Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

INFORMED CONSENT AND REFUSAL


(Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Aspek Legal)
Dosen Pembimbing : Dr.Hj.Atit T, AM.Keb, S.Kep, Ns, MPd

Disusun Oleh :

Rahayu Nida Mardiah (P20624519025)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN TASIKMALAYA

PROGRAM STUDI PROFESI BIDAN

TAHUN AJARAN

2020
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan rahmat,


taufik, nikmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan
makalah ini. Shalawat dan juga salam-Nya semoga selalu tercurah
limpahkan kepada Rasul utusan Allah SWT, Muhammad SAW kepada
keluarganya, sahabatnya, serta umatnya yang selalu istiqomah di jalannya.

Makalah ini penulis buat dalam rangka memenuhi salah satu tugas
mata kuliah Aspek Legal Dalam Kebidanan. Makalah ini membahas
tentang “ Consent and Refusal ”.

Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah


membantu kesempurnaan makalah ini, terutama kepada dosen
pembimbing mata kuliah yang telah memberikan pencerahan dan telah
membimbing penulis dalam pembelajaran. Penulis berharap semoga
makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan umumnya para
pembaca. Penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka penulis mengharapkan kritik yang membangun dan
saran dari para pembaca agar makalah ini menjadi lebih baik dan
sempurna.

Tasikmalaya, 21 April 2020

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................. i

DAFTAR ISI ................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ........................................................................................


B. Rumusan masalah ...................................................................................
C. Tujuan .....................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN

A. Informed Consent.................................................................................
1. Pengertian Informed Consent ........................................................
2. Bentuk – bentuk Informed Consent ...............................................
3. Fungsi Informed Consent ..............................................................
4. Waktu yang tepat dalam membuat Informed Consent ..................
5. Format isian Informed Consent .....................................................
6. Hak pasien dalam Informed Consent .............................................
7. Peraturan yang mengatur Informed Consent di Indonesia.............
8. Etika dan hukum ............................................................................
B. Informed Refusal .................................................................................
1. Pengertian Informed Refusal .........................................................
2. Tujuan Informed Refusal ...............................................................
3. Persyaratan Informed Refusal ........................................................
4. Hal yang harus di sampaikan .........................................................
C. Pertanggung Jawaban Hukum Mengenai Informed Consent dan Refusal

