Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN ASMA BRONGKIAL

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 1
NAMA : NURSAIDAH
NIM :069STYC19

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI NERS JENJANG PROFESI
MATARAM
2020
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.


Puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT yang telah memberikan
nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga sampai sekarang kita bisa beraktivitas
dalam rangka beribadah kepada-Nya dengan salah satu cara menuntut ilmu.
Shalawat serta salam tidak lupa penulis senandungkan kepada tauladan semua
umat Nabi Muhammad SAW, yang telah menyampaikan ilmu pengetahuan
melalui Al-Qur’an dan Sunnah, serta semoga kesejahteraan tetap tercurahkan
kepada keluarga beliau, para sahabat-sahabatnya dan kaum muslimin yang tetap
berpegang teguh kepada agama Islam.
Penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada Ibu Hapipah,Ners,M kep.
selaku Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan masukan
sehingga Laporan Pendahuluan dan Laporan Kasus “Asuhan Keperawatan Gawat
Garurat Asma Brongkial” ini dapat tersusun sesuai dengan waktu yang telah di
tentukan. Semoga amal baik yang beliau berikan akan mendapat balasan yang
setimpal dari Allah S.W.T.
Akhir kata semoga laporan ini senantiasa bermanfaat pada semua pihak untuk
masa sekarang dan masa yang akan datang.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Mataram, 17 April 2020

Penulis,

DAFTAR ISI

( ASKEP Gerontik dengan DM – Kelompok 1 ) ii


HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
KATA PENGANTAR...........................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
BAB I LAPORAN PENDAHULUAN DM
I. Konsep Teori
A. Definisi..................................................................................................1
B. Etiologi..................................................................................................1
C. Klasifikasi.............................................................................................3
D. Patofisiologi..........................................................................................4
E. WOC.....................................................................................................6
F. Pemeriksaan Penunjang........................................................................6
G. Manifestasi Klinis.................................................................................7
H. Tes Dignostik………………………………………………………10
I. Komplikasi ………………………………………………………….11
J. Penatalkasanaan …………………………………………………….12
K. Penyebab Asma…………………………………………………….13
L. Cara Pencegahan dan Pengobatan………………………………….14
BAB II LAPORAN KASUS DM
A. Pengkajian................................................................................................18
B. Diagnosa Keperawatan............................................................................18
C. Intervensi.................................................................................................19
D. Implementasi ……………………………………………………….…23
E. Evaluasi ………………………………………………………………23
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................25

( ASKEP Gerontik dengan DM – Kelompok 1 ) iii


BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi
Asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik saluran
napasa yang menyebabkan hipereaktivitas bronkus terhadap berbagai
rangsangan yang ditandai dengan gejala episodik berulang berupa mengi,
batuk, sesak napas dan rasa berat di dada terutama pada malam hari atau dini
hari yang umumnya bersifat revrsibel baik dengan atau tanpa pengobatan
(Depkes RI, 2009)
Asma adalah penyakit jalan napas obstruktif intermiten, reversibel dimana
trakea dan bronchi berespon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu
(Smeltzer&Bare, 2002).
Asma Bronkial adalah penyakit pernapasan obstruktif yang ditandai oleh
spame akut otot polos bronkiolus. Hal ini menyebabkan obsktrusi aliran udara
dan penurunan ventilasi alveolus.
Jadi dapat disimpulkan bahwa asma adalah penyakit jalan napas obstruktif
yang disebabkan oleh berbagai stimulan, yang ditandai dengan spasme otot
polos bronkiolus.

B. Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan
presipitasitimbulnya serangan asthma bronkial.
a. Faktor predisposisi
1) Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum
diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit
alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi.
Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit
asthma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu
hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


1
b. Faktor presipitasi
1) Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
a) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan, seperti: debu, bulu
binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi.
b) Ingestan, yang masuk melalui mulut, seperti : makanan dan obat-obatan.
c) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit, seperti : perhiasan,
logam dan jam tangan.
2) Perubahan cuaca.
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi
asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya
serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim,
seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan
dengan arah angin serbuk bunga dan debu.
3) Stress
Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu
juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala
asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami
stress/gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah
pribadinya. Karena jika stresnya belum diatasi maka gejala asmanya belum
bisa diobati.
4) Lingkungan kerja.
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma.
Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja
di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas.
Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
5) Olah raga/aktifitas jasmani yang berat.
6) Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan
aktifitas jasmani atau olah raga yang berat. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya
terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


