Anda di halaman 1dari 25

Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm.

111-135 Vol 3 No 2

ANALISIS PENGARUH NON-TARIFF MEASURES EKSPOR KOMODITI


CRUDE PALM OIL (CPO) INDONESIA KE NEGARA TUJUAN EKSPOR
UTAMA

Ayu Renita Sari1, Dedi Budiman Hakim2, Lukytawati Anggraeni2


1
Staf pada Kementerian Perdagangan dan Mahasiswa Magister Program Studi Ilmu
Ekonomi, FEM IPB
2
Staf Pengajar FEM IPB

Artikel diterima Maret 2014


Artikel disetujui untuk dipublikasikan Desember 2014

ABSTRACT

The study of this paper is aimed to evaluate the effects of non-tariff measures
(NTM) upon Indonesian crude palm oil (CPO) export in the main destinations. Identified
the competitiveness analysis using the Revealed Comparative Advantage index and the
impact of the measures has estimated using a panel data gravity model constructed with
disaggregated data about bilateral export trade flow of crude palm oil between Indonesia
and its main trade partners for the period from 2003 to 2013. NTM represented binary
variable that specified with a dummy variable. The gravity model has estimated with a
fixed effects model and the results indicated that the existence of trade barriers to trade
(TBT) appears to impede the Indonesian exports of CPO. But the existence of sanitary
and phytosanitary measures (SPS) which related to food safety and the existence of trade
remedy (antidumping, subsidy, safeguard) presented a positive impact upon the
Indonesian exports of CPO.

Keywords: Export, Non-Tariff Measures (NTM), Sanitary and Phytosanitary (SPS),


Trade Barriers to Trade (TBT), Trade Remedy, Crude Palm Oil

PENDAHULUAN negerinya dan menghindari persaingan


dengan produk impor. Upaya perlindungan
Sejak berdirinya World Trade
tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai
Organization (WTO) pada tahun 1995 dan
kebijakan yang justru menjadi hambatan
adanya liberalisasi dalam perdagangan,
perdagangan baru (Kementerian
negara-negara anggota WTO sepakat
Perdagangan 2012).
untuk menurunkan bea masuk terhadap
Dalam pengertian luas, hambatan
produk-produk impor yang masuk ke
perdagangan diartikan sebagai suatu
negara mereka bahkan sampai dengan nol
bentuk tindakan (measures) yang
persen. Namun ternyata tidak
mempengaruhi dan membatasi aliran
menghilangkan hambatan dalam
bebas barang dan jasa dalam perdagangan
perdagangan dan memberikan kelancaran
internasional. Dalam pengertian yang lebih
arus barang di antara negara-negara
sempit, hambatan perdagangan merupakan
tersebut. Hal ini disebabkan
suatu bentuk tindakan (measures) yang
masing-masing negara anggota WTO
diterapkan oleh suatu negara yang tidak
masih berupaya melindungi pasar dalam

111 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

sesuai dengan aturan internasional. Dalam palm kernel oil (PKO). Pengolahan
praktek perdagangan internasional, tersebut dilakukan dalam beberapa tahap
hambatan perdagangan dibagi menjadi yaitu penimbangan, sortasi, pengumpulan
hambatan tarif dan hambatan non tarif. buah, perebusan (sterilisasi), penebahan,
Adanya batasan tarif yang pelumatan, penempaan, pengutipan
diberlakukan dalam perdagangan, minyak, pemurnian minyak dan
menyebabkan banyak negara melakukan penyimpanan minyak mentah berupa CPO.
tindakan/kebijakan non tarif. Salah satu Oleh karena itu, CPO termasuk ke dalam
tujuan dari kebijakan non tarif atau produk pengolahan kelapa sawit. Selama
non-tariff measures (NTM) adalah sebagai bertahun-tahun, produksi minyak sawit
proteksi pada produsen domestik dalam global dan rantai pasokan telah
menghadapi persaingan impor dengan dikembangkan, memasok minyak sawit
produk asing. Penerapan NTM akan dan turunannya ke berbagai industri dan
berdampak pada penurunan ekspor konsumen (van Gelder 2004). Terdapat
negara-negara yang melakukan peningkatan permintaan secara signifikan
perdagangan, sehingga akan mengurangi dari waktu ke waktu, jumlah besar minyak
volume perdagangan serta akan sawit dikonsumsi di seluruh dunia,
menimbulkan potensial ekspor yang hilang didistribusikan di seluruh dunia untuk
(ITC 2012). berbagai produsen sebagai bahan untuk
Sejak awal, sektor pertanian telah produk konsumen yang tak terhitung
menjadi perhatian utama dalam negosiasi jumlahnya, seperti produk makanan,
perdagangan WTO (Agreement on deterjen dan kosmetik, bahan kimia serta
Agriculture/AoA) karena sifatnya yang pakan ternak.
strategis. Indonesia mempunyai Crude palm oil (CPO) merupakan
keunggulan dan potensi sebagai negara salah satu komoditi hasil perkebunan
agraris dengan banyaknya masyarakat sebagai salah satu komoditi ekspor
yang bekerja pada sektor pertanian. Indonesia yang cukup penting sebagai
Kontribusi sektor pertanian memiliki penyedia bahan baku bagi sektor industri,
peranan penting dalam kegiatan penyerap tenaga kerja dan penghasil
perekonomian di Indonesia, dapat dilihat devisa. Industri berbasis kelapa sawit
dari Produk Domestik Bruto (PDB) berkontribusi signifikan terhadap
sebesar 14,43% pada tahun 2013 dan kesejahteraan dalam hal pendapatan dan
menempati urutan kedua setelah sektor aset. Selain itu, peranannya membantu
industri pengolahan (industri non migas) perekonomian Indonesia cenderung
(BPS 2014). Pada saat krisis ekonomi, meningkat dari tahun ke tahun dilihat dari
sektor pertanian merupakan sektor yang perkembangan ekspor CPO. Saat ini
cukup kuat menghadapi goncangan Indonesia merupakan negara produsen
ekonomi dan dapat diandalkan dalam sekaligus eksportir CPO terbesar di dunia
pemulihan perekonomian nasional. Salah (USDA 2013).
satu sektor pertanian yang menjadi Pada Gambar 1 dapat diketahui
keunggulan Indonesia adalah subsektor bahwa nilai ekspor CPO Indonesia dan
perkebunan khususnya komoditi kelapa turunannya selama periode 2004-2013
sawit. rata-rata mengalami kenaikan setiap
Buah kelapa sawit terdiri dari daging tahunnya, namun pada tahun 2009 dan
dan biji. Daging kelapa sawit akan diolah 2013 mengalami penurunan. Menurut data
menjadi minyak kelapa sawit mentah atau Kementerian Pertanian, sepanjang tahun
crude palm oil (CPO), sedangkan bijinya 2013 ini terjadi penurunan harga CPO
akan diolah menjadi minyak inti sawit atau dunia.

112 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

Sumber: UN COMTRADE, 2014


Gambar 1 Ekspor Komoditi CPO Indonesia dan Turunannya ke Dunia

Pada Tabel 1 dapat dilihat bahwa 2013, kemudian ekspor ke Cina pada tahun
negara tujuan utama ekspor CPO Indonesia 2012 sebesar US$ 2,59 milyar juga turun
adalah India, Uni Eropa, Cina, Malaysia, menjadi US$ 1,79 milyar pada tahun 2013.
dan negara tujuan ekspor lainnya. Nilai Tren nilai ekspor dari tahun 2012-2013
ekspor komoditi CPO Indonesia ke India cenderung mengalami penurunan dan di
pada tahun 2012 sebesar US$ 4,84 milyar beberapa negara tujuan ekspor
turun menjadi US$ 4,28 milyar pada tahun menunjukkan nilai yang negatif.

Tabel 1 Negara-negara Tujuan Ekspor Utama Komoditi CPO Indonesia dan Turunannya
(Nilai dalam ribu US$)

Sumber: TRADE MAP, diolah 2014

Pada tahun 1990-an telah terjadi hingga pemerintahan Presiden Susilo


ekspansi besar-besaran perkebunan kelapa Bambang Yudhoyono. Kelapa sawit
sawit di Indonesia dilakukan pada masa dianggap sebagai tanaman penghasil
pemerintahan Presiden Suharto, perluasan minyak (CPO) yang paling efisien dan
perkebunan kelapa sawit ini berlanjut sangat produktif dibandingkan dengan

113 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

tanaman penghasil minyak lainnya. dan sebagainya) pesaing kelapa sawit tak
Menurut Hai (2004), kelapa sawit hanya mampu berkompetisi dengan produk
membutuhkan 0,3 ha untuk menghasilkan minyak sawit. Pada tahun 2010 volume
1 ton minyak sementara kedelai, bunga perdagangan CPO di dunia mencapai 34%
matahari dan rapeseed membutuhkan 2,17 dari volume dunia, padahal di era tahun
ha, 1,52 ha dan 0,75 ha untuk 1990-an pasarnya hanya 10%.
menghasilkan jumlah yang sama. Kelapa Dengan adanya ekspansi
sawit menghasilkan tujuh kali hasil minyak besar-besaran dan munculnya kampanye
per hektar lebih tinggi dari kedelai, lima negatif tersebut maka diformulasikan
kali lebih tinggi dari bunga matahari dan menjadi suatu regulasi yang sifatnya
2,5 kali lebih tinggi dari rapeseed. Dengan menghambat perdagangan. Selain itu
keunggulan komparatif ini, CPO juga dalam beberapa tahun belakangan ini tren
sedang dipromosikan sebagai salah satu nilai ekspor CPO cenderung mengalami
masukan penting untuk produksi biodiesel, penurunan dan di beberapa negara tujuan
dan dengan demikian merupakan sumber ekspor menunjukkan nilai yang negatif.
energi alternatif untuk bahan bakar fosil Banyak negara terutama negara maju yang
(Hai 2004). memproteksi industri domestiknya dengan
CPO merupakan komoditas yang memberlakukan kebijakan atau regulasi
mempunyai nilai strategis, karena sebagai NTM yang berpeluang untuk menjadi
bahan baku pembuatan minyak makan non-tariff barrier yang dapat menghambat
yang merupakan salah satu dari sembilan masuknya suatu produk ke negara tujuan
kebutuhan pokok bangsa Indonesia. ekspor. Oleh karena itu, upaya menembus
Kebutuhan minyak nabati dan lemak dunia pasar ekspor CPO pun masih mengalami
juga terus meningkat sebagai akibat dari hambatan dari negara tujuan ekspor
pertumbuhan penduduk. Dengan khususnya NTM yang berpotensi akan
permintaan global dan domestik yang terus merugikan kepentingan perdagangan
meningkat yang ditunjukkan dengan tren Indonesia. Akibatnya, industri CPO
kenaikan permintaan CPO untuk bahan akan kesulitan melakukan ekspansi dan
bakar nabati selain fungsi tradisionalnya atau mengalami penurunan daya saing jika
untuk bahan pangan, sehingga diperlukan hambatan tersebut tidak dihilangkan.
praktik agribisnis yang berkelanjutan. Menurut UNCTAD (2013) definisi dari
Namun, akibat adanya ekspansi non-tariff measures (NTM) adalah
besar-besaran tersebut kemudian muncul kebijakan-kebijakan selain tarif yang
kampanye negatif dari LSM (lembaga secara potensial dapat memiliki pengaruh
sosial masyarakat) lingkungan hidup ekonomi pada perdagangan komoditi
internasional, yang menyoroti isu internasional, dengan mengubah kuantitas
pelanggaran lingkungan. Pada tahun perdagangan atau harga atau keduanya.
1990-an lalu CPO juga diterpa oleh isu Pada Gambar 2 terdapat klasifikasi NTM
produk yang mengganggu kesehatan yang secara garis besar dibagi menjadi 2
karena diduga mengandung lemak jenuh (dua) bagian pokok yaitu import measures
dan kolesterol tinggi. Produk-produk (berupa technical measures dan non
minyak nabati (seperti minyak bunga technical measures) serta export measures
matahari, minyak kedelai, rapeseed oil, (berupa export related measures).

