Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

FISIOLOGI TUMBUHAN
JALUR PENTOSA FOSFAT

OLEH :
KELOMPOK 1
GISELLA GERUNGAN (17 507 082)

FITRIANA DEWI (17 507 099)

FREDIS HAMARAUK (17 507 114)

YESIKA KOKE (17 507 044)

SEMESTER 6-C
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MANADO
2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya atas berkat
dan penyertaan-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Dalam makalah ini
kami membahas tentang jalur pentosa fosfat. Karena itu kami berterima kasih kepada Dra.
Fanny N. Nanlohy, M.P., DHET selaku Dosen mata kuliah Fisiologi Tumbuhan yang telah
memberikan tugas ini.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan pembaca tentang Fisiologi Tumbuhan. Kami juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan. Oleh sebab itu, kami berharap adanya
saran dan usulan untuk perbaikan makalah kami kedepannya.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami dan dapat berguna bagi siapapun yang
membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam pengetikan
atau jika terdapat kata-kata yang kurang berkenan sambil mengingatkan sekali lagi bahwa
kami, kelompok 1 memohon kritik dan saran yang membangun dari pembaca.

Tondano, 13 April 2020

Kelompok 1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Makhluk hidup di muka bumi ini selalu memerlukan energi dalam kehidupannya
sehari-hari. Dalam proses penyediaan energi baik pada tumbuhan maupun manusia, selalu
melalui berbagai rentetan reaksi kimia. Seluruh proses kimia atau reaksi kimia yang terjadi di
dalam sel yang berupa reaksi penyusunan energi dan reaksi penggunaan energi biasa kita
sebut dengan Metabolisme. Energi yang ada dalam tubuh manusia haruslah seimbang sesuai
yang dibutuhkan oleh tubuhnya
Jalur metabolik yang utama untuk penggunaan glukosa adalah glikolisis dan lintasan
pentosa fosfat. Lintasan pentosa fosfat atau heksosa monofosfat shunt merupakan jalur
alternatif untuk metabolisme glukosa. Lintasan pentosa fosfat lebih kompleks dari pada
glikolisis. Lintasan ini tidak menghasilkan ATP.
Glukosa, fruktosa, dan galaktosa secara kuantitatif merupakan heksosa terpenting
yang diserap dari traktus gastrointestinal. Ketiga unsur ini berasal dari masing-masing pati,
sukrosa, dan laktosa yang terdapat di dalam makanan. Untuk konversi fruktosa dan galaktosa
menjadi glukosa telah dibentuk lintasan yang khusus terutama di hati.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dan manfaat jalur pentosa fosfat?
2. Bagaimana proses dari jalur pentosa fosfat?
3. Apa saja enzim yang berperan dalam reaksi jalur pentosa fosfat?
4. Apa hasil akhir dari jalur pentosa fosfat?

C. Tujuan
Untuk memperkaya pengetahuan mengenai jalur pentosa fosfat sebagai salah satu
proses metabolisme yang terjadi pada tumbuhan.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian dan Manfaat Jalur Pentosa Fosfat


Selain glikolisis, jalur pentosa fosfat (nama lain: jalur phosphogluconate  atau  hexose
monophosphate shunt) adalah proses yang mengubah glukosa menjadi energi (NADH) dan
ribosa 5-fosfat dan gula pentosa. Jalur fosfoglukonat ini merupakan salah metabolisme utama
Sel yang mampu menghasilkan energi sekaligus prekursor metabolisme lain.

Siklus ini juga disebut hexose monophosphate shunt karena molekul glukosa 6-fosfat


(gula heksosa) tidak langsung memasuki glikolisis, melainkan diubah terlebih dahulu menjadi
ribulosa 5-fosfat (gula pentosa). Berdasarkan manfaat jalur pentosa fosfat, jalur ini dipilih
oleh sel ketika sel membutuhkan energi pereduksi yakni NADPH untuk proses biosintesis
berbagai molekul.Selain NADPH, jalur ini juga menghasilkan gula pentosa untuk sintesis
asam nukleat dan eritrosa fosfat untuk menyintesis asam amino atau senyawa metabolit
aromatik. Hasil akhir dari jalur pentosa fosfat adalah G3P yang akan diproses dalam
Glikolisis atau digunakan untuk sintesis lipid.

Jalur pentosa fosfat merupakan proses pengubahan glukosa menjadi gula berkarbon 5
(gula pentosa) dengan juga menghasilkan NADPH. Jalur ini juga disebut dengan nama Jalur
Fosfoglukonat dan Jalur Heksosa Monofosfat. Sel-sel yang aktif membelah. jalur ini untuk
menghasilkan pentosa sebagai bahan baku DNA, RNA, ATP, dan koenzim-A. Hasil lain jalur
in berupa NADPH sangat penting bagi proses reduksi untuk menangkal bahaya dari radikal
bebas oksigen. NADPH akan menangkal proses oksidasi ini sehingga mencegah terjadinya
kerusakan sel dan jaringan.

