Anda di halaman 1dari 3

Praktikum Perkembangan Hewan

Perkembangan Awal Embrio Aves


Eka Yuliastuti, 1810421014, KBI

Perkembangan embrio adalah rangkaian kejadian yang kompleks dan terkoordinasi. Komunikasi antara
jaringan, organ, dan sistem. Konsep umum perkembangan adalah diferensiasi, determinasi, dan
induksi. Induksi merupakan proses ketika mediator kimia melepaskan dari salah satu emrbio pengaruh
morfogenik spesifik dan menginduksi alur perkembangan khusus. Akibat dari induksi, bersamaan
dengan sel di dekatnya, jaringan dan akhirnya organ terbentuk (Bresnick, 2003). Aves merupakan salah
satu hewan amniota karena janinnya mempunyai selaput embrional yang dinamakan amnion. Tipe telur
aves adalah telolecithal, tetapi karena detoplasmanya banyak sekali maka dinamakan megalecithal.
Bagian yang aktif pada pembelahan sel telur adalah keping lembaganya (blastodisc). Pembelahan
sudah dimulai sewaktu telur melalui oviduk, di oviduk inilah telur mendapat albumen dan selaput-
selaput lainnya. Albumen kental yang berputar karena telur waktu melalui oviduk jalannya berputar-
putar sehingga albumennya turut berputar-putar, ini disebut sebagai chalaza yang berfungsi untuk
menjaga agar sel telur tetap terletak sentral di dalam albumen dan keping lembaganya selalu
menghadap ke atas. Cangkang kapur didapat pada bagin posterior dari oviduk, dan rongga udara di
antara selaput cangkang telur mula-mula sempit sekali, tetapi selama pertumbuhan embrio rongga
tersebut makin bertambah besar (Mirzadeh, 2010). Perkembangan embrio pada Puyuh (termasuk kelas
Aves) seperti halnya pada Pisces, Amphibi, Reptil dan Mamalia juga berlangsung setahap demi setahap
dan membutuhkan waktu tertentu. Perkembangan tersebut dimulai dengan pembentukan sel kelamin
jantan dan betina, kemudian dilanjutkan dengan proses pembuahan (berfusinya gamet) yang diikuti
dengan cleavage (pembelahan segmentasi) yang meliputi morula, blastula dan gastrula serta
pembentukan organ (organogenesis) hingga berkembang menjadi individu yang identik dengan
induknya. Rangkaian perkembangan embrio pada ayam dapat dilakukan dengan cara pembuatan
preparat wholemount embrio ayam dan mengamatinya di bawah mikroskop (Yatim, 1982). Adapun
tujuan dari praktikum ini mengetahui tahap tahap perkembangan embrio pada kelas aves
Praktikum Perkembangan Hewan tentang Tahap perkembangan embrio Aves dan preparat
whole mount dilaksanakan pada tanggal 1 April 2020 di Laboratorium Pendidikan II, Jurusan Biologi,
FMIPA Universitas Andalas, Padang dan di rumah praktikan. Alat yang digunakan pada praktikum kali
ini adalah petridish. Bahan yang di gunakan ialah telur puyuh. Praktikum ini dilakukan dengan cara
telur burung puyuh diinkubasi di dalam incubator. Usia telur yang diingkubasi antara lain usia 7 hari, 9
hari dan 14 hari. Setiap usia telur dilakukan pengamatan dengan memecahkan telur dan
menempatkannya ke dalam cawan petridish.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, pada hari ketujuh sampai pada hari ke sembilan
perkembangan embrio pada telur puyuh terlihat masih pada fase awal perkembangan yaitu fase
cleavage. Hal ini ditandai dengan adanya kuning telur masih terlihat sama dan sudah mulai ada warna
putih pada permukaan telur dan belum ditemukan adanya kapiler darah yang merupakan tanda fase
morulasi. Sedangkan pada hari keempat belas perkembangan telur puyuh mengalami fase
organogenesis. Hal ini ditandai dengan adanya kantong amnion yang mulai terbentuk. Namun, karena
masih pada fase organogenesis awal, organ yang terbentuk belum terlihat dengan jelas dan belum
dipastikan organ apa yang sudah terbentuk. Menurut Slamet (2000), inkubasi selama 24 jam dapat
dibedakan antara daerah intra embrional dengan daerah ekstraembrional. Menurut Nurhayati (1998),
pada hari ke tiga ini sudah terlihat perubahan yang semakin jelas terhadap perkembangan telur puyuh,
dimana terjadi pembentukan pembuluh umbilikalis yang berfungsi dalam pengankutan nutrisi menuju
embrio,tentu saja hal ini sangat berbeda dengan manusia atau hewan lainya (mamalia) yang
menggunaka plasenta daalam menyuplai makan kepada anak/janinnya. kemudian terbentuk amnion,
corio alantois (cairan yang dibungkus oleh amnion, pembuluh darah, kaki/bakal kaki sebagai alay
gerak, pembuluh darah semakin jelas, mata mulai terlihat, jantung, hati yang letaknya persis dibawah
jantung, kemudian terjadi pembentukan kepala, sebagai pusat syaraf atau koordinasi. Menurut Sukra
(2000), pada hari  keempat, ini tejadi proses pembentukan awal dari paruh namun masih bertulang
rawan belum tulang sejati, selain itu juga terbentuk mata, amnion, pembuluh umbilikalis, pembuluh
darah, jantung, hati, kepala dan kuning telur. Pada hari kesembilan, sudah terjadi
pembentukan tulang pertama kali terjadi peda embrio berumur 9 hari, selain itu juga terjadi
pembentukan organ yang sudah nampak sebelumnya. Pada hari ke empatbelas hari masa inkubasi,
kepala sudah mengarah ke sayap sebelah kanan,karna mendekati rongga udara dan amnion sudah mulai
berkurang.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada tahap
perkembangan awal embrio aves hari ke 7 sampai ke 9 merupakan tahap cleavage dan pada hari ke 14
merupakan tahap organogenesis awal.

Refferences
Bresnick, Stepehen. 2003. Intisari Biologi. Hipokrates. Jakarta
Mirzadeh, Z., F. Doetsch, K. Sawamoto, H. Wichterle, and A. A. Buylla. 2010. The Subventricular
Zone En-face: Wholemount Staining and Ependymal Flow. Journal of Visualized Experiments.
Pritchard. 2013. Genetic Parameters for Production, Health, Fertility, and Longevity Traits in
Dairy Cows. Animal: an International Journal of Animal Bioscience. 7 (1): 34-46.
Nuryati, et al. 1998. Sukses Menetaskan Telur. Penebar Swadaya. Jakarta
Slamet. 2000. Perkembangan Hewan.  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Sriwijaya.
Sukra, Yuhara. 2000. Wawasan Ilmu Pengetahuan Embrio : Benih Masa Depan. DIRJEN Pendidikan
Tinggi DEPDIKNAS. Jakarta
Yatim, Wildan. 1982. Embriologi. Tarsito : Bandung
Lampiran

Gambar 1. Embrio aves hari ke 7

Gambar 2. Embrio aves hari ke 9

Gambar 3. Embrio aves hari ke 14