Anda di halaman 1dari 23

Sistem Tata Ekonomi Kapitalisme, Sosialisme dan

Komunisme - Definisi, Pengertian, Arti &


Penjelasan - Sejarah Teori Ilmu Ekonomi
Thu, 07/09/2006 - 8:17pm — godam64

1. Sistem Perekonomian / Tata Ekonomi Kapitalisme

Kapitalisme adalah sistem perekonomian yang memberikan kebebasan secara penuh


kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan perekonomian seperti memproduksi
baang, manjual barang, menyalurkan barang dan lain sebagainya. Dalam sistem ini
pemerintah bisa turut ambil bagian untuk memastikan kelancaran dan keberlangsungan
kegiatan perekonomian yang berjalan, tetapi bisa juga pemerintah tidak ikut campur
dalam ekonomi.

Dalam perekonomian kapitalis setiap warga dapat mengatur nasibnya sendiri sesuai
dengan kemampuannya. Semua orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh
laba sebesar-besarnya. Semua orang bebas malakukan kompetisi untuk memenangkan
persaingan bebas dengan berbagai cara.

2. Sistem Perekonomian / Tata Ekonomi Sosialisme

Sosialisme adalah suatu sistem perekonomian yang memberikan kebebasan yang cukup
besar kepada setiap orang untuk melaksanakan kegiatan ekonomi tetapi dengan campur
tangan pemerintah. Pemerintah masuk ke dalam perekonomian untuk mengatur tata
kehidupan perekonomian negara serta jenis-jenis perekonomian yang menguasai hajat
hidup orang banyak dikuasai oleh negara seperti air, listrik, telekomunikasi, gas lng, dan
lain sebagainya.

Dalam sistem ekonomi sosialisme atau sosialis, mekanisme pasar dalam hal permintaan
dan penawaran terhadap harga dan kuantitas masih berlaku. Pemerintah mengatur
berbagai hal dalam ekonomi untuk menjamin kesejahteraan seluruh masyarakat.

3. Sistem Perekonomian / Tata Ekonomi Komunisme

Komunisme adalah suatu sistem perekonomian di mana peran pemerintah sebagai


pengatur seluruh sumber-sumber kegiatan perekonomian. Setiap orang tidak
diperbolehkan memiliki kekayaan pribadi, sehingga nasib seseorang bisa ditentukan oleh
pemerintah. Semua unit bisnis mulai dari yang kecil hingga yang besar dimiliki oleh
pemerintah dengan tujuan pemerataan ekonomi dan kebersamaan. Namun tujuan sistem
komunis tersebut belum pernah sampai ke tahap yang maju, sehingga banyak negara
yang meninggalkan sistem komunisme tersebut.
Evolusi: Inspirasi bagi Komunisme

HARUN YAHYA

Evolusi: Inspirasi bagi Marx dan Engels

Filsafat Materialisme, yang lahir di Yunani Kuno, memperoleh kemenangan di abad ke-
19. Filsafat kuno ini meraih keberhasilannya melalui dua tokoh filsuf Jerman, Karl Marx
dan Friedrich Engels.

Marx dan Engels berusaha menjelaskan filsafat materialis, yang bertahan hidup selama
berabad-abad, dengan penjelasan baru bernama “dialektika”. Secara singkat, dialektika
beranggapan bahwa segala perubahan yang terjadi di alam semesta adalah akibat dari
konflik persaingan dan kepentingan pribadi antar kekuatan yang saling bertentangan.

Marx dan Engels menggunakan dialektika untuk menjelaskan keseluruhan sejarah dunia.
Analisis sederhana oleh Marx menyatakan bahwa sejarah kemanusiaan didasarkan pada
konflik, dan konflik yang ada saat ini adalah antara kaum buruh dan masyarakat kelas
atas. Ia meramalkan bahwa kaum buruh pada akhirnya akan menyadari bahwa harapan
satu-satunya adalah agar mereka bersatu dan melakukan revolusi.

Marx dan Engels memiliki kebencian mendalam terhadap agama. Sebagai ateis tulen,
mereka menegaskan bahwa penghapusan agama adalah perlu demi keberhasilan
Komunisme. Saat Marx dan Engels sedang merumuskan pandangannya, muncul
perkembangan penting yang dapat memberikan dukungan bagi teori mereka. Darwin
muncul ke permukaan dengan bukunya The Origin of Species. Darwin menyatakan bahwa
di alam kehidupan, makhluk hidup berevolusi dan bertahan hidup akibat adanya
perjuangan untuk mempertahankan hidup. Apa lagi ini kalau bukan dialektika? Lagi pula,
ini adalah dialektika yang muncul untuk mengingkari segala peran agama termasuk
adanya penciptaan atau Pencipta. Ini adalah kesempatan emas bagi Marx dan Engels.

Engels membaca buku Darwin segera setelah terbit dan menulis kepada Karl Marx:

“(Buku) Darwin, yang kini sedang saya baca, sungguh mengagumkan”.

Karl Marx menjawab:

“Ini adalah buku yang berisi dasar berpijak pada sejarah alam bagi pandangan kita.”

Engels sangat terpengaruh oleh teori Darwin sehingga, dalam upaya memberi sumbangsih
pada teori tersebut, ia menulis artikel berjudul: “Peran yang Dimainkan Kaum Buruh
dalam Peralihan dari Kera ke Manusia”. Dengan segera, Engels mengumpulkan seluruh
gagasan evolusionisnya dalam sebuah buku berjudul “Dialectics of Nature”.

Buah Komunisme di Uni Sovyet

Pandangan Karl Marx dan Engels tumbuh dan berkembang subur, khususnya setelah
kematian mereka. Vladimir Ilyich Lenin adalah yang pertama menerapkan revolusi
komunis sebagaimana dicita-citakan Karl Marx.

Lenin adalah pemimpin pergerakan komunis Bolshevik di Rusia. Saat itu, rejim Tsar
diperintah oleh dinasti Romanov. Kaum Bolshevik di bawah pimpinan Lenin sedang
menunggu kesempatan untuk menumbangkan rejim Tsar dengan kekuatan. Kekacauan
akibat Perang Dunia Pertama memunculkan peluang yang ditunggu-tunggu kaum
Bolshevik. Di bulan Oktober 1917, mereka berhasil mengambil alih kekuasaan. Setelah
revolusi, Rusia menjadi ajang perang saudara berdarah antara kaum komunis melawan
para pendukung Tsar. Siapapun yang dianggap musuh oleh kaum komunis, termasuk
keluarga Romanov, dibunuh secara sadis.

Sebagaimana gurunya, yakni Karl Marx dan Engels, Lenin pun seorang evolusionis tulen,
dan seringkali menegaskan bahwa teori Darwin adalah dasar berpijak filsafat materialis
dialektika yang ia agungkan.

Trotsky adalah nama penting kedua dalam revolusi Bolshevik. Ia juga sangat menekankan
pentingnya Darwinisme, dan menyatakan dukungannya kepada Darwin dengan
mengatakan.

"Penemuan Darwin adalah kemenangan tertinggi dialektika di seluruh alam kehidupan."

Joseph Stalin, sang diktator Partai Komunis paling kejam, menggantikan Lenin pada
tahun 1924. Menengok tiga puluh tahun pemerintahan teror Stalin, siapapun hampir pasti
akan berkata bahwa kebijakan Stalin secara umum adalah untuk membuktikan kekejaman
komunisme.
Di antara kebijakan pertamanya adalah menghilangkan kepemilikan tanah secara individu.
Ia mengerahkan tentara untuk memaksa petani, yang berjumlah 80% dari populasi, agar
menggabungkan tanah mereka menjadi lahan-lahan luas kolektif milik pemerintah. Biji-
bijian tanaman pangan dipanen oleh tentara bersenjata. Kelaparan pun melanda,
merenggut nyawa pria, wanita dan anak-anak. Tapi Stalin terus saja mengekspor stok
makanan daripada memberi makan penduduknya. Menurut perhitungan, sekitar sepuluh
juta petani tewas dalam tahun-tahun ini. Enam juta orang mati kelaparan di Ukraina. Dua
puluh persen penduduk Kazakhstan lenyap. Di Kaukasus saja, angka kematian mencapai
satu juta.

Stalin mengirim ribuan para penentang kebijakannya ke kamp kerja paksa di Siberia.
Kamp-kamp ini, tempat para tahanan dipekerjakan sampai mati, menjadi kuburan bagi
kebanyakan mereka. Di samping itu, puluhan ribu orang dibunuh oleh polisi rahasia
Stalin. Di wilayah Krimea dan Turkistan, jutaan orang juga dipaksa pindah ke daerah-
daerah terpencil di Uni Soviet.

Akibat kebijakan berdarah Stalin, sekitar tiga puluh juta orang mati terbunuh. Menurut
para ahli sejarah, Stalin merasakan kenikmatan tersendiri dari kekejaman ini. Di
kantornya di Istana Kremlin, ia merasa senang ketika memeriksa daftar orang-orang yang
dieksekusi dan dibunuh.

Selain karena kondisi kejiwaannya, yang menjadikan Stalin pembunuh masal kejam
adalah keyakinan kuatnya pada filsafat materialis. Dan dasar berpijak filsafat ini, dalam
pengertian Stalin, adalah teori evolusi Darwin. Ia mengatakan:.

"Tiga hal yang kita lakukan agar tidak melecehkan akal para pelajar seminari kita. Kita
harus mengajarkan mereka usia bumi, asal-usul bumi, dan ajaran-ajaran Darwin."

Satu lagi yang menunjukkan keyakinan buta Stalin pada teori evolusi adalah penolakan
hukum genetika Mendel oleh sistem pendidikan Soviet. Sejak awal abad ke-20, hukum
Mendel telah diterima oleh kalangan ilmuwan – kecuali di Uni Soviet. Penemuan ini
menggugurkan klaim Lamarck, yang sebagiannya juga diyakini Darwin, tentang
“pewarisan sifat-sifat dapatan kepada generasi berikutnya”. Ilmuwan Rusia Lysenko
menganggap hal ini sebagai pukulan berat terhadap teori evolusi, dan merumuskan teori
alternatif Lamarckis. Stalin kagum atas ide Lysenko dan kemudian mengangkatnya
sebagai kepala lembaga-lembaga ilmiah milik pemerintah. Hingga kematian Stalin, ilmu
genetika tidak diterima di lembaga-lembaga ilmiah Uni Soviet.

Evolusi dan Komunisme Cina

Selama pemerintahan totaliter Stalin, rejim komunis lainnya yang berlandaskan


Darwinisme didirikan di Cina. Pada tahun 1949, setelah perang saudara yang panjang,
kaum komunis memenangkan kekuasaan di bawah pimpinan Mao Tse Tung. Mao
mendirikan rezim penindas dan berdarah, sebagaimana sekutunya Stalin yang
memberinya banyak dukungan. Hukuman mati yang tak terhitung jumlahnya terjadi di
China. Sekitar tiga puluh juta orang mati kelaparan akibat kebijakan kejam Mao. Selama
Revolusi Kebudayaan, kelompok pemuda militan yang disebut “Pasukan Pengawal Merah
Mao” menghempaskan negeri ini dalam kekacauan dan ketakutan. Mao menjelaskan
landasan filosofis rezimnya dengan menyatakan secara terang-terangan bahwa:
“Sosialisme Cina didirikan di atas Darwin dan teori evolusi”. Ahli sejarah universitas
Harvard, James Reeve Pusey juga mengakui pengaruh Darwinis pada Maoisme. Dalam
bukunya yang berjudul “China and Charles Darwin”, Pusey mengatakan:

Darwin telah membenarkan perubahan dan revolusi dengan kekerasan. Sungguh, ini
adalah satu di antara hal paling berharga yang diberikan Darwin pada China. Dan ini
betul-betul sesuai dengan pemikiran Mao Tse Tung.
(James Reeve Pusey, China and Charles Darwin, Harvard University Press, Cambridge
Massachusetts, 1983, hlm. 450-51)
Komunisme telah menyebabkan teror, perang gerilya dan perang saudara di banyak
negara. Di Kamboja, Khmer merah komunis membantai hampir sepertiga dari penduduk
negeri. Manusia dibunuh hanya karena mengambil sedikit makanan dari lahan pertanian
kolektif atau mengucapkan perkataan yang bertentangan dengan komunisme. Bukti-bukti
pembantaian Kamboja menampakkan kebiadaban komunisme tanpa perlu dijelaskan lagi.

Selama seratus lima puluh tahun, ideologi komunis, yang identik dengan pertikaian dan
peperangan, senantiasa berjalan beriringan dengan Darwinisme. Kini, kaum Marxis dan
komunis masih merupakan pendukung utama Darwinisme. Di hampir setiap negara,
pendukung terdepan teori evolusi cenderung berpandangan Marxis. Mudah dipahami,
sebab sebagaimana perkataan Karl Marx sendiri, teori evolusi berisi dasar berpijak pada
sejarah alam bagi ideologi materialisnya.

Kesimpulan

Darwinisme muncul seratus lima puluh tahun yang lalu. Sejak itu, bencana yang
ditimbulkan pada manusia adalah kebrutalan para diktator, rasisme, penyiksaan,
penganiayaan dan peperangan. Ini adalah akibat alamiah yang dimiliki Darwinisme dan
materialisme terhadap umat manusia. Filsafat gabungan ini, yang menganggap manusia
tak lebih dari spesies hewan, yang hanya meyakini “materi”, dan yang menyatakan bahwa
pertikaian adalah hukum alam yang tak berubah, akan menghilangkan sifat kemanusiaan
dan menghancurkan masyarakat.

Penyebab sesungguhnya dari semua ini adalah keingkaran manusia terhadap Pencipta
mereka sendiri. Masyarakat yang berpaling dari Allah, dan terpedaya oleh dogma seperti
materialisme, menjadi rentan terhadap segala bentuk kerusakan. Akibatnya, mereka
menderita kesengsaraan, ketakutan dan kebinasaan. Allah menyatakan hal ini dalam
firman-Nya:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan
manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Ruum, 30:41)

Kedamaian, keadilan dan ketentraman akan terwujud hanya jika Darwinisme dan
materialisme diungkap kepada dunia sebagai kebohongan sebagaimana wajah asli mereka,
dan ketika manusia mengetahui tujuan penciptaannya, yaitu mengabdi kepada
Penciptanya, mengabdi kepada Allah.
Pramoedya Ananta Toer & Ideologi
Komunisme
Pengarang : A.Kohar Ibrahim

SOAL Ideologi yang dianut oleh Pramoedya Ananta Toer merupakan persoalan penting
magi genting yang seringkali menjadi tanda-tanya, bahkan dari sang penanyanya. Seperti
yang diajukan sang penginterview : Apakah benar tuduhan orang bahwa Pramoeya,
“Penganut ajaran Komunisme, Marxisme?“ „Itu yang menuduh, tahu tidak Komunisme,
Marxisme, Leninisme atau cuma ngawur-ngawur saja?“ jawab sekaligus tanya balik
Pramoedya. Karena, memang benar bahwa Sosialisme, Komunisme atau juga yang
disebut-sebut sebagai Marxisme dan Leninisme bukan perihal yang spele atau gampang.
Lanjut Pram menegaskan, bahwa: „Itu ilmu, tidak mudah mempelajari itu. Referensi
seluruh buku yang ada, ndak setiap orang bisa mengerti, bahkan tidak setiap sarjana bisa,
ndak semudah itu.“ „Kalau ngomong komunis komunis gampang saja...,“ tegas Pram
melanjutkan dengan dengan tajam: „Tapi tahu nggak apa yang diomongkannya? Dan
waktu tim Kejakgung kemari untuk menginterogasi, saya minta diadili, apa salah saya
sebenarnya. Dan saya minta dibantu ahli hukum dari negara netral yang tahu betul
tentang Komunisme, Marxisme dan sebagainya. Ini supaya saya, sebagai terdakwa yang
tidak tahu itu (Komunisme, Marxisme, Leninisme, red.) dan diputuskan oleh hakim yang
juga tidak tahu itu.“ Tuding dan tantangan Pram itu jitu sekali! Ke arah rezim militer
OrBa dan perangkat institusi kekuasaan terorisnya, termasuk para jaksa, sarjana dan
kalangan budayawannya macam Manikbu. Dalam manifestasi aksi teror mereka terhadap
kaum yang mereka jadikan musuhnya, yang dengan sewenang-wenang diberi cap terlibat
pemberontakan “G30S/PKI”, kaum atheis, komunis. Yang kesemuanya tak lain tak bukan
kecuali sebagai corong propaganda hitam yang berkiblat ke Washington – pusat adikuasa
kaum nekolim dalam maraknya api Perang Dingin. Dalam percaturan politik skala dunia,
Washington lah tempat yang jadi titik pusat Sang Panglima Politik tertinggi yang di-abdi.
Dahsyatnya! Perwujudan atau manifestasi aksi teror ideologis-politis itu bukan hanya
terhadap PKI dan organisasi-organisasi massa yang dianggap sebagai “mantel”nya,
macam Pemuda Rakyat, Gerwani, SOBSI, BTI, BNI, HSI, CGMI, IPPI dan LEKRA saja.
Melainkan juga terhadap kaum nasionalis dan kaum demokrat Indonesia lainnya. Yang
jumlahnya cukup dahsyat: berjuta-juta jiwa manusia – dari Ibukota Jakarta sampai kota-
kota besar dan kecil lainnya bahkan sampai ke pelosok rimba serta pedesaan Indonesia!
Semua itu adalah manifestasi aksi Teror Putih yang semata-mata untuk merebut
kekuasaan politik, untuk menegakkan singgasana kekuasaan yang mengapung di telaga
darah, keringat dan air mata rakyat yang dijadikan tumbalnya! Jika disimak-ingat
kenyataan itu, adakah manusia yang namanya benar-benar manusia lagi sehat dan waras
yang masih mau membantah betapa kekejian ber-panglima-kan politik militeris fasis
yang selaras kepentingan kaum kolonialis-neo-kolonialis dan imperialis seperti yang
dipraktekkan di bumi Nusantara ini? Dan soal yang jadi persoalan besar bangsa ini,
sampai detik ini pun rupanya masih belum juga dimengerti oleh sementara orang,
termasuk oleh Wartawan dalam wawancaranya dengan Sarjana yang pakar bahasa pula,
tersebutkan di atas. Dan gugatan seorang Pramoedya pun tantangannya untuk
menegakkan kebenaran dan keadilan yang diajukan sekian tahun lalu bahkan sampai
matinya, masih juga belum terjawabkan: Siapa sesungguhnya yang takut mengungkapkan
kebenaran dan menegakkan keadilan di Negara Hukum ini? Iya. Saya ingin menggaris-
bawahi, bahwasanya manifestasi aksi terorisme yang amat keji itu adalah berupa fitnah
sarat dusta sekaligus pemberian cap sewenang-wenang: terlibat Kudeta „G30S/PKI“ dan
penganut ideologi Komunisme (Marxisme, Leninisme, Stalinisme). Karena, dalam
kenyataannya tidak seperti yang dituduhkan oleh penguasa OrBa dan Manikebu.
Jangankan yang jutaan orang tertuduh dari massa rakyat – wong cilik atau kaum marhaen
dan bagian masyarakat lainnya – bahkan yang formil jadi anggota PKI sendiri belum
tentu benar-benar menguasai ideologi yang dinyatan penguasa sebagai yang terlarang.
Bukankah dalam soal ideologi terlarang tersebut, bahkan oleh para pemimpin PKI sendiri
sudah diakui akan adanya kelemahan mereka sendiri? Betapa tidak, terbukti buku yang
disebut orang sebagai „Bibel“nya kaum Komunis berjudul „Das Kapital“ Karl Marx, tak
pernah dikaji para anggota PKI, paling-paling oleh para kader tinggi atau kader pusatnya.
Dalam bahasa asli atau bahasa asingnya. Coba tunjukkan, kapan mereka
mempelajarinya? Dan kaum buruh dan kaum nelayan dan kaum tani yang dipedesaan
atau ujung gunung? Jangankan mengkajinya, melihat saja pun Kitab Kapital itu mereka
tak pernah! Lagi pula, bukankah dalam versi bahasa Indonesianya baru setelah 80 tahun
berdirinya PKI dan baru setelah 40 tahun berdirinya OrBa diterbitkan di Jakarta! Oleh
salah seorang eks-tapol dan seorang sahabat Pramoedya Ananta Toer bernama Oei Hai
Djun. Sebagai anekdot, dalam soal ideologi yang dinyatakan terlarang oleh OrBa itu,
beberapa tahun lalu saya pernah bilang: „Hehehe...jangankan pengarang macam
dramawan Utuy Tatang Sontani, Sobron Aidit saja pun belum tentu pernah baca Das
Kapital. Dan ternyata memang benar. Malah anekdot tersebut ditambah bumbunya oleh
sang adik: Asahan Aidit dalam wawancaranya dengan Majalah Tempo baru-baru ini.
Bahwa yang dikaji dipraktekkan Sobron Aidit adalah ajaran Dale Carnegie: “How to Win
Friends and Influence People“ ! Menyimak baris kata-kata Asahan berkenaan dengan
abang Sabar-nya itu, aku mesem-mesem nyaris ngakak, lantaran kontan terkenang sang
pengarang yang juga terkenal sebagai anggota Seniman Senen, pun yang doyan masakan
enak-enak, termasuk kegemarannya akan kepala ikan besar! Dan aku tak bisa
melupakannya, kanrena antara lain, dialah di samping Aziz Akbar, yang jadi pendukung
utama pengelolaan penerbitan „pers alternatip“ kami, seperti Kreasi dan Arena itu.
Sobron Aidit memang penulis yang produktip, selain prosa dan puisi serta esai juga
seorang jurnalis sejak awal mula kegiatan tulis-menulisnya. Namun, dalam soal-soal teori
atau literatur yang mengandung faham yang diharamkan oleh rezim Orba dan kaum
Manikebuis, yang diungkapkan Asahan Aidit itu bisa jadi bahan renungan. Lebih jauh,
dari pengakuannya sendiri, putera dari keluarga Muslim yang abangnya sendiri
menyandang nama asli Achmad (DN Aidit), pada masa lansianya ia melaksanakan hak
azasinya secara bebas merdeka, yakni beralih menjadi penganut agama Kristen. ***
Komunisme dan Pan-Islamisme
Tan Malaka (1922)
Penerjemah: Ted Sprague, Agustus 2009

Ini adalah sebuah pidato yang disampaikan oleh tokoh Marxis Indonesia Tan Malaka
pada Kongres Komunis Internasional ke-empat pada tanggal 12 Nopember 1922.
Menentang thesis yang didraf oleh Lenin dan diadopsi pada Kongres Kedua, yang telah
menekankan perlunya sebuah “perjuangan melawan Pan-Islamisme”, Tan Malaka
mengusulkan sebuah pendekatan yang lebih positif. Tan Malaka (1897-1949) dipilih
sebagai ketua Partai Komunis Indonesia pada tahun 1921, tetapi pada tahun berikutnya
dia dipaksa untuk meninggalkan Hindia Belanda oleh pihak otoritas koloni. Setelah
proklamasi kemerdekaan pada bulan Agustus 1945, dia kembali ke Indonesia untuk
berpartisipasi dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Dia menjadi ketua
Partai Murba (Partai Proletar)), yang dibentuk pada tahun 1948 untuk mengorganisir
kelas pekerja oposisi terhadap pemerintahan Soekarno. Pada bulan Februari 1949 Tan
Malaka ditangkap oleh tentara Indonesia dan dieksekusi.

Kamerad! Setelah mendengar pidato-pidato Jenderal Zinoviev, Jenderal Radek dan


kamerad-kamerad Eropa lainnya, serta berkenaan dengan pentingnya, untuk kita di Timur
juga, masalah front persatuan, saya pikir saya harus angkat bicara, atas nama Partai
Komunis Jawa, untuk jutaan rakyat tertindas di Timur.

Saya harus mengajukan beberapa pertanyaan kepada kedua jenderal tersebut. Mungkin
Jenderal Zinoviev tidak memikirkan mengenai sebuah front persatuan di Jawa; mungkin
front persatuan kita adalah sesuatu yang berbeda. Tetapi keputusan dari Kongres
Komunis Internasional Kedua secara praktis berarti bahwa kita harus membentuk sebuah
front persatuan dengan kubu nasionalisme revolusioner. Karena, seperti yang harus kita
akui, pembentukan sebuah front bersatu juga perlu di negara kita, front persatuan kita
tidak bisa dibentuk dengan kaum Sosial Demokrat tetapi harus dengan kaum nasionalis
revolusioner. Namun taktik yang digunakan oleh kaum nasionalis seringkali berbeda
dengan taktik kita; sebagai contoh, taktik pemboikotan dan perjuangan pembebasan kaum
Muslim, Pan-Islamisme. Dua hal inilah yang secara khusus saya pertimbangkan,
sehingga saya bertanya begini. Pertama, apakah kita akan mendukung gerakan boikot
atau tidak? Kedua, apakah kita akan mendukung Pan-Islamisme, ya atau tidak? Bila ya,
seberapa jauh kita akan terlibat?

Metode boikot, harus saya akui, bukanlah sebuah metode Komunis, tapi hal itu adalah
salah satu senjata paling tajam yang tersedia pada situasi penaklukan politik-militer di
Timur. Dalam dua tahun terakhir kita telah menyaksikan keberhasilan aksi boikot rakyat
Mesir 1919 melawan imperialisme Inggris, dan lagi boikot besar oleh Cina di akhir tahun
1919 dan awal tahun 1920. Gerakan boikot terbaru terjadi di India Inggris. Kita bisa
melihat bahwa dalam beberapa tahun kedepan bentuk-bentuk pemboikotan lain akan
digunakan di timur. Kita tahu bahwa ini bukan metode kita; ini adalah sebuah metode
borjuis kecil, satu metode kepunyaan kaum borjuis nasionalis. Lebih jauh kita bisa
mengatakan; bahwa pemboikotan berarti dukungan terhadap kapitalisme domestik; tetapi
kita juga telah menyaksikan bahwa setelah gerakan boikot di India, kini ada 1800
pemimpin yang dipenjara, bahwa pemboikotan telah membangkitkan sebuah atmosfer
yang sangat revolusioner, dan gerakan boikot ini telah memaksa pemerintahan Inggris
untuk meminta bantuan militer kepada Jepang, untuk menjaga-jaga kalau gerakan ini
akan berkembang menjadi sebuah pemeberontakan bersenjata. Kita juga tahu bahwa para
pemimpin Mahommedan di India – Dr. Kirchief, Hasret Mahoni dan Ali bersaudara –
pada kenyataannya adalah kaum nasionalis; kita tidak melihat sebuah pemberontakan
ketika Gandhi dipenjara. Tapi rakyat di India sangat paham seperti halnya setiap kaum
revolusioner disana: bahwa sebuah pemberontakan lokal hanya akan berahir dalam
kekalahan, karena kita tidak punya senjata atau militer lainnya di sana, oleh karena itu
masalah gerakan boikot akan, sekarang atau di hari depan, menjadi sebuah masalah yang
mendesak bagi kita kaum Komunis. Baik di India maupun Jawa kita sadar bahwa banyak
kaum Komunis yang cenderung ingin memproklamirkan sebuah gerakan boikot di Jawa,
mungkin karena ide-ide Komunis yang berasal dari Rusia telah lama dilupakan, atau
mungkin ada semacam pelepasan mood Komunis yang besar di India yang bisa
menentang semua gerakan. Bagaimanapun juga kita dihadapkan pada pertanyaan: apakah
kita akan mendukung taktik ini, ya atau tidak? Dan seberapa jauh kita akan mendukung?

Pan-Islamisme adalah sebuah sejarah yang panjang. Pertama saya akan berbicara tentang
pengalaman kita di Hindia Belanda dimana kita telah bekerja sama dengan kaum Islamis.
Di Jawa kita memiliki sebuah organisasi yang sangat besar dengan banyak petani yang
sangat miskin, yaitu Sarekat Islam. Antara tahun 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki
sejuta anggota, mungkin sebanyak tiga atau empat juta. Itu adalah sebuah gerakan
popular yang sangat besar, yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner.

Hingga tahun 1921 kita berkolaborasi dengan mereka. Partai kita, terdiri dari 13,000
anggota, masuk ke pergerakan popular ini dan melakukan propaganda di dalamnya. Pada
tahun 1921 kita berhasil membuat Sarekat Islam mengadopsi program kita. Sarekat Islam
juga melakukan agitasii pedesaan mengenai kontrol pabrik-pabrik dan slogan: Semua
kekuasaan untuk kaum tani miskin, Semua kekuasaan untuk kaum proletar! Dengan
demikian Sarekat Islam melakukan propaganda yang sama seperti Partai Komunis kita,
hanya saja terkadang menggunakan nama yang berbeda.

Namun pada tahun 1921 sebuah perpecahan timbul karena kritik yang ceroboh terhadap
kepemimpinan Sarekat Islam. Pemerintah melalui agen-agennya di Sarekat Islam
mengeksploitasi perpecahan ini, dan juga mengeksploitasi keputusan Kongres Komunis
Internasional Kedua: Perjuangan melawan Pan-Islamisme! Apa kata mereka kepada para
petani jelata? Mereka bilang: Lihatlah, Komunis tidak hanya menginginkan perpecahan,
mereka ingin menghancurkan agamamu! Itu terlalu berlebihan bagi seorang petani
muslim. Sang petani berpikir: aku telah kehilangan segalanya di dunia ini, haruskah aku
kehilangan surgaku juga? Tidak akan! Ini adalah cara seorang Muslim jelata berpikir.
Para propagandis dari agen-agen pemerintah telah berhasil mengeksploitasi ini dengan
sangat baik. Jadi kita pecah. [Ketua: Waktu anda telah habis]

Saya datang dari Hindia Belanda, dan menempuh perjalanan selama empat puluh hari .
[Tepuk Tangan]

Para anggota Sarekat Islam percaya pada propaganda kita dan tetap bersama kita di perut
mereka, untuk menggunakan sebuah ekspresi yang popular, tetapi di hati mereka mereka
masih bersama Sarekat Islam, dengan surga mereka. Karena surga adalah sesuatu yang
tidak bisa kita berikan kepada mereka. Karena itulah, mereka memboikot pertemuan-
peretemuan kita dan kita tidak bisa melanjutkan propaganda kita lagi.

Sejak awal tahun lalu kita telah bekerja untuk membangun kembali hubungan kita dengan
Sarekat Islam. Pada kongres kami bulan Desember tahun lalu kita mengatakan bahwa
Muslim di Kaukasus dan negara-negara lain, yang bekerjasama dengan Uni Soviet dan
berjuang melawan kapitalisme internasional, memahami agama mereka dengan lebih
baik, kami juga mengatakan bahwa, jika mereka ingin membuat sebuah propaganda
mengenai agama mereka, mereka bisa melakukan ini, meskipun mereka tidak boleh
melakukannya di dalam pertemuan-pertemuan tetapi di masjid-masjid.

Kami telah ditanya di pertemuan-pertemuan publik: Apakah Anda Muslim - ya atau


tidak? Apakah Anda percaya pada Tuhan – ya atau tidak? Bagaimana kita menjawabnya?
Ya, saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi
ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim [Tepuk Tangan
Meriah], karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia!
[Tepuk Tangan Meriah] Jadi kami telah mengantarkan sebuah kekalahan pada para
pemimpin mereka dengan Qur’an di tangan kita, dan di kongres kami tahun lalu kami
telah memaksa para pemimpin mereka, melalui anggota mereka sendiri, untuk
bekerjasama dengan kami.

Ketika sebuah pemogokan umum terjadi pada bulan Maret tahun lalu, para pekerja
Muslim membutuhkan kami, karena kami memiliki pekerja kereta api di bawah
kepemimpinan kami. Para pemimpin Sarekat Islam berkata: Anda ingin bekerjasama
dengan kami, jadi Anda harus menolong kami juga. Tentu saja kami mendatangi mereka,
dan berkata: Ya, Tuhan Anda maha kuasa, tapi Dia telah mengatakan bahwa di dunia ini
pekerja kereta api adalah lebih berkuasa! [Tepuk Tangan Meriah] Pekerja kereta api
adalah komite eksekutif Tuhan di dunia ini. [Tertawa]

Tapi ini tidak menyelesaikan masalah kita, jika kita pecah lagi dengan mereka kita bisa
yakin bahwa para agen pemerintah akan berada di sana lagi dengan argumen Pan-
Islamisme mereka. Jadi masalah Pan-Islamisme adalah sebuah masalah yang sangat
mendadak.

Tapi sekarang pertama-tama kita harus paham benar apa arti sesungguhnya dari kata Pan-
Islamisme. Dulu, ini mempunyai sebuah makna historis dan berarti bahwa Islam harus
menaklukkan seluruh dunia, pedang di tangan, dan ini harus dilakukan di bawah
kepemimpinan seorang Khalifah [Pemimpin dari Negara Islam – Ed.], dan Sang Khalifah
haruslah keturunan Arab. 400 tahun setelah meninggalnya Muhammad, kaum muslim
terpisah menjadi tiga Negara besar dan oleh karena itu Perang Suci ini telah kehilangan
arti pentingnya bagi semua dunia Islam. Hilang artinya bahwa, atas nama Tuhan,
Khalifah dan agama Islam harus menaklukkan dunia, karena Khalifah Spanyol
mengatakan, aku adalah benar-benar Khalifah sesungguhnya, aku harus membawa panji
[Islam], dan Khalifah Mesir mengatakan hal yang sama, serta Khalifah Baghdad berkata,
Aku adalah Khalifah yang sebenarnya, karena aku berasal dari suku Arab Quraish.

Jadi Pan-Islamisme tidak lagi memiliki arti sebenarnya, tapi kini dalam prakteknya
memiliki sebuah arti yang benar-benar berbeda. Saat ini, Pan-Islamisme berarti
perjuangan untuk pembebasan nasional, karena bagi kaum Muslim Islam adalah
segalanya: tidak hanya agama, tetapi juga Negara, ekonomi, makanan, dan segalanya.
Dengan demikian Pan-Islamisme saat ini berarti persaudaraan antar sesama Muslim, dan
perjuangan kemerdakaan bukan hanya untuk Arab tetapi juga India, Jawa dan semua
Muslim yang tertindas. Persaudaraan ini berarti perjuangan kemerdekaan praktis bukan
hanya melawan kapitalisme Belanda, tapi juga kapitalisme Inggris, Perancis dan Itali,
oleh karena itu melawan kapitalisme secara keseluruhan. Itulah arti Pan-Islamisme saat
ini di Indonesia di antara rakyat kolonial yang tertindas, menurut propaganda rahasia
mereka – perjuangan melawan semua kekuasaan imperialis di dunia.

Ini adalah sebuah tugas yang baru untuk kita. Seperti halnya kita ingin mendukung
perjuangan nasional, kita juga ingin mendukung perjuangan kemerdekaan 250 juta
Muslim yang sangat pemberani, yang hidup di bawah kekuasaaan imperialis. Karena itu
saya tanya sekali lagi: haruskah kita mendukung Pan-Islamisme, dalam pengertian ini?

Saya akhiri pidato saya. [Tepuk Tangan Meriah]


KAUM KOMUNIS JUGA PUNYA HAK HIDUP DI BUMI INDONESIA

Oleh:Puji Ratna Sari


Indonesia

1. Dilihat dari Perjuangannya dan dokumennya, PRD yang berusaha untuk


memperjuangkan demokrasi yang sejati di Indonesia yang berbasiskan pada kedaulatan
rakyat (sambutan berdirinya Partai Rakyat Demokratik dari Persatuan Rakyat
Demokratik; Manifesto PRD dan AD/ART), yang menurut PRD, hanya bisa di capai
dengan perjuangan pencabutan 5 UU Politik !

2. Berdasarkan Dokumen PRD, Partai Rakyat Demokratik tidak ada sangkut pautnya
dengan Partai Komunis Indonesia ( yang berazaskan Marxisme Leninisme). PRD tidak
berazaskan pada Komunisme,atau Marxisme Leninisme, melainkan pada Sosial
Demokrasi Kerakyatan!

3. Persoalan Komunisme di Indonesia, bagaimanapun tidak bisa dipungkiri dan dihapus


dari sejarah perjuangan bangsa (oleh siapapun juga, walaupun itu PRD), bahwa kaum
komunis Indonesia ikut berjuang bersama kaum nasionalis dan kaum agama,-- melawan
Kolonialisme Belanda dan Fascisme Jepang !

