Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN


GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI : PLASENTA PREVIA

Di susun Oleh :

Eka Yusdiana
NIM : 081914018

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH TANJUNGPINANG


PROGRAM STUDI PROFESI NERS
TANJUNGPINANG
2020

2019/2020 Preseptor akademik Tanda Tangan

Wasis Pujiati,S.Kep.Ns,M.Kep
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI : PLASENTA PREVIA

A. KONSEP DASAR MEDIK PLASENTA PREVIA


1. Definisi
Plasenta previa adalah plasenta ada didepan jalan lahir (prae =didepan ; vias:
jalan), plasenta yang implantasinya menutupi seluruh atau sebagian ostium uteri
internum. Implantasi plasenta yang normal adalah pada dinding depan atau
dinding belakang rahim didaerah fundus uteri.
Plasenta previa adalah keadaan dimana plasenta berimplantasi pada tempat
abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau
seluruh pembukaan jalan lahir (ostium uteri internal) dan oleh karenanya bagian
terendah sering kali terkendala memasuki Pintu Atas Panggul (PAP) atau
menimbulkan kelainan janin dalam rahim. Pada keadaan normal plasenta
umumnya terletak di korpus uteri bagian depan atau belakang agak ke arah fundus
uteri (Prawirohardjo, 2008).
Plasenta previa adalah posisi plasenta yang berada di segmen bawah uterus,
baik posterior maupun anterior, sehingga perkembangan plasenta yang
sempurna menutupi os serviks.
2. Anatomi Fisiologi

Alat Reproduksi Internal pada Wanita menurut Prawirohardjo, 2008 :


