Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH ETIKA DAN HUKUM BISNIS

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Etika dan Hukum Bisnis

ETIKA DAN LINGKUNGAN

Disusun oleh: ATTENTION PLEASE...!!!!!!

Devi Arum S. (H0307004) Hal 1-5


Dina Oktavia (H0307005) Hal 6-10
Maria Yusrina M. (H0307011) Hal 11-14
Reny Oktarika E. (H0307022) Hal 15-18
Dina Nur Ironi (H0307043) Hal 19-22

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN/AGROBISNIS


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2

2010
3

ETIKA DAN LINGKUNGAN

Pendahuluan
Industri modern memberikan kemakmuran material yang tak tertandingi,
tapi juga menciptakan ancaman lingkungan yang menakutkan bagi kita dan
generasi selanjutnya. Teknologi yang memungkinkan kita memanipulasi dan
mengendalikan alam, ternyata juga mencemari lingkungan dan dengan cepat
menghabiskan persediaan sumber daya.
Semenjak abad ke-21, ada beberapa kecenderungan yang menentukan nasib
peradaban manusia. Di antaranya adalah: meningkatnya populasi, kenaikan suhu,
penurunan label air, berkurangnya lahan pertanian dan wilayah perikanan,
penyusutan hutan, dan punahnya sejumlah spesies hewan dan tanaman. Jumlah
manusia terus bertambah sementara system alam tetap sama. Tren kedua yang
mempengaruhi seluruh dunia adalah kenaikan suhu yang disebabkan oleh
bertambahnya konsentrasi karbondioksida (CO2). Hal ini akan mengubah semua
ekosistem yang ada di muka bumi.
Hal lain yang semakin mempersulit penyediaan pangan bagi populasi dunia
yang diperkirakan terus bertambah dalam beberapa decade mendatang adalah
penyusutan jumlah lahan pertanian per individu. Ketiga kecenderungan tersebut,
yaitu penurunan tabel air, penyusutan lahan pertanian, dan hasil laut yang tidak
bertambah mengarah pada kesimpulan bahwa akan jauh lebih sulit bagi manusia
untuk memenuhi kebutuhan pangan setengah abad ke depan. Dalam artian
tertentu, kecenderungan yang paling berpengaruh pada manusia adalah semakin
cepatnya tingkat kepunahan spesie hewan dan tanaman. Jadi bila ekosistem local
mulai hancur dan begitu pula dengan ekosistem dunia. Masalah-masalah
lingkungan memunculkan berbagai persoalan etika dan teknologi yang rumit bagi
masyarakat bisnis kita.

1
4

5.1 Dimensi Polusi dan Penyusutan Sumber Daya


Kerusakan lingkungan mengancam kesejahteraan manusia, tumbuhan dan
hewan. Ancaman lingkungan berasal dari dua sumber, yaitu polusi dan
penyusutansumber daya. Polusi mengacu pada kontaminasi yang tidak diinginkan
terhadap lingkungan oleh pembuatan atau penggunaan komoditas. Penyusutan
sumber daya mengacu pada konsumsi sumber daya yang terbatas atau langka.
Dalam artian lain, polusi merupakan salah satu jenis penyusutan sumber daya
karena pencemaran air, udara atau tanah yang merusak sifat-sifat menguntungkan
dari sumber daya tersebut.
Polusi Udara
Polusi udara semakin meningkat secara besar-besaran saat industry mulai
meluas. Bahan pencemar udara telah berpengaruh terhadap vegetasi, menurunkan
hasil panen dan industry kayu, merusak bahan bangunan melalui proses karat,
pembusukan berbahaya pada kesehatan dan kehidupan, menambah biaya
kesehatan, serta menciptakan ancaman kerusakan berskala global dalam bentuk
pemanasan global dan hancurnya lapisa ozon di stratosfer.
 Pemanasan Global
Terjadi karena gas-gas rumah kaca (CO2, N2, Oksida, metana, dll)
menyerap dan menahan panas dari matahari, mencegah kembali ke ruang
angkasa. Hasil perkiraan computer menunjukkan bahwa kenaikan kadar gas
rumah kaca akan meningkatkan suhu bumi. Kenaikan suhu ini akan akan
memperluas wilayah padang pasir, melelehkan lapisan es di kutup,
meningkatkan permukaan air laut, memusnahkan sejumlah spesies binatang
dan tumbuhan, mengganggu aktivitas pertanian, dan meningkatkan distribusi
dan tingkat keakutan penyakit.
PBB membentuk Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)
pada tahun 1988 untuk mempelajari masalah pemanasan global. Laporan dari
IPCC akibat pemanasan global beberapa diantaranya adalah:
1. Terjadinya pergeseran vegetasi hutan yang tinggi dan perubahan cepat
pada spesien di dalamnya.
2. Wilayah perairan menjadi lebih panas.
5

3. Banyak penduduk tidak memiliki persediaan air dan pangan yang


memadai.
4. Separuh populasi dunia dan sebagian kota besar dunia berada di
wilayah pantai.
5. Meningkatnya penyebaran penyakit menular seperti dengue, malaria,
kolera, dll.
Pemanasan global merupakan masalah yang sangat sulit dipecahkan.
IPCC memperkirakan bahwa usaha untuk menghentikan kenaikan jumlah gas
rumah kaca memerlukan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 60-70%.
Suatu jumlah yang sangat serius yang akan sangat serius berpengaruh terhadap
perekonomian negara maju dan berkembang karena membutuhkan biaya yang
sangat besar.
 Penyusutan Ozon
Penyusutan lapisan ozon secara berthap di stratosfer disebabkan oleh
pelepasan klorofluorokarbon (CFC) ke udara. Ozon ini berfungsi untuk
melindungi semua kehidupan bumi dari radiasi sinar UV yang berbahaya.
Berdasarkan penelitian menyebutkan bahwa penyusutan lapisan ozon dan
kenaikan radiasi sinar UV akan menyebabkan munculnya beratus-ratus ribu
penyakit kanker kulit baru dan kemungkinan juga menyebabkan kehancuran
75% tanaman pangan dunia yang sensitive terhadap sinar tersebut. Selain itu,
plankton yang mengambang di permukaan laut yang menjadi tulang dari rantai
makanan laut dunia kemungkinan akan mengalami kerusakan massal.
Sejumlah perjanjian internasional dilakukan untuk mengurangi penggunaan
CFC secara bertahap.
 Hujan Asam
Hujan asam berkaitan erat dengan pembakaran bahan baku fosil
(minyak, batu bara, dan gas alam) yang banyak digunakan untuk
memproduksi listrik, karena pembakaran tersebut mengandung kadar sulfur
yang tinggi dan menghasilkan sulfur oksida dan nitrogen oksida dan
selanjutnya masuk ke udara. Hujan asam yang kadang seasam cuka, masuk ke
danau dan sungai-sungai sehingga meningkatkan kadar asam air. Zat asam ini
6

