Anda di halaman 1dari 59

ANALISIS KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA


KLIEN DENGAN HALUSINASI PENDENGARAN

Oleh :

KEVIN BRANDON KAWULUSAN


19014104031

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO
2020
LAPORAN PENDAHULUAN
Halusinasi Pendengaran
1. Pengertian.
a. Perubahan Sensori Persepsi
Adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami perubahan dalam
jumlah dan pola dari stimulus yang mendekati (yang diprakarsai secara
internal / eksternal)disertai dengan suatu pengurangan berlebih-lebihan
distorsi atau kelainan berespon terhadap suatu stimulus. (Townsend,
1998)
b. Halusinasi
Adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata
artinya klien menginterprestasikan sesuatu yang nyata tanpa stimulus /
rangsangan dari luar. (Maramis, 1980).
Merupakan reaksi terhadap stress dan usaha dari alam tak sadar untuk
melindungi egonya atau pernyataan simbolik dari gangguan psikotik
individu. Halusinasi adalah gejala sekunder dari Skizofrenia dank lien
dengan skizofrenia 70 % mengalami halusinasi pendengaran dan 20 %
mengalami campuran antara halusinasi pendengaran dan halusinasi
penglihatan. (Stuart dan Sundeen, 1995).
Pada klien dengan gangguan jiwa ada beberapa jenis halusinasi dengan
karakteristik tertentu, diantaranya :
1) Halusinasi pendengaran
Karakteristik ditandai dengan mendengar suara, teruatama suara–
suara orang, biasanya klien mendengar suara orang yang sedang
membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan
untuk melakukan sesuatu.
2) Halusinasi penglihatan
Karakteristik ditandai dengan adanya stimulus penglihatan dalam
bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar kartun
dan / atau panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan bisa
menyenangkan atau menakutkan.
3) Halusinasi penghidu
Karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau
yang menjijikkan.
seperti: darah, urine atau feses. Kadang–kadang terhidu bau
harum. Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan
dementia.
4) Halusinasi peraba
Karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak
tanpa stimulus yang terlihat.
Contoh: merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati
atau orang lain.
5) Halusinasi pengecap
Karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis
dan menjijikkan.
6) Halusinasi sinestetik
Karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh.
Seperti darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna
atau pembentukan urine.
2. Etiologi
Menurut Mary Durant Thomas (1991), Halusinasi dapat terjadi pada klien
dengan gangguan jiwa seperti skizoprenia, depresi atau keadaan delirium,
demensia dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan
substansi lainnya. Halusinasi adapat juga terjadi dengan epilepsi, kondisi
infeksi sistemik dengan gangguan metabolik. Halusinasi juga dapat
dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti
depresi, anti kolinergik, anti inflamasi dan antibiotik, sedangkan obat-
obatan halusinogenik dapat membuat terjadinya halusinasi sama seperti
pemberian obat diatas. Halusinasi dapat juga terjadi pada saat keadaan
individu normal yaitu pada individu yang mengalami isolasi, perubahan
sensorik seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya
permasalahan pada pembicaraan.
Penyebab halusinasi pendengaran secara spesifik tidak diketahui namun
banyak faktor yang mempengaruhinya seperti faktor biologis, psikologis,
sosial budaya,dan stressor pencetusnya adalah stress lingkungan, biologis,
pemicu masalah sumber-sumber koping dan mekanisme koping.

a. Faktor Predisposisi
1) Biologis
 Gangguan perkembangan dan fungsi otak / susunan saraf
pusat dapat menimbulkan gangguan realita
 Gejala yang mungkin muncul adalah: hambatan dalam belajar,
berbicara, daya ingat dan muncul perilaku menarik diri dan
prilaku kekerasan.
2) Psikologis
 Sikap dan keadaan keluarga juga lingkungan
 Psikologis klien : pola asuh pada usia kanak-kanak yang tidak
adekuat, misalnya tidak ada kasih sayang dan diwarnai
kekerasan dalam keluarga.
 Orientasi realita adalah: penolakan atau tindakan kekerasan
dalam rentang hidup klien.
3) Sosial budaya
 Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi
realita
 Kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan,
bencana alam, kerawanan keamanan)
 Kehidupan yang terisolir disertai stress yang menumpuk
b. Faktor Presipitasi
a. Proses pengolahan informasi yang berlebihan
b. Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal
c. Adanya gejala pemicu

c. Patopsikologi
Proses terjadinya halusinasi
Halusinasi berkembang melalui empat fase, yaitu sebagai berikut :
1) Fase pertama / Tahap comforting (ansietas sedang)
Yaitu fase menyenangkan
a. Pada tahap ini masuk dalam golongan nonpsikotik.
b. Karakteristik : Klirn mengalami stress, cemas ringan, perasaan
perpisahan, kesepian yang memuncak, dan tidak dapat
diselesaikan.
c. Gejala : Klien mulai melamun, memikirkan hal-hal yang
menyenangkan, cara ini hanya menolong sementara.
d. Perilaku klien : Tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai,
menggerakkan bibir tanpa suara, menggerakkan mata cepat,
respon verbal yang lambat jika sedang asyik dengan
halusinasinya, dan suka menyendiri.
2) Fase kedua / Tahap condemming (ansietas berat)
Yaitu halusinasi menjadi menjijikkan
a. Pada tahap ini termasuk dalam psikotik ringan
b. Karakteristik : Pengalaman sensori menjijikkan dan
menakutkan, kecemasan meningkat, melamun, dan berfikir
sendiri jadi dominan.
c. Gejala : Mulai dirasakan ada bisikan yang tidak jelas, klien
tidak ingin ada orang lain tahu, dan ia tetap dapat
mengontrolnya.
d. Perilaku klien : Meningkatnya tanda-tanda system saraf
otonom seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah,
klien asyik dengan halusinasinya, dan tidak bisa membedakan
realitas.
3) Fase ketiga / Tahap controling (ansietas berat)
Yaitu pengalaman sensori menjadi berkuasa.
a. Pada tahap ini termasuk dalam gangguan psikotik
b. Karakteristik : Klien mendengar bisikan, suara, isi halusinasi
semakin menonjol, menguasai dan mengontrol klien
c. Gejala : Klien menjadi terbiasa, dan tidak berdaya terhadap
halusinasinya.
d. Perilaku klien : Kemauan dikendalikan halusinasi, rentang
perhatian hanya beberapa menit atau detik, tanda-tanda fisik
berupa klien berkeringat, tremor, dan tidak mampu mematuhi
perintah.
4) Fase keempat / Tahap conquering (panik)
Yaitu Klien lebur dengan halusinasinya
a. Pada tahap ini termasuk dalam psikotik berat
b. Karakteristik : Halusinasinya berubah menjadi mengancam,
memerintah, dan memarahi klien
c. Gejala : Klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang kontrol, dan
tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain dan
lingkungan.
d. Perilaku klien : Perilaku teror akibat panik, potensi bunuh diri,
perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri tau katatonik, tidak
mampu merespon terhadap perintah kompleks, dan tidak
mampu berespon lebih dari satu orang.

3. Identifikasi adanya perilaku halusinasi


a. Isi halusinasi
1) Menanyakan suara siapa yang didengar
2) Apa bentuk bayangan yang dilihat
3) Bau apa yang tercium
4) Rasa apa yang dikecap
5) Merasakan apa dipermukaan tubuh
b. Waktu dan frekuensi halusinasi
1) Kapan pengalaman halusinasi itu muncul
2) Bila mungkin klien diminta menjelaskan kapan persis waktu
terjadinya halusinasi tersebut
c. Situasi pencetus halusinasi
1) Menanyakan kepada klien peristiwa atau kejadian yang dialami
sebelum halusinasi muncul
2) Mengobservasi apa yang dialami klien menjelang munculnya
halusinasi
d. Respon klien
1) Apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami pengalaman
halusinasi
2) Apakah masih bisa mengontrol stimulus halusinasi atau sudah tidak
berdaya lagi terhadap halusinasi.

4. Rentang respon halusinasi / neurobiologik


R. Adaptif R. Maladaptif

a. Pikiran logis a. Distorsi pikiran a. Gangguan pikiran


b. Persepsi akurat b. Ilusi b. Halusinasi
c. Emosi konsisten c. Reaksi emosi berlebihan c. Kesukaran proses
d. Dengan pengalaman atau kurang d. Emosi
e. Perilaku sesuai d. Perilaku yang tidak biasa e. Perilaku disorganisasi
f.Berhubungan sosial e. Menarik diri f. Isolasi sosial

(Stuart dan Laraia, 1998)


5. Tanda dan Gejala
a. Bicara dan senyum sendiri
b. Mendengar suara-suara
c. Marah-marah, gelisah
d. Merusak / menyerang, bermusuhan
e. Menarik diri dan menghindar dari orang lain
f. Lebih banyak berdiam diri / menyendiri
g. Tidak bisa membedakan hal-hal (stimulus) nyata dan tidak nyata.
h. Tidak dapat memusatkan perhatian / konsentrasi
i. Ekspresi muka tegang dan mudah tersinggung

6. Akibat
Pasien yang mengalami perubahan persepsi sensori: halusinasi dapat
beresiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya. Resiko
mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/
membahayakan diri, orang lain dan lingkungan.
Tanda dan Gejala :
1) Memperlihatkan permusuhan
2) 2.Mendekati orang lain dengan ancaman
3) Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai
4) Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan

Klien yang mengalami halusinasi dapat kehilangan control dirinya


sehingga bisa membahayakan diri sendiri, orang lain maupun merusak
lingkungan (resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan).
Hal ini terjadi jika halusinasi sudah sampai fase ke IV, dimana klien
mengalami panic dan perilakunya dikendalikan oleh isi halusinasinya.
Klien benar-benar kehilangan kemampuan penilaian realitas terhadap
lingkungan. Dalam situasi ini klien dapat melakukan bunuh diri,
membunuh orang lain bahkan merusak lingkungan. Tanda dan gejalanya
adalah muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi,
berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan kehendak: merampas
makanan, memukul jika tidak senang

7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :
a) Menciptakan lingkungan yang terapeutik
Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan klien
akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan dilakukan secara
individual dan usahakan agar terjadi kontak mata, kalau bisa pasien
disentuh atau dipegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau
emosional. Setiap peraibu Sat masuk ke kamar atau mendekati klien,
bicaralah dengan klien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya
klien diberitahu. Klien diberitahu tindakan yang akan dilakukan. Di
ruangan itu hendaknya disediakan sarana yang dapat merangsang
perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas,
misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan
permainan.
b) Melaksanakan program terapi dokter
Sering kali klien menolak obat yang diberikan sehubungan dengan
rangsangan halusinasi yang diterimanya. Pendekatan sebaiknya secara
persuatif tapi instruktif. Peraibu Sat harus mengamati agar obat yang
diberikan betul ditelannya, serta reaksi obat yang diberikan.
c) Menggali permasalahan klien dan membantu mengatasi masalah yang ada
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, peraibu Sat dapat
menggali masalah klien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi
serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga
dapat melalui keterangan keluarga klien atau orang lain yang dekat dengan
klien.
d) Memberi aktivitas pada klien
Klien diajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik, misalnya
berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat
membantu mengarahkan klien ke kehidupan nyata dan memupuk
hubungan dengan orang lain. Klien diajak menyusun jadibu Sal kegiatan
dan memilih kegiatan yang sesuai.
e) Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses keperawatan
Keluarga klien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data klien
agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses keperaibu
Satan, misalnya dari percakapan dengan klien diketahui bila sedang
sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada
orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Peraibu Sat
menyarankan agar klien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam
permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya
diberitahukan pada keluarga klien dan petugas lain agar tidak membiarkan
klien sendirian dan saran yang diberikan tidak bertentangan.

