Anda di halaman 1dari 43

On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

BAB I

PENDAHULAN

1.1 Latar Belakang Pelaksanaan (OJT)


Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin adalah Bandar Udara
yang terletak di kota Makassar di propinsi Sulawesi Selatan. Bandar Udara
Internasional Sultan Hasanuddin merupakan salah satu Bandar udara yang
dikelola oleh PT. Angkasa Pura 1 (Persero) juga merupakan Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) khusus bergerak dalam bidang jasa transportasi udara. Bandar
Udara Internasional Sultan Hasanuddin adalah merupakan pintu gerbang bandar
udara (Geteway Airport) di kawasan Indonesia timur dan provinsi Sulawesi
Selatan. Saat ini bandar udara ini telah mengalami perkembangan yang pesat
akibat meningkatnya jumlah penumpang dan penerbangan dari tahun ke tahun.
Hal tersebut berpengaruh pada faktor muatan penumpang yang semakin
meningkat.

Gambar 1.1 Bandara Sultan Hasanuddin Internasional Airport


Hasil karya : Dokumentasi Penulis 2019

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


1
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

Perkembangan di dunia penerbangan semakin pesat oleh karena itu, di


beberapa daerah di Indonesia khususnya di Surabaya, sudah didirikan kampus
penerbangan yaitu Politeknik Penebangan Surabaya dimana kampus tersebut
mendidik tarunanya khusus tentang dunia penerbangan. Tidak hanya
pengetahuan saja yang taruna peroleh dari kampus, namun taruna juga diberikan
kesempatan training langsung atau disebut juga dengan On The Job Training
(OJT) di salah satu bandara yang ada di Indonesia. On The Job Training (OJT)
adalah latihan kerja lapangan bagi sesuai dengan ilmu yang didapatkan selama
dibangku perkuliahan serta mengaplikasikannya dalam bentuk praktek kerja
agar kelak para taruna yang telah dinyatakan lulus dapat dengan segera
menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjanya.

Pelaksanakan On The Job Training (OJT) Program Diploma III


Manajemen Transportasi Udara di laksanakan di Bandar Udara yang telah
ditentukan oleh pihak Politeknik Penerbangan Surabaya. Kegiatan On The Job
Training (OJT) adalah salah satu kurikulum yang wajib dilaksanakan oleh
setiap taruna dikarenakan untuk mengukur tingkat kemampuan taruna dalam
praktek kerja langsung serta memberikan pengalaman kerja dimana setelah
menempuh pendidikan di Politeknik Penerbangan Surabaya akan dihadapkan
dalam lingkungan kerja yang sedemikian rupa.

Disetiap selesai melakukan On The Job Training (OJT), taruna dituntut


untuk menulis laporan dengan tujuan untuk merangkum materi-materi yang
didapatkan selama menjalani On The Job Training (OJT) tersebut.

1.2 Dasar Pelaksanaan On The Job Training


Dasar pelaksanaan Pelaksanaan On The Job Training (OJT) Politeknik
Penerbangan Surabaya adalah sebagai berikut :

1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang


Sistem Pendidikan Nasional.

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


2
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

2. Undang Undang Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 158
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5336).
3. Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 Penyelenggaraan Pendidikan
Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2014 Nomor 16. Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 5500).
4. Surat Keputusan Direktur Politeknik Penerbangan Surabaya No. SK 603 /
POLTEKBANG SBY-2019 tentang pelaksanaan On The Job Training
pendidikan dan pelatihan program studi D.III Teknik Pesawat Udara
angkatan II A,B dan C; program studi D.III Manajemen Transportasi Udara
angkatan III A an B ditetapkan di Surabaya pada tanggal 1 April 2019.
5. Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM 94 Tahun
2016 tentang Program Pendidikan dan Pelatihan Keamanan Penerbangan
Nasional tercantum dalam Pasal 1 ayat 1 b sebagai berikut :
a) Pendidikan dan Pelatihan
1) Setiap personel keamanan penerbangan wajib mengikuti pendidikan
dan pelatihan keamanan penerbangan awal (initial) sesuai dengan
kewenangannya.
2) Pendidikan dan pelatihan keamanan penerbangan sebagaimana angka
1 terdiri dari:
a) keamanan penerbangan tingkat dasar (basic aviation security);
b) keamanan penerbangan tingkat junior (junior aviation security);
dan
c) keamanan penerbangan tingkat senior (senior aviation security).
3) Pendidikan dan pelatihan awal (initial) sebagaimana dimaksud butir
angka 1 diselenggarakan oleh lembaga penyelenggara pendidikan dan
pelatihan keamanan penerbangan.
4) Lembaga penyelenggara pendidikan dan pelatihan sebagaimana
dimaksud angka 3 harus menerbitkan sertifikat kompetensi bagi
personel keamanan penerbangan setelah melaksanakan:
a) Praktek kerja lapangan On The Job Training (OJT)
b) Ujian teori; dan
c) Ujian praktek.

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


3
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

5) Pendidikan dan pelatihan keamanan penerbangan tingkat Junior


sebagaimana dimaksud butir angka 2 huruf b) harus dilengkapi
dengan materi x-ray berbasis komputer (Computer Based Training).
6) Praktek kerja lapangan (On The Job Training) sebagaimana dimaksud
angka 4 huruf a) sekurang kurangnya 40 jam pelajaran
7) Praktek kerja lapangan sebagaimana dimaksud angka 6 harus
didampingi oleh instruktur yang memberikan materi ajar dan personel
keamanan penerbangan yang berlisensi.
8) Peserta yang telah mengikuti praktek kerja lapangan (On The Job
Training) diberikan surat keterangan dari instansi tempat pelaksanaan
praktek kerja lapangan (On The Job Training).
6. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : PM. 21 Tahun 2018 tanggal 28
Februari 2018 tentang statuta Politeknik Penerbangan Surabaya.

1.3 Tujuan dan Manfaat Pelaksnaan On The Job Training (OJT)


1.3.1 Tujuan
Tujuan dilaksanakannya On The Job Training (OJT) oleh
kampus Polteknik Penerbangan Surabaya Program Diploma III
Manajemen Transportasi Udara adalah sebagai berikut :

1. Mempraktikan teori yang kita dapat dari kampus ke tempat Di mana


taruna melakukan On The Job Training (OJT).
2. Teriptanya lulusan Program Diploma III Manajemen Transportasi
Udara yang mempunyai sertifikat kompetensi dan daya saing tinggi
yang sesuai dengan standar Nasional maupun Internasional.
3. Membentuk kemampuan taruna alam berkomunikasi baik secara lisan
ataupun seacara tulisan seperti halnya pembuatan laporan OJT.

1.3.2 Manfaat
Adapun manfaat dilaksanakannya On The Job Training (OJT)
oleh kampus Polteknik Penerbangan Surabaya Program Diploma III
Manajemen Transportasi Udara adalah sebagai berikut :

A. Manfaat bagi taruna

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


4
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

1) Agar taruna On The Job Training mengetahui keadaan fisik,


operasional dan struktur organisasi, serta lingkungan sosial dari
suatu Bandar Udara yang mana lingkungan tempat pelaksanaan
On The Job Training
2) Agar taruna memahami dan mengetahui masalah-masalah apa
saja yang dihadapi oleh unit Manajemen Transportasi Udara di
dunia kerja dan juga cara untuk mengatasi masalah tersebut
3) Mengetahui apa saja dan fungsi kerja dari fasilitas yang terdapat
di Bandara Udara lokasi On The Job Training terutama yang
berhubungan dengan unit kerja operasional, keamanan
penerbangan, dan kargo
4) Dapat mengetahui cara pemeriksaan penumpang, awak pesaawat,
dan barang-barang yang bebahaya sebelum memasuki pesawat
5) Mengetahui cara kerjanya x-ray, WTMD (Woksro Metal
Detector), dan HHMD (Hand Hall Metal Detector)
6) Dapat memonitor barang-barang berbahaya melalui x-ray
7) Mampu melaksanakan dan mengetahui bagaimana tata cara
pengepakan yang benar terhadap barang-barang kargo
8) Dapat mengetahui prosedur-prosedur pengiriman kargo
9) Dapat melakukan kerjasama dan koordinasi dengan unit-unit lain
yang terkait dengan operasional penerbangan dengan baik dan
benar
10) Memiliki wawasan organisasi pada satuan kerja organisasi
masing-masing.

B. Manfaat Bagi Perusahaan Tempat OJT


1) Dapat memilih taruna OJT baik jumlah, kemampuan, penampilan
dan waktu yang dianggap menguntungkan
2) Dapat mengenal persis kualitas taruna yang berlatih di bidang
OJT tersebut
3) Dalam berpartisipasi dalam pembangunan pendidikan pada
khususnya dan pengembangan bangsa pada umumnya.