114 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

Sumber: UNCTAD, 2013


Gambar 2 Klasifikasi Baru non-tariff measures

Penggunaan jenis NTM seperti resiko yang relevan; serta persyaratan


sanitary and phitosanitary (SPS) dan pengemasan dan pelabelan yang secara
technical barriers to trade (TBT) memiliki langsung terkait dengan keamanan
dampak perdagangan yang paling banyak makanan.
diakui dan diterapkan oleh negara-negara Bentuk kebijakan TBT berupa:
maju. Penerapan NTM lebih banyak regulasi teknis yang merupakan dokumen
diterapkan pada sektor pertanian daripada dalam menetapkan karakteristik produk
sektor manufaktur, baik di negara-negara atau yang terkait dengan proses dan cara
high income, middle income maupun low produksinya, termasuk yang berlaku dalam
income (ITC 2012). Sanitary and ketentuan administratif. Hal ini juga dapat
Phytosanitary (SPS) dan Technical mencakup simbol, pengemasan,
Barriers to Trade (TBT) merupakan penandaan atau pelabelan seperti yang
bagian dari technical measures. Kebijakan digunakan pada produk, proses atau cara
SPS termasuk peraturan dan pembatasan produksi. Sedangkan prosedur penilaian
dengan tujuan untuk melindungi manusia, kesesuaian adalah prosedur yang
hewan atau tumbuhan hidup atau digunakan baik secara langsung maupun
kesehatan. Sementara untuk TBT tidak langsung, untuk menentukan bahwa
membahas mengenai semua peraturan persyaratan relevan dalam peraturan teknis
teknis lainnya, standar dan prosedur atau memenuhi standar, yang mencakup
penilaian kesesuaian. antara lain prosedur pengambilan sampel,
Dalam prakteknya, kebijakan SPS pengujian dan inspeksi, evaluasi, dan
dapat berbentuk: seluruh ketentuan, sebagainya.
regulasi persyaratan dan prosedur terkait Bentuk penerapan hambatan
yang relevan, termasuk antara lain adalah perdagangan lainnya yang dipergunakan
kriteria produk akhir (end-product); oleh negara-negara WTO adalah instrumen
metode proses dan produksi; prosedur trade remedy berupa antidumping, subsidy
pengujian, inspeksi, sertifikasi dan dan tindakan safeguard. Langkah ini
persetujuan; penanganan karantina; dinilai perlu dilakukan sebagai upaya
pengawasan terhadap metode statistik, strategi penyesuaian harga ekspor suatu
prosedur sampling dan metode penilaian barang sesuai dengan harga normal di

115 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

dalam negeri, serta melakukan tindakan saing dan pemberlakuan NTM terhadap
pengamanan untuk mencegah ancaman komoditi CPO di negara-negara tujuan
kerugian serius industri di dalam negeri ekspor utamanya serta dampak
(Barutu 2007). pemberlakuan NTM terhadap kinerja
Tindakan antidumping diberlakukan ekspor komoditi CPO dan produk
terhadap tindakan menjual suatu barang di turunannya. Sehingga tujuan dari
pasar luar negeri dengan harga yang lebih penelitian ini adalah menganalisis
rendah dari harga di pasar domestik, pengaruh NTM terhadap arus perdagangan
dimana selanjutnya pemerintah negara ekspor komoditi CPO Indonesia ke
pengimpor dapat mengenakan bea masuk negara-negara tujuan ekspor utamanya.
antidumping untuk menutupi kerugian Berkenaan dengan tujuan tersebut,
sebagai dampak dari dumping tersebut. ada beberapa tinjauan pustaka/penelitian
Sedangkan tindakan subsidi terjadi dimana terdahulu yang menjadi dasar dalam
produk dijual dengan harga murah karena melakukan penelitian ini, diantaranya
mendapat subsidi oleh negara pengekspor. penelitian yang dilakukan oleh Disdier et
Pada prinsipnya tindakan subsidi dilarang al. (2008) yang mengkaji dampak regulasi
jika hal itu dapat menimbulkan persaingan dari perdagangan sektor pertanian terkait
yang tidak sehat dan menimbulkan dengan SPS dan TBT Agreements dengan
kerugian bagi negara pengimpor, sehingga menggunakan model gravity. Penelitian ini
negara pengimpor dapat memberlakukan menggunakan inventory approach untuk
tindakan imbalan (countervailing mengukur perdagangan di sektor
measures) terhadap produk yang dituduh pertanian, dan melihat apakah SPS dan
mendapat subsidi dari negara pengekspor. TBT measures mempengaruhi arus
Tindakan safeguard diberlakukan jika perdagangan serta bagaimana dampaknya
beredarnya barang impor yang masuk ke bagi negara pengekspor. Hasilnya
pasar domestik telah mengakibatkan menyimpulkan bahwa SPS dan TBT
terjadinya kerugian (injury) terhadap measures secara signifikan mengurangi
industri serupa di dalam negeri. ekspor negara-negara berkembang ke
Kondisi saat ini di pasar dunia, negara-negara OECD tapi tidak
industri kelapa sawit (CPO) harus bersaing mempengaruhi arus perdagangan antara
dengan industri minyak nabati negara lain negara anggota OECD.
dan menghadapi isu negatif terhadap Menurut penelitian yang dilakukan
masalah kesehatan dan lingkungan sebagai oleh Fassarella et al. (2011), mengkaji
bentuk hambatan perdagangan non-tariff dampak dari sanitary dan technical
yang efektif. Sementara di sisi lain, measures terhadap ekspor daging unggas
orentasi produksi minyak kelapa sawit asal Brazil dengan menggunakan data
nasional masih didominasi untuk pasar bilateral antara Brazil dan negara mitra
ekspor. Hambatan perdagangan yang dagang utama periode 1996-2009. Hasil
diterapkan oleh negara-negara tujuan dari model gravity dengan estimasi fixed
ekspor produk CPO mengharuskan effect model menunjukkan bahwa dampak
Indonesia sebagai negara pengekspor SPS dan TBT measures terhadap ekspor
memperhatikan persyaratan yang harus daging unggas Brazil adalah ambigu.
dipenuhi. Adanya peraturan teknis dan sanitasi yang
Oleh karena itu, berdasarkan latar berkaitan dengan pelabelan mungkin
belakang dan identifikasi yang telah merangsang perdagangan terhadap produk
diuraikan diatas maka memberikan ruang daging unggas tersebut, sementara itu
bagi peneliti untuk mengkaji lebih lanjut peraturan terkait penyesuaian muncul
terkait permasalahan bagaimana daya untuk mengurangi volume ekspor daging

116 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

unggas Brazil. Hasil ini menunjukkan penelitian ini akan disajikan mengenai
pentingnya dalam mempertimbangkan metode penelitian. Kemudian bagian
karakteristik yang berbeda serta isi ketiga tentang hasil dan pembahasan dan
peraturan untuk menganalisis dampak dari bagian terakhir adalah simpulan dan saran
SPS dan TBT measures dalam serta daftar pustaka.
perdagangan.
Penelitian lain yang terkait dengan METODE PENELITIAN
NTM yaitu oleh Gomel et al. (2012) yang
meneliti tentang pengaruh standar Data yang digunakan dalam
internasional pada arus ekspor Turki ke penelitian ini adalah data sekunder dari
negara Uni Eropa. Penelitian ini bertujuan berbagai sumber antara lain WTO, World
untuk menginvestigasi dampak standar Bank (World Development Indicators),
internasional pada arus ekspor Turki ke Trademap, CEPII, Fx Sauder, Kementerian
negara UE. Turki telah secara positif Perdagangan RI, dan sumber lainnya. Data
bersama anggota perjanjian Custom Union yang dikumpulkan tersebut merupakan
dengan Uni Eropa dengan tanpa menjadi data panel dengan time series tahunan
anggota UE dan perdagangan secara 2003 – 2013 dan cross section dua puluh
intensif dengan anggota inti persatuan negara tujuan ekspor utama CPO Indonesia
tersebut. Penelitian ini menggunakan data yaitu India, Uni Eropa, Cina, Malaysia,
sertifikasi ISO 9000 sebagai pendekatan Singapura, Banglades, Pakistan, Mesir,
untuk standar internasional. Penelitian ini Ukraina, Rusia, Myanmar, Afrika Selatan,
mengadopsi model gravity dengan sampel Turki, Vietnam, Tanzania, Arab Saudi,
dari negara-negara Uni Eropa 15 (EU15). Brazil, Jordania, Amerika Serikat dan Sri
Penelitian ini menggunakan panel gravity. Lanka. Komoditi dalam penelitian ini
Hasil dari penelitian ini menyarankan didasarkan pada kode HS 1511 yaitu palm
adopsi ISO 9000 di promosi ekspor Turki oil and its fractions. Metode analisis yang
ke negara mitra dagang Eropa yang digunakan adalah analisis tingkat daya
mungkin diindikasi dari signal kualitas saing CPO, pemberlakuan NTM dan
produk yang tinggi. analisis data panel model gravity.
Menurut penelitian yang dilakukan Periode waktu yang akan digunakan
oleh Bratt (2014) yang mengkaji tentang adalah tahun 2003-2013, karena CPO
dampak NTM terhadap arus perdagangan dinilai memiliki kinerja yang paling baik
dapat berbeda antara masing-masing dan pangsa pasarnya terus meningkat dari
negara dengan menggunakan prosedur sekitar 10% pada tahun 1970-an menjadi
Heckman two-stage dari model gravity sekitar 28% pada tahun 2000-an. NTM
yang memasukkan variabel comparative yang akan diestimasi pada penelitian ini
advantage. Variabel tersebut terdiri dari dikhususkan pada Sanitary and
factor endowments dari masing-masing Phytosanitary (SPS) dan Technical
negara mitra dagang dan menghasilkan Barriers to Trade (TBT) untuk technical
country-spesific effects dari NTM. measures karena paling banyak digunakan
Hasilnya kemudian diubah ke dalam oleh seluruh negara di dunia, serta
ad-valorem equivalents (AVEs), dan instrumen trade remedy (antidumping,
menjelaskan bahwa sejumlah NTM tidak subsidy, dan safeguards) untuk non
menghambat perdagangan namun untuk technical measures karena berdasarkan
sebagian besar kasus dampaknya secara data di WTO bahwa antidumping juga
keseluruhan terhadap perdagangan adalah paling banyak digunakan khususnya oleh
negatif. negara-negara maju. Jenis dan sumber data
Adapun bagian kedua pada untuk bahan penelitian secara ringkas
disajikan dalam Tabel 2.

