru. Ginjal merupakan organ ekskresi
yang terpenting.
Ekskresi disini merupakan resultante dari 3 proses, yakni:
1. Filtrasi di glomerulus
2. Sekresi aktif di tubuli proksimal
3. Rearbsorpsi pasif di tubuli proksimal dan distal.

Ekskresi obat melalui ginjal menurun pada gangguan fungsi ginjal sehingga dosis perlu
diturunkan atau intercal pemberian diperpanjang. Bersihan kreatinin dapat dijadikan patokan
dalam menyesuaikan dosis atau interval pemberian obat.
Ekskresi obat juga terjadi melalui keringat, air liur, air mata, air susu, dan rambut, tetapi
dalam jumlah yang relatif kecil sekali sehingga tidak berarti dalam pengakhiran efek obat. Liur
dapat digunakan sebagai pengganti darah untuk menentukan kadar obat tertentu. Rambutpun
dapat digunakan untuk menemukan logam toksik, misalnya arsen, pada kedokteran forensik.
b. Farmakodinamika
Farmakodinamika mempelajari efek obat terhadap fisiologi dan biokimia berbagai organ
tubuh serta mekanisme kerjanya. Tujuan mempelajari mekanisme kerja obat ialah untuk meneliti
efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta
spektrum efek dan respon yang terjadi. Pengetahuan yang baik mengenai hal ini merupakan
dasar terapi rasional dan berguna dalam sintesis obat baru.

1. Mekanisme Kerja Obat


Efek obat umumnya timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel suatu organisme.
Interaksi obat dengan reseptornya ini mencetuskan perubahan biokimiawi dan fisiologi yang
merupakan respons khas untuk obat tersebut.
Reseptor obat merupakan komponen makromolekul fungsional yang mencakup 2 konsep
penting, yaitu:
1. Obat dapat mengubah kecepatan kegiatan faal tubuh.
2. Obat tidak menimbulkan suatu fungsi baru, tetapi hanya memodulasi fungsi yang sudah
ada.
Walaupun tidak berlaku bagi terapi gen, secara umum konsep ini masih berlaku sampai
sekarang. Setiap komponen makromolekul fungsional dapat berperan sebagai reseptor obat,
tetapi sekelompok reseptor obat tertentu juga berperan sebagai reseptor yang ligand endogen
(hormon, neurotransmitor).

Substansi yang efeknya menyerupai senyawa endogen disebut agonis. Sebaliknya, senyawa yang
tidak mempunyai aktivitas intrinsik tetapi menghambat secara kompetitif efek suatu agonis di
tempat ikatan agonis (agonist binding site) disebut antagonis.

2. Reseptor Obat
Struktur kimia suatu obat berhubungan dengan afinitasnya terhadap reseptor dan aktivitas
intrinsiknya, sehingga perubahan kecil dalam molekul obat, misalnya perubahan stereoisomer,
dapat menimbulkan perubahan besar dalam sifat farmakologinya.
Pengetahuan mengenai hubungan struktur aktivitas bermanfaat dalam strategi pengembangan
obat baru, sintesis obat yang rasio terapinya lebih baik, atau sintesis obat yang selektif terhadap
jaringan tertentu. Dalam keadaan tertentu, molekul reseptor berinteraksi secara erat dengan
protein seluler lain membentuk sistem reseptor-efektor sebelum menimbulkan respons.

3. Transmisi Sinyal Biologis


Penghantaran sinyal biologis ialah proses yang menyebabkan suatu substansi ekstraseluler
(extracellular chemical messenger) menimbulkan suatu respons seluler fisiologis yang spesifik.
Sistem hantaran ini dimulai dengan pendudukan reseptor yang terdapat di membran sel atau di
dalam sitoplasma oleh transmitor.

Kebanyakan messenger ini bersifat polar. Contoh, transmitor untuk reseptor yang terdapat di
membran sel ialah katekolamin, TRH, LH. Sedangkan untuk reseptor yang terdapat dalam
sitoplasma ialah steroid (adrenal dan gonadal), tiroksin, vit. D.

4. Interaksi Obat-Reseptor
Ikatan antara obat dan reseptor misalnya ikatan substrat dengan enzim, biasanya merupakan
ikatan lemah (ikatan ion, hidrogen, hidrofobik, van der Waals), dan jarang berupa ikatan
kovalen.

5. Antagonisme Farmakodinamika
Secara farmakodinamika dapat dibedakan 2 jenis antagonisme, yaitu antagonisme fisiologik
dan antagonisme pada reseptor. Selain itu, antagonisme pada reseptor dapat bersifat kompetitif
atau nonkompetitif.
Antagonisme merupakan peristiwa pengurangan atau penghapusan efek suatu obat oleh obat
lain, Peristiwa ini termasuk interaksi obat. Obat yang menyebabkan pengurangan efek disebut
antagonis, sedang obat yang efeknya dikurangi atau ditiadakan disebut agonis. Secara umum
obat yang efeknya dipengaruhi oleh obat lain disebut obat objek, sedangkan obat yang
mempengaruhi efek obat lain disebut obat presipitan.
6. Kerja Obat yang tidak Diperantarai Reseptor

Dalam menimbulkan efek, obat tertentu tidak berikatan dengan reseptor. Obat-obat ini
mungkin mengubah sifat cairan tubuh, berinteraksi dengan ion atau molekul kecil, atau masuk ke
komponen sel.

7. Efek Obat
Efek obat yaitu perubahan fungsi struktur (organ) atau proses/tingkah laku organisme hidup
akibat kerja obat.
2. Obat dan Peran Obat dalam Pelayanan Kesehatan
a. Pengertian Obat
Menurut PerMenKes 917/Menkes/Per/x/1993, obat (jadi) adalah sediaan atau paduan-
paduan yang siap digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki secara fisiologi atau keadaan
patologi dalam rangka penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan
kesehatan dan kontrasepsi.
Menurut Ansel (1985), obat adalah zat yang digunakan untuk diagnosis, mengurangi rasa
sakit, serta mengobati atau mencegah penyakit pada manusia atau hewan. Obat dalam arti luas
ialah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup, maka farmakologi merupakan
ilmu yang sangat luas cakupannya. Namun untuk seorang dokter, ilmu ini dibatasi tujuannya
yaitu agar dapat menggunakan obat untuk maksud pencegahan, diagnosis, dan pengobatan
penyakit. Selain itu, agar mengerti bahwa penggunaan obat dapat mengakibatkan berbagai gejala
penyakit.
Obat merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap untuk digunakan untuk
mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan
diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan, kesehatan dan kontrasepsi. Obat
merupakan benda yang dapat digunakan untuk merawat penyakit, membebaskan gejala, atau
memodifikasi proses kimia dalam tubuh.
Obat merupakan senyawa kimia selain makanan yang bisa mempengaruhi organisme
hidup, yang pemanfaatannya bisa untuk mendiagnosis, menyembuhkan, mencegah suatu
penyakit.

b. Bahan Obat / Bahan Baku


Semua bahan, baik yang berkhasiat maupun yang tidak berkhasiat, yang berubah maupun
yang tidak berubah, yang digunakan dalam pengolahan obat walaupun tidak semua bahan
tersebut masih terdapat di dalam produk ruahan. Produk ruahan merupakan tiap bahan yang telah
selesai diolah dan tinggal memerlukan pengemasan untuk menjadi obat jadi.
c. Obat Tradisional
Merupakan bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan
mineral, sediaan sarian (gelenik) atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun menurun
telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

d. Penggolongan Obat
Obat digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu:
1. Obat Bebas
Merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan tepi lingkaran
berwarna hitam. Obat bebas umumnya berupa suplemen vitamin dan mineral, obat gosok,
beberapa analgetik-antipiretik, dan beberapa antasida. Obat golongan ini dapat dibeli bebas di
Apotek, toko obat, toko kelontong, warung.

2. Obat Bebas Terbatas


Merupakan obat yang ditandai dengan lingkaran berwarna biru dengan tepi lingkaran
berwarna hitam. Obat-obat yang umunya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat batuk,
obat influenza, obat penghilang rasa sakit dan penurun panas pada saat demam (analgetik-
antipiretik), beberapa suplemen vitamin dan mineral, dan obat-obat antiseptika, obat tetes mata
untuk iritasi ringan. Obat golongan ini hanya dapat dibeli di Apotek dan toko obat berizin.

3. Obat Keras
Merupakan obat yang pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang didalamnya
terdapat huruf K berwarna merah yang menyentuh tepi lingkaran yang berwarna hitam. Obat
keras merupakan obat yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter.
Obat-obat yang umumnya masuk ke dalam golongan ini antara lain obat jantung, obat
darah tinggi/hipertensi, obat darah rendah/antihipotensi, obat diabetes, hormon, antibiotika, dan
beberapa obat ulkus lambung. Obat golongan ini hanya dapat diperoleh di Apotek dengan resep
dokter.
4. Obat Narkotika
Merupakan zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintesis maupun
semi sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan (UU RI
No. 22 Th 1997 tentang Narkotika). Obat ini pada kemasannya ditandai dengan lingkaran yang
didalamnya terdapat palang (+) berwarna merah.
Obat Narkotika bersifat adiksi dan penggunaannya diawasi dengan ketet, sehingga obat
golongan narkotika hanya diperoleh di Apotek dengan resep dokter asli (tidak dapat
menggunakan kopi resep). Contoh dari obat narkotika antara lain: opium, coca, ganja/marijuana,
morfin, heroin, dan lain sebagainya. Dalam bidang kesehatan, obat-obat narkotika biasa
digunakan sebagai anestesi/obat bius dan analgetik/obat penghilang rasa sakit.

e. Peran Obat
Obat merupakan salah satu komponen yang tidak dapat tergantikan dalam pelayanan
kesehatan. Obat berbeda dengan komoditas perdagangan, karena selain merupakan komoditas
perdagangan, obat juga memiliki fungsi sosial. Obat berperan sangat penting dalam pelayanan
kesehatan karena penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari
tindakan terapi dengan obat atau farmakoterapi. Seperti yang telah dituliskan pada pengertian
obat diatas, maka peran obat secara umum adalah sebagai berikut:
1. Penetapan diagnosa
2. Untuk pencegahan penyakit
3. Menyembuhkan penyakit
4. Memulihkan (rehabilitasi) kesehatan
5. Mengubah fungsi normal tubuh untuk tujuan tertentu
6. Peningkatan kesehatan
7. Mengurangi rasa sakit
3. Macam-macam Bentuk Obat dan Tujuan Penggunaannya
Bentuk-bentuk obat serta tujuan penggunaannya antara lain adalah sebagai
berikut:
a. Pulvis (Serbuk)
Merupakan campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk
pemakaian oral atau untuk pemakaian luar.

b. Pulveres
Merupakan serbuk yang dibagi dalam bobot yang lebih kurang sama, dibungkus menggunakan
bahan pengemas yang cocok untuk sekali minum.

c. Tablet (Compressi)
Merupakan sediaan padat kompak dibuat secara kempa cetak dalam bentuk tabung pipih atau
sirkuler kedua permukaan rata atau cembung mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau
tanpa bahan tambahan.
1) Tablet Kempa
Paling banyak digunakan, ukuran dapat bervariasi, bentuk serta penandaannya tergantung
design cetakan
2) Tablet Cetak
Dibuat dengan memberikan tekanan rendah pada massa lembab dalam lubang cetakan.
3) Tablet Trikurat
Tablet kempa atau cetak bentuk kecil umumnya silindris. Sudah jarang ditemukan
4) Tablet Hipodermik
Dibuat dari bahan yang mudah larut atau melarut sempurna dalam air. Dulu untuk membuat
sediaan injeksi hipodermik, sekarang diberikan secara oral.
5) Tablet Sublingual
Dikehendaki efek cepat (tidak lewat hati). Digunakan dengan meletakkan tablet di bawah
lidah.
6) Tablet Bukal
Digunakan dengan meletakkan di antara pipi dan gusi.
7) Tablet Efervescen
Tablet larut dalam air. Harus dikemas dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan
lembab. Pada etiket tertulis “tidak untuk langsung ditelan”.
8) Tablet Kunyah
Cara penggunaannya dikunyah. Meninggalkan sisa rasa enak di rongga mulut, mudah ditelan,
tidak meninggalkan rasa pahit, atau tidak enak.

d. Pilulae (PIL)
Merupakan bentuk sediaan padat bundar dan kecil mengandung bahan obat dan dimaksudkan
untuk pemakaian oral. Saat ini sudah jarang ditemukan karena tergusur tablet dan kapsul. Masih
banyak ditemukan pada seduhan jamu.

e. Kapsulae (Kapsul)
Merupakan sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat
larut. Keuntungan/tujuan sediaan kapsul yaitu:
1) Menutupi bau dan rasa yang tidak enak
2) Menghindari kontak langsung dengan udara dan sinar matahari
3) Lebih enak dipandang
4) Dapat untuk 2 sediaan yang tidak tercampur secara fisis (income fisis), dengan pemisahan
antara lain menggunakan kapsul lain yang lebih kecil kemudian dimasukkan bersama serbuk
lain ke dalam kapsul yang lebih besar.
5) Mudah ditelan.

f. Solutiones (Larutan)
Merupakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang dapat larut, biasanya
dilarutkan dalam air, yang karena bahan-bahannya, cara peracikan atau penggunaannya, tidak
dimasukkan dalam golongan produk lainnya.