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan .............................................................................................
B. Saran .......................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan bahwa kesehatan
merupakan hak asasi manusia. Pada pasal 28 hasilkan bahwa setiap orang
berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal dan mendapatkan
lingkungan jiwa yang baik dan sehat serta berhak mendapatkan pelayanan
kesehatan. Melakukan pelayanan kesehatan dalam rangka
mempertahankan kesehatan yang optimal harus dilakukan bersama-sama,
oleh semua tenaga kesehatan sebagai pertimbangan dari kebijakan.
Dalam peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 32 tahun
1996 tentang Tenaga Kesehatan pasal 22 ayat 1 untuk tenaga kesehatan
jenis tertentu dalam melaksanakan telkom profesinya berkewajiban untuk
review diantaranya adalah Kewajiban untuk review menghormati hak
Pasien, memberikan information yang berkaitan dengan kondisi dan
tindakan yang akan dilakukan, dan kewajiban untuk review meminta
persetujuan terhadap tindakan yang akan dilakukan.
Tenaga kesehatan yang tidak menunaikan hak pasien untuk
memberikan informed consent yang jelas, bisa dikategorikan ditolak kasus
hukum (mewakili sifat hukum medik)dan dapat menimbulkan gugatan
yang diduga sebagai praktik. Belakangan ini masalah malpraktek medik
(malpraktik medis) yang semakin merugikan pasien semakin mendapat
perhatian dari masyarakat dan sorotan media massa. Lembaga Bantuan
Hukum (LBH) Kesehatan Pusat di Jakartamelaporkan sekitar 150 kasus
malpraktik telah terjadi di Indonesia.Meskipun data tentang malpraktek
yang diakibatkan oleh
Penjelasan dan persetujuan yang kurang jelasbelum bisa
dikalkulasikan, tetapi kasus-kasus malpraktek baru mulai bermunculan.
Dalam hal ini terkait dengan Penelitian Kesehatan. Penelitian kesehatan
merupakan langkah metode ilmiah yang berorientasikan atau
memfokuskan kegiatannya pada masalah-masalah yang timbul di bidang
kesehatan. Kesehatan itu sendiri terdiri dari dua sub bidang utama, yaitu
pertama kesehatan individu yang berorientasikan klinis, pengobatan. Sub
bidang yang berorientasi pada kelompok atau masyarakat, yang saling
bertentangan. Selanjutnya sub bidang kesehatan ini terdiri dari berbagai
disiplin ilmu, seperti pendidikan, keperawatan, epidemiologi, pendidikan
kesehatan, kesehatan lingkungan, manajemen pelayanan kesehatan, dsb
gizi. Sub bidang tersebut saling terkait dengan masalah kesehatan
masyarakat pada umumnya. Terkait dengan latar belakang tersebut,
penelitian kesehatan dapat diartikan sebagai suatu pertolongan untuk
memecahkan suatu pertentangan kesehatan, baik promotif, preventif,
kuratif dan rehabilitasi serta masalah yang berkaitan dengan tidak pasti
tersebut; dengan mencari bukti dan dilakukan melalui langkah-langkah
tertentu yang dapat diubah ilmiah, sistematis dan logis.
Akhir-akhir ini banyak dibicarakan di media massa masalah dunia
kebidanan yang dihubungkan dengan hukum. Bidang kebidanan yang
dahulu dianggap profesi mulia, seakan-akan sulit tersentuh oleh orang
awam, kini mulai dimasuki unsur hukum. Salah satu tujuan dari hukum
atau peraturan atau deklarasi atau kode etik kesehatan atau apapun
namanya, adalah untuk melindungi kepentingan pasien disamping
mengembangkan kualitas profesi bidan atau tenaga kesehatan. Keserasian
antara kepentingan pasien dan kepentingan tenaga kesehatan, merupakan
salah satu penunjang keberhasilan pembangunan sistem kesehatan.
Pada awal abad ke-20 telah tumbuh bidang hukum yang bersifat
khusus (lex spesialis), salah satunya hukum kesehatan, yang berakar dari
pelaksanaan hak asasi manusia memperoleh kesehatan (the Right to health
care). Masing-masing pihak, yaitu yang memberi pelayanan (medical
providers) dan yang menerima pelayanan (medical receivers) mempunyai
hak dan kewajiban yang harus dihormati.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas maka


penulis mencoba merumuskan masalah mengenai Consent And Refusal
(persetujuan dan penolakan), antara lain;

1. Apa pengertian concent?


2. Apa pengertian Refusal?
3. Bagaimana pertanggungjawaban hukum mengenai informed consent
dan refusal?

C. Tujuan

1. Mengetahui apa pengertian concent.


2. Mengetahui apa pengertian refusal.
3. Mengetahui bagaimana pertanggung jawaban hukum mengenai
informed concent dan refusal.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Informed Consent
1. Pengertian Informed Consent
Informed Consent teridiri dari dua kata yaitu “informed” yang
berarti informasi atau keterangan dan “consent” yang berarti persetujuan
atau memberi izin. Jadi pengertian Informed Consent adalah suatu
persetujuan yang diberikan setelah mendapat informasi. Dengan demikian
Informed Consent dapat di definisikan sebagai pernyataan pasien atau
yang sah mewakilinya yang isinya berupa persetujuan atas rencana
tindakan kedokteran yang diajukan oleh dokter setelah menerima
informasi yang cukup untuk dapat membuat persetujuan atau penolakan.
Persetujuan tindakan yang akan dilakukan oleh Dokter harus dilakukan
tanpa adanya unsur pemaksaan. Istilah Bahasa Indonesia Informed
Consent diterjemahkan sebagai persetujuan tindakan medik yang terdiri
dari dua suku kata Bahasa Inggris yaitu Inform yang bermakna Informasi
dan consent berarti persetujuan. Sehingga secara umum Informed Consent
dapat diartikan sebagai persetujuan yang diberikan oleh seorang pasien
kepada dokter atas suatu tindakan medik yang akan dilakukan, setelah
mendapatkan informasi yang jelas akan tindakan tersebut.
Informed Consent menurut Permenkes No.585 / Menkes / Per /
IX / 1989, Persetujuan Tindakan Medik adalah Persetujuan yang diberikan
oleh pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan
medik yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut.

