Anda di halaman 1dari 5

Nama : Salma Safitri

Nim : 170204072
Kelas : PSIK D3.1

SOP PEMASANGAN DAN PERAWATAN VENTILATOR

PERAWATAN PASIEN DENGAN VENTILATOR

Pengertian
Ventilator adalah suatu alat system bantuan nafas secara mekanik yang di
desain untuk menggantikan/menunjang fungsi pernafasan.

Tujuan Pemasangan Ventilator:


1. Memberikan kekuatan mekanis pada sistem paru untuk mempertahankan ventilasi yang
fisiologis.
2. Memanipulasi “air way pressure” dan corak ventilasi untuk memperbaiki efisiensi
ventilasi dan oksigenasi.
3. Mengurangi kerja miokard dengan jalan mengurangi kerja nafas.

Indikasi Pemasangan Ventilator:


- “Respiratory Rate” lebih dari 35 x/menit.
- “Tidal Volume” kurang dari 5 cc/kg BB.
- PaO2 kurang dari 60, dengan FiO2 “room air”
- PaCO2 lebih dari 60 mmHg

Alat-alat yang disediakan:


- Ventilator
- Spirometer
- Air viva (ambu bag)
- Oksigen sentral
- Perlengkapan untuk mengisap sekresi
- Kompresor Air

Setting Ventilator
1. Tentukan “Minute Volume” (M.V.) yaitu :
M.V = Tidal Volume (T.V) x Respiratory Rate (R.R)
Normal T.V = 10 – 15 cc/kg BB
Normal R.R = - pada orang dewasa = 10 – 12 x/menit
Pada pasien dengan COPD, T.V lebih kecil, yaitu 6 – 8 cc/kg BB.
Pada Servo Ventilator 900 C :
- M.V dibawah 4 liter, pakai standar “infant”
- M.V. diatas 4 liter, pakai standar “adult”
2. Modus
Tergantung dari keadaan klinis pasien.
Bila mempergunakan “IMV”, harus dikombinasikan dengan “PEEP”.
3. PEEP
Ditentukan tergantung dari keadaan klinis pasien. Pada pasien dengan edema paru, PEEP
dimulai dengan 5 mmHg. Pada pasien tidak dengan edema paru, PEEP dimulai dari nol, tetapi
FiO2 dinaikan sampai 50%. Bila FiO2 tidak naik, baru diberikan PEEP mulai dari 5 mmHg.
Catatan :
- Selama pemakaian Ventilator, FiO2 diusahakan kurang dari 50 %
- PEEP dapat dinaikkan secara bertahap 2,5 mmHg, sampai batas maximal 15 mmHg.

4. Pengaturan Alarm :
- Oksigen = batas terendah : 10 % dibawah yang diset batas tertinggi : 10 % diatas yang
diset
- “Expired M.V = kira-kira 20 % dari M.V yang diset
- “Air Way Pressure” = batas tertinggi 10 cm diatas yang diset
Pemantauan
1. Periksa analisa gas darah tiap 6 jam, kecuali ada perubahan seting, analisa gas darah
diperiksa 20 menit setelah ada perubahan seting. Nilai standar : PCO2 = 35 – 45
mmHg
Saturasi O2 = 96 – 97 %
PaO2 = 80 – 100 mmHg
Bila PaO2 lebih dari 100 mmHg, maka FiO2 diturunkan bertahap 10 %. Bila PCO2
lebih besar dari 45 mmHg, maka M.V dinaikkan. Bila PCO2 lebih kecil dari 35
mmHg, maka M.V diturunkan.
Buat foto torax setiap hari untuk melihat perkembangan klinis, letak ETT dan
komplikasi yang terjadi akibat pemasangan Ventilator.
2. Observasi keadaan kardiovaskuler pasien : denyut jantung, tekanan darah, sianosis,
temperatur.
3. Auskultasi paru untuk mengetahui :
- letak tube
- perkembangan paru-paru yang simetris
- panjang tube
4. Periksa keseimbangan cairan setiap hari
5. Periksa elektrolit setiap hari
6. “Air Way Pressure” tidak boleh lebih dari 40 mmHg
7. “Expired Minute Volume” diperiksa tiap 2 jam
8. Usahakan selang nasogastrik tetap berfungsi.
9. Perhatikan ada tidaknya “tension pneumothorax” dengan melihat tanda tanda sebagai
berikut :
- gelisah, kesadaran menurun
- sianosis
- distensi vena leher
- trachea terdorong menjauh lokasi “tension pneumothorax”
- salah satu dinding torak jadi mengembang
- pada perkusi terdapat timpani.
Perawatan :
1. Terangkan tujuan pemakaian ventilator pada pasien dan atau pada keluarganya
bagi pasien yang tidak sadar.
2. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan, untuk mencegah
infeksi.
3. “Breathing circuit” sebaiknya tidak lebih tinggi dari ETT, agar pengembunan air
yang terjadi tidak masuk ke paru pasien.
4. Perhatikan permukaan air di “humidifier”, jaga jangan sampai habis, air diganti
tiap 24 jam.
5. Fiksasi ETT dengan plester dan harus diganti tiap hari, perhatikan jangan sampai
letak dan panjang tube berubah. Tulis ukuran dan panjang tube pada “flow sheet”
6. Cegah terjadinya kerusakan trachea dengan cara : Tempatkan tubing yang
dihubungkan ke ETT sedemikian rupa sehingga posisinya berada diatas pasien.
Tubing harus cukup panjang untuk memungkinkan pasien dapat menggerakkan
kepala.
7. Memberikan posisi yang menyenangkan bagi pasien, dengan merubah posisi tiap
2 jam. Selain itu perubahan posisi berguna untuk mencegah terjadinya dekubitus.
8. Memberi rasa aman dengan tidak meninggalkan pasien sendirian.
9. Teknik mengembangkan “cuff” :
- kembangkan “cuff” dengan udara sampai tidak terdengar suara bocor.
- “cuff” dibuka tiap 2 jam selama 15 menit.

