Anda di halaman 1dari 15

CRITICAL JOURNAL REVIEW

PENINGKATAN KEMAMPUAN MAHASISWA MEMAHAMI


STRUKTUR WACANA MELALUI METODE ANALISIS WACANA
KRITIS BERBASIS LITERASI MEDIA SOSIAL

(Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Cecep Dudung Julianto,


2019)

Oleh:

LISA KIRANTI (2181111007)

PRODI : PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA


INDONESIA

JURUSAN : BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS : BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS : UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Sang Illahi Robbi yang mana atas berkat dan Rahmat-Nyalah kami
bisa menyelesaikan makalah ini, tak lupa sholawat dan salam marilah kita limpah curahkan
kepada Guru besar kita Yakni Nabi Muhammad SAW, tanpa adanya beliau mungkinkah kita
terbebas dari zaman kebodohan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Drs. Syamsul Arif, M.Pd., Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia
2. Ibu Trisnawati Hutagalung, M.Pd., Sekretaris Jurusan Bahasa dan Sastra
Indonesia
3. Ibu Fitriani Lubis, M.Pd., Ketua Prodi Pendidikan bahasa dan Sastra Indonesia
4. Bapak Drs. Tangson Pangaribuan, M.Pd, dosen mata kuliah Literasi Bahasa
Indonesia
5. teman-teman yang memberikan bantuan baik langsung maupun tidak langsung
6. orang tua tercinta yang tidak bosan-bosannya mendoakan dan sekaligus
memberikan dana kepada penulis.

Semoga critical journal review ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Medan, 12 April 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................

A. Rasioanalisasi Pentingnya CJR.........................................................................


B. Tujuan CJR........................................................................................................
C. Manfaat CJR......................................................................................................
D. Identitas Jurnal...................................................................................................

BAB II RINGKASAN ISI BUKU.....................................................................................

A. Ringkasan Jurnal Utama...................................................................................


B. Ringkasan Jurnal Pembanding..........................................................................

BAB III KELEBIHAN DAN KEKURANGAN..............................................................

A. Kelebihan..........................................................................................................
B. Kekurangan.......................................................................................................

BAB IV PENUTUP............................................................................................................

A. Simpulan...........................................................................................................
B. Saran.................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................
BAB I

PENDAHULUAN

A. Rasionalisasi Pentingnya CJR

Disaat kita membutuhkan sebuah referensi, yaitu jurnal sebagai sumber bacaan kita
selain buku dalam mempelajari mata kuliah Literasi Bahasa Indonesia, sebaiknya kita terlebih
dahulu mengkritisi jurnal tersebut agar kita mengetahui jurnal mana yang lebih relevan untuk
dijadikan sumber bacaan.

B. Tujuan Penulisan CJR


a. Untuk memenuhi tugas KKNI yang wajib dari mata kuliah Literasi Bahasa Indonesia.
b. Meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam meringkas dan membandingkan jurnal
satu dengan jurnal yang lain.
c. Memperkuat pemahaman pembaca terhadap pentingnya literasi dalam kehidupan.

C. Manfaat CJR
a. Sebagai rujukan bagaimana untuk menyempurnakan sebuah jurnal dan mencari
sumber bacaan yang relevan.
b. Membuat saya sebagai penulis lebih terasah dalam mengkritisi sebuah jurnal.
c. Untuk menambah pengetahuan tentang mata kuliah ini.

