Anda di halaman 1dari 49

PERENCANAAN DAN ANALISIS STRUKTUR

GELADAK JEMBATAN GLUED LAMINATED TIMBER


(GLULAM) KAYU MAHONI

ISTIANA FADILAH

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Perencanaan dan


Analisis Struktur Geladak Jembatan Glued Laminated Timber (Glulam) Kayu
Mahoni adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan
belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber
informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak
diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam
Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini. Dengan ini saya melimpahkan hak cipta
dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Agustus 2014

Istiana Fadilah
NIM F44100036
ABSTRAK
ISTIANA FADILAH. Perencanaan dan Analisis Struktur Geladak Jembatan
Glued Laminated Timber (Glulam) Kayu Mahoni. Dibimbing oleh ERIZAL.

Permasalahan lingkungan yang saat ini terjadi merupakan isu global yang
juga berdampak pada bidang pembangunan. Saat ini, kayu menjadi salah satu
material yang disarankan sebagai pengganti material beton. Selain kekuatan kayu
yang dapat bersaing dengan beton, kayu juga merupakan material terbarukan yang
ramah lingkungan. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk merancang
jembatan glulam, menguji defleksi yang terjadi pada material yang telah
direncanakan, serta menganalisis struktur rancangan. Penelitian ini diawali dengan
perencanaan balok dan geladak jembatan glulam. Setelah didapat ketebalan
geladak yang sesuai, kemudian dibuat benda uji untuk memperoleh data primer
modulus elastisitas dari beberapa ketebalan yang berbeda. Setelah didapat data
primer, selanjutnya dilakukan analisis struktur jembatan dengan menggunakan
software SAP2000 versi 14. Dari perencanaan geladak jembatan didapat dimensi
228.6 cm x 133.35 cm x 18 cm, nilai kuat lentur 100.70 kg/cm2 dan defleksi 0.24
cm. Hasil rancangan ini sudah memenuhi ketentuan tegangan-tegangan izin yang
diperbolehkan, yaitu kurang dari 86.18 kg/cm2 untuk kuat lentur balok dan 113.85
kg/cm2 untuk kuat lentur geladak. Defleksi yang didapat dari permodelan
SAP2000 versi 14 adalah 0.30 in untuk ketebalan 18 cm, 0.12 in untuk ketebalan
15 cm, dan 0.09 in untuk ketebalan 12 cm. Defleksi yang memenuhi syarat
maksimum perencanaan adalah ketebalan geladak 12 cm.

Kata kunci: Defleksi, Glulam, Jembatan, Modulus Elastisitas, SAP2000 versi 14

ABSTRACT

ISTIANA FADILAH. Design and Structure Analysis of Mahogany Glued


Laminated Timber (Glulam) Bridge Deck. Supervised by ERIZAL.

Environmental problem is a global issue that also affect the construction


aspect.Wood is suggested to be concrete substitute. Wood has same strength as
concrete, besides wood is renewable material. This research aim to design glulam
bridge, test the deflection, and analyze the structure. This research is started by
designing bridge beam and deck. After designing the deck thickness, then glulam
sample is made, that sample will be tested to get primary data of mudulus
elasticity. This modulus elasticity is used to analyze the structure deflection using
SAP2000 version 14 software. From deck design, deck dimension in 228.6 cm x
133.35 cm x 18 cm, bending value is 100.70 kg/cm2 and deflection is 0.24 in.
These results have met the requirement for each value, 86.18 kg/cm2 for beam
bending value and 113.85 kg/cm2 for deck bending value. Deflection from
SAP2000 version 14 analysis are 0.30 in for deck thickness 18 cm, 0.12 in for
deck thickness 15 cm, and 0.09 in for deck thickness 12 cm. Deflection of deck
thickness 12 cm has fulfilled the maksimum deflection requirement.

Keywords: Bridge, Deflection, Glulam, Modulus Elasticity, SAP2000 version 14


PERENCANAAN DAN ANALISIS STRUKTUR
GELADAK JEMBATAN GLUED LAMINATED TIMBER
(GLULAM) KAYU MAHONI

ISTIANA FADILAH

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Teknik
pada
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
Judul Skripsi : Perencanaan dan Analisis Struktur Geladak Jembatan Glued
Laminated Timber (Glulam) Kayu Mahoni
Nama : Istiana Fadilah
NIM : F44100036

Disetujui oleh

Dr. Ir. Erizal, M.Agr


Pembimbing

Diketahui oleh

Prof. Dr. Ir. Budi Indra Setiawan, M.Agr


Ketua Departemen

Tanggal Lulus:
PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas
segala karunia-Nya sehingga skripsi yang berjudul “Perencanaan dan Analisis
Struktur Geladak Jembatan Glued Laminated Timber (Glulam) Kayu Mahoni”
berhasil diselesaikan. Penelitian ini dilaksanakan sejak bulan Maret 2014
bertempat di Kampus IPB Darmaga Bogor. Skripsi ini dibuat sebagai salah satu
syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik pada Departemen Teknik Sipil dan
Lingkungan, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Dalam kesempatan kali ini penulis mengucapkan banyak terima kasih
kepada:
1. Dr.Ir.Erizal,M.Agr selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan,
saran dan masukan yang bermanfaat sehingga penelitian ini dapat
diselesaikan.
2. Semua pihak yang membantu dan mendukung berjalannya penelitian
(Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan dan Departemen Teknologi
Hasil Hutan)
3. Ayah dan ibu, serta kakak atas semua semangat, dukungan dan kasih sayang
yang diberikan.
4. Ria Ardianti Pedesi, Eko Riyandi Ginting, dan Christopher PJ Haba sebagai
teman satu bimbingan atas kerja sama dan kebersamaan serta saran yang
membangun selama ini.
5. Rekan-rekan mahasiswa Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan
angkatan 2010 atas motivasi, masukan, semangat, dan dukungan yang
diberikan.

Penulis sadari dalam penyusunan skripsi ini masih terdapat banyak


kekurangan, saran dan kritik penulis harapkan sebagai masukan yang berharga
untuk perbaikan dalam penulisan selanjutnya. Penulis harap karya ilmiah ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak dan dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Bogor, Agustus 2014

Istiana Fadilah
DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL vi
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR LAMPIRAN vi
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 2
Tujuan Penelitian 2
Manfaat Penelitian 2
Ruang Lingkup Penelitian 2
TINJAUAN PUSTAKA 2
Jembatan 2
Standar Pembebanan 4
Kayu Laminasi 5
Kayu Mahoni 8
METODE 9
Bahan 10
Alat 10
Prosedur Analisis Data 10
HASIL DAN PEMBAHASAN 17
Perencanaan dan Analisis Struktur Geladak Jembatan 17
Pengujian Material Geladak 27
Analisis Struktur Geladak dengan SAP2000 versi 14 28
SIMPULAN DAN SARAN 31
Simpulan 31
Saran 31
DAFTAR PUSTAKA 31
LAMPIRAN 33
RIWAYAT HIDUP 37
DAFTAR TABEL

1 Kuat lentur kayu sengon 7


2 Kuat lentur kayu kelapa 7
3 Kuat lentur kayu laminasi 8
4 Spesifikasi kayu berdasarkan kelas kuat 8
5 Tegangan izin kayu berdasarkan kelas kuat 9
6 Faktor ukuran panel 13
7 Faktor layan basah 13
8 Rekapitulasi hasil perhitungan 25
9 Hasil perencanaan geladak 26
10 Hasil uji lentur dan modulus elastisitas 27

DAFTAR GAMBAR

1 Model jembatan geladak glulam 4


2 Beban roda truk U80 5
3 Sebaran beban roda searah geladak 11
4 Sebaran beban roda tegak lurus bentang geladak 11
5 Beban mati pada geladak 12
6 Momen maksimum akibat beban hidup pada 17.31<S<122 12
7 Penyusunan lamina 15
8 Proses pelaburan perekat 15
9 Proses pengempaan 16
10 Finishing kayu laminasi 16
11 Uji lentur kayu 17
12 Skema perhitungan momen akibat beban hidup 19
13 Skema perhitungan gaya geser horizontal akibat beban hidup 21
14 Skema perhitungan tegangan lentur kerb 23
15 Skema perhitungan tegangan geser kerb 24
16 Ilustrasi kendaraan yang dapat melewati jembatan dalam satu waktu 26
17 Defleksi pada jembatan 28
18 Defleksi pada panel geladak 29

