Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH APLIKASI STATISTIK MAXWELL-BOLTZMAN

“ KAPASITAS PANAS PADATAN AMORF”

OLEH :

NAMA : YUNI FITRIA


NIM : 17033075
PRODI : PENDIDIKAN FISIKA A
DOSEN : Dr. H. ASRIZAL, M. SI

JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2020
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.


Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga makalah ini dapat diselesaiakan
dengan tepat waktu. Makalah ini berjudul “Kapasitas Panas Padatan Amorf” ini
disusun untuk memenuhi sebagian tugas kuliah Fisika Statistik.
Dalam penulian makalah ini, penulis menyadari masih banyak
kekurangan, baik dalam konteks penulisan maupun konten makalah ini. Oleh
karena itu, kritik dan saran sangat penulisan harapkan demi penyempurnaan
makalah ini. Tidak lupa penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu penulis dalam proses penyusunan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi
pembaca.
Wassalamualaikum Wr.Wb.

Padang, 27 maret 2020

Padang

i
DAFTAR ISI

Hal
KATA PENGANTAR ............................................................................................. i
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

Bab I Pendahuluan ............................................................................................... 1


A. Latar Belakang Masalah .................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................................................. 1
C. Tujuan Penelitian .............................................................................. 1
D. Manfaat Penelitian ............................................................................ 1

Bab II Pembahasan .............................................................................................. 3


A. Statistik Maxwell – Boltzman ............................................................ 3
B. Konfigurasi Penyusunan Sistem Klasik Maxwell Boltzman ............. 3
C. Kapasitas Panas Padatan Amorf ........................................................ 6
D. Aplikasi Statistik Maxwell Boltzman ................................................ 8

Bab III Penutup ................................................................................................. 12


A. Kesimpulan ...................................................................................... 12
B. Saran ................................................................................................ 12

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 13

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fisika statistik adalah salah satu cabang ilmu fisika yang mengkaji sistem
yang terdiri atasbanyak partikel dengan menggunakan pendekatan statistik.
Konsep pada fisika statistik dapat dipakai untuk menganalisis masalah
interaksi antarsub-unit dengan jumlah sangat besar. Alasan pengembangan
mekanika statistik adalah untuk memberi landasan yang kokoh bagi
fenomena termodinamik. Selanjutnya Statistika Maxwell-Boltzmann sering
digambarkan sebagai statistika bagi zarah klasik “terbedakan”.
Statistik Maxwell-Boltzmann yang dianggap sebagai fisika klasik banyak
digunakan untuk pengungkapan suatu keadaan system gas. Beberapa kasus
yang dijabarkan dengan statistik Maxwell-Boltzman diantaranya kapasitas
panas padatan amorf. Untuk memperoleh gambaran tentang perbedaan
distribusi statistik berdasarkan jenis partikelnya, maka pada bagian ini akan
diuraikan tentang distribusi statistik untuk partikel klasik dimana partikelnya
dapat dibedakan (distinguishable) dan tidak memenuhi prinsip larangan Pauli.
Dalam hal ini partikel yang ditinjau tidak saling berinteraksi dan energinya
dianggap kontinu, yang juga merupakan juga ciri assembli klasik.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka di rumuskan permasalahan :
1. Apakah statistik maxwell-boltzman?
2. Bagaimana aplikasi maxwell-boltzman dalam mengambakan tentang
perbedaan distribusi statistik berdasarkan jenis partikelnya.

C. Tujuan
Berdasakan rumusan masalah yang diajukan, tujuan makalah ini adalah :
1. Mengetahui statistik maxwell-boltzman
2. Mengetahui aplikasi maxwell-boltzman dalam mengambakan tentang
perbedaan distribusi statistik berdasarkan jenis partikelnya.

1
D. Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah ini adalah untuk memperoleh informasi
lebih lanjut mengenai aplikasi fisika statistik maxwell-botzman, selain itu
juga dalam rangka untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Fisika Statistik.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Statistik Maxwell – Boltzman
Statistik Maxwell-Boltzmann yang dianggap sebagai fisika klasik
banyak digunakan untuk pengungkapan suatu keadaan system gas. Beberapa
kasus yang dijabarkan dengan statistik Maxwell-Boltzman diantaranya
kapasitas panas padatan amorf. Untuk memperoleh gambaran tentang
perbedaan distribusi statistik berdasarkan jenis partikelnya, maka pada bagian
ini akan diuraikan tentang distribusi statistik untuk partikel klasik dimana
partikelnya dapat dibedakan (distinguishable) dan tidak memenuhi prinsip
larangan Pauli. Dalam hal ini partikel yang ditinjau tidak saling berinteraksi
dan energinya dianggap kontinu, yang juga merupakan juga ciri assembli
klasik.