117 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

Tabel 2. Jenis dan Sumber Data dalam Penelitian


No Data Sumber Satuan
1 Non-tariff measures WTO
2 GDP WDI Juta US $
3 Ekspor/ Impor TRADE MAP Juta US $
4 Jarak CEPII Km
5 Populasi WDI Jiwa
6 Nilai Tukar Fx Sauder Rp/LCU
7 IHK WDI

Analisis tingkat daya saing CPO (1999) dengan mengestimasi


Indonesia dengan negara tujuan ekspor menggunakan data panel, dimana model
utamanya menggunakan Revealed fixed effect dalam penelitiannya tersebut
Comparative Advantage (RCA), kemudian digunakan untuk mengestimasi dampak
mengevaluasi pemberlakuan NTM pembatasan impor terhadap ekspor dengan
(incidence of non-tariff measures). menambahkan indikator trade policy.
Analisis ekonometrika dengan regresi data Model gravity yang diperluas tersebut
panel gravitasi digunakan untuk melihat dituliskan sebagai berikut :
dampak SPS, TBT dan trade remedy ln
ij ln ln - ln
terhadap arus perdagangan ekspor CPO
Dimana ij adalah ekspor antara
antara Indonesia dengan negara tujuan
ekspor utamanya, menggunakan binary negara i dan j pada periode tertentu;
variable berupa dummy NTM bernilai 1 adalah GDP untuk negara i; adalah
jika setidaknya ada satu NTM berlaku dan GDP untuk negara j; adalah jarak
bernilai 0 jika sebaliknya. geografis antara negara i dan j; dan
Dalam gravity model sederhana, adalah Trade Policy Index (dapat berupa
perdagangan antara negara i dan negara j kebijakan perdagangan seperti NTM).
bersifat proporsional terhadap ukuran Dalam gravity model dari
ekonomi dan berbanding terbalik dengan perdagangan bilateral, diperlukan
jarak, yang menjadi proksi bagi biaya pengujian asumsi pada data panel untuk
transportasi diantara kedua negara. Secara mengetahui estimasi bias. Jika model yang
umum dapat digambarkan seperti berikut: terpilih berdasarkan uji Hausman adalah
i j Random Effect Model (REM) maka
ij estimasi dari model diasumsikan best linier
ij
Dimana Xij adalah arus perdagangan unbiased estimator (BLUE) dan tidak perlu
ekspor antara negara i dan negara j. Yi dilakukan pengujian terhadap tiga asumsi
adalah GDP untuk negara i dan Yj untuk utama model BLUE (non-multicolinierity,
negara j. Dij sebagai jarak geografis antara homoskedasticity, dan
kedua negara. non-autocorelation). Hal ini dikarenakan
Model yang digunakan berdasarkan dua alasan, yaitu: (i) sifat data panel adalah
asumsi bahwa ekspor negara i dari negara j bebas dari gejala multikolinieritas; dan (ii)
tergantung pada variabel gravity seperti REM adalah model generalized least
GDP dan jarak. Spesifikasi dasar dari square (GLS), dan estimasi dengan
persamaan gravity meliputi faktor-faktor menggunakan GLS secara otomatis sudah
dari negara pengimpor misalnya GDP riil terbebas dari gejala autokorelasi, bahkan
dan juga jarak geografis sebagai proksi terbebas dari gejala heteroskedastisitas
untuk biaya transportasi. Model gravity yang disebabkan variansi sisaannya
kemudian dikembangkan lagi oleh Wall konstan (Gujarati 2004).

118 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

Jika model yang terpilih adalah diestimasi telah sesuai dengan teori atau
Fixed Effect Model (FEM) maka perlu hipotesis. Pengujian parameter tersebut
dilakukan pengujian terhadap asumsi adalah sebagai berikut:
sisaan, sebagai berikut: a. Uji-F
a. Uji Heteroskedastisitas Uji-F digunakan untuk melakukan uji
Asumsi pertama yang harus dipenuhi hipotesis koefisien (slope) regresi atau
dalam persamaan regresi adalah bahwa parameter model secara
taksiran parameter dalam model regresi menyeluruh/bersamaan. Kriteria
bersifat BLUE maka varian (ui) harus sama pengujiannya adalah jika nilai nilai F
dengan 2 (konstan), atau semua residual observasi > F tabel atau nilai probabilitas
atau error memiliki varian yang sama. F-statistic < taraf nyata (α), maka
Kondisi itu disebut dengan keputusan menolak H0 signifikan. Dengan
homoskedastisitas. Apabila varian tidak menolak H0 berarti minimal ada satu
konstan atau berubah-ubah disebut dengan peubah bebas yang berpengaruh nyata
heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi terhadap peubah tak bebas.
adanya heteroskedastisitas dapat
menggunakan metode Breusch-Pagan b. Uji-t
Test. Jika nilai probabilitas (Prob>chi2) Setelah melakukan uji koefisien
lebih besar dari α (0.05) maka dapat regresi secara keseluruhan, maka langkah
disimpulkan bahwa tidak terjadi selanjutnya adalah menguji koefisien
heteroskedastisitas. Hipotesis dari uji regresi secara parsial menggunakan uji-t.
heteroskedastisitas: Hipotesis pada uji-t adalah : H0 : βi = 0 Vs
H0 : Homoskedastisitas H1 : βi ≠ 0. Keputusan dalam pengujian ini
H1 : Heteroskedastisitas dilakukan dengan membandingkan nilai
Hipotesis nol akan ditolak bila (Prob>chi2) t-hitung dengan t-tabel atau dengan
< α atau nilai chi2 > nilai kritis t-tabel. melihat nilai probabilitas dari t-hitung. Jika
nilai t-hitung > t-tabel atau jika nilai
b. Uji Autokorelasi probabilitas t < α 0,05 maka keputusan
Autokorelasi adalah korelasi yang menolak H0 adalah signifikan.
terjadi antar observasi dalam satu peubah Kesimpulannya adalah peubah bebas
atau korelasi antara error masa yang lalu secara parsial signifikan mempengaruhi
dengan error pada saat ini. Uji autokorelasi peubah tak bebas.
yang dilakukan tergantung pada jenis data 2
dan sifat model yang digunakan. c. Koefisien Determinasi (R )
Autokorelasi dapat memengaruhi efisiensi Koefisien determinasi (Goodness of
dari penduganya. Untuk melakukan uji Fit) merupakan suatu ukuran yang penting
autokorelasi pada data panel dapat dalam regresi, karena dapat
menggunakan Wooldridge test. Jika nilai menginformasikan baik atau tidaknya
probabilitas (Prob>F) lebih besar dari α model regresi hasil estimasi. Nilai R2
(0.05) maka dapat disimpulkan bahwa mencerminkan seberapa besar variasi dari
tidak terjadi autokorelasi. Hipotesis dari uji peubah bebas Y dapat diterangkan oleh
autokorelasi: peubah tak bebas X. Jika R2= 0, maka
H0 : tidak ada autokorelasi variasi dari Y tidak dapat diterangkan oleh
H1 : ada autokorelasi X sama sekali, namun jika R2 = 1 maka
Hipotesis nol akan ditolak bila (Prob>F) < variasi dari Y secara keseluruhan dapat
α. diterangkan oleh X. Semakin tinggi nilai
Pengujian parameter model koefisien determinasi maka model akan
bertujuan untuk mengetahui kelayakan semakin baik.
model dan apakah koefisien yang

119 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

Oleh karena itu, spesifikasi model pada tahun t. Bernilai 1 jika terdapat
yang digunakan dalam penelitian ini NTM jenis SPS, dan bernilai 0 jika
merujuk pada model gravity yang dibuat sebaliknya;
oleh Disdier et al. (2008) dan Fassarella et  dum_tbtijt = Variabel dummy untuk
al. (2011). Adapun model yang digunakan NTM yang berupa kebijakan TBT negara
dalam penelitian ini adalah: pengimpor j pada negara pengekspor i
Model 1: pada tahun t. Bernilai 1 jika terdapat
NTM jenis TBT, dan bernilai 0 jika
sebaliknya;
 dum_trijt = Variabel dummy untuk NTM
Model 2: yang berupa kebijakan trade remedy
negara pengimpor j pada negara
pengekspor i pada tahun t. Bernilai 1 jika
terdapat NTM jenis trade remedy, dan
bernilai 0 jika sebaliknya;
 i = Indonesia (negara pengekspor)
 j = Dua puluh negara tujuan
Keterangan: ekspor/negara pengimpor utama
 ln_EXijt = Ekspor negara i ke negara j  = Konstanta / intersep
pada tahun t (juta $US), dalam log  = Parameter
natural (ln); yang diestimasi
 ln_GDPjt = GDP riil negara pengimpor j  = Error term
pada tahun t (juta $US), dalam log
natural (ln);
Keputusan untuk memilih model
 ln_distanceijt = Jarak ekonomi antara yang digunakan dalam analisis data panel
negara eksportir i dan importir j, dalam didasarkan pada uji Hausman. Uji
log natural (ln). Penghitungan jarak Hausman dilakukan untuk memilih apakah
ekonomi adalah sebagai berikut: model yang digunakan Fixed Effect atau
( ) Random Effect (Firdaus 2011). Digunakan
⁄∑

 ln_populationjt = Populasi negara model Fixed Effect apabila statistik uji


pengimpor j pada tahun t (jiwa), dalam yang dihasilkan tolak H0 dan menggunakan
log natural (ln); Random Effect apabila tidak tolak H0.
 ln_realerijt = Nilai tukar riil negara
pengekspor i terhadap negara pengimpor HASIL DAN PEMBAHASAN
j pada tahun (Rp/LCU), dalam log
natural (ln). Penghitungan nilai tukar riil a. Analisis Tingkat Daya Saing CPO
adalah sebagai berikut: Nilai RCA menunjukkan keunggulan
( ) (

)
komparatif atau daya saing ekspor dalam

suatu komoditas dari suatu negara terhadap
 ntmijt = Variabel dummy untuk NTM dunia. RCA dapat didefinisikan bahwa jika
yang berupa SPS, TBT dan trade remedy pangsa komoditi CPO Indonesia ke negara
negara pengimpor j pada negara tujuan ekspor utamanya di dalam total
pengekspor i pada tahun t. Bernilai 1 jika ekspor suatu negara lebih besar
terdapat salah satu NTM , dan bernilai 0 dibandingkan pangsa pasar ekspor
jika sebaliknya; komoditi CPO di dalam total ekspor
 dum_spsijt = Variabel dummy untuk komoditi dunia, diharapkan negara
NTM yang berupa kebijakan SPS negara tersebut memiliki keunggulan komparatif
pengimpor j pada negara pengekspor i dalam ekspor komoditi CPO tersebut.