Farmakoligi:
NAMA OBAT FUNGSI DOSIS
Chlopromazine Menstabilkan senyawa 30-800 mg
(Promactile, Largactile) alami otak.
Haloperidol (Haldol, Mengobati kondisi 1-100 mg
Serenace, Lodomer) gugup, gangguan
emosional, dan
mental(missal,
skizofrenia)
Loxapine Mengatasi agitasi 20-150 mg
psikotik akut, untuk
menggurangi sikap
permusuhandan
hilangnya kendali
otonomi pasien yang
sering kali berkaitan
dengan penggunaan obat
yang diberikan secara
intramuscular
Clozapine (Clorazil) Untuk penenang 300-900 mg
Trihexyphenidyl Melemaskan otot-otot 2 x 2 mg
yang kaku
Tinjauan Asuhan Keperawatan Halusinasi
A. Pengkajian
I. Identitas Klien
Meliputi nama,jenis kelamin, umur, alamat lengkap, No. MR, penanggung
jawab.
II. Alasan Masuk
Umumnya klien halusinasi di bawa ke rumah sakit karena keluarga merasa
tidak mampu merawat, terganggu karena perilaku klien dan hal lain, gejala
yang dinampakkan di rumah sehingga klien dibawa ke rumah sakit untuk
mendapatkan perawatan.
III. Faktor Predisposisi
 Faktor perkembangan terlambat :
Usia bayi tidak terpenuhi kebutuhan makanan, minum dan rasa aman.
Usia balita, tidak terpenuhi kebutuhan otonomi.
Usia sekolah mengalami peristiwa yang tidak terselesaikan
 Faktor komunikasi dalam keluarga
Komunikasi peran ganda
Tidak ada komunikasi
Tidak ada kehangatan
Komunikasi dengan emosi berlebihan
Komunikasi tertutup
Orangtua yang membandingkan anak-anaknya, orangtua yang otoritas dan
konflik dalam keluarga
 Faktor sosial budaya
Isolasi sosial pada yang usia lanjut, cacat, sakit kronis, tuntutan
lingkungan yang terlalu tinggi.
 Faktor psikologis
Mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan tinggi, menutup diri, ideal
diri tinggi, harga diri rendah, identitas diri tidak jelas, krisis peran,
gambaran diri negatif dan koping destruktif.
 Faktor biologis
Adanya kejadian terhadap fisik, berupa : atrofi otak, pembesaran vertikel,
perubahan besar dan bentuk sel korteks dan limbik.
 Faktor genetik
Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui kromoson
tertentu. Namun demikian kromoson yang keberapa yang menjadi faktor
penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian.
Diduga letak gen skizofrenia adalah kromoson nomor enam, dengan
kontribusi genetik tambahan nomor 4,8,5 dan 22. Anak kembar identik
memiliki kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar 50% jika salah
satunya mengalami skizofrenia, sementara jika di zygote peluangnya
sebesar 15 %, seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami
skizofrenia berpeluang 15% mengalami skizofrenia, sementara bila kedua
orang tuanya skizofrenia maka peluangnya menjadi 35 %.

IV. Faktor presipitasi


 Faktor –faktor pencetus respon neurobiologis meliputi:
Berlebihannya proses informasi pada sistem syaraf yang menerima dan
memproses informasi di thalamus dan frontal otak.
Mekanisme penghataran listrik di syaraf terganggu (mekanisme
penerimaan abnormal).
Adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak
berguna, putus asa dan tidak berdaya
Menurut Stuart (2007), pemicu gejala respon neurobiologis maladaptif
adalah kesehatan, lingkungan dan perilaku.
 Kesehatan
Nutrisi dan tidur kurang, ketidakseimbangan irama sikardian, kelelahan
dan infeksi, obat-obatan sistem syaraf pusat, kurangnya latihan dan
hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan.
 Lingkungan
Lingkungan sekitar yang memusuhi, masalah dalam rumah tangga,
kehilangan kebebasab hidup dalam melaksanakan pola aktivitas sehari-
hari, sukar dala, berhubungan dengan orang lain, isolasi sosial, kurangnya
dukungan sosialm tekanan kerja, dan ketidakmampuan mendapat
pekerjaan.
 Sikap
Merasa tidak mampu, putus asam merasa gagal, merasa punya kekuatan
berlebihan, merasa malang, rendahnya kemampuan sosialisasi,
ketidakadekuatan pengobatan dan penanganan gejala.
 Perilaku
Respon perilaku klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan,
rasa tidak aman, gelisah, bingung, perilaku merusak, kurang perhatian,
tidak mampu mengambil keputusan, bicara sendiri. Perilaku klien yang
mengalami halusinasi sangat tergantung pada jenis halusinasinya. Apabila
peraibu Sat mengidentifikasi adannya tanda-tanda dan perilaku halusinasi
maka pengkajian selanjutnya harus dilakukan tidak hanya sekedar
mengetahui jenis halusinasinya saja. Validasi informasi tentang halusinasi
yang diperlukan meliputi :
Isi halusinasi : Menanyakan suara siapa yang didengar, apa yang
dikatakan.
Waktu dan frekuensi : Kapan pengalaman halusianasi munculm berapa
kali sehari.
Situasi pencetus halusinasi : Perawat perlu mengidentifikasi situasi yang
dialami sebelum halusinasi muncul. Perawat bisa mengobservasi apa yang
dialami klien menjelang munculnya halusinasi untuk memvalidasi
pertanyaan klien.
Respon klien : Sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi klien. Bisa
dikaji dengan apa yang dilakukan oleh klien saat mengalami pengalamana
halusinasi. Apakah klien bisa mengontrol stimulus halusinasinya atau
sebaliknya.
V. Pemeriksaan fisik
Rambut : Keadaan kesuburan rambut, keadaan rambut yang mudah rontok,
keadaan rambut yang kusam, keadaan tekstur.
Kepala : Adanya botak atau alopesia, ketombe, berkutu, kebersihan.
Mata : Periksa kebersihan mata, mata gatal atau mata merah
Hidung : Lihat kebersihan hidung, membran mukosa
Mulut : Lihat keadaan mukosa mulut, kelembabannya, kebersihan
Gigi : Lihat adakah karang gigi, adakah karies, kelengkapan gigi
Telinga : Lihat adakah kotoran, adakah lesi, adakah infeksi
Kulit : Lihat kebersihan, adakah lesi, ibu Sarna kulit, teksturnya,
pertumbuhan bulu.
Genetalia : Lihat kebersihan, keadaan kulit, keadaan lubang uretra,
keadaan skrotum, testis pada pria, cairan yang dikeluarkan

VI. Pohon Masalah

Risiko menciderai diri sendiri dan orang lain

Ketidak efektifan Gangguan


penatalaksanaan perubahan sensori/persepsi : pemeliharaan
program terapeutik halusinasi pend kesehatan

Isolasi sosial : menarik diri Defisit


perawatan diri :
Ketidak efektifan mandi dan
koping keluarga : berhias
ketidak mampuan Gangguan konsep diri :
keluarga merawat harga diri rendah kronis
klien di rumah
B. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji

1. Isolasi sosial: menarik diri


2. Gangguan sensori persepsi: halusinasi pendengaran
3. Risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan
4. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
5. Ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik
6. Defisit perawatan diri: mandi dan berhias
7. Ketidakefektifan keluarga: ketidakmampuan keluarga merawat klien
dirumah
8. Gangguan pemeliharaan kesehatan

C. Diagnosa keperawatan dan prioritas


1. Resiko menciderai pada diri sendiri, orang lain dan lingkungan
berhubungan dengan halusinasi
2. Perubahan persepsi sensorik: halusinasi berhubungan dengan menarik diri
3. Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
4. Defisit perawatan diri: Mandi/kebersihan berhubungan dengan
ketidakmampuan dalam merawat diri
5. Perubahan proses pikir: Waham berhubungan dengan harga diri rendah
kronis
6. Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif berhubungan dengan koping
keluarga tak efektif
7. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan menarik diri.
8. Gangguan pola tidur berhubungan dengan halusinasi
9. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan harga diri rendah.
DAFTAR PUSTAKA