juga masuk ke dalam tanah dan jatuh ke pohon rerumputan dan tanaman
lainnya. Beberapa akibat hujan asam ini antara lain:
1. Sebagian ikan dan populasi air lainnya tidak mampu bertahan hidup.
2. Hujan asam secara tidak langsung akan meruak dan menghancurkan
pohon, tanaman, tumbuhan laut, dan lumut serta menghancukan
spesies yang menggantungkan diri pada hutan.
3. Dapat melelehkan logam-logam beracun seperti: mercuri, timan, nikel,
cadmium dari tanah dan membawanya ke perairan dan selanjutnya
mengontaminasi sumber iar berih dan ikan.
4. Dapat merusak dan menghancurkan bangunan, patung dan benda-
benda lain khususnya yang dari besi, kapur, dan marmer.
 Racun Udara
Racun udara merupakan ancaman lain tapi kurang begitu berbahaya tapi
sangat mengkhawatirkan karena 2,4 milliar pon zat racun udara masuk ke
atmosfer setiap tahunnya. Racun udara tersebut meliputi: carcinogen (benzene,
formaldehyde) dan neurotoksin (toluene dan trichloroethylene) yang
menyebabkan beribu-ribu penyakit kanker.
 Kualitas Udara
Bentuk polusi udara yang paling umum adalah gas dan partikel yang
keluar dari mobil dan proses industry, yang berpengaruh terhadap kualitas
udara. Gas-gas tersebut antara lain:
1. Karbon monoksida, yang dapat mengakibatkan sakit kepala,
penglihatan kabur, dan penurunan koordinasi otot.
2. Sulfuroksida, yang dihasilkan dari pembakaran minyak dan batu
bara merusak logam dan batu, merusak tanaman, menyebabkan
penyakit pernafasan dan premature.
3. Nitrogenoksida, mengakibatkan kabut fotokimia, warna kabur
kecoklatan yang akan membahayakan pendaratan pesawat, dan
mengganggu system pernafasan.
4. Hidrokarbon, merupakan kelompok bahan kimia dengan jenis
yang sangat banyak yang dapat menghasilkan kanker
7

padabinatang percobaan di laboratorium dan dapat menyebabkan


kabut fotokimia.
Kabut fotokimia adalah perpaduan antara sejumlah gas dan partikel yang
dihasilkan oleh sinar matahari dan bahan mentah dan dilepaskan ke atmosfer
melalui kendaraan bermotor. Kabut ini dapat menghancurkan tanaman dan
pepohonan, mengurangi jarak pandang, gangguan mata dan pernafasan.
Sumber polusi utama yang mempengaruhi kualitas udara adalah utilitas,
cerobong asap industry, dan kendaraan bermotor. Sedangkan biaya yang
disebabkan oleh rendahnya kualitas udara diketahui sangat tinggi.
Polusi Air
Pencemaran air sangat beragam, tidak hanya terdiri dari sampah organic,
tapi juga garam, logam, bahan-bahan radioaktif, serta bakteri,virus, dan endapan
Air dengan kadar garam tinggi yang berasal dari tambang dan sumur-sumur
minyak semuanya akan masuk ke sumber-sumber air dan meningkatkan kadar
garam. Kadar garam yang tinggi di kolam, danau dan sungai akan membunuh
semua ikan, tanaman, atau organisma lain yang menghuninya. Air dengan kadar
garam yang tinggi juga merupakan ancaman besar terhadap kesehatan bila masuk
ke dalam persediaan air di wilayah perkotaan dan diminum oleh orang-orang yang
mengidap penyakit jantung, tekanan darah tinggi, sirosis liver dan penyakit ginjal.
Senyawa fosfor, sampah non-organik dan sampah organik yang sebagian
besar terdiri dari sampah dan kotoran manusia yang tidak diolah akan
mengakibatkan dampak yang buruk bagi kehidupan. Begitu dengan panas yang
merupakan bahan pencemar air, tumpahan minyak juga merupakan contoh
pencemaran air yang semakin sering terjadi sejalan dengan semakin besarnya
ketergantungan kita akan minyak. Di masa lalu laut dipakai sebagai tempat
pembuangan limbah radioaktif tingkat rendah. Semenjak pertengahan, tahun
1970-an, para ahli kelautan menemukan sisa-sisa plutonium, sesium, dan
bahan radioaktif lainnya yang dikeiahui berasal dari kebocoran, drum-drum
yang berisi limbah radicakti. Kuala pantai dan sedimen laut juga diketahui
memiliki kadar kadmium, kromium, tembaga, timah,.rnerkuri, dan perak yang
cukup tinggi.
8

Persediaan air bawah tanah juga semakin tercemar. Menurut salah satu
laporan pemerintah insiden kontaminasi air tanah oleh bahan kimia organic,
bahan kimia inorganik, radionuklida (limbah radioaktif) atau mikroorganisme
dilaporkan sering terjadi. Lebih dari 50% populasi Amerika bergantung pada
sumber air tanah untuk memenuhi kebutuhan air minum. Bahan pencemar air
tanah diketahui berkaitan dengan penyakit kanker, liver, ginjal, serta kerusakan
sistem saraf pusat. Ironisnya tanpa kita sadari selama bertahun-tahun air yang kita
gunakan dan kita konsumsi telah tercemar karena air telah terkontaminasi, tidak
berbau, tidak berwarna, dan tidak berasa. Saat ini lebih dari satu juta orang tidak
rneiniliki akses air sehat, sebagian besar di negara-negara miskin. Sekarang
ini persediaan air per kapita semakin berkurang dan sekarang jumlah
persediaan 30 persen lebih keci dibandingkan 25 tahun lalu. Ada beberapa
faktor yang berkaitan dengan menurunnya persediaan air. Kenaikan populasi dan
aktivitas ekononi menambah permintaan terhadap sumber air dan pemakaian
air yang seharusnya dipakai untuk pertanian dialihfungsikan untuk menyediakan
air ke wilayah perkotaan.
Polusi Tanah
Zat beracun atau berbahaya adalah bahan-bahan yang menyebabkan
kenaikan tingkat kematian atau tidak bisa diubah atau menyebabkan sakit
atau yang memberikan pengaruh-pengaruh buruk bagi kesehatan dan
lingkungan. Pada akhir tahun 1970-an, bahan-bahan kimia yang dikubur dalam
tanah oleh Hooker Chemical Company di dekat air terjun Niagara, New York
diketahui bocor dan mencemari wilayah-wilayah pemukiman penduduk. Bahan-
bahan kimia ini termasuk dioksin, pestisida, karbon tetraklorida , dan sejumlah
bahan kimia karsinogen atau beracun yang dicurigai menyebabkan aborsi
spontan, kerusakan saraf dan cacat bawaan pada sejumlah keluarga yang tinggal
didekat tempat tersebut.
Benzena adalah bahan kimia beracun yang dipakai dalam plastik, bahan
celup, nylon, zat tambahan pada makanan, deterjen, obat-obatan, fungisida dan
bensin. Benzena menyebabkan anemia, kerusakan sungsum dan leukemia. Begitu
juga dengan vinly klorida yang dipakai dalam produksi plastik.
9

