Anda di halaman 1dari 56

Modul Kuliah Farmasi RS [APT.WEMPI EKA RUSMANA, S.FARM., M.

M]

MODUL 1
PELAYANAN INFORMASI OBAT DAN KOMUNIKASI INFORMASI EDUKASI
PERTEMUAN 1- PENGERTIAN PIO dan KIE

I. PENDAHULUAN

Pelayanan informasi obat didefinisikan sebagai kegiatan penyediaan dan


pemberian informasi, rekomendasi obat yang independen, akurat, komprehensif, terkini
oleh apoteker kepada pasien, masyarakat maupun pihak yang memerlukan di rumah
sakit. Pelayanan informasi obat meliputi penyediaan, pengolahan, penyajian, dan
pengawasan mutu data atau informasi obat dan keputusan profesional. Pelayanan
informasi obat harus benar, jelas, mudah dimengerti, akurat, tidak bias, etis,
bijaksana, dan terkini sangat diperlukan dalam upaya penggunaan obat yang rasional
oleh pasien
Pelayanan informasi obat merupakan suatu kegiatan untuk memberi pelayanan
informasi obat yang akurat dan objektif dalam hubungannya dengan perawatan pasien,
pelayanan informasi obat sangat penting dalam upaya menunjang budaya pengelolaan
dan penggunaan obat secara rasinal (Julianti dkk, 1996). Sedangkan menurut
Standar Pelayanan Farmasi Rumah Sakit pelayanan informasi obat didefinisikan sebagai
kegiatan penyediaan dan pemberian informasi, rekomendasi obat yang independen,
akurat, komprehensif, terkini oleh apoteker kepada pasien, masyarakat maupun pihak
yang memerlukan di rumah sakit. Pelayanan informasi obat dapat berupa penyediaan,
pengelolaan, penyajian dan pengawasan informasi obat dan keputusan professional.
Informasi yang dibutuhkan pasien yaitu:

1. Nama obat (merk dagang) dan kegunaannya


2. Cara penggunaan obat tersebut (obat luar atau obat dalam) beserta aturan
pemakaian meliputi dosis dan jadwal penggunaan obat.
3. Petunjuk khusus tentang cara penyediaan obat
4. Hal-hal yang mungkin timbul selam penggunaan obat
5. Pantangan – pantangan selama penggunaan obat
6. Cara penyimpanan obat yang benar
1
Modul Kuliah Farmasi RS [APT.WEMPI EKA RUSMANA, S.FARM., M.M]

7. Tindakan yang harus segera diambil jika terjadi kesalahan dosis


8. Apa yang harus dilakukan bila persediaan obat masih banyak namun sudah
dirasakn sembuh.
Sasaran informasi obat :

1. Pasien dan atau keluarga pasien.


2. Tenaga kesehatan : dokter, dokter gigi, apoteker, perawat, bidan, asisten apoteker,
dan lain-lain.
3. Pihak lain : manajemen, tim/kepanitiaan klinik, dan lain- lain

Kebutuhan informasi bagi pasien, mereka (pasien) tidak tahu obat yang mereka
minum, kecuali bila dokter menjelaskan kepada mereka. Apoteker hanya menyerahkan
obatnya dalam wadah yang hanya tertulis nama pasien dan aturan pakainya. Informasi
yang lebih baik pada pasien akan menggugah minat menaikkan kehendak pasien untuk
berpartisipasi aktif dalam cara pengobatan yang dapat dinilai sebagai mempercepat
kesembuhan (Anief, 1997).
Informasi obat merupakan bagian dari suatu kegiatan konsultasi dimana
pasien dapat memperoleh informasi mengenai proses pengobatannya. Brosur, etiket
dari produsen obat merupakan suatu komunikasi verbal yang sangat bermanfaat
(Graham, 1995). Seringkali komunikasi menemui hambatan, sehingga akan
mempengaruhi keberhasilan suatu pengobatan. Kemungkinan
penyebabnya antara lain kesenjangan antara pemberi dan penerima informasi, baik
dalam penggunaan bahasa, cara penuturan ataupun cara pendekatan dan informasi
yang diberikan tidak diartikan secara benar atau tidak mengerti. Faktor yang dirasakan
cukup menghambat komunikasi adalah kondisi masyarakat yang percaya berlebihan
dalam mengkonsumsi obat dan mudah dipengaruhi oleh promosi obat. Penyediaan
informasi yang benar, obyektif dan lengkap akan mempengaruhi masalah
ketidakrasionalan penggunaan obat (Mulyono, 2002).
Kegiatan PIO berupa penyediaan dan pemberian informasi obat yang bersifat
aktif atau pasif. Pelayanan bersifat aktif apabila apoteker pelayanan informasi obat
memberikan informasi obat dengan tidak menunggu pertanyaan melainkan secara
aktif memberikan informasi obat, misalnya penerbitan bulletin, leaflet, brosur, seminar
2
Modul Kuliah Farmasi RS [APT.WEMPI EKA RUSMANA, S.FARM., M.M]

dan sebagainya. Pelayanan bersifat pasif apabila apoteker pelayanan informasi obat
memberikan informasi obat sebagai jawaban atas pertanyaan yang diterima.
Menjawab pertanyaan mengenai obat dan penggunaannya merupakan kegiatan
rutin suatu pelayanan informasi obat. Pertanyaan yang masuk dapat disampaikan secara
verbal (melalui telepon, tatap muka) atau tertulis (surat melalui pos, faksimili atau
e-mail). Pertanyaan mengenai obat dapat bervariasi dari yang sederhana sampai yang
bersifat urgen dan kompleks yang membutuhkan penelusuran literatur serta evaluasi
secara seksama (Anonim, 2004).
Faktor-faktor komunikasi yang meliputi bahasa, pendengaran atau tingkat
intelektual merupakan faktor yang dapat menghambat efektivitas komunikasi. Informasi
yang perlu disampaikan adalah sebagai berikut :
1. Status Obat
2. Khasiat keamanan obat
3. Efek samping obat
4. Alasan mengapa obat tidak dapat dipergunakan untuk semua penyakit
(Graham, 1995)
Untuk mengukur tingkat keberhasilan penerapan pelayanan informasi obat,
indikator yang dapat digunakan antara lain :
1. Meningkatkan jumlah pertanyaan yang diajukan.
2. Menurunnya jumlah pertanyaan yang tidak dapat dijawab.
3. Meningkatnya kualitas kinerja pelayanan.
4. Meningkatnya jumlah produk yang dihasilkan (leflet, buletin, ceramah).
5. Meningkatnya pertanyaan berdasarkan jenis pertanyaan dan tingkat kesulitan.
6. Menurunnya keluhan atas pelayanan Informasi Obat

Latihan

Untuk memperdalam pengertian Anda mengenai materi di atas , kerjakan latihan


berikut :
Simulasikan Pelayanan Informasi Obat dengan rekan yang berperas sebagai pasien maupun

3
Modul Kuliah Farmasi RS [APT.WEMPI EKA RUSMANA, S.FARM., M.M]

tenaga teknis kefarmasian ?

II. PENDAHULUAN KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI

 Manusia adalah makhluk sosial.


 Manusia hanya dapat hidup berkembang dan berperan sebagai manusia
dengan berhubungan dan bekerja sama dengan manusia lain.
 Salah satu cara terpenting untuk berhubungan dan bekerja sama dengan
manusia adalah komunikasi.
 Komunikasi merupakan salah satu aspek terpenting dan kompleks bagi
kehidupan manusia.
 Manusia sangat dipengaruhi oleh komunikasi yang dilakukannya dengan manusia
lain, baik yang sudah dikenal maupun yang tidak dikenal sama sekali.
 Komunikasi memiliki peran yang sangat vital bagi kehidupan manusia, karena itu
kita harus memberikan perhatian yang seksama terhadap komunikasi
 Jika anda ditanya, apakah komunikasi itu?
 Apa yang terjadi jika sejumlah orang bertemu dan berinteraksi?
 Ketika anda mencoba menjawab kedua pertanyaan itu, maka sebenarnya anda
tengah menyusun sebuah komunikasi.
 Kedua pertanyaan itu tampak mudah, bahkan orang awam yang bukan ahli pun
dapat memberikan jawaban menurut sudut pandangnya.

Dalam Modul ini Anda akan diperkenalkan dengan konsep-konsep yang terdapat dalam
teori komunikasi yang meliputi komunikasi verbal dan nonverbal seperti perbedaan dan
fungsi kedua jenis komunikasi tersebut. Elemen-elemen dalam komunikasi verbal yang
dibahas adalah kata dan bahasa; sedangkan untuk komunikasi nonverbal, dalam Topik ini
Anda akan diperkenalkan dengan karakteristik komunikasi nonverbal yang cenderung
mengalir terus.
Diperlukan ketelitian dalam melakukan kegiatan kefarmasian, dengan teliti dan terus

menerus melatih diri serta belajar ketrampilan bidang profesi di harapkan perilaku nya

4
Modul Kuliah Farmasi RS [APT.WEMPI EKA RUSMANA, S.FARM., M.M]

sesuai dengan etika profesinya di masyarakat. Pengertian Profesi adalah suatu jabatan atau
juga pekerjaan yang menuntut keahlian atau suatu keterampilan dari pelakunya. Biasanya
sebutan dari “profesi” selalu dapat dikaitkan dengan pekerjaan atau juga jabatan yang
dipegang oleh seseorang, namun tidak semua pekerjaan atau suatu jabatan dapat disebut
dengan profesi. Karena profesi menuntut keahlian dari para pemangkunya. Hal tersebut
mengandung arti bahwa suatu pekerjaan atau suatu jabatan yang disebut dengan profesi
tidak bisa dipegang oleh sembarang orang, namun tetapi memerlukan suatu persiapan
dengan melalui pendidikan serta pelatihan yang dikembangkan khusus untuk itu. Pekerjaan
tersebut tidak sama dengan profesi.
Setelah mempelajari bab ini Anda diharapkan mampu:
1. menjelaskan apa yang dimaksud dengan komunikasi verbal, komunikasi nonverbal,
perbedaan
2. membedakan karakteristik komunikasi verbal dan nonverbal
3. menjelaskan fungsi komunikasi verbal dan nonverbal
4. pengertian profesi, dan pengertian etika , pengertian etika profesi , serta apa itu etika
profesi tenaga teknis kefarmasian (TTK) , menjelaskan kode etik dari tenaga teknis
kefarmasian

Pengetahuan mengenai komunikasi verbal dan nonverbal ini penting bagi Anda yang
bekerja di bidang kefarmasian karena akan berperan dalam membantu Anda untuk
melakukan komunikasi yang efektif dan melayani masyarakat di bidang kesehatan serta
dapat memahami, menerapkannya dalam melakukan tugas kegiatan sesuai kompetensi
pendidikan dan berdasarkan etika profesi anda .

Komunikasi Verbal dan Komunikasi Nonverbal


 Pesan yang disampaikan oleh pengirim kepada penerima dapat dikemas secara verbal
dengan kata-kata atau nonverbal tanpa kata-kata.
 Komunikasi yang pesannya dikemas secara verbal disebut komunikasi verbal,
 Komunikasi yang pesannya dikemas secara nonverbal disebut komunikasi nonverbal.
 Jadi, komunikasi verbal adalah penyampaian makna dengan menggunakan kata-kata.

5
Modul Kuliah Farmasi RS [APT.WEMPI EKA RUSMANA, S.FARM., M.M]

 Sedang komunikasi nonverbal tidak menggunakan kata-kata.


 Dalam komunikasi sehari-hari 35% berupa komunikasi verbal dan 65% berupa
komunikasi non verbal.

A. KOMUNIKASI VERBAL

 Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, entah lisan


maupun tulisan.
 Komunikasi ini paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia.
 Melalui kata-kata, mereka mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan, atau
maksud mereka, menyampaikan fakta, data, dan informasi serta menjelaskannya,
saling bertukar perasaan dan pemikiran, saling berdebat, dan bertengkar.
 Dalam komunikasi verbal itu bahasa memegang peranan penting.