Directorat Kesehatan Jiwa, Dit. Jen Yan. Kes. Dep. Kes R.I. Keperawatan Jiwa.
Teori dan Tindakan Keperawatan Jiwa, Jakarta, 2000.
Keliat Budi, Anna, Peran Serta Keluarga Dalam Perawatan Klien Gangguan
Jiwa, EGC, Jakarta, 1995.
Keliat. B. A. 2006. Modul MPKP Jiwa UI . Jakarta : EGC.
Keliat. B. A. 2006. Proses Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Maramis, W.F, Ilmu Kedokteran Jiwa, Erlangga Universitas Press, Surabaya,
1990.
Rasmun, Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan
Keluarga, CV. Sagung Seto, Jakarta, 2001.
Residen Bagian Psikiatri UCLA, Buku Saku Psikiatri, EGC, 1997
Stuart & Sunden, Pocket Guide to Psychiatric Nursing, EGC, Jakarta, 1998.
Kasus Klien Denggan Halusinasi Pendengaran
CASE 8
Paul is a 17-year-old White boy, who presented for treatment of schizophrenia. He
came to our specialized outpatient treatment clinic at the urging of his psychiatrist
and his parents who were concerned about his behavior. Paul reported previous
inpatient treatment at a local psychiatric hospital in the Midwest, at the age of 16.
He reported that his symptoms were increasingly debilitating and negatively
impacting his personal relationship with his parents, particularly his step-father.
He had been diagnosed with undifferentiated schizophrenia (295.90), and his
global assessment of relational functioning was 60.
Paul’s self-reported symptoms were also observed by his parents and are
consistent with a diagnosis of schizophrenia. He experienced lack of pleasure and
interest throughout each day, and severe difficulty empathizing with other
people’s feelings. He had periods of withdrawal and isolation in his room during
the week, right after school, and the majority of the day during the weekends. He
also reported on going suspiciousness and distorted perceptions. Paul’s symptoms
have been consistent and have encompassed his daily life for years. For example,
he was preoccupied with oversleeping and running late to school, and feeling
severely stressed that he would start hearing voices again that tell him to hurt
himself. He reported that he had struggled with delusions since his sophomore
year of high school. Paul reported difficulty in forming meaningful relationships
with parents and peers.
Due to his medication, he had a low libido and had no interest in a romantic
relationship. He also described feeling powerless over handling his own affairs
and had difficulty trusting that his parents would not commit him to a hospital
again. He had difficulty expressing his feelings and would act out as a bid for
attention.
The client’s family is composed of mother (Sue), 35 years old; stepfather (Jack),
48 years old; and Paul, 18 years old. On the telephone, the mother reported that
Paul is very aggressive, throws things, and yells for no apparent motive.
Historically, Paul grew up as an only child in a family with his mother and
stepfather, in a middle-class, rural community. He excelled in school and
participated in sports and Boy Scouts until he began hearing voices at age 13. He
refused to attend school reporting that he was concerned that his teachers were
“out to get him” and that there was a plot to discredit him around his peers. He
stopped bathing, brushing his teeth, and failed to show any emotional expressions
when around his parents. He became impulsive and took action without thinking
about the consequences. He reports being arrested for hitting a pizza delivery boy
on the head with a frying pan because voices instructed him to steal the delivery
boy’s pizzas and his car. After this incident, Paul was committed by his parents to
a psychiatric hospital for 6 weeks and monitored on the antipsychotic medication
Risperdal 75 mg. After returning home, he experienced diminished ability to
experience pleasure, which resulted in him becoming more defiant and distant.
The ensuing negative impact on his relationship with his parents was significant.
Paul’s mother reported that her son thinks she needs therapy, not he; that it is his
life and he can do what he wants alone, without the help of doctors; that doctors
do not understand or help; that it is not his fault; and that others or circumstances
are to blame. His stepfather related that Paul’s ambition is to be a rock star and
that he is very self-centered and puts a lot of demands on his mother. As a child,
Paul was very demanding in getting his needs met, and Paul’s mother would
sacrifice her own needs for the needs of her son. Mother dedicated the majority of
her time to Paul as a way to keep him close and safe. The stepfather reported that
he resents his wife for babying her son and sees her as “incapable of letting her
son grow up.” Paul’s stepfather disengaged by isolating himself at home
physically and emotionally and avoiding interaction with both Paul and his
mother, due to feelings of frustration and powerlessness.
Kasus 8
Paul adalah seorang bocah kulit putih berusia 17 tahun, yang datang untuk
perawatan skizofrenia. Dia datang ke klinik perawatan rawat jalan khusus kami
atas desakan psikiater dan orang tuanya yang khawatir dengan perilakunya.
Laporan terdahulu mencatat bahwa pada saat berusia 16 tahun, Paul sempat
dirawat inap di rumah sakit jiwa setempat di Midwest. Dia memberitahukan
bahwa gejalanya semakin memburuk dan berdampak negatif pada hubungan
pribadinya dengan orang tuanya, terutama ayah tirinya. Dia telah didiagnosis
dengan skizofrenia takterinci (295,90), dan skala Global Assesment Functioning
(GAF) adalah 60.
Gejala yang di tunjukkan Paul dalam catatan medisnya juga diamati oleh orang
tuanya dan konsisten dengan diagnosis skizofrenia. Dia merasa tidak puas dan
mengalami penurunan minat sepanjang hari, dan sulit untuk berempati terhadap
orang lain. Dia mengalami periode dimana dia menarik diri dan mengisolasi
dirinya dikamar sepanjang minggu, setiap pulang sekolah , dan sepanjang hari saat
akhir pekan. Dilaporkan juga bahwa dirinya mengalami kondisi kecurigaan yang
berlebihan, juga persepsi menyimpang. Gejala-gejala Paul konsisten dan meliputi
kehidupan sehari-harinya selama bertahun-tahun. Misalnya, ia sibuk dengan tidur
berlebihan dan terlambat ke sekolah, dan merasa sangat tertekan bahwa ia akan
mulai mendengar suara-suara lagi yang menyuruhnya untuk melukai dirinya
sendiri. Dilaporkan juga bahwa dia berjuang dengan delusi sejak tahun keduanya
di sekolah menengah serta kesulitan dalam membentuk hubungan yang bermakna
dengan orang tua dan teman sebaya.
Karena pengobatannya, ia memiliki libido rendah dan tidak tertarik pada
hubungan romantis. Dia juga menunjukkan ketidakmampuan dalam menangani
urusannya sendiri serta sulit untuk percaya bahwa dia tidak akan lagi di kirim ke
rumah sakit oleh orang tuanya. Dia mengalami kesulitan dalam mengungkapkan
perasaannya, dan akan berulah sebagai upaya untuk mendapatkan perhatian.
Keluarga klien terdiri dari ibu (Sue), 35 tahun; ayah tiri (Jack), 48 tahun; dan
Paul, 18 tahun. Di telepon, sang ibu melaporkan bahwa Paul sangat agresif,
melempar barang-barang, dan berteriak tanpa motif yang jelas. Secara historis,
Paul tumbuh sebagai anak tunggal dalam keluarga dengan ibu dan ayah tirinya, di
komunitas pedesaan kelas menengah. Dia unggul di sekolah dan berpartisipasi
dalam olahraga serta pramuka, hingga akhirnya dia mulai mendengar suara saat ia
berusia 13 tahun. Dia menolak untuk kesekolah dengan laporan bahwa dia
berpikir akan "ditangkap" oleh gurunya, bahkan berpikir bahwa dia akan di
dikucilkan disekitar teman sebayanya. Dia berhenti mandi, menyikat giginya, dan
gagal menunjukkan ekspresi emosional ketika berada di dekat orang tuanya. Dia
menjadi impulsif dan mengambil tindakan tanpa memikirkan konsekuensinya. Di
laporkan bahwa dia sempat di tahan karena memukul kepala seorang pengantar
pizza dengan alasan bahwa suara-suara yang ia dengar, menyuruhnya untuk
mencuri pizza serta mobil si pengantar pizza tersebut. Setelah kejadian ini, Paul
akhirnya dibawa oleh orang tuanya ke rumah sakit psikiatrik selama 6 minggu dan
di pantau dengan menggunakan pengobatan antipsikotik yaitu Risperdal 75mg.
Setelah kembali ke rumah, kemampuannya dalam merasakan kebahagiaan
menurun, alhasil membuatnya semakin tidak patuh dan kurang bersahabat.
Selanjutnya, dampak negatif yang terjadi terhadap hubungannya dengan orang
tuanya semakin memburuk. Ibu Paul melaporkan bahwa putranya berpikir ibunya
yang perlu terapi, bukan dia; bahwa ini adalah hidupnya dan dia dapat melakukan
apa yang dia inginkan sendirian, tanpa bantuan dokter; bahwa dokter tidak
mengerti atau membantu; bahwa itu bukan salahnya; dan bahwa orang lain dan
keadaanlah yang harus disalahkan. Ayah tirinya menceritakan bahwa ambisi Paul
adalah menjadi seorang bintang rock dan bahwa dia sangat egois serta banyak
menuntut kepada ibunya. Sebagai seorang anak, Paul sangat menuntut untuk
memenuhi kebutuhannya, dan ibu Paul akan mengorbankan kebutuhan pribadinya
demi kepentingan anaknya. Ibunya mendedikasikan sebagian besar waktunya
untuk Paul sebagai cara untuk membuatnya tetap dekat dan aman. Dari laporan
yang ada, Ayah tirinya kurang senang dengan cara istrinya mengasuh anaknya dan
mencap istrinya "tidak mampu membesarkan seorang anak". Ayah tiri Paul
melepaskan diri dengan mengisolasi dirinya di rumah secara fisik dan emosional
dan menghindari interaksi dengan Paul dan ibunya, karena perasaan frustrasi dan
tidak berdaya.
FAKTOR PREDISPOSISI :
Klien mulai mendengar suara-suara saat berusia 13 tahun. Di usia 16 tahun klien
sempat dirawat di Rumah Sakit Jiwa Midwest selama 6 minggu dan di pantau
dengan menggunakan pengobatan antipsikotik yaitu Risperdal 75mg. Setelah
kembali ke rumah, kemampuannya dalam merasakan kebahagiaan menurun,
alhasil membuatnya semakin tidak patuh dan kurang bersahabat, dengan kata lain
pengobatan yang klien jalani tidak berhasil. Klien tidak mengalami aniaya fisik
maupun seksual di masa lampau. Di usia 13 tahun Dia menolak untuk kesekolah
dengan laporan bahwa dia berpikir akan "ditangkap" oleh gurunya, bahkan
berpikir bahwa dia akan di dikucilkan disekitar teman sebayanya. Tidak ada
bentuk kekerasan dalam keluarga klien namun klien memiliki hubungan negatif
denggan ayah tiri klien dan hubungan tersebut semakin memburuk seetelah klien
keluar dari rumah sakit. Tindakan kriminal yang pernah klien lakukan ialah ketika
klien di tahan karena memukul kepala pengantar pizza dengan alasan bahwa
suara-suara yang ia dengar, menyuruhnya untuk mencuri pizza serta mobil si
pengantar pizza tersebut. Keluarga klien terdiri dari ibu (Sue), ayah tiri (Jack),
dan Paul dan tidak ada anggota keluarga lain yang memiliki riwayat gangguan
jiwa. Hanya saja, ayah tiri Paul mulai mengisolasi dirinya di rumah secara fisik
dan emosional dan menghindari interaksi dengan Paul dan ibunya, karena
perasaan frustrasi dan tidak berdaya. Klien jugga berambisi menjadi seorang
bintang rock dan bahwa dia sangat egois serta banyak menuntut kepada ibunya.

