Anda di halaman 1dari 20

ISU-ISU ETIK DALAM PSIKOLOGI KLINIS

KODE ETIK ASOSIASI PSIKOLOGI AMERIKA


Asosiasi Psikologi Amerika memublikasikan kode etik pertamanya pada 1953.
Munculnya kode pertama ini berkorespondensi dengan bangkitnya psikologi profesional
disekitar masa itu. Sejak itu, sembilan revisi kode etik tersebut telah dipublikasikan, termasuk
edisi terkini yang dipublikasikan pada 2002 (Behnke & Tones, 2012), (Dua amandemen
ditambahkan pada 2012, yarg menekankan fakta hahwa psikolog tidak boleh menggunakan
standar etik tertentu untuk membenarkan atau membela pelanggaran hak asasi manusia, C.B.
Fisher 2012). Sejak kemuncularınya, kode ini bukan hanya dipaksakan pada psikolog klinis
tetapi juga psikolog dengan semua spesialisasi. Sebagian pedomannya sangat relevan dengan
kegiatan-kegiatan profesional paling lazim psikolog klinis, seperti terapi, penilaian, penelitian
dan pengajaran. (Tautan Web 5.1 Kode Etik Tautan Web 5.2 Perbandingan Kode Etik tahun
1992 & 2002.)

Aspirasional dan Dipaksakan

Kode etik Asosiasi Psikologi Amerika yang sekarang ini (2002) menampikan dua bagian
yang berbeda: Prinsip-prinsip Umum dan Standar Etik. Masing masing bagian ini mengarahkan
psikolog pada perilaku etis dengan cara berbeda. Item item di bagian Prinsip Umum bersifat
aspirasional. Dengan kata lain, mereka mendeskripsikan tingkat fungsi etis ideal atau
bagaimana psikilog seharusnya berusaha memimpin dirinya sendiri. Di dalamnya tidak termusak
definisi spesifik tentang pelanggaran-pelanggaran etik;sebaliknya, mereka menawarkan deskripsi
yang lebih luas tentang contoh perilaku etis. Terdapat lina prinsip umum, dan di dalam Tabel 1,
masing-masing ditunjukkan berdampingan dengan kalimat pilihan yang dikutip dari deskripsi
yang lebih panjang di dalam kode etik.

Prinsip Etik Contoh Kalimat dari Deskripsi Dalam Kode Etik

A. Kebaikan dan tidak "Psikolog berusaha memberi manfaat pada mereka yang mereka
merugikan tangani dan bertindak hati-hati agar tidak menimbulkan kerugian pada
mereka".

B. Kesetiaan dan "Psikolog membangun hubungan yang saling mamercayai dengen


Tanggung jawab orang-orang vang mereka tangani. Mereka menyadari tanggung jawab
profeslonal dan imiah nereka terhadap masyarakat dan lerhadap
komunitas tertentu yang mereka tangani".

C. Integritas "Psikolog berusaha membudayakan akurasi, kejujuran dan kepercayaan


di dalam imu, pengajaran, dan praktik psikologi"

D. Keadilan "Psikolog mengakui bahwa kejujuran dan keadilan memberi hak


kepada semua orang untuk menilai dan mendapatkan manfat dari
kontribusi psikologi serta hak untuk menerima kualitas yang sama di
dalam proses, prosedur dan pelayanan yang dilaksanakan oleh
psikolog"

E. Menghormati Hak "Psikolog menghormati martabat don nilai semua orang, dan hak
dan Martabat individu atas privasi, kerahasiaan den determinasi-diri"
Manusia

Berlawanan dengan bagian Prinsip Umum, bagian Standar Etik dari kode etik mencakup
aturan-aturan perilaku yang dipaksakan. Jadi, jika seorang psikolog ditemukan bersalah atas
sebuah pelanggaran etik, sebuah standarlah (bukan sebuah prinsip) yang telah dilanggar. Standar
ini ditulis dengan cukup luas agar dapat mencakup rentang kegiatan yang luas yang melibatkan
psikolog, namun demikian lebih spesifik dibandingkan prinsip-prinsip umumnya. Meskipun
masing-masing prinsip umum dapat dipaksakan pada hampir setiap tugas yang dilaksanakan
seorang psikolog, setiap standar etik biasanya berlaku pada aspek kegiatan profesional yang
lebih tertarget.Stardar etik dibagi menjadi 10 kategori (yang didaftar di dalam Tabel 2), dan,
secara kolektif, kesepuluh kategori ini mencakup 89 standar individual.

Kategori Standar Etik Asosiasi Psikologi Amerika

1. Mengatasi isa-isu Etik

2. Kompetensi

3. Hubungan Manusia

4. Privosi dan Keahasiaan

5. Iklan dan Pernyataan Publik lain

6. Pencatatan dan Biaya

7. Pendidkan dan latihan

8. Penelition dan Publikasi

9. Penilaian

10. Terapi

Penting untuk dingat bahwa kode etik seharusnya dipahami bukan hanya sebagai sebuah
daftar aturan yang harus diikuti dan kesalahan yang harus dihindari, tetapi juga sebagai sumber
aspirasi untuk perilaku etis yarg setinggi-tingginya. Knapp dan VandeCreek (2006)
mendeskrirsikan kedua pendekatan etika ini masing-masing sebagai etika "remedial" dan
"positif”. Pendekatan etika remedial melibatkan bertindak dengan porsi yang cukup untuk
menghindari masalah apa pun yang mungkin timbul dari pelanggaran terhadap standar etik,
tetapi pendekatan etika positif akan melibatkan,mengerahkan segala upaya untuk memastikan
untuk berperilaku profesional sekonsisten mungkin dengan prinsip-prinsip etik. Sebagai contoh,
Knapp dan VandeCreek membahas kewajiban etis kompetensi. Psikolog dengan pendekatan
etika remedial mungkin tidak mau repot repot untuk menjadikan dirinya kompeten untuk
kegiatan tertentu (misalnya, mengambil kuliah, mendapatkan supervisi), tetapi psikolog dengan
pendekata etika positif akan berusaha menjadi sekompeten mungkin (misalnya, mengani kuliah
tambahan, supervisi ekstra, belajar sendiri, mengurus diri sendiri)

Pengambilan Keputusan Etik

Ketika isu etik timbul, seorang psikolog klinis seharusnya dipersenjatai dengan sebuah
proses untuk memungkinkan keputusan yang paling etis. Kode etik Asosiasi Psikologi Amerika
(2002) tidak menawarkan model pengambilar keputusan apa pun, tetapi model-model tersebut
telah direkomendasikan oleh sejumlah ahli di bidang itu (misalnya, Knapp & VandeCreek, 2006;
Koocher & Keith-Spiegel, 2008; Pope, 2011; Treppa, 1998). Salah satu ahli tersebut adalah
Celia Fisher, yang menjabat sebagai ketua Satuan Tugas Kode Etik Asosiasi Psikologi Amerika,
panitia yang bertanggurg jawab untuk membuat revisi kode etik tahun 2002. Di dalam bukunya,
Dacoding the Ethies Code, Fisher (2012) mengusulkan sebuah model delapan langkah untuk
pengambilan keputusan etis. Dengan bahasa yang sedikit diadaptasi, model itu disuguhkan di
sıni:

1. Sebelum timbul dilema etik, buat komitmen urtuk mclakukan apa yang pantas secara
etik.

2. Menjadi familier dengan kode etik Asosiasi Psikologi Amerika.

3. Cari keterangan di dalam undarg-undang atau pedomen profesional yang relevan


dengan situasi yang dihadapi

4. Coba pahami perspektif berbagai pihak yang terpengaruh oleh tindakan yang Anda
ambil. Berkonsultasilah dengan rekan-rekan sejawat (selalu lindungi kerahasiaan)
untuk mendapatkan masukan tambahan dan diskusi

5. Hasikan dan evaluasi alternatif-alternatif Anda.

6. Pilih dan impelementasikan rangkaian tindakan yang tampaknya paling pantas secara
etik.

7. Memonitor dan mengevaluasi keberhasilan rangkaian tirdakan Anda.

8. Bilamana perlu, lakukan modifikasi dan evaluasi rencana etik secara kontinu.
Sebelum beralih ke model pengambilan keputusan etis langkah-demi-langkah, psikolog
sebaiknya menyiapkan dirinya untuk mengatasi dilema etik dengan menjadi orang yang secara
umum etis dengan nilai-nilai yang baik. Dengan kata lain, berfungsi sebagai seorang psikolog
yang etis seharusnya bukan sebagai hafalan model pengambilan keputusan yang telah ditentukan
sebelumnya, yang menjadi pedoman satu-satunya. Meskipun model semacam itu jelas dapat
meningkatkan peluang psikolog untuk membuat keputusan yang paling etis, model-model akan
bekerja dengan sebaik-baiknya jika digunakan oleh seseorang yang sadah menelaah nilai-
nilainya sendiri dan menyelaraskan dirinya dengan etika profesi (Tjeltveit & Got:lieb, 2010).

