Anda di halaman 1dari 5

Nama : Salma safitri

Nim : 170204072

Kelas : PSIK D3.1

Ringkasan diskusi

1.Spain

Dimana bentuk cedera berupa pengukuran atau kerobekan pada ligamen (jaringan yang

menghubungkan tulang dengan tulang) atau kapsul sendi yang memberikan stabilitas sendi.

Gejala sprain yaitu nyeri, bengkak, peradangan, memar, ketidakmampuan menggerakkan

tungkai. Penyebab sprain adalah terpeleset, gerakan yang salah sehingga sendi terenggang

melampaui gerakan normal.

Strain (Kram Otot)

Bentuk cidera berupa penguluran atau kerobekan pada struktur musculo-tendinous (otot dan

tendon). Gejala strain yaitu nyeri, spasme otot, kehilangan kekuatan, keterbatasan gerak lingkup

sendi. Penyebab strain adalah terjadi karena pembebanan secar tiba-tiba pada otot tertentu.

2. Dislokasi adalah Terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. Dislokasi ini dapat

hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari

tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi).

3. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas atau kesinambungan tulang dan sendi, baik sebagian

atau seluruh tulang termasuk tulang rawan. (SOS Profesional, 2015)

4. Syndrom Compartemen adalah kondisi serius yang timbul ketika terdapat tekanan yang sangat

tinggi di dalam kompartemen otot.


Kompartemen terdiri dari kelompok jaringan otot, pembuluh darah dan saraf pada lengan dan

kaki yang dikelilingi oleh membran yang sangat kuat yang disebut dengan Fascia. Fascia tidak

dapat mengembang, sehingga pembengkakan di dalam kompartemen tersebut dapat

mengakibatkan naiknya tekanan di dalam kompartemen, sehingga dapat terjadi cedera pada otot,

pembuluh darah dan saraf di dalam kompartemen tersebut.

B. Penanganan Awal

1. Penanganan Awal spain dan strain

Penanganan Dislokasi Sprain dan Strain

RICE (Rest, Ice, Compression, elevation)

Rest = istirahat.

Ice = kompres dengan es.

Compression = dibalut tetapi jangan terlalu kencang.

Elevation = bagian yang memar agak diangkat lebih tinggi supaya darah dapat mengalir ke

jantung.

Balut tekan

Bantu dengan tongkat atau truk

Mulai aktivitas dengan hati-hati secara bertahap.

2. Penanganan awal dislokasi

a. Istirahatkan Sendi
Agar lekas sembuh, pastikan untuk mengistirahatkan sendi yang mengalami dislokasi. Hindari terlalu

banyak menggerakkan sendi yang cedera serta jangan melakukan gerakan yang bisa memicu rasa sakit

pada sendi.

b. Obat Pereda Nyeri

Jika dibutuhkan, kamu bisa mengonsumsi obat pereda nyeri. Ada sejumlah jenis obat pereda nyeri yang

bisa dibeli dengan bebas di apotek. Tujuan konsumsi obat adalah mengurangi gejala dan rasa nyeri

akibat dislokasi sendi.

c. Kompres Sendi yang Cedera

Salah satu pertolongan pertama yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa nyeri akibat dislokasi sendi

adalah mengompres bagian yang cedera. Kamu bisa mengompres dengan air dingin pada awal-awal

cedera terjadi serta ketika rasa sakit dan peradangan mulai menghilang, ganti kompresan dengan air

hangat. Tujuannya untuk membantu melemaskan otot-otot yang kencang dan sakit akibat dislokasi

sendi.

3. Penanganan Awal Fraktur

Penanganan fraktur meliputi:

a. Pembidaian : benda keras yang ditempatkan di daerah sekeliling tulang.

b.Pemasangan gips : merupakan bahan kuat yang dibungkuskan disekitar tulang yang patah.

c. Penarikan (traksi) : Menggunakan beban untuk menahan sebuah anggota gerak pada

tempatnya. Sekarang sudah jarang digunakan, tetapi dulu pernah menjadi pengobatan utama

untuk patah tulang pinggul.


d. Fiksasi internal : Dilakukan pembedahan untuk menempatkan piringan atau batang logam

pada pecahan-pecahan tulang. Merupakan pengobatan terbaik untuk patah tulang pinggul dan

patah tulang disertai komplikasi.

4. Penanganan Awal Syndrom Kompertemen

Syndrom kompartemen akut dan kronis membutuhkan penanganan yang berbeda. Berikut adalah

perawatan yang dibutuhkan masing-masing:

a. Penanganan sindrom kompartemen akut

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, sindrom kompartemen akut adalah kondisi darurat medis

yang membutuhkan penanganan segera. Satu-satunya penanganan untuk sindrom kompartemen akut

adalah prosedur pembedahan yang disebut dengan fasciotomy darurat.

Prosedur ini melibatkan pemotongan fascia demi mengurangi tekanan pada kompartemen. Kasus yang

parah biasanya mengharuskan dokter untuk menunggu beberapa hari sebelum menutup sayatan.

Beberapa luka bahkan membutuhkan pencangkokan kulit agar dapat tertutup.

Apabila sindrom kompartemen disebabkan oleh balutan gips yang terlalu ketat, gips harus dilonggarkan

atau bahkan dilepaskan.

b. Penanganan sindrom kompartemen kronis

Umumnya sindrom kompartemen kronis tidak berbahaya. Dokter biasanya akan menyarankan

perawatan non-bedah lebih dulu meliputi:

1.Obat antiinflamasi untuk meredakan peradangan dan menghilangkan rasa sakit

2.Terapi fisik bertujuan untuk meregangkan otot


3. Mengganti jenis permukaan tempat atau alas Anda berolahraga

4. Meninggikan ekstremitas (anggota gerak), misalnya dengan mengganjalnya menggunakan bantal

5.Memodifikasi olahraga yang biasa dilakukan