FAKTOR PRESIPITASI :
Saat ini keadaan klien gejalanya semakin memburuk dan berdampak negatif pada
hubungan pribadinya dengan orang tuanya, terutama ayah tirinya. Dia telah
didiagnosis dengan skizofrenia takterinci (295,90), dan skala Global Assesment
Functioning (GAF) adalah 60. Di telepon, sang ibu melaporkan bahwa Paul
sangat agresif, melempar barang-barang, dan berteriak tanpa motif yang jelas.
kemampuannya dalam merasakan kebahagiaan menurun, alhasil membuatnya
semakin tidak patuh dan kurang bersahabat. Klien berpikir dirinya tak perlu
terapi melainkan ibunya yang perlu terapi; bahwa ini adalah hidupnya dan dia
dapat melakukan apa yang dia inginkan sendirian, tanpa bantuan dokter; bahwa
dokter tidak mengerti atau membantu; bahwa itu bukan salahnya; dan bahwa
orang lain dan keadaanlah yang harus disalahkan. Dia juga menunjukkan
ketidakmampuan dalam menangani urusannya sendiri serta sulit untuk percaya
bahwa dia tidak akan lagi di kirim ke rumah sakit oleh orang tuanya. Dia
mengalami kesulitan dalam mengungkapkan perasaannya, dan akan berulah
sebagai upaya untuk mendapatkan perhatian.

KLASIFIKASI DATA

DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF

 Klien merasa tidak puas dan  Skala Global Assesment


mengalami penurunan minat Functioning (GAF) adalah 60
sepanjang hari.
 Klien mengalami periode dimana
 Klien sulit untuk berempati dia menarik diri dan mengisolasi
terhadap orang lain. dirinya dikamar sepanjang
minggu, setiap pulang sekolah ,
 Klien dilaporkan mengalami dan sepanjang hari saat akhir
kondisi kecurigaan yang berlebihan, pekan.
juga persepsi menyimpang.
 Klien sibuk dengan tidur
 Klien merasa sangat tertekan bahwa berlebihan dan terlambat ke
ia akan mulai mendengar suara- sekolah.
suara yang menyuruhnya untuk
melukai dirinya sendiri.   Klien memiliki libido rendah dan
tidak tertarik pada hubungan
 Klien dilaporkan kesulitan dalam romantis .
membentuk hubungan yang
 Klien menunjukkan
bermakna dengan orang tua dan
ketidakmampuan dalam
teman sebaya
menangani urusannya sendiri.
 Klien sulit untuk percaya bahwa dia
 Klien mengalami kesulitan dalam
tidak akan lagi di kirim ke rumah
mengungkapkan perasaannya,
sakit oleh orang tuanya. 
dan akan berulah sebagai upaya
 Ibu klien melaporkan bahwa klien untuk mendapatkan perhatian.
sangat agresif, melempar barang-
 Kemampuan klien dalam
barang, dan berteriak tanpa motif
merasakan kebahagiaan menurun,
yang jelas. 
sehingga membuat klien semakin
 Ibu melaporkan bahwa klien tidak patuh dan kurang
berpikir ibunya yang perlu terapi, bersahabat
bukan dia; 
 Klien berhenti mandi, menyikat
 Klien berpikir bahwa ini adalah giginya, dan gagal menunjukkan
hidupnya dan dia dapat melakukan ekspresi emosional ketika berada
apa yang dia inginkan sendirian, di dekat orang tuanya. 
tanpa bantuan dokter; 
 Klien menjadi impulsif dan
 Klien berpikir bahwa dokter tidak mengambil tindakan tanpa
mengerti atau membantu; bahwa itu memikirkan konsekuensinya.
bukan salahnya; dan bahwa orang
lain dan keadaanlah yang harus
disalahkan. 

ANALISA DATA
Data Masalah
DS : Gangguan
Persepsi
 Klien merasa sangat tertekan bahwa ia akan mulai Sensorik :
mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk Halusinasi
melukai dirinya sendiri.  Pendengaran

 Klien dilaporkan berjuang dengan delusi sejak tahun


keduanya di sekolah menengah .

 Ibu klien melaporkan bahwa klien sangat agresif,


melempar barang-barang, dan berteriak tanpa motif yang
jelas. 

DO :

 Klien menjadi impulsif dan mengambil tindakan tanpa


memikirkan konsekuensinya.

 Kemampuan klien dalam merasakan kebahagiaan


menurun, sehingga membuat klien semakin tidak patuh
dan kurang bersahabat

DS : Isolasi Sosial

 Klien dilaporkan kesulitan dalam membentuk hubungan


yang bermakna dengan orang tua dan teman sebaya.

 Klien merasa tidak puas dan mengalami penurunan


minat sepanjang hari.

DO :

 Klien mengalami periode dimana dia menarik diri dan


mengisolasi dirinya dikamar sepanjang minggu, setiap
pulang sekolah , dan sepanjang hari saat akhir pekan.

 Klien memiliki libido rendah dan tidak tertarik pada


hubungan romantis.

 Klien menunjukkan ketidakmampuan dalam menangani


urusannya sendiri.

 Skala Global Assesment Functioning (GAF) adalah 60

DS : Waham Curigah

 Klien dilaporkan mengalami kondisi kecurigaan yang


berlebihan, juga persepsi menyimpang.

 Klien sulit untuk percaya bahwa dia tidak akan lagi di


kirim ke rumah sakit oleh orang tuanya. 

 Ibu melaporkan bahwa klien berpikir ibunya yang perlu


terapi, bukan dia; 

 Klien berpikir bahwa ini adalah hidupnya dan dia dapat


melakukan apa yang dia inginkan sendirian, tanpa
bantuan dokter; 

 Klien berpikir bahwa dokter tidak mengerti atau


membantu; bahwa itu bukan salahnya; dan bahwa orang
lain dan keadaanlah yang harus disalahkan. 

DO :

 Klien sibuk dengan tidur berlebihan dan terlambat ke


sekolah.

 Klien menunjukkan ketidakmampuan dalam menangani


urusannya sendiri.

 Klien berhenti mandi, menyikat giginya, dan gagal


menunjukkan ekspresi emosional ketika berada di dekat
orang tuanya. 

 Hubungan pribadi klien dengan ayah tirinya semakin


memburuk.

POHON MASALAH

Waham Curiga

Isolasi Sosial

Halusinasi Pendengaran
Ketidakpatuhan

Ketidakmampuan Gangguan identitas diri


Koping Keluarga
DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN

No. Diagnosa Rencana Tndakan Keperawatan Rasional


Keperawatan Tujuan Kriteria Hasil Intervensi
1. Gangguan Tujuan
Persepsi Umum:
Sensori : Klien tidak
Halusinasi menciderai
diri sendiri
atau orang
lain
ataupun
lingkungan  Membalas 1. Bina hubungan Hubungan
. sapaan saling percaya saling percaya
TUK 1 : perawat dengan merupakan
Klien dapat  Ekspresi menggunakan langkah awal
membina wajah prinsip menentukan
hubungan bersahabat komunikasi keberhasilan
saling dan senang terapeutik : rencana
percaya  Ada kontak  Sapa klien selanjutnya.
dengan mata dengan ramah Untuk
perawat.  Mau baik verbal mengurangi
berjabat maupun non kontak klien
tangan verbal dengan
 Mau  Perkenalkan halusinasinya
menyebutka diri dengan dengan
n nama sopan mengenal
 Tanyakan nama halusinasi akan
lengkap klien membantu
dan nama mengurangi dan
panggilan menghilangkan
kesukaan klien halusinasi
 Jelaskan
maksud dan
tujuan interaksi
 Berikan
perhatian pada
klien,
perhatikan
kebutuhan
dasarnya
2. Beri
kesempatan
klien untuk
mengungkapka
n perasaannya
3. Dengarkan
ungkapan klien
dengan empati