2. Bentuk – bentuk Informed Consent


Ada dua macam bentuk imformed consent yaitu :

a. Dengan pernyataan (expression), dapat secara lisan dan secara


tertulis.
Expression consent adalah persetujuan yang dinyatakan
secara lisan atau tulisan, bila yang akan dilakukan lebih dari
prosedur pemeriksaan dan tindakan yang biasa. Sebaiknya
pasien diberikan pengertian terlebih dahulu tindakan apa yang
akan dilakukan. Misalnya, pemeriksaan dalam lewat anus atau
dubur atau pemeriksaan dalam vagina, dan lain-lain yang
melebihi prosedur pemeriksaan dan tindakan umum. Di sini
belum diperlukan pernyataan tertulis, cukup dengan
persetujuan secara lisan saja. Namun bila tindakan yang akan
dilakukan mengandung resiko tinggi seperti tindakan
pembedahan atau prosedur pemeriksaan dan pengobatan
invasif, harus dilakukan secara tertulis.

b. Dianggap diberikan, tersirat (implied) yaitu dalam keadaan biasa


atau normal dan dalam keadaan gawat darurat.
Implied consent adalah persetujuan yang diberikan pasien
secara tersirat, tanpa pernyataan tegas. Isyarat persetujuan ini
ditangkap dokter dari sikap pasien pada waktu dokter melakukan
tindakan, misalnya pengambilan darah untuk pemeriksaan
laboratorium, pemberian suntikan pada pasien, penjahitan luka dan
sebagainya. Implied consent berlaku pada tindakan yang biasa
dilakukan atau sudah diketahui umum.

3. Fungsi Informed Consent

a. Promosi dan hak otonomi perorangan.


b. Proteksi dari pasien dan subjek.
c. Mencegah terjadinya penipuan dan paksaan.
d. Menimbulkan rangsangan kepada profesi medis untuk.
e. Mengadakan instropeksi terhadap diri sendiri (self secrunity)
f. Promosi dari keputusan-keputusan rasional.
g. Keterlibatan masyarakat (dalam memajukan prinsip otonomi
sebagai suatu nilai sosial dan mengadakan pengawasan dalam
penyelidikan bio-medik (Alexander Capron)

4. Waktu yang tepat dalam membuat informed consent


Keharusan adanya informed consent secara tertulis yang
ditandatangani oleh pasien sebelum dilakukannya tindakan medik
dilakukan di sarana kesehatan seperti rumah sakit atau klinik karena
erat kaitannya dengan pendokumentasiannya ke dalam catatan medik
(medical record). Dengan demikian, rumah sakit turut
bertanggungjawab apabila tidak terpenuhinya persyaratan informed
consent, maka tenaga medis yang bersangkutan dapat dikenakan
sanksi.
Informed consent baru diakui bila pasien telah mendapatkan
informasi yang jelas tentang tindakan medis yang akan dilakukan
terhadap dirinya. Dalam pemberian informasi ini, dokter berkewajiban
untuk mengungkapkan dan menjelaskan kepada pasien dalam bahasa
sesederhana mungkin sifat penyakitnya, sifat pengobatan yang
disarankan, alternatif pengobatan, kemungkinan berhasil dan resiko
yang dapat timbul serta komplikasi-komplikasi yang tak dapat diubah.
Pasien dapat saja menolak memberikan persetujuan setelah diberikan
informasi melalui informed consent, penolakan tersebut dikenal
dengan istilah informed refusal. Hal ini dapat dibenarkan berdasarkan
hak asasi seseorang untuk menentukan apa yang hendak dilakukan
terhadap dirinya. Untuk informed refusal maka pasien harus
memahami segala konsekuensi yang akan terjadi pada dirinya yang
mungkin timbul akibat penolakan tersebut dan tentunya dokternya
tidak dapat dipersalahkan akibat karena penolakan tersebut. Untuk
penolakan tersebut maka dilakukan penandatangan oleh pasien pada
lembar Penolakan Tindakan Kedokteran.

5. Format Isian Informed Consent


Format isian Persetujuan Tindakan Medik (Informed Consent),
dengan ketentuan sebagai berikut :

a. Diketahui dan ditanda tangani oleh dua orang saksi.