Jalur pentose fosfat berguna dalam hal beikut :

 Memanfaatkan sumber karbon seperti 3-xylose, 3-ribose dan 3-arabinose


 Berperan dalam biosintesis lipopolisakarida
B. Fase Oksidatif Jalur Pentosa Fosfat
Fase oksidatif dalam jalur pentosa fosfat merupakan proses pengubahan glukosa menjadi
gula pentosa dalam bentuk ribosa 5-fosfat. Gula pentosa tersebut digunakan sebagai bahan
baku dalam pembentukan DNA, RNA, ATP, dan koenzim A. Fase ini terjadi pada jaringan
yang aktif membelah menghasilkan sel-sel baru.

Tahapan fase oksidatif jalur pentose fosfat adalah sebagai berikut.

 Glukosa difosforilasi sehingga menjadi glukosa 6-fosfat, dikatalisis enzim


heksokinase.
 Pengubahan glukosa 6-fosfat menjadi 6 fosfo glukono-lakton yang dikatalisis enzim
glukosa 6-fosfat dehidrogenase. Pada tahap ini juga menghasilkan molekul NADPH.
 Pengubahan 6 fosfo glukono-lakton menjadi 6 fosfoglukonat, dikatalisis oleh enzim
laktonase.
 Pengubahan 6 fosfoglukonat menjadi ribulosa 5-fosfat yang dikatalisis oleh enzim 6
fosfoglukonat dehidrogenase. Pada tahap in menghasilkan NADPH dan melepaskan
CO2.
 Dan pengubahan ribulosa 5-fosfat menjadi ribosa 5-fosfat (gula berkarbon 5 atau
pentosa) oleh enzim fosfopentosa isomerase.
Persamaan reaksi untuk jalur ini adalah:

Glukosa 6-fosfat + 2NADP+ + H2O à ribosa 5-fosfat + CO2 + 2NADPH + 2H+


Gambar 1.1 Jalur Pentosa Fosfat

C. Fase Non Oksidatif Jalur Pentosa Fosfat


Fase non oksidatif terjadi pada jaringan yang sangat membutuhkan NADPH, karena pada
fase ini tidak dihasilkan gula pentosa. Ribosa 5-fosfat yang dihasilkan akan segera diubah
kembali menjadi glukosa 6-fosfat sehingga hanya menghasilkan NADPH saja.

NADPH yang dihasilkan dalam proses ini merupakan agen pereduksi yang penting untuk
menangkal radikal bebas oksigen. Sel-sel yang bersentuhan langsung dengan oksigen
memerlukan NADPH untuk menghindari terjadinya kerusakan jaringan. Oksigen dapat
berperan sebagai radikal bebas dengan cara mencuri elektron dari berbagai molekul yang
dapat mengakibatkan kerusakan sel dan jaringan. NADPH akan berperan sebagai agen
penyumbang elektron sehingga oksigen tidak perlu mencurinya dari molekul lain.

Langkah pengubahan ribosa 5-fosfat menjadi glukosa 6-fosfat adalah sebagai berikut.

 Pengubahan ribosa 5-fosfat menjadi xilulosa 5-fosfat oleh enzim ribosa 5-fosfat
epimerase.
 Pengubahan xilulosa 5-fosfat menjadi glukosa 6-fosfat. Tahap ini terjadi dengan
bantuan dua enzim yaitu transketolase dan transaldolase dengan proses yang panjang dan
bertahap-tahap.
 Glukosa 6-fosfat yang terbantuk dapat masuk jalur pentosa fosfat kembali.

D. Glukosa 6-fosfat Merupakan Molekul Antara


Glukosa 6-fosfat dalam proses metabolisme dapat masuk dalam tahap glikolisis ataupun
jalur pentose fosfat. Apabila terjadi proses biosintesis yang tinggi (misalnya biosintesis asam
lemak), akan terjadi pengubahan NADPH menjadi NADP+ secara besar-besaran, hal ini akan
memicu jaringan untuk melakukan jalur pentosa fosfat sehingga glukosa 6-fosfat masuk
dalam proses ini.

Namun apabila kebutuhan akan NADPH rendah, jalur pentosa fosfat akan menurun,
akibatnya glukosa 6-fosfat masuk tahap glikolisis untuk menghasilkan energi. Apabila tubuh
memerlukan energi dalam jumlah banyak, glukosa 6-fosfat juga akan diutamakan masuk
dalam glikolisis agar kebutuhan energi tercukupi.

laktonase adalah satu-satunya enzim yang tidak reversible dalam jalur pentosa fosfat.
Tapi, regulasi utama pada jalur ini adalah dengan mengontrol aktivitas enzim Glu-6-P
dehidrogenase dan 6-fosfoglukonat dehidrogenase. Enzim-enzim tersebut inhibisi oleh
akumulasi NADPH dan NADH.