TUK 2 :  Klien dapat 1. Adakan kontak  Mengetahui


Klien dapat menyebutka sering dan apakah
mengenali n waktu, singkat secara halusinasi
halusinasn timbulnya bertahap datang dan
ya. halusinasi 2. Tanyakan apa menentukan
 Klien dapat yang didengar tindakan
mengidenti dari yang tepat
kasi kapan halusinasinya atas
frekuensi 3. Tanyakan halusinasiny
situasi saat kapan a.
terjadi halusinasinya  Mengenalka
halusinasi datang n pada klien
 Klien dapat 4. Tanyakan isi terhadap
mengungka halusinasinya halusinasiny
pkan 5. Bantu klien a dan
perasaannya mengenalkan mengidentif
. halusinasinya : ikasi faktor
 Jika pencetus
menemukan halusinasiny
klien sedang a.
berhalusinasi,  Menentukan
tanyakan tindakan
apakah ada yang sesuai
suara yang bagi klien
didengar untuk
 Jika klien mengontrol
menjawab ada, halusinasiny
laanjutkan apa a
yang dikatakan
 Katakan bahwa
perawat
percaya klien
mendengar
suara itu,
namun perawat
sendiri tidak
 Katakan bahwa
klien lain juga
ada yang
seperti klien
 Katakan bahwa
perawat akan
membantu klien
6. Diskusikan
dengan klien:
 Situasi yang
menimbulkan
atau tidak
menimbulkan
halusinasi
 Waktu,
frekuensi
terjadinya
halusinasi
7. Diskusikan
dengan klien
apa yang
dirasakan jika
terjadi
halusinasi
(marah, takut,
sedih, senang)
beri
kesempatan
mengungkapka
n perasaannya
TUK 3 :  Klien dapat 1. Identifikasi  Membantu
Klien mengidentif bersama klien klien
dapat ikasi tindakan yang menentukan
mengontrol tindakan biasa dilakukan cara
halusinasin yang bila terjadi mengontrol
ya. dilakukan halusinasi halusinasi.
untuk 2. Diskusikan  Periode
mengendali manfaat dan berlangsung
ka cara yang nya
halusinasin digunakan halusinasiny
ya klien, jika a:
 Klien dapat bermanfaat beri a. memberi
menunjukka pujian support
n cara baru 3. Diskusikan cara kepada
untuk baik memutus klien
mengontrol atau b. menambah
halusinasi. mengontrol pengetahuan
halusinasi : klien untuk
 Katakan ‘saya melakukan
tidak mau tindakan
dengar kamu pencegahan
(pada saat halusinasi
halusinasi
terjadi)
 Temui orang
lain (perawat
atau teman atau
anggota
keluarga) untuk
bercakap-cakap
ataumengataka
n halusinasi
yang didengar
 Membuat
jadwal kegiatan
sehari-hari
 Meminta
keluarga atau
teman atau
perawat untuk
menyapa klien
jika tampak
berbicara
sendiri,
melamun atau
kegiatan yang
tidak terkontrol
4. Bantu klien
memilih dan
melatih cara
memutus
halusinasi
secara bertahap
5. Beri
kesempatan
untuk
melakukan cara
yang dilatih.
evaluasi
hasilnya dan
beri pujian jika
berhasil.
6. Anjurkan klien
mengikuti
terapi aktivitas
kelompok. jenis
orientasi realita
atau stimulasi
persepsi
TUK 4 :  Klien dapat 1. Anjurkan klien  Membantu
Klien dapat memilih untuk memberi klien untuk
dukungan cara tahu keluarga beradaptasi
dari mengatasi jika mengalami dengan cara
keluarga halusinasi halusinasi. alternatife
untuk  Klien 2. Diskusikan yang ada.
mengontrol melaksanak dengan  Memberi
halusinasin an cara keluarga (pada motivasi
ya. yang telah saat keluarga agar cara
dipilih berkunjung atau diulang.
untuk kunjungan  Partisipasi
memutus rumah) : klien dalam
halusinasin  Gejala kegiatan
ya halusinasi yang tersebut
 Klien dapat dialami klien membantu
mengikuti  Cara yang klien
terapi dapat beraktivita
aktivitas dilakuakan sehingga
kelompok klien dan halusinasi
keluarga untuk tidak
memutus muncul.
halusinasi
 Cara merawat
anggota
keluarga yang
mengalami
halusinasi di
rumah: beri
kegiatan,
jangan biarkan
sendiri, makan
bersama,
bepergian
bersama.
 Beri informasi
wakto follow
up atau kapan
perlu mendapat
bantuan
halusinasi tidak
terkontrol dan
resiko
menciderai
orang lain.
3. Diskusikan
dengan
keluarga dan
klien tentang
jenis, dosis,
frekuensi dan
manfaat obat
4. Pastikan klien
minum obat
sesuai dengan
program dokter
TUK 5 :  Klien dan Anjurkan klien  Meningkatk
Klien dapat keluarga bicara dengan an
menggunak dapat dokter pengetahuan
an obat menyebutka tentang manfaat keluarga
dengan n manfaat, dan efek samping tentang
benar dosis dan obat obat.
untuk efek Diskusikan akibat  Membantu
mengendali samping berhenti obat mempercep
kan obat. tanpa konsultasi at
halusinasin  Klien 3. Bantu klien penyembuh
ya minum obat menggunakan obat an dan
secara dengan prinsip 5 memastikan
teratur benar obat sudah
 Klien dapat diminum
informasi oleh klien.
tentang  Meningkatk
manfaat dan an
efek pengetahuan
samping tentang
obat manfaat dan
 Klien dapat efek
memahami samping
akibat obat.
berhenti  Mengetahui
minum obat reaksi
tanpa setelah
konsultasi minum obat.
 Klien dapat  Ketepatan
menyebutka prinsip 5
n prinsip 5 benar
benar minum obat
penggunaan  Membantu
obat. penyembuh
an dan
menghindari
kesalahan
minum obat
serta
membantu
tercapainya
standar.
STRATEGI PELAKSANAAN (SP) :
SP 1 Pasien
1) Mengidentifikasi jenis halusinasi pasien
2) Mengidentifikasi isi halusinasi pasien
3) Mengidentifikasi waktu halusinasi pasien
4) Mengidentifikasi frekuensi halusinasi pasien
5) Mengidentifikasi situasi yang menimbulkan halusinasi
6) Mengidentifikasi respon pasien terhadap halusinasi
7) Mengajarkan pasien menghardik halusinasi
8) Menganjurkan pasien memasukkan cara menghardik halusinasi dan jadwal
kegiatan harian.
Sp 2 pasien :
1) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2) Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara bercakap-cakap
dengan orang lain
3) Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan sehari-hari
SP 3 Pasien
1) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2) Melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan melakukan
kegiatan(kegiatan yang biasa dilakukkan pasien).
3) Menganjurkan pasien memasukkan dalam kegiatan sehari-hari
SP 4 Pasien
1) Evaluasi jadwal pasien yang lalu (SP 1, 2, 3)
2) Menanyakan pengobatan sebelumnya
3) Menjelaskan tentang pengobatan
4) Melatih pasien minum obat (5 benar)
5) Masukkan jadwal

SP 1 Keluarga :
1) Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam rawat pasien.
2) Menjelaskan pengertian,tanda dan gejala halusinasi dsn jenis halusinasi
yang di alami pasien beserta proses terjadinya.
3) Menjelaskan cara-cara merawat pasien halusinasi.
Sp 2 Keluarga :
1) Melatih keluarga mempraktekkan cara merawat pasien dengan halusinasi.
2) Melatih keluarga melakukan cara merawat langsung kepada pasien
halusinasi
SP 3 Keluarga :
1) Membantu keluarga membuat jadwal kegiatan aktifitas dirumah termasuk
minum obat.
2) Menjelaskan follow up pasien setelah pulang
No. Diagnosa Rencana Tndakan Keperawatan Rasional
Keperawatan Tujuan Kriteria Hasil Intervensi
2. Isolasi Tujuan
Sosial Umum:
Klien dapat
berinteraks
i dengan
orang lain

TUK 1 :  Klien dapat 1) Bina hubungan Hubungan


Klien dapat mengungka saling percaya saling percaya
membina pkan dengan merupakan
hubungan perasaan menggunakan langkah awal
saling dan prinsip untuk
percaya. keberadaan komunikasi menentukan
nya secara terapeutik. keberhasilan
verbal. a. Sapa klien rencana
 Klien mau dengan ramah, selanjutnya.
menjawab baik verbal
salam. maupun non
 Klien mau verbal.
berjabat b. Perkenalkan
tangan. diri dengan
 Klien mau sopan.
menjawab c. Tanya nama
pertanyaan. lengkap klien
 Ada kontak dan nama
mata. panggilan yang
 Klien mau disukai klien.
duduk d. Jelaskan tujuan
berdamping pertemuan.
an dengan e. jujur dan
perawat. menepati janji.
f. Tunjukan sikap
empati dan
menerima klien
apa adanya.
g. Beri perhatian
pada klien.
TUK 2 : Klien dapat 1. Kaji Dengan
Klien dapat menyebutkan pengetahuan mengetahui
menyebutk penyebab klien tentang tanda-tanda dan
an menarik diri perilaku gejala menarik
penyebab yang berasal menarik diri diri akan
menarik dari : dan tanda- menentukan
diri a. Diri sendiri tandanya. langkah
b. Orang lain 2. Beri intervensi
c. Lingkungan kesempatan selanjutnya.
klien untuk
mengungkapka
n perasaan
penyebab
menarik diri
atau tidak mau
bergaul.
3. Diskusikan
bersama klien
tentang
qperilaku
menarik diri,
tanda dan
gejala.
4. Berikan pujian
terhadap
kemampuan
klien
mengungkapka
n perasaanya.
TUK 3 :  Klien dapat 1. Kaji Reinforcemen
Klien dapat menyebutka pengetahuan dapat
menyebutk n klien tentang meningkatkan
an keuntungan keuntungan dan harga diri.
keuntunga berhubunga manfaat bergaul
berhubung n dengan dengan orang
an dengan orang lain, lain.
orang lain misal 2. Beri
dan banyak kesempatan
kerugian teman, tidak klien untuk
tidak sendiri, bisa mengungkapka
berhubung diskusi, dll. n perasaannya
an dengan  Klien dapat tentang
orang lain menyebutka keuntungan
n kerugian berhubungan
tidak dengan orang
berhubunga lain.
n dengan 3. Diskusikan
orang lain bersama klien
misal: tentang manfaat
sendiri berhubungan
tidak punya dengan orang
teman, sepi, lain.
dll. 4. Kaji
pengetahuan
klien tentang
kerugian bila
tidak
berhubungan
dengan orag
lain.
5. Beri kesmpatan
kepada klien
untuk
mengungkapka
n perasaan
tentang
kerugian bila
tidak
berhubungan
dngan orang
lain.
6. Diskusikan
bersama klien
tentang
kerugian tidak
berhubungan
dengan orang
lain.
7. Beri
reinforcement
positif terhadap
kemampuan
mengungkapka
n perasaan
tentang
kerugian tidak
berhubungan
dengan orang
lain.
TUK 4 : Klien dapat 1. Kaji Mengetahui
Klien dapat mendemonstras kemampuan sejauh mana
melaksana ikan hubungan klien membina pengetahuan
nkan sosial secara hubungan klien tentang
hubungan bertahap: dengan orang berhubungan
sosial a. Klien- lain. dengan orang
secara perawat 2. Dorong dan lain.
bertahap b. Klien- bantu klien
perawat- untukberhubun
perawat lain gan dengan
c. Klien- orang lain
perawat- melalui:
perawat a. Klien-perawat
lain-klien b. Klien-perawat-
lain perawat lain
d. Klien- c. Klien-perawat-
kelompok perawat lain-
kecil klien lain.
e. Klien- d. Klien-
keluarga/kel kelompok kecil
ompok/mas e. Klien-
yarakat keluarga/kelom
pok/masyarakat
3. Beri
reinforcement
terhadap
keberhasilan
yang yang telah
dicapai dirumah
nanti.
4. Bantu klien
untuk
menevaluasi
manfaat
berhubungan
dengan orang
lain.
5. Diskusikan
jadwal harian
yang dapat
dilakukan
bersama klien
dalam mengisi
waktu.
6. Motivasi klien
untuk
mengikuti
kegiatan Terapi
Aktivitas
Kelompok
sosialisasi
7. Beri
reinforcement
atas kegiatan
klien dalam
kegiatan
ruangan.
TUK 5 : Klien dapat 1. Dorong klien Agar klien lebih
Klien dapat mengungkapka untuk percaya diri
mengungka n perasaan mengungkapka berhubungan
pkan setelah n perasaanya dengan orang
perasaanya berhubungan bila lain.
setelah dengan orang berhubungan Mengetahui
berhubung lain untuk: dengan orang sejauh mana
an dengan • Diri sendiri lain. pengetahuan
orang lain • Orang lain 2. Diskusikan klien tentang
dengan klien kerugian bila
manfaat tidak
berhubungan berhubungan
dengan orang dengan orang
lain. lain
3. Beri
reinforcement
positif atas
kemampuan
klien
mengungkapka
n perasaan
manfaat
berhubungan
dengan orang
lain.
TUK 6 : Keluarga dapat: 1. BHSP dengan Agar klien lebih
Klien dapat a. Menjelaska keluarga. percaya diri dan
memberda n  Salam, tahu akibat
yakan perasaannya perkenalan diri. tidak
sistem .  Sampaikan berhubungan
pendukun b. Menjelaska tujuan. dengan orang
atau n cara  Membuat lain.
keluarga merawat kontrak.
atau klien  Exsplorasi Mengetahui
keluarga menarik perasaan sejauh mana
mampu diri. keluarga. pengetahuan
mengemba c. Mendemons 2. Diskusikan klien tentang
ngkan trasikan dengan anggota membina
kemampua cara keluarga hubungan
n klien perawatan tentang: dengan orang
untuk klien a. Perilaku lain.
berhubung menarik menarik diri.
an dengan diri. b. Penyebab
orang d. Berpartisipa perilaku
lain. si dalam menarik diri.
perawatan c. Cara keluarga
klien menghadapi
menarik klien yang
diri. sedang menarik
diri.
3. Dorong anggota
keluarga untuk
memberikan
dukungan
kepada klien
berkomunikasi
dengan orang
lain.
4. Anjurkan
anggota
keluarga untuk
secara rutin dan
bergantian
mengunjungi
klien minimal
1x seminggu
5. Beri
reinforcement
atas hal-hal
yang telah
dicapai oleh
keluarga.