2
C. Patofisiologi
Suatu serangan akut asma akan disertai oleh banyak perubahan dijalan
nafas yang menyebabkan penyempitan: edema dan peradangan selaput lender,
penebalan membrane basa, hipersekresi kalenjar mucus dan yang lebih ringan
kontraksi otot polos. Perubahan histology yang sama dpat dijumpai pada
keadaan tanpa serangan akut akibat pajanan kronik derajat rendah ke satu atau
lebih pemicu asma. Melalui berbagai jalur, zat-zat pemicu tersebut
merangsang degranulasi sel mast dijalan nafas yang menyebabkan
pembebasan berbagai mediator yang bertanggung jawab untuk perubahan
yang terjadi. Mediator yang terpenting mungkin adalah leukotrien C, D dan E
tetapi terdapat bukti bahwa histamine, PAF, neuropeptida, zat-zat kemotaktik,
dan berbagai protein yang berasal dari eosinofil juga berperan penting dalam
proses ini. obstruksi menyebabkan peningkatan resistensi jala nafas (terutama
pada ekspirasi karena penutupan jalan nafas saat ekspirasi yang terlalu dini);
hiperinflasi paru; penurunan elastisitas dan frekuensi-dependent compliance
paru; peningkatan usaha bernafas dan dispneu; serta gangguan pertukaran gas
oleh paru. Obstruksi yang terjadi tiba-tiba besar kemungkinannya disebabkan
oleh penyempitan jalan nafas besar, dengan sedikit keterlibatan jalan nafas
halus, dan biasanya berespon baik terhadap terapi bronkodilator. Asma yang
menetap dan terjadi setiap hari hampir selalu memiliki komponen atau fase
lambat yang menyebabkan penyakit jalan nafas halus kronik dan kurang
berespon terhadap terapi bronkodilator saja. Eosinofil diperkirakan merupakan
sel efektor utama pada pathogenesis gejala asma kronik, dimana beberapa
mediatornya menyebabkan kerusakan luas pada stel epitel bronkus serta
perubahan-perubahan inflmatory. Walaupun banyak sel mungkin sitokin
(termasuk sel mast, sel epitel, makrofag dan eosinofil itu sendiri) yang
mempengaruhi diferensiasi, kelangsungan hidup, dan fungsi eosinofil, sel T
type TH2 dianggap berperan sentral, karena sel ini mampu mengenali antigen
secara langsung. Obstruksi pada asma biasanya tidak sama, dan defek
ventilasi-perkusi menyebabkan penurunan PaO2. Pada eksaserbasi asma

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


3
terjadi hiperventilasi yang disebabkan oleh dispneu. pada awalnya banyak
keluar dan Pa CO2 mungkin rendah namun seiring dengan semakinparahnya
obstruksi, PaCO2 meningkat karena hipoventilasi alveolus. Efek obstruksi
berat yang timbul mencakup hipertensi pulmonaris, peregangan ventrik.

D. Klasifikasi
a. Berdasarkan Penyebab
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3
tipe, yaitu:
1) Ekstrinsik (alergik)
Asma ekstrinsik ditandai dengan adanya reaksi alergik yang disebabkan
oleh faktor-faktor pencetus spesifik (alergen), seperti serbuk bunga, bulu
binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Oleh
karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan
di atas, maka akan terjadi serangan asthma ekstrinsik. Pasien dengan asma
ekstrinsik biasanya sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi
genetik terhadap alergi dalam keluarganya.
2) Intrinsik (non alergik)
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus
yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa
juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi.
Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan
berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan
emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan.
3) Asthma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari
bentuk alergik dan non-alergik (Smeltzer & Bare, 2002).
b. Berdasarkan Derajat Penyakit
Derajat
No Gejala Gejala Malam Faal Paru Pengobatan
Asma
1 Intermitte -      Gejala <1x/minggu £ 2 kali sebulan -  VEP1  atau -  Inhalasi agonis B-2
n -      Tanpa gejala antar APE ³80% jangka pendek
serangan -  Variabilitas APE
(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)
4
-      Serangan singkat <20%
2 Persisten -      Gejala >1x/minggu > 2 kali sebulan -  VEP1  atau -  Bronkodilator jangka
ringan tetapi <1x/hari APE ³80% pendek + obat anti
-      Serangan dapat -  Variabilitas APE inflamasi
mengganggu 20-30%
aktivitas dan tidur
3 Persisten -      Gejala setiap hari > 2 kali sebulan -  VEP1  atau APE -  Setiap hari memakai
sedang -      Serangan 60-80% agonis B-2 jangka
mengganggu -  Variabilitas APE pendek
aktivitas dan tidur >30% -  Bronkodilator jangka
pendek+kortikosteroi
d
inhalasi+bronkodlato
r jangka panjang
(asma malam)
4 Persisten -      Gejala terus Sering -  VEP1  atau
berat menerus APE £60%
-      Sering kambuh -  (Depkes RI, 2009;
-      Aktivitas fisik Mulia, 2000)
terbatas

c. Berdasarkan derajat serangan


Parameter Klinis,
Fungsi Faal Ancaman
Ringan Sedang Berat
Paru,Laboratoriu Henti Napas
m
Sesak (breathless) Aktivitas: Aktivitas:Berbi Aktivitas:Istir
Berjalan cara ahat
Bayi : Bayi : Bayi :
Menangis Tangis pendek Tidak mau
keras dan lemah, makan/minu
kesulitan m
menetek/maka
n
(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)
5
Posisi Bisa Lebih suka Duduk
berbaring duduk bertopang
lengan
Bicara Kalimat Penggal Kata-kata
kalimat
Sianosis Tidak ada Ada Ada Nyata
Wheezing Sedang, Sulit/tidak
sering terdengar
hanya pada
akhir
ekspirasi
Penggunaan otot Biasanya Biasanya ya Ya Gerakan
bantu napas tidak paradok
torako-
abdominal
Retraksi Dangkal, Sedang,ditamb Dalam, Takipnu Taki Takip Bradipn
retraksi ah retraksi ditambah pnu nu u
interkostal suprasternal napas cuping
hidung
Frekuensi nadi Normal Takikardi Takikardi £90%
(Depkes RI 2009)