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


5
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

BAB II

PROFIL TEMPAT ON THE JOB TRAINING

2.1 Sejarah Singkat


2.1.1 Secara Umum
PT. Angkasa Pura I (Persero) adalah sebuah perusahaan Badan Usaha
Milik Negara (BUMN) yang memberikan pelayanan lalu lintas udara dan bisnis
bandar udara di Indonesia yang menitikberatkan pelayanan pada kawasan
Indonesia bagian tengah dan kawasan Indonesia bagian timur. Angkasa Pura I
telah mendapatkan kepecayaan dari Pemerintah Republik Indnesia untuk
mengelola dan mengupayakan pegusahaan Pelabuhan Udara di Makassar yaitu
Bandar Udara Internasional Sultan Hasaanuddin.

Sejak tahun 2009 bandara sudah mengalami perluasan yang dapat


menampung penumpang sebanyak 7 juta orang. Dulunya bangunan terminal
terletak di lokasi yang berbeda dan saat ini daerah bandara yang dulunya berdiri
sejak zaman penjajahan disebut daerah bandara lama. Bandara Internasional
Sultan Hasanuddin dulunya bernama Lapangan Terbang Kadieng dan sudah
melayani rute internasional internasional tapi harus di tutup sejak tahun 2008
karena banyak maskapai penerbangan rute internasional mengalami kerugian.

Lapangan Terbang Kadieng atau Bandara Lama Sultan


Hasanuddin beroperasi dengan rute komersil pertama kali dengan tujuan
Surabaya. Memanfaatkan landasan pacu dengan jenis rumput sepanjang 1,600m
x 45m dan saat ini disebut Runway 08-26. Diresmikan pada tanggal 27
September 1937 dengan pesawat awal Doughlas D2/F6 yang dioperasikan oleh
perusahaan penerbangan belanda KNILM (Koningklijke Netherland Indische
Luchtvaan Maatschappij).

Bandara mengalami peningkatan kembali di masa penjajahan Jepang


dengan melakukan perbaikan landasan pacu yang awalnya rumput menjadi
beton. Namanya pun menjadi Lapangan Terbang Mandai. Penambahan landasan
pacu pun terjadi dan dilakukan oleh pihak Sekutu pada tahun 1945 dengan kode

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


6
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

Runway 13-31 yang dibangun dengan ukuran 1745 m x 45 m. Pekerja saat itu
mencapai 4000 orang dan bekas tahanan perang Jepang atau disebut Romusha.

Bandara kembali kepangkuan tanah air pada tahun 1950 dan


pengoperasian serta pemeliharaannya di pegang oleh Jawatan Pekerjaan Umum
Seksi Lapangan Terbang. Selama pengoperasiannya bandara ini menjadi salah
satu bandara tersibuk karena menghubungkan Indonesia bagian Barat dengan
Indonesia Bagian Timur.

Tahun 1955 pengoperasiaanya dipegang oleh Jawatan Penerbangan Sipil


yang saat ini di sebut Direktorat Jendral Penerbangan Udara. Landasan pacu pun
ditambah panjangnya menjadi 2,345 m x 45 m dan diubah namanya menjadi
Pelabuhan Udara Mandai.

Nama Sultan Hasanuddin di jadikan nama bandara dimulai pada tahun


1980 sekaligus diperpanjangnua landasan pacu 13-31 yang awalnya 1745 m x
45 m menjadi 2400 m x 45 m. Setahun kemudian bandara ini di fungsikan
menjadi bandara embarkasi untuk mengantar calon jemaah haji ke Tanah Suci.
Tahun 1985 namanya kembali berganti menjadi Bandara Udara Sultan
Hasanuddin.

Bandara Udara Sultan Hasanuddin mengalami peningkatan jumlah


penumpang dan wisatawan luar negeri setelah melalui keputusan Menteri
Perhubungan Nomor. KM 61/1994 yang keluar pada tanggal 30 Oktober 1994.
Melalui keputusan itu Bandara Udara Sultan Hasanuddin resmi menjadi Bandara
Udara Internasional Sultan Hasanuddin.

Pada tanggal 7 Januari 1995 Bandara Internasional Sultan Hasanuddin


diresmikan oleh Gubernur Sulawesi Selatan saat itu yakni Bapak Zainal Basri
Palaguna. Penerbangan Makassar – Kuala Lumpur dibuka pada tanggal 28
Maret 1995 oleh Maskapai Malaysia Airline System (MAS) disusul oleh
maskapai Silk Air yang membuka rute Changi Airport Singapore.

Perlu diketahui rute Internasional Bandara Sultan Hasanuddin sudah


dimulai 1985 disaat bandara ini di jadikan bandara embarkasi haji yang
melayani rute Makassar – Jeddah. Selain itu bandara ini sudah menjadi bandara

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


7
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

yuridiksi Indonesia timur yang melalui rute hingga ke Papua Nugini serta
Australia.

Hal yang mengejutkan terjadi ketika 28 Oktober 2006 sampai


pertengahan 2008 rute internasional berhenti total ketika rute Makassar
-Singapura di tutup oleh Garuda Indonesia karena mengalami kerugian besar
mengikuti jejak Malaysia Airline dan Silk Airline yang lebih dahulu menghapus
rutenya ke makassar. Praktis saat itu hanya penerbangan haji menuju jeddah
yang tetap beroperasi.

2.1.2 Perkembangan
Sejak Bandara Internasional Sultan Hasanuddin di pindahkan ke gedung
terminal baru. Praktis gedung terminal terbengkalai. Walaupun pada awalnya
masih ada aktifitas dari manajemen angkasa pura I yang beroperasi namun
mulai 2009 semua aktifitas terhenti. Puncaknya pada tanggal 14 Agustus 2016
malam. Gedung terminal bandara lama terbakar dan menghanguskan seluruh
bangunan dari ujung barat dan timur. Sebelum kejadian bandara lama sering di
jadikan area parkir pesawat perintis dan pesawat TNI AU.

Bandara Sultan Hasanuddin menempati terminal baru dengan


konstruksi bangunan yang lebih unik. Di dalam area tunggu terdapat miniatur
kebanggan Kapal Phinisi khas Sulawesi Selatan. Di depan terminal juga terdapat
air mancur yang menjadi objek foto para wisatawan. Patung perunggu Sultan
Hasanuddin akan menyambut kamu ketika masuk menuju area bandara sebagai
sambutan selamat datang.

Bandara yang saat ini menyosong tema airport city dilengkapi dengan
area rumah sakit yang berada di sekitar bandara, hotel bujet bagi para wisatawan
yang tanpa harus keluar bandara untuk menunggu waktu transit di hotel. Disini
terdapat juga banyak area makanan dan oleh-oleh yang menjadikan bandara
menjadi business center terbaik.

Bandara Internasional Sultan Hasanuddin kini juga sudah menjadi


bandara terpadat dan melayani penerbangan seluruh Indonesia dan terhubung

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


8
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

dengan berbagai bandara di kota-kota besar lainnya. Hampir semua maskapai


menjual tiket perjalanan ke Makassar baik internasional maupun domestik.

Bandara ini pun mendapat predikat tiga bandara terbaik di indonesia


dengan menyabet penghargaan pada tahun 2011 dan juga penghargaan sebagai
bandara dengan pelayanan terbaik serta toilet terbersih. Penghargaan tertinggi
pada tahun 2012 mendapat penghargaan dari Kementrian Perhubungan dalam
Bandara Award sebagai bandara terbaik.

Tahun ini pun bandara sudah bisa digunakan oleh tipe pesawat Boeing
747 dimulai dengan penerbangan menggunakan pesawat Saudi Arabian Airline
yang melayani rute ke King Abdul Aziz Airport. Jika kamu beruntung dan
melewati landasan pacu lama, maka kamu akan melihat jejeran pesawat sukhoi
karena area bandara lama saat ini sudah diaktifkan sebagai Lanud Sultan
Hasanuddin TNI AU.

Untuk Masalah transportasi di bandara menyediakan Damri yang akan


mengantar kamu menuju ke pusat kota Makassar. Karena jarak bandara ke jalan
utama lumayan jauh maka manajemen menyiapkan shuttle bus gratis untuk
keluar bandara. Pemesanan taksi dan mobil rental pun dilakukan secara
komputerisasi. Kamu tidak akan menemui loket pembelian tiket taksi dan mobil
rental karena sudah ada komputer yang tinggal kamu pilih jenis mobil yang akan
mengantarmu keluar bandara.

Landasan pacu pun sudah ditambah dengan jarak 3100 m x 45 m dengan


kode Runway 03-21 maka ketepatan ketibaan dan keberangkatan akan lebih
terjamin. Area parkit pesawat juga sudah menjadi lebih besar dan area tunggu
sudah dilengkapi oleh Airport Bridge sehingga kamu tidak perlu naik bus untuk
menuju ke pesawat walaupun tidak semua penerbangan menggunakannya, yang
paling aktif menggunakannya adalah penerbangan internasional yang berada di
ruang tunggu 6.

