Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

A. LatarBelakang

Anak merupakan masa dimana organ-organ tubuhnya belum

berfungsi secara optimal sehingga anak lebih rentan terhadap

penyakit.Salah satu penyakit yang sering menyerang anak adalah

bronkopneumonia (Marini,2014). Penyakit infeksi saluran

pernapasan akut (ISPA) khususnya pneumonia masih merupakan

penyakit utama penyebab kesakitan dan kematian bayi dan balita

(Sugihartono dalam Kaunang,2016). Penyakit ISPA merupakan

penyakit yang sering terjadi pada anak karena sistem pertahanan

tubuh anak masih rendah (Putraprabu dalam Maramis,2013).

Menurut (Hidayat dalam Novendiar,2017) bronkopneumonia

merupakan peradangan pada parenkim paru. Penyebab dari

penyakit ini yaitu karena bakteri, virus, jamur dan benda asing.

Kemudian ditandai dengan gejala demam yang tinggi, dispnea,

napas cepat dan dangkal, muntah, diare, serta batuk kering dan

produktif. Proses peradangan dari proses penyakit

bronkopneumonia mengakibatkan produksi sekret meningkat

sampai menimbulkan manifestasi klinis yang ada sehingga

muncul masalah dan salah satu masalah tersebut adalah

bersihan jalan nafas tidakefektif.

Menurut Smaltzer & Bare dalam jurnal penelitian junaidin

(2018) pada beberapa kasus dengan pneumonia dan gangguan

penyakit paru lainnya yang mengalami sesak napas dapat


dilakukan terapi farmakologis dan non farmakologis. Salah satu

cara perawatan secara nonformakologi pada psien sesak napas

pada pasien dengan PPOK yaitu denganmelakukanrehabilirasi

pernapasan dengan cara latihan meniup balon. Secara spesifik

tehnik ini dapatmemperbaiki pengembangan paru lebihoptimal

dan mencegah kelelahan ototpernapasan, sehingga penderita

dengan pneumonia atau gangguan paru- paru lainnya dapat

mencapai ventilasi yang lebihterkontrol, efisien dan mengurangi

kerjaparu-paru. Selain itu latihan napas dengan meniup balon

juga lebih efisien dari segi ekonomis dan tidak repot dalam

pelaksanaannya.

Tujuan latihan meniup balon adalah untuk mengatur frekuensi

dan pola nafas sehingga mengurangi air trapping, memperbaiki

fungsi diafragma, memperbaiki mobilitas sangkar thoraks,

memperbaiki ventilasialveoli untuk memperbaiki pertukaran gas

tanpa meningkatkan kerja pernapasan, mengatur dan

mengkoordianasikan kecepatan pernapasan sehingga bernapas

lebih efektif dan mengurangi kerja pernapasan.

B. Tujuan StudiKasus

Untuk mengetahui penerapan teknik breathing relaksasi meniup

balon pada anak balita dengan bronkopneumonia di RS. Stella

Maris Makassar.

C. Manfaat StudiKasus

1. Masyarakat

Meningkatkan pengetahuan bagi para pengunjung, penunggu


pasien dan keluarga pasien di RS Stella Maris Makassar

mengenai manfaat dari teknik breathing relaksasi meniup

balon untuk membantu pengeluaran dahak bagi anak dengan

bronkopneumonia.

2. Bagi pengembangan Ilmu dan TeknologiKeperawatan

a. Bagi RS. Stella Maris Makassar

Menambah pengetahuan untuk profesi keperawatan

secara mandiri dalam penanganan pada pasien

bronkopneumonia dengan menggunakan teknik meniup

balon.

b. Bagi Kampus Stella Maris Makassar

Menambah pengetahuan bagi profesi keperawatan bisa

berperan secara mandiri, perkembangan

bronkopneumonia dan kolaborasi terhadap penanganan

kepada pasien.

3. Penulis

Memperoleh pengalaman dan menambah pengetahuan

dalam mengimplementasi prosedur teknik breathing relaksasi

meniup balon pada anak dengan bronkopneumonia.


`

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Ronde Keperawatan
1. Pengertian Ronde keperawatan

Ronde keperawatan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi


masalah keperawatan klien, dilakukan dengan melibatkan pasien untuk
membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan. Pada kasus tertentu
harus dilakukan oleh perawat primer dengan konselor, kepala ruangan,
perawat assosiate serta melibatkan seluruh anggota tim kesehatan
(Nursalam, 2011)

2. Manfaat Ronde keperawatan


a. Masalah pasien dapat teratasi
b. Kebutuhan pasien dapat terpenuhi
c. Terciptanya komunitas keperawatan yang professional
d. Terjalinnya kerjasama antar tim kesehatan.
e. Perawat dapat melaksanakan model asuhan keperawatan dengan
tepat dan benar.

3. Kriteria Ronde Keperawatan

Klien yang dipilih untuk dilakukan ronde keperawatan adalah klien yang
memiliki kriteria sebagai berikut:
a. Mempunyai masalah keperawatan yang belum teratasi meskipun
sudah dilakukan tindakan keperawatan
b. Klien dengan kasus baru atau langka.

4. Peran Masing-masing Anggota Tim


a. Perawat Primer (PP) dan Perawat Associate (PA)
1) Menjelaskan data klien yang mendukung masalah klien
2) Menjelaskan diagnosis keperawatan
3) Menjelaskan intervensi yang dilakukan
4) Menjelaskan hasil yang didapat
5) Menjelaskan rasional (alasan ilmiah) tindakan yang diambil
6) Menggali masalah-masalah klien yang belum terkaji
b. Perawat Konselor
1) Memberikan justifikasi
2) Memberikan reinforcement
3) Memvalidasi kebenaran dari masalah dan intervensi keperawatan
serta rasional tindakan
4) Mengarahkan dan koreksi
5) Mengintegrasikan konsep dan teori yang telah dipelajari

5. Alur Pelaksanaan Ronde Keperawatan

TAHAP PRA PP
RONDE

Penetapan Pasien Pasien

Persiapan Pasien :

 Informed Concent
 Hasil Pengkajian/
Validasi data

 Apa masalah & diagnosis


TAHAP keperawatan?
PELAKSANAAN DI  Data apa yang mendukung?
NURSE STATION  Bagaimana intervensi yang sudah
dilakukan?
 Apa hambatan yang ditemukan?
Penyajian

Masalah

TAHAP PASCA
RONDE Lanjutan diskusi di
Nurse Station

Simpulan dan
rekomendasi solusi
masalah
Aplikasi Hasil
analisis

Masalah teratasi

6. Evaluasi
a. Evaluasi Struktur :
1) Ronde keperawatan dilaksanakan di Ruang Aster A RSUP
Muhammad Hoesin, persyaratan administratif sudah lengkap
(Informed consent, alat, dan lainnya)
2) Peserta ronde keperawatan hadir ditempat pelaksanaan ronde
keperawatan
3) Persiapan dilakukan sebelumnya.
b. Evaluasi Proses :
1) Peserta mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir.
2) Seluruh peserta berperan aktif dalam kegiatan ronde sesuai peran
yang telah ditentukan
c. Evaluasi Hasil :
1) Klien puas dengan hasil kegiatan.
2) Masalah klien dapat teratasi.
3) Perawat dapat :
a) Menumbuhkan cara berfikir yang kritis.
b) Menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang
berorientasi pada masalah pasien.
c) Meningkatkan cara berfikir yang sistematis
d) Meningkatkan kemampuan validitas data pasien.
e) Meningkatkan kemampuan menentukan diagnosa
keperawatan.
f) Meningkatkan kemampuan justifikasi
g) Meningkatkan kemampuan menilai hasil kerja.
h) Meningkatkan kemampuan memodifikasi rencana asuhan
keperawatan

B. Konsep Penyakit
1. Pengertian Bronchopneumonia

Bronkopneumonia berasal dari kata bronchus dan pneumonia berarti


cabang tenggorokan yang merupakan lanjutan dari tracea dan pneumonia
berarti peradangan pada jaringan paru-paru dan juga cabang tenggorokan
(broncus) (Mansjoer,2000).
Pneumonia adalah peradangan yang mengenai parenkim paru, distal
dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius, alveoli,
serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan menimbulkan gangguan
pertukaran gas setempat (Zul, 2001).
Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu
peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya
mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya, yang
sering menimpa anak-anak dan balita, yang disebabkan oleh bermacam-
macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Kebanyakan
kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi ada juga
sejumlah penyebab non infeksi yang perlu dipertimbangkan.
Bronkopneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang
melibatkan bronkus atau bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk
bercak-bercak (patchy distribution).
Pneumonia merupakan penyakit peradangan akut pada paru yang
disebabkan oleh infeksi mikroorganisme dan sebagian kecil disebabkan
oleh penyebab non-infeksi yang akan menimbulkan konsolidasi jaringan
paru dan gangguan pertukaran gas setempat (Bradley et.al., 2011).

2. Klasifikasi Bronchopneumonia

Pembagian pneumonia sendiri pada dasarnya tidak ada yang


memuaskan, dan pada umumnya pembagian berdasarkan anatomi dan
etiologi. Beberapa ahli telah membuktikan bahwa pembagian pneumonia
berdasarkan etiologi terbukti secara klinis dan memberikan terapi yang
lebih relevan (Bradley et.al., 2011).
a. Berdasarkan lokasi lesi di paru yaitu Pneumonia lobaris, Pneumonia
interstitiali, Bronkopneumonia
b. Berdasarkan asal infeksi yaitu Pneumonia yang didapat dari
masyarakat (community acquired pneumonia = CAP). Pneumonia yang
didapat dari rumah sakit (hospital-based pneumonia)
c. Berdasarkan mikroorganisme penyebab Pneumonia bakteri Pneumonia
virus Pneumonia mikoplasma Pneumonia jamur d. Berdasarkan
karakteristik penyakit yaitu Pneumonia tipikal Pneumonia atipikal e.
Berdasarkan lama penyakit yaitu Pneumonia akut dan Pneumonia
persisten.

3. Anatomi Fisiologi
a. Anatomi

Organ pernapasan berguna


bagi transportasi gas-gas
dimana organ-organ
persarafan tersebut dibedakan
menjadi bagian dimana udara
mengalir yaitu rongga hidung,
pharink, larink, trachea, dan
bagian paruparu yang
berfungsi melakukan
pertukaran gas-gas antara
udara dan darah (Ngastiyah,2005).
Satu bagian saluran udara yang terletak di kepala yaitu :
1. Saluran pernapasan bagian atas, terdiri dari :
a) Hidung yang menghubungkan lubang-lubang dari sinus udara
paranalis yang masuk ke dalam rongga-rongga hidung dan juga
lubang-lubang naso lakrimal yang menyalurkan air mata ke dalam
bagian bawah rongga nasalis ke dalam hidung.
b) Parink (tekak) adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar
tenggorokan sampai persambungannya dengan esophagus pada
ketinggian tulang rawan maka letaknya dibelakang hidung
(nasofarink), dibelakang mulut (oro larink), dan dibelakang farink
(farink laryngeal)
1. Saluran pernapasan bagian bawah terdiri dari :
a) Larink (tenggorokan) terletak di depan bagian terendah pharink
yang memisahkan dari kolumna veterbra, berjalan dari farinkfarink
sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trachea
di bawahnya.
b) Trachea (batang tenggorokan) yang kurang lebih 9 cm panjangnya
trachea berjalan dari larynx sampai kira-kira ketinggian vertebra
torakalis ke lima dan di tempat ini bercabang menjadi dua bronchus
(bronchi).
c) Bronkus yang terbentuk dari belahan dua trachea pada ketinggian
kira-kira vertebralis torakalis ke lima, mempunyai struktur serupa
dengan trachea yang di lapisi oleh jenis sel yang sama. Cabang
utama bronchus kanan dan kiri tidak simetris. Bronchus kanan
lebih pendek, lebih besar dan merupakan lanjutan trachea dengan
sudut lebih lancip. Keanehan anatomis ini mempunyai makna klinis
yang penting. Tabung endotrachea terletak sedemikian rupa
sehingga terbentuk saluran udara paten yang mudah masuk ke
dalam cabang bronchus kanan. Kalau udara setelah jalan, maka
tidak dapat masuk dalam paru-paru kiri sehingga paru-paru akan
kolaps (atelektasis). Cabang utama bronchus kanan dan kiri
bercabang-cabang lagi menjadi segmen lobus, kemudian menjadi
segmen bronchus. Percabangan ini terus menerus sampai cabang
terkecil yang di namakan bronchiolus terminalis yang merupakan
cabang saluran udara terkecil yang tidak mengandung alveolus.
Bronchiolus terminal kurang lebih bergaris tengah 1mm.
Bronchiolus tidak diperkuat oleh cincin tulang rawan, akan tetapi
dikelilingi oleh otot polos sehingga ukurannya dapat berubah,
semua saluran udara di bawah bronchiolus terminalis disebut
saluran pengantar udara karena fungsi utamanya adalah sebagai
pengantar udara ketempat pertukaran gas paru-paru. Di luar
bronchiolus terminalis terdapat asinus yang merupakan unit
fungsional paru-paru, tempat pertukaran gas. Asinus terdiri dari
dan bronchiolus respiratorius, yang kadang-kadang memiliki
kantung udara kecil atau alvedi yang berasal dinding mereka.
Duktus alveolaris yang seluruhnya dibatasi oleh alveolus dan sakus
alveolus terminalis merupakan sifat struktur akhir paru-paru.
d) Paru-paru merupakan organ elastis berbentuk kerucut yang
terletak dalam rongga torak atau dada. Kedua paru-paru saling
terpisah oleh mediasinum central yang mengandung jantung
pembuluh-pembuluh darah besar. Setiap paru-paru mempunyai
apeks dan basis. Alteria pulmonalis dan arteri bronchialis, bronkus,
syaraf dan pembuluh limfe masuk pada setiap paru-paru kiri dan
dibagi tiga lopus oleh visula interloris. Paru-paru kiri, terdiri dari
pulmo sinistra lobus superior dan lobus inferior. Tiap-tiap lobus
terdiri dari belahan yang lebih kecil bernama segmen. Paru-paru
kiri mempunyai 10 segmen yaitu 5 buah segmen pada lobus
superior, dan 5 buah segmen pada lobus inferior. Paru-paru kanan
mempunyai 10 segmen yaitu 5 buah segmen pada lobus superior,
2 buah segmen pada lobus medialis, dan 3 buah segmen pada
lobus inferior. Tiap-tiap segmen ini masih terbagi lagi menjadi
belahanbelahan yang bernama lobulus. Di dalam lobulus,
bronkhiolus ini bercabang-cabang banyak sekali, cabang-cabang
ini disebut duktus alveolus. Tiap duktus alveolus berakhir pada
alveolus yang diameternya antara 0,2 - 0,3mm. Letak rongga paru-
paru dirongga dada dibungkus oleh selaput yang bernama pleura.
Pleura dibagi menjadi dua :
1) Pleura Visceral (selaput dada pembungkus) yaitu selaput paru-
paru yang langsung membungkus paru-paru;
2) Pleura Parietal yaitu selaput yang melapisi rongga dada
sebelah luar. Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum)
yang disebut kavum pleura. Pada keadaan normal, kavum
pleura ini vakum (hampa udara) sehingga paru-paru dapat
berkembang kempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat)
yang berguna untuk meminyaki permukaannya (pleura),
menghindarkan gesekan antara paru-paru dan dinding dada
sewaktu ada gerakan bernafas (Ngastiyah,2005).
b. Fisiologi

Pernapasan paru-paru merupakan pertukaran oksigen dan


karbondioksida yang terjadi pada paru-paru. Pernapasan melalui paru-
paru atau pernapasan ekterna, oksigen diambil lewat mulut dan hidung
pada waktu bernapas yang oksigen melalui trachea sampai alveoli
berhubungan dengan darah dalam kapiler pulmonar. Alveoli
memisahkan oksigen dari darah oksigen menembus membran, diambil
oleh sel darah merah dibawa ke jantung dan dari jantung dipompakan
ke seluruh tubuh. Empat proses berhubungan dengan pernapasan
pulmoner atau pernapasan pksterna :
1) Ventilasi pulmoner, gerakan pernapasan yang menukar udara
dalam alveoli dengan udara luar.
2) Arus darah melalui paru-paru, darah mengandung oksigen masuk
ke seluruh tubuh, karbondioksida dari seluruh tubuh masuk ke
paru-paru.
3) Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian rupa dengan
jumlah yang tepat yang bisa dicapai untuk semua bagian.
4) Difusi gas yang menembus membran alveoli dan kapiler
karbondioksida lebih mudah berdifusi daripada oksigen.

Daya Muat Udara Oleh Paru-paru Besar daya muat udara oleh
paru-paru ialah 4.500 ml sampai 5.000 ml udara. Hanya sebagian kecil
dari udara ini kira-kira 500 ml adalah udara pasang surut (tidal air)
yaitu yang dihirup masuk dan dihembuskan keluar pada pernapasan
biasa dengan tenang. Pengendalian Pernapasan Mekanisme
pernapasan diatur dan dikendalikan oleh dua faktor yaitu kimiawi dan
pengendalian oleh saraf. Adanya faktor tertentu yang merangsang
pusat pernapasan yang terletak di dalam medulla oblongata yang bila
di rangsang mengeluarkan impuls yang disalurkan melalui saraf
spinalis ke otot pernapasan (otot diagfragma atau interkostalis).

4. Etiologi Bronchopneumonia

Penyebab bronkopneumonia yang biasa dijumpai adalah:


a. Faktor Infeksi :
1) Pada neonatus: Streptokokus group B, Respiratory Sincytial Virus
(RSV).
2) Pada bayi : Virus: Virus parainfluensa, virus influenza, Adenovirus,
RSV, Cytomegalovirus. Organisme atipikal: Chlamidia trachomatis,
Pneumocytis.
3) Pada anak-anak yaitu virus: Parainfluensa, Influensa Virus,
Adenovirus, RSV. Organisme atipikal: Mycoplasma pneumonia.
Bakteri: Pneumokokus, Mycobakterium tuberculosi.
4) Pada anak besar – dewasa muda, Organisme atipikal: Mycoplasma
pneumonia, C. trachomatis. Bakteri: Pneumokokus, Bordetella
pertusis, M. tuberculosis.
b. Faktor Non Infeksi

Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus meliputi:


1) Bronkopneumonia hidrokarbon yang terjadi oleh karena aspirasi
selama penelanan muntah atau sonde lambung (zat hidrokarbon
seperti pelitur, minyak tanah dan bensin).
2) Bronkopneumonia lipoid biasa terjadi akibat pemasukan obat yang
mengandung minyak secara intranasal, termasuk jeli petroleum.
Pemberian makanan dengan posisi horizontal, atau pemaksaan
pemberian makanan seperti minyak ikan pada anak yang sedang
menangis.

5. Manifestasi klinis Bronchopneumonia

Menurut Ringel, 2012 tanda-gejala dari Bronkopneumonia yaitu :


a. Gejala penyakit datang mendadak namun kadang-kadang didahului
oleh infeksi saluran pernapasan atas
b. Pertukaran udara di paru-paru tidak lancar dimana pernapasan agak
cepat dan dangkal sampai terdapat pernapasan cuping hidung
c. Adanya bunyi napas tambahan pernafasan seperti ronchi dan
wheezing.
d. Dalam waktu singkat suhu naik dengan cepat sehingga kadang-
kadang terjadi kejang.
e. Anak merasa nyeri atau sakit di daerah dada sewaktu batuk dan
bernapas.
f. Batuk disertai sputum yang kental.
g. Nafsu makan menurun.

6. Patofisiologi Bronchopneumonia

Bakteri yang masuk ke paru-paru menuju ke bronkioli dan alveoli


melalui saluran napas yang menimbulkan reaksi peradangan hebat dan
menghasilkan cairan edema yang kaya protein dalam alveoli dan jaringan
interstitial (Riyadi & Sukarmin, 2009). Alveoli dan septa menjadi penuh
dengan cairan edema yang berisi eritrosit dan fibrin serta relative sedikit
leukosit sehingga kapiler alveoli menjadi melebar. Apabila proses
konsolidasi tidak dapat berlangsung dengan baik maka setelah edema
dan terdapatnya eksudat pada alveolus maka membran dari alveolus
akan mengalami kerusakan. Perubahan tersebut akan berdampak pada
pada penurunan jumlah oksigen yang dibawa oleh darah. Sehingga
berakibat pada hipoksia dan kerja jantung meningkat akibat saturasi
oksigen yang menurun dan hiperkapnia. Penurunan itu yang secara klinis
menyebabkan penderita mengalami pucat sampai sianosis.

Diperkirakan sekitar 25-75 % anak dengan pneumonia bakteri


didahului dengan infeksi virus. Secara patologis, terdapat 4 stadium
pneumonia, yaitu (Bradley et.al., 2011):

a. Stadium I (4-12 jam pertama atau stadium kongesti) Yaitu hiperemia,


mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung
pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan peningkatan
aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini
terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan dari sel-sel
mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan.
b. Stadium II (48 jam berikutnya) Disebut hepatisasi merah, terjadi
sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat dan fibrin yang
dihasilkan oleh penjamu (host) sebagai bagian dari reaksi
peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya
penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna paru
menjadi merah dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini
udara alveoli tidak ada atau sangat minimal sehingga anak akan
bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu
selama 48 jam.
c. Stadium III (3-8 hari berikutnya) Disebut hepatisasi kelabu, yang
terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi daerah paru yang
terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah
yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini
eritrosit di alveoli mulai diresorbsi, lobus masih tetap padat karena
berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan
kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.
d. Stadium IV (7-11 hari berikutnya) Disebut juga stadium resolusi, yang
terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda, sisa-sisa sel
fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh makrofag sehingga jaringan
kembali ke strukturnya semula.
7. Pathway

Predisposisi ETIOLOGI Prepitasi

Umur

Bakteri Virus Jamur Perokok Rawatan lama


dengan penurunan
kesadaran
Lanjut usia Bayi dan anak-
anak Penggunaan
ventilator yang
lama
Penurunan
fungsi paru
Perawatan
ventilator yang
tidak bersih
Penurunan fungsi
paru
Menjadi media
perkembangbiakan
bakteri, virus dan jamur
Terhirup

Masuk ke dalam
saluran pernapasan

Masuk ke dalam paru-


paru (bronkus dan
alveoli)

Terjadi proses
peradangan

Eksudat masuk
kedalam alveoli

Konsilidasi daerah paru

BRONCHOPNEUMONI
A

Adanya organisme
patogen

Produksi toksin

Cedera ringan
Kerusakan sel

Pelepasan mediator nyeri (histamin,


bradykinin, dan prostaglandine )