E. Tanda dan Gejala


a. Gejala awal berupa:
- Batuk terutama pada malam atau dini hari
- Sesak napas
- Napas berbunyi (mengi) yang terdengar jika pasien menghembuskan
napasnya
- Rasa berat di dada
- Dahak sulit keluar.
- Belum ada kelainan bentuk thorak
- Ada peningkatan eosinofil darah dan IG E
- BGA belum patologis

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


6
b. Gejala yang berat adalah keadaan gawat darurat yang mengancam
jiwa atau disebut juga stadium kronik. Yang termasuk gejala yang berat
adalah:
- Serangan batuk yang hebat
- Sesak napas yang berat dan tersengal-sengal
- Sianosis (kulit kebiruan, yang dimulai dari sekitar mulut)
- Sulit tidur dan posisi tidur yang nyaman adalah dalam keadaan duduk
- Kesadaran menurun
- Thorak seperti barel chest
- Tampak tarikan otot sternokleidomastoideus
- Sianosis
- BGA Pa O2 kurang dari 80%
- Suara nafas melemah bahkan tak terdengar (silent Chest)
(Direktorat Bina Farmasi dan Klinik, 2007)
Sedangkan menurut Smeltzer & Bare (2002) manifestasi klinis dari
asma, diantaranya:
- Tiga gejala umum asma adalah batuk, dispnea dan mengi. Serangan
asma biasanya bermula mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam
dada, disertai dengan pernapasan lambat, mengi dan laborius.
- Sianosis karena hipoksia
- Gejala retensi CO2  : diaforesis, takikardia, pelebaran tekanan nadi.

F. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Fisik
Padapemeriksaan fisik dijumpai napas menjadi cepat dan
dangkal, terdengar bunyi mengi pada pemeriksaan dada (pada serangan
sangat berat biasanya tidak lagi terdengar mengi, karena pasien sudah lelah
untuk bernapas)
b. Pemeriksaan Fungsi Paru
1) Spirometri
Spirometri adalah mesin yang dapat mengukur kapasitas vital paksa
(KVP) dan volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1).

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


7
Pemeriksaan ini sangat tergantung kepada kemampuan pasien
sehingga diperlukan instruksi operator yang jelas dan kooperasi pasien.
Untuk mendapatkan nilai yang akurat, diambil nilai tertinggi dari 2-3
nilai yang diperiksa. Sumbatan jalan napas diketahui dari nilai VEP1 <
80% nilai prediksi atau rasio VEP1/KVP < 75%.
Selain itu, dengan spirometri dapat mengetahui reversibiliti asma, yaitu
adanya perbaikan VEP1 > 15 % secara spontan, atau setelah inhalasi
bronkodilator (uji bronkodilator), atau setelah pemberian bronkodilator
oral 10-14 hari, atau setelah pemberian kortikosteroid (inhalasi/oral) 2
minggu.Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan
diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek
pengobatan.
2) Peak Expiratory Flow Meter (PEF meter)
Sumbatan jalan napas diketahui dari nilai APE < 80% nilai prediksi.
Selain itu juga dapat memeriksa reversibiliti, yang ditandai dengan
perbaikan nilai APE > 15 % setelah inhalasi bronkodilator, atau setelah
pemberian bronkodilator oral 10-14 hari, atau setelah pemberian
kortikosteroid (inhalasi/oral) 2 minggu.
Variabilitas APE ini tergantung pada siklus diurnal (pagi dan malam
yang berbeda nilainya), dan nilai normal variabilitas ini < 20%.
Cara pemeriksaan variabilitas APE
Pada pagi hari diukur APE untuk mendapatkan nilai terendah dan
malam hari untuk mendapatkan nilai tertinggi.
APE malam – APE pagi
Variabilitas harian = ------------------------------------- x 100%
½ (APE malam + APE pagi)
(Direktorat Bina Farmasi dan Klinik, 2007)
c. Pemeriksaan Tes Kulit (Skin Test)
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat
menimbulkan reaksi yang positif pada asma.
d. Pemeriksaan Darah

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


8
Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.Pemeriksaan ini hanya dilakukan
pada penderita dengan serangan asma berat atau status asmatikus.

G. Manifestasi Klinik
Tiga gejala umum asma adalah batuk, dispnea, dan mengi. Pada beberapa
keadaan, batuk mungkin merupakan satu-satunya gejala. Serangan asma
seringkali pada malam hari. Penyebabnya tidak di mengerti dengan jelas, tetapi
mungkin berhubungan dengan variasi sirkardian, yang mempengaruhi ambang
reseptor jalan nafas. Serangan asma biasanya bermula mendadak dengan batuk
dan rasa sesak dalam dada, disertai dengan pernapasan lambat, mengi,
laboratorius. Ekspirasi selalu lebih susah dan pajang dibanding inspirasi, yang
mendorong pasien untuk duduk tegak dengan menggunakan setiap otot-otot
pernapasan. Jalan nafas yang tersumbat menyebabkan dispnea. Batuk pada
awalnya susah dan kering tetapi segera menjadi lebih kuat. Sputum yang terdiri
atas sedikit mukus mengandung masa gelatinosa bulut, kecil yang dibatukkan
dengan susah payah. Tanda selanjutnya termasuk sianosis sekunder terhadap
hipoksia hebat, dan gejala-gejala retensi karbondioksida, termasuk berkeringat,
takikardia dan pelebaran tekanan nadi. serangan asma dapat berlangsung dari
30 menit sampai beberapa jam dan dapat hilang secara spontan. Meski
serangan asma jarang yang fatal, kadang terjadi reaksi kontinu yang lebih
berat, yang disebut ‘status asmatikus’.