B. Konfigurasi Penyusunan Sistem Klasik Maxwell Boltzman


Oleh karena susunan dari suatu assembli yang mungkin tidak
memiliki peluang yang sama, maka perlu diperkenalkan bobot W untuk setiap
konfigurasi. Bobot tersebut didefenisikan sebagai jumlah susunan mungkin
yang berbeda dari sistim yang dikaitkan dengan suatu konfigurasi.
“Peluang bahwa suatu assembli berada dalam berada dalam
konfigurasi tertentu akan sebanding dengan bobot konfigurasi tersebut “.
Jika sistim dalam assembli disebar sedemikian sehingga terdapat ns
sistim dalam pita s, maka bobot konfigurasi dapat dicari dari jumlah cara
yang diperlukan untuk memperoleh konfigurasi N sistim dalam assembli. Kita
mulai dari perhitungan jumlah cara untuk memilih n1 sistim pada pita energi
pertama dari N total sistim secara sederhana dihitung dengan
N!
Cn1 
n1 !  N  n1  !
N

Selanjutnya n2 sistim pada pita kedua dapat dipilih dari sisa  N  n1  sistim,
yakni:

3

 N  n1  !
 N  n1  Cn2
n2 !  N  n1  n2  !
Jumlah cara. Banyaknya cara yang diperoleh dari memilih sistim pertama dan
kedua adalah :
N! ( N  n1 )! N!
 =
n1 !  N  n1  ! n2 !  N  n1  n2  ! n1 ! n2 !  N  n1  n2  !

Jika hanya terdapat tiga pita energi, maka jumlah sistim pada pita ketiga
adalah :
n3  ( N  n1  n2 )
Banyaknya cara memilih sejumlah n1 , n2 dan n3 dari N sistim adalah :

N!
n1 ! n2 ! n3 !

Jika pernyataan ini diperluas pada sejumlah r pita , maka banyaknya cara
N!
memilih sistim dengan berbagai pita adalah :
n1 ! n2 ! n3 ! .....ns ! ...nr !

Jika dalam pita energi s terdapat g s maka jumlah susunan berbeda yang
diperoleh (selanjutnya disebut dengan bobot susunan) adalah:
N!
W g1n1 g 2n2 g 3n3 ...g sns ...g rnr
n1 ! n2 ! n3 ! .....ns ! ...nr !

 g sns  g sns
Gunakan simbol  n !  untuk menyatakan perkalian dari unsur untuk
 s  ns !

semua nilai s dari 1 sampai r maka secara sederhana bobot W dapat


dinyatakan dengan

 g ns 
W  N ! s  (1)
s  ns ! 

Dari persamaan diatas dapat ditafsirkan bahwa terdapat suatu nilai n


dimana bobot konfigurasinya bernilai maksimum. Oleh karena peluang
sebuah assembli untuk berada dalam sebuah susunan tertentu sebanding
dengan bobot W, maka konfigurasi dengan bobot maksimum adalah
merupakan peluang dengan nilai terbesar (paling mungkin). Untuk
memperoleh nilai jumlah partikel n dalam sebuah sistim yang bersesuaian

4
dengan peluang terbesar, maka bobot W dibuat menjadi maksimum dan harus
W
memenuhi syarat : dW   dns  0 (2)
s ns

Untuk mencari solusi persamaan 1 perlu diperhatikan syarat yang berkaitan


dengan jumlah total sistim N dan energi total E yang sudah tertentu harganya

n
s
s  N  tetap atau : (3)

 dns
s  dN  0

Dan syarat yang dipenuhi untuk energi adalah :

n 
s
s s  E  tetap atau : (4)

  dn
s
s s  dE  0

dengan menggunakan pengali Lagrange dimana persamaan menjadikan W


maksimum
dW  adN  bdE  0 (5)

dimana a dan b adalah tetapan-tetapan yang selanjutnya akan ditentukan


kemudian. Kajian lengkap pengali Lagrange disajikan pada bagian lampiran.
Substitusi persamaan 2, 3, 4 ke dalam persamaan 5 akan diperoleh :

W
 n
s
dns  a  dns  b  s dns  0
s s
s

Merujuk ke persamaan 1 akan lebih memudahkan kita menyatakan


log W dibandingkan dengan menyatakan dalam W saja, sehingga
persamaannya

d logW   dN   dE  0

 log W
s ns
dns    dns     s dns  0
s s

Dimana tetapan  dan  identik dengan tetapan a dan b sebelumnya.