a. Vagina
Yaitu organ yang mempunyai banyak pembuluh darah dan selaput syaraf,
tidak ada kelenjar tetapi tetap basah oleh secret dari serviks. Vagina juga
merupakan saluran merculus membranous yang menghubungkan rahim dan
vulva. Vulva terletak antara kandung kemih dan rectum. Pada dinding vagina
terdapat lipat melintang disebut ruggae terutama dibagian bawah sel dinding
vagina mengandung glikogenyang menghasilkan asam susu dari pH 4,5 untuk
memberikan proteksi terhadap infeksi.
b. Rahim (Uterus)
Merupakan jaringan otot yang kuat terletak antara pelvis minor, kandung
kemih dan rectum. Bentuk uterus seperti bola lampu (buah pear) dan gepeng
ke arah muka belakang. Berukuran sebesar telur ayam dan mempunyai rongga
atau dinding dari otot-otot polos. Bagian uterus antara lain
1) Fundus Uteri
Adalah bagian uteri proximal dimana kedua Fallopian Tube masuk ke
uterus.
2) Corpus Uteri
Adalah bagian uterus terbesar pada kehamilan, yang mempunyai fungsi
utama sebagai tempat janin berkembang.
3) Serviks Uteri
Terdiri dari pars vaginalis serviks dan pars vaginalis servisis uteris.
Dinding uterus terdiri dari endometrium yang melapisi cavum uteri dan
mempunyai arti penting setiap bulan. Berfungsi dalam siklus haid pada
wanita dalam masa reproduksi, tempat janin tumbuh dan berkembang.
Lapisan otot ini penting pada saat persalinan. Oleh karena itu, setelah
plasenta lahir berkontraksi dan menjepit pembuluh darah terutama sewaktu
bersalin dan sesudah bersalin.
4) Saluran Telur (Fallopian Tube)
Terdapat di tepi atas ligamentum latum, fallopian tubemerupakan tuba
muskuler dengan panjang ± 12 jam dan diameternya 8 sampai 9 cm,
fallopian tube berfungsi untuk menyalurkan telur dan hasil konsepsi.
5) Ovary
Adalah kelenjar berbentuk biji kenari yang terletak di kanan dan kiri uterus
di bawah uteri dan terikat di sebelah belakang oleh ligamentum uteri,
berfungsi untuk memproduksi ovum, estrogendan progesterone. Terdapat
di sebelah kanan dan kiri dengan panjang ± 4 cm dan tebal ± 1,5 cm.
3. Anatomi dan Fisiologi Plasenta
Plasenta berbentuk bundar dengan diameter 15-20 cm, tebal kira-kira 2,5 cm,
berat rata-rata 500gr. Sebelum kelahiran plasenta secara normal terletak pada
segmen atas uterus, di depan atas di belakang dinding uterus agak ke atas ke arah
fundus uteri. Hal itu dikarenakan permukaan bagian ataskorpus uteri lebih luas
sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi.Fungsi plasenta adalah sebagai
alat yang memberi makanan pada janin (nutritif), sebagai alat yang mengeluarkan
bekas metabolisme (ekskresi), sebagai alat yang memberi zat asam dan
mengeluarkan CO2 (respirasi), alat pembentuk hormon dan menyalurkan antibodi
ke janin.
4. Etiologi
Faktor-faktor terkait pencetus Plasenta Previa (Williams, 2014) :
Penyebab blastokista berimplantasi pada segmen bawah rahim belumlah
diketahui dengan pasti. Mungkin secara kebetulan saja blastokista menimpa
desidua di daerah segmen bawah rahim. Plasenta previa meningkat
kejadiannya pada keadaan-keadaan endometrium yang kurang baik,
misalnya karena atrofi endometrium atau kurang baiknya vaskularisasi
desidua. Keadaan ini bisa ditemukan pada :
a. Multipara, terutama jika jarak kehamilannya pendek.
b. Mioma uteri.
c. Kuretasi yang berulang.
d. Umur lanjut (diatas 35 tahun).
e. Bekas seksio sesaria.
f. Riwayat abortus.
g. Defek vaskularisasi pada desidua.
h. Plasenta yang besar dan luas : pada kehamilan kembar, eriblastosis fetalis.
i. Wanita yang mempunyai riwayat plasenta previa pada kehamilan sebelumnya.
j. Perubahan inflamasi atau atrofi misalnya pada wanita perokok atau