DAFTAR LAMPIRAN

1 Bagan alir tahapan dan prosedur penelitian 33


2 Skema jembatan 34
3 Skema 3D jembatan 35
4 Visualisasi hasil perhitungan 36
1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Permasalahan lingkungan yang saat ini terjadi merupakan isu global yang
juga berdampak pada bidang pembangunan, tidak hanya di Indonesia, namun di
seluruh dunia. Beton dianggap sebagai salah satu material yang tidak ramah
lingkungan saat ini. Selain dapat mengurangi daerah resapan air, proses
pembuatan beton itu sendiri menghasilkan limbah yang membahayakan
lingkungan.
Saat ini, kayu menjadi salah satu material yang disarankan sebagai
pengganti material beton. Selain kekuatan yang dapat bersaing dengan beton,
kayu juga merupakan material terbarukan yang ramah lingkungan. Kayu yang
banyak tersedia saat ini adalah kayu rakyat dengan jenis-jenis cepat tumbuh
berdiameter kecil dengan kondisi kurang baik, seperti memiliki cacat kayu dan
tingkat keawetan yang lebih rendah dibanding kayu alami. Salah satu cara yang
biasa dilakukan untuk mendapatkan kayu dengan dimensi yang sesuai dengan
rencana adalah dengan teknik laminasi. Saat ini telah dikembangkan produk-
produk kayu laminasi yang memiliki kekuatan sebanding dengan beton bahkan
lebih.
Kayu laminasi merupakan salah satu produk kayu yang saat ini sedang
dikembangkan di negara-negara maju. Rekayasa kayu yang saat ini sudah sangat
maju dapat menciptakan produk-produk kayu laminasi yang lebih kuat dan awet.
Kayu laminasi sering digunakan sebagai bahan utama bangunan anti gempa di
negara-negara maju. Saat ini, kayu laminasi juga sudah mulai digunakan sebagai
material jembatan.
Salah satu kayu rakyat yang sering digunakan sebagai material konstruksi
adalah kayu mahoni. Kayu mahoni dipilih karena kekuatannya yang cukup tinggi
dan ketersediaannya yang cukup banyak di pasaran. Kayu mahoni termasuk ke
dalam kelas kuat II dan penyebarannya banyak terdapat di Pulau Jawa. Pada tahun
2003 jumlah pohon mahoni di Jawa yang dikuasai oleh rumah tangga mencapai
39.9 juta pohon sedangkan yang dikuasai oleh rumah tangga usaha sebanyak 24
juta (Departemen Kehutanan, 2004). Hal ini menunjukkan bahwa potensi kayu
mahoni di Indonesia sebagai bahan struktur dan infrastruktur cukup menjanjikan.
Penelitian ini dilakukan untuk merancang geladak jembatan glulam. Faktor-
faktor pembebanan yang sesuai ditentukan agar jembatan glulam ini dapat dilalui
kendaraan-kendaraan berat. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk
merancang jembatan glulam, menguji defleksi yang terjadi pada perencanaan
material, serta menganalisis struktur rancangan.
2

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan sebelumnya, beberapa rumusan


masalah didapat sebagai berikut:
1. Bagaimana tahapan perencanaan geladak jembatan glulam?
2. Apakah ketebalan geladak yang lebih kecil berarti lebih efisien?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk :


1. Merancang dimensi geladak jembatan glulam
2. Menguji defleksi yang terjadi akibat pembebanan pada rancangan
3. Menganalisis struktur geladak jembatan pada rancangan

Manfaat Penelitian

Penelitian ini bermanfaat bagi mahasiswa Teknik Sipil dan Lingkungan


untuk menerapkan ilmu-ilmu yang telah dipelajari. Hasil dari penelitian ini juga
diharapkan dapat menjadi acuan pemanfaatan kayu laminasi.

Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini hanya akan merancang geladak jembatan glulam yang


kemudian akan dibuat benda ujinya dengan variasi ketebalan tertentu. Benda uji
tersebut akan diuji lentur dengan menggunakan Universal Testing Machine
(UTM) untuk mendapat nilai beban maksimum dan defleksi untuk menghitung
modulus elastisitas. Modulus elastisitas akan digunakan untuk analisis struktur
dengan menggunakan SAP2000 versi 14.

TINJAUAN PUSTAKA

Jembatan

Jembatan adalah bangunan pelengkap jalan yang menghubungkan suatu


lintas yang terputus akibat suatu rintangan atau sebab lainnya dengan cara
melompati rintangan tersebut tanpa menimbun atau menutup rintangan tersebut
3

(Dinas Bina Marga 2012). Lintas tersebut bisa merupakan jalan kendaraan, jalan
kereta api atau jalan pejalan kaki, sedangkan rintangan tersebut dapat berupa
sungai, jalan, jalan kereta api atau jurang.
Secara umum struktur jembatan dibagi menjadi dua yaitu struktur atas yang
menerima beban langsung yang meliputi berat sendiri, beban mati, beban mati
tambahan, beban lalu lintas kendaraan, gaya rem, beban pejalan kaki, dan struktur
bawah yang berfungsi memikul seluruh beban struktur atas dan beban lainnya
yang ditimbulkan oleh tekanan tanah, aliran air dan hanyutan, tumbukan, geseran
pada tumpuan (Amir 2013). Struktur atas atau biasa disebut bangunan atas terdiri
atas trotoar, pelat lantai kendaraan, balok utama (girder) dan balok diafragma.
Adapun bangunan bawah berupa sistem pondasi seperti abutment dan pilar.
Kesatuan struktur yang sempurna antara struktur atas dan bawah jembatan akan
memberikan pelayanan transportasi yang memadai sesuai dengan nilai desain
jembatan itu sendiri.
Beberapa jenis jembatan yang telah berkembang hingga saat ini antara lain
(Supriyadi et al. 2007):
1. Jembatan Kerangka
Jembatan kerangka merupakan jembatan yang konsepnya hampir sama dengan
jembatan lengkung, disebut juga truss bridge. Pembuatan jembatan kerangka
yaitu dengan menyusun tiang-tiang jembatan membentuk kisi-kisi agar setiap
tiang hanya menumpu sebagian berat struktur jembatan tersebut. Penggunaan
bahan pada jembatan ini lebih efisien.
2. Jembatan Gantung
Jembatan gantung (suspension bridge) merupakan jembatan yang
digantungkan dengan menggunakan tali pada jembatan sederhana atau kabel
baja pada jembatan gantung besar. Pada jembatan gantung modern, kabel
menggantung dari menara jembatan kamudian melekat pada caisson atau
cofferdam. Caisson atau cofferdam akan ditanamkan jauh ke dalam lantai
danau atau sungai.
3. Jembatan Kabel Penahan
Seperti jembatan gantung, jembatan ini ditahan oleh kabel, disebut juga sebagai
cable-stayed bridge. Bedanya, selain jumlah kabel yang dibutuhkan lebih
sedikit, jembatan ini memiliki menara penahan kabel yang lebih pendek
daripada jembatan gantung.
4. Jembatan Penyangga
Jembatan penyangga atau dikenal sebagai cantilever bridge merupakan
jembatan yang disangga oleh tiang penopang di salah satu pangkalnya.
Jembatan penyangga biasanya digunakan untuk mengatasi masalah pembuatan
jembatan apabila keadaan tidak memungkinkan untuk menahan beban
jembatan dari bawah sewaktu proses pembuatan.

Saat ini sudah banyak berkembang jembatan yang dibuat dari kayu laminasi.
Penggunaan kayu laminasi sebagai material struktural dirasa lebih efisien
dibanding kayu alami. Karakteristik dari jembatan kayu laminasi ini adalah
seluruh bagian jembatan diproduksi oleh pabrik dan siap dipasang pada lokasi
(Battocchi 2006). Proses produksi yang dilakukan di pabrik ini dapat mengurangi
waktu konstruksi. Pemanfaatan glulam sebagai material jembatan juga dilakukan
oleh Kim et al (2012) dalam penelitiannya. Jembatan rangka dengan geladak
4

glulam sepanjang 30m dibuat pada sungai yang melewati Hutan Nasional
Rekreasi Alam Michungol (Yangyang, Gangwon). Jembatan geladak glulam ini
dibuat untuk menggantikan jembatan beton yang sudah rusak yang ada di lokasi
tersebut. Model jembatan geladak glulam tersebut dapat dilihat pada Gambar 1
sebagai berikut:

Gambar 1. Model jembatan geladak glulam

Sumber: Kim et al 2012

Jembatan standar maupun jembatan khusus, harus memenuhi kriteria dasar


perencanaan teknis sebagai berikut:
1. Setiap unsur pembentuk jembatan harus mampu menahan setiap beban yang
bekerja pada struktur jembatan tersebut dan setiap unsur harus stabil pada
pembebanan tersebut.
2. Tipe struktur yang dipilih harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan
lokasi jembatan.
3. Konstruksi mudah dilaksanakan.
4. Biaya pembangunan struktur jembatan yang relatif rendah termasuk biaya
pembangunan dan pemeliharaan.
5. Struktur jembatan memiliki nilai estetika.

Standar Pembebanan

Beban adalah suatu sistem beban-beban yang digunakan pada perencanaan


struktur jembatan, sehingga jembatan dapat berfungsi sesuai dengan kekuatan
yang direncanakan. Pembebanan yang digunakan dalam perencanaan adalah
5

beban mati dan beban hidup. Beban mati berasal dari material yang digunakan
yaitu kayu. Berat jenis kayu yang digunakan adalah 50 lb/ft3. Beban hidup berasal
dari beban kendaraan. Beban kendaraan yang digunakan dalam perencanaan ini
adalah beban truk U80 seberat 80 ton. Truk ini memiliki lima baris roda dan
masing-masing baris memiliki sebaran beban yang berbeda seperti pada Gambar 2.

Gambar 2. Beban roda truk U80

Kayu Laminasi

Laminasi kayu adalah penyatuan beberapa lapis kayu dengan lem pada
kedua sisinya kemudian diberi tekanan. Proses pengeleman ini dilakukan
mengikuti arah panjang kayu. Bahan kayu laminasi adalah kayu-kayu lapis yang
telah dibentuk dan disiapkan sedemikian rupa sehingga dapat disatukan menjadi
bentuk kayu yang diinginkan. Balok laminasi yang dibuat dengan benar akan
menunjukkan keseimbangan antara kualitas kayu dan ikatan perekat dalam kinerja
struktural (Susanto 2013). Beberapa keuntungan kayu laminasi dibanding kayu
alam antara lain:
1. Ukuran kayu dapat disesuaikan dengan keinginan.
2. Berbagai macam bentuk arsitektural yang sulit dapat diperoleh dengan
membengkokkan kayu selama proses produksi.
3. Kayu laminasi dapat tahan terhadap cuaca dengan cara pengeringan kayu
sebelum digunakan.
4. Bentuk elemen-elemen struktural yang bervariasi dapat dibentuk sedemikian
rupa sesuai dengan kebutuhan kekuatan dan kekakuannya.
5. Pada kayu laminasi, kayu dengan kualitas tinggi dapat disatukan dengan kayu
yang kualitasnya berada di bawahnya. Kayu dengan kualitas tinggi diletakkan
di atas dan di bawah, sedangkan kayu dengan kualitas lebih rendah diletakkan
di tengah. Hal ini merupakan salah satu solusi untuk memanfaatkan kayu yang
heterogen.

Glued Laminated Timber (Glulam)

Glued Laminated Timber merupakan produk rekayasa kayu yang dibuat dari
dua atau lebih lapisan kayu yang diikat dengan perekat dan disusun dengan arah
sejajar serat. Keuntungan penggunaan glulam adalah meningkatkan sifat-sifat
6

kekuatan dan kekakuan, memberikan pilihan bentuk geometri lebih beragam,


memungkinkan untuk penyesuaian kualitas laminasi dengan tingkat kuat yang
diinginkan dan meningkatkan akurasi dimensi dan stabilitas bentuk (Susanto
2013).
Menurut Susanto (2013) beberapa penggunaan glulam yang dapat dibuat
antara lain:
1. Bangunan komersial dan rumah; kuda-kuda, balok untuk konstruksi rumah,
bangunan kayu bertingkat, dan tiang konstruksi.
2. Jembatan; untuk bagian-bagian dari struktur atas seperti balok penopang dan
decking.
3. Struktur lain; untuk menara transmisi listrik, tonggak listrik dan penggunaan
lainnya untuk memenuhi persyaratan ukuran yang tidak dapat dicapai dengan
menggunakan tiang kayu konvensional.

Laminated Veneer Lumber (LVL)

Laminated Veneer Lumber (LVL) diperoleh dengan merekatkan veneer


dalam arah sejajar dimana veneer berkualitas rendah diletakkan di bagian dalam
sedangkan yang berkualitas baik di bagian luar (Kementerian PU 2009). LVL
memiliki kualitas bahan yang tinggi, ukuran yang akurat, bentuk yang tidak
berubah, dan mempunyai kekuatan yang merata. LVL hampir menyerupai kayu
lapis, perbedaannya adalah lapisan kayu yang digunakan dipasang secara paralel
dan ukuran ketebalan sekitar 3-4 mm. LVL biasa digunakan sebagai balok
komposit, pelat, batang pada rangka batang.

Cross Laminated Timber (CLT)

Cross Laminated Timber (CLT) merupakan panel berlapis dengan setiap


lapisan papan ditempatkan secara bersilang pada lapisan yang berdekatan untuk
meningkatkan kekakuan dan stabilitas (Andika 2013). CLT disusun dari 3 sampai
7 lapisan kayu atau papan yang bersilangan antar lapisan satu dengan lainnya
yang direkatkan dan diberi tekanan hidraulik atau divakum pada seluruh bagian
permukaan atau dengan dipaku. Laminasi lapisan silang veneer kayu disadari
dapat meningkatkan sifat-sifat struktural kayu dengan mendistribusikan kekuatan
pada kedua arah panjang dan lebar.
Panel CLT dapat digunakan untuk membentuk lantai, dinding, atap dan
banyak benda lain. CLT semakin banyak digunakan sebagai lapisan bantalan
beban (elemen lantai), panel (elemen dinding) pada bangunan tempat tinggal dan
sebagai lapisan geladak pada konstruksi jembatan. Menurut Andika (2013),
manfaat dari produk CLT antara lain:
1. Lingkungan, CLT yang digunakan dari kayu yang dihasilkan dari alam dan
dipengaruhi oleh lingkungan dan merupakan sumber energi yang terbarukan.
2. Kemudahan dalam penggunaan dan pemeliharaan, CLT dapat meminimalkan
cacat yang ada pada kayu dan mengurangi biaya konstruksi. Produk CLT
memerlukan sedikit atau tidak ada pemeliharaan.
7

3. Ketahanan terhadap api, CLT memberikan keuntungan yang signifikan dalam


hal perlindungan terhadap api dibandingkan dengan produk dari bahan beton
atau baja.
4. Bentuk dan ukuran, CLT dapat dibuat dengan ukuran tebal 75 mm-334 mm,
lebar 1280 mm-2950 mm dan panjang sampai dengan 18 m. Produk CLT dapat
dibentuk untuk penggunaan jendela, pintu dan fitur arsitektur yang dibuat
melengkung dengan radius minimum 8 m.

Peningkatan nilai kuat lentur kayu laminasi dapat dilihat dari hasil
penelitian Jihannanda (2013) yang membandingkan nilai kuat lentur antara kayu
sengon dengan kayu laminasi kombinasi antara kayu sengon dengan kayu kelapa.
Teknik laminasi kombinasi ini dapat meningkatkan nilai kuat lentur kayu sengon.
Nilai kuat lentur kayu sengon dapat dilihat pada Tabel 1 sebagai berikut:

Tabel 1. Kuat lentur kayu sengon


Beban Jarak Lebar Tinggi Kuat
Benda Uji Maksimum Tumpu Benda Uji Benda Uji Lentur
(P) kg (L) cm (b) cm (h) cm kg/cm2
S1 450 172 8 12 100.78
S2 490 172 8 12 109.74
S3 475 172 8 12 106.38
Rata-rata 105.63
Sumber: Jihannanda 2013

Kayu sengon ini kemudian dikombinasikan dengan kayu kelapa yang


memiliki nilai kuat lentur seperti pada Tabel 2 sebagai berikut:

Tabel 2. Kuat lentur kayu kelapa


Beban Jarak Lebar Tinggi Kuat
Benda Uji Maksimum Tumpu Benda Uji Benda Uji Lentur
(P) kg (L) cm (b) cm (h) cm kg/cm2
KI 1465 172 8 12 328.09
K2 1530 172 8 12 342.66
K3 1490 172 8 12 333.70
Rata-rata 334.82
Sumber: Jihannanda 2013

Kayu sengon dan kayu kelapa yang telah dikombinasikan akan membentuk
sebuah balok kayu laminasi kombinasi. Balok kayu laminasi ini kemudian diuji
untuk menentukan nilai kuat lentur. Hasil pengujian kuat lentur dapat dilihat pada
Tabel 3 sebagai berikut:
8

Tabel 3. Kuat lentur kayu laminasi


Beban Jarak Lebar Tinggi Kuat
Benda Uji Maksimum Tumpu Benda Uji Benda Uji Lentur
(P) kg (L) cm (b) cm (h) cm kg/cm2
KL1 985 172 8 12 220.6
KL2 950 172 8 12 212.76
KL3 990 172 8 12 221.72
Rata-rata 218.38
Sumber: Jihannanda 2013

Nilai kuat lentur yang didapat pada pengujian kayu laminasi lebih tinggi
dibanding kuat lentur kayu sengon asli. Kesimpulan yang didapat dari penelitian
ini adalah laminasi kombinasi kayu sengon dengan kayu kelapa dapat
meningkatkan kuat lentur rata-rata kayu sengon sebesar 106.72%.

Kayu Mahoni

Kayu merupakan material alam yang dapat digunakan sebagai material


struktural. Kayu dibagi menjadi dua kelas mutu dalam penggunaan sebagai kayu
struktural. Kayu kelas mutu A merupakan kayu paling sedikit memiliki cacat kayu
dibanding kayu kelas mutu B. Selain dibagi menurut mutu, kayu juga dibagi
dalam kelas awet dan kelas kuat kayu. Yap (1999) memberikan beberapa
spesifikasi kayu berdasarkan kelas kuat kayu, seperti ditunjukkan pada Tabel 4
sebagai berikut:

Tabel 4. Spesifikasi kayu berdasarkan kelas kuat


Kelas Berat Jenis Kuat Lentur Kuat Tekan
Kuat Kering Udara Mutlak (kg/cm2) Mutlak (kg/cm2) E (kg/cm2)

I ≥ 0.90 ≥ 1100 ≥ 650 125000


II 0.60 - 0.90 725 - 1100 425 - 650 100000
III 0.40 - 0.60 500 - 725 300 - 425 80000
IV 0.30 - 0.40 360 - 500 215 - 300 60000
V ≤ 0.30 ≤ 360 ≤ 215 -
Sumber: Yap 1999

Beberapa jenis kayu yang termasuk ke dalam kayu kelas kuat I adalah kayu
kempas, merbau, bangkirai, eboni, dan ulin. Beberapa jenis kayu yang termasuk
ke dalam kayu kelas kuat II adalah kayu cemara, rasamala, meranti merah dan
mahoni. Beberapa jenis kayu yang termasuk ke dalam kayu kelas kuat III adalah
kayu sindur, bintangur, waru gunung, gempol, dan klampeyan. Beberapa jenis
kayu yang termasuk ke dalam kayu kelas kuat IV adalah kayu cempaka, surian,
sengon dan kemiri.
9

Perencanaan struktur menggunakan material kayu, perlu diperhitungkan


tegangan izin. Tegangan izin adalah gaya maksimum yang boleh terjadi pada
struktur kayu saat struktur tersebut diberi beban. Batasan-batasan tegangan izin
diperlukan agar tidak terjadi kerusakan akibat kelebihan beban. Beberapa
tegangan izin berdasarkan kelas kuat kayu dapat dilihat pada Tabel 5 sebagai
berikut:

Tabel 5. Tegangan izin kayu berdasarkan kelas kuat


Tegangan Kelas Kuat Jati (Tectona
2
(kg/cm ) I II III IV Grandia)
σ lt 150 100 75 50 130
σ tk σ tr 130 85 60 45 110
σ tk┴ 40 25 15 10 30
τ  20 12 8 5 15
Sumber: Yap 1999

Kayu Mahoni yang digunakan sebagai benda uji dalam penelitian ini
termasuk ke dalam kayu kelas kuat II. Menurut Mulyono (2013) kayu mahoni
dalam bahasa botani atau latin disebut Swietenia. Pertumbuhannya tersebar di
seluruh Pulau Jawa. Tinggi pohon mahoni bisa mencapai 35 meter dengan
diameter mencapai 125 cm. Tekstur kayu agak halus, dengan arah serat berpadu
kadang bergelombang, permukaan licin dan mengkilap. Kayu mahoni memiliki
berat jenis berkisar 0.53 sampai 0.72, termasuk ke dalam kayu kelas kuat III
sampai kelas kuat II.
Kayu mahoni memiliki penyusutan ke arah radial 0.9% hingga 3.3% dan ke
arah tangensial 1.3% hingga 5.7%. Penyusutan ini terjadi karena adanya
penguapan. Saat suhu di luar permukaan meningkat, air di dalam kayu akan
dipaksa keluar. Jika kayu kehilangan kandungan airnya, secara otomatis akan
kehilangan ‘ruang’ yang sebelumnya digunakan kandungan air tersebut dan ruang
kosong ini membuat ikatan antar pori-pori menjadi lebih dekat (Hidayat 2007).
Untuk mencegah terjadinya penyusutan pada kayu struktural, maka sebelum
digunakan kayu dikeringkan hingga mencapai kadar air kering udara, bisa
mencapai 10% untuk kayu mahoni (Mulyono 2013). Saat kayu mencapai kadar air
kering udara, kayu tersebut tidak akan mengalami penyusutan lagi.

METODE

Penelitian dilakukan dalam tiga tahap. Tahap awal merupakan tahap


perencanaan. Tahap awal ini dilakukan secara manual dengan persamaan-
persamaan yang didapat dari buku panduan Timber Bridge: Design, Construction,
Inspection, and Maintenance karangan Michael A Ritter. Hasil dari tahap awal ini
adalah ketebalan geladak yang direncanakan. Dari tebal geladak yang diperoleh
10

pada tahap awal, penelitian dilanjutkan pada tahap kedua, yaitu menghitung
modulus elastistas bahan dari beberapa variasi ketebalan geladak yang
memungkinkan. Setelah didapat modulus elastisitas dari masing-masing
ketebalan, nilai tersebut kemudian digunakan untuk analisis struktur
menggunakan software SAP 2000 versi 14 pada tahap ketiga.

Bahan

Bahan yang digunakan adalah kayu mahoni yang dipotong-potong dengan


ukuran 3 cm x 8 cm x 76 cm. Kayu tersebut kemudian direkatkan dengan perekat
isosianat yang terdiri dari resin atau perekat utama dan hardener.

Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu mesin kempa dingin tipe
wcii MH32510X50, Universal Testing Machine, software SAP 2000 versi 14, dan
seperangkat laptop merk HP. Alat-alat yang digunakan selama pembuatan benda
uji adalah timbangan digital, plastik bening, dan potongan sandal jepit untuk
melaburkan perekat pada permukaan kayu.

Prosedur Analisis Data

Tahap 1 : Perencanaan dan analisis struktur geladak jembatan

Metode perhitungan yang digunakan adalah metode noninterconnected


glulam deck, yaitu tidak ada sambungan mekanis antar glulam. Model jembatan
yang akan dianalisis dapat dilihat pada Lampiran 2. Prosedur perhitungan dengan
metode noninterconnected glulam deck ini adalah sebagai berikut:
Perencanaan geladak jembatan glulam dapat dihitung dengan persamaan-
persamaan berikut (Ritter 1990):
1) Penentuan bentang efektif geladak (S)
Bentang efektif geladak adalah jarak antar balok ditambah 1/2 lebar balok
tersebut. Geladak akan disangga oleh 3 balok dengan lebar 12.25 inchi dengan
jarak antar as balok 6 ft, sehingga bentang efektif geladak adalah 65.88 inchi.
2) Penentuan ketebalan geladak (t)
Ketebalan awal geladak merupakan asumsi, yang selanjutnya akan dianalisis
dengan cara menghitung defleksi yang terjadi. Asumsi ketebalan geladak yang
digunakan adalah 6 3 4 inchi.
3) Perhitungan sebaran beban roda dan ukuran efektif bagian-bagian geladak
Pada arah bentang geladak, beban roda diasumsikan tersebar merata pada lebar
bt (Ritter 1990).
11

Gambar 3. Sebaran beban roda searah geladak

= √0.025 ......................................................................................... (1)

Keterangan:
bt : lebar sebaran beban roda pada daerah bentang geladak (in)
P : beban maksimum roda (lb)

Pada arah tegak lurus bentang geladak, beban roda didistribusikan merata
pada lebar efektif (bd)

Gambar 4. Sebaran beban roda tegak lurus bentang geladak

= + 15 ℎ ≤ .............................................. (2)

Keterangan:
bd : sebaran beban roda tegak lurus bentang geladak
t : ketebalan geladak
Perhitungan bagian-bagian efektif geladak :

A : luas efektif geladak (in2) = bd x t ...................................................... (3)

×
Sy : modulus efektif geladak (in3) = ................................................. (4)

×
Iy : momen inersia efektif geladak (in4) = ....................................... (5)
12

4) Perhitungan momen akibat beban mati


Beban mati pada geladak merupakan beban merata.

Gambar 5. Beban mati pada geladak

= × × ................................................................................... (6)

Keterangan:
WDL : beban mati merata (lb/in)
bd : sebaran beban roda tegak lurus bentang geladak (in)
t : ketebalan geladak (in)
γk : berat jenis material (lb/ft3)

.
= ............................................................................................. (7)

Keterangan:
MDL : momen akibat beban mati (in-lb)
WDL : beban mati pada geladak (lb/in)
S : bentang geladak efektif (in)
5) Perhitungan momen akibat beban hidup
Untuk bentang efektif geladak 17.32 inchi < S < 122 inchi, momen maksimum
akibat beban hidup terjadi saat beban berada pada garis tengah bentang,
dihitung dengan persamaan berikut:

= × − × .................................................................... (8)

Keterangan:
MLL : momen akibat beban hidup (in-lb)
R : gaya vertikal pada kedua tumpuan panel geladak (lb)
S : bentang efektif geladak (in)
bt : sebaran beban roda serah bentang geladak (in)

Gambar 6. Momen maksimum akibat beban hidup pada 17.32 < S < 122
13

6) Perhitungan tegangan lentur geladak


Untuk panjang panel glulam kurang dari atau sama dengan 2 bentang, tegangan
lentur dihitung dengan persamaan berikut:

= ...................................................................................................... (9)

Untuk panjang panel glulam lebih dari 2 bentang, untuk menghitung tegangan
lentur digunakan persamaan berikut:
.
= ................................................................................................... (10)
= + ........................................................................................ (11)

Syarat yang harus dipenuhi ≤ ′


= . ........................................................................................ (12)

Keterangan:
Fby : tegangan lentur acuan
CF : faktor ukuran panel
CM : faktor layan basah

Faktor ukuran panel dapat dilihat pada Tabel 6. sebagai berikut:

Tabel 6. Faktor ukuran panel


t (in) CF
5 atau 5 1/8 1.10
6 3/4 1.07
8 atau 8 3/4 1.04
Sumber : Ritter 1990

Faktor layan basah dapat dilihat pada Tabel 7. sebagai berikut:

Tabel 7. Faktor layan basah


Parameter Rancangan Faktor layan basah
Tegangan lentur, Fbx+, Fbx-, Fby 0.80
Tegangan tarik sejajar serat, Ft 0.80
Tegangan geser, Fvx, Fvy 0.88
Tegangan desak tegak lurus serat, Fc┴x, Fc┴y 0.53
Tegangan desak sejajar serat, Fc 0.73
Modulus elastisitas, Ex, Ey, Eaxial 0.83
Tegangan tarik radial, Frt 0.88
Tegangan desak radial, Frc 0.53
Modulus kekakuan, G 0.83
Sumber : AITC 117 2004
14

7) Pengecekan defleksi akibat beban hidup

Untuk 17.32 in < S < 110 in


.
∆ = ′ (138.8 − 20.780 + 90000).................................................. (13)

= . ....................................... ......................................................... (14)

Untuk ≥ 110 in
∆ = (500 + 90.5 − 3967074 + 98663396).......................... (15)

Jika panjang panel glulam lebih dari 2 bentang, maka nilai ΔLL dikali 80%.

8) Pengecekan tegangan geser horizontal


Tegangan geser horizontal tergantung pada gaya geser vertikal maksimum.

= − ...................................................................................... (16)

Keterangan :
VDL : gaya geser akibat beban mati (lb)

.
= ...................................................................................................... (17)

Keterangan:
fv : tegangan geser horizontal

V = VDL + VLL (lb)..................................................................................... (18)

Av = (15 + 2 ) ≤ ( ) (in2).................................................... (19)


= .................................................................................................. (20)

Keterangan:
Av : luas bidang geser (in2)
Fv’ : tegangan geser horizontal izin (lb/in2)
Fvy : tegangan geser acuan (lb/in2)
CM : faktor layan basah

Tahap 2 : Pengujian Material Geladak

Setelah didapat ketebalan geladak yang sesuai pada tahap 1, maka dibuat
material glulam yang sesuai dengan ketebalan tersebut. Berikut adalah tahapan
pembuatan benda uji geladak:
15

1) Penyusunan lamina
Lamina merupakan kayu-kayu tipis yang nantinya akan disusun untuk
membentuk glulam. Lamina yang digunakan dibuat dari kayu mahoni, yaitu
kayu kelas kuat II, dengan ketebalan 3 cm. Lamina-lamina ini disusun untuk
membentuk glulam dengan ketebalan yang telah ditentukan.

Gambar 7. Penyusunan lamina

2) Perekatan
Setelah lamina disusun, yang selanjutnya dilakukan adalah pelaburan perekat.
Perekat yang digunakan adalah perekat isosianat. Perekat ini dipilih karena
memiliki daya ikat yang sangat kuat dengan material alam, seperti kayu.
Sebelum dilaburkan, perekat terlebih dulu ditimbang berat laburnya dengan
persamaan sebagai berikut:

( )
= .......................................................................................... (21)
.

Keterangan:
GPU : gram pick up (gr)
b : lebar permukaan lamina (cm)
l : panjang permukaan lamina (cm)

Setelah didapat nilai berat labur yang sesuai, perekat dilaburkan pada masing-
masing sisi lamina dengan metode double spread, yaitu perekatan pada dua sisi
lamina.

Gambar 8. Proses pelaburan perekat


16

3) Pengempaan
Setelah direkatkan, glulam kemudian ditata pada alat kempa dingin untuk
dikempa. Glulam tersebut akan dikempa selama 3 jam dengan tekanan 15
kg/cm2. Menurut Iskandar dan Supriadi (2011), besaran kempa tidak
berpengaruh nyata terhadap sifat fisis dan mekanis sehingga secara ekonomis
disarankan menggunakan besaran kempa 15 kg/cm2.

Gambar 9. Proses pengempaan

4) Pengondisian dan finishing


Setelah selesai dikempa, glulam kemudian dikondisikan dengan meletakkannya
di ruang terbuka agar glulam tersebut dapat beradaptasi dengan kondisi
lingkungan. Setelah dikondisikan, glulam kemudian dibentuk sesuai dengan
ukuran benda uji yang diinginkan.

Gambar 10. Finishing kayu laminasi

5) Pengujian modulus elastisitas


Selanjutnya glulam diuji lentur dengan menggunakan Universal Testing
Machine (UTM) untuk mendapatkan beban maksimum yang mampu
ditanggung glulam dan defleksi. Nilai beban dan defleksi yang didapat akan
digunakan untuk menghitung nilai modulus elastisitas dengan menggunakan
persamaan sebagai berikut:
17


= ........................................................................................ (22)

Keterangan:
P : beban maksimum pada saat kayu rusak (kgf)
L : jarak sangga (cm)
Δy: defleksi (cm)
b : lebar benda uji (cm)
h : tebal benda uji (cm)

Gambar 11. Uji lentur kayu

Tahap 3 : Analisis Struktur Geladak dengan SAP2000 versi 14

Analisis struktur ini dilakukan untuk mengetahui defleksi yang terjadi pada
geladak. Analisis dilakukan dengan memasukkan parameter-parameter yang telah
diuji pada tahap 2 ke dalam software SAP2000 versi 14. Bagan alir metode
penelitian dapat dilihat pada Lampiran 1.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perencanaan dan Analisis Struktur Geladak Jembatan

Hasil yang didapat pada tahap 1 adalah sebagai berikut:


1. Bentang geladak efektif
Geladak ditopang oleh 3 balok, jarak antar garis tengah balok adalah 6 ft, jarak
dari garis tengah dengan muka kerb adalah 1.5 ft. Ukuran kerb adalah 0.7 ft x
0.7 ft.
Asumsi lebar balok yang digunakan = 12.25 in
= (6 × 12 ) − 12.25
= 72 − 12.25
18

= 59.75
12.25
= 59.75 +
2
= 65.88

2. Asumsi ketebalan geladak dan ukuran panel


Ketebalan geladak adalah 7 in. Ukuran panel yang digunakan 52.5 in. Panjang
jembatan 20 m = 787.4 in sehingga banyaknya panel geladak adalah 15 buah.

3. Sebaran beban satu roda


Beban yang dipilih adalah beban over load U80 sebesar 80 ton = 160000 lb.
Beban satu roda adalah 18500 lb. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan
persamaan (1).
= √0.025 × 18500
= 21.51

4. Sebaran beban roda tegak lurus bentang efektif geladak


Perhitungan sebaran beban roda tegak lurus geladak dilakukan dengan
menggunakan persamaan (2).
= + 15
= 7 + 15
= 22

5. Ukuran-ukuran efektif panel glulam


Luas efektif panel geladak dihitung menggunakan persamaan (3).
= ×
= 22 × 7
= 154

Selanjutnya, perhitungan modulus efektif panel geladak dilakukan dengan


menggunakan persamaan (4).
×
=
6
22 × (7 )
=
6
= 179.67

Momen inersia efektif panel geladak dihitung menggunakan persamaan (5).


×
=
12
22 × (7 )
=
12
= 628.83

6. Momen akibat beban mati


Beban mati pada panel geladak merupakan beban material itu sendiri. Material
kayu yang digunakan memiliki berat jenis sebesar 50 lb/ft3. Perhitungan beban
19

mati dilakukan menggunakan persamaan (6). Hasil yang didapat kemudian


dikonversi dengan cara dibagi 1728 in3/ft3 sehingga satuan beban mati pada
panel geladak adalah lb/in.

× ×
=
1728

22 ×7 × 50
=
1728

= 4.46

Perhitungan momen yang terjadi akibat beban mati dilakukan dengan


persamaan (7).
×
=
8
4.46 × (65.88 )
=
8
= 2419.65 −

7. Momen akibat beban hidup


Beban kendaraan U80 adalah 80 ton atau 160000 lb yang terbagi merata ke
seluruh roda. Beban satu roda kendaraan U80 adalah 18500 lb. Beban satu roda
ini tersebar merata searah bentang efektif geladak. Perhitungan distribusi beban
roda U80 adalah sebagai berikut :

18500
= = 860.07
21.51

Sebaran beban satu roda digunakan dalam perhitungan momen akibat beban
hidup. Skema perhitungan dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12. Skema perhitungan momen akibat beban hidup


20

RL dan RR merupakan gaya vertikal yang terjadi pada tumpuan di kedua ujung
bentang geladak. Besarnya RL dan RR sama karena sebaran beban hidup berada
di tengah bentang sehingga besarnya RL dan RR adalah setengah beban satu
roda.

18500
= = = 9250
2 2

Momen yang terjadi akibat beban hidup dihitung dengan persamaan (8).
65.88 10.76
= 9250 × − 9250 × = 254930 −
2 2

8. Tegangan lentur
Tegangan adalah gaya yang terjadi pada struktur ketika diberi beban. Tegangan
lentur dihitung dengan persamaan (9). Nilai momen yang digunakan adalah
momen total yaitu momen mati ditambah momen hidup.
=
(2419.65 − + 254930 − )
= = 1432.35
179.67
Tegangan lentur izin adalah batas maksimum tegangan lentur yang boleh
terjadi pada struktur. Tegangan lentur merupakan batasan sehingga struktur
tidak akan runtuh karena kelebihan beban. Tegangan lentur izin dihitung
dengan persamaan (12). Faktor reduksi (β) adalah faktor khusus untuk beban
kendaraan U80 sebesar 1.33.


= × × ×

= 1422.334 × 1.06 × 0.8 × 1.33

= 1604.17

= 1432.35 < = 1604.17

Hasil perhitungan tegangan lentur adalah 1432.35 lb/in2. Nilai ini berada di
bawah tegangan lentur izin sehingga tegangan lentur memenuhi syarat aman.

9. Defleksi akibat beban hidup


Defleksi maksimum yang direkomendasikan untuk panel geladak glulam
adalah 0.1 in. Batas maksimum ini mengacu pada hasil-hasil penelitian dan
observasi lapang yang telah dilakukan sebelumnya (Ritter 1990).


= ×

= 1422334.3 × 0.833

= 1184804.47

Defleksi yang terjadi pada panel geladak akibat beban hidup dihitung dengan
persamaan (15).
21

1.8[138.8 − 20780 + 90000]


∆ =
′×
1.8[138.8(65.88 ) − 20780(65.88 ) + 90000]
∆ =
1184804.47 × 628.83
∆ = 0.093 < 0.1

Hasil perhitungan defleksi adalah 0.093 in. Nilai ini berada di bawah batas
maksimum defleksi untuk panel glulam sehingga defeleksi geladak memenuhi
syarat aman.

10. Gaya geser horizontal


Perhitungan gaya geser horizontal akibat beban mati dilakukan dengan
persamaan (16).
= −
2
65.88
= 4.46 −7
2
= 115.69

Gaya geser horizontal akibat beban hidup dilakukan dengan meletakkan ujung
distribusi beban roda (bt) pada jarak tebal geladak (t) dari titik tumpuan. Skema
perhitungan dapat dilihat pada Gambar 13.

Gambar 13. Skema perhitungan gaya geser horizontal akibat beban hidup

+( − − )
=
18500 (10.76 + 37.36 )
= = 13512.75
65.88

Gaya vertikal total adalah penjumlahan gaya vertikal akibat beban mati dan
gaya vertikal akibat beban hidup.

= + = 115.69 + 13512.75 = 13628.44


22

Luas bidang geser panel geladak dihitung dengan persamaan (19).


= (15 + 2 )
= 7 [15 + 2(7 )]
= 203

Luas bidang geser digunakan untuk menghitung tegangan geser horizontal


yang terjadi pada panel geladak glulam. Perhitungan tegangan geser horizontal
dilakukan dengan persamaan (17).
1.5
=
1.5(13628.44 )
=
203
= 100.7

Tegangan geser izin adalah batas maksimum tegangan geser yang boleh terjadi
pada struktur. Tegangan geser izin dihitung dengan persamaan (20). Faktor
reduksi (β) adalah faktor khusus untuk beban kendaraan U80 sebesar 1.33.

= × ×
= 170.68 × 0.875 × 1.33
= 198.63
= 100.7 < = 198.63

Hasil perhitungan tegangan geser adalah 100.7 lb/in2. Nilai ini berada di bawah
tegangan geser izin sehingga tegangan geser horizontal memenuhi syarat aman.

11. Pengecekan over hanging


Pengecekan over hanging dilakukan untuk mengetahui tegangan lentur dan
tegangan geser horizontal yang terjadi pada panel geladak akibat penambahan
kerb. Beban mati akibat kerb dihitung dengan persamaan (6), tetapi pada
perhitungan ini beban mati kerb dikalikan dengan lebar kerb karena beban mati
akibat kerb bukan beban merata. Luas penampang kerb yang digunakan adalah
0.7 ft x 0.7 ft.
22 × 0.7 × 0.7 × 50
=
12
= 44.92

Beban mati panel geladak glulam dihitung dengan persamaan (6).


22 × 7 × 50
=
1728

= 4.46
23

Tegangan lentur kerb dilakukan dengan mengasumsikan pusat beban roda


berada 1ft dari muka kerb dan 6 in dari pusat balok luar. Momen dihitung
dengan mengukur bentang efektif dari pusat balok luar dikurangi ¼ lebar balok,
yaitu 12,25 in. Pembulatan nilai ¼ lebar balok dilakukan untuk memudahkan
perhitungan. Skema perhitungan dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 14. Skema perhitungan tegangan lentur kerb

Momen dihitung dengan persamaan untuk bentang sederhana yaitu beban


dikali jarak. Beban yang digunakan pada perhitungan momen akibat beban
hidup adalah distribusi beban roda 860.07 lb/in dengan jarak atau panjang
beban adalah 13.76 in. Jarak untuk perhitungan momen dengan beban merata
adalah setengah jarak. Beban yang digunakan pada perhitungan momen akibat
beban mati kerb adalah beban terpusat kerb 44.92 lb dengan jarak 21 in.

13.76
= 13.76 × 860.07 ×
2
= 81421.79 −

= 21 × 44.92
= 943.32 −

Beban yang digunakan pada perhitungan momen akibat beban mati geladak
adalah beban merata material geladak 4.46 lb/in dengan jarak atau panjang
beban adalah 27 in.
27
= 27 × 4.46 ×
2
= 1625.67 −

Perhitungan momen total dilakukan dengan menjumlahkan momen akibat


beban hidup dengan momen akibat beban mati kerb dan momen akibat beban
mati geladak.
24

= 81421.79 − + 943.32 − + 1625.67 −


= 83990.78 −

Tegangan lentur kerb dihitung dengan persamaan (9).


=

83990.78 −
=
179.67

= 467.47 < = 1604.17

Hasil perhitungan tegangan lentur kerb adalah 467.47 lb/in2. Nilai ini berada di
bawah tegangan lentur izin sehingga tegangan lentur memenuhi syarat aman.

Tegangan geser horizontal dihitung dengan mengasumsikan tegangan geser


vertikal maksimum terjadi saat distribusi beban roda berada pada ¼ lebar balok
ditambah ketebalan panel geladak dari pusat balok luar. Pembebanan yang ada
di antara jarak tersebut diabaikan. Gaya vertikal akibat beban hidup dihitung
dengan mengalikan beban hidup merata dengan panjang beban merata tersebut.
Hal yang sama dilakukan untuk menghitung gaya vertikal akibat beban mati
panel geladak. Skema perhitungan dapat dilihat pada Gambar 15.

Gambar 15. Skema perhitungan tegangan geser kerb

= 6.76 × 860.07
= 5814.07

= 44.92
= 20 × 4.46
= 89.2
25

Perhitungan gaya vertikal total dilakukan dengan menjumlahkan gaya vertikal


akibat beban hidup dengan gaya vertikal akibat beban mati kerb dan gaya
vertikal akibat beban mati geladak.

= 5814.07 + 44.92 + 89.2


= 5948.19

Tegangan geser horizontal kerb dihitung dengan persamaan (17).

1.5
=
1.5 × 5948.19
=
203
= 43.95 < = 198.63

Hasil perhitungan tegangan geser adalah 43.95 lb/in2. Nilai ini berada di bawah
tegangan geser izin sehingga tegangan geser memenuhi syarat aman.

Rekapitulasi hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Rekapitulasi hasil perhitungan


Satuan British Satuan Internasional
Faktor Geladak
Nilai Satuan Nilai Satuan
Bentang efektif 65.88 in 1.67 m
Ukuran panel 52.5 in 1.33 m
Ketebalan geladak 7 in 0.18 m
Panjang jembatan 787.4 in 20 m
Sebaran roda searah geladak (bt) 21.51 in 0.55 m
Sebaran roda tegak lurus geladak
22 in 0.56 m
(bd)
Luas efektif geladak 154 in2 0.10 m2
Modulus efektif geladak 179.67 in3 2.94 x 10-3 m3
Momen inersia efektif 628.83 in4 2.62 x 10-4 m4
Beban mati geladak 4.46 lb/in 0.78 kN/m
Momen akibat beban mati 2419.65 in-lb 0.27 kN.m
Beban hidup kendaraan 860.07 lb/in 150.62 kN/m
Momen akibat beban hidup 254930 in-lb 28.80 kN.m
Gaya vertikal total 13628.44 lb 6181.76 kg
Luas bidang geser 203 in2 0.13 m2
Beban mati kerb 44.92 lb 20.38 kg
Momen akibat beban hidup 81421.79 in-lb 9.20 kN.m
Momen akibat beban mati kerb 943.32 in-lb 0.11 kN.m
Momen akibat beban mati geladak 1625.67 in-lb 0.18 kN.m
Gaya vertikal total akibat kerb 5948.19 lb 2698.05 kg

Beban maksimum yang mampu ditanggung oleh jembatan adalah 80 ton,


sedangkan beban hidup yang mampu ditanggung oleh masing-masing panel
26

jembatan adalah 150.62 kN/m. Beban rata-rata mobil adalah 1.5 ton dengan
panjang badan mobil adalah 4.5 m. Jembatan yang direncanakan merupakan
jembatan satu jalur sehingga tidak memungkinkan adanya penyimpangan.
Jembatan ini hanya dapat dilalui oleh satu buah truk seberat 80 ton dengan
panjang truk 12 m, empat mobil dengan berat 1.5 ton dengan asumsi jarak antar
mobil 0.5 m, dan 8 motor dengan panjang motor adalah 2 m dan asumsi jarak
antar motor 0.5 m. Ilustrasi jumlah kendaraan dapat dilihat pada Gambar 16.

Gambar 16. Ilustrasi kendaraan yang dapat melewati jembatan dalam satu waktu

Hasil perencanaan yang dijadikan acuan dalam analisis struktur geladak dapat
dilihat pada Tabel 9. sebagai berikut:

Tabel 9. Hasil perencanaan geladak


Kriteria Rancangan
Syarat Keterangan
Geladak Nilai Awal Hasil Konversi Satuan
228.60cm x 133.35cm x
Dimensi 90in x 52.50in x 7in - -
18cm
4
Momen Inersia 628.83 in 26173.88 cm4 - -
< 112.78
Tegangan Lentur 1432.35 lb/in2 100.70 kg/cm2 OK
kg/cm2
Defleksi 0.09 in 0.24 cm < 0.25 cm OK
< 13.97
Tegangan Geser 100.70 lb/in2 7.08 kg/cm2 OK
kg/cm2
Tegangan Lentur < 112.78
467.47 lb/in2 32.87 kg/cm2 OK
Kerb kg/cm2
Tegangan Geser < 13.97
43.95 lb/in2 3.09 kg/cm2 OK
Kerb kg/cm2
27

Dimensi geladak yang didapat dari perencanaan adalah 228.6 cm x 133.35


cm x 18 cm. Ketebalan geladak 18cm dijadikan acuan untuk membuat benda uji.
Variasi ketebalan benda uji yang dibuat adalah 18 cm, 15 cm, 12 cm. Variasi ini
dipilih karena pada ketebalan 18 cm, tegangan lentur rencana sudah berada
dibawah batas tegangan lentur izin, sehingga dicari ketebalan yang lebih
mendekati nilai tegangan izin agar lebih efisien.

Pengujian Material Geladak

Setelah didapat ketebalan geladak rencana, kemudian dilakukan pengujian


contoh uji. Hasil yang didapat dari pengujian lentur contoh uji adalah data beban
maksimum dan defleksi yang terjadi. Data tersebut kemudian digunakan untuk
menghitung modulus elastisitas (MOE) dengan persamaan (22). Hasil dari
pengujian lentur dan modulus elastisitas disajikan pada Tabel 10 sebagai berikut:

Tabel 10. Hasil uji lentur dan modulus elastisitas


Beban Rata-rata jarak MOE (kg/cm2)
Tebal Beban Defleksi lebar
sangga Sebelum Sesudah
(cm) (kN) (kN) (kgf) (mm) (cm)
(cm) Kalibrasi Kalibrasi
4.26
18 4.38 446.33 5.19 8 76 202.25 5056.13
4.50
3.82
15 3.53 360.37 2.99 8 76 490.62 12265.53
3.25
2.77
12 2.86 291.54 3.25 8 76 711.91 17797.70
2.95

Beban maksimum yang diperoleh dari hasil uji memiliki pola linier yaitu
semakin kecil seiring dengan penurunan ketebalan bahan uji. Defleksi yang
diperoleh memiliki pola yang tidak linier, hal ini dapat disebabkan oleh kualitas
kayu yang berbeda sehingga defleksi yang dihasilkan juga tidak berbanding lurus
dengan penurunan ketebalan benda uji.
Hasil modulus elastisitas yang didapat dari pengujian lentur benda uji
ternyata masih di berada di bawah standar modulus elastisitas kayu kelas kuat II.
Hal ini disebabkan oleh alat UTM yang belum dikalibrasi, sehingga perbandingan
perlu dilakukan dengan alat UTM lain untuk mendapatkan faktor pengali. Setelah
dilakukan dua kali perbandingan, nilai 25 didapat sebagai faktor pengali hasil uji.
Modulus elastisitas yang didapat kemudian digunakan untuk membuat
permodelan dengan menggunakan SAP2000 versi 14. Modulus elastisitas untuk
geladak dengan ketebalan 12cm lebih besar dibanding ketebalan geladak yang
lain. Hal ini dapat terjadi karena pada persamaan (22) terdapat faktor ketebalan
benda uji sebagai faktor pembagi, sehingga geladak dengan ketebalan 12 cm
memiliki modulus elastisitas paling besar. Menurut Syaja’iy (2010), semakin
besar modulus elastisitas suatu bahan, maka semakin besar tegangan yang
dibutuhkan untuk suatu regangan tertentu.
28

Analisis Struktur Geladak dengan SAP2000 versi 14

Gambar 17 menunjukkan hasil analisis defleksi dengan menggunakan


permodelan pada SAP2000 versi 14. Warna biru menunjukkan defleksi
maksimum yang terjadi pada jembatan. Defleksi maksimum terjadi pada balok
tengah jembatan yang menanggung beban paling besar.

(a)

(b)

(c)

Gambar 17. Defleksi pada jembatan (a) ketebalan geladak 18 cm ; (b) ketebalan
geladak 15 cm ; (c) ketebalan geladak 12 cm
29

Gambar 18 menunjukkan hasil analisis defleksi yang terjadi pada panel


geladak. Warna biru menunjukkan defleksi maksimum yang terjadi.

(a)

(b)

(c)

Gambar 18. Defleksi pada panel geladak (a) ketebalan geladak 18 cm ;


(b) ketebalan geladak 15 cm ; (c) ketebalan geladak 12 cm

Permodelan jembatan dibuat dengan menggunakan SAP2000 versi 14


dengan variasi ketebalan geladak 18 cm, 15 cm, dan 12 cm. Persendian untuk
30

permodelan ini digunakan sendi dan sendi roll. Perencanaan pembebanan adalah
beban mati, yaitu beban material yang digunakan sebesar 4.46 lb/in dan beban
hidup, yaitu beban kendaraan pada masing-masing panel geladak sebesar 860.07
lb/in. Jenis kombinasi beban yang digunakan adalah 1.2 D + L. Kombinasi ini
mengacu pada standar yang dibuat oleh American Institute of Timber
Construction nomor 117 tahun 2004. Dari permodelan dengan SAP2000 versi 14
ini didapat defleksi yang terjadi pada jembatan jika diberi beban sesuai rencana.
Hasil permodelan pada Gambar 17 menunjukkan defleksi yang terjadi pada
seluruh jembatan jika diberi beban sesuai dengan rencana. Pada Gambar 17
(a) defleksi maksimum adalah 4.20 in; (b) defleksi maksimum sebesar 1.68 in;
(c) defleksi maksimum sebesar 1.19 in. Defleksi yang didapat pada hasil ini
adalah defleksi yang terjadi pada balok penyangga jembatan. Defleksi yang paling
kecil terjadi pada permodelan dengan ketebalan geladak 12 cm. Seperti telah
dijelaskan sebelumnya, hal ini terjadi karena pada ketebalan 12 cm geladak
jembatan memiliki nilai modulus elastisitas yang lebih besar dibanding variasi
ketebalan yang lain.
Nilai defleksi yang terjadi pada panel geladak juga didapat dari permodelan
yang dibuat. Hasil permodelan pada Gambar 18 menunjukkan defleksi yang
terjadi pada panel glulam yang digunakan sebagai geladak jembatan. Pada
Gambar 18 (a) defleksi panel geladak adalah -0.30 in; (b) defleksi panel -0.12 in;
(c) defleksi -0.09 in. Tanda negatif pada nilai defleksi yang didapat menunjukkan
arah lendutan ke atas. Nilai defleksi paling kecil terjadi pada panel geladak
dengan ketebalan 12 cm, yaitu 0.09 in. Nilai ini sudah memenuhi syarat defleksi
maksimum geladak, yaitu kurang dari 0.1 in.
Simpulan dari hasil analisis adalah geladak dengan ketebalan 12 cm ternyata
lebih memenuhi syarat perencanaan dibanding ketebalan yang direncanakan, yaitu
18 cm. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kayu
yang digunakan sebagai benda uji. Pada perencanaan, penggunaan nilai modulus
elastisitas mengacu pada PKKI dalam Yap (1999), yaitu 100000 kg/cm2 atau sama
dengan 1422334.3 lb/in2 untuk kayu kelas kuat II. Meskipun kayu mahoni
termasuk ke dalam kayu kelas kuat II, tetapi karakteristik yang dimiliki tergantung
pada kondisi kayu tersebut di pasaran sehingga nilai modulus elastisitas yang
diperoleh dari hasil uji lentur dapat berbeda dengan nilai modulus elastisitas pada
literatur. Perbedaan modulus elastisitas inilah yang memungkinkan terjadinya
perbedaan ketebalan geladak yang memenuhi syarat perencanaan.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Simpulan dari penelitian ini adalah:


1. Jembatan yang direncanakan memiliki dimensi panjang 90 in, lebar 52.50 in,
tebal 7 in atau panjang 228.60 cm, lebar 133.35 cm, dan tebal 18 cm, dengan
defleksi izin 0.1 in atau 0.25 cm.
31

2. Contoh uji dibuat dengan variasi ketebalan 18 cm, 15 cm, dan 12 cm. Hasil
pengujian yang didapat berupa beban maksimum dan defleksi. Beban
maksimum berturut-turut adalah 446.33 kgf, 360.37 kgf, 291.54 kgf. Defleksi
yang diperoleh berturut-turut adalah 5.19 cm, 2.99 cm, 3.25 cm. Pola defleksi
yang diperoleh tidak linier karena perbedaan kualitas kayu benda uji, sehingga
defleksi yang terjadi tidak berbanding lurus dengan penurunan ketebalan benda
uji.
3. Pada analisis struktur geladak jembatan dengan menggunakan SAP2000 versi
14 didapatkan defleksi area geladak dengan ketebalan 18 cm, 15 cm, dan 12
cm. Defleksi yang didapat berturut-turut adalah 0.30 in, 0.12 in, dan 0.09 in.
Ketebalan geladak yang memenuhi syarat defleksi maksimum adalah 12 cm.

Saran

Saran yang dapat disampaikan untuk penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Contoh uji perlu dibuat untuk balok sehingga didapat nilai-nilai beban
maksimum dan defleksi yang lebih sesuai.
2. Pengujian lentur sebaiknya dilakukan dalam skala penuh sehingga hasil uji
dapat menggambarkan struktur jembatan sebenarnya.
3. Modifikasi pada balok perlu dilakukan sehingga defleksi yang terjadi tidak
terlalu besar. Penggunaan besi prategang disarankan untuk glulam balok
sehingga dapat menambah kuat lentur balok tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

[AITC] American Institute of Timber Construction. 2004. Standard Spesification


for Structural Glued Laminated Timber of Softwood Species (AITC 117).
hlm: 6.
Amir, Ashadi. 2013. Studi Keandalan Struktur Jembatan Sungai Tello (Lama)
berdasarkan Beban Lalu Lintas Umum dan Trailer Super Berat dengan
Metode Moving Load [Internet]. [diunduh 2014 Jan 19]. Tersedia pada:
http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/5552/Studi%20Ke
andalan%20Jembatan%20Tello%20(Lama).pdf?sequence=1.
Andika, Ricky. 2013. Pengaruh Kombinasi Tebal dan Orientasi Sudut Lamina
terhadap Karakteristik Cross Laminated Timber Kayu Jabon Menggunakan
Paku [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Battocchi, Stefano. 2006. Pedestrian Timber Bridges with Glulam Beams and
LVL Deck [tesis]. Göteborg (SE): Chalmers University of Technology.
[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 1995. Metode Pengujian Kuat Tekan Kayu di
Laboratorium (SNI 03-3958-1995). hlm: 4.
[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2002. Tata Cara Perencanaan Konstruksi
Kayu Indonesia (PKKI NI-5). hlm: 5.
32

[BSN] Badan Standarisasi Nasional. 2005. Standar Pembebanan untuk Jembatan


(RSNI T-02-2005). hlm: 8-21.
Departemen Kehutanan. 2004. Potensi Hutan Rakyat Indonesia 2003 [Internet].
[diunduh 2014 April 28]. Tersedia pada: http://www.dephut.go.id/
Halaman/pranalogi_kehutanan/PHRI_03/PHRI_03.htm.
Dinas Bina Marga. 2012. Kerangka Acuan Kerja Pekerjaan Survey Kondisi
Jembatan. Semarang (ID): Dinas Bina Marga.
Hidayat, Eko Wahyu. 2007. Kayu Bisa Berubah Bentuk [Internet]. [diunduh 2014
Mei 30]. Tersedia pada: http://www.tentangkayu.com/2007/12/kayu-bisa-
berubah-bentuk.html.
Kementerian PU. 2009. Teknologi Rumah Tahan Gempa dengan Struktur Kayu
Laminasi (LVL) [Internet]. [diunduh 2014 Jan 21]. Tersedia pada:
http://puskim.pu.go.id/en/produk-litbang/teknologi-terapan/teknologi-
rumah-tahan-gempa-dengan-struktur-kayu-laminasi-lvl.
Kim, Kwang-Mo et al. 2012. Full Scale Test of Two Lanes Road Bridge
Composed of 30m Long Timber Truss and Stress Laminated Glulam Deck.
Auckland (NZ): World Conference on Timber Engineering.
Iskandar, M.I & Supriadi, Achmad. 2011. Pengaruh Besaran Kempa terhadap
Sifat Papan Partikel Serutan Kayu. Bogor (ID): Pusat Penelitian dan
Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan.
Jihannanda, Pramudito. 2013. Studi Kuat Lentur Balok Laminasi Kayu Sengon
dengan Kayu Kelapa di Daerah Gunung Pati Semarang [skripsi]. Semarang
(ID): Universitas Negeri Semarang.
Mulyono, Andreas. 2013. 6 Jenis Kayu untuk Membuat Mebel yang Telah Diuji
oleh Balai Penelitian Kayu [Internet]. [diunduh 2014 Mei 30]. Tersedia
pada:http://www.vedcmalang.com/pppptkboemlg/index.php/artikel-coba-
2/departemen-bangunan-30/542-6-jenis-kayu-untuk-membuat-mebel-yang-
telah-diuji-oleh-balai-penelitian-kayu.
Ritter, Michael A. 1990. Timber Bridge: Design, Construction, Inspection, and
Maintenance. Washington, DC (US): 944 p.
Susanto, Husnul. 2013. Karakteristik Balok Laminasi (glulam) Kayu Ekaliptus
(Eucalyptus urophylla ST. Blake) [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian
Bogor.
Supriyadi, Bambang Muntohar, Agus Setyo. 2007. Jembatan. Yogyakarta (ID):
Beta offset.
Syaja’iy, Muhammad Hasan. 2010. Pengaruh Modulus Elastisitas terhadap
Kompabilitas Dimensional Beton Induk dengan Repair Material Berbahan
Tambah Polymer [skripsi]. Surakarta (ID): Universitas Sebelas Maret.
Yap, Felix. 1999. Konstruksi Kayu. Jakarta (ID): Trimitra Mandiri.
33

Lampiran 1: Bagan Alir Tahapan dan Prosedur Penelitian


MULAI

Penentuan bentang efektif geladak

Penentuan tebal geladak

Perhitungan sebaran beban roda & bagian-bagian efektif

Perhitungan momen akibat beban mati

Perhitungan momen akibat beban hidup

Perhitungan kuat lentur geladak

TIDAK ≤ ′

YA

Pengecekan defleksi akibat beban


hidup

Pengecekan kuat geser


horizontal

TIDAK ≤ ′

YA

Pembuatan banda uji glulam

Pengujian material geladak dengan UTM

Analisis struktur dengan SAP2000 versi 14

SELESAI
34
35
36
37

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di kota Pemalang, Jawa Tengah pada tanggal 14 Februari


1992. Penulis merupakan anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan bapak
Jafar Yasin dan ibu Warningsih dan adik dari Nurul Falah Rahmawati. Penulis
telah menyelesaikan pendidikan tingkat SD di SD N 16 Mulyoharjo Pemalang
(1998-2004), tingkat SMP di SMP N 2 Pemalang (2004-2007), dan tingkat SMA
di SMA N 1 Pemalang (2007-2010). Pada tahun 2010 penulis melanjutkan
pendidikan di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Pertanian Bogor.
Pada tahun 2012-2014 penulis menjadi penerima beasiswa PPA dari Dikti.
Selama perkuliahan, penulis aktif mengikuti organisasi Badan Eksekutif
Mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian sebagai anggota departemen Akademik
dan Profesi (2011-2012), dan sebagai bendahara umum Himpunan Mahasiswa
Teknik Sipil dan Lingkungan (2012-2013). Penulis melaksanakan praktik
lapangan pada tahun 2013 di PT.Jaya Konstruksi Manggala Pratama, Tbk.
Dengan judul “Pengawasan Kualitas Beton dan PC Spun Pile pada Proyek Jalan
Tol JORR W2 Utara Paket 4”.
Pada tahun 2014, penulis menjadi salah satu penerima dana hibah Program
Kreativitas Mahasiswa (PKM) Bidang Penelitian dengan judul “Analisis
Pengaruh Komposisi Serat Limbah Eceng Gondok terhadap Kekuatan Tekan dan
Lentur Beton”. Penulis menyelesaikan skripsi dengan judul “Perencanaan dan
Analisis Struktur Geladak Jembatan Glued Laminated Timber (Glulam) Kayu
Mahoni” untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik di bawah bimbingan Dr. Ir.
Erizal, M.Agr.