Ada beberapa unsur penting dalam komunikasi verbal, yaitu:


Bahasa
Pada dasarnya bahasa adalah suatu system lambang yang memungkinkan orang
berbagi makna.Dalam komunikasi verbal, lambang bahasa yang dipergunakan adalah bahasa
verbal entah lisan, tertulis pada kertas, ataupun elektronik. Bahasa suatu bangsa atau suku
berasal dari interaksi dan hubungan antara warganya satu sama lain.
Bahasa memiliki banyak fungsi, namun sekurang-kurangnya ada tiga fungsi yang erat

hubungannya dalam menciptakan komunikasi yang efektif. Ketiga fungsi itu adalah:
a. Untuk mempelajari tentang dunia sekeliling kita;
b. Untuk membina hubungan yang baik di antara sesama manusia
c. Untuk menciptaakan ikatan-ikatan dalam kehidupan manusia.

Bagaimana mempelajari bahasa?


Menurut para ahli, ada tiga teori yang membicarakan sehingga orang bisa memiliki
kemampuan berbahasa.
1. Teori pertama disebut Operant Conditioning yang dikembangkan oleh seorang ahli
psikologi behavioristik yang bernama B. F. Skinner (1957).
Teori ini menekankan unsur rangsangan (stimulus) dan tanggapan (response) atau
6
Modul Kuliah Farmasi RS [APT.WEMPI EKA RUSMANA, S.FARM., M.M]

lebih dikenal dengan istilah S-R.teori ini menyatakan bahwa jika satu organisme
dirangsang oleh stimuli dari luar, orang cenderung akan memberikan reaksi. Anak-anak
mengetahui bahasa karena ia diajar oleh orang tuanya atau meniru apa yang
diucapkan oleh orang lain.
2. Teori kedua ialah teori kognitif yang dikembangkan oleh Noam Chomsky. Menurutnya

kemampuan berbahasa yang ada pada manusia adalah pembawaan biologis yang
dibawa dari lahir.
3. Teori ketiga disebut Mediating theory atau teori penengah. Dikembangkan oleh

Charles Osgood. Teori ini menekankan bahwa manusia dalam mengembangkan


kemampuannya berbahasa, tidak saja bereaksi terhadap rangsangan (stimuli) yang
diterima dari luar, tetapi juga dipengaruhi oleh proses internal yang terjadi dalam
dirinya.

Kata
Kata merupakan inti lambang terkecil dalam bahasa. Kata adalah yang melambangkan
atau mewakili sesuatu hal, entah orang, barang, kejadian, atau keadaan.Jadi, kata itu bukan
orang, barang, kejadian, atau keadaan sendiri.Makna kata tidak ada pada pikiran orang.Tidak
ada hubungan langsung antara kata dan hal.Yang berhubungan langsung hanyalah kata dan
pikiran orang.

KOMUNIKASI NON VERBAL


 Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang pesannya dikemas dalam bentuk
nonverbal, tanpa kata-kata.
 Dalam hidup nyata komunikasi nonverbal jauh lebih banyak dipakai daripada

komuniasi verbal.
 Dalam berkomunikasi hampir secara otomatis komunikasi nonverbal ikut terpakai.
Karena itu, komunikasi nonverbal bersifat tetap dan selalu ada.
 Komunikasi nonverbal lebih jujur mengungkapkan hal yang mau diungkapkan karena
spontan.
 Komunikasi nonverbal dapat berupa bahasa tubuh, tanda (sign), tindakan/perbuatan

(action) atau objek (object).


7
Modul Kuliah Farmasi RS [APT.WEMPI EKA RUSMANA, S.FARM., M.M]

 Bahasa Tubuh. Bahasa tubuh yang berupa raut wajah, gerak kepala, gerak tangan,,
gerak-gerik tubuh mengungkapkan berbagai perasaan, isi hati, isi pikiran, kehendak,
dan sikap orang.
 Tanda. Dalam komunikasi nonverbal tanda mengganti kata-kata, misalnya, bendera,
rambu-rambu lalu lintas darat, laut, udara; aba-aba dalam olahraga.
 Tindakan/perbuatan. Ini sebenarnya tidak khusus dimaksudkan mengganti kata-kata,

tetapi dapat menghantarkan makna. Misalnya, menggebrak meja dalam pembicaraan,


menutup pintu keras-keras pada waktu meninggalkan rumah, menekan gas mobil
kuat-kuat. Semua itu mengandung makna tersendiri.
 Objek. Objek sebagai bentuk komunikasi nonverbal juga tidak mengganti kata, tetapi

dapat menyampaikan arti tertentu. Misalnya, pakaian, aksesori dandan, rumah,


perabot rumah, harta benda, kendaraan, hadiah

Hal menarik dari komunikasi nonverbal ialah studi Albert Mahrabian (1971) yang
menyimpulkan bahwa :
“tingkat kepercayaan dari pembicaraan orang hanya 7% berasal dari bahasa verbal,
38% dari vocal suara, 55% dari ekspresi muka“
Jika terjadi pertentangan antara apa yang diucapkan seseorang dengan perbuatannya,
orang lain cenderung mempercayai hal-hal yang bersifat nonverbal.
Oleh sebab itu, Mark Knapp (1978) menyebut bahwa penggunaan kode nonverbal

dalam berkomunikasi memiliki fungsi untuk:


a. Meyakinkan apa yang diucapkannya (repetition)
b. Menunjukkan perasaan dan emosi yang tidak bisa diutarakan dengan kata-kata
(substitution)
c. Menunjukkan jati diri sehingga orang lain bisa mengenalnya (identity)
d. Menambah atau melengkapi ucapan-ucapan yang dirasakan belum sempurna

Ada perbedaan antara kedua sistem komunikasi verbal dan nonverbal


Pertama, komunikasi nonverbal yang dianggap lebih jujur.Jika perilaku verbal dan

8
Modul Kuliah Farmasi RS [APT.WEMPI EKA RUSMANA, S.FARM., M.M]

nonverbal yang tidak konsisten, kebanyakan orang percaya perilaku nonverbal. Ada sedikit
bukti bahwa perilaku nonverbal sebenarnya lebih dapat dipercaya daripada komunikasi
verbal, setelah semua, kita sering mengontrolnya cukup sadar.Meskipun demikian, hal itu
dianggap lebih dapat dipercaya. (Anderson, 1999)
Akhirnya, komunikasi verbal adalah diskrit, sedangkan komunikasi nonverbal terus
menerus. Simbol verbal mulai dan berhenti, kami mulai berbicara pada satu saat dan
berhenti berbicara saat yang lain.
Sebaliknya, komunikasi nonverbal cenderung mengalir terus. Sebelum kita berbicara,
ekspresi wajah dan postur mengungkapkan perasaan kita, saat kita bicara, gerakan tubuh
kita dan mengkomunikasikan penampilan, dan setelah kita berbicara postur tubuh berubah,
mungkin santai
Secara sekilas telah diuraikan pada bagian awal tulisan ini, bahwa antara komunikasi

verbal dan nonverbal merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, dalam arti,
kedua bahasa tersebut bekerja bersama-sama untuk menciptakan suatu makna. Namun,
keduanya juga memiliki perbedaan-perbedaan. Dalam pemikiran Don Stacks dan kawan-
kawan, ada tiga perbedaan utama di antara keduanya yaitu :
1. Kesengajaan pesan (the intentionality of the message),
2. Tingkat simbolisme dalam tindakan atau pesan (the degree of symbolism in the act or
message).
3. Pemrosesan mekanisme (processing mechanism). Kita mencoba untuk
menguraikannya satu per satu.

Uraiannya :
1. Kesengajaan (intentinolity)
Satu perbedaan utama antara komunikasi verbal dan nonverbal adalah persepsi
mengenai niat (intent).Pada umumnya niat ini menjadi lebih penting ketika kita
membicarakan lambang atau kode verbal. Michael Burgoon dan Michael Ruffner
menegaskan bahwa sebuah pesan verbal adalah komunikasi kalau pesan tersebut
a. dikirimkan oleh sumber dengan sengaja dan

b. diterima oleh penerima secara sengaja pula.


Komunikasi nonverbal tidak banyak dibatasi oleh niat.atau intent tersebut. Persepsi

9
Modul Kuliah Farmasi RS [APT.WEMPI EKA RUSMANA, S.FARM., M.M]

sederhana mengenai niat ini oleh seorang penerima sudah cukup dipertimbangkan
menjadi komunikasi nonverbal.
Sebab, komunikasi nonverbal cenderung kurang dilakukan dengan sengaja dan kurang

halus apabila dibandingkan dengan komunikasi verbal.


Selain itu, komunikasi nonverbal mengarah pada norma-norma yang berlaku,
sementara niat atau intent tidak terdefinisikan dengan jelas.
Misalnya, norma-norma untuk penampilan fisik.Kita semua berpakaian, namun berapa
sering kita dengan sengaja berpakaian untuk sebuah situasi tertentu? Berapa kali
seorang teman memberi komentar terhadap penampilan kita?
Persepsi receiver mengenai niat ini sudah cukup untuk memenuhi persyaratan guna
mendefinisikan komunikasi nonverbal.

2. Perbedaan perbedaan simbolik (symbolic differences)


Kadang-kadang niat atau intent ini dapat dipahami karena beberapa dampak simbolik
dari komunikasi kita. Misalnya, memakai pakaian dengan warna atau model tertentu,
mungkin akan dipahami sebagai suatu `pesan' oleh orang lain (misalnya berpakaian
dengan warna hitam akan diberi makna sebagai ungkapan ikut berduka cita).

3. Mekanisme pemrosesan (processing mechanism)


a. Perbedaan ketiga antara komunikasi verbal dan nonverbal berkaitan dengan
bagaimana kita memproses informasi. Semua informasi termasuk komunikasi
diproses melalui otak, kemudian otak kita menafsirkan informasi ini lewat pikiran
yang berfungsi mengendalikan perilaku-perilaku fisiologis (refleks) dan sosiologis
(perilaku yang dipelajari dan perilaku sosial).
b. Satu perbedaan utama dalam pemrosesan adalah dalam tipe informasi pada setiap
belahan otak. Secara tipikal, belahan otak sebelah kiri adalah tipe informasi yang
lebih tidak berkesinambungan dan berubah-ubah, sementara belahan otak sebelah
kanan, tipe informasinya Iebih berkesinambungan dan alami
Berdasarkan pada perbedaan tersebut, pesan-pesan verbal dan nonverbal berbeda
dalam konteks struktur pesannya.
Komunikasi nonverbal kurang terstruktur. Aturan-aturan yang ada ketika kita

10
Modul Kuliah Farmasi RS [APT.WEMPI EKA RUSMANA, S.FARM., M.M]

berkomunikasi secara nonverbal adalah lebih sederhana dibanding komunikasi verbal yang
mempersyaratkan aturan-aturan tata bahasa dan sintaksis.
Komunikasi nonverbal secara tipikal diekspresikan pada saat tindak komunikasi
berlangsung. Tidak seperti komunikasi verbal, bahasa nonverbal tidak bisa mengekspresikan
peristiwa komunikasi di masa lalu atau masa mendatang.Selain itu, komunikasi nonverbal
mempersyaratkan sebuah pemahaman mengenai konteks di mana interaksi tersebut terjadi,
sebaliknya komunikasi verbal justru menciptakan konteks tersebut.
Perbedaan lain tentang komunikasi verbal dan nonverbal dapat dilihat dari dimensi-

dimensi yang dimiliki keduanya. Gagasan ini dicetuskan oleh Malandro dan Barker seperti
yang dikutip dalam buku Komunikasi Antar Budaya tulisan Dra. Ilya Sunarwinadi, M.A.
1. Struktur vs. Nonstruktur
Komunikasi verbal sangat terstruktur dan mempunyai hukum atau aturan-aturan tata
bahasa. Dalam komunikasi nonverbal hampir tidak ada atau tidak ada sama sekali
struktur formal yang mengarahkan komunikasi. Kebanyakan komunikasi nonverbal
terjadi secara tidak disadari, tanpa urut-urutan kejadian, yang dapat diramalkan
sebelumnya. Tanpa pola yang jelas, perilaku nonverbal yang sama dapat memberi arti
yang berbeda pada saat yang berlainan.
2. Linguistik vs. Nonlinguistik
Linguistik adalah ilmu yang mempelajari asal usul, struktur, sejarah, variasi regional
dan ciri-ciri fonetik dari bahasa. Dengan kata lain, linguistik mempelajari macam-
macam segi bahasa verbal, yaitu suatu sistem dari lambang-lambang yang sudah diatur
pemberian maknanya.
Sebaliknya.pada komunikasi nonverbal, karena tidak adanya struktur khusus, maka

sulit untuk memberi makna pada lambang. Belum ada sistem bahasa nonverbal yang
didokumentasikan, walaupun ada usaha untuk memberikan arti khusus pada ekspresi-
ekspresi wajah tertentu. Beberapa teori mungkin akan memberikan pengecualian pada
bahasa kaum tuna-rungu yang berlaku universal, sekalipun ada juga lambang-
lambangnya yang bersifat unik.

