Anda di halaman 1dari 43

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA TAHAP PERKEMBANGAN

ADOLESCENT

DISUSUN
OLEH :

KELOMPOK 2
KELAS 3.1

1. MELANIA SYAHFITRI 6. DONI SYAHDI


2. SALMA SAFITRI 7. MINDAYANI
3. SUCI WIDARI 8. ASMADI WINRANTO
4. MEYLANI 9. NIDYA PUTRI
5. AHYANA MAGHFIRA 10. DANDI PRAMUDYA

PROGRAM STUDI NERS


FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
MEDAN 2020
KATA PENGANTAR

Kelompok memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan
karunia-Nya sehingga kami dapat menyusun makalah “ASUHAN KEPERAWATAN
KELUARGA PADA TAHAP PERKEMBANGAN ADOLESCENT “ pengarahan, petunjuk,
dorongan dari berbagai pihak.
Pada kesempatan ini kelompok mengucapkan terimakasih kepadaBapak/Ibu:
1. Parlindungan Purba,SH,MM, selaku KetuaYayasan Sari Mutiara Medan.
2. Dr. Ivan Elisabeth Purba, M.Kes, selaku Rektor Universitas Sari Mutiara Indonesia
3. Taruli Rohana Sinaga SP.M.KM, selaku Dekan Fakultas Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas
Sari Mutiara Indonesia
4. Ns.Rinco Siregar,S.Kep, MNS, selaku Ketua Program Studi Ners Fakultas Farmasi dan Ilmu
Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia
5. Ns.Siska Evi, MNS selaku Dosen Pengajar yang telah memberikan bimbingan, arahan dan saran
kepada kelompok dalam menyelesaikan makalah ini.

Kelompok menyadari bahwa penyusun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari isi
maupun susunannya, untuk itu kelompok membuka diri terhadap kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat dari
pembaca dan bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khusunya dibidang keperawatan.
Akhir kata tim penulis mengucapkan terimaksih.

Medan, 24 April 2020


Penulis

Kelompok 2
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................. i
DAFTAR ISI ................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
A. Latar belakang............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................... 2
C. Tujuan ........................................................................................ 2
BAB II TINJAUAN TEORITIS ................................................................... 3
A. Definisi Remaja .......................................................................... 3
B. Tahap Perkembangan Remaja .................................................... 3
C. Karakteristik Perkembangan Remaja ......................................... 4
D. Tugas Perkembangan Pada Masa Remaja ................................. 8
E. Keluarga ..................................................................................... 10
F. Tugas Perkembangan Keluarga dengan Anak Usia Remaja ...... 11
G. Masalah Masalah yang Terjadi Pada Keluarga dengan Tahap
Perkembangan Anak Usia Remaja ............................................ 11
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ........................................................ 14
A. Pengkajian .................................................................................. 14
B. Analisa Data ............................................................................... 26
C. Diagnosa ..................................................................................... 31
D. Rencana Tindakan ...................................................................... 31
E. Evaluasi ...................................................................................... 34
BAB IV PENUTUP ...................................................................................... 37
A. Kesimpulan ................................................................................ 37
B. Saran .......................................................................................... 37
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 38
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Remaja merupakan salah satu tahap perkembangan manusia yang
memiliki karakteristik yang berbeda bila dibandingkan dengan tahap
perkembangan lainnya, karena pada tahap ini seseorang mengalami
peralihan dari masa anak-anak ke dewasa. Masa remaja adalah masa
dimana terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Karakteristik
psikososial remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini
sering menimbulkan banyak masalah pada diri remaja. Transisi dari masa
anak-anak dimana selain mneingkatnya kesadaran diri (self consciousness)
terjadi juga perubahan secara fisik, kognitif, sosial maupun emosional pada
remaja sehingga remaja cenderung mengalami perubahan emosi ke arah
yang negatif menjadi mudah marah, tersinggung bahkan agresif. Perubahan-
perubahan karakteristik pada masa remaja tersebut, ditambah dengan
faktor-faktor eksternal seperti kemiskinan, pola asuh yang tidak efektif dan
gangguan mental pada orang tua diprediksi sebagai penyebab timbulnya
masalah-masalah remaja (Pianta, 2005 dalam Santrock, 2007).
Laporan situasi Kependudukan Dunia Tahun 2012 pada peluncurannya,
disebutkan bahwa jumlah penduduk dunia terus tumbuh dan telah mencapai
7 miliar. Sebanyak 1,2 miliar penduduk dunia atau hampir 1 dari 5 orang di
dunia berusia 10-19 tahun. Adapun 900 juta orang di antaranya tinggal di
negara berkembang. Negara Indonesia sendiri, hasil sensus penduduk tahun
2010 menunjukkan 1 dari 4 orang penduduk Indonesia merupakan kaum
muda berusia 10-24 tahun, dari 240 juta penduduk Indonesia, jumlah remaja
terbilang besar, mencapai 63,4 juta atau sekitar 26,7 % dari total penduduk
(BKKBN, 2012).
Peran perawatn dalam asuhan keperawatan keluarga dengan tahap
anak usia remaja adalah membantu keluarga untuk menyelesaikan masalah
kesehatan dengan cara meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan
fungsi dan tugas perawatan kesehatan keluarga, sehingga keluarga dapat
melakukan program asuhan kesehatan secara mandiri, dan masalah yang
timbul bisa teratasi.

B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi remaja?
2. Bagaimana tugas perkembangan remaja?
3. Bagaimana tugas perkembangan keluarga dengan anak remaja?
4. Bagiamana Asuhan Keperawatan pada keluarga dengan anak remaja?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu membuat asuhan keperawatan keluarga sesuai
dengan masalah kesehatan yang terjadi pada keluarga dengan anak
remaja.
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu :
a) Menyebutkan definisi keluarga dengan anak remaja.
b) Menjelaskan tugas-tugas perkembangan keluarga dengan anak
remaja.
c) Menjelaskan asuhan keperawatan pada keluarga dengan anak remaja.
d)
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi Remaja
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescence
(kata bendanya adolescenta yang berarti remaja) yang berarti tumbuh
menjadi dewasa. Adolescence artinya berangsur-angsur menuju
kematangan secara fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta emosional. Hal ini
mengisyaratkan kepada hakikat umum, yaitu bahwa pertumbuhan tidak
berpindah dari satu fase ke fase lainya secara tiba-tiba, tetapi pertumbuhan
itu berlangsung setahap demi setahap (Al-Mighwar, 2006).

B. Tahap Perkembangan Remaja


Menurut Sarwono (2006) ada 3 tahap perkembangan remaja dalam
proses penyesuaian diri menuju dewasa :
a. Remaja Awal (Early Adolescence)
Seorang remaja pada tahap ini berusia 10-12 tahun masih terheran–
heran akan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri
dan dorongan-dorongan yang menyertai perubahan-perubahan itu.
Mereka mengembangkan pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan
jenis, dan mudah terangsang secara erotis. Dengan dipegang bahunya
saja oleh lawan jenis, ia sudah berfantasi erotik. Kepekaan yang berlebih-
lebihan ini ditambah dengan berkurangnya kendali terhadap “ego”. Hal
ini menyebabkan para remaja awal sulit dimengerti orang dewasa.
b. Remaja Madya (Middle Adolescence)
Tahap ini berusia 13-15 tahun. Pada tahap ini remaja sangat
membutuhkan kawan-kawan. Ia senag kalau banyak teman yang
menyukainya. Ada kecenderungan “narastic”, yaitu mencintai diri
sendiri, dengan menyukai teman-teman yang mempunyai sifat-sifat yang
sama dengan dirinya. Selain itu, ia berada dalam kondisi kebingungan
karena ia tidak tahu harus memilih yang mana: peka atau tidak peduli,
ramai-ramai atau sendiri, optimis atau pesimis, idealis atau meterialis,
dan sebagainya. Remaja pria harus membebaskan diri dari Oedipoes
Complex (perasaan cinta pada ibu sendiri pada masa kanak-kanak)
dengan mempererat hubungan dengan kawan-kawan dari lawan jenis.
c. Remaja Akhir (Late Adolescence)
Tahap ini (16-19 tahun) adalah masa konsolidasi menuju periode
dewasa dan ditandai dengan pencapaian lima hal dibawah ini.
1) Minat yang makin mantap terhadap fungsi-fungsi intelek.
2) Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang-orang lain
dan dalam pengalaman-pengalaman baru.
3) Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah lagi.
4) Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri sendiri)
diganti dengan keseimbangan antara kepentingan diri sendiri dengan
orang lain.
5) Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (private self) dan
masyarakat umum (the public).