Dapat juga dikatakan sediaan cair yang mengandung satu atau lebih zat kimia yang larut,
misalnya terdispersi secara molekuler dalam pelarut yang sesuai atau campuran pelarut yang
saling bercampur. Cara penggunaannya yaitu larutan oral (diminum) dan larutan topikal (kulit).
g. Suspensi
Merupakan sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut terdispersi dalam fase cair.
Macam suspensi antara lain:
1) Suspensi oral (juga termasuk susu/magma)
2) Suspensi topikal (penggunaan pada kulit)
3) Suspensi tetes telinga (telinga bagian luar)
4) Suspensi optalmik
5) Suspensi sirup kering
.
h. Emulsi
Merupakan sediaan berupa campuran dari dua fase cairan dalam sistem dispersi, fase cairan yang
satu terdispersi sangat halus dan merata dalam fase cairan lainnya, umumnya distabilkan oleh zat
pengemulsi.

i. Galenik
Merupakan sediaan yang dibuat dari bahan baku yang berasal dari hewan atau tumbuhan yang
disari.

j. Extractum
Merupakan sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat dari simplisia nabati atau
simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut
diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian sehingga memenuhi baku
yang ditetapkan.

k. Infusa
Merupakan sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan air pada suhu
900 C selama 15 menit.
l. Immunosera (Imunoserum)
Merupakan sediaan yang mengandung Imunoglobin khas yang diperoleh dari serum hewan
dengan pemurnian. Berkhasiat menetralkan toksin kuman (bisa ular) dan mengikat
kuman/virus/antigen.

m. Unguenta (Salep)
Merupakan sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput
lendir. Dapat juga dikatakan sediaan setengah padat yang mudah dioleskan dan digunakan
sebagai obat luar. Bahan obat harus larut atau terdispersi homogen dalam dasar salep yang
cocok.

n. Suppositoria
Merupakan sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal,
vagina atau uretra, umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. Tujuan
pengobatan yaitu:
1) Penggunaan lokal
Memudahkan defekasi serta mengobati gatal, iritasi, dan inflamasi karena hemoroid.
2) Penggunaan sistemik
Aminofilin dan teofilin untuk asma, chlorprozamin untuk anti muntah, chloral hydrat
untuk sedatif dan hipnotif, aspirin untuk analgenik antipiretik.

o. Guttae (Obat Tetes)


Merupakan sediaan cairan berupa larutan, emulsi, atau suspensi, dimaksudkan untuk obat dalam
atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan menggunakan penetes yang menghasilkan
tetesan setara dengan tetesan yang dihasilkan penetes beku yang disebutkan Farmacope
Indonesia. Sediaan obat tetes dapat berupa antara lain:
1. Guttae (obat dalam)
2. Guttae Oris (tetes mulut)
3. Guttae Auriculares (tetes telinga)
4. Guttae Nasales (tetes hidung)
5. Guttae Ophtalmicae (tetes mata).
p. Injectiones (Injeksi)
Merupakan sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan
atau disuspensikan lebih dahulu sebelum digunakan, yang disuntikkan dengan cara merobek
jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Tujuannya yaitu kerja obat cepat
serta dapat diberikan pada pasien yang tidak dapat menerima pengobatan melalui mulut.
4. Cara pemberian obat serta tujuan penggunaannya adalah sebagai berikut:
a. Oral
Obat yang cara penggunaannya masuk melalui mulut. Keuntungannya relatif aman,
praktis, ekonomis. Kerugiannya timbul efek lambat; tidak bermanfaat untuk pasien yang sering
muntah, diare, tidak sadar, tidak kooperatif; untuk obat iritatif dan rasa tidak enak
penggunaannya terbatas; obat yang inaktif/terurai oleh cairan lambung/ usus tidak bermanfaat
(penisilin G, insulin); obat absorpsi tidak teratur.
Untuk tujuan terapi serta efek sistematik yang dikehendaki, penggunaan oral adalah yang
paling menyenangkan dan murah, serta umumnya paling aman. Hanya beberapa obat yang
mengalami perusakan oleh cairan lambung atau usus.
Pada keadaan pasien muntah-muntah, koma, atau dikehendaki onset yang cepat,
penggunaan obat melalui oral tidak dapat dipakai.

b. Sublingual
Cara penggunaannya, obat ditaruh dibawah lidah. Tujuannya supaya efeknya lebih cepat
karena pembuluh darah bawah lidah merupakan pusat sakit. Misalnya pada kasus pasien jantung.
Keuntungan cara ini efek obat cepat serta kerusakan obat di saluran cerna dan metabolisme di
dinding usus dan hati dapat dihindari (tidak lewat vena porta)

c. Inhalasi
Penggunaannya dengan cara disemprot (ke mulut). Misal obat asma. Keuntungannya
yaitu absorpsi terjadi cepat dan homogen, kadar obat dapat dikontrol, terhindar dari efek lintas
pertama, dapat diberikan langsung pada bronkus. Kerugiannya yaitu, diperlukan alat dan metoda
khusus, sukar mengatur dosis, sering mengiritasi epitel paru – sekresi saluran nafas, toksisitas
pada jantung.
Dalam inhalasi, obat dalam keadaan gas atau uap yang akan diabsorpsi sangat cepat
melalui alveoli paru-paru dan membran mukosa pada perjalanan pernafasan.
d. Rektal
Cara penggunaannya melalui dubur atau anus. Tujuannya mempercepat kerja obat serta
sifatnya lokal dan sistemik. Obat oral sulit atau tidak dapat dilakukan karena iritasi lambung,
terurai di lambung, terjadi efek lintas pertama. Contoh, asetosal, parasetamol, indometasin,
teofilin, barbiturat.

e. Pervaginam
Bentuknya hampir sama dengan obat rektal, dimasukkan ke vagina, langsung ke pusat
sasar. Misal untuk keputihan atau jamur.

f. Parentral
Digunakan tanpa melalui mulut, atau dapat dikatakan obat dimasukkan de dalam tubuh
selain saluran cerna. Tujuannya tanpa melalui saluran pencernaan dan langsung ke pembuluh
darah. Misal suntikan atau insulin. Efeknya biar langsung sampai sasaran. Keuntungannya yaitu
dapat untuk pasien yang tidak sadar, sering muntah, diare, yang sulit menelan/pasien yang tidak
kooperatif; dapat untuk obat yang mengiritasi lambung; dapat menghindari kerusakan obat di
saluran cerna dan hati; bekerja cepat dan dosis ekonomis. Kelemahannya yaitu kurang aman,
tidak disukai pasien, berbahaya (suntikan – infeksi).
Istilah injeksi termasuk semua bentuk obat yang digunakan secara parentral, termasuk
infus. Injeksi dapat berupa larutan, suspensi, atau emulsi. Apabila obatnya tidak stabil dalam
cairan, maka dibuat dalam bentuk kering. Bila mau dipakai baru ditambah aqua steril untuk
memperoleh larutan atau suspensi injeksi.

g. Topikal/lokal
Obat yang sifatnya lokal. Misalnya tetes mata, tetes telinga, salep.
Tabel Penggunaan Bentuk Sediaan
Cara Pemberian Bentuk Sediaan Utama

Oral Tablet, kapsul, larutan (sulotio), sirup, eliksir,


suspensi, magma, jel, bubuk

Sublingual Tablet, trokhisi dan tablet hisap

Parentral Larutan, suspensi

Epikutan/transdermal Salep, krim, pasta, plester, bubuk, erosol, latio,


tempelan transdermal, cakram, larutan, dan
solutio

Konjungtival Salep

Introakular/intraaural Larutan, suspensi

Intranasal Larutan, semprot, inhalan, salep

Intrarespiratori Erosol

Rektal Larutan, salep, supositoria

Vaginal Larutan, salep, busa-busa emulsi, tablet,


sisipan, supositoria, spon

Uretral Larutan, supositoria

Sumber: Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi (Howard C. Ansel)

5. Penggolongan Obat pada Saluran Pencernaan


Di saluran usus lambung dapat timbul berbagai gangguan yang ada kaitannya dengan
proses pencernaan, resorpsi bahan gizi, perjalanan isi usus yang terlampau cepat (diare) atau
terlampau lambat (konstipasi), serta unfeksi usus oleh mikroorganisme.
Dalam bab ini akan dibicarakan sejumlah obat penting yang digunakan pada gangguan
tersebut, yakni antasida dan obat anti-tukak lambung/usus lainnya, obat penguat cerna
guna memperbaiki pencernaan, obat antimual, obat diare dan obat pencahar terhadap
sembelit.

Obat-obat gangguan saluran cerna meliputi:


1. OBAT-OBAT LAMBUNG
Penyakit saluran cerna yang paling sering terjadi adalah
 radang kerongkongan (reflux oesophagitis)
 radang mukosa lambung (gastritis)
 tukak lambung usus (ulcus pepticum)
 kanker lambung usus

Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat tukak lambung-usus dapat digolongkan dalam 7


kelompok, yakni:
1. ANTASIDA (senyawa magnesium, alumunium dan bismut, hidrotalsit, kalsium
karbonat, Na-bikarbonat)
Zat pengikat asam antasida adalah basa-basa lemah yg digunakan untuk mengikat scr
kimiawi dan menetralkan.
2. Zat penghambat sekresi asam
H2-blokers (simetidin, ranitidin, famotidin, roxatidin)
obat-obat ini menempati reseptor histamin H2 secara selektif di permukaan sel-sel
parietal, sehingga sekresi asam lambung dan pepsin sangat dikurangi.
3. zat-zat pelindung ulcus (mucosaprotectiva): sukralfat, Al-hidroksida, dan bismut koloidal
yang menutup tukak dgn suatu lapisan pelindung thd serangan asam-pepsin. Bismutsitrat
juga berdaya bakteriostatis terhadap H.Pylori.
4. Antibiotika (amoksillin, tetrasiklin, klaritromisin, metronidazol dan tinidazol). Obat ini
digunakan dalam kombinasi sebagai triple atau quadruple therapy untuk membasmi
H.pylori dan untuk mencapai penyembuhan lengkap tukak lambung/usus.
5. Obat penguat motilitas: metoklopramida, cisaprida, dan domperidon. Obat ini juga
dinamakan prokinetika atau propulsiva dan berdaya antiemetik.
6. Obat penenang: meprobamat, diazepam
stres emosional membuat penyakit tukak lambung bertambah parah, sedangkan pada
waktu serangan akut biasanya timbul kegelisahan dan kecemasan pada penderita.
7. Obat pembantu: asam alginat, succus dan dimethicon
Pada formulasi antasida kadang-kadang ditambahkan zat-zat pelindung untuk menutupi
mukasa dengan suatu lapisan hidrofob.

2. ANTIEMETIKA

Obat antimual adalah zat-zat yang berkhasiat menekan rasa mual dan muntah.

a. Mabuk Darat (motion sickness)

Penyebab utama mabuk darat adalah pertentangan antara informasi yang disalurkan oleh
organ keseimbangan otak disatu pihak dan informasi dari indera-indera lain di lain pihak.
Khususnya menyangkut pertentangan antara mata dan indera perasa, yang sebetulnya
harus bekerja sama dengan organ keseimbangan (labirin).

OBAT-OBAT PENCEGAH:

 Siklizin untuk perjalanan singkat (sampai 4 jam)

 Meklizin dan skopolamin untuk perjalanan sampai 16 jam

 Dimenhidrinat dan prometazin sangat efektif, tetapi efek sampingnya menyebabkan


kantuk (sedatif)

 Obat yang sangat efektif adalah kombinasi dari sinarizin 20mg + domperidon 15 mg
(tauristil)
b. Muntah Kehamilan (morning sickness)

Jenis muntah ini biasanya terjadi antara minggu ke-6 dan ke-14 dari masa kehamilan
akibat kenaikan pesat dari HCG (Human Chorion Gonadotropin). Gejala-gejala pada umumnya
tidak hebat dan hilang dengan sendirinya, maka sedapat mungkin jangan diobati agar tidak
mengganggu perkembangan organ-organ janin.

Pada kasus yang hebat sebaiknya diberikan:

 Siklizin 3 dd 50mg
 Meklizin 1 dd 12,5-25mg
 Proklorperazin 2 dd 25mg
 Vitamin B6 (piridoksin) 3 dd 25 mg

3. OBAT-OBAT DIARE

Diare adalah keadaan buang-buang air dengan banyak cairan (mencret) dan merupakan
gejala dari penyakit-penyakit tertentu atau gangguan lainnya.

FISIOLOGI:

Dalam lambung, makanan dicerna menjadi bubur (chymus), kemudian diteruskan ke usus halus
untuk diuraikan lebih lanjut oleh enzim-enzim.

Berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan 4 jenis gastroenteritis dan diare sebagai berikut:

1. Diare akibat virus

Virus melekat pada sel-sel mukosa usus, sehingga kapasitas resorpsi menurun dan sekresi
air dan elektrolit memegang peranan. Diare dapat lenyap sendirinya dalam 3-6 hari.

2. Diare bakterial (invasif)

Bakteri-bakteri tertentu, misalnya bahan makanan yang terinfeksi oleh banyak kuman,
menjadi “invasif” dan menyerbu ke dalam mukosa. Penyebab terkenal dari jenis diare ialah
bakteri salmonella, shigella, campylobacter dan jenis coli.
3. Diare parasiter

Diare akibat parasit-parasit ini bercirikan mencret cairan yang intermiten dan bertahan
lebih lama dari satu minggu. Seperti protozoa Entamoeba histolytica, Giardia Liambia,
Cryptosporidium.

4. Diare akibat enterotoksin

Penyebabnya adalah kuman-kuman yang membentuk enterotoksin, yang terpenting


adalah E.Colli dan Vibro Cholerae.

Kelompok obat yang sering kali digunakan pada diare adalah:

1. Kemoterapeutika untuk terapi kausal, yakni memberantas bakteri penyebab diare,


seperti antibiotika, sulfonamida, kinolon dan furazolidon.

2. Obstipansia untuk terapi simtomatis, yang dapat menghentikan diare dengan beberapa
cara,yakni:

• Zat-zat penekan peristaltik sehingga memberikan lebih banyak waktu untuk resorpsi air
dan elektrolit oleh mukosa usus: candu dan alkaloidnya, derivat petidin (difeniksilat dan
loperamida) dan antikolinergika (atropin, ekstrak belladonna)

• Adstringensia, yang menciutkan selaput lendir usus. Misalnya asam samak (tanin) dan
tannalbumin, garam-garam bismut dan alumunium.

• Adsorbensia, misalnya carbo adsorbens yang pada permukaannya dapat menyerap zat-zat
beracun yang dihasilkan oleh bakteri atau adakalanya yang berasal dari bakteri (udang,
ikan). Obatnya kaolin dan pektin.