H. Tes Diagnostik
1. Pemeriksaan sputum, Pada pemeriksaan sputum ditemukan :
a. Kristal –kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari
kristal eosinofil.
b. Terdapatnya Spiral Curschman, yakni spiral yang merupakan
silinder sel-sel cabang-cabang bronkus.
c. Terdapatnya Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


9
d. Terdapatnya neutrofil eosinofil
2. Pemeriksaan darah, Pada pemeriksaan darah yang rutin diharapkan
eosinofil meninggi, sedangkan leukosit dapat meninggi atau normal,
walaupun terdapat komplikasi asma
a. Gas analisa darah, Terdapat hasil aliran darah yang variabel, akan
tetapi bila terdapat peninggian PaCO2 maupun penurunan pH
menunjukkan prognosis yang buruk.
b. Kadang –kadang pada darah terdapat SGOT dan LDH yang meninggi
c. Hiponatremi 15.000/mm3 menandakan terdapat infeksi
d. Pada pemeriksaan faktor alergi terdapat IgE yang meninggi pada
waktu seranggan, dan menurun pada waktu penderita bebas dari
serangan.
e. Pemeriksaan tes kulit untuk mencari faktor alergi dengan berbagai
alergennya dapat menimbulkan reaksi yang positif pada tipe asma
atopik.
3. Foto rontgen, Pada umumnya, pemeriksaan foto rontgen pada asma
normal. Pada  serangan asma, gambaran ini menunjukkan hiperinflasi
paru berupa rradiolusen yang bertambah, dan pelebaran rongga
interkostal serta diagfragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat
komplikasi, kelainan yang terjadi adalah:
a. Bila disertai dengan bronkhitis, bercakan hilus akan bertambah
b. Bila terdapat komplikasi emfisema (COPD) menimbulkan gambaran
yang bertambah.
c. Bila terdapat komplikasi pneumonia maka terdapat gambaran infiltrat
pada paru.
4. Pemeriksaan faal paru
a. Bila FEV1 lebih kecil dari 40%, 2/3 penderita menujukkan
penurunan tekanan sistolenya dan bila lebih rendah dari 20%, seluruh
pasien menunjukkan penurunan tekanan sistolik.
b. Terjadi penambahan volume paru yang meliputi RV hampi terjadi
pada seluruh asma, FRC selalu menurun, sedangan penurunan TRC
sering terjadi pada asma yang berat.

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


10
5. Elektrokardiografi, Gambaran elektrokardiografi selama terjadi serangan
asma dapat dibagi atas tiga bagian dan disesuaikan dengan gambaran
emfisema paru, yakni :
a. Perubahan aksis jantung pada umumnya terjadi deviasi aksis ke
kanan dan rotasi searah jarum jam.
b. Terdapatnya tanda-tanda hipertrofi jantung, yakni tedapat RBBB.
c. Tanda-tanda hipoksemia yakni terdapat sinus takikardi, SVES, dan
VES atau terjadinya relatif ST depresi.

I. Komplikasi
1. Pneumothoraks: keadaan abnormalitas dimana terdapatnya udara dalam
rongga thoraks;
2. Pneumomediastinum dan emfisemi subkutis;
3. Atelektasis: ketidakmampuan organ paru untuk mengembang dengan
sempurna;
4. Aspergilosis bronkopulmonar alergik,
5. Gagal napas: keadaan dimana pertukaran oksigen dengan karbondioksida
pada paru-paru tidak dapat mengimbangi laju konsumsi oksigen dan
produksi karbondioksida pada sel tubuh yang mengakibatkan tekanan
oksigen arterial menjadi kurang dari 50 mmHg (hipoksemia) dan tekanan
karbondioksida arterial meningkat menjadi lebih dari 45 mmHg
(hiperkapnea).
6. Bronkhitis: radang pada bronkhus yang biasanya mengenai trakhea dan
laring.

