Anda di halaman 1dari 14

Nama : Firman Adi Saputro

Nim : 1904026152
Kelas : Apoteker 33 Sore
KERTAS KERJA 1
PENDALAMAN TENTANG PEDOMAN DISIPLIN APOTEKER

Isi/Penjelasan Penerapan dilapangan Kemungkinan terjadinya pelanggaran dan sanksi


BUTIR 1
Seorang Apoteker harus menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan Sumpah/Janji Apoteker.
Poin 1: Melaksanakan • Apoteker tidak memberikan Sanksi disiplin yang dapat dikenakan oleh MEDAI
asuhan kefarmasian). konseling pada pasien diabetes berdasarkan Peraturan Per-UU-an yang berlaku:
Tidak melakukan tentang pengobatan farmakologi 1. Pemberian peringatan tertulis;
konseling pada pasien. dan non farmakologi pasien. 2. Rekomendasi pembekuan dan/atau pencabutan
• Apoteker memberikan konseling Surat Tanda Registrasi Apoteker, atau Surat Izin Praktik
informasi obat pada pasien yang Apoteker, atau Surat Izin Kerja Apoteker; dan/atau
baru pertama kali menggunakan 3. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di
obat. institusi pendidikan apoteker.
Poin 2: Merahasiakan Apoteker menceritakan resep obat Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi
kondisi pasien, resep dan kanker tersebut saat konseling dengan atau Surat Izin Praktik yang dimaksud dapat
“medication record” pasien lain. berupa:
untuk pasien. 1. Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi
Tidak menjaga rahasia atau Surat Izin Praktik sementara selama-lamanya 1
tentang penyakit pasien. (satu) tahun, atau
Poin 3: Melaksanakan Apoteker memberikan sediaan 2. Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau
praktik profesi sesuai farmasi/obat yang tidak terjamin mutu, Surat Izin Praktik tetap atau selamanya.
landasan praktik profesi keamanan, khasiat pada pasien. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di
yaitu ilmu, hukum dan institusi pendidikan apoteker yang dimaksud dapat
etik). berupa:
Tidak melaksanakan 1. Pendidikan formal; atau
praktik profesi sesuai 2. Pelatihan dalam pengetahuan dan atau
landasan praktik profesi. keterampilan, magang di institusi pendidikan atau
sarana pelayanan kesehatan jejaringnya atau sarana
pelayanan kesehatan yang ditunjuk, sekuran-kurangnya
3 (tiga)bulan dan paling lama1 (satu) tahun.