C. Karakteristik Perkembangan Remaja


Menurut Wong (2009), karakteristik perkembangan remaja dapat
dibedakan menjadi :
a. Perkembangan Psikososial
Teori perkembangan psikososial menurut Erikson dalam Wong
(2009), menganggap bahwa krisis perkembangan pada masa remaja
menghasilkan terbentuknya identitas. Periode remaja awal dimulai
dengan awitan pubertas dan berkembangnya stabilitas emosional dan
fisik yang relatif pada saat atau ketika hampir lulus dari SMU. Pada saat
ini, remaja dihadapkan pada krisis identitas kelompok versus
pengasingan diri.
Pada periode selanjutnya, individu berharap untuk mencegah
otonomi dari keluarga dan mengembangkan identitas diri sebagai lawan
terhadap difusi peran. Identitas kelompok menjadi sangat penting untuk
permulaan pembentukan identitas pribadi. Remaja pada tahap awal
harus mampu memecahkan masalah tentang hubungan dengan teman
sebaya sebelum mereka mampu menjawab pertanyaan tentang siapa
diri mereka dalam kaitannya dengan keluarga dan masyarakat.
1) Identitas kelompok
Selama tahap remaja awal, tekanan untuk memiliki suatu
kelompok semakin kuat. Remaja menganggap bahwa memiliki
kelompok adalah hal yang penting karena mereka merasa menjadi
bagian dari kelompok dan kelompok dapat memberi mereka status.
Ketika remaja mulai mencocokkan cara dan minat berpenampilan,
gaya mereka segera berubah. Bukti penyesuaian diri remaja terhadap
kelompok teman sebaya dan ketidakcocokkan dengan kelompok
orang dewasa memberi kerangka pilihan bagi remaja sehingga
mereka dapat memerankan penonjolan diri mereka sendiri sementara
menolak identitas dari generasi orang tuanya. Menjadi individu yang
berbeda mengakibatkan remaja tidak diterima dan diasingkan dari
kelompok.
2) Identitas Individual
Pada tahap pencarian ini, remaja mempertimbangkan hubungan
yang mereka kembangkan antara diri mereka sendiri dengan orang
lain di masa lalu, seperti halnya arah dan tujuan yang mereka harap
mampu dilakukan di masa yang akan datang. Proses perkembangan
identitas pribadi merupakan proses yang memakan waktu dan penuh
dengan periode kebingungan, depresi dan keputusasaan. Penentuan
identitas dan bagiannya di dunia merupakan hal yang penting dan
sesuatu yang menakutkan bagi remaja. Namun demikian, jika
setahap demi setahap digantikan dan diletakkan pada tempat yang
sesuai, identitas yang positif pada akhirnya akan muncul dari
kebingungan. Difusi peran terjadi jika individu tidak mampu
memformulasikan kepuasan identitas dari berbagai aspirasi, peran
dan identifikasi.
3) Identitas peran seksual
Masa remaja merupakan waktu untuk konsolidasi identitas peran
seksual. Selama masa remaja awal, kelompok teman sebaya mulai
mengomunikasikan beberapa pengharapan terhadap hubungan
heterokseksual dan bersamaan dengan kemajuan perkembangan,
remaja dihadapkan pada pengharapan terhadap perilaku peran
seksual yang matang yang baik dari teman sebaya maupun orang
dewasa. Pengharapan seperti ini berbeda pada setiap budaya, antara
daerah geografis, dan diantara kelompok sosioekonomis.
4) Emosionalitas
Remaja lebih mampu mengendalikan emosinya pada masa
remaja akhir. Mereka mampu menghadapi masalah dengan tenang
dan rasional, dan walaupun masih mengalami periode depresi,
perasaan mereka lebih kuat dan mulai menunjukkan emosi yang
lebih matang pada masa remaja akhir. Sementara remaja awal
bereaksi cepat dan emosional, remaja akhir dapat mengendalikan
emosinya sampai waktu dan tempat untuk mengendalikan emosinya
sampai waktu dan tempat untuk mengekspresikan dirinya dapat
diterima masyarakat. Mereka masih tetap mengalami peningkatan
emosi, dan jika emosi itu diperlihatkan, perilaku mereka
menggambarkan perasaan tidak aman, ketegangan, dan
kebimbangan.
b. Perkembangan Kognitif
Teori perkembangan kognitif menurut Piaget dalam Wong (2009),
remaja tidak lagi dibatasi dengan kenyataan dan aktual, yang
merupakan ciri periode berpikir konkret; mereka juga memerhatikan
terhadap kemungkinan yang akan terjadi. Pada saat ini mereka lebih
jauh ke depan. Tanpa memusatkan perhatian pada situasi saat ini,
mereka dapat membayangkan suatu rangkaian peristiwa yang mungkin
terjadi, seperti kemungkinan kuliah dan bekerja; memikirkan bagaimana
segala sesuatu mungkin dapat berubah di masa depan, seperti hubungan
dengan orang tua, dan akibat dari tindakan mereka, misalnya
dikeluarkan dari sekolah. Remaja secara mental mampu memanipulasi
lebih dari dua kategori variabel pada waktu yang bersamaan. Misalnya,
mereka dapat mempertimbangkan hubungan antara kecepatan, jarak
dan waktu dalam membuat rencana perjalanan wisata. Mereka dapat
mendeteksi konsistensi atau inkonsistensi logis dalam sekelompok
pernyataan dan mengevaluasi sistem, atau serangkaian nilai-nilai dalam
perilaku yang lebih dapat dianalisis.
c. Perkembangan Moral
Teori perkembangan moral menurut Kohlberg dalam Wong (2009),
masa remaja akhir dicirikan dengan suatu pertanyaan serius mengenai
nilai moral dan individu. Remaja dapat dengan mudah mengambil peran
lain. Mereka memahami tugas dan kewajiban berdasarkan hak timbal
balik dengan orang lain, dan juga memahami konsep peradilan yang
tampak dalam penetapan hukuman terhadap kesalahan dan perbaikan
atau penggantian apa yang telah dirusak akibat tindakan yang salah.
Namun demikian, mereka mempertanyakan peraturan-peraturan moral
yang telah ditetapkan, sering sebagai akibat dari observasi remaja
bahwa suatu peraturan secara verbal berasal dari orang dewasa tetapi
mereka tidak mematuhi peraturan tersebut.
d. Perkembangan Spiritual
Pada saat remaja mulai mandiri dari orang tua atau otoritas yang
lain, beberapa diantaranya mulai mempertanyakan nilai dan ideal
keluarga mereka. Sementara itu, remaja lain tetap berpegang teguh
pada nilai-nilai ini sebagai elemen yang stabil dalam hidupnya seperti
ketika mereka berjuang melawan konflik pada periode pergolakan ini.
Remaja mungkin menolak aktivitas ibadah yang formal tetapi melakukan
ibadah secara individual dengan privasi dalam kamar mereka sendiri.
Mereka mungkin memerlukan eksplorasi terhadap konsep keberadaan
Tuhan. Membandingkan agama mereka dengan orang lain dapat
menyebabkan mereka mempertanyakan kepercayaan mereka sendiri
tetapi pada akhirnya menghasilkan perumusan dan penguatan
spiritualitas mereka.
e. Perkembangan Sosial
Untuk memperoleh kematangan penuh, remaja harus membebaskan
diri mereka dari dominasi keluarga dan menetapkan sebuah identitas
yang mandiri dari wewenang orang tua. Namun, proses ini penuh dengan
ambivalensi baik dari remaja maupun orang tua. Remaja ingin dewasa
dan ingin bebas dari kendali orang tua, tetapi mereka takut ketika
mereka mencoba untuk memahami tanggung jawab yang terkait dengan
kemandirian.
1) Hubungan dengan orang tua
Selama masa remaja, hubungan orang tua-anak berubah dari
menyayangi dan persamaan hak. Proses mencapai kemandirian
sering kali melibatkan kekacauan dan ambigulitas karena baik orang
tua maupun remaja berajar untuk menampilkan peran yang baru dan
menjalankannya sampai selesai, sementara pada saat bersamaan,
penyelesaian sering kali merupakan rangkaian kerenggangan yang
menyakitkan, yang penting untuk menetapkan hubungan akhir. Pada
saat remaja menuntut hak mereka untuk mengembangkan hak-hak
istimewanya, mereka sering kali menciptakan ketegangan di dalam
rumah. Mereka menentang kendali orang tua, dan konflik dapat
muncul pada hampir semua situasi atau masalah.
2) Hubungan dengan teman sebaya
Walaupun orang tua tetap memberi pengaruh utama dalam
sebagian besar kehidupan, bagi sebagian besar remaja, teman
sebaya dianggap lebih berperan penting ketika masa remaja
dibandingkan masa kanak-kanak. Kelompok teman sebaya
memberikan remaja perasaan kekuatan dan kekuasaan.
a) Kelompok teman sebaya
Remaja biasanya berpikiran sosial, suka berteman, dan suka
berkelompok. Dengan demikian kelompok teman sebaya memiliki
evaluasi diri dan perilaku remaja. Untuk memperoleh penerimaan
kelompok, remaja awal berusaha untuk menyesuaikan diri secara
total dalam berbagai hal seperti model berpakaian, gaya rambut,
selera musik, dan tata bahasa, sering kali mengorbankan
individualitas dan tuntutan diri. Segala sesuatu pada remaja
diukur oleh reaksi teman sebayanya.
b) Sahabat
Hubungan personal antara satu orang dengan orang lain yang
berbeda biasanya terbentuk antara remaja sesama jenis.
Hubungan ini lebih dekat dan lebih stabil daripada hubungan yang
dibentuk pada masa kanak-kanak pertengahan, dan penting untuk
pencarian identitas. Seorang sahabat merupakan pendengar
terbaik, yaitu tempat remaja mencoba kemungkinan peran-peran
dan suatu peran bersamaan, mereka saling memberikan dukungan
satu sama lain.