Keyakinan Etik Psikolog

Kode etik Asosiasi Psikologi Amerika (2002) mungkin menginstruksikan kepada


psikolog tentang bagaimana bertindak secara etis, tetapi apa yang sebenamya diyakini oleh
psikolog mengenai etikalitas berbagai perilaku yang mungkin akan mereka lakukan? Dengan
kata iain, sebagai kelompok, apa keyakinan etik yang dianut oleh para psikolog? Pertanyaan ini,
khususnya ketika diterapkan pada perilaku terkait psikoterapi, dijawab dalam sebuah survei skala
besar terhadap para anggota Asosiasi Psikologi Amerika (Pope, labchrick & Keith spiegel,
1987). Di dalam studi ini, lebih dari 150 anggota Divisi 29 (Psikoterapi) Asosiasi Psikologi
Amerika membuat peringkat etikalitas 83 macam perilaku yang mungkin akar dilakukan seorang
psikolog kepada, bersama, atau sebagai respons terhadap seorang klien. Hasil-hasilnya
menunjukkan bahwa beberara perilaku -misalnya, seks dengan klien atau mantan klien,
bersosialisasi dengan klien yang sekarang, dan mengungkapkan informasi rahasia tanpa sebab
atau tanpa izin-dianggap sangat tidak etis. Sebaliknya, beberapa perilaku lain- misainya, berjabat
tangan dengan klien, menyebut klien dengan nama kecil, dan membongkar rahasia jika klienya
memiliki kecenderungan bunuh diri atau membunuh-dianggap etis. Akan tetapi, sebagian besar
dari 83 perilaku itu terletak di daerah abu-abu antara etis dan tidak etis, yang mengilustrasikan
tantangan yang dihadapi psikolog dalam membuat keputusan yang bijaksana entang isu-isu etis
dan pentingnya model pengambilan keputusan etis yarg baik (Cottone, 2012).

Bertahun-tahun sejak studi tahun 1987 oleh Pope dan kawan-kawan. peneliti lain telah
menggunakan metodologi serupa untuk memeriksa lebih jauh keyakinan etis psikolog, Sebuah
studi menemukan bahwa keyakinan etis psikolog mungkin bervariasi menurut titik waktu atau
wilayah negara tempat dikumpulkannya data (Tubbs & Pomerantz, 2001), sementara yang lain
menermukan bahwa keyakinan etis psikolog mungkin bervariasi menurut gender atau umur
klien, kepada siapa perilaku mereka diarahkan (Pomerantz, 2012a, Pemerantz & Pettibone,
2005). Jadi, meskipun kode etik Asosiasi Psikologi Amerika (2002) berfungsi sebagai kekuatan
pemandu, keyakinan yang benar-benar dipegang oleh psikolog, yang berhubungan erat dengan
perilaku yang mereka tunjukkan (Tope dan kawan-kawan, 1987), mungkin rentan terhadap
pengaruh pengaruh lain.

KERAHASIAAN
Salah satu karakteristik yang berkaitan paling erat dengan prakteke tis psikologi klinis
adalah kerahasiaan (M. A. Fisher, 2012). Faktanya, kerahasiaan disehutkan secara khusus
diantara prinsip-prirsip umum (di dalam Prinsip E:Menghormati Hak dan Martabat Manusia) dan
di banyak standar etis spesifik - termasuk Standar 4.01. "Menjaga Kerahasiaan", yang dimulai
dengan, "Psikolog memiliki kewajiban primer dan mergambil tindakan pencegahan yang wajar
untuk melindungi informasi rahasia" (Asosiasi Psikologi Amerika, 2002, hlm 1066).

Terdapat alasan yag kuat untuk menekankan tentang kerahasiaan di dalam profesi
psikologi: Profesi kita dipercaya oleh publik untuk memberikan pelayanan profesional tanpa
berbagi detail-detail pribadi rahasia didalam prosesnya. Akan tetapi, publik mungkin tidak
menyadari tentarg fakta bahwa kerahasizan tidak bersifat mutlak. Meskipun kebanyakan orang di
luar profesi keschatan mental mungkin berasumsi bahwa psikolog menjaga kerahasiaan semua
infor- masi (Miller & Theler, 1986), kebenarannya adalah behwa berbagai situasi tim- buldan
psikolog diwajibkan untuk membongkar rahasia. Banyak situasi sema- cam itu yang ditetapkan
oleh kasus-kasus pengadilan, termasuk kasus terkenal yang melibatkan kematian Tatiana
Tarasoff. Tarasoff dan Tugas untuk Mengingatkan Pada 1969, Prosenjit Poddar adalah seorang
mahasiswa di University of Ca- lifornia di Berkeley. Ia tertarik dengan Tatiana Tarasoff, dan
ketika hubungan mereka tidak menuju ke arah yang diinginkannya, keadaan mentalnya mem-
buruk dan ia mencari psikoterapi di pusat konseling universitas dari seorang peikolog, Dr.
Lawrence Moore. Selama sebuah sesi pada Agustus 1969, Poddar memberitahukan pada Dr.
Moore bahwa ia bermaksud membunuh Tarasoff. Dr. Moore percaya bahwa komentar Poddar
dapat dipercaya, jadi ia membongkar rahasia terapis-klien danmengentak polisi kampus. Polisi
kampus mewawan- carai Poddar tetapi tidak menahannya, karena ia berjarji akan menghindari
Tarasoff dan tampak rasional pada saat wawancara dilakukan. Poddar tidak pernah kembali ke
terapi. Pada 27 Oktober 1969, Poddar membunuh Tarasoff dengan menikam dan menembaknya.
Orang tua Tarasoff kemudlan menuntut Dr Moore dan pihak-pihak lain yang terlibat di dalam
kasus kematian yang seharusnya tidak perlu terjadi. Pengadilan menganggap bahwa psikolog
tersebut bertanggung jawab karena tidak mengingatkan Tarasoff tentang bahaya tersebut (Krapp
de VandeCreek, 2006). Dengan kata lain, meskipun Dr. Moore menbongkar rahasia dan
menghubungi polisi kampus, pengadilan memutuskan bahwa tindakannya tidak cukup-ia
seharusnya berusaha mengontak Tarasofi nengingatkan secara langsung bahwa ia dalam bahaya.

Dari kasus Tarasoff, tugas untuk mengingatkan muncul. Artinya,sejak preseden


hukum kasus Tarasoff ditetapkan, psikolog klinis (dan terapis- terapis lain) paham bahwa ada
batas-batas untuk kesepakatan kerahasiaan mereka dangan klien dan bahwa mereka memiliki
kewajiban untuk mengingatkan orang orang yang mendapat ancaman serius dari kliennya.
Sebagaimana dinyatakan di daiam putusan Tarasoff, "Sifat rahasia komunikasi pasien-
psikoterapis harus didapakan sampai ke tingkat ketika pengungkapan sangat penting untuk
mencegah bahaya yang mungkin timbul pada orang lain. Hak atas perlindungan itu berakhir dan
bahaya publik dimulai" (Taresoff v. The Regents of the Liniverity of Caifornia, 1974, him. 561,
sebagainana dikutip di dalam Tribbensee & Claíxm 2003, hlm. 287. (Tautan Web 53 Kasus
Tarasoff).

Alasan dibalik kewajiban untuk mengingatkan itu jelas: Di dalam situasi Tarasoff, nyawa
seorang perempuan muda seharusnya dapat diselamatkan jika peringatan diberikan kepadanya.
Dan jika kita menyimak tragedi-tragedi yang lebih mutakhir -pembunuhan Virginia Tech atau
serangan teroris 11 september, misalnya- kita dapat melihat bagaimana, jika pelaku telah
mengungkaplan rencana pembunuhannya kepada terapis, kewajiban untuk mengingatkan
seharusnya dapat mencegah "bahaya publik" skala-besar (Pope, 2011). Akan tetapi. di dalam
penerapannya, isu kewajiban-untuk-mengingatkan dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan sulit
bagi psikolog klinis yang diharapkan untuk menjunjung tinggi kewajiban tersebut. Sebagai
contoh, seberapa akuratkah psikologi klinis dapat menilai kredibilitas pernyataan mengancam
klien atau niat mereka untuk melaksanakan ancaman tersebut? Jenis-jenis ancaman apa yang
perlu diperingatkan -hanya ancaman yang terang-terangan mengancam jiwa atau juga termasuk
jenis-jenis ancaman lain, seperti mengemudi dalam keadaan mabuk atau kekerasan terhadap
pasangan intim (Guedj, Sastre, Mullet & Scrum. 2009, Welfel, Werth & Benjamin, 2012)? Di
titik mana terapi dan sejauh mana psikolog seharusnya lebih mempricritaskan perlindungan
terhadap calon korban daripada menangani kliennya? (Lihat Bersoff, 1976; Krapp &
VandeCreek, 2006; Tribbensee &Claiborn, 2003).

