Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PADA TN. R DENGAN MASALAH GOUT ARTRITIS DI


DUSUN TRISIGAN DK I NGENTAK MURTIGADING
SANDEN BANTUL

Disusun oleh:
HANIF PRASETYANINGTYAS
1910206027

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ‘AISYIYAH
YOGYAKARTA
2020
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas
segala berkat, rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
makalah yang berjudul “Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan pada Tn. R dengan
Masalah Gout Artritis di Dusun Trisigan DK I Ngentak Murtigading Sanden Bantul”,
sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada junjungan Nabi Muhammad SAW dan umat
yang istiqomah di jalan-Nya.
Penulis menyadari penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena
itu kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa penulis harapkan untuk lebih
menyempurnakan penyusunan laporan ini.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Yogyakarta, April 2020

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorang untuk
mempertahankan keseimbangan terhadap kondisi stres fisiologis. Kegagalan ini
berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup serta peningkatan
kepekaan secara individual, karena faktor tertentu. Lansia tidak dapat memenuhi
kebutuhan dasarnya baik secara jasmani, rohani maupun sosial. Kelompok yang
dikategorikan Lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut Aging Process atau
proses penuaan (Nugroho, 2008). Sedangkan menurut Undang-Undang No.13 Tahun
1998 tentang Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia, seseorang disebut Lansia bila telah
memasuki atau mencapai usia 60 tahun lebih
Proses penuaan adalah siklus kehidupan yang ditandai dengan tahapan-tahapan
menurunnya berbagai fungsi organ tubuh, yang ditandai dengan semakin rentannya
tubuh terhadap berbagai serangan penyakit. Hal tersebut disebabkan seiring
meningkatnya usia terjadi perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta
sistem organ dengan bertambahnya umur, fungsi fisiologis mengalami penurunan
akibat proses degeneratif (penuaan). Sehingga Lansia rentan terkena infeksi penyakit
menular akibat masalah degeneratif menurunkan daya tahan tubuh seperti
Tuberkulosis, Diare, Pneumonia dan Hepatitis. Selain itu penyakit tidak menular
banyak muncul pada usia lanjut diantaranya Hipertensi, Stroke, Diabetes Melitus dan
radang sendi atau Asam Urat. Perubahan tersebut pada umumnya mengaruh pada
kemunduran kesehatan fisik dan psikis yang pada akhirnya akan berpengaruh pada
ekonomi dan sosial Lansia. Sehingga secara umum akan berpengaruh pada activity of
daily living (Kementerian Kesehatan RI, 2013; Sunaryo, 2016).
Penyakit Asam Urat atau dalam dunia medis disebut penyakit Gout Arthritis
adalah penyakit sendi yang yang diakibatkan oleh gangguan metabolisme Purin yang
ditandai dengan tingginya kadar Asam Urat dalam darah. Kadar Asam Urat yang
tinggi dalam darah melebihi batas normal dapat menyebabkan penumpukan Asam
Urat di dalam persendian dan organ tubuh lainnya. Penumpukan Asam Urat ini yang
membuat sendi sakit, nyeri, dan meradang. Apabila kadar Asam Urat dalam darah
terus meningkat menyebabkan penderita penyakit ini tidak bisa berjalan, penumpukan
Kristal Asam Urat berupa Tofi pada sendi dan jaringan sekitarnya, persendian terasa
sangat sakit jika berjalan dan dapat mengalami kerusakan pada sendi bahkan sampai
menimbulkan kecacatan sendi dan mengganggu aktifitas penderitanya (Susanto,
2013).
Menurut Word Health Organization (WHO) pada tahun 2013 sebesar 81%
penderita Gout Arthritis di Indonesia hanya 24% yang pergi ke dokter, sedangkan
71% cenderung langsung mengkonsumsi obat pereda nyeri yang dijual secara bebas.
Sedangkan menurut Riskesdas (2013) menunjukkan bahwa penyakit Gout Arthritis di
Indonesia yang diagnosis tenaga kesehatan sebesar 11.9% dan berdasarkan diagnosis
dan gejala sebesar 24.7%, sedangkan berdasarkan untuk di BPSTW Budhi Luhur
lansia yang mengalami Gout Arthritis sebanyak 20%.
Pada umumnya penderita Gout Arthritis memiliki tanda dan gejala peradangan
pada sendi dan jaringan sekitar yang menyebabkan nyeri hebat pada saat pagi hari.
Menurut Andarmoyo (2013) nyeri adalah pengalaman sensori dan emosi yang tidak
menyenangkan dimana berhubungan dengan kerusakan jaringan yang aktual atau
potensial saat terjadi kerusakan jaringan.
Perawatan Lansia dengan Gout Arthritis perlu dilakukan agar tidak semakin
memburuk serta tidak muncul komplikasi yang sebenarnya masih dapat dicegah. Hasil
wawancara dengan 1 pasien lansia dengan Gout Arthritis yang merupakan pasien
kelolaan mengatakan bahwa Tindakan farmakologis untuk perawatan Gout Arthritis
diantaranya adalah menkonsumsi obat-obatan seperti Allopuriniol yang berguna untuk
menurunkan kadar Asam Urat dan tindakan non farmakologi seperti kompres hangat
untuk meringankan rasa nyeri dan Inflamasi
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka penulis tertarik untuk
melakukan asuhan keperawatan pada lansia yang mengalami hipertensi.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar mampu melakukan asuhan keperawatan pada lansia dengan penyakit Gout
Artritis.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada lansia yang
mengalami Gout Artritis.
b. Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada lansia dengan Gout
Artritis yang mengalami nyeri akut.
c. Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada lansia dengan Gout
Artritis yang mengalami resiko jatuh.