BUTIR 2
Seorang apoteker harus berusaha dengan sungguh-sungguh menghayati dan mengamalkan Kode Etik Apoteker Indonesia.
Membiarkan Kegiatan di apotek tetap berlangsung 1. Peringatan secara tertulis kepada APA secara tiga kali
berlangsungnya praktek meskipun Apoteker penangung jawab berturut-turut dengan tenggang waktu masing-masing
kefarmasian yang tidak berada di tempat dan tidak dua bulan.
menjadi tanggung menunjuk Apoteker 2. Pembekuan izin apotek untuk jangka waktu selama-
jawabnya, tanpa pengganti/pendamping pada waktu lamanya enam bulan sejak dikeluarkannya
kehadirannya, ataupun Apoteker Pengelelola Apotek (APA) penetapan pembekuan izin apotek.
tanpa Apoteker pengganti atau apoteker penanggung jawab tidak 3. Pembekuan dan/atau pencabutan Surat Tanda Registrasi
dan/ atau Apoteker bisa hadir pada jam buka apotek. Apoteker atau Surat Izin Praktik Apoteker.
pendamping yang sah.
BUTIR 3
Mendelegasikan Apoteker meminta tenaga teknis Jika terjadi pelanggaran apoteker dapat terkena sanksi
pekerjaan kepada tenaga kefarmasian menyerahkan OWA berupa teguran dan pembinaan dari Ikatan Apotker
kesehatan tertentu (Obat Wajib Apoteker) dan melakukan Indonesia (IAI). Jika terjadi kerugian/kematian pada pihak
dan/atau tenaga-tenaga konseling terhadap pasien terhadap pasien, apoteker dapat dituntut yang berakibat pada
lainnya yang tidak obat keras padahal apoteker berada di pencabutan izin praktik.
memiliki kompetensi tempat dan sedang tidak melakukan
untuk melaksanakan apapun.
pekerjaan tersebut.
BUTIR 4
Membuat keputusan Apoteker di apotek menjelaskan 1. Adanya apoteker yang bekerja sebagai Medical
profesional yang tidak kepada pasien bahwa terdapat obat Representative yang lebih mengutamakan keuntungan
berpihak kepada dagang dan obat generik. Apoteker penjualan produk.
kepentingan menjelaskan bahwa obat dagang 2. Pemilihan obat dagang untuk pengobatan masyarakat
pasien/masyarakat. dengan obat generik memberikan padahal tersedia obat generik dengan indikasi dan
khasiat yang sama saja, perbedaannya manfaat sama dengan harga yang lebih dapat dijangkau
hanya terletak pada merk sehingga oleh masyarakat.
obat dagang dapat memiliki harga 3. Tidak menjaga kerahasiaan penyakit pasien.
yang lebih mahal dibandingkan
dengan obat generik, walaupun
kandungan zat aktif dan khasiatnya
sama. Apoteker harus menyetujui
permintaan pasien apabila pasien lebih
memilih untuk membeli obat generik
dengan harga yang lebih mudah
dijangkau oleh pasien. Apoteker tidak
boleh semata-mata hanya
mementingkan keuntungan pribadi
saja.

BUTIR 5
Tidak memberikan • Apoteker selalu memperbaharui 1. Pada pasien yang mengalami penyakit hipertensi (darah
informasi yang sesuai, pengetahuannya dengan cara kental), Apoteker memberikan informasi mengenai
relevan, dan “up to date” mengikuti pelatihan, seminar, dan manfaat aspirin sebagai analgesik dan bukan sebagai
dengan cara yang mudah sebagainya pengencer darah.
dimengerti oleh pasien / • Apoteker memberikan informasi 2. Tidak memberikan informasi yang jelas pada pasien,
masyarakat, sehingga mengenai obat-obat khusus yang seperti aturan pakai, rute pemakaian, dan penyimpanan
berpotensi menimbulkan mungkin jarang digunakan oleh kepada pasien sehingga terjadi kesalahan pemakaian
kerusakan dan / atau pasien. Contoh: suppositoria, obat. Contoh: Suppositoria diminum oral karena tidak
kerugian pasien. inhaler, insulin, dll. dituliskan di etiket dan tidak diinformasikan pasien.
3. Menggunakan bahasa ilmiah saat memberikan konseling
pada pasien.
BUTIR 6
Tidak membuat dan/atau • Berdasarkan standar prosedur 1. Pada contoh diatas, apoteker yang mendapat resep berisi
tidak melaksanakan operasional bagian percikan obat aspirin enteric coated, yang seharusnya tidak boleh
Standar Prosedur menjadi kapsul (pada pedoman digerus justru digerus oleh apoteker tersebut. Dan mortir
Operasional sebagai praktik apoteker bagian D halaman dan stamper yang digunakan untuk menggerus tidak
Pedoman Kerja bagi 75). Pada poin 2 tertulis untuk dicuci terlebih dahulu dan membagi serbuk ke dalam
seluruh personil di sarana obat-obat yang tidak dapat digerus kapsul tidak sama banyak.
pekerjaan/pelayanan seperti lepas lambat, obat salut, dan 2. Tidak ada lemari khusus narkotika atau lemari narkotika
kefarmasian, sesuai lain-lain tidak bisa digerus. Apabila diletakkan di dekat etalase obat sehingga terlihat oleh
dengan kewenangannya. digerus harus dilakukan pasien dan pelanggan apotek sehingga resiko tinggi
konfirmasi. terjadi penyalahgunaan narkotika.
• Tidak ada SOP penerimaan dan Sanksi
peracikan resep. 1. Peringatan tertulis dari MEDAI .
• Tidak ada SOP penanganan 2. Jika setelah diberi peringatan tetap melakukan
narkotika. pelanggaran, maka ia mendapat rekomendasi
• Tidak membuat SOP pembekuan dan/ atau pencabutan STRA atau SIKA.
pengoperasian alat.
• Tidak memusnahkan resep yang
telah disimpan 5 tahun.

