Anda di halaman 1dari 15

TEKNOLOGI BIOGAS TERNAK

PENGGEMBALAAN

Oleh :

Budi Santoso, 09/281501/TK/35029 (Ketua)

Fajar Bangkit Prasetyo, 09/284550/TK/35370 (Anggota)

Universitas Gadjah Mada


Yogyakarta
2010
HALAMAN PENGESAHAN
ALTERNATIVE ENERGY COMPETITION
Judul Inovasi : Teknologi Biogas Ternak Penggembalaan
Nama Institusi : Universitas Gadjah Mada
Nama Tim : Paksima
Alamat Tim : Jalan Grafika Nomor 2 Kampus UGM
Sarana Komunikasi : Telp : 085640449510 fax : -
E-Mail : fajarwo_14@yahoo.co.id
Ketua Pelaksana Kegiatan

a. Nama Lengkap : Budi Santoso


b. NIM : 09/281501/TK/35029
c. Jurusan : Jurusan Teknik Mesin dan Industri
d. Fakultas/Institusi : Fakultas Teknik / UGM
e. Alamat Rumah : Dukuhan Nangsri Manisrenggo Klaten
f. Tlp/ Hp / E-Mail : 085640449510

Anggota Pelaksana : 1 orang

Dosen Pembimbing
a. Nama Lengkap : Dr. Eng. Herianto, ST., M. Eng.
b. NIP : 197807242005011002

Menyetujui,
Ketua Jurusan Ketua Pelaksana

Ir. Suhanan, DEA. Budi Santoso


NIP.195703031986031003 NIM.09/281501/TK/35029

Direktur Kemahasiswaan Dosen Pembimbing


Universitas Gadjah Mada

Drs. Haryanto, M.Si. Dr. Eng. Herianto, ST., M. Eng.


NIP. 195805021987031002 NIP. 197807242005011002
ABSTRAK

Teknologi Biogas Ternak Penggembalaan


Oleh :
Budi Santoso (09/281501/TK/35029)
Fajar Bangkit Prasetyo (09/284550/TK/35370)

Produksi listrik di daerah NTB dinilai masih sangat kurang. Sehingga di daerah
tersebut sering terjadi pemadaman listrik. Sebenarnya sudah ada upaya dari pemerintah
setempat untuk mengatasi masalah listrik tersebut, yaitu dengan menyewa generator listrik,
namun hal tersebut dinilai sangat boros. Untuk itu pengembangan pembangkit listrik dengan
sumber energi alternatif perlu dilakukan. Di daerah NTB sendiri sumber energi alternatif yang
cukup berpotensi untuk dikembangkan adalah biogas dari kotoran sapi, mengingat banyaknya
sapi yang diternakan disana. Namun kendala yang dihadapi dalam pengembangan biogas
kotoran sapi disana adalah sapi-sapi disana digembalakan, sehingga kotoran sapi disana
berceceran di ladang penggembalaan dan sulit untuk mengumpulkannya ke dalam reaktor
biogas. Untuk itu karya ini membahas tentang inovasi pengembangan biogas pada ternak
yang digembalakan tersebut. Pada karya ini dibuatlah suatu inovasi alat yang membantu
pembuatan biogas dari kotoran hewan ternak yang berserakan. Dalam karya ini tidak hanya
difokuskan kepada alat yang tersebut melainkan juga sistem pemanfaatan dari kotoran ternak
yang digembalakan untuk diolah menjadi biogas. Dengan karya ini diharapkan dapat
menghasilkan energi alternatif berupa biogas yang dapat bermanfaat bagi masyarakat disana
khususnya. Juga memberikan manfaat lain dari hasil sampingan biogas, mulai dari pupuk
organik sampai kebersihan lingkungan sekitar.
I. Pendahuluan