11
3. Sinambung (continuous) vs. Tidak Sinambung (discontinuous)
Komunikasi nonverbal dianggap bersifat sinambung, sementara komunikasi verbal
didasarkan pada unit-unit yang terputus-putus.Komunikasi nonverbal baru berhenti
bila orang yang terlibat di dalamnya meninggalkan suatu tempat. Tetapi selama tubuh,
wajah dan kehadiran kita masih dapat dipersepsikan oleh orang lain atau diri kita
sendiri, berarti komunikasi nonverbal dapat terjadi. Tidak sama halnya dengan kata-
kata dan simbol dalam komunikasi verbal yang mempunyai titik awal dan akhir yang
pasti.
4. Dipelajari vs. Didapat secara Ilmiah

Jarang sekali individu yang diajarkan cara untuk berkomunikasi secara nonverbal.
Biasanya ia hanya mengamati dan mengalaminya. Bahkan ada yang berpendapat
bahwa manusia lahir dengan naluri-naluri dasar nonverbal. Sebaliknya komunikasi
verbal adalah sesuatu yang harus dipelajari
5. Pemrosesan dalam Bagian Otak sebelah Kiri vs. Pemrosesan dalam Bagian Otak

sebelah kanan
Pendekatan neurofisiologik melihat perbedaan dalam pemrosesan stimuli verbal dan
nonverbal pada diri manusia.Pendekatan ini menjelaskan bagaimana kebanyakan
stimuli nonverbal diproses dalam bagian otak sebelah kanan, sedangkan stimuli verbal
yang memerlukan analisis dan penalaran, diproses dalam bagian otak sebelah
kiri.Dengan adanya perbedaan ini, maka kemampuan untuk mengirim dan menerima
pesan berbeda pula.

C. PERBEDAAN DAN FUNGSI KOMUNIKASI VERBAL DAN NONVERBAL

1. Banyak perilaku nonverbal yang diatur oleh dorongan-dorongan biologik. Sebaliknya

12
komunikasi verbal diatur oleh aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang dibuat oleh
manusia, seperti sintaks dan tata bahasa. Misalnya, kita bisa secara sadar memutuskan
untuk berbicara, tetapi dalam berbicara secara tidak sadar pipi menjadi memerah dan
mata berkedip terus-menerus
2. Banyak komunikasi nonverbal serta lambang-lambangnya yang bermakna universal.

Sedangkan komunikasi verbal lebih banyak yang bersifat spesifik bagi kebudayaan
tertentu.
3. Dalam komunikasi nonverbal bisa dilakukan beberapa tindakan sekaligus dalam suatu
waktu tertentu, sementara komunikasi verbal terikat pada urutan waktu.
4. Komunikasi nonverbal dipelajari sejak usia sangat dini. Sedangkan penggunaan

lambang berupa kata sebagai alat komunikasi membutuhkan masa sosialisasi sampai
pada tingkat tertentu.
5. Komunikasi nonverbal lebih dapat memberi dampak emosional dibanding komunikasi

verbal.

Fungsi Komunikasi Verbal dan Non Verbal :


a. Meskipun komunikasi verbal dan nonverbal memiliki perbedaan-perbedaan, namun
keduanya dibutuhkan untuk berlangsungnya tindak komunikasi yang efektif. Fungsi
dari lambang-lambang verbal maupun nonverbal adalah untuk memproduksi makna
yang komunikatif.
b. Secara historis, kode nonverbal sebagai suatu multi saluran akan mengubah pesan

1) verbal melalui enam fungsi:


2) Pengulangan (repetition),
3) Berlawanan (contradiction),
4) Pengganti (substitution),
5) Pengaturan (regulation),
6) Penekanan (accentuation)
7) Pelengkap (complementation).

13
Dalam tahun 1965, Paul Ekman menjelaskan bahwa pesan nonverbal akan mengulang
atau meneguhkan pesan verbal. Misalnya dalam suatu lelang, kita mengacungkan satu jari
untuk menunjukkan jumlah tawaran yang kita minta, sementara secara verbal kila
mengatakan "satu”.
Pesan-pesan nonverbal juga berfungsi untuk mengkontradiksikan atau menegaskan
pesan verbal seperti dalam sarkasme atau sindirian-sindiran tajam.Kadang-kadang,
komunikasi nonverbal mengganti pesan verbal. Misalnya, kita tidak perlu secara verbal
menyatakan kata "menang", namun cukup hanya mengacungkan dua jari kita membentuk
huruf `V' (victory) yang bermakna kemenangan.
Fungsi lain dari komunikasi nonverbal adalah mengatur pesan verbal. Pesan-pesan

nonverbal berfungsi untuk mengendalikan sebuah interaksi dalam suatu cara yang sesuai
dan halus, seperti misalnya anggukan kepala selama percakapan berlangsung. Selain itu,
komunikasi nonverbal juga memberi penekanan kepada pesan verbal, seperti
mengacungkan kepalan tangan.Dan akhirnya fungsi komunikasi nonverbal adalah pelengkap
pesan verbal dengan mengubah pesan verbal, seperti tersenyum untuk menunjukkan rasa
bahagia kita.
Bahwa dalam suatu peristiwa komunikasi, perilaku nonverbal digunakan secara
bersama-sama dengan Bahasa verbal:
a. Perilaku nonverbal memberi aksen atau penekanan pada pesan verbal.Misalnya
menyatakan terima kasih dengan tersenyum.
b. Perilaku nonverbal sebagai pengulangan dari bahasa verbal. Misalnya menyatakan

arah tempat dengan menjelaskan "Perpustakaan Universitas Terbuka terletak di


belakang gedung ini", kemudian mengulang pesan yang sama dengan menunjuk
arahnya.
c. Tindak komunikasi nonverbal melengkapi pernyataan verbal, misalnya mengatakan

maaf pada teman karena tidak dapat meminjamkan uang; dan agar lebih percaya,
pernyataan itu ditambah lagi dengan ekspresi muka sungguh-sungguh atau
memperlihatkan saku atau dompet yang kosong.

14
d. Perilaku nonverbal sebagai pengganti dari komunikasi verbal.misalnya menyatakan
rasa haru tidak dengan kata-kata, melainkan dengan mata yang berlinang-linang.

Dalam perkembangannya sekarang ini, fungsi komunikasi nonverbal dipandang sebagai


pesan-pesan yang holistik, lebih dari pada sebagai sebuah fungsi pemrosesan informasi yang
sederhana.Fungsi-fungsi holistik mencakup identifikasi, pembentukan dan manajemen
kesan, muslihat, emosi dan struktur percakapan. Karenanya, komunikasi nonverbal terutama
berfungsi mengendalikan (controlling), dalam arti kita berusaha supaya orang lain dapat
melakukan apa yang kita perintahkan.
Hickson dan Stacks menegaskan bahwa fungsi-fungsi holistik tersebut dapat

diturunkan dalam 8 fungsi, yaitu :


1) Pengendalian terhadap percakapan,
2) Kontrol terhadap perilaku orang lain,
3) Ketertarikan atau kesenangan,
4) Penolakan atau ketidaksenangan,
5) Peragaan informasi kognitif,
6) Peragaan informasi afektif,
7) Penipuan diri (self-deception) .
8) Muslihat terhadap orang lain

Latihan

Untuk memperdalam pengertian Anda mengenai materi di atas , kerjakan latihan


berikut :

Pertanyaan:
1. Jelaskan yang saudara ketahui apa yang dimaksud dengan komunikasi verbal.

15
2. Apa yang dimaksud dengan komunikasi nonverbal?. Jelaskan.

3. Sebutkan 8 Fungsi yang dimaksud oleh Hickson dan Stacks.

4. Kode nonverbal akan mengubah pesan verbal menjadi 6 fungsi, sebutkan.

5. Jelaskan menurut Mark Knapp bahwa penggunaan kode nonverbal dalam berkomunikasi
memiliki beberapa fungsi.

16
PERTEMUAN 2 – Membuat  Dan  Menyebarkan  Buletin/Brosur/Leaflet, 
Pemberdayaan Masyarakat (Penyuluhan)

I. LATIHAN

Pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha

menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok atau individu. Dengan harapan

bahwa dengan adanya pesan tersebut, maka masyarakat, kelompok atau individu dapat

memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Pengetahuan tersebut pada

akhirnya diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilaku. Dengan kata lain dengan adanya

promosi kesehtan tersebut diharapkan dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku

kesehatan dari sasaran.

Promosi/pendidikan kesehatan juga sebagai suatu proses dimana proses tersebut

mempaunyai masukan (input) dan keluaran (output). Di dalam suatu proses pendidikan

kesehayan yang menuju tercapainya tujuan promosi, yakni perubahan perilaku, dipegaruhi oleh

banyak faktor. Faktor yang mempengaruhi suatu proses pendidikan disamping faktor

masukannya sendiri juga metode, faktor materi aytau pesanya, pendidik atau petugas yang

melakukannya, dan alat-alat bantu media yang digunakan untuk menyampaikan pesan. Agar

dicapai suatu hasil yang optimal, maka faktor-faktor tersebut harus bekerja sama secara

harmonis. Hal ini berarti bahwa untuk masukan (sasaran pendidikan) tertentu harus

menggunakan cara tertentu pula. Materi juga harus disesuaikan dengan sasaran.  Demikian juga

lat bentu pendidikan disesuaikan. Untuksasaran kelompok, maka metodenya harus berbeda

17
dengan sasaran media massa dan sasaran individual. Untuk sasaran masssa pun harus berbeda

dengan sasaran individual dan sebagainya. 

Media atau alat peraga dalam promosi kesehatan dapat diartika sebagai alat bantu

promosi kesehatan yang dapat dilihat, didengar, diraba, dirasa atau dicium, untuk

memperlancar komunikasi dan oenyebarluasan informasi. Media promosi kesehatan adalah

semua saranana atau upaya menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh

komunikator, baik melalui media cetak, elektronika, dan media luar ruang, sehingga

pengetahuan sasaran dapat meningkat dan akhirnya dapat mengubah perilaku ke arah positif

terhadap kesehatan (Soekidjo, 2005).

Alat peraga digunakan secara kombinasi, misalnya menggunakan papan tulis dengan

foto dan sebagainya. Tetapi dalam menggunakan alat peraga, baik secara kombinasi maupun

tunggal, ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu alat peraga harus mudah dimengerti oleh

masyarakat sasaran dan ide atau gagasan yang terkandung didalamnya harus dapat diterima

oleh sasaran.

Standar Pelayanan Kefarmasian adalah tolok ukur yang dipergunakan sebagai pedoman

bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian (Permenkes, 2016).

Pengaturan Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas bertujuan untuk

(Permenkes, 2016):

a. Meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian;

b. Menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian; dan

c. Melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan Obat yang tidak rasional dalam

rangka keselamatan pasien (patient safety).

18
Pelayanan farmasi klinik meliputi (Djojodibroto, 2007):

a. Pengkajian resep, penyerahan Obat, dan pemberian informasi Obat;

b. Pelayanan Informasi Obat (PIO);

c. Konseling;

d. Ronde/visite pasien (khusus Puskesmas rawat inap);

e. Pemantauan dan pelaporan efek samping Obat;

f. Pemantauan terapi Obat; dan Evaluasi penggunaan Obat.

TUGAS :
1. Membuat sarana edukasi obat dalam rangka pemberdayaan masyarakat berupa:
a. Buletin
b. Brosur
c. Leaflet
d. Poster
2. Buatlah materi edukasi semenarik mungkin dan dapat dipahami oleh penerima pesan?

