Anda di halaman 1dari 389

Gagrak Surakarta

Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Brahma - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments

December 23, 2007


Brahala - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Bomantara - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Bomanarakasura - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Bogadenta - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Bisma - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
Bisma (Sansekerta: Bhīshma) terlahir sebagai Dewabrata (Sansekerta: Dévavrata), adalah salah satu tokoh utama

dalam Mahabharata. Ia merupakan putera dari pasangan Prabu Santanu dan Satyawati. Ia juga merupakan kakek

dari Pandawa maupun Korawa. Semasa muda ia bernama Dewabrata, namun berganti menjadi Bisma semenjak ia

bersumpah bahwa tidak akan menikah seumur hidup. Bisma ahli dalam segala modus peperangan dan sangat

disegani oleh Pandawa dan Korawa. Ia gugur dalam sebuah pertempuran besar di Kurukshetra oleh panah dahsyat

yang dilepaskan oleh Srikandi dengan bantuan Arjuna. namun ia tidak meninggal pada saat itu juga. Ia sempat hidup

selama beberapa hari dan menyaksikan kehancuran para Korawa. Ia menghembuskan nafas terkahirnya saat garis

balik matahari berada di utara (Uttarayana).


Arti nama

Nama Bhishma dalam bahasa Sansekerta berarti “Dia yang sumpahnya dahsyat (hebat)”, karena ia bersumpah akan

hidup membujang selamanya dan tidak mewarisi tahta kerajaannya. Nama Dewabrata diganti menjadi Bisma karena

ia melakukan bhishan pratigya, yaitu sumpah untuk membujang selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya.

Hal itu dikarenakan Bisma tidak ingin dia dan keturunannya berselisih dengan keturunan Satyawati, ibu tirinya.

Kelahiran

Bisma merupakan penjelmaan salah satu Delapan Wasu yang berinkarnasi sebagai manusia yang lahir dari

pasangan Dewi Gangga dan Prabu Santanu. Menurut kitab Adiparwa, Delapan Wasu menjelma menjadi manusia

karena dikutuk atas perbuatannya yang telah mencuri lembu sakti milik Resi Wasistha. Dalam perjalanannya menuju

bumi, mereka bertemu dengan Dewi Gangga yang juga mau turun ke dunia untuk menjadi istri putera Raja Pratipa,

yaitu Santanu. Delapan Wasu kemudian membuat kesepakatan dengan Dewi Gangga bahwa mereka akan

menjelma sebagai delapan putera Prabu Santanu dan dilahirkan oleh Dewi Gangga. Bisma merupakan penjelmaan

Wasu yang bernama Prabhata.

Kehidupan awal

Sementara tujuh kakaknya yang telah lahir meninggal karena ditenggelamkan ke sungai Gangga oleh ibu mereka

sendiri, Bisma berhasil selamat karena perbuatan ibunya dicegah oleh ayahnya. Kemudian, sang ibu membawa

Bisma yang masih bayi ke surga, meninggalkan Prabu Santanu sendirian. Setelah 36 tahun kemudian, Sang Prabu

menemukan puteranya secara tidak sengaja di hilir sungai Gangga. Dewi Gangga kemudian menyerahkan anak

tersebut kepada Sang Prabu, dan memberinya nama Dewabrata. Dewabrata kemudian menjadi pangeran yang

cerdas dan gagah, dan dicalonkan sebagai pewaris kerajaan. Namun karena janjinya terhadap Sang Dasapati, ayah

Satyawati (ibu tirinya), ia rela untuk tidak mewarisi tahta serta tidak menikah seumur hidup agar kelak keturunannya

tidak memperebutkan tahta kerajaan dengan keturunan Satyawati. Karena ketulusannya tersebut, ia diberi nama

Bisma dan dianugerahi agar mampu bersahabat dengan Sang Dewa Waktu sehingga ia bisa menentukan waktu
kematiannya sendiri.
Bisma memiliki dua adik tiri dari ibu tirinya yang bernama Satyawati. Mereka bernama Citrānggada dan Wicitrawirya.

Demi kebahagiaan adik-adiknya, ia pergi ke Kerajaan Kasi dan memenagkan sayembara sehingga berhasil

membawa pulang tiga orang puteri bernama Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk dinikahkan kepada adik-adiknya.

Karena Citrānggada wafat, maka Ambika dan Ambalika menikah dengan Wicitrawirya sedangkan Amba mencintai

Bisma namun Bisma menolak cintanya karena terikat oleh sumpah bahwa ia tidak akan kawin seumur hidup. Demi

usaha untuk menjauhkan Amba dari dirinya, tanpa sengaja ia menembakkan panah menembus dada Amba. Atas

kematian itu, Bisma diberitahu bahwa kelak Amba bereinkarnasi menjadi seorang pangeran yang memiliki sifat

kewanitaan, yaitu putera Raja Drupada yang bernama Srikandi. Kelak kematiannya juga berada di tangan Srikandi

yang membantu Arjuna dalam pertempuran akbar di Kurukshetra.


Pendidikan

Bisma mempelajari ilmu politik dari Brihaspati (guru para Dewa), ilmu Veda dan Vedangga dari Resi Wasistha, dan

ilmu perang dari Parasurama (Ramaparasu; Rama Bargawa), seorang ksatria legendaris sekaligus salah satu

Chiranjīwin yang hidup abadi sejak zaman Treta Yuga. Dengan berguru kepadanya Bisma mahir dalam

menggunakan segala jenis senjata dan karena kepandaiannya tersebut ia ditakuti oleh segala lawannya. Bisma

berhenti belajar kepada Parasurama karena perdebatan mereka di asrama tentang masalah Amba. Pada saat itu

dengan sengaja Bisma mendorong Parasurama sampai terjatuh, dan semenjak itu Parasurama bersumpah untuk

tidak lagi menerima murid dari kasta Kshatriya karena membuat susah.

Peran dalam Dinasti Kuru

Di lingkungan keraton Hastinapura, Bisma sangat dihormati oleh anak-cucunya. Tidak hanya karena ia tua, namun

juga karena kemahirannya dalam bidang militer dan peperangan. Dalam setiap pertempuran, pastilah ia selalu

menang karena sudah sangat berpengalaman. Yudistira juga pernah mengatakan, bahwa tidak ada yang sanggup

menaklukkan Bisma dalam pertempuran, bahkan apabila laskar Dewa dan laskar Asura menggabungkan kekuatan

dan dipimpin oleh Indra, Sang Dewa Perang.

Bisma sangat dicintai oleh Pandawa maupun Korawa. Mereka menghormatinya sebagai seorang kakek sekaligus

kepala keluarga yang bijaksana. Kadangkala Pandawa menganggap Bisma sebagai ayah mereka (Pandu), yang

sebenarnya telah wafat.

Perang di Kurukshetra

Saat perang antara Pandawa dan Korawa meletus, Bisma berada di pihak Korawa. Sesaat sebelum pertempuran, ia

berkata kepada Yudistira bahwa dirinya telah diperbudak oleh kekayaan, dan dengan kekayaannya Korawa mengikat

Bisma. Meskipun demikian, karena Yudistira telah melakukan penghormatan sebelum pertempuran, maka Bisma

merestui Yudistira dan berdo’a agar kemenangan berada di pihak Pandawa, meskipun Bisma sangat sulit untuk

ditaklukkan. Bisma juga pernah berkata kepada Duryodana, bahwa meski dirinya (Bisma) memihak Korawa,
kemenangan sudah pasti berada di pihak Pandawa karena Kresna berada di sana, dan dimanapun ada Kresna maka
di sanalah terdapat kebenaran serta keberuntungan dan dimanapun ada Arjuna, di sanalah terdapat kejayaan.[2]

Dalam pertempuran akbar di dataran keramat Kurukshetra, Bisma bertarung dengan dahsyat. Prajurit dan ksatria

yang melawannya pasti binasa atau mengalami luka berat. Dalam kitab Bismaparwa dikatakan bahwa di dunia ini

para ksatria sulit menandingi kekuatannya dan tidak ada yang mampu melawannya selain Arjuna – ksatria berpanah

yang terkemuka – dan Kresna – penjelmaan Wisnu. Meskipun Arjuna mendapatkan kesempatan untuk melawan

Bisma, namun ia sering bertarung dengan setengah hati, mengingat bahwa Bisma adalah kakek kandungnya sendiri.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Bisma, yang masih sayang dengan Arjuna, cucu yang sangat dicintainya.

Kresna yang menjadi kusir kereta Arjuna dalam peperangan, menjadi marah dengan sikap Arjuna yang masih segan

untuk menghabisi nyawa Bisma, dan ia nekat untuk menghabisi nyawa Bisma dengan tangannya sendiri. Dengan

mata yang menyorot tajam memancarkan kemarahan, ia memutar-mutar chakra di atas tangannya dan memusatkan
perhatian untuk membidik leher Bisma. Bisma tidak menghindar, namun justru bahagia jika gugur di tangan

Madhawa (Kresna). Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk menghentikan

langkahnya.

Dengan sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berkata, “O Kesawa (Kresna), janganlah paduka memalsukan

kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak akan ikut

berperang. O Madhawa (Kresna), apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa

paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang

akan membunuh kakek yang terhormat itu!…”

Kresna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, ia mengurungkan niatnya dan naik kembali ke atas

keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya.

Kematian

Sebelum hari kematiannya, Pandawa dan Kresna mendatangi kemah Bisma di malam hari untuk mencari tahu

kelemahannya. Bisma mengetahui bahwa Pandawa dan Kresna telah masuk ke dalam kemahnya dan ia menyambut

mereka dengan ramah. Ketika Yudistira menanyakan apa yang bisa diperbuat untuk menaklukkan Bisma yang

sangat mereka hormati, Bisma menjawab: .. ketahuilah pantanganku ini, bahwa aku tidak akan menyerang

seseorang yang telah membuang senjata, juga yang terjatuh dari keretanya. Aku juga tidak akan menyerang mereka

yang senjatanya terlepas dari tangan, tidak akan menyerang orang yang bendera lambang kebesarannya hancur,

orang yang melarikan diri, orang dalam keadaan ketakutan, orang yang takluk dan mengatakan bahwa ia menyerah,

dan aku pun tidak akan menyerang seorang wanita, juga seseorang yang namanya seperti wanita, orang yang lemah

dan tak mampu menjaga diri, orang yang hanya memiliki seorang anak lelaki, atau pun orang yang sedang mabuk.

Dengan itu semua aku enggan bertarung

Bisma juga mengatakan apabila pihak Pandawa ingin mengalahkannya, mereka harus menempatkan seseorang

yang membuat Bisma enggan untuk bertarung di depan kereta Arjuna, karena ia yakin hanya Arjuna dan Kresna
yang mampu mengalahkannya dalam peperangan. Dengan bersembunyi di belakang orang yang membuat Bisma

enggan berperang, Arjuna harus mampu melumpuhkan Bisma dengan panah-panahnya. Berpedoman kepada
pernyataan tersebut, Kresna menyadarkan Arjuna akan kewajibannya. Meski Arjuna masih segan, namun ia

menuntaskan tugas tersebut. Pada hari kesepuluh, Srikandi menyerang Bisma, namun Bisma tidak melawan. Di

belakang Srikandi, Arjuna menembakkan panah-panahnya yang dahsyat dan melumpuhkan Bisma. Panah-panah

tersebut menancap dan menembus baju zirahnya, kemudian Bisma terjatuh dari keretanya, tetapi badannya tidak

menyentuh tanah karena ditopang oleh puluhan panah yang menancap di tubuhnya. Namun Bisma tidak gugur

seketika karena ia boleh menentukan waktu kematiannya sendiri. Bisma menghembuskan nafasnya setelah ia

menyaksikan kehancuran pasukan Korawa dan setelah ia memberikan wejangan suci kepada Yudistira setelah

perang Bharatayuddha selesai.


Bisma dalam pewayangan Jawa

Antara Bisma dalam kitab Mahabharata dan pewayangan Jawa memiliki beberapa perbedaan, namun tidak terlalu

besar karena inti ceritanya sama. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain disebabkan oleh proses Jawanisasi,

yaitu membuat kisah wiracarita dari India bagaikan terjadi di pulau Jawa.

Riwayat

Bisma adalah anak Prabu Santanu, Raja Astina dengan Dewi Gangga alias Dewi Jahnawi (dalam versi Jawa). Waktu

kecil bernama Raden Dewabrata yang berarti keturunan Bharata yang luhur. Ia juga mempunyai nama lain

Ganggadata. Dia adalah salah satu tokoh wayang yang tidak menikah yang disebut dengan istilah Brahmacarin.

Berkediaman di pertapaan Talkanda. Bisma dalam tokoh perwayangan digambarkan seorang yang sakti, dimana

sebenarnya ia berhak atas tahta Astina akan tetapi karena keinginan yang luhur dari dirinya demi menghindari

perpecahan dalam negara Astina ia rela tidak menjadi raja.

Resi Bisma sangat sakti mandraguna dan banyak yang bertekuk lutut kepadanya. Ia mengikuti sayembara untuk

mendapatkan putri bagi Raja Hastina dan memboyong 3 Dewi. Salah satu putri yang dimenangkannya adalah Dewi

Amba dan Dewi Amba ternyata mencintai Bisma. Bisma tidak bisa menerima cinta Dewi Amba karena dia hanya

wakil untuk mendapatkan Dewi Amba. Namun Dewi Amba tetap berkeras hanya mau menikah dengan Bisma. Bisma

pun menakut-nakuti Dewi Amba dengan senjata saktinya yang justru tidak sengaja membunuh Dewi Amba. Dewi

Amba yang sedang sekarat dipeluk oleh Bisma sambil menyatakan bahwa sesungguhnya dirinya juga mencintai

Dewi Amba. Setelah roh Dewi Amba keluar dari jasadnya kemudian mengatakan bahwa dia akan menjemput Bisma

suatu saat agar bisa bersama di alam lain dan Bisma pun menyangupinya. Diceritakan roh Dewi Amba menitis

kepada Srikandi yang akan membunuh Bisma dalam perang Bharatayuddha.

Dikisahkan, saat ia lahir, ibunya moksa ke alam baka meninggalkan Dewabrata yang masih bayi. Ayahnya prabu

Santanu kemudian mencari wanita yang bersedia menyusui Dewabrata hingga ke negara Wirata bertemu dengan

Dewi Durgandini atau Dewi Satyawati, istri Parasara yang telah berputra Resi Wyasa. Setelah Durgandini bercerai, ia
dijadikan permaisuri Prabu Santanu dan melahirkan Citrānggada dan Wicitrawirya, yang menjadi saudara Bisma

seayah lain ibu.


Setelah menikahkan Citrānggada dan Wicitrawirya, Prabu Santanu turun tahta menjadi pertapa, dan digantikan

anaknya. Sayang kedua anaknya kemudian meninggal secara berurutan, sehingga tahta kerajaan Astina dan janda

Citrānggada dan Wicitrawirya diserahkan pada Wyasa, putra Durgandini dari suami pertama. Wyasa-lah yang

kemudian menurunkan Pandu dan Dretarata, orangtua Pandawa dan Kurawa.

Demi janjinya membela Astina, Bisma berpihak pada Korawa dan mati terbunuh oleh Srikandi di perang

Bharatayuddha.

Bisma memiliki kesaktian tertentu, yaitu ia bisa menentukan waktu kematiannya sendiri. Maka ketika sudah sekarat

terkena panah, ia minta sebuah tempat untuk berbaring. Korawa memberinya tempat pembaringan mewah namun

ditolaknya, akhirnya Pandawa memberikan ujung panah sebagai alas tidurnya (kasur panah) (sarpatala). Tetapi ia

belum ingin meninggal, ingin melihat akhir daripada perang Bharatayuddha.


Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Bisawarna - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Bima w/ lindu - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments

December 23, 2007


Bilung - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Bayu - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Basupati - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Basukunti - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Basuki - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Basudewa - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Barat Waja - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Barata Branta - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Banuwati - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Banjaranjali - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Bandondari - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Banaputra - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Bambang Wijanarko - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Balaupata - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Baladewa w/ rayung - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Baka - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Bagong w/ gembor - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Bagong dadi Ratu - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Bagaspati - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Badraini - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Aswatama - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Dalam wiracarita Mahabharata, Aswatama (Sansekerta: Aśvatthāmā) atau Ashwatthaman (Sansekerta:

Aśvatthāman) adalah putera guru Dronacharya dengan Kripi. Sebagai putera tunggal, Dronacharya sangat

menyayanginya. Ia juga merupakan salah satu dari tujuh Chiranjīwin, karena dikutuk untuk hidup selamanya tanpa
memiliki rasa cinta. Saat perang di Kurukshetra berakhir, hanya ia bersama Kretawarma dan Krepa yang bertahan

hidup. Oleh karena dipenuhi dendam atas kematian ayahnya, ia menyerbu kemah Pandawa saat tengah malam dan

melakukan pembantaian membabi buta.

Aswatama dalam Mahabharata

Sebagian kisah hidup Aswatama dimuat dalam kitab Mahabharata. Kisahnya yang terkenal adalah pembunuhan

terhadap lima putera Pandawa dan janin yang dikandung oleh Utara, istri Abimanyu. Janin tersebut berhasil

dihidupkan kembali oleh Kresna namun lima putera tidak terselamatkan nyawanya.

Riwayat

Aswatama merupakan putera dari Bagawan Drona dengan Kripi, adik Krepa. Semasa kecil ia mengenyam ilmu
militer bersama dengan para pangeran Kuru, yaitu Korawa dan Pandawa. Kekuatannya hampir setara dengan

Arjuna, terutama dalam ilmu memanah. Saat perang di antara Pandawa dan Korawa meletus, ia memihak kepada

Korawa, sama dengan ayahnya, dan berteman dengan Duryodana.

Aswatama adalah ksatria besar dan konon pernah membangkitkan pasukan Korawa dari duka cita dengan cara

memanggil “Narayanāstra”. Namun Kresna menyuruh pasukan Pandawa agar menurunkan tangan dan karenanya

senjata itu berhasil diatasi. Ia juga memanggil “Agneyāstra” untuk menyerang Arjuna namun berhasil ditumpas

dengan Brahmastra. Pertarungannya dengan Bima dalam Bharatayuddha berakhir secara “skakmat”.

Kabar angin yang salah mengenai kematiannya dalam perang di Kurukshetra membuat ayahnya meninggal di

tangan pangeran Drestadyumna. Aswatama yang menaruh dendam mendapat izin dari Duryodana untuk membunuh

Drestadyumna secara brutal setelah perang berakhir secara resmi. Saat akhir peperangan, Aswatama berjanji

kepada Duryodana bahwa ia akan membunuh Pandawa, dan menyerang kemah Pandawa saat tengah malam,

namun karena kesalahan ia membunuh 5 putera Pandawa dengan Dropadi (Pancawala).

Pandawa yang marah dengan perbuatan tersebut memburu Aswatama dan akhirnya ia bertarung dengan Arjuna.

Saat pertarungan, Aswatama memanggil senjata ‘Brahmashira’ yang sangat dahsyat, yang dulu ingin ditukar dengan

chakra milik Kresna namun tidak berhasil. Dengan senjata itu ia menyerang Arjuna dan Arjuna membalasnya dengan

mengeluarkan senjata yang sama. Takut akan kehancuran dunia, Bagawan Byasa menyuruh agar kedua ksatria

tersebut mengembalikan senjatanya kembali. Sementara Arjuna berhasil melakukannya, Aswatama (yang mungkin

kurang pintar) tidak bisa melakukannya dan diberi pilihan agar senjata menyerang target lain untuk dihancurkan.

Dengan rasa dendam, Aswatama mengarahkan senjata menuju rahim para wanita di keluarga Pandawa. Di antara

mereka adalah Utara, menantu Arjuna.

Oleh karena itu Utara tidak bisa melahirkan Parikesit, putera Abimanyu, yang kelak akan meneruskan keturunan para

Pandawa bersaudara. Senjata Brahmastra berhasil membakar si jabang bayi, namun Kresna menghidupkannya lagi

dan mengutuk Aswatama agar menderita kusta dan mengembara di bumi selama 3.000 tahun sebagai orang

buangan tanpa rasa kasih sayang. Dalam versi lain, dipercaya bahwa ia dikutuk agar terus hidup sampai akhir
zaman Kali Yuga.
Aswatama juga harus menyerahkan batu permata berharga (“Mani”) yang terletak di dahinya, yaitu permata yang

membuatnya tidak takut terhadap segala senjata, penyakit, atau rasa lapar, dan membuatnya tak takut terhadap para

Dewa, danawa, dan naga.

Aswatama dalam pewayangan Jawa

Riwayat hidup Aswatama dalam pewayangan Jawa memiliki beberapa perbedaan dengan kisah aslinya dari kitab

Mahabharata yang berasal dari Tanah Hindu, yaitu India, dan berbahasa Sansekerta. Beberapa perbedaan tersebut

meliputi nama tokoh, lokasi, dan kejadian. Namun perbedaan tersebut tidak terlalu besar sebab inti ceritanya sama.

Riwayat

Aswatama adalah putra Bagawan Drona alias Resi Drona dengan Dewi Krepi, putri Prabu Purungaji dari negara
Tempuru. Ia berambut dan bertelapak kaki kuda karena ketika awal mengandung dirinya, Dewi Krepi sedang beralih

rupa menjadi kuda Sembrani, dalam upaya menolong Bambang Kumbayana (Resi Drona) terbang menyeberangi

lautan.

Aswatama dari padepokan Sokalima dan seperti ayahnya memihak para Korawa pada perang Bharatayuddha.

Ketika ayahnya, Resi Drona menjadi guru Keluarga Pandawa dan Korawa di Hastinapura, Aswatama ikut serta

dalam mengikuti pendidikan ilmu olah keprajuritan. Ia memiliki sifat pemberani, cerdik dan pandai mempergunakan

segala macam senjata. Dari ayahnya, Aswatama mendapat pusaka yang sangat sakti berupa panah bernama Panah

Cundamanik.

Cerita dalam khazanah Sastra Jawa Baru dikenal sebagai lakon wayang: “Aswatama Gugat”.

Aswatama pada kesempatan itu ingin membalas dendam kematian ayahnya, bagawan Drona. Pada perang

Bharatayuddha, Drona gugur karena disiasati oleh para Pandawa. Mereka berbohong bahwa “Aswatama” telah

gugur, tetapi yang dimaksud bukan dia melainkan seekor gajah yang bernama Hestitama (Hesti berarti Gajah)

namun terdengar seperti Aswatama. Lalu Drona menjadi putus asa setelah ia menanyakannya kepada Yudistira

yang dikenal tak pernah berbohong pun mengatakan iya.

Aswatama juga merasa kecewa dengan sikap Prabu Duryudana yang terlalu membela Prabu Salya yang dituduhnya

sebagai penyebab gugurnya Adipati Karna. Aswatama memutuskan mundur dari kegiatan perang Bharatayudha.

Setelah Perang Bharatayuda berakhir dan keluarga Pandawa pindah dari Amarta ke Astina, secara bersembunyi

Aswatama masuk menyelundup ke dalam istana Astina. Ia berhasil membunuh Drestadyumena (pembunuh ayahnya,

Resi Drona), Pancawala (putra Prabu Puntadewa), Dewi Banowati (Janda Prabu Duryodana) dan Dewi Srikandi,

sebelum akhirnya ia mati oleh Bima, badannya hancur dipukul Gada Rujakpala.

December 23, 2007


Aswanikumba - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Aswani - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Aswan - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Asmara - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Arjunawijaya - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Arjunasasrabahu - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments

December 23, 2007


Arjunapati - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments

Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Arjuna - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Arimuka - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Arimbi - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Arimbi Raseksi - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Arimba - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Antrakawulan - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category
December 23, 2007
Antawirya - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments

December 23, 2007


Antasena - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Antareja - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Antagopa - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Antaboga - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Anoman - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Anjani - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Anjani Kera - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Animandaya - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Anila - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Angkawijaya - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Anggraini - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Anggisrana - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Anggira - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Anggawangsa - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Anggada - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Andrika - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Amongmurka - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Amongdenta - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Ambika - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Dalam Mahabharata, Ambika merupakan puteri dari Raja Kasi dan istri dari Wicitrawirya, Raja Hastinapura.

Bersama dengan saudaranya, Amba dan Ambalika, ia direbut oleh Bisma dalam sebuah sayembara (Bisma

menantang para raja dan pangeran yang berkumpul lalu menaklukkan mereka). Bisma mempersembahkan mereka

kepada Satyawati untuk dinikahkan kepada Wicitrawirya. Namun Wicitrawirya wafat dalam usia muda sebelum

memberikan keturunan bagi Ambika.

Setelah kematian Wicitrawirya, ibunya Bisma yaitu Satyawati, mengajukan permohonan pertamanya kepada Resi

Weda Wyasa (Bagawan Byasa) untuk melanjutkan garis keturunan Dinasti Kuru. Sesuai dengan keinginan

Satyawati, Sang Bagawan mengunjungi kedua istri Wicitrawirya untuk menganugerahkan mereka masing-masing

seorang putera. Ketika Byasa mengunjungi Ambika, ia melihat rupa Byasa sangat menakutkan dan penampilannya
sangar dengan mata yang menyala-nyala. Dalam keadaannya yang ketakutan, ia menutup matanya dan tidak berani

membukanya. Maka dari itu, Dretarastra (puteranya), ayah para Korawa, terlahir buta.

Setelah kelahiran Dretarastra, ketika Satyawati meminta Byasa untuk mengunjungi Ambika untuk kedua kalinya,

Ambika tidak mau datang dan mengirimkan pelayan menggantikan dirinya. Maka si pelayan melahirkan Widura, yang

kemudian diasuh sebagai adik Dretarastra dan Pandu.

Ambika hidup beberapa lama sampai memiliki cucu, yaitu Pandawa dan Korawa. Ketika Pandu mangkat, Satyawati

mengajak Ambika untuk mengasingkan diri ke dalam hutan bersama-sama, demi meninggalkan kehidupan duniawi.

Keinginan tersebut disetujui oleh Ambika. Bersama dengan Ambalika, mereka bertiga pergi ke dalam hutan

meninggalkan Hastinapura, dan membiarkan penerus Dinasti Kuru menentukan nasibnya sendiri.

December 23, 2007


Ambalika - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Dalam Mahabharata, Ambalika merupakan puteri Raja Kasi dan istri dari Wicitrawirya, Raja Hastinapura.

Bersama dengan saudaranya, yaitu Amba dan Ambika, ia direbut oleh Bisma dalam sebuah sayembara (Bisma

menantang para raja dan pangeran yang berkumpul lalu menaklukkan mereka.) Bisma mempersembahkan mereka

kepada Satyawati untuk dinikahkan kepada Wicitrawirya. Namun Wicitrawirya wafat dalam usia muda sebelum
memberikan keturunan kepada Ambalika.

Setelah kematian Wicitrawirya, ibunya Bisma yaitu Satyawati, mengajukan permohonan pertamanya kepada Resi

Weda Wyasa (Bagawan Byasa) untuk melanjutkan garis keturunan Dinasti Kuru. Sesuai dengan permohonan

Satyawati, Sang Bagawan mengunjungi istri Wicitrawirya untuk menganugerahi mereka seorang putera. Ambalika

disuruh oleh Satyawati untuk terus membuka matanya supaya jangan melahirkan putera yang buta seperti yang telah
dilakukan oleh Ambika (Ambika melahirkan putera buta bernama Dretarastra). Karena taat dengan perintah

mertuanya, ia terus membuka matanya namun ia menjadi pucat setelah melihat rupa Sang Bagawan yang luar biasa.

Maka dari itu, Pandu (puteranya), ayah para Pandawa, terlahir pucat.

Ambalika hidup beberapa lama di Hastinapura sampai ia memiliki cucu, yaitu para Pandawa dan Korawa. Ketika

puteranya yang bernama Pandu telah wafat, perasaan Ambalika terpukul. Atas saran dari Satyawati, Ambalika

meninggalkan kehidupan duniawi dan pergi ke dalam hutan. Bersama dengan Ambika, mereka betiga meninggalkan

para penerus Dinasti Kuru di Hastinapura.

Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Amba - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Amba (Sansekerta: Ambā) adalah puteri sulung dari raja di Kerajaan Kasi dalam wiracarita Mahabharata. Bersama

dengan tiga adiknya yang lain, yaitu Ambika dan Ambalika, Amba diboyong ke Hastinapura oleh Bisma untuk

diserahkan kepada Satyawati dan dinikahkan kepada adiknya yang bernama Wicitrawirya, raja Hastinapura.

Amba dalam Mahabharata

Penolakan Bisma

Kedua adik Amba menikah dengan Wicitrawirya, namun hati Amba tertambat kepada Bisma. Amba berkata,

“Dewabrata, saya tidak mau diberikan kepada adikmu. Tujuanmu dahulu adalah mengambil kami bertiga untukmu,

dan ayahku memberikan kami untukmu saja, setelah sayembara itu“.