d. Mahasiswa mampu memberikan asuhan keperawatan pada lansia dengan Gout
Artritis yang mengalami kerusakan memori.
C. Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Hasil penulisan ini diharapkan dapat menjadi landasan yang kuat untuk
penulis- penulis berikutnya, khususnya yang menyangkut topik asuhan
keperawatan Gerontik dengan Gout Arthritis.
2. Bagi Petugas Kesehatan
Dengan penulisan karya tulis ilmiah ini, diharapkan dapat menambah bacaan
untuk meningkatkan mutu pelayanan yang lebih baik, khususnya pada Lansia
dengan Gout Arthritis.
3. Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan
Karya tulis ilmiah ini diharapkan dapat memberi kontribusi dalam
pengembangan ilmu keperawatan khususnya dalam bidang keperawatan Gerontik
dalam pemberian asuhan keperawatan pada Lansia dengan Gout Arthritis.
.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Gout Arthritis merupakan salah satu penyakit inflamasi sendi yang paling sering
ditemukan yang ditandai dengan penumpukan Kristal Monosodium Urat di dalam
ataupun di sekitar persendian. Monosodium Urat ini berasal dari metabolisme Purin.
Hal penting yang mempengaruhi penumpukan Kristal Urat adalah Hiperurisemia dan
supersaturasi jaringan tubuh terhadap Asam Urat. Apabila kadar Asam Urat di dalam
darah terus meningkat dan melebihi batas ambang saturasi jaringan tubuh, penyakit
Gout Arthritis ini akan memiliki manifestasi berupa penumpukan Kristal Monosodium
Urat secara Mikroskopis maupun Makroskopis berupa Tofi (Zahara, 2013).
Gout Arthritis adalah penyakit sendi yang diakibatkan oleh tingginya kadar
Asam Urat dalam darah. Kadar Asam Urat yang tinggi dalam darah melebihi batas
normal yang menyebabkan penumpukan Asam Urat di dalam persendian dan organ
lainnya (Susanto, 2013).
Jadi, dari definisi di atas maka Gout Arthritis merupakan penyakit inflamasi
sendi yang diakibatkan oleh tingginya kadar Asam Urat dalam darah, yang ditandai
dengan penumpukan Kristal Monosodium Urat di dalam ataupun di sekitar persendian
berupa Tofi
B. Etiologi
Secara garis besar penyebab terjadinya Gout Arthritis disebabkan oleh faktor
primer dan faktor sekunder, faktor primer 99% nya belum diketahui (Idiopatik).
Namun, diduga berkaitan dengan kombinasi faktor genetik dan faktor hormonal yang
menyebabkan gangguan metabolisme yang dapat mengakibatkan peningkatan
produksi Asam Urat atau bisa juga disebabkan oleh kurangnya pengeluaran Asam
Urat dari tubuh. Faktor sekunder, meliputi peningkatan produksi Asam Urat,
terganggunya proses pembuangan Asam Urat dan kombinasi kedua penyebab tersebut.
Umumnya yang terserang Gout Artritis adalah pria, sedangkan perempuan
persentasenya kecil dan baru muncul setelah Menopause. Gout Artritis lebih umum
terjadi pada laki-laki, terutama yang berusia 40-50 tahun (Susanto, 2013). Menurut
Fitiana (2015) terdapat faktor resiko yang mempengaruhi Gout Arthritis adalah:
1) Usia
Pada umumnya serangan Gout Arthritis yang terjadi pada laki-laki mulai dari usia
pubertas hingga usia 40-69 tahun, sedangkan pada wanita serangan Gout Arthritis
terjadi pada usia lebih tua dari pada laki-laki, biasanya terjadi pada saat
Menopause. Karena wanita memiliki hormon estrogen, hormon inilah yang dapat
membantu proses pengeluaran Asam Urat melalui urin sehingga Asam Urat
didalam darah dapat terkontrol.
2) Jenis kelamin
Laki-laki memiliki kadar Asam Urat yang lebih tinggi dari pada wanita, sebab
wanita memiliki hormon ektrogen.
3) Konsumsi Purin yang berlebih
Konsumsi Purin yang berlebih dapat meningkatkan kadar Asam Urat di dalam
darah, serta mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi Purin.
4) Konsumsi alkohol
5) Obat-obatan
Serum Asam Urat dapat meningkat pula akibat Salisitas dosis rendah (kurang dari
2-3 g/hari) dan sejumlah obat Diuretik, serta Antihipertensi.
C. Klasifikasi
1. Gout Arthritis Akut.
Gout Arthritis banyak ditemukan pada laki-laki setelah usia 30 tahun,
sedangkan pada perempuan terjadi setelah Menopaus. Hal ini disebabkan kadar
Usam Urat laki-laki akan meningkat setelah pubertas, sedangkan pada perempuan
terdapat hormon estrogen yang berkurang setelah Menopaus (Asikin, 2016)
Gout Arthritis Akut biasanya bersifat Monoartikular dan ditemukan pada
sendi MTP ibu jari kaki, pergelangan kaki dan jari tangan. Nyeri sendi hebat yang
terjadi mendadak merupakan ciri khas yang ditemukan pada Gout Arthritis Akut.
Biasanya, sendi yang terkena tampak merah, licin, dan bengkak. Klien juga
menderita demam dan jumlah sel darah putih meningkat. Serangan Akut dapat
diakibatkan oleh tindakan pembedahan, trauma lokal, obat, alkohol dan stres
emosional serangan Gout Arthritis Akut biasanya dapat sembuh sendiri. Sebagian
besar gejala serangan Akut akan berulang setelah 10-14 hari walaupun tanpa
pengobatan (Asikin, 2016).
Perkembangan serangan Gout Arthritis Akut biasanya merupakan
kelanjutan dari suatu rangkaian kejadian. Pertama, biasanya terdapat Supersaturasi
Urat dalam plasma dan cairan tubuh. Hal ini diikuti dengan pengendapan Kristal
Asam Urat. Serangan Gout Artritis yang berulang juga dapat merupakan
kelanjutan trauma lokal atau ruptur Tofi (endapan natrium urat). Kristalisasi dan
endapan Asam Urat merangsang serangan Gout Arthritis. Kristal Asam Urat ini
merangsang respon fagositosis oleh leukosit dan saat leukosit memakan Kristal
Urat tersebut, makarespon mekanisme peradangan lain akan terangsang. Respon
peradangan dipengaruhi oleh letak dan besar endapan Kristal Asam Urat. Reaksi
peradangan yang terjadi merupakan proses yang berkembang dan memperbesar
akibat endapan tambahan Kristal dari serum. Periode tenang antara serangan Gout
Arthritis Akut dikenal dengan nama Gout Interkritikal (Asikin, 2016).
2. Gout Arthritis Kronis.
Serangan Gout Arthritis Akut yang berulang dapat menyebabkan Gout
Arthritis Kronis yang bersifat Poliartikular. Erosi sendi akibat Gout Arthitis
Kronis menyebabkan nyeri kronis, kaku dan Deformitas. Akibat adanya Kristal
Urat, maka terjadi peradangan Kronis. Sendi yang membengkak akibat Gout
Arthritis Kronis seringkali membesar dan membentuk Nodular. Serangan Gout
Arthritis Akut dapat terjadi secara simultan disertai dengan gejala Gout Arthritis
Kronis. Pada Gout Arthritis Kronis sering kali ditemukan Tofi. Tofi merupakan
kumpulan Kristal Urat pada jaringan lunak. Tofi dapat ditemukan di bursa
olecranon, tendon achilles, permukaan ekstensor dari lengan bawah, bursa
infrapatella dan helix telinga (Asikin, 2016).
D. Manifestasi Klinis
Terdapat empat stadium perjalanan klinis Gout Arthritis yang tidak diobati
(Nurarif, 2015) diantaranya:
1. Stadium pertama adalah Hiperurisemia Asimtomatik. Pada stadium ini Asam Urat
serum meningkat dan tanpa gejala selain dari peningkatan Asam Urat serum.
2. Stadium kedua Gout Arthritis Akut terjadi awitan mendadak pembengkakan dan
nyeri yang luar biasa, biasanya pada sendi ibu jari kaki dan sendi
Metatarsofalangeal.
3. Stadium ketiga setelah serangan Gout Arthritis Akut adalah tahap Interkritikal.
Tidak terdapat gejala-gejala pada tahap ini, yang dapat berlangsung dari beberapa
bulan sampai tahun. Kebanyakan orang mengalami serangan Gout Arthritis
berulang dalam waktu kurang dari 1 tahun jika tidak diobati.
4. Stadium keempat adalah tahap Gout Arthritis Kronis, dengan timbunan Asam Urat
yang terus meluas selama beberapa tahun jika pengobatan tidak dimulai.
Peradangan Kronis akibat Kristal-kristal Asam Urat mengakibatkan nyeri, sakit,
dan kaku juga pembesaran dan penonjolan sendi.
E. Patofisiologi
Adanya gangguan metabolisme Purin dalam tubuh, intake bahan yang
mengandung Asam Urat tinggi dan sistem ekskresi Asam Urat yang tidak adekuat
akan mengasilkan akumulasi Asam Urat yang berlebihan di dalam plasma darah
(Hiperurisemia), sehingga mengakibatkan Kristal Asam Urat menumpuk dalam tubuh.
Penimbunan ini menimbulkan iritasi lokal dan menimbulkan respon Inflamasi
(Sudoyo, dkk, 2009).
Banyak faktor yang berperan dalam mekanisme serangan Gout Arthritis. Salah
satunya yang telah diketahui peranannya adalah kosentrasi Asam Urat dalam darah.
Mekanisme serangan Gout Arthritis Akut berlangsung melalui beberapa fase secara
berurutan yaitu, terjadinya Presipitasi Kristal Monosodium Urat dapat terjadi di
jaringan bila kosentrasi dalam plasma lebih dari 9 mg/dl. Presipitasi ini terjadi di
rawan, sonovium, jaringan para-artikuler misalnya bursa, tendon, dan selaputnya.
Kristal Urat yang bermuatan negatif akan dibungkus oleh berbagai macam protein.
Pembungkusan dengan IgG akan merangsang netrofil untuk berespon terhadap
pembentukan kristal. Pembentukan kristal menghasilkan faktor kemotaksis yang
menimbulkan respon leukosit PMN dan selanjutnya akan terjadi Fagositosis Kristal
oleh leukosit (Nurarif, 2015).
Kristal difagositosis olah leukosit membentuk Fagolisosom dan akhirnya
membran vakuala disekeliling oleh kristal dan membram leukositik lisosom yang
dapat menyebabkan kerusakan lisosom, sesudah selaput protein dirusak, terjadi ikatan
hidrogen antara permukaan Kristal membram lisosom. Peristiwa ini menyebabkan
robekan membran dan pelepasan enzim-enzim dan oksidase radikal kedalam
sitoplasma yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan. Setelah terjadi kerusakan sel,
enzim-enzim lisosom dilepaskan kedalam cairan sinovial, yang menyebabkan
kenaikan intensitas inflamasi dan kerusakan jaringan (Nurarif, 2015).
Saat Asam Urat menjadi bertumpuk dalam darah dan cairan tubuh lain, maka
Asam Urat tersebut akan mengkristal dan akan membentuk garam-garam urat yang
akan berakumulasi atau menumpuk di jaringan konektif di seluruh tubuh, penumpukan
ini disebut Tofi. Adanya Kristal akan memicu respon inflamasi akut dan netrofil
melepaskan lisosomnya. Lisosom ini tidak hanya merusak jaringan tetapi juga
menyebabkan inflamasi. Serangan Gout Arthritis Akut awalnya biasanya sangat sakit
dan cepat memuncak. Serangan ini meliputi hanya satu tulang sendi. Serangan
pertama ini timbul rasa nyeri berat yang menyebabkan tulang sendi terasa panas dan
merah. Tulang sendi Metatarsophalangeal biasanya yang paling pertama terinflamasi,
kemudian mata kaki, tumit, lutut dan tulang sendi pinggang. Kadang-kadang gejala
yang dirasakan disertai dengan demam ringan. Biasanya berlangsung cepat tetapi
cenderung berulang (Sudoyo, dkk, 2009).
Periode Interkritikal adalah periode dimana tidak ada gejala selama serangan
Gout Arthritis. Kebanyakan penderita mengalami serangan kedua pada bulan ke-6
sampai 2 tahun setelah serangan pertama. Serangan berikutnya disebut dengan
Poliartikular yang tanpa kecuali menyerang tulang sendi kaki maupun lengan yang
biasanya disertai dengan demam. Tahap akhir serangan Gout Arthritis Akut atau Gout
Arthritis Kronik ditandai dengan Polyarthritis yang berlangsung sakit dengan Tofi
yang besar pada kartigo, membrane sinovial, tendon dan jaringan halus. Tofi terbentuk
di jari tangan, kaki, lutut, ulna, helices pada telinga, tendon achiles dan organ internal
seperti ginjal (Sudoyo, dkk, 2009).
F. Pathway
Bagan 2.1 Pathway Gout Arthritis

Sumber : (Nurarif, 2015).


G. Komplikasi
a. Erosi, deformitas dan ketidakmampuan aktivitas karena inflamasi kronis dan tofi
yang menyebabkan degenerasi sendi.
b. Hipertensi dan albuminuria.
c. Kerusakan tubuler ginjal yang menyebabkan gagal ginjal kronik.
H. Penatalaksanaan
Menurut Nurarif (2015) Penanganan Gout Arthritis biasanya dibagi menjadi
penanganan serangan Akut dan penanganan serangan Kronis. Ada 3 tahapan dalam
terapi penyakit ini :
1. Mengatasi serangan Gout Arthtitis Akut.
2. Mengurangi kadar Asam Urat untuk mencegah penimbunan Kristal Urat pada
jaringan, terutama persendian.
3. Terapi mencegah menggunakan terapi Hipourisemik.
a. Terapi farmakologi
Penanganan Gout Arthritis dibagi menjadi penanganan serangan akut dan
penanganan serangan kronis diantranya :
1) Serangan Akut
Istirahat dan terapi cepat dengan pemberian NSAID, misalnya
Indometasin 200 mg/hari atau Diklofenak 150 mg/hari, merupakan terapi
lini pertama dalam menangani serangan Gout Arthritis Akut, asalkan tidak
ada kontra indikasi terhadap NSAID. Aspirin harus dihindari karena
eksresi Aspirin berkompetisi dengan Asam Urat dan dapat memperparah
serangan Gout Arthritis Akut. Keputusan memilih NSAID atau Kolkisin
tergantung pada keadaan klien, misalnya adanya penyakit penyerta lain
atau Komorbid, obat lain juga diberikan klien pada saat yang sama dan
fungsi ginjal.
Obat yang menurunkan kadar Asam Urat serum (Allopurinol dan
obat Urikosurik seperti Probenesid dan Sulfinpirazon) tidak boleh
digunakan pada serangan Akut (Nurarif, 2015). Obat yang diberikan pada
serangan Akut antara lain:
a) NSAID, NSAID merupakan terapi lini pertama yang efektif untuk klien
yang mengalami serangan Gout Arthritis Akut. Hal terpenting yang
menentukan keberhasilan terapi bukanlah pada NSAID yang dipilih
melainkan pada seberapa cepat terapi NSAID mulai diberikan. NSAID
harus diberikan dengan dosis sepenuhnya (full dose) pada 24-48 jam
pertama atau sampai rasa nyeri hilang. Indometasin banyak diresepkan
untuk serangan Akut Gout Arthritis, dengan dosis awal 75-100 mg/hari.
Dosis ini kemudian diturunkan setelah 5 hari bersamaan dengan
meredanya gejala serangan Akut. Efek samping Indometasin antara lain
pusing dan gangguan saluran cerna, efek ini akan sembuh pada saat
dosis obat diturunkan. NSAID lain yang umum digunakan untuk
mengatasi Gout Arthritis Akut adalah :
a. Naproxen – awal 750 mg, kemudian 250 mg 3 kali/hari.
b. Piroxicam – awal 40 mg, kemudian 10-20 mg/hari.
c. Diclofenac – awal 100 mg, kemudian 50 mg 3 kali/hari selama
48 jam. Kemudian 50 mg dua kali/ hari selama 8 hari.
b) COX-2 Inhibitor: Etoricoxib merupakan satu-satunya COX-2 Inhibitor
yang dilisensikan untuk mengatasi serangan Gout Arthritis Akut. Obat
ini efektif tapi cukup mahal, dan bermanfaat terutama untuk klien yang
tidak tahan terhadap efek Gastrointestinal NSAID Non-Selektif. COX-
2 Inhibitor mempunyai resiko efek samping Gastrointesinal bagian atas
yang lebih rendah dibanding NSAID non selektif.
c) Colchicine, Colchicine merupakan terapi spesifik dan efektif untuk
serangan Gout Arthritis Akut. Namun dibanding NSAID kurang
populer karena awal kerjanya (onset) lebih lambat dan efek samping
lebih sering dijumpai.
d) Steroid, strategi alternatif selain NSAID dan Kolkisin adalah pemberian
Steroid Intra-Articular. Cara ini dapat meredakan serangan dengan
cepat ketika hanya 1 atau 2 sendi yang terkena namun, harus
dipertimbangkan dengan cermat diferensial diagnosis antara Gout
Arthritis Sepsis dan Gout Arthritis Akut karena pemberian Steroid
Intra-Articular akan memperburuk infeksi.
2) Serangan Kronis
Kontrol jangka panjang Hiperurisemia merupakan faktor penting untuk
mencegah terjadinya serangan Gout Arthritis Akut, Gout Tophaceous
Kronis, keterlibatan ginjal dan pembentukan batu Asam Urat. Kapan mulai
diberikan obat penurun kadar Asam Urat masih kontroversi. Penggunaan
Allopurinol, Urikourik dan Feboxostat (sedang dalam pengembangan)
untuk terapi Gout Arthritis Kronis akan dijelaskan berikut ini:
a) Allopurinol; Obat Hipourisemik, pilihan untuk Gout Arthritis Kronis
adalah Allopurinol. Selain mengontrol gejala, obat ini juga melindungi
fungsi ginjal. Allopurinol menurunkan produksi Asam Urat dengan
cara menghambat Enzim Xantin Oksidase. Dosis pada klien dengan
fungsi ginjal normal dosis awalAllopurinol tidak boleh melebihi 300
mg/24 jam. Respon terhadap Allopurinol dapat terlihat sebagai
penurunan kadar Asam Urat dalam serum pada 2 hari setelah terapi
dimulai dan maksimum setelah 7-10 hari. Kadar Asam Urat dalam
serum harus dicek setelah 2-3 minggu penggunaan Allopurinol untuk
meyakinkan turunnya kadar Asam Urat.
b) Obat Urikosurik; kebanyakan klien dengan Hiperurisemia yang sedikit
mengekskresikan Asam Urat dapat diterapi dengan obat Urikosurik.
Urikosurik seperti Probenesid (500mg-1 g 2x/hari) dan Sulfinpirazon
(100mg 3-4 kali/hari) merupakan alternative Allopurinol. Urikosurik
harus dihindari pada klien Nefropati Urat yang memproduksi Asam
Urat berlebihan. Obat ini tidak efektif pada klien dengan fungsi ginjal
yang buruk (Klirens Kreatinin <20-30 ml/menit). Sekitar 5% klien yang
menggunakan Probenesid jangka lama mengalami mual, nyeri ulu hati,
kembung atau konstipasi (Nurarif, 2015).
b. Terapi non-Farmakologi
Terapi non-farmakologi merupakan strategi esensial dalam penanganan Gout
Arthritis, seperti istirahat yang cukup, menggunakan kompres hangat,
modifikasi diet, mengurangi asupan alkohol dan menurunkan berat badan.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN. R DENGAN MASALAH GOUT ARTRITIS
DI TRISIGAN DK I NGENTAK MURTIGADING SANDEN BANTUL

1. IDENTITAS
Nama: Tn. R Jenis Kelamin: Laki-laki
Umur: 80 tahun Suku: Jawa
Alamat: Minggir, Sleman, Yogyakarta Agama: Islam
Pendidikan: SLTA Status Perkawinan: Cerai Mati
Tanggal Pengkajian: 12/04/20

2. STATUS KESEHATAN SAAT INI


Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 12/04/2020, keluhan yang dirasakan oleh lansia
saat ini: Tn. R mengatakan sakit pada bagian tangan. Tn. R mengatakan rutin minum obat
Dclofenac Sodium untuk asam uratnya.
P : asam urat
Q : nyut-nyutan, kaku kaku seperti ditusuk-tusuk
R : kedua jari jari tangan
S : skala 6
T : sering
3. RIWAYAT KESEHATAN DAHULU
Tn. R mengatakan mempunyai riwayat penyakit jantung koroner sejak tahun 2016 dan Tn.
R sejak dulu mengatakan memiliki riwayat penyakit hipertensi, maag dan mengatakan
mempunyai penyakit asam urat sudah dirasakan selama ± 6 tahun. Kebiasaan sejak dulu
Tn. R merokok dan suka minum kopi dan pola makan yang tidak baik. Tn. R mengatakan
memiliki riwayat alergi makanan ikan tongkol yang membuat badan menjadi gatal gatal
seluruh tubuh.
4. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Tn. R mengatakan bahwa keluarganya juga tidak memiliki riwayat penyakit yang serius.
5. TINJAUAN SISTEM
a. Keadaan umum
Composmentis (E4V5M6)
b. Integumen
Kulit terlihat keriput, warna kulit sawo matang, agak kering, keadaan turgor kulit
lambat tidak elastis.

c. Sistem hemopietik
Tidak ada perdarahan di hidung, mulut, tidak ada tanda lebam.
d. Kepala
Bentuk lonjong, terdapat rambut pada bagian kepala dengan distribusi tidak merata
dan sudah terdapat uban serta tidak ada benjolan
e. Mata
Simetris, penglihatan bagus, sklera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis
f. Telinga
Simetris, tampak bersih, pendengaran masih bagus, tidak ada benjolan, tidak ada
cairan yang keluar.
g. Mulut dan tenggorokan
Membran mukosa lembab, gigi berwarna kuning, tidak bau mulut, tidak ada kesulitan
menelan dan mengunyah
h. Leher
Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan tidak ada pembesaran kelenjar limfe
i. Dada dan tulang belakang
Simetris, tidak ada pembengkakan dan mengalami kifosis
j. Ekstremitas atas
Simetris kanan dan kiri, tidak ada edema, tidak ada luka, kuku panjang berwarna
kuning dan kotor.
k. Ekstremitas bawah
Simetris kanan dan kiri, tidak ada edema, tidak ada luka, kuku panjang berwarna
kuning dan kotor.
l. Sistem pernafasan
Pernafasan normal RR: 18 x/menit, irama nafas teratur, tidak ada retraksi dinding dada
dan tidak ada pernafasan cuping hidung
m. Sistem kardiovaskuler
TD : 140/90 mmHg
n. Sistem gastroentestinal
Tidak ada gangguan, terdengar bising usus, makan 3x sehari dengan porsi banyak,
BAB 1x sehari
o. Sistem perkemihan
BAK lancer, tidak ada nyeri saat BAK, warna urin kuning dan tidak mengompol

p. Sistem reproduksi
Tidak ada gangguan reproduksi
q. Sistem muskuluskeletal
Tidak ada lesi, tidak tremor dan tonus otot baik
Kekuatan otot
5 5
5 5
r. Sistem syaraf pusat
 Nerve I
Tidak terdapat gangguan pada indera penciuman
 Nerve II
Ketajaman penglihatan sudah berkurang
 Nerve III
Pergerakan bola mata dapat mengikuti arah benda bergerak didepan mata Tn. R
 Nerve IV
Tn. R mampu menggerakkan bola mata mengikuti gerakan jari dengan jarak ± 45
cm ke atas dan kebawah, kemudian ke kanan dan ke kiri kedua matanya secara
bergantian dengan menutup satu sisi mata tanpa ada bayangan ganda.
 Nerve V
Pada wajah saat digoreskan dengan kapas Tn. R mampu merasakan goresan
dengan kapas
 Nerve VI
Tn. R dapat menggerakkan bola mata keluar, tidak terdapat gangguan pada nervus
VI.
 Nerve VII
Gerakan otot wajah baik dan membedakan manis dan asin
 Nerve VIII
Tn. R dapat mendengarkan dengan baik
 Nerve IX
Tn. R tidak kesulitan menelan
 Nerve X
Tn. R tidak kesulitan saat bicara

 Nerve XI
Tn. R mampu menggerakkan tangan dan kaki
 Nerve XII
Tn. R dapat menjulurkan lidah dengan baik
s. Sistem endokrin
Tidak ada keluhan dan tidak ada riwayat penyakit metabolik seperti DM
t. Sistem pengkajian inkontinensia urine akut sebagai berikut
Tn. R mengatakan tidak pernah mengompol, Tn. R bisa menahan dan mengatur pola
eliminasi BAK.
6. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL DAN SPRITUAL
a. PSIKOSOSIAL
Tn. R mudah bersosialisasi dengan tetangga. Sikap Tn. R pada orang lain ramah dan
saling menyapa.
b. IDENTIFIKASI MASALAH EMOSIONAL
 Tn. R mengatakan mengalami sukar tidur
 Tn. R mengatakan tidak pernah merasakan gelisah.
 Tn. R mengatakan tidak memiliki masalah yang mengganggu pikiran.
 Tn. R merasa was-was atau khawatir.
Masalah emosional negatif (-)
c. SPIRITUAL
Agama yang dianut oleh Tn. R yaitu Islam. Tn. R mengatakan rajin melakukan ibadah
seperti sholat.
7. PENGKAJIAN FUNGSIONAL KLIEN
a. KATZ Indek
Tn. R termasuk dalam kategori R dengan mandiri pada 6 aktivitas. Mandiri dalam
makan, kontinensia (BAB, BAK), menggunakan pakaian, pergi ke toilet, berpindah
dan mandi. Sehingga dapat dikatakan pemenuhan ADL nya dilakukan secara mandiri.
b. Modifikasi dari bartel indeks
No. Kriteria Dengan Bantuan Mandiri Keterangan
1. Makan 10 Frekuensi: 3x sehari
Jumlah: secukupnya
Jenis:nasi, sayur dan lauk
2. Minum 10 Frekuensi: 3 gelas sehari
Jumlah: secangkir kecil
Jenis: air putih, susu dan teh
3. Berpindah dari 15 Mandiri
kursi roda
ketempat tidur,
sebaliknya.
4. Personal toilet 10 Frekuensi: 1x sehari
(cuci muka, Mandiri
menyisir
rambut, gosok
gigi)
5. Keluar masuk 15 1-2 kali sehari
toilet (mencuci Mandiri
pakaian,
menyeka tubuh,
menyiram)
6. Mandi 15 1-2 kali sehari
7. Jalan 5 Setiap ingin melakukan sesuatu
dipermukaan misal: mengambil minum atau
datar kekamar mandi tetapi harus
pelan-pelan
8. Naik turun 10 Baik
tangga Mandiri
9. Mengenakan 10 Mandiri dan rapi
pakaian
10. Kontrol bowel 10 Frekuensi: 1x sehari
(BAB) Jenis: Padat
11. Kontrol bladder 10 Frekuensi: 1x sehari
(BAK) Warna: Kuning

12. Olah 5 Frekuensi: 2 kali dalam


raga/latihan seminggu
Jenis: Klien mengatakan
mengikuti senam Lansia
13. Rekreasi/ 10 Jenis: Waktu luang yang
pemanfaatan digunakan yaitu tiduran
luang Frekuensi: 1x sehari
Setelah dikaji Tn. R didapatkan skor 135 yang termasuk dalam kategori mandiri
8. PENGKAJIAN STATUS MENTAL GERONTIK
a. Identifikasi tingkat kerusakan intelektual dengan menggunakan Short Portable Status
Mental Questioner (SPSMQ)
Tabel 1.1 Pengkajian Short Portable Status Mental Questioner (SPSMQ)
Tn. R
No Pertanyaan
Benar Salah
√ 1. Tanggal berapa hari ini ?
√ 2. Hari apa sekarang ini ?
√ 3. Apa nama tempat ini ?
√ 4. Dimana alamat anda ?
√ 5. Berapa umur anda ?
√ 6. Kapan anda lahir (minimal tahun terakhir) ?
√ 7. Siapa presiden Indonesia sekarang ?
√ 8. Siapa Presiden Indonesia sebelumnya ?
√ 9. Siapa nama ibu anda ?
√ 10 Kurangi 3 dari 20, dan seterusnya dikurangi 3
10 0 Jumlah

Interpretasi hasil:
a. Salah 0-3 : fungsi intelektual utuh
b. Salah 4-5 : kerusakan intelektual ringan
c. Salah 6-8 : kerusakan intelektual sedang
d. Salah 9-10 : kerusakan intelektual berat
Kesimpulan:
Skor yang didapatkan dari hasil pengkajian Tn. R dari hasil skor salah 0 termasuk
dalam kategori “fungsi intelektual utuh”.
b. Identifikasi Aspek Kognitif Dari Fungsi Mental dengan Menggunakan MMSE (Mini
Mental Status Exam)
Tabel 1.2 Pengkajian MMSE (Mini Mental Status Exam)
No Aspek Nilai Nilai Kriteria
Kognitif Maksimal Tn. R
1 Orientasi 5 5 Menyebutkan dengan benar:
Tahun: 2020
Musim: hujan
Tanggal: 12
Hari: Minggu
Bulan: April
2 Orientasi 5 5 Dimana kita sekarang?
Negara: Indonesia
Provinsi: DIY
Kota : Bantul
Di: Rumah
3 Registrasi 3 3 Sebutkan 3 obyek (oleh pemeriksa) 1
detik untuk mengatakan masing-masing
obyek. Misalnya: kertas, bantal dan
bolpoint
Tn. R mampu menyebutkan secara
keseluruhan 3 objek yang dikatakan
perawat.
4 Perhatian 5 5 Minta klien untuk memulai dari angka
dan 100 kemudian dikurangi 7 sampai 5
kalkulasi kali/tingkat.
(93, 93, 93, 93, 93)
Tn. R dapat menghitung dengan benar.
5 Mengingat 3 3 Minta klien untuk mengulangi ketiga
obyek pada no 3 (registrasi) tadi.
Tn. R mampu mengulang 2 obyek yang
disebutkan
6 Bahasa 9 7 Tunjukan pada klien suatu benda dan
tanyakan nama klien:
a. Misal jam tangan
b. Misal pensil
c. Minta klien mengulang kata berikut:
“Tak ada jika, dan atau tetapi” Bila
benar nilai satu point.
d. Pertanyaan benar 2 buah : “tak ada
tetapi”. Minta klien untuk mengikuti
perintah berikut terdiri dari 3 langkah
:”ambil kertas ditangan anda, lipat
dua dan taruh di lantai”.
e. Ambil kertas ditangan anda
f. Lipat dua
g. Taruh di lantai
Perintahkan pada klien untuk hal
berikut (bila aktivitas sesuai perintah
nilai 1 point).
h. “Tutup mata anda”
Perintahkan pada klien untuk menulis
satu kalimat dan menyalin gambar
i. Tulis satu kalimat
j. Menyalin gambar

Tn. R bisa menyebutkan tiga benda


yang ditunjuk pemeriksa. Selain itu Tn.
A bisa mengambil kertas, melipat jadi
dua, dan menaruh dibawah sesuai
perintah.
Total Nilai 28
Interprestasi hasil:
>23: aspek kognitif dari fungsi mental baik
≤23: terdapat kerusakan aspek fungsi mental
Kesimpulan: Interprestasi hasil Tn. R yaitu 1 sehingga terdapat “aspek
kognitif dari fungsi mental baik”
9. PENGKAJIAN DEPRESI GERIATRIK (YESAVAGE)
Tabel 1.3 Pengkajian Depresi Geriatrik
Klien Tn. R
No Pertanyaan Jawaban Skor
Ya/Tidak
1. Apakah Pada dasarnya anda puas dengan kehidupan Ya 0
anda?
2. Apakah anda banyak meninggalkan banyak kegiatan atau Ya 1
minat dan kesenangan anda?
3. Apakah anda merasa bahwa hidup ini kosong belaka? Tidak 0
4. Apakah anda merasa sering bosan? Tidak 0
5. Apakah anda memiliki semangat baik setiap saat? Ya 0
6. Apakah anda takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Ya 1
anda?
7. Apakah anda merasa bahagia di sebagian besar hidup Ya 0
anda?
8. Apakah anda merasa sering tidak berdaya? Tidak 0
9. Apakah anda lebih senang tinggal dirumah daripada pergi Ya 1
keluar dan mengerjakan sesuatu yang baru?
10. Apakah anda merasa memiliki banyak masalah dengan Ya 1
daya ingat anda dibandingan dengan kebanyakan orang?
11. Apakah anda fikir bahwa hidup anda sekarang ini Ya 0
menyenangkan?
12. Apakah anda merasa berharga? Ya 1
13. Apakah anda merasa penuh semangat? Ya 0
14. Apakah anda merasa bahwa keadaan anda tidak ada Tidak 0
harapan?
15. Apakah anda fikir orang lain lebih baik keadaanya dari Tidak 0
pada anda ?
Jumlah 5
Penilaian: Nilai 1 jika menjawab sesuai kunci berikut:

Tabel 1.4 Penilaian Pengkajian Depresi Geriatrik


1. Tidak 9. Ya
2. Ya 10. Ya
3. Ya 11. Tidak
4. Ya 12. Ya
5. Tidak 13. Tidak
6. Ya 14. Ya
7. Tidak 15. Ya
8. Ya

Skor 5–9 : Kemungkinan depresi


Skor 10 atau lebih : Depresi
Kesimpulan : Skor yang didapatkan dari hasil pengkajian pada Tn. R yaitu 5
sehingga dapat disimpulkan Tn. R “kemungkinan depresi”.
10. PENGKAJIAN SKALA RESIKO DEKUBITUS
Pengkajian Resiko Jatuh menurut Braden:
Tabel 1.5 Pengkajian Skala Resiko Dekubitus