3. Spasmolitika, yakni zat-zat yang dapat melepaskan kejang-kejang otot yang sering kali
mengakibatkan nyeri perut pada diare, antara lain papaverindan oksifenonium.
4. LAKSANSIA

Obat pencahar atau Laksansia adalah zat yang dapat menstimulasi gerakan peristaltik
usus sebagai refleks dari rangsangan langsung terhadap dinding usus dan dengan demikian
menyebabkan atau mempermudah buang air besar dan meredam sembelit.

Penggolongan obat pencahar didasarkan atas farmakologi dan sifat kimiawinya yakni:

1. Laksansia kontak (zat perangsang)


2. Laksansia osmotik
3. Laksansia pembesar volume
4. Laksansia pelicin dan emollientia

1. Laksansia kontak (zat perangsang)

sennae Foliolum, rhei radix, bisakodil, fenolftalein, oleum ricini

zat-zat ini merangsang secara langsung dinding usus dengan akibat peningkatan peristaltik
dan pengeluaran isi usus dengan cepat.

2. Laksansia osmotik

magnesium sulfat, gliserol, manitol, sorbitol, laktulosa

Garam-garam anorganik dari ion-ion divalen, tinja menjadi lebih lunak dan volumenya
diperbesar yang merupakan suatu rangsangan mekanis atas dinding usus.

3. Laksansia pembesar volume

zat-zat lendir (agar-agar, metilselulosa dan CMC)

Zat-zat ini berdaya menahan air sambil mengembang. Disamping itu, pada perombakan oleh
kuman-kuman usus terbentuklah asam-asam organik dan gas-gas (CO2, O2, H2, CH4)
sedangkan massa bakteri juga meningkat, semua ini turut memperbesar volume chymus.
4. Laksansia pelicin dan emollientia

natrium docusenat, natrium lauril sulfo asetat dan parafin cair.

Kedua zat pertama memiliki aktifitas permukaan detergensia dan mempermudah


defekasi, karena melunakkan tinja dengan jalan meningkatkan penetrasi air ke dalamnya.
Parafin melicinkan penerusan tinja dan bekerja sebagai bahan pelumas.
6. Penggolongan Obat pada Sistem Syaraf
Sistem saraf yang mengkordinasi sistem-sistem lainnya di dalam tubuh dibagi
menjadi dua kelompok, yakni:
 Sistem Saraf Pusat
 Sistem Saraf Otonom/Perifer

System saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Impuls eksogen
diterima oleh sel-sel penerima (resptor) untuk kemudian diteruskan ke otak atau sumsum
tulang belakang. Rangsangan dapat berupa perangsang (stimuli) nyeri, suhu, perasaan,
penglihatan, pendengaran, dll. Khususnya ialah saraf yang berhubungan dengan pusat
nyeri (di otak), pusat tidur (di hipotalamus) dan kapasitas mental, yang menjadi fungsi
kulit otak (cortex). ( DRS Tan Hoan Tjay, DRS Kirana Rahardja, Obat-Obat penting,
Edisi 5, 2007 )
( Bertram G Katzung MD, PhD, 1986, EGC )

Kesadaran akan perasaan sakit terbentuk dari 2 proses, yaitu penerimaan perangsangan
nyeri di otak besar dan reaksi emosional.

Analgetika memperngaruhi proses pertama dengan jalan meningkatkan ambang


kesadaran akan perasaan sakit, Narkotika menekankan reaksi psikis yang diakibatkan
oleh perangsangan nyeri itu. Fungsi SSP dapat ditekan seluruhnya secara tidak spesifik
oleh zat-zat pereda pusat yaitu hipnotika & sedative.

Sebagai akibatnya kesadaran untuk impuls eksogen diturunkan serta aktivitas fisik dan
mental dikurangi. Obat-obat ini tidak memperngaruhi tingkah laku secara spesifik. Yang
disamping itu berkhasiat depresi terhadap SSP antagonis faal dari obat tersebut ialah zat
yang berkhasiat menstimulir seluruh SSP yaitu analeptika & antidepresiva yang
mempengaruhi semangat dan suasana jiwa berdasarkan kegiatan langsung terhadap otak.
( DRS Tan Hoan Tjay, DRS Kirana Rahardja, Obat-Obat penting, Edisi 5, 2007 )

Tempat kerja obat tahap obat


mengubah hantaran sinap :

1. Potensial aksi dalam serabut prasinap.

2. Sintesis transmitter

3. Penyimpanan

4. Metabolism

5. Pelepasan

6. Ambilan kembali

7. Degradasi

8. Reseptor untuk transmitter

Peningkatan/penurunan karena reseptor pada konduktans ion. ( Bertram G Katzung MD,


PhD, 1986, EGC )
1. PSIKOLEPTIKA
HIPNOTIK
atau obat tidur merupakan zat-zat yg dalam dosis tertera diperuntukkan untuk mempermudah
tidur.
SEDATIVA

Berfungsi menurunkan aktivitas,mengurangi ketegangan dan menenangkan penggunanya.

Contoh obatnya Hipnotik dan sedative: barbiturat, nitrazepam, triazolam, flurazepam.

PSIKOFARMAKA

Merupakan obat-obat yang bekerja terhadap SSP dengan memengaruhi fungsi-fungsi psikis
dan proses-proses mental.

Contoh obatnya:

derivat fenotiazin, derivat thioxantin, derivat butirofenon, derivat butilpiperizin.

2. PSIKOANALEPTIKA

ANTIDEPRESIVE (OBAT ANTI MURUNG)

Obat-obat yang mampu memperbaiki suasana jiwa dengan menghilangkan atau meringankan
gejala keadaan murung, yg tidak disebabkan oleh kesulitan sosial ekonomi, obat-obatan atau
penyakit.

Contoh obatnya:

imipramin, amitriptilin, maprotilin, mianserin

3. MIGRAIN DAN VERTIGO

Penyakit yg bercirikan serangan nyeri hebat dari satu sisi kepala yang datang secara berkala
disertai gangguan saluran cerna seperti mual dan muntah.

Obatnya: Ergotamin, Sumatriptan, Metisergida, Pizotifen, Propanolol

4. GANGGUAN NEUROLOGIS
ANTIEPILEPTIKA

Suatu gangguan saraf yg timbul secara tiba-tiba dan berkala, biasanya dengan perubahan
kesadaran. Penyebabnya adalah aksi serentak dan mendadak dari sekelompok besar sel-sel
syarafdi otak.

Contoh obatnya: Pregabalin, Topiramat, Vigabatrin

PARKINSON

Penyakit yg disebabkan terganggunya neurohormon di sistem otak.

DIMENSIA

Kemunduran daya ingat

Contoh obat parkinson dan dimensia: Ekstrak gingkobiloba

5. MEMBLOKIR RASA SAKIT

ANALGESIK

Obat penghalang rasa nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran.

Contohnya: Parasetamol, asetosal, tramadol, kodein

ANTIRADANG/ATRITIS

Suatu penyakit yg bercirikan rasa nyeri dan bengkak, serta kekakuan otot dengan
terganggunya alat-alat gerak.

Contohnya: Ketoprofen, diclofenac, Fenilbutazon, As.mefenamat

NARKOTIK

Golongan obat yang bekerja terhadap reseptor opioid khas di SSP, hingga persepsi nyeri dan
responsemosional terhadap nyeri berubah (dikurangi)
Contoh obatnya: morfin, codein, Fentanil, Metadon

ANASTETIK UMUM

Suatu keadaan depresi umum dari berbagai pusat di SSP yg bersifat reversibel, dimana
seluruh perasaan dan kesadaran di tiadakan sehingga mirip keadaan pinsan.

Contohnya: Eter, Trikloretilen, Nitrogenoksida, Halotan

ANASTETIK LOKAL

Zat penghilang rasa setempat merupakan obat yang pada penggunaan lokal merintangi secara
reversibel penerusan impuls saraf ke SSP dan dengan demikian menghilangkan atau
mengurangi rasa nyeri, gatal-gatal, rasa panas atau dingin.

Contohnya: Kokain, Lidokain. Benzokain

Sistem saraf otonom/perifer merupakan bagian dari golongan obat simpatomimetik/


adrenergik.

Simpatomimetik / edrenergik ialah senyawa yang mempunyai kerja yang mirip dengan
kerja saraf simpatis jika dirangsang sama seperti adrenalin dan nonadrenalin. (Ernst
Mutschler, Dinamika Obat, 1991).

Kerja obat adrenergik dapat dikelompokan dalam 7 jenis :

1. Perangsangan organ perifer : otot polos pembuluh darah kulit dan mukosa, dan terhadap
kelenjar liur dan keringat.
2. Penghambatan organ perifer : otot polos, usus, bronkus, dan pembuluh darah otot rangka.
3. Perangsangan jantung, dengan akibat peningkatan denyut jantung dan kekuatan
kontraksi.
4. Perangsangan SSP, misalnya perangsangan pernapasan, peningkatan kewaspadaan,
aktivitas psikomotor, dan pengurangan nafsu makan.
5. Efek metabolik, misalnya peningkatan glikogenolisis di hati dan otot, lipolosis dan
penglepasan asam lemak bebas dari jaringan lemak.
6. Efek endokrin, misalnya mempengaruhi sekresi insulin, renin dan hormon hipofisis.
7. Efek parasimpatik, dnegan akibat hambatan atau peningkatan penglepasan
neurotransmitter NE atau Ach (secara fisiologis, efek hambatan lebih penting).
(Farmakologi dan Terapi, Edisi 5, 2007).

Penggolongan obat otonom, menurut efek utamanya yaitu :

1. Simpatomimetik/ adrenergik - efek obat menyerupai efek yang ditimbulkan oleh


aktivitas susunan saraf simpatis. (misal noradrenalin, efedrin,isoprenalin dan
amfetamin)

2. Simpatolitik/ penghambat adrenergik - menghambat timbulnya efek akibat aktivitas


susunan saraf simpatis. (misal alkaloida sekale dan propanolol)

3. Parasimpatomimetik/ kolinergik - efek obat menyerupai efek yang ditimbulkan oleh


aktivitas susunan saraf parasimpatis. (misal pilokaprin dan fisostigmin)

4. Parasimpatolitik/ penghambat kolinergik - menghambat timbulnya efek akibat


aktivitas susunan saraf parasimpatis. (misal alkalioda Belladonna dan propantelin)
7. Penggolongan Obat Cardiovascular

Obat-obat Jantung atau Cardiaca adalah obat-obat yang secara langsung dapat memulihkan
fungsi otot jantung yang terganggu ke keadaan normal.

Obat kardiovaskuler atau yang lebih dikenal dengan obat jantung terbagi dari 5 kategori besar
yaitu :

1. Obat jantung untukgagal jantung

2. Obat jantung untuk aritmia/antiaritmia

3. Obat jantung untuk infark jantung

4. Obat jantung untuk angina/antiangina

5. Obat jantung untuk Shock jantung

1. Obat gagal jantung

Pada gangguan ini, jantung tidak mampu lagi memelihara selayaknya peredaran darah,
hingga volume menit menurun dan arteri mendapat terlalu sedikit darah.

Obat gagal jantung jenis Digoxin meningkatkan kekuatan setiap denyut jantung dan
memperlambat denyut jantung yang terlalu cepat.

2. Obat jantung jenis antiaritmia

Ketidakteraturan irama jantung (aritmia, dimana denyut jantung terlalu cepat, terlalu lambat
atau tidak teratur), bisa diatasi dengan obat jantung jenis antiaritmia.

3. Obat jantung untuk infark jantung


Arteri Koroner yang mensuplai darah ke jantung menjalar di seluruh bagian luar otot jantung
dan dapat tersumbat oleh endapan kolesterol-kapur (Atherosclerosis), sehingga dapat juga
mengakibatkan pembekuan darah.

Bila suatu gumpalan darah beku (trombus) menyumbat aliran darah jantung (trombosis
koroner), maka terjadilah Infark Jantung umumnya disebut dengan serangan jantung
(Heart attack).

4. Obat jantung jenis antiangina

Obat jantung untuk mengatasi angina pektoris (merupakan nyeri dada sementara atau suatu
perasaan tertekan, yang terjadi jika otot jantung mengalami kekurangan oksigen ) ada
beberapa yang sering dipakai yaitu Obat jantung jenis beta blocker, diantaranya:
 Obat jantung golongan Nitrat misalnya nitroglycerin
 Obat jantung jenis Antagonis kalsium
 Obat jantung jenis antiplatelet misalnya Aspirin

5. Obat jantung untuk Shock jantung


Komplikasi infark jantung ini sangat ditakuti karena sering kali fatal. Kekurangan pemasukan
darah ke jaringan bergejala kulit pucat dan dingin, rasa takut dan gelisah, denyut jantung
cepat dan lemah, lalu pingsan. Shock dapat pula diakibatkan oleh radang otot jantung
(myocarditis).
Pengobatan dilakukan dengan zat-zat Vasopresor/inotrop (dopamin, dobutamin, ibopamin)
yang menaikan volume menit jantung dan tekanan darah. Adakalanya dianjurkan pula
pemberian Kortison dalam dosis tinggi.

