Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami sampaikan kehadirat Tuhan Yang Maha Pemurah karena berkat
kemurahan Nya makalah ini dapat kami selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam makalah
ini kami membahas materi tentang “pengertian Estetika, Estetika dan filsafat, Estetika dan
ilmu”
Makalah ini kami buat dalam rangka memperdalam pemahaman mata kuliah yang
sangat diperlukan dalam materi perkuliahan demi mendapatkan yang maksimal dalam
melakukan kegiatannya dan sekaligus melakukan apa yang menjadi tugas pembuatan
makalah
Dalam pembuatan makalah ini kami menyadari masih banyak kekurangan dan jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu karena itu kami dengan senang hati menerima saran
maupun kritik uang sifatnya menbangun untuk perbaikan selanjutnya.
Akhir kata kami penulis mohon maaf apabila ada kekurangan dalam pembuatan
makalah ini,semoga makalah yang telah dibuat dapat bermanfaat bagi semua pembaca.

Kotabaru, 08 september 2018


Penyusun

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................... i
Daftar Isi ............................................................................................................... ii
Bab I Pendahuluan................................................................................. 1
1.1 LataBelakang Masalah............................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah .................................................................. 1
1.3 Tujuan Penulisan.................................................................... 1
Bab II Pembahasan ................................................................................. 2
2.1 Pengertian Filsafat Estetika..................................................... 2
2.2 Penilaian Keindahan................................................................ 3
2.3 Keelokan Pada Manusia........................................................... 4
2.4 Cara Kerja Estetika.................................................................. 5
2.5 Objek Pendekatan Filsafat Estetika......................................... 5
Bab III Penutup......................................................................................... 6
3.1 Kesimpulan.............................................................................. 6
3.2 Saran ....................................................................................... 6

Daftar Pustaka

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang
membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa
merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang
mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen
dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.
Estetika yang membahas masalah keindahan. Bagaimana keindahan bisa tercipta dan
bagaimana orang bisa merasakannya dan memberi penilaian terhadap keindahan tersebut.
Maka filsafat estetika akan selalu berkaitan dengan antara baik dan buruk, antara indah dan
jelek. Bukan berbicara tentang salah dan benar seperti dalam filsafat epistemologi.Secara
etimologi, estika diambil dari bahasa Yunani, aisthetike yang berarti segala sesuatu yang
cerap oleh indera. Filsafat estetika membahas tentang refleks kritis yang dirasakan oleh
indera dan memberi penilaian terhadap sesuatu, indah atau tidak indah, beauty or ugly.
Perkembangan lebih lanjut menyadarkan bahwa keindahan tidak selalu memiliki
rumusan tertentu. Ia berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide yang
dimunculkan oleh pembuat karya. Karena itulah selalu dikenal dua hal dalam penilaian
keindahan, yaitu the beauty, suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi
standar keindahan dan the ugly, suatu karya yang sama sekali tidak memenuhi standar
keindahan dan oleh masyarakat banyak biasanya dinilai buruk, namun jika dipandang dari
banyak hal ternyata memperlihatkan keindahan.

1.2 Rumusan Masalah


1.      Apa pengertian estetika itu?
2.      Penilaian Keindahan Estetika?
3.      mengetahui filsafat estetika?

1.3 Tujuan Penulisan


1.      Mengetahui pengertian dari Estetika
2.      Mengetahui apa yang dimaksud dengan Estetika dan Filsafat
3.      Mengetahui apa estetika filsafat

BAB II

1
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Filsafat Estetika
Estetika adalah salah satu cabang filsafat. Secara sederhana, estetika adalah ilmu yang
membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa
merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang
mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen
dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.
Esetetika berasal dari Bahasa Yunani, αισθητική, dibaca aisthetike. Pertama kali digunakan
oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang
bisa dirasakan lewat perasaan.
Pada masa kini estetika bisa berarti tiga hal, yaitu:

1. Studi mengenai fenomena estetis


2. Studi mengenai fenomena persepsi
3. Studi mengenai seni sebagai hasil pengalaman estetis
Meskipun awalnya sesuatu yang indah dinilai dari aspek teknis dalam membentuk suatu
karya, namun perubahan pola pikir dalam masyarakat akan turut mempengaruhi penilaian
terhadap keindahan. Misalnya pada masa romantisme di Perancis, keindahan berarti
kemampuan menyajikan sebuah keagungan. Pada masa realisme, keindahan berarti
kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya. Pada masa maraknya de Stijl di
Belanda, keindahan berarti kemampuan mengkomposisikan warna dan ruang dan
kemampuan mengabstraksi benda.
Estetika merupakan bagian dari tiga teori tunggal yaitu :
 Teori tentang kebenaran (efistimologi)
 Teori tentang kebaikan dan keburukan (etika)
 Teori tentang keindahan (estetika)
Disisi lain estetika berbicara tentang teori mengenai seni. Seni yang melukiskan
bahasa perasaan yang tertuang lewat gerak-gerik tubuh, alunan nada-nada yang indah dan
lain sebagainya. Dengan demikian estetika berarti suatu teori yang meliputi :
 Penyelidikan mengenai yang indah
 Penyelidikan mengenai prinsip-prisip yang mendasari seni
 Pengalaman yang bertalian dengan seni, penciptaan seni, penilaian terhadap seni.
Nilai estetika lebih condong kepada nilai suatu keindahan seni. Namun, seni bisa
dianggap mengandung nilai suatu keindahan apabila diceritakan dengan :
 Seni yang mengungkapkan perasaan dan intuisi
 Seni yang mengobjektivasi keindahan rasa nikmat
 Keindahan sebagai tangkapan Ilahi
 Seni sebagai ekspresi pengalaman

2
Menurut Plotinus filsafat estetika adalah keindahan yang memiliki nilai spiritual karena
itu etetika dekat sekali dengan kehidupan moral. Esensi keindahan tidak terletak pada
harmoni dan simetri. Keindahan itu menyajikan keintiman dengan Tuhan yang Maha
Sempurna. Ada semacam skala menaik tentang keindahan, mulai dari keindahan yang
bersifat inderawi, naik ke emosi, kemudian kesusunan alam semesta yang imaterial. Jadi,
keindahan itu bertingkat mulai dari keindahan indrawi sampai kepada keindahan ilahiah.
Keindahan itu, katanya, menyatakan dirinya terutama dalam penglihatan, tetapi ada
juga keindahan untuk di dengar. Pikiran meningkatkan keindahan itu kepada susunan
keindahan yang lebih tinggi, misalnya keindahan tindakan, keindahan penemuan akal, dan
keindahan kebijaksanaan. Lebih tinggi lagi ialah keindahan yang digunakan dalam argument.
Apa yang membuat sesuatu menjadi indah? Apakah ada suatu prinsip yang bekerja sehingga
sesuatu menjadi indah? Kalau ada, apa  prinsip itu? Prinsip itu ialah kesadaran yang bersatu
dengan jiwa. Itu terdapat didalam diri karena diri itu berapiliasi dengan Yang Maha Indah.
Pendapat itu tentulah muncul karena Plotinus berpendapat bahwa antara keindahan di
bumi dan keindahan yang ada dilangit terdapat hubungan. Sesuatu akan indah apabila ia
mengikuti bentuk ideal. Penciptaan keindahan harus melalui komunikasi pikiran yang
mengalir dari Tuhan. Kesimpulannya ialah bahwa keindahan tertinggi serta sumber
keindahan adalah Tuhan.

2.2. Penilaian Keindahan


Estetika sangat berkaitan erat dengan seni dan keindahan , istilah seni merupakan
sekedar menunjukkan  hal-hal yang mengungkapkan sesuatu keindahan. Seperti ada kaum
seniman yang mengatakan bahwa seni merupakan bahasa perasaan. Dengan demikian
estetika merupakan  suatu teori yang meliputi:
 penyelidikan mengenai sesuatu yang indah
 penyelidikan mengenai prinsip – prinsip yang mendasari seni
 pengalaman yang bertalian dengan seni seperti penciptaan karya seni

Macam – Macam Keindahan


1. Keindahan Sebagai Rasa Nikmat Yang Diobjektivasikan
Sebenarnya keindahan bukanlah merupakan suatu kualitas objek, melainkan sesuatu
yang senantiasa bersangkutan dengan perasaan. Sesungguhnya yang dinamakan warna
sebuah objek ialah cara kita memberikan reaksi terhadap suatu rangsangan. Kiranya pasti
mudah dimengerti bahwa rasa nikmat atau rasa sakit bersifat subjektif, karena kedua macam
rasa tersebut tidak akan dimengerti secara masuk akal sebagai kualitas-kualitas yang terdapat
pada objek yang lain. Tetapi orang dapat membayangkan keindahan yang terdapat pada objek
yang lain. Artinya orang dapat memproyeksikan perasaannya,karena keindahan bersangkutan
dengan rasa nikmat