pemakai kokain. Hipoksemia yang terjadi akibat CO akan
dikompensasi dengan hipertrofi plasenta. Hal ini terutama terjadi
pada perokok berat (> 20 batang/hari).
Keadaan endometrium yang kurang baik menyebabkan plasenta harus
tumbuh menjadi luas untuk mencukupi kebutuhan janin. Plasenta yang
tumbuh meluas akan mendekati atau menutupi ostoum uteri internum.
Endometrium yang kurang baik juga dapat menyebabkan zigot mencari
tempat implantasi yang lebih baik, yaitu di tempat yang lebih rendah dekat
ostium uteri internum. Plasenta previa juga dapat terjadi pada plasenta yang
besar dan yang luas seperti pada eritroblastosis, diabetes mellitus, atau
kehamilan multipel. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan kejadian Plasenta
Previa yaitu :
a. Usia
Faktor risiko yang menyebabkan meningkatnya kejadian plasenta previa
adalah usia ibu, ibu dengan usia yang muda kurang dari 20 tahun lebih
berisiko mengalami plasenta previa karena pertumbuhan endometrium yang
kurang subur begitu juga dengan ibu dengan usia diatas 35 tahun karena
pertumbuhan endometrium sudah kurang subur. Ibu dengan usia diatas 35
tahun berisiko lebih tinggi karena aliran darah ke endometrium terganggu
karena kondisi endometrium kurang subur.3.4
b. Paritas
Paritas memiliki pengaruh yang besar terhadap kejadian plasenta previa,
hal ini disebabkan adanya respon inflamasi dan perubahan atrofi pada dinding
endometrium yang menyebabkan pertumbuhan plasenta melebar sehingga
plasenta tumbuh menutupi bagian segmen bawah rahim dan atau sebagian
ostium uteri internum.
c. Riwayat Seksio Sesarea
Faktor lain yang dapat menyebabkan plasenta previa yakni riwayat seksio
sesarea pada persalinan sebelumnya. Persalinan secara seksio sesarea
meningkatkan kejadian plasenta previa tiga kali lebih besar dibandingkan
dengan persalinan pervaginam dikarenakan karena cacatnya endometrium
dimana bekas luka operasi.
Peningkatan kejadian plasenta previa ini diperkirakan diakibatkan karena
perubahan patologis yang terjadi pada miometrium dan endometrium selama
kehamilan karena adanya jaringan parut. Perubahan patologis yang dapat
terjadi meliputi pembentukan polip infiltrasi limfosit,dilatasi kapiler dan
infiltrasi sel darah merah bebas kedalam jaringan sekitar jaringan parut selain
itu jaringan parut menyebabkan implantasi plasenta tidak optimal peningkatan
terjadi malformasi vaskuler dan peningkatan kerentanan pembuluh darah. 16
d. Riwayat Kuretase
Endometrium yang cacat akibat riwayat kuretase menyebabkan keadaan
endometrium kurang baik sehingga plasenta tumbuh meluas dan menutupi
ostium uteri internum,17 keadaan ini menyebabkan zigot mencari tempat
implantasi yang baikseperti ostium uteri internum. Tindakan operatif yang
dilakukan baik vacuum aspiration (VA) dan dilatation and sharp curettage
meningkatkan terjadinya adhesi sehinggapada dinding endometrium akan
menghambat pertumbuhan plasenta meluas menutupi ostium uteri internum
untuk memenuhi kebutuhan janin.
5. Klasifikasi
Klasifikasi Plasenta Previa sebagai berikut (Rahmatina, 2014) :
a. Plasenta previa totalis atau komplit adalah plasenta yang menutupi seluruh
ostium uteri internum.
b. Plasenta previa parsialis adalah plasenta yang menutupi sebagian ostium uteri
internum.
c. Plasenta previa marginalis adalah plasenta yang tepinya berbeda pada pinggir
ostium uteri internum.
d. Plasenta letak rendah adalah plasenta yang berimplementasi pada segmen
bawah rahim demikian rupa sehingga tepi bawahnya berbeda pada jarak lebih
kurang 2 cm dari ostium uteri inernum. Jarak yang lebih dari 2 cm dianggap
plasenta letak normal.