Berdasarkan efeknya atas jantung cardica dapat dibagi dalam 3 golongan antara lain:
1. Kardiotonika
Obat-obat dengan khasiat memperkuat kontraktilitas otot jantung. Terutama digunakan
pada gagal jantung (dekompensasi) untuk memperbaiki fungsi pompanya.
Kelompok kardiotinika terdiri dari:
a. Glikosida Jantung (digoksin, metildigoksin dan digitoksin)
b. Dopaminergika (dopamin, ibopamin dan dobutamin)
c. Penghambat Fosfodiesterase (amrinon dan milrinon)

2. Obat angina pectoris


Dengan daya vasodilatasi atau memperlambat frekuensi jantung.
Jenis obatnya antara lain :
a. Vasodilator koroner
memperlebar arteri jantung, memperlancar pemasukan darah serta oksigen dan dengan
demikian meringankan beban jantung.
Contoh obatnya : nitrogliserin (sublingual).
b. memperlambat pukulan jantung hingga mengurangi kebutuhan oksigen myocard.
Contoh obatnya : Derivat sulfonanilida

3. Obat Antiaritmika
Yaitu jenis obat dengan khasiat meniadakan kelainan ritme pukulan jantung.
Contoh obatnya :
 Kinidin
 Lidokain
 Disopiramida
 Prokainamida
 mexiletin
8. Penggolongan Obat pada Saluran Pernapasan
Respirasi pada manusia adalah proses keluar masuknya oksigen keparu-paru yang
selanjutnya diteruskan keseluruh tubuh melalui darah.manusia memiliki alat respirasi
yang berperan sebagai perantara antara lingkunagn luar (alam bebas) dengan lingkungan
dalam (cairan interseluler).
Proses respirasi pada manusia dibagi 2, yaitu:
1. inspirasi:Proses masuknya oksigen dari hidung menuju keparu-paru yang
selanjutnya diteruskan oleh darah keseluruh tubuh.
2. Ekspirasi:Proses keluarnya karbodioksida dari tubuh melewati hidung.

Alat respirasi manusia terdiri atas:

1. Hidung
Tempat dimana udara (oksigen) pertama kali masuk. dihidung terdapat rambut-rambut
hidung yang berfungsi untuk menyaring debu atau kotoran, dan selaput lendir untuk
mengatur suhu udara pernapasan.
2. Tekak
Merupakan rongga persimpangan antara saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan
saluran kerongga hidung.didalam tekak terdapat epiglotis yang berfungsi untuk menjaga
agar makanan tidak masuk kesaluran pernapasan
3. Laring
Pada bagian ini ditemukan pita suara yang berfungsi untuk memberi warna suara pada
manusia
4. Trakea
Terdiri dari 3 lapisan epitel (bersilia dan berlendir) merupakan lapisan paling dalam,
lapisan tulang rawan (berupa cincin tulang rawan) denagn otot polosnya, merupakan
lapisan bagian tengahnya, dan lapisan terluarnya adalah jaringan ikat.
5. Bronchus
Bronchus merupakan percabangan 2 dari trakea yang nantinya juga bercabang menjadi
bronkiolus. dibronchus tidak terdapat cincin tulang rawan tapi hanya ditemukan jaringan
ikat dan otot polos.

6. Bronchiulus
Bronkiolus adalah cabang dari bronchus yang berujung pada saluran alveolus .saluran ini
berada dikantung alveolus.
7. Alveolus
Alveolus terdapat didalam kantung alveolus yang mana dalam setiap kantong alveolus
berisis banyak alveolus.dinding alveolus sangat tipis dan elastis, berbentuk bola, dan pada
permukaannya banyak terdapat pembuluh kapiler sehingga proses pertukaran gas
berlangsung disini.
8. Paru-paru
Merupakan organ pernapasan utama, yang dibungkus oleh selaput pleura dan yang
menyelimuti paru-paru scara langsung disebut visceral pleura dan yang menyelimuti
rongga dada disebut parietal pleura. Dan diantara kedua selaput tersebut terisi cairan yang
berfungsi melindungi paru-paru dari gesekan ketika paru-paru kembang kempis.

Kelainan sistem Respirasi,yaitu :

1. Influeza
Penyakit yang disebabkan oleh virus influenza. dengan gejala antara lain pilek, hidung
tersumbat, bersin-bersin dan tenggorokan gatal.
Pengobatan:
Untuk anak-anak dan orang dewasa, influenza adalah penyakit yang bisa sembuh sendiri
dalam satu minggu. Namun untuk orang yang tidak sehat atau daya tahannya menurun,
influenza bisa berakibat fatal. Dekongestan merupakan obat yang digunakan untuk
Influenza contohnya: Feniptopanilamin HCl

2. Asma
Merupakan suatu penyakit penyumbatan saluran pernapasan yang disebabkan alergi
terhadap rambut, bulu, debu, atau tekanan psikologis. asma bersifat menurun.
Pengobatan:
Penyakit asma tidak dapat disembuhkan dan obat-obatan yang ada saat ini hanya
berfungsi menghilangkan gejala. Namun, dengan mengontrol penyakit asma, penderita
penyakit asma bisa bebas dari gejala penyakit asma yang mengganggu sehingga dapat
menjalani aktivitas hidup sehari-hari.

3. Tubercolosis
Penyakit paru-paru yang diakibatkan serangan bakteri mycobacterium tubercolosis.
sehingga difusi oksigen menjadi sulit dikarenakan adanya bintil-bintil atau peradangan
pada dinding alveolus.
Pengobatan:
obat-obtan yang umumnya diberikan adalah Isoniazid dan rifampin sebagai pengobatan
dasar bagi penderita TBC, namun karena adanya kemungkinan resistensi dengan kedua
obat tersebut maka dokter akan memutuskan memberikan tambahan obat seperti
pyrazinamide dan streptomycin sulfate atau ethambutol HCL sebagai satu kesatuan yang
dikenal 'Triple Drug'.

4. Sinusitis
Peradangan pada sinus yang yang didalamnya terkumpul nanah.
Pengobatan:
Dengan memberikan Herbal pada sekitar hidung, pipi, dan kelopak mata untuk sinusitis
bersifat anti bakteri dan antiseptik sehingga dapat membunuh bakteri dan menyembuhkan
infeksi pada rongga sinus. Herbal Oil tersebut juga membantu pengeluaran lendir pada
rongga sinus sehingga melegakan saluran pernafasan melalui rongga hidung. atau juga
dapat dilakukan dengan operasi penghilangan nanah.

5. Rinitis
Gangguan radang pada hidung akibat infeksi oleh virus tapim juga bisa dikarenakan
reaksi alergi terhadap cuaca,serbuk sari,dan debu.
Pengobatan:
a. Pemberian antihistamin kadang disertai dengan dekongestan (misalnya
pseudoephedrine atau fenilpropanolamin) untuk melegakan hidung tersumbat.
Pemakaian dekongestan pada penderita tekanan darah tinggi harus diawasi secara
ketat.
b. Bisa juga diberikan obat semprot hidung natrium kromolin; efeknya terbatas pada
hidung dan tenggorokan bagian belakang. Jika pemberian antihistamin dan kromolin
tidak dapat mengendalikan gejala-gejala, maka diberikan obat semprot kortikosteroid.
c. Jika obat semprot kortikosteroid masih juga tidak mampu meringankan gejala, maka
diberikan kortikosteroid per-oral selama kurang dari 10 hari.

6. Wajah adenoid
Pembengkakan kelenjar limfe pada sekitar tekak dan hidung yang mempersempit jalan
nafas. penderita biasanya lebih suka bernapas lewat mulut.
Pengobatan:
Dilakukan operasi pengambilan amandel

7. Pleuritis
Merupakan radang pada selaput pembungkus paru-paru atau disebut pleura.
Pengobatan:
Dilakukan pengoprasian dengan cepat karena dapat mengakibatkan kanker paru.

8. Faringitis
Radang pada faring akibat infeksi oleh bakteri streptococcus.
Pengobatan:
a. Untuk mengurangi nyeri tenggorokan diberikan obat pereda nyeri (analgetik), obat
hisap atau berkumur dengan larutan garam hangat. Jika diduga penyebabnya adalah
bakteri, diberikan antibiotik.
b. Untuk mengatasi infeksi dan mencegah komplikasi (misalnya demam rematik), jika
penyebabnya streptokokus, diberikan tablet penicillin. Jika penderita memiliki alergi
terhadap penicillin bisa diganti dengan erythromycin atau antibiotik lainnya.
9. Laringitis
Radang pada laring yang disebabkan oleh infeksi,terlalu banyak merokok,minum alkohol,
dan terlalu banyak serak.
Pengobatan:
a. Pengobatan pada infeksi oleh virus tergantung kepada gejalanya.
b. Penderita sebaiknya mengistirahatkan pita suaranya dengan tidak bicara atau bicara
dengan berbisik.
c. Menghirup uap bisa meringankan gejala dan membantu penyembuhan daerah yang
meradang. Jika penyebabnya bakteri, diberikan antibiotik.

10. Broncitis
Radang pada cabang tenggorokan akibat infeksi.
Pengobatan:
a. Penderita dewasa bisa diberikan Aspirin atau asetaminofen; kepada anak-anak
sebaiknya hanya diberikan asetaminofen.
b. Dianjurkan untuk beristirahat dan minum banyak cairan.
c. Antibiotik diberikan kepada penderita yang gejalanya menunjukkan bahwa
penyebabnya adalah infeksi bakteri (dahaknya berwarna kuning atau hijau dan
demamnya tetap tinggi) dan penderita yang sebelumnya memiliki penyakit paru-paru.
d. Kepada penderita dewasa diberikan trimetoprim-sulfametoksazol, tetracyclin atau
ampisilin.

11. Asifikasi
Gangguan pernapasan pada waktu pengangkutan dan penggunaan oksigen yang
disebabkan oleh tenggelam (akibat alveolus terisi air), pneunomia (alveolus terisi cairan
lendir atau limfe), keracunan CO dan HCN, atau gangguan sistem sitokrom (enzim
pernapasan).
Pengobatan:
a. Pemberian Nutrisi dan supplement dapat mengurang gejala yang disebabkan oleh
kanker paru. Vitamin D dan Fe sangat baik untuk diberikan oleh penderita penyakit
kanker paru, Begitu pula dengan makanan antioxidant seperti blueberri, cherri, dan
buah tomat.
b. Tindakan operasi pembedahan mengangkat sell kanker
c. Tindakan Therapy Radiasi
d. Tindakan Therapy Kemotherapy
e. Tindakan penyuntikan {Photodynamic (PTD)}

12. Asidosis
Kenaikan kadar asam karbonat dan asam bikarbonat dalam darah,sehingga pernapasan
terganggu.
Pengobatan:
a. Pengobatan asidosis metabolik tergantung kepada penyebabnya.
b. Sebagai contoh, diabetes dikendalikan dengan insulin atau keracunan diatasi dengan
membuang bahan racun tersebut dari dalam darah.
c. Kadang-kadang perlu dilakukan dialisa untuk mengobati overdosis atau keracunan
yang berat. Asidosis metabolik juga bisa diobati secara langsung.
d. Bila terjadi asidosis ringan, yang diperlukan hanya cairan intravena dan pengobatan
terhadap penyebabnya.
e. Bila terjadi asidosis berat, diberikan bikarbonat mungkin secara intravena; tetapi
bikarbonat hanya memberikan kesembuhan sementara dan dapat membahayakan.

13. Emfisema
Penyakit pembengkakan karena pembuluh darahnya kemasukan udara
Pengobatan:
a. Usaha untuk mengembangkan paru-paru adalah perlu, ini termasuklah kemasukan
satu strain pada jantung untuk mengepam darah kepada paru-paru.
b. Memakan makanan yang mengandung vitamin C.
c. Rajin berolahraga lari atau jalan jauh supaya jantung memberikan oksigen yang
banyak pada paru-paru.

14. Pneumonia
Penyakit infeksi yang disebabkkan oleh virus atau bakteri pada alveolus yang
menyebabkan terjadinya radang paru-paru.
Pengobatan:
a. Antibiotik, Jika diagnosis pneumonia telah dibuat, obat antibiotik diperlukan
walaupun kebanyakan pneumonia disebabkan oleh virus. Ini adalah kerana sukar
untuk membezakan di antara pneumonia virus dan bakteria
b. Pneumonia virus, Tiada obat antivirus kecuali herpes dan varicella di mana acyclovir
boleh digunakan
c. Drip intravena diperlukan jika penderita tidak boleh minum

Batuk adalah suatu refleks fisiologi pada keadaan sehat maupun sakit dan dapat
ditimbulkan oleh pelbagai sebab. Refleks batuk lazimnya diakibatkan oleh rangsangan dari
selaput lendir saluran pernapasan, yang terletak di beberapa bagian dari tenggorokan (epiglotis,
larynx, trachea dan bronchi). Mukosa ini memiliki reseptor yang peka untuk zat-zat
perangsang(dahak, debu dan peradangan) yang dapat mencetuskan batuk.

Batuk merupakan suatu mekanisme fisiologi yang bermanfaat untuk mengeluarkan dan
membersihkan saluran pernapasan dari dahak, zat-zat perangsang asing dan unsur infeksi.
Dengan demikian batuk merupakan suatu mekanisme prlindungan.

Jenis batuk dapat dibedakan menjadi 2, yakni :

1. Batuk produktif (berdahak) merupakan suatu mekanisme perlindungan dengan fungsi


mengeluarkan zat-zat asing (kuman, debu, dsb) dan dahak bronci dari batang tenggorok
yg terdiri dari larutan dalam air dari suatu persenyawaan rumit mucopoly saccharida dan
glycoprotein.
2. Batuk non-produktif bersifat “kering” tanpa adanya dahak, misalnya pada batuk rejan
(pertussis, kinkhoest) atau juga karena pengeluarannya memang tidak mungkin, seperti
pada tumor.