Selama beberapa dekade terakhir, psikolog klinis telah menghadapi sebuah versi
keputusan kewajiban untuk-mengingatkan tentang klien dengan HIV/ AIDS (Chenneville, 2000;
Peter, 1998). Untuk memberi contoh dilema ini, bayangkan bahwa Paul, seorang klen laki-laki
berumur 30 tahun, positif-HIV, menemui Dr. Reed, seorang psikolog klinis, untuk gejala-gejala
depresif. Selama percakapan mereka, Paul menyebutkan kepada Dr. Reed bahwa dirinya aktif
secara seksual, bahwa la tidak selalu mengikuti praktik seksual, dan bahwa ia merahasiakan dari
pasangannya bahwa dirinya positif HIV. Dr. Reed serta-merta menghadapi banyak pertanyaan
menantang: Apakah perilaku Paul merupakan ancaman yang partas diberitahukan kepada
korban-korban potensial untuk mengingatkan mereka? Bagaimana jika dibandingkan dengan
ancaman Poddar untuk membunuh Tarasoff? Jika Dr. Reed membongkar rahasia itu untuk
mengingatkan korban potensial, apa pengaruhnya pada alansi terapeutik dengan Paul dan,
utamanya, pada kesehatan Paul? Kepada siapa Dr. Reed memiliki tanggung jawab primer-Paul
atau orang-orang yang mungkin terancam bahaya karenanya? Sayangnya, bagi psikolog klinis,
tidak ada jawaban mudah untuk pertanyaan-pertanyaan semacam ini.

Ketika Kliennya adalah seorang Anak atau Remaja

Tantangan terkait kerahasiaan-lain timbul ketika psikolog klinis memberikan pelayanan


kepada anak di bawah umur. Tantangan khususnya berpusat pada fakta bahwa bagi banyak anak
dan remaja, terbangunnya hubungan yarg dekat dan saling memercayai dengan psikologi klinis
bergantung pada sejauh mana psikoiog mengungkapkan detail percakapan satu-lawan-satu
dergan orangtua anak (Krapp & VandeCreek, 2006, Richards, 2003, Tribbensee & Claiborn,
2003). Dengan kata lain, anak-anak mungkin lebih memilih untuk menahan daripada
mendiskusikan isu-isu pribadi penting jika mereka tahu bahwa psikolognya setelah itu akan
menyampaikar informasi tersebut kepada orangtuanya. Sebagai wali legalnya, orangtua tentu
saja berhak untuk diberitahukan tentang kemajuan anaknya di dalam terapi; di samping itu,
merupakan praktik klinis yang efektif untuk menjaga agar orangtua terus terlibat di dalam terapı
anak.

Kadang-kadang, psikolog klinis dapat mendiskusikan dilema kerahasiaan Ini secara


terbuka dengan klien anak dan orangtuanya, dan pengaturan yng disepakati bersama dapat
dicapai (Knapp & VandeCreek, 2006, Richards, 2000). Dengan kata lain, "terapis yang
menangani kien di bawah umur sering menegosiasikan penatalaksanaan bersama klien dan
orangtuanya, dan orangtua tidak akan berharap untuk diberitahukan tentang apa yang diungkap
klien di dalam terapi kecuali di dalam kondisi-kondisi yang telah diretapkan" (Trisben re &
Clairborn, 2003, hlm. 297). Kondisi yang ditetapkan tersebut termasuk berbagai situasi ketika
anak mungkin akan dirugikan oleh perilaku orang lain atau perilakunya sendiri, maupun
informasi umum tentang kondisi psikolog atau kemajuan anak di dalam terapi. Bahkan, jika
psikolog klinis menawarkan penjelasan bahwa kesepakatan semacam itu akan menguntungkan
kesejahteraan anak, orangtua boleh menolaknya, dan akseptabilitas pengaturan semacan itu
mungkin bergantung pada variabel-variabel budaya yang melibatkan hubungan orangtua-anak.
Koocher dan Daniel (2012) menawarkan skrip ini sebagai sebuah prototipe dari apa yang dapat
dikatakan psikolog kepada seorang klien remaja dan orangtuanya pada awal terapi:

Psikoterapi dapat bekerja dengan sebaik-baiknya jika orang memercayai percakapan


pribadi mereka. Pada saat yang sama, orangtua benar-benar ingin merasa yakin tentang
kesejahteraan dan keselamatan anaknya. Karena crangtua pernah menjadi remaja, Anda
tentu tahu bahwa seorarg remaja mungkin ingin memanfaatkan terapi untuk
membicarakan tentang seks, alkohol, merokok atau kegiatan-kegiatan lain yang mungkin
tidak disetujui oleh orangtua. Mari kita bicarakan tentang bagaimana kita dapat
meyakinkan anak Anda tentang kerahasiaan itu sehingga ia dapat membicarakan secara
terbuka tentang apa yang ada di dalam pikirannya dan pada saat yang sama meyakinkan
orangtuanya tentang keselamatan anaknya. (hlm. 12)

Jika orargtua menerima pengaturan tersebut, mereka akan cukup memercayai penilaian
psikolog. Pertimbangkan beberapa perilaku saat klien di bawah umur Anda mungkin terlibat
beberapa di antaranya adalah merokok, minum, seks, menmakai obat, tindak kejahatan dan
"memotong" (mutilasi-diri). Di titik mana atau dalam kondisi apa perilaku ini merupakan bahaya
yang membuat psikolog pantas memberitahukan hal tersebut orangtuanya? Sejauh mana umur
anak menjadi salah satu faktor?

Sebagai sebuah contoh klinis, Danica, seorang gadis 17 tahun yang menemui Dr. Terry,
seorang psikolog klinis. Orangtua Danica percaya baiwa Danica pantas menerima jaminan
kerahasiaan bersama Dr. Terry, dan mereka sepakat bahwa Dr. Terry tidak perlu mengulangi isi
konseling mereka secara lengkap: tetapi, orangtua Danica bersikeras agar mereka diberitahukan
jika ada kerugian atau bahaya yang mungkin dialami Danica, Ketika sesi-sesi bejalan. hubungan
terapeutik menguat, dan Danica mulai mengungkapkan kepada Terry tentarg detail-detail
kehidupannya, yang tidak diketahui oleh orang tuanya. Detail-detail tersebut termasuk fakta
bahwa Darica minum alkohol kira-kira seminggu sekali (tetapi tidak sampai mabuk), bahwa ia
pemah sengaja mengiris lengan bawahnya sendiri dengan silet cukur beberapa bula lalu, dan
bahwa pada suatu malam ia menumpang mobil yang dikemudikan oleh seorang temannya yang
saat itu mungkin sedang mabuk. Apakah ada di antara perilaku-perilaku atau situasi-situasi ini
yang mengharuskan Dr. Terry untuk memberitahukan orangtua Danica? Jika tidak, sampai
seberapa jauhkah perilaku itu seharusnya sebelum pantas untuk diberitahukan kepada
orangtuanya? Apa konsekuensi yang dapat diprakirakan oleh Dr. Terry jika ia tidak
memberitahukan orangtua Danica? Apakah jawabannya akan berheda jika Danica berumur 14,
atau 11 atau 8 tahun?

Sebuan isu kerahasiaan terpisah bagi klien di bawah umur adalah penganiayaan anak.
Setiap negara bagian memiliki undang-undang yang mengharuskan profesional kesehatan mental
untuk mengungkap rahasia urtuk melaporkan penganiayaan anak yang telah diketahui terjadi
atau dicurigai terjadi (Knapp & VandeCreek, 2006: Koodcher & Daniel, 2012, Tribbensee &
Claiborn, 2003). (Banyak negara bagian juga memiliki undang-undang menyangkut
penganiayaan terhadap orang dewvasa yang rentan.) Alasan di balik undang- undang tersebut
serupa dengan alasan di balik putusan Tarosoff: beberapa situasi menuntut bahwa tanggung
jawab primer psikolog klinis berubah menjadi pencegahan kerugian. Dan, seperti halnya situasi
tugas-untuk-mengingatkan, situasi penganiayaan anak sering kali mengharuskan psikolog klinis
urtuk mengambil keputusan yang sulit. Akan semakin menantang untuk menentukan dengan
penuh keyakinan apakah penganiayaar anak mungkin telah terjadi, khususnya pada anak-anak
yang tidak sepenuhnya mudah untuk berbicara cengan orang asing, yang mungkin membesar-
besarkan pernyataan melawan orangtuanya, atau yang keterampilan komunikasinya terbatas.
Tujuan umum penanganan psikolog klinis mungkin tetap sederhana -kesejahteraan anak-tetapi di
dalam kasus-kasus ketika di-curigai felah terjadi penganiayaan anak, maka untuk mencapai
tujuan tersebut akan menjadi sangat kompleks.

Sebagai catatan terakhir tentang kerahasiaan, penting untuk dicatat perbedaan antara
standar hukum dan standar etik. Meskipun mungkin berbeda di dalam situasi-situasi tertentu,
petunjuk bagi psikolog klinis yang dirinci di bagian ini -kewajiban untuk mengingatkan di dalam
situasi-situasi seperti-Tarasoff dan kewajiban melaporkan kecurigaan penganiayaan anak-sering
mempresentasikan standar hukum maupun standar etik. Artınya, undang-undang negara bagian
biasanya mewajibkan perilaku semacam itu oleh psikolog klinis, dan kode etik Asosiasi
Psikologi Amerika (2002) mencakup standar-standas yang konsisten dengan undang-undang ini.
Faktanya, salah satu standar etik (402 "Diskusi Batasan Kerahasiaan") secara spesifik
menginstruksikan kepada psikologi klinis untuk "mendiskusikan . batas-batas relevan
kerahasiaan"bersama klien (him. 1.65). Diskusi semacam itu adalah kompunen kunci dari preses
persetujuan tertulis.

PERSETUJUAN TERTULIS
Anda mungkin pemah terpapar gagasan persetujuan tertulis (informed consent) melalui
penelitian psikologi. Jika Anda pernah berpartisipasi di dalam sebuah penelitian psikologi,
mungkin pertama-tama Anda akan menerima informasi tertulis tentang penelitian tersebut, dan
penelitian baru akan dilaksanakan setelah Anda memberikan persetujuan dengan
menandatanganinya. Penelitian tentu. adalah salah satu penerapan penting standar etik yang
melibatkan persetujuan tertulis, tetapi bukan satu-satunya. Penilaian dan terapi juga
membutuhkan persetujuan tertulis menurut kode etik (Asosiasi Psikologi Amerika, 2002).
Sebenarnya, di dalam berbagai kegiatan profesional yang dilaksanakan oleh psikolog,
persetujuan tertulis adalah salah satu proses esensial, Ini memastikan bahwa orang yang
ditangani psikolog memiliki kesempatan untuk mengetahui tentang kegiatan yang melibatkan
partisipasi mereka, dan hal ini memfasilitasi keputusan yang cerdas. Di samping itu, ini
memberikan kesempatan kepada individu-indvidu untuk menolak untuk menyetujui jika mereka
menginginkannya.

Sehubungan dengan penelitian, Standar 8.02 ("Persetujuan Tertuls d Penelitian") kode


etik Asosiasi Psikologi Amerika (2002) menginstruksikan psikolog untuk memberitahukan
kepada calon partisipan tentang banyak aspek penelitiannya, termasuk maksud, prosedur, berapa
lama waktu yang dibutuhkan; semua risiko atau efek tidak menyenangkan yang dapat diprediksi,
insentif untuk partisipasi; dan hak untuk mengurangi atau menarik diri dari partisipasi. Jika studi
ini adalah investigasi atas sebuah metode penanganan, psikolog seharusnya juga
memberitahukan klien bahwa penanganannya bersifat eksperimental, bahwa sebagian klien
mungkin ditempatkan ke kelompok yang tidak menerima penanganan apa pun (kelompok
kontrol) dan penanganan-penanganan altematif di luar cakupan penelitian tersebut.

Persetujuan tertulis juga diperlukan penilaian psikologis. Menurut Standard 9.03


("Persetujuan Tertulis dalam Penilaian", Asosiasi Psikologi Amerika, 2002), psikolog seharusnya
menawarkan informasi tentang sifat dan maksud penilaian; biaya yang relevan, keterlibatan
pihak lain, bila ada; dan batas-batas kerahasiaan (misalnya, situasi kewajiban-untuk-
mengingatkan dan kekerasan terhadap anak).

Psikoterapi juga mensyaratkan proses persetujuan terlulis Standar Etik 10.01


("l'ersetujuan Tertulis untuk Terapi") menjelaskan bahwa,

psikolog memberitahukan kepada klien/pasien sedini mungkin mengenai hubungan


terapeutik tentang sifat den perjalanan terapi yang diharapkan, biaya, keterlibatan pihak
ketiga, dan batas kerahasiaan dan memberikan kesempatan yang cukup kepada
klien/pasien untuk bertanya dan mendapatkan jawaban. (Asosiasi Psikologi Amerika,
2002, him. 1072).

Beberapa frasa standar etik ini menyoroti fakta bahwa terapi terlepas dari kegiatan
kegiatan profesional lain yang dilakukan oleh psikolog klinis. Frasa, "sedini mungkin"
menunjukkan bahwa mungkin ada titik-titik berbeda yang menyuguhkan informasi. Faktanya,
sebuah survei terhadap para psikolog yang memberikan terapi menemukan bahwa secara umum,
mereka merasa nyaman menyampaikan informasi generik tertentu, seperti kebijaksanaan tentang
biaya dan kerahasiaan, di awal terapi, tetapi informasi yang lebih spesifik, seperti lamanya,
tujuan, dan substansi psikoterapi, terapi membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengenal
kliennya. Akibatnya, persetujuan tertulis untuk terapi berbeda dengan persetujuan tertulis untuk
penelitian atau penilaian -mungkin sebaiknya dipahami sebagai sebuah proses yang
berkelanjutan dan bukan sebuah peristiwa sekali saja (Pomerantz, 2005). Frasa lain yang perlu
diperhatikan di dalam Standar 1001 adalah "keterlibatan pihak ketiga", bahkan, yang menjadi
perdebatan tepatnya adalah apa dan berapa banyak yang harus diberitahukan kepada klien
tentang pengaruh perusahaan asuransi pada proses terapi (misalnya, Cohen, Marecek & Gillham,
2006, Huber, 1997; Pomerantz, 2000). Terakhir, frasa "memberikan kesempatan yang cukup
bagi klien/pasien untuk bertanya dan mendapatkan jawaban" telah ditanggapi oleh publikasi
daftar pertanyaan-pertanyaan yang dapat ditawarkan kepada klien di awal terapi dan di titik lain
mana pun yang relevan (misalnya, Pomerantz & Handelsman, 2004).Dari daftar ini, klien dapat
memilih pertanyaan pertanyaan yang menyangkut kepentingannya, yang sebagian mungkin tdak
muncul dari dirinya sendiri.

Khususnya di dalam psikoterapi, proses persetujuan tertulis memberikan peluang kepada


psikolog klinis untuk mulai membangun huburgan kolaboratif dengan klien (Pomerantz, 2012b).
Jenis hubungan ini sentral bagi keherhasilan semua jenis terapi. Jadi, akan bermanfaat bagi
psikolog klinis untuk mengundang klien untuk berpartisipasi secara aktif di dalam proses
persetujuan tertulis dan bergabung dengan sepenuh hati di dalam proses pengambilan keputusan
tentang rencana penanganan (Knapp & VandeCreek, 2006; Pomerantz & Hardelsman, 2004)

BATAS-BATAS DAN HUBUNGAN GANDA


Secara umum, akan menjad masalah bagi psikolog klinis jika mengenal seseorang secara
profesional -sebagai, misalnya, seorang klien terapi atau mahasiswa-dan mengenal orang yang
sama dengan cara lain-sebagai, misalnya, Seorarg teman, mitra bisnis, atau pasangan asmara.
Istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan situasi semacam ini hubungan ganda (multiple
relationship, meskipun istilah dual relationship juga digunakan). Akan menyenangkan untuk
mengatakan bahwa psikolog tidak perah terlibat dalam hubungan semacam itu, tetapi pernyataan
tersebut akan keliru (Borys & Pope, 1969); faktanya, sebagian keluhan yang dilayangkan kepada
Komite Etik Asosiasi Psikologi Amerika selama beberapa tahun terakhir melibatkan "insiden
akibat batas-batas yang kabur" (Schank, Slater Banerjee-Stevens & Skovholt, 2003. hlm. 182).
(Tautan Web 54 Huburngan ganda.)
Mendefinisikun Hubungan Ganda

Standar Etik 3.05a (Asosiasi Psikologi Amerika, 2002) menyatakan bahwa hubungan
ganda adalah,

terjadi ketika seorang psikolog di dalam sebuah peran profesional dengan seseorang dan
(1) di saat yang sama sedang berada di dalam sebuah peran lain dengan orang yang sama,
(2) pada saat yang sama sedang berada di dalam hubungan dengan orang yang memiliki
hubungan dekat dengan seseorang yang memiliki hubungan profesional dengan psikolog,
atau (3) berjanji untuk memasuki sebuah huburgan lain di masa yang akan datang dengan
orang tersebut atau seseorang yarg memiliki hubungan dekat dengan orang tersebut.
(hlm. 1065)

Jadi, hubungan ganda bukan hanya dapat terbentuk ketika scorang peikolog mengenal
seseorang secara profesional dan nonprefesional, tetapi juga ketika seorang psikolog memiliki
hubungan dengan seseorang yang "memiliki hubungan dekat atau memiliki hubungan keluarga
dengan" seseorang yang dikenal secara professional oleh psikolog tersebut.Sebagai contoh, jika
Monique, seorang perempuan 36 tahun, adalah klien terapi Dr. Davis, seorang psikokog klinis,
maka Dr. Davis akan membentuk hubungan ganda jika ia menjadi teman, mitra bisnis, atau
pasangan asmara Monique. Di samping itu, Dr. Davis akan membentuk hubungan ganda jika ia
juga terlibat dengan pasangan asmara, saudara kandung, atau sahabat Monique. Bagi psikolog
klinis yang mempertimbangkan standar etik ini, definisi "memiliki hubungan dekat atau memliki
hubungan keluarga" akan mempunyai pertentangan, khususnya mengingat sifat "enam tingkat
perpisahan" kota kita dan masyarakat-masyarakat kita. (Enam tingkat perpisahan, merupakan
teori bahwa setiap orang di planet bumi ini dapat dihubungkan dengan orang lain melalui sebuah
mata rantai yang memiliki tidak lebih dari lima perantara. http://whetis techtarget
com/definition/six-degrees of separation.) Sebagai contoh, apakah Dr. Davis akan membentuk
sebuah hubungan ganda jika ia mengencani sepupu-tingkat-kedua Monique, memasuki bisnis
dengan tetangga Monique, atau menjadi teman dari rekan sekerja Monique?

Seperti ditunjukkan oleh conloh-contoh di atas, hubungan ganda dapat memiliki banyak
bentuk (Sommers-Flaragan, 2012). Mungkin yang palirg mencolok dan merusak adalah
hubungan ganda seksual, yang artinya psikolog klinis menjadi pasangan seksual kliennya.
Kode etik Asosiasi Psikologi Amerika (2002) memberikan standar langsung dan tidak fleksibel
tentarg perilaku semacam itu "Psikolog tidak terlibat di dalam intimasi seksual dengan klien
terapi/pasiennya saat ini" (Standar 10.05, hlm. 1073). Perilaku semacam itu merepresentasikan
pelanggaran fundamental terhadap hubungan terapis-kien yang sehat dan sering kali
mengakibatkan kerusakan psikologis atau emosional di pihak klien (Pope, 1994; Sonne, 2012).

Keterlibatan nonprofesional antara klien dan psikolog klinis tidak perlu bersifat seksual
untuk menjadi sebuah hubungan ganda atau mengakibatian kerugian di pihak klien. Psikolog
bisa memiliki banyak peluang untuk terlibat di berbagai hubungan ganda nonseksual:
pertemanan, hubungan bisnis finansial, hubungan rekan-sekerja atau supervisor, afiliasi melalui
kegiatan keagamaan, dan sebegainya (Anderson & Kitchener, 1996; Zur, 2007). Salah satu tugas
esensial bagi psikolog klinis adalah mengakui sifat tumpang-tindih hubungan semacam ini
maupun potensinya yang mungkin nengakibatkanmu salah bagi klien.

Apa yang Membuat Hubungan Gandu Tidak Etis?

Tidak semua hubungan ganda tidak etis. Untuk membantu mengidentifikasi elemen-
elemen spesifik hubungan ganda yang membuatnya dianggap tidak etis. sekali lagi kita kembali
ke Standar Etik 3.05a:

Seorang psikolog menahan diri untuk tidak memasuki sebuah hubungan ganda jika
hubungan ganda itu dapat diperkirakan secara masuk akal akan mengganggu objektivitas,
kompetensi, atau keberhasilan psikolog yang bersangkutan dalam menjalankan fungsinya
sebagai psikolog jka tidak ini akan berisiko adanya eksploitasi atau kerugian pada orang
yang berhubungan dengan psikolog tersebut. Hubungan ganda yang tidak dapat
diperkirakan secara masuk akal akan mergakibatkan gangguan atau berisiko adanya
eksploitasi atau kerugian tidak yang bersifat tidak eits. (Ascsiasi Psikclogi Amerika,
2002, hlm. 1065).

Seperi ditunjukkar oleh standar ini, pada dasarmya ada dua kriteria untuk ketidaksesuaian
di dalam sebuah hubungan. Yang pertama, melibatkan gangguan di pihak psikolog jika peran
ganda dengan klien menyulitkan bagi psikolog untuk tetap objektif kompeten atau efektif, maka
hubungan semacam itu seharusnya dihindari. Yang kedua, melibatkan eksploitasi atau kerugian
bagi kien. Psikolog harus selalu ingat bahwa hubungan terapis-klen ditandai oleh kekuatan yang
tidak setara, sedemikian rupa sehingga peran terapis melibatkan kewenangan yang lebih besar
dan peran klien melibatkan kerentanan yang lebih besar, khususnya sebagai akibat
permasalahannya saat itu (Pope, 1994; Schank dan kawan kawan, 2033). Jadi, psikolog yang etis
tetap waspada tentang kemungkinan mengeksploitasi atau merugikan klien dengan mengaburkan
atau melintasi batas antara hubungan profesional dan nonprofesional. Di atas segalanya,
kesejahteraan klien bukan kebutuhan psikolog itu sendiri, tetap harus menjadi kepedulian utama.

Seperti ditunjukkan oleh kalimat terakhir dari standar di atas, dimungkinkan untuk
terlibat di dalam sebuah hubungar ganda yang tidak mengganggu psikolog atau bersifat
eksploitatif atau merugikan klien. (Dan dibeberapa lingkungan, seperti di dalam komunitas-
komunitas kecil, hubungan ganda semacam itu mungkin sulit dihindari). Akan tetapi, hubungan
ganda bisa menjadi wilayah yarg berbahaya secara etis, dan psikolog klinis berutang pada klien
dan dirinya sendiri untuk mempertimbangkan hubungan semacam itu dengan hati-hati dan
dengan melihat ke depan. Kadang-kadang, pelanggaran penting terhadap standar etik hubungan
ganda didahului oleh "proses pengikisan batas secara perlahan lahan" (Schank dkk., 2003, hlm.
183). Artinya, seorang psikolog klinis mungkin terlibat di dalam perilaku yang tampak tidak
berbahaya dan tidak merugikan yang tidak benar-benar berada di dalam hubungan profesional
yang oleh sebagian orang disebut "melintasi batas" (Gabbard, 20095; Zur, 2007)-dan meski- pun
perilaku ini sendiri secara umum tidak bersifat tidak etis, tetapi dapat mengawali perilaku yang
tidak etis. Perilaku nerugikan ini sering disebut "melanggar batas" dan dapat menyebabkan
kerugian serius pada klien, terlepas dari niat awalnya (Gutheil & Brodsky, 2008; Zur, 2009).

Sebagai contoh etika "lereng yang licin" semacam itu, simak Dr. Greene, seorang
psikolog klinis yang berpraktik swasta. Dr. Greene menyelesaikan sebuah sesi terapi bersama
Annie, seorang mahasiswi berusia 20 tahun, dan segera setelah sesi itu selesai, Dr. Greene
berjalan menuju ke mobilnya di tempat parkir. Di perjalanan ia melihat Annie tidak berhasil
menyalakan mesin mobilnya. Dr. Greene menawarinya tumpangan ke kelas, dan Annie
menerimanya. Selama perjalanan dan mengobrol, tiba-tiba Annie sadar bahwa ranseinya
tertinggal di mobilnya, jadi Dr. Greene meminjaminya kertas dan pena dari koperrya agar Annie
bisa mencatat kuliahnya. Dr. Greene menurunkan Annie dan tidak memikirkan kembali
tindakannya: lagi pula, ia toh hanya sekadar bermaksud menolcng. Akan tetapi, tindakannya
menciptakan preseden bersama Annie, yang dalam jumlah tertentu interaksi nonprofesioral
semacam itu masih dapat diterima. Akan tetapi, hubungan di luar terapi mereka dapat melibatkan
sosialisasi alau kencan, yang jelas merupakan keadaan tidak etis ketika Annie akhirnya mungkin
saja dieksploitasi atau dirugikan. Meskipun "erosi/pengikisan batas" semacam itu bukan tidak
dapat dihindarkan (Gottlieb & Younggren, 2009), pelanggaran batas kecil dapat mendukung
perkembangan prosesnya. Oleh sebab itu, psikolog klinis seharusnya memikirkan dengan cermat
tentang tindakan tindakan tertentu-menerima atau memberi hadiah, berbagi makanan atau
minuman, mengungkapkan pikiran dan perasaannya sendiri, meminjam atau meminjamkan
sesuatu, memeluk-yang mungkin diharapkan dan normal di dalam kebanyakan hubungan
interpersonal tetapi dapat terbukti merusak hubungan klinis( Gabbard, 2009b: Gutheil &
Brodsky, 2008; Zur. 2000)

KOMPETENSI
Kode etik Asosiasi Psikologi Amerika (2002) menggunakan sebuah bagian standar etik
sepenuhnya untuk topik kompetensi. Secara unum. psikolog yang kompeten adalah mereka yarg
cukup mampu, terampil, berpengalaman dan ahli untuk menyelesaikan tugas tugas profesional
yang mereka jalankan secara mencukupi (Nagy. 2012).