STRATEGI PELAKSANAAN (SP)


SP 1 Pasien :
1. Identifikasi penyebab:
a. Siapa yang satu rumah dengan pasien?
b. Siapa yang dekat dengan pasien? Dan apa sebabnya ?
c. Siapa yang tidak dekat dengan pasien? Apa penyebabnya?
2. Keuntungan dan kerugian berinteraksi dengan orang lain
3. Latihan berkenalan
4. Masukkan jadwal kegiatan pasien

SP 2 Pasien
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan harian klien (SP 1).
2. Melatih berhubungan social secara bertahap ( pasien dan keluarga)
3. Memasukkan kedalam jadwal kegiatan harian.

SP 3 Pasien
1. Mengevaluasi kegiatan yang lalu (SP 1 dan 2).
2. Latih ADL (Kegiatan sehari –hari), cara bicara.
3. Masukkan dalam kegiatan jadwal klien.

SP 1 Keluarga
1. Mendiskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat klien.
2. Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala isolasi sosial serta proses
terjadinya.
3. Menjelaskan cara merawat klien dengan isolasi sosial.
4. Bermain peran dalam merawat pasien isolasi sosial (Simulasi)
5. Menyusun RTL keluarga/jadwal keluarga untuk merawat klien.
SP 2 Keluarga
1. Evaluasi kemampuan keluarga (SP 1).
2. Melatih keluarga merawat langsung klien dengan isolasi sosial.
3. Menyusun RTL keluarga/jadwal keluarga untuk merawat klien.
SP 3 Keluarga
1. Evaluasi kemampuan keluarga (SP 1, 2).
2. Evaluasi kemampuan klien
3. Rencana tindak lanjut keluarga dengan follow up dan rujukan.

No. Diagnosa Rencana Tndakan Keperawatan Rasional


Keperawatan Tujuan Kriteria Hasil Intervensi
3. Waham Tujuan
Curigah Umum:
Klien dapat
berkomunk
asi dengan
baik dan
terarah

TUK 1 :  Ekspresi 1. Bina hubungan Hubungan


Klien dapat wajah saling percaya saling percaya
membina bersahabat dengan menjadi dasar
hubungan  Ada kontak menggunakan interaksi
saling mata prinsip selanjutnya
percaya  Mau komunikasi sehingga dapat
berjabat terapeutik : terbina
tangan  Sapa klien hubungan
 Mau dengan ramah saling percaya
menjawab baik verbal dan klien lebih
salam maupun non terbuka merasa
 Klien mau verbal aman dan mau
duduk  Perkenalkan berinteraksi.
berdamping diri dengan
an sopan Meningkatkan
 Klien mau  Tanyakan nama orientasi klien
mengutarak lengkap dan pada realita dan
an rasanya nama panggilan meningkatkan
yang disukai rasa percaya
 Jelaskan tujuan klien pada
pertemuan Jujur perawat
dan menepati
janji
 Tunjukan sikap
empati dan
menerima klien
apa adanya
2. Jangan
membantah dan
mendukung
waham klien
 Katakan
perawat
menerima
keadaan
keyakinan
klien. “saya
menerima
keyakinan anda
“.
 Katakan
perawat tidak
mendukung.
“sukar bagi
saya untuk
dapat
mempercayainy
a”.
3. Yakinkan klien
dalam keadaan
aman dan
terlindung.
 “ anda berada
di tempat yang
aman dan
terlindung”
 Gunakan
keterbukaan
dan kejujuran,
jangan
tinggalkan klien
sendirian.
TUK 2 :  Klien 1. Beri pujian Reinforcement
Klien dapat mampu pada adalah penting
mengidenti mempertaha penampilan dan Untuk
fikasikan nkan kemampuan meningkatkan
kemampua aktivitas klien yang kesabaran diri
n yang sehari-hari realistis. klien.
dimiliki  Klien dapat 2. Diskusikan
mengontrol dengan klien Mengetahui
wahamnya kemampuan penyebab
yang dimiliki curiga dan
pada waktu lalu intervensi
dan saat ini selanjutnya.
yang realistis.
(hari-hari
terlibat diskusi
dengan
waham).
3. Tanyakan apa
yang bisa
dilakukan
(kaitkan dengan
aktivitas sehari-
hari dan
perawatan diri)
kemudian
anjurkan untuk
melakukan saat
ini.
4. Jika klien selalu
bicara tentang
wahamnya
dengarkan
sampai
kebutuhan
waham tidak
ada. (perawat
perlu
memperhatikan
bahwa klien
penting).
TUK 3 :  Kebutuhan 1. Observasi Dengan
Klien dapat klien kebutuhan klien meningkatkan
mengidenti terpenuhi sehari-hari aktivitas tidak
fikasi  Klien dapat 2. Diskusikan akan
kebutuhan melakukan kebutuhan klien mempunyai
yang tidak aktivitas yang tidak waktu untuk
terpenuhi secara terpenuhi mengikuti
terarah selama di wahamnya.
 Klien tidak rumah maupun
menggunak di rumah sakit.
an/membica 3. Hubungkan
rakan kebutuhan yang
wahamnya tidak terpenuhi
dengan
timbulnya
waham
4. Tingkatkan
aktivitas yang
dapat
memenuhi
kebutuhan klien
dan
memerlukan
waktu dan
tenaga.
5. Atur situasi
agar klien tidak
mempunyai
waktu untuk
menggunakan
wahamnya

TUK 4 :  Klien 1. Berbicara Reinforcement


Klien dapat mampu dengan klien adalah penting
berhubung berbicara dalam konteks untuk
an dengan secara realitas (realitas meningkatkan
realitas. realitas diri,realitas kesadaran klien
 Klien orang lain, akan realitas
mengikuti waktu dan
terapi tempat)
aktivitas 2. Sertakan klien
kelompok dalam terapi
aktivitas
kelompok :
orientasi
realitas
3. Berikan pujian
pada tiap
kegiatan positif
yang dilakukan
klien.
TUK 5 :  Keluarga 1. Diskusikan Perhatian
Klien dapat dapat dengan keluarga dan
dukungan membina keluarga pengertian
keluarga hubungan tentang. keluarga akan
saling  Gejala waham dapat
percaya  Cara membantu klien
dengan merawatnya dalam
perawat  Lingkungan mengendalikan
 Keluarga keluarga wahamnya
dapat  Follow up dan
menyebutka obat
n 2. Anjurkan
pengertian, keluarga
tanda dan melaksanakan
tindakan dengan bantuan
untuk perawat
merawat
klien
dengan
waham
TUK 6 : 1. Klien 1. Diskusikan Obat dapat
Klien dapat menyebutka dengan klien mengontrol
menggunak n manfaat, dan keluarga waham yang
an obat dosis dan tentang obat, dialami klien
dengan efek dosis,
benar samping frekuensi, efek
obat dan akibat
2. Klien dapat penghentian
mendemons 2. Diskusikan
trasikan perasaan klien
penggunaan setelah makan
obat dengan obat
benar 3. Berikan obat
3. Klien dengan prinsip
memahami 5 benar dan
akibat observasi
berhentinya setelah makan
obat tanpa obat
konsultasi
4. Klien dapat
menyebutka
n prinsip
dalam
penggunaan
obat
STRATEGI PELAKSANAAN (SP) :
SP 1 Pasien :
1) Mengidentifikasi kebutuhan.
2) Klien bicara konteks realita.
3) Latih pasien untuk memenuhi kebutuhannya.
4) Masukan dalam jadwal kegiatan pasien.
SP 2 Pasien :
1) Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1)
2) Identifikasi potensi/kemampuasn yang dimiliki.
3) Pilih dan latih potensi kemampuan yang dimiliki
4) Masukan dalam jadwal kegiatan pasien.
SP 3 Pasien :
1) Evaluasi kegiatan yang lalu ( SP 1 dan 2)
2) Memilih kemampuan lain yang dapat dilakukan.
3) Pilih dan latih potensi kemampuan lain yang dimiliki.
4) Masukan dalam jadwal

SP 1 Keluarga
1) Mengidentifikasi masalah keluarga dalam merawat pasien.
2) Menjelaskan proses terjadinya waham.
3) Menjelaskan tentang cara merawat pasien waham.
4) Latih (stimulasi) cara merawat.
5) RTL keluarga/jadwal untuk merawat pasien.
SP 2 Keluarga
1) Evaluasi kemampuan keluarga (SP 1).
2) Melatih keluarga merawat langsung klien dengan harga diri rendah.
3) Menyusun RTL keluarga/jadwal keluarga untuk merawat klien.
SP 3 Keluarga
1) Evaluasi kemampuan keluarga (SP 1).
2) Evaluasi kemampuan klien
3) Rencana tindak lanjut keluarga dengan follow up dan rujukan.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SPTK)
PADA KLIEN HALUSINASI