Pengobatan gangguan pernapasan

Obat-obat Batuk:

1. Antitusiva

 Bekerja pada pengendali batuk di medulla untuk menekan refleks batuk

 Batuk adalah cara tubuh untuk mengeluarkan sekret atau material lain dari saluran
nafas

 Bila batuk tidak produktif dan mengiritasi, boleh diberikan antitusif

 Dekstrometrofan adalah antitusif nonnarkotik

2. Espectoran
 Melunakkan sekret bronkus sehingga dpt dihilangkan dengan batuk
 Tabel obat antitusif dan espektoran

OBAT DOSIS INDIKASI


Antitusif Narkotik D:PO: 10-20 mg setiap 4-6Biasanya dicampur dg antihistamin,
Kodein jam dekongestan, dan espectoran

Hidrokodon(Hycodon) D:PO:5-10 mg, setiap 6-8 jam Seperti kodein

D:PO:0,6 mg/kg/hari dlm


dosis terbagi 3-4, tdk melebihi
10 mg/dosis tungga

Antitusif nonnarkotik D:PO: 25 mg, setiap 4-6 jam Berefek antihistamin, dan dapat menimbulkan
rsa ngantuk, dan mulut kering
D:PO:10-20 mg setiap 4-6 jam
Menekan batuk, tidak menekan pernafasan, tidak
Difenhydramin A: (6-12 th): 5-10 mg setiap 4-
menimbulkan toleransi
(benylin, benadryl) 6 jam
Untuk batuk kering, tdk produktif, dpt
Dekstrometrofan A: (2-5 th): 2,5-5 mg setiap 4-
menyebabkan mual, muntah. Dapat dikombinasi
(romilar, sucrets) 6 jam
dg pereda flu yg lain. Diminum dg banyak air
Espectoran D:PO:200-400 mg setiap 4untuk mengencerkan lendir
jam
Guaifenesin Merangsang sekresi dan cairan bronkus. Hindari
(robittusin) A: (6-12 th): 100-200 mgjika terdapat hiperkalemia. Dapat menimbulkan
setiap 4 jam rasa mual, dan muntah
Kalium iodida
A: (2-5 th):50-100 mg setiap 4
Gliserol iodin (Iophen,
jam
Organidin)
D:PO:0,3-0,6 ml setiap 4-6
jam

D:PO: 60 mg (tablet) q.i.d


9. Penggolongan Obat Antibiotika

Antibiotik adalah zat yang dihasilakn oleh mikroba, terutama fungi, yang dapat
menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain. Sedangkan antimikroba
yaitu obat yang membasmi mikroba khusunya mikroba yang merugikan manusia.
Penggunaan antibiotik di dasarkan pada:
a. Penyebab infeksi
Proses pemberian antibiotic yang paling baik adalah dengan melakukan pemeriksaan
mikrobiologis dan uji kepekaan kuman. Namun pada kenyataannya, proses tersebut tidak
dapat berjalan karena tidak mungkin melakukan pemeriksaan kepada setiap pasien yang
datang karena infeksi, dank arena infeksi yang berat perlu penanganan segera maka
pengambilan sample bahan biologic untuk pengembangbiakan dan pemeriksaan kepekaan
kuman dapat dilakukan setelah dilakukannya pengobatan terhadap pasien yang
bersangkutan.
b. Faktor pasien
Faktor pasien yang perlu diperhatikan dalam pemberian antibiotic adalah fungsi organ
tubuh pasien yaitu fungsi ginjal, fungsi hati, riwayat alergi, daya tahan terhadap infeksi
(status imunologis), daya tahan terhadap obat, beratnya infeksi, usia, untuk wanita apakah
sedang hamil atau menyusui dan lain-lain.

A. Fungsi Antibiotika
Antibiotika digunakan untuk mengobati berbagai infeksi akibat kuman atau juga
untuk prevensi infeksi, misalnya pada pembedahan besar. Secara provilaktis juga
diberikan kepada pasien dengan sendi dan klep jantung buatan, juga sebelum cabut gigi.
Mekanisme kerja yang terpenting pada antibiotika adalah perintangan sintesa protein,
sehingga kuman musnah atau tidak berkembang lagi tanpa merusak jaringan tuan rumah.
Selain itu, beberapa antibiotika bekerja terhadap dinding sel dan membran sel. Namun
antibiotika dapat digunakan sebagai non-terapeutis, yaitu sebagai stimulans pertumbuhan
pada binatang ternak.

B. Pembuatan Antibiotik
1. Antibiotik semisintesis, yaitu pada persemaian (culture substrate) dibubuhi zat-zat
pelopor tertentu, maka zat-zat ini diinkorporasi ke dalam antibiotikum dasarnya.
Hasilnya disebut semisintesis, misalnya Penisilin-V.
2. Antibiotik sintesis tidak dibuat lagi dengan jalan biosintesis, melainkan dengan
sintesa kimiawi, misalnya Kloramfenikol.

C. Mekanisme Kerjanya:
cara kerjanya adalah perintangan sintesa ptotein, sehingga kuman musnah atau
tidak berkembang lagi.
Misalnya: kloramfenikol, tetrasiklin, aminogliosida, makrolida dan linkomisin.
Selain itu beberapa antibiotik bekerja terhadap dinding sel (penisilin dan
sefalosforin) atau membran sel (polimiksin, zat-zat polyen dan imidazol).
D. Penggunaan:

 Antibiotika digunakan untuk mengobati berbagai jenis infeksi akibat kuman atau
juga untuk prevensi infeksi, misalnya pada pembedahan besar.
 Secara profilaktis juga diberikan pada pasien dengan sendi dan klep jantung
buatan, juga sebelum cabut gigi.
 Antibiotika yang akan digunakan untuk membasmi mikroba, penyebab infeksi
pada manusia, harus mememiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin.
 Artinya, antibiotika tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi
relatif tidak toksik untuk manusia.
 Penyebab timbulnya resistensi antibiotika yang terutama adalah karena
penggunaan antibiotika yang tidak tepat, tidak tepat sasaran, dan tidak tepat dosis.
 Tidak tepat sasaran, salah satunya adalah pemberian antibiotika pada pasien yang
bukan menderita penyakit infeksi bakteri.
 Setiap antibiotika mempunyai daya bunuh terhadap bakteri yang berbeda-beda.
Karena itu, antibiotika harus dipilih dengan seksama. Ketepatan dosis sangat
penting diperhatikan.
 Tidak tepat dosis dapat menyebabkan bakteri tidak terbunuh, bahkan justru dapat
merangsangnya untuk membentuk turunan yang lebih kuat daya tahannya
sehingga resisten terhadap antibiotika.
 Karena itu, jika dokter memberikan obat antibiotika, patuhilah petunjuk
pemakaiannya dan harus diminum sampai habis.
E. Penggolongan Antibiotik
Antibiotika dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Antibiotika golongan penisilin, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan.
 Berasal dari biakan
 Penicillium notatum
 Penicillium chrysogenum
 Penisilin sintetik diperoleh dengan cara mengubah struktur kimia penisilin alam
atau sintesis dari inti penisilin yaitu:
 6-aminopenisilinat atau 6-APA
 Penisilin termasuk senyawa antibiotika derivat β laktam I
 Sefalosporin merupakan antibiotika β laktam II
2. Antibiotika golongan sefalosforin, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan
serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri.
Sefalosporin berasal dari Cephalosporium acremonium yang menghasilkan tiga
macam antibiotik, yaitu sefalosporin P, N, dan C, yang diisolasi pada tahun 1948
oleh Brotzu. Sefalosporin merupakan antibiotik β-laktam II.

Aktivitas antimikroba Sefalosforin:

a. Daya kerja sefalosporin ialah bakterisida.


b. Mekanisme kerja antimikrobanya dengan menghambat sintesis dinding sel
mikroba (sintesis peptidoglikan yang diperlukan kuman untuk ketangguhan
dindingnya).

c. Spektrum kerja sefalosporin luas dan meliputi banyak kuman Gram-positip


dan –negatip, termasuk E.coli, Klebsiella, dan Proteus.

d. Kepekaannya untuk beta-laktamase lebih rendah daripada penisilin

PENGGOLONGAN SEFALOSPORIN

Generasi Pertama : Sefalotin, Sefazolin, Sefradin, Sefaleksin, dan Sefadroksil.

a. Sefalosporin generasi pertama ini memiliki spektrum antimikroba yang


terutama aktif terhadap cocci gram-positif, tidak berdaya terhadap gonococci,
H. influenzae, Bacterioides, dan Pseudomonas.

b. Keunggulannya dari penisilin ialah aktivitasnya terhadap bakteri penghasil


penisilinase

c. Golongan ini efektif terhadap sebagian besar S. aureus dan Streptococcus


termasuk Str. Pyogenes, Str. Viridans, dan Str. Pneumoniae.

Generasi Kedua :

Sefaklor, Sefamandol, Sefoksitin, sefuroksim, Sefonisid, dan seforanid.

a. Generasi kedua ini lebih aktif terhadap kuman gram negative,


termasuk H. influenzae, Proteus, Klebsiella, gonococci, dan kuman-kuman
yang resisten untuk amoksisilin.

b. Tidak efektif terhadap Ps. Aeruginosa dan enterococcus.

Generasi Ketiga :

Sefoperazon, Sefotaksim, Seftizoksin, Seftriakson, Sefatiam, Sefiksim, dan


Sefprozil.
Aktifitas terhadap kuman gram-negatif lebih kuat dan lebih luas lagi, meliputi
Pseudomonas dan Bacteroides, khususnya seftazidim, sefsulodin dan sefepim.

Generasi Keempat:

Sefepim dan sefirom. Obat baru ini sangat resisten terhadap laktamase dan
sefepim, juga aktif sekali terhadap Psedomonas

3. Antibiotika golongan klorampenikol, bekerja dengan menghambat sintesis protein


dari bakteri.

4. Antibiotika golongan makrolida, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari


bakteri.
Eritromisin termasuk golongan makrolida Penghasil : Streptomyces erythreus

Yang termasuk golongan makrolida yang lain:

 Karbomisin A dari Streptomyces halstedii


 Calkomisin Streptomyces bikiniensis
 Josamisin Streptomyces kitasatoensis
 Oleandomisin Streptomyces antibioticus
 Spiramisin Streptomyces ambofaciens
 Tilosin Streptomyces fradiae

5. Antibiotika golongan aminoglikosid, bekerja dengan menghambat sintesis protein


dari bakteri.
Antibiotika golongan aminoglikosida dihasilkan oleh berbagai jenis Srteptomyces
dan Micromonospora. Yang pertama ditemukan adalah Streptomisin dari
Streptomyces griseus pada tahun 1943. Dari segi kimia senyawanya merupakan gula
amino dengan ikatan glikosidik yang larut dalam air.
Yang termasuk antibiotika golongan aminoglikosida:
 Sreptomisin dari Streptomyces griseus 1943
 Neomisin Streptomyces fradiae 1949
 Framisetin Streptomyces lavandulae 1953
 Kanamisin Streptomyces kanamyceticus 1957
 Paromomisin Streptomyces rimosus 1959
 Gentamisin Micromonospora purpurea 1963
 Tobramisin Streptomyces tenebrarius 1968
 Amikasin Asilasi kanamisin A 1972

6. Antibiotika golongan beta laktam golongan lain, bekerja dengan menghambat sintesis
peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri.
7. Antibiotika golongan kuinolon, bekerja dengan menghambat satu atau lebih enzim
topoisomerase yang bersifat esensial untuk replikasi dan transkripsi DNA bakteri.
8. Antibiotika golongan tetrasiklin, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari
bakteri.
 Golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan adalah klortetrasiklin
 Klortetrasiklin berasal dari biakan Streptomyses aureofaciens.
 Oksitetrasiklin berasal dari biakan Streptomyses rimosus.
 Tetrasiklin diperoleh dari klortetrasiklin yang dibuat secara semi sintetik.

9. Kombinasi antibakteri
Antibiotik kombinasi diberikan untuk 4 indikasi utama:
a. Pengobatan infeksi campuran, misalnya pasca bedah abdomen.
b. Pengobatan awal pada infeksi berat yang etiologinya belum jelas, misalnya sepsis,
meningitis purulenta.
c. Mendapatkan efek sinergi.
d. Memperlambat timbulnya resistensi, misalnya pada pengobatan tuberkulosis.
10.Penggolongan Obat Analgesik dan Antipiretik
Nyeri merupakan suatu pengalaman sensorik dan motorik yang tidak
menyenangkan, berhubungan dengan adanya potensi kerusakan jaringan atau kondisi
yang menggambarkan kerusakan tersebut.
Gejala Nyeri dapat digambarkan sebagai rasa benda tajam yang menusuk, pusing,
panas seperti rasa terbakar, menyengat, pedih, nyeri yang merambat, rasa nyeri yang
hilang – timbul dan berbeda tempat nyeri.

Penanganan Nyeri menggunakan Obat Golongan


1. Analgesik
adalah obat yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri dan akhirnya akan
memberikan rasa nyaman pada orang yang menderita.
2. Antipiretik

adalah obat yang dapat menurunkan demam (suhu tubuh yang tinggi). Pada umumnya
(sekitar 90%) analgesik mempunyai efek antipiretik.

Obat-obat yang dapat mengurangi nyeri antara lain:

1. Golongan Para amino fenol asetaminofen (Parasetamol ), fenasetin


2. Golongan Pirazolon: dipiron (antalgin)
3. Derivat Asam Salisilat: Aspirin, Benorilat, Diflunisal, Salsalat
4. Derivat.As.Fenamat : As.Mefenamat, Meklofenamat
5. Derivat Asam Propionat: As.Tiaprofenat, Fenbufen, Flurbiprofen, Ibuprofen,
Ketoprofen, Naproksen
6. Derivat As.Fenilasetat : Diklofenak, Fenklofenak
3. Antiinflamasi

adalah obat yang dapat menghilangkan radang yang disebabkan bukan karena
mikroorganisme (non infeksi).

Inflamasi dapat disertai dengan gejala panas, kemerahan, bengkak, nyeri/sakit,


fungsinya terganggu. Proses inflamasi meliputi kerusakan mikrovaskuler,
meningkatnya permeabilitas vaskuler dan migrasi leukosit ke jaringan radang, dengan
gejala panas, kemerahan, bengkak, nyeri/sakit, fungsinya terganggu. 