D. Identitas Jurnal
a. Identitas jurnal utama
a. Judul artikel : Peningkatan Kemampuan Mahasiswa Memahami
Struktur Wacana Melalui Metode Analisis Wacana
Kritis Berbasis Literasi Media Sosial
b. Nama jurnal : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,
c. Edisi terbit : 2019
d. Pengarang artikel : Cecep Dudung Julianto
e. Penerbit : FKIP Unswagati Press
f. Kota terbit : Jawa Barat
g. Nomor ISSN : 2355-6633
h. Alamat situs : https://jurnal.unsgawati.ac.id/index.php/Deiksis/
article/view/1905/1186
 Identitas jurnal pembanding
a. Judul artikel : Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Narasi
Melalui Penerapan Progam Literasi Berbantuan
Media Buku Cerita Anak pada Siswa SD
b. Nama jurnal : Jurnal Pendidikan
c. Edisi terbit : 2017
d. Pengarang artikel : Randy Widi Prayoga, Heri Suwignyo, Titik Harsiati
e. Penerbit : Pascasarjana Universitas Negeri Malang
Kota terbit : Malang
f. Nomor ISSN : 2502-471X
g. Alamat situs : https://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/article/
view/10187
BAB II

RINGKASAN ISI JURNAL

A. Ringkasan Jurnal Utama

Wacana selalu mempunyai kepentingan tertentu yang bersifat mengarahkan,


memengaruhi, melegitimasi, menilai, dan mengubah cara pandang pembaca melalui ideologi
yang digunakan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam proses rekonstruksi wacana,
(Fairclough, 1995; Wodak, 2001; dan van Dijk, 2002). Di era yang modernisasi ini
mahasiswa diwajibkan untuk mempunyai kompetensi keberwacanaan. Untuk memperoleh
keompetensi ini, mahasiswa harus memahami struktur wacana sebuah teks berita yaitu
struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro.

Dalam jurnal utama ini terdapat penelitian yang menggunakan metode eksperimen sejati
dengan desain Pretest-Posttest Control Group Design. Setelah melakukan penelitian maka
dapat diperoleh hasil wawancara dan observasi, pembelajaran struktur wacana selama ini
mahasiswa kurang aktif dan kesulitan untuk memahami struktur wacana. Kekurangaktifan
mereaksi atau merespons bacaan dalam menyampaikan ide atau gagasan dan pendapat,
kesulitan menguraikan struktur wacana, dan menyimpulkan bacaan/teks berita berdasarkan
fakta penunjang.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan pemahaman
sebelum pembelajaran antara kelas eksperimen dan kelas kontrol dan ada tidaknya perbedaan
efektivitas penggunaan metode pembelajaran terhadap tingkat pemahaman struktur wacana
antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan
pemahaman struktur wacana sebelum pembelajaran struktur wacana menggunakan uji Mann
Whitney melalui program SPSS versi 20.0.

Pada pembahasan ini akan diuraikan hasil penelitian peningkatan kemampuan mahasiswa
struktur wacana melalui penggunaan metode analisis wacana kritis berbasis literasi media
sosial. Pembelajaran sttruktur wacana berisi sejumlah konsep yang harus dikuasai dan
dipahami oleh mahasiswa. Mahasiswa diminta untuk mengetahui konsep struktur sebuah
wacana melalui hubungan antarbagian wacana dengan menguraikan bagian pendahuluan, isi,
dan penutup. Melalui hubungan tersebut di atas, mahasiswa dapat menjelaskan struktur
makro atau tematik, superstruktur atau skema sebuah wacana, dan struktur mikro. Struktur
terakhir mencakup penggunaan aspek sintaksis, semantik, stilistik, dan retoris. Seluruh aspek
ini akan membantu mahasiswa memahami pesan sebuah wacana, baik tersurat maupun
tersirat. Pemahaman konsep wacana sangat penting, karena dengan penguasaan konsep akan
memudahkan mahasiswa dalam mempelajari materi struktur wacana. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui peningkatan pemahaman mahasiswa dengan menggunakan
metode analisis wacana kritis berbasis literasi media sosial.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada setiap pertemuan, di kelas eksperimen
mahasiswa dituntut untuk dapat berperan lebih aktif dalam memperoleh kesempatan
membangun sendiri pengetahuannya sehingga memperoleh pemahaman yang mendalam serta
dalam proses pembelajarannya lebih bervariatif. Berdasarkan hasil observasi dan angket,
peningkatan hasil belajar yang diraih oleh kelas eksperimen dikarenakan adanya suasana
belajar di kelas yang lebih kondusif, aktif dan minat serta antusias mahasiswa sangat terlihat
dibandingkan pada kelas kontrol, terutama pada hal distribusi materi pembelajaran yang
tidak terpusat hanya pada guru. Budaya belajar yang dikembangkan di kelas eksperimen
melalui penggunaan metode analisis wacana kritis berbasis literasi media sosial adalah
keaktifan siswa dalam membangun sendiri keingintahuannya, membangun karakter keinginan
membantu teman yang kesulitan, serta pemanfaatan waktu yang bisa optimal di kelas karena
kegiatan sudah terstruktur. Kelebihan lainnya adalah tugas mahasiswa menjadi lebih
variatif dan kreatif karena siswa memiliki metode khusus dalam menganalisis struktur
wacana dibandingkan dengan siswa pada kelas kontrol yang menggunakan metode
konvensional.