Bisma yang bersumpah untuk tidak kawin seumur hidup, menolak untuk menikah dengan Amba karena takut

melanggar sumpah. Namun kemanapun ia pergi, Amba selalu mengikutinya. Akhirnya Bisma mengungsi ke tempat

gurunya, yaitu Rama Bargawa atau Parasurama. Cukup lama ia tinggal di sana, jauh dari Hastinapura, meninggalkan

keluarganya. Parasurama heran dengan puteri cantik yang selalu mengikuti Bisma. Atas penjelasan Bisma,

Parasurama tahu bahwa puteri cantik tersebut bernama Amba. Parasurama membujuk Bisma agar mau menikahi

Amba. Karena terus-menerus mengatakan sesuatu yang membuat Bisma tidak nyaman, Bisma mendorong guurnya

tersebut hingga jatuh. Semenjak itu, Parasurama mengusir Bisma dan bersumpah bahwa ia tidak akan menerima

murid dari kasta Kshatriya lagi.

Kematian Amba

Dalam pengembaraan Bisma, Amba selalu mengikutinya. Akhirnya Bisma menodongkan panah ke arah Amba, untuk

menakut-nakutinya agar ia segera pergi. Namun Amba berkata, “Dewabrata, saya mendapat bahagia atau mati,

karena tanganmu. Saya malu jika harus pulang ke tempat orang tuaku ataupun kembali Hastinapura. Dimanakah
tempat bagiku untuk berlindung?“

Bisma terdiam mendengar perkataan Amba. Lama ia merentangkan panahnya sehingga tangannya berkeringat.

Panah pun terlepas karena tangannya basah dan licin oleh keringat. Panahnya menembus dada Amba. Dengan

segera Bisma membalut lukanya. Ia menangis tersedu-sedu. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Amba

berpesan kepada Bisma, bahwa ia akan menjelma sebagai anak Raja Drupada yang banci, yang ikut serta dalam

pertempuran akbar antara Pandawa dan Korawa.

Setelah Amba berpesan kepada Bisma untuk yang terakhir kalinya, ia pun menghembuskan nafas terakhirnya,

seperti tidur nampaknya. Dalam kehidupan selanjutnya, Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi, yang memihak

Pandawa saat perang di Kurukshetra. Srikandi adalah anak Raja Drupada dari Kerajaan Panchala yang berkelamin

netral atau waria (wanita+pria).

Amba dalam pewayangan Jawa


Kisah hidup Amba antara kitab Adiparwa (buku pertama Mahabharata) dan pewayangan Jawa memiliki beberapa

perbedaan, seperti misalnya nama-nama tokoh maupun kerajaan di India yang diubah agar bernuansa Jawa, namun

perbedaan tersebut tidak terlalu besar karena inti ceritanya sama.

Riwayat Amba

Dewi Amba adalah putri sulung dari tiga bersaudara, putri Prabu Darmahumbara, raja negara Giyantipura dengan

peramisuri Dewi Swargandini. Kedua adik kandungnya bernama: Dewi Ambika (Ambalika) dan Dewi Ambiki

(Ambaliki).

Dewi Amba dan kedua adiknya menjadi putri boyongan Resi Bisma (Dewabrata), putra Prabu Santanu dengan Dewi

Jahnawi (Dewi Gangga) dari negara Astina yang telah berhasil memenangkan sayembara tanding di negara

Giyantipura dengan membunuh Wahmuka dan Arimuka. Karena merasa sebelumnya telah dipertunangkan dengan
Prabu Citramuka, raja negara Swantipura, Dewi Amba memohon kepada Dewabrata agar dikembalikan kepada

Prabu Citramuka.

Persoalan mulai timbul. Dewi Amba yang ditolak oleh Prabu Citramuka karena telah menjadi putri boyongan,

keinginannya ikut ke Astina juga ditolak Dewabarata. Karena Dewi Amba terus mendesak dan memaksanya,

akhirnya tanpa sengaja ia tewas oleh panah Dewabrata yang semula hanya bermaksud untuk menakut-nakutinya.

Sebelum meninggal Dewi Amba mengeluarkan kutukan, akan menuntut balas kematiannya dengan perantaraan

seorang prajurit wanita, yaitu Srikandi.

Kutukan Dewi Amba terhadap Dewabrata menjadi kenyataan. Dalam perang Bharatayuda arwahnya menjelma

dalam tubuh Dewi Srikandi yang berhasil menewaskan Resi Bisma (Dewabrata).

December 23, 2007


Agnyanawati - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Adirata - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Adimanggala - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments

December 23, 2007


Abiyasa - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Abiyasa Raja - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
Abiyasa atau Byasa (Sansekerta: Vyāsa) (dalam pewayangan disebut Resi Abyasa) adalah figur penting dalam

agama Hindu. Beliau juga bergelar Weda Wyasa (orang yang mengumpulkan berbagai karya para resi dari masa
sebelumnya, membukukannya, dan dikenal sebagai Weda. Beliau juga dikenal dengan nama Krishna Dwaipayana.

Beliau adalah filsuf, sastrawan India yang menulis epos terbesar di dunia, yaitu Mahabharata. Sebagian riwayat

hidupnya diceritakan dalam Mahabharata. Dalam Mahabharata, dapat diketahui bahwa orangtua Resi Byasa adalah

Bagawan Parasara dan Dewi Satyawati (alias Durgandini atau Gandhawati).


Kelahiran

Dalam kitab Mahabharata diketahui bahwa orangtua Byasa adalah Resi Parasara dan Satyawati. Diceritakan bahwa

pada suatu hari, Resi Parasara berdiri di tepi Sungai Yamuna, minta diseberangkan dengan perahu. Satyawati

menghampirinya lalu mengantarkannya ke seberang dengan perahu. Di tengah sungai, Resi Parasara terpikat oleh

kecantikan Satyawati. Satyawati kemudian bercakap-cakap dengan Resi Parasara, sambil menceritakan bahwa ia

terkena penyakit yang menyebabkan badannya berbau busuk. Ayah Satyawati berpesan, bahwa siapa saja lelaki

yang dapat menyembuhkan penyakitnya boleh dijadikan suami. Mendengar hal itu, Resi Parasara berkata bahwa ia

bersedia menyembuhkan penyakit Satyawati. Karena kesaktiannya sebagai seorang resi, Parasara menyembuhkan

Satyawati dalam sekejap.

Setelah lamaran disetujui oleh orangtua Satyawati, Parasara dan Satyawati melangsungkan pernikahan. Kedua

mempelai menikmati malam pertamanya di sebuah pulau di tengah sungai Yamuna, konon terletak di dekat kota

Kalpi di distrik Jalaun di Uttar Pradesh, India. Di sana Resi Parasara menciptakan kabut gelap nan tebal agar pulau

tersebut tidak dapat dilihat orang. Dari hasil hubungannya, lahirlah seorang anak yang sangat luar biasa. Ia diberi

nama Krishna Dwaipayana, karena kulitnya hitam (krishna) dan lahir di tengah pulau (dwaipayana). Anak tersebut

tumbuh menjadi dewasa dengan cepat dan mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang resi.

Weda Wyasa

Umat Hindu memandang Krishna Dwaipayana sebagai tokoh yang membagi Weda menjadi empat bagian (Catur

Weda), dan oleh karena itu ia juga memiliki nama Weda Wyasa yang artinya “Pembagi Weda”. Kata Wyasa berarti

“membelah”, “memecah”, “membedakan”. Dalam proses pengkodifikasian Weda, Wyasa dibantu oleh empat

muridnya, yaitu Pulaha, Jaimini, Samantu, dan Wesampayana.

Telah diperdebatkan apakah Wyasa adalah nama seseorang ataukah kelas para sarjana yang membagi Weda.

Wisnupurana memiliki teori menarik mengenai Wyasa. Menurut pandangan Hindu, alam semesta adalah suatu

siklus, ada dan tiada berulang kali. Setiap siklus dipimpin oleh beberapa Manu, satu untuk setiap Manwantara, yang
memiliki empat zaman, disebut Catur Yuga (empat Yuga). Dwapara Yuga adalah Yuga yang ketiga. Purana (Buku 3,

Ch 3) berkata:
Dalam setiap zaman ketiga (Dwapara), Wisnu, dalam diri Wyasa, untuk menjaga kualitas umat manusia, membagi

Weda, yang seharusnya satu, menjadi beberapa bagian. Mengamati terbatasnya ketekunan, energi, dan dengan

wujud yang tak kekal, ia membuat Weda empat bagian, sesuai kapasitasnya; dan raga yang dipakainya, dalam

menjalankan tugas untuk mengklasifikasi, dikenal dengan nama Wedawyasa

Tokoh Mahabharata

Selain dikenal sebagai tokoh yang membagi Weda menjadi empat bagian, Byasa juga dikenal sebagai penulis

(pencatat) sejarah dalam Mahabharata, namun ia juga merupakan tokoh penting dalam riwayat yang disusunnya itu.

Ibunya (Satyawati) menikah dengan Santanu, Raja Hastinapura. Dari perkawinannya lahirlah Citrānggada dan

Wicitrawirya. Citrānggada gugur dalam suatu pertempuran, sedangkan Wicitrawirya wafat karena sakit. Karena
kedua pangeran itu wafat tanpa memiliki keturunan, Satyawati menanggil Byasa agar melangsungkan suatu yajña

(upacara suci) untuk memperoleh keturunan. Kedua janda Wicitrawirya yaitu Ambika dan Ambalika diminta

menghadap Byasa sendirian untuk diupacarai.

Sesuai dengan aturan upacara, pertama Ambika menghadap Byasa. Karena ia takut melihat wajah Byasa yang

sangat hebat, maka ia menutup mata. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, Byasa berkata

bahwa anak Ambika akan terlahir buta. Kemudian Ambalika menghadap Byasa. Sebelumnya Satyawati

mengingatkan agar Ambalika tidak menutup mata supaya anaknya tidak terlahir buta seperti yang terjadi pada

Ambika. Ketika Ambalika memandang wajah Byasa, ia menjadi takut namun tidak mau menutup mata sehingga

wajahnya menjadi pucat. Byasa berkata bahwa anak Ambalika akan terlahir pucat. Anak Ambika yang buta bernama

Dretarastra, sedangkan anak Ambalika yang pucat bernama Pandu. Karena kedua anak tersebut tidak sehat

jasmani, maka Satyawati memohon agar Byasa melakukan upacara sekali lagi. Kali ini, Ambika dan Ambalika tidak

mau menghadap Byasa, namun mereka menyuruh seorang dayang-dayang untuk mewakilinya. Dayang-dayang itu

bersikap tenang selama upacara, maka anaknya terlahir sehat, dan diberi nama Widura.

Ketika Gandari kesal karena belum melahirkan, sementara Kunti sudah memberikan keturunan kepada Pandu, maka

kandungannya dipukul. Kemudian, seonggok daging dilahirkan oleh Gandari. Atas pertolongan Byasa, daging

tersebut dipotong menjadi seratus bagian. Lalu setiap bagian dimasukkan ke dalam sebuah kendi dan ditanam di

dalam tanah. Setahun kemudian, kendi tersebut diambil kembali. Dari dalamnya munculah bayi yang kemudian

diasuh sebagai para putera Dretarastra.

Byasa tinggal di sebuah hutan di wilayah Kurukshetra, dan sangat dekat dengan lokasi Bharatayuddha, sehingga ia

tahu dengan detail bagaimana keadaan di medan perang Bharatayuddha, karena terjadi di depan matanya sendiri.

Setelah pertempuran berakhir, Aswatama lari dan berlindung di asrama Byasa. Tak lama kemudian Arjuna beserta

para Pandawa menyusulnya. Di tempat tersebut mereka berkelahi. Baik Arjuna maupun Aswatama mengeluarkan

senjata sakti. Karena dicegah oleh Byasa, maka pertarungan mereka terhenti.

Penulis Mahabharata

Pada suatu ketika, timbul keinginan Resi Byasa untuk menyusun riwayat keluarga Bharata. Atas persetujuan Dewa
Brahma, Hyang Ganapati (Ganesha) datang membantu Byasa. Ganapati meminta Wyasa agar ia menceritakan

Mahabharata tanpa berhenti, sedangkan Ganapati yang akan mencatatnya. Setelah dua setengah tahun,

Mahabharata berhasil disusun. Murid-murid Resi Byasa yang terkemuka seperti Pulaha, Jaimini, Sumantu, dan

Wesampayana menuturkannya berulang-ulang dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Abimanyu - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments

Abimanyu (Sansekerta: abhiman’yu) adalah seorang tokoh dari wiracarita Mahabharata. Ia adalah putera Arjuna dari

salah satu istrinya yang bernama Subadra. Ditetapkan bahwa Abimanyu-lah yang akan meneruskan Yudistira. Dalam

wiracarita Mahabharata, ia dianggap seorang pahlawan yang tragis. Ia gugur dalam pertempuran besar di

Kurukshetra sebagai ksatria termuda dari pihak Pandawa, karena baru berusia enam belas tahun. Abimanyu

menikah dengan Utara, puteri Raja Wirata dan memiliki seorang putera bernama Parikesit, yang lahir setelah ia

gugur.
Arti nama

Abimanyu terdiri dari dua kata Sansekerta, yaitu abhi (berani) dan man’yu (tabiat). Dalam bahasa Sansekerta, kata

Abhiman’yu secara harfiah berarti “ia yang memiliki sifat tak kenal takut” atau “yang bersifat kepahlawanan”.

Kelahiran, pendidikan, dan pertempuran

Saat belum lahir karena berada dalam rahim ibunya, Abimanyu mempelajari pengetahuan tentang memasuki formasi

mematikan yang sulit ditembus bernama Chakrawyuha dari Arjuna. Mahabharata menjelaskan bahwa dari dalam

rahim, ia menguping pembicaraan Kresna yang sedang membahas hal tersebut dengan ibunya, Subadra. Kresna

berbicara mengenai cara memasuki Chakrawyuha dan kemudian Subadra (ibu Abimanyu) tertidur maka sang bayi

tidak memiliki kesempatan untuk tahu bagaimana cara meloloskan diri dari formasi itu.

Abimanyu menghabiskan masa kecilnya di Dwaraka, kota tempat tinggal ibunya. Ia dilatih oleh ayahnya yang

bernama Arjuna yang merupakan seorang ksatria besar dan diasuh di bawah bimbingan Kresna. Ayahnya

menikahkan Abimanyu dengan Uttara, puteri Raja Wirata, untuk mempererat hubungan antara Pandawa dengan

keluarga Raja Wirata, saat pertempuran Bharatayuddha yang akan datang. Pandawa menyamar untuk menuntaskan

masa pembuangannnya tanpa diketahui di kerajaan Raja Wirata, yaitu Matsya.

Sebagai cucu Dewa Indra, Dewa senjata ajaib sekaligus Dewa peperangan, Abimanyu merupakan ksatria yang

gagah berani dan ganas. Karena dianggap setara dengan kemampuan ayahnya, Abimanyu mampu melawan ksatria-

ksatria besar seperti Drona, Karna, Duryodana dan Dursasana. Ia dipuji karena keberaniannya dan memiliki rasa

setia yang tinggi terhadap ayahnya, pamannya, dan segala keinginan mereka.

Kematian Abimanyu

Pada hari ketiga belas Bharatayuddha, pihak Korawa menantang Pandawa untuk mematahkan formasi perang

melingkar yang dikenal sebagai Chakrawyuha. Para Pandawa menerima tantangan tersebut karena Kresna dan

Arjuna tahu bagaimana cara mematahkan berbagai formasi.

Namun, pada hari itu, Kresna dan Arjuna sibuk bertarung dengan laskar Samsaptaka. Oleh karena Pandawa sudah
menerima tantangan tersebut, mereka tidak memiliki pilihan namun mencoba untuk menggunakan Abimanyu yang
masih muda, yang memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara mematahkan formasi Chakrawyuha namun tidak

tahu bagaimana cara keluar dari dalamnya. Untuk meyakinkan bahwa Abimanyu tidak akan terperangkap dalam

formasi tersebut, Pandawa bersaudara memutuskan bahwa mereka dan sekutu mereka akan mematahkan formasi

itu bersama Abimanyu dan membantu sang pemuda keluar dari formasi tersebut.

Pada hari penting itu, Abimanyu menggunakan kecerdikannya untuk menembus formasi tersebut. pandawa

bersaudara dan sekutunya mencoba untuk mengikutinya di dalam formasi, namun mereka dihadang oleh Jayadrata,

Raja Sindhu, yang memakai anugerah Siwa agar mampu menahan para Pandawa kecuali Arjuna, hanya untuk satu

hari. Abimanyu ditinggal sendirian untuk menangkis serangan pasukan Korawa.

Abimanyu membunuh dengan bengis beberapa ksatria yang mendekatinya, termasuk putera Duryodana, yaitu

Laksmana. Setelah menyaksikan putera kesayangannya terbunuh, Duryodana marah besar dan menyuruh segenap
pasukan Korawa untuk menyerang Abimanyu. Karena gagal menghancurkan baju zirah Abimanyu, atas nasihat

Drona, Karna menghancurkan busur Abimanyu dari belakang. Kemudian keretanya dihancurkan, kusir dan kudanya

dibunuh, dan seluruh senjatanya terbuang. Putera Dursasana mencoba untuk bertarung dengan tangan kosong

dengan Abimanyu. Namun tanpa menghiraukan aturan perang, pihak Korawa menyerang Abimanyu secara

serentak. Abimanyu mampu bertahan sampai pedangnya patah dan roda kereta yang ia pakai sebagai perisai hancur

berkeping-keping. Tak berapa lama kemudian, Abimanyu dibunuh oleh putera Dursasana dengan cara

menghancurkan kepalanya dengan gada.

Arjuna membalas dendam

Berita kematian Abimanyu membuat Arjuna sangat sedih dan sakit hati. Ia sadar, bahwa seandainya Jayadrata tidak

menghalangai para Pandawa memasuki formasi Chakrawyuha, Abimanyu pasti mendapat bantuan. Ia kemudian

bersumpah akan membunuh Jayadrata pada hari berikutnya sebelum matahari tenggelam. Menanggapi hal itu, pihak

Korawa menempatkan Jayadrata sangat jauh dari Arjuna. Ribuan prajurit dan ksatria mengelilingi dan melindungi

Jayadrata. Arjuna berusaha menjangkau Jayadrata, namun ribuan pasukan Korawa mengahalanginya. Hingga

matahari hampir terbenam, Jayadrata masih jauh dari jangkauan Arjuna. Melihat hal ini, Kresna menggunakan

kecerdikannya. Ia membuat gerhana matahari, sehingga suasana menjadi gelap seolah-olah matahari sudah

tenggelam. Pihak Korawa maupun Pandawa mengira hari sudah malam, dan sesuai aturan, mereka menghentikan

peperangan dan kembali ke kubu masing-masing. Dengan demikian, pihak Korawa tidak melanjutkan pertarungan

dan Jayadrata tidak dalam perlindungan mereka lagi. Saat kereta Arjuna dekat dengan kereta Jayadrata, matahari

muncul lagi dan Kresna menyuruh Arjuna agar menggunakan kesempatan tersebut untuk membunuh Jayadrata.

Arjuna mengangkat busurnya dan meluncurkan panah, memutus leher Jayadrata. Tepat pada saat tersebut, hari

sudah sore, matahari sudah tenggelam dan Arjuna berhasil menuntaskan sumpahnya untuk membunuh Jayadrata.

Penjelasan mengenai kematiannya

Abimanyu adalah inkarnasi dari putera Dewa bulan. Ketika Sang Dewa bulan ditanya oleh Dewa yang lain mengenai
kepergian puteranya ke bumi, ia membuat perjanjian bahwa puteranya tinggal di bumi hanya selama 16 tahun
sebagaimana ia tak dapat menahan perpisahan dengan puteranya. Abimanyu berusia 16 tahun saat ia terbunuh

dalam pertempuran.

Putera Abimanyu, yaitu Parikesit, lahir setelah kematiannya, dan menjadi satu-satunya kesatria Keluarga Kuru yang

selamat setelah Bharatayuddha, dan melanjutkan garis keturunan Pandawa. Abimanyu seringkali dianggap sebagai

ksatria yang terberani dari pihak Pandawa, yang sudi melepaskan hidupanya saat peperangan dalam usia yang

masih sangat muda.

Abimanyu dalam pewayangan Jawa

Dalam khazanah pewayangan Jawa, Abimanyu, sebagai putra Arjuna, merupakan tokong penting. Di bawah ini

dipaparkan ciri khas tokoh ini dalam budaya Jawa yang sudah berkembang lain daripada tokoh yang sama di India.
Riwayat

Dikisahkan Abimanyu karena kuat tapanya mendapatkan Wahyu Makutha Raja, wahyu yang menyatakan bahwa

keturunannyalah yang akan menjadi penerus tahta Para Raja Hastina.

Abimanyu dikenal pula dengan nama Angkawijaya, Jaya Murcita, Jaka Pangalasan, Partasuta, Kirityatmaja,

Sumbadraatmaja, Wanudara dan Wirabatana. Ia merupakan putra Arjuna, salah satu dari lima ksatria Pandawa

dengan Dewi Subadra, putri Prabu Basudewa, Raja Mandura dengan Dewi Dewaki. Ia mempunyai 13 orang saudara

lain ibu, yaitu: Sumitra, Bratalaras, Bambang Irawan, Kumaladewa, Kumalasakti, Wisanggeni, Wilungangga, Endang

Pregiwa, Endang Pregiwati, Prabakusuma, Wijanarka, Anantadewa dan Bambang Sumbada.

Abimanyu merupakan makhluk kekasih Dewata. Sejak dalam kandungan ia telah mendapat “Wahyu Hidayat”, yang

mamp membuatnya mengerti dalam segala hal. Setelah dewasa ia mendapat “Wahyu Cakraningrat”, suatu wahyu

yang dapat menurunkan raja-raja besar.

Abimanyu mempunyai sifat dan watak yang halus, baik tingkah lakunya, ucapannya terang, hatinya keras, besar

tanggung jawabnya dan pemberani. Dalam olah keprajuritan ia mendapat ajaran dari ayahnya, Arjuna. Sedang

dalam olah ilmu kebathinan mendapat ajaran dari kakeknya, Bagawan Abiyasa.

Abimanyu tinggal di kesatrian Palangkawati, setelah dapat mengalahkan Prabu Jayamurcita. Ia mempunyai dua

orang isteri, yaitu:

Dewi Siti Sundari, putri Prabu Kresna, Raja Negara Dwarawati dengan Dewi Pratiwi,

Dewi Uttari, putri Prabu Matswapati dengan Dewi Ni Yutisnawati, dari negara Wirata, dan berputra Parikesit.

Bharatayuddha

Abimanyu gugur dalam perang Bharatayuddha setelah sebelumnya seluruh saudaranya mendahului gugur, pada

saat itu ksatria dari Pihak Pandawa yang berada dimedan laga dan menguasai gelar strategi perang hanya tiga

orang yakni Werkodara, Arjuna dan Abimanyu. Gatotkaca menyingkir karena Karna merentangkan senjata

Kuntawijayandanu. Werkodara dan Arjuna dipancing oleh ksatria dari pihak Korawa untuk keluar dari medan
pertempuran, maka tinggalah Abimanyu.

Ketika tahu semua saudaranya gugur Abimanyu menjadi lupa untuk mengatur gelar perang, dia maju sendiri
ketengah barisan Kurawa dan terperangkap dalam formasi mematikan yang disiapkan pasukan Korawa. Tak

menyiakan kesempatan untuk bersiap-siap, Korawa menghujani senjata ketubuh Abimanyu sampai Abimanyu

terjerembab dan jatuh dari kudanya (dalam pewayangan digambarkan lukanya “arang kranjang” (banyak sekali) dan

Abimanyu terlihat seperti landak karena berbagai senjata ditubuhnya) sebagai risiko pengucapan sumpah ketika

melamar Dewi Uttari bahwa dia masih belum punya istri dan apabila telah beristri maka dia siap mati tertusuk

berbagai senjata ketika perang Bharatayuddha, padahal ketika itu sudah beristrikan Dewi Siti Sundari.

Dengan senjata yang menancap diseluruh tubuhnya sehingga dia tidak bisa jalan lagi tidak membuat Abimanyu

menyerah dia bahkan berhasil membunuh putra mahkota Hastina (Lesmana Mandrakumara) dengan melemparkan

keris Pulanggeni setelah menembus tubuh empat prajurit lainnya, pada saat itu pihak Korawa tahu bahwa untuk
membunuh Abimanyu harus memutus langsang yang ada didadanya, kemudian Abimanyupun gugur oleh gada Kyai

Glinggang atau Galih Asem milik Jayadrata, ksatria Banakeling.

SLOKA mengisahkan kematian Abimanyu

Ngkā Sang Dharmasutā təgəg mulati tingkahi gəlarira nātha Korawa, āpan tan hana Sang Wrəkodara

Dhanañjaya wənanga rumāmpakang gəlar. Nghing Sang Pārthasutābhimanyu makusāra rumusaka gəlar mahā

dwija, manggəh wruh lingirāng rusak mwang umasuk tuhu i wijili rāddha tan tama

Sāmpun mangkana çighra sāhasa masuk marawaça ri gəlar mahā dwija. Sang Pārthātmaja çūra sāra rumusuk

sakəkəsika linañcaran panah, çirṇa ngwyuha lilang təkap Sang Abhimanyu təka ri kahanan Suyodhana. Ḍang

Hyang Droṇa Krəpāpulih karaṇa Sang Kurupati malayū marīnusi.

Ṇda tan dwālwang i çatru çakti mangaran Krətasuta sawatək Wrəhadbala. Mwang Satyaçrawa çūra mānta kəna
tan panguḍili pinanah linañcaran. Lāwan wīra wiçesha putra Kurunātha mati malara kokalan panah. Kyāti ng

Korawa wangça Lakshmanakumāra ngaranika kaish Suyodhana.

Ngkā ta krodha sakorawālana manah panahira lawan açwa sarathi. Tan wāktān tang awak tangan suku gigir

ḍaḍa wadana linaksha kinrəpan. Mangkin Pārthasutajwalāmurək anyakra makapalaga punggəling laras.
Dhīramūk mangusir ỵaçānggətəm atễn pəjaha makiwuling Suyodhana.

Ri pati Sang Abhimanyu ring raṇāngga. Tənyuh araras kadi çéwaling tahas mas. Hanana ngaraga kālaning

pajang lèk. Çinaçah alindi sahantimun ginintən.

Terjemahan :

Pada saat itu Yudistira tercengang melihat formasi perang Raja Korawa, sebab Bima dan Arjuna tak ada
padahal merekalah yang dapat menghancurkannya. Hanya Putera Arjuna, yaitu Abimanyu yang bersedia
merusak formasi yang disusun pendeta Drona itu. Ia berkata bahwa ia yakin dapat menggempur dan
memasuki formasi tersebut, hanya saja ia belum tahu bagaimana cara keluar dari formasi tersebut.

Setelah demikian, mereka segera membelah dan menyerang formasi pendeta Drona tersebut dengan
dahsyat. Sang Abimanyu merupakan kekuatan yang membinasakan formasi tersebut dengan tembakan
panah. Sebagai akibat serangan Abimanyu, formasi tersebut hancur sampai ke pertahanan Duryodana.
Dengan ini Dona dan Krepa mengadakan serangan balasan, sehingga Duryodana dapat melarikan diri
dan tidak dikejar lagi.

Dengan ini tak dapat dipungkiri lagi musuh yang sakti mulai berkurang seperti Kretasuta dan keluarga
Wrehadbala. Juga Satyaswara yang berani dan gila bertarung tertembak sebelum dapat menimbulkan
kerusakan sedikit pun karena dihujani panah. Putera Raja Korawa yang berani juga gugur setelah ia
tertusuk panah. Putera tersebut sangat terkenal di antara keluarga Korawa, yaitu Lakshmanakumara,
yang disayangi Suyodhana.

Pada waktu itu seluruh keluarga Korawa menjadi marah, dan dengan tiada hentinya mereka
memanahkan senjatanya. Baik kuda maupun kusirnya, badan, tangan, kaki, punggung, dada, dan muka
Abimanyu terkena ratusan panah. Dengan ini Abimanyu makin semangat. Ia memegang cakramnya dan
dengan panah yang patah ia mengadakan serangan. Dengan ketetapan hati ia mengamuk untuk mencari
keharuman nama. Dengan hati yang penuh dendam, ia gugur di tangan Suyodhana.

Ketika Abimanyu terbunuh dalam pertempuran, badannya hancur. Indah untuk dilihat bagaikan lumut
dalam periuk emas. Mayatnya terlihat dalam sinar bulan dan telah tercabik-cabik, sehingga menjadi halus
seperti mentimun.

December 22, 2007


Abilawa - Solo
Posted by topmdi under Aksara A, Gagrak Surakarta
No Comments
 
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Narayana - Solo
Posted by topmdi under Aksara N, Gagrak Surakarta
No Comments

December 24, 2007


Narayana Jangkah - Solo
Posted by topmdi under Aksara N, Gagrak Surakarta
No Comments

December 24, 2007


Narasoma - Solo
Posted by topmdi under Aksara N, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Narada - Solo
Posted by topmdi under Aksara N, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Nakula - Solo
Posted by topmdi under Aksara N, Gagrak Surakarta
No Comments
Nakula (Sansekerta : Nakula), adalah seorang tokoh protagonis dari wiracarita Mahabharata. Ia merupakan putera

Dewi Madrim. Ia adalah saudara kembar Sadewa dan dianggap putera Dewa Aswin, Dewa tabib kembar.

Menurut kitab Mahabharata, Nakula sangat tampan dan sangat elok parasnya. Menurut Drupadi, Nakula merupakan

suami yang paling tampan di dunia. Namun, sifat buruk Nakula adalah membanggakan ketampanan yang dimilikinya.

Hal itu diungkapkan oleh Yudistira dalam kitab Prasthanikaparwa.

Arti nama

Secara harfiah, kata nakula dalam bahasa Sansekerta merujuk kepada warna Ichneumon, sejenis tikus atau
binatang pengerat dari Mesir. Nakula juga dapat berarti “cerpelai”, atau dapat juga berarti “tikus benggala”. Nakula

juga merupakan nama lain dari Dewa Siwa.

Nakula dalam Mahabharata

Menurut Mahabharata, si kembar Nakula dan Sadewa memiliki kemampuan istimewa dalam merawat kuda dan sapi.

Nakula digambarkan sebagai orang yang sangat menghibur hati. Ia juga teliti dalam menjalankan tugasnya dan

selalu mengawasi kenakalan kakaknya, Bima, dan bahkan terhadap senda gurau yang terasa serius. Nakula juga

memiliki kemahiran dalam memainkan senjata pedang.

Saat para Pandawa mengalami pengasingan di dalam hutan, keempat Pandawa (Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa)

meninggal karena meminum air beracun dari sebuah danau. Ketika sesosok roh gaib memberi kesempatan kepada

Yudistira untuk memilih salah satu dari keempat saudaranya untuk dihidupkan kembali, Nakula-lah dipilih oleh

Yudistira untuk hidup kembali. Ini karena Nakula merupakan putera Madri, dan Yudistira, yang merupakan putera

Kunti, ingin bersikap adil terhadap kedua ibu tersebut. Apabila ia memilih Bima atau Arjuna, maka tidak ada lagi

putera Madri yang akan melanjutkan keturunan.

Ketika para Pandawa harus menjalani masa penyamaran di Kerajaan Wirata, Nakula menyamar sebagai perawat

kuda dengan nama samaran “Grantika”. Nakula turut serta dalam pertempuran akbar di Kurukshetra, dan

memenangkan perang besar tersebut.

Dalam kitab Prasthanikaparwa, yaitu kitab ketujuh belas dari seri Astadasaparwa Mahabharata, diceritakan bahwa

Nakula tewas dalam perjalanan ketika para Pandawa hendak mencapai puncak gunung Himalaya. Sebelumnya,

Dropadi tewas dan disusul oleh saudara kembar Nakula yang bernama Sadewa. Ketika Nakula terjerembab ke

tanah, Bima bertanya kepada Yudistira, “Kakakku, adik kita ini sangat rajin dan penurut. Ia juga sangat tampan dan

tidak ada yang menandinginya. Mengapa ia meninggal sampai di sini?”. Yudistira yang bijaksana menjawab,

“Memang benar bahwa ia sangat rajin dan senang menjalankan perintah kita. Namun ketahuilah, bahwa Nakula

sangat membanggakan ketampanan yang dimilikinya, dan tidak mau mengalah. Karena sikapnya tersebut, ia hanya
hidup sampai di sini”. Setelah mendengar penjelasan Yudistira, maka Bima dan Arjuna melanjutkan perjalanan

mereka. Mereka meninggalkan jenazah Nakula di sana, tanpa upacara pembakaran yang layak, namun arwah
Nakula mencapai kedamaian.

Nakula dalam pewayangan Jawa

Nakula dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Pinten (nama tumbuh-tumbuhan yang daunnya dapat

dipergunakan sebagai obat). Ia merupakan putera keempat Prabu Pandudewanata, raja negara Hastinapura dengan

permaisuri Dewi Madri, puteri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati, dari negara Mandaraka. Ia lahir kembar

bersama adiknya, Sahadewa atau Sadewa. Nakula juga menpunyai tiga saudara satu ayah, putra Prabu Pandu

dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura bernama Puntadewa (Yudistira), Bima alias Werkudara dan Arjuna

Nakula adalah titisan Batara Aswin, Dewa tabib. Ia mahir menunggang kuda dan pandai mempergunakan senjata

panah dan lembing. Nakula tidak akan dapat lupa tentang segala hal yang diketahui karena ia mepunyai Aji
Pranawajati pemberian Ditya Sapujagad, Senapati negara Mretani. Ia juga mempunyai cupu berisi “Banyu

Panguripan” atau “Air kehidupan” pemberian Bhatara Indra.

Nakula mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Ia

tinggal di kesatrian Sawojajar, wilayah negara Amarta. Nakula mempunyai dua orang isteri yaitu:

Dewi Sayati puteri Prabu Kridakirata, raja negara Awuawulangit, dan memperoleh dua orang putera masing-masing

bernama Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati.

Dewi Srengganawati, puteri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai Wailu (menurut

Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra alias Ekapratala) dan memperoleh seorang

putri bernama Dewi Sritanjung. Dari perkawinan itu Nakula mendapat anugrah cupu pusaka berisi air kehidupan

bernama Tirtamanik.

Setelah selesai perang Bharatayuddha, Nakula diangkat menjadi raja negara Mandaraka sesuai amanat Prabu Salya

kakak ibunya, Dewi Madrim. Akhir riwayatnya diceritakan, Nakula mati moksa di gunung Himalaya bersama keempat

saudaranya.

December 24, 2007


Nagatatmala - Solo
Posted by topmdi under Aksara N, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Nagagini - Solo
Posted by topmdi under Aksara N, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Mustakaweni - Solo
Posted by topmdi under Aksara M, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Mintaraga - Solo
Posted by topmdi under Aksara M, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Lesmana Mandrakumara - Solo
Posted by topmdi under Aksara L, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Lawa - Solo
Posted by topmdi under Aksara L, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Laksmana - Solo
Posted by topmdi under Aksara L, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Kuwera - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kusya Ramakusya - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kunti - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
Kunti (Sansekerta: Kuntī) dalam kisah Mahabharata adalah puteri dari Prabu Kuntiboja. Ia adalah saudara dari

Basudewa yang merupakan ayah dari Baladewa, Kresna dan Subadra. Ia juga adalah ibu daripada Yudistira,

Werkodara, dan Arjuna dan juga adalah istri pertama Pandu Dewanata. Selain itu Kunti juga ibu dari Karna.

Sepeninggal Pandu Dewanata, ia mengasuh Nakula dan Sadewa, anak Pandu Dewanata dari Dewi Madri. Seusai

Bharatayuddha, ia dan iparnya Dretarastra, Gandari, dan Widura pergi bertapa sampai akhir hayatnya.

Asal-usul

Ayah Kunti adalah Raja Surasena dari Wangsa Yadawa, dan saat bayi ia diberi nama Pritha. Ia merupakan adik

Basudewa, ayah Kresna. Kemudian ia diadopsi oleh Raja Kuntiboja yang tidak memiliki anak, dan semenjak itu ia

diberi nama Kunti. Setelah Kunti menjadi puterinya, Raja Kuntibhoja dianugerahi anak.
Masa muda

Pada saat Kunti masih muda, ia diberi sebuah mantra sakti oleh Resi Durwasa agar mampu memanggil Dewa-Dewi

sesuai dengan yang dikehendakinya. Pada suatu hari, Kunti ingin mencoba anugerah tersebut dan memanggil salah

satu Dewa, yaitu Surya. Surya yang merasa terpanggil, bertanya kepada Kunti, apa yang diinginkannya. Namun

Kunti menyuruh Sang Dewa untuk kembali ke kediamannya. Karena Kunti sudah memanggil dewa tersebut agar

datang ke bumi namun tidak menginginkan berkah apapun, Sang Dewa memberikan seorang putera kepada Kunti.

Kunti tidak ingin memiliki putera semasih muda, maka ia memasukkan anak tersebut ke dalam keranjang dan

menghanyutkannya di sungai Aswa. Kemudian putera tersebut dipungut oleh seorang kusir di keraton Hastinapura

yang bernama Adirata, dan anak tersebut diberi nama Karna.

Kehidupan selanjutnya

Kemudian, Kunti menikahi Pandu, seorang raja di Hastinapura. Pandu juga menikahi Madri sebagai istri kedua,

namun tidak mampu memiliki anak. Akhirnya Pandu dan kdua istrinya hidup di hutan. Disanalah Kunti mengeluarkan

mantra rahasianya. Ia memanggil tiga Dewa dan meminta tiga putera dari mereka. Putera pertama diberi nama

Yudistira dari Dewa Yama, kedua bernama Bima dari Dewa Bayu, dan yang terakhir bernama Arjuna dari Dewa

Indra. Kemudian Kunti memberitahu mantra tersebut kepada Madri. Madri memangil Dewa Aswin dan menerima

putera kembar, dan diberi nama Nakula dan Sadewa. Kelima putera Pandu tersebut dikenal dengan nama Pandawa.

Setelah kematian Pandu dan Madri, Kunti mengasuh kelima putera tersebut sendirian. Sesuai dengan amanat Madri,

Kunti berjanji akan memperlakukan Nakula dan Sadewa seperti puteranya sendiri. Setelah pertempuran besar di

Kurukshetra berkecamuk dan usianya sudah sangat tua, Kunti pergi ke hutan bersama dengan ipar-iparnya yang lain

seperti Dretarastra, Widura, dan Gandari untuk meninggalkan kehidupan duniawi. Mereka menyerahkan kerajaan

kepada Yudistira. Di dalam hutan, Kunti dan yang lainnya terbakar oleh api suci mereka sendiri dan wafat di sana.

Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Kumbayana - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kumbakarna mata 1 - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kumba Kumba - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Kresna w/ Rondon - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
Kresna atau Krishna (Devanagari: dilafalkan kṛṣṇa) adalah salah satu Dewa yang banyak dipuja oleh umat Hindu

karena dianggap merupakan aspek dari Brahman.[1] Ia disebut pula Nārāyana, yaitu sebutan yang merujuk kepada

perwujudan Dewa Wisnu yang berlengan empat di Waikuntha. Ia biasanya digambarkan sebagai sosok pengembala

muda yang memainkan seruling (seperti misalnya dalam Bhagawatapurana) atau pangeran muda yang memberikan

tuntunan filosofis (seperti dalam Bhagawad Gita). Dalam Agama Hindu pada umumnya, Kresna dipuja sebagai

awatara Wisnu, yang dianggap sebagai Dewa yang paling hebat dalam perguruan Waisnawa. Dalam tradisi Gaudiya

Waisnawa, Kresna dipuja sebagai sumber dari segala awatara (termasuk Wisnu).

Menurut Mahabharata, Kresna berasal dari Kerajaan Surasena, namun kemudian ia mendirikan kerajaan sendiri

yang diberi nama Dwaraka. Dalam wiracarita Mahabharata, ia dikenal sebagai tokoh raja yang bijaksana, sakti, dan
berwibawa. Dalam ajaran agama Hindu, ia dikenal sebagai awatara Dewa Wisnu yang kedelapan. Dalam Bhagawad

Gita, beliau adalah perantara kepribadian Brahman (Tuhan Yang Maha Esa) yang menjabarkan ajaran kebenaran

mutlak (dharma) kepada Arjuna. Beliau mampu menampakkan secercah kemahakuasaan Tuhan yang hanya

disaksikan oleh tiga orang pada waktu perang keluarga Bharata akan berlangsung. Ketiga orang tersebut adalah

Arjuna, Sanjaya putera Widura, dan Byasa. Namun Sanjaya dan Byasa tidak melihat secara langsung, melainkan

melalui mata batin mereka yang menyaksikan perang Bharatayuddha.

Asal usul nama “Krishna”

Dalam bahasa Sansekerta, kata Krishna berarti “hitam” atau “gelap”, dan kata ini umum digunakan untuk

menunjukkan pada orang yang berkulit gelap. Dalam Brahma Samhita dijabarkan bahwa Krishna memiliki warna kulit

gelap bersemu biru langit.[3] Dan umumnya divisualkan berkulit gelap atau biru pekat. Sebagai Contoh, di Kuil

Jaganatha, di Puri, Orissa, India (nama Jaganatha, adalah nama yang ditujukan bagi Krishna sebagai penguasa

jagat raya) di gambarkan memiliki kulit gelap berdampingan dengan saudaranya Baladewa dan Subadra yang

berkulit cerah.

Nama lain

Kresna sebagai Awatara sekaligus orang bijaksana memiliki banyak sekali nama panggilan sesuai dengan

kepribadian atau keahliannya. Nama panggilan tersebut digunakan untuk memuji, mengungkapkan rasa hormat, dan

menunjukkan rasa persahabatan atau kekeluargaan. Nama panggilan Kresna di bawah ini merupakan nama-nama

dari kitab Mahabarata dan Bhagawad Gita versi aslinya (versi India). Nama panggilan Kresna adalah:

Achyuta (Acyuta, yang tak pernah gagal)

Arisudana (penghancur musuh)

Bhagavān (Bhagawan, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa)

Gopāla (Pengembala sapi)

Govinda (Gowinda, yang memberi kebahagiaan pada indria-indria)


Hrishikesa (Hri-sikesa, penguasa indria)

Janardana (juru selamat umat manusia)

Kesava (Kesawa, yang berambut indah)

Kesinishūdana (Kesi-nisudana, pembunuh raksasa Kesi)

Mādhava (Madawa, suami Dewi Laksmi)

Madhusūdana (Madu-sudana, penakluk raksasa Madhu)

Mahābāhu (Maha-bahu, yang berlengan perkasa)

Mahāyogi (Maha-yogi, rohaniawan besar)

Purushottama (Purusa-utama, manusia utama, yang berkepribadian paling baik)

Varshneya (Warsneya, keturunan wangsa Wresni)

Vāsudeva (Wasudewa, putera Basudewa)


Vishnu (Wisnu, penitisan Batara Wisnu)

Yādava (Yadawa, keturunan dinasti Yadu)

Yogesvara (Yoga-iswara, penguasa segala kekuatan batin)

Kehidupan Sang Kresna

Ikthisar kehidupan Sri Kresna di bawah ini diambil dari Mahābhārata, Hariwangsa, Bhagawata Purana, dan Wisnu

Purana. Lokasi dimana Kresna diceritakan adalah India Utara, yang mana sekarang merupakan wilayah negara

bagian Uttar Pradesh, Bihar, Haryana, Delhi, dan Gujarat. Kutipan pada permulaan dan akhir cerita merupakan

teologi yang tergantung pada sudut pandang cerita.

Penitisan

Kutipan di bawah ini menjelaskan alasan mengapa Wisnu menjelma. Dalam sebuah kalimat dalam

Bhagawatapurana:

Kitab Mahabharata (Adiparwa, bagian Adiwansawatarana) memberikan alasan yang serupa, meskipun dengan

perbedaan yang kecil dalam bagian-bagiannya.

Kelahiran

Kepercayaan tradisional yang berdasarkan data-data dalam sastra dan perhitungan astronomi mengatakan bahwa

Sri Kresna lahir pada tanggal 19 Juli tahun 3228 SM.

Kresna berasal dari keluarga bangsawan di Mathura, dan merupakan putera kedelapan yang lahir dari puteri Dewaki,

dan suaminya Basudewa. Mathura adalah ibukota dari wangsa yang memiliki hubungan dekat seperti Wresni,

Andaka, dan Bhoja. Mereka biasanya dikenali sebagai Yadawa karena nenek moyang mereka adalah Yadu, dan

kadang-kadang dikenal sebagai Surasena setelah adanya leluhur terkemuka yang lain. Basudewa dan Dewaki

termasuk ke dalam wangsa tersebut. Raja Kamsa, kakak Dewaki, mewarisi tahta setelah menjebloskan ayahnya ke

penjara, yaitu Raja Ugrasena. Karena takut terhadap ramalan yang mengatakan bahwa ia akan mati di tangan salah
satu putera Dewaki, maka ia menjebloskan pasangan tersebut ke penjara dan berencana akan membunuh semua
putera Dewaki yang baru lahir. Setelah enam putera pertamanya terbunuh, dan Dewaki kehilangan putera

ketujuhnya, lahirlah Kresna. Karena hidupnya terancam bahaya maka ia diselundupkan keluar dan dirawat oleh

orangtua tiri bernama Yasoda dan Nanda di Gokul, Mahavana. Dua anaknya yang lain juga selamat yaitu, Balarama

(putera ketujuh Dewaki, dipindahkan ke janin Rohini, istri pertama Basudewa) dan Subadra (putera dari Basudewa

dan Rohini yang lahir setelah Balarama dan Kresna).

Tempat yang dipercaya oleh para pemujanya untuk memperingati hari kelahiran Kresna kini dikenal sebagai

Krishnajanmabhoomi, dimana sebuah kuil didirikan untuk memberi penghormatan kepadanya.

Masa kanak-kanak dan remaja

Nanda merupakan pemimpin di komunitas para pengembala sapi, dan ia tinggal di Vrindavana. Kisah tentang Kresna

saat masa kanak-kanak dan remaja ada di sana termasuk dengan siapa dia tinggal, dan perlindungannya kepada
orang-orang sekitar. Kamsa yang mengetahui bahwa Kresna telah kabur terus mengirimkan rakshasa (seperti

misalnya Aghasura) untuk membinasakannya. Sang raksasa akhirnya terkalahkan di tangan Kresna dan kakaknya,

Balarama. Beberapa di antara kisah terkenal tentang keberanian Kresna terdapat dalam petualangan ini serta

permainannya bersama para gopi di desa, termasuk Radha. Kisah yang menceritakan permainannya bersama para

gopi kemudian dikenal sebagai Rasa lila.

Kresna Sang Pangeran

Kresna yang masih muda kembali ke Mathura, dan menggulingkan kekuasaan pamannya – Kamsa – sekaligus

membunuhnya. Kresna menyerahkan tahta kembali kepada ayah Kamsa, Ugrasena, sebagai Raja para Yadawa. Ia

sendiri menjadi pangeran di kerajaan tersebut. Dalam masa ini ia menjadi teman Arjuna serta para pangeran

Pandawa lainnya dari Kerajaan Kuru, yang merupakan saudara sepupunya, yang tinggal di sisi lain Yamuna.

Kemudian, ia memindahkan kediaman para Yadawa ke kota Dwaraka (di masa sekarang disebut Gujarat). Ia

menikahi Rukmini, puteri dari Bhishmaka dari Kerajaan Widarbha.

Menurut beberapa sastra, Kresna memiliki 16.108 istri, delapan orang di antaranya merupakan istri terkemuka,

termasuk di antaranya Radha, Rukmini, Satyabama, dan Jambawati. Sebelumnya 16.000 istri Kresna yang lain

ditawan oleh Narakasura, sampai akhirnya Kresna membunuh Narakasura dan membebaskan mereka semua.

Menurut adat yang keras pada waktu itu, seluruh wanita tawanan tidak layak untuk menikah sebagaimana mereka

masih di bawah kekuasaan Narakasura, namun Kresna dengan gembira menyambut mereka sebagai puteri

bangsawan di kerajaannya. Dalam tradisi Waisnawa, para istri Kresna di Dwarka dipercaya sebagai penitisan dari

berbagai wujud Dewi Lakshmi.

Bharatayuddha dan Bhagawad Gita

Kresna merupakan saudara sepupu dari kedua belah pihak dalam perang antara Pandawa dan Korawa. Ia

menawarkan mereka untuk memilih pasukannya atau dirinya. Para Korawa mengambil pasukannya sedangkan

dirinya bersama para Pandawa. Ia pun sudi untuk menjadi kusir kereta Arjuna dalam pertempuran akbar. Bhagavad
Gītā merupakan wejangan yang diberikan kepada Arjuna oleh Kresna sebelum pertempuran dimulai.

Kehidupan di kemudian hari

Setelah perang, Kresna tinggal di Dwaraka selama 36 tahun. Kemudian pada suatu perayaan, pertempuran meletus

di antara para Yadawa yang saling memusnahkan satu sama lain. Lalu kakak Kresna – Balarama – melepaskan raga

dengan cara melakukan Yoga. Kresna berhenti menjadi raja kemudian pergi ke hutan dan duduk di bawah pohon

melakukan meditasi. Seorang pemburu yang keliru melihat sebagian kaki Kresna seperti rusa kemudian

menembakkan panahnya dan menyebabkan Kresna mencapai keabadian. Menurut Mahabharata, kematian Kresna

disebabkan oleh kutukan Gandari. Kemarahannya setelah menyaksikan kematian putera-puteranya

menyebabkannya mengucapkan kutukan, karena Kresna tidak mampu menghentikan peperangan. Setelah

mendengar kutukan tersebut, Kresna tersenyum dan menerima itu semua, dan menjelaskan bahwa kewajibannya

adalah bertempur di pihak yang benar, bukan mencegah peperangan.


Menurut referensi dari Bhagawatapurana dan Bhagawad Gita, ditafsirkan bahwa Kresna wafat sekitar tahun 3100

SM.[6] Ini berdasarkan deskripsi bahwa Kresna meninggalkan Dwarka 36 tahun setelah peperangan dalam

Mahabharata terjadi. Matsyapurana mengatakan bahwa Kresna berusia 89 tahun saat perang berkecamuk. Setelah

itu Pandawa memerintah selama 36 tahun, dan pemerintahan mereka terjadi saat permulaan Kali Yuga. Selanjutnya

dikatakan bahwa Kali Yuga dimulai saat Duryodana dijatuhkan ke tanah oleh Bima berarti tahun 2007 sama dengan

tahun 5108 (atau semacam itu) semenjak Kali Yuga.

Hubungan keluarga

Ayah Kresna adalah Prabu Basudewa, yang merupakan saudara lelaki (kakak) dari Kunti atau Partha, istri Pandu

yang merupakan ibu para Pandawa, sehingga Kresna bersaudara sepupu dengan para Pandawa. Saudara misan

Kresna yang lain bernama Sisupala, putera dari Srutadewa atau Srutasrawas, adik Basudewa. Sisupala merupakan

musuh bebuyutan Kresna yang kemudian dibunuh pada saat upacara akbar yang diselenggarakan Yudistira.

Kresna dalam pewayangan Jawa

Dalam pewayangan Jawa, Prabu Kresna merupakan Raja Dwarawati, kerajaan para Yadu dan merupakan titisan

Dewa Wisnu. Kresna adalah anak Basudewa, Raja Mandura. Ia (dengan nama kecil Narayana) dilahirkan sebagai 3

bersaudara dengan kakaknya dikenal sebagai Baladewa (Kakrasana) dan adiknya dikenal sebagai Subadra, yang

tak lain adalah isteri dari Arjuna. Ia memiliki tiga orang isteri dan tiga orang anak. Isteri isterinya adalah Dewi

Jembawati, Dewi Rukmini, dan Dewi Satyabama. Anak anaknya adalah Raden Boma Narakasura, Raden Samba,

dan Siti Sundari.

Pada perang Bharatayuddha, beliau adalah sais atau kusir Arjuna. Ia juga merupakan salah satu penasihat utama

Pandawa. Sebelum perang melawan Karna, atau dalam babak yang dinamakan Karna Tanding sebagai sais Arjuna

beliau memberikan wejangan panjang lebar kepada Arjuna. Wejangan beliau dikenal sebagai Bhagawad Gita.

Kresna dikenal sebagai seorang yang sangat sakti. Ia memiliki kemampuan untuk meramal, mengubah bentuk

menjadi raksasa, dan memiliki bunga Wijaya Kusuma yang dapat menghidupkan kembali orang yang mati. Ia juga
memiliki senjata yang dinamakan Cakrabaswara yang mampu digunakan untuk menghancurkan dunia, pusaka-
pusaka sakti, antara lain Senjata Cakra, Kembang Wijayakusuma, Terompet kerang (Sangkala) Pancajahnya, Kaca

paesan, Aji Pameling dan Aji Kawrastawan.

Setelah meninggalnya Prabu Baladewa (Resi Balarama), kakaknya, dan musnahnya seluruh Wangsa Wresni, Prabu

Kresna menginginkan moksa. Ia wafat dalam keadaan bertapa dengan perantara panah seorang pemburu bernama

Jara yang mengenai kakinya.

Kresna dalam Bhagawad Gita

Kresna dianggap sebagai penjelmaan Sang Hyang Triwikrama, atau gelar Bhatara Wisnu yang dapat melangkah di

tiga alam sekaligus. Ia juga dipandang sebagai perantara suara Tuhan dalam menjalankan misi sebagai juru selamat

umat manusia, dan disetarakan dengan segala sesuatu yang agung. Kutipan di bawah ini diambil dari kitab

Bhagawad Gita (percakapan antara Kresna dengan Arjuna) yang menyatakan Sri Kresna sebagai Awatara.
Kutipan Bhagawat Gita

yadā yadā hi dharmasya, glānir bhavati bhārata, abhyutthānam adharmasya tadātmanaṁ sṛjāmy aham
paritrāṇāya sādhūnāṁ, vināśāyā ca duṣkṛtām, dharma-saṁsthāpanārthāẏa, sambhavāmi yuge yuge
aham ātmā guḍākeśa sarva-bhūtāśaya-sthitaḥ, aham ādiś ca madhyaṁ ca bhūtānām anta eva ca
purodhasāṁ ca mukhyaṁ māṁ viddhi pārtha bṛhaspatim, senāninām ahaṁ skandaḥ, sarasām asmi
sāgaraḥ
prahlādaś cāsmi daityānāṁ, kālaḥ kalayatām aham mṛgāṇāṁ ca mṛgendro ‘haṁ vainateyaś ca pakṣiṇām
dyūtaṁ chalayatām asmi tejas tejasvinām aham jayo ‘smi vyavasāyo ‘smi sattvaṁ sattvavatām aham
vṛṣṇīnāṁ vāsudevo ‘smi pāṇḍavānām dhanañjayaḥ, munīnām apy ahaṁ vyāsaḥ kavīnām uśanā kaviḥ

Kapan pun kebenaran merosot dan kejahatan merajalela, pada saat itu Aku turun menjelma, wahai
keturunan Bharata (Arjuna)
Untuk menyelamatkan orang saleh dan membinasakan orang jahat, dan menegakkan kembali
kebenaran, Aku sendiri menjelma dari zaman ke zaman
O Arjuna, Aku adalah Roh Yang Utama yang bersemayam di dalam hati semua makhluk hidup. Aku
adalah awal, pertengahan dan akhir semua makhluk
Wahai Arjuna, di antara semua pendeta, ketahuilah bahwa Aku adalah Brihaspati, pemimpinnya. Di
antara para panglima, Aku adalah Kartikeya, dan di antara segala sumber air, Aku adalah lautan
Di antara para Detya, Aku adalah Prahlada, yang berbakti dengan setia. Di antara segala penakluk, Aku
adalah waktu. Di antara segala hewan, Aku adalah singa, dan di antara para burung, Aku adalah Garuda.
Di antara segala penipu, Aku adalah penjudi. Aku adalah kemulian dari segala sesuatu yang mulia. Aku
adalah kejayaan, Aku adalah petualangan, dan Aku adalah kekuatan orang yang kuat
Di antara keturunan Wresni, Aku ini Kresna. Di antara Panca Pandawa, Aku adalah Arjuna. Di antara
para Resi, Aku adalah Wyasa. Di antara para ahli pikir yang mulia, aku adalah Usana.

December 24, 2007


Krepi - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Krepa Resi - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Krepa Muda - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kirata - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kimindama - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Kesawasidi - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kenyawandu - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kencakarupa - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Kekayi - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kartapiyoga - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kartanadi - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Kartamarma - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Karna - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
Karna (Sansekerta: ; Karṇa) alias Radheya adalah salah satu tokoh dari wiracarita Mahabharata yang

terkenal. Ia sebenarnya adalah masih saudara satu ibu dengan tiga Pandawa, yaitu Yudistira, Werkodara dan Arjuna

(Nakula dan Sadewa bukan saudara langsung Karna, melainkan saudara tirinya).

Dalam bahasa Sansekerta, nama Karna secara harfiah berarti telinga. Dalam makna yang tersirat, kata “Karna”

dapat juga berarti “terampil” atau “pandai”. Karna juga menyandang nama “Radheya” saat masih kecil. Nama itu

diberikan oleh orangtua tirinya, yaitu Adirata dan Radha. Nama “Radheya” secara harfiah berarti “putera Radha”.
Anggapan terkenal mengatakan bahwa kata “Karna” dipilih sebab ia dilahirkan melalui telinga, namun anggapan

tersebut tidak selamanya benar sebab beberapa versi mengatakan bahwa Karna lahir normal, dan keperawanan

ibunya (Kunti) kembali lagi setelah melahirkan. Setelah bayi tersebut dilahirkan, Kunti tidak memberinya nama dan

menghanyutkannnya ke sungai Aswa, lalu dipungut oleh Adirata sebagai hadiah bagi Radha. Semenjak saat itu, bayi

yang dipungut oleh Adirata diberi nama Radheya. Tidak ada yang mengetahui asal-usul Karna dan bagaimana Karna

dilahirkan, sampai Kunti membeberkan rahasia yang sebenarnya.