A. Tindakan Keperawatan Pada Pasien


SP 1 Pasien :
Membantu pasien mengenal halusinasi, menjelaskan cara-cara mengontrol
halusinasi, mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara pertama:
menghardik halusinasi
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) :
1. Fase Prainteraksi
Kondisi : Klien merasa sangat tertekan bahwa ia akan mulai mendengar suara-
suara yang menyuruhnya untuk melukai dirinya sendiri. Klien menjadi
impulsif dan mengambil tindakan tanpa memikirkan konsekuensinya. Ibu
klien melaporkan bahwa klien sangat agresif, melempar barang-barang, dan
berteriak tanpa motif yang jelas. 
Diagnosa Keperawatan : Gangguan persepsi sensori; halusinasi pendengaran
Tujuan Khusus : TUK 1, 2, 3,
Intervensi : SP1 Pasien
2. Fase Orientasi:
 ”Selamat pagi Paul. Saya perawat yang akan merawat Paul. Nama Saya
Kevin Brandon, Biasa dipanggil Kevin. Bagaimana dengan Paul? Paul
Senang dipanggil apa?”
 ”Bagaimana perasaan Paul hari ini? Apa keluhan Paul saat ini”
 ”Baiklah, bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang suara yang selama
ini Paul dengar tetapi tak tampak wujudnya?
 Paul nyamannya bercakap-cakap dimana? Di ruang tamu?
 Paul bisa berapa lama? Bagaimana kalau 30 menit”?
3. Fase Kerja:
 ”Apakah Paul mendengar suara tanpa ada wujudnya?Apa yang dikatakan
suara itu?”
 ” Apakah terus-menerus terdengar atau sewaktu-waktu? Kapan yang
paling sering Paul dengar suara?
 Berapa kali sehari Paul alami? Pada keadaan apa suara itu terdengar?
Apakah pada waktu sendiri?”
 ” Apa yang Paul rasakan pada saat mendengar suara itu?”
 ”Apa yang Paul lakukan saat mendengar suara itu? Apakah dengan cara itu
suara-suara itu hilang? Bagaimana kalau kita belajar cara-cara untuk
mencegah suara-suara itu muncul?
 ”Paul , ada empat cara untuk mencegah suara-suara itu muncul. Pertama,
dengan menghardik suara tersebut. Kedua, dengan cara bercakap-cakap
dengan orang lain. Ketiga, melakukan kegiatan yang sudah terjadwal, dan
yang ke empat minum obat dengan teratur.”
 ”Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan menghardik”.
 ”Caranya sebagai berikut: saat suara-suara itu muncul, langsung Paul
bilang, pergi saya tidak mau dengar, … Saya tidak mau dengar. Kamu
suara palsu. Begitu diulang-ulang sampai suara itu tak terdengar lagi. Coba
Paul peragakan! Nah begitu, … bagus! Coba lagi! Ya bagus Paul sudah
bisa”
4. Fase Terminasi:
 ”Bagaimana perasaan Paul setelah peragaan latihan tadi?” Kalau suara-
suara itu muncul lagi, silakan coba cara tersebut ! bagaimana kalu kita buat
jadwal latihannya. Mau jam berapa saja latihannya? (Saudara masukkan
kegiatan latihan menghardik halusinasi dalam jadwal kegiatan harian
pasien). Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk belajar dan latihan
mengendalikan suara-suara dengan cara yang kedua? Jam berapa Paul?
Bagaimana kalau dua jam lagi? Berapa lama kita akan berlatih? Dimana
tempatnya”
 ”Baiklah, sampai jumpa.Selamat pagi”.

SP 2 Pasien :
Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara kedua: bercakap-cakap
dengan orang lain.
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK)
1. Fase Prainteraksi
Kondisi : Klien sudah mengenal isi halusinasinya suara yg tidak ada wujudnya
dan sudah berlatih menghardik bila suara itu muncul.
Diagnosa Keperawatan : Gangguan persepsi sensori; halusinasi pendengaran
Tujuan Khusus : TUK 3
Intervensi : SP 2 Pasien
2. Fase Orientasi:
 “ Selamat pagi Paul. Bagaimana perasaan Paul hari ini? Apakah suara-
suaranya masih muncul ?
 Apakah sudah dipakai cara yang telah kita latih ?Berkurangkan suara-
suaranya? Bagus ! Sesuai janji kita tadi saya akan latih cara kedua untuk
mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Kita
akan latihan selama 20 menit. Mau di mana? Di sini saja?
3. Fase Kerja:
 “Cara kedua untuk mencegah/mengontrol halusinasi yang lain adalah
dengan bercakap-cakap dengan orang lain. Jadi kalau Paul mulai
mendengar suara-suara, langsung saja cari teman untuk diajak ngobrol.
Minta teman untuk ngobrol dengan Paul. Contohnya begini; … tolong,
saya mulai dengar suara-suara. Ayo ngobrol dengan saya! Atau kalau ada
orang dirumah misalnya Ibu katakan: Bu, ayo ngobrol dengan Paul. Paul
sedang dengar suara-suara. Begitu Paul. Coba Paul lakukan seperti saya
tadi lakukan. Ya, begitu. Bagus! Coba sekali lagi! Bagus! Nah, latih terus
ya D!”
4. Fase Terminasi:
 “Bagaimana perasaan Paul setelah latihan ini? Jadi sudah ada berapa cara
yang Paul pelajari untuk mencegah suara-suara itu? Bagus, cobalah kedua
cara ini kalau Paul mengalami halusinasi lagi.
 Bagaimana kalau kita masukkan dalam jadwal kegiatan harian Paul. Mau
jam berapa latihan bercakap-cakap? Nah nanti lakukan secara teratur serta
sewaktu-waktu suara itu muncul! Besok pagi saya akan ke mari lagi.
 Bagaimana kalau kita latih cara yang ketiga yaitu melakukan aktivitas
terjadwal? Mau jam berapa?
 Bagaimana kalau jam 10.00? Mau di mana/ Di sini lagi? Sampai besok ya.
Selamat pagi”.

SP 3 Pasien :
Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga: melaksanakan
aktivitas terjadwal
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK)
1. Fase Prainteraksi
Kondisi : Klien sudah berlatih cara mengontrol halusinasi cara yg kedua yaitu
bercakap dengan orang lain saat halusinasi muncul. Pasien masih mendengar
suara itu dimalam hari tetapi hanya sebentar.
Diagnosa Keperawatan : Gangguan persepsi sensori; halusinasi pendengaran
Tujuan Khusus : TUK 3
Intervensi : SP 3 Pasien
2. Fase Orientasi :
 “Selamat pagi Paul. Bagaimana perasaan Paul hari ini? Apakah suara-
suaranya masih muncul ?
 Apakah sudah dipakai dua cara yang telah kita latih ? Bagaimana
hasilnya ? Bagus !
 Sesuai janji kita, hari ini kita akan belajar cara yang ketiga untuk
mencegah halusinasi yaitu melakukan kegiatan terjadwal. Mau di mana
kita bicara? Baik kita duduk di ruang tamu.
 Berapa lama kita bicara? Bagaimana kalau 30 menit? Baiklah.”
3. Fase Kerja :
 “Apa saja yang biasa Paul lakukan? Pagi-pagi apa kegiatannya, terus jam
berikutnya (terus ajak sampai didapatkan kegiatannya sampai malam).
Wah banyak sekali kegiatannya. Mari kita latih dua kegiatan hari ini (latih
kegiatan tersebut). Bagus sekali Paul bisa lakukan. Kegiatan ini dapat Paul
lakukan untuk mencegah suara tersebut muncul. Kegiatan yang lain akan
kita latih lagi agar dari pagi sampai malam ada kegiatan.
4. Fase Terminasi :
 “Bagaimana perasaan Paul setelah kita bercakap-cakap cara yang ketiga
untuk mencegah suara-suara? Bagus sekali!
 Coba sebutkan 3 cara yang telah kita latih untuk mencegah suara-suara.
Bagus sekali! Mari kita masukkan dalam jadwal kegiatan harian Paul.
 Coba lakukan sesuai jadwal ya!(Saudara dapat melatih aktivitas yang lain
pada pertemuan berikut sampai terpenuhi seluruh aktivitas dari pagi
sampai malam)
 Bagaimana kalau menjelang makan siang nanti, kita membahas cara
minum obat yang baik serta guna obat.
 Mau jam berapa? Bagaimana kalau jam 12.00 pagi?Di ruang makan ya!
Sampai jumpa. Selamat pagi.

SP 4 Pasien : Melatih pasien menggunakan obat secara teratur


Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK)
1. Fase Prainteraksi
Kondisi : Pasien sudah jarang mendengar suara halusinasinya. Sudah mampu
mempraktekkan cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dan
membuat jadual harian.
Diagnosa Keperawatan : Gangguan persepsi sensori; halusinasi
pendengaranTujuan Khusus : TUK 6
Intervensi : SP 4 Pasien
2. Fase Orientasi:
 “Selamat pagi Paul. Bagaimana perasaan Paul hari ini? Apakah suara-
suaranya masih muncul ?
 Apakah sudah dipakai tiga cara yang telah kita latih ? Apakah jadwal
kegiatannya sudah
dilaksanakan ?
 Apakah pagi ini sudah minum obat? Baik. Hari ini kita akan
mendiskusikan tentang obat-obatan yang Paul minum. Kita akan diskusi
selama 20 menit sambil menunggu makan siang. Di sini saja ya Paul?”
3. Fase Kerja:
 “Paul adakah bedanya setelah minum obat secara teratur. Apakah suara-
suara berkurang/hilang ?
 Minum obat sangat penting supaya suara-suara yang Paul dengar dan
mengganggu selama ini tidak muncul lagi.
 Berapa macam obat yang Paul minum ? (Perawat menyiapkan obat pasien)
Ini yang
 warna orange (CPZ) 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam
gunanya untuk menghilangkan suara-suara. Ini yang putih (THP) 3 kali
sehari jam nya sama gunanya untuk rileks dan tidak kaku. Sedangkan yang
merah jambu (HP) 3 kali sehari jam nya sama gunanya untuk pikiran biar
tenang. Kalau suara-suara sudah hilang obatnya tidak boleh diberhentikan.
Nanti konsultasikan dengan dokter, sebab kalau putus obat, Paul akan
kambuh dan sulit untuk mengembalikan ke keadaan semula.
 Kalau obat habis Paul bisa minta ke dokter untuk mendapatkan obat lagi.
Paul juga harus teliti saat menggunakan obat-obatan ini. Pastikan obatnya
benar, artinya Paul harus memastikan bahwa itu obat yang benar-benar
punya Paul. Jangan keliru dengan obat milik orang lain. Baca nama
kemasannya. Pastikan obat diminum pada waktunya, dengan cara yang
benar. Yaitu diminum sesudah makan dan tepat jamnya. D juga harus
perhatikan berapa jumlah obat sekali minum, dan harus cukup minum 10
gelas per hari”
4. Fase Terminasi:
 “Bagaimana perasaan Paul setelah kita bercakap-cakap tentang obat?
Sudah berapa cara yang kita latih untuk mencegah suara-suara? Coba
sebutkan! Bagus! (jika jawaban benar).
 Mari kita masukkan jadwal minum obatnya pada jadwal kegiatan Paul.
Jangan lupa pada waktunya minta obat pada perawat atau pada keluarga
kalau di rumah.
 Nah makanan sudah datang. Besok kita ketemu lagi untuk melihat manfaat
4 cara mencegah suara yang telah kita bicarakan. Mau jam berapa?
Bagaimana kalau jam 10.00. sampai jumpa. Selamat pagi.
B. Tindakan Keperawatan Kepada Keluarga
Tujuan:
 Keluarga dapat terlibat dalam perawatan pasien
 Keluarga dapat menjadi sistem pendukung yang efektif untuk pasien.
Tindakan Keperawatan
1) Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien
2) Berikan pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi
yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi, proses terjadinya halusinasi,
dan cara merawat pasien halusinasi.
3) Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara merawat
pasien dengan halusinasi langsung di hadapan pasien
4) Buat perencanaan pulang dengan keluarga