D. Tugas Perkembangan Pada Masa Remaja


Tugas-tugas perkembangan pada masa remaja menurut (Hurlock, 2001)
antara lain :
a. Mencapai hubungan baru dan yang lebih matang dengan teman sebaya
baik pria maupun wanita
Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar
dalam sikap dan perilaku anak. Akibatnya, hanya sedikit anak laki-laki
dan anak perempuan yang dapat diharapkan untuk menguasai
tugastugas tersebut selama awal masa remaja, apalagi mereka yang
matangnya terlambat. Kebanyakan harapan ditumpukkan pada hal ini
adalah bahwa remaja muda akan meletakkan dasar-dasar bagi
pembentukan sikap dan pola perilaku.
b. Mencapai peran sosial pria, dan wanita
Perkembangan masa remaja yang penting akan menggambarkan
seberapa jauh perubahan yang harus dilakukan dan masalah yang timbul
dari perubahan itu sendiri. Pada dasarnya, pentingnya menguasai tugas-
tugas perkembangan dalam waktu yang relatif singkat sebagai akibat
perubahan usia kematangan yang menjadi delapan belas tahun,
menyebabkan banyak tekanan yang menganggu para remaja.
c. Menerima keadaan fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif
Seringkali sulit bagi para remaja untuk menerima keadaan fisiknya
bila sejak kanak-kanak mereka telah mengagungkan konsep mereka
tentang penampilan diri pada waktu dewasa nantinya. Diperlukan waktu
untuk memperbaiki konsep ini dan untuk mempelajari cara-cara
memperbaiki penampilan diri sehingga lebih sesuai dengan apa yang
dicita-citakan.
d. Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab
Menerima peran seks dewasa yang diakui masyarakat tidaklah
mempunyai banyak kesulitan bagi laki-laki; mereka telah didorong dan
diarahkan sejak awal masa kanak-kanak. Tetapi halnya berbeda bagi
anak perempuan. Sebagai anak-anak, mereka diperbolehkan bahkan
didorong untuk memainkan peran sederajat, sehingga usaha untuk
mempelajari peran feminin dewasa yang diakui masyarakat dan
menerima peran tersebut, seringkali merupakan tugas pokok yang
memerlukan penyesuaian diri selama bertahun-tahun. Karena adanya
pertentangan dengan lawan jenis yang sering berkembang selama akhir
masa kanak-kanak dan masa puber, makan mempelajari hubungan baru
dengan lawan jenis berarti harus mulai dari nol dengan tujuan untuk
mengetahui lawan jenis dan bagaimana harus bergaul dengan mereka.
Sedangkan pengembangan hubungan baru yang lebih matang dengan
teman sebaya sesama jenis juga tidak mudah.
e. Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa
lainnya
Bagi remaja yang sangat mendambakan kemandirian, usaha untuk
mandiri secara emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lain
merupakan tugas perkembangan yang mudah. Namun, kemandirian
emosi tidaklah sama dengan kemandirian perilaku. Banyak remaja yang
ingin mandiri, juga ingin dan membutuhkan rasa aman yang diperoleh
dari ketergantungan emosi pada orang tua atau orang-orang dewasa
lain. Hal ini menonjol pada remaja yang statusnya dalam kelompok
sebaya tidak meyakinkan atau yang kurang memiliki hubungan yang
akrab dengan anggota kelompok.
f. Mempersiapkan karier ekonomi
Kemandirian ekonomi tidak dapat dicapai sebelum remaja memilih
pekerjaan dan mempersiapkan diri untuk bekerja. Kalau remaja memilih
pekerjaan yang memerlukan periode pelatihan yang lama, tidak ada
jaminan untuk memperoleh kemandirian ekonomi bilamana mereka
secara resmi menjadi dewasa nantinya. Secara ekonomi mereka masih
harus tergantung selama beberapa tahun sampai pelatihan yang
diperlukan untuk bekerja selesai dijalani.
g. Mempersiapkan perkawinan dan keluarga
Kecenderungan perkawinan muda menyebabkan persiapan
perkawinan merupakan tugas perkembangan yang paling penting dalam
tahuntahun remaja. Meskipun tabu sosial mengenai perilaku seksual
yang berangsur-ansur mengendur dapat mempermudah persiapan
perkawinan dalam aspek seksual, tetapi aspek perkawinan yang lain
hanya sedikit yang dipersiapkan. Kurangnya persiapan ini merupakan
salah satu penyebab dari masalah yang tidak terselesaikan, yang oleh
remaja dibawa ke masa remaja.
h. Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk
berperilaku mengembangkan ideologi
Sekolah dan pendidikan tinggi mencoba untuk membentuk nilai-nilai
yang sesuai dengan nilai dewasa, orang tua berperan banyak dalam
perkembangan ini. Namun bila nilai-nilai dewasa bertentangan dengan
teman sebaya, masa remaja harus memilih yang terakhir bila mengharap
dukungan teman-teman yang menentukan kehidupan sosial mereka.
Sebagian remaja ingin diterima oleh teman-temannya, tetapi hal ini
seringkali diperoleh dengan perilaku yang oleh orang dewasa dianggap
tidak bertanggung jawab.

E. Keluarga
Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak tempat
anak belajar dan mengatakan sebagai makhluk sosial. Dalam keluarga
umumnya anak melakukan interaksi yang intim. Menurut Slameto (2006)
keluarga adalah lembaga pendidikan yang yang pertama dan utama bagi
anak-anaknya baik pendidikan bangsa, dunia, dan negara sehingga cara
orang tua mendidik anak-anaknya akan berpengaruh terhadap belajar.
Sedangkan menurut Mubarak, dkk (2009) keluarga adalah perkumpulan dua
orang atau lebih yang diikat oleh hubungan darah, perkawinan atau adopsi,
dan tiap-tiap anggota keluarga selalu berinteraksi satu dengan yang lain.
Berdasarkan keanggotaannya, keluarga dapat dibagi dalam 3 jenis
(Duval, 1972 dalam Setiadi 2008), yaitu :
a. Nuclear family, sering disebut dengan keluarga inti, yaitu keluarga yang
anggotanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang belum menikah.
b. Extended family, atau keluarga besar, yaitu keluarga yang anggotanya
terdiri dari ayah, ibu, serta family dari kedua belah pihak.
c. Horizontal extended family, yaitu keluarga yang anggotanya terdiri dari
ayah, ibu dan anak yang telah menikah dan masih menumpang pada
orang tuanya.

F. Tugas Perkembangan Keluarga dengan Anak Usia Remaja


Dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir
pada saat anakterakhir meninggalkan rumah.Lamanya tahapan ini
tergantung jumlah anak dan adaatau tidaknya anak yang belum berkeluarga
dan tetap tinggal bersama orang tua.Tugas perkembangan :
1. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
2. Mempertahankan keintiman pasangan.
3. Membantu orang tua memasuki masa tua.
4. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.
5. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.