Tn. R
1 2 3 4
Presespsi Terbatas penuh Sangat terbatas Agak terbatas Tidak
sensori terbatas
Kelembaban Lembab konstan Sangat lembab Kadang Jarang
lembab lembab
Aktifitas Di tempat tidur Di kursi Kadang jalan Jalan keluar
Mobilisasi Imobil penuh Sangat Kadang Tidak
Terbatas terbatas terbatas
Nutrisi Sangat jelek Tidak adekuat Adekuat Sempurna
Gerakan Masalah Masalah resiko Tidak ada Sempurna
/cubitan masalah
Total skor : 22 Kesimpulan: Dari hasil skoring total = 22, dapat dikatakan bahwa
Tn. R tidak memiliki resiko terkena dekubitus.
Keterangan:
Pasien dengan total nilai:
a. <16 mempunyai resiko terkena dekubitus
b. 15/16 resiko rendah
c. 13/14 resiko sedang
d. <13 resiko tinggi
Kesimpulan: Dari hasil skoring total = 22, dapat dikatakan bahwa Tn. R tidak
memiliki resiko terkena decubitus.
11. PENGKAJIAN RESIKO JATUH
a. The Time Up and Go (TUG Test)
Saat dilakukan pengkajian resiko jatuh menggunakan TUG Test: Tn. R mampu berdiri
dari kursi, berjalan 10 langkah ke depan, kembali ke kursi semula, mengangkat 1 kaki
setinggi langkah dan kembali duduk di kursi dalam kurun waktu >30 detik. Sehingga,
dapat disimpulkan bahwa Tn. R mengalami “gangguan mobilitas”.
b. Morse Fall Scale
Faktor Skala Point Skor Pasien
Riwayat Jatuh Ya 25 25
Tidak 0
Diagnosa Medis Ya 15 15
≥ diagnosa medis Tidak 0
Alat Bantu Perabot 30 0
Tongkat, Kruk, Walker 15
Tidak ada atau Kursi Roda 0
Perawat/Tirah Baring
Terpasang Infus Ya 20 0
Tidak 0
Gaya Berjalan Terganggu 20
Lemah 10 10
Normal/Tirah 0
Baring/Imobilisasi
Status Mental Sering lupa respon tidak 15 0
sesuai perintah
Orientasi baik terhadap 0
diri sendiri
Nilai Total 50
Keterangan:
Resiko tinggi : >45
Resiko sedang : 25-44
Resiko rendah : 0-24
Kesimpulan: Setelah dilakukn morse fall scale Tn. R didapatkan hasil 50 yaitu dapat
disimpulkan bahwa Tn. R memiliki “resiko jatuh tinggi”.
ANALISIS DATA
No. Data Fokus Masalah Keperawatan
1. DS: Nyeri Akut
- Tn. R mengatakan nyeri pada pagi hari pada
persendian lutut sakit dan pada kedua
tangan.
- Tn. R mengatakan rutin minum obat Dclofenac
Sodium untuk asam uratnya
- P : asam urat
- Q : nyut-nyutan, kaku kaku seperti ditusuk-tusuk
- R : kedua jari jari tangan dan lutut
- S : skala 6
- T : hilang timbul
DO:
- Tn. R tampak lemas
- TTV :
TD 160/80 mmHg
RR 18x/menit
2. Ds: Gangguan Pola
- Klien mengatakan daerah persendian nyeri pada Tidur
malam hari.
- Klien mengatakan susah tidur akibat nyeri.
- Klien mengatakan kepala pusing.
- Klien mengatakan tidur hanya sekitar 4 jam.
Do:
- Klien tampak mengantuk
- Kantung mata klien terlihat menghitam
3. DS: Risiko Jatuh
- Klien mengatakan pernah jatuh
- Klien mengatakan kalau berjalan bisanya pelan-
pelan
DO:
- Klien terlihat pelan-pelan saat berjalan
- Hasil TUG Test didapatkan bahwa Tn. R
mengalami “gangguan mobilitas”.
- Hasil Morse Fall Scale didapatkan Tn. R memiliki
“resiko jatuh tinggi”.
PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b.d agen cedera biologis
2. Gangguan pola tidur b.d kurang kontrol tidur
3. Risiko jatuh pada Tn. R
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA INTERVENSI
KEPERAWATAN NOC NIC
1. Nyeri akut b.d agen cedera Pain Level Pain Management (1400)
biologis Setelah dilakukan tindakan asuhan 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
keperawatan selama 2 x pertemuan, nyeri termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
dapat berkurang dengan kriteria hasil: kualitas dan faktor presipitasi
a. Melaporkan bahwa nyeri berkurang (skala 3) 2. Ajarkan tentang teknik non farmakologi (terapi
b. Menyatakan rasa nyaman (skala 3) relaksasi otot progresif, terapi nafas dalam)
c. Tanda vital dalam rentang normal (skala 3) 3. Motivasi klien dalam meningkatkan istirahat
2. Gangguan pola tidur b.d Anxiety reduction Lomfort level Sleep Sleep Enhancement
kurang kontrol tidur extent and pattern
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat
selama 2 x pertemuan Tn. R tidak mengalami 2. Fasilitas untuk mempertahankan aktivitas sebelum
gangguan pola tidur, dengan kriteria: tidur (membaca)
a. Jumlah jam tidur dalam rentang batas 3. Ciptakan lingkungan yang nyaman
normal 6-8 jam/hari 4. Diskusikan dengan pasien tentang teknik tidur
b. Pola tidur, kualitas dalam rentang normal 5. Instruksikan untuk memonitor tidur pasien
c. Perasan segar sesudah atau istrahat 6. Monitor waktu makan dan minum dengan waktu
d. Mampu mengidentivikasikan hal-hal yang tidur
meningkatkan pola tidur
3 Risiko jatuh pada Tn. R Falls Occurrence Environmental Management: Safety (6486)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Ciptakan lingkungan yang aman untuk pasien
selama 2 x pertemuan Tn. R dapat menurunkan 2. Identifikasi kebutuhan keamanan pasien,
risiko jatuh dengan kriteria hasil: 3. Jauhkan objek berbahaya dari lingkunga
a. Tidak terjatuh saat berdiri (3-4) 4. Manipulasi pencahayaan untuk keuntungan
b. Tidak terjatuh saat berjalan (3-4) terapeutik
c. Tidak terjatuh dari tempat tidur (3-4) 5. Monitor/awasi Ny. S selama shift secara periodic
d. Tidak terjatuh di kamar mandi (3-4) 6. Beri penjelasan tentang pencegahan jatuh kepada
pasien dan keluarga
7. Libatkan keluarga untuk mengawasi pasien
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN

Diagnosa Hari/Tgl IMPLEMENTASI EVALUASI


Keperawatan
Nyeri akut b.d Senin, 13 April Pukul 10.00 WIB Pukul 13.00 WIB
agen cedera 2020 1. Melakukan pengkajian nyeri secara S:
biologis komprehensif termasuk lokasi, - Tn. R mengatakan lebih nyaman setelah melakukan
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas relaksasi otot progresif
dan faktor presipitasi - Tn. R mengatakan masih nyeri
2. Mengajarkan tentang teknik non - Pengkajian PQRST
farmakologi (terapi relaksasi otot P : asam urat
progresif, terapi nafas dalam) Q : seperti ditusuk-tusuk
3. Memotivasi klien dalam meningkatkan R : dibagian persendian lutut dan tangan
istirahat S:6
4. Memberikan obat Dclofenac Sodium T : hilang timbul
untuk asam uratnya O:
5. Memonitor TTV - KU: composmentis
- Tn. R tampak lebih rileks setelah dilakukan relaksasi otot
progresif
- Tn. R mampu melakukan langkah-langkah terapi relaksasi
otot progresif
- TD : 130/90 mmHg
- N : 80 x/menit
- RR : 20 x/menit
A: Masalah nyeri akut belum teratasi
P:
- Kaji nyeri klien
- Berikan ulang terapi relaksasi otot progresif
- Monitor vital sign