BUTIR 7
Memberikan sediaan farmasi yang tidak terjamin ‘mutu’, ‘keamanan’ dan ‘khasiat/manfaat’ kepada pasien.
• Disiplin apoteker Seorang nenek usia 62 tahun Bentuk Pelanggaran Disiplin
adalah kesanggupan menderita crohn disease yang 1. Tidak memberikan sediaan farmasi yang sesuai dengan
apoteker untuk seharusnya menerima resep obat resep sehingga tidak memberikan efek terapi yang
mentaati kewajiban prednisolon, namun pasien menerima diinginkan hingga menyebabkan kerugian/kematian
dan menghindari obat glikazid. Pasien tidak sadarkan pasien.
larangan yang diri dan meninggal akibat 2. Suatu bentuk pelanggaran atas undang-undang
ditentukan dalam hipoglikemia setelah konsumsi perlindungan konsumen, dan pekerjaan/pelayan
peraturan perundang- glikazid. kefarmasian.
undangan dan atau Sanksi Disiplin
peraturan praktik yang 1. Rekomendasi pembekuan dan/atau pencabutan Surat
apabila tidak ditaati Tanda Registrasi Apoteker, atau Surat Izin Praktik
atau dilanggar dijatuhi Apoteker, atau Surat Izin Kerja Apoteker.
hukuman disiplin.
• Penegakan disiplin
adalah penegakan
aturan-aturan dan atau
ketentuan penetapan
keilmuan dalam
pelaksanaan
pelayanan yang harus
diikuti oleh apoteker.

BUTIR 8
Melakukan pengadaan (termasuk produksi dan industri) obat dan atau bahan baku obat, tanpa prosedur yang berlaku, sehingga
berpotensi menimbukan tidak terjaminnya mutu, khasiat obat.
• Disiplin apoteker • Apoteker X di apotek Y memesan Bentuk Pelanggaran Disiplin Apoteker
adalah kesanggupan obat Z yang berupa sediaan blister 1. Melakukan pengadaan (termasuk produksi dan
apoteker untuk kepada PBF A sebanyak 2 dus distribusi) obat dan atau bahan baku obat, tanpa
mentaati kewajiban @12. ketika barang datang 2 prosedur yang berlaku, sehingga berpotensi
dan menghindari minggu kemudian asisten apoteker menimbulkan tidak terjaminnya mutu, khasiat obat.
larangan yang mengecek kelengkapan faktur, 2. Tidak aktif (malas) mencari informasi terkait peraturan
ditentukan dalam surat pesanan dan kondisi fisik obat perundang-undangan.
peraturan perundang- serta kelengkapan lainnya. 3. Dalam penatalaksaan praktik kefarmasian, melakukan
undangan dan atau Ternyata ditemukan kondisi kardus yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak melakuan
peraturan praktik yang pengemas dalam keadaan basah yang seharusnya dilakukan, sesuai dengan tanggung
apabila tidak ditaati dan blister obat rusak. Apoteker X jawab profesionalnya tanpa alasan pembenar yang sah,
atau dilanggar dijatuhi mengkonfirmasi kerusakan tersebut sehingga dapat membahayakan pasien.
hukuman disiplin. pada apoteker penanggung jawab Sanksi Disiplin
• Penegakan disiplin (APA) di apotek tersebut dan APA Sanksi disiplin yang dapat dikenakan oleh MEDAI
adalah penegakan mereturn obat tersebut. berdasarkan Peraturan per-Undang-Undangan yang berlaku
aturan-aturan dan atau • Seharusnya distribusi ini menjadi adalah:
ketentuan penetapan tanggung jawab apoteker di 1. Pemberian peringatan tertulis;
keilmuan dalam distributor dimana apoteker di 2. Rekomendasi pembekuan dan/atau pencabutan Surat
pelaksanaan bagian distributor harus dapat Tanda RegistrasiApoteker, atau Surat Izin Praktik
pelayanan yang harus memastikan distribusi obat Apoteker, atau Surat Izin Kerja Apoteker; dan/atau
diikuti oleh apoteker berlangsung aman. Dikhawatirkan 3. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di
dengan kerusakan kemasan dapat institusi pendidikan apoteker;
mempengaruhi kerusakan zat aktif 4. Peringatan dan pembinaan dari organisasi keprofesian.
obat pada saat pengiriman.