G. Masalah-Masalah yang Terjadi Pada Keluarga dengan Tahap


Perkembangan Anak Usia Remaja
Ketidakmatangan dalam hubungan keluarga seperti yang ditunjukkan
oleh adanya pertengkaran dengan anggota-anggota keluarga,terus menerus
mengritik atau buat komentar-komentar yang merendahkan tentang
penampilan atau perilaku anggota keluarga, sering terjadi selama tahun-
tahun awal masa remaja. Pada saat ini hubungan keluarga biasanya berada
pada titik rendah.
Hubungan keluarga yang buruk merupakan bahaya psikologis pada
setiap usia, terlebih selama masa remaja karena pada saat ini anak laki-laki
dan perempuan sangat tidak percaya pada diri sendiri dan bergantung pada
keluarga untuk memperoleh rasa aman. Yang lebih penting lagi, mereka
memerlukan bimbingan atau bantuan dalam menguasai tugas
perkembangan masa remaja. Kalau hubungan-hubungan keluarga ditandai
dengan pertentangan, perasaan-perasaan tidak aman berlangsung lama,
dan remaja kurang memiliki kesempatan untuk mengembangkan pola
perilaku yang tenang dan lebih matang. Remaja yang hubungan
keluarganya kurang baik juga dapat mengembangkan hubungan yang buruk
dengan orang-orang diluar rumah. Meskipun semua hubungan, baik dalam
masa dewasa atau dalam masa kanak-kanak, kadang-kadang tegang namun
orang ang selalu mengalami kesulitan dalam bergaul dengan orang lain
dianggap tidak matang dan kurang menyenangkan. Hal ini menghambat
penyesuaian sosial yang baik.
Masa remaja dikenal banyak orang sebagai masa yang indah dan
penuh romantika, padahal sebenarnya masa ini merupakan masa yang
penuh dengan kesukaran. Bukan hanya bagi dirinya tetapi bagi keluarga dan
lingkungan sosial. Masa ini akan membuat remaja mengalami kebingungan
disatu pihak masih anak-anak, tetapi dilain pihak harus bertingkah laku
seperti orang dewasa. Situasi ini membuat mereka dalam kondisi konflik,
sehingga akan terlihat bertingkah laku aneh, canggung dan kalau tidak
dikontrol dengan baik dapat menyebabkan kenakalan. Dalam usahanya
mencari identitas diri, mereka sering membantah orang tuanya, karena
memulai mempunyai pendapat sendiri, cita-cita dan nilai-nilai sendiri yang
berbeda dengan orang tuanya.
Pendapat orang tua tidak lagi dapat dijadikan pegangan, meskipun
sebenarnya mereka juga belum memiliki dasar pegangan yang kuat. Orang
yang dianggap penting dalam masa ini adalah teman sebaya. Mereka
berusaha untuk mengikitu pendapat dan gaya teman-temannya karena
dianggap memiliki kesamaan dengan dirinya. Karenanya sering kali remaja
terlibat dalam geng-geng, dengan menjadi anggota geng mereka akan
saling memberi dan mendapat dukungan mental. Beberapa kasus terakhir
seperti geng-geng motor yang terlibat kegiatan merupakan bentuk dari
kecenderungan tersebut. Mereka akan berani melakukan tindakan-tindakan
kejahatan ketika dilakukan dalam kelompok dan tidak akan berani
melakukannya secara individual. Masalah lain yang sering mengganggu
anak remaja adalah masalah yang berkaitan dengan organ reproduksi
(seksual). Satu sisi mereka sudah mencapai kematangan seksual, yang
menyebabkan mereka memiliki dorongan untuk pemuasan tetapi disisi lain
kebudayaan dan norma sosial melarang pemuasan kebutuhan seksual diluar
pernikahan. Padahal untuk menikah banyak persyaratan yang harus
dipenuhi, bukan hanya kemampuan dalam melakukan hubungan seksual,
tetapi diperlukan ekonomi, kematangan psikologi, dan sebagainya.syarat-
syarat ini sangat berat dan mungkin belum dicapai pada usia remaja. Oleh
karena itu, para remaja mencari kepuasan dalam bentuk khayalan,
membaca buku atau menonton film porno. Meskipun tingkah laku ini
sebenarnya tetap melanggar norma masyarakat, tetapi mereka
melakukannya dengan sembunyi-sembunyi.
Untuk menghadapi situasi ini orang tua harus lebih bijaksana dalam
menyikapi, cara yang tepat dilakukan adalah dengan mengurangi control
secara bertahap terhadap anaknya, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi
diri sendiri secara bertahap sampai akhirnya dewasa.

MASALAH-MASALAH KESEHATAN
Pada tahap ini kesehatan fisik anggota keluarga biasanya baik. Tapi
promosi kesehatan tetap menjadi hal yang penting. Faktor-faktor resiko
harus diidentifikasi dan dibicarakan dengan keluarga, seperti pentingnya
gaya hidup keluarga yang sehat mulai dari usia 35 tahun, resiko penyakit
jantung koroner meningkat dikalangan pria dan pada usia ini anggota
keluarga yang dewasa mulai merasa lebih rentan terhadap penyakit sebagai
bagian dari perubahan-perubahan perkembangan dan biasanya mereka ini
lebih menerima strategi promosi kesehatan. Sedangkan pada remaja,
kecelakaan terutama kecelakaan mobil merupakan bahaya yang amat
besar, dan patah tulang dan cedera karena atletik juga umum terjadi .
Penyalahguanaan obat-obatan dan alkohol, keluarga berencana,
kehamilan yang tidak dikehendaki, dan pendidikan dan konseling seks
merupakan bidang perhatian yang relevan. Dalam mendiskusikan topik ini
dengan keluarga, perawat dapat terjebak dalam perselisihan atau masalah
antara orang tua dan kaum muda, remaja biasanya mencari pelayanan
kesehatan mencakup uji kehamilan, menggunakan obat-obatan, uji AIDS,
keluarga berencana, dan aborsi, diagnosis dan perawatan penyakit kelamin.
Agaknya telah menjadi trend yang sah bagi remaja untuk menerima
perawatan kesehatan tanpa ijin orang tua. Bila orang tua diikutsertakan
maka dilakukan wawancara terpisah sebelum mereka dikumpulkan .
Kebutuhan kesehatan yantg lain adalah dalam bidang hubungan dan
bantuan untuk memperkokoh hubungan perkawinan dan hubungan remaja
dengan orang tua. Konseling langsung yang bersifat menunjang atau mulai
rujukan ke sumber-sumber dalam komunitas untuk konseling, dan juga
pendidikan yang bersifat rekreasional, dan pelayanan lainnya mungkin
diperlukan, pendidikan promosi kesehatan umum juga diindikasikan.
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA REMAJA

A. PENGKAJIAN
1. Data Umum
a. Identitas Kepala Keluarga
Nama : Tn. A Pendidikan : SMA
Umur : 40 Th Pekerjaan :Buruh
Agama : Islam Alamat : Jl. Sawo No.16
Suku :Jawa Nomor HP :-

b. Komposisi Keluarga :

No Nama L/P Umur Hubungan keluarga Pekerjaan Pendidikan


1. Ny.E P 38 Istri IRT SMA
2. An.M P 20 Anak Mahasiswa SMA
3. An.P L 19 Anak Mahasiswa SMA

c. Genogram : genogram 3 generasi


Keterangan :

= laki-laki = laki-laki meninggal = anggota keluarga yang sakit

= perempuan = perempuan meninggal = anggota yang tinggal serumah

d. Tipe keluarga
Keluarga Tn. A memiliki tipe keluarga inti, karena keluarga Tn.A terdiri dari ayah,
ibu dan anak yang tinggal dalam satu rumah. Tidak ada masalah dalam keluarga Tn.A.

e. Suku bangsa
Keluarga Tn. A dan Ny.E semenjak dari orang tua berasal dari suku Jawa.Jika sakit
Tn. A dan Ny. Eterkadangmenggunakan obat-obatan tradisional seperti jamu.

f. Agama dan kepercayaan


Anggota keluarga Tn.Aberagama islam. Tn.Adan Ny. E selalu mengajarkan anakya
untuk selalu dekat dengan Allah SWT, mengingatkan anak-anaknya sholat 5 waktu,
sering mengusahakan untuk sholat berjamaah, setiap malam jumat seluruh anggota
keluarga membaca yasin bersama.
g. Status sosial ekonomi keluarga
Tn.Abekerja sebagai buruh. dengan penghasilan ± 1.5 juta/bulan, Ny.E adalah ibu
rumah tangga, namun Ny.E mempunyai usaha sampingan yaitu membuka sebuah warung
kecil yang menjual kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak sayur, gula, gandum,
telur, dll dengan penghasilan yang tak menentu ± 50.000/hari.Penghasilan Tn.A dan Ny.E
di gunakan untuk kebutuhan makan sehari-hari, bayar tagihan listrik, air, dll. Dan alat
transportasi,1 sepeda motor.

h. Aktivitas rekreasi keluarga


Kegiatan yang dilakukan keluarga untuk rekreasi adalah menonton TV, makan
bersama di rumah dansesekali bertamasya keluar. Kadang-kadang berkumpul dengan
sanak saudara saat ada acara keluarga dan lebaran.
An.P mengatakan jika merasa bosan dan stress dia sering keluar malam untuk
sekedar nongkrong bersama temannya.

2. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga


a. Tahap perkembangan keluarga saat ini
Tn.A memiliki 2 orang anak, 1 laki-laki dan 1 perempuan.Saat ini anak pertama
keluarga Tn.A (An.M) berumur 20 tahun, belum berkeluarga dan masih kuliah. Anak ke-2
Tn.A (An.P)berumur 19 tahun, belum berkeluarga dan juga masih kuliah.

b. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi


Tahap perkembangan keluarga Tn.Amasih belum terpenuhi karena Tn.A harus
membiayai 2 orang anaknya. Anak pertama dan kedua Tn.A masih dalam tahap
perkembangan keluarga dengan anak remaja, yang saat ini anak pertama (An.M)kuliah
semester 6, anak kedua (An.P) kuliah semester 4.

c. Riwayat kesehatan keluarga inti :


1. Riwayat kesehatan keluarga saat ini
Tn.Asering mengeluh pusing dan lemas, ketika diperiksa keadaan Tn.A dan
didapatkan tekanan darah Tn.A yaitu 80/70 mmHg. Tn.A tidak pernah memeriksakan
dirinya ke dokter, dia menganggap penyakit tersebut akan sembuh sendiri. Biasanya jika
TD Tn.A turun, dia meminum susu cair. Ny.E beranggapan bahwa sakit Tn.A hanya biasa
dan tidak terlalu serius.
Ny.E menderita hipertensi. Dia mulai terkena hipertensi setelah melahirkan anak
pertama. Ny.E mengatakan bahwa dia biasa mengkonsumsi obat yang dibelinya di apotik.
Dia juga mengatakan bahwa obat itu pernah diresepkan oleh dokter pada saat penyakitnya
kambuh, sehingga Ny.E tidak lagi berobat ke dokter dan langsung mengkonsumsi obat
hipertensi apabila dia merasa tekanan darahnya naik. Ny.E juga mengatakan dia tidak
mengkonsumsi obat hipertensi setiap hari, hanya jika sangat diperlukan saja. Ny.E
mengatakan bahwa dia biasa meminum obat herbal setiap hari untuk menstabilkan tekanan
darah. Ny.E juga sering memodifikasi obat herbalnya dengan obat lain yaitu air rebusan
daun alpukat. Ny.E mengatakan bahwa resep itu dia dapatkan dari temannya yang juga
menderita hipertensi.
An.M menderita gastritis, An.M mengatakan bila dia merasa sakit, An.M
mengkonsumsi obat penurun asam lambung. Namun, bila penyakit dirasa cukup serius,
An.M pergi ke Puskesmas atau dokter. Karena pendidikan yang dia dapat di bangku kuliah
yang sedang dia jalani, An.M banyak mengetahui tentang gejala-gejala penyakit yang
sering timbul di rumahnya, dan juga tau cara pencegahan agar penyakit tersebut tidak
datang kembali. Sehingga, sampai saat ini penyakitnya sudah jarang kambuh.
An.P juga menderita gastritis, An.P lebih memilih periksa ke puskesmas ketika sakit.
An.P juga mengatakan bahwa dia jarang makan teratur, sering begadang dan keluar
malam. Bahkan dia sering merasakan pusing dan mata berkunang-kunang apabila sehabis
begadang. An.P juga mengatakan bila maagnya kambuh, maka dia akan mengurangi
aktivitasnya di luar. Namun, jika penyakitnya sudah sembuh, maka dia akan kembali
melakukan aktivitasnya seperti biasa. An.P mengatakan bahwa akhir-akhir ini dia tidak
nafsu makan karena sering mual dan sakit perut.

2. Riwayat penyakit keturunan


Orang tua dari Tn.A tidak memiliki riwayat penyakit serius. Ayah dari Tn.A sudah
lama meninggal pada saat menunaikan ibadah haji. Serta ibu dari Tn.A saat ini masih ada
dan tidak memiliki riwayat penyakit serius. Namun, Orang Tua dari Ny.E memiliki
riwayat hipertensi. Ayah dari Ny.E telah meninggal 2 tahun yang lalu akibat HHD
(Hypertension Heart Disease). Serta ibu dari Ny.E memiliki riwayat hipertensi.

3. Riwayat kesehatan masing-masing anggota kelurga :

No Nama Umur BB Keadaan Imunisasi Masalah Tindakan yang


kesehatan (BCG/Polio/D kesehatan telah dilakukan
PT/HB/Camp
ak)
1. Tn.A 40 Dia juga Lengkap Hipotensi Tn.A jamu bila
merasa kecapean.
pusing jika
kecapean
2. Ny.E 38 Ny E merasa Lengkap Hipertensi  Ny.Erutin
. kepalanya meminum obat
sangat pusing herbal (air
jika ada rebusan daun
sesuatu yang alpukat)
sangat  Ny.E meminum
dipikirkannya obat anti
. Dia juga hipertensi jika
mengatakan dirasa
kepalanya kepalanya
pusing jika sangat pusing.
mengkonsum
si daging.
3. An.M 20 Bila jadwal Lengkap Gastritis An.M segera
makannya minum obat
mulai tidak antasida
teratur, An.M
merasa nyeri
di ulu hati.
4. An.P 19 An.P merasa Lengkap Gastritis Awalnya An.P
mual dan akan membiarkan
muntah. sakit perut yang
Dia juga dirasakannyanya,
malas untuk namun jika sakit
makan. itu mulai
Perutnya juga mengganggu,
sering terasa An.P segera
sakit minum obat
antasida dan jika
masih merasa
sakit, dia
langsung
bergegas ke klinik
atau puskesmas
terdekat

4. Sumber pelayanan kesehatan yang di manfaatkan


Karena keluarga Tn.A memiliki KIS, keluarga Tn.A memanfaatkan pelayanan
kesehatan dari Puskesmas/Rumah sakit untuk memeriksaan kesehatan ataupun mencari
informasi tentang kesehatan.

5. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya


Keluarga Tn.A tidak memiliki riwayat penyakit yang cukup serius. Namun, Ibu dari
Ny.E memiliki riayat hipertensi. Ny.E merupakan ibu yang siaga. Dia tanggap terhadap
kondisi keluarganya yang sakit.

3. PENGKAJIAN KELUARGA
a. Karakteristik rumah
Tempat tinggal Tn.A memiliki rumah milik sendiri. Rumah Tn.A memiliki
kamar/ruangan sebanyak 3 ruangan, Ventilasi/penerangan cukup, dengan pemanfaatan
ruangan : 1 ruang tamu, 3 kamar tidur, 1 ruangn keluarga, 1 dapur, 1 kamar mandi.
Keluarga Tn.A menggunakan sumber air minum dari sumur. Tersedia tempat sampah.
Lingkungan rumah Tn.A cukup bersih, jarak rumah dengan jalan raya cukup jauh.

b. Karakteristik Tetangga dan Komunitas RW


Keluarga Tn.A tinggal di daerah perdesaan, tetangga yang ada di sekitar rumah
semuanya ramah dan saling tolong-menolong satu sama lain. Warga sekitar khususnya
ibu -ibu memiliki kebiasaan mengadakan pengajian rutin setiap hari kamis. Pengajian
diadakan di masjid dekat rumah. Warga di sekitar juga sering mengadakan kerja bakti
membersihkan lingkungan.

c. Mobilitas geografi keluarga


Keluarga Tn.A sudah menempati rumah itu sudah lama. Tn.A lahir dan besar di
Binjai, dan Ny.E juga lahir di Binjai. Setelah menikah, Tn.A dan Ny.E memutuskan untuk
tetap tinggal di Binjai.Kebanyakan anggota keluarga Tn.A dan Ny.E berjauhan dan
jarang berkunjung kerumah. Tn.A memiliki 1 saudara yang dekat (masih 1 kota).

d. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat


Biasanya Ny.E ikut arisan dua bulan sekali, sedangkan Tn.A selalu ikut serta bila
ada kegiatan gotong royong atau kegiatan lainnya.
An.P mengatakan bahwa dia memiliki banyak teman dari berbagai tingkatan sosial,
mulai dari penjual koran, tukang tambal ban, mahasiswa,dll. An.P juga mengatakan
bahwa hampir semua temannya merokok, beberapa ada yang suka minum alkohol, ada
juga yang memakai narkoba dan ada yang pernah dipenjara karena mencuri. Namun,
An.P berusaha untuk tidak mengikuti tindakan negatif teman-temannya, karena An.P
mengerti bahaya dari tindakan tersebut. An.P juga mengatakan bahwa Ibunya Ny.E sering
memberikan wejangan kepadanya.
An.M jarang bersosialisasi dengan tetangga disekitar rumah karena jadwal kuliah
yang cukup padat dan jarak rumah-kmpus yang lumayan jauh. Namun, An.M mengatakan
jika ada kegiatan remaja masjid di hari libur, maka dia berusaha untuk meluangkan
waktu.

e. Sistem pendukung keluarga


Semua anggota keluarga dalam kondisi sehat. Antara anggota keluarga saling
menyayangi dan membantu satu sama lain. Keluarga Tn.A memiliki fasilitas : Televisi,
WC, tempat tidur yang nyaman, sumber air bersih, motor sebagai sarana transportasi dan
untuk masalah kesehatan, keluarga Tn.A memiliki KIS untuk membantu biaya
pengobatan.