120 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

Sehingga secara matematis penelitian ini ekspor total dunia ke negara p. Jika nilai
menggunakan rumus RCA dengan RCA suatu negara untuk komoditas
modifikasi sebagai berikut: tertentu adalah lebih besar dari 1 (satu),
RCA = maka negara bersangkutan memiliki
keunggulan komparatif di atas rata-rata
Dimana Xpq merupakan nilai ekspor dunia untuk komoditas tersebut, dan
komoditas q dari Indonesia ke negara p; Xp sebaliknya. Semakin besar nilai RCA,
merupakan nilai ekspor total (produk q dan semakin tinggi pula tingkat keunggulan
lainnya) dari Indonesia ke negara p; Wpq komparatifnya.
merupakan nilai ekspor komoditas q dunia
ke negara p; dan Wp merupakan nilai

Tabel 3 Hasil Perhitungan Nilai RCA Komoditi CPO Indonesia ke Negara Tujuan
Ekspor Utamanya

Sumber: TRADE MAP, diolah 2014

Pada Tabel 3 diperoleh hasil estimasi Negara yang memiliki nilai rata-rata
nilai RCA komoditi CPO Indonesia ke RCA tertinggi yang lebih dari dan hampir
negara tujuan ekspor utamanya, yang mendekati 100 yaitu Ukraina (222,72),
seluruhnya menunjukkan nilai lebih dari Rusia (138,03), Brazil (106,95) dan Uni
satu. Artinya komoditi CPO Indonesia Eropa (98,81) menunjukkan bahwa
memiliki daya saing yang baik dalam pasar komoditi CPO memiliki tingkat daya saing
dunia. Daya saing yang baik ini merupakan yang sangat besar dibandingkan dengan
nilai lebih Indonesia dalam memajukan dunia. Sedangkan rata-rata RCA terendah
perekonomiannya, karena komoditi CPO tapi nilainya masih lebih dari 1 (satu) yaitu
ini termasuk ke dalam kelompok komoditi pada negara Srilanka (9,53) dan Pakistan
utama Indonesia menurut versi pemerintah (8,21).
yang mendapatkan perhatian lebih dalam Jika dilihat nilai RCA antara tahun
pengembangan ekspornya bagi Indonesia. 2010-2013 di beberapa tujuan ekspor
utamanya seperti India, Malaysia,

121 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

Bangladesh dan Vietnam mengalami terhadap komoditi CPO. Keadaan ini


penurunan. Namun, nilai RCA juga terlihat menjadikan Indonesia memiliki daya saing
berfluktuatif antara tahun 2010-2013. Hal yang tinggi di pasar dunia.
itu terjadi di negara Uni Eropa, Cina,
Singapura, Mesir, Ukraina, Myanmar, Non-Tariff Measures pada Komoditi
Africa Selatan, Turki, Brazil, Jordania, CPO Indonesia
Amerika Serikat dan Srilanka. Terjadinya Pada bagian ini akan dilakukan
penurunan dan fluktuasinya nilai RCA analisis pemberlakuan NTM terhadap
tersebut diindikasikan adanya NTM yang komoditi CPO Indonesia pada negara
diterapkan oleh negara pengimpor tujuan ekspor utamanya dengan
terhadap komoditi CPO Indonesia, tetapi pendekatan dalam menghitung jumlah
tidak terlepas juga dari kondisi pemberlakuan NTM (incidence of
masing-masing perekonomian negara non-tariff measures). Incidence of
pengimpornya. non-tariff measures menyajikan sebaran
Nilai RCA juga akan semakin besar penggunaan NTM baik berdasarkan negara
karena adanya kesepakatan khusus antara tujuan ekspor, komoditas, dan jenis NTM.
Indonesia dengan negara-negara tujuan Perdagangan komoditi ekspor CPO
ekspor utamanya tersebut mengenai Indonesia menghadapi berbagai hambatan
pemenuhan kebutuhan terhadap komoditi di beberapa negara tujuan ekspor
ini di pasar masing-masing negara tujuan khususnya NTM yang berpotensi akan
ekspor utamanya. Misalnya saja Uni merugikan kepentingan perdagangan
Eropa, karena adanya kesepakatan khusus Indonesia. NTM tersebut berupa sanitary
antara Indonesia dengan negara-negara and phytosanitary (SPS), technical
Uni Eropa mengenai pemenuhan barriers to trade (TBT) dan trade remedy
kebutuhan akan komoditi CPO ini di pasar (antidumping, subsidy, dan safeguards)
Uni Eropa, sehingga meskipun dalam yang disajikan pada Tabel 4 dengan jumlah
kondisi krisis sekalipun pada tahun pemberlakuan masing-masing sebanyak 34
2008-2009, namun aliran perdagangan kebijakan untuk SPS, 102 kebijakan untuk
Indonesia dan Uni Eropa terhadap TBT, serta 4 kebijakan untuk trade
komoditi ini cenderung tidak terlalu remedy.
berfluktuatif, bahkan trennya terlihat terus Pada Tabel 4 dapat diketahui bahwa
meningkat. dari 20 (dua puluh) negara tujuan ekspor
Komoditi CPO merupakan primary utama komoditi CPO Indonesia, terdapat
goods yang dibutuhkan bagi negara-negara 10 (sepuluh) negara tujuan ekspor utama
mitra dagang dalam industri-industrinya. yang mengenakan kebijakan-kebijakan
Hal ini sesuai dengan penelitian Oktaviani NTM khususnya SPS, TBT dan trade
(2008) yang menunjukkan komoditi yang remedy. Sisanya sebanyak 10 (sepuluh)
tergolong primary goods memiliki daya negara tujuan ekspor utamanya tidak
saing tinggi dengan nilai RCA yang lebih mengenakan kebijakan NTM,
dari satu. Tentu saja Indonesia sebagai negara-negara tersebut adalah India,
salah satu penghasil hasil bumi terbesar Singapura, Banglades, Mesir, Ukraina,
dunia menjadi salah satu pemasok utama Rusia, Myanmar, Tanzania, Jordania dan
dalam memenuhi kebutuhan mereka Srilanka.

122 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

Tabel 4 Non-Tariff Measures yang Diberlakukan pada Komoditi CPO Indonesia di


Negara-negara Tujuan Ekspor Utamanya tahun 2003-2013

Sumber: WTO dan Direktorat Pengamanan Perdagangan (Kemendag RI), diolah 2014

India tidak memberlakukan baik labeling dan packaging yang berhubungan


SPS, TBT dan trade remedy, namun pada langsung dengan food safety requirements,
tahun 2002 pernah mengenakan tindakan food additives, dan terkait certification.
safeguard terhadap produk CPO Indonesia Kebijakan TBT yang banyak diberlakukan
dan kasusnya sudah dihentikan pada antara lain berkaitan dengan food
tanggal 24 Januari 2003. Singapura dan standard, labeling (terkait informasi
Banglades juga tidak memberlakukan baik nutrisi), comformity assessment, dan
SPS, TBT dan trade remedy, meskipun quality requirements. Sementara itu pada
nilai ekspor CPO Indonesia ke kedua penerapan NTM jenis trade remedy yang
negara tersebut mengalami penurunan tapi banyak diberlakukan adalah dumping.
bukan karena adanya penerapan NTM. Hal Negara tujuan ekspor yang paling
ini dikarenakan kedua negara tersebut banyak memberlakukan NTM untuk
memperoleh CPO tidak hanya dari komoditi CPO Indonesia adalah Amerika
Indonesia saja tapi juga impor dari Serikat sebanyak 41 kebijakan, dengan
Malaysia, sehingga impor dari Indonesia SPS sebanyak 8 kebijakan dan TBT
berkurang. Sementara itu untuk Mesir, sebanyak 33 kebijakan. Kemudian negara
Ukraina, Rusia, Myanmar dan Srilanka yang memberlakukan NTM terbanyak
juga tidak memberlakukan baik SPS, TBT selanjutnya yaitu Pakistan, Saudi Arabia
dan trade remedy, hal ini pula yang dan Uni Eropa dengan masing-masing
menjadi alasan negara tujuan ekspor CPO sebanyak 26 kebijakan, 26 kebijakan dan
Indonesia ditujukan ke negara-negara 22 kebijakan. Pakistan menerapkan NTM
tersebut yang dibuktikan dengan berupa TBT sebanyak 26 kebijakan. Saudi
meningkatnya pertumbuhan ekspor CPO Arabia memberlakukan NTM dengan SPS
pada tahun 2012-2013. sebanyak 6 kebijakan dan TBT sebanyak
Kebijakan SPS yang banyak 20 kebijakan. Sedangkan Uni Eropa
diberlakukan antara lain terkait dengan menerapkan NTM dengan SPS sebanyak

123 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

11 kebijakan, TBT sebanyak 8 kebijakan maka dilakukan juga pengujian asumsi


dan trade remedy sebanyak 3 kebijakan dasar. Hasil estimasi yang menggunakan
(berupa 2 kebijakan antidumping dan 1 gravity model tersebut dilakukan dengan
kebijakan subsidy). program software Stata 12.