BUTIR 9
“Tidak menghitung • Dalam produksi sediaan obat, Kesalahan yang mungkin terjadi
dengan benar dosis obat, apoteker memastikan bahwa Kesalahan dalam regimen dosis.
sehingga dapat sediaan yang diproduksi tepat Sanksi yang diberikan
menimbulkan kerusakan kadar melalui QC dan QA. Sanksi disiplin yang dapat dikenakan oleh MEDAI
atau kerugian kepada • Apoteker melakukan penghitungan berdasarkan
pasien” dosis dengan benar untuk pasien Peraturan per-UUan yang berlaku adalah:
kondisi khusus, pediatri, gagal 1. Pemberian peringatan tertulis;
ginjal, dll. 2. Rekomendasi pembekuan dan/atau pencabutan Surat
Tanda Registrasi Apoteker, atau Surat Izin Praktik
Apoteker, atau Surat Izin Kerja Apoteker; dan/atau
3. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di
institusi pendidikan apoteker.
Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau Surat
Izin Praktik yang dimaksud dapat berupa:
1. Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau
Surat Izin Praktik sementara selama-lamanya 1 (satu)
tahun, atau
2. Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi atau
Surat Izin Praktik tetap atau selamanya;
3. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di
institusi pendidikan apoteker yang dimaksud dapat
berupa: Pendidikan formal; atau
Pelatihan dalam pengetahuan dan atau ketrampilan, magang
di institusi pendidikan atau sarana pelayanan kesehatan
jejaringnya atau sarana pelayanan kesehatan yang ditunjuk,
sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan dan paling lama 1 (satu)
tahun.

BUTIR 10
“Melakukan penataan, Apoteker menyusun dan menyimpan Kesalahan yang mungkin terjadi
penyimpanan obat tidak obat-obatan sesuai dengan standar 1. Menyimpan sediaan farmasi dengan penyimpanan
sesuai standar, sehingga ketentuan penyimpanan yang berlaku khusus tidak pada tempatnya;
berpotensi menimbulkan 2. Contoh: sediaan insulin yang seharusnya disimpan
penurunan kualitas obat” dalam lemari pendingin disimpan dalam lemari biasa.
Sanksi yang diberikan
Mendapat peringatan tertulis dari MEDAI (Majelis Etik dan
Disiplin Apoteker Indonesia) dan/atau kewajiban mengikuti
pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan apoteker.