4. Struktur keluarga
a. Pola/cara komunikasi keluarga
Keluarga Tn.A dalam kesehariannya baik berkomunikasi langsung/tidak langsung
menggunakan bahasa Indonesia, dalamkeadaan emosi keluarga Tn.A menggunakan
kalimat yang positif. Ny.A selalu berusaha membangun komunikasi yang baik dengan
anak-anaknya terutama An.P, karena dia rentan dengan perilaku menyimpang jika dilihat
dari teman-temannya, biasanya An.M berkelakuan baik.

b. Struktur kekuatan keluarga


Saudara-saudara dari Ny.E dan Tn.A selalu siap membantu apabila keluarga Tn.A
membutuhkan pertolongan. Mereka tidak memikirkan jarak yang harus dilalui, bagi
mereka saudara tetaplah saudara dan saudara harus saling tolong menolong.

c. Struktur peran (peran masng-masing anggota keluarga)


 Tn.A :
Peran formal : sebagai suami, sebagai kepala keluarga, ayah,
pelindung dan pemberi rasa aman dalam keluarga, sebagai
anggota masyarakat.
Peran informal : pengambil keputusan tertinggi di rumah.
 Ny.E:
Peran formal : sebagai istri, ibu, mengurus rumah tangga,
mendidik anak-anak
Peran informal : sebagai pendamai antar anggota keluarga.
 An.M :
Peran formal : menjadi anak, pengurus remaja masjid, mahasiswa
Peran informal : sebagai penyelaras dan sebagai tempat bercerita adiknya.
 An.P :
Peran formal : menjadi anak, sebagai anggota masyarakat, mahasiswa
Peran informal : sebagai pelindung adik dan kakaknya.

d. Nilai dan norma keluarga


Tn.A menganut agama Islam dan norma yang berlaku di masyarakat dan adat
istiadat orang Binjai. Keluarga Tn.A sangat mematuhi peraturan yang ada di rumah,
seperti anak perempuannya tidak boleh keluar setelah magrib tanpa di dampingi keluarga
laki-laki. Tn.A dan Ny.E juga mengajarkan pentingnya bersikap/ sopan santun dengan
orang lain.
Apabila ada keluarga yang sakit, keluarga mempercayai bahwa ini adalah cobaan
yang Allah berikan agar keluarga dapat lebih kuat. Keluarga selalu berusaha dan
bertawakal saat menghadapi musibah apapun.

5. Fungsi keluarga
a. Fungsi afektif
Keluarga Tn.A dan Ny.E selalu menyayangi dan perhatian kepada anak-anaknya,
Ny.E dan Tn.A juga selalu mendukung dan mengarahkan segala sesuatu yang dilakukan
oleh anak-anaknya selama dalam batas kewajaran dan tidak melanggar norma dan etika
sopan santun.

b. Fungsi sosialisasi
Interaksi Tn. A dengan anak istrinya terjalin dengan sangat baik, saling
mendukung, bahu membahu, dan saling ketergantungan. Tn.A memiliki peran yang besar
dalam mengambil keputusan, namun Tn.A selalu adil kepada keluarganya.
Masing masing anggota keluarga masih memperhatikan dan menerapkan sopan
santun dalam berperilaku. Keluarga mengajarkan dan menanamkan prilaku sosial yang
baik, keluarga cukup aktif di dalam masyarakat. Di waktu senggang biasanya keluarga
berkumpul.

c. Fungsi keperawatan kesehatan

1) Kemampuan keluarga mengenal kesehatan


Ny.E mengatakan tahu/mengerti dengan penyakit yang sering diderita dirinya
serta anak-anaknya.Ny.Emengatakanbahwa dirinya belajar banyak dari pengalaman
serta pengobatan-pengobatan yang pernah dilakukan. Anak-anak dari Tn.A dan Ny.E
juga sedikit mengenal penyakit yang sering mereka derita. An.M tahu betul tentang
penyakitnya. Namun, An.M dan An.P mengatakan mereka sering tidak
mendengarkan nasihat dari orang tuanya, sehingga penyakit mereka sering kembali.
Sedangkan Tn.A mengetahui jika tekanan darahnya selalu rendah. Tn.A langsung
beristirahat jika merasa kepalanya pusing

2) Kemampuan keluarga mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan yang


tepat
Keluarga mengetahui tentang masing-masing penyakit yang pernah mereka
derita, sehingga apabila mereka mulai merasakan tanda dan gejala, mereka langsung
mengkonsumsi obat yang biasa mereka konsumsi. Apabila sakit tak kunjung
sembuh, mereka segera pergi ke puskesmas terdekat.

3) Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit


Ny.E mengatakan bila kepalanya terasa pusing, maka Ny.E langsung
meminum obat antihipertensi dan langsung beristirahat. An.M juga melakukan hal
yang sama jika perutnya terasa mual dan sakit. Namun, An.M dan An.P akan
melaporkan gejala yang mereka rasakan kepada Ny.E dan Ny.E langsung
memberikan obat. Ny.E juga mengatakan bahwa dia selalu berusaha mengontrol
jadwal makan anak-anaknya apalagi jika sedang dirumah. Tn.A mengatakan jika dia
mulai merasa pusing dan kliyengan, maka dia tau jika tekanan darahnya turun. Tn.A
langsung minta dibuatkan jamu dan Ny.E menyuruh Tn.A untuk istirahat.

4) Kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang sehat


KeluargaTn.Amenyadari pentingnya kebersihan ligkungan, oleh sebab itu
keluarga selalu menjaga kebersihan rumahnya dengan membersihkan lingkungan
rumah, seperti menyapu, mengepel dan menguras bak mandi agar tidak menjadi
sumber penyebaran penyakit.

5) Kemampuan keluarga mengguanakan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat


Tn.A dan Ny.Emengatakan sudah mengetahui fasilitas pelayanan kesehatan,
Selama ini keluarga mendapakan pelayanan yang baik oleh puskesmas. Keluarga
juga percaya dengan informasi yang di berikan oleh puskesmas.

d. Reproduksi
Jumlah anak yang dimiliki Tn.Adan Ny.E ada 2 orang, 1 anak laki - laki dan 1 anak
perempuan. Ny.E masih mengalami haid 1 bulan sekali dan tidak merasakan nyeri saat
haid. Ny.E menggunakan KB berupa pil.

e. Fungsi ekonomi
Tn.Amengatakan mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya sehari - hari
dari pendapatan yang diterima ditambah dengan usaha sampingannya. Tn.A menyisihkan
sebagian pendapatannya untuk keperluan yang tidak terduga dan biaya sekolah anaknya
nanti.
6. STRES DAN KOPING KELUARGA
a. Stresor Jangka Panjang
Tn.Adan Ny.Ememikirkan biaya untuk melanjutkan sekolah bagi anak-anaknya.

b. Stresor Jangka Pendek


Tn.A takut kondisi tekanan darahnya yang sering rendah dapat mempengaruhi kerjanya.
Ny.E juga khawatir dengan kondisi An.P yang sering begadang dan keluar malam
sehingga gastritisnya sering kambuh. Tn.A dan Ny.E khawatir dengan pergaulan An.P.
Tn.A dan Ny.E takut anaknya salah dalam bergaul dan terjerumus ke pergaulan yang
negatif.

c. Respons keluarga terhadap stresor :


Untuk stress jangka panjang Tn.A berusaha untuk mencukupi kebutuhan sekolah anak-
anaknya dengan bekerja keras. Sedangkan Ny.E berusaha membantu Tn.A mencari uang
untuk memenuhi keperluan lain yang mendadak.