B. Ringkasan Jurnal Pembanding

Menulis adalah proses menyampaikan pesan (ide, gagasan, pendapat, informasi dan
pengetahuan) secara tertulis yang disampaikan kepada orang lain. Isi ekspresi melalui bahasa
itu akan dimengerti orang lain atau pembaca bila dituangkan dalam bahasa yang teratur,
sistematis, sederhana, dan mudah dimengerti. Berdasarkan pengertian di atas, keterampilan
menulis sangat perlu dilatihkan agar siswa dapat menyampaikan ide/gagasan melalui bahasa
tulis dengan baik dan benar. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mata
pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD kelas V, salah satu kompetensi yang harus dicapai
siswa dalam aspek menulis adalah siswa dapat menulis karangan berdasarkan pengalaman
atau cerita yang pernah didengar dengan memerhatikan pilihan kata dan penggunaan ejaan.
Siswa perlu dilatih membuat karangan agar dapat menyampaikan ide atau gagasan tertulis
dengan baik dan benar. Gipayana (2004:2) mengungkapkan bahwa pelajaran menulis di SD
ditujukan agar siswa (1) mampu mengungkapkan gagasan, pendapat, pengalaman, pesan, dan
perasaan secara tertulis, (2) mampu menyampaikan informasi secara tertulis sesuai dengan
konteks dan keadaan, (3) memiliki kegemaran menulis, dan (4) mampu memanfaatkan unsur-
unsur kebahasaan karya sastra dalam menulis.

Adapun kesulitan menulis seperti yang diungkapkan oleh Suwignyo (1997:8) antara lain
(1) siswa kurang dapat mengembangkan topik karangan. Hal tersebut terbukti dari kurang
bervariasinya judul-judul yang ditulis oleh siswa, (2) siswa kesulitan menulis judul karangan.
Terbukti dari kalimat judul yang dibuat oleh siswa sama dengan kalimat topik, (3) informasi
yang ada pada topik kurang di kembangakan. Banyak kalimat yang tidak sesuai dengan topik,
(4) informasi yang disajikan oleh siswa cenderung melompat-lompat sehingga tidak terpola
urutanya, dan (5) kurangnya ketelitian dalam menggunakan tanda baca.

Berdasarkan keberhasilan penelitian terdahulu, peneliti memilih kegiatan literasi untuk


mengatasi masalah yang ditemukan pada pembelajaran menulis karangan siswa SDN Ngadi
01 dengan mengolaborasikannya dengan cerita anak. Cerita anak termasuk cerita fiksi baru.
Definisi cerita anak menurut Puryanto (2008:7) merupakan sebuah cerita mengandung tema
yang mendidik, alurnya lurus dan tidak berbelit-belit, menggunakan setting yang ada di
sekitar atau ada di dunia anak, tokoh dan penokohan mengandung peneladanan yang baik,
gaya bahasanya mudah dipahami, tetapi mampu mengembangkan bahasa anak, sudut
pandang orang yang tepat, dan imajinasi masih dalam jangkauan anak. Cerita anak yang baik
yaitu cerita yang mengantarkan dan berangkat dari dunia anak-anak. Ketika membaca cerita,
anak-anak tidak kesulitan memahami ceritanya. Oleh sebab itu, peneliti memanfaatkan cerita
anak sebagai sarana penarikan minat siswa untuk membaca. Mencermati pendapat tersebut,
yang paling penting dari penerapan strategi kegiatan literasi berbantuan media buku cerita
anak dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah setiap anak memperoleh
pengalaman baru untuk meningkatkan kemampuan dalam keterampilan menulis.