BUTIR 11
Menjalankan praktik Apoteker yang baru saja menjalani 1. Apoteker melayani pelayanan swamedikasi terhadap
kefarmasian dalam operasi sehingga perlu istirahat, penyakit berat seperti penyakit jantung.
kondisi tingkat kesehatan berhenti sejenak dari pekerjaannya di 2. Sanksi: peringatan dan pembinaan.
fisik ataupun mental yang Apotek dan mencari Apoteker
sedang terganggu pendamping/ pengganti untuk
sehingga merugikan menggantikannya sementara hingga
kualitas pelayanan kesehatannya membaik kembali.
profesi.
BUTIR 12
“ Dalam penatalaksanaan • Apoteker tidak melayani pelayanan
praktik kefarmasian, swamedikasi diluar kewenangan
melakukan yang yang seharusnya
seharusnya tidak
dilakukan atau tidak
melakukan yang
seharusnya dilakukan,
sesuai dengan tanggung
jawab profesionalnya,
tanpa alasan pembenar
yang sah, sehingga dapat
membahayakan pasien

BUTIR 13
Melakukan pemeriksaan Menurut WHO dalam hal swamedikasi Kemungkinan Pelanggaran:
atau pengobatan dalam Apoteker berperan sebagai Apoteker mendiagnosis pasien dengan keluhan nyeri perut
pelaksanaan praktik komunikator, penyedia obat, sebagai setelah makan dan nyeri ulu hati sebagai penyakit tukak
swamedikasi (self- pengajar dan pengawas, sebagai peptik yang disebabkan infeksi bakteri H. pylori dan
medication) yang sesuai kolaborator, dan sebagai promotor memberikan terapi antibiotik dan obat golongan Proton
dengan kaidah pelayanan kesehatan. Pump Inhibitor. Seharusnya penegakan diagnosis dilakukan
kefarmasian. atas pemeriksaan dokter dan pemeriksaan laboratorium.
Sanksi:
Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi
pendidikan apoteker.

BUTIR 14
Memberikan penjelasan Apoteker dalam melaksanakan PIO Kemungkinan Pelanggaran:
yang jujur, etis, dan/atau kepada pasien, teman sejawat, dan Apoteker tidak menjelaskan efek samping serius obat yang
objektif kepada yang nakes lain juga ketika melakukan diterima pasien dengan jujur, etis dan objektif kepada
membutuhkan. Konseling dengan pasien atau keluarga pasien karena takut pasien akan menolak menggunakan
pasien harus memberikan penjelasan obat-obat tersebut dan tidak jadi membeli obat
Memberikan penjelasan yang benar, jujur, etis dan objektif Sanksi:
yang jujur, etis, dan/atau mengenai obat atau jenis pengobatan Pemberian Peringatan Tertulis
objektif kepada yang yang diberikan. Pemilihan obat bisa
membutuhkan. melalui memberikan kebebasan
kepada pasien terkait menggunakan
obat paten/generik, pilihan harga obat,
terkait resiko efek samping dari
pengobatan dan perhatian serta
peringatan yang harus diketahui oleh
pasien.

BUTIR 15
Menolak atau • Apoteker memberikan obat sesuai Sanksi:
menghentikan pelayanan dengan resep dokter. Peringatan tertulis/ surat peringatan, Rekomendasi
kefarmasian terhadap • Apoteker dalam hal swamedikasi pembekuan dan/atau pencabutan Surat Tanda Registrasi
pasien tanpa alasan yang memberikan rekomendasi terapi Apoteker, atau Surat Izin Praktik Apoteker, atau Surat Izin
layak dan sah. sesuai dengan kondisi pasien. Kerja Apoteker.
• Apoteker tidak mau memberikan
diazepam karena mengira pasien
merupakan pecandu.
• Apoteker tidak mau memberikan
obat generik karena keuntungan
apotek sedikit.