Untuk stress jangka pendek, Tn.A berusaha untuk tidak stress dan beristirahat agar
tekanan darahnya tetap stabil. Sedangkan Ny.E selalu mengontrol keadaan An.P
walaupun sedang di luar rumah untuk mengingatkannya makan dan pulang cepat. Ny.E
sering memberikan pengertian dan wejangan kepada An.P bahwa mana yang baik untuk
dilakukan mana yang harus ditinggalkan. Ny.E juga sering mengontrol An.P dari teman-
teman yang dikenalnya.Ny.E juga selalu mengontrol anak-anaknya lewat telpon jika
sedang berada diluar. Tn.A dan Ny.E juga membangun hubungan yang harmonis
dirumah agar anak-anaknya tetap betah walau berada dirumah.

d. Strategi koping
Strategi koping yang digunakan Tn.A dan Ny.E baik, Bila ada permasalahan, Tn. A dan
Ny.Eberusaha untuk selalu menyelesaikannya dengan bermusyawarah dan tetap tenang
dalam berfikir. Namun, keputusan tertinggi tetap berada di tangan Tn.A sebagai kepala
rumah tangga.
e. Strategi adaptasi disfungsional
Keluarga tidak pernah menggunakan kekerasan, perlakuan kejam kepada anak ataupun
istrinya ataupun memberikan ancaman-ancaman dalam menyelesaikan masalah.

7. KEADAAN GIZI KELUARGA


Ny.E merasa kebutuhan gizi keluarganya sudah cukup baik, hampir setiap hari Ny.E
masak sayur dengan lauk pauk dengan berganti-ganti menu yang sehat, seperti tempe, tahu,
ikan, telur dll. Sesekali Ny.E membeli lauk di luar.

8. HARAPAN KELUARGA
Tn.A berharap keluarganyaselalu sehat wal’afiat. Dan keluarga juga berharap petugas
kesehatan dapat memberikan pelayanan yang baik, tepat, dan cepat kepada siapa saja yang
membutuhkan. Tidak membeda-bedakan seseorang dalam memberikan pelayanan kesehatan,
miskin maupun kaya.

B. Analisa Data

No Data Problem Etiologi


1. DS: Gangguan Ketidakmampuan
- Mual dan muntah dirasakan oleh pemenuhan keluarga merawat
kedua anaknya kebutuhan nutrisi anggota keluarga
- An.P dan An.M mengatakan bahwa keluarga Tn.A yang sakit
mereka tidak nafsu makan jika
mulai merasakan mual
- An.P mengatakan jika kelelahan dia
langsung tidur
- Jadwal makan An.P tidak teratur
- An.P terkadang makan diluar jika
lapar

DO:
- Tampak pucat
- Nyeri pada saat perut atas ditekan
2. DS : Kurangnya Ketidakmampuan
- Tn. A mengatakan kepalanya sering pengetahuan keluarga mengenali
pusing jika kecapean Keluarga tentang dan memahami
- Ny.E mengatakan bahwa Tn.A tidak penyakit Tn.A penyakit Tn.A
pernah memeriksakan dirinya ke
dokter atau puskesmas jika sakit
- Ny.E mengatakan bahwa penyakit
Tn.H hanya karna kelelahan saja dan
tidak terlalu serius.
- Tn.A mengatakan dia sering
meminum jamu jika mulai
kliyengan.
DO :
- Wajah tampak pucat
- Tn.A terlihat lemah
3. DS : Gangguan pola tidur Ketidakmampuan
- An.P mengatakan bahwa dia sering An.Ppada Keluarga keluarga dalam
pulang malam dan begadang Tn.A merawat dan
- An.P mengatakan bahwa dia sering mengontrol aktivitas
kelelahan anggota keluarganya
- An.P juga mengatakan bahwa
kepalanya sering terasa pusing dan
matanya berkunang-kunang sewaktu
bangun tidur.
DO :
- An.A tampak pucat
- Konjungtiva anemis
SKORING DAN PRIORITAS MASALAH
Diagnosa Keperawatan :

1. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi keluarga Tn.Aberhubungan dengan


Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit

No Kriteria Skor Bobot Nilai Pembenaran


1 SifatMasalah : 3 1 3/3 x 1 = 1 Masalah sudah sangat sering
actual terjadi, An.P dan An.M sering
merasakan mual dan nyeri
abdomen
2 Kemungkinanmasal 2 2 2/2 x 2 =2 Ny.E selalu tanggap
ahdapatdirubah memberikan obat jika anak-
:mudah. anaknya mulai merasakan
sakit.
3 Potensimasalahdap 3 1 3/3 x 1 = 1 Ny.E banyak tahu tentang
atdicegah : tinggi penyebab dan cara
menghindari faktor pencetus
untuk terjadi gastritis.
4 Menonjolnyamasal 2 1 2/2 x1 = 1 Keluarga menanggapi bahwa
ah :berat, penyakit gastritis ini dapat
harussegera di mengganggu aktivitas dan
tangani. selera makan.
TOTAL 5
Diagnosa keperawatan :

2. Kurangnya pengetahuan Keluarga tentang penyakit Tn.A b/d Ketidakmampuan keluarga


mengenali dan memahami penyakit Tn.A

No Kriteria Skor Bobot Nilai Pembenaran


1 SifatMasalah : ancaman kesehatan 2 1 2/3 x 1 Kurang mengetahui
= 2/3 tentang penyakit Tn.A
yaitu Hipotensi

2 Kemungkinanmasalahdapatdiruba 1 2 1/2 x 2 Tn.Amengatakan


h :sebagian. =1 tidak ingin ke dokter
dan cukup minum
jamu.
3 Potensimasalahdapatdicegah 3 1 3/3 x 1 Masalah hipotensi
:tinggi. =1 dapat diatasi oleh
keluarga, terutama
bila Tn.A dapat
mengatur aktivitas dan
istirahatnya.
4 Menonjolnyamasalah : ada 1 1 1/2 x 1 Keluarga menanggapi
masalah, tetapi tidak perlu segera = 1/2 penyakit Tn.A ini
ditangani tidak terlalu
mengganggu asal
selalu di kontrol
aktivitas Tn.A
TOTAL 3 1/6

Diagnosa Keperawatan :
3. Gangguan pola tidur An.P pada Keluarga Tn.A berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga dalam mengenali dan mengontrol aktivitas anggota keluarganya

No Kriteria Skor Bobot Nilai Pembenaran


1 SifatMasalah : 2 1 2/3 x 1 = 2/3 An.P sering terlihat pucat dan
ancaman kesehatan merasa pusing setelah bangun
tidur, namun An.P masih
belum bisa meninggalkan
kebiasaannya keluar malam
dan begadang
2 Kemungkinanmasal 2 2 2/2 x 2 =2 Memberikan informasi
ahdapatdirubah mengenai dampak terburuk
:mudah. akibat terlalu sering begadang
dan keluar malam.
3 Potensimasalahdap 2 1 2/3 x 1 = 2/3 An.P mau berusaha untuk
atdicegah :cukup. mengurangi kebiasaannya
keluar malam dan begadang.
4 Menonjolnyamasal 2 1 2/2 x1 = 1 Keluargatahubahwabanyak
ah :berat, penyakit yang akan timbul jika
harussegera di An.P terlalu sering begadang,
tangani.
TOTAL 41/3
PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN

Prioritas Diagnosis keperawatan Skor

1. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi keluarga 5


Tn.A berhubungan dengan Ketidakmampuan
keluarga merawat anggota keluarga yang sakit
2 Gangguan pola tidur An.P pada Keluarga Tn.A
berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga 4 1/3
dalam mengontrol aktivitas anggota keluarganya

3. Kurangnya pengetahuan Keluarga tentang penyakit


Tn.A b/d Ketidakmampuan keluarga mengenali dan 3 1/6
memahami penyakit Tn.A

DIAGNOSA KEPERAWATAN KELUARGA PRIORITAS

Dx1 : Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi keluarga Tn.A berhubungan dengan


Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit

RENCANA TINDAKAN
No Dx Intervensi Keperawatan
keperawatan Tujuan dan Tindakankeperawatan Rasional
criteria hasil
1 Gangguan Keluarga 1.   Kaji tingkat 1.      untuk mengetahui sampai
pemenuhan memahami pengetahuan keluarga dimana pengetahuan keluarga dalam
kebutuhan tentang tentang pemenuhan menjalankan perannya masing-masing
nutrisi kebutuhan kebutuhan nutrisi anak dalam kesehatan anaknya.
keluarga nutrisi dengan anak usia 2.      agar keluarga lebih mengetahui
Tn.A Dengan remaja tentang tugas perkembangannya
berhubungan criteria hasil 2.   Jelaskan tentang masing-masing tentang kesehatan
dengan :.keluarga tugas pemenuhan anak serta anggota keluarga.
Ketidak mengetahui kebutuhan nutrisi anak
mampuan peran usia remaja
keluarga keluarga
merawat dalam
anggota pemenuhan
keluarga kebutuhan
yang sakit nutrisi.