Metode yang dipakai dalam jurnal ini adalah memakai pendekatan dalam penelitian ini
adalah pendekatan pemelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga
siklus. Setiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3)
pengamatan, dan (4) refleksi. Peneliti bertindak sebagai perencana, pelaksana, pengumpul
data, penganalisis data, dan pelapor hasil penelitian.
Terjadi peningkatan pada siklus II menjadi 82,46 dan terjadi peningkatan lagi pada siklus
III menjadi 86,45 dengan masuk kategori baik. Pada siklus I, siswa telah mampu menyusun
alur cerita yang runtut dan komplit atau memenuhi empat unsur alur, yakni orientasi,
permunculan masalah, puncak masalah, dan penutup atau penyelesaian. Namun, dalam
membuat orientasi, konflik, dan penutup cerita dinilai masih kurang menarik. Kalimat
penyusun orientasi cerita yang dibuat siswa masih sangat umum atau kurang bervariasi.
Hampir keseluruhan cerita dibuka dengan kalimat “pada suatu hari”. Sedangkan pada siklus
II, hasil karya siswa menjadi lebih baik daripada siklus I, hal tersebut tampak pada beberapa
aspek. Pada aspek unsur narasi, siswa telah mampu menyusun alur cerita yang runtut dan
komplit atau memenuhi empat unsur alur, yakni orientasi, permunculan masalah, puncak
masalah, dan penutup atau penyelesaian. Pembukaan cerita yang dibuat siswa
menggambarkan tokoh dan latar dengan jelas. Dan pada siklus III, hasil karya siswa didapati
mengalami peningkatan pada beberapa aspek dari siklus I dan siklus II. Pada aspek unsur
narasi, siswa telah mampu menyusun alur cerita yang runtut dan komplit atau memenuhi
empat unsur alur yakni, orientasi, permunculan masalah, puncak masalah, dan penutup atau
penyelesaian. Rata-rata persentase ketuntasan belajar siswa dari siklus I sampai III juga
mengalami peningkatan. Persentase ketuntasan hasil belajar siklus I sebesar 60% atau masuk
dalam kategori kurang. Salah satu sasaran pembelajaran bahasa Indonesia adalah
pengembangan keterampilan berbahasa tulis. Bahasa tulis bukan sekedar pengetahuan yang
perlu dipelajari oleh siswa, melihat lebih dalam lagi bahwa bahasa tulis merupakan suatu
keterampilan berbahasa sebagai sarana komunikatif yang akan diterapkan oleh siswa dalam
bersosialisasi di dunia nyata. Menulis sebagai proses melibatkan serangkaian kegiatan yang
terdiri atas beberapa tahap. Suparno dan Yunus (2008:1.14) mengemukakan ada tiga tahapan
dalam menulis, yakni (1) tahap pramenulis; (2) menulis; (3) pascamenulis.