a. Latar belakang masalah


Distribusi listrik untuk daerah Indonesia bagian timur separti NTB dinilai masih
kurang. Hal ini dikarenakan jumlah pembangkit disana belum cukup untuk mencukupi
kebutuhan listrik disana. Karena wilayah tersebut yang masih banyak angka kemiskinan maka
pembangunan yang dilakukan lebih difokuskan ke pembangunan perekonomian
masyarakatnya. Akibatnya yaitu di daerah tersebut sering terjadi pemadaman bergilir. Jatah
listrik untuk tiap daerah hanya mencapai 9 jam /hari (Fauzun, 2010). Sebenarnya sudah ada
solusi dari pemerintah setempat mengatasi masalah tersebut dengan menyewa genset,tetapi
hal itu dinilai boros sekali (Sumantri, 2010).
Tidak hanya masalah listrik saja, masalah lain yang timbul yaitu seiring dengan harga
minyak dunia yang semakin mahal, maka pemerintah Indonesia mulai mencabut subsidi dari
bahan bakar minyak bumi tersebut. Akibatnaya harga BBM di Indonesia semakin mahal saja.
Sebenarnya hal ini merupakan solusi jitu dari pemerintah agar masyarakat Indonesia lebih
berhemat dalam menggunakan sumber energi. Namun bagi rakyat kecil terutama yang berada
di Indonesia bagian timur seperti NTB kenaikan harga BBM tersebut sangat terasa. Belum
lagi dengan kelangkaan dari BBM tersebut, mereka harus mencari minyak tanah atau gas LPG
yang sudah semakin langka di pasaran untuk memasak. Belum lagi dengan harganya yang
semakin tinggi akibat ulah pedagang spekulan. Tentunya hal ini dapat mengganggu
pertumbuhan perekonomian disana.

b. Identifikasi masalah
Berdasarkan masalah yang ada pada masyarakat diatas maka diperlukan pembangunan
pembangkit listrik dengan tenaga energi alternatif diperlukan untuk mengurangi defisit listrik
dan kelangkaan BBM di daerah tersebut. Berdasarkan survei dari keadaan alam sekitar,
ternyata energi alternatif yang memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan di daerah
tersebut yaitu biogas dari kotoran hewan ternak. Mengingat di daerah tersebut banyak
penduduknya yang memelihara ternak, terutama sapi. Saat ini jumlah populasi sapi di NTB
mencapai 604 ribu ekor sapi( rachmat, 2009).
Akan tetapi ternak sapi di sana tidak dibuatkan kandang dalam satu tempat seperti
pada umumnya. Ternak sapi disana hanya digembalakan oleh pemiliknya karena disana
banyak terdapat padang rumput sebagai tempat penggembalaan. Sehingga ternak disana
membuang kotorannya di sembarang tempat pada ladang penggembalaan.
Dari kotoran sapi yang berceceran tersebut tentunya dapat menimbulkan masalah
lingkungan. Udara sekitar dapat tercemari oleh bau dari kotoran sapi tersebut karena
kandungan unsur H2S pada kotoran sapi. Gas metana da CO2 dari kotoran sapi tersebut juga
akan terbuang ke udara, sehingga juga menjadi salah satu faktor terjadinya pemanasan global.
Kotoran sapi tersebut juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat sekitar akibat serangga
yang hinggap pada kotoran sapi lalu hinggap pada makanan manusia.
Karena kotoran sapi yang berceceran dimana-mana maka sulit untuk dibuat biogas.
Dan sangat tidak mungkin jika peternak harus mengumpulkan kotoran-kotoran ternak tersebut
dari ladang penggembalaan ke dalam biodigester. Sebenarnya ada solusi mengatasi masalah
tersebut, yaitu dengan membuatkan kandang seperti ternak pada umumnya. Akan tetapi jika
ternak tersebut dibuatkan kandang pada satu tempat agar kotorannya dapat berkumpul,
peternak disana tidak mau untuk mencarikan makan ternak-ternaknya mengingat jumlah
ternak mereka yang banyak dan adanya lahan penggembalaan yang luas untuk
penggembalaan.