Sampah kota merupakan sumber polusi yang signifikan, dan mengandung


zat beracun seperti kadnium (dari baterai isi ulang), merkuri, timah (dari aki mobil
dan tabung gambar televisi), vanadium, tembaga, seng, dan PCB (dari kulkas,
kompor, mesin-mesin dan peralatan rumah tangga yang diproduksi sebelum tahun
1980an dan dibuang). Ribuan bekas lokasi pembuangan sampah diketahui
mengandung limbah berbahaya, yang sebagian besar dihasilkan dari industri
kimia dan perminyakan. Jumlah keseluruhan dari sampah berbahaya yang
diproduksi cukup sulit ditentukan.
Limbah Nuklir, reaktor nuklir mengandung bahan-bahan radioaktif yang
diketahui bersifat karsinogen seperti strontium 90, cesium 137, barium 140, dan
iodine 131. Radiasi tingkat tinggi dari elemen-elemen ini bisa menyebabkan
kematian, sedangkan limbah plutonium terbentuk sebagai hasil samping dari
penggunaan bahan bakar di reaktor-reaktor nuklir.
Limbah reaktor nuklir terdiri dari tiga jenis yaitu limbah tingkat tinggi yang
memancarkan sinar gamma dan bias menembus segala bahan misalnya adalah
cesium 137 dan strontium 90. Kedua adalah limbah transuranik mengandung
elemen-elemen yang juga terdapat dalam limbah tingkat tinggi meskipun dalam
jumlah kecil, limbah ini berasal dari pemrosesan bahan bakar dan pemrosesan
berbagai senjata militer. Yang ketiga adalah limbah tingkat rendah yang terdiri
dari pakaian yang terkontaminasi dan peralatan-paralatan bekas yang digunakan
dalam reaktor nuklir mulai dari penggalian sampai penggolaha uranium.
Penyusutan Spesies dan Habitat
Telah diketahui bahwa manusia membuat punah puluhan spesies binatang
dan tumbuhan. Sekitar tahun 1600 setidaknya 63 spesies mamalia dan 88 spesies
burung telah punah. Habitat hutan yang menjadi tempat tinggal berbagai jenis
spesies juga telah dihancurkan oleh industri kayu. Satu penelitian yang cukup
komprehensif atas 1800 spesies dan subspecies seluruh dunia menemukan bahwa
11.046 diantaranya terancam punah.

Penyusutan Bahan Bakar Fosil


10

Sampai tahun 1980an bahan bakar fosil terus mengalami penyusutan secara
eksponensial. Jika terus dibiarkan penyusutan eksponensial akan berakhir dengan
punahnya semua sumber daya dalam waktu yang relatife singkat. Diperkirakan
bahwa cadangan batu bara dunia akan habis dalam waktu 100 tahun, minyak akan
habis dalam waktu 40 tahun, dan gas alam akan habis dalam waktu 25 tahun.
Namun demikian, menurut penelitian konsumsi manusia akan bahan bakar fosil
tidak bisa terus naik secara eksponensial. Saat semua cadangan sumber daya akan
mulai menipis secara otomatis proses produksinya juga akan semakin sulit dan
biayanya juga semakin mahal. Jadi meskipun tingkat penyusutan naik dalam
periode tertentu namun kenaikan biaya produksi pada akhirnya akan mendorong
kenaikan tersebut sampai puncaknya dan mulai turun sebelum seluruh cadangan
sumber daya tersebut habis sama sekali.
Penyusutan Mineral
Jika tingkat penyusutan eksponensial berlanjut, alumunium diperkirakan
akan habis menjelang tahun 2003, besi tahun 2025, mangga tahun 2018,
molybdenum tahun 1993. Seperti halnya bahan bakar fosil, tingkat penyusutan
mineral tidak naik secara eksponensial, namun memuncak lalu turun saat logam
semakin langka, semakin sulit, dan semakin mahal penggolahannya.
Cadangan sumber daya dunia juga terbatas dan tingkat penyusutan sebagian
besar persediaan mineral dunia kemungkinan juga akan mencapai puncak dan
selanjutnya turun secara bertahap saat semakin sulit diperoleh dan biaya
pemrosesan semakin tinggi. Bahan pengganti kemungkinan ditemukan untuk
sebagian mineral yang persediaannya terbatas dan perkembangan teknologi
kemungkinan juga akan menghapus penggunaan mineral-mineral tersebut.
Namun dari hasil penelitian terhadap jenis mineral yang sampai saat ini
masih ditambang secara besar-besaran menunjukkan bahwa dimasa mendatang
tembaga dan jenis-jenis mineral lainnya akan semakin langka dan mahal dan
kelangkaan ini akan memberikan pengaruh ekonomi yang cukup besar pada
masyarakat Indonesia. Jadi ada batas-batas fisik dari sumber daya alam kita
meskipun berlimpah, namun semuanya tidak bisa digali secara terus menerus dan
pada akhirnyapun semuanya akan habis. Bahan-bahan pengganti yang lebih
11