Golongan obat Antiinflamasi:

1 Derivat Asam Salisilat: Aspirin, Benorilat, Diflunisal, Salsalat


2 Derivat Asam Propionat : As.Tiaprofenat, Fenbufen, Flurbiprofen, Ibuprofen, Ketoprofen, Naproksen
3 Derivat As.Fenamat: As.Mefenamat, Meklofenamat
4 Derivat As.Fenilasetat: Diklofenak, Fenklofenak
5 Derivat Oksikam: Piroksikam, Tenoksikam
6 Derivat As.Asetat inden/indol: Indometasin, Sulindak, Tolmetin
7 Derivat Pirazolon: Azapropazon, Fenilbutazon, Oksifenbutazon
11.Penggolongan Obat Anestetika

Anestesia adalah hilangnya sensasi nyeri (rasa sakit) yang disertai maupun yang
tidak disertai hilang kesadaran. Obat yang menimbulkan anesthesia disebut sebagai
anestetika. Kelompok ini dibedakan dalam anestetika umum dan local. Bergantung pada
dalamnya pembiusan, anestetika umum memberikan efek analgesia yaitu hilangnya
sensasi nyeri atau efek anesthesia yaitu analgesia yang disertai hilangnya kesadaran.
Anestetika local hanya dapat menimbulkan efek analgesia. Anestetika umum bekerja di
SSP, anestetika local bekerja langsung pada serabut saraf di perifer. ( Farmakologi dan
terapi, Edisi 5, 2007 )

Anestetika digunakan pada pembedahan dengan maksud mencapai keadaan


pingsan, merintangi rangsangan nyeri (analgesia) , memblokir reaksi reflex terhadap
manipulasi pembedahan serta menimbulkan pelemasan otot (relaksasi). (DRS Tan Hoan
Tjay, DRS Kirana Rahardja, Obat-Obat penting, Edisi 5, 2007 )

Teori neurofisiologi merupakn teori yang dapat diyakini bahwa anesthesia terjadi
karena adanya perubahan neurotransmisi di berbagai bagian SSP. Kerja neurotransmitter
di pascasinaps akan diikuti dengan pembentukan second messenger(dalam hal ini cAMP)
yang selanjutnya mengubah transmisi di neuron. Disamping ACh sebagai
neurotransmitter klasik, dikenal juga katekolamin, serotonin, GABA, adenosine, serta
berbagai asam amino dan peptide endogen yang memodulasi neurotransmitter di SSP,
misal asam glutamate dengan mekanisme hambatan pada reseptor NMDA ( N-metil-D-
Aspartat). ( Farmakologi dan terapi, Edisi 5, 2007 )

1. Jenis anestetik umum

Jenis Anastetik umum dibagi menjadi 2 yaitu secara inhalasi dan


intravena.walaupun demikian, secara tradisional anestetika umum diberikan dengan
berbagai jenis system anesthesia yaitu system tetes terbuka (open drop system), tetes
setengah terbuka (semi-open drop system), semi tertutup / system Mappleson (semi-
closed system), dan tertutup (closed). Suatu anestetika yang ideal harus memperlihatkan 3
efek utama yang dikenal dengan “Trias Anestesia“ yaitu efek hipnotik (menidurkan), efek
analgesia, dan efek relaksasi otot.

(Farmakologi
dan terapi, Edisi
5, 2007).

Stadium Anestetik

Stadium anesthesia umum, yaitu :

1. Stadium I (analgesia), dimulai sejak pemberian anestetik sampai hilangnya kesadaran.


Pasien tidak merasakan nyeri (analgesia) tapi masih sadar dan dapat mengikuti
perintah, dapat dilakukan pembedahan ringan.

2. Stadium II (eksitasi), dimulai sejak hilangnya kesadaran hingga munculnya pernafasan


yang teratur yang merupakan tanda dimulai stadium pmbedahan. Pasien tampak
mengalami derilium dan eksitasi dengan gerakan-gerakan diluar kehendak, pernafasan
tidak teraturn kadang apnea& hiperpnea, tonus otot rangka meninggi, meronta-ronta,
kadang hingga mengalami inkontinesia dan muntah. Dapat terjadi kematian, usahakan
cepat melalui stadium ini.
3. Stadium III (pembedahan), dimulai dengan timbul kembali pernafasan teratur dan
berlangsung sampai pernafasan spontan hilang. Perubahan stadium pembedahan
menggambarkan semakin dalam pembiusan, yaitu : tingkat 1, 2, 3, dan 4.

4. Stadium IV (depresi medulla oblongata),dimulai dengan melemahnya pernafasan.


Tekanan darah tidak dapat dihitung karena pembuluh darah kolaps,jantung berhenti
berdenyut, dapat disusul dengan kematian, kelumpuhan nafas tidak dapat diatasi
dengan pernafasan buatan, jika tidak didukung dengan alat bantu nafas dan sirkulasi.
Pasien selain dari derajat kesadaran, relaksasi otot, dan tanda tersebut, ahli anesthesia
menilai dalamnya anesthesia dari respons terhadap rangsangan nyeri ringan sampai
kuat. Rangsangan kuat terjadi sewaktu pemotongan kulit, manipulasi peritoneum,
kornea, mukosa uretra terutama bila ada peradangan. (Farmakologi dan terapi, Edisi
5, 2007).

1. Anestetik Inhalasi

Semua anestetik inhalasi adalah derivate eter kecuali halotan dan nitrogen. Sifat
anestetika inhalasi yang menyebabkan ketidaknyamanan adalah bau dan sifat iritasi
saluran nafas. Obat ini diberikan sebagai uap melalui saluran nafas. Dengan keuntungan
resorpsi yang cepat melalui paru-paru seperti juga ekskresinya melalui gelembung paru
(alveoli) yang biasanya keadaan utuh. Pemberiannya mudah dipantau dan bila perlu
setiap waktu dapat dihentikan. Obat ini terutama digunakan untuk memelihara anestesi.
Anestetik inhalasi yang sempurna yaitu :

1. Masa induksi dan masa pemulihannya singkat dan nyaman.

2. Peralihan stadium anestesinya terjadi cepat

3. Relaksasi otot sempurna

4. Berlangsung cukup aman

5. Tidak menimbulkan efek toksik/ efek samping berat dalam dosis anestetik lazim.
(Farmakologi dan terapi, Edisi 5, 2007).
2. Anestetik intravena

Beberapa obat digunakan untuk membuat tidur pasien dengan respirator. Dalam
teknik anestetik berimbang (balanced anesthesia) obat-obat ini mungkin digunakan
tunggal/ dalam kombinasi sebagai ajuvan untuk anestetik inhalasi, agar induksi
anesthesia segera dicapai. Tetapi obat-obat ini dapat diberikan dalam sediaan suppositoria
secara rectal tapi resorpsinya kurang teratur. Terutama digunakan untuk mendahului
(induksi) anesthesia local/ memeliharanya juga sebagai anesthesia pada pembedahan
singkat. (DRS Tan Hoan Tjay, DRS Kirana Rahardja, Obat-Obat penting, Edisi 5, 2007 )
dan ( Farmakologi dan terapi, Edisi 5, 2007 )

Tujuan pemberian ialah untuk induksi anesthesia, induksi dan pemeliharaan pada
tindak bedah singkat, menambah efek hypnosis pada anesthesia/ analgesia local, dan
menimbulkan sedasi pada tindak medic. Anesthesia intravena ideal yaitu

1. Cepat menghasilkan hypnosis

2. Mempunyai efek analgesia

3. Menimbulkan amnesia pascaanestesia

4. Dampak buruknya mudah dihilangkan oleh antagonisnya

5. Cepat dieliminasi oleh tubuh

6. Tidak/sedikit mendepresi fungsi respirasi

7. Pengaruh farmakokinetik tidak bergantung pada disfungsi organ.

( Farmakologi dan terapi, Edisi 5, 2007 )

Table ciri berbagai anestetik intravena :

Nama obat Induksi dan pemulihan Keterangan

Tipoental - Cepat dengan suntikan - Obat baku untuk induksi, depresi


bolus kardiovaskular, nekrosis pada
ekstravasasi, KI pada porfina.

Ketamin - Sedang saja - Merangsang kardiovaskular,


aliran darah ke otak meningkat,
- Indikasi terbaik untuk ada reaksi pemulihan KI pada
pasien dengan risiko pasien dengan iskemia otak dan
hipotensi/ bronkospasme operasi mata terbuka
(asma)

Etomidat - Induksi cepat dan - Kardiovaskular stabil, gerak otot


pemulihan sedang saja menekan pembentukan steroid
- Indikasi utama ialah - Tidak mempunyai efek
pasien dengan risiko analgesic, perlu ditambahkan
hipotensi opioid

Midazolam - Lambat tersedia - Untuk anesthesia berimbang dan


flumazenil sebagai antidotum sedasi, kardiovaskular stabil, amnesia
akut

Propofol - Cepat - Untuk induksi dan pemeliharaan


anesthesia, hipotensi, antiemetic
- Menimbulkan efek
samping hipotensi berat

Fentanil - Lambat antidotumnya - Untuk induksi dan pemeliharaan


nalokson anesthesia, analgesic kuat.
- Efek sampingnya
kekakuan otot

( Farmakologi dan terapi, Edisi 5, 2007 )

2. Anestetika Lokal

Anestetik local ialah obat yang pada penggunaan local merintangi secara
reversible penerusan impuls saraf ke SSP dan dengan semimkian menghilangkan/
mengurangi rasa nyeri, gatal, pana/dingin. Anestetik local yang ideal :

1. Tidak merangsang jaringan

2. Tidak mengakibatkan kerusakan permanen terhadap susunan saraf

3. Toksisitas sistemis rendah

4. Efektif dengan jalan injeksi/ penggunaan setempat pada selaput lender


5. Milai kerjanya sesingkat mungkin, tapi bertahan cukup lama

6. Dapat larut air dan menghasilkan larutan yang stabil, juga terhadap pemanasan
(sterilisasi).

( DRS Tan Hoan Tjay, DRS Kirana Rahardja, Obat-Obat penting, Edisi 5, 2007 )

Farmakokinetik

Biasanya obat anestetik local diberikan dengan suntikan ke daerah serabut saraf yang
hendak dihambat. Absorpsi sistemik suntikan obat anestesi local dari tempat penyuntikan
diperngaruhi oleh beberapa factor termasuk dosis, tempat penyuntikan, ikatan obat-
jaringan, ada tidaknya vasokontriksi, sifat fisiko-kimiawi dan farmakologi obat tersebut.
obat anestesi local amida terdistribusi luas setelah pemberian bolus intravena. Golongan
ester terhidrolisis sangat cepat dalam plasma oleh kolinesterase plasma. ( Farmakologi
dan terapi, Edisi 5, 2007 )

Farmakodinamik

Membran akson saraf yang dapat dirangsang seperti membrane otot jantung dan
badan sel neuron mempertahankan potensial transmembran.

Susunan saraf pusat, semua anestetik local merangsang SSP menyebabkan


kegelisahan dan termor yang mungkin berubah menjadi kejang klonik. Makin kuat suatu
anestetik makin mudah timbul kejang.

Sambungan saraf otot dan ganglion, anestetik local dapat memperngaruhi


sambungan saraf-otot, yaitu menyebabkan nberkurangnya respon otot atas rangsangan
saraf/suntikan ACh intraarteri, sedangkan perangsangan listrik langsung pada otot masih
menyebabkan kontraksi.

System kardiovaskular, menyebabkan penurunan eksitabilitas, kecepatan konduksi


dan kekuatan kontraksi, juga menyebabkan vasodilatasi arteriol.
Otot polos, in vitro maupun in vivo menyebabkan spasmolitik yang tidak
berhubungan dengan efek anestetik, mungkin disebabkan oleh depresi langsung pada otot
polos. ( Farmakologi dan terapi, Edisi 5, 2007 )

Kokain

Kokain atau benzoilmetilekgonin di dapat dari daun Erythroxylon coca dan


spesies Erythroxylon lain.merupakan ester asam benzoate dengan metilekgonin, suatu
amino alcohol yang bersifat basa. ( Farmakologi dan terapi, Edisi 5, 2007 )

Farmakodinamik

Efek kokain yang terpenting menghambat hantaran saraf, bila dikenakan secara
local dengan efek sistemik yang paling mencolok yaitu rangsangan SSP karena koakin
merupakan perangsang korteks yang sangat kuat. Lalu pada system kardiovaskular, otot
skelet, suhu badan, system saraf simpatis, dan efek anestetik local. ( Farmakologi dan
terapi, Edisi 5, 2007 )

Farmakokinetik

Vakokontriksi local menghambat absorpsi kokain, kecepatan absorpsi masih


melebihi kecepatan detoksikasi dan ekskresinya sehingga kokain sangat toksik. Kokain di
absorpsi di segala tempat. ( Farmakologi dan terapi, Edisi 5, 2007 )

2. Anestetik local sintetik

Prokain, sebagai anestetik local pernah digunakan sebagai anesthesia infiltrasi,


anesthesia blok saraf, anesthesia spinal, anesthesia epidural, dan anesthesia kaudal.
Potensinya rendah, mula kerja lambat serta masa kerja pendek.

Lidokain, anestetik local kuat yang digunakan secara luas dengan pemberian topical dan
suntikan. Anesthesia terjadi lebih cepat, lebih kuat, lebih lama, dan lebih ekstensif
daripada prokain.
Bupivakain, anestetik local dengan masa kerja panjang, dengan efek blockade sensorik
lebih besar daripada motorik. Digunakan untuk memperpanjang analgesia selama
persalinan dan masa pascapembedahan.

Tetrakain, mula kerja lambat, metabolism lambat sehingga potensi toksik, tapi
digunakan pada anesthesia spinal. ( Farmakologi dan terapi, Edisi 5, 2007 )

(Mary Mycek J, Farmakologi Ulasan Bergambar, 2001 )

Teknik pemberian anestetik local

1. Anestesia permukaan, larutan garam anestetik local tidak dapat menembus kulit
sehat.anestetik local yang tidak larut merupakan sediaan terpilih untuk menghilangkan
rasa nyeri pada luka, ulkus, dal luka bakar.
2. Anestesia infiltrasi, menimbulkan anesthesia ujung saraf melalui kontak langsung
denga obat, disuntikkan secara intradermal/ SK.
3. Anestesia blok, yang terdiri atas:
a. Anestesia spinal , merupakan anesthesia blok yang luas. Setelah penyuntikan
intraekal pengaruh pertama pada saraf simpatis dan parasimpatis, lalu saraf untuk
rasa dingin, panas, raba, dan tekanan dalam. Blockade terkhir yaitu serabut motoris,
rasa getar dan proprioseptif.
b. Anestesia epidural , merupakan anesthesia blok yang luas, yang diperoleh dari jalan
menyuntikkan zat anestetik local ke dalam ruang epidural. Bagian sensorik dapat
diperluas sampai setinggi dagu, dapat digunakan dosis tunggal/ diberikan secara
terus menerus.
c. Anestesia kaudal, bentuk epidural yang larutan anestetiknya disuntikkan ke dalam
kanalis sakralis melalui hiatus sakralis. Terdapat 2 bahaya utama pada teknik ini yatu
jarum masuk ke dalam pleksus vena yang terletak sepanjang kanalis sakralis yang
berakibat masuknya obat ke vena dan jarum menembus duramater disertai dengan
anesthesia spinal yang luas. ( Farmakologi dan terapi, Edisi 5, 2007 )
12.Penggolongan Obat Narkotik dan Psikotropik

Istilah obat merupakan sesuatu yang di gunakan untuk menyembuhkan penyakit,


namun obat itu sendiri adalah zat atau bahan yang berbahaya bilamana penggunaanya
tidak tepat.