Tanpa merubah bentuk, tanda sumasi dapat dikeluarkan

5
  log W 
     s  dns  0
s  ns 
Suku pertama dalam tanda kurung dapat diselesaikan dengan menggunakan
rumus Stirling

log N !  N log N  N
Dengan demikian log W dapat ditulis sebagai :

  g ns 
logW  log N ! log   s 
 s  ns ! 
 g ns 
 log N !   log  s 
s  ns ! 
 N log N  N    ns log g s  ns log g s  ns 
s

Turunan parsialnya adalah :


 log W
 log g s  log ns
ns

gs
 log
ns

gs
Jadi : log     s  0
ns

Hasil yang diperoleh : ns  g s exp    s 

Persamaan di atas menyatakan distribusi sistem dalam berbagai pita


energi untuk susunan dengan peluang terbesar. Persamaan ini dinamakan juga
distriubusi Maxwell- Boltzmann. Faktor exp   s  dinamakan faktor

Boltzmann. Nilai  dalam persamaan di atas dapat dinyatakan dengan


  1 / kT .

C. Kapasitas Panas Padatan Amorf


1. Kapasitas Panas
Kapasitas panas (heat capacity) adalah jumlah panas yang
diperlukan untuk meningkatkan temperatur padatan sebesar satu derajat

6
K. (Lihat pula bahasan tentang thermodinamika). Konsep mengenai
kapasitas panas dinyatakan dengan dua cara, yaitu :
a. Kapasitas panas pada volume konstan, Cv, dengan relasi

dengan E adalah energi internal padatan yaitu total energi yang ada
dalam padatan baik dalam bentuk vibrasi atom maupun energi kinetik
elektron-bebas.
b. Kapasitas panas pada tekanan konstan, Cp, dengan relasi

dengan H adalah enthalpi. Pengertian enthalpi dimunculkan dalam


thermodinamika karena sesungguhnya adalah amat sulit meningkatkan
kandungan energi internal pada tekanan konstan.

Dimana kapasitas panas pada tekanan konstan dapat dianggap sama


dengan kapasitas panas pada volume konstan .(Sudaryatno Sudirham)

2. Padatan Amorf
Selain kristal ada juga bahan dengan keteraturan susunan atom
rendah yaitu polikristal dan bahan amorf. Bahan amorf adalah materil yang
susunan atom-atomnya tidak teratur, sehingga gaya interaksi antar atom-
atom bahan tersebut relatif kecil. Dengan demikian pembagian material
berdasarkan tata letak atom akan memiliki sifat-sifat listrik dan optik yang
berbeda. ( Paulus Lobo Gareso, 2012 )
Padatan digolongkan dalam dua golongan, padatan kristalin yang
partikel penyusunnya tersusun teratur, dan padatan amorf yang partikel
penyusunnya tidak memiliki keteraturan yang sempurna. Studi bahan
kristalin mempunyai sejarah yang jauh lebih panjang karena kristal lebih
mudah dipelajari daripada bahan amorf.
Susunan partikel dalam padatan amorf sebagian teratur dan sedikit
agak mirip dengan padatan kristalin. Namun, keteraturan ini, terbatas dan
tidak muncul di keseluruhan padatan. Banyak padatan amorf di sekitar

7
kita-gelas, karet dan polietena memiliki keteraturan sebagian seperti
terlihat pada gambar dibawah ini

Gambar 1. Padatan kristalin dan amorf

D. Bentuk Aplikasi Statistik Maxwell Boltzman pada Kapasitas Panas


Padatan Amorf
Padatan amorf memiliki atom atom yang tersusun secara acak
(tidak teratur). Sebagian atom menempati posisi “benar”, yaitu sesuai
dengan posisi dalam Kristal dan sebagian lainnya menempati posisi yang
“salah” yaitu menyimpang dari posisi Kristal murni. Untuk memodelkan
padatan amorf kita dapat memperkenalkan dua tingkat energi. Tingkat
pertama dimiliki atom yang menempati posisi “benar” dan tingkat kedua
dimiliki oleh atom yang menempati posisi “salah”.
Seperti ditunjukkan pada gambar 9.12, jarak antara dua tingkat
energi dalam dalam padatan amorf kita anggap  . Untuk mudahnya kita
ambil referensi energy nol tepat ditengah dua tingkat energi tersebut.
Dengan demikian energy yang ada pada padatan amorf menjadi E1    / 2
dan E2    / 2 dengan menggunakan persamaan (9.38) kita dapatkan