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


9
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

2.2 Organisasi Perusahaan


2.2.1 Visi
Menjadi ATS Center dan Transit Airport yang dapat diandalkan.Visi
dapat dioperasionalkan sebagai berikut;

a) ATS Centre yang sejajar dengan Australia dan Singapura


b) Pelayanan Bandara Transit terbaik di Indonesia

2.2.2 Misi
A. Peningkatan kualitas pelayanan melalui peningkatan kualitas
peralatan dan kemampuan Sumber Daya Manusia Tugas Pokok
Bandar Udara;
B. Menyelenggarakan manajemen dan Fungsi secara Profesional dan
Komersial dengan mencapai sasaran – sasaran Perusahaan yang
telah ditetapkan untuk dapat mencapai Tujuan Perusahaan baik
Jangka Pendek maupun Jangka Panjang.

2.2.3 Strutur Organisasi

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


10
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

Gambar 2.2.3 Stuktur Organisasi Kantor Cabang Bandar Udara Sultan


Hasanuddin Internasional Airport Makassar
Sumber : Dokumen Pribadi 2019

Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin


Makasar adalah unit pelaksana. PT. Angkasa Pura I (Persero) berada di bawah
dan bertanggung jawab kepada Board of Directors PT. Angkasa Pura I (Persero)
dan dipimpin oleh seorang General Manager.

1) General Manager
General Manager bertugas memastikan tercapainya Customer
Satisfaction Index (CSI) yaitu tercapainya pendapatan non aeronautika dan
berkontribusi terhadap lingkungan melalui pengelolaan aktivitas
kebandarudaraan yang efektif guna mendukung peningkatan kinerja
perusahaan berdasarkan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP).
Tanggung jawab General manager dalam melaksanakan tugas di atas,
sebagai berikut:
a) Memastikan tersedianya Rencana Kerja dan Anggaran
Perusahaan (RKAP).
b) Memastikan tercapainya kontrak manajemen yang telah
disepakati.
c) Memastikan perannya sebagai people manager.
d) Memastikan kegiatan di bandar udara berjalan sesuai dengan
Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) yang telah ditetapkan.
e) Memastikan pelaksanaan kegiatan di bandar udara sesuai dan
relevan dengan system manajemen yang diterapkan perusahaan.
f) Memastikan tercapainya Customer Satisfaction Index (CSI).
g) Memastikan tercapainya pendapatan non aeronautika.
h) Memastikan kontribusi terhadap lingkungan.

2) ADM (Airport Duty Manager)


Bertanggung jawab kepada General Manager Bandara dalam
mengorganisir dan mengawasi penyelenggaraan kegiatan pelayanan

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


11
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

operasi bandara, penyediaan fasilitas teknik bandara, administrasi


perkantoran, personalia, komersial dan keuangan bandara.

3) Procurement Section Head


Pimpinan di bawah General Manager yang bertanggung jawab
langsung kepada Shared Services Departement Head yang tugasnya
Memastikan terlaksananya pengadaan dan pelelangan barang dan atau jasa
di yang ada di Bandar Udara Ahmad Yani Semarang berdasarkan Standar
Operasional Prosedur (SOP).

4) Airport Operation and Service Departement Head


Pimpinan dibawah General Manager yang tugasnya memastikan
kelancaran operasi dan pelayanan bandar udara berjalan dengan lancar
sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) yang
ditetapkan sehingga tercapai kepuasan pelanggan bandar udara. Airport
Operation and Service Departemen Head membawahi 4 sub unit, yaitu:
a) Costumer Service and Hospitality Section Head
Bertugas untuk memastikan pelayanan bandar udara berjalan dengan
baik sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tanpa
adanya komplain dari pengguna jasa bandar udara.
b) Airport Operation Air Side Section Head
Memiliki tugas untuk memastikan berjalannya kegiatan operasional
bidang sisi udara (air side) berjalan dengan baik sesuai Standar Operasional
Prosedur (SOP) dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
c) Airport Operation Land Side & Terminal Section Head
Memiliki tugas untuk memastikan berjalannya kegiatan operasional
bidang sisi darat (land side) berjalan dengan baik sesuai Standar
Operasional Prosedur (SOP) dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan
(RKAP).
d) Airport Rescue and Fire Fighting Section Head
Bertugas memastikan berjalannya kegiatan operasional pencegahan
kecelakaan penerbangan dan pemadam kebakaran sesuai dengan
operasional prosedur (SOP) dan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan
(RKAP).

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


12
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

5) Airport Security Departement Head


Pimpinan dibawah General Manager yang tugasnya memastikan
keamanan bandar udara berjalan dengan baik guna mendukung tercapainya
kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan bandar udara berdasarkan
Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Airport Security
Departemen Head membawahi 3 sub unit, yaitu :
a) Airport Security Screening Section Head
Memiliki tugas untuk memastikan tercapainya keamanan penerbangan
di daerah land side dan terminal bandar udara sehingga tercapai keamanan
penumpang pengguna jasa bandar udara sesuai dengan standar aturan
berdasarkan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP)
b) Terminal Protection Security Section Head
Bertugas memastikan tercapainya keamanan penerbangan di sekitar
terminal sehingga tercapai keamanan di bandar udara sesuai dengan
standar aturan berdasarkan rencana kerja dan anggaran perusahaan
(RKAP)
c) Non Terminal Protection Security Section Head
Bertugas memastikan tercapainya keamanan penerbangan di sekitar
luar terminal atau non termnal sehingga tercapai keamanan di bandar udara
sesuai dengan standar aturan berdasarkan rencana kerja dan anggaran
perusahaan (RKAP)

6) Airport Safety and Quality Management


Pimpinan dibawah General Manager yang tugasnya Memastikan
pencapaian safety level dan kesehatan lingkungan bandar udara berjalan
dengan baik guna mendukung tercapainya kualitas pelayanan dan kepuasan
pelanggan bandar udara berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran
Perusahaan (RKAP). Airport Safety and Quality Management membawahi
3 sub unit yaitu :
a) Safety Management System and Occupational Safety Health Section
Head
Dimana memiliki tugas untuk memastikan sistim keselamatan dan
meminimalisir kecelakaan kerja guna mendukung pencapaian keamanan,

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


13
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan berdasarkan rencana kerja dan


anggaran perusahaan (RKAP)
b) Quality Management Section Head
Bertugas untuk mengelola Manajemen Mutu berjalan dengan baik dan
efektif guna mendukung pencapaian kualitas pelayanan dan kepuasan
pelanggan berdasarkan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP)
c) Risk Management Section Head
Bertugas untuk mengelola Manajemen Risiko berjalan dengan baik
dan efektif guna mendukung pencapaian kualitas pelayanan dan kepuasan
pelanggan berdasarkan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP).

7) Airport Equipment Readiness Departement Head


Pimpinan dibawah General Manager yang tugasnya Memastikan
operasional peralatan bandar udara berfungsi dengan baik berdasarkan
Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) sehingga tercapainya
kepuasan pengguna jasa dan pendapatan bandar udara. Airport Equipment
Readiness Departement Head membawahi 2 sub unit, yaitu :
a) Mechanical Section Head
Bertugas untuk memastikan operasional peralatan di bandar udara
meliputi pompa, conveyor, AC, dan alat-alat berat berfungsi dengan baik
sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
b) Electrical Section Head
Bertugas untuk Memastikan operasional peralatan bandar udara
meliputi sistim distribusi listrik dan fasilitas penerangan bandara berjalan
dengan baik sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan
(RKAP).

8) Airport Facilities Readiness Departement Head


Pimpinan dibawah General Manager yang tugasnya Memastikan
operasional fasilitas bandar udara berfungsi dengan baik berdasarkan
Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) sehingga tercapainya
kepuasan pengguna jasa dan pendapatan bandar udara. Airport Readiness
Departement Head membawahi 3 sub unit, yaitu :
a) Non Terminal Air Side Section Head

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


14
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

Memiliki tugas memastikan tersedianya fasilitas dan peralatan yang


berada di sisi udara (air side) berjalan dengan baik dan siap untuk digunakan
sesuai dengan strategi Perusahaan berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran
Perusahaan (RKAP).
b) Non Terminal Land Side and Enviroment Section Head
Bertugas Memastikan tersedianya fasilitas dan peralatan yang berada di
non terminal berjalan dengan baik guna mendukung terpenuhinya kesiapan
seluruh fasilitas dan berkontribusi terhadap kebersihan lingkungan sesuai
dengan strategi perusahaan berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran
Perusahaan (RKAP).
c) Terminal building section head
Memiliki tugas Memastikan tersedianya fasilitas dan peralatan yang
berada di land side dan terminal berjalan dengan baik guna mendukung
terpenuhinya kesiapan seluruh fasilitas dan berkontribusi terhadap
kebersihan lingkungan sesuai dengan strategi perusahaan berdasarkan
Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

9) Sales Departement Head


Pimpinan dibawah General Manager yang tugasnya Memastikan
tercapainya pendapatan aviasi dan non aviasi yang ada di bandar udara
melalui penyewaan tenant makanan dan minuman, kegiatan cargo,
pemasangan iklan sehingga tercapai pendapatan non aeronautika dan
kepuasan pelanggan sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan
(RKAP). Sales Departement Head membawahi 3 sub unit, yaitu :
a) Aviation and Cargo Sales Section Head
Tugasnya adalah memastikan tercapainya pendapatan perusahaan
melalui penjualan/peningkatan bisnis aviation dan kargo sesuai dengan
rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP).
b) Property and Advertising Sales Section Head
Tugasnya yaitu Memastikan tercapainya pendapatan perusahaan
melalui penyewaan tenant dan pemasangan iklan di bandar udara sesuai
dengan rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP).
c) Retail, Food and Beverages Sales Section Head

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


15
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

Bertugas memastikan tercapainya pendapatan perusahaan melalui


penyewaan tenant makanan dan minuman di bandar udara sesuai dengan
rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP).