Beberapa hal yang harus diperhatikan

a. Humidifasi dan Suhu


Ventilasi Mekanik yang melewati jalan nafas buatan meniadakan mekanisme
pertahanan tubuh terhadap pelembaban dan penghangatan. Dua proses ini harus
ditambahkan pelembab (Humidifier) dengan pengontrol suhu dan diisi air sebatas level
yang sudah ditentukan (system boiling water) terjadi Kondensasi air dengan penurunan
suhu untuk mencapai suhu 370°C pada ujung sirkuit ventilasi mekanik. Pada kebanyakan
kasus suhu udara ± sama dengan suhu tubuh.
Pada kasus hypotermi suhu dapat dinaikkan lebih dari 370°C - 380°C. Kewaspadaan
dianjurkan karena lama dan tingginya suhu inhalasi menyebabkan luka bakar pada trakea,
lebih mudah terjadinya pengentalan sekresi dan akibatnya obstruksi jalan nafas bisa
terjadi. Sebaliknya apabila suhu ke pasien kurang dari 360°C membuat kesempatan untuk
tumbuhnya kuman. Humidifikasi yang lain yaitu system Heating wire dimana kehangatan
udara dialirkan melalui wire di dalam sirkuit dan tidak terjadi kondensasi air. Pada kasus
penggunaan Ventilasi Mekanik yang singkat tidak lagi menggunakan kedua system
diatas, tetapi humidifasi jenis Moisture echanger yang di pasang pada ujung sirkuit
Ventilasi Mekanik.

b. Perawatan jalan nafas


Perawatan jalan nafas terjadi dari pelembaban adequate, perubahan posisi dan
penghisapan sekresi penghisapan di lakukan hanya bila perlu, karena tindakan ini
membuat pasien tidak nyaman dan resiko terjadinya infeksi, perhatikan sterilitas !!
Selanjutnya selain terdengar adanya ronkhi (auscultasi) dapat juga dilihat dari adanya
peningkatan tekanan inspirasi (Resp. rate) yang menandakan adanya
perlengketan/penyempitan jalan nafas oleh sekresi ini indikasi untuk dilakukan
pengisapan. Fisioterapi dada sangat mendukung untuk mengurangi atelektasis dan dapat
mempermudah pengambilan sekresi, bisa dengan cara melakukan clapping, fibrasing
perubahan posisi tiap 2 jam perlu dikerjakan untuk mengurangi pelengketan sekresi.