J. Penatalaksanaan
Pengobatan asma secara garis besar dibagi dalam pengobatan non
farmakologik dan pengobatan farmakologik.
1. Pengobatan non farmakologik
a. Penyuluhan
Penyuluhan ini ditujukan pada peningkatan pengetahuan klien tentang
penyakit asthma sehinggan klien secara sadar menghindari faktor-faktor

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


11
pencetus, serta menggunakan obat secara benar dan berkonsoltasi pada
tim kesehatan.
b. Menghindari faktor pencetus
Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus serangan asthma yang
ada pada lingkungannya, serta diajarkan cara menghindari dan
mengurangi faktor pencetus, termasuk pemasukan cairan yang cukup
bagi klien.
c. Fisioterapi
Fisioterapi dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mukus.
Ini dapat dilakukan dengan drainage postural, perkusi dan fibrasi dada.
2. Pengobatan farmakologik
a. Agonis beta
Bentuk aerosol bekerja sangat cepat diberika 3-4 kali semprot dan jarak
antara semprotan pertama dan kedua adalan 10 menit. Yang termasuk
obat ini adalah metaproterenol (Alupent, metrapel).
b. Metil Xantin
Golongan metil xantin adalan aminophilin dan teopilin, obat ini
diberikan bila golongan beta agonis tidak memberikan hasil yang
memuaskan. Pada orang dewasa diberikan 125-200 mg empatkali
sehari.
c. Kortikosteroid
Jika agonis beta dan metil xantin tidak memberikan respon yang baik,
harus diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol
(beclometason dipropinate) dengan dosis 800 empat kali semprot tiap
hari. Karena pemberian steroid yang lama mempunyai efek samping
maka yang mendapat steroid jangka lama harus diawasi dengan ketat.
d. Kromolin
Kromolin merupakan obat pencegah asthma, khususnya anak-anak.
Dosisnya berkisar 1-2 kapsul empat kali sehari.
e. Ketotifen
Efek kerja sama dengan kromolin dengan dosis 2 x 1 mg perhari.
Keuntunganya dapat diberikan secara oral.

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


12
f. Iprutropioum bromide (Atroven)
Atroven adalah antikolenergik, diberikan dalam bentuk aerosol dan
bersifat bronkodilator.
3. Pengobatan selama serangan status asmatikus
1. Infus RL : D5 = 3 : 1 tiap 24 jam
2. Pemberian oksigen 4 liter/ menit melalui nasal kanul
3. Aminophilin bolus 5 mg/ kg bb diberikan pelan-pelan selama 20 menit
dilanjutkan drip RL atau D5 mentenence (20 tetes/ menit) dengan dosis
20 mg/ kg BB/ 24 jam.
4. Terbutalin 0,25 mg/ 6 jam secara sub kutan.
5. Dexametason 10-20 mg/ 6 jam secara intra vena.
6. Antibiotik spektrum luas.

K. Penyebab Asma
Penyebab asma untuk saat ini belum dipastikan secara pasti, namun yang
menjadi faktor pencetus asma, Berikut beberapa hal yang menjadi Penyebab
Asma yaitu :
1. Keturunan Keluarga.
Bila orang tua atau pun kakek nenek mempunyai riwayat penyakit asma,
maka keturunannya akan lebih mudah terkena penyakit semacam ini.
Maka seringkali disebut sebagai penyakit keturunan dan bukan bagian dari
penyakit yang menular. Untuk itulah bila memang diketahui silsilah
keluarga mempunyai riwayat penyakit yang satu ini maka alangkah
bijaksananya bila kita berkonsultasi dengan dokter spesalis Dalam sub
pulmonologi untuk mengatahi bagaiman cara mencegah timbulnya
penyakit asma dan juga mengetahui akan faktor pemicu pencetus penyakit
asma ini sehingga bisa meminimalisasi efek samping ketika terjadi
serangan atau kambuhnya.

2. Dampak Dari Pencemaran Udara (Lingkungan).


Perkembangan penyakit ini kian lama bisa disebabkan karena polusi udara
yang telah begitu banyak terjadi di negara kita tercinta ini. Pencemaran

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


13
udara daripada asap rokok, asap kendaraan bermotor dan asap kilang atau
asap pabrik juga menjadi faktor pencetus asma itu sendiri.
3. FaktorMakanan(Alergi).
Penyakit asma bisa juga disebabkan karena faktor alergi terhadap beberapa
jenis bahan makanan tertentu. Hal ini dalam dunia medis dikenal dengan
asma alergik.

L. Cara Mencegah dan Mengobati Penyakit Asma


A. Cara mencegah asma
1. Menjaga Kesehatan
Menjaga kesehatan merupakan usaha yang tidak terpisahkan dari
pengobatan penyakit asma. Bila penderita lemah dan kurang gizi, tidak
saja mudah terserang penyakit tetapi juga berarti mudah untuk
mendapat serangan penyakit asma beserta komplikasinya.Usaha
menjaga kesehatan ini antara lain berupa makan makanan yang bernilai
gizi baik, minum banyak, istirahat yang cukup, rekreasi dan olahraga
yang sesuai. Penderita dianjurkan banyak minum kecuali bila dilarang
dokter, karena menderita penyakit lain seperti penyakit jantung atau
ginjal yang berat.
Banyak minum akan mengencerkan dahak yang ada di saluran
pernapasan, sehingga dahak tadi mudah dikeluarkan. Sebaliknya bila
penderita kurang minum, dahak akan menjadi sangat kental, liat dan
sukar dikeluarkan.
Pada serangan penyakit asma berat banyak penderita yang kekurangan
cairan. Hal ini disebabkan oleh pengeluaran keringat yang berlebihan,
kurang minum dan penguapan cairan yang berlebihan dari saluran
napas akibat bernapas cepat dan dalam.
2. Menjaga kebersihan lingkungan
Lingkungan dimana penderita hidup sehari-hari sangat mempengaruhi
timbulnya serangan penyakit asma. Keadaan rumah misalnya sangat
penting diperhatikan. Rumah sebaiknya tidak lembab, cukup ventilasi
dan cahaya matahari. Saluran pembuangan air harus lancar. Kamar tidur