10) Information, Communication, Technology Departement Head


Pimpinan di bawah General Manager yang tugasnya menyediakan
dan memastikan peralatan IT di bandar udara berfungsi dengan baik
sehingga tercapainya kepuasan pelanggan dan pendapatan non aeronautika
bandar udara sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan
(RKAP). Information, Communication, Technology Departement Head
membawahi 2 sub unit, yaitu :
a) Application Operation and Support Section Head
Bertugas memastikan pelaksanaan layanan IT melalui pengelolaan
kegiatan IT berjalan dengan baik sesuai dengan rencana kerja dan anggaran
perusahaan (RKAP).
b) Airport Technology Network Operation and Support Section Head
Tugasnya adalah memastikan tersedianya dan pelaksanaan peralatan IT
di bandar udara berjalan dengan baik guna mendukung guna mendukung
terpenuhinya kepuasan sesuai dengan rencana kerja dan anggaran
perusahaan (RKAP).

11) Finance Departement Head


Pimpinan dibawah General Manager yang tugasnya merencanakan
kebutuhan dana di Kantor Cabang dan mengelolanya dan menggunakan
anggaran dana sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan
(RKAP). Finance Departement Head membawahi 3 sub unit, yaitu :
a) Accounting Section Head
Memiliki tugas membuat laporan keuangan dan laporan manajemen
perusahaan yang sesuai dengan standar akuntansi keuangan dan Standar
Operasional Prosedur (SOP).
b) Treasury Section Head
Bertugas memastikan kegiatan operasional penerimaan dan pengeluaran
kas/bank dan pelaporan dan perhitungan pajak dilaksanakan sesuai

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


16
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

ketentuan sesuai dengan standar akuntansi keuangan dan Standar


Operasional Prosedur (SOP).
c) Account Receiveble Section Head
Bertugas memastikan kegiatan pembayaran dan penagihan piutang
perusahaan dilaksanakan sesuai ketentuan sesuai dengan standar akuntansi
keuangan dan Standar Operasional Prosedur (SOP).

12) Shared Services Departement Head


Pimpinan dibawah General Manager yang tugasnya Memastikan
tercapainya kepuasan pegawai kantor atas semua pelayanan yang diberikan
dan tercapainya pendapatan non aeronautika sesuai dengan Rencana Kerja
dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Shared Services Departement Head
membawahi 5 sub unit, yaitu :
a) Human Capital Section Head
Bertugas memastikan kesejahteraan dan pengembangan pegawai kantor
dan pemberian sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku di perusahaan.
b) General Affair Section Head
Tugasnya untuk memastikan tersedianya pelayanan kantor dan
fasilitasnya guna mendukung kegiatan operasional pegawai terpenuhinya
indeks kepuasan pegawai sesuai dengan Rencana Kerja dan Anggaran
Perusahaan (RKAP).
c) Communication and Legal Section Head
Memiliki tugas memastikan kelancaran komunikasi internal dan
eksternal, dan tersedianya kepastian hukum sesuai dengan Rencana Kerja
dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
d) Asset Management Section Head
Bertugas memastikan pengelolaan asset perusahaan melalui pengelolaan
kegiatan asset management dan warehouse management yang efektif sesuai
dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
e) Coorporate Social Responsibility Section Head
Bertugas untuk bertanggung jawab sosial terhadap lingkungan di sekitar
bandar udara melalui program kemitraan dan bina lingkungan (PKBL)
dilaksanakan sesuai target rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP).

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


17
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

2.3 Budaya Perusahaan


Budaya kerja Perusahaan yang di terapkan di Angkasa Pura I (Persero)
kantor cabang Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar adalah: cara berpikir,
bersikap dan berperilaku insan yang terdapat di PT Angkasa Pura I (Persero)
berdasarkan pada nilai-nilai integritas, profesionalisme, berorientasi pada
kepuasan pelanggan serta tampil dengan keteladanan. Setiap Insan PT Angkasa
Pura I (Persero) senantiasa mempunyai tanggung jawab melakukan perbaikan
guna meningkatkan pelayanan kepada pelanggan dengan tetap memperhatikan
keseimbangan kepentingan stakeholders lainnya guna mencapai visi, misi dan
tujuan Perusahaan.

Nilai Budaya Perusahaan PT Angkasa Pura I (Persero) yaitu : SATU

1. SINERGI
Definisi Nilai : 
Cara insan PT Angkasa Pura I (Persero) menghargai keragaman dan
keunikan setiap elemen untuk memberi nilai tambah bagi perusahaan,
pembangunan ekonomi dan lingkungan dimana kami berada.

Panduan Perilaku : 

a) Intensif dalam menjalin koordinasi antar individu, unit kerja dan


pemangku kepentingan lainnya untuk menciptakan nilai tambah bagi
perusahaan dan lingkungan.
b) Saling menghargai dalam memberikan saran, kritik dan pendapat yang
membangun.
c) Saling memberi semangat dengan antusias untuk menghasilkan kinerja
unggul.

2. ADAPTIF
Definisi Nilai :
Daya, semangat dan hasrat insan PT Angkasa Pura I (Persero) yang
pantang menyerah, proaktif merespon perubahan dan kaya akan inovasi.

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


18
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

Panduan Perilaku : 

a) Aktif meningkatkan kompetensi (ketrampilan dan pengetahuan)


melalui pembelajaran dan berbagi pengetahuan baik secara kolektif
maupun individual.
b) Proaktif dalam menghadapi perubahan internal maupun  eksternal.
c) Pantang menyerah dengan mengembangkan cara‐cara baru yang
inovatif untuk penyelesaian tugas dengan sempurna.

3. TERPERCAYA
Definisi Nilai :
Karakter insan PT Angkasa Pura I (Persero)  yang senantiasa selaras
antara kata dengan perbuatan, jujur dalam menjalankan tugas serta
kewajiban , dan dapat diandalkan.

Panduan Perilaku : 

a) Jujur dalam memegang nilainilai kebenaran yang hakiki.


b) Selaras antara kata dan perbuatan.
c) Disiplin dalam penyelesaian pekerjaan. 
d) Bertanggung jawab terhadap hasil yang dicapai tanpa  menyalahkan
pihak lain.

4. UNGGUL
Definisi Nilai :

Komitmen insan PT Angkasa Pura I (Persero) memberikan layanan


prima dengan profesional dan bertanggung jawab untuk memuaskan
pelanggan secara berkelanjutan.

Panduan Perilaku :

a) Bersikap dan bertindak yang terbaik untuk melayani kebutuhan


pelanggan internal dan eksternal.
b) Cepat dan tepat dalam memberikan solusi terhadap kebutuhan
pelanggan sesuai dengan standar layanan yang ditetapkan.

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


19
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

c) Ahli dan mampu dalam menyelesaikan tugas serta memberikan solusi


yang berkualitas melebihi harapan pelanggan (baik pelanggan internal
maupun eksternal).

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


20
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

BAB III
PELAKSANAAN ON THE JOB TRAINING

3.1 Lingkup Pelaksanaan On The Job Training

Ruang lingkup On The Job Training di PT Angkasa Pura I Kantor


Cabang Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar meliputi
beberapa unit sebagai berikut :

1. AMC ( Apron Movement Control )


Dalam pengertian luas apron movement control (AMC) adalah ditujukan
untuk pengawasan atas semua pergerakan lalu lintas diarea apron yang terdiri
dari lalu lintas udara, kendaraan dan personil yang berada dibandara,
pengawasan dalam terminologi disini memberikan arti tindak langkah yang
diperlukan untuk mecegah terjadinya dalam hal ini kasus tabrakan diantara
ketiga unsur pembentuk lalu lintas apron, dimana mereka melakukan kegiatan
bersama. Di samping itu pengawasan juga dimaksud agar pengaturan lalu lintas
dapat berlangsur dengan lancar.
Unit AMC memiliki tugas sebagai penanggung jawab kegiatan pelayanan
operasi penerbangan, pengelolaan apron dan semua orang yang berkepentingan
di daerah sisi udara (air side). Dalam Managemen Operasi Sisi Udara (AMC)
melakukan kordinasi dalam pelayanan yang terdiri dari pengaturan parkir
pesawat udara, Docking dan De-Docking, VDGS dan AVDGS, Push Back dan
Start Engine, marshalling, follow me car, pengawasan kendaraan di sisi udara,
penerbitan ijin kendaraan operasional dan GSE, penerbitan TIM apron,
kebersihan apron, penanganan tumpahan bahan bakar (Fuel spillage).
Dalam pelaksanaan tugasnya, unit AMC berfungsi sebagai unit pelayanan dan
pengawasan di sisi udara (air side) yang meliputi :
a. Fungsi pelayanan operasional meliputi :
1. Pelayanan operasional Aviobridge.
2. Pelayanan marshalling bagi pesawat yang membutuhkan.
3. Pemberian pelayanan pencatatan data penerbangan untuk kebutuhan CIS
(Central Information System).
4. Pelayanan BCB (baggage Conveyor Belt).