c. Perumusan masalah
Dari uraian latarbelakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah-masalah yang
menjadi pokok bahasan adalah sebagai berikut :
a. Penggunaan generator sewaan dengan bahan bakar fosil yang dinilai boros dalam mengatasi
masalah krisis listrik.
b. Kelangkaan minyak tanah dan gas LPG bagi masyarakat tingkat bawah dan harganya yang
membumbung tinggi akibat ulah pedagang.
c. Tersedianya sumber energi alternatif biogas yang tidak dimanfaatkan, justru dapat
menimbulkan pencemaran lingkungan.
d. Kendala dalam pengolahan kotoran ternak menjadi biogas karena kotoran ternak
berserakan di ladang penggembalaan.
e. Hambatan dari para peternak jika akan membuatkan kandang ternak seperti pada umumnya
karena mereka tidak mau jika harus mencarikan makan ternak mereka.

d. Tujuan karya
Tujuan karya ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengatasi masalah pencemaran lingkungan akibat dari kotoran sapi yang
digembalakan.
2. Untuk memberikan solusi bagi pengembangan biogas pada sapi yang digembalakan.

e. Manfaat Karya
Manfaat yang ingin dicapai dari karya ini antara lain :
a. Bagi masyarakat sekitar yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat sekitar
terutama pemenuhan kebutuhan mereka akan listrik. Mengatasi masalah kebutuhan
masyarakat akan pemanas akibat kelangkaan minyak tanah dan gas LPG yang juga semakin
mahal. Karena dengan adanya biogas ini mereka dapat mengganti kompor gas LPG atau
kompor minyak tanah dengan kompor biogas yang lebih ekonomis.
b. Bagi lingkungan sekitar yaitu untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat kotoran
sapi yang digembalakan. Juga sisa dari pembuatan biogas dapat dijadikan pupuk organik yang
membantu penyuburan tanah sekitar.
c. Bagi pemerintah setempat yaitu untuk mengurangi pengeluaran pemerintah untuk biaya
sewa genset dan biaya pembelian bahan bakarnya, yang sebelumnya digunakan untuk
mengatasi krisis listrik disana. Juga untuk merintis masyarakat mandiri energi setempat.
d. Bagi ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu untuk menambah potensi baru biogas dari
ternak yang digembalakan.
II. Dasar Teori

i. Produksi Kotoran sapi


Sapi merupakan salah satu binatang binatang mamalia yang memakan tumbuh-
tumbuhan. Berat satu ekor sapi berkisar antara 300 kilogram hingga 500 kilogram. Sapi
dengan bobot 450 kg dapat menghasilkan limbah berupa feses dan urin hingga 25 kg per hari.
Dan apabila tidak dilakukan penanganan secara baik pada limbah tersebut maka dapat
menimbulkan masalah pencemaran udara, tanah dan air serta penyebaran penyakit menular
(Eliantika, 2009).
Kotoran sapi mengandung gas yang dapat merusak lingkungan. Salah satu gas yang
dihasilkan tersebut adalah gas H2S. Gas ini merupakan gas yang menimbulkan bau pada
kotoran sapi. Selain itu ada juga gas CO2 dan gas metana yang merupakan salah satu
penyebab terjadinya pemanasan global. Kotoran sapi juga dapat menyebabkan penyakit
menular seperti diare. Hal ini disebabkan serangga yang sudah hinggap pada kotoran sapi
kemudian hinggap pada makanan manusia.

ii. Biogas
Biogas adalah gas yang dihasilkan dari proses penguraian bahan-bahan organik oleh
mikroorganisme pada kondisi anaerob (Wahono, 2009). Dari penguraian bahan-bahan organik
tersebut akan dihasilkan gas sebagai berikut :
Gas Metana : 40 – 75 %
Gas CO2 : 25 – 40 %
Gas H2S : < 3%
Gas N2 : 0,5 – 3 %
Gas H2 : < 3%
Gas O2 : < 1%
Bahan organik yang digunakan sebagai sumber biogas antara lain kotoran ternak,
alimbah industri, dan sampah organik. Berikut ini tabel perolehan biogas dari bahan mentah :
Perolehan Biogas dari Berbagai Sumber
Perolehan Perolehan rata-rata
Bahan Mentah
Liter/(kg POK) Liter/(kg POK)
Kotoran babi 340 – 550 445
Kotoran sapi 90 – 320 200
Kotoran kuda 200 – 300 250
Kotoran domba 90 – 310 200
Kotoran unggas 310 – 620 465
Bagas 165 165
Batang + daun jagung 380 – 460 420
Jerami padi 170 – 280 225
Sekam padi 105 105
Rumput 280 – 550 419
Rumput gajah 430 – 560 495
Enceng gondok 375 375