Pada siklus I, tahap pramenulis dilakukan dengan sangat bagus. Guru menyampaikan
materi tentang cerita narasi dengan jelas. Namun, dalam memberikan penjelasan, guru kurang
melakukan mobilisasi, memberikan penjelasan dari satu tempat, yakni di depan sehingga
siswa yang bertempat duduk di belakang kurang memerhatikan pejelasan guru. Pada siklus II
dan III aktivitas guru dalam kegiatan pembelajaran menjadi lebih baik. Tahap menulis cerita
narasi dilaksanakan dalam beberapa rangkaian kegiatan. Pertama, siswa mengidentifikasi
unsur cerita narasi yang ada pada cerita anak yang telah dibaca secara kelompok. Siswa
diminta untuk menyebutkan unsur cerita narasi pada cerita secara tertulis dan individu. Unsur
yang diidentifikasi oleh siswa meliputi alur cerita (orientasi, konflik, penyelesaian), tokoh,
latar tempat/waktu, dan amanat yang terdapat di dalam cerita tersebut. Kedua, siswa
melakukan kegiatan menyusun kerangka karangan narasi, berdasarkan cerita yang telah
dibaca pada buku cerita anak. Ketiga, siswa melakukan kegiatan menulis cerita narasi
berdasarkan kerangka cerita yang telah dibuat dan dengan ide cerita dari siswa sendiri. Pada
tahap pramenulis kegiatan yang dilakukan oleh siswa adalah menyampaikan hasil karyanya
di depan teman sekelas dan mengoreksi hasil karya teman sebangkunya.
BAB III

ANALISIS

A. Pembahasan Isi Jurnal

Dalam jurnal utama karangan Julianto, memuat perihal mengenai wacana yaitu selalu
mempunyai kepentingan tertentu yang bersifat mengarahkan, memengaruhi, melegitimasi,
menilai, dan mengubah cara pandang pembaca melalui ideologi yang digunakan oleh pihak-
pihak yang terlibat dalam proses rekonstruksi wacana, (Fairclough, 1995; Wodak, 2001; dan
van Dijk, 2002). Oleh sebab itu, dari sudut pandang ini wacana dianggap tidak hanya aspek
linguistik saja, tetapi lebih dari itu ada unsur nonlinguistik yang berupa ideologi,
sosiokultural, histori, dan konteks sosial. Sedangkan dalam jurnal kedua, pembahasan teori
dikira terlalu jauh sekali dengan penjelasan yang ada pada jurnal utama yaitu mengenai
menulis tetapi dalam literasi, menulis merupakan hal penting juga dalam menyalur wadah
setelah melaksanakan kegiatan literasi. Menulis adalah proses menyampaikan pesan (ide,
gagasan, pendapat, informasi dan pengetahuan) secara tertulis yang disampaikan kepada
orang lain. Nurjamal dalam Sumirat, Darwis (2011:69) mengemukakan bahwa menulis
sebagai sebuah keterampilan berbahasa adalah kemampuan seseorang dalam mengemukakan
gagasan, perasaan, dan pemikiran-pemikirannya kepada orang atau pihak lain dengan
menggunakan media tulisan. Isi ekspresi melalui bahasa itu akan dimengerti orang lain atau
pembaca bila dituangkan dalam bahasa yang teratur, sistematis, sederhana, dan mudah
dimengerti. Berdasarkan pengertian di atas, keterampilan menulis sangat perlu dilatihkan agar
siswa dapat menyampaikan ide/gagasan melalui bahasa tulis dengan baik dan benar.

Selanjutnya dapat diambil pembahasan juga bahwa, dalam jurnal utama diperoleh metode
yang digunakan adalah metode penelitian eksperimen sejati dengan desain Pretest-Posttest
Control Group Design. Adapun populasi pada penelitian ini yaitu mahasiswa Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tingkat III IPI Garut tahun akademik 2017-2018
yang berjumlah 73 orang. Maka, diperoleh juga hasil kemampuan mahasiswa memahami
struktur wacana yaitu rata-rata mahasiswa kurang mahasiswa kurang aktif dan memahami
struktur wacana. Dan ternyata, dalam jurnal ini juga membahas peningkatan kemampuan
mahasiswa dalam memahami struktur wacana yaitu melalui penggunaan metode analisis
wacana kritis berbasis literasi media sosial. Pembelajaran sttruktur wacana berisi sejumlah
konsep yang harus dikuasai dan dipahami oleh mahasiswa. Mahasiswa diminta untuk
mengetahui konsep struktur sebuah wacana melalui hubungan antarbagian wacana dengan
menguraikan bagian pendahuluan, isi, dan penutup.