Dx2 : Gangguan pola tidur An.P pada Keluarga Tn.A berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga dalam mengontrol aktivitas anggota keluarganya
RENCANA TINDAKAN
No Dx Intervensi Keperawatan
keperawatan Tujuan dan Tindakan Rasional
criteria hasil keperawatan
2 Gangguan Keluarga 1.   Kaji tingkat 1.      untuk mengetahui sampai dimana
pola tidur memahami pengetahuan pengetahuan keluarga dalam menjalankan
An.P pada tentang pola keluarga perannya masing-masing dalam kesehatan
Keluarga tidur yang tentang pola anaknya.
Tn.A baik anak usia tidur untuk 2.      agar keluarga lebih mengetahui
berhubungan remaja dengan anak usia tentang tugas perkembangannya masing-
dengan criteria hasil : remaja masing tentang kesehatan anaknya
ketidak · keluarga 2.   Jelaskan
mampuan mengetahui tentang pola
keluarga peran keluarga tidur yang baik
dalam dalam anak usia
mengontrol meningkatkan remaja
aktivitas pola tidur
anggota anaknya
keluarganya dengan baik.
Dx3 : Kurangnya pengetahuan Keluarga tentang penyakit Tn.A b/d Ketidakmampuan keluarga
mengenali dan memahami penyakit Tn.A
RENCANA TINDAKAN
No Dx Intervensi Keperawatan
keperawatan Tujuan dan Tindakan Rasional
criteria hasil keperawatan
3 Kurangnya Keluarga 1.   Kaji tingkat 1.      untuk mengetahui sampai dimana
pengetahuan memahami pengetahuan pengetahuan keluarga dalam
Keluarga tentang tentang keluarga tentang menjalankan perannya masing-masing
tentang penyakit yang penyakit yang dalam kesehatan anaknya.
penyakit b/d mereka alami dialami oleh 2.      agar keluarga lebih mengetahui
Ketidakmam denga anggota tentang tugas perkembangannya masing-
puan nkriteriahasil : keluarga masing tentang kesehatan anaknya
keluarga keluarga 2.   Jelaskan
mengenali mengetahui tentang tugas
dan peran keluarga perkembangan 
memahami dalam keluarga
penyakit meningkatkan mengenai
Tn.A kesehatan kesehatan dan
anggota gaya hidup yang
keluarga baik

PELAKSANAAN DAN EVALUASI


No Pelaksanaan  Evaluasi
Dx
1. - Kaji apa penyebab S:   keluarga mengatakan hari tu sudah sangat sering terjadi,
terjadinya masalah An.P dan An.M sering merasakan mual dan nyeri abdomen
O:  Keluarga tampak menyesal
A:  Keluarga mengambil keputusan untuk berubah
P:   kontrak untuk mendiskusikan kepada keluarga,
bagaimana cara melakukan pemenuhan kebutuhan nutrisi
yang baik dan benar
-

- Mengajarkan bagaimana S: merasa terbantu, dan mendapatkan gambaran untuk


melakukan pemenuhan mengatasi masalah
kebutuhan nutrisi yang baik O: antusias
dan benar A: keluarga akan melakukan cara melakukan pemenuhan
kebutuhan nutrisi yang baik dan benar
-
P:evaluasi
S: Keluarga merasa senang karena bisa melakukan
-Dampingi keluarga saat pemenuhan kebutuhan nutrisi yang baik dan benar
melakukan pemenuhan O:Tampak puas
kebutuhan nutrisi yang baik A:keluarga akan selalu mendampingi anakdalam pemenuhan
dan benar kebutuhan nutrisi dirumah
P:hentikan tindakan
-
2 -      Kaji tingkat S:   Keluarga mengatakan belum mengetahui bagaimana pola
pengetahuan keluarga tidur yang baik untuk anak usia remaja
dan pola tidur dengan O:  Keluarga tampak serius
tingkat usia remaja A:  Pengetahuan keluarga tentang pola tidurtidakada.
P:   Merencanakan untuk mendiskusikan tentang pola tidur
yang baik

-      Diskusikan dengan S: keluarga mengatakan bahwa anaknya sering sekali tidur


keluarga tentang pola tidur hingga larut malam
yang baik untuk anaknya O:  Keluarga tampak antusias
A:  Pengetahuan keluarga tentang pola tidur meningkat
P:   Rencanakan pertemuan berikutnya untuk evaluasi
-      Minta keluarga untuk S:   Keluarga mampu mengulangi informasi yang telah
menjelaskan kembali disampaikan oleh perawat pada pertemuan sebelumnya, dan
informasi yang telah berencana untuk konsultasi dengan baik dengan perawat
disampaikan maupun keluarga untuk menjalankan tugasnya
O:  Keluarga tampak antusias
A:  Pengetahuan keluarga meningkat
P:   Rencanakan untuk pertemuan berikutnya evaluasi dan
terminasi

3. Kurangnya pengetahuan S:   Keluarga mengatakan tidak mengetahui tentang


Keluarga tentang penyakit penyakit yang sedang dialami oleh anggota keluarganya
Tn.A b/d Ketidakmampuan O:  Keluarga tampak serius
keluarga mengenali dan A:  Pengetahuan keluarga tentang penyakit tersebut
memahami penyakit Tn.A tidak ada.
P:   Merencanakan untuk mendiskusikan tentang
pencegahan dan penanganan penyakit tersebut
- Diskusikan dengan S: keluarga mengatakan bahwa tidak mengetahui
bagaimana cara menangani penyakit anggota
keluarga penyakit yang
keluarganya
dialami oleh anggota
O:  Keluarga tampak antusias
keluarganya A:  Pengetahuan keluarga tentang penyakit hipotensi
meningkat
P:   Rencanakan pertemuan berikutnya untuk evaluasi
-      Minta keluarga untuk S:   Keluarga mampu mengulangi informasi yang telah
menjelaskan kembali disampaikan oleh perawat pada pertemuan sebelumnya,
informasi yang telah dan berencana untuk konsultasi dengan baik dengan
disampaikan perawat maupun keluarga untuk menjalankan tugasnya
O:  Keluarga tampak antusias
A:  Pengetahuan keluarga meningkat
P:   Rencanakan untuk pertemuan berikutnya evaluasi
dan terminasi

BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Keluarga merupakan suatu perkumpulan orang yang terdiri dari suami, istri dan anak-anaknya
baik anak kandung maupun adopsi, Keluarga juga  merupakan pusat  perkembangan anak untuk
dapat berkembang dengan  baik atau tidak, keluarga yang baik dapat mendukung anak dapat
berkembangan baik pula.
Keluarga dengan tahap perkembangan anak usia remaja mempunyai tugas perkembangan,
yaitu : mensosialisasikan anak untuk dapat meningkatkan prestasi, meningkatkan kominikasi terbuka
agar anak mau bercerita tentang pengalaman yang dialaminya, selain itu orang tua juga harus bisa
melepaskan anak-anaknya untuk bisa bergaul dan bermain dengan teman sebayanya.
Pada tahap ini anak sering sekali tidak berada dirumah mereka lebih senang untuk bermain
dengan teman-temannya, sehingga orang tua berpisah dengan anaknya untuk sementara waktu.
Penerapan proses keperawan keluarga memerlukan keterampilan yang baik dalam berkomunikasi,
skill keperawatan dan pemilihan pertanyaan yang tepat sehingga proses keperawatan dapat
diterapkan dengan baik.

B.     Saran
1. Dalam melakukan pengkajian diharapkan mahasiswa dapat menyimpulkan apakah keluarga
sudah mampu memenuhi tugas perkembangan anak usia remaja atau belum.
2. Mahasiswa adalah seoarang calon perawat yang salah satu kliennya adalah keluarga, maka
diharapkan mahasiswa dalam memberikan asuhan keperawatan tidak melangkahi
profesionalitas berkerja dan selalu menghormati privasi yang klien miliki
3. Dalam melakukan pengkajian, perawat harus membina trust terlebih dahulu untuk
melakukan rencana asuhan keperawatan

DAFTAR PUSTAKA

1. BKKBN. 2012. Laporan situasi kependudukan dunia tahun 2012. Jakarta


2. Santrock, J. W. 2007. Perkembangan anak edisi kesebelas jilid 2. Jakarta:
Erlangga
3. Setiadi. 2008. Konsep dan proses keperawatan keluarga edisi pertama.
Yogyakarta: Graha Ilmu
4. Slameto. 2006. Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta
5. Mubarak, dkk. 2009. Ilmu keperawatan komunitas: konsep dan aplikasi.
Jakarta: Salemba Medika
6. Al-Mighwar, M. 2006. Psikologi Remaja. Bandung: CV Pustaka Setia
7. Wong, D. L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC
8. Sarwono. 2011. Psikologi Remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada