Anda di halaman 1dari 23

ASUHAN KEPERAWATAN KEGAWATDARURATAN

SYOK HEMORAGIK

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata


Kuliah Keperawatan Gawat Darurat

Oleh :

KELOMPOK VII

ISRAWATI 70300117036

NURAENI 70300117037

NURHIDAYA 70300117040

KAISAR AGUS 70300117041

SITTI AISYAH A 70300117042

KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

TAHUN 2019
KATA PENGANATAR

Puji syukur kita panjatkan kahadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan rahmat, hidayah serta inayah-Nya sehingga makalah kami yang berjudul
“Asuhan Keperawatan Kegawatdaruratan Syok Hemoragik” dapat diselesaikan.
Tak lupa pula kita kirimkan shalawat serta salam kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW sebagai sosok teladan bagi seluruh umat

Makalah ini dibuat untuk melaksanakan tugas yang diberikan oleh dosen
pembimbing. Oleh karena itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada
dosen pembimbing yang telah senantiasa memberikan bimbingan serta arahan
kepada kami. Kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada para pihak yang ikut berpartisipasi dalam penyusunan makalah ini yang
tidak dapat kami sebutkan.

Dalam penyusunan makalah ini, kami sebagai manusia biasa menyadari


bahwa makalah kami ini tidaklah sempurna dan tidak luput dari kesalahan. Kami
dari tim penyusun mengharapkan kiritik, saran serta masukan yang membangun
sehingga kami dapat meminimalisir kesalahan baik itu dari segi penulisan, bahasa
maupun dari segi penyusunan. Kami dari tim penyusun berharap semoga apa yang
dapat kami sajikan di makalah ini dapat bermanfaat dan menambah pengetahuan
para pembaca. Akhir kata sekian dan terima kasih.

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Makassar, 26 Maret 2020

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar i

Daftar Isi iii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Tujuan Penulisan 2

BAB II KONSEP MEDIS 3

A. Definisi Syok Hemoragik 3

B. Etiologi 3

C. Stadium Syok Hemoragik 4

D. Patofisiologi Syok Hemoragik 5

E. Manifestasi Klinis 6

F. Penatalaksanaan Syok Hemoragik 7

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 9

A. Pengkajian 9

B. Diagnosa Keperawatan 13

C. Intervensi Keperawatan14

BAB IV PENUTUP 17

A. Kesimpulan 17

ii
B. Saran 18

Daftar Pustaka 19

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Syok adalah suatu sindrom klinis ditandai dengan kegagalan dalam
pengaturan peredaran darah sehingga terjadi kegagalan untuk memenuhi
kebutuhan metabolisme tubuh. Kegagalan sirkulasi ini biasanya disebabkan
oleh kehilangan cairan (hipovolemik), karena kegagalan pompa jantung
ataupun karena perubahan resistensi vaskuler perifer. Berdasarkan sumber
penyebabnya terdapat 4 macam syok, yaitu syok hipovolemik, syok
kardiogenik, syok obstruktif, dan syok distributif.
Pengertian syok terdapat bermacam-macam sesuai dengan konteks
klinis dan tingkat kedalaman analisisnya. Secara patofisiologi syok
merupakan gangguan sirkulasi yang diartikan sebagai kondisi tidak
adekuatnya transport oksigen ke jaringan atau perfusi yang diakibatkan oleh
gangguan hemodinamik. Gangguan hemodinamik tersebut dapat berupa
penurunan tahanan vaskuler sitemik terutama di arteri, berkurangnya darah
balik, penurunan pengisian ventrikel, dan sangat kecilnya curah jantung.
Dengan demikian syok dapat terjadi oleh berbagai macam sebab dan dengan
melalui berbagai proses. Secara umum dapat dikelompokkan kepada empat
komponen yaitu masalah penurunan volume plasma intravaskuler, masalah
pompa jantung, masalah pada pembuluh baik arteri, vena, arteriol, venule
atupun kapiler, serta sumbatan potensi aliran baik pada jantung, sirkulasi
pulmonal dan sitemik.
Syok hemoragik (hipovolemik) disebabkan kehilangan akut dari darah
atau cairan tubuh. Cairan di tubuh manusia terdiri dari cairan intraselular dan
cairan ekstraselularbterbagi dalam cairan intravaskular, cairan interstisial, dan
cairan transelular.3 Volume kompartemen cairan sangat dipengaruhi oleh
natrium dan protein plasma. Natrium paling banyak terdapat di cairan