6. Manifestasi Klinis
Menurut Manuaba (2005), gambaran klinik plasenta previa adalah sebagai
berikut :
a. Perdarahan pervaginam
Darah berwarna merah terang pada umur kehamilan trimester kedua atau awal
trimester ketiga merupakan tanda utama plasenta previa. Perdarahan pertama
biasanya tidak banyak sehingga tidak akan berakibat fatal, tetapi perdarahan
berikutnya hampir selalu lebih banyak dari perdarahan sebelumnya.
b. Tanpa alasan dan tanpa nyeri
Kejadian yang paling khas pada plasenta previa adalah perdarahan tanpa nyeri
yang biasanya baru terlihat setelah kehamilan mendekati akhir trimester kedua
atau sesudahnya.
c. Pada ibu, tergantung keadaan umum dan jumlah darah yang hilang,
perdarahan yang sedikit demi sedikit atau dalam jumlah banyak dengan waktu
yang singkat, dapat menimbulkan anemia sampai syok.
d. Pada janin, turunnya bagian terbawah janin ke dalam Pintu Atas panggul
(PAP) akan terhalang, tidak jarang terjadi kelainan letak janin dalam rahim,
dan dapat menimbulkan asfiksia sampai kematian janin dalam rahim.
7. Patofisiologi
Pada usia kehamilan yang lanjut, umumnya pada trisemester ketiga dan mungkin
juga lebih awal oleh karena mulai terbentuknya segmen bawah rahim, tapak plasenta
akan mengalami pelepasan. Sebagaimana diketahui tapak plasenta terbentuk dari
jaringan maternal yaitu bagian desidua basalis yang bertumbuh menjadi bagian dari
uteri. Dengan melebarnya isthmus uteri menjadi segmen bawah rahim, maka plasenta
yang berimplantasi disitu sedikit banyak akan mengalami laserasi akibat pelepasan
pada desidua pada tapak plasenta. Demikian pula pada waktu serviks mendatar
(effacement) dan membuka (dilatation) ada bagian tapak plasenta yang terlepas.
Pada tempat laserasi akan terjadi perdarahan yang berasal dari sirkulasi maternal
yaitu dari ruang intervillus dari plasenta. Oleh karena fenomena pembentukan segmen
bawah rahim itu perdarahan pada plasenta previa betapa pun pasti kan terjadi
(unavoidable bleeding). Perdarahan di tempat itu relative dipermudah dan
diperbanyak oleh karena segmen bawah rahim dan serviks tidak mampu berkontraksi
dengan kuat karena elemen otot yang dimilikinya minimal, dengan akibat pembuluh
darah pada tempat itu tidak akan tertutup dengan sempurna. Perdarahan akan berhenti
karena terjadi pembekuan kecuali jika ada laserasi mengenai sinus yang besar dari
plasenta dimana perdarahan akan berlangsung lebih banyak dan lebih lama. Oleh
karena pembentukan segmen bawah rahim itu akan berlangsung progresif dan
bertahap, maka laserasi baru akan mengulang kejadian perdarahan. Demikian
perdarahan akan berulang tanpa sesuatu sebab lain (causeless). Darah yang keluar
berwarna merah segar tanpa rasa nyeri (pain-less).
Pada plasenta yang menutupi seluruh uteri internum perdarahan terjadi lebih awal
dalam kehamilan karena segmen bawah rahim terbentuk lebih dahulu pada bagian
terbawah yaitu ostium uteri internum. Sebaliknya pada plasenta previa parsialis atau
letak rendah perdarahan baru akan terjadi pada waktu mendekati atau mulai
persalinan. Perdarahan pertama biasanya sedikit tetapi cenderung lebih banyak pada
perdarahan berikutnya. Perdarahan yang pertama sudah bisa terjadi pada kehamilan
dibawah 30 minggu, tetapi lebih separuh kejadiannya pada kehamilan 34 minggu ke
atas. Berhubung tempat perdarahan terletak pada dekat dengan ostium uteri internum,
maka perdarahan lebih mudah mengalir keluar rahim dan tidak membentuk hematom
retroplasenta yang mampu merusak jaringan lebih luas dan melepaskan tromboplastin
ke dalam sirkulasi maternal. Dengan demikian sangat jarang terjadi koagulopati pada
plasenta previa.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah dinding segmen bawah rahim yang tipis
mudah diinvasi oleh pertumbuhan vili dari trofoblas, akibatnya plasenta melekat lebih
kuat pada dinding uterus. Lebih sering terjadi plasenta akreta dan inkreta bahkan
plasenta perkreta yang pertumbuhan vilinya bisa sampai menembus buli-buli dan ke
rectum bersama plasenta previa. Plasenta akreta dan inkreta lebih sering terjadi pada
uterus yang sebelumnya pernah bedah sesar. Segmen bawah rahim dan serviks yang
rapuh mudah robek oleh sebab kurangnya elemen otot yang terdapat disana. Kedua
kondisi ini berpotensi meningkatkan kejadian perdarahan pasca persalinan pada
plasenta previa, misalnya dalam kala tiga karena plasenta sukar melepas dengan
sempurna (retensio plasenta) atau setelah uri lepas karena segmen bawah rahim tidak