Untuk analisis jurnal pembanding yakni karangan Prayoga dkk. dapat diambil
pembahasan bahwa dalam jurnal ini, peneliti mengambil metode penelitian menggunakan
pendekatan pemelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus.
Setiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3)
pengamatan, dan (4) refleksi. Peneliti bertindak sebagai perencana, pelaksana, pengumpul
data, penganalisis data, dan pelapor hasil penelitian. Peneliti dibantu guru kelas sebagai mitra
penelitian dalam setiap proses, kecuali pelaporan hasil penelitian. Unsur yang diidentifikasi
oleh siswa meliputi alur cerita (orientasi, konflik, penyelesaian), tokoh, latar tempat/waktu,
dan amanat yang terdapat di dalam cerita tersebut. Kedua, siswa melakukan kegiatan
menyusun kerangka karangan narasi, berdasarkan cerita yang telah dibaca pada buku cerita
anak. Ketiga, siswa melakukan kegiatan menulis cerita narasi berdasarkan kerangka cerita
yang telah dibuat dan dengan ide cerita dari siswa sendiri.

A. Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan

a. Kelebihan
 Dari aspek ruang lingkup isi, setelah saya analisis kedua jurnal ini saya melihat
bahwa isinya sudah sangat bagus. Informasi yang diberikan pun sudah memuat
semua, baik dari segala metode dan hasil penilitian dipaparkan sudah sangat
bagus.
 Dari aspek tata bahasa, menurut saya keduanya bagus karena menggunakan
bahasa yang mudah dimengerti dan penjelasannya yang tidak bertele-tele,
walaupun tidak semua. Penggunaan kata yang telah sesuai KBBI dan ejaan yang
sesuai dengan EYD.
 Dari segi tata layout, menurut saya jurnal utama lebih bagus karena menggunakan
background dibelakangnya, sehingga menarik minat pembaca.
b. Kekurangan
 Kekurangannya yaitu berasal dari jurnal karangan Prayoga dkk. dimana
ditemukan hasil penelitian yang dijelaskan begitu rumit. Sehingga akhirnya
membuat para pembaca kurang paham akan apa yang dipaparkan.
 Kedua jurnal tidak menjabarkan maksud dari metode yang dipakai dalam
penelitian ini. Sehingga menyulitkan reviewer dalam memahami.
 Dalam isi ruang lingkup, jurnal utama dan pembanding kurang memaparkan
penjelasan literasi secara baik. Sehingga sulit dimengerti.

BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan

Dari jurnal yang sudah direview sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa tersebut
banyak mengandung kelebihan dan kekurangan. Hal ini terbukti karena jurnal menyajikan
banyak data atau informasi sesuai judul jurnal yang telah dibuat. Selain memiliki banyak
kelebihan jurnal ini juga memilki kekurangan yang mencolok yaitu, terdapat banyak sekali
istilah-istilah asing yang tidak diberikan penjelasan. Sehingga membuat pembaca sulit
memahami. Tetapi jika disuruh memilih makan saya, akan memilih jurnal pembanding
karena, walaupun penjelasannya rumit. Tetapi isi dari keseluruhan pembahasan, masih dapat
dimengerti daripada jurnal utama yang saya pilih. Disini, saya haya menyarankan dan ke
depannya, itu kembali ke diri masing-masing pembaca.

A. Saran

Semoga ke depannya, penulis jurnal utama yaitu Julianto, lebih banyak memaparkan
penjelasan dengan baik dan menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami.
DAFTAR PUSTAKA

Julianto, Cecep Dudung. 2019. Peningkatan Kemampuan Mahasiswa Memahami Struktur


Wacana Melalui Metode Analisis Wacana Kritis Berbasis Literasi Media Sosial. Jurnal
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. 6(1): 43-52.

Prayoga, Randy Widi, dkk. Peningkatan Keterampilan Menulis Cerita Narasi Melalui
Penerapan Program Literasi Berbantuan Media Buku Cerita Anak Pada Siswa SD.
Jurnal Pendidikan. 2(11): 1498-1503.