Narkotika termasuk jenis obat yang di gunakan dalam dunia kedokteran yaitu
Untuk mengurangi atau menghilangkan rasa sakit. Penyalah guanaan obat termasuk
narkotika dengan alasan dan dosis yang tidak tepat, biasanya hal itu dipakai sebagai
“pelarian” akibatnya terjadi ketergantungan (candu).

Begitu juga rokok , bilamana di konsumsi dalam jangka panjang dapat


mengakibatkan ganguan atau penyakit pada saluran pernapasan, (terganggunya peredaran
darah, kanker, serangan jantung, ipotensi dan gangguan kehamilan dan janin.

Dengan demikian hal-hal diatas tidak hanya menyebabkan kantong kering tapi
juga memberikan dampak negative bagi si pengguna. Penyalahgunaan obat termasuk
jenis narkotika, rokok dan alcohol merupakan sesuatu yang sangat berbahaya bagi
kesehatan dan perilaku pemakainya khususnya pelajar.

Penyalahgunaan obat

Penyebab penyalahgunaan obat pada remaja dari segi kejiwaan oleh karena beberapa hal :

1. Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke masa dewasa yang sering
menimbulkan rasa tertekan(depresi), dan kebingungan dan rasa sedih apabila si
remaja tidak bisa menyelesaikan masalahnya.Keadaan tersebut bisa mempengaruhi
remaja untuk menyalah gunaan obat.
2. Karena bergaul dengan teman-teman sebaya, remaja ingin di terima dalam
kelompok, karna remaja tersebut ingin di terima maka si remaja melakukan
penyalah gunaan obat.
3. Rasa ingin memberontak dari perlakuan keras orang tua, itu juga dapat menjadi
alasan si remaja menyalah gunaan obat, menjadi pelarian mereka.
4. Timbulnya rasa ingin mencoba-coba sesuatu yang baru, yang sebelumnya belum
pernah di lakukan si remaja.
5. Ada juga sebagian orang yang mengatakan penyalahgunaan obat merupakan hal
yang wajar dan merupakan simbol kedewasaan.

Obat berbahaya :
Obat berbahaya di bagi menjadi tiga golongan :

1. Depresansia : bahan atau obat yang menekan aktifitas system saraf pusat, yang
menyebabkan pemakainya mengantuk, pemalas dan kehilangan gairah. Dalam
golongan ini termasuk obat penenang, obat tidur, DZP, CPZ, Valium
2. Stimulansia : bahan atau obat yang berfungsi merangsang aktifitas syaraf pusat
sehingga rasa ngantuk berkurang, rasa lapar dan gembira yang berlebihan,
contoh : Amfetamin, Kafein, Nikotin, Alkohol.
3. Halusinogen : bahan atau obat yang menimbulkan perubahan kesadaran, perasaan,
pikiran dan emosi pada pemakainya sehingga tak mampu membedakan kenyataan
dan angan-angan, contoh : LSM

Pengaruh penyalah guanaan obat pada kesehatan

Obat atau zat-zat bila di salah gunakan akan menimbulkan dampak yang
negative bagi tubuh dan menggangu fungsi dan organ tubuh (hati, ginjal, jantung,
pembulu darah, paru, dan otak saraf.) selanjutnya meng akibatkan kelainan yang
serius.
Di samping itu juga akan mengalami masalah mental dan kejiwaan (gelisah
ringan hingga gangguan jiwa yang berat) social (kekerasan, termasuk perampokan
dan pemerkosaan).

NARKOTIKA

Zat/ obat yang berasal dari tanaman atau sintetis maupun semi sintetis yang dapat
menurunkan kesadaran, hilangnya rasa , mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri
dan dapat menimbulkan ketergantungan.

Mekanisme kerja Narkoba:

 Otak adalah organ yang dpt memberikan informasi ttg siapa diri kita, apa yg sdg kita
kerjakan dan apa yg telah kita lakukan
 SSP juga mengendalikan beberapa fungsi penting pada organ tubuh yg mengatur
detak jantung, tekanan darah, pernafasan.
 Fungsi ini akan terpengaruh jika seseorang m’gunakan narkoba dgn kata lain organ
lain ikut berubah fungsinya.

Sejarah awal mula narkotik di pergunakan:

 Hypocrates , dan jaman romawi telah menggunakan opium sbg obat tidur
 Diduga abad ke 15 telah digunakan oleh suku Indian dalam upacara ritual
 Abad ke 17 : ganja diperkenalkan oleh Belanda
 Thn 1860 ganja ditanam di Jawa dan Sumatra
 Thn 1909 Amerika melarang penggunaan opium/candu
 Thn 1960 heroin , morphine, barbiturat, amphetamine, cocain telah ditemui di Jakarta
 Thn 1970 ditemui morphine yang di suntikan, mulai adanya pengobatan terhadap
pengguna
 Thn 1990 mulai golongan amphetamine muncul secara besar-besaran mis : ekstasi

Pengelompokan narkoba menurut Undang-undang RI no 22 thn 1997 tentang


narkotika

 Gol Opioda seperti opium : Morphin, heroin, putaw dll.

 Gol Koka seperti daun koka : kokain

 Gol Kanabis: daun ganja , Hashish

(Semua yang diatas dimasukan Narkotika yang ILEGAL)

PSIKOTROPIK

Zat/obat alamiah atau sintetis bukan narkotika yang berkhasiat psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada susunan syaraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada
aktifitas mental dan perilaku.

Pengelompokan narkoba menurut Undang-undang RI no 5 thn 1997 tentang


psikotropika

 LSD, MDMA, ecstasy

 Amphetamin

 Barbiturat : luminal
 Benzodiazepin : diazepam

(Semua yang diatas dimasukan Psikotropika yang ILEGAL)

Golongan Psikotropik:

 Psikotropika golongan I
Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan
tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat mengakibatkan
sindroma Ketergantungan. (Contoh : ekstasi, shabu)

 Psikotropika golongan II
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi, dan atau
tujuan ilmu pengetahuan serta menpunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma
ketergantungan . ( Contoh amfetamin, metilfenidat atau ritalin)

 Psikotropika golongan III

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan
atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang
mengakibatkan sindroma Ketergantungan (Contoh :Amobarbital,
Flunitrazepam).

 Psikotropika golongan IV

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan Dan sangat luas digunakan dalam terapi dan
atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan
Mengakibatkan sindrom ketergantungan (Contoh : diazepam, bromazepam,
Fenobarbital, Klonazepam,klordiazepoxide, nitrazepam.

PENGGOLONGAN NARKOTIKA, PSIKOTROPIKA & BAHAN ADIKTIF LAINNYA


SESUAI UU NO. 22 TH 1997 & NO.5 TH 1997

CONTOH
NO JENIS
GOL I GOL II GOL III GOL IV

1. Narkotika  Papaver, opium  Petidin  Kodein

 Kokain/Crack  Morfin  Difenoksilat

 Ganja/Marihuna  Fentanil  Dll.

 Heroin/Putaw  Metadon

 Cannabis

(hanya unt IP, tdk digun pngobtan)

2. Psikotropika  MDMA/Ecstasy  Sekobarbital  Amobarbital Allo barbital

 Lisergida/LSD  Metamfetamin/  Pentazosine  Diazepam


Shabu
(tdk digunakan utk pengobatan)  Dll  Halozepam
(tdk digun unt pengobatan)
 Lorazepam

 Triazolam
 Dietil propion

 Klordiazepoksid
a

3. Bahan Adiktif Lainnya - Alkohol - Zat perekat, lem,


bensin.
(dipakai ssuai - Rokok, kopi, teh
kebutuhan )
- Obat-obatan

Zat Adiktif

Bahan lain bukan narkotika atau psikotropika yang pengunaannya dapat menimbulkan
ketergantungan baik psikologis atau fisik. Misalnya: Alkohol , rokok, cofein.

1. Rokok

Pengaruh rokok adalah bagian dari penggunaan tembakau yang tujuannya tidak
lain untuk mencari kenikmataan, merokok di bagi menurut penggunaannya yaitu dengan
cara menghisap asap dari pembakaran tembakau, biasanya di tambah dengan bahan-
bahan campuran lain.

Kandungan asap rokok :

Zat atau senya yang terdapat di dalam asap rokok lebih dari 4000 macam, sebagian
bersifat racun, bersifat karsinogenik (penyebab timbulnya kangker).

Asap rokok terdiri 95% berbentuk gas dan 5% berbentuk partikel (terdiri dari nikotin
hindrokarbon, fenol, katekol, hidrobenzen).

Kategori rokok di golongkan menurut jumlah kandungan tar dan nikotin dalam satu
batang rokok, umumnya kandungan dalam rokok keretek 41-71 mg.

Kandungan nikotin 1-5 mg. pada rokok putih kandungan tar 16-23 mg 1-1,5 mg. pada hal
anjuran pemerintah kandungan tar tidak legih dari 15 mg, dan nikotin kurang dari 1 mg.
Penyakit-penyakit yang ditimbulkan antara lain :

 Penyakit saluran pernapasan.


 Penyakit kardiovaskuler.
Cara mencegah dan menghentikan rokok

1. Diperbanyak peringatan-peringatan di larang merokok pada tempat-tempat umum.


2. Bagi yang tidak merokok di anjurkan untuk tidak memulai merokok.
3. Diharapkan pada orang tua atau guru untuk tidak merokok di depan remaja.
4. Bagi remaja perokok cobalah mengalihkan kebiasaannya dengan cara lain, misalnya
dengan kembang gula atau permen karet.
Alkohol

Alkohol mengandung zat ethanol yang bervariasi kandunganya, alkohol termasuk


golongan cat stimulasia yang dapat merangsang aktifitas syaraf pusat. Alkohol dapat juga
di pakai sebagai zat pemati kuman ( desinfektan ) pada bidang kedokteran. Zat tersebut
juga dapat menimbulkan ketergantungan, biasanya terjadi bila pengguna memakai secara
rutin dan lama.

Keadaan yang dapat timbul pada pemakai alkohol :

a. Keracunan alkohol : bila di pakai dalam jumlah banyak, maka akan terjadi
penyimpangan prilaku ( tidak bisa mengendalikan diri ) sperti agresif, mengoceh
tidak karu-karuan.
b. Sedangkan pada fisik, wajah merah, jalan sempoyongan, setengah sadar.
c. Ketagihan atau penasaran “merasa ada yang kurang” karena tidak ada alcohol

Pengaruh alkohol pada kesehatan,antara lain :

1. Terhadap jantung dan system peredaran darah :


Mengakibatkan kelainan pada jantung, kelainan darah dan sumsum tulang sebagai
pembentuk darah.
2. Terhadap hati :
Merusak sel hati, mengakibatkan kegagalan fungsi hati.
3. Sistem pernapasan :
Menyebabkan radang system pernapasan.
4. Penyakit infeksi :
Kerusakan fungsi-fungsi dan organ tubuh, serta kekurangan makan
mengakibatkan tahan tubuh menurun dan mudah terinfeksi.
5. Susunan syaraf :
Terjadinya kemunduran fungsi otak atau syaraf, mengakibatkan gangguan
kecerdasan, dan ganguan gerak.

Cara menghentikan kebiasaan minum alkohol :

a. Hindarilah kelompok kawan-kawan yang kebiasaanya meminum alkohol.


b. Cobalah mengalihkan kebiasaan minum alkohol dengan cara mengalihkan pada
hal-hal yang positif. Contoh : Olah Raga.
13.Penggolongan Obat Antihistaminika

Histamin
Histamin dan serotonin (5-hydroxytryptamine) : amin biologik yang terdapat dalam
berbagai macam jaringan yang penting dalam fungsi fisiologik.
Efek histamin timbul melalui aktivasi reseptor histaminergik H1, H2 dan H3.
 Reseptor-H1 : sel otot polos, endotel dan otak.
 Reseptor-H2 : mukosa lambung (pada sel parietal),otot jantung, sel mast, dan otak.
 Reseptor-H3 : presinaptik (di otak, pleksus mienterikus dan saraf lainnya).

Antihistaminika
Obat yang mempunyai efek melawan efek histamin dengan cara memblok reseptor H1.
Efek histamin endogen dapat dihambat melalui 3 cara:
1. Penghambatan secara fisiologis, misal oleh adrenalin
2. Penghambatan pelepasan/degranulasi histamin yg timbulà dapat terjadi pada
pemberian kromolin & stimulan adrenoseptor β2
3. Blokade reseptor histamin H1 dengan obat antihistamin.

Gejala :
1. Antagonis reseptor H1
Umumnya disebut obat antihistamin / antihistaminika ialah antagonis H1 yg beraksi
melalui blokade reseptor histamin H1, sedangkan efeknya pada reseptor-H2 dan H3 dapat
diabaikan.
Obat: loratadin, terfenadin dan astemizol, efek mengantuk sangat lemah

Efek obat antihistamin dapat bermanifestasi :


• Sedasi
• Efek antimual & antimuntah.
Doksilamin, mempunyai efek mencegah mabuk gerak (motion sickness) tetapi tidak
menghilangkan mabuk yang sudah ada.
• Efek antiparkinsonisme dan antimuskarinik
Obat antihistamin golongan etanolamin dan etilendiamin yang punya efek
antimuskarinik, sering menimbulkan retensio urine & penglihatan kabur, dapat untuk
mengurangi rhinorrhoea .