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


14
merupakan tempat yang perlu mendapat perhatian khusus. Sebaiknya
kamar tidur sesedikit mungkin berisi barang-barang untuk menghindari
debu rumah. Hewan peliharaan, asap rokok, semprotan nyamuk, atau
semprotan rambut dan lain-lain mencetuskan penyakit asma.
Lingkungan pekerjaan juga perlu mendapat perhatian apalagi kalau
jelas-jelas ada hubungan antara lingkungan kerja dengan serangan
penyakit asmanya.
3. Menghindari Faktor Pencetus
Alergen yang tersering menimbulkan penyakit asma adalah tungau debu
sehingga cara-cara menghindari debu rumah harus dipahami. Alergen
lain seperti kucing, anjing, burung, perlu mendapat perhatian dan juga
perlu diketahui bahwa binatang yang tidak diduga seperti kecoak dan
tikus dapat menimbulkan penyakit asma. Infeksi virus saluran
pernapasan sering mencetuskan penyakit asma. Sebaiknya penderita
penyakit asma menjauhi orang-orang yang sedang terserang influenza.
Juga dianjurkan menghindari tempat-tempat ramai atau penuh
sesak.Hindari kelelahan yang berlebihan, kehujanan, penggantian suhu
udara yang ekstrim, berlari-lari mengejar kendaraan umum atau
olahraga yang melelahkan. Jika akan berolahraga, lakukan latihan
pemanasan terlebih dahulu dan dianjurkan memakai obat pencegah
serangan penyakit asma. Zat-zat yang merangsang saluran napas seperi
asap rokok, asap mobil, uap bensin, uap cat atau uap zat-zat kimia dan
udara kotor lainnya harus dihindari.Perhatikan obat-obatan yang
diminum, khususnya obat-obat untuk pengobatan darah tinggi dan
jantung (beta-bloker), obat-obat antirematik (aspirin, dan sejenisnya).
Zat pewarna (tartrazine) dan zat pengawet makanan (benzoat) juga
dapat menimbulkan penyakit asma.

B. Menggunakan obat-obat anti penyakit asma


Pada serangan penyakit asma yang ringan apalagi frekuensinya jarang,
penderita boleh memakai obat bronkodilator, baik bentuk tablet, kapsul
maupun sirup. Tetapi bila ingin agar gejala penyakit asmanya cepat hilang,

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


15
jelas aerosol lebih baik. Pada serangan yang lebih berat, bila masih
mungkin dapat menambah dosis obat, sering lebih baik
mengkombinasikan dua atau tiga macam obat. Misalnya mula-mula
dengan aerosol atau tablet/sirup simpatomimetik (menghilangkan gejala)
kemudian dikombinasi dengan teofilin dan kalau tidak juga menghilang
baru ditambahkan kortikosteroid. Pada penyakit asma kronis bila
keadaannya sudah terkendali dapat dicoba obat-obat pencegah penyakit
asma. Tujuan obat-obat pencegah serangan penyakit asma ialah selain
untuk mencegah terjadinya serangan penyakit asma juga diharapkan agar
penggunaan obat-obat bronkodilator dan steroid sistemik dapat dikurangi
dan bahkan kalau mungkin dihentikan.
1. Medis Jangka Panjang
Pengobatan jangka panjang terhadap penderita asma, dilakukan
berdasarkan tingkat keparahan terhadap gejala asma tersebut. Pada
penderita asma intermitten, tidak ada pengobatan jangka panjang. Pada
penderita asma mild intermitten, menggunakan pilihan obat
glukokortikosteroid inhalasi dan didukung oleh Teofilin, kromones,
atau leukotrien. Dan untuk asma moderate persisten, menggunakan
pilihan obat β.
2. Diagnosa Asma
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya yang khas. Untuk
memperkuat diagnosis bisa dilakukan pemeriksaan spirometri berulang.
Spirometri juga digunakan untuk menilai beratnya penyumbatan saluran
udara dan untuk memantau pengobatan. Menentukan faktor pemicu
asma seringkali tidak mudah. Tes kulit alergi bisa membantu
menentukan alergen yang memicu timbulnya gejala asma. Jika
diagnosisnya masih meragukan atau jika dirasa sangat penting untuk
mengetahui faktor pemicu terjadinya asma, maka bisa dilakukan
bronchial challenge test.
3. Pengobatan Asma (Untuk Pengetahuan Saja/Tidak ada jaminan)

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


16
Obat-obatan bisa membuat penderita asma menjalani kehidupan
normal. Pengobatan segera untuk mengendalikan serangan asma
berbeda dengan pengobatan rutin untuk mencegah serangan.

BAB II
Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan. Pada tahap
ini akan dilaksanakan pengumpulan, pengelompokan dan
penganalisaan data. Pada pengumpulan data akan diperoleh data

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


17
subyektif yaitu data yang diperoleh dari keterangan pasien atau orang
tua pasien. Data obyektif diperoleh dari pemeriksaan fisik. Dari data
subyektif pada pasien asma biasanya diperoleh data anak dikeluhkan
sesak nafas, batuk, pilek, nafsu makan menurun, lemah, kelelahan dan
gelisah. Dari data obyektif diperoleh data mengi/wheezing berulang,
ronchi, dada terasa tertekan atau sesak, pernapasan cepat (takipnea),
sianosis, nafas cuping hidung dan retraksi otot dada.
2. Diagnose keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon


aktual/potensial terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan. Dari
pengkajian yang dilakukan maka didapatkan diagnosa keperawatan
yang muncul seperti (Doengoes, 2010)

a. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan


peningkatan produksi sputum/sekret.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap
anoreksia akibat rasa dan bau sputum
c. Kerusakan pertukaran gas berubungan dengan perubahan
membran alveolar kapiler
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
umum, ketidakseimbangan antara suplay dan kebutuhan oksigen.
e. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi parenkim paru,
batuk menetap
f. Ansietas orang tua berhubungan dengan perubahan status
kesehatan, kurangnya informasi.

3. Intervensi keperawatan
Perencanaan merupakan preskripsi untuk perilaku spesifik yang
diharapkan dari pasien dan/atau tindakan yang harus dilakukan oleh
perawat (Doenges, 2010).
Perencanaan diawali dengan memprioritaskan diagnosa

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


18
keperawatan berdasarkan berat ringannya masalah yang ditemukan
pada pasien. Rencana keperawatan yang dapat disusun untuk pasien
asma yaitu: (Doenges, 2010).

1. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan


dengan inflamasi trakeabronkial.
Tujuan : bersihan jalan nafas efektif
Rencana tindakan :
a. Ukur vital sign setiap 6 jam
Rasional : Mengetahui perkembangan pasien
b. Observasi keadaan umum pasien
Rasional : Mengetahui efektivitas perawatan dan
perkembangan pasien.
c. Kaji frekuensi/ kedalaman pernafasan dan gerakan dada
Rasional : Takipnea, pernafasan dangkal dan gerakan dada
tidak simetris, sering terjadi karena ketidaknyamanan gerakan
dada dan/atau cairan paru.
d. Auskultasi area paru, bunyi nafas, misal krekel, mengi dan
ronchi
Rasional: Bunyi nafas bronkial (normal pada bronkus) dapat
juga terjadi pada area konsolidasi, krekel, mengi dan ronchi
terdengar pada inspirasi atau ekspirasi pada respon bertahap
pengumpulan cairan, sekret kental dan spasme jalan
nafas/obstruksi.
e. Ajarkan pasien latihan nafas dalam dan batuk efektif
Rasional : Nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum
paru-paru atau jalan nafas lebih kecil. Batuk adalah mekanisme
pembersihan jalan nafas alami, membantu silia untuk
mempertahankan jalan nafas pasien.
f. Anjurkan banyak minum air hangat
Rasional : Air hangat dapat memobilisasi dan mengeluarkan
sekret.

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


19
g. Beri posisi yang nyaman (semi fowler/fowler)
Rasional : Memungkinkan upaya napas lebih dalam dan lebih
kuat serta menurunkan ketidaknyamanan dada.
h. Delegatif dalam pemberian bronkodilator, kortikosteroid,
ekspktoran dan antibiotik
Rasional : Bronkodilator untuk menurunkan spasme
bronkus/melebarkan bronkus dengan memobilisasi sekret.
Kortikosteroid yaitu anti inflamasi mencegah reaksi alergi,
menghambat pengeluaran histamine. Ekspektoran memudahkan
pengenceran dahak, Antibiotik diindikasikan untuk mengontrol
infeksi pernafasan.
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan
perubahan membran alveolar kapiler.
Tujuan : Ventilasi dan pertukaran gas efektif.
Rencana tindakan :
a. Observasi keadaan umum dan vital sign setiap 6 jam
Rasonal : Penurunan keadaan umum dan perubahan vital sign
merupakan indikasi derajat keparahan dan status kesehatan pasien.
b. Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku
Rasional : Sianosis menunjukkan vasokonstriksi, hipoksemia
sistemik.
c. Pertahankan istirahat tidur
Rasional : Mencegah terlalu lelah dan menurunkan
kebutuhan/konsumsi oksigen untuk memudahkan perbaikan
infeksi.
d. Tinggikan kepala dan sering mengubah posisi
Rasional : Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan
pengeluaran sekret untuk memperbaiki ventilasi
e. Berikan terapi oksigen sesuai indikasi
Rasional : Mempertahankan PaO2
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
kelemahan umum, ketidakseimbangan suplay dan kebutuhan O2

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


20
Tujuan : Aktivitas dapat ditingkatkan
Rencana tindakan :
a. Kaji tingkat kemampuan pasien dalam aktivitas
Rasional : Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan
memudahkan pilihan intervensi.
b. Jelaskan pentingnya istirahat dan keseimbangan aktivitas dan
istirahat
Rasional : Menurunkan kebutuhan metabolik, menghemat
energi untuk penyembuhan
c. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya
Rasional : Meminimalkan kelelahan dan membantu
keseimbangan suplay dan kebutuhan oksigen.
d. Bantu pasien dalam memilih posisi yang nyaman untuk istirahat
Rasional: Pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur
di kursi, atau menunduk ke depan meja atau bantal.
e. Libatkan keluarga dalam pemenuhan kebutuhan pasien
Rasional : Keluarga mampu melakukan perawatan secara
mandiri
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan peningkatan produksi sputum
Tujuan : pemenuhan nutrisi adekuat
Rencana tindakan :
a. Timbang berat badan setiap hari
Rasional : Memberikan informasi tentang kebutuhan diet
b. Beri penjelasan tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh
Rasional : Meningkatkan pematangan kebutuhan individu dan
pentingnya nutrisi pada proses pertumbuhan
c. Anjurkan memberikan makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : Meningkatkan nafsu makan, dengan porsi kecil tidak
akan cepat bosan
d. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang (batasi pengunjung)
Rasional : Lingkungan yang tenang dan nyaman dapat

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


21
menurunkan stress dan lebih kondusif untuk makan
e. Anjurkan menghidangkan makan dalam keadaan hangat
Rasional : Dengan makanan yang masih hangat dapat merangsang
makan dan meningkatkan nafsu makan
5. Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, batuk
menetap.
Tujuan : Nyeri, berkurang/terkontrol.
Rencana tindakan:
a. Kaji karakteristik nyeri
Rasional : Nyeri dada biasanya ada dalam beberapa serangan
asma .
b. Observasi vital sign setiap 6 jam
Rasional : Perubahan frekuensi jantung atau tekanan darah
menunjukkan bahwa mengalami nyeri. Khususnya bila alasan lain
untuk perubahan tanda vital telah terlihat.
c. Berikan tindakan nyaman seperti relaksasi dan distraksi
Rasional : Menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar
efek terapi analgetik
d. Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional: Meningkatkan kenyamanan/istirahat umum
6. Ansietas orang tua berhubungan dengan perubahan
status kesehatan, kurangnya informasi
Tujuan: Kecemasan orang tua berkurang/hilang, pengetahuan orang
tua bertambah, orang tua memahami kondisi pasien.
Rencana tujuan :
a. Kaji tingkat pengetahuan orang tua dan kecemasan orang tua
Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan yang
dimiliki orang tua dan kebenaran informasi yang didapat
b. Beri penjelasan pada orang tua tentang keadaan, pengertian,
penyebab, tanda gejala, pencegahan dan perawatan pasien.
Rasional : Memberi informasi untuk menambah pengetahuan
orang tua.

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


22
c. Jelaskan setiap tindakan keperawatan yang dilakukan
Rasional : Agar orang tua mengetahui setiap tindakan yang
diberikan.
d. Libatkan orang tua dalam perawatan pasien
Rasional : Orang tua lebih kooperatif dalam perawatan.
e. Beri kesempatan pada orang tua untuk bertanya tentang hal-hal
yang belum diketahui
Rasional : Orang tua bisa memperoleh informasi yang lebih
jelas.
f. Anjurkan orang tua untuk selalu berdoa
Rasional : Membantu orang tua agar lebih tenang
g. Lakukan evaluasi
Rasoional: Mengetahui apakah orang tua sudah benar-benar
mengerti dengan penjelasan yang diberikan.

4. Implementasi keperawatan
Pelaksanaan adalah pngelolaan, perwujudan dari rencana perawatan yang
telah disusun pada tahap kedua untuk memenuhi kebutuhan pasien secara
optimal dan komprehensif. Tindakan keperawatan yang dilaksanakan
disesuaikan dengan perencanaan (Nursalam, 2001).
5. Evaluasi
Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari
tindakan keperawatan pada pasien. Evaluasi yang diharapkan sesuai dengan
rencana tujuan yaitu :
1. Bersihan jalan nafas efektif
2. Ventilasi dan pertukaran gas efektif
3. Aktivitas dapat ditingkatkan
4. Pemenuhan nutrisi adekuat
5. Nyeri berkurang/terkontrol
6. Kecemasan orang tua berkurang/hilang, pengetahuan orang tua
bertambah, keluarga memahami kondisi pasien.

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


23
DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI. 2009. Pedoman Pengendalian Penyakit Asma. Indonesia.


2. Smeltzer & Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner
Suddarth. Volume 2 Edisi 8. Jakarta : EGC. 2001

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


24
3. Direktorat BIna Farmasi dan Klinik. 2007. Pharmaceutical Care Untuk
Penyakit Asma.616.238 Ind P. Departemen Kesehatan RI.
4. Doengoes, Marilyn E, et al. 2010. Nursing Diagnosis Manual: Planning,
Individualizing, and Documenting Client Care 3th Edition . Philadelphia:
F. A. Davis Company
5. Nursalam. (2001). Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: EGC
6. Mulia, J Meiyanti. 2000. Perkembangan Patogenesis Dan Pengobatan
Asma Bronkial. Jurnal Kedokteran Trisakti Vol 19 No. 3. Bagian Farmasi
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti
7. Pencegahan penyakit asma. http://medicastore.com. Diakses pada tanggal
17 Juni 2013 pukul 18.14 WIB

(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)


25
(Laporan Pendahuluan Asma Brongkial)
26

Anda mungkin juga menyukai