Binary Variable Hasil Estimasi Model Data Panel


Untuk mengevaluasi dampak NTM Analisis pengaruh NTM terhadap arus
pada level produk, variabel dummy banyak perdagangan ekspor komoditi CPO
digunakan dalam penelitian (Demaria et al. Indonesia ke negara tujuan ekspor utama
2011). Variabel dummy untuk NTM yang menggunakan panel data statis pada
berupa SPS, TBT dan trade remedy negara gravity model dari tahun 2003-2013. Hasil
pengimpor j pada negara pengekspor i uji chow menunjukkan bahwa Fixed Effect
pada tahun t. Dummy NTM bernilai 1 jika Model (FEM) lebih baik daripada Pooled
terdapat setidaknya satu NTM yang Least Square (PLS), hal ini dilihat dari
diterapkan dan bernilai 0 jika tidak ada nilai statistik uji chow sebesar 9,13
NTM yang diterapkan. (Prob>F=0,000). Uji Breusch Pagan LM
Hal ini dimungkinkan untuk memberikan hasil bahwa Random Effect
menggunakan binary variable atau Model (REM) lebih baik dari PLS dengan
discrete variable yang sering menjadi nilai statistik sebesar 49,89
karakter NTM dalam pendekatan gravitasi. (Prob>chibar2=0,000). Berdasarkan kedua
Oleh karena itu, memasukkan NTM secara pengujian tersebut, maka dilakukan uji
eksplisit ke dalam model akan lebih Hausman untuk menentukan model FE
berguna, bahkan jika hanya sebagai atau RE yang akan digunakan pada
variabel dummy, daripada tidak penelitian ini. Hasil uji Hausman
mengikutsertakan NTM sebagai alasan menunjukkan bahwa FEM lebih baik dari
untuk errors yang tidak dapat dijelaskan REM dengan nilai statistik sebesar 50,51
dalam estimasi model (Bellanawithana dan (Prob>Chi Square=0,000) sehingga model
Wijerathne 2009). yang digunakan adalah Fixed Effect
Model.
b. Analisis Data Panel dengan Model
Gravity Uji Kelayakan dan Kecocokan Model
Analisis dampak SPS, TBT dan (Goodness of fit)
trade remedy ini dimulai dengan Uji kelayakan model menunjukkan
membahas mengenai pengujian model bahwa nilai probability (F-Statistic) pada
gravity. Hal ini dilakukan agar model yang digunakan adalah 0,000
memperoleh model yang layak dan sehingga dapat disimpulkan bahwa
estimasi yang bersifat BLUE (Best Linier minimal terdapat satu variabel bebas yang
Unbiased Estimator), kemudian mempengaruhi variabel tidak bebas. Uji
menganalisis faktor-faktor yang kecocokan model (goodness of fit)
mempengaruhi ekspor CPO Indonesia. ditunjukkan pada nilai koefisien
Terakhir menganalisis dampak SPS, TBT determinasi (R2). Model menunjukkan
dan trade remedy sesuai dengan model nilai R2 sebesar 0,40 yang berarti variasi
yang telah diperoleh. variabel bebas berupa GDP riil, jarak
Dalam penelitian ini, untuk ekonomi, populasi, real exchange rate, dan
memperoleh model yang cocok maka dummy NTM mampu menjelaskan
dilakukan uji kelayakan dan kecocokan variabel tak bebas (nilai ekspor) sebesar
model (goodness of fit). Untuk 40%, sedangkan sisanya dijelaskan oleh
memperoleh estimasi yang bersifat BLUE faktor-faktor lainnya diluar model.

124 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

Uji Asumsi Dasar bawah ini, model mengandung


Uji asumsi dasar dilakukan untuk autokorelasi yang ditunjukkan dengan nilai
memperoleh estimasi yang bersifat BLUE F Stat lebih kecil dari α (0,05). Untuk
(Best Linier Unbiased Estimator). Uji mengatasi masalah pada model, maka
asumsi dasar ini meliputi uji digunakan model panel data dengan
multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan General Least Square (GLS) untuk
autokorelasi. Uji multikolinearitas yang mengatasi pelanggaran asumsi tersebut.
dilakukan pada model mengindikasikan Tabel 7 Uji Autokorelasi
adanya multikolinearitas yang ditunjukkan
dengan adanya nilai korelasi antar variabel
bebas dan tidak bebas bernilai lebih dari
0,75. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 5,
sehingga dengan demikian dapat Faktor yang Mempengaruhi Arus
disimpulkan bahwa antar variabel yang Perdagangan Ekspor CPO Indonesia
diteliti terjadi multikolinearitas.
Tabel 5 Uji Multikolinearitas Berdasarkan hasil pengujian Model 1
dan Model 2 diperoleh informasi bahwa
arus perdagangan ekspor komoditi CPO
Indonesia dipengaruhi oleh GDP negara
pengimpor, jarak ekonomi, populasi, nilai
tukar riil, dan dummy NTM (kebijakan non
tarif). Model 1 memberikan informasi
bahwa NTM mempengaruhi arus
perdagangan ekspor CPO Indonesia.
Variabel dummy NTM digunakan sebagai
variabel yang dapat menangkap pengaruh
Uji heteroskedastisitas dilihat dari dari arus perdagangan ekspor komoditi
hasil Modified Wald Test sebagaimana CPO Indonesia. Berdasarkan hasil estimasi
Tabel 6. Dari tabel tersebut, dapat dilihat pada Model 1 yang dilakukan dalam
bahwa model mengalami penelitian ini, dummy NTM memberikan
heteroskedastisitas yang ditunjukkan pengaruh yang tidak signifikan terhadap
dengan nilai wald test lebih kecil dari α arus perdagangan ekspor Indonesia pada
(0,05). komoditi CPO. Tetapi nilai koefisien pada
Tabel 6 Uji Heteroskedastisitas dummy NTM bernilai -0,06, tanda negatif
pada dummy NTM mengindikasikan
adanya hambatan non tarif pada arus
perdagangan ekspor CPO Indonesia yang
Kemudian pada uji autokorelasi berpengaruh pada turunnya nilai ekspor.
dapat dilihat dari hasil Wooldridge test
seperti pada Tabel 7. Menurut tabel di

125 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

Tabel 8 Hasil estimasi dampak non-tariff measures (koefisien parameter dengan GLS)
periode 2003-2013

Namun jika didisagregasi menjadi perdagangan ekspor Indonesia pada


tiga berdasarkan jenis NTM (Model 2) komoditi CPO.
berupa kebijakan SPS, TBT dan trade
remedy maka informasi yang diperoleh GDP Riil Negara Pengimpor
adalah kebijakan TBT yang berkaitan GDP riil negara pengimpor memiliki
dengan regulasi teknis dan standar hubungan yang positif terhadap arus
berdampak negatif, sedangkan kebijakan perdagangan ekspor CPO Indonesia.
SPS yang berkaitan dengan persyaratan Pengaruhnya positif dengan significant
prosedur tentang kesehatan dan level sebesar 1% dan dengan nilai
keselamatan berdampak positif terhadap koefisien sebesar 1,32. Dari hasil tersebut
arus perdagangan ekspor komoditi CPO. dapat disimpulkan bahwa jika terjadi
Begitu pula dengan kebijakan trade remedy peningkatan GDP riil negara pengimpor
(antidumping, subsidy, safeguard) sebesar 1% maka pengaruhnya akan
berdampak positif terhadap arus meningkatkan ekspor CPO Indonesia
perdagangan ekspor komoditi CPO sebesar 1,32%, ceteris paribus.
Indonesia seperti terlihat pada Tabel 8. Peningkatan pendapatan yang terjadi pada
Ketiga dummy NTM tersebut memberikan negara pengimpor akan meningkatkan
pengaruh yang signifikan terhadap arus permintaan ekspor CPO Indonesia. Hal ini

126 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

menyimpulkan bahwa kenaikan yang ekspor CPO akan meningkat sebesar


terjadi pada pendapatan suatu negara akan 1,05%, ceteris paribus. Kondisi ini sesuai
berdampak positif terhadap kenaikan dengan hipotesis penelitian yang
permintaan akan barang komoditas ekspor. menjelaskan bahwa populasi negara
Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan pengimpor berpengaruh positif pada
yang dilakukan oleh Bellanawithana dan ekspor CPO Indonesia.
Wijerathne (2009). Populasi negara pengimpor
berpengaruh signifikan pada taraf nyata
Jarak Ekonomi (Distance) 1% terhadap aliran perdagangan ekspor
Biaya ekspor (biaya transportasi) CPO Indonesia. Adanya pertambahan
dalam penelitian ini diukur dengan nilai populasi pada negara pengimpor akan
jarak ekonomi suatu negara. Jarak meningkatkan jumlah CPO yang dapat
ekonomi merupakan salah satu syarat yang diekspor karena adanya pertambahan
cukup penting pada gravity model dan konsumsi di negara tersebut, ceteris
besarnya jarak ekonomi akan paribus. Konsumsi yang meningkat di
mempengaruhi arus perdagangan ekspor negara pengimpor akan meningkatkan
secara negatif. Hasil estimasi yang jumlah produk CPO yang diimpor. Dengan
diperoleh model menunjukkan bahwa demikian, Indonesia sebagai negara
variabel distance berpengaruh signifikan pengekspor dapat meningkatkan jumlah
terhadap ekspor dengan taraf nyata 1% dan ekspornya di negara pengimpor tersebut.
besaran nilai koefisiennya yaitu 1,60. Besarnya populasi pada suatu negara
Koefisien tersebut bernilai negatif menunjukkan potensi pasar yang besar
sehingga sesuai dengan teori ataupun bagi negara pengekspor. Populasi menjadi
hipotesis pada penelitian ini. suatu indikasi untuk meningkatkan jumlah
Nilai koefisien dengan tanda negatif ekspor, sehingga dapat berpengaruh positif.
tersebut mengindikasikan bahwa apabila Negara-negara dengan populasi yang besar
jarak dengan negara tujuan ekspor lebih dapat menjadi sebagai suatu potensi pasar
jauh 1% maka akan terjadi penurunan bagi Indonesia untuk dapat lebih
ekspor CPO sebesar 1,60%, ceteris paribus. dikembangkan, misalnya seperti India, Uni
Hal ini sesuai dengan teori gravity dimana Eropa dan Cina yang merupakan negara
jarak mempengaruhi interaksi antara dua tujuan ekspor terbesar untuk komoditi
objek. Semakin jauh jarak negara tujuan CPO Indonesia serta memiliki populasi
dengan Indonesia maka semakin besar jumlah penduduk yang terus bertambah
biaya transportasi untuk perdagangan CPO setiap tahunnya. Hal ini sejalan dengan
dari Indonesia. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zarzoso
penelitian yang dilakukan oleh dan Lehmann (2003) yang menyatakan
Bellanawithana dan Wijerathne (2009), bahwa koefisien positif pada variabel
yang menjelaskan bahwa koefisien jarak populasi negara pengimpor menunjukkan
yang bernilai negatif mengindikasikan ukuran suatu negara berhubungan
semakin besar jarak antar negara akan langsung dengan perdagangan, yang
meningkatkan biaya transportasi sehingga berarti bigger countries memiliki kapasitas
dapat menurunkan perdagangan. yang lebih besar untuk menyerap impor
daripada smaller countries.
Populasi Negara Pengimpor
Nilai koefisien variabel populasi Nilai Tukar Riil (Real Exchange Rate)
negara pengimpor sebesar 1,05. Hal ini Hasil estimasi yang diperoleh model
mengindikasikan jika populasi negara menunjukkan bahwa variabel realer (nilai
pengimpor meningkat 1% maka nilai tukar riil) berpengaruh signifikan terhadap

