Anda di halaman 1dari 5

RESUME

DIABETES JUVENIL

Oleh :

NAMA : NI KOMANG AYU APRILIANI

NIM : 17C10028

KELAS :A

INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI

TAHUN AJARAN 2020


A. PENGERTIAN DIABETES JUVENIL

Adalah Diabetes tipe 1 atau diabetes yang bergantung pada insulin, adalah penyakit yang
muncul karena pankreas berhenti memproduksi insulin.

Diabetes melitus (DM) adalah suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan
multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan
metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin.

Insulin sangat penting karena merupakan hormon yang mengatur jumlah gula (glukosa)
dalam darah dan membantu mentransfer glukosa ke sel-sel tubuh untuk menghasilkan energi.
Jika tubuh tidak memproduksi insulin, glukosa tetap berada dalam darah dan kadar gula darah
pun akan meninggi.

Diabetes tipe 1 bisa menyerang segala usia, tetapi biasanya diderita oleh orang berusia di
bawah 30 tahun dan merupakan jenis diabetes masa kanak-kanak yang paling umum.
Serangan gejala diabetes juvenil biasanya cepat.Diabetes juvenil harus didiagnosis sedini
mungkin karena akan semakin parah dengan berlalunya waktu dan dapat mengakibatkan
masalah kesehatan serius, seperti gagal ginjal, koma, dan bahkan kematian.

B. JUVENIL DIABETES/ DIABETES MILITUS TIPE 1

Diabetes militus tipe 1 adalah penyakit metabolik yang disebabkan oleh kerusakan sel ß
pancreas baik oleh proses autoimun maupun idiopatik sehingga produksi insulin berkurang
bahkan berhenti.

Insidens Diabetes Mellitus (DM) Tipe-1 pada anak di dunia dan Indonesia terus meningkat.
Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), tercatat 1220 dengan DM tipe-1
pada tahun 2018

C. PERBEDAAN DM TIPE 1 dengan DM TIPE 2

DM tipe 1 biasanya terjadi secara kongenital dan terjadi pada anak-anak sampai dengan
remaja → Diabetes Juvenil

Sedangkan DM tipe 2 biasanya terjadi karena glukosa yang mengendap dan merusak
komposisi metabolisme tubuh seseorang. DM tipe 2 terjadi pada usia > 50 tahun.
D. FAKTOR PREDISPOSISI DM TIPE 1
1. Faktor Genetik
Mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetic ke arah terjadinya DM tipe 1
tipe antigen HLA (Human Leucosite Antigen). HLA merupakan kumpulan gen yang
bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan proses imun lainnya
2. Faktor Imunologi
Adanya respon autoimun yang merupakan respon abnormal dimana antibody terarah
pada jaringan normal tubuh.
Bereaksi terhadap jaringan tersebut dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing,
yaitu antibody terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
3. Faktor Lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang menimbulkan
destruksi sel ß (sel beta).

E. 5 pilar penanganan DM tipe-1 pada anak (IDAI, 2018)


1. Injeksi insulin, insulin minimal dua kali per hari menggunakan insulin basal dan
kerja cepat
2. Pemantauan gula darah, Pemantauan gula darah mandiri dilakukan minimal 4-6
kali per hari.
3. Nutrisi
4. Aktivitas fisik,
5. Edukasi.
LAINNYA: Keterlibatan pemegang kebijakan, termasuk pemerintah, dan dukungan
masyarakat dibutuhkan agar anak dengan DM tipe 1 tertangani dengan baik.

F. MANIFESTASI KLINIS DAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan penunjang yang dlakukan pada DM tipe 1 dan 2 umumnya tidak jauh
berbeda.
1. Glukosadarah : meningkat 200-100mg/Dl
2. Aseton plasma (keton) : positif secara mencolok
3. Asam lemak bebas : kadar lipid dan kolesterol meningkat
4. Osmolaritas serum : meningkat tetapi biasanya kurang dari 330 mOsm/l
5. Elektrolit :
Natrium : mungkin normal, meningkat, atau menurun.
Kalium : normal atau peningkatan semu ( perpindahan seluler),
selanjutnya akan menurun.
Fosfor : lebih sering menurun
6. Hemoglobin glikosilat : kadarnya meningkat 2-4 kali lipat dari normal
7. Gas Darah Arteri : biasanya menunjukkan pH rendah dan penurunan pada
HCO3 ( asidosis metabolic) dengan kompensasi alkalosis respiratorik.
8. Trombosit darah : Ht mungkin meningkat ( dehidrasi) ; leukositosis :
hemokonsentrasi ;merupakan respon terhadap stress atau infeksi.
9. Ureum / kreatinin : mungkin meningkat atau normal ( dehidrasi/ penurunan
fungsi ginjal)
10. Amilase darah : mungkin meningkat yang mengindikasikan adanya
pancreatitis akut sebagai penyebab dari DKA.
11. Insulin darah : mungkin menurun / atau bahkan sampai tidak ada ( pada tipe 1)
atau normal sampai tinggi ( pada tipe II) yang mengindikasikan insufisiensi
insulin/ gangguan dalam penggunaannya (endogen/eksogen). Resisten insulin
dapat berkembang sekunder terhadap pembentukan antibody .( autoantibody)
12. Pemeriksaan fungsi tiroid : peningkatan aktivitas hormone tiroid dapat
meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan akan insulin.
13. Urine : gula dan aseton positif : berat jenis dan osmolalitas mungkin
meningkat.
14. Kultur dan sensitivitas : kemungkinan adanya infeksi pada saluran kemih,
infeksi pernafasan dan infeksi pada luka.

G. PATOFISIOLOGI
1. Periode pra-diabetes
2. Periode manifestasi klinis
3. Periode honey-moon
4. Periode ketergantungan insulin yang menetap

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Resiko Ketidakseimbangan kadar gula darah berhubungan dengan penyakit
diabetes mellitus.
2. Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energy metabolic ditandai
dengan sering lelah, lemah, pucat, klien tampak letargi/tidak bergairah.
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
tidak mampu dalam mengabsorbsi makanan karena faktor biologi (defisiensi
insulin) ditandai dengan lemas, berat badan pasien menurun walaupun intake
makanan adekuat, mual dan muntah, konjungtiva tampak pucat, pasien tampak
lemah, GDS >200 mg/dl.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan sekunder tidak adekuat
(penurunan fungsi limfosit).
5. Resiko cedera berhubungan dengan disfungsi sensori.