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


21
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

5. Pengkoordinasian tugas-tugas untuk pelayanan operasional berbagai unit


sewaktu-waktu diperlukan serta pemeliharaan Apron dan instalasinya.
b. Fungsi pengawasan meliputi :
1. Penerbitan Tanda Ijin Mengemudi (TIM) kendaraan kepada pengemudi yang
berhak, dan pemeriksaan sewaktu-waktu dilapangan.
2. Pemberian tanda stiker / logo bagi kendaraan operasional yang berhak, dan
pemeriksaan sewaktu-waktu dilapangan.
3. Pengawasan atas jalannya lalu-lintas kendaraan dan personil di sisi udara (air
side). 4. Inspeksi atas semua instalasi dan peralatan yang merupakan bagian
dari fasilitas di apron.
2. AVSEC ( Aviation Security )
AVSEC adalah Personil Keamanan Penerbangan yang telah (wajib)
memiliki lisensi atau surat tanda kecakapan petugas (SKTP) yang diberi tugas
dan tanggung jawab di bidang keamanan penerbangan. (Peraturan Direktur
Jenderal Perhubungan Udara Nomor : SKEP/2765/XII/2010 Bab I butir 9).
UU Nomor 15 tahun 1992 tertanggal 25 Mei 1992 tentang penerbangan, yang
terkait dengan pengamanan ( security ) bandar udara yaitu Bab VIII pasal 3,
yang berbunyi :
“Penyelenggara bandar udara bertanggung jawab terhadap keamanan dan
keselamatan penerbangan serta kelancaran pelayanannya ”.
Tugas dari Aviation Security :
a. Basic Avsec memiliki tugas yaitu untuk melihat profiling seseorang. Yang
tugasnya memeriksa orang secara manual. Memerika tubuh, melihat
wajahnya, apakah ada sesuatu yang mencurigakan atau tidak, pemeriksaan
dari kaki sampai ke atas, itu Basic (Avsec)
b. Junior Avsec memiliki tugas yaitu mengoperasikan perangkat X-Ray dan
memantaunya di monitor.
c. Senior Avsec bertugas sebagai supervisor, yaitu mengawasi cara kerja para
avsec secara keseluruhan. “Jadi ketiga kualifikasi itu di setiap bandar udara
pasti ada.

3. Cargo

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


22
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

Gambar 3.1 Terminal Cargo dan Pos Bandara Sultan Hasanuddin Makassar
Hasil Karya : Dokumentasi Penulis 2019
Cargo adalah setiap barang yang diangkut oleh pesawat udara
termasuk hewan dan tumbuhan selain pos,baran kebutuhan pesawat selama
penerbangan, barang bawaan, atau barang yang tidak bertuan.
Terminal cargo adalah salah satu fasilitas pokok pelayanan di dalam bandar
udara untuk memproses pengiriman dan penerimaan muatan udara, domestic
maupun internasional yang bertujuan untuk kelancaran proses cargo serta
memenuhi persyaratan keamanan dan keselamatan penerbangan.
Dasar Hukum
UU No.1 Tahun 2009 Paragraf 3 Tentang Kegiatan Pengusahaan di Bandar
Udara
Pasal 232
(1) Kegiatan pengusahaan bandar udara terdiri atas:
a. pelayanan jasa kebandarudaraan; dan
b. pelayanan jasa terkait bandar udara.
(2) Pelayanan jasa kebandarudaraan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a meliputi pelayanan jasa pesawat udara, penumpang, barang, dan pos
yang terdiri atas penyediaan dan/atau pengembangan:
a. fasilitas untuk kegiatan pelayanan pendaratan, lepas landas, manuver,
parkir, dan penyimpanan pesawat udara;

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


23
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

b. fasilitas terminal untuk pelayanan angkutanpenumpang, kargo, dan pos;


c. fasilitas elektronika, listrik, air, dan instalasi limbah buangan; dan
d. lahan untuk bangunan, lapangan, dan industri serta gedung atau bangunan
yang berhubungan dengan kelancaran angkutan udara.
(3) Pelayanan jasa terkait bandar udara sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf b meliputi kegiatan:
a. jasa terkait untuk menunjang kegiatan pelayanan
penumpang dan barang, terdiri atas:
1) penyediaan penginapan/hotel dan transit hotel;
2) penyediaan toko dan restoran;
3) penyimpanan kendaraan bermotor;
4) pelayanan kesehatan;
5) perbankan dan/atau penukaran uang; dan
6) transportasi darat.
b. jasa terkait untuk memberikan nilai tambah bagi
pengusahaan bandar udara, terdiri atas:
1) penyediaan tempat bermain dan rekreasi;
2) penyediaan fasilitas perkantoran;
3) penyediaan fasilitas olah raga;
4) penyediaan fasiltas pendidikan dan pelatihan;
5) pengisian bahan bakar kendaraan bermotor; dan
6) periklanan.

Pasal 233
(1) Pelayanan jasa kebandarudaraan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 232 ayat (2) dapat diselenggarakan oleh:
a. badan usaha bandar udara untuk bandar udara yang diusahakan secara
komersial setelah memperoleh izin dari Menteri; atau
b. unit penyelenggara bandar udara untuk bandar udara yang belum
diusahakan secara komersial yang dibentuk oleh dan bertanggung jawab
kepada pemerintah dan/atau pemerintah daerah.
(2) Izin Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a diberikan setelah
memenuhi persyaratan administrasi, keuangan, dan manajemen.

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


24
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

(3) Izin Menteri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak dapat
dipindahtangankan.
(4) Pelayanan jasa terkait dengan bandar udara sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 232 ayat (3) dapat diselenggarakan oleh orang perseorangan warga
negara Indonesia dan/atau badan hukum Indonesia.
(5) Badan usaha bandar udara yang memindahtangankan izin sebagaimana
dimaksud pada ayat (3) dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan izin.
Pasal 234
(1) Dalam melaksanakan pelayanan jasa kebandarudaraan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 232 ayat (2), badan usaha bandar udara dan unit
penyelenggara Bandar udara wajib:
a. memiliki sertifikat bandar udara atau register Bandar udara;
b. menyediakan fasilitas bandar udara yang laik operasi, serta memelihara
kelaikan fasilitas bandar udara;
c. menyediakan personel yang mempunyai kompetensi untuk perawatan dan
pengoperasian fasilitas Bandar udara;
d. mempertahankan dan meningkatkan kompetensi personel yang merawat
dan mengoperasikan fasilitas bandar udara;
e. menyediakan dan memperbarui setiap prosedur pengoperasian dan
perawatan fasilitas bandar udara;
f. memberikan pelayanan kepada pengguna jasa Bandar udara sesuai dengan
standar pelayanan yang ditetapkan oleh Menteri;
g. menyediakan fasilitas kelancaran lalu lintas personel pesawat udara dan
petugas operasional;
h. menjaga dan meningkatkan keselamatan, keamanan, kelancaran, dan
kenyamanan di bandar udara;
i. menjaga dan meningkatkan keamanan dan ketertiban bandar udara;
j. memelihara kelestarian lingkungan;
k. mematuhi ketentuan peraturan perundang-undangan;
l. melakukan pengawasan dan pengendalian secara internal atas kelaikan
fasilitas bandar udara, pelaksanaan prosedur perawatan dan pengoperasian
fasilitas bandar udara, serta kompetensi personel bandar udara; dan
m. memberikan laporan secara berkala kepada Menteri dan otoritas bandar
udara.

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


25
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

2) Setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat


(1) dikenakan sanksi administrative berupa:
a. peringatan;
b. pembekuan izin; dan/atau
c. pencabutan izin.

c) Cargo Area
Cargo Handling adalah suatu rangkaian proses pekerjaan penyelesaian
kargo saat mulai diterima sampai dimuat ke dalam pesawat untuk diangkut dari
suatu kota ke kota lain di dalam dan luar negeri.