mampu berkontraksi dengan baik.
8. Pathway Plasenta Previa
9. Pemeriksaan Penunjang/ Diagnostik
Diagnosa plasenta previa ditegakkan dengan adanya gejala-gejala klinis dan
pemeriksaaan:
a. Gejala Klinis
Gejala utama berupa perdarahan pada kehamilan setelah 28 minggu atau pada
kehamilan trimester III yang bersifat tanpa sebab (causeless), tanpa nyeri
(painless), dan berulang (recurrent).
b. Palpasi abdomen
Janin sering belum cukup bulan, jadi fundus uteri masih rendah dan bagian
terbawah janin belum turun, biasanya kepala masih floating.1.3
c. Pemeriksaan inspekulo
Tujuannya adalah untuk mengetahui asal perdarahan, apakah
perdarahanberasal dari ostium uteri eksternum atau dari kelainan cervix dan
vagina.
d. Penentuan letak plasenta tidak langsung
Dapat dilakukan dengan radiografi, radioisotop dan ultrasonografi. Akan tetapi
pada pemerikasaan radiografi clan radioisotop, ibu dan janin dihadapkan pada
bahaya radiasi sehingga cara ini ditinggalkan. Sedangkan USG tidak
menimbulkan bahaya radiasi dan rasa nyeri dan cara ini dianggap sangat tepat
untuk menentukan letak plasenta.
e. Penentuan letak plasenta secara langsung
Pemeriksaan ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan perdarahan
banyak. Pemeriksaan harus dilakukan di meja operasi. Perabaan forniks. Mulai
dari forniks posterior, apa ada teraba tahanan lunak (bantalan) antara bagian
terdepan janin dan jari kita. Pemeriksaan melalui kanalis servikalis. Jari di
masukkan hati-hati kedalam OUI untuk meraba adanya jaringan plasenta
10. Penatalaksanaan dan Terapi
Menurut Scearce (2007), dalam penatalksanaan plasenta previa, dapat dilakukan:
a. Terapi ekspektatif (pasif)
Tujuan ekspektatif ialah supaya janin tidak terlahir prematur, penderita
dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis servisis. Upaya
diagnosis dilakukan secara non invasif. Pemantauan klinis dilakukan secara
ketat dan baik. Syarat-syarat terapi ekspektatif:
1) Kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti.
2) Belum ada tanda-tanda in partu.
3) Keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas normal).
4) Janin masih hidup.
5) Usia kehamilan <37 minggu.
Terapi :
1) Bed Rest, kurangi kerja rumah tangga dan hubungan suami istri.
2) Rawat inap, tirah baring, observasi dalam 24 jam.
3) Tokolitik, jika ada kontraksi (MgSO4 4g IV dosis awal lanjut 4g/ 6 jam
atau Nifedipin 3x20 mg/hari)
4) Pematangan paru jika usia <34 minggu (dengan kortikosteroid)
b. Terapi aktif
Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan
banyak, harus segera ditatalaksana secara aktif tanpa memandang maturitas
janin. Cara menyelesaikan persalinan dengan plasenta previa
1) Seksio sesarea
Prinsip utama dalam melakukan seksio sesarea adalah untuk
menyelamatkan ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tak punya
harapan untuk hidup, tindakan ini tetap dilakukan.
2) Melahirkan pervaginam
Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada plasenta. Penekanan
tersebut dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a) Amniotomi dan akselerasi
Umumnya dilakukan pada plasenta previa lateralis atau marginalis
dengan pembukaan > 3 cm serta presentasi kepala. Dengan memecah
ketuban, plasenta akan mengikuti segmen bawah rahim dan ditekan
oleh kepala janin. Jika kontraksi uterus belum ada atau masih lemah,
akselerasi dengan infus oksitosin
b) Versi Braxton Hicks
Tujuan melakukan versi Baxton Hicks ialah mengadakan tamponade
plasenta dengan bokong (dan kaki) janin. Versi Braxton Hicks tidak
dilakukan pada janin yang masih hidup
c) Traksi dengan Cunam Willet
Kulit kepala janin dijepit dengan Cunam Willet, kemudian beri beban
secukupnya sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif
untuk menekan plasenta dan seringkali menyebabkan pendarahan pada
kulit kepala. Tindakan ini biasanya dikerjakan pada janin yang telah
meninggal dan perdarahan tidak aktif
Menurut Manuaba (2008) Plasenta previa dengan perdarahan
merupakan keadaan darurat kebidanan yang memerlukan penanganan yang
baik. Bentuk pertolongan pada plasenta previa adalah:
1) Segera melakukan operasi persalinan untuk dapat menyelamatkan ibu
dan anak untuk mengurangi kesakitan dan kematian
2) Memecahkan ketuban di atas meja operasi selanjutnya pengawasan
untuk dapat melakukan pertolongan lebih lanjut
3) Bidan yang menghadapi perdarahan plasenta previa dapat mengambil
sikap melakukan rujukan ke tempat pertolongan yang mempunyai
fasilitas yang cukup.
11. Komplikasi
Kemungkinan infeksi nifas besar karena luka plasenta lebih dekat pada ostium
dan merupakan porte d’entrée yang mudah tercapai. Pasien biasanya anemis karena
perdarahan sehingga daya tahannya lemah. Bahaya plasenta previa adalah :
a. Anemia dan syok hipovolemik karena pembentukan segmen rahim terjadi secara
ritmik, maka pelepasan plasenta dari tempat melekatnya diuterus dapat berulang
dan semakin banyak dan perdarahan yang terjadi itu tidak dapat dicegah.
b. Akibat plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim dan sifat segmen
ini yang tipis mudahlah jaringan trofoblas dengan kemampuan invasinya
menorobos ke dalam miometrium bahkan sampai ke perimetrium dan menjadi
sebab dari kejadian plasenta inkreta bahkan plasenta perkreta.
Paling ringan adalah plasenta akreta yang perlekatannya lebih kuat tetapi
vilinya masih belum masuk ke dalam miometrium. Walaupun tidak seluruh
permukaan maternal plasenta mengalami akreta atau inkreta akan tetapi dengan
demikian terjadi retensio plasenta dan pada bagian plasenta yang sudah terlepas
timbullah perdarahan dalam kala tiga. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada
uterus yang yang pernah seksio sesaria. Dilaporkan plasenta akreta terjadi sampai
10%-35% pada pasien yang pernah seksio sesaria satu kali dan naik menjadi
60%-65% bila telah seksio sesaria tiga kali.
Gambar11.1
Jenis Plasenta Previa
c. Serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh dan kaya pembuluh darah sangat
potensial untuk robek disertai dengan perdarahan yang banyak. Oleh karena itu
harus sangat berhati-hati pada semua tindakan manual ditempat ini misalnya pada
waktu mengeluarkan anak melalui insisi pada segmen bawah rahim ataupun
waktu mengeluarkan plasenta dengan tangan pada retensio plasenta. Apabila oleh
salah satu sebab terjadi perdarahan banyak yang tidak terkendali dengan cara-cara
yang lebih sederhana seperti penjahitan segmen bawah rahim, ligasi a.uterina,
ligasi a.ovarika, pemasangan tampon atau ligasi a.hipogastrika maka pada
keadaan yang sangat gawat seperti ini jalan keluarnya adalah melakukan
histerektomi total. Morbiditas dari semua tindakan ini tentu merupakan
komplikasi tidak langsung dari plasenta previa.
d. Kelainan letak anak pada plasenta previa lebih sering terjadi. Hal ini memaksa
lebih sering diambil tindakan operasi dengan segala konsekuensinya.
e. Kehamilan prematur dan gawat janin sering tidak terhindarkan karena tindakan
terminasi kehamilan yang terpaksa dilakukan dalam kehamilan belum aterm. Pada
kehamilan < 37 minggu dapat dilakukan amniosintesis untuk mengetahui
kematangan paru-paru janin dan pemberian kortikosteroid untuk mempercepat
pematangan paru janin sebagai upaya antisipasi.
f. Solusio plasenta.
g. Kematian maternal akibat perdarahan.
h. Disseminated intravascular coagulation (DIC).
i. Infeksi sepsis.
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI : PLASENTA PREVIA
1. Pengkajian
a. Anamnesa
1) Identitas klien: Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan,
pendidikan, alamat, medicalrecord dll.
2) Keluhan utama : Gejala pertama; perdarahan pada kehamilan setelah 28
minggu atau trimester III.
a) Sifat perdarahan; tanpa sebab, tanpa nyeri, berulang.
b) Sebab perdarahan; placenta dan pembuluh darah yang robek;
terbentuknya SBR, terbukanya osteum atau  manspulasi intravaginal
atau rectal.
c) Sedikit banyaknya perdarahan; tergantung besar atau kecilnya robekan
pembuluh darah dan placenta.
3) Inspeksi
a) Dapat dilihat perdarahan pervaginam banyak atau sedikit.
b) Jika perdarahan lebih banyak; ibu tampak anemia.
4) Palpasi abdomen
a) Janin sering belum cukup bulan; TFU masih rendah.
b) Sering dijumpai kesalahan letak 
c) Bagian terbawah janin belum turun, apabila letak kepala biasanya
kepala masih goyang atau floating.
b. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat Obstetri
Memberikan informasi yang penting mengenai kehamilan sebelumnya
agar  perawat dapat menentukan kemungkinan masalah pada kehamilan
sekarang. Riwayat obstetri meliputi:
a) Gravida, para abortus, dan anak hidup (GPAH).
b) Berat badan bayi waktu lahir dan usia gestasi.
c) Pengalaman persalinan, jenis persalinan, tempat persalinan, dan
penolong persalinan.
d) Jenis anetesi dan kesulitan persalinan
e) Komplikasi maternal seperti diabetes, hipertensi, infeksi,
dan perdarahan.
f) Komplikasi pada bayi.
g) Rencana menyusui bayi.

2) Riwayat mensturasi
Riwayat yang lengkap di perlukan untuk menetukan taksiran
persalinan (TP). TP ditentukan berdasarkan hari pertama haid terakhir
(HPHT). Untuk menentukan TP berdasarkan HPHT dapat digunakan
rumus naegle, yaitu hari ditambah tujuh, bulan dikurangi tiga, tahun
disesuaikan.
3) Riwayat kontrasepsi
Beberapa bentuk kontrasepsi dapat berakibat buruk pada janin,
ibu, ataukeduanya. Riwayat kontrasepsi yang lengkap harus didapatkan
pada saat kunjungan pertama. Penggunaan kontrasepsi oral sebelum
kelahiran dan berlanjut pada kehamilan yang tidak diketahui dapat
berakibat buruk pada pembentukan organ seksual pada janin.
4) Riwayat penyakit dan operasi
Kondisi kronis seperti dibetes melitus, hipertensi, dan penyakit ginjal
bisa berefek buruk pada kehamilan. Oleh karena itu, adanya riwayat
infeksi, prosedur operasi, dan trauma pada persalinan sebelumnya harus di
dokumentasikan.
c. Pemeriksaan fisik
1) Umum
Pemeriksaan fisik umum meliputi pemeriksaan pada ibu hamil:
a) Rambut dan kulit: Laju pertumbuhan rambut berkurang.
b) Mata : pucat, anemis
c) Hidung
d) Gigi dan mulut
e) Leher
f) Buah dada atau payudara: Peningkatan pigmentasi areola putting susu.
Bertambahnya ukuran dan noduler
g) Jantung dan paru: Volume darah meningkat. Peningkatan frekuensi
nadi. Penurunan resistensi pembuluh darah sistemik dan pembulu
darah pulmonal.. Terjadi hiperventilasi selama kehamilan..
Peningkatan volume tidal, penurunan resistensi jalan nafas. Diafragma
meninggi. Perubahan pernapasan abdomen menjadi pernapasan dada.
h) Abdomen: Menentukan letak janin. Menentukan tinggi fundus uteri.
Tinggi fundus uteri. Posisi dan persentasi janin. Panggul dan janin
lahir. Denyut jantung janin
i) Vagina: Peningkatan vaskularisasi yang menimbulkan warna kebiruan
( tanda Chandwick). Hipertropi epithelium
j) System muskuloskeletal: Persendian tulang pinggul yang mengendur.
Gaya berjalan yang canggung. Terjadi pemisahan otot rektum
abdominalis dinamakan dengan diastasis rektal
2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan diagnosis keperawatan Nanda-I, 2018-2020 :
a. Defisien volume cairan berhubungan dengan hambatan mengakses cairan,
asupan cairan kurang, kurang pengetahuan tentang kebutuhan cairan
b. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan asupan garam
tinggi, kurang pengetahuan tentang proses penyakit, kurang pengetahuan
tentang faktor yang dapat diubah.
c. Ansietas berhubungan dengan stressor, ancaman kematian.
3. Intervensi

No Diagnosa Keperawatan Tujuan / NOC NIC

1. Defisien volume cairan 1. Fluid balance 1. Pertahankan intake dan


berhubungan dengan hambatan 2. Hydration output yang akurat
mengakses cairan, asupan cairan 3. Nutritional status : food 2. Monitor status hidrasi
kurang, kurang pengetahuan and fluid intake (kelembaban membran
tentang kebutuhan cairan mukosa, nadi adekuat,
KH : tekanan darah
ortostati) jika
diperlukan
1. TTV dalam batas normal
2. Tidak ada tanda-tanda
dehidrasi, elastisitas 1. Monitor vital sign in
turgor kulit baik, setiap 15 menit sampai
membran mukosa lembab, 1 jam
tidak ada rasahaus yang 2. Kolaborasi pemberian
berlebihan cairan IV
3. Orientasi terhadap waktu
dan tempat baik
4. Jumlah dan irama nafaas
dalam batas normal
5. Elektolit, hb dalam batas
normal
6. Intake oral dan intravena
adekuat

2. Perubahan perfusi jaringan Menunjukkan perubahan 1. Perhatikan status


berhubungan dengan hipovolemia fisiologi
perfusi jaringan kembali 2. ibu, staus sirkulasi
dan volume darah
normal dengan criteria hasil: 3. Auskultasi dan
laporkan DJJ.
· Tanda vital dalam batas 4. Catat bradikardi atau
takikardi.
normal· Hb dalam batas 5. Catat perubahan pada
aktivitas janin
normal 6. Catat kehilangan
darah ibu karena
adanya kontraksi
uteus
7. Anjurkan tirah baring
pada posisi miring.
8. Kolaborasi;
Berikan suplemen
oksigen pada ibu.
Lakukan sesuai
indikasi
Ganti kejilangan
darah ibu
Siapkan ibu untuk
intervensi bedah
dengan tepat
3 Ansietas berhubungan dengan 1. Kontrol kecemasan 1. Gunakan pendekatan
stressor, ancaman kematian. yang menyenangkan
2. Koping 2. Jelaskan semua
prosedur dan apa
KH : yang dirasakan
selama prosedur
3. Libatkan keluarga
1. Klien mampu
untuk mendampingi
mengidentifikasi dan
klien
mengungkapkan gejala
4. Instruksikan pada
cemas
pasien untuk
menggunakan teknik
2. Mengidentifikasi ,
relaksasi
mengungkapkan dan
5. Identifikasi tingkat
menunjukkkan tekhnik
kecemasan
untuk mengontrol
6. Bantu pasien
kecemasan
mengenal situasi yang
menimbulkan
3. Vital sign in dalam batas kecemasan
normal 7. Dorong pasien untuk
mengungkapkan
4. Postur tubuh, ekspresi perasaan, ketakuta,
wajah, bahasa tubuh, dan persepsi
tingkat aktivitas 8. Kelola pemberian
menunjukkan obat anti cemas : ...
berkurangnya kecemasan
DAFTAR PUSTAKA

Manuaba, Ida Bagus Gede. 2005. Ilmu Kandungan Dan Penyakit Kandungan .Jakarta: EGC
NANDA-I. Diagnosa Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi. 2018-2020. Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran (EGC).
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Edisi IX. Jakarta: PT Bina Pustaka.
Rahmatina, Maizan. 2014. Asuhan Keperawatanpada Ny.”S” G1P0A0 dengan Plasenta
Previa Totalis di Ruang Bougenville 2 RSUP Dr. SARDJITO.Politeknik Kesehatan
Yogyakarta : Karya Tulis Ilmiah.
Williams. 2014. Obstetri. Edisi 23. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran (EGC).