Perawat bertindak sebagai salah satu sak-si

b. Materai tidak diperlukan


c. Formulir asli harus disimpan dalam berkas re-kam medis
pasien
d. Formulir harus sudah diisi dan ditandatangani 24 jam
sebelum tindakan medis dilakukan.
e. Dokter harus ikut membubuhkan tanda tangan sebagai
bukti bahwa telah diberikan informasi dan penjelasan
secukupnya.
f. Sebagai ganti tanda tangan, pasien atau keluarganya
yang buta huruf harus membubuh-kan cap jempol ibu jari
tangan kanan.

6. Hak pasien dalam informed consent

a. Hak untuk memperoleh informasi mengenai penyakitnya dan


tindakan apa yang hendak dilakukan oelh dokter terhadap dirinya.

b. Hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan yang diajukannya.


c. Hak untuk memilih alternatif lain, jika ada
d. Hak untuk menolak usul tindakan yang hendak dilakukan.

7. Peraturan yang mengatur informed consent di Indonesia


Sebagai berikut :

a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang


Kesehatan.

b. Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (KODERSI).


c. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 585/Men.Kes/Per/IX/1989
tentang Persetujuan Tindakan Medis.
d. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1419/Men.Kes/Per/X/2005
tentang Penyelanggaraan Praktik Kedokteran.
e. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga
Kesehatan.
f. Surat Keputusan PB IDI No 319/PB/A4/88

8. Etika dan hukum

a. Aspek Etika:

 Berdasar pada prinsip etika, yaitu otonomi pasien, dan hak


asasi dasar manusia
 Pasien memiliki kebebasan mutlak, untuk:
 Memutuskan apa yang terjadi pada dirinya
 Mengumpulkan informasi sebelum menjalani suatu
prosedur tindak medis
 Tidak seorangpun berhak untuk memaksa seorang pasien untuk
menjalani suatu tindak medis tertentu
 Bahkan seorang dokter atau tenaga medis, hanya sebagai
fasilitator dalam hal keputusan medis pasien
 Lebih jauh, penelitian-penelitian ilmiah menunjukkan bahwa
para dokter atau tenaga medis tidak selalu benar dalam
menebak keinginan pasien
 Maka, konsekuensinya para dokter seharusnya tidak berasumsi
mengenai apa yang diinginkan pasien
 Akan tetapi, menanyakan setiap pasien terlebih dahulu
mengenai sikap mereka terhadap terapi untuk perpanjang
hidup, seperti resusitasi kardiopulmonal, dalam hal untuk
memenuhi kewajiban etika ini, adalah tidak realistik
 Kebanyakan pasien memiliki keinginan besar untuk hidup dan
berharap dokter melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan
diri mereka, atau memperpanjang hidup
 Meski demikian, dokter semestinya berkonsentrasi pada pasien
lanjut usia yang mengindikasikan bahwa mereka memiliki
kualitas hidup yang buruk, atau tidak ada keinginan untuk
hidup lebih lama, atau pasien yang menderita sakit sangat berat
 Sehingga hal tersebut di atas menjadikan para dokter berasumsi
bahwa pasien yang tidak masuk kategori ini, akan memilih
resusitasi kardiopulmonal

a. Aspek Hukum:

 Secara umum, menyentuh, atau melakukan suatu intervensi


secara fisik kepada seseorang, tanpa ada “persetujuan”
daripadanya, dianggap sebagai penganiayaan
 Karenanya, memperoleh “consent” adalah suatu keharusan
dalam suatu tindakan medis/penelitian, selain daripada
pemeriksaan fisik rutin pada pasien yang datang untuk berobat
ke dokter
 Dalam hal pemeriksaan fisik dan investigasi medis yang rutin
dan umum dilakukan, tidak diperlukan consent tertulis, karena
pasien yang datang ke tempat praktik dokter untuk berobat,
adalah suatu consent dari pasien tersebut secara implisit
 Namun, seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi,
tindakan medis rutin seperti penjahitan luka kecil, dapat
menjadi masalah bagi seorang dokter IGD
 Tanpa consent tertulis yang menjelaskan perihal perlunya
rujukan ke dokter bedah plastik, pasien/keluarganya
dikemudian hari dapat menuntut
 Karena luka sembuh dengan jaringan parut, sehingga secara
estetika kulit bekas luka tersebut tampak buruk
 Demikian halnya kepada seseorang yang mengalami
kegawatdaruratan/tidak sadarkan diri, misalnya karena
kecelakaan
 Dalam situasi ini, tindakan medis dapat segera dilakukan
dokter, untuk menyelamatkan nyawa pasien tersebut, tanpa
harus meminta consent tertulis