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


26
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

Gambar 3.2 Lay out Regulated Agent terminal cargo


Bandara Sultan Hasanuddin Makassar
Hasil Karya : Dokumentasi Penulis 2019

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


27
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


28
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

- Proses pekerjaan antara lain adalah :

1. Penerimaan (Acceptance).

2. Timbang barang.

3. Pembuatan Dokumen Angkut (Documentation).

4. Build-up / Break-down dari dan pallet/container atau gerobak.

5. Penarikan dari gudang ke pesawat dan sebaliknya.

6.Loading ke pesawat dan unloading dari pesawat.

7. Penyimpanan (storage).

8. Pengiriman (delivery)           

Cargo Handling dapat berjalan baik apabila sistem dan prosedur serta
sarana dan prasarana yang dimiliki gudang dan pergudangan di masing–
masing stasiun mencukupi dan pelaksanaan pekerjaan dilakukan dengan
benar sesuai operating procedure.

1. Sistem

Untuk pembuatan bukti timbang barang / BTB digunakan program yang


di-install dalam Computer.Manifest Cargo dibuat dengan menggunakan
mengisi form yang telah tersedia.

2. Prosedur

Setiap gudang mempunyai acuan kerja yaitu Standard Operation


Procedure (SOP); berupa tindakan yang harus dilaksanakan petugas gudang
agar pekerjaan operasional dapat berjalan lancar.Peraturan mengenai syarat
dan tata cara menerima, menyusun barang kiriman ke pallet dan kontainer
serta menarik dan memuat barang ke pesawat secara korporasi terdapat dalam
manual Airlines.Peraturan lainnya terdapat dalam Cargo Information Notice
sebelum dibakukan dalam manual.Pencatatan kegiatan sehari-hari antara shift
terutama bila terjadi irregularities dilakukan dengan mengisi log book.

4. Sarana & Prasarana di Gudang

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


29
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

Sarana dan prasarana yang ada di gudang antara lain Timbangan,


Computer, Printer, Ruang kantor, telepon, Mesin X Ray, Mesin Telex,
Fasilitas bergerak, Fasilitas tidak bergerak.

d) Klasifikasi Cargo

          Berdasarkan cara penanganannya, kargo dibagi ke dalam dua golongan


besar,yaitu general cargo dan special cargo. Sementara itu, menurut ketentuan
dari IATA HAM 810 April 1998 Annex A, 20th edition, January 2002 bahwa
kargo dibedakan menjadi 3 jenis yaitu general cargo, special shipment (missal
AVI, PER, HUM, VAL, DG, LHO, VUN, dll) dan specialized cargo products
(misalnya express cargo, dan courier shipment).

1.    General cargo adalah barang-barang kiriman biasa sehingga tidak memerlukan
penanganan secara khusus, namun tetap harus memenuhi persyaratan yang
ditetapkan dan aspek safety. Contoh barang yang dikategorikan general cargo
antara lain : barang-barang keperluan rumah tangga, peralatan kantor, peralatan
olahraga, pakaian (garment, tekstil), dan lain-lain.
2.        Special cargo adalah barang-barang kiriman yang memerlukan penanganan
secara khusus (special handling). Jenis barang ini pada dasarnya dapat diangkut
lewat angkutan udara dan harus memenuhi persyaratan dan penanganan secara
khusus sesuai dengan regulasi IATA dan atau pengangkut. Contohnya yaitu live
animals, human remain, perishable goods, valuable goods, dan dangerous goods.
benda – benda atau bahan – bahan yang termasuk dalam kategori ini adalah:
AVI, DG, HUM, PER, PES, PEM, HEA, dll. 
1) Explosive Material, dengan kode REC.
 Barang ini mudah meledak, karena  mengandung zat – zat kimia yang mudah
meledak. Contoh: adalah amunisi, petasan, dll.
 2) Flammable goods
Barang ini mudah terbakar baik dalam bentuk gas (RFG), padat (RFS) maupun
dalam bentuk cair (RFL). Contoh: oxigent.
 3) Non Flammable Compressed Gas (RNG), contoh: film.
4) Corrosive Material (RCM)
Barang ini dapat menimbulkan karat. Contoh: air raksa dan zat asam.
 5) Irritan Material

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


30
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

Barang atau bahan yang mengandung zat perangsang atau dapat merangsang
benda – benda lainnya, seperti alcohol, gas dan spiritus.
 6) Magnetized Material (MAG)
Barang yang mengandung unsur magnetic. Contoh: kompas, loudspeaker, dll.
7) Oxidizing Material
Barang yang mudah terbakar bila bereaksi dengan O2. Contoh: zat pemutih,
nitrat, peroksida.
8) Fragile goods (FRG)
Barang – barang yang mudah pecah-belah. Contoh: barang terbuat dari porselen,
kaca gelas, dll.
 9) Poisonous Substances (RPS)
Barang – barang berupa racun, pengangkutannya harus ada izin dari yang
berwenang. Contoh: cianida, arsenik, dll.
 10) Radio Active Material
Bahan – bahan yang mengandung radio aktif.
 11) Valuable Goods (VAL)
Barang – barang berharga dan mengandung unsur kimia lainnya di dalamnya.
Contoh: logam mulia, perhiasan, kertas / dokumen berharga.
 12) Wet Freight
Golongan barang – barang yang berbentuk cairan atau barang padat yang
bercampur dengan cairan sehingga pemuatannya harus dalam kontainer. Contoh:
daging segar, udang basah, makanan, telur, dll.
 13) Perishable Goods (PER)
Barang – barang yang diduga akan hancur dan busuk selama perjalanan sehingga
dalam pemuatannya harus ada bahan pengawet supaya tahan lama dalam
perjalanan / selama pengiriman. Contoh: buah – buahan, tumbuh – tumbuhan
hidup, bunga, dll.
14) Dangerous When Wet
Barang – barang yang berbahaya dan mudah meledak bila basah atau lembab.
Contoh: karbit.
15) Live Animal (AVI)
Pengangkutan hewan hidup lewat udara, seperti sapi, kuda, ikan hias, monyet,
anjing, kucing, burung, dll.
16) Human Remains (HUM)

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


31
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

Pengangkutan jenazah manusia melalui udara baik jenazah utuh (jasad), sudah
dikremasi / abu, dibalsem atau tidak dibalsem.
e) Pihak Terkait dalam Pengiriman Cargo

Ada tiga pihak utama yang terkait dengan pengiriman kargo, yaitu :

  a. Pihak pengirim ( shipper )

Shipper bisa berupa perorangan, badan usaha, dilakukan secara


langsung tanpa perantara, atau melalui jasa ekspedisi muatan kapal laut atau
ekspedisi muatan pesawat udara.

b. Pihak pengangkut ( carrier )

Carrier bisa berupa cargo sales airline, cargo sales agent, airline / air
charter yang juga berfungsi sebagai pengangkut kargo.

c. Pihak penerima ( consignee )

Consignee bisa berupa perorangan, badan usaha maupun dalam bentuk cargo
agent.

f) Dokumen Pendukung Pengiriman Cargo

Dokumen pendukung dalam penanganan dan pelayanan handling kargo dapat


diketahui beberapa hal :

1. Acceptance : CBA (cargo booking advice), PTI (pemberitahuan tentang isi),


BTB (bukti timbang barang), SMU (surat muatan udara), CN 38 (pos), Shipper
Declaration for Dangerous Goods, Checklist for Dangerous Goods, DB
(delivery bill), DRSC (untuk kasir)/ Bordrel, dan Pertelaan (untuk kasir).

2. Out Going : CBA (cargo booking advice), CLP (cargo load plan), SMU
(surat muatan udara), CN 38 (pos), Checklist Buildup, Manifest Cargo
Outbond, NOTOC (Notification to Captain), DO (delivery order) penarikan
kargo.

3. Incoming : Manifest Cargo Inbound, SMU (surat muatan udara), NOA


(notice on arrival), DO (delivery order), DB (delivery bill), Surat Jalan, DRSC
(untuk kasir), dan Pertelaan.

g) Fungsi dan Kegunaan Dokumen

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


32
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

Fungsi dan kegunaan dokumen dapat diartikan dalam beberapa hal seperti:
a. Alat komunikasi.

b. Bukti dari apa yang kita kerjakan / lakukan.

c. Data pendukung apabila ada masalah.

d. Data pendukung untuk proses pengurusan kargo.           

Dalam dunia penerbangan secara khusus bisnis kargo kelengkapan dan


penataan dokumen sangat penting, termasuk didalamnya pelayanan handling
yang dilakukan oleh warehouse operator, dan oleh karena itu dokumen yang telah
selesai dikerjakan harus tertata (file) dengan rapi dan benar.