c. Perawatan selang Endotrakeal


Selang endotrakeal harus dipasang dengan aman untuk mencegah terjadinya migrasi,
kinking dan terekstubasi, oleh sebab itu fiksasi yang adequate jangan diabaikan.
Penggantian plesterfiksasi minimal 1 hari sekali harus dilakukan karena ini merupakan
kesempatan bagi kita untuk melihat
apakah ada tanda-tanda lecet/ iritasi pada kulit atau pinggir bibir dilokasi pemasangan
selang endotrakeal. Pada pasien yang tidak kooperatif sebaiknya dipasang mayo/gudel
sesuai ukuran, ini gunanya agar selang endotrakeal tidak digigit, dan bisa juga
memudahkan untuk melakukan pengisapan sekresi. Penggunaan pipa penyanggah sirkuit
pada Ventilasi Mekanik dapat mencegah tertariknya selang endotrakeal akibat dari beban
sirkuit yang berat. Bila pasien terpasang Ventilasi Mekanik dalam waktu yang lama perlu
di pertimbangkan untuk dilakukan pemasangan Trakeostomi yang sebelumnya kolaborasi
dengan dokter dan keluarga pasien.

d. Tekanan cuff endotrakeal


Tekanan cuff harus dimonitor minimal tiap shift untuk mencegah kelebihan inflasi dan
kelebihan tekanan pada dinding trakea. Pada pasien dengan Ventilasi Mekanik, tekanan
terbaik adalah paling rendah tanpa adanya kebocoran/penurunan tidal volume. Cuff kalau
memungkinkan di kempeskan secara periodik untuk mencegah terjadinya nekrosis pada
trakea.

e. Dukungan Nutrisi
Pada pasien dengan dipasangnya Ventilasi Mekanik dukungan nutrisi harus diperhatikan
secara dini. Apabila hal ini terabaikan tidak sedikit terjadinya efek samping yang
memperberat kondisi pasien, bahkan bisa menimbulkan komplikasi paru dan kematian.
Bila saluran gastrointestinal tidak ada gangguan, Nutrisi Enteral dapat diberikan melalui
Nasogastric tube (NGT) yang dimulai dengan melakukan test feeding terlebih dahulu,
terutama pada pasien dengan post laparatomy dengan reseksi usus. Alternatif lain apabila
tidak memungkinkan untuk diberikan nutrisi melalui enteral bisa dilakukan dengan
pemberian nutrisi parenteral.

f. Perawatan Mata
Pada pasien dengan pemasangan Ventilasi Mekanik perawatan mata itu sangat penting
dalam asuhan keperawatan. Pengkajian yang sering dan pemberian tetes mata/zalf mata
bisa menurunkan keringnya kornea. Bila refleks berkedip hilang, kelopak mata harus di
plester untuk mencegah abrasi kornea, kering dan trauma. edema sclera dapat terjadi pada
pasien dengan Ventilasi Mekanik bila tekanan vena meningkat. Atur posisi kepala lebih
atas/ekstensi. Keterampilan perawat di ICU sangat mempengaruhi kelancaran kegiatan
dan keberhasilan tindakan. Berbagai peralatan berteknologi tinggi seperti halnya Ventilasi
Mekanik membutuhkan penanganan yang benar untuk mengoperasikannya, oleh karena
itu, keterampilan yang perlu dikuasai oleh seorang perawat adalah keterampilan teknis.
Askep termasuk tindakan/prosedur, berkomunikasi baik antar perawat, sejawat tim
kesehatan lain. Disamping itu keterampilan mengelola masalah kesehatan pasien dan
keterampilan mengambil keputusan merupakan pra syarat untuk bekerja dengan baik di
ICU. Semua keterampilan ini merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh perawat.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mangku, G., Senapathi, T.G., Wiryana, I.M., Sujana, I.B., Sinardja, K. 2010. Buku
Ajar Ilmu Anestesia dan Reanimasi. Jakarta: PT Indeks Permata Puri Media.
2. Viana W, Nawawi M. 2017. Ventilasi Mekanik. Bagian Anestesiologi dan Reanimasi
Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran.
3. Harrison, T.R., Dennis L. Kasper, and Eugene Braunwald. 2005. Harrison's Principles
Of Internal Medicine. 16th ed. United States: McGraw-Hill, 1595- 1600.
4. Latief, S.A., Suryadi, K.A., dan Dachlan, M.R. 2007. Petunjuk Praktis Anestesiologi.
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
5. Handbook of Mechanical Ventilation. 2015. 1st ed. London: Intensive Care
Foundation;.
6. Barrett, K., Barman, S., Boitano, S., Brooks, H. 2015. Ganong's Review of Medical
Physiology 25th Edition. 1st ed. New York: McGraw-Hill Medical Publishing
Division.
7. Morgan, G.E., Mikhail, M.S., Murray, M.J. 2013. Critical Care in Clinical
Anesthesiology. 5th ed. McGraw-Hill. New York: Lange Medical Books,;43- 85.