Kelahiran

Karna merupakan putera dari Kunti, ibu para Pandawa, dan ayahnya adalah Dewa Surya. Dalam Mahabharata

diceritakan bahwa pada masa mudanya, Kunti diberi suatu anugerah oleh Resi Durwasa, agar mampu memanggil

para Dewa dan memohon anugerah darinya. Setelah menerima anugerah tersebut, Kunti mencoba memanggil Dewa

Surya. Dewa Surya pun datang ke hadapan Kunti dan menanyakan apa keinginannya. Dewi Kunti berkata bahwa ia

hanya mencoba anugerah yang diberikan kepadanya, dan ia meminta agar Sang Dewa kembali ke tempat beliau.

Namun Dewa Surya menolak untuk pergi ke kahyangan sebab mantra yang diberikan oleh Resi Durwasa juga

berfungsi untuk meminta anak dari dewa yang telah dipanggil. Kunti yang tidak mengetahui hal tersebut menjadi

terkejut. Ia tidak ingin menikah di usia muda. Akhirnya Dewa Surya berjanji bahwa kelak setelah Kunti melahirkan

puteranya, keperawanannya akan dikembalikan lagi.

Kemudian Dewa Surya kawin dengan Kunti, setelah itu Sang Dewa kembali ke asalnya. Beberapa lama kemudian,

seorang putera lahir. Tanda-tanda bahwa kelak ia akan menjadi kesatria besar sudah tampak dari bentuk fisiknya.

Sejak lahir, Karna telah menerima anugerah berupa sepasang pakaian perang, lengkap dengan sebuah kalung yang

indah terpasang di lehernya. Karena tidak ingin menimbulkan desas-desus, setelah Kunti melepaskan seluruh

pakaian perang yang dikenakan Karna, Kunti memasukkan putera tersebut ke dalam keranjang dan

menghanyutkannya ke sungai Aswa. Putera tersebut dipungut oleh seorang kusir (kasta Suta) di keraton Hastinapura

bernama Adirata. Sejak saat itu, Karna menjadi putera Adirata dan Radha, yang sebenarnya merupakan orangtua
tirinya. Karena diasuh di keluarga yang berkasta Suta, Karna pun sering mendapat diskriminasi.

Kepribadian

Karna memiliki kemahiran dalam ilmu memanah yang hampir setara dengan Arjuna. ia mahir berperang, namun

bakatnya terperangkap dalam status sosial yang rendah. Hal itu membuatnya haus akan status yang memberikannya

identitas. Meskipun Karna diasuh dalam keluarga yang berkasta rendah, ia memiliki sikap seorang ksatria, meskipun

jarang yang mengakuinya. Ia memiliki hubungan persahabatan yang erat dengan Duryodana, yang telah

mengangkatnya menjadi raja di Kerajaan Anga, sekaligus menaikkan statusnya. Atas perlakuan baik yang dilakukan

Duryodana terhadap dirinya, Karna berjanji bahwa ia akan selalu berada di pihak Duryodana. Kebencian Karna

terhadap Arjuna bertemu dalam satu jalan dengan kebencian Duryodana terhadap para Pandawa.

Karna memiliki persaingan yang sangat hebat dengan Arjuna, dan berambisi bahwa ia akan membunuh Arjuna saja

saat Bharatayuddha, bukan Pandawa yang lain. Sebelum Bharatayuddha, Kunti datang ke hadapan Karna dan
mengatakan bahwa ia sebenarnya ibunya. Kunti menyuruh Karna agar memihak Pandawa. Karna mengatakan

bahwa ia hanya mengakui Radha sebagai ibunya dan tetap memihak Kurawa. Karna juga mengatakan, bahwa ia

hanya mau membunuh Arjuna, bukan Pandawa yang lain.

Berguru pada Parasurama

Karena ingin menjadi seorang kesatria, Karna berguru kepada Parasurama. Parasurama adalah seorang Brahmana-

Kshatriya yang sudah sangat berpengalaman dalam ilmu peperangan, dan sudah berumur panjang, dari zaman

Treta Yuga (zaman Ramayana) sampai zaman Dwapara Yuga (zaman Mahabharata). Parasurama memiliki

pengalaman yang buruk dengan kasta ksatria, dan sejak itu ia enggan untuk mengajar para kesatria. Karna yang

sebenarnya seorang kesatria, menyamar sebagai seorang brahmana agar mendapat pendidikan dari Parasurama.

Pada suatu hari, saat Parasurama ingin beristirahat, Karna melayaninya dengan membiarkan sang guru tertidur di

pahanya. Ketika Parasurama sedang tertidur, datanglah seekor serangga menggigit kaki Karna. Karna tidak ingin

membiarkan gurunya terbangun, maka ia biarkan serangga tersebut mengigit kakinya. Darah segar mengucur dari

kaki Karna, namun ia tidak bergeming. Saat Parasurama terbangun, ia terkejut karena melihat kaki Karna

mengeluarkan banyak darah. Ia kemudian bertanya pada Karna, kenapa ia tidak mengusir laba-laba tersebut dan

membiarkan serangga itu mengigit kakinya. Karna menjawab, bahwa ia tidak ingin membiarkan gurunya terbangun.

Parasurama berkata, “Kekuatan seperti itu hanya dimiliki oleh kaum kesatria, dan bukan seorang brahmana. Engkau

telah berbohong kepadaku dengan menyamar sebagai anak brahmana. Aku mengutukmu agar kelak segala ilmu

yang kuberikan kepadamu tidak akan berguna saat kau sangat membutuhkannya”.

Setelah menerima kutukan tersebut, Karna sedih dan meninggalkan asrama gurunya dengan hati hancur. Setelah

berjalan tanpa tujuan, Karna duduk di tepi pantai sambil termangu-mangu memikirkan jati dirinya. Dia duduk di sana

untuk beberapa lama, kemudian bangun lalu pergi. Ketika ia kembali ke tempat tersebut, ia melihat sesosok binatang

yang berlalu cepat sekali. Karena ia merasa bahwa hewan tersebut adalah seekor rusa, ia melepaskan anak

panahnya ke arah sosok tersebut. Ketika ia mendekatinya, ia terkejut bahwa yang dipanahnya bukanlah seekor rusa,
melainkan sapi milik seorang brahmana. Karna meminta ma’af kepada si pemilik sapi sebab ia telah ceroboh, tetapi

brahmana itu tida memafkannya, malah sebaliknya menjadi sangat marah. Brahmana tersebut berkata, “Apabila
engkau berperang melawan musuhmu yang hebat, roda keretamu akan terjerembab ke tanah. Dan karena engkau

telah membunuh sapiku yang sedang lengah, engkau juga akan dibunuh oleh musuhmu sangat engkau lengah”.

Setelah mendengar kutukan yang ditujukan kepadanya, Karna lunglai. Lalu ia pulang menemui Radha, ibu yang

sangat dicintainya. Di sana ia menceritakan segala kisah sedih yang menimpa dirinya. Akhirnya Karna bertekad

bahwa ia akan pergi mengadu nasib di Hastinapura, ibukota kerajaan para keturunan Kuru.

Penobatan sebagai Raja Angga/Awangga

Di Hastinapura diadakan pertandingan dan adu kekuatan untuk menunjukkan bahwa pendidikan para pangeran di

sana sudah berhasil. Karna yang percaya diri datang ke stadion dimana pertandingan diadakan dan menantang

Arjuna ketika Arjuna sedang menunjukkan kepandaiannya dalam ilmu memanah. Para hadirin yang ada di stadion
heran melihat Karna yang berani menantang Arjuna, kesatria bangsa Kuru. Saat melihat Karna, Kunti menjadi

lunglai.

Arjuna menerima tantangan Karna untuk menunjukkan yang terbaik. Ketika kedua kesatria bersiap-siap, Krepa naik

ke atas panggung dan menanyakan identitas Karna. Ia juga berkata bahwa Karna boleh bertanding dengan Arjuna

apabila mereka sederajat. Setelah mendengar kata-kata Krepa, Karna diam dan menunduk malu sebab ia

merupakan seorang anak kusir. Duryudana yang bersimpati, berdiri dan berkata, “Guruku, keberanian bukanlah milik

para kesatria saja. Tetapi kalau Arjuna ini dijadikan patokan bahwa seorang kesatria harus bertarung dengan

kesatria, maka keinginanmu akan kupenuhi. Kami akan menobatkan pendatang baru itu sebagai Raja

Angga/Awangga, sebab kerajaan itu belum memiliki raja”.

Akhirnya pada saat itu juga, Karna dinobatkan menjadi Raja Angga/Awangga. Para brahmana membacakan weda-

weda dan Duryudana memberi mahkota, pedang, dan air penobatan kepada Karna. Karna terharu dengan

kemurahan hati Duryodana. Balasan yang diinginkan oleh Duryudana hanyalah persahabatan yang kekal. Semenjak

persahabatan itu terjalin, Yudistira merasa cemas sebab kekuatan sepupunya yang jahat (Korawa) menjadi semakin

kuat karena dibantu oleh Karna, kesatria yang setara dengan Arjuna.

Penolakan Drupadi

Pada saat Karna sudah cukup dewasa, ia mengikuti sebuah sayembara di Kerajaan Panchala. Sayembara tersebut

memperebutkan puteri Drupadi. Para Pandawa turut serta dalam sayembara tersebut, namun mereka menyamar

dengan pakaian kaum brahmana. Sebuah ikan dari kayu dipasang pada sebuah cakram berputar di atas arena, di

bawahnya terdapat kolam yang memantulkan bayangan ikan tersebut. Para hadirin yang mengikuti sayembara harus

menembak mata ikan yang berputar tersebut hanya dengan melihat pantulannya di bawah kolam.

Banyak kesatria yang gagal melakukannya, hingga Karna tampil ke muka. Ia memusatkan pikirannya pada bayangan

ikan tersebut dan mengarahkan panahnya ke atas, namun pandangannya ke bawah, tertuju pada bayangan ikan

yang terpantul pada air kolam. Kemudian Karna melepaskan panahnya dan menembus mata ikan tersebut. Sesuai
dengan aturan, Karna berhasil memenangkan sayembara tersebut dan Drupadi berhak menjadi istrinya. Namun

Drupadi menolak hasil sayembara tersebut, karena ia tidak mau menikah dengan Karna yang seorang anak kusir.
Mendengar hal itu, Karna menjadi sakit hati dan menerima keputusan tersebut, namun dalam hatinya ia sangat

marah.

Beberapa versi mengatakan bahwa Karna tidak mampu untuk menaklukkan tantangan tersebut, hanya Arjuna yang

sangggup melakukannya.

Peran Karna dalam Bharatayuddha

Kresna mengetahui bahwa Karna adalah Pandawa sulung, namun lain ayah. Dan semua tahu bahwa Karna-lah

pemilik Panah Kunta. Kresna sempat ingin membuat Karna memihak Pandawa pada Bharatayuddha mendatang dan

ia mengatur sebuah pertemuan rahasia antara Karna dan ibunya Kunti. Karna pun memelas setelah ia melihat

ibunya menangis namun ia menganjurkan ibunya untuk tetap tegar karena ia melakukan kewajiban bela negara. Ia
juga memberi tahu ibunya bahwa selain dia berkorban demi negara, ia juga akan menyelamatkan para Pandawa lima

karena ia tidak akan menggunakan panah Kunta untuk membunuh Arjuna dan saat ia berperang dengan Arjuna dia

memastikan bahwa Arjuna tidak tahu bahwa Karna adalah kakaknya sendiri sehingga tidak segan membunuhnya.

Pada perang Bharatayuddha, ia membunuh Gatotkaca dan hampir membunuh Arjuna. Tetapi Arjuna menang

bertanding dan Karna pun gugur. Baru setelah Karna gugur, para Pandawa mengetahui asal usulnya dan mereka

sangat terpukul oleh hal ini.

Karna dalam pewayangan Jawa

Karna dalam pewayangan Jawa memiliki beberapa perbedaan dengan kisah aslinya dari kitab Mahabharata yang

berasal dari Tanah Hindu, yaitu India, dan berbahasa Sansekerta. Beberapa perbedaan tersebut meliputi nama

tokoh, lokasi, dan kejadian. Namun perbedaan tersebut tidak terlalu besar sebab inti ceritanya sama.

Kelahiran

Ibu dari Karna dan Panca Pandawa yaitu Kunti, pernah mencoba sebuah aji pada masa kecilnya untuk memanggil

seorang Dewa. Yang dipanggilnya adalah Dewa Matahari (Surya) dan beliau membuatnya hamil. Puteranya akan

keluar dari telinga untuk menjaga keperawanan Kunti, maka dinamakannya Karna. Nama-nama Karna lainnya

berhubungan dengan statusnya sebagai putera Dewa Matahari, yaitu Arkasuta, Suryatmaja dan lain sebagainya.

Oleh ibunya, Karna dihanyutkan di sungai sampai ia ditemukan oleh Prabu Radeya dan diangkat anak, sayangnya

kerajaan Prabu Radeya tunduk kepada Hastinapura dan ia dibesarkan oleh seorang sais prabu Dretarastra, yang

bernama Nandana atau Adirata. Oleh Adirata, Karna kemudian diberi nama Aradea. Nama itu digunakan Karna

sampai dewasa, hingga ia mengetahui identitas diri yang sesungguhnya.

Meskipun Karna masih saudara seibu dengan Yudistira, Werkodara (Bima), dan Arjuna, tetapi para Pandawa tidak

mengetahuinya sampai ia gugur di perang Bharatayuddha, sehingga mereka suka menghinanya.

Kemahiran

Karna sangat mahir menggunakan senjata panah. Kesaktiannya setara dengan Arjuna. Ia mempunyai panah
andalan bernama Kunta. Suatu ketika, ketika terjadi uji tanding antara Korawa dengan Pandawa sebagi murid-murid

Drona, Karna berhasil menandingi kesaktian Arjuna. Namun karena Karna bukan raja atau anak raja maka beliau

diusir dari arena. Karena mengetahui kesaktiannya, maka Duryodana, ketua para Korawa mengangkatnya menjadi

Raja Awangga. Sejak itu Karna bersumpah setia kepada Duryodana.

Senjata andalannya, yaitu panah Kunta adalah pemberian Batara Narada sebab beliau mengira bahwa Karna adalah

Arjuna karena kemiripannya. Panah tersebut adalah senjata yang paling ampuh, bahkan melebihi Cakra milik Prabu

Kresna dan panah Pasupati Arjuna, namun untungnya hanya sekali pakai. Sarung dari panah tersebut yang masih

disimpan Batara Narada kemudian dititpkan ke Bima untuk diberikan ke Arjuna adalah saat para pandawa

mengetahui bahwa Batara Narada salah alamat. Sarung dari Kunta tersebut kemudian dipakai untuk memutus tali

pusar bayi Tetuka alias Gatotkaca.


Kesaktian

Karna dilahirkan memakai anting-anting dan baju kebal pemberian ayahnya (Batara Surya). Kunti, ibunya, mengenal

dirinya saat adu ketrampilan murid-murid Dorna karena melihat anting-anting tersebut. Selama memakai kedua

benda ini Karna tidak akan mati oleh senjata apapun. Hal ini diketahui oleh Batara Indra yang sangat menyayangi

Arjuna. Oleh karena itu beliau meminta benda tersebut dengan menyamar sebagai seorang pengemis. Batara Surya

mendahuluinya dengan menemui Karna terlebih dulu dan memperingatkan Karna. Tapi Karna menganggap mati

dalam perang tanding lebih terhormat daripada panjang umur. Batara Surya kemudian menyarankan Karna untuk

meminta senjata ampuh sebagai kompensasi atas kedua benda tersebut. Hal ini disanggupi Karna. Ketika pengemis

itu datang, Karna langsung mengenalinya dan memberi hormat dan pengemis itu berubah kembali menjadi Batara

Indra. Sebagai kompensasi, Batara Indra memberi senjata Kunta kepada Karna.

December 24, 2007


Kaniraras - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Kangsadewa - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kandihawa - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kanastren - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Kamajaya - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kalmasapada - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kalimantara - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Kalantaka - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kalanjaya - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kalakarna - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Kalabendana - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kala - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Kala Pracona - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Kakrasana - Solo
Posted by topmdi under Aksara K, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Jungkung Mardeya - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Jembawati - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Jembawan - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Jayawilapa - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Jayasemedi - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Jayadrata - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments
Dalam wiracarita Mahabharata, Jayadrata (Sansekerta: Jayadratha) adalah seorang raja di Kerajaan Sindhu. Dia

menikahi Dursala, adik perempuan Kurawa bersaudara. Jayadrata merupakan tokoh penting di balik pembunuhan
Abimanyu. Ia menghadang para ksatria Pandawa saat mereka berusaha menyelamatkan Abimanyu. Atas kematian

Abimanyu, Arjuna berusaha membunuh Jayadrata. Akhirnya pada Bharatayuddha hari keempat belas, Jayadrata

gugur di tangan Arjuna.

Anugerah Siwa

Jayadrata menghina Drupadi, istri para Pandawa, karena berusaha menculik dan mengawininya. Setelah Arjuna

memburu dan menangkapnya hidup-hidup, nyawanya diselamatkan oleh Yudistira, dan ia dijadikan budak. Kemudian

Bima mencukur rambutnya sehingga Jayadrata botak. Karena dendam terhadap perlakuan tersebut, Jayadrata

melakukan tapa ke hadapan Siwa. Ia memohon kekuatan untuk menaklukkan Pandawa, namun Siwa mengatakan
bahwa itu hal yang mustahil – namun ia menganugerahkan Jayadrata agar mampu mengalahkan seluruh Pandawa

bersaudara pada hari pertama – kecuali Arjuna. Maka, akhirnya Arjuna berhasil mengalahkan Jayadrata.

Perang di Kurukshetra

Raja Sindhu – Jayadrata – memihak Duryodana dalam perang di Kurukshetra. Pada hari ketiga belsa, Jayadrata

menggunakan kekuatannya ketika menghentikan Pandawa di dekat formasi Cakrawyuha yang sulit ditembus, yang

dimasuki oleh Abimanyu – putera Arjuna. Di dalam formasi tersebut, Abimanyu bertarung sendirian. Ia dikepung oleh

para ksatria Kurawa dan terdesak, sementara ksatria-ksatria Pandawa yang ingin menyelamatkan Abimanyu

dihadang oleh Jayadrata. Saat terjebak dan kesusahan, Abimanyu dibunuh dengan curang.

Arjuna terkejut dan pingsan setelah mendengar kematian Abimanyu. Atas penjelasan para ksatria Pandawa,

Abimanyu dikurung dalam formasi Cakrawyuha dan dibunuh dengan serangan serentak. Beberapa ksatria ingin

membantu dan menyelamatkan Abimanyu, namun dihadang oleh Jayadrata. Mendengar hal itu, Arjuna bersumpah

bahwa ia akan membakar dirinya sendiri pada akhir hari keempat belas apabila ia tidak berhasil membunuh

Jayadrata.

Dendam Arjuna

Pada hari keempat belas, Arjuna berencana untuk membunuh Jayadrata. Namun ribuan ksatria dan prajurit dari

pihak Kurawa melindungi Jayadrata dan memisahkannya dengan Arjuna. Sampai hari menjelang sore, Arjuna belum

berhasil menjangkau Jayadrata dan membunuhnya, dan apabila setelah malam tiba Arjuna belum berhasil

membunuh Jayadrata maka ia akan membakar dirinya sendiri. Kresna yang melihat Arjuna dalam kesusahan

mencoba membantunya dengan membuat gerhana matahari buatan. Saat suasana menjadi gelap, pihak yang

bertarung merasa bahwa perang pada hari itu sudah berakhir karena malam sudah tiba. Pasukan Kurawa yang

melindungi Jayadrata pulang ke kemah mereka. Pada saat Jayadrata tak terlindungi, matahari muncul kembali dan

ternyata hari belum malam. Pada kesempatan itu, Arjuna menyuruh Kresna agar menjangkau Jayadrata. Saat

mendekat, ia melepaskan anak panahnya dan memutuskan leher Jayadrata.

Riwayat selanjutnya

Setelah perang berakhir, Arjuna bertarung dengan pasukan Sindhu ketika mereka menolak untuk mengakui Yudistira

sebagai Maharaja dunia. Ketika Dursala, istri Jayadrata, keluar untuk melindungi puteranya, yaitu raja muda penerus

tahta Sindhu, Arjuna menghentikan pertarungan.

Jayadrata dalam pewayangan Jawa

Antara kisah Jayadrata dalam kitab Mahabharata dan pewayangan Jawa memiliki beberapa perbedaan, namun tidak

terlalu besar karena inti ceritanya sama. Perbedaan-perbedaan tersebut antara lain disebabkan oleh proses

Jawanisasi, yaitu membuat kisah wiracarita dari India bagaikan terjadi di pulau Jawa.
Riwayat

Jayadrata adalah seorang ksatria yang sangat sakti dari pihak Kurawa. Misteri menyelubungi asal usulnya. Kisahnya

bermula ketika Wrekudara lahir, ari-ari yang membungkusnya dibuang. Pertapa tua, yaitu Bagawan Sapwani, secara

kebetulan memungutnya, mendoakannya, dan mengubahnya menjadi seorang bocah lelaki, yang tumbuh dewasa

dengan nama Jayadrata. Dari pandangan sekilas saja tampak jelas kemiripan kekerabatan dengan Wrekudara dan

putra Wrekudara, Raden Gatotkaca. Ketika Jayadrata beranjak dewasa, ia dibujuk untuk datang ke Hastina oleh

Sangkuni yang cerdik, yang memandang perlu seorang sekutu yang seperti itu untuk melawan Pandawa. Di sana

Jayadrata diberi suatu kedudukan yang tinggi dan dikawinkan dengan saudara perempuan Duryodana, Dewi

Dursilawati. Hal ini mengikatnya dengan kuat pada pihak Kiri. Dalam Perang Bharatayuddha, dialah yang membunuh

ksatria muda Abimanyu, dan setelah itu pada gilirannya ia dibunuh oleh Arjuna yang kehilangan anaknya. Karakter

Jayadrata adalah jujur, setia, dan terus terang bagaikan Gatotkaca di antara Kurawa. Ia mahir mempergunakan

panah dan sangat ahli bermain gada. Oleh Resi Sapwani ia diberi pusaka gada bernama Kyai Glinggang.
Jayadrata nama sesungguhnya adalah Arya Tirtanata atau Bambang Sagara. Arya Tirtanata kemudian dinobatkan

sebagai raja negara Sindu, dan bergelar Prabu Sinduraja. Karena ingin memperdalam pengetahuannya dalam

bidang tata pemerintahan dan tata kenegaraan, Prabu Sinduraja pergi ke negara Hastina untuk berguru pada Prabu

Pandu Dewanata. Untuk menjaga kehormatan dan harga diri, ia menukar namanya dengan nama patihnya,

Jayadrata. Di negara Hastina Jayadrata bertemu dengan Keluarga Kurawa, dan akhirnya diambil menantu Prabu

Dretarastra, dikawinkan dengan Dewi Dursilawati dan diangkat sebagai Adipati Buanakeling. Dari perkawinan

tersebut ia memperoleh dua orang putra bernama Arya Wirata dan Arya Surata.

Jayadrata gugur di tangan Arjuna di medan perang Bharatayuddha sebagai senapati perang Kurawa. Kepalanya

terpangkas lepas dari badannya oleh panah sakti Pasupati

December 24, 2007


Jatayu - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Jatasura - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments

Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Jatagini - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments

December 24, 2007


Jatagimbal - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Jarasanda - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Jarameya - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments

December 24, 2007


Janget Kinatelon - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Janaka - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Jambumangli - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Jamadagni - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Jakapuring - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Jaka Pengalasan - Solo
Posted by topmdi under Aksara J, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Irawan - Solo
Posted by topmdi under Aksara I, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Indrajit - Solo
Posted by topmdi under Aksara I, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Hiranyakasipu - Solo
Posted by topmdi under Aksara H, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Hartadriya - Solo
Posted by topmdi under Aksara H, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Hamso - Solo
Posted by topmdi under Aksara H, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Guwarsa - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Guru [Bhatara] w/ reca - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Gunadewa - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments

Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Gotama - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments

December 23, 2007


Gorawangsa - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Gendari - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Gathutkaca - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Garuda - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Gareng w/ wregul - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Gardapati - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Gangga - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Gandawati - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Gandamana - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Gandabayu - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Gana - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Gagakbaka - Solo
Posted by topmdi under Aksara G, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Ekawati - Solo
Posted by topmdi under Aksara E, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Endra - Solo
Posted by topmdi under Aksara E, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Emban - Solo
Posted by topmdi under Aksara E, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Ekalaya - Solo
Posted by topmdi under Aksara E, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Dwara Patih - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Dwapara - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Duryudana - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Duryudana Bokongan - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
Duryudana (Sansekerta: Duryodhana) atau Suyodana adalah tokoh antagonis yang utama dalam wiracarita

Mahabharata, musuh utama para Pandawa. Duryudana merupakan inkarnasi dari Iblis Kali. Ia lahir dari pasangan

Dretarastra dan Gandari. Duryudana merupakan saudara yang tertua di antara seratus Korawa. Ia menjabat sebagai

raja di Kerajaan Kuru dengan pusat pemerintahannya di Hastinapura.

Duryudana menikah dengan puteri Prabu Salya dan mempunyai putera bernama Laksmana (Laksmanakumara).

Duryudana digambarkan sangat licik dan kejam, meski berwatak jujur, ia mudah terpengaruh hasutan karena tidak

berpikir panjang dan terbiasa dimanja oleh kedua orangtuanya. Karena hasutan Sangkuni, yaitu pamannya yag licik

dan berlidah tajam, ia dan saudara-saudaranya senang memulai pertengkaran dengan pihak Pandawa. Dalam

perang Bharatayuddha, bendera keagungannya berlambang ular kobra. Ia dikalahkan oleh Bima pada pertempuran

di hari kedelapan belas karena pahanya dipukul dengan gada.


Arti nama

Secara harfiah, nama Duryudana dalam bahasa Sansekerta memiliki arti “sulit ditaklukkan” atau dapat pula berarti

“tidak terkalahkan”.

Kelahiran

Saat Gandari hamil dalam jangka panjang yang tidak wajar, ia memukul-mukul kandungannya dalam keadaan

frustasi dn cemburu terhadap Kunti, yang telah memberikan Pandu tiga orang putera. Atas tindakannya, Gandari

melahirkan gumpalan daging berwarna keabu-abuan. Kemudian Gandari memuja Byasa, seorang pertapa sakti,

yang kemudian memberi berkah seratus orang anak kepada Gandari. Kemudian Byasa memotong gumpalan daging

tersebut menjadi seratus bagian, dan memasukkannya ke dalam pot. Kemudian pot-pot tersebut ditanam di dalam

tanah selama satu tahun. Setelah satu tahun, pot tersebut digali kembali. Yang pertama kali dikeluarkan dari pot

tersebut adalah Duryudana, diiringi oleh Dursasana, dan adik-adiknya yang lain.

Tanda-tanda yang buruk mengiringi kemunculannya dari dalam pot. Para brahmana di keraton merasakan adanya

tanda-tanda akan bencana yang buruk. Widura mengatakan bahwa jika tanda-tanda seperti itu mengiringi kelahiran

putranya, itu tandanya kekerasan akan mengakhiri dinasti tersebut. Widura dan Bisma menyarankan agar putera

tersebut dibuang, namun Dretarastra tidak mampu melakukannya karena rasa cinta dan ikatan emosional terhadap

putera pertamanya itu.

Pendidikan

Tubuh Duryudana dikatakan terbuat dari petir, dan ia sangat kuat. Ia dihormati oleh adik-adiknya, khususnya

Dursasana. Dengan belajar ilmu bela diri dari gurunya, yaitu Krepa, Drona dan Balarama atau Baladewa, ia menjadi

sangat kuat dengan senjata gada, dan setara dengan Bima, yaitu Pandawa yang kuat dalam hal tersebut.

Persahabatan dengan Karna


Saat para Korawa dan Pandawa unjuk kebolehan saat menginjak dewasa, munculah sesosok ksatria gagah perkasa

yang mengaku bernama Karna. Ia menantang Arjuna yang disebut sebagai ksatria terbaik oleh Drona. Namun Krepa
mengatakan bahwa Karna harus mengetahui kastanya, agar tidak sembarangan menantang seseorang yang tidak

setara.

Duryudana membela Karna, kemudian mengangkatnya menjadi raja di Kerajaan Anga. Semenjak saat itu,

Duryudana bersahabat dengan Karna. Baik Karna maupun Duryudana tidak mengetahui, bahwa Karna sebenarnya

merupakan putera Kunti. Karna juga merupakan harapan Duryudana agar mampu meraih kemenangan saat

Bharatayuddha berlangsung, karena Duryudana percaya bahwa Karna adalah lawan yang sebanding dengan Arjuna.

Perebutan kerajaan

Duryudana memiliki sifat iri hati terhadap kekayaan Yudistira serta kemegahannya di Indraprastha. Terlebih lagi

kepada para Pandawa lainnya yang selalu membuat hatinya jengkel. Berbagai usaha ingin dilakukannya untuk
menyingkirkan para Pandawa, namun selalu gagal berkat perlindungan Kresna. Duryudana memiliki seorang paman

bernama Sangkuni. Sifatnya sangat licik dan senang melontarkan ide-ide buruk untuk mempengaruhi keponakannya

tersebut.

Saat Duryudana datang berkunjung ke Istana Indraprastha, ia terkagum-kagum dengan kemegahan istana tersebut.

Saat memasuki sebuah ruangan, ia mengira sebuah kolam sebagai lantai. Tak pelak lagi ia tercebur. Kejadian

tersebut disaksikan oleh Dropadi. Ia tertawa terpingkal-pingkal dan menghina Duryudana. Ia mengatakan bahwa

anak orang buta ternyata ikut buta juga. Mendengar hal itu, Duryudana sangat sakit hati. Dalam hati, ia marah besar

terhadap Dropadi.

Setelah pulang dari Indraprastha, Duryudana termenung memikirkan bagaimana cara mendapatkan harta Yudistira.

Melihat keponakannya murung, Sangkuni menawarkan ide licik untuk mengajak Yudistira main dadu dengan taruhan

harta dan kerajaan. Niat tersebut disetujui oleh Duryudana, termasuk Dretarastra yang terkena rayuan dan hasutan

Sangkuni yang berlidah tajam. Pada hari yang dijanjikan, Yudistira bermain dadu dengan Duryudana yang diwakilkan

oleh Sangkuni. Di awal permainan, Sangkuni membiarkan Yudistira menikmati kemenangan, namun pada

pertengahan permainan, kemenangan terus dimenangkan oleh Sangkuni berkat kelicikannya. Akhirnya Yudistira

menyerahkan harta, kerajaan, bahkan adik-adiknya sendiri, termasuk Dropadi, istrinya.

Saat Dropadi disuruh untuk menanggalkan bajunya karena Yudistira sudah kalah taruhan, ia tidak mau

melakukannya. Dengan kasar Dursasana menarik kain Dropadi. Namun berkat pertolongan gaib dari Kresna, kain

yang dikenakan Dropadi tidak habis meski terus-menerus ditarik dan diulur-ulur. Akhirnya Bima bersumpah bahwa ia

akan memukul paha Duryudana kelak, karena Duryudana menghina Dropadi dengan menyuruh waniat tersebut

berbaring di atas pahanya.

Pertempuran di Kurukshetra

Saat Yudistira dan Pandawa lainnya sudah menjalankan masa pembuangan selama 12 tahun dan masa

penyamaran selama setahun, mereka kembali ke Hastinapura dan meminta kembali kerajaan mereka sesuai dengan
perjanjian yang sah. Namun Duryudana bersikap sombong dan menolak permohonan Yudistira mentah-mentah.

Yudistira kemudian meminta agar mereka diberikan lima buah desa saja, karena sudah merupakan kewajiban
Pandawa untuk turut serta dalam pemerintahan sebagai pangeran Kerajaan Kuru. Duryudana pun bersikeras bahwa

ia tidak akan mau memberikan tanah kepada Pandawa bahkan seluas ujung jarum pun. Duryudana menantang

Pandawa untuk melakukan peperangan.

Sebelum pertempuran dimulai, Kresna datang ke hadapan Duryudana dan sesepuh Kerajaan Kuru seperti

Dretarastra, Widura, Bisma, dan Drona. Ia datang untuk menyampaikan misi perdamaian. Namun usul Kresna ditolak

juga oleh Duryudana. Dalam kesempatan tersebut, ia memiliki niat jahat untuk menculik Kresna. Namun Kresna

mengetahui niat jahat Duryudana tersebut dan menampakkan wujud aslinya. Dengan gagalnya usaha Kresna,

peperangan tak dapat dipungkiri lagi.

Dalam pertempuran besar di Kurukshetra, Duryudana didampingi ksatria-ksatria kuat dan dengan segenap tenaga

melindunginya, seperti misalnya Bisma, Drona, Karna, Aswatama, Salya, dan lain-lain. Ia menggantungkan
harapannya untuk meraih kemenangan kepada Bisma dan Karna, karena mereka adalah ksatria yang unggul dan

setara, atau bahkan melebihi Arjuna. Karna yang bersumpah setia akan selalu memihak Duryudana, berusaha

memberikan yang terbaik bagi sahabatnya tersebut. Namun satu-persatu ksatria besar yang memihak Duryudana,

gugur di medan laga dalam usaha membela Raja Hastinapura tersebut, termasuk ksatria yang sangat diharapkan

Duryudana, yaitu Bisma dan Karna. Begitu pula saudara-saudaranya, seperti misalnya Dursasana, Wikarna, Bima,

Citraksa, dan lain-lain.

Akhirnya, hanya beberapa ksatria besar di pihak Kurawa masih bertahan hidup, seperti misalnya Kretawarma, Krepa,

Aswatama, dan Salya. Pada pertempuran di hari kedelapan belas, ia mengangkat Salya sebagai senapati pihak

Korawa, namun pada hari itu juga Salya gugur di tangan Yudistira. Menjelang akhir peperangan tersebut, Duryudana

mulai merasa cemas akan kekalahannya.

Anugerah Gandari

Ratu Gandari yang sedih dengan kematian putera-putranya, merasa cemas dengan Duryudana, putera satu-satunya

yang masih bertahan hidup dalam peperangan. Agar puteranya tersebut mencapai kemenangan, ia memberikan

sebuah kekuatan ajaib. Kekuatan tersebut berasal dari kedua matanya yang ia tutup. Jika kekuatan tersebut

dilimpahkan kepada tubuh Duryodna, maka ia akan kebal terhadap berbagai macam serangan. Ia menyuruh

Duryudana agar mandi dan memasuki tenda dalam keadaan telanjang.

Saat Duryudana ingin menghadap ibunya, ia berpapasan dengan Kresna yang baru saja datang mengunjungi

ibunya. Kresna mencela dan mengejek Duryudana yang mau datang ke hadapan ibunya sendiri dalam keadaan

telanjang. Karena malu, Duryudana menutupi bagian bawah perutnya, termasuk bagian pahanya.

Saat Duryudana memasuki tenda, Gandari sudah menunggunya, kemudian wanita itu membuka penutup matanya.

Saat matanya terbuka, kekuatan ajaib dilimpahkan ke tubuh Duryudana. Namun ketika Gandari melihat bahwa

Duryudana menutupi bagian bawah perutnya, ia berkata bahwa bagian tersebut tidak akan kebal dari serangan

musuhnya karena bagian tersebut ditutupi saat Gandari melimpahkan kekuatan ajaibnya.

Pertempuran terakhir dan kematian

Saat Duryudana bertarung sendirian dengan Pandawa, Yudistira mengajukan tawaran, bahwa ia harus bertarung

dengan salah satu Pandawa, dan jika Pandawa itu dikalahkan, maka Yudistira akan menyerahkan kerajaan kepada

Duryudana. Duryudana memilih bertarung dengan senjata gada melawan Bima. Kedua-duanya memiliki kemampuan

yang setara dalam memainkan senjata gada karena mereka berdua menuntut ilmu kepada guru yang sama, yaitu

Baladewa. Pertarungan terjadi dengan sengit, keduanya sama-sama kuat dan sama-sama ahli bergulat dan

bertarung dengan senjata gada. Setelah beberapa lama, Duryudana mulai berusaha untuk membunuh Bima.

Pada waktu itu, Kresna mengingatkan Bima akan sumpahnya bahwa ia akan mematahkan paha Duryudana karena

perbuatannya yang melecehkan Dropadi. Atas petunjuk Kresna tersebut, Bima mengingat sumpahnya kembali dan

langsung mengarahkan gadanya ke paha Duryudana. Setelah pahanya dipukul dengan keras, Duryudana tersungkur

dan roboh. Ia mulai mengerang kesakitan, sebab bagian tubuhnya yang tidak kebal telah dipukul oleh Bima. Saat
Bima ingin mengakhiri riwayat Duryudana, Baladewa datang untuk mencegahnya dan mengancam bahwa ia akan

membunuh Bima. Baladewa juga memarahi Bima yang telah memukul paha Duryudana, karena sangat dilarang

untuk memukul bagian itu dalam pertempuran dengan senjata gada.

Kresna kemudian menyadarkan Baladewa, bahwa sudah menjadi kewajiban bagi Bima untuk menunaikan

sumpahnya. Kresna juga membeberkan kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh Duryudana. Duryudana lebih

banyak melanggar aturan-aturan perang daripada Bima. Ia melakukan penyerangan secara curang untuk membunuh

Abimanyu. Ia juga telah melakukan berbagai perbuatan curang agar Indraprastha jatuh ke tangannya.

Duryudana gugur dengan perlahan-lahan pada pertempuran di hari kedelapan belas. Hanya tiga ksatria yang

bertahan hidup dan masih berada di pihaknya, yaitu Aswatama, Krepa, dan Kretawarma. Setelah Duryudana gugur,

ia masuk neraka, namun kemudian menikmati kesenangan di surga karena ia gugur di Kurukshetra, tanah suci yang

diberkati.

Pandangan lain

Dalam pandangan para sarjana Hindu masa kini, Duryudana merupakan raja yang kuat dan cakap, serta memerintah

dengan adil, namun bersikap licik dan jahat saat berusaha melawan saudaranya (Pandawa). Seperti Rawana,

Duryudana sangat kuat dan berjaya, dan ahli dalam ilmu agama, namun gagal untuk mempraktekkannya dalam

kehidupan. Namun kebanyakan umat Hindu memandangnya sebagai orang jahat yang suka mencari masalah.

Duryudana juga merupakan salah satu tokoh yang sangat menghormati orangtuanya. Meskipun dianggap bersikap

jahat, ia tetap menyayangi ibunya, yaitu Gandari. Setiap pagi sebelum berperang ia selalu mohon do’a restu, dan

setiap kali ia berbuat demikian, ibunya selalu berkata bahwa kemenangan hanya berada di pihak yang benar.

Meskipun jawaban tersebut mengecilkan hati Duryudana, ia tetap setia mengunjungi ibunya setiap pagi.

Di wilayah Kumaon di Uttranchal, beberapa kuil yang indah ditujukan untuk Duryudana dan ia dipuja sebagai dewa

kecil. Suku Kumaon di pegunungan memihak Duryudana dalam Bharatayuddha. Ia dipuja sebagai pemimpin yang

cakap dan dermawan.

Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Dursilawati - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Dursasana - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
Dursasana atau Duhsasana (ejaan Sansekerta: Duśśāsana) merupakan adik dari Duryodana, salah seorang

Korawa yang cukup terkenal. Ia putra Prabu Dretarasta dengan Dewi Gandari. Badannya gagah, mulutnya lebar dan
mempunyai sifat sombong, suka bertindak sewenang-wenang, menggoda wanita dan senang menghina orang lain.

Ia mempunyai seorang istri bernama Dewi Saltani, dan berputra satu orang yakni Dursala.

Arti nama

Nama Dursasana terdiri dari dua kata Sansekerta, yaitu dur atau duh, dan śāsana. Secara harfiah, kata Dusśāsana

memiliki arti “sulit untuk dikuasai” atau “sulit untuk diatasi”.

Kelahiran

Saat Gandari hamil dalam jangka panjang yang tidak wajar, ia memukul-mukul kandungannya dalam keadaan

frustasi dan cemburu terhadap Kunti, yang telah memberikan Pandu tiga orang putera. Atas tindakannya, Gandari

melahirkan gumpalan daging berwarna keabu-abuan. Kemudian Gandari memuja Byasa, seorang pertapa sakti,

yang kemudian memberi berkah seratus orang anak kepada Gandari. Kemudian Byasa memotong gumpalan daging
tersebut menjadi seratus bagian, dan memasukkannya ke dalam pot. Kemudian pot-pot tersebut ditanam di dalam

tanah selama satu tahun. Setelah satu tahun, pot tersebut digali kembali. Yang pertama kali dikeluarkan dari pot

tersebut adalah Duryodana, diiringi oleh Dursasana, dan adik-adiknya yang lain.

Pelecehan Dropadi

Saat Yudistira kalah main dadu dengan Duryodana, Dropadi yang menjadi taruhannya jatuh ke tangan Duryodana.

Duryodana mengutus pengawalnya untuk menjemput Dropadi, namun Dropadi menolak. Kemudian Duryodana

mengutus adiknya sendiri, yaitu Dursasana. Dengan kasar ia datang ke kediaman Dropadi kemudian menjambak

rambut Dropadi serta menyeretnya sampai di arena dadu, dimana suami beserta ipar-iparnya berkumpul. Kemudian

Duryodana menyuruh Pandawa dan Dropadi untuk menanggalkan pakaian mereka sebab harta mereka sudah

menjadi milik Duryodana.

Dropadi yang menolak untuk melepaskan pakaiannya, dipaksa oleh Dursasana. Dropadi memuja-muja Tuhan agar

mendapatkan pertolongan. Kemudian Kresna muncul secara gaib (kasat mata) dan memberi keajaiban kepada

pakaian Dropadi agar kain yang dikenakannya tidak habis-habis meski ditarik terus-menerus. Saat Dursasana

menarik pakaian Dropadi dengan paksa, kain sari yang melilit di tubuhnya tidak habis-habis meski terus diulur-ulur.

Akhirnya Dursasana merasa lelah dan pakaian Dropadi tidak berhasil dilepas.

Atas tindakan tersebut, Bima bersumpah bahwa kelak ia akan membunuh Dursasana, merobek dadanya, dan

meminum darahnya.

Kematian

Dalam pertempuran besar di Kurukshetra, Bima membunuh Dursasana, merobek dadanya, dan meminum darahnya.

Kemudian Bima membawa darah Dursasana kepada Dropadi. Dropadi mengoleskan darah tersebut pada

rambutnya, sebagai tanda bahwa dendamnya terbalas. Kemattian Dursasana mengguncang perasaan Duryodana. Ia

sangat sedih telah kehilangan saudaranya yang tercinta tersebut. Semenjak itu ia bersumpah akan membunuh Bima.

Dursasana dalam pewayangan Jawa


Dursasana dikenal pula dalam khazanah pewayangan Jawa. Misalkan menurut cerita pedalangan Yogyakarta ia

tewas dalam kisah Bratayuda babak 5 lakon Timpalan / Burisrawa Gugur atau lakon Jambakan / Dursasana Gugur.

Menurut tradisi Jawa ia berkediaman di wilayah Banjarjungut, peninggalan mertuanya.

Dalam kisah “Pandawa Dadu” (Sabhaparwa), Yudistira kalah bermain dadu sehingga kekayaan, keraton, saudara-

saudara, dan istrinya telah berada dalam kekuasaan Korawa sebagai pembayaran taruhan. Dursasanalah yang

paling bernafsu untuk menelanjangi Dropadi (istri Yudistira), sehingga Drupadi bersumpah akan menggulung

rambutnya yang panjang jika telah keramas dengan darah dari Dursasana, begitu pula Bima bersumpah akan

meminum darah Dursasana sebelum mati.

Dursasana tewas di tangan Bima dalam perang Bharatayuddha.


December 23, 2007
Dursala - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments

Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Durna - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
Dalam wiracarita Mahabharata, Durna, Drona (Sansekerta : Droṇa) atau Dronacharya (Sansekerta: Droṇāchārya)

adalah guru para Korawa dan Pandawa. Ia merupakan ahli mengembangkan seni pertempuran, termasuk devastras.

Arjuna adalah murid yang disukainya. Kasih sayang Drona terhadap Arjuna adalah yang kedua jika dibandingkan

dengan rasa kasih sayang terhadap puteranya, Aswatama.

Kelahiran dan kehidupan awal

Drona dilahirkan oleh seorang brahmin (kaum pendeta Hindu), putera dari pendeta Bharadwaja, di masa sekarang

disebut Dehradoon (modifikasi dari kata dehra-dron, guci tanah liat), yang berarti bahwa ia (Drona) berkembang

bukan di dalam rahim, namun di luar tubuh manusia, yakni dalam Droon (tong atau guci).

Kisah kelahiran Drona diceritakan secara dramatis dalam Mahabharata.[1] Bharadwaja pergi bersama rombongannya
menuju Gangga untuk melakukan penyucian diri. Di sana ia melihat bidadari yang sangat cantik datang untuk mandi.

Sang pendeta dikuasai nafsu, menyebabkannya mengeluarkan air mani yang sangat banyak. Ia mengatur supaya air

mani tersebut ditampung dalam sebuah pot yang disebut “drona”, dan dari cairan tersebut Drona lahir kemudian

dirawat. Drona kemudian bangga bahwa ia lahir dari Bharadwaja tanpa pernah berada di dalam rahim.

Drona menghabiskan masa mudanya dalam kemiskinan, namun belajar agama dan militer bersama-sama dengan

pangeran dari Panchala bernama Drupada. Drupada dan Drona kemudian menjadi teman dekat dan Drupada, dalam

masa kecilnya yang bahagia, berjanji untuk memberikan setengah kerajaannya kepada Drona pada saat menjadi

Raja Panchala.

Drona menikahi Kripi, adik Kripa, guru di keraton para pangeran Hastinapura. Kripi dan Drona memiliki Aswatama

sebagai putera.

Belajar kepada Parasurama

Mengetahui bahwa Parasurama mau memberi pengetahuan yang dimilikinya kepada para brahmana, Drona

mendatanginya. Sayangnya pada saat Drona datang, Parasurama telah memberikan segala miliknya kepada

brahmana yang lain. Karena tersentuh oleh kesanggupan hati Drona, Parasurama memutuskan untuk memberikan

pengetahuannya tentang ilmu peperangan kepada Drona.[1]

Drona dan Drupada

Demi keperluan istri dan puteranya, Drona ingin bebas dari kemiskinan. Teringat kepada janji yang diberikan oleh

Drupada, Drona ingin menemuinya untuk meminta bantuan. Tetapi, karena mabuk oleh kekuasaan, Raja Drupada

menolak untuk mengakui Drona (sebagai temannya) dan menghinanya dengan mengatakan bahwa ia manusia

rendah.

Dalam Mahabarata, Drupada memberi penjelasan yang panjang dan sombong kepada Drona tentang masalah

kenapa ia tidak mau mengakui Drona. Drupada berkata, “Persahabatan, adalah mungkin jika hanya terjadi antara

dua orang dengan taraf hidup yang sama“. Dia berkata bahwa sebagai anak-anak, adalah hal yang mungkin bagi
dirinya untuk berteman dengan Drona, karena pada masa itu mereka sama. Tetapi sekarang Drupada menjadi raja,
sementara Drona berada dalam kemiskinan. Dalam keadaan seperti ini, persahabatan adalah hal yang mustahil.

Tetapi ia berkata bahwa ia akan memuaskan hati Drona apabila Drona mau meminta sedekah selayaknya para

Brahmin daripada mengaku sebagai seorang teman. Drupada menasihati Drona supaya tidak memikirkan masalah

itu lagi dan ingin ia hidup menurut jalannya sendiri. Drona pergi membisu, namun di dalam hatinya ia bersumpah

akan membalas dendam.[2]

Legenda Dronacharya

Legenda tentang Drona sebagai guru besar dan ksatria tak terbatas pada Mitologi Hindu saja, namun dengan

kuatnya mempengaruhi tradisi sosial India. Drona memberi inspirasi perdebatan tentang moral dan dharma dalam

Wiracarita Mahabharata.
Bola dan cincin

Drona pergi ke Hastinapura dengan harapan dapat membuka sekolah seni militer bagi para pangeran muda dengan

memohon bantuan Raja Dretarastra. Pada suatu hari, ia melihat banyak anak muda, yaitu para Korawa dan

Pandawa yang sedang mengelilingi sumur. Ia bertanya kepada mereka tentang masalah apa yang terjadi, dan

Yudistira, si sulung, menjawab bahwa bola mereka jatuh ke dalam sumur dan mereka tidak tahu bagaimana cara

mengambilnya kembali.

Drona tertawa, dan menasihati mereka karena tidak berdaya menghadapi masalah yang sepele. Yudistira menjawab

bahwa jika Sang Brahmin (Drona) mampu mengambil bola tersebut maka Raja Hastinapura pasti akan memenuhi

segala keperluan hidupnya. Pertama Drona melempar cincin kepunyaannya, mengumpulkan beberapa mata pisau,

dan merapalkan mantra Weda. Kemudian ia melempar mata pisau ke dalam sumur seperti tombak. Mata pisau

pertama menancap pada bola, dan mata pisau kedua menancap pada mata pisau pertama, dan begitu seterusnya,

sehingga membentuk sebuah rantai. Perlahan-lahan Drona menarik bola tersebut dengan tali.

Dengan keahliannya yang membuat anak-anak sangat terkesima, Drona merapalkan mantra Weda sekali lagi dan

menembakkan mata pisau itu ke dalam sumur. Pisau itu menancap pada bagian tengah cincin yang terapung

kemudian ia menariknya ke atas sehingga cincin itu kembali lagi. Karena terpesona, para bocah membawa Drona ke

kota dan melaporkan kejadian tersebut kepada Bisma, kakek mereka.

Bisma segera sadar bahwa dia adalah Drona, dan keberaniannya yang memberi contoh, ia kemudian menawarkan

agar Drona mau menjadi guru bagi para pangeran Kuru dan mengajari mereka seni peperangan. Kemudian Drona

mendirikan sekolah di dekat kota, dimana para pangeran dari berbagai kerajaan di sekitar negeri datang untuk

belajar di bawah bimbingannya.[3]

Diskriminasi kasta

Ekalawya adalah seorang pangeran muda dari suku Nishadha, yang datang mencari Drona karena minta diajari.

Drona tidak mau menerimanya karena ia tidak berasal dari golongan Warna Kshatriya (kasta). Ekalawya tidak
terkejut, kemudian memasuki hutan, dan ia mulai belajar dan berlatih sendirian, dengan sebuah patung tanah liat

menyerupai Drona dan ia sembah. Dengan menyendiri, Ekalawya menjadi ksatria dengan kehebatan yang luar
biasa, setara dengan Arjuna. Pada suatu hari, seekor anjing menggonggong saat ia serius melakukan latihan, dan

tanpa melihat, sang ksatria menembakkan panah lalu menancap di mulut anjing tersebut. Para Pandawa melihat

anjing itu lari, dan heran karena ada yang mampu melakukan perbuatan tersebut. Mereka melihat Ekalawya, yang

mengaku bahwa ia adalah murid Drona. Drona kaget karena merasa tidak memiliki murid seperti Ekalawya.

Kemudian Ekalawya menjelaskan bahwa setiap hari ia belajar dengan patung yang menyerupai Drona yang ia

anggap sebagai guru. Karena merasa prestasi Arjuna akan tersaingi, Drona meminta agar Ekalawya

mempersembahkan dakshina kepada sang guru sebagai tanda bahwa pelajarannya telah sempurna. Dakshina yang

diminta Drona adalah ibu jari Ekalawya. Ekalawya pun memotong jarinya sendiri sehingga ia tidak bisa lagi

menggunakan senjata panah.


Karna yang ingin belajar di bawah bimbingan Drona juga ditolak dengan alasan bahwa Karna tidak berasal dari kasta

ksatria. Karena merasa terhina, Karna belajar kepada Parasurama dengan menyamar sebagai brahmana.

Pembalasan terhadap Drupada

Saat para Korawa dan Pandawa menyelesaikan pendidikannya, Drona menyuruh agar mereka menangkap Raja

Drupada yang memerintah Kerajaan Panchala dalam keadaan hidup-hidup. Duryodana, Dursasana, Wikarna, dan

Yuyutsu mengerahkan tentara Hastinapura untuk menggempur Kerajaan Panchala, sementara Pandawa pergi ke

Kerajaan Panchala tanpa angkatan perang. Arjuna menangkap Drupada dan membawanya ke hadapan Drona.

Drona mengambil separuh dari wilayah kekuasaan Drupada, dan separuhnya lagi dikembalikan kepada Drupada.

Dengan dendam membara, Drupada melaksanakan yajña untuk memohon anugerah seorang putera yang akan

membunuh Drona dan seorang puteri yang akan menikahi Arjuna. Maka, lahirlah Drestadyumna, pembunuh Drona

dalam Bharatayuddha, dan Dropadi, yang menikahi Arjuna dan para Pandawa.

Pertempuran di Kurukshetra

Saat perang di Kurukshetra berkecamuk, Drona menjadi komandan pasukan Korawa. Ia merencanakan cara yang

curang untuk membunuh Abimanyu pada pertempuran di hari ketiga belas.

Kematian Drona

Sebelum perang, Bagawan Drona pernah berkata, “Hal yang membuatku lemas dan tidak mau mengangkat senjata

adalah apabila mendengar suatu kabar bencana dari mulut seseorang yang kuakui kejujurannya”. Berpedoman

kepada petunjuk tersebut, Sri Kresna memerintahkan Bhima untuk membunuh seekor gajah bernama Aswatama,

nama yang sama dengan putera Bagawan Drona. Bhima berhasil membunuh gajah tersebut lalau berteriak sekeras-

kerasnya bahwa Aswatama mati. Drona terkejut dan meminta kepastian Yudistira yang terkenal akan kejujurannya.

Yudistira hanya berkata, “Aswatama mati”. Sebetulnya Yudistira tidak berbohong karena dia berkata kepada Drona

bahwa Aswatama mati, entah itu gajah ataukah manusia (dalam keterangannya ia berkata: “naro va, kunjaro va” —
“entah gajah atau manusia”). Gajah bernama Aswatama itu sendiri sengaja dibunuh oleh Pendawa agar Yudistira
bisa mengatakan hal itu kepada Drona sehingga Drona kehilangan semangat hidup dan Korawa bisa dikalahkan

dalam perang Bharatayuddha.

Drona dalam pewayangan Jawa

Riwayat hidup Drona dalam pewayangan Jawa memiliki beberapa perbedaan dengan kisah aslinya dari kitab

Mahabharata yang berasal dari Tanah Hindu, yaitu India, dan berbahasa Sansekerta. Beberapa perbedaan tersebut

meliputi nama tokoh, lokasi, dan kejadian. Namun perbedaan tersebut tidak terlalu besar sebab inti ceritanya sama.

Perlu digarisbawahi juga, bahwa kepribadian Drona dalam Mahabharata berbeda dengan versi pewayangan.

Kepribadian

Resi Drona berwatak tinggi hati, sombong, congkak, bengis, banyak bicaranya, tetapi kecakapan, kecerdikan,
kepandaian dan kesaktiannnya luar baisa serta sangat mahir dalam siasat perang. Karena kesaktian dan

kemahirannya dalam olah keprajuritan, Drona dipercaya menjadi guru anak-anak Pandawa dan Kurawa. Ia

mempunyai pusaka sakti berwujud keris bernama Keris Cundamanik dan panah Sangkali (diberikan kepada Arjuna).

Riwayat

Bhagawan Drona atau Dorna (dibaca Durna) waktu mudanya bernama Bambang Kumbayana, putra Resi

Baratmadya dari Hargajembangan dengan Dewi Kumbini. Ia mempunyai saudara seayah seibu bernama Arya

Kumbayaka dan Dewi Kumbayani. Beliau adalah guru dari para Korawa dan Pandawa. Murid kesayangannya adalah

Arjuna. Resi Drona menikah dengan Dewi Krepi, putri Prabu Purungaji, raja negara Tempuru, dan memperoleh

seorang putra bernama Bambang Aswatama. Ia berhasil mendirikan padepokan Sokalima setelah berhasil merebut

hampir setengah wilayah negara Pancala dari kekuasaan Prabu Drupada.

Dalam peran Bharatayuda Resi Drona diangkat menjadi Senapati Agung Kurawa, setelah gugurnya Bisma. Ia sangat

mahir dalam siasat perang dan selalu tepat menentukan gelar perang. Resi Drona gugur di medan pertempuran oleh

tebasan pedang Drestadyumena, putra Prabu Drupada, yang memenggal putus kepalanya. Konon kematian Resi

Drona akibat dendam Prabu Ekalaya raja negara Parangggelung yang arwahnya menyatu dalam tubuh

Drestadyumena. Akan tetapi sebenarnya adalah dikarenakan taktik perang yang dilancarkan oleh pihak Pandawa

yang melancarkan tipu muslihat karena kerepotan menghadapi kesaktian dan kedigjayaan sang Resi.

Pelajaran yang dapat diambil dari sini adalah bagaimanapun saktinya sang resi, beliau sangat sayang terhadap

keluarganya sehingga termakan siasat tipu dalam peperangan yang mengakibatkan kematiannya.

Dalam perjalanannya mencari Sucitra, ia tidak dapat menyeberang sungai dan ditolong oleh seekor kuda terbang

jelmaan Dewi Wilutama, yang dikutuk oleh dewa. Kutukan itu akan berakhir bila ada seorang satria mencintainya

dengan tulus. Karena pertolongannya, maka sang Kumbayana menepati janjinya untuk mencintai kuda betina itu.

Namun karena terbawa nafsu, Kumbayana bersetubuh dengan kuda Wilutama hingga mengandung, dan kelak

melahirkan seorang putra berwajah tampan tetapi mempunyai kaki seperti kuda (bersepatu kuda), yang kemudian
diberi nama Bambang Aswatama.

Setelah bertemu Sucitra yang telah menjadi Raja bergelar Prabu Drupada, ia tidak diakui sebagai saudara
seperguruannya. Kumbayana marah merasa dihina, kemudian balik menghina Raja Drupada. Namun sang

Mahapatih Gandamana] (dulu adalah Patih Hastinapura di bawah pemerintahan Pandu) menjadi murka sehingga

terjadi peperangan yang tidak seimbang. Meskipun Kumbayana sangat sakti ternyata kesaktiannya masih jauh di

bawah Gandamana yang memiliki Aji Bandung Bondowoso (ajian ini diturunkan pada murid tercintanya, Raden

Bratasena) yang memiliki kekuatan setara dengan 1000 gajah.

Kumbayana menjadi bulan-bulanan sehingga wajahnya rusak seperti yang ada sekarang ini. Namun dia tidak mati

dan ditolong oleh Sakuni yang bernasib sama (Baca sempalan Mahabharata yang berjudul Gandamana Luweng).

Hingga akhirnya ia diterima di Hastinapura dan dipercaya mendidik anak-anak Hastina (Pandawa dan Korawa).
December 23, 2007
Durmagati - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments

December 23, 2007


Durgandana - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Durga - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Druwasa - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Drupadi - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
Dropadi atau Draupadi (Sansekerta: Draupadī) adalah salah satu tokoh dari Wiracarita Mahabharata. Ia adalah

putri Prabu Drupada, Raja Kerajaan Panchala. Pada kitab Mahabharata versi aslinya, Dropadi adalah istri daripada

para Pandawa lima semuanya. Tetapi dalam tradisi pewayangan Jawa di kemudian hari, ia hanyalah permaisuri

prabu Yudistira saja.

Arti nama

Pada mulanya, Dropadi diberi nama “Kresna”, merujuk kepada warna kulitnya yang kehitam-hitaman. Dalam bahasa

Sanskerta, kata Krishna secara harfiah berarti gelap atau hitam. Lambat laun ia lebih dikenal sebagai “Dropadi”

(ejaan Sanskerta: Draupadī), yang secara harfiah berarti “puteri Drupada“. Nama “Pañcali” juga diberikan kepadanya,

yang secara harfiah berarti “puteri Kerajaan Panchala“. Karena ia merupakan saudari dari Drestadyumna, maka ia

juga disebut Yajñasenī.


Kelahiran

Dropadi merupakan anak yang lahir dari hasil Putrakama Yadnya, yaitu ritual untuk memperoleh keturunan. Dalam

kitab Mahabharata diceritakan bahwa setelah Drupada dipermalukan oleh Drona, ia pergi ke dalam hutan untuk

merencanakan pembalasan dendam. Kemudian ia memutuskan untuk memperoleh seorang putera yang akan

membunuh Drona, serta seorang puteri yang akan menikah dengan Arjuna. Atas bantuan dari Resi Jaya dan

Upajaya, Drupada melangsungkan Putrakama Yadnya dengan sarana api suci. Dropadi lahir dari api suci tersebut.

Perkawinan dengan para Pandawa

Dalam kitab Mahabharata versi India dan dalam tradisi pewayangan di Bali, Dewi Dropadi bersuamikan lima orang,

yaitu Panca Pandawa. Pernikahan tersebut terjadi setelah para Pandawa mengunjungi Kerajaan Panchala dan

mengikuti sayembara di sana. Sayembara tersebut diikuti oleh para kesatria terkemuka di seluruh penjuru daratan

Bharatawarsha (India Kuno), seperti misalnya Karna dan Salya. Para Pandawa berkumpul bersama para kesatria

lain di arena, namun mereka tidak berpakaian selayaknya seorang kesatria, melainkan menyamar sebagai

brahmana. Di tengah-tengah arena ditempatkan sebuah sasaran yang harus dipanah dengan tepat oleh para peserta

dan yang berhasil melakukannya akan menjadi istri Dewi Dropadi.

Para peserta pun mencoba untuk memanah sasaran di arena, namun satu per satu gagal. Karna berhasil

melakukannya, namun Dropadi menolaknya dengan alasan bahwa ia tidak mau menikah dengan putera seorang

kusir. Karna pun kecewa dan perasaannya sangat kesal. Setelah Karna ditolak, Arjuna tampil ke muka dan mencoba

memanah sasaran dengan tepat. Panah yang dilepaskannya mampu mengenai sasaran dengan tepat, dan sesuai

dengan persyaratan, maka Dewi Dropadi berhak menjadi miliknya. Namun para peserta lainnya menggerutu karena

seorang brahmana mengikuti sayembara sedangkan para peserta ingin agar sayembara tersebut hanya diikuti oleh

golongan kesatria. Karena adanya keluhan tersebut maka keributan tak dapat dihindari lagi. Arjuna dan Bima

bertarung dengan kesatria yang melawannya sedangkan Yudistira, Nakula, dan Sahadewa pulang menjaga Dewi

Kunti, ibu mereka. Kresna yang turut hadir dalam sayembara tersebut tahu siapa sebenarnya para brahmana yang
telah mendapatkan Dropadi dan ia berkata kepada para peserta bahwa sudah selayaknya para brahmana tersebut

mendapatkan Dropadi sebab mereka telah berhasil memenangkan sayembara dengan baik.
Setelah keributan usai, Arjuna dan Bima pulang ke rumahnya dengan membawa serta Dewi Dropadi. Sesampainya

di rumah didapatinya ibu mereka sedang tidur berselimut sambil memikirkan keadaan kedua anaknya yang sedang

bertarung di arena sayembara. Arjuna dan Bima datang menghadap dan mengatakan bahwa mereka sudah pulang

serta membawa hasil meminta-minta. Dewi Kunti menyuruh agar mereka membagi rata apa yang mereka peroleh.

Namun Dewi Kunti terkejut ketika tahu bahwa putera-puteranya tidak hanya membawa hasil meminta-minta saja,

namun juga seorang wanita. Dewi Kunti tidak mau berdusta maka Dropadi pun menjadi istri Panca Pandawa.

Upacara Rajasuya

Pada saat Yudistira menyelenggarakan upacara Rajasuya di Indraprastha, seluruh ksatria di penjuru Bharatawarsha

diundang, termasuk sepupunya yang licik dan selalu iri, yaitu Duryodana. Duryodana dan Dursasana terkagum-
kagum dengan suasana balairung Istana Indraprastha. Mereka tidak tahu bahwa di tengah-tengah istana ada kolam.

Air kolam begitu jernih sehingga dasarnya kelihatan sehingga tidak tampak seperti kolam. Duryodana dan Dursasana

tidak mengetahuinya lalu mereka tercebur. Melihat hal itu, Dropadi tertawa terbahak-bahak. Duryodana dan

Dursasana sangat malu. Mereka tidak dapat melupakan penghinaan tersebut, apalagi yang menertawai mereka

adalah Dropadi yang sangat mereka kagumi kecantikannya.

Ketika tiba waktunya untuk memberikan jamuan kepada para undangan, sudah menjadi tradisi bahwa tamu yang

paling dihormati yang pertama kali mendapat jamuan. Atas usul Bisma, Yudistira memberikan jamuan pertama

kepada Sri Kresna. Melihat hal itu, Sisupala, saudara sepupu Sri Kresna, menjadi keberatan dan menghina Sri

Kresna. Penghinaan itu diterima Sri Kresna bertubi-tubi sampai kemarahannya memuncak. Sisupala dibunuh dengan

Cakra Sudarsana. Pada waktu menarik Cakra, tangan Sri Kresna mengeluarkan darah. Melihat hal tersebut, Dewi

Dropadi segera menyobek kain sarinya untuk membalut luka Sri Kresna. Pertolongan itu tidak dapat dilupakan Sri

Kresna.

Dropadi dipermalukan di muka umum

Setelah menghadiri upacara Rajasuya, Duryodana merasa iri kepada Yudistira yang memiliki harta berlimpah dan

istana yang megah. Melihat keponakannya termenung, muncul gagasan jahat dari Sangkuni. Ia menyuruh

keponakannya, Duryodana, agar mengundang Yudistira main dadu dengan taruhan harta, istana, dan kerajaan di

Indraprastha. Duryodana menerima usul tersebut karena yakin pamannya, Sangkuni, merupakan ahlinya permainan

dadu dan harapan untuk merebut kekayaan Yudistira ada di tangan pamannya. Duryodana menghasut ayahnya,

Dretarastra, agar mengizinkannya bermain dadu. Yudistira yang juga suka main dadu, tidak menolak untuk diundang.

Yudistira mempertaruhkan harta, istana, dan kerajaannya setelah dihasut oleh Duryodana dan Sangkuni. Karena

tidak memiliki apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, maka ia mempertaruhkan saudara-saudaranya, termasuk istrinya,

Dropadi. Akhirnya Yudistira kalah dan Dropadi diminta untuk hadir di arena judi karena sudah menjadi milik

Duryodana. Duryodana mengutus para pengawalnya untuk menjemput Dropadi, namun Dropadi menolak. Setelah
gagal, Duryodana menyuruh Dursasana, adiknya, untuk menjemput Dropadi. Dropadi yang menolak untuk datang,

diseret oleh Dursasana yang tidak memiliki rasa kemanusiaan. Rambutnya ditarik sampai ke arena judi, tempat
suami dan para iparnya berkumpul. Karena sudah kalah, Yudistira dan seluruh adiknya diminta untuk menanggalkan

bajunya, namun Dropadi menolak. Dursasana yang berwatak kasar, menarik kain yang dipakai Dropadi, namun kain

tersebut terulur-ulur terus dan tak habis-habis karena mendapat kekuatan gaib dari Sri Kresna yang melihat Dropadi

dalam bahaya. Pertolongan Sri Kresna disebabkan karena perbuatan Dropadi yang membalut luka Sri Kresna pada

saat upacara Rajasuya di Indraprastha.

Kematian

Dalam kitab Mahaprasthanikaparwa diceritakan, setelah Dinasti Yadu musnah, para Pandawa beserta Dropadi

memutuskan untuk melakukan perjalanan suci mengelilingi Bharatawarsha. Sebagai tujuan akhir perjalanan, mereka
menuju pegunungan Himalaya setelah melewati gurun yang terbentang di utara Bharatawarsha. Dalam perjalanan

menuju ke sana, Dropadi meninggal dunia.

Suami dan keturunan

Dalam kitab Mahabharata versi aslinya, dan dalam tradisi pewayangan di Bali, suami Dropadi berjumlah lima orang

yang disebut Pandawa. Dari hasil hubungannya dengan kelima Pandawa ia memiliki lima putera, yakni:

Pratiwinda (dari hubungannya dengan Yudistira)

Sutasoma (dari hubungannya dengan Bima)

Srutakirti (dari hubungannya dengan Arjuna)

Satanika (dari hubungannya dengan Nakula)

Srutakama (dari hubungannya dengan Sadewa)

Kelima putera Pandawa tersebut disebut Pancawala atau Pancakumara.

Dropadi dalam pewayangan Jawa

Dalam budaya pewayangan Jawa, khususnya setelah mendapat pengaruh Islam, Dewi Dropadi diceritakan agak

berbeda dengan kisah dalam kitab Mahabharata versi aslinya. Dalam cerita pewayangan, Dewi Dropadi dinikahi oleh

Yudistira saja dan bukan milik kelima Pandawa. Cerita tersebut dapat disimak dalam lakon “Sayembara

Gandamana”. Dalam lakon tersebut dikisahkan, Yudistira mengikuti sayembara mengalahkan Gandamana yang

diselenggarakan Raja Dropada. Siapa yang berhasil memenangkan sayembara, berhak memiliki Dropadi. Yudistira

ikut serta namun ia tidak terjun ke arena sendirian melainkan diwakili oleh Bima. Bima berhasil mengalahkan

Gandamana dan akhirnya Dropadi berhasil didapatkan. Karena Bima mewakili Yudistira, maka Yudistiralah yang

menjadi istri Dropadi. Dalam tradisi pewayangan Jawa, putera Dropadi dengan Yudistira bernama Raden Pancawala.

Pancawala sendiri merupakan sebutan untuk lima putera Pandawa.

Akulturasi budaya
Terjadinya perbedaan cerita antara kitab Mahabharata dengan cerita dalam pewayangan Jawa karena pengaruh

perkembangan agama Islam di tanah Jawa. Setelah Kerajaan Majapahit yang bercorak Hindu runtuh, munculah

Kerajaan Demak yang bercorak Islam. Pada masa itu, segala sesuatu harus disesuaikan dengan hukum agama

Islam. Pertunjukan wayang yang pada saat itu sangat digemari oleh masyarakat, tidak diberantas ataupun dilarang

melainkan disesuaikan dengan ajaran Islam. Menurut hukum Islam, seorang wanita tidak boleh memiliki suami lebih

dari satu. Maka dari itu, cerita Dewi Dropadi dalam kitab Mahabharata versi asli yang bercorak Hindu menyalahi

hukum Islam. Untuk mengantisipasinya, para pujangga ataupun seniman Islam mengubah cerita tersebut agar
sesuai dengan ajaran Islam.

Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category
December 23, 2007
Drupada - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments

December 23, 2007


Drestajumena - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
Drestajumena - Drestadyumna (Sansekerta: dhrishtadyumna) adalah seorang tokoh dari wiracarita Mahabharata.

Dia merupakan kakak bagi Dropadi dan Srikandi, keturunan Raja Drupada yang berasal dari Kerajaan Panchala. Ia

berada di pihak Pandawa saat perang di Kurukshetra. Dialah yang membunuh Resi Drona. Saat Sang Resi tertunduk

lemas dan kehilangan seluruh daya kekuataanya, sebagai akibat dari kabar bohong tentang meninggalnya sang

putera Aswatama, Drestadyumena maju dan memenggal leher Sang Resi.

Arti nama

Dalam bahasa Sansekerta, nama Dhristadyumna secara harfiah berarti “diagungkan karena keberaniannya”.

Kelahiran

Saat Drona berhasil merebut separuh Kerajaan Panchala dari tangan Drupada, kebencian Drona terhadap Drupada

lenyap, namun sebaliknya Drupada membenci Drona untuk selama-lamanya dan berambisi untuk membalas
dendam. Ia tahu bahwa Drona sulit dikalahkan sebab Drona merupakan murid Bhargawa dan memiliki senjata ilahi.

Akhirnya Drupada memutuskan untuk menyelenggarakan upacara yadnya yang disebut Putrakama supaya

memperoleh putera yang bisa membunuh Drona. Dengan dibantu oleh para resi, upacara tersebut terselenggara

dengan baik. Dari dalam api upacara, munculah seorang pemuda gagah, lengkap degan baju zirah dan senjata. Atas

sabda dari langit, anak tersebut diberi nama Drestadyumna.

Kematian

Setelah perang besar berakhir, putera dari Resi Drona, yaitu Aswatama, bersama dengan Krepa dan Kertawarma,

melakukan pembalasan dendam dengan membantai hampir semua putera-puteri, cucu, dan kerabat Pandawa,

termasuk yang menjadi korban adalah Drestadyumena sendiri, Srikandi, dan Pancawala. Pembantaian tersebut

dilakukan pada malam hari, ketika pasukan Pandawa sedang tertidur lelap. Kisah tersebut terdapat dalam kitab

Sauptikaparwa.

Drestadyumna dalam pewayangan Jawa


Dalam pewayangan Jawa, Arya Drestadyumena atau Trustajumena adalah putra bungsu Prabu Drupada, raja

negara Panchala dengan permaisuri Dewi Gandawati, putri Prabu Gandabayu dengan Dewi Gandini. Ia mempunyai

kakak kandung dua orang masing-masing bernama Dewi Drupadi, istri Prabu Yudistira, Raja Amarta (Indraprastha),

dan Dewi Srikandi, istri Arjuna.

Konon Arya Drestadyumna lahir dari tungku pedupaan hasil pemujaan Prabu Drupada kepada Dewata yang

menginginkan seorang putera lelaki yang dapat membinasakan Resi Drona yang telah mengalahkan dan

menghinanya. Drestadyumna berwajah tampan, memiliki sifat pemberani, cerdik, tangkas dan trenginas. Ia menikah

dengan Dewi Suwarni, putri Prabu Hiranyawarma, raja negara Dasarna. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh

dua orang putra lelaki bernama Drestaka dan Drestara.

Drestadyumna ikut terjun dalam kancah perang Bharatayuddha. Ia tampil sebagai senapati perang Pandawa,

menghadapi senapati perang Korawa, yaitu Resi Drona. Pada saat itu roh Ekalaya, raja negara Parangggelung yang
ingin menuntut balas pada Resi Drona menyusup dalam diri Drestadyumna. Setelah melalui pertempuran sengit,
akhirnya Resi Drona dapat dibinasakan oleh Drestadyumna dengan dipenggal lehernya.

Drestadyumna mati setelah berakhirnya perang Bharatayudha. Ia tewas dibunuh Aswatama, putera Resi Drona,

yang berhasil menyusup masuk istana Hastina dalam usahanya menuntut balas atas kematian ayahnya.

December 23, 2007


Dresanala - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Dewi Tari
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Dewayani - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Dewabrata - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Destarastra - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments

Dretarastra (Sansekerta: Dhritarāshtra) dalam wiracarita Mahabharata, adalah putera Wicitrawirya dan Ambika. Ia

buta semenjak lahir, karena ibunya menutup mata sewaktu mengikuti upacara Putrotpadana yang diselenggarakan

oleh Resi Byasa untuk memperoleh keturunan. Ia merupakan saudara tiri Pandu, dan lebih tua darinya. Sebenarnya

Dretarastra yang berhak menjadi Raja Hastinapura karena ia merupakan putera Wicitrawirya yang tertua. Akan tetapi
beliau buta sehingga pemerintahan harus diserahkan adiknya. Setelah Pandu wafat, ia menggantikan jabatan

adiknya tersebut. Dretarastra adalah bapak dari para Korawa dan suami Dewi Gandari.
Kelahiran

Ayah Dretarastra adalah Wicitrawirya dan ibunya adalah Ambika. Setelah Wicitrawirya wafat tanpa memiliki

keturunan, Satyawati mengirim kedua istri Wicitrawirya, yaitu Ambika dan Ambalika, untuk menemui Resi Byasa,

sebab Sang Resi akan mengadakan suatu upacara bagi mereka agar memperoleh keturunan. Satyawati menyuruh

Ambika agar menemui Resi Byasa di ruang upacara. Setelah Ambika memasuki ruangan upacara, ia melihat wajah

Sang Resi sangat dahsyat dengan mata yang menyala-nyala. Hal itu membuatnya menutup mata. Karena Ambika

menutup mata selama upacara berlangsung, maka anaknya terlahir buta. Anak tersebut adalah Dretarastra.

Masa pemerintahan

Karena Dretarastra terlahir buta, maka tahta kerajaan diserahkan kepada adiknya, yaitu Pandu. Setelah Pandu

wafat, Dretarastra menggantikannya sebagai raja (kadangkala disebut sebagai pejabat pemerintahan untuk

sementara waktu). Dalam memerintah, Dretarastra didampingi oleh keluarga dan kerabatnya, yaitu sesepuh Wangsa

Kuru seperti misalnya Bisma, Widura, Drona, dan Krepa.

Saat putera pertamanya yaitu Duryodana lahir, Widura dan Bisma menasihati Dretarastra agar membuang putera

tersebut karena tanda-tanda buruk menyelimuti saat-saat kelahirannya. Namun karena rasa cintanya terhadap putera

pertamanya tersebut, ia tidak tega melakukannya dan tetap mengasuh Duryodana sebagai puteranya.

Perebutan kekuasaan

Duryodana berambisi agar dirinya menjadi penerus tahta Kerajaan Kuru di Hastinapura. Dretarastra juga

menginginkan hal yang sama, namun ia harus bersikap adil terhadap Yudistira, yang lebih dewasa daripada

Duryodana. Saat Dretarastra mencalonkan Yudistira sebagai raja, hal itu justru menimbulkan rasa kecewa yang

sangat dalam bagi Duryodana. Setelah melalui perundingan, dan atas saran Bisma, Kerajaan Kuru dibagi dua.

Wilayah Hastinapura diberikan kepada Duryodana sedangkan Yudistira diberikan wilayah yang kering, miskin, dan

berpenduduk jarang, yang dikenal sebagai Kandawaprasta. Atas bantuan dari sepupu Yudistira, yaitu Kresna dan

Baladewa, mereka mengubah daerah gersang tersebut menjadi makmur dan megah, dan dikenal sebagai
Indraprastha.

Permainan dadu

Dretarastra adalah salah satu dari beberapa sesepuh Wangsa Kuru yang hadir menyaksikan permainan dadu antara

Duryodana, Dursasana, dan Karna yang diwaklili oleh Sangkuni, melawan Pandawa yang diwakili Yudistira. Yudistira

kehilangan segala kekayaannya dalam permainan dadu tersebut, termasuk kehialngan saudara dan istrinya. Saat

Dropadi berusaha ditelanjangi di depan para hadirin dalam balairung permainan dadu, Dretarastra tidak

mengucapkan sepatah kata pun. Ia tidak melarang tindakan Dursasana yang hendak melepaskan pakaian Dropadi.

Setelah usaha Dursasana untuk menelanjangi Dropadi tidak berhasil, Bima bersumpah bahwa kelak ia akan

membunuh Dursasana dan meminum darahnya. Kemudian Dretarastra merasakan firasat buruk bahwa

keturunannya akan binasa. Ia segera membuat suatu kebijakan, agar segala harta Yudistira yang akan menjadi milik

Duryodana segera dikembalikan. Ia juga menyuruh agar Yudistira dan saudaranya segera pulang segera ke
Indraprastha.

Namun, karena bujukan Duryodana dan Sangkuni, permainan dadu diselenggarakan untuk yang kedua kalinya. Kali

ini taruhannya bukan harta, melainkan siapa yang kalah harus mengasingkan diri ke hutan selama 12 tahun, setelah

itu hidup dalam masa penyamaran selama setahun, dan setelah itu diperbolehkan untuk kembali ke kerajaannya.

Yudistira pun tidak menolak dengan harapan akan memperoleh kemenangan, namun keberuntungan tidak memihak

Yudistira. Akhirnya, Yudistira beserta istri dan saudara-saudaranya mengasingkan diri ke hutan dan meninggalkan

kerajaan mereka.

Saat Pandawa meninggalkan kerajaannya, Dretarastra masih dibayangi oleh dendam para Pandawa atas

penghinaan yang dilakukan oleh putera-puteranya. Karena tindakan Dretarastra yang tidak berbicara sepatah kata

pun saat Dropadi berusaha ditelanjangi di depan umum, ia dikritik agar lebih mementingkan kewajiban sebagai raja

daripada rasa cinta sebagai seorang ayah.

Pertempuran di Kurukshetra

Dretarastra memiliki seorang pemandu yang bernama Sanjaya. Sanjaya adalah keponakan Dretarastra karena ia

merupakan putera Widura, yaitu adik tiri Dretarastra. Sanjaya diberi anugerah oleh Resi Byasa agar ia bisa melihat

masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Ialah yang menjadi reporter perang di Kurukshetra bagi Dretarastra. Ia

pula yang turut menyaksikan wujud Wiswarupa dari Sri Kresna menjelang pertempuran di Kurukshetra berlangsung.

Saat Dretarastra dihantui kecemasan akan kehancuran putera-puteranya, ia selalu bertanya kepada Sanjaya

mengenai keadaan di medan Kuru atau Kurukshetra. Berita yang dilaporkan oleh Sanjaya kebanyakan berupa berita

duka bagi Dretarastra, sebab satu-persatu puteranya dibunuh oleh Arjuna dan Bima. Sanjaya juga berkata bahwa

apabila Kresna dan Arjuna berada di pihak Pandawa, maka di sanalah terdapat kejayaan, kemashyuran, kekuatan

luar biasa, dan moralitas. Meskipun laporan Sanjaya sering mengecilkan hati Dretarastra dan memojokkan putera-

puteranya, namun Dretarastra tetap setia mengikuti setiap perkembangan yang terjadi dalam pertempuran di

Kurukshetra.

Penghancuran patung Bima


Pada akhir pertempuran, Dretarastra menahan rasa duka dan kemarahannya atas kematian seratus puteranya. Saat

ia bertemu para Pandawa yang meminta restunya karena mereka menjadi pewaris tahta, ia memeluk mereka satu

persatu. Ketika tiba giliran Bima, pikiran jahat merasuki Dretarastra dan rasa dendamnya muncul kepada Bima atas

kematian putera-puteranya, terutama Duryodana dan Dursasana. Kresna tahu bahwa meskipun Dretarastra buta, ia

memiliki kekuatan yang setara dengan seratus gajah. Maka dengan cepat Kresna menggeser Bima dan

menggantinya dengan sebuah patung menyerupai Bima. Pada saat itu juga Dretarastra menghancurkan patung

tersebut sampai menjadi debu. Akhirnya Bima selamat dan Dretarastra mulai mengubah perasaannya serta

memberikan anugerahnya kepada Pandawa.

Kehidupan selanjutnya dan kematian

Setelah pertempuran besar di Kurukshetra berakhir, Yudistira diangkat menjadi Raja Indraprastha sekaligus
Hastinapura. Meskipun demikian, Yudistira tetap menunjukkan rasa hormatnya kepada Dretarastra dengan

menetapkan bahwa tahta Raja Hastinapura masih dipegang oleh Dretarastra. Akhirnya Dretarastra memutuskan

untuk meninggalkan kehidupan duniawai dan mengembara di hutan sebagai pertapa bersama Gandari, Widura,

Sanjaya, dan Kunti. Di dalam hutan di Himalaya, mereka meninggal ditelan api karena hutan terbakar oleh api suci

yang dikeluarkan oleh Dretarastra.

December 23, 2007


Dentawilukrama - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Dasarata - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments

Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Dasamuka - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Darmawasesa - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Darma - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments

• My Account
o Global Dashboard
o Tag Surfer
o My Comments
o Edit Profile
o Contact Support
o WordPress.com
o Log Out
• Blog Info
o Random Post
o Subscribe to blog
o Report as spam
o Report as mature


• Home
• Para sedulur semua …
Blognya “Wayang Kulit”
Ikut melestarikan budaya Jawa - topmdi blogs group
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Darini - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Dandang Minangsi - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Danaraja - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Danapati - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Damagosa - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Dadunwacana - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Dadung Awuk - Solo
Posted by topmdi under Aksara D, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Citrawati - Solo
Posted by topmdi under Aksara C, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Citrarata - Solo
Posted by topmdi under Aksara C, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Citranggada - Solo
Posted by topmdi under Aksara C, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Citralanggeni - Solo
Posted by topmdi under Aksara C, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Citraksi - Solo
Posted by topmdi under Aksara C, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Citraksa - Solo
Posted by topmdi under Aksara C, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Citrahoyi - Solo
Posted by topmdi under Aksara C, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Citragada - Solo
Posted by topmdi under Aksara C, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Cingkrabala - Solo
Posted by topmdi under Aksara C, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Caranggana - Solo
Posted by topmdi under Aksara C, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Candra
Posted by topmdi under Aksara C, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Cakra - Solo
Posted by topmdi under Aksara C, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Cakil - Solo
Posted by topmdi under Aksara C, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Buta Terong - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Burisrawa - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
Burisrawa (Sansekerta: Bhūriśravā) adalah seorang antagonis dari wiracarita Mahabharata. Ia merupakan pangeran

dari Kerajaan Bahlika yang berperang pada pihak Korawa saat perang Bharatayuddha. Ia tewas karena dipenggal

oleh Arjuna saat ia hendak menyerang Satyaki.

December 23, 2007


Bumiloka - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Bukbis - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Bremani - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Bremana - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Brantalaras - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 23, 2007


Brajamusti - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Brajalamatan - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
December 23, 2007
Brajadenta - Solo
Posted by topmdi under Aksara B, Gagrak Surakarta
No Comments
 
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 25, 2007


Yuyutsu - Solo
Posted by topmdi under Aksara Y, Gagrak Surakarta
No Comments

Yuyutsu (Dewanagari) adalah seorang tokoh protagonis dari wiracarita Mahabharata. Ia adalah saudara para

Kurawa, dari ibu yang lain, seorang dayang-dayang. Berbeda dengan para Kurawa, ia memihak Pandawa saat

perang di Kurukshetra. Hal itu membuatnya menjadi penerus garis keturunan Drestarastra, sementara saudaranya

yang lain (Kurawa) gugur semua di medan Kuru atau Kurukshetra.

Setelah Yudistira mengundurkan diri dari dunia, Yuyutsu diangkat menjadi raja di Indraprasta.
Arti nama

Nama Yuyutsu dalam bahasa Sansekerta artinya ialah “yang memiliki kemauan untuk berperang/bertempur”.