BUTIR 16
Membuka rahasia kefarmasian kepada yang tidak berhak.
Penjelasan: Rahasia • Memberikan informasi pasien baik Sanksi yang dapat dikenakan oleh MEDAI yaitu berupa:
Kefarmasian adalah itu tentang penyakit dan obat 1. Pemberian peringatan tertulis;
Pekerjaan Kefarmasian pasien kepada pihak yang tidak 2. Rekomendasi pembekuan dan/atau pencabutan
yang menyangkut proses berkepentingan. Surat Tanda Registrasi Apoteker, atau Surat Izin Praktik
produksi, proses • Apoteker memberikan rekam medis Apoteker, atau Surat Izin Kerja Apoteker; dan/atau.
penyaluran dan proses pasien kepada pihak yang tidak
pelayanan dari Sediaan berkepentingan
Farmasi yang tidak boleh Kasus:
diketahui oleh umum Pada sebuah terdapat kunjungan
sesuai dengan ketentuan pasien yang hendak melakukan
peraturan perundang- penebusan resep. Pasien diketahui
undangan. sedang mengalami sariawan parah.
Apoteker melakukan konseling
terhadap pasien tersebut terkait
penggunaan obat dan informasi lain
pengobatan pasien. Dalam sesi
konseling pasien bercerita kalau dia
sedang menderita HIV yang menjadi
faktor pencetus sariawan yang diderita
pasien. Setelah sesi konseling
Apoteker menceritakan semua cerita
tentang pasien tersebut ke staf lain di
Apotek.
BUTIR 17
Menyalahgunakan Apoteker mampu memberikan 1. Membiarkan penggunaan misoprostol untuk
kompetensi Apotekernya. pelayanan obat /untuk penderita secara menggugurkan kandungan karena bersifat memicu
profesional dengan jaminan bahwa obat kontraksi rahim.
yang diberikan kepada penderita akan 2. Mengizinkan penjualan obat keras secara bebas di
tepat, aman, dan efektif. Termasuk apotik tanpa resep dokter demi mendapatkan
di dalamnya adalah pelayanan obat keuntungan.
bebas dan pelayanan obat dengan 3. Menjual obat-obat ilegal yang mengandung narkotika
resep dokter yang obatnya dibuat (Cannabis sativa) dan psikotropika (diazepam) secara
langsung oleh apotek. bebas.

BUTIR 18
Membuat catatan Apoteker harus mendokumentasikan Kemungkinan Terjadinya Pelanggaran
dan/atau pelaporan seluruh sediaan farmasi yang masuk 1. Ketika barang datang, Apoteker membuat catatan
sediaan farmasi yang dan keluar pada instalasi farmasi pelaporan yang tidak sesuai dengan barang yang ada,
tidak baik dan tidak dengan baik dan benar baik dari segi jenis, jumlah, dll.
benar. 2. Adanya kesalahan pemberian obat rusak kepada pasien
akibat tidak dilakukannya pencatatan pelaporan
mengenai barang rusak.
3. Adanya kesalahan pemberian obat kadaluwarsa kepada
pasien akibat tidak dilakukannya pencatatan mengenai
obat kadaluwarsa.
4. Tidak ada evaluasi pelayanan kefarmasian akibat tidak
dilakukannya pencatatan pelaporan dengan baik dan
benar sehingga dapat menurunkan kualitas apotek atau
rumah sakit.
Sanksi
1. Peringatan tertulis dari MEDAI
2. Setelah diberi peringatan tetap melakukan pelanggaran,
maka ia mendapat rekomendasi pembekuan dan/ atau
pencabutan STRA atau SIKA.
3. Undang-undang No. 5 tahun 1997
Pasal 60 ayat 1c
Barangsiapa memproduksi atau mengedarkan
psikotropika yang berupa obat yang tidak terdaftar pada
departemen yang bertanggung jawab di bidang
kesehatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat 1
dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima
belas) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp.
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah).