OBAT-OBAT ANTIHISTAMIN H1
a. Generasi Pertama
Obat-obat ini berkhasiat sedatif terhadap SSP dan kebanyakan memiliki efek
antikolinergik.
Contoh Obat Antihistamin:
(Klorfeniramin Maleat)
• Kelompok: antihistamin – sedatif
• Indikasi : urtikaria, rinitis alergi, gigitan serangga, alergi obat, anafilaksis, alergi
makanan, alergi serum.
• Dosis: oral: 4 mg setiap 4-6 jam maksimal 24 mg per hari.
• SC atau IM 10-20 mg maksimal 40mg dlm 24 jam. Injeksi IV dalam 1 menit: 10-20 mg.
• Kontraindikasi: epilepsi, penyakit hati, asma karena memiliki sedikit efek pada
bronkospasme alergi, hipersensitivitas.
• Efek samping: mengantuk, tidak bertenaga, pusing, mulut kering, penglihatan kabur,
sakit kepala, gangguan gastrointestinal, IV dapat menyebabkan hipotensi sementara,
stimulasi SSP, retensi urine, palpitasi, sesak, anemia hemolitik.

Efek Farmakodinamik:

Antagonis antihistamin H1 kuat yang melawan efek yang diinduksi histamin, seperti
peningkatan permeabilitas kapiler dan konstriksi otot polos GI serta otot polos pernapasan.
Efek anestetis lokal yang dapat menyebabkan depresi atau stimulasi SSP.

Resiko Pada Janin:

Tidak terbukti teratogen-pabriknya menganjurkan menghindari penggunaan obat ini, jika


digunakan pada trimester ketiga dapat menyebabkan reaksi pada neonatus.

Resiko Pada Ibu menyusui:

Tingkat keamanan sedang, dianjurkan untuk tidak digunakan, bayi dapat mengantuk dan
menghambat laktasi.

b. Generasi Kedua:

Zat-zat ini bersifat hidrofil dan sukar mencapai CCS (cairan cerebrospinal), maka pada
dosis terapeutis tidak bekerja sedatif.
Contoh obatnya: Astemizol, Tervenadine, Setirizin, Loratadine, Levokabastin, emedastin

2. Antagonis reseptor H2

(Penghambat Asam Lambung)

Obat-obat ini menghambat secara selektif sekresi asam lambung yang meningkat akibat
histamin, dengan jalan persaingan terhadap reseptor H2 di lambung.

Efeknya adalah berkurangnya hipersekresi asam klorida, juga mengurangi Vasodilatasi dan
tekanan darah menurun.

Senyawa ini digunakan pada terapi tukak lambung-usus guna mengurangi Sekresi HCl dan
Pepsin, juga sebagai zat pelindung tambahan pada terapi kortikosteroida.

Contoh obat Penghambat Asam dewasa ini yang sering digunakan antara lain:

 Simetidine
 Ranitidine
 Famotodine
 Nizatidine
 Roksatidine

Cara pemberian Antihistamin:

1. Biasanya diberikan secara Oral, tetapi ada juga yang diinjeksikan terutama untuk
pengobatan syok anafilaksis.
2. Antihistamin juga digunakan dalam pengobatan mual dan muntah (cimetidin)
14.Penggolongan Vitamin dan Mineral
Vitamin dan mineral mempunyai fungsi utama yang sangat penting dalam reaksi
metabolisme. Beberapa vitamin berfungsi langsung dalam metabolisme penghasilan
energy.
Jalur metabolisme yang menghasilkan energi untuk mendukung kerja sel à
glikolisis, siklus kreb, transport elektron, dan β oksidasi
Berdasarkan hidrofobisitasnya, vitamin dibagi menjadi 2 :
 Vitamin yang larut dalam lemak : A, D, E, K
 Vitamin yang larut dalam air : B kompleks, C

Vitamin A

Vitamin A terdiri dari 3 biomolekul aktif :

o retinol,
o retinal (retinaldehyde)
o retinoic acid.

 Ketiga biomolekul tersebut berasal dari β carotene à provitamin A

 Terdapat pd tanaman berwarna hijau tua, oranye dan merah

 Transport di dalam tubuh = chylomikron


 Defisiensi = rabun senja

 Vit A di simpan dalam sel stealate pada hati dalam bentuk retinyl ester (retinol
diesterifikasi dengan suatu molekul asam lemak)

 Pada saat dimobilisasi dlm tubuh à diubah mjd retinol dan dilepas ke peredaran darah dgn
berikatan dg protein RBP.

 RBP hanya akan dilepas ke dlm darah apabila mengandung retinol.

 Berbagai macam sel mempunyai reseptor RBP yang terikat pada membran.

Vitamin D

ergocalciferol

colecalciferol

 Tumbuhan à steroid ergosterol (provit D), disinari uv à mjd ergokalsiferol (vit D2)
 Hewan à mengubah kolesterol à 7 dehidrokolesterol (pro vit D), disinari mthr à mjd
kolekalsiferol (vit D3)
 Pengubahan dari provit D mjd vit D melibatkan sinar uv yang berguna membuka cincin
steroid strukturnya.
 Perbedaan vit D2 dan D3 à vit D2 mempunyai iktn ganda pd rantai sampingnya (?)
 Vit D3à1,25dihidroksivit D3 dg 2 step hidroksilasi
Vitamin E

 Penting sebagai antioksidan = menangkap radikal bebas


 Zat pembangun sebagai kesuburan untuk fertilasi

Vitamin K

Vit K1 = sayur2 an hijau à filokuinon

Vit K2 = bakteri usus halus à menakuinon

Penting untuk sintesis protein yang terlibat dalam pembekuan darah

Vitamin B Kompleks
Thiamin (Vitamin B1)

 Di dalam otak dan hati à segera diubah menjadi TPP = thiamin pyrohosphat oleh enzim
thiamin difosfotransferase, reaksi membutuhkan ATP

 Berperan penting sebagai koensim àdekarboksilasi senyawa asam-keto

 Beberapa enzim yang menggunakan TPP sbg koensim:


 pyruvate decarboxylase, pyruvate dehydrogenase, transketolase.

Riboflavin (vitamin B2)

 Komponen dr koensim flavin à FMN dan FAD

 Ensim yang bekerja pada reaksi reduksi – oksidasi (redoks)

 Memiliki fungsi sentral dlm produksi energi dan pernapasan seluler.

Niasin (vitamin B3)

 Niasin dibutuhkan untuk sintesis vitamin B3, NAD (nicotinamida adenin dinucleotida),
dan NADP+ (nicotinamide adenine dinucleotide phosphate)

 NAD dan NADP = kofaktor pada enzim dehidrogenase, yang berfungsi dalam reaksi
redoks à donor dan akseptor elektron

 NAD à

 byk digunakan pd glycolisis, oksidasi asam lemak, metabolisme badan keton

 Cenderung berperan sbg akseptor elektron pd reaksi katabolisme

 NADP à sintesa asam lemak dan PPP

 Contoh laktat atau malat dehidrogenase

 Niasin juga dapat disintesis dari triptofan. Akan tetapi à tidak efisien. Karena
membutuhkan 60 mg triptofan untuk menghasilkan 1 mg triptofan

 Dan juga memerlukan vitamin B1, B2 dan B6

 Kebutuhan niasin 19 mg /day

Asam pantotenat (vitamin B5)

 Sekitar 70 ensim = membutuhkan Co A atau derivat ACP untuk melakukan fungsinya


 Banyak ditemukan di kacang-kacangan, daging dan biji-bijian
 Co A diperlukan pada siklus kreb, sintesis dan oksidasi asam lemak, metabolisme asam
amino, sintesis kolesterol

Biotin
 Terdapat diberbagai makanan, dan disintesis oleh bakteri usus halus kita

 Defisiensi jarang terjadi

 Defisiensi ditemukan pada treatmen antibiotik dalam waktu yang lama à karena
mengurangi bakteri usus halus

 karena konsumsi telur mentah dalam jumlah banyak à di dlm putih telur : avidin

 protein putih telur à mencegah absorbsi biotin oleh usus halus

Kobalamin
 Lebih sering dikenal sebagai vitamin B12

 Struktur terdiri dari cincin tetrapirol membentuk komplek dan ditengahnya terdapat
Cobalt

 Disintesis secara eksklusif oleh mikroorganisme dan ditemukan dalam hati hewan dalam
bentuk : terikat protein à methycobalamin or 5'-deoxyadenosylcobalamin.

 Untuk menjadi aktif à harus dihidrolisis terlebih dahulu di dalam perut oleh asam
lambung atau oleh trypsin setelah konsumsi daging hewan. à diikat oleh intrinsik faktor à
dibawa ke usus halus à diserap

 Setelah diserap = dibawa ke hati à transcobalamin II

 Terdapat pada daging, susu, dan ikan, tidak pada produk tumbuhan atau yeast

Asam Folat

 Asam pteroat berkonjugasi dengan glutamat à asam folat


 Banyak terdapat di khamir, daun sayur2an dan hati hewan, kuning telur dan jus jeruk
 Hewan tidak dapat mensintesis PABA dan glutamat à harus diperoleh dari makanan
 Asam folat à kofaktor THF – tetrahidrofolate
 THF penting dalam reaksi transfer / membawa 1 atom C baik dalam bentuk metil,
methilene, formimino, formil , methenil
 Penting dalam sintesis serin, metionin, glisin, purin.
 Dibutuhkan pada ibu hamil à peningkatan proliferasi sel di dlm darah à pada tri semester
pertama

Asam Ascorbat

Lebih dikenal sbg = vitamin C Berasal dari glukosa dr siklus asam uronat

 Glukosa à asam askorbat : dikatalis oleh ensim L gulonolakton oksidase

 Ensim ini tdk ada pada primata à vitamin C diperoleh dari makanan

 Berfungsi sbg = agen pereduksi berbagai reaksi

 Vitamin C dikeluarkan dr tubuh mll urine dlm bentuk dydroaskorbat, ketogulonate,


askorbat 2 sulfate, asam oksalat

Mineral
 Pandangan Nutrisi : bahan inorganik yang dibutuhkan untuk proses kehidupan baik dalam
bentuk ion atau elemen bebas.
 Diperoleh dari makanan (tubuh tidak dpt memproduksi
 Berdasar jumlah yang dibutuhkan tubuh: dibagi 2 mikroelemen dan makro elemen

 Makro : sodium, potasium, klorida, magnesium, fosfor dan kalsium


 Mikro : besi, tembaga, zinc, yod, dan fluoride

Fungsinya:

 Sebagai katalist berbagai reaksi biokimawi dlm tubuh

 Transmisi sinyal / pesan pd sel saraf

 Produksi hormon

 Pencernaan dan penggunaan makanan

 Bagian dari organ vital spt tulang, darah, gigi

Magnesium (Mg)

• lebih banyak ditemukan di intraseluler sel daripada di serum darah.

• Mineral penting, selain Ca dan fosfor

• Di intraseluler sel à sering ditemukan berikatan dengan ATP = berperan sebagai kofaktor

• ATP yang berikatan dengan Mg = merupakan substrat yang lebih efektif bagi ensim –
ensim yang membutuhkan ATP.

• Mg penting bagi manusia krn berperan dlm reaksi penghasilan energi

• Pompa Na/K yg mengatur konsentrasi elektrolit dlm sel = dikontrol oleh ATP à
keseimbangan elektrolit di dalam sel tergantung pada Mg

• Food processing = menghilangkan Mg dalam makanan

Kalsium (Ca)

 Merupakan mineral yang sulit diperoleh dari makanan kita sehari-hari


 Berfungsi :
 Kontraksi otot

 Secondary messenger

 Pembentukan tulang dan otot

 Koagulasi darah

 Pemecahan glikogen dan aktivator siklus kreb

 Untuk melakukan kontraksi à otot membutuhkan ATP (dlm myofibril)


 Tapi yang menstimulasi terjadinya kontraksi = Ca

Potassium (K)

 Merupakan mineral esensial dan byk dikenal sbg elektrolit


 Fungsi tubuh à normal = tergantung konsentrasi K di dlm dan luar sel
 Berfungsi sebagai

 Menjaga potensial membran sel

 Kofaktor ensim

Zat Besi (Fe)

 Fungsi utama : bergabung dgn protein dan tembaga = membentuk hemoglobin (transport
O2 dr paru2 ke jaringan yg membutuhkan)

 Penting pula untuk pembentukan myoglobulin (pengangkut O2 di dlm otot)

 Penting untuk penderita thyroidism

 Keseimbangan antara Fe, Zn & Cu à penting untuk menjaga dan mencegah thyroidism
Zinc (Zn)

 Element essensial dalam makanan baik (tumbuhan, hewan dan manusia)

 Dibutuhkan untuk pembentukan substansi genetik dlm sel dan untuk reproduksi biologis

 Diperlukan dlm sintesis DNA dan RNA

 Merupakan bagian dari ± 200 metaloensim

 Kekurangan Zn : tidak spesifik krn banyaknya ensim yg membutuhkan Zn

DAFTAR PUSTAKA:
Obat-obat penting Drs. Tjay Hoan Tan dan Drs. Rahardja Kirana Direktur Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Indonesia Republik 2002

Farmakologi dan Terapeutik edisi 5 Fakultas Kedokteran – Universitas Indonesia 2007

Mutschler Ernst Farmakologi dan Toksikologi Dinamika Obat edisi kelima ITB Bandung
1991

Farmakope Indonesia Edisi keempat Departemen Kesehatan Indonesia Republik Indonesia


tahun 1995

Anief, Moh. Drs, Apt. Ilmu Farmasi. 1984. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Ansel, C. Howard. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. UI Press

Formularium Nasional, edisi 2 Departemen Kesehatan Indonesia Republik Indonesia tahun


1978
Bertram G Katzung MD, PhD, 1986, EGC
Mary Mycek J, Farmakologi Ulasan Bergambar, 2001

Anda mungkin juga menyukai