19
PERTEMUAN 3 dan 4 – Memberikan Informasi Dan Edukasi Kepada Pasien
Kriteria pasien/keluarga pasien yang perlu diberi konseling

I. PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN
Informasi adalah suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada
komunikan, yang berupa data, fakta, gagasan, konsep, kebijakan, aturan, standar, norma,
pedoman atau acuan yang diharapkan dapat diketahui, dipahami, diyakini, dan
diimplementasikan oleh komunikan.
Edukasi adalah penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang melalui
teknik praktik belajar atau instruksi, dengan tujuan untuk mengingat fakta atau kondisi
nyata, dengan cara member dorongan terhadap pengarahan diri, aktif memberikan
informasi-informasi atau ide baru ( Craven dan Hirnle, 1996 dalam suliha, 2002).

B. TUJUAN
 Sebagai pedoman dalam melakukan edukasi kesehatan.
 Memahami bagaimana cara dan proses melakukan edukasi kesehatan di rumah sakit.
Sehingga edukasi kesehatan (penkes) dapat berjalan lancar dan sesuai prosedur yang
ada.
 Agar pasien & keluarga berpartisipasi dalam keputusan perawatan dan proses
perawatan. Sehingga dapat membantu proses penyembuhan lebih cepat.
 Pasien/keluarga memahami penjelasan yang diberikan, memahamipentingnya mengikuti
rejimen pengobatan yang telah ditetapkansehingga dapat meningkatkan motivasi
untuk berperan aktif dalammenjalani terapi obat.

C. LANGKAH AWAL ASSESMEN PASIEN DAN KELUARGA


Assesmen merupakan proses pengumpulan menganalisis dan menginterpretasikan
data atau informasi tentang peserta didik dan lingkungannya. Kegiatan ini dilakukan untuk

20
mendapatkan gambaran tentang berbagai kondisi individu dan lingkungannya sebagai
dasar untuk memahami individu dan untuk pengembangan program pelayanan kesehatan
yang sesuai dengan kebutuhan.
Pengkajian pasien merupakan langkah guna mengidentifikasi sejauh mana kebutuhan pasien
akan pelayanan kesehatan. Keputusan mengenai jenis pelayanan yang paling tepat untuk
pasien, bidang spesialisasi yang paling tepat, penggunaan pemeriksaan penunjang
diagnostik yang paling tepat,sampai penanganan perawatan, gizi, psikologis dan aspek lain dalam
penanganan pasien di rumah sakitmerupakan keputusan yang diambil berdasarkan pengkajian (assessment).

Sebelum pendidikan kesehatan diberikan, lebih dulu dilakukan pengkajian/analisis


terhadap kebutuhan pendidikan dengan mendiagnosis penyebab masalah kesehatan yang
terjadi. Hal ini dilakukan dengan melihat factor - faktor yang mempengaruhi perilaku
kesehatan.
Lawrence Green (1980), perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor:
1. Faktor pendukung (predisposing factors), mencakup:
Pengetahuan, sikap, tradisi, kepercayaan/keyakinan, sistem nilai, pendidikan, sosial
ekonomi, dsb.
2. Faktor pemungkin(enambling factors), mencakup:
Fasilitas kesehatan, mis: spal, air bersih, pembuangan sampah, mck, makanan bergizi,
dsb. Termasuk juga tempat pelayanan kesehatan seperti RS, poliklinik, puskesmas, rs,
posyandu, polindes, bides, dokter, perawat dsb.
3. Faktor penguat (reinforcing factors), mencakup:
Sikap dan perilaku: toma, toga, petugas kes. Kebijakan/peraturan/UU, LSM.

Informasi tersebut dapat diperoleh melalui kegiatan :


1. Observasi
2. Wawancara
3. Angket/quesioner
4. Dokumentasi

21
Jenis informasi yang diperlukan dalam pengkajian antara lain:
1. Pentingnya masalah bagi individu, kelompok dan masyarakat yang dibantu
2. Masalah lain yang kita lihat
3. Masalah yang dilihat oleh petugas lain
4. Jumlah orang yang mempunyai masalah ini
5. Kebiasaan yang dapat menimbulkan masalah
6. Alasan yang ada bagi munculnya masalah tersebut
7. Penyebab lain dari masalah tersebut.

Tujuan pengkajian
1. Untuk mengetahui besar, parah dan bahayanya masalah yang dirasakan.
2. Menentukan langkah tepat untuk mengatasi masalah.

Memahami masalah
1. Mengapa muncul masalah
2. Siapa yang akan memecahkan masalah dan siapa yang perlu dilibatkan
3. Jenis bantuan yang akan diberikan

Prioritas masalah
Disusun berdasarkan hirarki kebutuhan maslow:

Aktualisasi diri
Harga diri
Kasih sayang
Aman / nyaman
Biologis / Fisiologi

22
Agar edukasi dapat dipahami dengan baik dilakukan dahulu assesment/penilaian terhadap
pasien dan keluarga meliputi :
1. Kepercayaan dan nilai-nilai agama yang dianut pasien dan keluarganya
2. Kecakapan baca tulis, tingkat pendidikan dan bahasa mereka
3. Hambatan emosional dan motivasi
4. Keterbatasan fisik dan kognitif
5. Kemauan pasien untuk menerima informasi

Sehingga pemberi edukasi mengetahui apakah pasien dan keluarga bersedia dan maupun
untuk belajar hasil penilaian didokumentasikan dalam rekam medis.

D. CARA PENYAMPAIAN INFORMASI DAN EDUKASI YANG EFEKTIF


Semua aktifitas manusia melibatkan komunikasi, namun karena kita sering
menerimanya begitu saja, kita tidak selalu memikirkan bagaimana kita berkomunikasi
dengan yang lain dan apakah efektif atau tidak.  Komunikasi yang baik melibatkan
pemahaman bagaimana orang-orang  berhubungan dengan yang  lain, mendengarkan apa
yang dikatakan dan mengambil pelajaran dari hal tersebut
Komunikasi adalah tentang pertukaran informasi, berbgi ide dan pengetahuan. Hal ini
berupa proses dua arah dimana informasi, pemikiran, ide, perasaan atau opini
disampaikan/dibagikan melalui kata-kata, tindakan maupun isyarat untuk mencapai
pemahaman bersama. Komunikasi yang baik berarti bahwa para pihak terlibat secara aktif.
Hal ini akan menolong mereka untuk mengalami cara baru mengerjakan atau memikirkan
sesuatu.
Pengertian komunikasi efektif adalah sebuah proses penyampaian pikiran atau informasi
dari seseorang kepada orang lain melalui suatu cara tertentu sehingga orang lain tersebut
mengerti betul apa yang dimaksud oleh penyampai pikiran-pikiran atau informasi”.
(Komaruddin, 1994;Schermerhorn, Hunt & Osborn, 1994; Koontz & Weihrich, 1988).
1. Teori komunikasi
a. Proses komunikasi:

23
Komunikasi dapat efektif apabila pesan diterima dan dimengerti sebagaimana
dimaksud oleh pengirim pesan/komunikator, pesan ditindaklanjuti dengan sebuah
perbuatan oleh penerima pesan/komunikan dan tidak ada hambatan untuk hal itu
(Hardjana, 2003).Gambar berikut memberikan ilustrasi proses komunikasi.

Umpan Balik

Komunikato Pesan Saluran Komunikan

Ganguan

2. Unsur-unsur/elemen dalam komunikasi efektif


a. Sumber/pemberi pesan/komunikator (dokter,perawat, admission,Adm.Kasir,dll),
adalah orang yang memberikan pesan.
1) Sumber (yang menyampaikan informasi): adalah orang yang
menyampaikan isi pernyataannya kepada penerima/komunikan. Hal-hal
yang menjadi tanggung jawab pengirim pesan adalah mengirim pesan
24
dengan jelas, memilih media yang sesuai, dan meminta kejelasan apakah
pesan tersebut sudah di terima dengan baik. (konsil kedokteran Indonesia,
hal.8)
2) Komunikator yang baik adalah komunikator yang menguasai materi,
pengetahuannya luas dan dalam tentang informasi yang yang
disampaikan, cara berbicaranyanya jelas dan menjadi pendengar yang baik
saat dikonfirmasi oleh si penerima pesan (komunikan)

b. Isi Pesan, adalah ide atau informasi yang disampaikan kepada komunikan.
Panjang pendeknya, kelengkapannya perlu disesuaikan dengan tujuan
komunikasi, media penyampaian,penerimanya.

c. Media/saluran pesan (Elektronic,Lisan,dan Tulisan) adalah sarana komunikasi


dari komunikator kepada komunikan.
Media berperan sebagai jalan atau saluran yang dilalui isi pernyataan
yang disampaikan pengirim atau umpan balik yang disampaikan penerima.
Pesan dapat berupa berita lisan, tertulis, atau keduanya sekaligus. Pada
kesempatan tertentu, media dapat tidak digunakan oleh pengirim yaitu saat
komunikasi berlangsung atau tatap muka dengan efek yang mungkin terjadi
berupa perubahan sikap. (konsil kedokteran Indonesia, hal.8). Media yang
dapat digunakan: melalui telepon, menggunakan lembarlipat, buklet, vcd,
(peraga)

d. Penerima pesan/komunikan (pasien, keluarga pasien, perawat, dokter,


Admission,Adm.) atau audience adalah pihak/orang yang menerima pesan.
Penerima pesan berfungsi sebagai penerima berita. Dalam komunikasi,
peran pengirim dan penerima bergantian sepanjang pembicaraan. Tanggung
jawab penerima adalah berkonsentrasi untuk menerima pesan dengan baik dan
memberikan umpan balik kepada pengirim. Umpan balik sangat penting

25
sehingga proses komunkasi berlangsung dua arah. (konsil kedokteran
Indonesia, hal.8).

e. Umpan Balik, adalah respon/tindakan dari komunikan terhadap respon pesan


yang diterimanya

3. Pemberi pesan/komunikator yang baik:


Pada saat melakukan proses umpan balik, diperlukan kemampuan dalam hal-hal
berikut (konsil kedokteran Indonesia, hal 42):
a. Cara berbicara (talking), termasuk cara bertanya (kapan menggunakan
pertanyaan tertutup dan kapan memakai pertanyaan terbuka), menjelaskan,
klarifikasi, paraphrase, intonasi.
b. Mendengar (listening), termasuk memotong kalimat
c. Cara mengamati (observation) agar dapat memahami yang tersirat di balik yang
tersurat (bahasa non verbal di balik ungkapan kata/kalimatnya, gerak tubuh).
d. Menjaga sikap selama berkomunikasi dengan komunikan (bahasa tubuh) agar
tidak menggangu komunikasi, misalnya karena komunikan keliru mengartikan
gerak tubuh, raut tubuh, raut muka, dan sikap komunikator.

4. Sifat Komunikasi
Komunikasi itu bisa bersifat informasi (asuhan) dan edukasi (Pelyanan promosi).
Komunikasi yang bersifat infomasi asuhan didalam rumah sakit adalah:
a. Jam pelayanan
b. Pelayanan yang tersedia
c. Cara mendapatkan pelayanan
d. Sumber alternative mengenai asuhan dan pelayanan yang diberikan ketika
kebutuhan asuhan pasien melebihi kemampuan rumah sakit.
Akses informasi dapat di peroleh dengan melalui Customer Service, Admission,dan
Website.

26
Sedang komunikasi yang bersifat Edukasi (Pelayanan Promosi) adalah :
a. Edukasi tentang obat.
b. Edukasi tentang penyakit.
c. Edukasi pasien tentang apa yang harus di hindari
d. Edukasi tentang apa yang harus dilakukan pasien untuk meningkatkan
qualitas hidupnya pasca dari rumah sakit.
Akses untuk mendapatkan edukasi ini bisa melalui medical information dan
nantinya akan menjadi sebuah unit PKRS (Penyuluhan Kesehatan Rumah Sakit).

5. Syarat komunikasi efektif.


Syarat dalam komunikasi efektif adalah:
a. Tepat waktu,
b. Akurat.
c. Lengkap
d. Jelas.
e. Mudah dipahami oleh penerima, sehingga dapat mengurangi tingkat kesalahan
(kesalahpahaman).