Tabel 1.1 Enzim yang Berperan dan Reaksi yang Dikatalis

Reaksi Enzim

Fase Oksidatif

Glucose 6-phosphate + NADP+→ 6-phosphoglucono-δ-lactone Glucose 6-phosphate


+ NADPH + H+ dehydrogenase

6-Phosphoglucono-δ-lactone + H2O → 6-phosphogluconate + Lactonase


H+
Reaksi Enzim

6-Phosphogluconate + NADP+→ ribulose 5-phosphate + 6-Phosphogluconate


CO2 + NADPH dehydrogenase

Fase Isomerasi

Ribulose 5-phosphate ⇌ ribose 5-phosphate Phosphopentose isomerase

Ribulose 5-phosphate ⇌ xylulose 5-phosphate Phosphopentose epimerase

Xylulose 5-phosphate + ribose 5-phosphate ⇌ sedoheptulose 7- Transketolase


phosphate + glyceraldehyde 3-phosphate

Sedoheptulose 7-phosphate + glyceraldehyde 3-phosphate ⇌ Transaldolase


fructose 6-phosphate + erythrose 4-phosphate

Xylulose 5-phosphate + erythrose 4-phosphate ⇌ fructose 6- Transketolase


phosphate + glyceraldehyde 3-phosphate

1. Ada dua enzim yang berperan dalam mengatur posisi molekul intermediet jalur
pentose fosfat dan mensintesis molekul intermediet dengan jumlah karbon berbeda.
Enzim-enzim tersebut adalah transketolase dan transaldolase.
2. Transketolase bertanggung jawab dalam proses pemotongan 2 buah atom karbon dari
xylulosa-5-fosfat dan menambahkan 2 atom karbon tersebut pada ribose-6-fosfat
menghasilkan G3P dan sedoheptulosa-7-P
3. Transaldolase mengkatalisis pemotongan 3 atom karbon dari sedoheptulosa-7-fosfat
dan menambahkan 3 atom karbon tersebut pada G3P menghasilkan erythrosa-4-fosfat
dan fruktosa-6-fosfat
4. Hasil akhir dari proses ini adalah molekul-molekul gula dengan jumlah atom karbon
yang bervariasi dan dapat menjadiintermediet berbagai proses, contohnya adalah
fruktosa-6-fosfat dan G3P yang menjadi intermediet glikolisis

E. Hasil Akhir dari Jalur Fosfoglukonat


Pada fase oksidatif, jalur ini menghasilkan 2 buah NADPH, 1 buah ribulosa 5-fosfat, 2
proton dan sebuah molekul karbon dioksida

Glucose 6-phosphate + 2 NADP+ + H2O → ribulose 5-phosphate + 2 NADPH + 2 H+ + CO2

Sedangkan pada fase non-oksidatif  dihasilkan 2 buah fruktosa 6-fosfat dan sebuah
G3P dari proses berikut:

3 ribulose-5-phosphate → 1 ribose-5-phosphate + 2 xylulose-5-phosphate → 2 fructose-6-


phosphate + glyceraldehyde-3-phosphate

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Jalur pentosa fosfat merupakan proses pengubahan glukosa menjadi gula berkarbon 5
(gula pentosa) dengan juga menghasilkan NADPH

Jalur pentose fosfat berguna dalam hal beikut :

 Memanfaatkan sumber karbon seperti 3-xylose, 3-ribose dan 3-arabinose


 Berperan dalam biosintesis lipopolisakarida

Jalur pentosa fosfat terbagi dalam dua fase, yaitu fase oksidatif dan fase non oksidatif

Pada fase oksidatif, jalur ini menghasilkan 2 buah NADPH, 1 buah ribulosa 5-fosfat, 2
proton dan sebuah molekul karbon dioksida. Sedangkan pada fase non-oksidatif  dihasilkan 2
buah fruktosa 6-fosfat dan sebuah G3P
DAFTAR PUSTAKA

Berg JM, Tymoczko JL, Stryer L. Biochemistry. 5th edition. New York: W H Freeman;
2002. 20.3 the Pentose Phosphate Pathway Generates NADPH and Synthesizes Five-Carbon
Sugars.

Stincone, A., Prigione, A., Cramer, T., Wamelink, M. M. C., Campbell, K., Cheung, E.,
Ralser, M. 2015. The return of metabolism: biochemistry and physiology of the pentose
phosphate pathway. Biological Reviews of the Cambridge Philosophical Society

Anonim. 2015. Jalur Pentosa Fosfat. https://www.edubio.info/2015/08/jalur-pentosa-fosfat/