3
2. Keindahan Sebagai Objek Tangkapan Akali
Menurut Jacques Maritain dalam bukunya yang berjudul Art and scholasticism
berpendapat bahwa keindahan bukanlah objek perasaan melainkan objek tangkapan akali.
a. keindahan menimbulkan kesenangan pada akal
Jacques Maritain tidak mengingkari peranan yang dipunyai oleh alat-alat inderawi,
karena akal menangkap sesuatu sekedar dengan jalan melakukan abstraksi dan analisa.
Akibatnya, hanya pengetahuan yang diperoleh melalui alat-alat inderawi yang dapat
mempunyai sifat khas yang diperlukan untuk menangkap keindahan. Maritain mengatakan
bilamana suatu objek dapat menimbulkan kesenangan pada akal, satu-satunya sarana
langsung yang dapat ditangkap oleh intuisi jiwa, maka objek tersebut merupakan sesuatu
yang indah. Keindahan ialah sesuatu didalam objek yang dapat menimbulkan senangan pada
akal, yang semata-mata karena keadaannya sebagai objek tangkapan akali.
b. akal tercermin dalam keindahan
Mengapa suatu objek tertentu dapat dapat menimbulkan kesenangan pada akal?
Maritain menjawab, karena objek tersebut memiliki kesempurnaan tertentu yang juga
dipunyai oleh akal. “akal merasa senang pada sesuatu yang indah, karena didalam sesuatu
yang indah ia menemukan kembali dirinya, mengenal dirinya kembali, dan berhubungan
dengan pancarannya sendiri. “ciri-ciri khas yang harus dipunyai suatu objek agar dapat
dikatakan indah dapat ditemukan dengan jalan memperhatikan apa yang diutamakan oleh
akal.
c. keindahan ialah bentuk
Yang dinamakan bentuk sesungguhnya ialah halnya sendiri yang diketahui,
pengetahuan yang benar ialah pengetahuan yang diperoleh melalui akal budi yang dapat
menjangkau bentuk barang sesuatu. Bentuk juga merupakan prinsip yang mendasari keadaan
yang dapat dipahami secara akali. Dalam babak terakhir, keindahan ialah bentuk yang
menimbulkan kesenangan pada akal. Untuk mudahnya dapat dikatakan bahwa didalam
bentuk yang terpancar pada materi, yang bersifat seimbang, tertib, dan sempurna itulah akal
menemukan diri sendiri.
2.3. Keelokan Pada Manusia
Wanita yang elok rupanya disebut “cantik” atau “ayu”, sementara pria yang rupawan
disebut “tampan” atau “ganteng” di dalam masyarakat. Sifat dan ciri seseorang yang
dianggap “elok”, apakah secara individu atau dengan konsensus masyarakat, sering
didasarkan pada beberapa kombinasi dari ”Inner Beauty” (keelokan yang ada di dalam), yang
meliputi faktor-faktor psikologis seperti kepribadian, kecerdasan, keanggunan, kesopanan,
kharisma, integritas, dan kesesuaian, dan ”Outer Beauty” (keelokan yang ada di luar), yaitu
daya tarik fisik yang meliputi faktor fisik, seperti kesehatan, kemudaan, simetri wajah, dan
struktur kulit wajah.
Standar kecantikan/ketampanan selalu berkembang, berdasarkan apa yang dianggap
suatu budaya tertentu sebagai berharga. Lukisan sejarah memperlihatkan berbagai standar
yang berbeda untuk keelokan manusia. Namun manusia yang relatif muda, dengan kulit

4
halus, tubuh proporsional, dan fitur biasa, secara tradisional dianggap paling elok sepanjang
sejarah.