Salah satu standar etik spesifik di bagian tentang kompetensi (2.01a) menyangkut batas-
batas kompetensi: "Psikolog memberikan pelayanan, mengajar dan melaksanakan penelitian
dengan berbagai populasi dan di bidang-bidang yang hanya ada didalam batas-batas
kompetensinya, berdasarkan pendidikan, pelatihan, pengalaman yang disupervisi, konsultasi,
studi atau pengalaman profesional mereka" (Asosiasi Psikologi Amerika, 2002, hlm. 1063).

Salah satu implikasi penting standar ini adalah bahwa memiliki gelar doktor atau izin di
bidang psikologi tidak secara otomatis menjadikan seorang psikolog kompeten untuk semua
kegiatan profesional Sebaliknya, psikolog tersebut harus kompeten secara spesifik untuk tugas
yang ditanganinya. Sebagai contoh, simak Dr Kumar, seorang psikolog klinis yang mengikuti
program pelatihan doktoral dan ia menspesialisasikan diri di bidang psikologi klinis anak. Semua
kuliah pascasarjananya di bidang tes psikologi fokus pada tes-tes yang cocok bagi anak-anak,
dan di dalam praktiknya, ia biasanya menggunakan tes-tes tersebut. Dr. Kumar menerima
telepon dari Rick, seorang laki-laki dewasa yang menginginkan tes kecerdasan untuk dirinya
sendiri. Meskipun Dr.Kumar memiliki pelatihan dan pengalaman ekstensif dengan tes
kecerdasan anak, ia tidak memiliki pelatihan dan pengalaman dengan versi dewasa tes-tes
tersebut. Sebaliknya beralasan, "Saya adalah psikolog klinis berizin, dan psikolog klinis biasa
memberikan tes semacan ini, jadi ini ada didalam cakupan praktik saya", Dr. Kunar
menggunakan pendekatan yang lebih bertanggung jawab dan etis.la mengerti hahwa dirinya
mempunyai dua opsi: menjadi kompeten secara mencukupi (melalui kuliah, membaca, supervisi,
dan sebagainya) sebelum melakukan tes terhadap orang dewasa seperti Rick, atau merujuk orang
dewasa ke psikolog klinis lain dengan kompetensi yang lebih cocok.

Psikolog tidak hanya perlu menjadi kompeten, tetapi mereka juga harus tetap kompeten:
"Psikolog terus-menerus berusaha mengembangkan dan mempertahankan kompetensi mereka"
(Standar 2.03, Asosiasi Psikologi Amerika, 2002, hlm. 1064). Standar in konsisten dengan
peraturan pendidikan berkelanjutan badan perizinan di banyak negara bagian. Artinya, agar
layak untuk memperbarui izinnya, psikolog dibanyak Negara bagian harus mengikuti kuliah,
berpartisipasi di dalam lokakarya, menyelesaikan berbagai bacaan, atau mendemonstrasikan
dengan cara tertentu bahwa mereka mempertajam keteramplan profesional dan terus
memutakhirkan pengetahuan di bidangnya.

Di antara banyak aspek kompetensi yang harus didemonstrasikan psikolog klinis adalah
kompetensi kultural. Standar Etik 2.01b (Asosiasi Paikologi Amerika, 2002) mengatakan
bahwa,

pemahaman tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan umur, gender, identitas gender,
ras, etnisititas, budaya, negara asal, agama, orientasi seksual, disabilitas, bahasa atau
status sosial-ekonomi sangat esensial untuk implementasi efektif pelayanan atau
penelitian mereka, psikolog memiliki atau mendapatkan pelatihan, pengalaman, konsulasi
atau supervisi yang dibutuhkan untuk memastikan kompetensi pelayanan mereka. (hlm.
1063-1064)

Psikolog yang etis tidak menerepkan pendekatan "satu-bentuk-berlaku- untuk-semua"


dalam pekerjaan profesional mereka. Sebaliknya, mereka nenyadari bahwa klien berbeda dengan
cara-cara yang penting, dan mereka memastikan bahwa mereka memiliki kompetensi untuk
memilih atau menyesuaikan pelayanan agar sesuai dengan klien-klien yang beragam secara
budaya dan demografis (Salter & Salter, 2012). Kompetensi semacam itu bisa didapatkan dengan
banyak cara, termasuk melalui kuliah, pengalaman langsung, dan usaha untuk meningkatkan
kesadaran dirinya sendiri. Bacaan-bacaan yang disponsori Oleh Asosiasi Psikologi Amerika,
seperti "Guidelines for Psychotkerapy with Lesbian, Gay and Bisexual Clients" (Divisi 44, 2000)
dan "Guidelines fer Providers of Psychological Services to Ethnic, Linguistic, and Culturaily
Diverse Populations" (Asosiasi Psikolegi Amerika, 1993) juga menjadi kontributor penting bagi
kompetensi kultural psikolog klinis.

Penting untuk dicatat bahwa pelanggaran-pelanggaran etis yang melibatkan


ketidakkompetenan kultural (misalnya, tindakan-tindakan yang merefleksikan rasisme atau
seksisme) dipandang sama negatiirya dengan jenis-jenis pelanggaran etik lainnya oleh mereka
yang bukan profesional, seperti pelanggaran atas kerahasiaan dan hubungan ganda (Brown &
Pomeraniz, 2011).Dengan kata lain, kompetensi kultural tidak selalu menjadi satu-satunya
strategi klinis yang bijaksana; kompetersi kultural merupakan salah satu komponan esensial dari
praktik psikologi klinis yang bisa membawa akibat merusak bagi kien jika dilanggar (Gallardo,
Johnson, Parham & Carter, 2004), Tautan Web 55 Burnout di kalangan terapis.

Kode etik Asosiasi Psikologi Amerika (2002) juga mengakui bahwa masalah pribadi
psikolog sendiri dapat menurunkan kompetensi mereka: "Jika psikolog menyadari tentang
masalah-masalah pribadi yang dapat menginterferensi mereka dalam melaksanakan tugas-tugas
terkait-pekerjaan, mereka dapat mengambil langkah-langkah yang tepat-guna seperti
mendapatkan konsultasiataa bantuan profesional, dan menentukan apakah mereka seharusnya
membatasi, menangguhkan atau menghentikan tugas-tugas terkait-pekerjaan mereka" (Standar
216, him. 1064). Masalah-masalah pribadi yang menghambat kinerja psikolog mungkin saja
berasal dari berhagai aspek dan kehidupan pribadi atau profesional mereka (Barnett, 2008). Di
sisi profesional, tenomena kejenuhan di kalangan psikolog klinis telah diakui selama beberapa
dekade terakhir (misalnya, Grosch & Olsen. 1925 Morrissrre, 2004) Kejenuhan mengaca pada
keadaan kelelahan yang berkaitan dengan terus-menerus terlibat dalam pekerjaan yang banyak
menuntut secara emosional yang melampaui stres atau "erosi" psikologis pada pekerjaan (Pines
& Aronson. 1988). Karena sifat pekerjaan yang sering mereka kerjakan, psikolog klinis dapa
menemukan dirinya cukup rentan terhadap kejenuhan. Di scbuah studi terhadap lebih dari 500
psikolog berizin yang mempraktikkan terapi(Ackerley, Bumel, Holder & Kurdek, 1988), lebih
dari sepertiga melaporkan bahwa mereka teleh mengalami beberapa aspek kejenuhan tingkat
tinggi, khususnya kelelahan emosional. Di dalam studi ini, faktor-faktor yang meningkatkan
kerentanan seorang psikolog untuk mengalami kejenuhan termasuk perasaan komitmen yang
berlebihan terhadap klien, memiliki rasa kendali yang rendah atas terapi, dan mendapatkan gaji
yang relative rendah. Sebuah studi yang lebih mutakhir mengonfirmasikan bahwa keterlibatan
yang berlebihan dengan klien berkorelasi tinggi dengan kejenuhan, khususnya dalam bentuk
kelelahan emosional (Lee, Lim, Yang & Lee, 2011). (Tautan Web 5.5 Kejenuhan di antara
terapis.)