SP 1 Keluarga :
Pendidikan Kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi yang
dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi dan cara-cara merawat pasien
halusinasi.
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK)
1. Fase Prainteraksi
Kondisi : Klien sudah berlatih cara mengontrol halusinasi di rumah sakit dan
memanfaatkan obat dengan benar. Keluarga mengunjungi klien dan terlihat
sedih dan bingung dengan kondisi klien
Diagnosa Keperawatan : Gangguan persepsi sensori; halusinasi pendengaran
Tujuan Khusus : TUK 5
Intervensi : SP 1 Keluarga
2. Fase Orientasi:
 “ Selamat pagi Bapak/Ibu!”“Saya Kevin Brandon, perawat yang merawat
anak Bapak/Ibu.”
 “Bagaimana perasaan Bapak/Ibu hari ini? Apa pendapat Bapak/Ibu tentang
anak Bapak/Ibu?”
 “Hari ini kita akan berdiskusi tentang apa masalah yang anak Bapak/Ibu
alami dan bantuan apa yang Bapak/Ibu bisa berikan.”
 “Kita mau diskusi di mana? Bagaimana kalau di ruang wawancara?
Berapa lama waktu bapak/Ibu inginkan? Bagaimana kalau 30 menit”
3. Fase Kerja:
 “Apa yang Bpk/Ibu rasakan menjadi masalah dalam merawat Paul. Apa
yang Bpk/Ibu lakukan?”
 “Ya, gejala yang dialami oleh anak Bapak/Ibu itu dinamakan halusinasi,
yaitu mendengar sesuatu yang sebetulnya tidak ada bendanya. ”Tanda-
tandanya bicara dan tertawa sendiri,atau marah-marah tanpa sebab”
 “Jadi kalau anak Bapak/Ibu mengatakan mendengar suara-suara,
sebenarnya suara itu tidak ada.”
 ”Untuk itu kita diharapkan dapat membantunya dengan beberapa cara.
Ada beberapa cara untuk membantu anak Bapak/Ibu agar bisa
mengendalikan halusinasi. Cara-cara tersebut antara lain:
Pertama, dihadapan anak Bapak/Ibu, jangan membantah halusinasi atau
menyokongnya. Katakan saja Bapak/Ibu percaya bahwa anak tersebut
memang mendengar suara, tetapi Bapak/Ibu sendiri tidak mendengarnya”.
Kedua, jangan biarkan anak Bapak/Ibu melamun dan sendiri, karena kalau
melamun halusinasi akan muncul lagi. Upayakan ada orang mau bercakap-
cakap dengannya. Buat kegiatan keluarga seperti makan bersama, sholat
bersama-sama. Tentang kegiatan, saya telah melatih anak Bapak/Ibu untuk
membuat jadwal kegiatan sehari-hari. Tolong Bapak/Ibu pantau
pelaksanaannya, ya dan berikan pujian jika dia lakukan!”
Ketiga, bantu anak Bapak/Ibu minum obat secara teratur. Jangan
menghentikan obat tanpa konsultasi. Terkait dengan obat ini, saya juga
sudah melatih anak Bapak/Ibu untuk minum obat secara teratur. Jadi
bapak/Ibu dapat mengingatkan kembali. Obatnya ada 3 macam, ini yang
orange namanya CPZ gunanya untuk menghilangkan suara-suara .
Diminum 3 X sehari pada jam 7 pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam. Yang
putih namanya THP gunanya membuat rileks, jam minumnya sama
dengan CPZ tadi. Yang biru namanya HP gunanya menenangkan cara
berpikir, jam minumnya sama dengan CPZ. Obat perlu selalu diminum
untuk mencegah kekambuhan”
 ”Terakhir, bila ada tanda-tanda halusinasi mulai muncul, putus halusinasi
anak Bapak/Ibu dengan cara menepuk punggung anak Bapak/Ibu.
Kemudian suruhlah anak Bapak/Ibu menghardik suara tersebut. Anak
Bapak/Ibu sudah saya ajarkan cara menghardik halusinasi”.
 ”Sekarang, mari kita latihan memutus halusinasi anak Bapak/Ibu. Sambil
menepuk punggung anak Bapak/Ibu, katakan: Paul, sedang apa kamu?
Kamu ingat kan apa yang diajarkan perawat bila suara-suara itu datang?
Ya..Usir suara itu, Paul. Tutup telinga kamu dan katakan pada suara itu
”saya tidak mau dengar”. Ucapkan berulang-ulang, Paul”
 ”Sekarang coba Bapak/Ibu praktekkan cara yang barusan saya ajarkan”
 ”Bagus Pak/Bu”
4. Fase Terminasi:
 “Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah kita berdiskusi dan latihan
memutuskan halusinasi anak Bapak/Ibu?”
 “Sekarang coba Bapak/Ibu sebutkan kembali tiga cara merawat anak
bapak/Ibu”
 ”Bagus sekali Pak/Bu. Bagaimana kalau dua hari lagi kita bertemu untuk
mempraktekkan cara memutus halusinasi langsung dihadapan anak
Bapak/Ibu”
 ”Jam berapa kita bertemu?” Baik, sampai Jumpa. Selamat pagi.

SP 2 Keluarga: Melatih keluarga praktek merawat pasien langsung


dihadapan pasien.
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK)
1. Fase Prainteraksi
Kondisi : Keluarga sudah mendapatkan penjelasan tentang kondisi klien dan
cara merawatnya dirumah
Diagnosa Keperawatan : Gangguan persepsi sensori; halusinasi pendengaran
Tujuan Khusus : TUK 5
Intervensi : SP 1 Keluarga
2. Fase Orientasi:
 “ Selamat pagi”
 “Bagaimana perasaan Bapak/Ibu pagi ini?”
 ”Apakah Bapak/Ibu masih ingat bagaimana cara memutus halusinasi anak
Bapak/Ibu yang sedang mengalami halusinasi?Bagus!”
 ” Sesuai dengan perjanjian kita, selama 20 menit ini kita akan
mempraktekkan cara
 memutus halusinasi langsung dihadapan anak Bapak/Ibu”.
 ”mari kita datangi Anak bapak/Ibu”
3. Fase Kerja:
 ” Selamat pagi Paul” ” Paul, Bapak//Ibu Paul sangat ingin membantu Paul
mengendalikan suara-suara yang sering Paul dengar. Untuk itu pagi ini
Bapak/Ibu Paul datang untuk mempraktekkan cara memutus suara-suara
yang Paul dengar. Paul nanti kalau sedang dengar suara-suara bicara atau
tersenyum-senyum sendiri, maka Bapak/Ibu akan mengingatkan seperti
ini” ”Sekarang, coba Bapak/Ibu peragakan cara memutus halusinasi yang
sedang Paul alami seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya. Tepuk
punggung Paul lalu suruh Paul mengusir suara dengan menutup telinga
dan menghardik suara tersebut” (saudara mengobservasi apa yang
dilakukan keluarga terhadap pasien) Bagus sekali!
 Bagaimana Paul? Senang dibantu Bapak/Ibu? Nah Bapak/Ibu ingin
melihat jadwal harian Paul. (Pasien memperlihatkan dan dorong orang tua
memberikan pujian) Baiklah, sekarang saya dan orang tua Paul ke ruang
perawat dulu” (Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk
melakukan terminasi dengan keluarga).
4. Fase Terminasi:
 “Bagaimana perasaan Bapak/Ibu setelah mempraktekkan cara memutus
halusinasi langsung dihadapan anak Bapak/Ibu”
 ”Dingat-ingat pelajaran kita hari ini ya Pak/Bu. Bapak/Ibu dapat melakukan
cara itu bila anak Bapak/Ibu mengalami halusinasi”.
 “Bagaimana kalau kita bertemu dua hari lagi untuk membicarakan tentang
jadwal kegiatan harian anak Bapak/Ibu untuk persiapan di rumah. Jam
berapa Bapak/Ibu bisa datang?Tempatnya di sini ya. Sampai jumpa.”
SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK)
1. Fase Prainteraksi
Kondisi : Keluarga sudah mengerti cara merawat klien dirumah dan sudah
dilatih langsung ke klien. Kondisi klien sudah mampu memulai tidak
mendengar suara halusinasinya lagi
Diagnosa Keperawatan : Gangguan persepsi sensori; halusinasi pendengaran
Tujuan Khusus : TUK 5
Intervensi : SP 3 Keluarga
2. Fase Orientasi
 “Selamat pagi Pak/Bu, karena besok Paul sudah boleh pulang, maka sesuai
janji kita sekarang ketemu untuk membicarakan jadwal Paul selama
dirumah”
 “Bagaimana pak/Bu selama Bapak/Ibu membesuk apakah sudah terus
dilatih cara merawat Paul?”
 “Nah sekarang kita bicarakan jadwal Paul di rumah? Mari kita duduk di
ruang perawat!”
 “Berapa lama Bapak/Ibu ada waktu? Bagaimana kalau 30 menit?”
3. Fase Kerja
 “Ini jadwal kegiatan Paul di rumah sakit. Jadwal ini dapat dilanjutkan di
rumah. Coba Bapak/Ibu lihat mungkinkah dilakukan di rumah. Siapa yang
kira-kira akan memotivasi dan mengingatkan?”
 “Pak/Bu jadwal yang telah dibuat selama Paul di rumah sakit tolong
dilanjutkan dirumah, baik jadwal aktivitas maupun jadwal minum
obatnya”
 “Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang
ditampilkan oleh anak ibu dan bapak selama di rumah.Misalnya kalau B
terus menerus mendengar suara-suara yang mengganggu dan tidak
memperlihatkan perbaikan, menolak minum obat atau memperlihatkan
perilaku membahayakan orang lain. Jika hal ini terjadi segera hubungi
Suster B di Puskesmas terdekat dari rumah Bapak/Ibu, ini nomor telepon
puskesmasnya: (0321) 554xxx
 Selanjutnya suster B yang akan membantu memantau perkembangan Paul
selama di rumah.
4. Terminasi
 “Bagaimana Bapak/Ibu? Ada yang ingin ditanyakan? Coba Ibu sebutkan
cara-cara merawat Paul di rumah! Bagus (jika ada yang lupa segera
diingatkan oleh perawat)
 Ini jadwalnya untuk dibawa pulang. Selanjutnya silakan ibu
menyelesaikan administrasi yang dibutuhkan. Kami akan siapkan Paul
untuk pulang”
DAFTAR PUSTAKA
Azizah L., Zainuri I., & Akbar A. (2018). Keperawatan Jiwa : Aplikasi Praktik
Klinik. Mojokerto : Karya Bina Sehat
Jaya K (2015). Keperawatan Jiwa. Pamulang : Binarupa Aksara Publisher
Josep H. I & Sutini T. (2014). Buku Ajar Keperawatan Jiwa Dan Advance Mental
Health Nursing. Bandung : PT Refika Aditama.