Sumber (Wahono, 2009)

Agar penguraian bahan organik tersebut optimal harus memenuhi syarat kondisi
ruangan reaktor biogas. Dari hasil penelitian maka diperoleh syarat terbaik untuk
pembentukan biogas yaitu :
1. C/N rasio : 20 - 25
2. Kadar air : 1 : 1-2
3. Temperatur Optimum : 20 – 45 ºC (mesophilic)
4. Bakteri metan : kotoran sapi
5. pH optimum : 6,4 – 7,2
6. Anaerob

Skema Instalasi Biogas


Sumber (http://dakwah.blogdetik.com/page/2/)
iii. Model Biogas Floating Roof

Pada tipe ini terdapat bagian pada konstruksi reaktor yang bisa bergerak untuk
menyesuaikan dengan kenaikan tekanan reaktor. Pergerakan bagian reaktor ini juga menjadi
tanda telah dimulainya produksi gas dalam reaktor biogas. Pada reaktor jenis ini, pengumpul
gas berada dalam satu kesatuan dengan reaktor tersebut. Keunggulan dari reaktor biogas ini
yaitu tekanan gas yang dihasilkan relatif stabil meskipun jumlah biogas yang ada didalam
berkurang. Tetapi juga memiliki kekurangan, yaitu tekanan biogas yang dihasilkan tidak
sebesar pada reaktor fixed dome. Tekanan yang dihasilkan tergantung beban yang diberikan
dari atas reaktor ini.

Contoh Skema Reaktor Biogas Floating Roof


Sumber (http://www.margito.co.cc/2009/11/sekedar-tahu.html)

III. Deskripsi Karya


Karya ini merupakan suatu sitem pamanfaatan biogas pada ternak yang digembalakan
dan juga alat yang menjadi inovasi pada sistem pemanfaatan tersebut. Secara garis besar alat
dapat di analogikan seperti tas yang diletakaan pada bagian belakang sapi. Yang berfungsi
sebagai penampung kotoran sapi sementara saat digembalakan. Lalu kotoran-kotoran sapi
tersebut dikumpulkan dan dimasukan kedalam biodigester saat sapi-sapi gembala tersebut
pulang pada sore hari.
Karya hasil inovasi kami ini merupakan alat yang sangat sederhana. Hanya terbuat
dari anyaman bambu atau rotan yang dapat dibuat sendiri oleh para peternak disana dengan
hanya bermodal pelatihan saja. Dengan dimensi panjang 25 cm, lebar 20 cm, dan tinggi 25 cm
alat ini dapat menampung kotoran sapi maksimal 12 liter kotoran sapi.
Karya ini akan diletakan pada bagian belakang pangkal paha belakang sapi. Dan akan
diikat dengan lima sabuk, dua sabuk pada pangkal paha belakang sapi, satu sabuk melingkari
perut sapi, dan dua sabuk diikatkan pada sabuk yang dilingkarkan diperut sapi dan bagian atas
penampung kotoran ini. Bagian alas dari alat ini merupakan anyaman berbentuk persegi yang
dikaitkan seperti engsel pada pintu yang dapat dibuka dan ditutup, sehingga mempermudah
dalam mengambil kotoran sapi dari penampung kotoran ini. Alat penampung ini juga
dilengkapi dengan karet pelapis pada bagian yang menempel paha bagian atasnya agar tidak
melukai paha dan ekor sapi.
Reaktor biogas yang dipakai dalam karya ini adalah reaktor dengan model floating
roof. Karena kelebihan pada kestabilan tekanan gas dalam sehingga sangat cocok sebagai
bahan bakar generator listrik dan kompor. Nantinya pada instaalasi biogas ini juga dipasang
filter biogas agar gas yang di gunakan sebagai bahan bakar generator dan kompor lebih baik.
Gambar Skema Kerja Alat
IV. Analisa Dana dan Pembuatan Karya
Karya ini berfungsi sebagai solusi dari pembuatan biogas pada ternak penggembalaan.
Jadi dalam perencanaan pembuatannya juga mencakup pembangunan instalasi biogas
tersebut. Berikut kisaran biaya pembangunan instalasi biogas untuk ternak penggembalaan ini
:

No. Nama Komponen Harga


1. Pembuatan reaktor biogas floatingroof Rp. 5.000.000,00
2. Pembuatan pipa instalasi Rp. 250.000,00
3. Filter biogas Rp. 10.000.000,00
4. Kompor biogas Rp. 1.500.000,00
5. Generator biogas 750 watt Rp. 1.268.000,00
6. Instalasi listrik Rp. 150.000,00
7. Pembelian rotan, sabuk, karet Rp. 350.000,00
Jumlah Rp. 18.518.000,00
V. Jadwal Pelaksanaan kegiatan
Pelaksanaan dari kegiatan ini dibagi menjadi tiga tahapan.

iv. Tahap Perencanaan

Tahap perencanaan berisi kegiatan sosialisasi kepada pihak terkait dan juga studi
lapangan. dijadwalkan tanggal 10 Agustus 2010- 15 Agustus 2010.

v. Tahap Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan merupakan tahap realisasi dari kegiatan ini dalam segi teknisnya.
Dijadwalkan Tanggal 17 Agustus 2010 – 1 September 2010.

vi. Tahap Evaluasi


Tahap evaluasi berisi kegiatan pengontrolan kegiatan ini, apakah pembuatan biogas ini
dapat berhasil dengan baik atau tidak. Di jadwalkan Tanggal 2 September 2010 – 9
September 2010.
DAFTAR PUSTAKA

Fauzun, 2010, Kuliah Fisika 2 , Teknik Mesin UGM

Rachmat, Fajar , 2009, NTB Intervensi Teknologi Ternak Sapi ,


http://www.sumbawanews.com/berita/daerah/ntb-intervensi-teknologi-ternak-
sapi.html (online acessed 13 Juli 2010)
Wahono, Satriyo Krido, 2009, Biogas Sumber Energi dan Manfaat Lain, pelatihan
pembuatan energi alternatif, Yogyakarta
Eliantika, Efriza Fitri , 2009, Biogas Limbah Peternakan Sapi Sumber Energi
Alternatif Ramah Lingkungan, http://limbahb3.com/index.php/biogas-limbah-peternakan-
sapi.html (online accesed 13 Juli 2010)
Sumantri, Jajang , 2010 ,
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/07/06/153687/4/2/-Pemadaman-Listrik-saat-Ini-
karena-Masalah-Teknis (online acessed 13 Juli 2010)
http://www.lentera.info/informasi-harga-genset-nlg-firman-honda/ (online acessed 13
Juli 2010)
http://cahayahati.multiply.com/journal/item/68 (online acessed 13 Juli 2010)
BIODATA
Peneliti 1
Nama : Fajar Bangkit Prasetyo
NIM. : 09/284550/TK/35370
Jurusan : Jurusan Teknik Mesin dan Industri
Fakultas : Fakultas Teknik
Institusi : Universitas Gajah Mada
Alamat : Jalan Sukonandi 25, Yogyakarta 55166
Nomor Telepon / HP : (0274) 523176 / 085729921060
E-mail : fajarwo_14@yahoo.co.id

Peneliti 2
Nama : Budi Santoso
NIM. : 09/281501/TK/35029
Jurusan : Jurusan Teknik Mesin dan Industri
Fakultas : Fakultas Teknik
Institusi : Universitas Gajah Mada
Alamat : Dukuhan Nangsri Manisrenggo Klaten
Nomor Telepon / HP : 085640449510