1
ekstraselular, di cairan intravaskular (plasma) dan interstisial kadarnya sekitar
140 mEq/L.4
Kematian yang disebabkan perdarahan dipresentasikan sebagia
masalah global, dengan lebih dari 60.000 kematian pertahun di U.S dan
diestimasikan sekitar 1,9 juta kematian pertahun di seluruh dunia, 1,5 juta
disebabkan oleh trauma fisik.
B. Tujuan Penulisan
1. Mahasiswa mampu memahami apa itu syok hemoragik
2. Mahasiswa mampu memahami penyebab apa saja yang dpaat
menimbulkan terjadinya syok hemoragik
3. Mahsiswa mampu memahami stadium dari syok hemoragik
4. Mahasiswa mampu memahami patofisiologi syok hemoragik
5. Mahasiswa mampu memahami tanda ataupun gejala yang timbul saat
terjadi syok hemoragik
6. Mahasiswa mampu memahami tata laksana saat terjadi syok hemoragik

2
BAB II

KONSEP MEDIS

A. Definisi Syok Hemoragik


Syok hemoragik adalah kehilangan akut volume peredaran darah yang
menyebabkan suatu kondisi yang menyebabkan perfusi jaringan menurun dan
inadekuatnya hantaran oksigen dan nutrisi yang diperlukan sel. Keadaan
apapun yang menyebabkan kurangnya oksigenasi sel maka sel dan organ
akan berada dalam keadaan syok (Tahwid, 2015).
Syok hemoragik adalah bentuk dari syok hipovolemik dimana terjadi
kehilangan darah dalam jumlah besar yang mengarah pada terjadinya
pengantaran oksigen yang adekuat pada level seluler. Bila perdarahan tidak
segera ditangani dan tidak dipantau lanjut, dapat menyebabkan kematian
(Academia.edu, 2015).
Syok hemoragik adalah suatu kondisi kehilangan volume
intravaskuler secara cepat dan signifikan yang menyebabkan penurunan
perfusi jaringan sehingga suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan tidak adekuat.
Hak ini mengakibatkan kebutuhan oksigen seluler akan meningkat dan syok
akan terjadi apabila kebutuhan oksigen lebih besar dari suplai
(Alomedika.com, 2020).
B. Etiologi
Beberapa hal yang dapat menyebabkan syok hemoragik, antara lain :
1. Trauma
Trauma merupakan penyebab tersering perdarahan akut seperti laserasi,
trauma tembus pada toraks dan abdomen serta ruptur pada pembuluh
darah besar
2. Perdarahan gastrointestinal
Perdarahan pada gastrointestinal dapat berupa varises esofagus,
esophagogastric mucosal tear, kanker kolon, kanker gaster dan esofagus
serta gastritis

3
3. Obstetrik/ginekologi
Pada kasus obstetrik yang dapat menyeabbakan perdarahan sampai syok
hemoragik seperti plasenta previa, solusio plasenta, ruptur kehamilan
ektopik serta ruptur kista ovarium
4. Koagulopati : demam berdarah, disseminated intravascular coagulation
(DIC)
5. Ruptur aneurisma
6. Terapi antitrombotik
Terapi antitrombotik seperti antikoagulen (heparin, warfarin dan direct
thrombin inhibitore) serta antiplatelet aspirin, clopidogrel dan
glycoprotein llb/llla receptor antagonists) dapat menyebabkan perdarahan
sampai syok hemoragik
7. Pulmonal
Terjadinya emboli pulmonal, kanker paru-paru, penyakit tuberkulosis,
aspergillosis serta goodpasture’s syndrome dapat menyebabkan terjadinya
perdarahan akut sampai syok (Alomedika.com, 2020).
C. Stadium Syok
1. Syok stadium-I adalah syok yang terjadi pada kehilangan darah hingga
maksimal 15% dari total volume darah. Pada stadium ini tubuh
mengkompensai dengan dengan vasokontriksi perifer sehingga terjadi
penurunan refiling kapiler. Pada saat ini pasien juga menjadi sedkit cemas
atau gelisah, namun tekanan darah dan tekanan nadi rata-rata, frekuensi
nadi dan nafas masih dalamkedaan normal.
2. Syok stadium-II adalah jika terjadi perdarahan sekitar 15-30%. Pada
stadium ini, vasokontriksi arteri tidak lagi mampu menkompensasi fungsi
kardiosirkulasi, sehingga terjadi takikardi, penurunan tekanan darah
terutama sistolik dan penurunan tekanan nadi, refiling kapiler yang
melambat,peningkatan frekuensi nafas, dan pasien menjadi lebih cemas.
3. Syok stadium-III bila terjadi perdarahan sebanyak 30-40%. Gejala-gejala
yang muncul pada stadium-II menjadi semakin berat. Frekuensi nadi terus

4
meningkat hingga diatas 120 kali per menit, peningkatan frekuensi nafas
hingga di atas 30 kali per menit, tekanan nadi dan tekanan darah sistolik
sangat menurun, refiling kapiler yang sangat lambat.
4. Stadium-IV adalah syok pada kehilangan darah lebih dari 40%. Pada saat
ini takikardi lebih dari 140 kali per menit dengan pengisian lemah sampai
tidak teraba, dengan gejala-gejala klinis pada stadium-III terus
memburuk. Kehilangan volume sirkulasi lebih dari 40% menyebabkan
terjadinya hipotensi berat, tekanan nadi semakin kecil dan disertai dengan
penurunan kesadaran atau letargik (Tahwid, 2015).
D. Patofisiologi
Telah diketahui dengan baik respons tubuh saat kehilangan volume
sirkulasi. Tubuh secara logis akan segera memindahkan volume srikulasinya
dari organ non vital dengan demikian fungsi organ vital terjaga karena cukup
menerima aliran darah. Saat terjadi perdarahan akut, curah jantung dan
denyut nadi akan turun akibat ‘baroreseptor’ di aortik arch dan atrium.
Volume sirkulasi turun, yang mengakibatkan teraktivasinya saraf simpatis di
jantung dan organ lain. Akibatnya, denyut jantung meningkat, terjadi
vasokontriksi dan redistribusi darah dari organ-organ nonvital, seperti di
kulit, saluran cerna, dan ginjal. Secara bersamaan sistem hormonal juga
teraktivasinya akibat perdarahan akut ini, dimana akan terjadi pelepasan
hormon kortikotropin, yang akan merangsang pelepasan glukokortikoid dan
beta-endorphin. Kelenjar pituitary posterior akan melepas vasopressin, yang
akan meretensi air di tubulus distal ginjal. Kompleks jukstamedula akan
melepas renin, menurunkan MAP (mean Arterial Pressuare) dan
meningkatkan pelepasan aldosteron dimana air dan natrium akan direabsobsi
kembali (Academia.edu, 2016)
Hiperglikemia sering terjadi saat perdarahan akut, karena proses
glukoneogenesis dan glikogenolisis yang meningkat akibat pelepasan
aldosteron dan growth hormone. Katekolamin dilepas ke sirkulasi yang akan
menghambat aktivitas dan produksi insulin sehingga gula darah meningkat.

5
Secara keseluruhan bagian tubuh yang lain juga melakukan perubahan
spesifik mengikuti kondisi tersebut. Terjadi proses autoregulasi yang luar
biasa di otak dimana pasokan aliran darah akan dipertahankan secara konstan
melalui MAP (mean Arterial Pressuare). Ginjal juga mentoleransi penurunan
aliran darah sampai 90% dalam waktu yang cepat dan pasokan aliraan darah
pada saluran cerna akan turun karena mekanismevasokontriksi dari splanknik
(Academia.edu, 2016).
Pada kondisi tubuh seperti ini pemberian resusitasi awal dan tepat
waktu bisa mencegah kerusakan organ tubuh tertentu akibat kompensasinya
dalam pertahanan tubuh.Semua keadaan perdarahan diatas, dapat
menyebabkan syok pada penderita khususnya syok hemoragik yang
disebabkan oleh berkurangnya volume darah yang beredar akibat perdarahan
atau dehidrasi (Academia.edu, 2016).
Dalam keadaan fisiologis, kedua sistem saraf ini mengatur fungsi
tubuh termasuk kardiovaskuler secara hemeostatik melalui mekanisme
autoregulasi. Misalnya pada saat aktifitas tubuh meningkat, tubuh
membutuhkan energi dan matabolisme lebih banyak dan konsumsi oksigen
meningkat, maka sistem simpatis sebagai respon hemeostatik akan
meningkatkan frekuensi denyut dan kontraktilitas otot jantung, sehingga
curah jantung dapat ditingkatkan untuk mensuplai oksigen lebih banyak.
Begitu juga terjadi bila kehilangan banyak darah, maka respon simpatis
adalah dengan terjadinya peningkatan laju dan kontraktilitas jantung serta
vasokontraksi pembuluh darah, sehingga keseimbangan volume darah dalam
sirkulasi dapat terjaga dan curah jantung dapat dipertahankan. Namun bila
gangguan yang terjadi sangat berlebihan, maka kompensasi autoregulasi
tdidak dapat lagi dilakukan sehingga menimbulkan gejala-gejala klinis
(Tahwid, 2015).
E. Manifestasi Klinis
1. Tanda dan gejala berdasarkan stadium

6
a. Pada stadium awal (<20% volume darah), pasien dapat mengalami
penurunan tingkat kesadaran, misalnya agitasi dan gelisah, atau
depresi sistem saraf pusat. Pada pemeriksaan fisik, sering didapatkan
tanda-tanda seperti kulit dingin, lembab, hipitensi ortstatik, takikardia
ringan atau tanda lain akibat proses vasokontriksi.
b. Pada stadium sedang (20-40% volume darah), pasien menjadi gelisah,
agitas dan takikardi, meski tekanan darah masih relatif normal pada
posisi telentang. Namun, lebih sering dialami adanya hipotensi
postural.
c. Pada tahap berat (>40% volume darah), takanan darah akan menurun,
takikardi menjadi lebih jelas, oligouria, penurunan kesadaran berupa
agitasi dan confusion.
2. Tanda dan gejala syok
a. Perubahan status mental : gelisah, agitasi, letargik, obtundasi
b. Tekanan darah sistolik (brakial) <110 mmHg
c. Takikardi >90x/menit
d. Frekuensi nafas : <7 atau >29 kali/menit
e. Urine output <5cc/KgBB/jam (Academia.edu, 2015).
F. Penatalaksanaan
Pada syok hemorogik tindakan yang esensial adalah menghentikanperdarahan
dan mengganti kehilangan darah. Setelah diketahui adanya syok hemoragik:
1. Pastikan jalan nafas dan pernapasan pasien dalam kondisi baik
2. Tempatkan pasien pada posisi trendelemburg atau kaki lebih tinggi dan
lakukan resusitasi cairan melalui akses IV (sentral maupun perifer)
3. Cairan yang diberikan berupa cairan isotonik misalnya RL atau NaCL
0,9%. Namun penggunaan cairan dengan NaCL 0,9% harus diwaspadai
karena efek samping asidosis hiperkloremik
4. Nilai ketat hemodinamik dan observasi tanda perbaikan syok
5. Atasi sumber perdarahan

7
6. Kehilangan darah dengan kadar Hb <10 mg/dL perlu pergantian dengan
transfusi
a. Pada kondisi yang sangat darurat, transfusi PRC sesuai golongan
sarah dapat diberikan
b. Pemberian PRC golongan darah P dengan rhesus negatif
direkomendasikan pada pasien yang golongan darhnya tidak
diketahui. Bila tersedia, analisa golongan darah harus diprioritaskan
dahulu.
c. Setelah perdarahan berhasil diatasi dan pasien stabil, pertimbangkan
penghentian transfusi setelah Hb >10 mg/dL.
7. Pada kondisi hipovolemia berat dan berkepanjangan, pertimbangkan
dukungan intropik dengan dopamin, vasopresin atau dobutamin untuk
meningkatkan kekuatan ventrikel setelah volume darah tercukupi terkebih
dahulu (Academia.edu, 2015).

8
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

Kasus

Tn.B usia 32 tahun masuk ke IGD dengan keluhan luka tusuk pada perut. Klien
mengatakan ditusuk dengan menggunakan pisau tajam oleh kerabatnya sendiri.
Dari hasil pengkajian didapatkan klien tampak pucat, usus tampak keluar, luka
tusuk dengan pendarahan aktif, badan lemas, diaphoresis, gelisah, turgor kulit
jelek, nyeri skala berat 9/10, pusing, dan akral teraba dingin. Dari hasil
pemeriksaan fisik didapatkan Tekanan darah 100/80 mmHg, frekuensi nadi 132
kali/menit, frekuensi napas 32 kali/menit, Suhu 36 ºC, SPO2 90 %. Pemeriksaan
penunjang :USG abdomen: tampak rupture arteri abdominalis aorta, dan
perdarahan ˃1500 ml, urine : produksi ˂20 cc warna kuning kemerahan, BB = 60
kg.

A. Pengkajian
1. Identitas
Nama : Tn. B
Umur : 32 tahun
Agama : Islam
Pemdidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Veteran Selatan
Diagnosa Medis :
Tgl/waktu Pengkajian : 26 Maret 2020
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan utama
Pasien mengalami luka tususk di bagian abdomen
b. Riwayat Kesehatan Sekarang

9
Klien mengatakan ditusuk dengan menggunakan pisau tajam oleh
kerabatnya sendiri. Dari hasil pengkajian didapatkan klien tampak
pucat, usus tampak keluar, luka tusuk dengan pendarahan aktif, badan
lemas, diaphoresis, gelisah, turgor kulit jelek, nyeri skala berat 9/10,
pusing, dan akral teraba dingin.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Pasien belum pernah dirawat di RS sebelumnya, tidak mempunyai
riwayat penyakit menular atau menurun dan pasien tidak memiliki
alergi terhadap obat.
3. Pengkajian Primer
a. Airway
Jalan nafas tidak terdapat sumbatan dan tidak ada suara nafas
tambahan.
b. Breathing
Pernapasan cepat dan dangkal dengan RR : 32x/menit, terdapat
sianosis, ada tarikan dinding dada.
c. Circulation
Tekanan darah 100/80 mmHg, nadi lemah dengan frekuensi 132
kali/menit, suhu 36º C, SPO2 90 %, capilary refill time >3 detik, akral
dingin, produksi urine <20 cc berwarna kuning kemerahan dan
perdarahan >1500 ml.
d. Disability
Kesadaran pasien somnolen dengan tingkat GCS 9, refleks pupil
positif
e. Exposure
Suhu badan 36º C, terdapat luka tusuk di bagian abdomen dengan
perdarahan aktif.
4. Pengkajian Sekunder
a. Kepala

10
Bentuk kepala simetris, warna rambut hitam, tidak ada lesi, tidak ada
edema.
b. Mata
Bentuk mata simetris, konjungtiva merah muda, sklera putih, pupil
isokor dan respon terhadap cahaya positif
c. Hidung
Bentuk hidung simetris, tidak ada lesi, tidak ada sekret dan terpasang
alat bantu pernapasan, tidak ada edema dan nyeri tekan
d. Telinga
Bentuk simetris, tidak ada alat bantu dengar dan serumen
e. Mulut
Bibir tampak pucat dan mukosa kering, tidak ada lesi dan stomatitis
f. Leher
Bentuk simetris, tidak teraba pembesaran kalenjer tiroid
g. Dada
I : dada tampak datar, simetris kiri & kanan ictus cordis tidak tampak,
P : Ictus cordis teraba kuat
P : tidak ada pelebaran jantung, paru terdengar pekak
A : BJ 1 dan 2 normal, bunyi paru vasikuler
h. Abdomen
I : Terdapat luka tusuk dengan pendarahan aktif, usus tampak keluar,
turgor kulit jelek
A:-
P:-
P: -
i. Genitalia
Tidak dikaji
j. Ektremitas
Atas : Bentuk simetris, integritas kulit baik, kekuatan otot 4
Bawah : Bentuk simetris, integritas kulit baik, kekuatan otot 4

11
5. Data Penunjang
USG abdomen : tampak ruptur arteri abdominalis aorta, dan perdarahan
˃1500 ml
6. Analisa Data

No Data Fokus Etiologi Masalah


1 DS : - Perubahan Penurunan
DO : afterload curah jantung
- Klien tampak pucat
- Terdapat sianosis
- TD : 100/80 mmhg
- N : 132 kali/menit
- Capilary refill time >3 detik

2 DS : - Kekurangan Perfusi perifer


DO : volume cairan tidak efektif
- Klien tampak pucat
- Akral dingin
- Turgor kulit jelek
- Capilary refill time >3 detik
- N : 132 kali/menit
3 DS : Kehilangan Hipovolemia
DO : cairan aktif
- N : 132 kali/menit
- TD : 100/80 mmhg
- Turgor kulit jelek
- Bibir tampak pucat dan
mukosa kering
- produksi urine <20 cc
berwarna kuning kemerahan

12
B. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan afterload
2. Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan kekurangan volume
cairan
3. Hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan aktif

13
C. Intervensi Keperawatan

Intervensi Keperawatan
Diagnosa
No Tujuan dan
Keperawatan Intervensi Keperawatan Rasional
Kriteria Hasil
1 Penurunan Curah jantung : 1. Monitor status cairan 1. Mendeteksi tanda hipovolemik
curah jantung meningkat 2. Monitor kesadaran dan respon pupil 2. Mengetahui tingkat kesadaran
3. Pertahankan jalan napas paten pasien
4. Berikan oksigen untuk mempertahankan 3. Mempertahankan ketersediaan
saturasi oksigen >94% oksigen
5. Pasang jalur IV 4. Memenuhi kebutuhan oksiegen
6. Kolaborasi pemberian infus cairan kristaloid pasien
1-2 L pada dewasa 5. Mencegah terjadinya hipovolemia
7. Kolaborasi pemberian transfusi darah, jika 6. Pemenuhan kebutuhan cairan
perlu. pasien
7. Mengontrol perdarahan
2 Perfusi perifer Perfusi perifer : 1. Periksa tanda dan gejala hipovolemia 1. Mendeteksi adanya resiko
tidak efektif meningkat 2. Menitor intake dan output cairan hipovolemia

14
Intervensi Keperawatan
Diagnosa
No Tujuan dan
Keperawatan Intervensi Keperawatan Rasional
Kriteria Hasil
3. Berikan asupan cairan oral 2. Mengetahui tingkat kebutuhan
4. Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral cairan pasien
5. Kolaborasi pemberian produk darah 3. Menjaga keadekuatan cairan dalam
tubuh
4. Menjaga keadekuatan caairan
pasien
5. Mencegah terjadinya hipovolemia
3 Hipovolemia Status cairan : 1. Periksa adanya darah pada muntah, sputum 1. Mengetahui tingkat keparahan
membaik feses, urine, pengeluan NGT dan drainase perdarahan
luka, jika perlu 2. Mengetahui sifat dan jumlah
2. Monitor terjadinya perdarahan perdarahan yang terjadi
3. Monitor nilai hemoglobin dan hematokrit 3. Mengetahui kebutuhan darah yang
sebelum dan setelah kehilangan darah diperlukan pasien
4. Monitor intake dan output cairan 4. Mengetahui kebutuhan cairan

15
Intervensi Keperawatan
Diagnosa
No Tujuan dan
Keperawatan Intervensi Keperawatan Rasional
Kriteria Hasil
5. Istirahatkan area yang mengalami perdarahan pasien
6. Lakukan penekanan atau baluyt tekan, jika 5. Membantu mengontrol perdarahan
perlu 6. Mengontrol perdarahan
7. Anjurkan membatasi gerakan 7. Mencegah perdarahan lebih kanjut
8. Kolaborasi pemberian transfusi darah, jika 8. Memenuhi kebutuhan darah pasien
perlu.

16
BAB IV

PENUTUP

A. Simpulan
1. Syok hemoragik adalah kehilangan akut volume peredaran darah yang
menyebabkan suatu kondisi yang menyebabkan perfusi jaringan menurun
dan inadekuatnya hantaran oksigen dan nutrisi yang diperlukan sel.
2. Etiologi dari syok hemoragik dapat disebabkan berbagai hal, antara lain
trauma, perdarahan gastrointestinal, obstetrik/ginekologi, koagulopati,
ruptur aneurisma, terapi antitrombotik dan pulmonal.
3. Stadium syok dibedakan berdasarkan banyaknya jumlah volume darah
yang keluar dari tubuh. Stadium I <15% volume darah, stadium II 15-
30% volume darah, stadium III 30-40% volume darah dan stadium IV
>40% volume darah.
4. Saat tubuh kehilangan banyak darah, maka respon simpatis adalah dengan
terjadinya peningkatan laju dan kontraktilitas jantung serta vasokontraksi
pembuluh darah, sehingga keseimbangan volume darah dalam sirkulasi
dapat terjaga dan curah jantung dapat dipertahankan. Namun bila
gangguan yang terjadi sangat berlebihan, maka kompensasi autoregulasi
tdidak dapat lagi dilakukan sehingga menimbulkan terjadilah syok.
5. Tanda dan gejala yang timbul saat terjadi syok dapat berupa perubahan
status mental, tekanan darah menurun (<110 mmHg), takikardi
(>90x/menit), frekuensi nafas bisa menurun atau meningkat (<7 atau
>28x/menit) dan produksi urin menurun (<5cc/KgBB/jam).
6. Saat syok hemoragik terjadi, yang dapat dilakukan adalah dengan
mengatur posisi pasien dalam posisi trendelemburg, memastikan kondisi
tubuh pasien tetap hangat, menganjurkan pasien untuk meminimalisir
pergerakan, pemberian oksigen untuk meningkatkan oksigenasi pasien
dan pemberian terapi infus jalur IV serta transfusi darah.

17
B. Saran
Seperti yang diketahui, penyakit TB sudah menjadi pembunuh nomor
dua di Indonesia setelah penyakit jantung koroner. Meski begitu masih
banyak masyarakat yang enggan melakukan pemeriksaan ataupun
pengobatan. Selain itu, pengetahuan masyarakat tentang penyakit TB masih
minim, sehingga penanganannya pun membutuhkan intervensi yang lebih
kompleks.

18
DAFTAR PUSTAKA

Academia.edu. (2015). Asuhan Keperawatan Gawat Darurat. Diakses dari :


https://www.academia.edu/34772152/ASUHAN_KEPERAWATAN_GA
WAT_DARURAT

Academia.edu. (2015). Anastesi-Terapi Cairan Syok Hemoragik. Diakses dari :


https://www.academia.edu/27071529/Anestesi_-
_Terapi_Cairan_Syok_Hemoragik

Academia.edu. (2016). Syok Hemoragik. Diakses dari :


https://www.academia.edu/39838129/Syok_Hemoragik

Alomedika.com. (2020). Syok Hemoragik – Patofisiologis, Diagnosis,


Penatalaksanaan. Diakses dari :
https://www.alomedika.com/penyakit/kegawatdaruratan-medis/syok-
hemoragik

Tahwid, Muhammad Iqbal. (2015). Tatalaksana Syok Hipovolemik Et Causa


Suspek Intra Abdominal Hemorrhagic Post Sectio Caesaria. J Agromed
Unila Vol. 2 No. 3

19