BUTIR 19
Berpraktik dengan • Tidak memperpanjang Surat Tanda Pelanggaran
menggunakan Surat Registrasi Apoteker (STRA) atau Memberikan dokumen palsu saat melakukan perpanjangan
Tanda Registrasi Surat Izin Praktik Apoteker/Surat Surat Tanda Registrasi Apoteker (STRA) atau Surat Izin
Apoteker (STRA) atau Izin kerja Apoteker (SIPA/SIKA) Praktik Apoteker/Surat Izin kerja Apoteker (SIPA/SIKA).
Surat Izin Praktik sesuai dengan persyaratan yang Contoh: Surat Keterangan Sehat Fisik dan Mental palsu.
Apoteker/Surat Izin kerja berlaku. Sanksi
Apoteker (SIPA/SIKA) • Menggunakan dokumen yang tidak 1. Pemberian peringatan tertulis;
dan /atau sertifikat sah untuk melakukan perpanjangan 2. Rekomendasi pembekuan dan/atau pencabutan Surat
kompetensi yang tidak Surat Tanda Registrasi Apoteker Tanda Registrasi Apoteker, atau Surat Izin Praktik
sah. (STRA) atau Surat Izin Praktik Apoteker, atau Surat Izin Kerja Apoteker.
Apoteker/Surat Izin kerja Apoteker
(SIPA/SIKA).

BUTIR 20
Tidak memberikan MEDAI adalah Majelis yang menilai Jika dugaan pelanggaran terjadi, maka:
informasi, dokumen dan bahwa etik dan disiplin diterapkan 1. Pemberian peringatan tertulis;
alat bukti lainnya yang seutuhnya atau tidak oleh apoteker, 2. Rekomendasi pembekuan dan/atau pencabutan Surat
diperlukan MEDAI untuk sehingga jika terdapat dugaan Tanda Registrasi Apoteker (STRA), atau Surat Izin
pemeriksaan atas pelanggaran maka apoteker harus Praktik Apoteker (SIPA); dan/atau
pengaduan dugaan memberikan informasi, dokumen dan 3. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di
pelanggaran disiplin. alat bukti yang terkait dengan institusi pendidikan apoteker.
selengkap-lengkapnya dan sebenar-
benarnya agar MEDAI dapat
menimbang dan menilai dengan tepat
sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

BUTIR 21
Mengiklankan • Apoteker tidak boleh terlibat dalam Pelanggaran:
kemampuan /pelayanan media promosi/iklan komersil. Apoteker mengiklankan kemampuan suatu produk obat
atau kelebihan • Apoteker memberi klaim efikasi (testimoni produk) dengan tujuan meningkatkan kredibilitas
kemampuan /pelayanan atau manfaat obat/kosmetik yang khasiat obat dan meningkatkan penjualan.
yang dimiliki, baik lisan, tidak sesuai dengan hasil studi atau Sanksi:
ataupun tulisan, yang ketentuan BPOM. 1. Pemberian peringatan tertulis;
tidak benar atau 2. Rekomendasi pembekuan dan/atau pencabutan Surat
menyesatkan. Tanda Registrasi Apoteker (STRA), atau Surat Izin
Praktik Apoteker (SIPA); dan/atau
3. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di
institusi pendidikan apoteker.

BUTIR 22
Membuat keterangan • Apoteker tidak boleh melakukan Pelanggaran:
farmasi yang tidak pekerjaan atau memberikan 1. Apoteker menuliskan dan memberikan resep untuk
didasarkan kepada hasil informasi yang tidak sesuai dengan pasien tanpa adanya diagnosis dari dokter, dan melalui
pekerjaan yang bidangnya atau mengambil profesi dokter.
diketahuinya secara benar kesehatan lainnya. 2. Apoteker mengganti obat yang ada dalam resep dokter
dan patut. • Hal-hal terkait pasien mengenai tanpa mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada dokter,
identitas pasien, penyakit, dignosis, dan langsung memberikan obat ke pasien.
hasil laboratorium, pengobatan, Sanksi:
masalah terkait obat, monitoring 1. Peringatan tertulis/surat peringatan;
efek samping didokumentasikan 2. Rekomendasi pembekuan dan/atau pencabutan Surat
dengan sebenarnya. Tanda Registrasi Apoteker, Surat Izin Kerja Apoteker,
atau Surat Izin Praktik Apoteker.