127 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

ekspor dengan taraf nyata 1% dan besaran Hasil estimasi Model 2 menunjukkan
nilai koefisiennya yaitu 0,28. Hal tersebut bahwa NTM mempengaruhi arus
berarti jika terjadi peningkatan nilai tukar perdagangan ekspor CPO Indonesia secara
riil sebesar 1% maka akan meningkatkan signifikan dengan memisahkan variabel
arus perdagangan ekspor sebesar 0,28%, jenis NTM menjadi tiga yaitu SPS, TBT
ceteris paribus. Nilai tukar rupiah terhadap dan trade remedy. Namun, menariknya
mata uang negara pengimpor CPO yang hasil estimasi pada Model 2
diteliti memberikan pengaruh yang nyata memperlihatkan bahwa hanya TBT yang
terhadap ekspor CPO Indonesia. menyatakan adanya pengaruh negatif
Nilai tukar riil meningkat atau mata terhadap arus perdagangan ekspor CPO
uang negara pengekspor terdepresiasi Indonesia, sedangkan SPS dan trade
maka akan mengakibatkan harga produk di remedy menyatakan adanya pengaruh
negara pengekspor menjadi lebih murah positif. Pentingnya NTM bukan hanya dari
sehingga mendorong permintaan produk ada atau tidaknya tetapi juga bagaimana
dari negara lain. Arus perdagangan ekspor dampak nyatanya dalam perdagangan
akan meningkat karena permintaan produk internasional.
CPO meningkat. Stabilitas nilai tukar riil
mata uang Indonesia terhadap mata uang Dampak Non-Tariff Measures terhadap
negara lain merupakan syarat penting bagi Ekspor CPO Indonesia ke Negara
perdagangan komoditi CPO. Hal ini sesuai Tujuan Utama
dengan penelitian yang dilakukan oleh
Zarzoso dan Lehmann (2003) yang Efek dari NTM sering menjadi
menyatakan bahwa terjadinya depresiasi ambigu dan sensitif secara politis. Di satu
mata uang di negara pengekspor akan sisi, peraturan atau regulasi yang sering
dapat menaikkan ekspor. diperlukan untuk mengurangi market
failures, tapi di sisi lain peraturan domestik
Kebijakan non tarif (non-tariff mungkin dikenakan hanya untuk
measures) menghambat impor pesaing asing (Beghin
Efek untuk NTM tidak dapat 2008). Analisis teoritis tidak memberikan
dipastikan karena dapat bermakna ambigu kesimpulan yang pasti tentang efek
(dapat memiliki efek negatif dan efek keseluruhan terkait dengan regulasi,
positif). NTM dapat menghambat selanjutnya dibutuhkan bukti lain dan
perdagangan karena meningkatnya biaya kemudian beralih ke analisis empiris.
kepatuhan (conformity assessment Mengevaluasi dampak NTM tersebut tidak
reqirements) bagi produsen, tetapi juga sederhana dan membutuhkan estimasi
dapat meningkatkan permintaan karena yang tidak mudah (Dee dan Ferrantino
mengurangi biaya informasi bagi 2005).
konsumen (Fugazza 2013). Pengaruh NTM pada kebijakan SPS
Hasil estimasi Model 1 menunjukkan nyata pada level signifikansi 5% namun
bahwa hipotesis awal yang menyatakan koefisiennya bernilai positif yaitu 0,34,
adanya pengaruh negatif NTM terhadap sedangkan pada kebijakan TBT nyata pada
arus perdagangan ekspor CPO telah level signifikansi 1% dengan nilai
terbukti tapi tidak berpengaruh secara koefisien sebesar -0,41, serta pada
signifikan. Penggunaan NTM untuk kebijakan trade remedy juga nyata pada
melakukan proteksi perdagangan suatu level signifikansi 1% namun koefisiennya
negara mempengaruhi arus perdagangan bernilai positif yaitu 1,41. Oleh karena itu,
ekspor CPO Indonesia walaupun tidak kebijakan yang lebih dominan
signifikan.

128 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

mempengaruhi arus perdagangan ekspor SPS (berupa labeling dan


komoditi CPO adalah kebijakan TBT. pelarangan/karantina) meningkatkan arus
perdagangan ekspor Brazil pada produk
Kebijakan SPS (Sanitary and daging unggas. Fenomena ini juga terjadi
Phytosanitary Measures) pada perdagangan ekspor komoditi CPO
NTM berupa kebijakan SPS yang Indonesia. Peningkatan kebijakan SPS
diberlakukan di negara tujuan ekspor yang didalamnya merupakan kebijakan
(negara pengimpor) komoditi CPO terkait dengan persyaratan prosedur yang
Indonesia meliputi labeling dan packaging bertujuan untuk melindungi kesehatan dan
yang berkaitan langsung dengan food kehidupan makhluk hidup termasuk
safety requirements, food additives, serta prosedur pengujian, sertifikasi, karantina,
terkait certification. Berdasarkan hasil labeling dan packaging yang berhubungan
estimasi memperlihatkan bahwa langsung dengan food safety, dapat
peningkatan cakupan NTM dalam meningkatkan arus perdagangan ekspor.
kebijakan SPS sebesar 1% akan Terkait dengan pengaruh kebijakan
meningkatkan arus perdagangan ekspor SPS terhadap arus perdagangan ekspor
sebesar 0,34%, ceteris paribus. Dapat juga CPO Indonesia, maka dapat dijelaskan
diartikan bahwa penggunaan kebijakan bahwa kebijakan SPS merupakan
SPS tidak selalu menghambat perdagangan, kebijakan yang mengangkat aspek
tetapi ternyata dapat meningkatkan arus kesehatan serta keselamatan dan saat ini
perdagangan ekspor. Indikator yang telah menjadi concern tidak hanya bagi
digunakan untuk mengukur penggunaan negara maju tapi juga negara berkembang.
kebijakan SPS adalah dummy variable Ketika negara mitra dagang (negara
(binary variable) dari penggunaan tiga pengimpor) Indonesia menerapkan
jenis NTM tersebut. kebijakan dalam bentuk SPS measures
Berdasarkan hasil estimasi tersebut yang meliputi sertifikasi, pengujian,
terdapat efek ganda SPS dan TBT di labeling serta packaging yang berkaitan
bidang pertanian yaitu dapat tidak dengan kesehatan dan keamanan makanan
berdampak pada perdagangan atau bahkan maka eksportir Indonesia terdorong untuk
memfasilitasi perdagangan dengan menghasilkan produk yang sesuai dengan
membawa informasi dari produk impor, persyaratan dan prosedur yang relevan.
dengan asumsi bahwa eksportir dapat Hal ini juga sesuai dengan penelitian
mengatasi persyaratan teknis terkait dan Bellanawithana dan Wijerathne (2009)
dokumen; tetapi SPS atau TBT juga bisa terkait perdagangan pada sektor pertanian
menjadi hambatan dalam perdagangan di Asia Selatan yang menjelaskan bahwa
ketika negara-negara tidak dapat NTM akan lebih ketat 1% di negara
memenuhi standar (Disdier, Fontagne dan pengimpor dan akan meningkatkan nilai
Mimouni 2008). Hal ini memperkuat perdagangan ekspor pertanian sebesar
kesimpulan bahwa tidak semua SPS dan 5,3%. Alasannya karena dengan NTM
TBT di bidang pertanian adalah perangkat yang ketat akan meningkatkan kualitas
proteksionis. produk dan meskipun dapat meningkatkan
Pengaruh positif kebijakan SPS harga, namun akhirnya akan membantu
terhadap arus perdagangan ekspor eksportir untuk mendapatkan keunggulan
berlawanan dengan hipotesis yang kompetitif.
ditentukan pada awal penelitian. Namun, Semakin besarnya cakupan produk
hasil pengujian ini sejalan dengan yang sudah sesuai dengan persyaratan SPS
penelitian Fasarella, Souza dan Burnquist negara pengimpor maka produk ekspor
(2011) yang menyatakan bahwa kebijakan asal Indonesia semakin diterima di pasar