B. Informed Refusal
1. Pengertian Informed Refusal
Dalam dunia medis Penolakan Tindakan Medis biasa disebut
Informed Refusal. Penolakan yang diinformasikan adalah antitesis dari
informed consent, perpanjangan alami dari doktrin. Informed consent
dibahas dengan sangat rinci dalam literatur medis, hukum, dan
manajemen risiko; sedangkan penolakan berdasarkan informasi kurang
mendapat perhatian. Tentu saja, informed consent sangat penting untuk
mengenali otonomi pasien, melindungi status pasien sebagai manusia,
dan menyediakan sarana untuk pengambilan keputusan yang rasional
sambil melindungi penyedia layanan kesehatan dari risiko yang terkait
dengan harapan yang tidak selaras. Proses informed consent berkaitan
dengan ketentuan pengungkapan risiko dan manfaat dari pengobatan
yang diusulkan, sering pada pasien yang relatif cenderung menerima
pengobatan yang diusulkan. Dengan kata lain, jika seorang pasien
sedang berdiskusi tentang pengobatan yang diusulkan, tampaknya
logis bahwa pasien menyatakan minat pada pengobatan yang
disarankan dan sedang mencari informasi yang diperlukan untuk
membuat keputusan yang rasional dan berdasarkan informasi.
Sebaliknya, ketika seorang pasien tidak tertarik pada prosedur dan
tidak terlibat dalam proses informed consent, perhatian yang memadai
mungkin tidak dibayarkan untuk mendapatkan penolakan informasi.
Kekhawatirannya adalah bahwa proses penolakan yang diinformasikan
tidak didekati dengan cara yang sama atau dianggap dengan tingkat
kepentingan yang sama dengan informed consent.
Inti dari Informed Refusal adalah penolakan dari pasien untuk
dilakukan tindakan medis tertentu diputuskan sesudah diberikan
informasi oleh dokternya yang menyangkut segala sesuatu yang
berkenaan dengan tindakan tersebut. Maksudnya pasien sudah
memahami segala konsekwensi yang mungkin timbul sebagai akibat
penolakan tersebut. Penolakan yang diinformasikan terkait dengan
proses informed consent, karena pasien memiliki hak untuk
menyetujui, tetapi juga dapat memilih untuk menolak.

2. Tujuan Informed Refusal


Hasil penelitian dapat diketahui bahwa Pasien memiliki hak untuk
menolak dilakukannya tindakan kedokteran. Hal ini didasarkan pada
adanya transaksi terapeutik antara dokter dan pasien yang erat
kaitannya dengan pelaksanaan hak dasar pasien atas pelayanan
kesehatan (the right to health care), dan hak untuk menentukan nasib
sendiri (the right of self determination) yang harus diakui dan
dihormati, Inti dari adanya penolakan tindakan kedokteran oleh pasien
adalah pasien akan menanggung segala akibat dari penolakan tindakan
kedokteran tersebut, Akibat hukum dari adanya penolakan tindakan
kedokteran oleh pasien adalah pasien akan menanggung sendiri risiko
yang terjadi atas dampak penolakan tindakan kedokteran tersebut.
Selain itu pasien tidak dapat mengajukan gugatan terhadap dokter
ataupun rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan apabila
terjadi hal-hal yang merugikan pasien akibat dari adanya penolakan
tindakan kedokteran oleh pasien tersebut.

3. Persyaratan Informed Refusal


a) Perawatan atau pengujian yang diusulkan
b) Risiko dan manfaat penolakan
c) Hasil yang diharapkan dengan dan tanpa pengobatan dan
d) Terapi alternatif, jika tersedia.