Dokumen pendukung dalam penanganan dan pelayanan handling kargo dapat


diketahui beberapa hal :

1)      Persiapan
(a). CBA ( cargo booking advice )
(b). PTI ( pemberitahuan tentang isi )
(c). BTB ( bukti timbang barang )
(d). SMU ( surat muatan udara )
(e). CN 38 ( pos )
(f). Shipper Declaration for Dangerous Goods
(g). Checklist for Dangerous Goods
(h). DB ( delivery bill )
(i). DRSC ( untuk kasir )/ Bordrel
(j). Pertelaan ( untuk kasir )
2)   Out Going
(a). CBA ( cargo booking advice )
(b). CLP ( cargo load plan )
(c). SMU ( surat muatan udara )
(d). CN 38 ( pos )
(e). Checklist Buildup
(f). Manifest Cargo Outbond
(g). NOTOC ( Notification to Captain )
(h). DO ( delivery order ) penarikan kargo.

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


33
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

3) Incoming

(a). Manifest Cargo Inbound


(b). SMU ( surat muatan udara )
(c). NOA ( notice on arrival )
(d). DO ( delivery order )
(e). DB ( delivery bill )

(f). Surat Jalan


(g). DRSC ( untuk kasir )
(h). Pertelaan
h) Fasilitas Terminal Kargo dan Pos

1. Fasilitas Pelayanan Jasa Kebandarudaraan

 Gedung Terminal Kargo & Pos (termasuk fasilitas umum)


 X-Ray (Bandara yang Belum ada RA) dan Walk Metal Detector (WTMD)
 Timbangan & Alat Ukur (volume)
 Hardware / Software (imput data dan dokumen)
 CCTV, FIDS & Utilitas
 Tempat Penimbunan Sementara (TPS)
 Storage (DG, VAL, AVI dll)
 Standar Operasi & Prosedur (SOP) Pengelolaan Terminal Kargo & Pos
2. Fasilitas Pelayanan Jasa Terkait Bandar Udara

 Hardware / Software
 Forklift
 Pallet
 Hand Pallet
 Grobak
 Packing, Labeling & Marking
i) SDM Terminal Kargo dan Pos
1. SDM Pelayanan Jasa Kebandarudaraan

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


34
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

 Aviation Security (Operation X-Ray, WTMD, CCTV & Keamanan di wilayah


Terminal Kargo & Pos)
 Acceptance (Memastikan pergerakan kargo & pos terinput ke system dan
dokumen pendukung sesuai yang dipersyaratkan)
 Kasir (pecatatan dan penerimaan pendapatan PJKP2U)
 Terminal Inspector (memastikan fasilitas terminal kargo & pos berfungsi
dengan baik)
 Staf Admintrasi
2. SDM Pelayanan Jasa Terkait Bandar Udara

 Checker/Checklist
 Driver Forklif
 Porter
 Staf Administrasi
3.2 Jadwal pelaksanaan On The Job Training
Pelaksanaan On The Job Training dilakukan selama tiga bulan terhitung mulai
tanggal 5 April 2018 sampai dengan 22 Juni 2019 di PT Angkasa Pura I Kantor
Cabang Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar disesuaikan
dengan form kegiatan harian On The Job Training di Bandara Internasional
Sultan Hasanuddin Makassar. Berikut ini adalah jadwal OJT ( On The Job
Training ) di beberapa unit :

1. CARGO : 5 April 2019 s.d 30 April 2019

2. AVSEC : 2 Mei s.d 31 Mei 2019

3. AMC : 10 Juni s.d 22 Juni

3.3 Kegiatan yang Telah Dilakukan


Kegiatan pelaksanaan On The Job Training (OJT) di Bandar Udara
Internasional Sultan Hasanuddin Makassar dalam Laporan Kegiatan On The Job
Training (OJT) di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar
disesuaikan dengan form kegiatan harian On The Job Training (OJT) pada
kegiatan On The Job Training (OJT) di Bandar Udara Internasional Sultan
Hasanuddin Makassar termuat pada Lampiran form harian OJT. Di dalam On
The Job Training (OJT) penulis mendapatkan permasalahan di Unit Cargo dan
Avsec sedangkan di Unit AMC penulis tidak mendapatkan permasalahan.

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


35
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

3.4 Permasalahan On The Job Training

Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar adalah salah satu


unit pelaksana teknis dibawah PT. Angkasa Pura I (Persero) yang melayani rute
penerbangan domestik dan internasional yang berlokasi di Makassar, Sulawesi
Selatan. Dimana terdapat banyak aktivitas yang dilakukan di bandara sehingga
wajib untuk melakukan pemeriksaan keamanan bagi penumpang, orang, personel
pesawat udara dan barang yang akan masuk ke daerah keamanan terbatas
dan/atau ruang tunggu di gedung terminal bandara. Pergerakan-pergerakan
harus senantiasa dipantau, baik pergerakan pesawat maupun pergerakan-
pergerakan lainnya khususnya pengawasan di sisi udara.

Setelah melaksanakan kegiatan OJT di PT Angkasa Pura I Kantor Cabang


Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar selama 3 bulan, ada beberapa
masalah yang penulis temukan di lapangan yang mempengaruhi keamanan,
kenyamanan, keselamatan penerbangan dan efisiensi pemeriksaan penumpang.

3.4.1 Permasalahan 1

Setiap penumpang, personel pesawat udara dan orang perseorangan


yang memasuki daerah keamanan terbatas serta barang bawaan harus
dilakukan pemeriksaan keamanan. Pemeriksaan keamanan dilakukan di
tempat pemeriksaan keamanan SCP ( Screening Check Point ). Penumpang
yang akan menuju waiting room harus di periksa melalui pemeriksaan SCP
( Screening Check Point ). Pemeriksaan Pas Bandara dan tanda pengenal oleh
petugas AVSEC (Aviation Security) setelah itu penumpang di arahkan untuk
melakukan pemeriksaan barang melalui X-Ray dan penumpang di periksa
melalui WTMD ( Walk Through Metal Detector ).

Dalam kasus ini penulis menemukan bahwa kurangnya arahan dari


petugas AVSEC ( Aviation Security ) untuk mengeluarkan laptop dari dalam
tas dan diletakan di dalam baki secara terpisah dan banyaknya penumpang
yang belum paham barang – barang apa saja yang wajib di periksa melalui
mesin X-Ray, terutama peraturan untuk mengeluarkan laptop dan diperiksa
secara terpisah. Penumpang yang tidak mengeluarkan laptop nya dari dalam
tas akan mengakibatkan tas yang tadi berisi laptop harus di periksa ulang
melalui mesin X-Ray. Hal ini mengakibatkan antrian panjang terutama di jam

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


36
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

padat seperti di pagi hari, penumpang akan mengeluarkan laptop yang berada
di dalam tas ketika penumpang akan beranjak ke pemeriksaan berikutnya,
belum adannya persiapan penumpang untuk mengeluarkan laptop terlebih
dahulu akan menghambat flow penumpang di bagian ini. Kurangnya efisiensi
dalam pengecekan barang bawaan penumpan serta penumpukan antrian
penumpang menjadi masalah utama.

Laptop harus dikeluarkan dari dalam tas dan diperiksa terpisah


dikarenakan untuk mencegah adanya bom di barang elektronik khususnya
laptop, karena laptop bisa dirakit menjadi bahan atau pemicu peledak. Alasan
lain yaitu tidak terbacanya barang – barang yang berada di bawah atau di
balik laptop di mesin X-Ray.

Gambar 3.3 Tidak adanya arahan petugas Avsec kepada penumpangHasil


Karya : Dokumentasi Penulis 2019

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


37
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

Gambar 3.4 Laptop menutupi barang yang berada di bawahnya


Hasil Karya : Dokumentasi Penulis 2019

Seperti yang pernah di kutip oleh detikINET dari situs Sekretariat


Kabinet Republik Indonesia, Minggu (2/4/2017), didalamnya dijelaskan
Direktorat Jendral Perhubungan Udara Agus Santoso, “Untuk saat ini barang-
barang elektronik tersebut boleh dibawa ke kabin namun harus dikeluarkan
dari tas dan diperiksa melalui mesin X-Ray”.

Hal ini juga mengacu dari Surat Edaran nomor 6 tahun 2016 dari
Kementrian Perhubungan Direktorat Jendral Perhubungan Udara yang ber isi
tentang “PROSEDUR PEMERIKSAAN BAGASI DAN BARANG
BAWAAN YANG BERUPA PERANGKAT ELEKTRONIK YANG
DIANGKUT DENGAN PESAWAT UDARA” dalam point nomor 3.a.
“Memastikan laptop dan barang elektronik lainnya dikeluarkan dari bagasi /
tas jinjinng dan diperiksa melalui mesin X-Ray”. Masalah ini juga didasari
SKEP/2765/XII/2010 pasal 23 huruf b nomor 3 “Laptop dan barang
elektornik lainnya dengan ukuran yang sama dikeluarkan dari tas/bagasi dan
diperiksa melalui mesin x-ray”.

3.4.2 Permasalahan 2

Setiap barang kargo yang datang ataupun yang mau dikirim


sebelumnya diadakan pengecekan barang tersebut dalam keadaan baik atau
buruk oleh petugas checker. Barang kargo yang tidak layak dikirim akan
dikembalikan ke empunya begitupun dengan barang kargo yang rusak setelah
sampai akan di telusuri akibat dari penyebab barang rusak tersebut,bias
diakibatkan dari proses pengiriman ataupun dari terminal kargo bandara
pengirim.