December 25, 2007


Yudhistira - Solo
Posted by topmdi under Aksara Y, Gagrak Surakarta
No Comments
Yudistira (Sansekerta: Yudhiṣṭhira) adalah seorang tokoh protagonis dari wiracarita Mahabharata. Beliau adalah raja

Indraprasta, kemudian memerintah Hastina setelah memenangkan pertempuran akbar di Kurukshetra. Yudistira

merupakan putera sulung Pandu dengan Kunti. Beberapa sumber mengatakan bahwa ia memiliki kepandaian

memakai senjata tombak.

Nama Yudistira dalam bahasa Sansekerta dieja Yudhiṣṭhira, yang artinya adalah “teguh atau kokoh dalam
peperangan”. Ia juga dikenal sebagai Dharmaraja yang artinya Raja Dharma, sebab konon Yudistira selalu

menegakkan Dharma sepanjang hidupnya. Beberapa nama julukan juga dimilikinya, seperti misalnya:

Ajataśatru (seseorang yang tidak memiliki musuh)

Bhārata (keturunan Raja Bharata

Dharmawangsa (keturunan/trah Dewa Dharma)

Kurumukhya (pemimpin para keturunan Kuru)


Kurunandana (putera kesayangan Dinasti Kuru)

Kurupati (raja dari Dinasti Kuru)

Beberapa nama julukan tersebut juga dimiliki oleh beberapa tokoh Dinasti Kuru yang lain, seperti misalnya Arjuna,

Bisma dan Duryudana.

Kelahiran, kepribadian, dan pendidikan

Ayah Yudistira bernama Pandu, menikahi Dewi Kunti, puteri Raja Surasena, adik Basudewa. Setelah pernikahannya,

tanpa sengaja Pandu memanah seorang Brāhmana dan istrinya, yang dikira sebagai seekor rusa yang sedang

bercinta. Sebelum kematiannya, Sang Brāhmana mengutuk Pandu supaya kelak ia meninggal jika sedang bercinta

dengan istrinya. Pandu menerima sumpah tersebut, yang menyebabkannya tidak bisa bercinta dengan istrinya

sehingga tidak mampu memperoleh keturunan.

Kunti, istri Pandu, memperoleh kesaktian dari seorang Rishi (orang suci) bernama Durwasa, sehingga ia mampu
memanggil Dewa-Dewa. Dengan memanfaatkan kemampuan Kunti tersebut, Pandu dan istrinya memperoleh
keturunan dengan memanggil Dewa-Dewa yang mampu menganugerahi mereka putera. Mereka memanggil tiga

Dewa, yaitu: Yamaraja (Dharmaraja, Dewa Dharma), Marut (Bayu, Dewa Angin), dan Sakra (Indra, Raja surga).

Yudistira lahir dari Yamaraja, yaitu Dewa Dharma, kebenaran, kebijaksanaan dan keadilan.

Yudistira memiliki empat adik, yaitu: Bhima (lahir dari Dewa Bayu), Arjuna (lahir dari Dewa Indra), dan si kembar

Nakula dan Sahadewa (lahir dari Dewa Aswin). Karna, merupakan putera pertama Dewi Kunti yang diperoleh tanpa

sengaja pada masih gadis. Jadi, Karna merupakan saudara tua Yudistira dan para Pandawa (lima putera Pandu).

Sebagai penitisan Dewa Dharma (keadilan dan kebijaksanaan) Yudistira berperilaku mulia dan berpengetahuan luas

di bidang kerohanian. Karena perilakunya yang mulia, Yudistira layak untuk mewarisi tahta Hastinapura. Namun hal

itu menimbulkan perdebatan bagi putera Drestarastra, yaitu Duryudana dan para Korawa.

Yudistira menuntut ilmu agama, sains, dan senjata bersama saudara-saudaranya dan para Korawa di bawah asuhan
Dronacharya (Bagawan Drona) dan Kripacharya (Bagawan Kripa). Ia mahir dengan senjata tombak dan memperoleh

gelar “Maharatha“, yaitu ksatria yang mampu menumpas 10.000 musuh dalam sekejap.

Raja Indraprastha

Yudistira dan Pandawa lainnya amat disayangi oleh sesepuh Wangsa Kuru, seperti Bisma, Drona, Krepa, daripada

Duryudana dan para Korawa karena kebaikan hati Yudistira dan rasa hormatnya terhadap sesepuh tersebut. Saat

Yudistira dan Pandawa tumbuh dewasa, Dretarastra mengalami konflik dengan putera-puteranya, yaitu para Korawa.

Yudistira adalah pangeran yang tertua dalam garis keturunan Kuru dan berhak menjadi raja, namun Dretarastra ingin

bersikap adil juga terhadap anaknya. Akhirnya Dretarastra memberi sebagian wilayah Kerajaan Kuru, yaitu sebuah

daerah yang gersang dan berpenduduk jarang yang disebut Kandawaprastha.

Dengan bantuan sepupunya yang bernama Kresna, Yudistira memperbarui daerah tersebut. Kresna memanggil

Wiswakarma, arsitek para dewa, untuk membangun daerah tersebut menjadi kota megah. Arsitek Mayasura

membangun balairung besar yang dikenal sebagai Mayasabha. Akhirnya Kandawaprastha menjadi kota yang megah

dan berganti nama menjadi “Indraprastha” atau “kota Dewa Indra“. Perlahan-lahan penduduk baru berdatangan dan

Indraprastha menjadi kota yang ramai.

Rajasuya

Setelah diangkat menjadi Raja Indraprastha, Yudistira melaksanakan upacara Rajasuya untuk menyebarkan dharma

dan menyingkirkan raja-raja jahat. Arjuna, Bima, Nakula dan Sadewa memimpin tentara masing-masing ke setiap

empat penjuru Bharatawarsha untuk mengumpulkan upeti saat penyelenggaraan Rajasuya. Raja-raja yang mengakui

pemerintahan Yudistira menjadi sekutu dan datang ke Indraprastha. Saat upacara berlangsung, Yudistira bertanya

kepada Bisma untuk mempertimbangkan siapa yang akan menerima hadiah terlebih dahulu. Bisma menunjuk

Kresna, namun Sisupala menggerutu karena menurutnya seorang pengembala sapi seperti Kresna tidak berhak

menjadi orang yang paling dihormati dalam Rajasuya. Kemudian Sisupala menghina Kresna bertubi-tubi. Karena

hinaan Sisupala sudah melebihi seratus kali, Kresna mengakhiri nyawa Sisupala sesuai janji Kresna kepada ibu
Sisupala.

Pembuangan selama 13 tahun

Selain berkepribadian mulia, Yudistira juga senang main dadu. Hal itulah yang dimanfaatkan Duryudana untuk

mengambil alih kekuasaan Yudistira. Bersama dengan pamannya – Sangkuni – mereka menyusun rencana licik,

yaitu mengajak Yudistira main dadu dengan taruhan harta dan kerajaan. Permainan dadu sudah disetel sedemikian

rupa sehingga kemenangan berpihak pada Korawa. Mula-mula Yudistira mempertaruhkan harta, kemudian ia dihasut

oleh Duryudana dan Sangkuni untuk mempertaruhkan istana dan kerajaannya. Karena pikirannya sudah dibelenggu

oleh hasutan mereka, maka Yudistira merelakan istana dan kerajaannya untuk dipertaruhkan. Karena permainan

dadu sudah disetel sedemikian rupa, maka Korawa menang dan memperoleh istana dan kerajaan yang dipimpin

Yudistira.

Yudistira yang merasa tidak memiliki apa-apa lagi, mempertaruhkan saudara-saudaranya, yaitu para Pandawa.
Akhirnya Yudistira kalah sehingga saudara-saudaranya menjadi milik Duryudana. Kemudian Yudistira

mempertaruhkan dirinya sendiri. Karena ia kalah lagi, maka dirinya menjadi milik Duryudana. Yudistira yang sudah

kehabisan harta untuk dipertaruhkan, akhirnya dibujuk oleh Duryudana untuk mempertaruhkan istrinya yaitu Dropadi.

Yudistira menyetujuinya. Akhirnya segala harta milik Yudistira, termasuk saudara, istri, dan dirinya sendiri menjadi

budak Duryudana. Namun karena bujukan Drestarastra, Pandawa beserta istrinya mendapatkan kebebasan mereka

kembali.

Namun sekali lagi Duryudana mengajak main dadu, dan taruhannya siapa yang kalah harus megasingkan diri ke

hutan selama 13 tahun. Untuk kedua kalinya, Yudistira kalah sehingga ia dan saudara-saudaranya terpaksa

mengasingkan diri ke hutan.

Meletusnya perang

Pandawa telah menjalani hukuman buang selama 13 tahun, sesuai dengan perjanjian, mereka menginginkan

kembali tahta Kerajaan Besar Hastinapura yang menjadi haknya secara turun-temurun. Akan tetapi pihak Kurawa

yang merupakan sepupu Pandawa tidak mau menyerahkan tahta Hastinapura. Setelah semua upaya damai

menemui jalan buntu, terjadilah perang selama 18 hari di medan Kuru atau Kurukshetra.

Yudistira saat Bharatayuddha

Yudistira terkenal akan sifatnya yang selalu bersikap sopan dan santun, bahkan ketika peperangan sekalipun,

Yudistira masih menghaturkan sembah kepada Bhisma, yang seharusnya ia hadapi dalam pertempuran. Karena

tindakannya tersebut, Bhisma menganugerahinya kemenangan.

Penghormatan Yudistira

Pada hari pertama perang di Kurukshetra, kedua belah pihak sudah saling berhadapan, siap untuk membunuh satu

sama lain. Pada hari itu pula Arjuna mendapatkan wejangan suci dari Sri Kresna sebelum perang, bernama
Bhagavad Gītā. Setelah kedua belah pihak selesai melakukan inspeksi terhadap pasukannya masing-masing dan

siap untuk berperang, Yudistira melakukan sesuatu yang mengejutkan. Ia menanggalkan baju zirahnya, meletakkan
semua senjatanya, dan turun dari kereta. Dengan mencakupkan tangan ia berjalan menuju barisan musuh. Semua

pihak yang melihat tindakannya tidak percaya terhadap apa yang sudah dilakukan Yudistira. Para Pandawa

mengikutinya, mereka bertanya-tanya, namun Yudistira hanya membisu. Hanya Kresna yang tersenyum karena ia

mengetahui maksud Yudistira.

Ketika Yudistira sudah mencapai barisan musuh, semua musuh sudah siaga dan tidak melepaskan pandangannya

dari Yudistira. Dengan rasa bakti yang tulus, Yudistira menjatuhkan dirinya dan menyembah kaki Bisma, kakek yang

sangat dihormatinya, seraya berkata, “Hamba datang untuk memberi hormat kepadamu, o paduka nan gagah tak

terkalahkan. Kami akan menghadapi paduka dalam pertempuran. Kami mohon perkenan paduka dalam hal ini. Dan

kami pun memohon do’a dan restu paduka”.

Bisma menjawab, “Apabila engkau, o Maharaja, dalam menghadapi pertempuran yang akan berlangsung ini tidak
datang kepadaku seperti ini, pasti akan kukutuk dirimu agar menderita kekalahan. Aku puas, o putera mulia.

Berperanglah dan dapatkan kemenangan, hai putera Pandu. Apa lagi cita-cita yang ingin kaucapai dalam

pertempuran ini? Pintalah suatu berkah dan restu, o putera Pritha, pintalah sesuatu yang kauinginkan! Atas restuku

itu pastilah, o Maharaja, kekalahan takkan menimpa dirimu”.

Setelah menghaturkan sembah kepada Bisma, Yudistira menyembah Guru Drona, Krepa, dan Salya. Semuanya

memberikan restu dan mendo’akan kemenangan agar berpihak kepada Yudistira karena tindakan sopan yang sudah

dilakukannya. Setelah mendapat do’a restu, Yudistira kembali menuju pasukannya, memakai baju zirahnya, naik

kereta, dan siap untuk bertempur.

Yuyutsu memihak Yudistira

Sebelum pertempuran dimulai, Yudistira berseru, “Siapa pun yang memilih kami, itulah yang kupilih menjadi sekutu”.

Susana hening sejenak setelah mendengarkan seruan Yudistira. Tiba-tiba di dalam pasukan Korawa, terdengar

sebuah jawaban dari Yuyutsu. Yuyutsu berseru, “Hamba bersedia bertempur di bawah panji-panji paduka, demi

kemenangan paduka sekalian. Hamba akan menghadapai para putera Drestarastra, itu pun apabila paduka Raja

berkenan menerima hamba, o paduka Raja nan suci”.

Dengan gembira, Yudistira berseru, “Mari, kemarilah! Kami semua ingin bertempur menghadapi saudara-saudaramu

yang tolol itu! O Yuyutsu, baik Vāsudewa (Kresna) maupun kami berlima menyatakan kepadamu bahwa aku

menerimamu, o pahlawan perkasa. Berjuanglah bersama kami, untuk kepentinganku, menegakkan Dharma.

Rupanya hanya kau sendiri orang yang harus melanjutkan garis keturunan Drestarastra, sekaligus melakukan

upacara persembahan kepada para leluhur mereka. O putera mahkota nan gagah, terimalah kami yang juga

menerimamu. Duryudana yang kejam itu akan segera menemui ajalnya”.

Setelah berseru demikian, maka Yuyutsu meninggalkan para Korawa dan memihak Pandawa. Kedatangannya

disambut gembira. Tak lama kemudian, pertempuran dimulai.

Kematian Bagawan Drona


Sebelum perang, Bagawan Drona pernah berkata, “Hal yang membuatku lemas dan tidak mau mengangkat senjata
adalah apabila mendengar suatu kabar bencana dari mulut seseorang yang kuakui kejujurannya”. Berpedoman

kepada petunjuk tersebut, Sri Kresna memerintahkan Bhima untuk membunuh seekor gajah bernama Aswatama,

nama yang sama dengan putera Bagawan Drona. Bhima berhasil membunuh gajah tersebut lalau berteriak sekeras-

kerasnya bahwa Aswatama mati. Drona terkejut dan meminta kepastian Yudistira yang terkenal akan kejujurannya.

Yudistira hanya berkata, “Aswatama mati”. Sebetulnya Yudistira tidak berbohong karena dia berkata kepada Drona

bahwa Aswatama mati, entah itu gajah ataukah manusia (dalam keterangannya ia berkata, “naro va, kunjaro va” —

“entah gajah atau manusia”). Gajah bernama Aswatama itu sendiri sengaja dibunuh oleh Pendawa agar Yudistira

bisa mengatakan hal itu kepada Drona sehingga Drona kehilangan semangat hidup dan Korawa bisa dikalahkan

dalam perang Bharatayuddha.

Walaupun tidak pernah berbohong, karena perbuatannya ini Yudistira tetap mendapat ‘hukuman’. Kereta perangnya,
yang semula dikaruniai kemampuan melayang sejengkal di atas tanah, kini terpaksa harus turun menginjak tanah.

Dan kelak, di hari kembalinya Pandawa ke sorga, Yudistira tidak diperbolehkan memasuki kahyangan terlebih dahulu

melainkan harus menunggu saudara-saudaranya. Cerita ini dikisahkan dalam episode Swargarohanaparwa, atau

kitab terakhir Mahabharata.

Maharaja dunia

Setelah perang berakhir, Yudistira dan pasukan Pandawa mendapatkan kemenangan, namun anak Yudistira, para

putera Dropadi, dan banyak jagoan di pihak Pandawa seperti misalnya Drestadyumna, Abimanyu, Wirata, Drupada,

Gatotkaca, gugur. Jutaan tentara dari kedua belah pihak telah gugur.

Yudistira melaksanakan upacara Tarpana kepada jiwa-jiwa yang pergi ke akhirat. Setelah kedatangannya di

Hastinapura, dia diangkat menjadi Raja Indraprastha sekaligus Raja Hastinapura.

Sebagaimana sifatnya yang penyabar, Yudistira masih menerima Dretarastra sebagai Raja di kota Hastinapura, dan

mempersembahkan rasa baktinya yang mendalam dan rasa hormatnya kepada yang tua, meskipun perbuatannya

jahat dan biang keladi yang menyebabkan putera-puteranya mati.

Aswamedha

Kemudian Yudistira melangsungkan Aswamedha Yadnya (upacara pengorbanan) untuk menegakkan kembali aturan

Dharma di seluruh dunia. Pada upacara ini, seekor kuda dilepas untuk mengembara selama setahun, dan Arjuna

sang adik Yudistira memimpin pasukan Pandawa, mengikuti kuda tersebut. Para Raja di seluruh negara yang telah

dilalui oleh kuda tersebut harus memilih untuk mengikuti aturan Yudistira atau maju berperang. Semuanya membayar

upeti, sekali lagi Yudistira dinobatkan sebagai Maharaja Dunia dan tak dapat dipungkiri lagi.

Mangkat lalu naik ke surga

Yudistira mendaki gunung Himalaya sebagai perjalanan terakhirnya

Setelah masa permulaan Kali Yuga dan wafatnya Kresna, Yudistira dan saudara-saudaranya mengundurkan diri,
meninggalkan tahta kerajaan kepada satu-satunya keturunan mereka yang selamat dari peperangan di Kurukshetra,
Parikesit, Sang cucu Arjuna. Dengan meninggalkan segala harta dan sifat keterikatan, para Pandawa melakukan

perjalanan terkahir mereka dengan berziarah ke Himalaya.

Saat mendaki puncak, satu persatu – Dropadi dan Pandawa bersaudara – gugur menuju maut, terseret oleh

kesalahan dan dosa mereka yang sesungguhnya. Namun Yudistira mampu mencapai puncak gunung, karena ia

tidak cacat oleh dosa dan kebohongan.

Watak Yudistira yang sesungguhnya muncul saat akhir Mahabharata. Di atas puncak gunung, Indra, Raja para

Dewa, datang untuk membawa Yudistira ke Surga dengan kereta kencananya. Saat Yudistira melangkah mendekati

kereta, sang Dewa menyuruhnya agar meninggalkan anjing yang menjadi teman perjalanannya, karena makhluk tak

suci tidak layak masuk Surga. Yudistira melangkah ke belakang, menolak untuk meninggalkan makhluk yang selama

ini dilindunginya. Indra heran dengannya – “Kau mampu meninggalkan saudara-saudaramu dan tidak melakukan

pembakaran jenazah yang layak untuk mereka…namun kau menolak untuk meninggalkan anjing yang tak tahu
jalan!”

Yudistira menjawab, “Dopadi dan saudara-saudaraku telah meninggalkanku, bukan aku [mereka].” Dan ia menolak

untuk pergi ke surga tanpa anjing tersebut. Pada saat itu si anjing berubah wujud menjadi Dewa Dharma, ayahnya,

yang sedang menguji dirinya…dan Yudistira melewatinya dengan tenang. Yudistira dibawa pergi dengan kereta

Indra. Pada saat mencapai surga ia tidak menemukan saudara-saudaranya yang saleh maupun istrinya, Dropadi.

Namun ia melihat Duryudana dan sekutunya yang jahat. Sang Dewa memberitahu bahwa saudaranya sedang

berada di neraka untuk menebus dosa kecil mereka, sementara Duryudana berada di surga semenjak ia gugur di

tanah yang diberkati, Kurukshetra.

Yudistira dengan tulus ikhlas pergi ke Neraka untuk bertemu dengan saudaranya, namun pemandangan dan suara

yang menyayat serta darah kental membuatnya ngeri. Saat tergoda untuk kabur, ia menguasai diri dan sayup-sayup

mendengar suara Dropadi dan saudaranya tercinta…memanggil-manggil dirinya, menyuruhnya untuk tinggal di sisi

mereka dalam penderitaan. Yudistira memutuskan untuk tinggal, dan menyuruh supaya kusir keretanya untuk

kembali ke surga…sebab ia memilih untuk tinggal di neraka dengan orang-orang baik daripada tinggal di surga

dengan orang jahat. Pada saat itu pemandangan berubah. Kemudian Indra berkata bahwa Yudistira sedang diuji

kembali, dan sebenarnya saudara-saudaranya sudah berada di surga. Setelah menerima kenyataan tersebut,

Yudistira melepaskan jasadnya dan menerima surga.

Yudistira dalam versi pewayangan Jawa

Dalam kisah versi Jawa, Yudistira beristrikan Dewi Dropadi, puteri Prabu Drupada dengan Dewi Gandawati dari

negara Panchala, dan berputera Pancawala (Pancawala). (Menurut kisah India, Drupadi diperistri oleh kelima

Pandawa bersama-sama).

Ia adalah putera sulung Prabu Pandu raja negara Hastina dengan dengan permaisuri Dewi Kunti, putri Prabu

Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura. Ia mempunyai dua orang adik kandung masing-masing

bernama: Bima (Werkudara) dan Arjuna, dan dua orang adik kembar lain ibu, bernama Nakula (Pinten) dan Sadewa
(atau Sahadewa alias Tansen), putra Prabu Pandu dengan Dewi Madrim, puteri Prabu Mandrapati dari negara

Mandaraka. Kelima orang bersaudara ini disebut sebagai Pandawa.


Yudistira dianggap sebagai keturunan (titisan) Dewa Keadilan, Batara Dharma oleh karena itu salah satu julukannya

adalah Dharmasuta, Dharmaputra atau Dharmawangsa. Selain itu ia juga disebut Puntadewa atau Samiaji. Nama

Yudistira sendiri diambil karena dalam tubuhnya menunggal arwah Prabu Yudistira, raja jin negara Mertani (menurut

kisah pewayangan Jawa). Yudistira mempunyai pusaka kerajaan berwujud payung bernama “Kyai Tunggulnaga” dan

sebuah tombak bernama “Kyai Karawelang”.

Ia adalah tipe murni raja yang baik. Darah putih (Seta ludira. Seta berarti putih, ludira berarti darah) mengalir di

nadinya. Tak pernah murka, tak pernah bertarung, tak pernah juga menolak permintaan siapa pun, betapapun

rendahnya sang peminta. Waktunya dilewatkan untuk meditasi dan penghimpunan kebijakan. Tak seperti kesatria

yang lain, yang pusaka saktinya berupa senjata, pusaka andalan Yudistira adalah Kalimasada yang misterius,

naskah keramat yang memuat rahasia agama dan semesta. Dia, pada dasarnya, adalah cendikiawan tanpa pamrih,
yang memerintah dengan keadilan sempurna dan kemurah hatinya yang luhur. Dengan kenampakan yang sama

sekali tanpa perhiasan mencolok, dengan kepala merunduk yang mawas diri, dan raut muka keningratan yang halus,

dia tampil sebagai gambaran ideal tentang “Pandita Ratu” (Raja Pendeta) yang telah menyingkirkan nafsu dunia.

Akan tetapi ada pula kelemahannya, yakni gemar berjudi. Oleh karena kegemarannya ini, Yudistira beberapa kali

tertipu dan dikalahkan dalam adu judi dengan Duryudana, Raja Hastina dan pemuka Korawa. Dalam salah satu

kekalahannya, terpaksa Yudistira (dan Pandawa keseluruhannya) menyerahkan negaranya dan membuang diri ke

hutan selama 13 tahun.

December 25, 2007


Yamawidura - Solo
Posted by topmdi under Aksara Y, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 25, 2007


Yamadipati - Solo
Posted by topmdi under Aksara Y, Gagrak Surakarta
No Comments
December 25, 2007
Wratsangka - Solo
Posted by topmdi under Aksara W, Gagrak Surakarta
No Comments
December 25, 2007
Wisrawa - Solo
Posted by topmdi under Aksara W, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 25, 2007


Wisnu - Solo
Posted by topmdi under Aksara W, Gagrak Surakarta
No Comments
December 25, 2007
Wirasa - Solo
Posted by topmdi under Aksara W, Gagrak Surakarta
No Comments
December 25, 2007
Wisanggeni - Solo
Posted by topmdi under Aksara W, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 25, 2007


Wilutama - Solo
Posted by topmdi under Aksara W, Gagrak Surakarta
No Comments
December 25, 2007
Wibisana - Solo
Posted by topmdi under Aksara W, Gagrak Surakarta
No Comments
December 25, 2007
Watugunung - Solo
Posted by topmdi under Aksara W, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 25, 2007


Wasista - Solo
Posted by topmdi under Aksara W, Gagrak Surakarta
No Comments

December 25, 2007


Utari - Solo
Posted by topmdi under Aksara U, Gagrak Surakarta
No Comments
Utaraa (Sansekerta: Uttarā) atau Utari, adalah nama puteri Raja Wirata. Ia menikah dengan Abimanyu, putra Arjuna.

Dari perkawinannya ia memiliki seorang putera bernama Parikesit. Utara mempunyai tiga saudara bernama Sweta,

Utara, dan Wratsangka. Mereka bertiga tewas di tangan Bisma Dewabrata dalam perang Bharatayuddha. Pada saat

Utaraa mengandung Parikesit, senjata sakti yang dilepaskan oleh Aswatama mengarah ke janinnya. Namun atas

perlindungan gaib dari Kresna, janin tersebut terlindungi. Dengan selamat, bayi tersebut lahir sebagai penerus

Dinasti Kuru dan bernama Parikesit.


December 25, 2007
Utara - Solo
Posted by topmdi under Aksara U, Gagrak Surakarta
No Comments

Utara (Sansekerta: Uttara) adalah nama salah satu putera Raja Wirata. Ia turut serta dalam pertempuran besar di

Kurukshetra dan memihak Pandawa. Ia terbunuh pada hari pertama oleh Salya dari pihak Korawa. Saudaranya yang

lain, yaitu Sweta dan Wretsangka, terbunuh di tangan Bisma. Utara memiliki adik perempuan bernama Utaraa.

Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category
December 25, 2007
Uma - Solo
Posted by topmdi under Aksara U, Gagrak Surakarta
No Comments

December 25, 2007


Ugrasena - Solo
Posted by topmdi under Aksara U, Gagrak Surakarta
No Comments
December 25, 2007
Udawa - Solo
Posted by topmdi under Aksara U, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 25, 2007


Tuhayata - Solo
Posted by topmdi under Aksara T, Gagrak Surakarta
No Comments
December 25, 2007
Trisirah - Solo
Posted by topmdi under Aksara T, Gagrak Surakarta
No Comments
December 25, 2007
Trinetra - Solo
Posted by topmdi under Aksara T, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 25, 2007


Trikaya - Solo
Posted by topmdi under Aksara T, Gagrak Surakarta
No Comments
December 25, 2007
Trijata - Solo
Posted by topmdi under Aksara T, Gagrak Surakarta
No Comments
December 25, 2007
Trigangga - Solo
Posted by topmdi under Aksara T, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 25, 2007


Tremboko - Solo
Posted by topmdi under Aksara T, Gagrak Surakarta
No Comments
December 25, 2007
Togog - Solo
Posted by topmdi under Aksara T, Gagrak Surakarta
No Comments
December 25, 2007
Tembara - Solo
Posted by topmdi under Aksara T, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 25, 2007


Tangsen - Solo
Posted by topmdi under Aksara T, Gagrak Surakarta
No Comments
December 25, 2007
Tambak Ganggeng - Solo
Posted by topmdi under Aksara T, Gagrak Surakarta
No Comments

December 24, 2007


Suryawati - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Suryatmaja - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Surya - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Surtikanti - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Suratrimantra - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sumitra - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sumantri - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Sumali - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sulastri - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sukesi - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Sugriwa - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sucitra - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Subali Resi - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
« Previous Page — Next Page »

Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Subadra - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Subadra atau Sembadra (dalam tradisi pewayangan Jawa) merupakan salah satu tokoh penting dalam Wiracarita

Mahabharata, kisah epik Hindu. Ia merupakan puteri Prabu Basudewa (Raja di Kerajaan Surasena), dan juga

merupakan saudara tiri Krishna atau Kresna. Subadra (Dewi Sumbadra menurut ucapan Jawa) ini yang merupakan

penjelmaan dari Dewi Sri adalah istri pertama dari Arjuna (putra Pandu ketiga), dan ibu dari Abimanyu.

Ia juga terkenal dalam budaya pewayangan Jawa sebagai seorang putri anggun, lembut, tenang, setia dan patuh

pada suaminya. Ia merupakan sosok ideal priyayi putri Jawa. Subadra yang sewaktu kecil bernama Rara Ireng

mempunyai dua orang kakak yaitu Kakrasana yang kemudian menjadi raja Mandura bergelar Prabu Baladewa dan

Narayana yang kemudian menjadi raja di Dwarawati dengan gelar Prabu Sri Batara Kresna. Subadra menikah

dengan salah satu anggota Pandawa yakni Arjuna. Dari rahim Sumbadra inilah lahir Abimanyu yang kelak kemudian

akan menurunkan Prabu Parikesit.


Riwayat

Subadra lahir sebagai puteri bungsu pasangan Basudewa dan Rohini, istrinya yang lain. Subadra dilahirkan setelah

kedua kakaknya, yaitu Kresna dan Baladewa, membebaskan Basudewa yang dikurung oleh Kamsa di penjara

bawah tanah. Kemudian Ugrasena, ayah Kamsa, diangkat menjadi raja di Mathura dan Subadra hidup sebagai puteri

bangsawan di kerajaan tersebut bersama dengan keluarganya.