4. Hal yang harus di sampaikan


a) Situasi dan kondisi yang sedang dihadapi pasien
b) Deskripsi mengenai bentuk prosedur yang akan dilakukan
c) Deskripsi mengenai kelebihan dan resiko prosedur yang di
rekomendasikan
d) Alternatif prosedur lain yang ada di sertai keuntungan dan
resiko
e) Hasil yang dicapai disertai prognosis keberhasilan ( termasuk
penjelasan apa yang di maksud dengan berhasil )
f) Kemungkinan yang anda hadapi apabila tidak di lakukan
prosedur tindakan
g) Siapa saja orang yang terlibat dalam melakukan tindakan
h) Informasi lain yang di tanyakan atau di perlukan pasien atau
orang yang mewakilinya

C. Pertanggung Jawaban Hukum Mengenai Informed Consent dan Refusal


Penyampaian informasi untuk melakukan tindakan medis lazim
dikenal dengan istilah ‘informed consent’. Pelaksanaan informed consent
dan informed refusal tidak hanya mengikuti protap (prosedur tetap) tetapi
sesungguhnya mempunyai pertanggung jawaban hukum. Sebagai berikut :
 Undang-Undang Kesehatan yang lama (UUK No 23 Tahun 1992),
Informed consent tidak tercantum secara khusus. Kita hanya dapat
melihat dan disinggung sedikit bahwa dalam keadaan darurat dimana
dibutuhkan tindakan medis maka hanya dapat dilakukan dengan
persetujuan ibu hamil yang bersangkutan atau suami atau keluarganya
(pasal 15 ayat 2 huruf c).
 Undang-Undang Kesehatan yang baru (UUK No. 36 Tahun 2009),
informed consent (menggunakan istilah bukan informed consent)
sudah lebih banyak disinggung. Misalnya pada pasal 8 yang berbunyi,
“Setiap orang berhak memperoleh informasi tentang data kesehatan
dirinya termasuk tindakan dan pengobatan yang telah maupun yang
akan diterimanya dari tenaga kesehatan”.
 Selanjutnya pasal 56 ayat 1 berbunyi: “Setiap orang berhak menerima
atau menolak sebagian atau seluruh tindakan pertolongan yang akan
diberikan kepadanya setelah menerima dan memahami informasi
mengenai tindakan tersebut secara lengkap”.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Hak pasien yang pertama adalah hak atas informasi. Dalam UU No
23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 53 dengan jelas dikatakan bahwa
hak pasien adalah hak atas informasi dan hak memberikan persetujuan
tindakan medik atas dasar informasi (informed consent). Jadi, informed
consent merupakan implementasi dari kedua hak pasien tersebut. Hak
pasien tersebut merupakan bagian dari hak asasi manusia yang dilindungi
Undang-Undang.
Dalam dunia medis Penolakan Tindakan Medis biasa disebut
Informed Refusal. Penolakan yang diinformasikan adalah antitesis dari
informed consent, perpanjangan alami dari doktrin. Informed consent
dibahas dengan sangat rinci dalam literatur medis, hukum, dan manajemen
risiko; sedangkan penolakan berdasarkan informasi kurang mendapat
perhatian. Tentu saja, informed consent sangat penting untuk mengenali
otonomi pasien, melindungi status pasien sebagai manusia, dan
menyediakan sarana untuk pengambilan keputusan yang rasional sambil
melindungi penyedia layanan kesehatan dari risiko yang terkait dengan
harapan yang tidak selaras.

B. Saran

Perlu peningkatan penyuluhan dari tenaga medis kepada


masyarakat secara umum khususnya tentang Consent And Refusal.
Supaya masyarakat memahami hal tersebut karena hal tersebut cukup
penting bagi masyarakat itu sendiri. Untuk meminimalisir keputusan pihak
keluarga pasien yang menyerahkan keputusan nya kepada pihak medis
karena keputusan dari keluarga pasien sangat lah penting.
Dalam penulisan makalah ini pula di harapkan para pembaca
mampu memahami penjelasan dari Consent And Refusal lebih detail lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Kerbala, Husein. Informed Consent, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2010


Guwandi, J. Informed Consent And Refusal, Jakarta: Fak. Kedokteran UI, 2009
Konsil Kedokteran Indonesia, Manual Persetujuan Tindakan Kedokteran, Jakarta:
Konsil Kedokteran Indonesia, 2009

Anda mungkin juga menyukai