Dalam kasus ini penulis menemukan permasalahan yaitu animal kargo


yang berisi anak ayam. Animal kargo tersebut berjumlah 4 kardus dengan
setiap kardusnya berisi rata-rata 100 ekor anak ayam. Anak ayam tersebut
semua dalam keadaan mati setelah diterima oleh pihak checker. Ayam yang

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


38
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

mati tersebut dibiarkan begitu saja yang mengakibatkan bau yang tidak sedap
di sekitaran build up dan mengganggu pekerja.

Gambar 3.5 animal kargo anak ayam yang mati menimbulkan bau di sekitaran
build up area
Hasil Karya : Dokumentasi Penulis 2019

3.5 Penyelesaian Masalah

3.5.1Penyelesaian Masalah 1

Perlu adanya petugas yang bertugas memberikan arahan kepada


penumpang mengenai barang elektronik laptop yang wajib di keluarkan dari
dalam tas dan diperiksa terpisah sebelum penumpang memasuki area SCP
( Screening Checked Point ). Perlu adanya sosialisai mengenai peraturan yang
berkasitan dengan peraturan tersebut dan dampak terhadap hal tersebut jika
tidak dijalankan sesuai Undang- undang yang berlaku. Kurang pahamnya
penumpang mengenai laptop yang harus di keluarkan dari dalam tas dan
diperiksa secara terpisah ini menjadi masalah utama. Pemberitahuan kepada
penumpang sebelum melakukan penerbangan juga dapat mengatasi masalah
ini.

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


39
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

Petugas AVSEC ( Aviation Security ) juga harus selalu standby untuk


memberi arahan kepada penumpang yang belum mengeluarkan laptop dan
meletakan laptop kedalam baki agar flow di daerah SCP ( Screening Checked
Point ) berjalan dengan lancar dan tidak terhambat. Pasalanya ketika laptop
belum di keluarkan dari dalam tas dan diperiksa melalui X-Ray tas dan laptop
akan di periksa ulang melalui mesin X-Ray sehingga menghambat
pemeriksaan barang penumpang selanjutnya.

3.5.2 Penyelesaian masalah 2

Tanggung jawab perusahaan penerbangan terhadap pihak yang


mengalami kerugian diatur pada pasal 2 Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor 77 Tahun 2009 Tentang Tanggung Jawab Pengangkut Angkutan
Udara yang menyangkut:
1. Penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap atau luka-luka;
2. Hilang atau rusaknya bagasi kabin;
3. Hilang, musnah, atau rusaknya bagasi tercatat;
4. Hilang, musnah, atau rusaknya kargo;
5. Keterlambatan angkutan udara; dan
Perusahaan penerbangan wajib bertanggung jawab atas kerugian yang
diderita oleh pengirim kargo bila kargo yang dikirim hilang, musnah, atau
rusak yang diakibatkan oleh kegiatan angkutan udara perusahaan penerbangan
tersebut. Dalam hal hilang, musnah, atau rusaknya kargo tuntutan ganti rugi
yang ditujukan kepada pihak perusahaan penerbangan diajukan secara tertulis
pada saat kargo diterima oleh penerima kargo. Tuntutan ganti rugi atas hilang,
musnah atau rusaknya kargo yang dialami pengirim kargo dapat didasarkan
dengan bukti dokumen terkait yaitu surat muatan udara

Perlu adanya petugas yang mengecheck barang dan menangani animal


kargo tersebut sehingga tidak menimbulkan bau yang mengakibatkan
terganggunya pekerja di sekitar build up area yang apabila dibiarkan lama
akan menjadi virus yang menyebar bukan hanya ke animal kargo bahkan
sampai ke pegawai di sekitaran build up.

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


40
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
4.1.2 Kesimpulan Terhadap Bab III
Selama melaksanakan On The Job Training (OJT) taruna/I banyak
mendapatkan pengetahuan dan pengalaman bekerja di lapangan. Taruna/I juga
banyak menemukan masalah, diantaranya yang penulis paparkan di Bab III.
Karena adanya permasalahan tersebut taruna/I jadi mendapatkan pengetahuan
bagaimana masalah itu bisa terjadi atau penyebab masalah itu dan bagaimana
cara menyelesaikan masalah tersebut.
Prosedur dapat diterapkan asal tidak menyimpang dari peraturan baku
yang telah ditetapkan serta sesuai untuk kondisi kerja di lokasi tersebut.
Karena diperlukan system regulasi atau peraturan dan prosedur yang baik dan
sesuai dengan kondisi lapangan, serta pemberian pelayanan sebagai mana
mestinya dan maksimal.

4.1.3 Kesimpulan Terhadap OJT Secara Keseluruhan


Kegiatan On The Job Training (OJT) bagi taruna/I Diploma III
Manajemen Transportasi Udara diharapkan dapat meningkat mutu
pembelajaran sekaligus dapat memberikan pengetahuan yang belum bisa
didapatkan selama belajar di Politeknik Penerbangan Surabaya.
Selama melaksanakan OJT taruna/I dituntut untuk berinteraksi dengan
lingkungan baru dan individu baru ditempat OJT. Interaksi itulah yang
terpenting yang mana bisa membuat taruna/I mampu bekerjasama dalam
bekerja dan menyelesaikan masalah apabila terjadi masalah yang mana tidaklah
mungkin dikerjakan oleh 1 orang.
Saat OJT taruna/I dapat secara langsung belajar bagaimana keadaan di
lapangan saat terjadi permasalahan ataupun perbaikan yang mana taruna/I yang
OJT diawasi langsung oleh senior yang ada di Bandar Udara Internasional
Sultan Hasanuddin dan juga dibantu oleh rekan- rekan Angkasa Pura Support
Angkasa Pura Logistik.

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


41
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

4.2 Saran
4.2.1. Saran Terhadap Bab III
Dari permasalahan yang dialami selama melakukan On The Job Training
di Unit AVSEC ( Aviation Security ), Cargo dan AMC di Bandar Udara Sultan
Hasanuddin Makassar, terutama masalah kurang pahamnya penumpang akan
barang – barang apa saja yang di keluarkan dari dalam tas dan diperiksa secara
terpisah melalui mesin X-Ray yang menyebakan antrian di SCP ( Screening
Check Point ) yang dikarenakan pengecekan ulang laptop dan tas penumpang.
Kurangnya arahan petugas AVSEC ( Aviation Security ) untuk meminta
memisahkan laptop dari dalam tas dan diperiksa terpisah melalui mesin X-Ray.
Maka diperlukan petugas yang bertugas memberikan arahan kepada
penumpang mengenai barang elektronik laptop yang wajib di keluarkan dari
dalam tas dan diperiksa terpisah sebelum penumpang memasuki area SCP
( Screening Checked Point ). Perlu adanya sosialisai mengenai peraturan yang
berkasitan dengan peraturan tersebut dan dampak terhadap hal tersebut jika
tidak dijalankan sesuai Undang- undang yang berlaku. Serta kurangnya
sosialisasi terhadap penanganan kargo rusak di terminal cargo Bandara Sultan
Hasanuddin Makassar terhadap pihak checker mengakibatkan terbengkalainya
barang kargo yang disini permasalahannya animal cargo yaitu anak ayam yang
mati yang mengakibatkan bau tidak sedap di sekitar build up area dan apabila
tidak cepat ditanggapi anak ayam yang mati tersebut menyebabkan virus yang
tidak hanya menyebar di animal cargo bahkan juga pegawai di sekitar terminal
cargo tersebut. Perlu adanya briefing sebelum kerja sangat berpengaruh guna
menghadapi permasalahan tersebut.

4.2.2. Saran Terhadap OJT Secara Keseluruhan


Agar pelaksanaan OJT dapat berjalan dengan maksimal hendaknya setiap
taruna/I dibekali dengan ilmu yang didapat di masa pendidikan di kelas
sehingga dapat diaplikasikan dalam pelaksanaan OJT di lapangan, adapun
saran untuk pelaksanaan OJT selanjutnya antara lain :

 Waktu dalam pelaksanaan OJT diharapkan untuk lebih dari 3 bulan, karena
dirasa belum cukup untuk memperdalam ilmu lapangan.

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


42
On the Job Training Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar

 Dalam pelaksanaan OJT tiap taruna/i diharapkan bisa aktif menanyakan hal
yang masih perlu dipahami, selain itu setiap kali melaksanakan tugas harus
ada koordinasi lapangan.
Pentingnya mengetahui Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam
bekerja, dan mengoperasikan sebuah peralatan (machine) untuk keamanan alat
dan tentunya yang lebih penting teknisi/ orang lain yang memungkinkan
terkena dampaknya

Manajemen Transportasi Udara Poltekbang Surabaya


43

Anda mungkin juga menyukai