Kejenuhan dan faktor-faktor lain dapat berkontribusi pada tingkat pelemahan dalam
bentuk depresi, penggunaan substensi, atau manifestasi lain yang menginterferensi pekerjaan
klinis (Tamura, 2012; Williams, Pomerantz, Petti- bone & Segrist, 2010). Seperti disiratkan oleh
standar etiknya, psikolog seharusnya mengambil tindakan untuk mencegah atau meminimalkan
pelemahannya sendiri, termasuk kejenuhan profesional. Tindakan tersebut termasuk variasi
tanggung jawab kerja, menjaga agar ekspektasinya masuk akal, berkonsultasi dengan profesional
lain, mempertahankan kehidupan pribadi yang seimbang den sehat, atau bilamana perlu mencari
psikoterapi (Barnett, 2008; Grosch & Olsen, 1995; Smith & Moss, 2009). Di saat yang sama,
penting bagi psikolog untuk tetap mewaspadai tanda-tanda bahwa mereka sedang mengalami
pelemahan-yang, sampai tingkat tertentu, merupakan pengalaman universal bagi mereka yang
tetap bertahan di profesinya- dan mengambil langkah yang tepat ketika situasi semacam itu
terjadi (Good, Khairallah & Mintz, 2009). Usaha kolektif juga akan membantu; artinya, setiap
psikolog tidak hanya bisa mengurusi dirinya seridiri, tetapi psikolog klinis juga dapat saling
mengurusi, baik secara informal (misalnya, diantara teman-teman sejawat) maupun secara formal
melaui upaya-upaya oleh organisasi profesional untuk mempromosikan kepedulian-diri di
kalangan para anggotanya (Barnett & Cooper, 2009).

ETIKA DALAM PENILAIAN KLINIS


Banyak di antara prinsip dan standar yang dengan semua kegiatan klinis, tetapi ada
beberapa yang secara spesifik menyangkut penilaian. Sebagai contoh, kode etik Asosiasi
Psikologi Amierika (2002) mewajibkan psikolog untuk memilih tes-tes yang sesuai untuk
maksud penilaian dan populasi yang diuji. Pemilihan tes seharusnya inelibatkan sejunlah faktor,
termasuk kompetensi psikolog,budaya, bahasa, dan umur klien dan reliabilitas dan validitas tes.
Disamping itu, psikolog tidak boleh nemilh tes-tes yang sudah usang atau sudah digantikan oleh
edisi revisi yang lebih cocok untuk pertanyaan-pertanyaan penilaiannya. Kadang-kadang,
psikolog menemukan dirinya di dalam posisi mengonstruksikan sebuah tes baru, bukan memilih
dari tes-tes yarg sudah ada. Psikolog yang terlibat di dalam konstruksi tes seharusnya berusaha
sebaik -baiknya untuk menetapkan reliabilitas dan vaditas, meminimalkan bias tes, dan
menyertai tes dengan panduan tes yang kheren dan ramah-pengguna (Pomerantz & Sullivan,
2005).

Keamanan tes merepresentasikan bidang fokus spesifik lain dari kode etik Asosiasi
Psikologi Amerika (2002). Psikolog seharusnya berusaha melindungi keamanan dan integritas
materi tes yang mereka gunakan. Dengan kata lsin, psikolog seharusnya mencegah pertanyaan,
item dan stimulus lain yang lermasuk di dalam tes psikologi agar tidak memasuki ranah publik
(Bersoff, Demalteo & Foster, 2012). Jika psikolog mengizinkan materi tes dibawa pulang oleh
klien, yang kemudian difotokopi, atau diunggah di situs Internet, maka mereka mungkin bukan
melanggar undang-undang hak cipta, tetapi juga memberikan akses yang tidak semestinya
kepada calon orang yang diuji pada tes yang akan dijalaninya. Ini dapat memungkinkan
persiapan atau latihan untuk menjalani tes psikologi yang, pada gilirannya, akan memunculkan
hasil tes yang tidak valid. Sepeti dideskripsikan oleh Knapp dan VandeCreek (2006), bergantung
pada tes yang dimaksud, hasil tes yang tidak valid dapat menempatkan siswa yang tidak berbakat
ke program anak berbakat di sekoiah, menempatkan petugas polisi yang tidak stabil secara
psikologis ke jalanan, atau menempatkan seorang anak dibawah pengasuhan orangtua yang tidak
sehat secara emosional.
Meskipun psikolog seharusnya tetap mengamankan materi tes, kode etik Asosiasi
Psikologi Amerika (2002) menjelaskan bahwa mereka secara umum wajib untuk merilis data tes
kepada klien berdasarkan permintaan. Data tes mengacu pada data kasar yang diberikan klien
selama penilaian - respors, jawaban, dan catatan-catatan lain yang mungkin telah dibuat oleh
psikolog. Meskipun edisi kode etik sebelumnya menginstruksikan psikolog untuk merilis data
hanya jika ada alasan untuk percaya bahwa data itu akan disalahgunakan atau akan merugikan
klien. Revisinya merefleksikan perubahan yang lebih global ke arah otonomi klien di bidang
perawatan kesehatan (C. B. Fisher, 2012).

ETIKA DALAM PENELITIAN KLINIS


Kode etik Asosiasi Psikologi Amerika (2002) mencakup banyak standar yang berlaku
pada semua jenis penelitian, termasuk penelitian klinis. Jadi, seperti psikolog dari bidang-bidang
spesialisasi lain, psikolog klinis yang melaksanakan penelitian memiliki kewajiban etik untuk,
antara lain, meminimalkan kerugian di pihak partisipan, bebas plagiatisme, dan menghindari
fabrikasi data (Fisher & Vacanti-Shova, 2012). Di sini kami akan fokus pada sebuah isu yang
sangat relevan dengan salah satu bidang esensial penelitian kiinis. efikasi/keberhasilan
psikoterapi.

Ketika psikolog kinis melaksanakan penelitian empiris untuk mengukur seberapa baik
terapi tertentu bekerja, mereka biasarya melaksanakan terapi yang dimaksud dengan salah satu
kelompok partisipan, sementara kelompok yang kedua tidak menerima terapi ini. Apa yang
seharusnya diterima olen kelompok kedua? Ini adalah pertanyaan dengan implikasi etik penting
(Imber dan kawan-kawan, 1985: Lindsey, 1984; Saks, Jeste, Granholm, Palmer & Schneider-
man, 2002). Meskipun studi-studi semacam ini pada akhirnya menguntungkan banyak klien
melalui identifikasi penanganan berbasis penelitian, psikolog seharusnya berhati-hati agar tidak
salah menangani atau merugikan sebagian klien/partisipasi penelitian kita di dalam prosesnya.

Yang paling lazim, partisipan di dalam studi efikasi terapi yang tidak menerima
penanganan yang sedang ditelici ditempatkan di salah satu diantara tiga kondisi: tanpa
penanganan (sering disebut "daftar tunggu kelompok kontrol"), penanganan plasebo (semacam
interaksi personal dengan seorang profesional, tetapi dengan teknik teknik terapi yang sengaja
ditiadakan), atau penanganan lain (yang efikasinya mungkin tidak diketahui) (Bjorrsson, 21).
Apakah etis untuk memberikan pilhan kepada orang-arang yang memiliki masalah psikologis
dan yang telah memilih urituk berpartisipasi di dalam studi tentang penanganan itu karena
mengharapkan perbaikan? Tentu sangat penting untuk memberitahukan kepada partisipan
sebelum mereka setuju untuk berpartisipasi bahwa sebagian di antara mereka mungkin tidak
akan menerima penanganan yang sedang diteliti atau penanganan yang lainnya. Bahkan, jika
partisipan menyetujui pengaturan ini, etikalitas penanganan yang mereka terima dalan studi
semacan ini telah dipertanyakan (misalnya, Arcan & Alvidrez, 2002, Street & Luoma, 200)2
Bahkan, menjadi tantangan etis yang signifikan bagi psikolog klinis untuk menentukan secara
empiris keberhasilan terapi mereka tanpa eksploitasi yang tidak wajar atau yang gagal membantu
sebagian partisipan yang mereka eksploitasi dengan terapi tersebut (Saks dan kawan-kawan,
2002)

ISU-ISU ETIKA KONTEMPORER


Asuransi Kesehetan dan Etika

Asuransi kesehatan atau jaminan perawatan kesehatan masyarakat (PKM) mcmiliki


pengaruh kuat pada psikologi klinis saat ini. Di antara tantangan-tantangan baru yang
dimunculkannya adalah berbagai isu tentang etika.

Untuk memulai, perusahaan JPKM dapat menempatkan psikolog klinis pada posisi
loyalitas yang terbagi. Meskipun psikolog berkemitmen secara etik untuk "memperjuangkan
keuntungan" dan "melindungi kesejahteran” klien mereka (Ascsiasi Psikologi Amerika, 2002,
hlm. 1062), psikolog mungkin ditekan secara profesional untuk meminimalkan pelayanan yang
mereka berikan untak membatasi biaya perawatan kesehatan mental. Dengan kata lain, psikolog
klnis mungkin menemukan dirinya di dalam keadaan tarik-menarik antara keuntungan
perusahaan asuransi kesehatan dan kesejahteraan psikologis klien mereka (Alcaron. 2000;
Wilcoxan, Remley, Gladding & Huber, 2007). Di samping itu, sejauh klien dapat memersepsikan
bahwa psikolog klinis memiliki loyalitas yang terbagi, sejauh itu pula hubungan terapeutik
mungkin akan dikorbankan (HasS & Cummings, 1991).