6. Proses komunkasi efektif


Untuk mendapatkan komunikasi efektif, dilakukan melaui prinsip sebagai berikut:
a. Pemberi pesan secara lisan memberikan pesan
b. Penerima pesan menuliskan secara lengkap isi pesan tersebut
c. Isi pesan dibacakan kembali (Read Back) secara lengkap oleh penerima pesan.
d. Pemberi pesan memverifikas isi pesan kepada pemberi penerima pesan.
e. Penerima pesan mengklarifikasi ulang bila ada perbedaan pesan dengan hasil
verifikasi

Proses komunikasi efektif dengan prinsip, terima, catat, verifikasi dan klarifikasi
dapat digambarkan sebagai berikut:

27
Jadi isi pesannya
Yah.. Dikonfirmasika ini yah pak…
benar. n

Komunikato Isi pesan Ditulis Dibacakan Komunika


n
f. Dalam berkomunikasi ada kalanya terdapat informasi misalnya nama obat,
nama orang , dll. Untuk menverifikasi dan mengklarifikasi, maka komunikan
sebaiknya mengeja huruf demi huruf menggunakan menggunakan alfabeth
standart internasional yaitu:

28
Sumber: Wikipedia

7. Hukum dalam komunikasi efektif


Lima Hukum Komunikasi Yang Efektif (The 5 Inevitable Laws of Efffective
Communication) terangkum dalam satu kata yang mencerminkan esensi dari
komunikasi itu sendiri yaitu REACH, yang berarti merengkuh atau meraih. Karena
sesungguhnya komunikasi itu pada dasarnya adalah upaya bagaimana kita meraih

29
perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif
dari orang lain.Hukum komunikasi efektif yang pertama adalah
a. Respect, pengertiannya:
Hukum pertama dalam mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap
menghargai setiap individu yang menjadi sasaran
pesanyangkita sampaikan.Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan
sikap saling menghargai dan menghormati, maka kita dapat membangun
kerjasama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektifitas
kinerja kita baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah
tim.
b. Hukum komunikasi efektif yang kedua adalahEmpathy
Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau
kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam
memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau
mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang
lain.Rasa empati akan menimbulkan respek atau penghargaan, dan rasa respek
akan membangun kepercayaan yang merupakan unsur utama dalam
membangun teamwork. Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau
mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon
penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita akan dapat tersampaikan
tanpa ada halangan psikologis atau penolakan dari penerima
c. Hukum komunikasi efektif yang ketiga adalahAudible
Makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti dengan
baik. Jika empati berarti kita harus mendengar terlebih dahulu ataupun mampu
menerima umpan balik dengan baik, maka audible berarti pesan yang kita
sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan. Hukum ini mengatakan bahwa
pesan harus disampaikan melalui media atau delivery channel sedemikian
hingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini mengacu
pada kemampuan kita untuk menggunakan berbagai media maupun

30
perlengkapan atau alat bantu audio visual yang akan membantu kita agar pesan
yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik.
d. Hukum komunikasi efektif yang keempat, adalah Clarity
Selain bahwa pesan harus dapat dimengerti dengan baik, maka hukum keempat
yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak
menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan.
Karena kesalahan penafsiran atau pesan yang dapat menimbulkan berbagai
penafsiran akan menimbulkan dampak yang tidak sederhana. Clarity dapat pula
berarti keterbukaan dan transparansi. Dalam berkomunikasi kita perlu
mengembangkan sikap terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan),
sehingga dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan atau
anggota tim kita. Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga dan
pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme kelompok atau
tim kita.
e. Hukum komunikasi efektif yang kelima adalah Humble
Hukum kelima dalam membangun komunikasi yang efektif adalah sikap rendah
hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk
membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah
hati yang kita miliki. Sikap Rendah Hati pernah yang pada intinya antara lain:
sikap yang penuh melayani (dalam bahasa pemasaran Customer First Attitude),
sikap menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak sombong dan
memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan,
lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan
yang lebih besar.

Jika komunikasi yang kita bangun didasarkan pada lima hukum pokok
komunikasi yang efektif ini, maka kita dapat menjadi seorang komunikator yang
handal dan pada gilirannya dapat membangun jaringan hubungan dengan orang lain
yang penuh dengan penghargaan (respect), karena inilah yang dapat membangun
hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dan saling menguatkan

31
Ruang Lingkup
1. Panduan komunikasi eektif ini diterapkan kepada:
a. Antar pemberi pelayanan saat memberikan perintah lisan atau melalui
telpon
b. Petugas laboratorium saat membacakan hasil laboratoruim secara lisan atau
melalui telepon
c. Petugas informasi saat memberikan informasi pelayanan rumah sakit
kepada pelanggan
d. Petugas PKRS saat memberikan edukasi kepada pasien
e. Semua karyawan saat berkomunikasi via telpon dan lisan

2. Pelaksana panduan ini adalah seluruh pemberi pelayanan, petugas laboratorium,


petugas informasi, pelaksana PKRS, semua karyawan

Prinsip
1. Untuk mendapatkan komunikasi efektif, dilakukan melaui prinsip terima, catat,
verifikasi dan klarifikasi:
a. Pemberi pesan secara lisan memberikan pesan
b. Penerima pesan menuliskan secara lengkap isi pesan tersebut
c. Isi pesan dibacakan kembali (Read Back) secara lengkap oleh penerima pesan.
d. Pemberi pesan memverifikas isi pesan kepada pemberi penerima pesan.
e. Penerima pesan mengklarifikasi ulang bila ada perbedaan pesan dengan hasil
verifikasi
2. Baca ulang dan verifikasi dikecualikan untuk kondisi darurat di ICU dan UGD
3. Penggunaan code alfabetis internasional digunakan saat melakukan klarifikasi hal-
hal penting, misal nama obat, nama pasien, dosis obat, hasil laboratorium dengan
mengeja huruf2 tersebyt saat membaca ulang (reed back) dan verifikasi

32
4. Tujuan utama panduan komunikasi efektif ini adalah untukmemperkecil terjadinya
kesalahan penerima pesan yang diberikan secara lisan

E. TATALAKSANA PEMBERIAN INFORMASI DAN EDUKASI


 Petugas yang melakukan kegiatan ini harus memiliki pengetahuan tentang informasi
yang akan di sampaikan, memiliki rasa empati dan ketrampilan berkomunikasi secara
efektif.
 Pemberian informasi dan edukasi dilakukan melalui tatap muka dan berjalan secara
interaktif, dimana kegiatan ini bisa dilakukan pada saat pasien dirawat, akan pulang
atau ketika datang kembali untuk berobat
 Kondisi lingkungan perlu diperhatikan untuk membuat pasien/keluarga merasa
nyaman dan bebas, antara lain:
a. Dilakukan dalam ruang yang dapat menjamin privacy.
b. Ruangan cukup luas bagi pasien dan pendamping pasien untuk kenyamanan
mereka.
c. Penempatan meja, kursi atau barang – barang lain hendaknya tidak
menghambat komunikasi.
d. Suasana tenang, tidak bising dan tidak sering ada interupsi

 Pada pasien yang mengalami kendala dalam berkomunikasi, maka pemberian


informasi dan edukasi dapat disampaikan kepada keluarga/pendamping pasien.
 Membina hubungan yang baik dengan pasien/keluarga agar tercipta rasa percaya
terhadap peran petugas dalam membantu mereka.
 Mendapatkan data yang cukup mengenai masalah medis pasien ( termasuk adanya
keterbatasan kemampuan fisik maupun mental dalam mematuhi rejimen pengobatan ).
 Mendapatkan data yang akurat tentang obat – obat yang digunakan pasien, termasuk obat
non resep.
 Mendapatkan informasi mengenai latar belakang sosial budaya, pendidikan dan
tingkat ekonomi pasien/ keluarga

33
 Informasi yang dapat diberikan kepada pasien/keluarga adalah yang berkaitan
dengan perawatan pasien :
a. Assesment pendidikan pasien dan keluarga
b. Pendidikan kesehatan pengobatan ; Penggunaan obat – obatan yang aman:
kemungkinan nama obat, kegunaan obat, aturan pakai, teknik penggunaan obat –
obat tertentu (contoh: obat tetes, inhaler), cara penyimpanan, berapa lama obat harus
digunakan dan kapan obat harus ditebus lagi, apa yang harus dilakukan terjadinya efek
samping yang akan dialami dan Bagaimana cara mencegah atau meminimalkannya,
meminta pasien/keluarga untuk melaporkan jika ada keluhan yang dirasakan pasien
selama menggunakan.
c. Pendidika kesehatan Manajemen nyeri
d. Pendidikan kesehatan diet
e. Pendidikan kesehatan penggunaan peralatan medis
f. Pendidikan kesehatan proses penyakit
g. Pendidikan kesehatan pre operasi (informed consent)

Proses komunikasi saat memberikan edukasi kepada pasien & keluarganya berkaitan
dengan kondisi kesehatannya
Tahap asesmen pasien: Sebelum melakukan edukasi, petugas menilai dulu kebutuhan
edukasi pasien & keluarga berdasarkan: (data ini didapatkan dari RM):
1. Keyakinan dan nilai-nilai pasien dan keluarga.
2. Kemampuan membaca, tingkat pendidikan dan bahasa yang digunakan.
3. Hambatan emosional dan motivasi. (emosional: Depresi, senang dan marah)
4. Keterbatasan fisik dan kognitif.
5. Ketersediaan pasien untuk menerima informasi.
Tahap Cara penyampaian informasi dan edukasi yang efektif.Setelah melalui tahap
asesmen pasien, di temukan :
1. Pasien dalam kondisi baik semua dan emosionalnya senang, maka proses
komunikasinya mudah disampaikan.

34
2. Jika pada tahap asesmen pasien di temukan hambatan fisik (tuna rungu dan tuna
wicara), maka komunikasi yang efektif adalah memberikan leaflet kepada pasien dan
keluarga sekandung (istri,anak, ayah, ibu, atau saudara sekandung) dan
menjelaskannya kepada mereka.
3. Jika pada tahap asesmen pasien ditemukan hambatan emosional pasien (pasien
marah atau depresi), maka komunikasi yang efektif adalah memberikan materi
edukasi dan menyarankan pasien membaca leaflet. Apabila pasien tidak mengerti
materi edukasi, pasien bisa menghubungi medical information.

F. FERIVIKASI

Tahap Cara verifikasi bahwa pasien dan keluarga menerima dan memahami edukasi yang
diberikan:
1. Apabila pasien pada tahap cara memberikan edukasi dan informasi, kondisi pasien
baik dan senang, maka verifikasi yang dilakukan adalah: menanyakan kembali edukasi
yang telah diberikan.

Pertanyaannya adalah: “ Dari materi edukasi yang telah disampaikan, kira-kira apa
yang bpk/ibu bisa pelajari ?”.
2. Apabila pasien pada tahap cara memberikan edukasi dan informasi, pasiennya
mengalami hambatan fisik, maka verifikasinya adalah dengan pihak keluarganya
dengan pertanyaan yang sama: “Dari materi edukasi yang telah disampaikan, kira-kira
apa yang bpk/ibu bisa pelajari ?”.

3. Apabila pasien pada tahap cara memberikan edukasi dan informasi, ada hambatan
emosional (marah atau depresi), maka verifikasinya adalah dengan tanyakan kembali
sejauh mana pasiennya mengerti tentang materi edukasi yang diberikan dan pahami.
Proses pertanyaan ini bisa via telepon atau datang langsung ke kamar pasien setelah
pasien tenang.