2.4. Cara Kerja Estetika


Cara kerja estetika filosofis dalam pemahaman Reid adalah :
 menggali makna istilah dan konsep yang berkaitan dengan seni;
 menganalisis secara kritis dan mencoba memperjelas kerancuan bahasa dan konsep
Memikirkan segala sesuatu secara koheren, sehingga, meskipun estetika memiliki sisi
analitis dan sisi kritis, ia bertujuan untuk membangun suatu struktur gagasan positif yang
memungkinkan beragam bagian memiliki keterpaduan yang utuh.
Meskipun kata ‘estetika’ itu baru diperkenalkan pada tahun 1735 oleh Baumgarten,
bukan berarti bahwa estetika bermula dari masa itu. Estetika filosofis yang menjadi padanan
kata filsafat seni bermula semenjak lahirnya filsafat dalam sejarah kemanusiaan. Hingga kini
estetika atau filsafat seni telah membentuk akumulasi pengetahuan filosofis yang luas dan
beragam.
Ruang lingkup bahasan estetika filosofis mencakup berbagai segi seperti definisi seni,
fungsi seni, dasar landasan keunggulan artistik, proses kreasi, apresiasi, dan prinsip-prinsip
penilaian estetik. Pendekatan estetika filosofis bersifat spekulatif, artinya dalam upaya
menjawab permasalahan tidak jarang melampaui hal-hal yang empiris dan mengandalkan
kemampuan logika atau proses mental.
Filasafat estetika adalah cabang ilmu dari filsafat Aksiologi, yaitu filsafat nilai. Istilah
Aksiologi digunakan untuk menberikan batasan mengenai kebaikan, yang meliputi etika,
moral, dan perilaku. Adapun Estetika yaitu memberikan batasan mengenai hakikat keindahan
atau nilai keindahan.
Kaum materialis cenderung mengatakan nilai-nilai berhubungan dengan sifat-sifat
subjektif, sedangkan kaum idealis berpendapat nilai-nilai bersifat objektif.
Serupa orang yang menyukai lukisan abstrak, sesuatu yang semata-mata bersifat
perorangan. Jika sebagian orang mengaggap lukisan abstrak itu aneh, sebagian lagi pasti
menganggap lukisan abstrak itu indah. Karena reaksi itu muncul dari dalam diri manusia
berdasarkan selera.
Berbicara mengenai penilaian terhadap keindahan maka setiap dekade, setiap zaman itu
memberikan penilaian yang berbeda terhadap sesuatu yang dikatakan indah.

2.5. Objek Pendekatan Filsafat Estetika


Dalam estetika dikenal ada dua pendekatan, yaitu langsung meneliti estetika dalam
objek-objek yang indah serta karya seni dan menyoroti situasi kontemplasi rasa indah yang
dialami si objek (pengalaman keindahan dalam diri orangnya). Para pemikir modern
cenderung memberi perhatian pada pendekatan yang kedua, pengalaman k eindahan, karena
karya seni mampu memberikan pengalaman keindahan dari jaman ke jaman. Oleh karena itu

5
tidak heran jika Clive Bell mempunyai credo “estetika harus berangkat dari pengalaman
pribadi yang berupa rasa khusu dan istimewa”.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Esetetika berasal dari Bahasa Yunani, αισθητική, dibaca aisthetike. Pertama kali
digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada 1735 untuk pengertian ilmu
tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan.
Filasafat estetika adalah cabang ilmu dari filsafat Aksiologi, yaitu filsafat nilai. Istilah
Aksiologi digunakan untuk menberikan batasan mengenai kebaikan, yang meliputi etika,
moral, dan perilaku. Adapun Estetika yaitu memberikan batasan mengenai hakikat keindahan
atau nilai keindahan.
Estetika merupakan bagian dari tiga teori tunggal yaitu :
 Teori tentang kebenaran (efistimologi)
 Teori tentang kebaikan dan keburukan (etika)
 Teori tentang keindahan (estetika)
Cara kerja estetika filosofis dalam pemahaman Reid adalah :
Memikirkan segala sesuatu secara koheren, sehingga, meskipun estetika memiliki sisi
analitis dan sisi kritis, ia bertujuan untuk membangun suatu struktur gagasan positif yang
memungkinkan beragam bagian memiliki keterpaduan yang utuh.

3.2 Saran

Kita sebagai insan biasa hendaknya kita harus memperdalami ilmu filsafat agar kita
mempunyai pengangan hidup dalam berfilsafat. filsafat nilai,etika dan estetika ini
salah satunya.ilmu yang mempelaraji hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan.

6
Daftar Pustaka

1. Abdul Kadir, 1974, Diktat Estetika Timur (terjemahan dari Enciklopedia of the World
Art) ASRI, Yogyakarta
2. Djelantik, 1999, Estetika, Sebuah Pengantar, Masyarakat seni
Pertunjukkan Indonesia, Bandung
3. Iyus Rusliana, B.A, 1986, Pendidikan Seni Tari, Angkasa, Bandung
4. Koeswadji K, 1981, Mengenal Seni Batik di Yogyakarta, Proyek
Pengembangan Perindustrian, Yogyakarta

5. Loren Bagus, 1991, Metafisika, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta


6.
7. Mari S. Condronegoro, 1995, Budaya Adat kraton Yogyakarta Makna dan
Fungsi dalam Berbagai Wacana, Yayasan Pustaka Nusantara, Yogyakarta

8. Mudji Sutrisno, Chist Verhaak, 1993, Estetika Filasafat Keindahan, Kanisius,


Yogyakarta