129 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

negara lain. Meskipun kebijakan seperti ini pada tahun 2013 nilai ekspor CPO
dapat meningkatkan harga, namun Indonesia ke Amerika Serikat melonjak
konsumen akan lebih percaya dengan tajam. Demikian pula terjadi peningkatan
kualitas produk ekspor Indonesia. Selain nilai ekspor CPO Indonesia ke Brazil
itu negara pengimpor bukan merupakan setiap tahunnya. Negara lainnya yang
penghasil dari komoditi CPO. CPO juga menerapkan kebijakan SPS yaitu Cina,
tidak dikonsumsi secara langsung dapat dijelaskan bahwa terjadi fluktuasi
sebagaimana misalnya produk ikan atau pada nilai ekspor CPO Indonesia ke Cina
daging dan harus mengalami proses tetapi selama periode 2009-2013 trennya
pengolahan lagi (intermediate good). CPO cenderung positif. Namun pada tahun 2013
mempunyai rantai pengolahan yang nilainya menurun karena pasar CPO di
panjang sebelum menjadi ingredients Cina diprediksi mengecil seiring dengan
produk jadi, hal ini yang menjadikan CPO perlambatan pertumbuhan ekonominya.
sebagai bahan dasar yang dibutuhkan Negara selanjutnya yang menerapkan
untuk berbagai macam produk manufaktur kebijakan SPS adalah Saudi Arabia dan
(end user) khususnya di banyak negara Afrika Selatan, dapat dijelaskan juga
maju dan negara berkembang. Oleh karena bahwa nilai ekspor CPO Indonesia ke
itu, kebijakan SPS tidak dapat pasar Saudi Arabia dan Afrika Selatan
menghalangi ekspor CPO dari Indonesia mengalami fluktuasi. Tetapi selama
sebagai produsen sekaligus eksportir periode 2009-2013 trennya cenderung
terbesar di dunia. positif.
Jika dilihat pada pemberlakuan NTM Contoh kasus yang terkait dengan
khususnya kebijakan SPS yang diterapkan kebijakan SPS adalah AQSIQ (General
oleh negara tujuan ekspor komoditi CPO Administration of Quality Supervision,
Indonesia, mengindikasikan bahwa jumlah Inspection and Quarantine) Republik
kebijakan SPS lebih sedikit daripada Rakyat Tiongkok (RRT/Cina) telah
kebijakan TBT. Negara yang paling menemukan produk makanan asal
banyak menerapkan kebijakan SPS Indonesia (refined palm oil) yang tidak
tersebut adalah Uni Eropa sebanyak 11 memenuhi syarat yang diekspor ke Cina
kebijakan dan Amerika Serikat sebanyak 8 pada bulan September 2011. Produk
kebijakan. Sementara negara lainnya yaitu tersebut telah dimusnahkan karena
Cina sebanyak 6 kebijakan, Saudi Arabia mengandung acid sebesar 0.25-0.29
sebanyak 6 kebijakan, Brazil sebanyak 2 mgKOH/g dan jumlah peroxide sebesar
kebijakan dan Afrika Selatan sebanyak 1 6.49 mmol/kg sesuai ketentuan yang
kebijakan. Uni Eropa menjelang tahun berlaku. Diharapkan pihak/instansi terkait
2015 telah menyatakan bahwa hanya akan dapat mengambil langkah-langkah efektif
menerima CPO yang memiliki sertifikasi dan memperketat pengawasan sehingga
sustainable. Respons positif yang telah dapat menjamin keamanan mutu makanan
diperoleh dari Uni Eropa terhadap yang diekspor ke RRT. Kemudian pada
diplomasi dagang Indonesia untuk tanggal 22 Mei 2012, AQSIQ juga
mengonvergensikan sertifikat ISPO menerbitkan 2012 (No.80) Decree on
(Indonesian Sustainable Palm Oil) dengan Requirements for Transport Containers for
RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Importing Bulky Vegetable Oils. Regulasi
Oil). tersebut mengatur tentang persyaratan
Amerika Serikat meskipun bahan yang digunakan untuk membuat
menerapkan kebijakan SPS tapi dapat wadah pengiriman minyak nabati, daftar
dilihat pada nilai ekspornya yang bahan yang dilarang dimuat dan
cenderung meningkat trennya, bahkan dikapalkan, dan larangan untuk

130 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

menggunakan wadah yang telah digunakan (2011) yang menyatakan bahwa kebijakan
untuk dua kali pengiriman. Regulasi TBT (berupa technical measures yang
tersebut mulai berlaku pada tanggal 1 khususnya terkait dengan conformity
Januari 2013 (Direktorat Pengamanan assessment procedur) akan menurunkan
Perdagangan 2012). arus perdagangan ekspor Brazil pada
Penerapan kebijakan SPS terutama produk daging unggas. Fenomena ini juga
pada labeling dan packaging yang terjadi pada perdagangan ekspor komoditi
berkaitan langsung dengan food safety, CPO Indonesia. Peningkatan kebijakan
food additives, serta certification TBT yang didalamnya merupakan
hendaknya tidak dianggap sebagai kebijakan terkait dengan regulasi teknis,
hambatan perdagangan saja namun perlu dan prosedur penilaian kesesuaian
dijadikan motivasi oleh setiap negara (conformity assessment procedur) dengan
terutama Indonesia untuk menghasilkan peraturan teknis dan standar, termasuk
produk yang berkualitas dan berdaya saing langkah-langkah yang tercakup dalam
tinggi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan perjanjian SPS, dapat menurunkan arus
dari beberapa alasan tersebut bahwa perdagangan ekspor.
kebijakan SPS yang diterapkan di Hasil penelitian yang dilakukan oleh
negara-negara tujuan ekspor utamanya Chen et al. (2006) juga menjelaskan bahwa
(negara pengimpor) tidak menghambat dan conformity assessment procedure secara
dapat meningkatkan arus perdagangan signifikan menghambat perdagangan dan
ekspor CPO Indonesia. prosedur pengujian merupakan hal yang
memberatkan bagi perusahaan di sektor
Kebijakan TBT (Technical Barriers to pertanian. Penilaian kesesuaian
Trade Measures) (conformity assessment) mengacu pada
NTM berupa kebijakan TBT yang pengujian, inspeksi dan sertifikasi, serta
diberlakukan di negara tujuan ekspor pernyataan kesesuaian dari pemasok. Hal
(negara pengimpor) komoditi CPO tersebut diperlukan untuk mencapai tujuan
Indonesia meliputi food standard, labeling penting dari suatu kebijakan, salah satunya
(terkait informasi nutrisi), comformity yaitu perlindungan kesehatan dan
assessment, dan quality requirements. keamanan konsumen. Pengujian, inspeksi
Berdasarkan hasil estimasi menjelaskan dan sertifikasi sesuai dengan regulasi TBT
bahwa peningkatan cakupan NTM dalam akan memerlukan biaya, karena biaya ini
kebijakan TBT sebesar 1% akan diperlukan untuk memastikan kepatuhan
menurunkan arus perdagangan ekspor terhadap standar yang telah ditetapkan.
sebesar 0,41%, ceteris paribus. Indikator Jika dilihat pada pemberlakuan NTM
yang digunakan untuk mengukur khususnya kebijakan TBT yang diterapkan
penggunaan kebijakan TBT adalah dummy oleh negara tujuan ekspor komoditi CPO
variable (binary variable). Indonesia, mengindikasikan bahwa jumlah
Pengaruh negatif kebijakan TBT kebijakan TBT lebih banyak diterapkan
terhadap arus perdagangan ekspor sesuai daripada kebijakan SPS dan trade remedy.
dengan hipotesis yang ditentukan pada Negara yang paling banyak menerapkan
awal penelitian. Penelitian oleh Moenius kebijakan TBT tersebut adalah Amerika
(2006) menjelaskan bahwa standar khusus Serikat sebanyak 33 kebijakan, Pakistan
(kebijakan TBT) dari negara pengimpor sebanyak 26 kebijakan dan Arab Saudi
secara negatif mempengaruhi arus sebanyak 20 kebijakan. Sementara negara
perdagangan pada sektor pertanian. Hasil lainnya yaitu Uni Eropa sebanyak 8
pengujian ini juga sejalan dengan kebijakan, Cina sebanyak 7 kebijakan,
penelitian Fasarella, Souza dan Burnquist Brazil sebanyak 3 kebijakan, Malaysia dan

131 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

Turki masing-masing sebanyak 2 ternyata tidak secara langsung


kebijakan serta Afrika Selatan sebanyak 1 menghambat perdagangan dan dapat
kebijakan. meningkatkan arus perdagangan ekspor.
Contoh kasus dari Cina melalui Indikator yang digunakan untuk mengukur
AQSIQ Shi Jian 2012 (No. 229) penggunaan kebijakan trade remedy
mengeluarkan notifikasi mengenai Further adalah dummy variable (binary variable).
Enhancing Supervision of Vegetable Oil Pengaruh positif kebijakan trade
Import Inspection pada tanggal 14 Mei remedy terhadap arus perdagangan ekspor
2012. Dalam tersebut dinyatakan bahwa berlawanan dengan hipotesis yang
importir bertanggung jawab terhadap ditentukan pada awal penelitian. Bukti
kualitas dan keamanan minyak nabati pengenaan trade remedy harus berbasis
(vegetable oils) yang diimpor. Secara unfair trade, namun kenyataannya banyak
spesifik, importir harus memberikan yang tidak berbasis scientific evidence
jaminan bahwa minyak nabati yang melainkan alasan politis karena proteksi.
diimpor telah memenuhi persyaratan di Kecenderungan penggunaan non-tariff
dalam undang-undang standar Pemerintah measures pada trade remedy terjadi pada
Cina dengan memiliki dokumen yang spesifik produk (produk hilir), sedangkan
relevan yang menyatakan bahwa produk CPO merupakan produk hulu. Untuk
yang diimpor telah memenuhi standar Cina, produk hilir dari komoditi CPO misalnya
membuat catatan impor dan penjualan berupa fatty alcohol dan biodiesel,
yang dapat dilacak, serta mempekerjakan sehingga tidak secara langsung
pegawai yang mengenal baik regulasi mempengaruhi (menurunkan) ekspor CPO
mengenai kualitas dan keamanan Cina. ke negara mitra dagangnya.
Pemerintah Cina telah memberlakukan Contoh kasus terkait adalah kasus
standar yang lebih ketat terhadap impor dumping dan subsidy atas produk biodiesel
produk CPO Indonesia mulai Januari 2013 asal Indonesia ke Uni Eropa. European
terutama terkait dengan acid value Biodiesel Bord (EBB) mendapat tekanan
(Direktorat Pengamanan Perdagangan kuat dari produsen utama biofuel di Uni
2012). Eropa (Jerman, Perancis dan Italia) untuk
Oleh karena itu, dapat disimpulkan mencermati lonjakkan impor produk
dari beberapa alasan tersebut bahwa biofuel dari Indonesia dan Argentina yang
kebijakan TBT yang diterapkan di sangat mengganggu pangsa pasar mereka
negara-negara tujuan ekspor utamanya dan telah mendominasi pasar impor biofuel
(negara pengimpor) tersebut menghambat Uni Eropa. Selain itu pada tahun 2011
dan dapat menurunkan arus perdagangan terjadi lonjakan impor biodiesel ke
ekspor CPO Indonesia. Belanda dari 41 958,4 ton pada tahun 2010
menjadi 155 465,6 ton pada tahun 2011
Kebijakan Trade Remedy (Antidumping, atau meningkat sebesar 270,52%, market
Subsidy, Safeguard) share volume Indonesia ke Belanda naik
NTM berupa kebijakan trade remedy dari 2,68% menjadi 9,34% pada tahun
yang diberlakukan di negara tujuan ekspor 2011. Besar kemungkinan lonjakan impor
(negara pengimpor) komoditi CPO dan market share Indonesia ke Belanda
Indonesia meliputi antidumping, subsidy, menjadi pemicu inisiasi rencana tuduhan
dan safeguard. Peningkatan cakupan NTM dumping. Setelah dilakukan penyelidikan
dalam kebijakan trade remedy sebesar 1% maka pada awal bulan Desember 2013
akan meningkatkan arus perdagangan Komisi Eropa memutuskan bahwa pelaku
ekspor sebesar 1,14%, ceteris paribus. usaha Indonesia telah melakukan praktek
Penggunaan kebijakan trade remedy dumping. Oleh karena itu dikenakan Bea

132 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

Masuk Anti Dumping (BMAD) dengan safeguard). Negara pengimpor utama


kisaran 8,8% hingga 20,5% (76,94€ s/d yang paling banyak mengenakan NTM
178,85€) per ton (Direktorat Pengamanan adalah Amerika Serikat, dan kebijakan
Perdagangan 2013). TBT lebih banyak diterapkan oleh
Alasan lain yang mendukung bahwa negara pengimpor utamanya.
trade remedy tidak selalu menghambat 3. Secara keseluruhan NTM dari
perdagangan karena negara pengimpor negara-negara tujuan ekspor utamanya
yang mengenakan tuduhan dumping atau menghambat arus perdagangan ekspor
subsidy atau safeguard tidak serta merta komoditi CPO Indonesia, tetapi
menghentikan kebutuhannya atas komoditi pengaruhnya tidak nyata. Namun jika
tersebut. Karena pada dasarnya mereka NTM didisagregasi berdasarkan
akan selalu membutuhkan CPO Indonesia jenisnya berupa SPS, TBT dan trade
untuk kebutuhannya, baik kebutuhan untuk remedy, hasilnya menunjukkan bahwa
industrinya maupun terkait food security pengaruh NTM pada kebijakan SPS
dan energy security (tren penggunaan signifikan pada taraf nyata 5% namun
energi terbarukan). Selain itu dampaknya koefisiennya bernilai positif yaitu 0,34,
terhadap perdagangan tidak dihentikan sedangkan pada kebijakan TBT
karena akhir dari pengenaan tuduhan trade signifikan pada taraf nyata 1% dengan
remedy tersebut yaitu berupa pengenaan nilai koefisien sebesar -0,41, serta pada
bea masuk yang sifatnya hanya sementara kebijakan trade remedy juga signifikan
(berkisar antara 4 sampai 5 tahun), pada taraf nyata 1% namun
kemudian setelah tahun pengenaan koefisiennya bernilai positif yaitu 1,41.
tersebut telah selesai maka dapat tetap Oleh karena itu, kebijakan yang lebih
melanjutkan perdagangannya. (Oke dominan menghambat arus
Nurwan 31 Oktober 2014, komunikasi perdagangan ekspor komoditi CPO
langsung). Indonesia adalah kebijakan TBT.

SIMPULAN DAN SARAN Saran


Beberapa hal yang dapat disarankan
Simpulan
berdasarkan uraian pada penelitian ini
Berdasarkan uraian diatas maka dapat adalah:
disimpulkan bahwa: 1. Penambahan variabel dalam
1. Kinerja perdagangan ekspor Indonesia perhitungan dari proksi pengaruh NTM
diukur menggunakan nilai RCA untuk dan dapat dilakukan pada komoditi
mengidentifikasi daya saing CPO lainnya untuk melihat pengaruhnya dari
Indonesia, dan hasilnya menunjukkan sisi komoditi/produk. Untuk penelitian
semuanya lebih dari satu. Artinya selanjutnya dapat dikembangkan juga
komoditi CPO Indonesia memiliki daya model analisis yang
saing yang baik di pasar dunia dan mempertimbangkan model Computable
merupakan salah satu komoditi General Equilibrium untuk melihat
unggulan ekspor Indonesia. dampak ekonomi secara makro maupun
2. GDP negara pengimpor, jarak ekonomi, mikro.
populasi negara pengimpor, dan nilai 2. Penelitian ini dapat dikaji lebih luas lagi
tukar riil merupakan faktor yang dapat dengan melakukan analisis dampak
meningkatkan arus perdagangan ekspor NTM terhadap negara selain Indonesia,
CPO Indonesia. Jenis NTM yang atau bahkan membandingkan penerapan
digunakan yaitu SPS, TBT dan trade NTM dari negara maju dengan
remedy (antidumping, subsidy, non-tariff measures dari negara

133 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

berkembang. Penelitian lebih lanjut Disdier AC, Lionel F, Mondher M. 2008.


juga dapat menambah jenis NTM The Impact of Regulations on
lainnya (selain dari SPS, TBT dan trade Agricultural Trade: Evidence from
remedy) dan dapat dilakukan dengan SPS and TBT Agreements.
metode pendekatan lain yang tersedia, American Journal of Agricultural
sehingga dapat diperoleh perbandingan Economics 90(2):336-350.
dari metode-metode yang digunakan Fassarella LM, Mauricio JPS, Heloisa LB.
sebelumnya. 2011. Impact of Sanitary and
Technical Measures on Brazilian
Exports of Poultry Meat. Selected
DAFTAR PUSTAKA Paper prepared for presentation at
the Agricultural & Applied
Badan Pusat Statistik [BPS]. 2013. Econom cs Assoc at on’s 2011
Statistik Kelapa Sawit Indonesia. AAEA & NAREA Joint Annual
Publikasi BPS. Meeting July 24-26, 2011.
Jakarta.http://www.bps.go.id/hasil Pittsburgh, Pennsylvania.
_publikasi/stat_kelapa_sawit_2012 Firdaus M. 2011. Aplikasi Ekonometrika
/index3.php?pub=Statistik%20Kel untuk Data Panel dan Time Series.
apa%20sawit%20Indonesia%2020 Bogor : IPB Press.
12. [diakses 25 Mei 2014] Fugazza M. 2013. The Economics behind
______________________. 2014. Non-Tariff Measures: Theoretical
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Insights and Empirical Evidence.
Berita Resmi Statistik BPS No. Policy Issues in International
16/02/Th. XVII, 5 Februari 2014. Trade and Commodities Study
Jakarta. Series No.57. UNCTAD: Geneva.
Barutu C. 2007. Ketentuan Antidumping, Gomel F, Nihal T, Tune D. 2012. The
Subsidi dan Tindakan Pengamanan Effect of International Standards
(Safeguard) dalam GATT dan on Turkish Export Flows to the EU
WTO. Bandung: PT. Citra Aditya Countries. Journal. Department of
Bakti. Economics, Yildiz Technical
Bellanawithana A, Wijerathne B, University, Turkey.
Weerahewa J. 2009. Impacts of http://www.etsg.org/ETSG2013/Pa
Non-Tariff Measures (NTMs) on pers/228.pdf. [diakses 2 Mei 2014]
Agricultural Exports: A Gravity Gujarati D. 2004. Basic Econometrics, 4th
Modeling Approach. Asia – Pacific Edition. The McGraw-Hill
Trade Economists Conference. Companies.
University of Peradeniya, Srilanka: Hai TC. 2004. Selling the green palm oil
ESCAP. advantage?. Oil Palm Industry
Bratt M. 2014. Estimating the Bilateral Economic Journal, Vol. 4 (1), pp.
Impact of Non-Tariff Measures 22-31.
(NTMs). Working Paper Series [ITC] International Trade Centre. 2012.
14-01-1. Geneva, Switzerland. Non-Tariff Measures: A Key Issue
Demaria F, Rau M, Schlueter S. 2011. NTMs in Evolving Trade Policy.
and gravity-type models: state of the International Trade Forum
art and analysis of the literature. Magazine October 01, 2012.
NTM Impact Working Paper 11/01. http://www.tradeforum.org/article/
European Commission 7th Non-tariff-measures-A-key-issue-i
Framework Programme.

134 | Edisi Desember 2014


Jurnal Ekonomi dan Kebijakan Pembanguan, hlm. 111-135 Vol 3 No 2

n-evolving-trade-policy/. [diakses Non-Tariff Measures to Trade:


18 Mei 2014] Economic and Policy Issues for
Krugman, Obstfeld. 2003. International Developing Countries. Switzerland.
Economics Theory and Policy. Geneva.
Massachusetts : An imprint of [USDA] United States Departement of
Addison Wesley Longman, Inc. Agriculture. 2013. Indonesia:
Kementerian Perdagangan RI. 2012. Long-Term Prospects for U.S.
Warta Hambatan Perdagangan. Agricultural Exports. International
Edisi 001/2012. Direktorat Agricultural Trade Reports.
Pengamanan Perdagangan, http://www.fas.usda.gov/data/indo
Kementerian Perdagangan. nesia-long-term-prospects-us-agric
Moenius J. 2006. The Good, the Bad and ultural-exports. [diakses 17
the Ambiguous: Standards and Februari 2014]
Trade in Agriculture Products. Van Gelder JW. 2004. Greasy palms:
Paper presented at IATRC Summer European buyers of Indonesian
Sympos um “Food Regulat on and palm oil.
Trade: Institutional Framework, http://www.foe.co.uk/resource/rep
Concepts of Analysis and orts/greasy_palms_buyers.pdf.
Emp r cal Ev dence”. Bonn. [diakses 10 September 2013]
Germany, 28-30 May. Wall H. 1999. Using the Gravity Model to
Oktaviani R. 2008. Consultancy and Estimate the Costs of Protection.
Training Services to Develop Federal Reserve Bank of St. Louis
Quantitative Analytical Tools and Review. Jan:33-40.
Framework for Assessing [WTO] World Trade Organization. 2013.
Investment and Trade Non-Tariff Measures Data.
Competitiveness. Department Of http://i-tip.wto.org/goods/Forms/T
Economics FEM IPB in ableView.aspx?mode=modify&act
collaboration with BAPPENAS ion=search. [terhubung berkala].
and Partnership Governance World Trade Report. 2012. The Trade
Reform. Effects of Non-Tariff Measures and
Salvatore D. 1997. International Service
Economics. New Jersey: Prentice Measures.http://www.wto.org/engl
Hall- Gale. ish/res_e/booksp_e/anrep_e/world
TRADEMAP. 2014. List of importing _trade_report12_e.pdf. [diakses 2
markets for a product exported by Juni 2014]
Indonesia, Product: 1511 Palm oil Zarzoso IM, Lehman FN. 2003.
& its fraction. Augmented Gravity Model: An
http://www.trademap.org/Country Empirical Application to
_SelProductCountry_TS.aspx Mercosur-European Union Trade
[terhubung berkala]. Flows. Journal of Applied
[UNCTAD] United Nations Conference Economics, Vol. VI, No. 2 (Nov
on Trade Development. 2013. 2003), 291-316.

135 | Edisi Desember 2014