Hanif Prasetyaningtyas
Rabu, 15 April Pukul 14.00 WIB Pukul: 15.00 WIB
2020 1. Mengajarkan tentang teknik non S:
farmakologi (terapi relaksasi otot - Tn. R mengatakan lutut lebih enak
progresif, terapi nafas dalam) - Pengkajian PQRST
2. Memberikan obat Dclofenac Sodium P : asam urat
untuk asam uratnya Q : seperti ditusuk-tusuk
3. Memonitor TTV R : dibagian persendian lutut dan tangan
S:6
T : hilang timbul
O:
- KU: composmentis
- Tn. R tampak lebih rileks dan kooperatif
- Tn. R mampu melakukan langkah-langkah terapi relaksasi
otot progresif
- TD : 120/90 mmHg
- N : 88 x/menit
- RR : 20 x/menit
A: Masalah nyeri akut teratasi sebagian
P:
- Kaji nyeri klien
- Monitor vital sign

Hanif Prasetyaningtyas
Gangguan pola Jum’at, 17 Pukul 10.00 WIB Pukul 11.00 WIB
tidur b.d kurang April 2020 1. Memonitor kebutuhan tidur S :
kontrol tidur pasien - Klien mengatakan tidurnya hanya sekitar 4 jam karena
2. Memonitor TTV nyeri sering timbul pada malam hari.
3. Menciptakan lingkungan yang O :
nyaman - Mata klien terlihat sayu.
4. Menjelaskan pentingnya tidur - Terdapat lingkarang hitam pada daerah mata.
yang adekuat A : Masalah gangguan pola tidur belum teratasi.
P:
1. Identifikasi pola aktivitas dan tidur.
2. Identifikasi faktor pengganggu tidur.
3. Jelaskan pentingnya tidur yang cukup.
4. Fasilitasi menghilangkan stres sebelum tidur.
5. Modifikasi lingkungan
6. Kaloborasi pemberian obat tidur, jika perlu

Hanif Prasetyaningtyas
Sabtu, 18 April Pukul 11.00 WIB Pukul 12.00
2020 1. Mengakaji pola tidur pasien S:
2. Menganjurkan pasien untuk tidur siang - Klien mengatakan akan tidur siang untuk memenuhi
guna memenuhi kebutuhan tidur kebutuhan tidurnya
- Klien mengatakan susah untuk memulai tidur malam
- Klien mengatakan sudah mengerti tentang pentingnya pola
tidur yang cukup
O:
- Pola tidur klien kurang/baik
A : Masalah gangguan pola tidur teratasi sebagian
P:
- Monitor pola tidur pasien
- Motivasi untuk tidur siang

Hanif Prasetyaningtyas
Risiko jatuh Senin, 20 April Pukul 14.00 WIB Pukul : 10.15
pada Tn. R 2020 1. Mengkaji risiko jatuh S:
2. Mengidentifikasi faktor yang dapat - Klien mengatakan saat berjalan berpegangan pada tembok
menyebabkan resiko jatuh agar tidak jatuh
3. Mempertahankan keadaan lingkungan - Klien mengatakan penglihatannya sudah berkurang
yang aman pada rumah klien untuk sehingga jalan harus hati-hati
mencegah terjadinya jatuh - Klien sudah mengerti cara meminimalisir jatuh
O:
- Kondisi rumah klien sempit dan banyak barang-barang
A : Masalah risiko jatuh belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
- Monitor keadaan lingkungan rumh klien untuk mencegah
terjadinya jatuh

Hanif Prasetyaningtyas
Selasa, 21 April Pukul 10.00 WIB Pukul : 10.30 WIB
2020 1. Memonitor keadaan lingkungan rumah S:
klien untuk mencegah terjadinya jatuh - Klien mengatakan mengerti terkait pencegahan jatuh
2. Menciptakan lingkungan cukup cahaya O:
- Klien telah meminta tolong pada anaknya untuk
menjauhkan obyek berbahaya yang dapat menimbulkan
jatuh
A : Masalah risiko jatuh teratasi sebagian
P:
- Monitor keadaan lingkungan rumah klien untuk mencegah
terjadinya jatuh
- Motivasi keluarga untuk meminimalisir risiko jatuh klien
dengan menciptakan lingkungan yang aman

Hanif Prasetyaningtyas
DAFTAR PUSTAKA

Sutanto. 2010. Cekal (Cegah Dan Tangkal) Penyakit Modern. Yogyakarta: C.V Andi Offset

Suparto. 2010. Faktor Risiko yang Paling Berperan terhadap Hipertensi pada Masyarakat di


Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar Tahun 2010. Surakarta: Tesis
Universitas Sebelas Maret.

Kaplan N, M. 2010. Primary Hypertension: Patogenesis, Kaplan Clinical Hypertension. 10th


Edition: Lippincot Williams & Wilkins, USA.

Huda Nurarif & Kusuma H,. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis & NANDA NIC-NOC. Edisi Revisi Jilid 2. Jogja: Medi Action.

RI, KK. Pusat Data dan Informasi (Hipertensi)., hlm 3. dari


http://www.depkes.go.id/folder/view/01/structure-publikasi-pusdatin-info-
datin.html, Jakarta Selatan;2014

Kowalski, RE.Terapi Hipertensi. Bandung : PT.Mizan Pustaka;2010 ,


hlm.135

Saputro, FD.Pengaruh Pemberian Masase Punggung Terhadap Tekanan


Darah pada Pasien Hipertensi.(Disertasi).Semarang: STIKES
Telogorejo Semarang;2013

Padila. Keperawatan Gerontik. Yogyakarta: Nuha Medika;2013 , hlm.131

Wijaya AS, Putri YM.Keperawatan medical Bedah.Yogyakarta: Nuha


Medika;2013 hlm.52

Sustrani, Lanny.Hipertensi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama


Medika;2010

Ode, SL. Asuhan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta : Medical Bool;2012,


hlm.245

Anggraini, Y. Super Komplet Pengobatan Darah Tinggi : Panduan Sehat


Hidup Sehat dengan Tekanan Darah Normal. Yogyakarta :
Araska;2012

Darmojo.Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut).Edisi ke-4, Jakarta.:


FKUI;2011 ,Hlm. 495.

Tyani, dkk. 2015. Efektifitas Relaksasi Otot Progresif terhadap Tekanan Darah Pada
Penderita Hipertensi Essensial. Riau: Universitas Riau

Anda mungkin juga menyukai