Sebenarnya psikolog klinis dapat memberitahukan kepada klien tentang loyalitasnya


mereka pada perusahaan asuransi kesehatan-dan informasi lebih banyak tentang asuransi
kesehatan untuk masalah itu- selama proses persetujuan tertulis. Bahkan, terdapat banyak aspek
perawatan kesehatan mental terkelola yang dapat dimasukkan di dalam proses persetujuan
tertulis. Sebagai contoh, rencana asuransi kesehatan biasanya mensyaratkan bahwa sebuah
diagnosis Diagnostic and Statisiical Manual of Mental Disorders (DSM) diberikan pada seorang
klien agar memenuhi syarat untuk pembayaran (Ackley, 1997; Chamblis, 200) Di samping itu,
perusahaan asuransi kesehatan biasanya mensyaratkan bahwa psikolog klinis menyampaikan
paling tidak sebagian informasi klinis tentang masalahnya atau penanganannya kepada
perusahaan. Sejauh mana psikolog klinis seharusnya mendiskusikan tentang hal ini danfakta-
fakta lain terapi asuransi kesehatan bersama klien di awal terapi? Meskipun pertanyaan ini
penting tetapi jawabannya tidak jelas (Acuff dkk., 1999). Hanya sedikit penelitian empiris yang
telah dilaksanakan tentang pertanyaan ini, tetapi beberapa studi menunjukkan bahwa informasi
tertang asuransi kesehatan benar-benar berdampak kuat pada sikap terhadap terapi (misalnya,
Pomerantz, 2000)

Syarat yang disebutkan di atas bahwa klien harus didiagnosis dengan sebuah gangguan
DSM agar perusahaan asuransi kesehatan mau membayar perawatannya dapat menyodorkan
dilema etik lain unt uk psikolog klinis Jka seorang klien bergulat dengan masalah yang tidak
memenuhi kriteria untuk gangguan DSM apa pun, atau jika keluarga atau pasangannya memiliki
masalah yang tidak timbul secara langsung dari sebuah gangguan yang dapal diidentifikasi pada
seseorang, psikolog dapat menghadapi tekanan untuk memberikan diagnosis palsu untuk
memastikan bahwa perusahaan asuransi kesehatan akan membayar tagihannya (Kielbasa,
Pomerantz, Krohn & Sullivan, 2004, Ponmerantz & Segrist, 2006; Wilcoxon dkk., 2007). Atau
psikolog tersebut mungkin tergoda untuk melakukan "upcode" (penggunaan sebuah kode
prosedur yang merefleksikan pelayanan dengan intensitas lebih tinggi dibandingkan yang
biasanya digunakan untuk pelayanan yang diberikan.
http://medicaldictionary.thefreedictionary.com/ upcode), yaitu memberikan diagnosis yang lebih
serius dibandingkan diagnosis yang sesuai dengan gejala-gejala pasien, untuk menambah jumlah
sesi atau uang yang akan dibayarkan perusahaan asuransi kesehatan untuk penanganan (C.B.
Fisher, 2012: Parry, Furber & Allison, 2009). Bahkan jika motivasi psikolog adalah
kesejahteraan klien, tindakan semacam itu tidak etik dan dapat merupakan tindakan ilegal berupa
penipuan asuransi (Miranda & Marx, 2003).

Teknologi dan Etika

Seiring asuransi kesehatan, kemajuan teknologi telah menghasilkan berbagai perubahan


di dalam praktik psikologi klinis selama beberapa tahun terakhir, dan berbagai tantangan etis
baru juga timbul. Sebagai contoh, pencarian cepat di Internet akan mendapatkan berbagai output
yang disebut "tes psikologi" jenis tertentu, yang mengkiaim mengukur kererdasan, kepribadian,
dan variabel-variabel lainnya. Banyak di antara tes-tes ini yang validitas atau reliabilitasnya
dapat dipertanyakan, dan umpan-balik yang mereka berikan mungkin tidak akurat atau
mengakibatkan rasa tertekan pada klien. Psikolog klinis yang menciptakan atau menggunakan tes
yang tidak layak secara ilmiah semacam ini mungkin terlibat di dalam praktek tidak etis
(Buchanan, 2002) Dan penilaian online memunculkan jauh lebih banyak pertanyaan etis
(misalnya, Knapp & VandeCreek, 2006, Nagheri dkk, 2004): Ketika klien sedang mengerjakan
tes, apakah kondisi pengujiannya terstandar? Apakah klien akan tetap menjaga keamanan materi
tesnya? Apakah klien terdistraksi oleh tugas-tugas lain? Apakah klien benar-benar orarg yang
mengerjakan tes tersebut? Apakah terdapat observasi perilaku penting yang mungkin dilewatkan
oleh psikolog karena penilaian yang bersifat jarak jauh?

Sebagian pertanyaan ini juga berlalu pada praktik terapi online (Misalnya Shapiro &
Schulman, 1996). Jika terapi dilakukan melalui komputer, psikolog klinis dan klien mungkin
tidak dapat sepenuhnya mengapresiasi seluruh aspek komunikasi (misalnya, komunikasi
nonverbal) Di samping itu, terapi online memunculkan pertanyaan tentang kerahasiaan dan
identitas klien yang tidak ada jika psikolog klinis menangani klien secara tatap-muka Fisher &
Fried 2003; Kraus, 2004).

Etika dalam Komunitas Kecil

Meskipun semakin banyak diakui dan diteliti selama beberapa dekade terakhir, tantangan
etik yang unik bagi masyarakat kecil jelas bukan perkembangan baru. Psikolog klinis yang
bekerja dan tinggal di masyarakat kecil pasti pernah mengalami tantangan ini (Werth, Hastings
& Riding-Malon, 2010). Daerah pedesan dan kota kecil mungkin adalah contoh paling jelas dari
masyarakat kecil, tetapi ada juga yang lain. Bahkan di dalam kota besar pun, psikolog klinis
dapat menemukan dirinya tinggal dan bekerja di masyarakat kecil yang didefinisikan
berdasarkan etnisitas, agama atau orientasi seksual, atau dibasis militer, dikampus kecil, atau
lingkungan yang serupa (Hargrove, 1986;Schank, Helbok, Haldeman & Gallardo, 2010; Schank
& Skovholt, 1997, 2006:Schank dan kawan-kawan, 2003).

Hubungan ganda mungkin adalah isu etik yang paling sulit di dalam masyarakat kecil.
Faktanya, "hubungan tumpang-tindih nonseksual lebih mengenai kapan daripada apakah
(hubungan itu terjadi atau tidak terjadi] di delam kehidupan sehari-hari psikolog di masyarakat
kecil dan mandiri" (Schank dan kawan-kawan, 2003, hlm. 191). Berbeda dengan psikolog klinis
di masyankat yang lebih besar, mereka yang tinggal di masyarakat kecil mungkin tidak dapat
tinggal di salah satu populasi dan berpraktik di populasi lain, sehingga tidak memungkinkan
aspek-aspek kelidupan pribadi dan profesional mereka sepenuhnya terpisah satu sama lain.
Perhatikan Dr. Peters, satu-satunva psikolog klinis di sebuah kota di pedalaman yang jumlah
penduduknya hanya 1.500 jiwa. Apa pun kegiatan Dr. Peter belanja di toko kelontong, olahraga
di gym, mengunjungi dokter gigi-mungkin mengharuskannya untuk berinteraksi dengan seorang
klien atau mantan klien. Dan jika kita ingat bahwa hubungan ganda dapat melibatkan mereka
yang dekat dengan klien (misalnya, keluarga teman) disamping klien itu sendiri, maka
kemungkinan interaksi semacam itu jauh lebih tinggi. Dr. Peters mungkin satu-satunya
profesional kesehatan mental yang memenuhi syarat di masyarakat itu, sehingga baginya
merujuk klien ke profesional lain mungkin bukan opsi yang tepat.

Bagi psikolog klinis seperti Dr. Peters, akan bijak untuk mendiskusikan tertang hubungan
ganda dengan klien di awal pelayanan psikologis sebagai bagian dari proses persetujuan tertulis.
Meskipun hubungan ganda murgkin agak tak terhindarkan, mengedukasi klien tentang
komplikasi yarg dapat disebabkannya, maupun kewajiban etik psikolog, dapat memperjelas
batas-batas dan mencegah kesalahpahaman. Disamping itu, psikolog klinis di masyarakat kecil
seharusnya berusaha sebaik-baiknya untuk menjalani kehidupan pribedi yang sehat dan
seimbang untuk memastikan bahwa mereka tidak menemukan dirinya bergantung pada klien
secara tidak semestinya, untuk memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri. Dan jika tumpang-tindih
sampai tingkat tertentu tak dapat dihindari, psikolog klinis di masyarakat kecil bagaimanapun
juga harus berusaha sebaik-baiknya untuk menghindari keputusan yang dilemahkan dan
mengeksploitasi klien yang dapat membuat hubungan ganda itu tidak etis dan merugikan (Curtin
& Hargrove, 2010).

Anda mungkin juga menyukai