35
Dengan diberikannya informasi dan edukasi pasien, diharapkan komunikasi yang
disampaikan dapat dimengerti dan diterapkan oleh pasien. Dengan pasien mengikuti
semua arahan dari rumah sakit, diharapkan mempercepat proses penyembuhan pasien.
LATIHAN
Simulasikan kegiatan komunikasi secara efektif

36
PERTEMUAN 5 – Pasien  kondisi  khusus dan Pasien  dengan  terapi  jangka  panjang/penyakit 
kronis

Komunikasi pada situasi khusus : pasien marah, geriatrik,  pasif/depresif


1. Pasien marah/aggressive
Agresi memiliki bentuk sebagai sebuah bentuk pikiran maupun perasaan dan
sebagai bentuk perilaku. Agresi merupakan sebuah respon terhadap kemarahan,
kekecewaan, perasaan dendam atau ancaman yang memancing amarah serta dapat
membangkitkan suatu perilaku kekerasan sebagai suatu cara untuk melawan atau
menghukum (Muhith, 2015). Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk
perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang baik secara fisik ataupun psikologis,
sedangkan marah lebih mengarah kepada suatu perangkat perasaan-perasaan tertentu
yang biasanya disebut dengan perasaan marah (Stuart dan Sundeen, 1995 dalam
Muhith, 2015).
Kemarahan adalah perasaan jengkel yang timbul sebagai respon terhadap
kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman (Keliat, 1996 dalam Muhith, 2015). Marah
merupakan ekspresi primer dari seseorang yang diakibatkan oleh perasaan takut,
frustasi, tidak aman, dan malu.
Tujuan dari komunikasi kesehatan adalah membekali para tenaga medis untuk
memiliki kemampuan komunikasi untuk memposisikan pasien dalam keadaan marah ke
keadaan yang lebih tenang sehingga bisa diajak bekerjasama.Dalam mengantisipasi dan
menangani situasi marah dan agresi, tenaga kesehatan harus dapat mengetahui dan
melakukan pendetan pada pasien/klien yang memiliki potensi melakukan agresi:
1. Memahami pola pikir (mindset) seseorang dengan hostilitas dan potensi untuk
melakukan tindakan kekerasan. Semua orang pada hakikatnya membutuhkan
kesempatan untuk dapat menyampaikan isi pikirannya, sekalipun bila
pemahamannya menyimpang.
2. Sikap empati.
3. Hindari sikap konfrontatif mengancam.

37
4. Alternatif solusi penyelesaian masalah (perumuskan pemecahan masalah yang
menjadi resolusi).
5. Mengarahkan ke arah win-win resolusi.
A. Sikap dalam menghadapi pasien marah.

Untuk menghadapi pasien yang marah, diperlukan konfrontasi yang efektif dari
tenaga kesehatan. Konfrontasi dapat menjadi teknik yang berguna untuk berbicara atau
mewawancarai pasien dan mengetahui keadaan emosional pasien. Sikap tenaga
kesehatan dalam melakukan konfrontasi kepada pasien harus dapat mempertahankan
ketenangan hati dan jangan menjadi defensif. Jika pada awal wawancara dapat
diketahui bahwa pasien sedang marah, berusahalah untuk menghilangkan perasaan
tersebut dari pasien dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan perlahan-
lahan.
Pasien marah karena berbagai alasan, tapi terutama karena kebutuhan, gagasan,
dan pengharapan mereka tidak terpenuhi. Karena itu kunci utama meredam kemarahan
pasien adalah dengan berusaha memenuhi kebutuhan, gagasan dan pengharapan
mereka.
Pasien yang marah ingin:
1. Didengarkan
2. Dimengerti.
3. Dihormati
4. Diberi permintaan maaf
5. Diberi penjelasan
6. Ada tindakan perbaikan dalam waktu yang tepat
B. Sikap yang baik sebagai tenaga kesehatan
a) Menyadari bahwa Anda ada dalam kondisi dengan tingkat emosionalitas yang
tinggi Sebagai manusia Anda akan merasa bahwa kemarahan yang diutarakan
oleh pasien adalah bentuk serangan untuk Anda sehingga kita menunjukkan
sikap seperti terancam atau kaget. Hal ini harus dihindari.

38
b) Munculkan sikap tenang, ingin mendengarkan, dan tetap dalam kendali.
Posisikan kontak mata sejajar dengan pasien baik dalam keadaan duduk maupun
berdiri sehingga tampak seperti Anda ada pada kondisi tersebut. Hindari
menginterupsi dan gangguan lain yang dapat membuat pasien semakin marah.
Anda juga bisa menggunakan nada suara yang
c) Menentukan penyebab kemarahan. Hal-hal yang bisa Anda lakukan adalah
mendengarkan sepenuhnya, tidak menginterupsi saat pasien sedang
mengutarakan masalahnya dan menerima setiap perkataan pasien tanpa
memberi opini pribadi yang menghakimi pasien. Mengakui kondisi dan emosi
pasien disebabkan karena suatu hal, mendengar jawaban pasien atas pengakuan
Anda dengan tetap diam dan jangan melawan dengan ide diri sendiri. Apabila
Anda masih belum mengetahui penyebab kemarahan pasien, Anda dapat
meminta pasien untuk memberitahu lebih lengkap tentang masalahnya.
d) Berempati dan Berbelas kasih. Perlihatkan pengertian Anda atas kesulitan dan
musibah yang menimpa pasien dan berusaha meringankan emosi pasien. Jangan
mengucapkan kata marah bila pasien sedang dalam keadaan marah, bisa
digantikan dengan kata lain seperti kecewa. Bersiaplah untuk mengekspresikan
rasa empati Anda beberapa kali untuk meredakan emosi pasien.
e) Mengklarifikasi batas dan harapan pasien. Menanyakan harapan pasien untuk
masalah tersebut agar membuatnya menjadi lebih baik. Jika harapan pasien
tidak masuk akal, maka tawarkan alternatif lain.
f) Apabila pasien marah karena kesalahan Anda, pertimbangkan untuk meminta
maaf. Banyak pasien yang memprotes mengatakan yang mereka inginkan
hanyalah permintaan maaf dari yang bersalah.
g) Menyelesaikan masalah bersama. Untuk menyelesaikan masalah bersama, Anda
dapat mengakui kesulitan yang Anda alami karena tidak berpandangan yang
sama(maksudnya adalah mengajak pasien untuk tenang dan mendiskusikannya).
Mendorong pasien untuk berkontribusi yang sama dengan menawarkan pilihan.
Jika pilihan sesuai, Anda bisa menawarkan bantuan di lain kesempatan.

39
C. Sikap dan cara meredam kemarahan pasien
a) Dengarkan.
 Biarkan pasien melepas kemarahannya. Cari fakta inti permasalahannya,
jangan lupa bahwa pada tahap ini kita berurusan dengan perasaan dan
emosi, bukan sesuatu yang rasional. Emosi selalu menutupi maksud
pasien yang sesungguhnya.
 Dengarkan dengan empati, bayangkan kita berada dalam posisi pasien
yang lelah, gelisah, sakit, khawatir akan vonis dokter, dll.
 Fokus. Jauhkan semua hal yang merintangi konsentrasi kita pada pasien
(telepon, tamu lain, dll).
 Ulangi setiap fakta yang dikemukakan pasien, sebagai tanda kita benar-
benar mendengarkan mereka.

b) Berusaha sependapat dengan pasien.


 Bukan berarti kita selalu membenarkan pasien, namun sebagai salah satu
taktik meredakan marahnya pasien, kita mencari point-point dalam
pernyataan pasien yang bisa kita setujui. Misalnya, “Ya Pak, saya
sependapat bahwa tidak seharusnya pasien menunggu lama untuk bisa
mendapatkan kamar. Tapi saat ini kamar perawatan kami memang
sedang penuh, kami berjanji akan mencari jalan keluarnya dan
melaporkannya pada Bapak sesegera mungkin.”

c) Tetap tenang dan kuasai diri.


 Ingatlah karakteristik pasien di rumah sakit adalah mereka yang sedang
cemas, gelisah dan khawatir akan kondisi diri atau keluarganya, sehingga
sangat bisa dimengerti bahwa dalam kondisi seperti itu seseorang
cenderung bertindak emosional.
 Berhati-hati dengan nada suara, harus tetap rendah, positif dan
menenangkan. Jangan terbawa oleh nada suara pasien yang cenderung
tinggi dan cepat.

40
 Sampaikan informasi dengan sopan dan pelan-pelan.
 Tetap gunakan kata-kata hormat seperti silakan, terimakasih atas
masukannya, dan sebut pasien dengan namanya.
2. Geriatri/ klien yang tidak mau berkomunikasi
Geriatri adalah orang lanjut usia (lansia). Seseorang dikatakan lansia apabila
usianya 65 tahun ke atas. Lansia bukan suatu penyakit, namun merupakan tahap lanjut
kehidupan seseorang setelah tahap dewasa yang ditandai dengan penurunan
kemampuan tubuh, seperti penurunan pendengaran, penglihatan, perasa dan lain
sebagainya yang dampaknya berujung pada penurunan tingkat pemahaman, terlebih
saat berkomunikasi. Hal tersebut erat kaitannya dengan salah satu penyebab mengapa
seorang geriatri tidak ingin berkomunikasi.
Namun, selain karena seorang geriatri mengalami penurunan kemampuan
tubuh, termasuk kemampuan pemahaman sehingga cenderung menghindari
komunikasi, terdapat hambatan-hambatan lain bagi geriatri dan klien yang secara
umum (tidak hanya geriatri/lansia) tidak mau berkomunikasi. Hambatan tersebut dapat
dibedakan menjadi dua jenis, yaitu hambatan yang dilihat dari segi komunikasi, dan
hambatan yang dilihat dari komponen komunikasi.
1. Hambatan yang dilihat dari segi komunikasi

a. Hambatan fisik dan psikologis : hambatan fisik merupakan hambatan yang dapat
dilihat/diketahui langsung secara kasat mata keberadaannya. Misalnya hambatan
untuk orang bisu, dapat dilihat dari kesulitan mereka dalam mengutarakan kalimat
yang jelas dan dapat dimengerti. Berbeda dengan hambatan fisik, hambatan
psikologis harus diteliti dari sikap dan gerak gerik klien. Klien yang memiliki
hambatan psikologis misalnya klien yang kondisi mentalnya tidak siap untuk
menerima dan memberi informasi dalam berkomunikasi

b. Hambatan teknis : hambatan teknis adalah hambatan yang berasal dari lingkungan,

misalnya ada pembangunan suatu bangunan sehingga bising, dan klien tidak dapat
mendengar dengan jelas ketika berkomunikasi

41
c. Hambatan antropologis : hambatan ini dapat menjadi penyebab seorang tidak ingin
berkomunikasi, misalnya seorang klien tidak tahu bahwa yang mengajaknya
berkomunikasi ialah seorang ahli gizi yang butuh data klien. Oleh karena itu, klien
tidak ingin berkomunikasi oleh ahli gizi tersebut

d. Hambatan bahasa : hambatan ini sesuai namanya, dapat terjadi jika terdapat
perbedaan bahasa antara klien dan orang yang mengajak berbicara (komunikator).
Hambatan bahasa ini dapat berdampak pada kesalahpahaman arti dan makna

e. Hambatan sosiologis : hambatan ini berhubungan dengan adanya perbedaan yang

menyangkut status sosial, agama, ideologi, tingkat pendidikan dan lain sebagainya
antara klien dan komunikator

f. Hambatan persepsi : Sesuai namanya hambatan persepsi ini berkaitan dengan


perbedaan antara klien dan komunikator dalam menangkap, membuat asumsi dan
mempersepsikan suatu hal

2. Hambatan yang dilihat dari komponen komunikasi


Terdapat 4 jenis hambatan yang dilihat dari komponen komunikasi, yaitu
hambatan dari pengirim, hambatan dari penerima, hambatan dari pesan, hambatan dari
media. Namun, penulis hanya akan membicarakan jenis hambatan dari penerima, yaitu
dalam hal ini seorang geriatri/ klien yang tidak ingin berkomunikasi. Hambatan yang
berasal dari pihak penerima, dapat disebabkan oleh :
a. Selective attention : merupakan keadaan di mana seseorang bukan/salah

memperhatikan informasi yang seharusnya didapat. Hal ini dapat disebabkan karena
sifat manusia yang cenderung ingin mendengar yang dikehendakinya saja dan
membuang informasi yang justru merupakan inti penting dari komunikasi yang
berlangsung

b. Selective perception : merupakan keadaan di mana ketika berkomunikasi, penerima


pesan selalu mengaitkan/menafsirkan informasi yang didapat dengan pengalaman
pribadi (selalu mengambil hal secara personal), sehingga pesan yang sebetulnya

42
sifatnya baru, tidak tersampaikan, karena penerima pesan lebih fokus dengan
pengalamannya dibandingkan dengan informasi tersebut