Z   e E1  e   / 2  2 coth (9.104)
i 2

8
E2

………………………. E=0

E1
Gambar 9.12. Dua tingkat energi dalam padatan amorf

Energi rata rata per sistem menjadi

1 Z  
U  tanh (9.105)
Z  2 2

Kapasitas kalor per sistem menjadi

dU 1 dU
CV   2
dT kT d

   2   
2

 k  sec h   (9.106)
 2   2 

Untuk material amorf,  tidak konstan tetapi memiliki nilai


yang acak. Jika kita asumsikan bahwa  tersebar secara homogen dari
nilai   0 ke    0 Seperti pada gambar 9.13. Maka kita dapatkan
nilai rata rata kapasitas kalor sebagai


1 0
 0 0
CV  CV d

 2
k 0    2   
    sec h 
0 0  2   2 
d (9.107)

Kita misalkan:
  / 2  y sehingga

d   2 /  dy dan

sec h 2  / 2  sec h 2  y   sec h 2 y

karena sech2 adalah fungsi genap. Jadi

9
  0 / 2

sec h 2  y dy
2k
 y
2
CV (9.108)
 0 0

probabilitas
1
0


0

Gambar. 9.13. Distribusi jarak antar tingkat energi 

Integral (9.108) tidak dapat dilakukan secara langsung.


Sekarang kita lihat dua kasus ekstrim. Tinjau kasus dimana suhu
cukup besar yaitu   / 2  1 pada kondisi ini kita mengintegralkan y
pada rentang nilai y = 0 sampai nilai y yang mendekati nol. Dalam
rentang integral tersebut nilai sech y tidak jauh berbeda dari sech 0
yaitu sama dengan 1. Jadi kita dapat melakukan aproksimasi berikut
ini untuk suhu tinggi.

  0 / 2
2k 1    0 
3
2k
  y dy     
2
CV
 0 0
 0 3  2 

20
 (9.109)
12kT 2

Sebaliknya pada suhu yang cukup rendah yaitu   / 2  1


maka batas atas integral (9.108) dapat dianggap tak berhingga
sehingga


y 2 sec h 2  y dy
2k
CV   
 0 0
(9.110)

Namun nilai sech2 y hanya cukup signifikan disekitar y = 0 sampai y


= 1, sedangkan diatas y = 1 dapat diabaikan (dianggap nol). Pada

10
rentang antara y = 0 sampai y = 1 pun nilai sech2 y mendekati satu.
Dengan demikian, aproksimasi kasar untuk kapasitas kalor pada suhu
rendah adalah:

1 
y 2 sec h 2  y dy  y 2 sec h 2  y dy
2k 2k
CV  
 0 0 
 0 1
1 
2k 2k
 
 0 0
y 2  1dy  
 0 1
y 2  0dy

1
2k 2k
 
 0 0
y 2dy  
3 0

2k 2
 T (9.111)
3 0
Dengan pendekatan yang sederhana diatas kita peroleh
kebergantungan kapasitas kalor secara linear terhadap suhu.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Statistika Maxwell-Boltzmann sering digambarkan sebagai statistika
bagi partikel klasik yang “terbedakan”.
2. Kapasitas panas padatan amorf mengambarkan tentang perbedaan
distribusi statistik berdasarkan jenis partikelnya, maka pada bagian ini
akan diuraikan tentang distribusi statistik untuk partikel klasik dimana
partikelnya dapat dibedakan (distinguishable) dan tidak memenuhi prinsip
larangan Pauli.
B. Saran
Penulis tentunya masih menyadari jika makalah diatas masih terdapat
banyak kesalahan dan jauh dari kesempurnaan. Penulis membutuhkan
saran serta kritik yang membangun dari para pembaca.

12
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Mikrajuddin. 2009. Pengantar Fisika Statistik. Bandung: ITB

E. A. Jackson, (1968), Equilibrium statistical mechanics, New York:


Dover.
PL Gareso. 2012. Fisika Semi Konduktor. Makassar : Universitas
Hasanudin

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia_dasar/padatan1/padatan-
kristalin-dan-amorf/ (diakses pada tanggal 30 Maret 2020 : jam 14.55)

https://sudaryn.files.wordpress.com/2013/08/ii-5-sifat-sifat-thermal.pdf
(diakses pada tanggal 30 Maret 2020 : jam 15.00)

13

Anda mungkin juga menyukai