4. Data sejarah yang diketahui oleh umum tentang PKI 1926, PKI 1948 dan PKI 1965,
masih merupakan kabut misteri yang belum terungkap (ditutup secara sengaja)secara
nyata dan faktual. Sejarah yang diketahui telah didistorsi, dimanipulasi bahkan diputar
balikkan untuk kepentingan politik tertentu. Sehingga menyulitkan generasi berikutnya
(yaitu generasi muda untuk percaya secara nyata terhadap data sejarah yang dipakai
sekarang) Bau busuk dari keculasan ini sudah mulai merebak di setiap hidung generasi
muda !

5. Bahwa, pada tahun 1965, terjadi pembantaian rakyat besar-besaran (3 juta rakyat :
Sarwo Edi)dan sebagian besar yang tewas adalah kaum komunis, sosialis bahkan
nasionalis yang juga sebagai rakyat Indonesia !

6. Belum pernah ada di muka bumi ini sebuah kekuasaan yang mengatas namakan
Komunisme, karena secara ideologis,-- komunisme adalah sebuah tahapan akhir dari
masyarakat secara internasional, yang telah menghilangkan batas batas negara,
menghilangkan eksploitasi manusia atas manusia dan manusia hidup secara modern
menghargai hak-hak pribadi dah hak-hak kolektif (rakyat)!

7. Rezim-rezim yang ada adalah rezim-rezim yang berusaha masuk ketahapan


masyarakat sosialis, yang mengatur cara produksi dan alat produksi yang berguna bagi
rakyat pekerja. Kegagalan dan keberhasilan yang dihadapi adalah relatif karena
bagaimanapun, sebagai sebuah tahapan perkembangan pasti akan berhadapan dengan
halangan secara nasional aupun internasional (dengan berbagai aspek ideologi/politiknya)
baik secara ekonomi maupun politik !
8. Kegagalan dan tumbangnya perjuangan menuju masyarakat sosialis merupakan
persoalan ilmu pengetahuan, bukan merupakan kesalahan ideologi itu sendiri sebagi
sebuah cita-cita. Karena takdir sejarah perkembangan umat manusia adalah menuju ke
masyarakat yang lebih baik dan lebih adil, maka adalah tugas ilmu pengetahuan untuk
mewujudkan takdir sejarah tersebut !

9. Sosialisme ataupun Komunisme adalah produk dari ilmu pengetahuan, untuk di


gunakan oleh umat manusia secara ilmiah dan konsekwen. Seperti halnya Agama-agama
di dunia baik itu Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Kong Hu Chu memiliki tujuan
kebaikan dan keadilan bagi umat manusia diseluruh dunia. Demikian halnya dengan
Sosialisme dan Komunisme, yang merupakan cara pandang, cita-cita dan alat perjuangan
yang merupakan kesimpulan-kesimpulan ilmiah dari perkembangan sejarah,--bertujuan
sama dengan yang dikehendaki oleh agama-agama didunia. Karenanya tidak ada alasan
untuk mempertentangkan keyakinan-keyakinan, agama-agama dan ideologi sosialisme
dan komunisme itu sendiri. Karena Sosialisme dan komunisme bersifat melengkapi peran
agama-agama untuk mewujudkan satu dunia, dunia umat manusia yang lebih adil. Pada
tahapan sosialis penghasilan masyarakat secara perseorangan didapat sesuai dengan
hasil(nilai) kerjanya. Pada tahapan masyarakat komunis penghasilan masyarakat secara
perseorangan adalah sesuai dengan kebutuhannya. Apa yang diuraikan bahwa Agama
adalah candu masyarakat, oleh K. Marx,-- adalah untuk berhadapan dengan agama
katholik yang menjadi alat dari raja-raja dan kaum bangsawan feodal di zamannya, yang
hidup diatas penderitaan rakyat eropah, dengan memberikan legitimasi penindasan dan
penghisapan manusia atas manusia oleh kaum bangsawan dan raja-raja tersebut. Agama
katholik dizaman itu telah dimanipulasi untuk kepentingan penguasa. Sesungguhnya
tidak ada satu agamapun di muka bumi ini yang mengizinkan penindasan dan
penghisapan manusia atas manusia yang lain !

10. Untuk menuju kemasyarakat yang lebih adil tersebut, maka perjuangan demokrasi
adalah awal dan fondasi bagi rakyat. Karena demokrasi merupakan syarat untuk saling
menghargai hak-hak pribadi secara individu dan hak-hak rakyat secara kolektif !

11. Faham Komunisme tidak pernah bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45 bahkan
kaum komunis ikut membidani lahirnya Pancasila dan UUD 45. Karena itu tidak ada hal
yang bertentangan dari Pancasila dan UUD 45 tersebut dengan faham sosialis ataupun
komunis, sejauh Pancasila dan UUD 45 itu di jadikan pedoman secara konsekwen.
Karena Pancasila dan UUD 45 menjamin secara konsekwen,--kehidupan faham sosialis
dan komunis tersebut. Maka penolakan kemerdekaan berkembangnya faham sosialis dan
komunis tersebut sebenarnya bertentangan, memanipulasi bahkan mengkhianati Pancasila
dan UUD 45 !

11. Sudah saatnya bagi bangsa yang besar seperti Indonesia, untuk melakukan
rekonsiliasi, agar tahapan demokratisasi sebagai sebuah keharusan,--didukung oleh
semua pihak dan kalangan. Sudah seharusnya PRD dan semua pihak ikut mendorong
rekonsiliasi nasional tersebut, yaitu bahwa orang berpaham komunis juga boleh hidup
dan memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dengan yang lainnya. Karena generasi
muda kedepan adalah sebuah generasi yang harus berhadapan dengan globalisasi, sebagai
sebuah arus yang terbuka bagi demokratisasi ekonomi dan politik. Sudah saatnya bagi
bangsa untuk hidup secara adil dan bebas dari rasa takut, agar dapat memperkuat
konsolidasi bangsa. Sudah tidak semestinya generasi muda hidup diatas bangkai-bangkai
sejarah masa silam yang dibangun untuk menakut-nakuti massa rakyat. Karena hal ini
justru akan memperlemah konsolidasi bangsa !

12. Tidak seharusnya, sebagai sebuah bangsa kita tinggal dalam kepicikkan yang anti
demokrasi,--atau demokrasi palsu, yang melarang, menekan hak-hak orang untuk
memiliki keyakinan tertentu dalam hal ini sosialis dan Komunis. Karena demokrasi sejati
di Indonesia haruslah bermakna : Kaum sosialis dan kaum komunis boleh hidup di negeri
yang bernama Indonesia. Demokrasi memerlukan kedewasaan politik !

13. Ideologi sosialis dan komunis tidak dapat direkayasa atau dimanipulasi untuk di
bunuh (seperti yang sudah-sudah),--selama penghisapan, jurang kemiskinan, penindasan
hak-hak azasi,--sebagai konsekwensi dari kapitalisme terus dibiarkan
berkembang.Kematian abadi bagi komunisme adalah pada saat manusia telah hidup tanpa
penghisapan dan penindasan. Sosialisme dan komunisme di Indonesia, tidak akan pernah
mati hanya dengan caci-maki, Kutukan, banjir darah atau runtuhnya rezim-rezim lama,--
yang mengatas namakan Pancasila dan UUD 45. Sementara kami : kaum buruh yang
berupah rendah, kaum tani yang kehilangan tanah dan kaum miskin yang hina dina,--
tidak punya hak ekonomi dan hak politik dalam ruang demokrasi, untuk menentukan
nasib anak-anak kami !

14. Bagaimanapun demokrasi sebagai sebuah tahap yang harus dilewati oleh semua
bangsa di muka bumi ini melahirkan kapitalisme yang akan terus menghisap rakyat
khususnya kaum pekerja. Namun disisi lain kapitalisme melahirkan ilmu pengetahuan
dan tehnologi sebagai syarat bagi masyarakat modern yang lebih maju. Namun sudah
saatnya rakyat sadar bahwa ilmu pengetahuan dan tehnologi itu hadir karena keringat dan
darah pengorbanan rakyat, khususnya kaum pekerja.Oleh karena itu adalah hak bagi
rakyat dan kaum pekerja untuk menikmati hasl jerih payahnya, ilmu pengetahuan dan
tehnologi yang modern,-- sebagai buah ranum dari kapitalisme itu sendiri. Hanya apabila
rakyat berdaulat secara penuh (seperti yang tercantum didalam Pancasila, UUD 45 dan
Sambutan/Manifesto PRD),--maka rakyat berkuasa untuk memanfaatkan ilmu
pengetahuan dan tehnologi itu untuk kepentingannya, secara individu maupun kolektif !

15. Semakin demokratis sebuah bangsa, maka semakin ilmiah daya pikirnya, dan
semakin tinggi kemampuan untuk toleran terhadap perbedaan-perbedaan yang tumbuh
dan berkembang di masyarakatnya, Karena perbedaan-perbedaan itulah yang menjadi
tenaga pendorong bagi gairah hiup manusia untuk mewujudkan masyarakat makmur dan
adil !

16. Secara agama, Tuhanlah yang berhak mengadili umatnya, atas perbuatan-
perbuatannya di dunia fana. Kebenaran dan kemenangan bagi Rakyat pasti kan datang !
Edisi Khusus Desember No. 18 Tahun 2003

Kasad jenderal TNI Ryamizard Ryacudu :

TNI AD WASPADAI BANGKITNYA KOMUNISME


GAYA BARU

TNI Angkatan Darat tetap menilai paham komunis belum mati, sehingga jajaran TNI AD tetap
mewaspadai bangkitnya komunisme dengan gaya baru yang bisa muncul melalui berbagai
penetrasi dan infiltrasi ke dalam organisasi atau gerakan yang telah ada saat ini. Oleh sebab itu,
seluruh komponen bangsa perlu senantiasa waspada guna menangkal berbagai upaya
bangkitnya kembali komunisme di Indonesia.

Kewaspadaan itu disampaikan Kepala Staf TNI AD (KSAD) Jenderal Ryamizard Ryacudu, saat
memberikan sambutan dalam acara renungan dan doa mengenang 38 tahun tragedi Nasional
Gerakan 30 September (G 30 S) di Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya, Jakarta
.
Kasad Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu mengatakan, bahwa acara Mengenang Tragedi
Nasional Kebiadaban PKI 38 Tahun yang lalu pada malam ini mengandung makna yang sangat
penting, karena selain untuk memperkokoh integrasi spiritual antar komponen bangsa agar tidak
mengalami kesenjangan dalam menghadapi hakikat ancaman yang bersifat permanen terhadap
perjuangan mencapai cita-cita nasional, juga untuk mengajak semua orang agar lebih memahami
dan menghayati kembali berbagai upaya sistematis pemutarbalikan fakta sejarah yang pada
belakangan ini dilakukan penganut paham komunis. "Oleh karenanya, pada kesempatan yang
baik ini, marilah kita merapatkan barisan dan bergandengan tangan, bersatu padu, bergotong
royong untuk menutup semua celah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara
bagi kemungkinan bangkitnya komunisme di persada nusantara yang sangat kita cintai ini, " kata
Kasad.

Menurut Pucuk Pimpinan TNI AD, Kewaspadaan itu sangat penting, apalagi pada era reformasi
sekarang ini, yang oleh sementara orang diklaim sebagai era kebebasan yang membuka peluang
setiap orang bebas melakukan apa saja tanpa mempedulikan orang lain. Setiap orang bebas
memutarbalikkan fakta demi kepentingannya. Era kebebasan yang kebablasan ini telah
dimanfaatkan oleh orang-orang komunis atau simpatisannya untuk menghidupkan kembali ajaran
komunisme itu. Berdasarkan analisis intelijen, telah terbukti adanya proses perubahan bentuk
PKI melalui berbagai metamorfosa-nya, termasuk link-up dengan gerakan atau aksi-aksi teroris
yang marak belakangan ini.

Lakukan Counter Opini terhadap Opini yang Salah

Lebih lanjut Kasad mengatakan, bahwa tidak jarang belakangan ini orang-orang komunis atau
simpatisannya menggunakan media massa, baik elektronik maupun cetak untuk membentuk
opini masyarakat, khususnya generasi muda, bahwa aksi penumpasan PKI dan antek-anteknya
yang dilakukan rakyat bersama TNI sesuatu yang salah dan melanggar HAM. Opini yang
dibentuk itu harus dilawan dengan melakukan counter opini dan berbagai kegiatan yang dapat
menangkal upaya membangkitkan komunis itu, seperti mencermati betul kegiatan-kegiatan
mantan tahanan politik yang sudah bebas di dalam masyarakat.

Data tentang orang yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dengan PKI itu ada di
setiap Kodim, meskipun sekarang ini mereka mencoba merubah identitasnya. Data itu terus
dijaga dan dipelihara serta diperbaharui sesuai dengan perubahan identitas yang dilakukan agar
dapat memantau setiap gerakan atau aksi yang dilakukannya. "Jadi, kalau beberapa waktu yang
lalu ada wacana yang menginginkan Koter dibubarkan, boleh jadi itu merupakan kehendak
orang-orang PKI itu, " tegas Kasad.

Bagi komunis tidak ada kawan abadi, tidak ada lawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi.
Untuk meraih dan mencapai kepentingannya itu, komunis melakukan segala cara, dari yang
halus sampai dengan cara-cara yang biadab. Oleh karenanya, seluruh komponen masyarakat
perlu menyadari dan mewaspadai berbagai perangkap yang dipasang oleh komunis agar bangsa
Indonesia tidak terjerumus ke dalam jurang kehancuran.

Menurut Menantu Try Sutrisno tersebut, berdasarkan analisis intelijen dirasakan terjadi
perubahan atau metamorfosis manuver PKI dalam bentuk-bentuk aksi terorisme yang
belakangan marak terjadi di tanah air. Acara renungan ini bukan untuk membangkitkan
permusuhan, tetapi untuk mengenang jasa para pahlawan, termasuk mendoakannya, serta untuk
meningkatkan kewaspadaan terhadap munculnya gerakan komunisme dalam bentuk yang baru.

Contoh dan Teladan Bagi Generasi Penerus

Lebih lanjut Kasad mengatakan, berkenaan dengan Memperingati Tragedi Nasional 30


September 2003, merupakan peristiwa yang membawa duka sangat dalam bagi bangsa
Indonesia. Oleh sebab itu marilah pada kesempatan yang baik ini kita menundukkan kepala
sejenak, memberikan penghormatan serta penghargaan yang paling tinggi atas segala
pengorbanan tanpa pamrih yang telah diberikan oleh para Pahlawan Revolusi.

Peristiwa ini telah menjadi saksi akan keberanian para Pahlawan Revolusi dengan kerelaan
mengorbankan segala yang dimilikinya, termasuk miliknya yang paling berharga yaitu jiwa dan
raga demi mempertahankan kehormatan dan keutuhan bangsa dan negara. Semangat rela
berkorban yang demikian luhur dan agung, memang patut menjadi contoh dan teladan bagi
generasi penerus.

Pengorbanan yang dituntut dewasa ini adalah pengabdian total kepada bangsa dan negara
dengan senantiasa menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi
ataupun golongan. Untuk itu, dengan dilandasi oleh jiwa, tekad dan semangat serta nilai-nilai
kepahlawanan seperti yang telah ditunjukkan oleh para Pahlawan Revolusi, marilah kita tunaikan
tugas dan kewajiban kita sesuai dengan bidang tugas masing-masing dengan sebaik-baiknya.

Lebih jauh Jenderal bintang empat ini mengatakan, di era kebebasan ini terlihat komunis baik
oleh simpatisannya yang setiap saat dapat memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada untuk
memutarbalikkan fakta. Bagi komunis tidak ada kawan atau lawan yang abadi, yang ada
hanyalah tujuan yang abadi," katanya. Untuk meraih dan mencapai kepentinganya itu, komunis
melakukan segala cara, dari yang halus sampai dengan cara-cara yang biadab. Oleh karenanya,
kita semua perlu menyadari dan mewaspadai berbagai perangkap yang dipasang oleh komunis
agar kita tidak terjerumus ke dalam jurang kehancuran.

Hadir pada malam itu seluruh petinggi Angkatan Darat, termasuk sejumlah mantan Kasad,
seperti Jenderal (Purn) Try Sutrisno dan Jenderal (Purn) Edi Sudrajat, dan anggota keluarga ke
tujuh Pahlawan Revolusi.
Prof. Dr. Sartono Kartodirdjo & Pemberontakan di Banten
Selasa, 11-Desember-2007, 07:33:11 1118 clicks
Jumat 7 Desember 2007 pukul 00.40, Sejarawan dan Guru Besar Emeritus
Fakultas Ilmu Budaya UGM, Prof. Dr. Aloysius Sartono Kartodirdjo meninggal
dalam usia 86 tahun di RS Panti Rapih, Yogyakarta.
Oleh Hendri F. Isnaeni
Jumat 7 Desember 2007 pukul 00.40, Sejarawan dan Guru Besar Emeritus Fakultas Ilmu
Budaya UGM, Prof. Dr. Aloysius Sartono Kartodirdjo meninggal dalam usia 86 tahun di
RS Panti Rapih, Yogyakarta. Indonesia pun kembali berduka. Setelah kepergian
sejarawan Ong Hok Ham, kembali kehilangan putra terbaiknya.
Semasa hidupnya, Prof Sartono mendedikasikan diri menggeluti sejarah Indonesia.
Kehadirannya telah memberikan secercah perubahan dalam kancah intelektual sejarah
Indonesia. Ia adalah wakil generasi baru guru sejarah Indonesia yang menerapkan metode
penelitian modern pada lapangan studi sejarah. Ia dikenal sebagai perintis mazhab
historiografi “sejarah lokal”, “sejarah dari dalam”, dan tinjauan “sejarah dari disiplin ilmu
sosial”.

Pemberontakan Petani Banten 1888


Menurut Prof Sartono, bangsa Indonesia sebelum perang sebenarnnya memiliki etos
nasionalime berupa rela berkorban. Salah satu contohnya adalah Pemberontakan Petani
Banten pada tahun 1888 atau sering juga disebut dengan Geger Cilegon 1888. Peristiwa
bersejarah itu menjadi bahan disertasinya: The Peasant’s Revolt of Banten in 1888, It’s
Conditions, Course and Sequel: A Case Study of Social Movements in Indonesia yang
memperoleh cum laude dari Universitas Amsterdam, Belanda tahun 1966. Studi ini
menjadi referensi gerakan sosial dan petani di Indonesia.
Menurutnya penulisan disertasi bertemakan gerakan sosial─dalam hal ini dilakukan oleh
para petani yang dipimpin oleh Kyai Wasid dan Jaro Kajuruan didorong oleh hasrat
melancarkan protes terhadap penulisan sejarah Indonesia yang konvensional dan
Neerlandosentris. Menurut M. Nursam, Sejarawan dan Penulis Buku Biografi Sartono
Kartodirdjo, upaya yang dilakukan Prof Sartono melalui social scientific approanch telah
memberikan cahaya terang dan arah historiografi Indonesiasentris. Petani atau orang-
orang kecil yang dalam sejarah konvensional menjadi non-faktor, dalam karya Prof
Sartono justru menjadi aktor sejarah.

Pemberontakan Di Banten
Banten memiliki sejarah pemberontakan yang panjang. Semenjak Kesultanan Banten
sebagai pemegang otoritas politik dihapuskan oleh Willems Daendels, tercatat ada empat
kali pemberontakan terhadap kolonialisme Belanda. Pertama, pada 1850 dipimpin oleh
H. Wakhia. Kedua, pada 1888 yang dilakukan oleh (mayoritas) para petani di bawah
komando H. Wasid dan Jaro Kajuruan─unsur jawara─. Ketiga, pada 13 November 1926
di Menes, Kabupaten Pandeglang. Pemberontakan itu terjadi pukul satu malam, sekitar
empatratus orang bersenjata bedil dan kelewang, sebagian besar mengenakan pakaian
putih menyerbu kediaman Wedana Raden Partadiningrat. Keempat, terjadi pada 1945.
Pemberontakan ini lebih merupakan pertanda kebebasan dari cengkraman kolonialisme.
Dari sekian pemberontakan, ada satu pemberontakan yang cukup menggelitik, yaitu
pemberontakan pada 13 November 1926. Pemberontakan ini dipimpin oleh tokoh
Muslim-Komunis K.H. Achmad Chatib. Michael C. Williams dalam disertasi doktor
menyebutnya sebagai pemberontakan komunis. Ini hal yang unik, bagaimana bisa
pekikan Allahhu Akbar berkumandang di dalam sebuah pemberontakan komunis, sebuah
ideologi yang dikenal anti-Tuhan.
Ini adalah paradoks yang nyata. Ketika timbul pendapat bahwa tidak satu pun agama
yang memendam resistensi mendalam terhadap komunisme selain Islam, sejarah
membuktikan bahwa di Indonesia pendapat itu tidak selamanya benar. Sejarah itu telah
mementahkan pernyataan JC. Bedding, pensiunan Residen Banten yang menulis surat
untuk Gubernur Jenderal pada bulan Maret 1925, “Rakyat Banten sangat religius dan
konservatif, sehingga komunisme tidak akan pernah berkembang di sini.“
Sejarah pemberontakan 1926 menjadi keunikan tersendiri. Peristiwa serupa juga terjadi di
Silungkang (Sumatera Barat). Kedua daerah yang dikenal konsevatif dan ortodok
terhadap ajaran Islam, justru menjadi pusat perlawanan yang paling gigih dalam
menentang kolonialisme.

Prinsip Kebangsaan
Bagi Prof Sartono, dalam pembangunan bangsa, seorang sejarawan memiliki peranan
penting dalam merekonstruksi sejarah nasional sebagai lambang identitas nasional. Prof
Sartono menawarkan lima prinsip dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang tidak
dapat ditawar jika sebuah bangsa ingin mencapai kondisi yang relatif mapan. Kelima
prinsip itu adalah unity (persatuan dan kesatuan), liberty (kemerdekaan dan kebebasan),
equality (persamaan hak), personality (identitas dan kebudayaan), dan performance
(prestasi atau etos bangsa).
Pemberontakan Petani Banten 1888─serta pemberontakan (atau lebih tepatnya
perjuangan) rakyat di seluruh nusantara─adalah wujud amalan dari prinsip kebangsaan.
Oleh karena itu, sebagai generasi yang hidup di alam kemerdekaan, sudah sepantasnya
kita mengamalkan prinsip kebangsaan tersebut dengan berpijak pada nilai-nilai sejarah
karena sejarah adalah cara kehidupan berpetuah kepada kita. Melupakan sejarah berarti
menampik petuah kehidupan dan menutup pintu bagi masa depan.
Kita memang telah kehilangan begawan sejarah Indonesia. Kepergiannya begitu
menyengat, di tengah-tengah minimnya apresiasi bangsa ini terhadap sejarah─jika
memang peduli tidak mungkin mengeluarkan kebijakan untuk menarik buku-buku
sejarah (serupa dengan peristiwa orde baru)─. Tetapi kita harus yakin, meskipun Prof.
Sartono telah tiada, pemikiran-pemikirannya tidak akan pernah lekang dan akan terus
menyala menerangi perjalanan sejarah Indonesia.
Sebagai insan yang hidup dari tiap bongkahan sejarah, saya ucapkan, selamat jalan Prof.
Sartono ke pangkuan-Nya dengan damai!***

Penulis adalah wartawan, pemerhati Sejarah Banten.


Gerakan Kampungan Marxist Indonesia
Meski suasana hati saya masih berduka karena baru pulang melayat, tidak ada salahnya
bila saya berikan catatan singkat tentang gerakan kaum Marxist Indonesia.

Mengapa saya sebut kampungan? karena memang benar-benar kampungan dan sangat
tidak kreatif. Apapun namanya saat ini, betapa bagusnya website mereka, betapa gigihnya
proses pengkaderan mereka, saya pastikan tidak akan laku bila tetap berjalan di atas
pemikiran cetek tentang Marxisme.

Seperti pernah saya tulis dalam artikel Gerakan Kiri Indonesia dan Kiri oh Kiri, sejarah
yang ditinggalkan oleh PKI di Indonesia terlalu hitam-pekat. Terlepas dari kebenaran
sejarah yang penuh warna di Indonesia, ingatan buruk tentang komunisme tidak akan
hilang dalam semalam. PKI adalah sebuah kekuatan komunis terbaik dan terkuat yang
pernah dimiliki bangsa Indonesia dan bangsa Indonesia sudah kapok menanggungnya.

Apabila sekarang ada gerakan yang memperjuangkan kembalinya kekuatan PKI seperti
masa Orde Lama, maka hampir-hampir tidak mungkin. Hanya keajaiban saja yang
memungkinkan gerakan komunis baru mampu benar-benar eksis di bumi nusantara.
Lebih jauh lagi gerakan komunis baru telah diinjeksi oleh permainan elit-elit militer sakit
hati yang telah menggerakan tangan-tangannya untuk sebuah pra-kondisi menghancurkan
demokrasi sehingga mampu melahirkan sebuah diktator proletar baru yang populis.
Sayangnya persiapan tersebutpun teramat sangat prematur. Betapapun kuatnya struktur
dan program kegiatan yang telah dibangun, semua akan mentah karena mayoritas rakyat
Indonesia memiliki cara pandang yang berbeda. Apakah pendidikan/pengkaderan kaum
Marxist akan efektif, saya kira jauh api dari panggangan.

Masalah citra dan watak organisasi juga tidak pernah benar-benar diperhatikan oleh kaum
Marxist Indonesia. Masalah ide-ide perjuangan dengan teriakan lantang tentang
kapitalisme global terasa seperi kerupuk melempem. Tidak riil dan tidak menyentuh
langsung kepentingan rakyat. Kalaupun sudah banyak gerakan Marxist yang masuk
dalam arena pemberdayaan masyarakat dan advokasi serta HAM, levelnya jauh dibawah
kegiatan kelompok pro demokrasi liberal ataupun yang di tengah.

Saya yakin betul bahwa proses otokritik telah mati dalam gerakan Marxist Indonesia
karena memang telah ditunggangi kelompok kepentingan dan hanya mengarah pada
utopia yang semakin telanjang di mata rakyat. Kaum Marxist Indonesia benar-benar
sangat memalukan, dan anda yang mengaku Marxist silahkan berargumentasi dengan
Blog I-I dan tentunya saya sangat berharap anda telah membaca ulang sejarah pemikiran
Marxisme di dunia maupun di Indonesia.

Kaum Marxist Indonesia sangat buruk sistem organisasinya, sangat jauh di belakang
organisasi profesional kelompok pro-demokrasi yang cenderung liberal. Akibatnya kaum
Marxist hanya mampu melakukan masturbasi politik dengan angan-angan kosong yang
bersandar pada dinamika kelompok yang kemudian dianggap penyakit kegilaan revolusi
oleh masyarakat.

Apa yang saya khawatirkan adalah bahwa kaum Marxist Indonesia sekarang dikendalikan
oleh kekuatan anti Indonesia Raya. Namun saya belum cukup mengumpulkan bukti-bukti
otentik, sehingga sementara saya hanya beranggapan bahwa mereka bagian wajar dari
dampak reformasi dan demokratisasi, dimana setiap kelompok menuntut pengakuan
eksistensi dalam landasan kekhasan masing-masing.

PRD dengan berbagai underbownya, Papernas dll, berbagai gerilya kaum Marxist masuk
ke dalam Partai Politik besar, semuanya sebuah upaya merealisasi ide-ide Marxisme.
Namanya juga orang berjuang, ya silahkan saja. Namun perlu diperhatikan baik-baik
bahwa secara politik maupun ekonomi, posisi Marxisme bersebrangan dengan
Kapitalisme dan Liberalisme. Kondisi filosofis tersebut seringkali mencengkeram otak
Manusia Indonesia yang melupakan hakikat makna tujuan filsafat sosial adalah kebaikan
dengan hasil nyata yang bisa dirasakan sesama manusia, untuk Bangsa Indonesia, untuk
rakyat Indonesia, untuk Indonesia Raya. Bukan untuk ide-ide itu berdiri sendiri tanpa
menyentuh kebutuhan rakyat.

Bagi kaum Marxist radikal, melakukan kompromi berjalan ke tengah menjadi sosialis
demokrat sama saja penghianatan kepada Marxisme klasik, karena dipastikan akan
terkooptasi oleh kelompok demokrat yang berat ke liberalisme. Padahal saya melihat
mereka yang berjalan ke tengah telah menghentikan kebiasaan bermasturbasi dan mulai
melakukan karya nyata untuk rakyat.

Pernahkan ada kaum Marxist maupun Liberalist Indonesia yang pernah berbikir keluar
sebentar dari makna-makna ideologis untuk mencari formula yang tepat bagi persoalan
bangsa, bagi penyelesaian masalah ekonomi nasional, tanpa harus bermusuhan, tanpa
harus berkonfrontasi, menjadi sebuah gerakan sosial rakyat yang khas Indonesia.
Pragmatisme RRC adalah sebuah alternatif yang baik, kapitalisme ekonomi dan
komunisme politik dijalankan dalam struktur negara yang sangat akomodatif. Satu ide
besar bernama The Greater China menghentikan kecurigaan politik dan krisis
pembangunan ekonomi. Maaf, saya tidak bermaksud menyederhanakan persoalan karena
pembahasan ini bisa menghabiskan berlembar-lembar kertas dan menjadi sebuah buku.
Kiri oh Kiri
Pada tanggal 4 Desember 2006 seorang rekan Blog I-I menanyakan penilaian saya
tentang rencana kegiatan diskusi tentang Marxisme Internasional di Bandung, tepatnya
bertemakan "DISKUSI FILSAFAT SOSIAL DAN EKONOMI POLITIK, Gerakan
Marxist Internasional Kontemporer, Perkembangan dan Masa Depan Gerakan Marxist di
Dunia, dan Sekilas Tantang Organisasi dan Gerakan Buruh di Kanada". Kemudian
beberapa hari yang lalu, rekan tersebut kembali menyampaikan informasi tentang
hebohnya pembubaran acara tersebut oleh kelompok yang mengklaim diri sebagai ANTI
KOMUNIS serta adanya keterlibatan intelijen Polisi Badung. Sebagai referensi, saya
disarankan berkunjung ke dua alamat website yaitu rumah kiri dan melly.

Saya menjabarkan penilaian pribadi saya sebagai berikut:

Pertama, saya tidak dalam posisi anti ataupun pro faham marxisme beserta aneka ragam
bumbu turunannya, baik yang diberikan embel-embel neo ataupun yang bersifat
kompromis dengan sebutan kiri-tengah atau progresif ataupun sosialis-demokrat. Analis
intelijen Indonesia adalah salah satu kelompok intelektual yang faham tentang seluk-
beluk berbagai ideologi di dunia, dan saya bisa menjamin obyektifitas mereka, namun
soal kebijakan adalah terserah pada pengambil kebijakan keamanan.

Kedua, pada saat ditanyakan soal sikap saya terhadap rencana diskusi tersebut, saya
tegaskan bahwa akan lebih baik bila didengarkan terlebih dahulu apa isi diskusinya dan
kemudian dibuat sebuah analisa tentang makna pemikiran yang dinamis di kalangan
muda kiri Indonesia serta dampak nyata terhadap gerakan mereka. Lebih lanjut,
seharusnya intelijen tidak serta-merta mendefinisikan sesuatu sebagai ancaman tanpa
tahu ancaman bagi siapa, jangan-jangan diskusi kelompok kiri justru sangat bermanfaat
bagi rakyat Indonesia karena mampu memberikan terobosan untuk penyelesaian masalah
bangsa. Sesingkat itu komentar saya dan saya sangat berharap telah terjadi perubahan
paradigma di kalangan aparatur keamanan terhadap makna perjuangan kelompok
masyarakat dari aliran manapun.

Ketiga, sejalan dengan pengalaman saya bergaul dengan senior intelijen beraliran kiri
yang tersingkirkan ketika Bung Karno dikudeta, maka saya faham betul situasi yang
menjadi dampak pertikaian politik masa lalu tersebut. Senior-senior intelijen yang
kemudian disebut eks BPI sangat kecewa dengan sikap netral saya yang tidak
berideologis. Tetapi saya tegaskan bahwa ideologi saya bukan kanan, bukan kiri, bukan
golongan, dan juga bukan angan-angan kosong, saya hanya ingin bekerja untuk kemajuan
bangsa Indonesia. Saya mengorbankan kesempatan yang lebih baik di luar dunia intelijen
dengan harapan nyata mendorong pembangunan nasional Indonesia yang berpihak pada
rakyat. Harus diakui...saya keliru besar dan terlalu naif dengan mengabaikan makna
perjuangan prinsip pembangunan yang tepat, dalam hal ini mau tidak mau bersandar pada
ideologi. Indonesia menganut ideologi banci yang memadukan konsep ekonomi semi
liberal yang diiringi peranan pemerintah yang besar pada awal pemerintahan Suharto, dan
saya pastikan hampir 100% petinggi politik dan ekonomi saat itu mengamininya. Pilihan
strategi pemerintahan otoriter dengan dukungan kuat kepada sektor swasta terpilih
(cukongisme) dirasa paling cepat memulihkan perekonomian nasional. Padahal
pemulihan ekonomi tersebut sangat rentan dan terlalu banyak mengandalkan
ketergantungan pada sistem perekonomian liberal dunia. Konyolnya, hal tersebut
diperburuk dengan otak korup yang ada di kepala manusia-manusia terhormat Indonesia
di era Orde Baru, belum lagi penipuan besar-besaran dan perampokan harta rakyat oleh
kelompok swasta terpilih. Persoalan itu sudah saya dengar dari senior intelijen beraliran
kiri yang dimaafkan dan menjadi penganggur terselubung pada tahun 70-80an. Sementara
saat ini, Indonesia telah tenggelam dalam genggaman para liberalist nasional maupun
internasional yang terlalu yakin dengan pembagian kue ekonomi global, padahal
kemiskinan rakyat Indonesia sangat nyata di depan mata.

Keempat, kembali pada acara diskusi Marxisme di Bandung, sejujurnya saya antara kaget
dan tidak kaget. Kaget karena teknik pembubaran dengan memanfaatkan preman
sangatlah tidak elegan dan tidak simpatik di zaman demokratis ini dan saya pastikan ini
pola-pola lama yang merupakan bagian dari strategi pencegahan penyebaran faham
komunisme era Suharto. Tidak kaget karena saya sudah memperkirakan bahwa 8 tahun
setelah reformasi, pengambil kebijakan keamanan di Indonesia masih berpikir seperti di
zaman Suharto.

Kelima, ingin saya sampaikan fakta-fakta mengapa dalam sejarahnya faham kiri sangat
tidak populer di hati rakyat Indonesia. Meskipun PKI pernah menjadi salah satu partai
dengan jumlah kader yang luar biasa, namun hal itu tidak berati PKI bersih dari
kontroversi. Watak sewenang-wenang dan strategi gerakan yang diwarnai intimidasi
pernah menjadi trade mark PKI. Sebenarnya bukan hanya PKI, partai-partai yang
mencapai kekuatan politik di negeri ini sering kebablasan dan menjadi semena-mena.
Semua itu diperparah dengan kekeliruan strategi PKI yang terpancing untuk melakukan
gerakan yang akhirnya menghancurkannya untuk "selamanya". Seandainya PKI tidak
terpancing, mungkin tidak akan pernah ada Presiden bernama Suharto.

Keenam, pada era reformasi ini saya perhatikan emosi meledak-ledak dari aktivis kiri
sangat mengganggu pemahaman rakyat yang terus dibayangi cerita-cerita seram
komunisme. Sangat jelas bahwa saya tidak melihat satupun intelektual kaum muda kiri
Indonesia yang cukup mampu membawa pesan mendalam dari faham kiri, entah itu
marxisme klasik maupun yang neo. Akibatnya penolakan masyarakat mudah sekali
terjadi hanya dengan provokasi sedikit saja. Selain itu, mereka yang cukup pandai
ternyata tidak membumi dengan gerakan yang rapih. Sedangkan yang membumi dalam
gerakan cenderung kasar dan tidak simpatik, akibatnya sangat mudah menciptakan
gerombolan preman untuk menghancurkan perjuangan kaum kiri Indonesia.

Mudah-mudahan tulisan ini cukup obyektif dan saya turut menyesalkan peristiwa di
Bandung. Kepada rekan-rekan intel dan aparat keamanan jangan salah paham dengan
artikel ini. Kepada aktivis kiri anggap saja ini sebagai catatan khusus yang bisa saudara-
saudara diskusikan, silahkan koreksi saya bila saya keliru.

Catatan Penting: Blog I-I akan mendukung gerakan apapun yang sungguh-sungguh
bertujuan untuk melindungi rakyat, mensejahterakan rakyat, dst. Tentu saja di tingkatan
ideologis akan ada perbedaan, dan diskusi untuk mencapai kesepakatan membangun
rakyat tentunya lebih penting dari pada bertikai terus-menerus.