berlimpah bisa ditemukan untuk sebagian besar dari sumber daya alam tersebut,
namun mungkin bahan-bahan pengganti ini tidak bisa menggantikan semua.
5.2 Etika Pengendalian Polusi
Terdapat beberapa hal yang menyebabkan para pelaku bisnis mengabaikan
dampak negatif kegiatannya terhadap lingkungan (polusi) yaitu :
1. Adanya anggapan udara dan air adalah barang gratis
Udara dan air dianggap tidak ada yang memiliki, sehingga para pelaku bisnis
tidak perlu mengeluarkan biaya atas kerusakan/kerugian yang ditimbulkannya.
2. Lingkungan sebagai barang tak terbatas
Para pelaku bisnis menganggap sumbangan polusi air dan udara dari masing-
masing perusahaan relatif kecil dan tidak signifikan dari keseluruhan daya
tampung alam.
Sebenarnya sumber polusi sangat beragam dan dari berbagai sumber, tidak
hanya disebabkan oleh adanya limbah perusahaan/ pabrik-pabrik, tetapi juga
disebabkan oleh penduduk secara umum. Hal ini terjadi terutama pada kota-kota
besar yang sangat erat kaitannya dengan polusi air dan udara. Beberapa
penyebabnya diantaranya limbah konsumsi, limbah aktivitas sehari-hari,
penggunaan kendaraan bermotor, dan masih banyak yang lainnya. Masalah polusi
ini memerlukan penanganan yang serius dari berbagai pihak dalam berbagai sisi
kehidupan.
Etika Ekologi
Sebuah sistem ekologi adalah rangkaian organisme dan lingkungan yang
saling terkait dan bergantung satu sama lain. Usaha bisnis merupakan bagian
sistem ekologi yang lebih besar yaitu alam semesta. Usaha bisnis bergantung pada
alam kaitannya dalam penggunaan sumberdaya alam, energi, dan pembuangan
limbah. Begitu pula sebaliknya, kondisi alam bergantung pada bagaimana
aktivitas-aktivitas pelaku bisnis tehadap alam. Adanya keterkaitan antara usaha
bisnis dan lingkungan menyebabkan perlu adanya kesadaran untuk menjaga
keutuhan sistem tersebut, baik untuk manusianya sendiri dan juga untuk
kelestarian alam. Sehingga munculnya istilah etika ekologi yang didasarkan pada
12

gagasan bahwa bagian-bagian lingkungan yang bukan manusia perlu dijaga demi
bagian-bagian itu sendiri.
Terdapat beberapa macam etika ekologi yang digunakan, yaitu :
1. Binatang memiliki nilai intrinsik yang layak kita hargai dan lindungi
2. Tumbuhan memiliki kepentingan untuk tetap hidup dan memiliki hak moral
3. Spesies alam, sperti danau, sungai, gunung dan komunitas biotik mempunyai
hak agar integritas, stabilitas, dan keindahannya tetap terjaga.
Namun demikian, usaha untuk memperluas hak moral, sikap menghormati
dan menghargai alam sebagai kewajiban terhadap makhluk non-manusia masih
mendatangkan banyak kontroversi. Sehingga perlu adanya pendekatan-
pendekatan untuk menghadapi masalah-masalah lingkungan yang didasarkan pada
hak asasi manusia dan pertimbangan utilitarian.
Hak Lingkungan dan Pembatasan Mutlak
Blackstone berpendapat bahwa manusia memiliki hak untuk hidup pada
lingkungan yang nyaman dan manusia memiliki hak moral atas suatu objek yang
mendukung kehidupan manusia secara layak. Blackstone juga mengungkapkan
bahwa hak moral dan hukum lebih diutamakan daripada hak kepemilikan secara
hukum.
Undang-undang federal menetapkan batasan atas hak properti para pemilik
perusahaan dengan cara yang mutlak demi penegakan hak manusia atas
lingkungan yang bersih. Hal ini didasarkan pada argumen Blackstone yang
diambil dari teori Kant tentang hak yaitu manusia mempunyai kewajiban moral
untuk melakukan orang lain sebagai tujuan dan bukan sebagai cara, maka mereka
memiliki kewajiban korelatif untuk menghargai dan menegakkan pengembangan
kemampuan orang lain untuk secara bebas dan rasional memilih bagi dirinya
sendiri.
Namun demikian, masalah utama pandangan Backstone adalah pandangan
ini gagal memberikan petunjuk tentang sejumlah pilihan yang cukup berat
mengenai lingkungan yaitu seberapa besar penangan polusi, adanya larangan
mutlak terhadap polusi, batasan-batasan pemilikan property, dan tanggungan
biaya kerusakan lingkungan.
13

Utilitarianisme dan Pengendalian Parsial


Utilitarianisme memberikan jawaban atas masalah yang tidak bisa
dipecahkan Blackstone. Pendekatan utilitarian menyatakan bahwa seseorang perlu
berusaha menghindari polusi untuk menghindari kerugian pada kesejahteraan
masyarakat.
Biaya Pribadi dan Biaya Sosial
Biaya pribadi atau biaya internal merupakan sejumlah biaya yang harus
dikeluarkan untuk menghasilkan sejumlah produk yang meliputi biaya bahan
baku, biaya tenaga kerja, biaya operasional, dan lain sebagainya. Namun pada
kenyataannya perusahaan tidak hanya mengeluarkan biaya internal saja, tetapi
juga biaya ekternal yang timbul akibat proses produksi, misalnya efek
pencemaran lingkungan, pengolahan limbah, biaya kesehatan, dll. Jumlah biaya
total dalam memproduksi suatu produk sebenarnya adalah penjumlahan dari biaya
internal dan biaya eksternal. Biaya total ini biasa disebut dengan istilah biaya
sosial.
Pencemaran yang diakibatkan perusahaan dapat berupa pencemaran lokal
dan dapat pula pencemaran global yang berlangsung dalam jangka panjang.
Contoh pencemaran lokal yaitu adanya asap/jelaga yang menempel pada rumah
penduduk disekitar pabrik, sedangkan pencemaran global contohnya yaitu
pemanasan global yang dirasakan oleh semua manusia di bumi. Polusi
merupakan masalah dasar dalam perbedaan antara biaya internal dan biaya sosial.
Hal ini selalu dipermasalahkan karena saat biaya untuk menghasilkan produk
berbeda dari biaya sosial yang terkait dengan proses produksi, maka pasar tidak
lagi memberikan harga yang tepat atas produk tersebut. Konsekuensinya pasar
tidak mampu mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya secara efisien,
sehingga kesejahteraan masyarakat menurun.
Terdapat tiga kelemahan yang terjadi jika suatu perusahaan hanya
menggunakan biaya internal sebagai biaya tanpa mamperhitungkan biaya
eksternalnya, yaitu:
14

1) Alokasi sumber daya di pasar yang tidak memperhitungkan semua biaya


adalah tidak optimal karena dari sudut pandang masyarakat secara
keseluruhan, lebih banyak produk yang dihasilkan dari permintaan.
2) Jika biaya eksternal diabaikan, maka ada kecenderungan pihak perusahaan
untuk tidak meminimalkan polusi yang akan terjadi.
3) Jika biaya eksternal dibebankan kepada pihak ketiga maka produk tidak lagi
didistribusikan secara efisien kepada konsumen. Biaya eksternal memberikan
diferensial harga yang efektif pada pasar. Semua orang tidak membayar harga
yang sama untuk produk yang sama. Hal ini menyebabkan konsumen yang
berada di dekat perusahaan akan membayar dengan harga yang lebih tinggi
bila dibandingkan dengan konsumen yang tinggal jauh dari perusahaan.
Penyelesaian Tugas-Tugas Perusahaan
Menurut teori utilitarian, biaya ekternal akibat pencemaran/polusi akibat
proses produksi harus dimasukkan kedalam perhitungan dan menjadi
tanggungjawab perusahaan. Dengan demikian harga dapat ditentukan secara
akurat, kekuatan pasar akan memberikan insentif yang mendorong produsen untuk
meminimalkan biaya eksternal. Terdapat beberapa cara untuk menginternalisasi
biaya eksternal, dua diantaranya yaitu :
a. Pihak penyebab polusi harus membayar ganti rugi secara sukarela atau secara
hukum.
b. Mewajibkan bagi perusahaan penyebab polusi untuk menggunakan teknologi
pengendalian polusi, sehingga biaya alat-alat ini dapat dimasukkan sebagai
biaya internal.
Keadilan
Cara utilitarianisme menangani polusi dengan menginternalisasikan biaya
merupakan cara yang konsisten terhadap keadilan distributif demi kesamaan hak.
Internalisasi biaya eksternal dapat mengalihkan biaya yang ditanggung kaum
minoritas dan kaum miskin kepada golongan-golongan kaya, seperti pemegang
saham dan pihak konsumen yang mencerminkan tindakan keadilan.
Internalisasi biaya eksternal juga mencerminkan persyaratan keadilan retributif
dan kompensasif. Keadilan retributif menyatakan bahwa pihak-pihak yang
15

bertanggung jawab dan memperoleh keuntungan dari suatu yang merugikan,


wajib menanggung semua beban untuk memperbaikinya. Keadilan kompensasif
menyatakan bahwa pihak-pihak yang dirugikan berhak memperoleh kompensasi
dari pihak-pihak yang menyebabkan kerugian tersebut.
Biaya dan Keuntungan
Biaya pengendalian polusi memliki hubungan yang terbalik dengan
keuntungan. Tingkat pengendalian yang optimum yaitu saat terjadi perpotongan
antara garis biaya pengendalian polusi dengan besarnya keuntungan. Agar
perusahaan dapat melakukan analisis biaya-keuntungan, para peneliti telah
mengembangkan serangkaian metode teoritis serta teknik-teknik menghitung
biaya dan keuntungan untuk menangani polusi. Metode ini memanfaatkan
perkiraan surplus konsumen, nilai sewa, harga pasar, dan shadow price,
penyesuaian transfer, perkiraan nilai masa datang, dan perhitungan faktor-faktor
resiko. Thomas Klein memberikan ringkasan prosedur analisis biaya-keuntungan
sebagai berikut :
1. Mengidentifikasikan biaya-dan keuntungan dari usulan, dan mencatat
transfer.
2. Mengevaluasi biaya dan keuntungan kaitannya dengan nilai terhadap pihak
yang memberi dan menerima. Tolok ukurnya adalah nilai dari masing-masing
unit marjinal terhadap pihak yang menerima atau memberi yang ditunjukkan
dalam harga kompetetif
3. Menambahkan biaya dan keuntungan untuk menentukan keuntungan sosial
bersih dari suatu proyek atau program.
Namun demikian muncul hambatan dasar dalam pendekatan utilitarian ini
yaitu biaya dan keuntungan menangani polusi tidak dapat dihitung secara akurat.
Hal ini terjadi pada beberapa kasus diataranya :
a. Polusi yang menyebabkan ganguan kesehatan bahkan kematian bagi manusia,
sehingga nilai kerugian dan keuntungan tidak dapat dihitung secara pasti.
b. Pengaruh polusi yang sifatnya tidak bisa diprediksi secara pasti, misalnya
kenaikan kadar karbon dioksida pada atmosfer akibat adanya polusi.
16

Ekologi Sosial, Ekofeminisme, dan Kewajiban untuk Memelihara


Hambatan-hambatan yang terdapat dalam pendekatan utilitarian dan
pendekatan berdasar hak terhadap masalah etis yang muncul dari kerusakan
lingkungan mendorong banyak orang mencari pendekatan-pendekatan alternatif.
Pemikiran utilitarian mengasumsikan bahwa alam haruslah dinilai dan
dimanfaatkan secara efisien, sementara teori yang berdasarkan hak melihat
manusia dan entilas lain secara individualistic dan mengabaikan hubungan dengan
bagian-bagian lain dari alam.
Banyak pemikir menyatakan bahwa krisis lingkungan yang dihadapi
sekarang ini berakar dalam sisitem-sistem hierarki dan dominasi sosial yang
menjadi karakterisrik masyarakat kita. Pandangan ini disebut ekologi social,
dalam pandangan ini menyatakan bahwa apabila pola-pola hierarki dan dominasi
tersebut belum berubah, maka kita tidak akan bias menghadapi krisis lingkungan.
Dalam system hierarki, satu kelompok berkuasa atas kelompok lain dan anggota
kelompok yang berkuasa mendominasi anggota kelompok lain dan memanfaatkan
mereka sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Contoh sistem hierarki semacam
ini termasuk sejumlah kebiasaan social seperti rasisme sexism, serta kelas-kelas
sosial, dan juga lembaga social seperti hak-hak property, kapitalisme, birokrasi,
dan mekanisme pemerintahan. Murray Bookchin, pendukung paling terkenal dari
pandangan ini menulis :
Kita perlu melihat bentuk-bentuk budaya dominasi yang terdapat dalam
keluarga, antargenerasi, jenis kelamin, kelompok ras dan etnis, dalam
semua lembaga politik, ekonomi, dan social, serta yang paling penting
dalam cara kita mengalami realita secara keseluruhan, termasuk bentuk-
bentuk kehidupan alam dan non-manusia.
Sistem hierarki dan dominasi menurut Bokchim mendorong munculnya
mentalitas budaya yang mendukung dominasi dalam segala bentuk, termasuk
dominasi atas alam. Keberhasilan menjadi diidentifikasikan dengan dominasi dan
kekuasaan. Keberhasilan juga menjadi teridentifikasi dengan dominasi atas alam
saat masyarakat mulai mengidentifikasikan “kemajuan” dengan peningkatan
kemampuan untuk mengendalikan dan mendominasi alam beserta prosesnya.
Penilaian utilitarian atas biaya dan keuntungan dari tindakan menghancurkan alam
17

tidak bisa dihindari dalam perspektif tersebut. Jadi, kerusakan lingkungan yang
terjadi secara luas tidak bisa dihentikan sampai masyarakat kita menjadi tidak
terlalu hierarkis, tidak terlalu mendominasi, dan tidak terlalu menindas.
Masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang menjauhkan diri dari semua
dominasi dan di mana semua kekuasaan terdesentralisasi. Pertanian dan teknologi
dibatasi hanya pada sistem-sistem yang dapat dipertahankan dan di mana manusia
bisa hidup sejalan dengan alam.
Sejumlah pemikir feminis menyatakan bahwa bentuk hierarki yang paling
berkaitan dengan kerusakan lingkungan adalah dominasi pria atas perempuan.
Ekofeminisme digambarkan sebagai “posisi di mana terdapat beberapa hubungan
penting yang historis, eksperensial, simbolis, dan teoritis antara dominasi atas
kaum perempuan dan dominasi atas alam, sebuah pemahaman yang sangat
penting baikbagi etika feminism ataupun etika lingkungan.” Kaum ekofeminis
menyatakan bahwa akar dari krisis ekologi yang terjadi ada pada pola dominasi
atas alam yang berkaitan erat dengan praktek-praktek social dan lembaga-lembaga
di mana perempuan memiliki posisi lebih rendah dibanding kaum pria. Satu pola
berpikir dasar logika dominasi membentuk dualisme (maskulin-feminin, nalar-
emosi, artifak-alami, pikiran-tubuh, objektif-subjektif) yang dipakai untuk
membedakankan karakteristik pria dan perempuan. Karena adanya perbedaan
peran dalam kemampuan bereproduksi, mengasuh anak , dan seksualitas, kaum
perempuan dilihat lebih emosional, lebih dekat pada alam dan tubuh, dan lebih
subjektif dan pasif, sementara pria maskulin, lebih rasional, lebih dekat pada
artifak dan kehidupan pikiran, dan lebih objektif dan aktif. Karakteristik-
karakteristik maskulin selanjutnya dilihat lebih unggul dan lebih berharga
dibandingkan feminine (nalar, objektifitas, dan pikiran lebih baik dibandingkan
emosi, subjektifitas, dan perasaan-perasaan tubuh), dalam hal ini diambil sebagai
pembenaran atas subordinasi kaum perempuan oleh pria.
Sejumlah pakar ekologi sosial seperti Bookchin menyatakan bahwa
manusia harus melihat diri mereka sendiri sebagai pengurus alam, bukan
penguasa yang mendominasi alam. Sebagian kaum ekofeminis menyatakan bahwa
perempuan perlu berusaha memperjuangkan budaya androgen, yang
18

menghapuskan peran gender tradisional dan juga menghapuskan perbedaan antara


feminin dan maskulin yang membenarkan dominasi atas alam yang sifatnya
merusak. Secara khusus, sebagian menyatakan bahwa perspektif dominasi dan
hierarki maskulin yang merusak harus diganti dengan perspektif feminine yang
lebih menekankan pada caring atau member perhatian.
Dari perspektif etika member perhatian, kerusakan alam yang menyertai
hierarki dominasi kaum pria harus diganti dengan tindakan memberi perhatian dan
memelihara hubungan dengan alam dan makhluk hidup. Nel Noddings, seorang
pendukung pandangan etika ini menyatakan bahwa, “Bila saya memberikan
perhatian pada makhluk hidup, saya perlu mempertimbangkan sifat-sifat, cara
hidup, kebutuhan, dan keinginan mereka. Dan meskipun saya tidak bisa
melakukannya dengan sempurna, namun saya berusaha memahami realita dari
yang lain.” Meskipun Noddings menyatakan bahwa kewajiban untuk memberi
perhatian ini hanya ditujukan pada bagian-bagian alam yang hidup dan yang
berkaitan dengan kita, namun para pemikir lain memperluas etika itu dengan
memasukkan hubungan dengan seluruh alam. Karen Warren, misalnya, ketika
membahas hubungan antara seseorang dengan batu atau gunung yang didakinya,
menekankan pada :
Perbedaan dalam sikap dan perilaku terhadap batu atau gunung saat
seseorang mendakinya sampai ke puncak dan saat dia menganggap dirinya
sebagai teman atau orang yang memberikan perhatian pada gunung yang
didakinya. Perbedaan sikap dan perilaku ini menunjukkan sebuah
perbedaan yang kontras. Ekofeminisme menempatkan nilai perhatian,
cinta, persahabatan, kepercayaan, dan hubungan timbale balik sebagai
nilai utama, nilai-nilai yang mengisyaratkan bahwa hubungan kita dengan
orang lain merupakan hal pokok untuk memahami siapa diri kita. Jadi ia
memberi suara pada sensivitas di mana ketika mendaki gunung, seseorang
melakukan sesuatu dalam kaintannya dengan yang diperhatikan dan
diperlakukan dengan hormat.
Kaum ekofiminis seperti Warren meyakini bahwa, meskipun konsep
utilitarianisme, hak dan keadilan memiliki peran terbatas dalam etika lingkungan
yang baik harus memperhitungkan perspektif- perspektif etika memberi perhatian.
Alam harus dilihat sebagai yang lain, yang perlu diperhatikan dan di mana kita
19

bisa menjalin hubungan yang harus dijaga dan dihormati. Alam tidak boleh dilihat
sebagai objek yang harus didominasi, dikendalikan, dan dimanipulasi.

5.3 Etika Konservasi Sumber Daya yang Bisa Habis


Konservasi mengacu pada penghematan sumber daya alam untuk digunakan
di masa mendatang. Pengendalian polusi merupakan salah satu bentuk konservasi.
Ada sejumlah perbedaan dasar antara masalah polusi dengan masalah habisnya
sumber daya yang menjadikan istilah konservasi lebih tepat dipakai pada masalah
yang kedua dibandingkan yang pertama. Dengan beberapa perkecualian (misalnya
limbah nuklir), sebagian besar bentuk polusi berpengaruh pada generasi saat ini
dan pengendaliannya akan menguntungkan generasi saat ini. Namun habisnya
sebagian sumber daya akan terjadi di masa depan. Satu-satunya sumber daya yang
terbatas dan tidak bisa diperbarui yang masih aka nada besok adalah apa yang
merupakan sisa-sisa dari hari ini.
Hak Generasi Mendatang
Kita berkewajiban melakukan konservasi sumber daya bagi generasi
mendatang karena mereka memiliki hak yang sama atas sumber daya terbatas dari
planet ini. Jika generasi mendatang sama-sama punya hak atas sumber daya bumi,
maka tindakan menghabiskan sumber daya berarti mengambil apa yang
sebenarnya menjadi milik mereka dan melanggar hak mereka atas sumber daya
tersebut.
Sejumlah penulis menyatakan bahwa salah satu bila kita berpikir generasi
mendatang juga mempunyai hak. Ada tiga alasan yang diajukan untuk
menunjukkan bahwa generasi mendatang tidak punya hak, yaitu :
1. Mereka saat ini belum ada dan mungkin juga tidak akan pernah ada. Orang-
orang masa depan hanya ada dalam imajinasi, dan makhluk imajinatif tidak
dapat dikenai tindakan dalam bentuk apapun juga kecuali juga dalam imajinasi.
2. Jika generasi masa depan mempunyai hak, kita mungkin akan diarahkan
menuju kesimpulan yang tidak masuk akal bahwa kita harus mengorbankan
seluruh peradaban demi mereka.
Misalnya bahwa masing-masing individu masa depan memiliki hak yang sama
atas sumber daya minyak untuk itu kita harus membagi minyak tersebut sama
20

rata, dan jatah untuk kita paling banyak hanya beberapa liter. Selanjutnya kita
akan berada dalam posisi yang tidak masuk akal karena harus mengakhiri
peradaban manusia agar masing-masing individu di masa mendatang
memperoleh jatah minyak merata.
3. Kita bisa mengatakan bahwa seseorang memiliki hak tertentu hanya jika kita
tahu bahwa dia memiliki kepentingan tertentu yang dilindungi oleh hak
tersebut.
Tujuan dari hak lagi pula adalah untuk melindungi kepentingan yang punya
hak, namun kita sama sekali tidak tahu apa kepentingan yang akan dimilki oleh
generasi mendatang. Manusia masa depan mungkin diciptakan melalui
rekayasa genetika di mana keinginan, kesenangan, dan kebutuhan mereka
sangat berbeda dari kita. Ilmu pengetahuan mungkin muncul dengan teknologi-
teknologi untuk menciptakan produk dari bahan baku yang melimpah saat ini,
misalnya mineral dalam laut, fusi nuklir, atau yang lainnya. Atau mungkin
generasi masa depan mampu mengembangkan bahan-bahan pengganti yang
murah dan melimpah untuk sumber daya langka yang kita perlukan saat ini.
Jika argumen-argumen itu benar, dalam arti kita tidak tahu pasti apakah
generasi masa depan benar-benar akan ada atau bagaimana penampilan
mereka, maka berarti mereka tidak punya hak. Namun demikian, ini tidak
berarti kita tidak punya kewajiban sama sekali terhadap generasi masa depan
karena kewajiban kita bisa jadi didasarkan pada alasan-alasan lain.
Keadilan bagi Generasi Mendatang
John Rawls menyatakan bahwa meskipun tidak adil bila memberikan beban
yang berat bagi generasi sekarang demi generasi mendatang, namun juga tidak
adil bila generasi sekarang tidak meninggalkan apa-apa sama sekali bagi generasi
mendatang. Untuk menentukan cara yang adil untuk mendistribusikan sumber
daya antar generasi, menurutnya masing-masing anggota generasi selayaknya
menempatkan diri dalam posisi awal, dan tanpa mengetahui dari generasi mana
mereka berasal.
Secara umum, Rawls menyatakan bahwa metode ini memastikan apa yang
diberikan oleh generasi sebelumnya pada generasi selanjtnya, akan mengarahkan
21

pada kesimpulan bahwa apa yang diisyaratkan oleh keadilan pada kita hanyalah
kepastian bahwa generasi selanjutnya tidak menerima yang lebih buruk dari yang
kita terima dari generasi sebelumnya. Masing-masing generasi tidak hanya wajib
melestarikan hasil-hasil budaya dan peradaban, serta mempertahankan institusi-
institusi yang telah terbentuk, namun juga menyisihkan akumulasi modal dalam
jumlah yang memadai (bukan hanya modal yang berbentuk pabrik, mesin, dan
sebagainya, tapi juga pengetahuan dan budaya, serta teknik dan keahlian, yang
mendukung terlaksananya institusi-institusi yang adil dan memberikan nilai yang
tepat pada kebebasan).
Kewajiban untuk memberikan perhatian yang berasal dari etika member
perhatian juga menyarankan kebijakan-kebijakan konservasi serupa dengan yang
diusulkan dalam pandangan Rawls tentang keadilan. Kesimpulan Rawls juga
didukung oleh sejumlah penalaran utilitarian. Robin Attfield, seorang utilitarian,
misalnya, menyatakan bahwa utilitarianisme mendukung apa yang disebutnya
prinsip Locke bahwa “masing-masing individu wajib memberikan warisan yang
cukup dan baik bagi yang lain. Interpretasi Attfield atas prinsip ini adalah masing-
masing generasi berkewajiban mewariskan suatu dunia yang kapasitas outputnya
tidak lebih kecil dibandingkan dari yang diterima dari generasi sebelumnya.
Attfield menyatakan bahwa mewariskan dunia dengan kapasitas output yang sama
tidak berarti mewariskan dunia dengan sumber daya alam yang sama. Sebaliknya,
mempertahankan kapasitas output bisa dicapai melalui konservasi, pengolahan
kembali, atau inovasi terknologi.
Pendukung utilitarianisme lainnya juga memberikan kesimpulan serupa
meskipun sedikitberbeda dengan berdasarkan prinsip-prinsip utilitarian lain.
Mereka menyatakan bahwa masing-masing generasi mempunyai tugas untuk
memaksimalkan keuntunganp-keuntungan masa depan dari tindakan mereka dan
meminimalkan kerugian masa depan. Namun, mereka juga menyatakan bahwa
konsekuensi masda depa perlu dipotong (diberi nilai yang lebih rendah) karena
adanya ketidakpastian dan jarak dengan masa depan.
Kebutuhan dan permintaan generasi masa depan, serta kemungkinan
terjadinya kelangkaan sumber daya yang terjadi jauh di masa depan, banyak
22

dipotong oleh pasar sehingga hamper tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap
harga. William Shepherd dan Clair Wilcox memberikan sebuah ringkasan alasan-
alasan yang direpresentasikan oleh pilihan dalam pasar dan gagalnya harga pasar
untuk memperhitungkan kelangkaan sumber daya di masa mendatang.
1. Akses beragam. Jika suatu sumber daya bias digunakan oleh beberapa pihak,
maka akses bersama ini akan mengarah kepada penyusutan sumber daya yang
cepat.
2. Preferensi waktu dan myopia. Perusahaan sering memiliki rentang waktu yang
singkat, di bawah tekanan kompetisi komersial. Hal ini bias jadi akan menekan
kepentingan-kepentingan dari generasi mendatang.
3. Perkiraan yang tidak memadai. Para pemakai saat ini secara umum gagal
memperkirakan perkembangan masa depan. Ini mungkin mencerminkan
kurangnya minat untuk melakukan penelitian dan kemampuan untuk
memahami perubahan-perubahan masa depan.
4. Pengeruh khusus. Pajak dan insentif khusus lainnya kemungkinan mendorong
penggunaan sumber daya yang terlampau cepat.
5. Pengaruh eksternal. Ada beberapa eksternalitas penting dalam penggunaan
berbegai sumber daya sehingga pemakai cenderung mengabaikan masalah
polusi dan biaya-biaya eksternal lain.
6. Distribusi. Terakhir keputusan pasar swasta didasarkan pola distribusi
kekayaan dan penghasilan yang sudah ada. Saat pemakai sumber daya memilih
dengan menggunakan uang mereka, permintaan pasar akan sangat
mencerminkan kepentingan dan preferensi kaum kaya.
Dalam istilah praktisnya, pandangan Rawls mengimplikasikan bahwa
meskipun kita tidak perlu mengorbankan kemajuan budaya yang telah kita
peroleh, namun kita perlu, secara sukarela atau melalui langkah-langkah hokum,
melakukan konservasi atas kekayaan sumber daya dan lingkungan yang kita
anggap diperlukan oleh generasi-generasi selanjutnya jika kita ingin agar mereka
memiliki pilihan-pilihan yang setidaknya sama dengan kita peroleh.
23

Pertumbuhan Ekonomi
Sejumlah penulis menyatakan bahwa jika kita ingin menghemat sumber
daya alam yang langka agar generasi mendatang bisa memperoleh kualitas
kehidupan yang memuaskan, maka kita perlu mengubah system perekonomian
secara substansial, khususnya dengan menekan usaha-usaha untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi. E.F.Schumacher misalnya, mengklaim bahwa negara-
negara industry harus beralih dari teknologi padat modal yang berorientasi pada
pertumbuhan menuju teknologi padat karya di mana manusia melakukan
pekerjaan-pekerjaan yang sekarang dilakukan oleh mesin. Kesimpulan bahwa
pertumbuhan ekonomi harus ditinggalkan jika masyarakat ingin mampu
mengganti masalah penyusutan sumber daya telah banyak mendapat tantangan.
Jika perekonomian dunia terus didasarkan pada tujuan pertumbuhan
ekonomi, maka permintaan akan sumber daya yang tidak dapat diperbarui akan
terus meningkat. Karena sumber daya dunia terbatas, maka pada titik tertentu
persediaannya akan habis. Dan pada titik ini, jika negara-negara seluruh dunia
masih menekankan pada usaha pertumbuhan ekonomi, maka diperkirakan
institusi-institusi ekonomi besar akan hancur (misalnya perusahaan dan lembaga
keuangan, jaringan komunikasi, industry jasa), yang selanjutnya juga akan
menghancurkan institusi politik dan social (pemerintahan tersentralisasi, program-
program pendidikan dan budaya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
perawatan kesehatan). Standar kehidupan selanjutnya akan turun dengan tajam
disertai munculnya bencana kelaparan di seluruh dunia dan dislokasi politik,
berbagai scenario untuk peristiwa-peristiwa ini telah banyak ditulis, dan semuanya
kurang lebih bersifat spekulatif dan hanya didasarkan pada asumsi-asumsi yang
tidak pasti.
Yang paling terkenal dan paling tua adalah penelitian-penelitian dari Club
of Rome, yang selama dua decade memproyeksikan akibat-akibat yang
mengerikan dari pola-pola pertumbuhan ekonomi yang terus berlanjut dalam
kaintannya dengan semakin menipisnya cadangan sumber daya alam.
Asumsi yang digunakan sebagai dasar scenario “kiamat” dari Club of Rome
dan kelompok-kelompok banyak mendapat kritikan dan penolakan. Program-
24

program computer dan persamaan yang digunakan untuk membuat prediksi ini
membuat asumsi-asumsi yang sangat controversial dan tidak pasti tentang tingkat
pertumbuhan populasi masa depan, tidak ada kenaikan output per unit input di
masa depan, ketidakmampuan kita menemukan bahan pengganti dari sumber daya
yang sudah habis, dan teknologi daur ulang yang tidak efektif.
Masalah lain yang juga cukup merisaukan adalah persoalan-persoalan moral
yang muncul dan distribusi persediaan energy yang semakin kecil. Amerika
adalah negara terkaya di dunia sekaligus konsumen energy paling besar. Enam
persen penduduk dunia yang tinggal di Amerika mengonsumsi 35 persen
persediaan energy tahunan dunia, sementara 50 persen penduduk dunia yang
tinggal di negara-negara kurang berkembang hanya menerima 8 persen persediaan
energy dunia. Pada kenyataanya, tiap orang Amerika mengonsumsi 15 energi
lebih banyak dibandingkan penduduk asli Amerika Selatan, 24 kali lebih banyak
dibandingkan penduduk Asia, dan 31 kali lebih banyak dibandingkan penduduk
asli Afrika. Lebih jauh lagi orang-orang Amerika menggunakan sebagian besar
energy yang tersedia untuk hal-hal yang tidak penting (produk-produk yang tidak
perlu, perjalanan yang tidak perlu, kenyamanan rumah dan peralatan untuk
kesenangan), sementara negara-negara yang lebih hemat, menggunakan
persediaan energy untuk memenuhi kebutuhan pokok (makanan, pakaian, rumah).
Dalam kaitannya dengan semakin langkanya sumber daya energy,
perbandingan-perbandingan di atas mau tidak mau memunculkan pertanyaan
apakah negara dengan tingkat konsumsi energy yang tinggi secara moral
dibenarkan untuk menggunakannya terus menerus sesuai selera mereka atas
sumber daya energy yang tidak dapat diperbarui dari negara lain yang secara
ekonomi terlalu lemah untuk memanfaatkan sumber daya ini atau terlalu lemah
secara militer untuk melindunginya.