Dalam berkomunikasi dengan geriatri/ klien yang tidak ingin berkomunikasi,


tentu terdapat pertimbangan-pertimbangan yang harus dilakukan sewaktu ingin
berkomunikasi. Hal tersebut diantaranya :
a. Kultur dan budaya klien. Hal ini sangat penting; misalnya dengan mencari tahu

bagaimana definisi ‘hormat’ di budaya seorang klien. Misalnya, ada yang harus
dipanggil gelar tertentu baru seorang tersebut merasa nyaman untuk berkomunikasi
dengan kita

b. Apabila klien telah mendengar dan memahami apa yang kita coba sampaikan. Hal ini

menjadi pertimbangan, karena tersampaikan atau tidaknya pesan pada geriatri/klien


yang tidak ingin berkomunikasi merupakan hal yang tidak mudah. Sehingga saat
berkomunikasi, harus dipertimbangkan betul cara komunikasi yang disukai/mudah
dipahami klien dan cara mencek apabila klien sudah memahami pesan

3. Pasien pasif/depresif
Depresi adalah suatu keadaan emosi yang tidak menyenangkan dan dangkal (low
mood) sebagai akibat dari pengaruh peristiwa yang tidak diharapkan, dimana
manifestasi gejalanya dapat bersifat ringan hingga pada tingkat yang berat (Rosenbaum,
2000). Depresi juga didefinisikan sebagai suatu status emosional seseorang yang
ditandai dengankesedihan yang sangat, perasaan bersalah, menarik diri dari lingkungan,
gangguan tidur,anoreksia, kehilangan gairah seksual, kehilangan ketertarikan pada
aktivitas-aktivitasyang biasanya menyenangkan. (Davison & Neale, 1994). Faktor-faktor
penyebab depresi dapat dibagi menurut asalnya sebagai berikut (Pennel & Creed, 1987)
bersumber darifisik, bersumber dari psikis, dan bersumber dari sosial.
Komunikasi kepada Pasien yang pasif dapat membuat kesulitan bagi petugas
kesehatan karena lebihmenutup diri dan kesulitan untuk mengungkapkan apa yang
dirasakan. Hal ini dapat menyebabkan terganggunya proses diagnosis dari pasien

43
tersebut. Untuk itu, petugas kesehatan harus memiliki kemampuan interpersonal yang
baik untuk dapat meraih komunikasi yang baik kepada pasien.
A. Perasaan atau situasi yang dialami kelompok pasien dalam berkomunikasi

a) Tidak percaya diri


b) Malu atau sungkan dalam menyampaikan masalah kesehatan yang dirasakan
c) Merasa tertekan ataupun tidak terbiasa berkomunikasi dengan baik
d) Takut mendapatkan kabar buruk
B. Hal yang harus dihindari dalam berkomunikasi dengan pasien geriatrik
a) Mendominasi komunikasi sehingga komunikasi tidak berjalan sesuai harapan
b) Tidak memberikan kesempatan maupun dorongan bagi pasien untuk dapat
mengkonsultasikan masalah kesehatan ataupun keluhan yang dihadapi
c) Memberikan tekanan ataupun melakukan cara paksaan agar pasien mau
berkomunikasi
d) Menggunakan bahasa yang sulit dimengerti sehingga semakin mendorong pasien
untuk tidak berkomunikasi
e) Melakukan atau menunjukan gerakan ataupun bahasa tubuh yang tidak membuat
pasien nyaman
f) Mengabaikan keberadaaan pasien
C. Sikap yang baik untuk berkomunikasi dengan pasien

Menurut Sheldon (2009) cara berkomunikasi dengan klien depresi dapat


dilakukan dengan memperhatikan beberapa hal, diantaranya:
a) Tunjukkan pemahaman, kepedulian, serta menerima segala perilaku yang ditunjukkan
klien seperti tangis bahkan kemarahan.
b) Mendukung aktivitas pasien, usahakan agar pasien melakukan aktivitas sederhana
seperti melipat pakaian.
c) Anggap serius setiap ide atau pernyataan pasien yang menunjukkan keinginan untuk
bunuh diri, kemudian rujukklah pasien kepada professional yang sesuai sebagai
evaluasi dan penanganan.
d) Jangan membiarkan pasien untuk membuat keputusan besar.

44
e) Mulailah percakapan dengan “Anda terlihat tidak senang” atau semacamnya

LATIHAN:
Praktekan ketika menghapi keadaan jenis-jenis pasien yang telah dijelaskan diatas

45
PERTEMUAN 6 – Pasien  yang  menggunakan  Obat  dengan  instruksi  khusus dan Pasien 
yang  menggunakan  Obat  dengan  indeks  terapi  sempit

I. PENDAHULUAN
Konseling obat adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kefarmasian di
rumah sakit.
Berdasarkan Permenkes no 72 tahun 2016, pelayanan kefarmasian adalah suatu
pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan
farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.
Dalam konsep pelayanan kefarmasian, apoteker tidak hanya melakukan
kegiatan compounding dan dispensing saja, tetapi apoteker juga bertanggung jawab dalam
mengoptimalkan terapi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat (Drug Related
Problems).
Ketidakpatuhan (non compliance) dan kurangnya pengetahuan pasien tentang obat dan
cara penggunaannya merupakan salah satu faktor penyebab kegagalan terapi. Untuk itu,
konseling adalah hal yang harus dilakukan terutama di rumah sakit dimana kompleksitas
penyakit dan obatnya lebih banyak. Konseling diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan
pasien tentang pengobatannya dan memastikan bahwa pasien dapat menggunakan obat
dengan benar.
            Konseling obat adalah suatu aktivitas pemberian nasihat atau saran terkait terapi obat
dari apoteker kepada pasien dan keluarganya. Konseling dapat dilakukan kepada pasien rawat
jalan maupun rawat inap atas inisiatif apoteker sendiri, rujukan dari dokter atau keinginan
pasien/keluarganya. Tujuan pemberian konseling obat adalah untuk mengoptimalkan terapi,
meminimalkan resiko dari reaksi obat yang tidak dikehendaki dan meningkatkan keamanan
pasien (patient safety).
Memulai konseling di rumah sakit merupakan hal yang tidak mudah. Hal terpenting yang
diperlukan adalah niat yang kuat untuk menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadap
pasien dalam rangka mewujudkan pelayanan kefarmasian yang optimal. Jika konseling sudah
dapat terlaksana, maka banyak manfaat yang dapat dirasakan baik oleh pasien maupun profesi

46
apoteker, antara lain: membantu pasien untuk mengatur pemberian obat, membantu pasien
menyesuaikan diri terhadap penggunaan obat dan penyakitnya, meningkatkan kepatuhan
pasien dalam menjalankan terapi, meminimalkan masalah terkait obat dan meningkatkan
kepercayaan masyarakat terhadap apoteker.

Langkah-langkah yang harus dilakukan saat akan memulai konseling di rumah sakit adalah :

1. Memiliki niat yang kuat untuk memulai konseling.


2. Membuat tim khusus untuk pelaksanaan konseling. Hal ini penting sebagai bentuk saling
mendukung agar kegiatan lebih mudah dilaksanakan.
3. Menyiapkan tempat atau ruangan khusus untuk Ruang konseling kadang tidak mudah
untuk segera terwujud karena berbagai hambatan, namun apabila ruang konseling belum
tersedia dapat memanfaatkan ruang yang ada.
4. Mempersiapkan literatur dan alat bantu konseling. Literatur yang dapat digunakan
berupa buku-buku standar dan aplikasi yang memuat informasi obat secara lengkap. Alat bantu
dapat berupa alat peraga/dummy dari obat-obat yang perlu penggunaan khusus seperti
insulin pen dan obat inhalasi.
5. Membuat form bantu konseling yang akan memudahkan kita untuk mengingat poin-
poin penting dalam konseling.
6. Alat untuk dokumentasi konseling, bisa berupa buku atau kartu pasien yang berisi data-
data pasien.
7. Alat komunikasi untuk menindaklanjuti hasil konseling dan memonitor pasien pasca
konseling.

47
Pada awal pelaksanaan konseling, kita harus memahami pasien yang lebih prioritas
mendapatkan konseling supaya kita dapat mempelajari terlebih dulu kasus-kasus yang sering
terjadi dan memahami masalah-masalah yang dialami pasien.

Adapun kriteria pasien yang mendapat prioritas untuk diberikan konseling antara lain :

1. Pasien dengan kondisi khusus (pediatri, geriatri, pasien dengan gangguan fungsi ginjal,
ibu hamil dan menyusui).
2. Pasien dengan penyakit kronis atau pengobatan jangka panjang (hipertensi, diabetes
melitus, epilepsi, HIV/AIDS, TB, dll).
3. Pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit (Digoksin, Fenitoin).
4. Pasien yang menggunakan banyak obat (polifarmasi).
5. Pasien yang menggunakan obat dengan instruksi khusus (kortikosteroid tappering off).
6. Pasien yang mendapatkan obat dengan bentuk sediaan khusus (inhaler, enema,
insulin pen, suppositoria)
7. Pasien dengan riwayat kepatuhan rendah.
Adapun masalah-masalah yang sering muncul pada pasien yang membutuhkan konseling antara
lain :

1. Terapi untuk penyakit kronis yang cukup lama sehingga dapat mempengaruhi
kepatuhan pasien. Semakin lama terapi yang dijalani, maka kemungkinan untuk mengalami
kejenuhan dan penurunan kepatuhan semakin besar.
2. Tingkat keparahan penyakit yang mempengaruhi kondisi psikis pasien.

48
3. Regimen pengobatan yang kompleks, baik jumlah maupun jadwal minumnya.
4. Efek samping obat yang mengganggu pasien.
5. Rutinitas pasien yang kurang mendukung jadwal penggunaan obat.
6. Motivasi pasien yang kurang kuat.
7. Kurangnya dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitarnya.
8. Kurangnya pemahaman mengenai obat dan kesehatan.
9. Faktor sosio demografi pasien seperti usia, tingkat pendidikan, tingkat ekonomi,
pekerjaan dll.
Untuk memulai konseling, apoteker harus memahami baik aspek farmakoterapi obat maupun
strategi berkomunikasi dengan pasien. Kemampuan komunikasi sangat penting agar terjalin
hubungan yang baik dan efektif antara pasien dengan apoteker. Beberapa hal yang harus kita
pahami dan lakukan adalah :

1. Penampilan yang rapi.


2. Menunjukkan bahasa tubuh yang mendukung komunikasi dengan pasien, seperti wajah
yang bersahabat, senyum, kontak mata, suara dan jarak yang nyaman.
3. Menunjukkan rasa empati terhadap pasien.
4. Tidak mendiskriminasi pasien.
5. Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Jangan menggunakan
istilah medis yang akan membuat pasien lebih tidak mengerti
6. Hindari pertanyaan yang berbelit-belit dan pertanyaan yang jawabannya ya atau tidak.
Pertanyaan yang digunakan sebaiknya adalah open ended questions, karena hal tersebut akan
memungkinkan apoteker memperoleh informasi yang maksimal dari pasien. Buatlah konseling
menjadi sebuah diskusi dimana pasien bebas menentukan pendapat dan membuat keputusan.
Jika segala hal tersebut sudah siap, maka tahapan konseling yang dapat kita lakukan adalah :

1. Tahap perkenalan
Pada tahap ini apoteker akan memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan konseling. Tahap
ini adalah tahap yang paling penting yang menentukan apakah pasien akan melanjutkan

49
konseling dan memberikan kepercayaan kepada kita atau sebaliknya. Untuk itu, penampilan
dan cara berkomunikasi adalah hal penting yang harus kita perhatikan.

2. Tahap penilaian awal


Pada tahap ini apoteker harus dapat menggali informasi dan memahami masalah yang dihadapi
pasien. Three prime questions dapat disampaikan kepada pasien untuk mengetahui sejauh
mana pasien memahami penyakit dan pengobatan yang diberikan kepadanya. Selain itu,
pengajuan three prime questions juga bertujuan untuk menghindari pemberian informasi yang
tumpang tindih, mencegah pemberian informasi yang bertentangan dengan informasi yang
telah disampaikan oleh dokter (misalnya menyebutkan indikasi lain dari obat yang diberikan)
sehingga pasien tidak akan meragukan kompetensi dokter maupun apoteker. Kita harus dapat
membedakan antara pasien baru dan pasien yang sudah lama mendapat terapi. Jika kita
bertemu pasien baru, maka informasi dasar tentang pasien dan obatnya harus segera kita
pahami, namun jika kita bertemu pasien lama maka kita harus memastikan apakah terapinya
berlanjut atau ada masalah dengan pengobatannya sehingga kita bisa mengarahkan
pembicaraan menjadi diskusi.
3. Tahap penjelasan
Tahap ini adalah waktunya apoteker untuk memberikan penjelasan dan saran kepada pasien
terkait pengobatannya. Apabila pasien mengalami masalah, maka pada tahap ini kita dapat
membantu memecahkan masalahnya dan memberikan alternatif jalan keluar. Hindari kata-kata
yang bersifat menyuruh, namun pasien diarahkan dan diberikan informasi yang cukup, sehingga
pasien dapat memutuskan sendiri masalahnya. Apabila pasien menggunakan obat khusus,
berikan penjelasan yang detil dan runtut dalam penggunaan obat, bila perlu gunakan gambar
ilustrasi atau alat peraga untuk mempermudah penjelasan. Jika kita bertemu dengan orang lain
yang bukan pasien, pastikan bahwa orang tersebut adalah orang terdekat yang bisa
menyampaikan dan menjalankan untuk pasien. Konseling terhadap orang yang tidak
berhubungan dekat dengan pasien hanya akan sia-sia dan kurang bermanfaat.

Hal-hal penting yang harus disampaikan kepada pasien pada tahap penjelasan antara lain
deskripsi tentang obat, cara penggunaan, waktu minum obat, mekanisme kerja obat, efek obat

50
yang tidak dikehendaki yang mungkin muncul, cara penyimpanan, dan terapi non farmakologi
yang dapat dilakukan pasien.

4. Tahap penilaian akhir


Pada tahap ini pasien akan diminta mengulang kembali penjelasan yang sudah diterima.
Apoteker dapat menilai apakah pasien sudah cukup memahami dan menerima informasi yang
diberikan dengan baik dan benar. Jika masih ada hal yang belum jelas, maka apoteker dapat
mengulang kembali dengan menitikberatkan pada poin penting yang harus dipahami. Pada
tahap ini, pasien dan apoteker dapat membuat kesepakatan terkait keberlangsungan terapi
misalnya menentukan kapan pasien akan memulai terapi.

5. Tahap penutupan
Pada tahap penutupan, kita harus memberi kesempatan seluas-luasnya kepada pasien untuk
bertanya kembali jika ada hal-hal yang belum dimengerti atau ada hal lain yang masih kurang
jelas. Kemudian tutuplah diskusi dengan suasana yang menyenangkan, kalimat-kalimat yang
berisi harapan, doa dan kata-kata positif lainnya.

6. Tahap follow up
Dokumentasi sangat penting dalam tahap follow up karena memonitor perkembangan pasien
akan lebih sulit apabila kita tidak memiliki dokumentasi yang lengkap.
Melaksanakan konseling di rumah sakit bukanlah tanpa kendala. Namun kita harus bisa
menyelesaikan masalah dan tidak menjadikannya hambatan dalam pelaksanannya. Beberapa
kendala yang dihadapi apoteker saat melakukan konseling antara lain :

1. Belum tersedia fasilitas konseling yang sesuai standar. Hal ini kadang merupakan
hambatan yang cukup berarti karena akan mempengaruhi kenyamanan dalam pelaksanaan
konseling. Namun kita bisa menyikapi dengan menggunakan ruang perawatan atau tempat
penyerahan obat sebagai tempat konseling dengan tetap memperhatikan kenyamanan dan
privasi
2. Kurangnya tenaga apoteker di pelayanan, sehingga apoteker tidak mempunyai waktu
khusus untuk fokus menjalankan konseling. Menghadapi hal ini, maka kita harus mempunyai

51
strategi antara lain: memulai sedikit demi sedikit agar tidak banyak memakan waktu, memilih
tema tertentu sehingga tidak terlalu berat untuk dijalankan. Apabila konseling sudah berjalan
baik dan beriringan dengan pelayanan yang lain, maka frekuensi dan kualitas konseling dapat
ditingkatkan.
3. Kurangnya pengetahuan apoteker terkait informasi terbaru, obat-obat baru, kebijakan
baru dan hal-hal lain. Dalam hal ini apoteker memang harus dituntut untuk terus belajar (life-
long learner).
4. Karakter pasien yang bermacam-macam kadang membuat apoteker kesulitan untuk
menjalankan konseling. Karakter yang cukup sulit dihadapi adalah pasien yang putus asa, marah
dan pendiam. Dalam hal ini memang kita harus banyak belajar ilmu komunikasi. Selain itu, kita
harus terus menjalankan konseling, karena semakin lama kita praktek memberikan konseling
maka kemampuan kita akan semakin terasah. Kita juga dapat mengajak rekan apoteker lain
apabila menemui kendala dengan karakter pasien yang sulit.

LATIHAN
Jelaskan berbagai macam kriteria pasien yang mendapat prioritas untuk diberikan konseling

52
PERTEMUAN 7 – Pasien  dengan  polifarmasi dan Pasien dengan tingkat kepatuhan rendah

I. PENDAHULUAN

Polifarmasi didefinisikan sebagai penggunaan bersamaan 5 macam atau lebih obat-obatan


oleh pasien yang sama. Namun, polifarmasi tidak hanya berkaitan dengan jumlah obat yang
dikonsumsi. Secara klinis, kriteria untuk mengidentifikasi polifarmasi meliputi (Terrie, 2004):

1. Menggunakan obat-obatan tanpa indikasi yang jelas


2. Menggunakan terapi yang sama untuk penyakit yang sama
3. Penggunaan bersamaan obat-obatan yang berinteraksi
4. Penggunaan obat dengan dosis yang tidak tepat
5. Penggunaan obat-obatan lain untuk mengatasi efek samping obat.

Polifarmasi meningkatkan risiko interaksi antara obat dengan obat atau obat dengan penyakit.
Populasi lanjut usia memiliki risiko terbesar karena adanya perubahan fisiologis yang terjadi
dengan proses penuaan. Perubahan fisiologis ini, terutama menurunnya fungsi ginjal dan hepar,
dapat menyebabkan perubahan proses farmakodinamik dan farmakokinetik obat tersebut
(Terrie, 2004).

2.1 Farmakodinamik

53
Farmakodinamik menggambarkan efek obat terhadap tubuh. Sebagai contoh, Acetylsalycilyc
acid (ASA) menghambat fungsi platelet sehingga memperpanjang waktu perdarahan. Oleh
karena itu, perdarahan adalah efek farmakodinamik dari ASA.

2.1.1 Efek Samping Obat

Hal utama yang perlu diperhatikan dalam polifarmasi adalah risiko munculnya efek samping
obat dan interaksi obat yang serius. Dalam beberapa kasus, memang diperlukan terapi dengan
beberapa agen (Terrie, 2004).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 75% efek samping obat yang menyebabkan
pasien harus dirawat inap berhubungan dengan agen farmakologis dan sebagian karena
monitoring yang tidak adekuat, peresepan yang kurang tepat, dan kurangnya edukasi dan
kompliansi pasien. Penelitian juga menyatakan bahwa efek samping obat terjadi 6% pada
pasien yang mendapat 2 macam obat, meningkat 50% pada pasien yang mengonsumsi 5
macam obat bersamaan, dan 100% ketika lebih dari 8 obat digunakan (Terrie, 2004).

Efek samping obat polifarmasi terutama timbul pada pasien tua. Hal ini dapat menyerupai
sindrom geriatrik atau menyebabkan kebingungan, jatuh, inkontinensia, retensi urin, dan
malaise. Efek samping ini menyebabkan dokter meresepkan obat lain untuk mengatasinya
(Terrie, 2004).

Penelitian tidak dapat menunjukkan bahwa banyaknya penggunaan obat bersifat iatrogenik.
Diagnosis klinis berkaitan dengan penyakit cenderung lebih kompleks pada orang tua, sehingga
sulit untuk menentukan apakah gejala fisik dan psikis yang timbul merupakan bagian dari
proses penuaan normal. Sulit untuk mengetahui apakah gejala yang timbul pada orang tua
disebabkan oleh penghentian obat. Penghentian obat menyebabkan banyak gejala, seperti
halusinasi dan kejang, yang perlu ditangani dengan obat-obatan baru. Hal ini menyebabkan
pemberian polifarmasi. Untuk menghindari efek penghentian obat, semakin lama obat
digunakan, semakin lambat penghentian penggunaannya. Dosisnya harus dikurangi setengah
atau dua pertiganya. Setelah beberapa minggu atau bulan, perlu dilakukan penurunan dosis

54
menjadi sepertiganya. Penghentian obat harus diturunkan dosisnya perlahan-lahan sampai
dosis terkecil obat tersebut dapat ditinggalkan. Obat dengan masa kerja yang panjang, seperti
benzodiazepine, memerlukan penghentian yang lama sekitar 6 bulan sampai 1 tahun atau lebih.
Karena risiko efek samping obat meningkat dengan banyaknya obat yang dikonsumsi, penting
untuk menghentikan terapi yang tidak efektif (Linjakumpu, 2003).

2.1.2 Interaksi Obat

Polifarmasi dan interaksi obat lebih sering terjadi dan lebih serius pada pasien tua. Secara
keseluruhan, insiden polifarmasi sekitar 3-5% namun meningkat secara eksponensial dengan
banyaknya obat yang dikonsumsi. Interaksi obat sering terjadi pada pasien tua dengan kondisi
medis multipel. Interaksi obat menyebabkan kegagalan terapi atau efek samping obat. Inhibisi
metabolik dapat meningkatkan kadar obat beberapa kali dengan konsekuensi yang serius
(Standridge, et al.,2010).

2.1.2.1 Inhibisi

Obat-obatan saling berinteraksi dan dengan makanan serta ramuan herbal. Interaksi yang
signifikan secara klinis terjadi pada obat-obatan yang sering digunakan, seperti warfarin,
antibiotik, antidepresan, analgesik, dan HMG-CoA reductase inhibitors). Perubahan absorbsi
obat terjadi karena pengikatan obat dalam saluran cerna, misalnya antasida mengganggu
penyerapan tetrasiklin, perubahan pH lambung, gangguan flora usus, dan perubahan motilitas
saluran cerna. Penurunan keasaman lambung dan melambatnya motilitas saluran cerna
merupakan fenomena penuaan yang normal (Standridge, et al.,2010).

2.1.2.2 Potensiasi

Contoh interaksi farmakodinamik yang bersifat potensiasi atau saling menguatkan adalah
sebagai berikut. Seorang pasien mengonsumsi ASA yang dibeli sendiri untuk rematiknya dan
ginkgo biloba untuk memorinya. Pasien mengalami atrial fibrillation dan diresepi warfarin oleh
kardiologisnya untuk mencegah terjadinya stroke. Pada kasus ini, ASA menghambat platelet
dan warfarin mempengaruhi faktor pembekuan. Keduanya meningkatkan risiko perdarahan.
55
Ginkgo biloba dosis tinggi juga meningkatkan perdarahan. Interaksi farmakodinamik obat-
obatan ini menyebabkan perdarahan pada pasien (Lin, 2003).

2.1.2.3 Akumulasi

Pasien diabetes yang mendapat sulfonylureas, seperti glyburide, beresiko mengalami


hipoglikemia ketika mengonsumsi antibiotik sulfonamide, karena obat ini menghambat
metabolisme glyburide oleh sistem enzim cytochrome P450 2C9 (CYP 2C9). Toksisitas digoksin
dapat timbul pada pasien yang diterapi dengan clarithromycin yang menghambat P-
glycoprotein, sehingga meningkatkan renal clearance digoxin. Hiperkalemia banyak terjadi pada
pasien yang diterapi dengan angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitors, dan penggunaan
bersamaan dengan potassium-sparing diuretics dapat menyebabkan hyperkalemia yang
mengancam nyawa (Juurlink, et al., 2003).

Metabolisme obat terutama terjadi di hepar melalui berbagai sistem enzim,


seperti cytochrome P450 (CYP450). Suatu obat dapat menjadi inhibitor atau menginduksi jalur
tertentu, dan menjadi substrat pada jalur lainnya. Eliminasi obat melalui ekskresi urin dapat
dipengaruhi dengan menambahkan obat lainnya, mengubah glomerular filtration rate (GFR),
sekresi tubulus, atau pH urin. Diuretik dapat menurunkan GFR sehingga meningkatkan kadar
obat dalam serum (Standridge, et al.,2010).

56

Anda mungkin juga menyukai