Saat Arjuna menjalani masa pembuangannya karena tanpa sengaja mengganggu Yudistira yang sedang tidur

dengan Dropadi, ia berkunjung ke Dwaraka, yaitu kediaman sepupunya yang bernama Kresna, karena ibu Arjuna

(Kunti) bersaudara dengan ayah Kresna (Basudewa). Di sana Arjuna bertemu dengan Subadra dan mengalami

nuansa romantis bersamanya. Kresna pun mengetahui hal tersebut dan berharap Arjuna menikahi Subadra, demi

yang terbaik bagi Subadra. Pada saat itu status Arjuna adalah suami yang memiliki tiga istri, yaitu Dropadi,

Chitrāngadā, dan Ulupi. Maka pernikahannya dengan Subadra menjadikan Subadra sebagai istrinya yang keempat.

Subadra dan Arjuna memiliki seorang putera, bernama Abimanyu. Saat Pandawa kalah main dadu dengan Korawa,

mereka harus menjalani masa pembuangan selama dua belas tahun, ditambah masa penyamaran selama satu

tahun. Subadra dan Abimanyu tinggal di Dwaraka sementara ayah mereka mengasingkan diri di hutan. Pada masa-

masa itu Abimanyu tumbuh menjadi pria yang gagah dan setara dengan ayahnya.

Ketika perang besar di Kurukshetra berkecamuk, para pria terjun ke peperangan sementara para wanita diam di

rumah mereka. Abimanyu dan Arjuna turut serta ke medan laga dan meninggalkan Subadra di Dwaraka. Pada waktu

itu umur Abimanyu 16 tahun. Saat pertempuran berakhir, hanya Arjuna yang selamat sementara seluruh puteranya

yang turut berperang gugur, termasuk Abimanyu yang sangat dicintai Arjuna dan Subadra. Namun sebelum gugur,

Abimanyu sudah menikah dengan Utara dan memiliki seorang putera bernama Parikesit. Parikesit kemudian menjadi

raja Hastinapura menggantikan Yudistira, pamannya. Subadra menjadi penasihat serta guru bagi cucunya tersebut.

Pemujaan

Di India, Subhadra menjadi salah satu dari tiga dewa yang dipuja di Kuil Jagannath di Puri, bersama dengan
kakaknya yang bernama Krishna (sebagai Jagannatha) dan Balarama (atau Balabhadra). Salah satu kereta dalam

Ratha Yatra yang diselenggarakan secara tahunan didedikasikan untuknya. Menurut beberapa interpretasi,
Subhadra dianggap sebagai inkarnasi dari YogMaya.

December 24, 2007


Sritanjung - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Srimahapunggung - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Srikandi - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sitija - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Siti Sundari - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Sisupala - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sinta - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Singa Singa - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Setyaki - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Satyaki (alias Yuyudhana) adalah seorang tokoh dari wiracarita Mahabharata. Ia adalah saudara ipar Kresna. Ia

berperang pada pihak Pandawa dalam perang Bharatayuddha. Ia merupakan salah satu tokoh dari Wangsa Wresni,
selain Kertawarma dan Kresna.

Pertempuran di Kurukshetra

Dalam pertempuran besar di Kurukshetra, Satyaki memihak Pandawa. Pada pertempuran di hari keempat belas,

Satyaki terlibat duel sengit dengan Burisrawa yang sudah lama bermusuhan dengan Satyaki. Burisrawa menyerang

Satyaki bertubi-tubi sampai ia jatuh pingsan karena lelah. Saat Burisrawa bersiap-siap untuk membunuh Satyaki,

Arjuna datang dan memanah lengan Burisrawa sampai putus.

Burisrawa kesakitan dan mencaci maki Arjuna yang menyerang tiba-tiba. Arjuna berkata bahwa sudah menjadi

kewajibannya untuk melindungi nyawa Satyaki atas dasar persahabatan. Ketika Satyaki mulai sadar dari pingsannya,

ia mengambil senjata kemudian memenggal Burisrawa.


Kematian

Tiga puluh enam tahun setelah pertempuran di Kurukshetra berakhir, Wangsa Wresni dan Yadawa berpesta hingga

mabuk. Dalam peristiwa tersebut, Kertawarma dan Satyaki saling mengejek. Satyaki menghina Kretawarma yang

tega membunuh prajurit dalam keadaan tidur sedangkan Kertawarma menghina Satyaki yang membunuh Burisrawa

dalam keadaan tak bersenjata. Setelah perang mulut dengan sengit, mereka bertempur, begitu pula yang dilakukan

Wangsa Wresni lainnya. Atas kutukan Gandari, Wangsa Wresni saling bertarung dengan sesamanya sampai binasa,

kecuali Kresna dan Baladewa serta para wanita.

Satyaki dalam pewayangan Jawa

Kelahirannya di waktu ibu Satyaki mau dibawa oleh pencuri, tidak ada yang mampu mengalahkan pencuri itu bahkan

para Pandawa. Setelah lahir Satyaki ia dido’akan agar cepat tumbuh, seketika ia menjadi ksatria yang gagah,

suaranya mantap mirip Bima, tapi tubuhnya kecil, dialah yang mampu mengalahkan maling tersebut yang bernama

Singomulanjoyo, kemudian nama itu dipakai oleh Satyaki.

Nama lainnya adalah Yuyudana, Bimo Kunthing, Singomulanjoyo. Mempunyai senjata Gada Wesi Kuning pemberian

Prabu Kresna.

December 24, 2007


Setyaka - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Setyaboma - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Setiawan - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Setiajit - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Seta - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Sentanu - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sengkuni - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Sengkuni, Sangkuni atau Sakuni (Sansekerta: śakuni) adalah seorang tokoh antagonis dari wiracarita Mahabharata

dan merupakan paman para Korawa, sebab beliau adalah kakak lelaki daripada Dewi Gandari, ibu para Korawa.

Ketika para Pandawa berjudi melawan para Korawa, ialah yang menjadi pemain pada pihak Korawa.
Di India, Sangkuni disebut Syakuni, sedangkan di tanah Sunda, ia disebut patih Sangkuning.

Permainan dadu

Untuk membantu keponakannya merebut kekayaan Yudistira di Indraprastha, Sangkuni berencana agar Duryodana

mengundang Yudistira bermain dadu dengan taruhan harta dan kerajaan. Dalam permainan tersebut, Sangkuni

berjanji akan mewakili Duryodana agar ia bisa menang dengan menggunakan kelicikannya. Niat tersebut disetujui

oleh Duryodana. Dretarastra ingin mempertimbangkan niat tersebut matang-matang dengan para pemuka keluarga

yang lain, namun karena hasutan Sangkuni, ia merelakan rencana tersebut. Undangan pun dikirim ke Indraprastha

dan pada hari yang ditentukan, Yudistira bersama keempat adiknya beserta istri mereka datang ke Hastinapura.

Pada awal permainan, Sangkuni mengalah dan membiarkan Yudistira menikmati kemenangan kecilnya. Tak berapa

lama kemudian, Sangkuni selalu memenangkan permainan. Angka dadu yang diminta Sangkuni pasti akan muncul
sesuai dengan harapannya dan tak pernah meleset, karena ia menggunakan kesaktiannya. Harta dan kerajaan milik

Yudistira pun jatuh ke tangan Duryodana, termasuk saudara-saudaranya beserta istri mereka, yaitu Dropadi. Namun

berkat pertolongan dari Dretarastra, Yudistira memperoleh kebebasannya kembali. Hartanya pun dikembalikan.

Karena kecewa, permainan dadu pun diselenggarakan untuk yang kedua kalinya. Kali ini taruhannya adalah siapa

yang kalah harus meninggalkan kerajaan dan mengasingkan diri di dalam hutan selama 12 tahun, dan setelah itu

hidup dengan penyamaran di kerajaan lain selama setahun, dan setelah itu baru diperbolehkan kembali ke

kerajaannya. Setelah menerima persyaratan tersebut, Yudistira bermain dadu untuk yang kedua kalinya dengan

Duryodana yang diwakilkan oleh Sangkuni. Namun kali ini pun ia kalah dan terpaksa mengasingkan diri ke dalam

hutan selama 12 tahun dan hidup dalam penyamaran selama setahun, bersama dengan adik-adiknya dan istri

mereka.

Kematian

Dalam pertempuran besar di Kurukshetra, Sangkuni memihak Duryodana. Ia gugur di tangan Sahadewa.

Sangkuni dalam pewayangan Jawa


Arya Sakuni yang waktu mudanya bernama Trigantalpati adalah putra kedua Prabu Gandara, raja negara

Gandaradesa dengan permaisuri Dewi Gandini. Ia mempunyai tiga orang saudara kandung masing-masing bernama

Dewi Gandari, Arya Surabasata dan Arya Gajaksa.

Arya Sakuni menikah dengan Dewi Sukesti, putri Prabu Keswara raja negara Plasajenar. Dari perkawinan tersebut ia

memperoleh tiga orang putra bernama Arya Antisura alias Arya Surakesti, Arya Surabasa dan Dewi Antiwati yang

kemudian diperistri Arya Udawa, patih negara Dwarawati.

Sakuni mempunyai sifat atau watak yang tangkas, pandai bicara, buruk hati, dengki dan licik. Ia bukan saja ahli

dalam siasat dan tata pemerintahan serta ketatanegaraan, tetapi juga mahir dalam olah keprajuritan. Sakuni

mempunyai pusaka berwujud “Cis” (Tombak pendek untuk memerintah gajah) yang mempunyai khasiat dapat

menimbulkan air bila ditancapkan ke tanah.


Dalam perang Bharatayuddha, Sakuni diangkat menjadi Senapati Agung Kurawa setelah gugurnya Prabu Salya, raja
negara Mandaraka. Ia mati dengan sangat menyedihkan di tangan Bima. Tubuhnya dikuliti dan kulitnya diberikan

kepada Dewi Kunti untuk melunasi sumpahnya. Mayat Sakuni kemudian dihancurkan dengan Gada Rujakpala.

December 24, 2007


Sembadra - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Sekipu - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sayempraba - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sawitri - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Satyawati - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sasrawindu - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sasrahadimurti - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Sasikirana - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sangkanturunan - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sanga Sanga - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Sambu - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Samba - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Salya - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Salya (Sansekerta: Shalya) merupakan kakak Madri, yaitu ibu Nakula dan Sadewa, dalam wiracarita Mahabharata.

Salya pemimpin Madra-desa atau Kerajaan Madra. Ia merupakan paman Nakula dan Sadewa dari keluarga ibunya

dan dicintai serta disayangi oleh para Pandawa. Salya merupakan pemanah mahir serta ksatria yang sangat

tangguh. Dalam pertempuran akbar di Kurukshetra, ia memihak Korawa. Ia terbunuh pada hari kedelapan belas oleh

Yudistira, salah satu keponakannya.

Salya dalam Mahabharata

Salya merupakan raja di Kerajaan Madra atau Madra-desa, yaitu salah satu kerajaan India Kuno yang terletak di

sebelah barat Asia Selatan. Ia merupakan ksatria yang sangat tangguh pada zamannya. Ia sangat disegani oleh

keponakannya, yaitu Pandawa.

Sebenarnya, Salya memihak Pandawa saat pertempuran akbar di Kurukshetra. Salya mengirimkan pasukannya
dengan jumlah besar menuju markas Pandawa. Dalam perjalanan, ia dijamu oleh Duryodana yang ia kira adalah

Yudistira. Hal itu sebenarnya merupakan siasat Duryodana agar mau membantu Korawa dalam pertempuran

nantinya. Karena merasa berhutang budi, Salya pun mau memihak Korawa. Kemudian Salya bertemu dengan

Yudistira dan meminta ma’af atas kekeliruannya.

Dengan segan, Salya terjun ke medan laga Kurukshetra di pihak Korawa. Salya berperan sebagai kusir kereta Karna

dalam peperangan tersebut. Saat Karna terbunuh pada hari ketujuh belas, Salya diangkat menjadi pemimpin

pasukan Korawa. Namun ia memegang jabatan tersebut hanya setengah hari, sebab itu ia berhasil dibunuh oleh

Yudistira dengan menggunakan senjata tombak.

Salya dalam pewayangan Jawa

Prabu Salya ketika mudanya bernama Narasoma, adalah putera Prabu Mandrapati, raja Negara Mandaraka dari

permaisuri Dewi Tejawati. Prabu Salya adalah saudara kandung bernama Dewi Madrim yang kemudian menjadi

isteri kedua Prabu Pandu, raja negara Astina.

Prabu Salya menikah dengan Dewi Pujawati alias Dewi Setyawati. Putri tunggal Bagawan Bagaspati, brahmana-

raksasa di pertapan Argabelah, dengan Dewi Darmastuti, seorang hapsari atau bidadari. Dari perkawinan tersebut, ia

dikaruniai lima orang putra, yaitu: Dewi Erawati, Dewi Surtikanti, Dewi Banowati, Arya Burisrawa dan Bambang

Rukmarata.

Prabu Salya mempunyai sifat tinggi hati, sombong, congkak, banyak bicara, cerdik dan pandai. Ia sangat sakti, lebih-

lebih setelah mendapat warisan Aji Candrabirawa dari mendiang mertuanya, Bagawan Bagaspati yang mati dibunuh

olehnya.

Prabu Salya naik tahta kerajaan Mandaraka menggantikan ayahnya, Prabu Mandrapati yang meninggal bunuh diri.

Pada perang Bharatayuddha, Salya memihak Korawa dan menjadi pemimpin pasukan setelah Karna. Akhir

riwayatnya diceritakan, Prabu Salya gugur di medan pertempuran Bharatayudha oleh Prabu Yudhistira alias Prabu

Puntadewa dengan pusaka Jamus Kalimasada.

Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Sakutrem - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sakuntala - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Sakri - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
« Previous Page — Next Page »

Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Sadewa - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
Sadewa atau Sahadewa (Sansekerta : sahadéva), adalah seorang protagonis dari wiracarita Mahabharata. Ia

adalah seorang Pandawa pula, tetapi berbeda dengan Yudistira, Bima, dan Arjuna ia adalah putra Dewi Madrim, adik

Dewi Kunti. Ia adalah saudara kembar Nakula dan dianggap penitisan Aswino, Dewa Kembar.

Sadewa pandai dalam ilmu astronomi yang ia pelajari di bawah bimbingan resi Drona. Sementara itu juga mengerti

banyak mengenai penggembalaan sapi. Oleh karena itu ia bisa menyamar menjadi seorang gembala pada saat di

negeri Wirata yang dikisahkan pada Wirataparwa. Selama masa penyamarannya di Kerajaan Matsya yang dipimpin

Raja Wirata, Sadewa bertanggung jawab merawat sapi dan bersumpah akan membunuh Raja Gandhara, Sangkuni,
yang telah memperdaya mereka sepanjang hidup. Ia berhasil memenuhi sumpahnya untuk membunuh Sangkuni,

pada saat hari kedua menjelang perang Bharatayuddha berakhir.

Kepribadian

Dari kelima Pandawa, Sadewa yang termuda. Meski demikian ia dianggap sebagai yang terbijak di antara mereka.

Yudistira bahkan berkata bahwa ia lebih bijak daripada Brihaspati, guru para dewa.

Sadewa adalah seorang ahli perbintangan yang ulung dan dianggap mengetahui kejadian yang akan terjadi dalam

Mahabharata namun ia dikutuk bahwa apabila ia membeberkan apa yang diketahuinya, kepalanya akan terbelah.

Maka dari itu, selama dalam kisah ia cenderung diam saja dibandingkan dengan saudaranya yang lain.

Seperti Nakula (kakaknya), Sadewa adalah ksatria berpedang yang ulung. Ia juga menikahi puteri Jarasanda, Raja di

Magadha dan adik iparnya juga bernama Sadewa.

Keturunan

Seluruh Pandawa bersama-sama menikahi Dropadi, dan Dropadi memberikan masing-masing seorang putera

kepada mereka. Dari hasil hubungannya dengan Dropadi, Sadewa memiliki putera bernama Srutakama.

Selain itu, Sadewa memiliki putra yang bernama Suhotra, dari istrinya Wijaya.

December 24, 2007


Sadana - Solo
Posted by topmdi under Aksara S, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Rukmini - Solo
Posted by topmdi under Aksara R, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Rukmakala - Solo
Posted by topmdi under Aksara R, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Resi Anggira
Posted by topmdi under Aksara R, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Rekatatama - Solo
Posted by topmdi under Aksara R, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Rasawulan - Solo
Posted by topmdi under Aksara R, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Ramawijaya - Solo
Posted by topmdi under Aksara R, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Rama Bargawa - Solo
Posted by topmdi under Aksara R, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Rajamala - Solo
Posted by topmdi under Aksara R, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Ragu - Solo
Posted by topmdi under Aksara R, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Putut Supawala - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Purwati - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Purwaganti - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Puntadewa - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Priambada - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Premadi - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Pratipa - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Prahasta - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Pragoto - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Pragalba - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Prabowo - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Prabasini - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Prabu Kusuma - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Prabakesa - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Petruk w/ bujang - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Pertiwi - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Pergiwati - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Pergiwa - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Parikesit - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Parikesit Ratu - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
Parikesit (Sansekerta: parikṣita, parikṣit) atau Pariksita adalah seorang tokoh dari wiracarita Mahabharata. Ia

adalah raja Hastina dan cucu Arjuna. Ayahnya adalah Abimanyu sedangkan putranya adalah Janamejaya.

Dalam kitab Adiparwa, akhir riwayatnya diceritakan bahwa Prabu Parikesit meninggal karena digigit Naga Taksaka

yang bersembunyi di dalam buah jambu, sesuai dengan kutukan Brahmana Granggi yang merasa sakit hati karena

Prabu Parikesit telah mengkalungkan bangkai ular hitam di leher ayahnya, Bagawan Sarmiti.

Parikesit tewas digigit oleh Naga Taksaka, setelah beliau diramalkan akan dibunuh oleh seekor ular. Maka beliaupun

menyuruh untuk mengadakan upacara sarpayajna untuk mengusir semua ular. Tetapi karena sudah takdirnya, beliau

pun digigit sampai wafat.


Peristiwa sebelum kelahiran

Saat Maharaja Parikesit masih berada dalam kandungan, ayahnya yang bernama Abimanyu, turut serta bersama

Arjuna dalam sebuah pertempuran besar di daratan Kurukshetra. Dalam pertempuran tersebut, Abimanyu gugur

dalam serangan musuh yang dilakukan secara curang. Abimanyu meninggalkan ibu Parikesit yang bernama Utara

karena gugur dalam perang.

Pada pertempuran di akhir hari kedelapan belas, Aswatama bertarung dengan Arjuna. Aswatama dan Arjuna sama-

sama sakti dan sama-sama mengeluarkan senjata Brahmāstra. Karena dicegah oleh Resi Byasa, Aswatama

dianjurkan untuk mengarahkan senjata tersebut kepada objek lain. Maka Aswatama memilih agar senjata tersebut

diarahkan ke kandungan Utara. Senjata tersebut pun membunuh Parikesit yang maish berada dalam kandungan.

Atas pertolongan dari Kresna, Parikesit dihidupkan kembali. Aswatama kemudian dikutuk agar mengembara di dunia

selamanya.

Ramalan kehidupan

Resi Dhomya memprediksikan kepada Yudistira setelah Parikesit lahir bahwa ia akan menjadi pemuja setia Dewa

Wisnu, dan semenjak ia diselamatkan oleh Bhatara Kresna, ia akan dikenal sebagai Vishnurata (Orang yang selalu

dilindungi oleh Sang Dewa).

Resi Dhomya memprediksikan bahwa Parikesit akan selamanya mencurahkan kebajikan, ajaran agama dan

kebenaran, dan akan menjadi pemimpin yang bijaksana, tepatnya seperti Ikswaku dan Rama dari Ayodhya. Ia akan

menjadi ksatria panutan seperti Arjuna, yaitu kakeknya sendiri, dan akan membawa kemahsyuran bagi keluarganya.

Raja Hastinapura

Saat dimulainya zaman Kali Yuga, yaitu zaman kegelapan, dan mangkatnya Kresna Awatara dari dunia fana, lima

Pandawa bersaudara pensiun dari pemerintahan. Parikesit sudah layak diangkat menjadi raja, dengan Krepa
sebagai penasihatnya. Beliau menyelenggarakan Aswameddha Yajña tiga kali di bawah bimibingan Krepa.

Kehidupan selanjutnya

Pada suatu hari, Raja Parikesit pergi berburu ke tengah hutan. Ia kepayahan menangkap seekor buruan, lalu

berhenti untuk beristirahat. Akhirnya ia sampai di sebuah tempat pertapaan. Di pertapaan tersebut, tinggalah

Bagawan Samiti. Beliau sedang duduk bertapa dan membisu. Ketika Sang Raja bertanya kemana buruannya pergi,

Bagawan Samiti hanya diam membisu karena pantang berkata-kata saat sedang bertapa. Karena pertanyaannya

tidak dijawab, Raja Parikesit marah dan mengambil bangkai ular dengan anak panahnya, lalu mengalungkannya ke

leher Bagawan Samiti. Kemudian Sang Kresa menceritakan kejadian tersebut kepada putera Bagawan Samiti yang

bernama Sang Srenggi yang bersifat mudah marah.

Saat Sang Srenggi pulang, ia melihat bangkai ular melilit leher ayahnya. Kemudian Sang Srenggi mengucapkan

kutukan bahwa Raja Parikesit akan mati digigit ular setelah tujuh hari sejak kutukan tersebut diucapkan. Bagawan
Samiti kecewa terhadap perbuatan puteranya tersebut, yang mengutuk raja yang telah memberikan mereka tempat

berlindung. Akhirnya Bagawan Samiti berjanji akan mengakhiri kutukan tersebut. ia mengutus muridnya untuk

memberitahu Sang Raja, namun Sang Raja merasa malu untuk mengakhiri kutukan tersebut dan memilih untuk

berlindung.

Kemudian Naga Taksaka pergi ke Hastinapura untuk melaksanakan perintah Sang Srenggi untuk menggigit Sang

Raja. Penjagaan di Hastinapura sangat ketat. Sang Raja berada dalam menara tinggi dan dikelilingi oleh prajurit,

brahmana, dan ahli bisa. Untuk dapat membunuh Sang Raja, Naga Taksaka menyamar menjadi ulat dalam buah

jambu. Kemudian jambu tersebut diduguhkan kepada Sang Raja. Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Raja

Parikesit wafat setelah digigit Naga Taksaka yang menyamar menjadi ulat dalam buah jambu.

Keturunan Raja Parikesit

Parikesit menikahi Madrawati, dan memiliki seorang putera bernama Janamejaya. Janamejaya diangkat menjadi raja

pada usia yang masih muda. Janamejaya menikahi Wapushtama, dan memiliki dua putera bernama Satanika dan

Sankukarna. Satanika diangkat sebagai raja menggantikan ayahnya dan menikahi puteri dari Kerajaan Wideha,

kemudian memiliki seorang putra bernama Aswamedhadatta.

Para keturunan Raja Parikesit tersebut merupakan raja legendaris yang memimpin Kerajaan Kuru, namun riwayatnya

tidak muncul dalam Mahabharata.

Parikesit dalam pewayangan Jawa

Parikesit adalah putera Abimanyu alias Angkawijaya, kesatria Plangkawati dengan permaisuri Dewi Utari, puteri

Prabu Matsyapati dengan Dewi Ni Yustinawati dari Kerajaan Wirata. Ia seorang anak yatim, karena ketika ayahnya

gugur di medan perang Bharatayuddha, ia masih dalam kandungan ibunya. Parikesit lahir di istana Hastinapura

setelah keluarga Pandawa boyong dari Amarta ke Hastinapura.

Parikesit naik tahta negara Hastinapura menggantikan kakeknya Prabu Karimataya, nama gelar Prabu Yudistira

setelah menjadi raja negara Hastinapura. Ia berwatak bijaksana, jujur dan adil.

Prabu Parikesit mempunyai 5 (lima) orang permasuri dan 8 (delapan) orang putera, yaitu:

Dewi Puyangan, berputera Ramayana dan Pramasata

Dewi Gentang, berputera Dewi Tamioyi

Dewi Satapi alias Dewi Tapen, berputera Yudayana dan Dewi Pramasti

Dewi Impun, berputera Dewi Niyedi

Dewi Dangan, berputera Ramaprawa dan Basanta.

December 24, 2007


Parikenan - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments

December 24, 2007


Panyarikan - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Pandu - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
Pandu (Sansekerta: dieja Pāṇḍu) adalah nama salah satu tokoh dalam wiracarita Mahabharata, ayah dari para

Pandawa. Pandu merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, yaitu Dretarasta yang sebenarnya merupakan

pewaris dari Kerajaan Kuru dengan pusat pemerintahan di Hastinapura, tetapi karena buta maka tahta diserahkan

kepada Pandu dan Widura, yang tidak memiliki ilmu kesaktian apapun tetapi memiliki ilmu kebijaksanaan yang luar

biasa terutama bidang ketatanegaraan.

Pandu memiliki dua orang istri, yaitu Kunti dan Madri. Sebenarnya Pandu Dewanata tidak bisa mempunyai anak

karena dikutuk oleh seorang resi, karena pada saat resi tersebut menyamar menjadi kijang untuk bercinta, Pandu

memanah hingga resi itu tewas. Kedua istri Pandu Dewanata mengandung dengan cara meminta kepada Dewa.
Pandu Dewanata akhirnya tewas karena kutukan yang ditimpa kepadanya, dan Madri menyusul suaminya dengan

membakar dirinya.

Arti nama
Nama Pandu atau pāṇḍu dalam bahasa Sansekerta berarti pucat, dan kulit beliau memang pucat, karena ketika

ibunya (Ambalika) menyelenggarakan upacara putrotpadana untuk memperoleh anak, ia berwajah pucat.

Kelahiran

Ayah Pandu adalah Wicitrawirya dan ibunya adalah Ambalika. Saat Wicitrawirya wafat, ia belum memiliki keturunan.

Maka Ambalika diserahkan kepada Bagawan Byasa agar diupacarai sehingga memperoleh anak. Ambalika disuruh

oleh Satyawati untuk mengunjungi Byasa ke dalam kamar sendirian, dan di sana ia akan diberi anugerah. Ia juga

disuruh agar terus membuka matanya supaya jangan melahirkan putera yang buta (Dretarastra) seperti yang telah

dilakukan Ambika. Maka dari itu, Ambalika terus membuka matanya namun ia menjadi pucat setelah melihat rupa

Sang Bagawan (Byasa) yang luar biasa. Maka dari itu, Pandu (puteranya), ayah para Pandawa, terlahir pucat.

Kehidupan

Pandu merupakan seorang pemanah yang mahir. Ia memimpin tentara Dretarastra dan juga memerintah kerajaan

untuknya. Pandu menaklukkan wilayah Dasarna, Kashi, Anga, Wanga, Kalinga, Magadha, dan lain-lain.

Pandu menikahi Kunti, puteri Raja Kuntibhoja dari Wangsa Wresni, dan Madri, puteri Raja Madra. Saat berburu di

hutan, tanpa sengaja Pandu memanah seorang resi yang sedang bersenggama dengan istrinya. Atas perbuatan

tersebut, Sang Resi mengutuk Pandu agar kelak ia meninggal saat bersenggama dengan istrinya. Maka dari itu,

Pandu tidak bisa memiliki anak dengan cara bersenggama dengan istrinya. Dengan kecewa, Pandu meninggalkan

hutan bersama istrinya dan hidup seperti pertapa. Di dalam hutan, Kunti mengeluarkan mantra rahasianya dan

memanggil tiga Dewa, Yaitu Yama, Bayu, dan Indra. Dari ketiga Dewa tersebut, ia meminta masing-masing seorang

putera. Ketiga putera tersebut adalah Yudistira, Bima, dan Arjuna. Kunti juga memberi kesempatan kepada Madri
untuk meminta seorang putera dari Dewa yang dipanggilnya, dan Madri memanggil Dewa Aswin. Dari Dewa
tersebut, Madri menerima putera kembar, diberi nama Nakula dan Sadewa.

Kelima putra pandu dikenal sebagai Pandawa.

Kematian

Lima belas tahun setelah ia hidup membujang, ketika Kunti dan putera-puteranya berada jauh, Pandu mencoba

untuk bersenggama dengan Madri. Atas tindakan tersebut, Pandu wafat sesuai dengan kutukan yang diucapkan oleh

resi yang pernah dibunuhnya. Kemudian Madri menitipkan putera kembarnya, Nakula dan Sadewa, agar dirawat oleh

Kunti sementara ia membakar dirinya sendiri untuk menyusul suaminya ke alam baka.

December 24, 2007


Pancawala - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments

December 24, 2007


Palupi - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
Gagrak Surakarta
Archived Posts from this Category

December 24, 2007


Palasara - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Padmanaba - Solo
Posted by topmdi under Aksara P, Gagrak Surakarta
No Comments
December 24, 2007
Niwatakawaca - Solo
Posted by topmdi under Aksara N, Gagrak Surakarta
No Comments